My Wife, My Best Friend (Part 3 – Brother’s Permission)

 Part 2

Title :  My Wife, My Bestfriend – Part 3 (BROTHER’S PERMISSION)

Author : Annisa a.k.a @Joonisa

Rating : PG 15

Genre : Married Life, Romance, Family, Friendship

Length : Chaptered

Cast : 

  • Kim Jong Hyun (SHINEE)
  • Kim Kyeong Jae / Elison Kim / Eli (U-KISS)
  • Lee Eun Kyung (OC/You)

Supported Cast:

  • Lee Jonghyun (CNBLUE) as Eun Kyung’s brother
  • Sisanya temukan di dalam cerita ^^

Disclaimer  : The plot is mine.

Note:

Thanks to Park Kyung Jin yang udah bikinin poster bertema soft-hearted(?) begini XD..

Author adalah penggemar berat FO dan RM ^^ *note apa ini XD*

===============

At Campus Library…

“Kau.. masih menyukaiku?”

Eunkyung tersentak mendengar pertanyaan Jonghyun yang menurutnya begitu mendadak. Ia lalu menoleh dan menatap Jonghyun lekat-lekat.

“Masih..” jawab Eunkyung, sangat pelan. Beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa suara.

“Menikahlah denganku..” ucap Jonghyun pada akhirnya. Eunkyung membelalakkan matanya.

“M.. Mwo?”

“Ayo kita menikah!”

“Hah?”

Jonghyun diam, begitu pula Eunkyung. Selama beberapa saat mereka hanya saling menatap satu sama lain. Eunkyung dengan tatapan bingungnya, sementara Jonghyun dengan tatapan memohonnya.

“Jong.. Jonghyun.. Kau tadi habis terbentur sesuatu ya?”

“Ne. Kau benar. Aku habis terbentur.” Jonghyun memejamkan mata dan memijit pelipisnya. “Rasanya sakit sekali.”

Eunkyung mengamati Jonghyun dengan wajah cemas. “Memangnya terbentur apa? Pohon? Mobil?”

“Masalah.” Jonghyun mendesah keras. “Aku terbentur masalah.”

“Mwo?”

“YA! Jonghyun, Eunkyung! Ini perpustakaan, kenapa berisik sekali, HAH?” bentak salah satu mahasiswa yang kebetulan duduk di belakang meja Jonghyun dan Eunkyung, membuat mereka berdua tersentak, bahkan Jonghyun pun sampai terlonjak dari kursinya. Jonghyun menatap kesal ke arah pemuda itu.

“Ayo kita bicara di luar saja.” bisik Eunkyung pada Jonghyun, lalu menarik tangan Jonghyun untuk keluar dari perpustakaan. Jonghyun pun menurut dengan pasrah, sampai akhirnya Eunkyung mengajaknya untuk duduk di bangku yang ada di taman kampus.

“Jonghyun, coba sekarang kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Jangan berbicara tergesa-gesa seperti tadi, aku sampai bingung setengah mati bagaimana harus menanggapinya..” ucap Eunkyung lembut. Jonghyun menatapnya dalam, lalu menghela nafas panjang.

“Kyeongjae.. dia mencoba untuk curang. Dia membayar seorang perempuan untuk menjadi istri kontrak dan akan dinikahinya segera setelah kelulusanku.”

Jonghyun kembali mengambil nafas, menenangkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan karena kepanikan yang menderanya. Eunkyung menunggu kelanjutan kata-kata Jonghyun dengan sabar, tanpa menyela.

“Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Appa. Aku harus menikah secepatnya dan diam-diam, tanpa menunggu kelulusanku. Aku benar-benar panik sekarang, apalagi aku sampai detik ini belum memiliki seorang kekasih apalagi calon istri. Bahkan orang yang kusukai pun tidak ada…”

“Oh.. begitu.. Jadi kau tadi memintaku jadi istrimu untuk memanfaatkanku karena saat ini hanya aku yang menyukaimu? Begitu?” ucap Eunkyung lirih dengan mata yang berkaca-kaca.

“Bukan.. bukan begitu! Sama sekali bukan begitu!” Sanggah Jonghyun panik. “Eunkyung-ah, kau tahu kan aku tidak mungkin berbuat hal yang keterlaluan seperti itu? Aku tidak mungkin ingin memanfaatkanmu, aku tidak mungkin melakukannya pada sahabat yang sudah sangat baik padaku.. Tolong dengarkan aku dulu, oke?”

“Kurasa penjelasanmu sudah cukup, Kim Jonghyun. ” Eunkyung mengusap air mata yang mengalir di pipinya. “Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak tertarik dengan uangmu!”

Eunkyung sudah ingin beranjak dari bangku taman itu sebelum Jonghyun menahan lengannya. “Duduklah, dengarkan aku sebentar lagi. Setelah itu terserah, kau mau meninggalkanku dan tidak mau melihat wajahku lagi seumur hidupmu, aku tidak akan mencegahmu..”

“Apalagi yang harus kudengarkan?” tanya Eunkyung dingin dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Jonghyun terus menarik tangannya agar Eunkyung kembali duduk di sebelahnya, sampai akhirnya Eunkyung berhasil duduk kembali.

“Aku sangat menyayangi Appa, aku tidak ingin kerja kerasnya selama ini hanya akan menjadi bahan Kyeongjae untuk berfoya-foya.” Jonghyun mengusap air mata Eunkyung dengan punggung tangannya. “Dan yang harus kau tahu, aku sama sekali tidak ingin memanfaatkanmu apalagi menyogokmu dengan uang Appa, meskipun secara kasat mata kelihatannya seperti itu.”

Eunkyung diam menatap Jonghyun, kemarahannya sudah mulai mereda. Jonghyun pun tersenyum melihat Eunkyung yang sudah terlihat lebih tenang.

“Mungkin kata ‘membantu’ lebih tepat daripada kata ‘memanfaatkan’. Aku mengajakmu menikah untuk membantuku, bukan untuk memanfaatkanmu. Dan aku meminta dua bantuan sekaligus darimu.Yang pertama, memintamu untuk membantu melancarkan rencana Appa untuk mengalahkan Kyeongjae dan menyelamatkan perusahaan. Dan yang kedua…. Aku ingin kau membantuku untuk belajar mencintaimu.”

“Mwo?” tanya Eunkyung, dengan nada terkejut pastinya.

“Ne, aku ingin belajar mencintaimu.”

“Ha.. haha.. Kau pasti bercanda..” Eunkyung tertawa miris dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya, tapi Jonghyun menatapnya dengan ekspresi serius, sehingga Eunkyung berhenti tertawa.

“Aku tidak bercanda.” Jonghyun kembali mengusap air mata di pipi Eunkyung. “Karena sekarang aku belum mencintaimu, makanya aku ingin belajar. Aku tidak ingin ada pernikahan tanpa ada cinta di dalamnya atau hanya ada cinta yang bertepuk sebelah tangan.”

“Jadi maksudmu.. Kau ingin membantu Appa-mu tapi bukan dengan pernikahan kosong seperti yang akan dilakukan kembaranmu?”

“Ne, tepat sekali. Dan aku sangat membutuhkan bantuanmu, Eunkyung-ah. Maukah kau membantuku?”

Eunkyung menunduk, lalu mengangguk pelan. “Ne. Aku mau membantumu..”

Jonghyun menghembuskan nafas lega. Ia kemudian menggenggam tangan Eunkyung erat-erat.

“Gomawo Eunkyung-ah.  Jinjja gomawoyo… Jadi, kapan kau ada waktu untuk bertemu dengan Appa-ku? Aku ingin segera mengenalkan calon istriku pada Appa..”

“Hari ini aku libur kerja part time.” Ucap Eunkyung tersipu malu begitu mendengar kata ‘calon istri’. Ia pun masih saja menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Jonghyun.

“Kalau begitu sekarang saja! Kebetulan Appa sekarang ada di kantornya.”

===============

At Kim Jongkook’s Office

“Jadi kau yang bernama Lee Eunkyung?” Tanya Jongkook ramah. Eunkyung yang duduk di seberangnya – bersebelahan dengan Jonghyun – tersenyum dan mengangguk.

“Ne. Saya teman sekampus Jonghyun.”

Jonghyun mengamati wajah Eunkyung, kemudian tersenyum lebar. “Hanya teman?”

“Sekarang dia calon istriku, Appa. Dia sudah bersedia membantu kita.” Jawab Jonghyun to the point, membuat Kim Jongkook tercengang.

“Kau sudah menceritakan semuanya pada Eunkyung?”

“Ne.”

“Semuanya? Termasuk ide Appa?”

“Ne. Waeyo Appa? Ada yang salah?” tanya Jonghyun polos.

Jongkook berdecak pelan. “Tidak bisakah kau memberitahunya dengan cara yang lebih halus dan perlahan-lahan?”

“Aku sudah sangat akrab dengan Eunkyung, Appa. Jadi aku tidak perlu menutup-nutupi apapun. Appa tenang saja, dia gadis yang sangat baik dan aku sangat percaya padanya..” jawab Jonghyun terus terang. Jongkook menatap Eunkyung cemas.

“Tenang saja, Tuan Jongkook. Aku cukup bisa dipercaya untuk menjaga rahasia, dan aku rasa aku bisa mengerti bagaimana sulitnya posisi Anda saat ini..” Ucap Eunkyung setelah melihat ada raut kecemasan yang tergambar di wajah Jongkook.

“Tapi kau tahu kan kalau pernikahan ini tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan perusahaan yang telah kurintis selama ini?”

“Ne, Tuan Jongkook. Aku tahu.”

Jongkook mengangguk-anggukkan kepalanya. Tatapannya beralih pada Jonghyun. “Jonghyun, berapa jumlah yang harus  Appa siapkan untuk Eunkyung?”

“Maaf Tuan, bukannya aku bermaksud lancang, tapi aku bersedia menikahi Jonghyun bukan karena uang.”

“Mwo?” Jongkook menatap syok ke arah Eunkyung, kemudian ke arah Jonghyun. “Jonghyun, kau tidak mengatakan padanya kalau pernikahanmu ini hanya kontrak?”

“Ne, Appa. Aku tidak ingin ada kata ‘pernikahan kontrak’ di dalam kamus hidupku, aku ingin pernikahan sungguhan.”

“Tunggu dulu.. Kalau begitu, kalian ini sebenarnya adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan serius dan memang sudah merencanakan pernikahan sejak lama? Begitu?” tanya Jongkook penasaran.

“Aniyo. Kami hanya bersahabat.” Jawab Jonghyun santai.

“Lalu kenapa kau…”

“Aku sudah berjanji untuk belajar mencintainya. Dan aku yakin suatu hari nanti aku bisa mencintainya dengan baik.” Ucap Jonghyun mantap, membuat Jongkook tambah tercengang.

“Oh.. geu.. geurae..” Jongkook membetulkan posisi duduknya yang terlalu condong ke depan. “Tapi aku harus menyampaikan pada kalian aturan pernikahan – errr.. – semi kontrak ini.”

“Aturan?” tanya Jonghyun bingung.

“Yup. Aturan untuk menjaga ‘keamanan’ pernikahan ini.” Jongkook menangkupkan kedua tangannya. “Pertama, kalian tidak boleh tinggal serumah. Kedua, Eunkyung tidak boleh hamil dulu. Dan kedua peraturan itu harus kalian patuhi sampai Jonghyun lulus kuliah.”

Jonghyun dan Eunkyung kompak mengangguk.

“Selain itu, tentu saja, kalian harus merahasiakan ini dari siapapun, termasuk teman-teman kalian. Pernikahan ini hanya akan dilaksanakan di kantor catatan sipil, tanpa ada perayaan. Perayaan akan dilakukan setelah Jonghyun lulus, begitu pula dengan rahasia pernikahan ini, akan dibuka setelah kelulusan Jonghyun. Ah.. Eunkyung-ssi..”

“Ne?”

“Kau sudah mengatakan hal ini pada ayahmu?”

Eunkyung melirik ke arah Jonghyun sebentar, lalu menggeleng pelan. “Ayahku sudah meninggal sejak aku masih kecil.”

“Geurae? Lalu siapa yang akan menjadi walimu nanti?” tanya Jongkook terkejut.

“Kakakku, Lee Jonghyun.” Jawab Eunkyung pendek dan pelan. Ia meremas pelan ujung bajunya dan tanpa ia sadari, Jonghyun melihatnya.

“OMO! Nama kakakmu Lee Jonghyun? Wah, calon suami dan kakak kandung memiliki nama yang sama tapi berbeda marga! Sepertinya ini tanda kalian berjodoh ya.. Hahahaa..”

Jonghyun terkekeh, sementara Eunkyung hanya tersenyum menanggapi lelucon yang berusaha dibuat oleh Jongkook.

“Ah, Eunkyung-ssi, aku ingin menghubungi kakakmu untuk memberitahukan hal ini padanya, sekaligus memintanya untuk menjadi wali.”

“Aniya, tidak usah Appa. Biar aku saja yang bicara dengan kakaknya Eunkyung. Aku yang akan memintanya untuk menjadi wali Eunkyung.” Ucap Jonghyun pada Jongkook. Sesaat ia kembali mencuri pandang ke arah Eunkyung yang terlihat masih memegang ujung bajunya.

“Wajahnya memang terlihat tenang, tapi tangannya tidak.”

===============

“Bagaimana Jonghyun-ssi, apakah sesuai dengan seleramu?”

Jonghyun mengamati dengan teliti setiap inchi ruang yang ada di depannya. Kadang ia mengangguk pelan, sambil terus melihat-lihat sekelilingnya dengan tatapan serius.

“Hmm.. lumayan cocok denganku.” Jawab Jonghyun sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Ah benarkah? Baguslah kalau begitu..” pria paruh baya itu tersenyum lebar, menyiratkan kepuasannya sambil menggosokkan kedua tangannya. “Sekarang tinggal negosiasi harga.”

“Penawaranku 70% dari harga awal.” Ucap Jonghyun pendek namun tegas. Senyum pria paruh baya itu menghilang sesaat, tapi kemudian ia tersenyum lagi selebar sebelumnya.

“Apa tidak bisa dinaikkan sedikit lagi, Jonghyun-ssi?” tanyanya sambil berbisik. Jonghyun mendelik lewat sudut matanya.

“Aku akan menyebutkan harga matinya…” Jonghyun menatap pria paruh baya itu, lalu mengacungkan jari-jarinya membentuk angka 2. “Kunaikkan 2%.”

“2%? Ah.. ahahaha..” pria paruh baya itu menggaruk kepalanya. “2% atau 20%, Jonghyun-ssi?”

Jonghyun menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tajam. “DUA-PERSEN, tanpa ada kata PULUH, Jaesuk Ahjussi.”

“Ta.. tapi.. tidak bisakah kau naikkan sedikit, Jonghyun-ssi? Istriku akan melahirkan anak kelima dan..”

“Jangan pernah berpikir kau akan bisa memperdayaku, ahjussi! Berapa harga asli yang ditawarkan oleh pemilik apartemen ini?” potong Jonghyun cepat sambil terus melangkah dan memojokkan ahjussi bernama Jaesuk itu ke dinding. Jaesuk terlihat ketakutan setengah mati, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

“Jo.. Jonghyun.. aku tidak bermaksud.. a..”

“Katakan! Atau aku tidak jadi membeli sama sekali!”

“Tu.. tujuh puluh persen..”

Jonghyun mengunci Jaesuk itu dengan kedua tangannya. “Kalau kau bohong, aku benar-benar tidak jadi membeli!”

“Li.. lima puluh.. lima puluh persen!!!” Teriak Jaesuk ketakutan. Sedari tadi ia terus memalingkan wajahnya menghindari tatapan Jonghyun.

“Tsk!” Jonghyun tersenyum tipis, lalu dengan santainya ia berhenti memenjarakan Jaesuk. “Kau tahu, aku bersusah payah bekerja membanting tulang hanya untuk membeli apartemen ini dan kau menjualnya dengan harga 2x lipat, itu namanya keterlaluan, Jaesuk ahjussi…”

Jaesuk masih sibuk mengatur nafasnya, sementara Jonghyun mengeluarkan dompet dari saku celananya.

“Kau sudah mendapat keuntungan lebih dari 22%, belum lagi ditambah dengan komisi dari pemilik apartemen. Kurasa itu lebih dari cukup untuk membiayai istrimu sampai melahirkan anak yang ke sembilan. Kalau kau menginginkan keuntungan yang terlalu besar seperti harga awal, itu namanya serakah…”

Jonghyun menuliskan sesuatu di atas selembar cek yang ia keluarkan dari dompetnya, lalu ia menyerahkan langsung ke telapak tangan Jaesuk.

“Jangan memperkaya dirimu dengan memperdaya orang lain, ahjussi. Kau tidak akan pernah merasa kaya, dan anak-anakmu tidak akan tumbuh dengan baik.” Jonghyun menghela nafas, mengambil jeda. “Seperti itulah mendiang orang tua kami mendidik kami. Kau sebagai teman ayahku, apa kau tidak malu memperdayai anak temanmu sendiri?”

“Ma.. maafkan aku.. Jonghyun..” Jaesuk menggenggam erat tangan Jonghyun, matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar menahan tangis. “To.. tolong jangan laporkan aku ke polisi…”

“Aish.. ahjussi! Tentu saja tidak..” Jonghyun melepaskan dengan perlahan genggaman Jaesuk. “Lebih baik aku langsung mematahkan lehermu dengan tanganku sendiri daripada lapor ke polisi.”

Wajah Jaesuk menjadi semakin memucat setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Jonghyun. Dengan terseok-seok ia mengambil tasnya yang ia letakkan di sofa.

“I.. ini surat.. ke.. kepemilikan apartemen ini. Besok kau bisa langsung mengurus balik nama ke notaris Kang. Aku pergi du.. dulu..”

Jonghyun menahan tawanya. “Baiklah. Senang bekerja sama denganmu, Jaesuk ahjussi.”

“Ne. Annyeong!!!”

Jaesuk langsung lari terbirit-birit, meninggalkan Jonghyun sendirian di dalam apartemen yang baru saja dibelinya. Senyum lebar langsung menghiasi wajah Jonghyun, bahkan ia sampai terkekeh pelan.

“Ish.. dasar ahjussi itu.. Dia pikir aku tidak tahu harga pasaran apartemen di daerah ini? Ckckckck..”

Jonghyun lalu duduk di sofa ruang tengah apartemen itu sambil mengamati surat kepemilikan apartemen yang baru saja didapatnya. Jonghyun menjentikkan jarinya di atas kertas itu.

“Jadi apartemen ini atas nama Kim.. Jong… Kook..”

Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar, menyiratkan rasa bahagia yang sangat besar.

“Besok nama yang yang tertulis di kertas ini akan berganti, menjadi Lee – Eun – Kyung. Ah adikku, dia pasti suka dengan apartemen ini!”

KRRIIIINGGGGG!!!

Jonghyun merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselnya. Tertera nama ‘Lee Eunkyung’  di layar. Ia pun langsung menjawabnya.

“Eoh? Eunkyung-ah? Ada apa?”

Oppa, bisa kita bertemu di rumah sekarang?

“Oh, ne. Memangnya ada apa?” tanya Jonghyun sambil meraba sebuah lukisan yang tergantung di dinding apartemen yang baru dibelinya.

“Ada yang harus aku dan Jonghyun bicarakan dengan oppa..”

Jonghyun mengangkat kedua alisnya. “Arasseo. Aku pulang sekarang.”

===============

At Lee Eunkyung’s house

Lee Jonghyun meletakkan gelas jus jeruknya di atas meja setelah meminumnya beberapa teguk. Eunkyung yang duduk di sebelahnya menatap kakaknya itu dengan tatapan was-was, begitu pula halnya dengan Kim Jonghyun yang duduk di seberang mereka berdua. Lee Jonghyun langsung melemparkan tatapan bertanya sebelum benar-benar bertanya pada mereka berdua.

“Apa yang kalian ingin bicarakan denganku?”

Kim Jonghyun dan Eunkyung saling melempar pandang. Sejurus kemudian, Kim Jonghyun menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai membuka pembicaraan.

“Jonghyun hyung, kedatanganku ke sini.. sebenarnya untuk… meminta restu.”

“Restu?”

“Aku ingin menikahi Eunkyung.”

Lee Jonghyun mengerutkan alisnya. “Setahuku adikku hanya berteman denganmu. Apa kalian diam-diam pacaran tanpa sepengetahuanku?”

“Aniyo, hyung. Kami memang berteman. Tapi aku menikahinya karena sebuah alasan.”

Lee Jonghyun melipat kedua tangannya. “Jangan bilang kalau kau menghamili adikku…”

“Aniyo!!!” sambar Kim Jonghyun dan Eunkyung bersamaan.

“Aku tidak pernah menyentuh Eunkyung sedikitpun, hyung.” jelas Kim Jonghyun lagi.

“Lalu kenapa tiba-tiba ingin menikah dengan adikku? Kalian selama ini hanya berteman, lalu tiba-tiba Jonghyun datang dan meminta restuku, bukankah semua ini terlihat mencurigakan?”

Kim Jonghyun bungkam. Ia menunduk menatap lantai, tidak berani menatap Lee Jonghyun yang terlihat sedikit emosi.

“Aku akan menjelaskan pada oppa apa yang sebenarnya terjadi, tapi oppa harus janji..” Eunkyung berusaha menenangkan Lee Jonghyun, lalu menyodorkan jari kelingkingnya. “Oppa harus janji tidak boleh marah!”

Lee Jonghyun mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Eunkyung. “Jelaskan.”

Eunkyung pun mulai menjelaskan duduk perkara mengapa ia tiba-tiba akan menikah dengan Kim Jonghyun…

15 Menit kemudian

 

 

 

“Mwo? Jadi ini adalah pernikahan untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu, Kim Jonghyun?” tanya Lee Jonghyun tajam.

“Ne, hyung. Tapi aku berjanji aku akan mencintai Eunkyung seiring dengan perjalanan pernikahan kami.” Bujuk Kim Jonghyun.

“Apa yang bisa kau jadikan jaminan untuk kebahagiaan adikku?”

Kim Jonghyun kembali terdiam. Begitu pula dengan Eunkyung yang sedari tadi tidak berani menatap mata kakaknya itu.

“JAWAB AKU KIM JONG HYUN!! APA YANG KAU BISA JADIKAN JAMINAN UNTUK KEBAHAGIAAN ADIKKU?” Teriak Lee Jonghyun.

“Oppa! Oppa janji kan tidak akan marah?”

“BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MARAH KALAU ADIK YANG SANGAT KUSAYANGI MEMPERTARUHKAN KEBAHAGIAANNYA UNTUK PERNIKAHAN YANG SEPERTI MAINAN?” Nada bicara Lee Jonghyun tidak juga melunak.

“Oppa.. Jonghyun berjanji akan mencintaiku..”

“LALU KAU PERCAYA BEGITU SAJA? KAU YAKIN DIA ORANG BAIK, HAH?”

“Ne Oppa, aku sangat yakin dia orang yang baik dan…”

“Aku akan menjadikan nyawaku sebagai jaminan kalau Eunkyung tidak bahagia!” potong Kim Jonghyun tiba-tiba. Baik Eunkyung maupun kakaknya, keduanya sama-sama terkejut mendengar jawaban Kim Jonghyun. Sejurus kemudian, Lee Jonghyun bangkit dari duduknya dan menyambar jaketnya untuk keluar rumah.

“Oppa, mau ke mana?” kejar Eunkyung ke depan pintu.

“Jangan ikuti aku! Aku perlu waktu untuk berpikir!” ketus Jonghyun sambil memasang sepatunya.

“Pernikahannya seminggu lagi, Oppa…” ucap Eunkyung lemah. Matanya mulai berkaca-kaca. Lee Jonghyun terdiam, matanya pun ikut berkaca-kaca. Tapi karena ia membelakangi Eunkyung, jadi Eunkyung tidak melihat ekspresi kakaknya yang sedang menahan tangis itu.

“Oppa.. selama ini aku tidak pernah memohon apapun padamu kan?” Tanya Eunkyung yang menatap nanar punggung kakaknya.  “Ini pertama kalinya aku memohon padamu…”

Lee Jonghyun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Air matanya meleleh, tubuhnya pun seakan membeku di tempat. Di belakangnya ada Eunkyung yang melangkah mendekat ke arahnya dan Kim Jonghyun yang merasa serba salah.

“Oppa..” Eunkyung menyenderkan kepalanya di punggung Lee Jonghyun. “Kumohon..”

“Beri aku waktu untuk berpikir.” Ucap Lee Jonghyun dingin.

Lee Jonghyun pun mulai melangkahkan kakinya, tapi dengan sigap Eunkyung menahan lengan kakaknya itu.

“Aku akan pulang larut, jadi tidak usah menungguku.” Lee Jonghyun menepis tangan Eunkyung. Tanpa menghiraukan panggilan Eunkyung ia keluar dari rumah dan menutup pintu dengan sedikit agak membantingnya. Eunkyung merosot dari tempatnya berdiri. Kim Jonghyun yang sejak tadi diam saja di ruang tamu menghampiri Eunkyung dengan wajah sedikit panik.

“Eunkyung-ah, gwaenchana?” Jonghyun berlutut untuk membantu Eunkyung berdiri. “Kalau kakakmu tidak mau, aku bisa membatalkan pernikahan ini dan akan mencari wanita lain..”

“Aniya… aku tidak apa-apa Jonghyun-ah.” Eunkyung mengusap air matanya. “Aku akan bicara dengan kakakku lagi setelah pikirannya jernih. Dia hanya sedang emosi..”

Jonghyun mengelus rambut Eunkyung, berusaha menenangkannya. “Kalau begitu aku pulang dulu. Aku tidak enak kalau kita hanya berdua di rumah ini. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?”

“Ne. Pulanglah..” Jawab Eunkyung lemah.

“Maaf.”

“Hmmm? Minta maaf untuk apa?”

Jonghyun menggenggam tangan Eunkyung. “Maaf, aku sudah membuat hari ini menjadi hari yang sulit untukmu…”

===============

Lee Jonghyun’s POV

Aku tahu saat ini aku seperti orang bodoh. Bersembunyi di balik tembok pagar tetangga dengan menjulurkan seperempat atau mungkin seperdelapan kepalaku. Setelah sebelumnya aku ingin menangis karena melihat Eunkyung memohon-mohon padaku, sekarang aku mengintip seperti ahjumma-ahjumma yang iri karena tetangganya memiliki televisi baru.

Ya benar. Aku sedang mengintip. Mengintip rumahku sendiri dari jarak 15 meter. Bukan rumahnya yang sedang kuintip, tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Apa yang mereka lakukan setelah aku pergi meninggalkan mereka BERDUAAN di rumah kami yang kecil, itulah yang ingin kuintip.

Ide ini kudapat 5 detik setelah berdebat dengan Jonghyun dan Eunkyung. Aku masih sulit untuk merestui pernikahan – Yang seperti mainan – antara Eunkyung dan Jonghyun.  Aku tidak terlalu mengenal Jonghyun secara langsung, meskipun Eunkyung sering bercerita yang baik-baik tentang Jonghyun padaku. Aku juga orang yang tidak mudah percaya pada orang lain, maka dari itu aku sulit merestui mereka. Tapi melihat Eunkyung memohon seperti tadi.. aku tidak tega. Jadi kuputuskan dengan segera untuk mengetes Jonghyun dengan meninggalkan mereka berduaan di rumah.

KLEK!

Aku memicingkan mataku begitu mendengar suara pintu rumahku terbuka. Jonghyun keluar dari sana, sendirian, tanpa Eunkyung. Dia langsung pulang begitu aku meninggalkan rumah?

Hmm.. Baiklah. Tes pertama: Lolos.

Aku masih dalam posisi mengintip, tapi sedikit menelengkan kepalaku saat mobil Jonghyun melewati tempatku berdiri. Mau ditaruh di mana mukaku kalau ketahuan mengintip?

Aku diam beberapa saat, memastikan kalau mobil Jonghyun sudah benar-benar ‘menghilang’ dari area jalan menuju rumahku. Setelah cukup yakin, aku pun keluar dari tempat persembunyian dan memulai langkah untuk ke tempat yang memang ingin kudatangi.

Aku perlu ‘minum’ sambil berpikir…

===============

Author’s POV

At somewhere called HOTEL

Namja itu menerawang. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang bernuansa minimalis dengan lampu yang temaram. Bayangan seorang yeoja melintas di pikirannya. Ia kemudian meraba pipinya, meskipun tidak meninggalkan bekas tapi ia masih ingat dengan jelas bagaimana yeoja itu menamparnya di depan banyak orang.

“Kau boleh menyita kartu kreditku, Lee Eunkyung-ssi..”

“Ma.. maksud anda?”

“Pinjami aku uang dulu, nanti akan kukembalikan malam ini dan akan kutukar dengan kartu kreditku yang kau sita.”

“N…ne?”

“Di mana kita bisa bertemu untuk menukarkannya? di hotel? Di klub malam? Atau.. di rumahmu? Aku akan memberimu bonus…”

PLAKK!!!!

“Sshh.. G.Na .. ” Namja itu mendesah tertahan. Ia menoleh ke arah yeoja yang berbaring di sebelahnya.

“Hmmmm? Aku mau lagi ,Eli sayaang.. ” yeoja yang bernama G.Na itu menyusupkan tangannya ke dalam selimut semakin dalam.

“Untuk hari ini kurasa cukup, babe..” Sambil menyunggingkan senyum, Eli perlahan menjauhkan tangan G.Na yang sudah ingin menggoda senjatanya di bawah selimut. G.Na cemberut dan memonyongkan bibirnya begitu melihat Eli bangun dari tempat tidur dan mulai berpakaian.

“Kalau kau merindukanku setidaknya kita menghabiskan 6 ronde..” protes G.Na. Eli tertawa pelan.

“Aku sudah tidak pulang hampir dua hari, sayang. Seandainya aku tidak tinggal di rumah si Jongkook itu, aku mungkin akan lebih lama di sini.”

“Mungkin?” tanya G.Na dengan nada curiga. Ia menopangkan kepalanya di atas siku.

“Yeah..” jawab Eli sekenanya. Selesai berpakaian, Eli menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja dan memberi G.Na ciuman kilat. “Aku pulang dulu. Bye..

Bye..” Jawab G.Na malas. Ia menatap kepergian Eli dengan wajah murung, seakan tidak rela ditinggalkan sendiri di kamar hotel itu. Sementara itu, Eli pergi dengan langkah yang sengaja dipercepatnya. Ia melirik jam tangannya dan berdecak.

“Kira-kira coffe shop itu masih buka tidak ya?”

TING!

Pintu lift terbuka. Eli secepat kilat memasukinya, kemudian menekan tombol penutup pintu dengan tidak sabar.

“Yeoja stupid dan kurang ajar itu harus kuberi pelajaran karena membuatku memikirkannya sepanjang hari!”

===============

“Oh.. Thanks! Coffee shop nya masih buka!”

Eli melompat keluar dari mobilnya dan berlari kecil ke arah coffee shop itu. Ia berdeham kecil sebelum membuka pintu dengan gerakan yang elegan, sedikit jaga image, pikirnya. Dengan postur berjalan yang tegak dan dagu sedikit terangkat, Eli berjalan menuju meja kasir.

“Mau pesan apa, Tuan?” tanya seorang namja muda berambut hitam dan berwajah imut-imut yang berada di balik counter. Eli melirik name tag namja itu, tertulis nama SHIN DONG HO di sana.

“Bisa tolong panggilkan Eunkyung, Mr. Dongho?” tanya Eli dengan nada kebule-bule-annya.

“Oh, Eunkyung noona? Dia hari ini tidak masuk kerja.” Jawab Dongho. Eli melihat ke sekelilingnya, lalu menyondongkan sedikit badannya ke arah Dongho.

“Apa dia dipecat?” bisik Eli. Dongho mengerutkan alisnya, lalu menggeleng.

“Aniyo. Eunkyung noona tidak dipecat, dia diliburkan oleh Bos.”

“Libur?” tanya Eli bingung. “Bukannya ini hari rabu?”

“Eunkyung noona kemarin baru saja menampar namja yang ingin berbuat kurang ajar padanya. Karena bos kami sangat kagum dan menghargai terhadap tindakannya, makanya bos kami memberinya libur.”

Eli membelalakkan matanya. Nafasnya terasa tertahan di tenggorokan, sehingga lidahnya mendadak kelu.

“Namja.. kurang ajar?” tanya Eli terbata-bata.

“Ne. Bos kami bahkan menaikkan gajinya. Ah.. andai aku kemarin ada di sini, aku juga pasti akan ikut menghajar namja itu! Meskipun katanya wajah namja itu tampan, tapi kelakuannya yang kurang ajar itu membuatnya terlihat busuk seperti bangkai tikus!” Dongho mengepalkan tangannya, kemudian ketika ia menyadari Eli masih ada di hadapannya, Dongho langsung salah tingkah.

“Eh.. hehehe.. maaf Tuan, aku terlalu emosi. Jadi anda mau memesan apa?” tanyanya polos. Eli yang sejak tadi menahan geram karena Dongho menjelek-jelekkannya di depan mata, hanya bisa tersenyum nyinyir dengan gigi-gigi yang tertutup rapat.

“Aku tidak jadi memesan. BANGKAI TIKUS tidak minum kopi!” ucap Eli dengan nada penuh penekanan, terutama pada kata ‘kotoran tikus’. Dengan wajah merah padam dan emosi yang membuncah  Eli meninggalkan coffee shop itu. Begitu sampai di mobil, Eli langsung meninju setir mobil itu.

WHAT THE HELL THIS PLACE!!!”

===============

“Segelas lagi, Minhyuk-ah..”

Bartender dengan name tag  Kang Minhyuk itu pun menuangkan minuman keras ke gelas Jonghyun sambil menggelengkan kepalanya. “Kukira kau sudah berhenti minum.”

“Aku masih minum kok, sekali-sekali. Dan aku tidak pernah minum lebih dari lebih 2 gelas, jadi kau tenang saja..” ucap Jonghyun santai. Minhyuk duduk di depannya.

“Kau kenapa? Ada masalah?”

Jonghyun mengangguk. Ia lalu meminum minumannya dalam sekali tenggak, lalu ekspresinya berubah masam menahan kerasnya minuman yang diminumnya.

BUKK!

One black dahlia, please!”

Minhyuk dan Jonghyun menoleh bersamaan ke arah namja yang baru saja menggebrak meja.

“Sepertinya ada yang sudah mabuk sebelum datang ke sini..” gumam Minhyuk sambil mengamati namja itu. Jonghyun juga ikut mengamati namja itu, bahkan ia sambil memicingkan matanya. Namja itu sepertinya sedikit merasa terganggu karena ada 2 orang yang mengamatinya. Ia pun menoleh ke arah Jonghyun dan Minhyuk, lalu ekspresinya berubah. Ia terlihat sedikit syok.

“Kau.. Lee Jonghyun kan?” tunjuknya pada Jonghyun. Jonghyun mengerutkan alisnya.

“Iya benar, aku Lee Jonghyun. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi di mana ya? Aku tidak mengingatnya dengan jelas.”

Namja itu tertawa, membuat suasana sedikit terasa awkward. Minhyuk yang merasa canggung dengan suasana langsung kembali ke balik meja bar dan membuatkan minuman pesanan namja itu.

“Kau mengingat wajahku saja aku sudah senang, Jonghyun. Ah, mungkin dengan petunjuk ini kau akan ingat. Aku salah satu asisten pelatih Taekwondo di USA.”

Jonghyun menelengkan kepalanya, lalu menggeleng. “Ada petunjuk lain?”

Namja itu mengusap-usap dagunya. “Aku merasa tidak nyaman mengatakannya. Tapi supaya kau ingat, aku akan mengatakannya. Aku dulu yang menggendongmu ke rumah sakit  waktu kau cedera punggung karena dibanting oleh Mr. Ben sewaktu pelatihan Taekwondo international yang diadakan kampusku.”

Jonghyun membelalakkan matanya. Sepertinya ia sudah mulai ingat namja yang ada di depannya itu. “Elison.. Kim? Kau.. Eli?”

Namja yang ternyata adalah Eli itu mengangguk mantap. Jonghyun beranjak dari kursinya dan langsung memeluk Eli dengan ramah(?). “Ya Tuhan.. Maafkan aku! Maaf kalau aku tidak mengenalimu! Dulu rambutmu pirang kan?”

“Hahahaa…” Eli tertawa terbahak-bahak. “Benar. Dulu rambutku pirang. Apa kabarmu, Lee Jonghyun?”

“Baik.. aku sangat baik!” jawab Jonghyun riang. “Wah, kau semakin tampan saja! Ck.. andai adikku belum mencintai seseorang, aku pasti akan mengenalkannya padamu!”

Eli tersenyum sumringah. “Wah.. sayang sekali ya kalau begitu. Memangnya adikmu seumuran denganku?”

“Ne. Adikku seumuran denganmu. Namanya…”

“Black Dahlia sudah siaaap!!” ucap Minhyuk setengah berteriak karena suasana di bar itu cukup ramai. Ia takut Eli tidak mendengar dan menggebrak meja lagi.

“Oh, thanks..” Eli mengambil minumannya. “Jonghyun, kau tidak memesan?”

“Aniyo, aku sudah.” Jonghyun mengangkat gelasnya yang sudah kosong. Eli pun meminum minumannya dalam sekali teguk.

Lee Jonghyun, kenapa dia masih begitu naif? Mau mengenalkan adiknya? Sejak kapan aku serius dengan perempuan? Another very very stupid person.. cih..”

 

To Be Continue…

 

Hosh hosh hosh…. akhirnya selesai juga part ini *lap keringet* 😀

Susah juga nulis part ini, dan rada nyesel juga kenapa milih Lee Jonghyun CNBLUE yang jadi kakaknya Eunkyung. Pas part perdebatan antara KIM JONGHYUN sama LEE JONGHYUN, gue sendiri kan yang rempong nulisnya -___-“ maafkan ke’babo-an author yah readers.. Aku sudah nulis nama lengkap mereka waktu adegan di rumah Eunkyung, jadi mudah-mudahan readers ngga bingung .___.v tapi kalau udah terlanjur bingung, mianhaeyooo T____T

 

89 responses to “My Wife, My Best Friend (Part 3 – Brother’s Permission)

  1. Ya allah aku gak tau ternyata ff ini dilabjutin. dipikir gak dilanjutin lagi. wihiiii seru!!! lanjut ke part 4 deh

  2. Aaa eli bener bener bad boy u,u aku lebih setuju eli sama eunkyung huwaaa~~~~ mau baca part 4 dulu ahh~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s