The Glory of Stranger Brother I Met

Tittle : The Glory Brother / The Glory of Stranger Brother I Met

Author : oyumeyu (My original twin) & Kazu1chi

Rating : G (General)

Genre : Fantasy, Life, Romance, Family, Angst, Sadness, Mystery

Cast : Park Yoochun (DBSK / JYJ), Lee Jieun (IU), Jang Wooyoung (2PM), Lee Hongki (F.T. Island), Hwang Chansung (2PM)

Disclaimer : Segala artis dalam cerita ini bukan milik saya, tapi milik manajemen mereka, lalu milik Tuhan, dan tentu milik kalian pastinye. dan juga tentu milik saya Ngomong2 ini dia yang namanya FF ‘super unik’ (?) –“ Oh ya, ada yang AJAIB BANGET loh, beneran deh sumpah demi Tuhan saya gak tahu sama sekali kalau Yoochun ngalamin kecelakaan beneran Saya menulis FF ini sebelum diberitakan berita Yoochun ngalami kecelakaan, dan itu bener-bener terjadi setelah hari ini saya baca beritanye o_O Kalo begitu, Happy Reading ye semuanye!

The Glory of Stranger Brother I Met

– Unknown P.O.V –

Aku tak pernah melihat diriku sebelumnya. Bahkan aku tak bisa membayangkan diriku seperti apa.

Aku menghentakkan kakiku sekencang mungkin, juga tak akan ada yang memedulikannya. Aku menggila pun tetap tak ada.

Sama sekali tak ada.

Terkadang aku sedih, mengapa aku harus seperti ini?

Tapi, terkadang aku melupakan kesedihanku itu. Karena, bagiku itu hanya omong kosong saja.

Yang harus kulakukan adalah, menjalankan misiku. Misi yang sangat penting dan juga tak pernah ada yang menjalankan misi seperti ini.

– Author’s P. O.V –

Seorang pemuda yang terbaring koma, mendengar suara teriakan histeris namun sangatlah kecil di dalam ruang kamar pasien rumah sakit. Kedua bola mata pemuda itu bergerak-gerak meski masih menutup matanya. Bibirnya sangat kaku. Mulutnya tak bisa terbuka.

“Anakku!! Kapan kau bangun?! Huh..?” histeris seorang wanita paruh baya dengan cucuran air mata yang tumpah membasahi pipi hingga lehernya. Di sebelah wanita paruh baya itu, ada seorang pria paruh baya memegang  kedua pundak wanita paruh baya itu dengan sedikit kencang. “Ibu sudah tak sanggup melihat dirimu seperti ini..!!”

Walaupun sudah diteriak oleh sang wanita paruh baya itu, akan tetapi pemuda yang terbaring tetap tidak membangunkan dirinya dan langsung memeluk wanita paruh baya itu. Tidak seperti yang ada dalam harapan wanita paruh baya itu.

Hanya tangisan yang begitu mendalam memenuhi seisi ruang kamar pasien ini. Padahal, selain pemuda itu, masih banyak pasien yang terbarnig bersebelahan dengannya. Hanya, gorden biru muda yang memisahkan pasien satu dengan pasien lainnya.

Karena begitu terganggu mendengar histeris wanita paruh baya ini, ada salah seorang suster yang menegurnya untuk tidak menganggu kenyaman pasien lain. Seraya menyertakan pemberian kertas tisu yang halus untuk wanita paruh baya tersebut.

Wanita paruh baya tersebut mengangguk pelan, dan menerima pemberian dari suster itu. Lalu, diambilnya kertas tisu yang halus itu, dan dibersihkan mukanya yang penuh dengan tumpahan air mata. Sambil menangis sesunggukkan, ia mencoba membersihkan mukanya dan menahan perasaan sedihnya yang mendalam.

Pria yang ada di sebelahnya hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya dengan pelan bermaksud untuk menyabarinya. Terlihat jelas, raut wajah yang menahan rasa kesedihan di wajah pria itu. Pria itu hanya bisa menghela nafasnya sedalam-dalam mungkin, agar terlihat tegar di depan wanita paruh baya itu yang layak dipanggil istrinya.

***

Akhirnya selang beberapa menit kemudian, wanita paruh baya itu sudah berhenti menangis. Terlihat di wajahnya sudah tak ada lagi air mata yang turun, meski raut wajahnya masih terlihat sedih. Sedangkan pria paruh baya yang disebelahnya, tetap sama seperti tadi, tetap terlihat tegar.

Mereka berdua terdiam dan menatap wajah anak mereka dengan penuh prihatin. Mulut mereka bungkam, tak mampu untuk berkata apa-apa. Sesekali wanita paruh baya itu ingin mengatakan sesuatu, tetapi secepat mungkin dihentikan oleh dirinya sendiri.

Akhirnya, pria paruh baya itu membuka mulutnya dan mengeluarkan suara pelan tapi terdengar sedang menyarankan dirinya sendiri, “Sebaiknya..  sudah saatnya, aku harus melakukannya.” Istri paruh baya tersebut memandangnya dengan penuh kekagetan dan ketakutan yang menyelimutinya.

“Apa?! Kau.. ingin melakukannya?” tanya wanita paruh baya itu yang sangat terkejut mendengar pernyataan suaminya. Pandangan yang tadi mengarah ke suaminya, lalu kembali mengarah ke anaknya dengan penuh kesedihan.

“Kita sudah tak mampu lagi membayar biaya rumah sakit ini,” jelas paruh baya tersebut menghadap ke arah istrinya, “Apakah kau mau menjual rumahmu atau harus melepaskan kepergian anakmu?”

Terlihat sekali wanita paruh baya tersebut tengah berpikir sekeras mungkin. Dia sudah harus membulatkan suatu keputusan yang sering menghantui pada dirinya setiap saat. Haruskah dia menjual rumahnya demi anaknya, atau melepaskan kepergian anaknya untuk selama-lamanya?

“Aku tergantung pada keputusanmu,” lanjut pria paruh baya tersebut. Ia takut jika ia memutuskan sebuah keputusan tanpa disetujui oleh istrinya. Ia sangat takut jika istrinya marah besar terhadapnya. Apalagi ini menyangkut masalah nyawa atau tempat tinggal.

Terlihat istrinya masih berpikir sekeras mungkin. “Baiklah. Aku harus egois. Ini demi kebaikan keluarga kita. Aku tak mau membuat anak kita sengsara dan kamu sengsara,” balas wanita paruh baya itu dengan sedikit linangan air mata, “Akan kita lakukan.. besok.”

***

Pada malam harinya, orang tua pria yang terbaring itu sudah pulang. Sangat sunyi sekali di kamar pasien ini. Meskipun banyak pasien yang terbaring di kamar ini, akan tetapi kesunyian dan kedamaian masih mengiringi sampai pagi hari.

Di tengah malam, pria yang terbaring itu masih terbaring lemah di kasurnya yang sudah diganti berkali-kali. Tanpa diketahui oleh siapapun, pria itu secara tiba-tiba mengucurkan air matanya di kegelapan malam hari.

***

Pagi pun akhirnya tiba. Begitu juga dengan tibanya dokter beserta suster-suster nya dan orang tua pria yang terbaring itu.

“Lakukan, dok,” ungkap wanita paruh baya itu dengan tegar.

Dokter beserta suster nya mencoba untuk melepaskan semua peralatan medis nya pria yang terbaring itu. Sesaat kemudian, beberapa detik lagi, pria  yang terbaring itu akan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Akan tetapi..

“Dokter..!! Berhenti!!” wanita paruh baya itu terkejut begitu melihat anaknya membuka kedua matanya secara cepat. Orang-orang yang ada di sekitar pria yang terbaring itu langsung kaget.

“Yoo.. chun?!” ucap pria paruh baya tersebut terbata-bata dengan mata terbelalak. “Ka.. kamu sudah sa.. sadar?!”

Posisi wajah yang tadinya menghadap ke langit-langit, kini menghadap ke arah pria paruh baya itu dengan tatapan kosong.

***

“Nak, maafkan ibu karena ibu egois..,” belum selesai bicara, pria — yang tadi terbaring itu — yang bernama Yoochun memegang tangan ibunya.

Yoochun hanya tersenyum saja tanpa berkata apa-apa.

Ketika saling tersenyum, ibunya tanpa sengaja melihat ke arah lehernya Yoochun. “Sejak kapan, kamu pakai kalung stopwatch?” ibunya bingung karena baru hari ini dia melihat anaknya memakai kalung itu.

Yoochun hanya diam saja, tak menjawab pertanyaan ibunya sambil tersenyum.

***

Beberapa saat kemudian, orang tuanya Yoochun yang habis membayar administrasi rumah sakit itu kembali. Keduanya tersenyum kepada Yoochun yang sedang membereskan pakaian-pakaiannya. Namun, senyuman itu terdapat guratan kesedihan.

Yoochun dapat merasakan itu, tapi ia tak ingin menanyakan kenapa.

Kemudian, akhirnya mereka pulang ke rumah dengan mengandalkan jalan kaki. Karena jarak dari rumah sakit ke rumah itu tak begitu jauh.

Baru beberapa langkahan kaki, Yoochun tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang menyebrang zebra cross tanpa memperhatikan mobil yang sedang melaju agak cepat. Di belakang gadis itu, banyak orang-orang melihatnya, terkejut dan menyuruh untuk hati-hati. Gadis itu tak peduli dengan perkataan orang-orang di sekitarnya, karena ia sedang mendengarkan lagu.

Yoochun segera mengenggam stopwatch yang ada di kalungnya, dan menekan tombol ‘stop‘. Jam pun langsung berhenti sesuai dengan seperti pemberhentian stopwatch, dan semuanya langsung tak bergerak sama sekali. Hanya Yoochun saja yang dapat bergerak.

Dia langsung berjalan menuju posisi gadis itu berdiri. Segera ia pindahkan gadis itu ke trotoar. Kemudian, ia langsung kembali ke tempat dia semula, dan menekan tombol ‘resume‘. Semuanya kembali bergerak, dan jam pun kembali berputar.

Orang-orang — yang tadi menyuruh gadis itu untuk hati-hati — terkejut dan bingung.

Yoochun hanya tersenyum melihatnya.

***

Di sisi lain, ada seorang pemuda yang tengah tidur duduk sambil bersandaran ke tembok. Pakaiannya yang berwarna biru muda itu tertulis nama Wooyoung. Mukanya terlihat pucat. Bibirnya pecah-pecah. Rambutnya berantakan.

Dari jarak yang tak begitu jauh, ada seorang laki-laki berjubah hitam yang sedang memandangnya di balik pintu berkaca. Laki-laki itu memandangnya dengan penuh keprihatinan.

Pagi pun tiba, suara ketukan pintu yang sangat keras membangunkan Wooyoung yang tertidur duduk bersandaran di tembok. Seorang perawat membawa makanan, dan meletakkannya dengan kasar. Hingga, makanannya ada yang berantakan. “Ini, makan!” kata perawat bertubuh gemuk itu dengan kasar dan pergi begitu saja.

Dengan cepat, Wooyoung segera mengambil makanannya itu dengan mengandalkan tangan saja, karena begitu kelaparan.

Setelah makan, para perawat beserta dokter membawanya untuk menemui orang tuanya. Wooyoung hanya terdiam saja dengan tatapan mata yang mengenaskan.

“Wooyoung, ini adalah orang tuamu..,” ucap dokter.

Wooyoung hanya menunduk dengan penuh rasa ketakutan. Hingga ia teriak histeris.  Para perawat berusaha menahan dia untuk menenangkannya. Akan tetapi, Wooyoung tetap saja bergerak-gerak dan histeris.

Kedua orang tuanya hanya melihatnya dengan tatapan sedih. Bahkan ibunya mengucurkan air matanya.

“Maaf.. maaf.. maaf.. maaf..!!” teriak Wooyoung histeris.

Hingga pada akhirnya, Wooyoung di bawa kembali ke kamarnya. Dokter nya berbicara kepada orang tuanya Wooyoung.

“Maafkan kami, karena hingga sekarang belum dapat menyembuhkan Wooyoung,” kata dokter membungkukkan badannya.

“Bagaimana kerja kalian ini..?!” kesal ayahnya Wooyoung, “Sudah 5 tahun, dia menjadi seperti ini. Tapi, tak lekas-lekas sembuh juga.”

Dokter pun hanya tetap membungkukkan badannya saja dan tak berkata apa-apa.

Setelah orang tuanya Wooyoung pulang, dokter tersebut meminta para perawat untuk membawa Wooyoung ke ruang penyembuhan.

Wooyoung bersikeras untuk menolak, akan tetapi usahanya sia-sia saja. Ia dibaringkan ke tempat tidur, kemudian tangan dan kakinya dikunci. Kepalanya ditahan oleh tangannya para perawat tersebut. “Lepaskan!! Lepaskan!! Lepaskan aku!!”

Dokter segera menyuntik obat bius dan obat pelemas otot pada Wooyoung. Kemudian, di mulut Wooyoung, diberikan blok karet. Wooyoung tetap saja berontak. Sang dokter segera mengambil alat ECT (ElectroConvusilve Therapy) dan menyetrumkannya ke kepala Wooyoung.

Tubuhnya Wooyoung bergetar-getar hingga akhirnya alat ECT itu dilepas, dan dia pingsan.

Untuk terakhir kalinya, dia dapat mengingat kejadian masa lalunya. Ketika dia sedang menyetir mobil di malam hari. Dia bersama adik tirinya pergi mengantarkan adiknya ke rumah temannya, lalu setelah itu pergi ke rumah pacarnya Wooyoung.

Awalnya, dia pergi sendiri. Akan tetapi dia merasa kasihan terhadap adik tirinya — yang akan pergi ke rumah temannya — dengan berjalan kaki. Lalu, ia ajak untuk bergabung. Di dalam perjalanan yang sedang hujan, ada sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang pemabuk melintas dengan kecepatan diatas maksimum.

Wooyoung yang sedang berbicara sambil bercanda dengan adiknya, tanpa disadari ia tak melihat ada mobil di samping kanannya. Dan ia baru sadar ketika jarak sudah sangat dekat. Akhirnya terjadi kecelakaan. Tabrakan ini membuat Wooyoung harus kehilangan adik tirinya yang ia sayangi. Oleh sebab itu, dia menjadi depresi dan sangat membenci dirinya sendiri.

***

“Wooyoung-ah.. ini ibumu,” kata ibunya Wooyoung tersenyum.

Wooyoung tersenyum dan mengangguk, “Ibu..”

“Wooyoung-ah, ini ayahmu,” kata ayahnya Wooyoung yang ikut tersenyum.

Sekali lagi, Wooyoung tersenyum dan mengangguk, “Ayah..”

Ibunya Wooyoung mengambil sebuah foto dan menunjukkannya kepada Wooyoung, “Kalau ini siapa?” sambil tersenyum.

Wooyoung fokus melihat foto itu dan terlihat sedang berpikir. “Siapa dia, bu?” tanya balik Wooyoung yang membuat kedua orang tuanya kaget.

“Kamu benar-benar tidak tahu?” tanya ayahnya ragu-ragu.

Wooyoung mengangguk-ngangguk dengan muka polosnya.

Ayahnya Wooyoung menatap tajam dokter yang ada di sebelah anaknya, “Apa yang kau lakukan..?!”

“Hmm.. sebelumnya maafkan kami karena kami menyembuhkannya seperti ini. Anak bapak-ibu kami beri alat ECT. Alat itu sangat bagus untuk penderita depresi, karena dapat menghilangkan rasa depresinya dan kembali seperti normal. Akan tetapi, efek sampingnya, dia akan lupa dengan orang/sumber yang membuat dia depresi,” jelas dokter tersebut.

“Apa..?! Apa-apaan ini..?! Jadi, karena itu anak saya jadi seperti ini? Mengapa Anda tak minta izin dahulu kepada saya?!” hardik ayahnya Wooyoung sambil menarik kerahnya dokter tersebut.

“Hmm.. maafkan kami. Kami sudah tak bisa lagi menyembuhkan anak bapak. Hanya itu salah satu jalan keluarnya. Maafkan kami,” jawab dokter tersebut membungkukkan kepalanya.

“Dasar kurang hajar..!!” ayahnya Wooyoung langsung meninju wajahnya dokter tersebut sebelum diminta untuk tenang, “Tenang bagaimana..?! Anak saya lupa  pada adiknya sendiri! Apa-apaan ini?!”

Di luar pintu, ada seorang laki-laki berjubah hitam melihat kejadian itu dengan cucuran air mata.

***

Secara kebetulan, Yoochun bertemu kembali dengan gadis yang ia selamatkan itu. Kali ini, gadis itu sedang pergi ke bar. Gadis itu tengah meminum bir. Yoochun pun segera masuk untuk memastikan apakah benar gadis itu atau bukan. Ternyata memang gadis yang ia selamatkan itu.

“Nona, di siang hari yang panas ini, mengapa hanya kau yang minum bir?” tanya bartender pada gadis itu.

“Kata siapa hanya dia yang minum? Aku juga mau minum bir,” Yoochun menyela pembicaraan mereka dan duduk di sebelah gadis itu.

Bartender tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Dua orang yang aneh.”

Gadis itu tak memedulikannya, dia hanya sibuk meminum bir.

Yoochun mencoba berbicara pada gadis itu.

“Apa yang kau minum?” tanya Yoochun memulai.

Gadis itu menatapnya, “Bir.”

“Oh..,”  Yoochun mulai bingung pada gadis ini. Karena, gadis ini tak mau basa-basi dengannya. “Benarkah? Kupikir itu air putih.”

Gadis itu menatapnya sebentar dan kembali melanjutkan minum.

Sepertinya ini gadis tak bisa diajak bercanda, pikir Yoochun dalam hati.

“Hmm.. hai gadis putih berwajah cantik dan imut, dan berbaju seksi dan lucu, bolehkah kita kenalan?” tiba-tiba ada seorang lelaki mencoba berkenalan dengan gadis itu. Akan tetapi, gadis itu diam saja.

“Hey..!!” ucapku sedikit kencang kepada lelaki tersebut, “Aku lebih dulu. Seharusnya aku yang harus pertama kali berkenalan dengannya!”

“Oh.. memangnya kamu siapanya dia? Berani mengatur-ngatur!” kesal lelaki itu.

“Jadi mau ngajak ribut? Huh..?!” Yoochun mulai kesal.

Tiba-tiba, gadis itu beranjak pergi. Dua lelaki tersebut kaget melihatnya. Lalu Yoochun mencoba mengejar gadis itu.

Yoochun melihat gadis itu sedang berjalan di trotoar.  Tak sengaja kembali, tiba-tiba ada seorang berandalan menghadang gadis itu sambil membawa pisau. Yoochun segera mendekati sambil menekan tombol ‘Stop‘ di kalung stopwatch nya. Semuanya langsung berubah menjadi benda mati.

Yoochun segera menarik gadis itu pergi ke tempat yang aman. Dia segera pergi bersembunyi di belakang tembok. Kemudian dia menekan tombol ‘Resume‘ di kalung stopwatch nya. Dan semuanya kembali seperti semula.

Gadis itu tampak terlihat terkejut meski dia tengah mabuk-mabukan, “Huh..?!” dengan tampang setengah polosnya. Namun, ia melanjutkan jalannya.

Aku akan selalu menolongmu.., ucap Yoochun tersenyum dalam hati.

***

– Unknown P.O.V –

Aku berjalan mengelilingi kota di Seoul ini. Betapa indahnya di malam hari. Keramaian pun menghadiri kota yang indah ini. Angin kegelapan menusuk-nusuk kulit semua orang.

Aku hanya dapat duduk dan berdiri saja memandang pejalan kaki berlalu lalang tanpa henti. Aku dapat berteriak sepuasnya sesuka hatiku. Dan, semua orang yang disekitarku tetap tidak dapat mendengarkannya. Aku dapat senang karena hal itu, tapi aku sedih juga karena hal itu. Aku merasa aku adalah orang asing yang tinggal sendirian di bumi.

Tak sengaja, aku — yang sedang duduk termenung di pinggir kota — mendengar suara orang dari belakang. Orang itu seperti memanggil seseorang, “Lee Hongki.”

Aku hanya melihat ke belakang dan menemukan seseorang yang sepertinya menghampiriku. Aku hanya diam. Bingung.

Orang itu sekali lagi memanggil nama seseorang, “Lee Hongki.”

Hingga jarak hampir begitu dekat denganku, dia memanggil nama seseorang lagi, “Lee Hongki.”

Aku menengok ke kiri-kanan dan ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Aku mulai berpikir, apakah dia berbicara denganku?

“Iya. Aku berbicara denganmu, bodoh,” jawabnya dia yang sepertinya tahu isi pikiranku. “Namamu Lee Hongki.”

Aku bingung. Bagaimana bisa dia menebak namaku adalah Lee Hongki?

“Perkenalkan, aku Chansung,” dia memperkenalkan dirinya. Baru kali ini, ada orang yang bisa berbicara denganku.

Aku mengangguk pelan dan masih bingung dengan kehadirannya.

“Perkenalkan dirimu, bodoh. Namamu adalah Lee Hongki,” hardiknya yang selalu mengejek kata ‘bodoh’ padaku dan membuatku sedikit terkejut.

Aneh sekali dia, kataku dalam hati yang sangat bingung.

“Apa?! Kau bilang aku ini aneh sekali?!” keluhnya yang benar-benar ajaib sekali dia bisa mengetahui apa yang kupikirkan dan kukatakan dalam hati.

Aku hanya diam dan menunduk saja sambil cemberut. Ku takut, jika aku berpikir dan berbicara dalam hati, nanti dia bisa tahu lagi.

“Ok, aku ini memang aneh. Tapi, bagi orang-orang yang seperti kita, itu tidaklah aneh,” lanjutnya seperti menceramahiku.

Aku memiringkan kepalaku dengan muka penuh tanda tanya.

“Baiklah, aku akan jelaskan kedatangkanku disini. Namamu adalah Lee Hongki. Kau punya keluarga yang cukup harmonis..,” dia menjelaskan pernyataan yang semakin membuatku bingung.

“Kau meninggal di dalam kandungan ibumu saat masih berusia 3 bulan. Penyebab kematian karena ibumu mengalami kecelakaan lalu lintas. Yang menyebabkan keguguran,” sambungnya yang membuatku terperangah.

Jadi, aku sudah meninggal?! pikirku dalam hati.

“Ya, kau sudah meninggal. Aku datang kemari untuk memberitahukan ini semua padamu. Aku adalah ‘pengamat’ untukmu. Kau diberi tugas untuk menolong seseorang..,” tambahnya.

***

– Author P.O.V –

Kedua orangtua Wooyoung hanya sedih melihat keadaan Wooyoung yang sembuh tapi ‘seperti ini’. Memang mereka berdua berharap kesembuhan Wooyoung. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak ingin Wooyoung melupakan adik tiri yang ia sangat cintai.

Dengan susah payah, orang tua Wooyoung mencoba membuat Wooyoung mengingat adik tirinya. Memang adik tiri, tapi bagi mereka sebutan ‘adik tiri’ itu sudah seperti ‘adik kandung’ nya Wooyoung.

Awalnya, ayahnya Wooyoung ini sangat mencemaskan Wooyoung yang memiliki kepribadian introvert. Dia takut, Wooyoung tidak dapat bergaul dengan teman seusianya. Hingga pada akhirnya, ayahnya Wooyoung menemukan seorang bocah yang tengah menangis di pinggir jalan.

“Ayah dan ibuku meninggalkanku!” ungkap bocah itu yang sekarang menjadi adik tirinya Wooyoung.

Karena merasa kasihan dan iba, ayahnya Wooyoung membawanya ke rumah. Dan hal mengejutkan terjadi, ternyata Wooyoung menerimanya dengan baik. Biasanya, jika ayahnya Wooyoung membawa teman sekelasnya Wooyoung ke rumah, akan ditolak mentah-mentah oleh Wooyoung.

Sejak masih kecil hingga sekarang, Wooyoung selalu menganggap adik tirinya itu seperti adik kandungnya sendiri. Maka dari itu, dia sangat frustasi karena telah membunuh adik tiri satu-satunya. Dan sekarang, dokter dari rumah sakit jiwa membuatnya kehilangan rasa cinta dan kenangan terhadap adik tirinya. Itu membuat orangtuanya Wooyoung marah besar.

Suatu hari, ketika orangtua nya Wooyoung sedang pergi bekerja, Wooyoung mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Wooyoung membangunkan dirinya dan berlari kecil menuju pintu rumah. Lalu mendapati seorang pemuda yang hampir seusia dengannya sedang membungkuk badannya.

“Halo. Saya tetangga baru di seberang,” orang itu membungkukkan badannya dan terlihat seulas senyuman.

Wooyoung mengangguk dan tersenyum simpul.

***

Pada malam harinya,  orangtua nya Wooyoung pulang kerja. Ibunya Wooyoung terkejut melihat di meja ruang tamu, penuh dengan bingkisan kado.

“Wooyoung-ah?” panggil ibunya Wooyoung mencari Wooyoung ke kamar.

Wooyoung terbangun dari tidur nya, dan cerita begitu melihat ibunya pulang.

“Apa tadi ada yang datang ke rumah?” tanyanya.

“Iya, ada.”

“Siapa?”

“Tetangga baru kita, bu.”

“Tetangga baru?”

“Iya, tetangga baru yang ada di seberang apartemen kita.”

Ibunya bingung dan terkejut. Karena, kamar apartemen seberang kan kosong. Bagaimana bisa ada tetangga baru?

“Siapa namanya?” tanya ibunya untuk memastikan.

“Dia bilang namanya Hwang Chansung,” ibunya Wooyoung langsung terkejut setengah mati. “Aku sempat foto bersama dengannya. Dia begitu baik sekali kepadaku, bu.”

Seketika ibunya Wooyoung menyuruh Wooyoung membuka foto anaknya dengan orang yang bernama Chansung itu.

Begitu foto nya terlihat di telepon genggam, ibunya langsung teriak histeris.

Ayahnya Wooyoung terkejut dan langsung menghampiri kamar Wooyoung.

“Apa yang terjadi?!” tanyanya.

“Li.. li.. lihat.. lah,” jawabnya yang tak mampu berkata-kata.

Ayahnya Wooyoung langsung melihat foto yang terpampang di telepon genggam milik Wooyoung.

“Apa?! Chansung?!” kejutnya.

***

Di malam hari, kembali lagi Yoochun yang sedang diminta beli ke supermarket bertemu dengan gadis yang ia tolong tadi. Dia sekali lagi melihat gadis itu sedang muntah di pinggir jalan.

Baru ingin mendekati gadis itu, dia tak sengaja melihat gadis itu langsung tergeletak di trotoar. Yoochun segera berlari menuju gadis itu.

“Sadarlah..!!” teriak Yoochun menepuk-nepuk pelan pipinya gadis itu.

Mata gadis itu yang tertutup perlahan-lahan membuka kembali. Terlihat samar-samar yang hampir jelas, pandangan seorang lelaki berambut pirang keabu-abuan dengan mata yang cantik dan setengah belo, serta hidung yang mancung dan mulutnya tipis. “Siapa kau..?” tanyanya yang perlahan menutup matanya.

 ***

Beberapa saat kemudian, mata gadis itu terbuka perlahan-lahan. Pandangan matanya melihat lampu yang menyilaukan di langit-langit. Dia melihat ke sekeliling. Bukankah ini tempat tinggalnya dia?

Dia perlahan membuat dirinya terduduk sambil memegang kepalanya yang sakit.  Gadis itu mencium harumnya makanan yang berasal dari dapurnya. Dia segera berdiri dan berjalan pelan menuju dapurnya.

“Heh..? Siapa kau..?” gadis itu bingung melihat ada seorang lelaki di dapurnya.

“Aku..? Aku orang yang ada di sebelahmu waktu di bar,” jawab Yoochun sambil mengerjakan pekerjaannya.

“Orang yang ada di sebelahku waktu di bar?” gumam gadis itu sambil mengingat-ingat. “Oh.. kau ternyata. Apa yang kau lakukan disini?!”

“Kau tak boleh berbicara keras terhadapku. Aku sudah menolongmu,” jawab Yoochun santai.

“Tunggu.. kau yang menolongku?” gadis itu mulai bingung.

Bukannya yang menolong dia adalah seorang lelaki yang berambut pirang keabu-abuan? pikirnya dalam hati sambil mengingat-ingat. Bagaimana bisa ditolong oleh lelaki yang berambut hitam?

“Iya. Akulah yang telah menolongmu sewaktu kau mabuk di pinggir jalan,” jawab Yoochun yang santai lagi.

“Benarkah?” gadis itu tambah bingung, “Lalu, bagaimana bisa kau mengetahui rumahku?!”

“Hmm.. sebelumnya aku mau minta maaf. Aku telah mengikutimu dari dulu,” jujur Yoochun menundukkan kepalanya.

“Apa..?! Kau mengikutiku..?!” ungkap kekejutan gadis itu.

Yoochun mengangguk pelan.

“Apa maumu..?! Sekarang keluar dari rumahku!! Terima kasih sebelumnya sudah menolongku, tapi aku tak butuh bantuan darimu!!” gadis itu menarik lengannya Yoochun.

Yoochun hanya menurutinya saja, dan tak sengaja melihat bingkai foto gadis itu bersama seorang pria. “Itu.. pacarmu, ya?” tanya Yoochun iseng.

“Itu bukan urusanmu. Sekarang tolong kau keluar!!”

Yoochun menyanggupinya dan sesekali melihat bingkai foto itu.

***

Orang tuanya Wooyoung syok. Membuat Wooyoung bingung, apa ada yang salah dengan foto itu?

“Benarkah ini Chansung?” tanya ayahnya Wooyoung menatap sedih ke istrinya. Istrinya mengangguk.

“Kapan kau foto ini, Wooyoung?” tanya ayahnya Wooyoung.

“Hmm.. tadi siang,” jawab Wooyoung polos. “Tadi siang, dia datang ke rumah kita. Dia tetangga baru di seberang kita. Apa ada yang salah dengan dia?”

Ayahnya Wooyoung semakin syok. Ibunya Wooyoung langsung berlari menuju satpam yang ada di lantai paling pertama. Diikuti oleh ayahnya Wooyoung yang menarik tangannya Wooyoung untuk ikut juga.

“Kumohon, pak!! Anak saya ada di kamar nomor 9!!” ibunya Wooyoung bersujud pada satpam dengan histeris.

Karena merasa iba dengan ibunya Wooyoung, akhirnya satpam tersebut mengiyakan. Dan akan membukakan pintu kamar nomor 9 — kamar seberang kamar apartemen.

Pintu kamar nomor 9 pun terbuka. Kosong. Sangat kosong kamarnya.

Ibunya Wooyoung terkejut melihat keadaan kamar itu. Ketika hendak pergi meninggalkan kamar itu, ibunya Wooyoung memiliki firasat ada sesuatu di kamar itu. Dia lalu masuk dengan langkah cepat.

Dan benar saja, dia melihat sepucuk kertas yang tergeletak di lantai disertai dengan kalung stopwatch yang hancur dan kacanya pecah. Dia segera menghampiri kertas itu dan membacanya.

Halo, ayah, ibu, dan kakakku..

Aku mencintai kalian semua. Sangat mencintai kalian semua. Meski aku bukan anggota keluarga asli di keluarga kalian. Aku sangat beruntung.

Aku tak dapat berkata apa-apa ketika aku telah melihat diriku meninggal karena kecelakaan yang tak disengajakan oleh kakakku, Wooyoung. Aku tahu, dia sangat merasa frustasi karena aku. Dan aku sangat takut, jika dia bunuh diri karena aku. Maka dari itu, aku sedih campur bahagia melihat Wooyoung melupakan aku dan kembali menjadi seperti biasanya.

Aku selalu merasa, bahwa dia akan lebih baik jika tak bertemu denganku.

Disini hidupku damai. Aku mempunyai kalung stopwatch. Kalung itu dapat memutarkan waktu kembali ke masa lalu juga dapat membetulkan masa depan. Akan tetapi, aku merusaknya. Karena.. aku merasa lebih baik aku tiada daripada aku harus ada. Karena, aku sama sekali tak ingin melihat dia sengsara lagi, juga tak ingin melihat dia tersiksa karena aku. Lebih baik dia melupakanku daripada dia harus tersiksa karena kehadiranku di kehidupannya.

Juga satu hal yang pasti, aku tak mau menuliskan namaku menjadi Jang Chansung, karena aku tak ingin merusak kebahagiaan keluarga kalian. Lebih baik aku tak hadir dalam keluarga kalian.

Aku sudah tak seperti dahulu lagi. Dahulu aku dapat menghitung hari esok dan menunggunya, kalau sekarang aku sudah tak tahu apa itu hari esok dan kapan hari esok terjadi. Karena hari esok sudah tak terjadi lagi di hidupku tanpa kalian.

Terima kasih buat semuanya. Aku harap kalian hidup lebih baik dari sebelumnya. Dan bahagia untuk selamanya tanpa diriku.

Hwang Chansung.

Begitu selesai membaca, kedua orangtua nya Wooyoung mengeluarkan air mata sambil memeluk Wooyoung yang bingung setelah ikut membaca kertas tersebut.

Di sebelah mereka bertiga, ada sosok berjubah hitam yang ternyata adalah Chansung sedang tersenyum melihat mereka bertiga.

***

Berkali-kali Yoochun datang ke rumahnya gadis itu. Akan tetapi, gadis itu selalu menolaknya secara mentah-mentah. Begitu diketuk, pintu pun terbuka dan sekilas tertutup. Begitulah seterusnya. Hingga, suatu hari..

Pada saat gadis itu tengah mabuk, Yoochun yang mengikutinya mendengar pernyataan dari gadis itu.

“Wooyoung-ah..!! Maafkan aku.. Aku tak ingin hubungan kita putus karena kau depresi. Jika kau depresi, maka aku pun depresi,” keluhnya sambil berjalan tanpa arah. “Aku sudah tak kuat lagi untuk hidup tanpamu!”

Tiba-tiba, gadis itu berjalan ke arah tengah jalan raya. Dan terdapat sebuah mobil melaju..

Yoochun yang melihatnya langsung menekan tombol ‘Stop‘ pada kalung stopwatch nya. Akan tetapi, waktu tidak berhenti, masih terus dapat berjalan. Hal ini membuat Yoochu sangat syok.

“Aku tak mau kau meninggal di hari ini meski kau sudah waktunya!!” gumam Yoochun berlari ke arah gadis itu dan mendorong gadis itu ke pinggir jalan. Yang membuat Yoochun tertabrak mobil itu. Kalung stopwatch nya pun terlepas dan pecah seiring dengan jatuhnya Yoochun ke tanah.

Gadis itu jatuh tapi tak menyakitkan dirinya malah membuatnya sadar dari mabuknya. Dia melihat Yoochun tergeletak di tanah dan disekelilingnya dipenuhi oleh darahnya. Gadis itu langsung menghampirinya dan menelepon polisi serta rumah sakit.

Sebelum pingsan, Yoochun masih setengah sadar, dan masih dapat mengatakan sepatah kata.

Yoochun tersenyum, “Namaku Lee Hongki. Kita adalah sekeluarga. Selamat tinggal,” gadis itu langsung terkejut melihat pria itu berubah menjadi rambut pirang keabu-abuan. Pada akhirnya, pria itu pingsan.

***

Di ambulan dalam perjalanan menuju rumah sakit, gadis yang bernama Lee Jieun itu masih mengingat kejadian tadi. Mengapa bisa pria berambut hitam berubah 180 derajat menjadi pria berambut pirang keabu-abuan dan mengaku sekeluarga dengan Jieun?

Sampai di rumah sakit, Jieun masih terus memikirkan hal itu.

Sampai akhirnya keluarga Yoochun muncul dan histeris mendengar Yoochun kecelakaan kembali.

“Dimana anak saya dirawat?! Namanya Park Yoochun!” teriak ibunya Yoochun pada resepsionis rumah sakit.

“Hmm.. harap tunggu sebentar ya, bu,” resepsionis itu mencari nama Park Yoochun dalam daftar pasien rumah sakit. “Maaf, bu. Di sini tidak terdaftar pasien bernama Park Yoochun.”

“Yang benar saja! Saya mendapat kabar bahwa anak saya masuk rumah sakit ini!” ungkap ibunya Yoochun yang kecewa.

“Baiklah, bu. Akan saya cari kembali,” resepsionis itu mencari kembali nama Park Yoochun. “Maaf, bu. Saya sudah berusaha keras mencari nama tersebut. Akan tetapi, nama itu tak terdaftar sebagai pasien di rumah sakit kami.”

Jieun mendengar keberisikan di bagian resepsionis rumah sakit. Dia menuju ke tempat itu dan tak tahu kenapa dia bertanya, “Apa maksudmu Lee Hongki?”

Kedua orangtua Yoochun menghadap pada Jieun dengan tatapan bingung, “Bukan. Nama anak kami, Park Yoochun.”

Jieun mengangguk dan meminta permisi. Akan tetapi, ada suatu firasat menyuruhnya untuk mengajak kedua orang tua itu. “Bisakah bapak dan ibu pergi bersamaku?”

“Maksudmu?” tanya ayahnya Yoochun bingung.

“Kumohon. Karena, aku ditolong dari maut oleh seorang pemuda berambut hitam kira-kira tingginya 180 cm. Siapa tahu pemuda itu bernama Yoochun,” jawab Jieun menjelaskannya dan berhasil mengajak kedua orang tua nya Yoochun.

Sampai di luar pintu ruang ICU, mereka bertiga menunggu. Dan lampu operasi pun tidak nyala kembali tanda bahwa sudah selesai di operasi. Rasa deg-deg an mnghampiri mereka bertiga. Mereka bertiga berharap penuh agar Yoochun sembuh.

Pintu ruang ICU terbuka, dan para dokter beserta suster-suster nya mendorong seorang pasien.

“Anakku!!” seru ibunya Yoochun dan suaminya begitu melihat pasien itu adalah Yoochun, dan mengikuti para dokter dan suster-suster nya ke ruang kamar pasien.

Jieun hanya diam saja dan berjalan mengikuti mereka. Salah dokter mengatakan bahwa operasi nya sukses yang membuat Yoochun melewati masa kritis.

Di balik pintu, Jieun melihat Yoochun yang sudah sadar. “Ayah.. ibu..,” ucapnya dengan penuh senyuman.

“Yoochun.. kamu sudah sadar ternyata,” ucap ibunya Yoochun penuh kegembiraan.

Jieun membuka pintu, dan berkata terima kasih serta minta pamit untuk pulang.

“Siapa dia, bu?” tanya Yoochun yang sedang terbaring di kasur. “Kok, aku gak pernah lihat?”

Jieun terkejut.

“Dia itu adalah gadis yang kau tolong,” jawab ibunya Yoochun.

“Huh? Aku tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Apalagi menolongnya,” jelas Yoochun bingung.

Jieun semakin terkejut dan minta untuk pamit. Tak tahu kenapa, dia merasa marah.

Sesampainya di rumah, hal yang tak di sangka-sangka oleh Jieun terjadi. Kedua orang tua nya Jieun datang ke rumah Jieun. Lalu mereka saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindu yang sudah lama dipendam.

Karena Jieun masih memendam rasa penasaran terhadap seorang pria berambut pirang keabu-abuan, dia pun bertanya, “Ibu.. bolehkah aku bertanya?”

Ibunya mengangguk sambil tersenyum, “Boleh kok. Ada apa?”

“Benarkah, aku dulu punya seorang kakak?”

Ayah serta ibunya Jieun terkejut mendengarnya.

“Jadi benar, aku pernah punya seorang kakak?!”

Ibunya Jieun memandang ke suaminya dengan penuh tanda tanya. Pada akhirnya dia menjawab, “Iya. Kau dulu punya seorang kakak. Kami sudah menamai dia dengan nama Lee Hongki. Akan tetapi, ibu mengalami kecelakaan. Kakakmu yang baru berada dalam kandungan 3 bulan di perut ibu meninggal.”

Jieun terkejut. Sangat terkejut mendengar jawaban ibunya. Jadi selama ini orang yang menyelamatkan dirinya adalah kakaknya?!

***

– Flashback –

“Tugas? Menolong seseorang? Siapa?” tanya Hongki bingung.

“Iya. Tugas menolong kehidupan adikmu yang sedang frustasi karena putus dengan pacarnya. Tolongi dia jangan sampai dia meninggal sebelum hari yang akan menjemut ajalnya. Kau akan kuberi kalung stopwatch untuk menolongnya. Jika, kalung stopwatch itu tak dapat membuat perubahan. Berarti, hari ajal adikmu telah tiba,” jelas Chansung.

“Adikku? Bahkan aku belum pernah bertemu atau kenal dengannya. Bagaimana bisa aku menolongnya?” tanya Hongki bimbang.

“Kau akan memakai tubuh seorang pria yang sedang koma di dalam rumah sakit. Namanya Park Yoochun. Dia adalah jodoh adikmu. Adikmu bernama Lee Jieun,” jawab Chansung menjelaskan.

– Flashback End –

***

Terlihat seorang pemuda berambut pirang keabu-abuan memandang keluarganya dengan senyum. Dan disebelahnya seorang pemuda berjubah hitam yang ikut tersenyum juga. Meski aku tak pernah tahu bahkan tak pernah hadir dalam kehidupan mereka. Tapi aku senang bisa melihat keluargaku, ungkap Lee Hongki dalam hati.

The End

Soundtrack : Tablo (feat. Taeyang) – Tomorrow

Note : Akhirnye kelar juga FF + poster nye Ngomong2 Ini FF hanya kelar 3 hari (2 hari untuk nulis FF + 1 hari untuk poster) –” Wkwkwkw gamsahamnida bagi yang udah mau baca, mohon jangan lupa komentar nye ye

23 responses to “The Glory of Stranger Brother I Met

  1. Pingback: INTRO_Kazu1chi | FFindo·

  2. Pingback: The Glory of Stranger Brother I Met | Kazu1chi'te·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s