Season of The Lucifer [CHAPTER 15]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic, Violence, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Credit Poster: @dEanKeya

ANNYEONG READERS ^O^

Oh ya, sekarang Season of The Lucifer ada versi Trailer loh *prok prok prok.

Liat disini ya –> SoL Trailer <– pasti keren deh, Big thanks ya buat Jinhya Eonni a.k.a LIDERONYU yang udah mau repot repot buatin >///<

Mulai dari part ini nggak akan ada lagi pertanyaan, tapi setiap pertanyaan akan terjawab. Happy reading \(^_^)/

Previous Chapter: Click Here

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

Setelah bersepeda melewati jembatan gantung dan menaiki taxi, akhirnya Minhyun sampai di café yang dimaksud Minho. Ia menghampiri Minho kemudian duduk berhadapan denganya.

Minho membalas senyuman Minhyun lalu menatapnya lekat “kau terlihat berbeda” ucapnya dan berhasil membuat Minhyun tersipu.

“ada apa memanggilku?” ucap Minhyun sembari merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin.

Minho hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu dan membuat Minhyun sedikit heran, tak biasanya Minho tersenyum sebanyak ini meski harus diakuinya ia menikmati itu.

selubung keheningan melingkupi mereka, pandangan Minho tak lepas dari Minhyun dan membuat gadis itu sedikit gamang. Ia menunduk, berpura pura memainkan tautan jemarinya.

“dengarkan aku baik baik”

Minhyun menengadah menatap Minho, namja itu terlihat semakin berkarisma dimatanya. senyuman Minho seperti tak asing baginya, seakan ada seseorang yang juga memiliki senyum seperti itu tapi daya ingatnya tak mampu menggambarkan dengan jelas.

“cho Minhye…” untuk kedua kalinya Minhyun mendengar nama aslinya disebut pada hari yang sama.

“Saranghae…” bertepatan dengan itu truk bersuara besar lewat dan Minhyun menoleh pada ponselnya yang bergetar. Bisikan Minho tenggelam.

~*~*~*~

“Wanita adalah Lucifer terlihat malaikat diluar namun iblis bersemayam didalam”

Minhyun terkejut setelah membaca pesan dari Key, ia berdiri sambil menutup slide ponselnya lalu memasukkan ke dalam saku. “aku harus pergi. Minho-ya, Mianhaeyo”

Minho menahan tangan Minhyun bertepatan saat ia hendak berbalik pergi, Minhyun menautkan alis menatap ekspresi dingin Minho, ia yakin dirinyalah yang menyebabkan perubahan ekspresi itu.

“apa kau pergi demi Key?”

Minhyun menegang mendengar pertanyaan Minho, ia mengalihkan pandanganya tak mampu beradu dengan tatapan Minho yang semakin menohok. “dari mana kau tau?” desis Minhyun sepelan hembusan angin.

“bordiran kupu kupu golden itu, Key sering menggambarnya”

Minhyun menunduk menatap Scarf Fuchsianya, lambang kupu kupu yang berada di salah satu ujungnya memang berdesain unik. Tapi bukankah key membelinya?

Minho merogoh sakunya kemudian meletakkan sebuah kunci di telapak tangan Minhyun yang digenggamnya. “mobilku ada di sebrang jalan itu”

“tidak perlu” Minhyun menggeleng cepat.

“pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menahanmu disini” Minho mengatakan dengan sangat tenang meski tatapanya menyiratkan sebaliknya, meskipun Minhyun sama sekali tak memandang mata itu.

“jeongmal gomawoyo”

Ketika Minhyun pergi, minho sadar bahwa Minhyun seperti bergerak selangkah dalam genggamanya. Bukan mendekat tetapi menjauh. Untuk kali ini ia mengalah namun tak kan pernah terulang. Key memang membutuhkan Minhyun tapi bagaimana denganya yang menginginkan gadis itu.

Bahkan dalam benaknya sudah terancang bagaimana ia akan menjelaskan sosok asli seorang Cho Minhye kepada dunia. bisakah harapan itu sampai atau malah jatuh terkubur.

~*~*~*~

Hembusan angin menyapu pelan rambut seorang gadis yang terlelap di gazebo. Deruan ombak dan terangnya sinar matahari yang semakin meninggi akhirnya mengusik tidurnya. Ia menggeliat kecil dan matanya mengerjap namun sejurus kemudian ia langsung menoleh ke arah balkon dan kecewa karena pintu kaca disana masih tertutup.

Semalam Minhyun kembali ke Breath of Heaven namun sial, ia lupa kalau Glasses House itu menggunakan auto lock dan hanya bisa dibuka manual melalui tombol dari dalam rumah.

Ketika manegakkan punggung, Minhyun terkejut mendapati sebuah selimut tebal membalut tubuhnya. Ia tersenyum ketika menyadari bahwa selimut yang sedang dilipatnya ini adalah bed cover tempat tidur Key.

Tapi senyumnya tak berlangsung lama kerena baru saja perutnya bernyanyi dengan sangat fals.

“aish!” umpatnya sembari menyambar ponsel

Minhyun mendekatkan ponselnya ke telinga “yeoboseyo Jinhya-ah!”

“apa kau ada di rumah? Bisa aku ke sana sekarang?” cerocos Minhyun.

“nde Min-ah, aku ada dirumah!”

“oke, siapkan makanan untukku ya dan jangan ada brokoli!”

“YA! Memangnya kau siapa?!” pekik Jinhya.

“aigoo… kau bodoh sekali, aku ini Cho Minhyun masa kau tidak tau! Pabbo Yeoja”

“YA!!!”

Minhyun menjulurkan lidah setelah memutus sambungan telepon dengan seenak jidatnya. Ia bergegas keluar dari Breath of Heaven, semoga saja Jinhya tidak menyuguhkan sepatu atau sikat wc sebagai hidangan.

~*~*~*~

Jinhya baru saja keluar dari kamar mandi, setelah selesai mengeringkan wajah dengan handuk ia terkejut mendapati sesosok setan yang nangkring di meja belajarnya dengan sepiring makanan dan dua piring kosong yang sepertinya ludes dilahap setan itu.

“YA! Siapa yang menyuruhmu masuk!” bentak Jinhya. Minhyun menoleh dengan ekspresi datar dan paha ayam yang nyangkut mulutnya, sejurus kemudian ia kembali berkutat dengan makananya.

“YA!!” kesal, Jinhya pun menjitak kepala Minhyun dengan gulungan kertas dari atas meja.

“uhuk uhuk.… uhuk….” Kontan makanan Minhhyun pun berhamburan dan sepertinya ada yang nyangkut di tenggorokanya. “uhuk… uhuk….” Satu tangan minhyun memegang lehernya dan satu lagi menggapai gapai ke arah Minhyun seperti nenek nenek yang memanggil cucunya.

Dengan tampang tidak berdosa Jinhya mengatakan “wae?”

“uhuk…”Minhyun menghambur keluar sedangkan Jinhya mengangkat bambu acuh tak acuh.

Ternyata bambu yang panjangnya dua puluh senti itu adalah radio yang ia dapatkan dari neneknya -___-

Jinhya menekan tombol power lalu mencari saluran yang sudah ia hapal luar kepala, tak lama kemudian suara grasa grusu muncul di kamarnya.

“kenapa tadi kau tak memberiku air huh?!” protes Minhyun.

“aku malas ke kamar mandi”

Minhyun memutar bola matanya “bukan itu, pabbo!”

Melihat Jinhya yang sibuk bereksperimen dengan radio kunonya, Minhyun ikut ikutan ke atas tempat tidur dan mengutak atik radio di ponselnya. Tak lama kemudian terdengar suara renyah dari penyiar radio.

“yee akhirnya mau juga” sorak Jinhya.

“itu suara ponselku!”

Jinhya menatap Minhyun geram, untung saja ia tidak jadi melempar radio itu ke muka Minhyun. “dasar barang rongsokan” umpatnya.

Minhyun terkikik kecil “kau ingin mendengarkan apa?”

“setiap minggu ada acara khusus yang dibuat Starlite Radio dan MC-nya Kim Jonghyun. Mereka sering mendatangkan tamu yang hebat.” Cerocos Jinhya “sini berikan ponselmu!”

Setelah berkutat untuk mencari frekuensi radio Starlite di ponsel Minhyun, Jinhya mengeraskan volume dan terdengar suara penyiar radio yang sangat familiar bagi mereka. Jinhya meletakkan ponsel itu diantaranya dan Minhyun yang berbaring bersebelahan.

“…. Berbeda dari topik topik sebelumnya yang selalu membahas topik topik terpopular ataupun tentang The future, kali ini kita akan membahas hal yang paling bersejarah dalam dunia musik masa lampau…”

Minhyun dan Jinhya menyimak suara Jonghyun dengan santai, Moonlight Sonata yang diputar menjadi backsound membuat mata mereka terasa berat.

“… dan bintang tamunya adalah Lee Jinki! Ahahaha” mendengar nama Jinki plus tawa renyah Jonghyun, kontan Jinhya dan Minhyun saling tatap dengan ekspresi heran.

“annyeong haseyo yeoreobun, Lee Jinki imnida. Gomawoyo karena aku telah diberi kesempatan untuk sharing tentang dunia yang paling aku sukai. Semoga kalian menyukainya juga”

Jinhya dan Minhyun sangat mengenal suara lembut yang mengalun tadi, mungkin pikiran mereka sama saat ini. tidak biasanya Onew menyebut nama aslinya dan sejak kapan namja sangtae itu menyukai musik klasik, tidak ada tampang (?).

“Kali ini kita akan membahas sosok legenda yang menjadi Part of the Music history, yaitu Wolfgang Amadeus Mozart (1765-1791). Seperti kita tahu, Mozart adalah sosok jenius dan mengagumkan.

Mozart mampu memainkan Harpsichord bahkan menulis komposisinya yang pertama di umur 5 tahun. what kind child that able to do that? Mungkin hanya 1 dari seribu.

Apa kalian sadar kalau Mozart sering membuat Pause dalam memenuhi piece piece-nya, dan membuatnya jadi sangat briliant. Mozart selalu tau mengkombinasikan bass yang elegan dan dinamis. Jika komposer lain, saya punya sedikit complain dengan penenpatan bass yang kurang tepat. But I can’t complaint mozart, he is more than perfect.

Dan Tidak sedikit komposer terkenal yang punya kelemahan di lagu lambat, terutama membuat melody di tangan kirinya. Contohnya pathetique sonata-nya beethoven yang second mvt, tangan kananya sangat melodik tapi tangan kirinya terkesan membosankan. But Mozart knows how to insert pauses, tangan kirinya bernyanyi dengan tangan kananya.

Jika tidak ada Mozart maka tidak ada Beethoven dan era Romantic….”

Menyimak apa yang dibahas Onew barusan membuat Jinhya tercengang dengan tatapan kosong, terlintas sebaris kalimat yang dilontarkan Onew kala Valentine waktu itu. “Kau tidak mengenalku, Choi Jinhya!” kalimat itu kembali menohok Jinhya, sebelumnya ia berfikir kalau Onew melantur karena kelelahan meladeni siswi SSedna yang menggila. Tapi sepertinya dia sadar akan suatu hal yang sangat fatal untuk disadari sekarang.

“apa dia kesurupan?” celetuk Minhyun sambil menggoyang goyangkan ponselnya, ia sama kagetnya dengan Jinhya

“tidak mungkin Onew yang maniak ayam dan suka meniup telinga orang bisa tau sebegitu detail tentang musik klasik. Seperti pengamat musik saja” imbuhnya kemudian.

“tidak Min-ah, selama ini kita tidak peka. Kau masih ingat cerita Eunki? Onew pernah bilang dia suka musik klasik sewaktu melihat buku tebal berjudul komposer besar di kamar Eunki”

Minhyun mengangguk kecil “aku tidak kaget, SHINee benar benar Lucifer! Mereka semacam mempunyai kepribadian ganda yang tersembunyi, semuanya bertolak belakang”

“ku harap kau bercanda”

“aku serius! aku sudah menyelidikinya dan kapan kapan aku pasti menceritakan semuanya padamu” papar Minhyun “ngomong ngomong soal Eunki, kau masih melihatnya?”

Jinhya menggeleng “sejak kau memberi alamat sekolah itu, Eunki tak terlihat lagi. beberapa kali aku memergoki Onew sedang bicara sendirian sepertinya ia sering berkhayal”

Tiba tiba Minhyun beranjak “ayo ke Starlite Radio!” seru Minhyun lalu menarik tangan Jinhya

~*~*~*~

Kurang lebih 15 menit mereka tiba di gedung Starlite radio yang terdiri dari 3 tingkat, Starlite memang sangat popular di korea selatan dan Jonghyun salah satu MC yang sukses menaikkan ratting Starlite radio karena pembawaanya yang ramah dan humoris.

Minhyun bertanya pada seorang pegawai disana dan ternyata ruang siaran Jonghyun berada di lantai tiga paling ujung.

“Taemin!” seru Minhyun setelah tiba di depan ruang siaran, ia agak terkejut melihat Taemin yang menunggu sendirian disana. “kau sedang apa?”

“Jonhyun Hyung menculik Onew Hyung, padahal Onew Hyung mau mentraktirku makan” gerutunya.

Minhyun menatap iba dengan paras mengejek, setelah dapat pelototan dari Taemin ia beralih memandang Jinhya yang fokus melihat Jonghyun dan Onew sedang siaran dari kaca persegi di bagian atas pintu ruang itu.

Mereka tak bisa mendengar apa yang Jonghyun dan Onew bicarakan karena ruang itu kedap suara, tapi Jinhya menyernyit saat Onew mengeluarkan sebuah gelas dengan gambar daun yang terbuat dari kerikil kerikil kecil.

“Taemin-ssi, kau tau gelas apa itu?” tanya Jinhya.

Taemin menjinguk ke arah kaca di pintu ruangan itu “ah, itu gelas kesayanganya Onew Hyung, sepertinya dari orang yang spesial”

“apa Eunki tak pernah memberitahumu tentang itu?” celetuk Minhyun.

Jinhya menggeleng sembari mendengus kecil, ia bertanya tanya sebenarnya seberapa besar yang ia ketahui tentang Onew? Ah tidak, tapi Lee Jinki. Sisi itu terlalu gelap untuk dilihat dan terlalu samar untuk dijangkau.

Jinhya terkesiap pelan ketika Pintu itu terbuka, lampu tanda On Air telah padam dan kini Onew berdiri di hadapanya. Ia mencoba melayangkan senyum meski kaku tapi Onew hanya menatapnya dengan ekspresi datar kemudian berlalu.

Minhyun yang menyadari kecanggungan mereka langsung melangkah ke belakang Jinhya “apa yang sudah terjadi?” bisiknya

“waktu di golden brige, Onew pernah bilang kalau aku tak mengenal dirinya. Aku tidak mengerti Min-ah, ku kira Onew sudah berubah dari kebiasaanya seperti yang diceritakan Eunki itu”

“well, dia itu Autumn Lucifer, berhati hatilah”

Jinhya berdecak kecil menanggapi lelucon yang di lontarkan Minhyun, baginya itu tidak lucu tapi Minhyun terlihat puas dengan kalimat itu.

Taemin masuk ke ruangan itu, Jinhya dan Minhyun pun ikut menyusul. ruangan itu tidak tergolong kecil tapi cukup sesak karena banyaknya peralatan dan Jonghyun terlihat sedang sibuk menyusun berkas berkas dalam lemari di sudut ruang.

“Hyung, aku pergi dulu ada urusan. Bilang pada Onew Hyung kalau dia berhutang traktiran padaku!” sahut Taemin, setelah Jonghyun menggangguk barulah dia pergi.

Tiba tiba seorang perempuan datang, dari ID Cardnya sepertinya ia juga salah satu MC disini.

“Jonghyun-ssi bisa kau ambilkan berkasku di rak paling atas? Aku harus siaran 15 menit lagi” pinta MC itu sambil memasang Earphone-nya.

“ne, apa tema yang kau bawakan Soyeon-ssi?” tanya Jonghyun sembari menyerahkan berkas itu ke MC tadi.

“seperti biasa, tentang gosip yang beredar. Kali ini tentang Uzuki Naomi, model yang terkenal itu. katanya dia masuk rumah sakit karena dianiaya kekasihnya. Berita ini sedang dibahas dimana mana loh”

Jonghyun menegang mendengar kalimat yang dilontarkan Soyeon, Minhyun yang sedang mengobrol dengan Jinhya langsung menoleh ke arah Jonghyun dan menyadari perubahan ekspresi namja itu.

“kau tau rumah sakitnya dimana?” suara Jonghyun terdengar parau, ia terus memperhatikan kertas yang di bolak balik Soyeon.

“ah itu gelasnya” seru Jinhya tiba tiba, ia menunjuk sebuah gelas yang bertengger di samping peralatan siaran dan berselang beberapa detik Soyeon mengucapkan nama kalimat itu.

Ketika Jinhya hendak meraih gelas itu tiba tiba Jonghyun tak sengaja menyenggol bahunya saat namja itu berlalu cepat ke arah pintu, tangan Jinhya yang saat itu berada di depan gelas kontan terdorong dan menyenggol gelas itu hingga jatuh.

Kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, Melihat Jinhya yang panik Minhyun ingin membantunya namun pikiranya lebih condong ke masalah Jonghyun.

“Jinhya, Mianhae. Aku harus mengikuti Jonghyun!”

Minhyun bergegas keluar ruangan, saat berlari ke arah Lift ia berpapasan dengan Onew. Dalah hati ia hanya bisa berharap semoga Jinhya tak terlibat dalam masalah besar.

Namun sepertinya itu hanya asa yang tak sampai atau mungkin terllau tinggi. Karena setibanya Onew di ruangan tadi, ekspresinya berubah dingin ketika mendapati Jinhya membereskan Gelas yang pecah menjadi beberapa bagian besar itu.

Onew menampik kasar tangan Jinhya, lalu menyambar tasnya yang berada di atas kursi dan memasukan pecahan itu ke dalam. “ku harap aku takkan pernah melihatmu lagi”

Suara Jinhya seakan tertahan hingga ia tak sanggup membalas ucapan itu bahkan permohonan maaf sekalipun tak mampu terlontar. Sekelebat rasa takut membuat jantungnya berdebar keras dan kalimat barusan kembali menakutinya.

~*~*~*~

Jonghyun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi sehingga Minhyun yang mengikutinya harus ektra hati hati karena mesti menjaga jarak tapi tak boleh kehilangan jejak.

Ia masih menggunakan mobil Minho mungkin sehabis masalah ini selesai ia mengembalikanya. Jalan yang dilewati Jonghyun terasa tak asing bagi Minhyun dan sesaat kemudian Ia sadar bahwa itu juga jalan menuju pantai.

Ketika Jonghyun masih mengambil jalan lurus, Minhyun memelankan mobilnya. Ia terlingat pada Key, belum ada kejelasan tentang masalah semalam.

Masalah Jonghyun memang penting namun terhadap Key ia merasa seperti telah berjanji pada namja itu, ia tahu Key takkan bisa menunggu lama. Minhyun menghela nafas panjang, kemarin ia meninggalkan Minho, tadi ia mengabaikan Jinhya dan sekarang ia harus membiarkan Jonghyun. Demi Key.

Minhyun tak tahu harus bagaimana, perasaanya tidak jelas dan takut mengulangi kesalahan yang sama.

~*~*~*~

Seorang namja melangkah gontai di tepi jalan yang hanya dilalui beberapa kendaraan, tatapanya tak berfokus seakan menyiratkan bahwa ia sedang berfikir.

Minho mengentikan langkahnya dan terduduk di sebuah halte, bukan untuk menunggu bus hanya sekedar mencari kenyamanan di saat pikiranya sedang berkecamuh. Baru saja ia mengunjungi rumah Choi Raena yang kini di tempati oleh adiknya, dan sekarang ia telah pendapatkan beberapa bagian puzzle dari teka teki hidupnya.

__ FLASHBACK__

Minho berhenti di depan rumah bercat krem yang terletak di paling ujung sebuah komplek, ia menatap secarik kertas di tanganya lalu kembali mengamati nomor yang ada pada disebelah pintu rumah itu.

Setelah memastikan kesamaan nomor di sebelah pintu dengan di kartas itu, Ia melangkah menuju pintu kemudian mengetuknya. Tak lama setelahnya pintu itu terbuka dan munculah seorang pria berumur sekitar pertenghan 40.

“annyeong haseyo” sapa Minho sembari membungkuk.

“annyeong haseyo, ada keperluan apa?” balas pria itu

“Choi Minho imnida, apakah anda adik Choi Raena?”

Pria itu mengangguk “ne, Choi Raeseok imnida”

Minho terpekur sejenak, marga yang disandangnya apa mungkin punya hubungan dengan Choi Raena atau kelarganya yang lain. “aku ingin bertanya tentang Choi Raena, bisa kah?”

“nde, masuklah”

Raesok menuntun Minho ke sebuah sofa kemudian duduk di sofa kecil sedangkan Minho duduk di sofa panjang dengan posisi berhadapan. “ada apa?” tanyanya.

“begini, aku adalah anak yang dibawa Choi Raemi saat busnya mengalami kecelakaan dan hanya aku satu satunya yang selamat. Bisa kau ceritakan padaku tentangnya, mungkin dengan begitu aku bisa thu siapa orang tua ku”

Raeseok mengangguk kecil menanggapi ucapan Minho, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa lalu memandang Minho.

“sebelum kakakku meninggal aku jarang berkomunikasi denganya karena waktu itu aku tinggal di Busan, tapi yang ku tau Raena adalah suster di salah satu rumah sakit. dia mempunyai anak laki laki dan melahirkan sekitar awal tahun, 18 tahun lalu”

“Choi Raeseok-ssi, apa kau dimana anaknya sekarang?”

“anak dan suaminya mengalami kecelakaan, suaminya meninggal dan anaknya hilang dan sampai sekarang aku tak tahu dimana anak itu” ucap Raeseok “meskipun kau bermarga Choi tapi kurasa kau bukan anak Kakakku, aku pernah mengunjungi anak dan suaminya setelah Raena meninggal, anak itu sangat mirip dengan ayahnya” sambungnya kemudian.

“kau ingin lihat foto mereka?” tawar Raeseok, Minho mengangguk pelan.

Raesok berjalan ke arah lemari yang menjadi sekat ruangan itu, ia membuka laci dan mengambil sebuah figura disana “ini fotonya” ucapnya ketika menyerahkan figura itu ke tangan Minho.

“tidak mungkin” mata Minho membulat setelah melihat foto itu, ia menatap Raeseok penuh tanya.

“aku baru ingat dulu Raena adalah suster yang biasa membantu dokter kandungan, mungkin ibumu pernah dibantunya waktu itu. sebaiknya kau datang ke rumah sakit tempatnya dulu bekerja”

___ FLASHBACK END___

Pada akhirnya Minho tak menyangka semua akan serumit ini, bukanya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini melingkupinya tapi malah harus menyampaikan informasi penting untuk seseorang.

Minho menengadah lalu menghela nafas panjang, semua hal tak mampu dirangkainya dengan sempurna. Segalanya berkecamuh dan menghasilkan tanda tanya baru.

“Hyung!” seruan itu membuyarkan lamunan Minho, ia menoleh ke asal suara dan mendapati Taemin melambai padanya di seberang jalan.

Taemin menunjuk nunjuk dirinya lalu menunjuk Minho, atau mungkin lebih tepatnya menunjuk halte. Minho hanya mengangkat sebelah alisnya membalas cengiran Taemin.

Taemin melangkah santai setelah ia yakin tak ada kendaraan dalam jarak dekat yang kana melewati jalan itu. tapi sekejap kemudian….

“Taemin awas!”

Teriakan Minho membuat Taemin terkesiap, ia menoleh cepat ke arah kiri dan mendapati sebuah motor melaju kencang kearahnya. Taemin berhasil mundur tapi tangan si pengemudi mendorong bahunya. Kaca Helm orang itu terbuka dan Taemin tahu betul siapa dia.

Minho berlari ke arah Taemin “neo Gwaenchanna?” tanyanya setelah tiba.

Taemin menggeleng cepat, wajahnya pucat pasi “dia orang yang pernah ku buat masuk penjara. Dia yang meneror ku beberapa bulan lalu dan Taehyun… dia dalam bahaya”

~*~*~*~

Minhyun setengah berlari melewati jembatan gantung menuju Breath of Heaven, kemungkinan besar Key masih disana karena barusan ia menghubungi Park Ahjussi dan diberi tahu kalau di Dorm tak ada siapa siapa.

Ketika di depan Glasses House, Minhyun menghentikan langkahnya dan menatap heran ke seorang Pria yang mengenakan jas formal. Wajah pria itu seakan familiar dalam benaknya namun ia tak ingat pernah bertemu dimana.

Pria itu berjalan mendekati Minhyun “apa kau temanya Key?” tanyanya sembari tersenyum ramah.

“nde… Cho Minhyun imnida” Minhyun mengangguk kaku.

“ah, ku kira dia mashi alergi terhadap Yeoja. Apa kau memiliki hubungan khusus denganya?” Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan gelak tawa.

Minhyun menatap heran, ia yakin sudah menganti pakaianya sebagaimana namja normal sebelum pergi ke rumah Jinhya. Tapi dalam kalimat pria itu sepertinya dia tahu identitas Minhyun dalam sekali lihat.

“kami hanya teman” Minhyun melayangkan senyum kaku.

“kalau begitu aku Kim Hyun Joong, ayahnya Key. Kau bisa memanggilku Mr. Kim. Senang bertemu denganmu”

Minhyun agak terkejut saat tahu pria itu adalah ayahnya Key, setelah di perhatikan ternyata Key mewarisi lekuk wajah pria ini, mereka sangat mirip hanya saja Minhyun sedikit bingung kenapa Pria seramah itu mempunyai anak se…. se….

Minhyun tidak bisa mengambarkan karakter Key dengan kata kata, terlalu rumit dan buram. Ah tidak, The Almighty Lucifer itu terasa sempurna.

Tapi yang membuat Minhyun merasa familiar dengan wajah Mr. Kim bukan karena ia mirip dengan Key, seperti ada sesuatu yang dilupakanya.

“apa kau punya Auto Lock glasses House?” tanya Mr. Kim, Minhyun menggeleng cepat “lalu bagaimana kau bisa masuk?”

“memanjat, mungkin…” celetuk Minhyun asal dan diahkiri dengan cenngiran aneh.

Mr Kim tersenyum geli, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya “kemarikan ponselmu” pintanya.

Minhyun meraih ponselnya di saku celana, ia menjulurkanya pada Mr Kim “untuk apa?”

Mr. Kim tidak menjawab, ia melepas sebuah Chip kecil yang menempel di belakakang ponselnya lalu mengambil ponsel Minhyun dan menempelkan Chip itu disana.

“itu Chip electro yang menjadi Auto Lock Glasses House. Jangan bilang pada Key kalau aku yang memberikanya”

Minhyun mengangguk sambil menerima kembali ponselnya “lalu bagaimana dengan mu, Mr Kim?”

“aku bisa membuatnya, ya walaupun cukup rumit. Aku tidak menyangka Key bisa menciptakan yang seperti itu” ujar Mr. Kim “aku harus pergi, semoga beruntung!”

“semoga beruntung?” Minhyun mengulang kalimat itu, untuk apa Mr Kim mengatakan itu padanya?

Ia pun bergegas menuju glasses house dan sekitar semeter dari sana pintu itu terbuka dengan sendirinya “great!”

Minhyun mencari Key ke setiap ruangan namun hasilnya nihil, dia juga sudah memeriksa Gazebo dan selalu nyasar karena tak tahu denah rumah itu. ruangan terakhir yang belum diperiksanya adalah kamar, entah kenapa ia ragu untuk kesana.

Namun pintu yang terbuka ketika ia mendekat, memaksa Minhyun agar lekas masuk. Setibanya di kamar itu ia tak mendapati siapapun, Minhyun sempat kecewa tapi beberapa saat kemudian ia mendengar kucuran air dari kamar mandi.

Minhyun terduduk di tempat tidur, ia memutuskan menunggu Key keluar. Tapi sepertinya namja itu betah mendekam di kamar mandi karena Minhyun telah sampai pada titik kebosananya.

“aish!” Minhyun mengacak acak rambutnya gusar, tak ada suara dari kamar mandi. Sebenarnya apa yang dilakukan namja itu hah?

Ternyata pintu kamar mandi tak dipasang Auto Lock, Minhyun memutar kenop pintu disana saat pintu itu terbuka ia mengaga lebar karena dinding kamar mandinya adalah kaca transparan dan langsung menyuguhkan pemandangan maut.

Ia bersumpah tidak akan mau mandi di tempat ini, eh lagi pula mana mungkin Key menyuruhnya mandi disini. Aigoo… pikiran konyol macam apa ini Cho Minhyun!

Segala peralatan disana stainless dan selebihnya berwarna putih. Minhyun mengedarkan pandanganya dan tak mendapati Key, namun ada sebuah sekat di belakang Bathtub.

Minhyun berjalan ke sana dan menemukan Key sedang berbaring di atas Spring Mattress berseprai putih. Langkah Minhyun terhenti ketika Key tiba tiba menoleh dan melayangkan tatapan tajam padanya.

“keluar!”

Minhyun menegang mendengar ucapan dingin itu “kumohon maafkan aku” pintanya dengan wajah memelas. Namun Minhyun tak bereaksi saat Key beranjak dati Spring Mattress dan menyeretnya keluar.

“kau… melakukan Skinship” Minhyun mengguman tanpa sadar tapi sepertinya berefek pada Key yang langsung melepas tanganya.

Key menatap Minhyun dengan gerakan kilat lalu berjalan menuju pintu kemudian membukanya “keluar!”

“ayolah, kau bisa minta apa saja dariku” pinta Minhyun lagi.

Key membuka mulutnya hendak berbicara tapi tertahan karena bersamaan dengan itu ponselnya berdering, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda itu.

Di tatapnya layar ponsel kemudian ibu jarinya mengusap layar itu secara horizontal dan membuka sebuah pesan disana.

“Key, tadi Taemin hampir ditabrak orang yang pernah dibuatnya masuk penjara. Dia bilang orang itu menerornya beberapa bulan lalu, kau tau siapa orang itu? dan aku juga tidak tau siapa Taehyun tapi Taemin bilang dia dalam bahaya. What Should we do?”

Key kembali menyimpan ponselnya, ia melirik jam tanganya lalu menatap Minhyun yang berdiri di depanya. “kau harus melakukan sesuatu?”

“apa?”

“kau harus menjemput Taehyun di Familia Daycare”

Minhyun menyernyit bingung “Taehyun? Siapa dia?”

“Taemin’s son”

“Mwoya?!”

__TBC__

Annyeong…

Maaf banget ngepostnya amat sangat telat. Kenapa? Ada dua hal, mau tau? *hening -____-

Kemaren kemaren aku baru bikin ringkasan Chapter chapter kedepanya dan jeng jeng jeng… SoL tamat di part 20-an lebih dikit muahahaha. Maaf ya kalo ceritanya jadi mirip naskah drama gagal gini, Chapter ini banyak scene yang di skip. Setiap aku nulis selalu berasa ada yang kurang jadi minder sama SoL *curcol gak penting.

Oh ya, SoL bakalan ada 2 Special edition dan 1 side story *yang ini belum pasti* dan sekuel sekuel kalo masih ada peminatnya *kayaknya udah pada bosen deh, ceritanya kepanjangan*

Itu Cuma ku persembahkan buat readers setia, jadi silahkan bereksis eksis ria. Gomawo for all readers *bungkuk bungkuk*

Cheers,

Luciferain (Ayya)

Advertisements

96 responses to “Season of The Lucifer [CHAPTER 15]

  1. aigoo, apa jonghyun bisa berubah gara gara naomi masuk rumah sakit? kasian naominya..
    key kereenn. mwoyaa..?? taemin beneran punya anak??

  2. jenius tingkat akut key ny…..smga aja key mw trbuka lgi sma minhyun…..
    tmbah ni konflikny ttpi smkin seruuuuuu

  3. Naomi masuk rumah sakit ? Rasakan kau Jonghyun. Semoga Naomi Sadar trus ninggalin Jonghyun. Obsesinya udah keterlaluan.

    Key makin kesini makin keren… suka sama karakternya ! Si minhyun maen masuk-masuk kamar mandi cowok *ikut donkkk…

    Daebakkk… lanjut ke part selanjutnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s