Love Me Tender [PART 1]

Author               :YanluSarang_@kasihwright/Sarang

Rating               :T

Genre                 :romance

Cast                   :Kim Daệ Chanra (OC), Henry Lau (Suju M), Yoo Seung Ho (Aktor)

Support cast      :Yoo Sarang Huan (Seung’s saeng) Huan Zu Ho & Seung Hacien Ho (Seung’s parents), Yuna Lau& Chien Lau (Henry’s parents )Karen Daệ (Chanra’s mother) Kim Youngki (Chanra’s Father) Jin Woo (Karen’s husband) Arron (Chanra’s manager)

Aku ada dalam dua pilihan, “Cintai aku” dan “Cintai aku”

*plak!

Galau banget denger judulnya, malam ini April ke dua dua, pikiran gak karuan tagihan banyak, uang makin tips *lho?

Makanya daripada bingung gak bisa tidur udah jam sebelas gini, mending buka laptop terus menghayal 😀

Remember! Dont take it out without permition!

*Henry POV

Semuanya berganti, panas menjelang dingin, berguguran lalu membeku. Oktober dua puluh dua, Seoul, jumlah penduduk 1.290.840 jiwa.

Aku Henry, 18. Baru beberapa tahun yang lalu pindah ke Seoul dari Pekin, China. Beberapa hari lagi aku mempersiapkan ujian masuk sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di kelas dan di rumah. Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan Minseuk di pertigaan jalan, awalnya aku tidak peduli dengannya, mengingat betapa sangat mengerikan hubungan kami akhir-akhir ini.

Aku masih duduk menyesap kopi malam di kamar yang gelap gulita. Rumus-rumus dan teori berkepulan di atas ubun-ubunku, aih… betapa sangat merana terlahir sebagai namnja babo.

Sebentar-sebentar aku serasa ingin kompres es batu, ke toilet, dan lain sebagainya. Pernah beberapa kali aku mengikuti tambahan belajar di luar sekolah, tetapi bukannya bertambah pintar, malah aku menderita demam berhari-hari, sungguh merepotkan.

*end POV

Sekali lagi hujan mengguyur Seoul di tengah malam. Beberapa pohon tumbang di sekitar jalan tepi hutan menuju kedai kecil di sudut kota. Seorang yeoja di balik mantel tebal berjalan menyangga payung lebar, berjalan terhuyung karena botnya basah.

Tidak ada yang menemaninya kembali kerumah, ia— Kim Daệ Chanra memang selalu saja terlambat pulang karena mengikuti pelajaran tambahan, tetapi bukan itu alasan mengapa ia pulang sampai tengah malam.

Beberapa depa sebelum berbelok di setapak pertigaan, langkahnya terhenti. ia—Kim Daệ Chanra merasakan kakinya terlalu lelah berjalan hingga sakit.

“Aih… kenapa bot babo ini harus melecetkan kaki-kakiku, sialan!” Chanra berjalan dengan tertatih, sedetik kemudian, kakinya semakin sakit.

Botnya memang sudah tak layak pakai karena memang ia tak mempersiapkan diri keluar di cuaca dingin, akhirnya ia benar-benar lupa membedakan bot dan bot dan bot yang rusak.

“Oh my God, what is all this!” akhirnya, dengan sangat menyesal ia duduk di depan toko roti, melepas botnya adan mendapati jemarinya lecet dan berlumuran darah.

*Henry POV

Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan baik, berbaring saja tidak bisa. Rasa lapar memaksaku beranjak dari kamar menuju dapur, tetapi bukannya aku melangkah ke dapur, malahan suara hujan dan kendaraan samar-samara tengah malam lebih membuatku tertarik, entah kenapa, apakah karena aku aneh atau tolol, aku tidak tahu.

Garda toko roti ibuku belum tertutup rapat, aku memerhatikan ibu dan ayah masih duduk menghitung uang, aih… menyebalkan sekali mereka.

“Eoma, appa… kenapa kalian selalu menghitung uang kalau aku sudah tidur?” tanyaku dari sudut ruangan.

“Babo jelek, kau pilir kau tahu berapa jumlah nol di angka seratus milyar, hah?” ayah memanadangku dengan sangat menyebalkan.

“Chagiya, kenapa kau belum tidur?” ibu melambaikan tangan, menyuruhku mendekat.

Aku bergelayut di penyangga pot keramik, dengan malas berbelok ke garda untuk memasukan anak kunci dan segera menghilangkan suara tetes hujan.

“Sudah babo, sekarang tuli juga, ya?” ayah mendeket ke arahku, lalu memberiku beberapa won. Aku tersenyum dan meninjunya dengan tawa kami yang seketika terpecah.

Ayahku memang orang paling baik sedunia, meskipun ia juga orang paling galak sedunia, tetapi aku sangat menyayanginya.

“Appa, kau pelit sekali,” kataku menggodanya. Ia hanya terkekeh pelan dan mengerling.

“Aku akan memberimu dengan jumlah nol sebanyak sembilan kali lipat kalau kau laku dan segera menikah.” Setelah berucap begitu ia berlari memeluk ibuku yang juga menertawaiku, kemudian keduanya pergi meninggalkanku.

Aku  masih berdiri, mematung. Sebenarnya aku ingin berlari mengejar ayah dan memintanya jangan mengatakan itu lagi, tetapi apalah daya… mereka sudah mengunci pintu kamar.

Aku berbalik ke arah garda, hendak menutup garda kaca, tetapi seluit tubuh yeoja berpayung yang duduk di depan tokoku menyita perhatianku. Tadinya aku ingin berlari dan berteriak, siapa sangka dia adalah hantu wanita. Tetapi ada perasaan lain yang mendorongku kembali melongok ke depan.

“Hai, yang di sana!” teriakku melawan suara hujan.

Yeoja itu sama sekali tidak mendengarku. Aku berteriak sekali lagi, tetapi suaraku masih ditelan hujan. Aku berpikir keras bagaimana bisa menanyakan apa yang sedang ia lakukan, akhirnya dengan sedikit ambil resiko, aku mengambil mantel ayahku dan membuka garda, berjalan mendekatinya.

“Are you ok?” tanyaku di belakangnya.

Yeoja itu tampak terkejut, lalu menunjukan sepatu botnya.

“What do you do with your stingky shoes?”

“I felt, ist getting hurt me,” jawabnya dengan gigi gemelutuk.

Pandanganku menuruh dari wajah pucatnya sampai ujung kakinya.

“sesuatu terjadi pada kakimu!” kataku, membungkuk dan menyentuh jemari kakinya yang melepuh, ia mengangguk.

Tanpa basa basi, aku mengajaknya berteduh dan masuk ke dalam rumahku. Tadinya aku ingin mengatakan pada ayah bahwa aku menemukan yeoja di depan toko dan aku merengkuhnya di bawah sayapku, tetapi niatan itu segera sirna ketika aku menyadari yeoja di deoanku sudah basah kuyup.

Aku membimbingnya masuk ke dalam kamarku. Aku sangat tahu tindakanku sangat kriminal, tetapi aku tidak tega membiarkan yeoja berseragam sekolah yang sama denganku kehujanan tengah malam.

“Kau bisa mengenakan beberapa setelah kemejaku, well… kalau kau mau, kau bisa sekalian mandi dan mengganti baju sekarang,” kataku melenggang pergi.

Aku tidak berpikir apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa, mungkin itu sebabnya aku terus-terusan dibilang babo oleh ayahku.

Beberapa saat setelah aku selesai menutup garda, jam dinding besar di tengah ruangan pembatas toko roti, menunjukan pukul satu. Aku menghela napas panjang.

“Mianhae,” seorang yeoja yang membuka pintu kamarku berbalut kemeja biru terang tersenyum.

Hatiku bergejolak seketika, aku hampir tidak bisa berkata-kata, aku gugup.

“Mianhaeyo, Chanra imnida,” katanya lembut.

Semilir rasa gugup membungkamku, oh… benarkah kata ayahku, bilamana yeoja cantik berbalut piama setelah kehujanan akan menjadi seribu kali lebih cantik? Astaga… pemikiran mesum seperti itu memang selalu terwariskan dengan mulus.

“Aih, Chanra… Henry imnida,” akhirnya aku menemukan kewarasanku.

“Henry oppa, kamsahapnida, tetapi mungkin lebih baik aku pulang sebelum pagi,” katanya sambil mengemasi pakaian dan mantel serta tas sekolahnya.

Sebenarnya aku ingin mengiyakan saja dan berhenti berpikiran kriminal di dalam rumahku sendiri, tetapi faktanya sudah nyaris pagi dan hujan masih turun dengan deras.

“Tapi Chanra, kau bisa tidur di ranjangku, dan aku akan tidur di sana,” aku menunjuk kursi panjang di depan televisi, meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.

Tetapi ia menggeleng keras “Aku tidak akn bisa tidur,” katanya.

“Tapi kakimu?”

“Ini baik-baik saja, lagipula aku tidak akan membuat suasana tetap baik-baik saja kalau ada ornag yang tahu,” ia makin mendesakku, padahal tadinya aku ingin sekali memerkenalkannya pada ayahku, tetapi setelah aku berpikir dengan jernih, apa yang ia katakan memang benar.

“Baiklah, Chanra,” aku membimbingnya menuju bagasi dan mencuri kunci mobil catering.

Aku mengantarnya pulang dalam keheningan. Sebenarnya aku ingin bertanya apakah pendapatnya tentang diriku, apakah aku tampan meskipun bodoh, dan apakah aku layak berpacaran walaupun aku tak laku-laku, tetapi aku sadar, itu hanya pertanyaan yang konyol.

Aku menghela napas dan memutar setir saat ia turun dan mengucapkan terimakasih. Aku hanya tersenyum dan pergi. Sesampainya di depan garda rumah, ayahku sudah beediri di ujung pintu dengan wajah aneh, seketika itu aku lupa jalan yang tadi kulewati. Aku lupa jalan menuju rumah yeoja itu. Seadnainya aku tidak langsung melihat wajah ayahku, mungkin tidak begini kejadiannya. Babo Henry!

*end POV

Hujan tipis-tipis menjadi gerimis menjelang pukul enam. Chanra masih saja bergelut dengan kertas-kertas ujian masuk.  Otaknya berasap sesekali menguap.

“Chagiya, semalam kau pulang tanpa minta dijemput, apakah Yoo jin serewal itu?” ayah Chanra duduk di samping meja kerjanya.

Chanra menghela napas “Mianhae appa, semalam euma dan Jin Woo appa belum pulang sampai Yoo jin tidur sekitar pukul sebelas,”

Kim Youngki meletakan kopinya di atas meja “Merepotkan sekali mereka,”

“Sudahlah appa, aku merasa biasa saja, lagipula Yoo jin kecil sangat manis,” Chanra memeluk ayahnya.

“Apa Jin Woo yang mengantarmu pulang?”

Chanra berpikir sejenak, lalu mengangguk “Aku akan ke sekolah sebentar lagi appa,” katanya, lalu melenggang pergi.

Kim Youngki duduk menegakan tubuhnya. Ia menyesap kopinya dan memandang lurus menerobos jendela rumahnya.

Ia kembali mengingat wajah Karen Daệ, mantan istrinya. Ia ingat tiga tahun yang lalu, saat Jin Woo datang ke dalam kehidupannya. Youngki menambahkan gula ke kopinya yang tiba-tiba terasa pahit saat mengingat betapa sangat tampan pria yang bernama Jin Woo itu.

Jin Woo adalah pria hebat, Youngki mengakui, yang lagipula pernikahan Karen Daệ dengannya memang berlangsung dengan meriah dan ia juga menghadirinya.

Seharusnya ia memang tidak menikahi Karen Daệ, Youngki kembali menambahkan gula di kopinya ketika ingat betapa sangat tampan wajah Jin Woo. Ia memang mencintai Karen Daệ dan menikahinya, tetapi ketika cintanya memang harus berakhir, ia juga merelakan Karen Daệ mendapatkan kembali cintanya.

Ia masih sering bertemu mantan istrinya itu, dan ia—Kim Youngki hanya akan tersenyum senmbari mengatakan bahwa Jin Woo adalah pria yang baik.

Hidup berdua saja dengan Chanra sudah cukup bagi Youngki daripada memaksakan Karen Daệ untuk mencintainya, meskipun hatinya terluka ia akan tersenyum ketika Chanra mengatakan ‘nan saranghae eoma’, dan ia juga akan menambahkan ‘Jin Woo adalah suami yang baik, jadi jangan khawatir,’ dengan hati tercabik-cabik.

*Henry POV

Aku masih duduk di kemudi mobil catering sampai ayahku berhenti bertanya-tanya. Gerimis sudah nyaris hilang dari permukaan, tetapi bayangan yeoja  bernama Chanra masih saja terbesit dalam benakku.

“Babo namja, cepat turun dan segera tidur!” itu kata-kata terakhir yang kudengar dari ayah sebelum akhirnya aku masuk ke dalam rumah dan tidur.

Aku ingin bertemu dengan Chanra sekali lagi, tetapi dalam mimpipun aku tidak melihatnya.

“Eoma, kupikir kau akan menggantikan pelayan babo itu dengan ornag yang lebih pintar,” aku berjalan mendekati Taecyeon, pelayan toko roti yang selalu saja menggodaku tak laku-laku.

“Sudahlah Chagiye,”eoma duduk dan menuang air putih ke dalam gelas.

“Tapi eoma, bahkan dia, teman Taecyeon juga mengejekku tidak akan lulus,” aku menunjuk ke arah Eun Hye yang sedang mengemasi roti.

“Kau memang harus belajar Chagie,” hanya itu komentar eoma.

Aku merasa semua orang sangat kejam, terutama pelayan toko roti yang selalu saja menyambut hari-hariku dengan ejekan. Lalu entah kenapa aku kembali berpikir seandainya mereka melihat Chanra dan aku semalam, mungkin mereka akan berhenti membuatku hidup sebagai calon bujang lapuk. Aih…

Sarapan memang bukan hal yang istimewa kecuali bila sehabis sarapan appa akan memberiku uang jaminan untuk mencari calon istri. Entah pikiran gila macam apa itu…

Perjalanan menuju Kirin tidak terlalu jauh kutempuh dengan bus umum dengan harapan mungkin kan bertemu Chanra, tetapi sampai di sekolahpun aku tidak menemukannya.

Satu… dua… tiga… seratus yeoja yang kulihat di sekolah, bahkan satupun tidak ada yang nyaris mirip dengan Chanra, padahal aku sangat yakin bahwa Chanra adalah murid Kirin, bahkan seragam sailornya saja sama persis denganku.

“Minseuk, apa kau pernah bertemu dengan seseorang yang membuatmu serasa sangat tampan dan pintar walaupun sebenarnya kau idiot dan jelek?” aku merayap duduk di samping Choi Minseuk, teman sesama idiot, bujangan tak laku-laku.

“Hanya namja beruntung tidak sepertimu yang akan merasakannya,” wajah Minseuk memang sangat tampan, sayangya ia takut pada yeoja.

Pernah suatu kali aku mengadakan kencan buta untuk Minseuk dan Taeyeon, tetapi apalah guna memancing ikan dengan tikus, semuanya berantakan.  Berhari-hari Minseuk menangis di kamarku dan dengan perasaan yang sama, aku turut menangis meratapi nasib sebagai namja yang tak kunjung laku.

“Babonya otakmu Minseuk, maksudku… aku tak peduli apakah yeoja itu menyukaiku atau tidak, yang kutanyakan adalah bagaimana jika aku merasa akan segera pingsan jika berada di dekatnya.” Terbayang olehku Chanra di balik kemeja biru terangku.

“Aih… apa kau jatuh cinta?” tanyanya seketika merasa jijik melihat wajahku. Satu hal yang seharusnya ia tahu adalah… wajah kami boleh jadi sama-sama mesum.

Selepas latihan berteriak dan meraung di studio musik, dan hanya pulang dengan gelengan kepala dari Taesun, aku berjalan sendirian meratapi nasibku lagi, betapa bodohnya aku, bahkan untuk menjadi vokalis saja tak becus.

Udara Seoul di peralihan musim setelah natal masih sangat dingin. Aku berjalan enggan menunggui bus di halte mengingat bagaimana penyiksaan Taecyeon dan Eunhye serta Minyoung membuat kepalaku pening.

*end POV

Yoo Seung Ho duduk termangu memandangi cermin, polesan mak-ap menghiasai wajahnya. bahkan setelah mek-ap itu terhapus dari kulit terangnya, ia terlihat jauh lebih segar dan tampan.

“Seung oppa,” seorang yeoja datang dari arah berlawanan dari ujung ruangan, suaranya sudah terdenga jauh sebelum melewati undagan tangga.

“Sara,” Seoung tersenyum mendengar suara kecil itu diikuti senyuman lebar yeoja kesayangannya.

“Oppa, apa kau sudah lapar?” yeoja itu mengeluarkan kotak makan kecil dari tasnya.

“Eoma memasak apa hari ini, chagie?” Seung ho, dengan bersemangat menunggu sampai kotak makan kecil itu terbuka.

“Tada…! Telur ceplok!”

“Hah?”

*Chanra POV

Jika seseorang bertanya siapa namja yang paling kugandrungi di dunia ini, pasti akan langsung terjawab hanya dengan langsung membuka buku catatanku dan melihat tulisan-tulisan ‘유승호’. Aku sudah sangat lama menganggap diriku gila karena menyukai seorang aktor drama dengan sagat berlebihan, tetapi diakui atau tidak, bahkan aku sangat ingin pergi ke New York untuk bisa bertemu dengannya.

Malam ini hujan turun lagi, aku duduk memandangi photo Yoo Jin di bawah temaram lampu baca. Sesekali aku ingat wajah eoma dan mengingat raut wajah  Jin Woo appa. Aku tidak pernah berpikir jalan cinta akan serumit itu, maksudku… bagaimana mereka, kedua orang tuaku bisa menjaga hubungan dengan Jin woo appa sebaik itu, sementara aku sendiri masih sangat sulit menerima kehadiran Jin Woo appa.

Aku duduk menepi di ranjang, merasakan semilir angin dari balik jendela yang dibasahi titik-titik air langit. Aku ingat lepuhan di sekitar jemariku, aku ingat aku bertemu dengan seseorang di toko roti, aku ingat, namja itu… aih, dia tampan sekali.

Aku beranjak mencari kemeja biru terang ditumpukan baju-baju di lemari, kupikir aku bisa sekali lagi bertemu dengannya, Henry penjaga toko roti yang baik hati.

“Chagie, ada telpon dari eoma-mu.” Suara ayah memecahkan suasana hening di kamarku.

“Ya, appa, aku segera menyusul.”

Appa duduk memeriksa tumpukan kertas di meja kecil dari sudut ruang tengah. Aku berjalan menghampiri saluran telepon dengan sedikit gugup, entah kenapa aku sangat tidak tega setiap kali membicarakan ibukudi hadapan ayah.

“Yeobosseo,” kataku pelan.

“Eoma,” aku mendesah.

“Chagiya, could you imagine what was he give to me last night?” eoma begitu bersemangat, berbicara dengan aksen New York yang sangat seksi.

“Eh… i felt it was really great and sweet single gift ever,” kataku menggigit bibir, menoleh ke arah ayah dengan sedikit menghela napas “Kau pasti sangat senang, menikmati malam kemarin,”

Kukira kemarin benar-benar hari sibuk bagi ibu dan  Jin Woo, tetapi ternyata tebakanku salah. Mereka bersenang-senang sementara aku mengurus Yoo Jin sendirian seperti nanni di rumahnya.

“Kau benar chagiya, aku sangat mencintai Jin Woo,” katanya dengan aksen New York yang sangat kental.

Aku menoleh ke arah ayahku lagi, titik-titik nyeri melintas di sekeliling paru-paruku, perasaan itu seperti perasaan bagaimana harus melihat ibuku berciuman di hadapan ayahku sendiri, menyakitkan.

“Eh… well, aku juga, aku sangat mencintai kalian,” aku belum sempat berbalik saat ayah mendongak dan melihatku di balik kaca mata bulatnya.

“Aku senang kau juga menyukai Jin Woo,” katanya di balik speaker dengan masih sangat semangat.

“Maksudku, bukan… well… kau dan  tentu saja appa Youngki-ku!”

Aku tak perlu mendengar apapun lagi, aku tak menutup telepon, melainkan mencabut sambungannya dari blik dinding. Rasanya aku ingin menangis.

“Chanra,” ayah memanggilku.

Tetapi aku bahkan menolehpun tidak, aku berlari menjauh dan menutup pintu pembatas ruangan.

Apakah sehina itu Kim Youngki, yang sudah merawatku hingga sekarang di mata ibuku, hingga bahkan menyebut nama pria baik hati itu ia tak mau lagi?

Aku menangis di lantai hingga berjam-jam lamanya. Aku tahu ayah tidak akan mengejarku, karena ia memang sangat mengerti kemauanku untuk tidak diganggu saat menangis, dan sore itu aku menangis hingga nyaris habis air mataku tak tersisa.

*End POV

Sore itu april ke enam tahun 1987, musim semi. Karen Daệ bergeming di depan meja panjang toko bunga menanti seorang yeoja. Beberapa jam yang lalu ia meninggalkan rumah dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat berpamitan dengan suaminya.

Seseorang duduk di depannya, menatap Karen “Karen Daệ,” ucap yeoja itu.

“Well…, jangan basa-basi lagi, kau tahu aku sudah sangat lama menunggumu,” Karen berdiri dengan tidak sabaran lalu melnjutkan “Aku sudah memenuhi permintaan gila Jin Woo untuk melupakannya karena ia bilang tak akan kembali lagi ke Seoul, yang bahkan aku hidup disini untuk berjuang mengalahkan rasa simpatiku pada Youngki!” keringat bercucuran dari dahi hingga membentuk aliran di sekitar lehernya.

“Karen, Karen, ssh…” yeoja itu memegangi pundak Karen, menundukannya agar kembali duduk.

“Kau menyebalkan sekali Huan, padahal kau jelas-jelas mencintai pria itu, Kim Youngki yang kunikahi!” air mata Karen mulai terjatuh.

Di hatinya yang terdalam, sungguh Karen sangat sakit menghianati Youngki yang tak pernah ia cintai, tetapi perasaanya pada jin Woo tidak dapat ia lukiskan, ia sangat mencintai Jin Woo dan juga sebaliknya.

“Yang kutanyakan adalah, kenapa dulu kau mau menikah dengan Yeongki? Sudahlah Karen kau benar-benar terlambat, aku sudah menikah dengan… lagipula aku sudah mempunyai Seung kecil dan aku sangat mencintai anak kami,” yeoja itu menghela napas berat lalu melanjutkan:

“Aku memang mencintai Youngki, tapi perasaan itu sudah lama kujadikan kisah yang juga di ketahui suamiku, jadi sebiknya kau jangan meninggalkan Youngki yang mau memetikamu guji berri di puncak Himalaya,”

“Huan, apa yang harus kulakukan?” Karen mulai terisak “Aku menyayangi Chanra, tetapi aku sangat mencintai Jin Woo,”

Huan berdiri, ia gamang. Kim Youngki adalah sosok pria yang bahkan mau memberikan nyawanya untuk alasan cinta, dan bukan tidak mungkin ia akan dengan sangat rela melepaskan Karen Daệ.

“Karen, ikuti kata hatimu, tetapi gunakan otakmu,”

Karen masih bersimpuh, Huan menglangkah pergi melayani tamu di toko bunganya.

*Henry POV

Seharusnya aku memikirkan ujian masuk, tetapi kehadiran Chanra menyerahkan kemejaku membuatku lagi-lagi tak bisa berpikir.

“Kau… bagaimana kau bisa tahu aku di usir dari studio?”

Chanra menatapku tak mengerti.

“Maksudku, kau tahu kan, aku selalu ikut latihan musik hingga malam, tetapi kau datang tepat waktu Chanra,”

“Oh, begitu… aku hanya teringat dan segera kemari untuk mengantarkannya,” Chanra menggosok keningnya.

Taecyeon dan Eunhye memandangiku, aku sedikit merasa hebat, hingga berdehem dan mendekati mereka.

“Apa ada yeoja secantik itu yang mau denganmu Henry oppa?” Eunhye berbisik di telingaku.

“Tentu saja, dia menyukaiku!” aku menatap keduanya dengan tajam “Makanya kalau sampai kalian menghinaku, akan kubikin kalian menjadi adonan roti!”

“Aih, kejam sekali. Tetapi apa dia tidak tahu kalau kau bahkan tidak tahu berapa jumlah nol di angka seratus milyar?” Minyoung berlari ke arah kami dan segera membuyarkan konsentrasiku.

“Yeoja macam mana yang mau berpacaran dengan orang bodoh? Apa dia tak kalah bodoh darimu?” perkataan Eunhye benar-benar menjengkelkan, membuat kepalaku mendidih.

“Diam kalian!” aku memandangi ketiganya dengan geram lalu pergi dari garda kaca. Mereka menertawaiku.

“Henry oppa, trims.” Chanra membungkuk dan berlalu pergi begitu saja. Aku ingin menahannya, tetapi ia seakan tak ingin kudekati.

Aku menoleh ke arah pelayan toko roti, mereka masih cekikikan menertawaiku.

“Diam kalian!” kututup pintu kaca dan meninggalkan pengunjung toko yang masih memandangiku dengan sangat menyebalkan.

Aku tahu, tidak ada seorang yeojapun yang kudekati, bukan karena aku idiot atau jelek, tetapi aku tidak pernah menyukai mereka. Tetapi Chanra berbeda, entah kenapa ketika malam itu aku bertemu dengannya aku sudah sangat ingin mengenalinya.

Aku tidak yakin apakah aku mencintainya, atau hanya kasihan padanya malam itu, perasaanku menjadi tak menentu dan terkadang aku melamun tak tentu arah.

*end POV


 

9 responses to “Love Me Tender [PART 1]

  1. Pingback: Love Me Tender [PART 2] | FFindo·

  2. Pingback: Love Me Tender Part 3 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s