My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 5

Main Cast :

  • Lee Jinki (Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Other Cast :

  • 2PM Kim Junsu
  • Other SHINee members
  • Lee & Shin family
  • Etc.

Genre : Marriage Life, Family, Comedy (dikit), Life

Length : Continue

Rating : PG-13

Author : Mira~Hyuga

>>>Previous<<< 

“Hufhh~” aku menghela nafas dalam, lagi, menelan ludah lagi, kemudian—tanpa bisa kucegah—kepalaku bergerak perlahan mendekati wajahnya. Sekarang aku hanya berharap dia tidak bangun dengan tiba-tiba.

Mianhae, Jikyung-ah.

Setelah beberapa kali memastikan Jikyung tidak terbangun—bahkan aku menahan nafas saking takut dia terganggu—akhirnya bibirku menyentuh bibirnya. Dan bersamaan dengan itu, perasaan nyaman dengan cepat merayapi hatiku.

Ya, kau boleh mengatakan aku gila sekarang. (Junsu)

>>><<<

CLIP 5

(Jikyung’s POV)

Siang ini Jung Sara subaenim, kepala designer di tempatku bekerja, memintaku menemuinya di sebuah cafe. Aku sengaja datang setengah jam lebih awal dari yang ditentukan karena sangat membosankan kalau harus hanya berdiam diri menunggu pelanggan di butik kami yang sedang sepi-sepinya itu. Kebetulan tempat kami bertemu nanti adalah sebuah outdoor cafe yang memungkinkanmu menghirup udara segar selagi menikmati hidangannya. Makanya aku lebih memilih berlama-lama di sini, walaupun itu artinya aku akan menunggu juga.

Namun beberapa menit berlalu, lagu Hello – SHINee mengalun dari speaker di setiap penjuru cafe, membuatku sedikit mengumpat dalam hati karena pikiranku seolah memutar ‘flashback’ secara otomatis.

Eotteohke deul sarangeul shijakhago itneunji saranghaneun saramdeul marhaejwoyo

.

Jamshi yaegi hallaeyo

Aku menelungkup di atas meja yang ada di hadapanku. Sebenarnya inilah yang sedang kuhindari akhir-akhir ini. Dia, bahkan suaranya, fotonya, atau apapun yang berhubungan dengannya.

Tapi entah kenapa sekarang justru suaranyalah yang terdengar paling jelas di telingaku daripada suara member SHINee yang lain di lagu mereka ini. Aissh~ siapa yang memilih untuk memutar lagi ini di sini?

Ireonil nan heunchi anayo nae mal mideojwoyo, yeah~

Aku memejamkan mata sejenak, berusaha untuk menghilangkan konsentrasi pada lagu yang mendadak seperti akan merobek telingaku ini. Dan aku berharap Jung sunbaenim datang lebih cepat.

Saenggakhan daero modu irweojindan mal mideoyo

.

“Hajiman eoryowoyo imareul midojwoyo”

Sunbaeniiiim~ ppalliyo~~!

“Unmyeongilji molla~”

Akhirnya lagu itu selesai, dan sekarang diganti dengan Step dari Kara. Sekarang aku sedikit menyesali keputusanku datang ke sini lebih awal.

Kuluruskan posisi dudukku yang ternyata tanpa kusadari sudah di ujung kursi. Lalu kurapatkan punggungku ke sandaran kursi yang kududuki.

Aiissh~ tak kuduga dia bisa mengacaukan pikiranku seperti ini! Aku membencinya!

Beberapa lama kemudian, akhirnya Jung Sara sunbaenim datang, tepat waktu—maksudku waktu yang sudah kami sepakati sejak awal. Wanita jangkung bertubuh S-line plus modis itu langsung menemukanku ketika baru saja sampai.

“Kau datang lebih awal?” tanyanya tersenyum ramah.

Ne.” anggukku, membalas senyumnya.

Ia mendudukkan diri di kursi yang berseberangan dengan tempatku duduk, “Tata make up dan stylemu ini membuatmu kelihatan segar. Cara yang tepat sekali digunakan untuk menyembunyikan wajah suntukmu. Iya, kan?” komentarnya.

“Ah..” aku speechless. Ia punya mata yg sangat jeli! Apalagi designer sepertinya memang pasti sudah tidak asing lagi dengan trik-trik yang kugunakan yang memang untuk menutupi wajahku yang juga memang aslinya sedang muram.

Jung sunbae tertawa, “Aku hanya berkomentar.” Katanya, “Sudah pesan sesuatu?”

Aku memberikan senyum, “Belum.”

Ia hanya mengangguk, lalu memanggil pelayan dan memesan minuman untuk kami berdua. Kami mengobrol ringan selagi menunggu pesanan kami datang.

*

“Kita diminta membuat rancangan baru untuk musim dingin yang akan datang.” Ujar Jung sunbae dengan tenang, sementara aku yang mendengarnya langsung menegakkan punggungku.

“Musim dingin? Harus selesai saat musim dingin? Siapa yang memintanya?” tanyaku dengan nada tak percaya.

“Young Daeji. Awalnya pekerjaan ini diserahkan pada Joe Wang, tapi karena dia tidak menyanggupi—karena rancangannya gagal—maka hal ini diserahkan pada kita.” Dia tetap bercerita dengan santainya.

Aku menganga, masih terkejut, “Tapi, sunbaenim, ini terlalu mendadak. Walau diserahkan pada kita pun, akan sama saja. Apa kita bisa menyelesaikannya tepat waktu?” aku berusaha memprotes.

Ia angkat bahu, “Ya, mau bagaimana lagi? Yang kita perlukan hanya kerja keras yang sedikit lebih dari biasanya. Tapi bukan itu alasanku mengajakmu bertemu di sini.” katanya cepat, ada sedikit nada sakras dalam perkataannya, karena itu aku langsung menelan kembali protes-protes lain yang tadinya akan kulontarkan selanjutnya.

“Selain itu, sebenarnya mulai lusa aku harus berangkat ke Jepang untuk menghadiri undangan-undangan dari sana, dan juga ada beberapa urusan lain yg harus kulakukan di sana.”

Aku mengangguk paham, menunggu penjelasan selanjutnya.

“Dan.. karena asistenku baru saja habis melahirkan, aku meminta bantuanmu untuk menangani perusahaan selama aku di sana.”

Ne?” aku memekik dengan refleks, “Sunbaenim, jangan bercanda. Saat itu berarti sedang dalam proses merancang, kan?”

“Aku tidak bercanda. Malah aku berpikiran akan menyerahkan tugas membuat rancangan baru itu padamu, sebenarnya.”

Aku heran kenapa dia bisa bicara sesantai itu, seolah ini hanya tugas menambal pakaian yang sobek sebesar jari kelingking.

“Aku mempercayaimu, Shin Jikyung-ssi.” Katanya melanjutkan karena aku tak kunjung (bisa) menjawab, “Lagipula aku hanya pergi sebentar, hanya seminggu.”

Astaga, sunbaenim~ seminggu kau bilang hanya sebentar? Dan lagi aku bahkan belum pernah menangani perusahaan sebelumnya.

Aniyo, Sunbaenim.” Jawabku akhirnya, “Aku tidak yakin aku bisa melakukan ini.”

“Aku juga tidak yakin bisa melakukan keduanya dalam waktu yang bersamaan.” Balasnya.

“Tapi aku benar-benar tidak sanggup diberikan tugas yang menurutku berat ini. Aku belum berpengalaman.” Aku masih tidak menyerah untuk membuatnya berubah pikiran. Oh iya, aku ingat dia memang terkenal keras kepala.

Ia terdiam, lalu menyesap jus avocado’nya dengan anggun. Dan bersamaan dengan itu, suatu pemikiran melintas di benakku.

“Ah, sunbaenim, undangan-undangan apa yang kau maksud tadi?” tanyaku.

“Fashion show, di Jepang.”

“Apakah itu tidak bisa diwakilkan saja?”

“Justru itu. Kan sudah kukatakan asistenku tidak mungkin bisa me… tunggu. Kenapa tidak kau saja yang pergi ke sana?”

“Eh?”

Keureojyo. Kau saja yang mewakilkanku pergi ke sana. Toh seleramu hampir sama denganku. Hanya hadir dan mengomentari. Mudah, kan?”

Apa? Kenapa jadi begini? Padahal ‘kan awalnya aku tidak bermaksud seperti itu, “Ah, aku tidak..”

“Sebentar!” Jung sunbae mencari sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyerahkan sesuatu itu padaku. Sebuah tiket pesawat.

“Akan ada orang yang menemanimu ke dan selama di sana nanti. Dan urusan lain yg kusebutkan tadi, orang tersebut yang akan menjelaskannya padamu.” Katanya lagi seraya meletakkan beberapa buah kertas-yang-kali-ini-bukan-tiket-dan-jumlahnya-cukup-banyak di atas meja.

Ah, apa boleh buat? Lagipula hanya di Jepang, itu tidak terlalu jauh. Tapi demi apapun, kenapa undangannya banyak sekali? (=__=)

(End of POV)

>>><<<

(Onew’s POV)

Aku tidak mengerti kenapa Jikyung begitu menghindariku setelah pembicaraan kami tempo hari, dimana aku menyatakan perasaanku padanya. Oke, aku tahu ini memang salahku. Mungkin dia menghindariku karena dia berpikir bahwa apa yang kulakukan dan kurasakan sedikit—atau sangat—tidak wajar. Tapi jika memang seperti itu setidaknya dia menerima permintaan maafku, bukannya malah seolah menghindari juga permintaan maafku seperti ini. Sudah seminggu berlalu sejak peristiwa itu, dan selama itu pula pikiran-pikiran ini menggangguku.

Lamunanku buyar dengan sendirinya. Kembali kusadari bahwa saat ini kami sedang berada di bandara Incheon untuk terbang lagi ke Jepang. Kupercepat langkahku, mengikuti member lain dan para manager yang sudah berada agak jauh di depanku.

Ppallihae, Hyung!” seru Minho saat aku hampir sampai di tempat mereka.

Aku mengangguk dan semakin memperlebar langkahku, “Kajja!

Di antara orang-orang yang berlalu lalang di bandara luas ini, aku bisa melihat seseorang di depan kami yang berjalan ke gerbang penerbangan yang sama. Melihat punggungnya, aku rasa aku mengenalnya. Tapi siapa?

>>><<<

Tokyo, 3 days later…

Tiga hari selanjutnya berlalu tanpa ada peristiwa yang istimewa. Aku dan SHINee sibuk perform, seperti biasa. Hari ini saja kami baru akan menuju apartemen saat hari hampir malam setelah sibuk melakukan ini-itu sejak kemarin.

“Aku butuh kasur~ sekarang~” Taemin bersenandung tak jelas. Sepertinya dia sudah tidak bisa duduk diam di kursinya, membuat seisi mobil terkekeh kecil menanggapi tingkahnya, walaupun mereka juga tampak tak kalah capek.

Selama di sisa perjalanan, aku terus memperhatikan si maknae yang terus mengubah posisinya setiap selang waktu kurang dari semenit. Berbagai pose(?) dan sikap tubuh sudah diperagakannya, mungkin saking sudah tidak nyamannya dia, dan sepertinya dia tidak sadar kalau aku memperhatikannya. Haha~ uri dongsaeng~

Dia bahkan terburu-buru turun duluan dari van saat driver hyung baru saja menghentikan laju kendaraan ini. Sebenarnya dia mengantuk atau kebelet pipis, sih? -__-

Kami berjalan cepat ke arah apartemen tempat kami tinggal selama di Jepang itu. Begitu masuk ke lobby, aku melihat Taemin sudah berdiri bersandar pada dinding di dekat lift.

Aku yang pertama menghampirinya. Dan baru saja aku akan menekan tombol lift, pintu lift sudah lebih dulu terbuka, sehingga aku mengurungkan niatku.

Aku tertegun sebentar, antara kaget dan sedikit tidak percaya. Kukira aku berhalusinasi. Ada beberapa orang di dalam lift. Tapi bukan itu yang membuatku mematung. Siapa orang yang di dalam lift itulah yang membuat otakku ‘me-loading’ sejenak. Sementara orang itu sendiri juga menatapku dengan mata sedikit membelalak.

“Jibyung-noona?” suara Minho memunculkan asumsi di benakku. Apa benar yeoja yang berada di hadapanku ini Jibyung? Atau Jikyung?

Yeoja itu tersenyum pada yang lain, membungkuk kecil sebelum keluar dari dalam lift, melewatiku begitu saja. Bukan, dia bukan Jibyung. Dia terlihat menghindariku, dan hanya Jikyung orang satu-satunya yang akan bertingkah seperti itu.

Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengejarnya sebelum dia semakin menjauh. Tidak kupedulikan seruan manager hyung dan member lain di belakangku. Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlarut-larut. Aku butuh penjelasan kenapa dia bersikap seperti ini.

Dia baru sampai di depan gedung apartemen ini bersama dua orang lainnya, yang aku tidak tahu siapa. Mungkin rekan kerjanya.

Aku segera mendekatinya dan menepuk pelan pundaknya, “Jikyung-ah.”

Jikyung menoleh, dan di waktu yang bersamaan aku menarik tangannya, berniat membawanya ke suatu tempat. Tapi Jikyung langsung menepis tanganku.

“Kita harus bicara, Jikyung-ah.” Pintaku tegas sambil kembali mencoba meraih tangannya.

“Aku tidak bisa.” tolaknya tak kalah tegas.

“Hanya sebentar. Aku janji.”

“Aku harus pergi.”

“Kumohon, Jikyung.”

Jikyung menghela nafas dan menatapku tajam, seolah mengatakan lepaskan-tanganmu-dari-lenganku-atau-aku-akan-teriak—dari tatapannya tersebut. Aku bisa melihat rahangnya mengatup dengan erat.

“Kita harus bicara. Sekarang.” kataku lagi penuh dengan penekanan.

“Tidak sekarang.” balasnya dingin.

“Jikyung-ssi. Maaf, tapi kita sudah hampir terlambat.” Seseorang yang tadi kukira rekan kerja Jikyung memanggilnya dari jarak beberapa meter di depanku.

“Dengar?”

Aku menghela nafas, “Aku hanya ingin tahu apa alasanmu bersikap seperti ini. Selain itu, aku juga harus menjelaskan sesuatu—”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, Jikyung menarik tangannya dengan kasar dan berlari kecil ke tempat rekan kerjanya tadi. Aku mengacak rambutku dengan perasaan kesal yang entah kemana aku bisa melampiaskannya.

“Ya!”

Aku menoleh dan mendapati manager hyung di depan pintu masuk gedung. Dia menggerakkan tangan, mengisyaratkan agar aku segera masuk.

Sial!

*

Kami berjalan menyusuri koridor menuju kamar apartemen kami. Aku berjalan di paling belakang, dengan pikiran yang masih melanglang buana. Wajah kembaran istriku yang seperti tadi terus terbayang di benakku. Aku tidak pernah melihat dia menunjukkan ekspresi seperti itu sebelumnya. Apalagi itu ditujukan padaku. Dia terlihat kesal, frustasi dan tersakiti di saat yang bersamaan. Aku jadi semakin tak mengerti.

Dan lagi… apa yang dilakukannya di Tokyo? Tepatnya di apartemen ini? Apa dia menginap di apartemen ini? Jika memang begitu, bukankah itu berarti aku bisa lebih mudah menemuinya? Meskipun itu berarti aku harus memeriksa setiap kamar di gedung ini, itu lebih baik daripada harus mencarinya di semua tempat di Tokyo.

Ah, tapi sepertinya tidak semudah itu, mengingat betapa tidak inginnya dia berbicara denganku, meski hanya lima menit saja.

>>><<<

The next day…

Sekitar belasan pesan singkat masuk ke handphoneku ketika aku baru saja menyalakannya lagi setelah sejak kemarin dibiarkan mati. Sebagian besar dari Jibyung, dan yang lain dari manager hyung.

Byungie :

Onew-ya~

Byungie :

Kamu sibuk, ya?

Byungie :

Dubuuu~

Byungie :

Bisakah kita bicara di telfon sebentar?

Byungie :

Bogoshippeo.. TT^TT

Tanpa sadar sudut-sudut bibirku tertarik setelah membaca sekilas pesan-pesan singkat dari Jibyung. Saat aku baru saja akan menutup konten pesan, satu pesan lagi masuk.

Byungie :

Dubu-ya, kamu tahu ibumu sedang sakit? Aku sedang di rumahnya sekarang.

“Mwo?” aku langsung menegakkan tubuh dengan refleks. Jariku bergerak menyentuh layar handphone, dan sesaat kemudian muncul keterangan ‘Calling Byungie…’.

Ne?” Tidak sampai 5 detik setelah terdengar nada sambung, seseorang mengangkat panggilanku. Suaranya terdengar bersemangat.

“Jibyung-ah?” panggilku ragu. Kurasa ini bukan Jibyung, suaranya berbeda.

Tapi dia mengiyakan dengan segera, “Ne.

“Ya, suaramu berbeda.” Komentarku.

Aku sedang flu.

“Aah~ seharusnya kamu jaga kesehatan. Apakah parah?”

Aniyo~ gwaenchanayo~” balasnya dengan nada patuh yang dibuat-buat. Aku tertawa kecil.

“Bagaimana dengan eomma? Kamu bilang eomma sakit?”

Ne. Sekarang aku sedang mengantarnya berobat.

“Benarkah?”

Ng~ Ternyata sulit juga membuatnya mau diperiksa ke dokter. Aku harus sedikit memaksanya tadi.

Aku manggut-manggut setuju, “Eomma memang begitu.”

Pantas anaknya juga sama saja.” kekeh Jibyung.

Mwoyaaa?”

Hehehe~

*

Kami berbincang sebentar mengenai beberapa hal. Aku juga berbicara sebentar dengan eomma sebelum beliau diperiksa.

Pembicaraan itu sedikit banyak membuatku ingat bahwa sekarang aku sudah memiliki keluarga sendiri. Keluarga kecil yang harus kubangun dan kujaga dengan sepenuh hati. Aku sudah mempunyai orang yang menjadi tanggung jawabku dan juga harus kulindungi dengan segenap kemampuanku sampai akhir hayatku nanti.

Dan aku menyadari bahwa seharusnya saat ini adalah masa-masa bahagia kami. Tapi keadaan sekarang, ya, mungkin tidak perlu kujelaskan lagi.

Apa ini yang orang-orang sebut dengan tahun pertama pernikahan?

Ah, eommonim sepertinya sudah selesai.

“…”

Onew-ya?

“…”

Kamu masih di sana? Dubu-ya?

Aku sedikit terkesiap mendengar kalimat terakhir Jibyung, “Ah, ya, mian, aku tidak mendengarmu barusan.” Kataku meminta maaf.

Oh, tidak masalah.” tanggapnya santai. Aku bisa mendengar dia mengendus dengan cukup keras. Kalau tebakanku benar, sepertinya dia hampir bersin tapi tidak benar-benar bersin.

Ne. Kalau begitu, kamu boleh tutup telfonnya. Katakan pada eomma agar cukup istirahat. Kamu juga.” ucapku kemudian.

Arasso. Kamu dan member lain juga harus jaga kesehatan. Apalagi aktivitas kalian sangat padat. Jangan terlambat makan!” nasehatnya.

Ne.

Baiklah. Aku tutup sekarang, ya!

“Ng~”

Eh, tunggu, tunggu! Ngomong-ngomong, apa kamu bertemu dengan kembaranku di sana? Dia akan berada di Jepang seminggu ini.

Aku terdiam selama sesaat sebelum memutuskan untuk menjawab dengan terus terang, “Ya, kemarin aku bertemu dengannya di apartemen. Aku kira itu kamu.”

Benarkah? Aah! Benar juga. Kalian juga menginap di apartemen xxxx, ya?

“Memangnya Jikyung juga..?” tanyaku, sekedar untuk memastikan.

Jibyung bertanya dengan heran, “Loh? Kamu tidak tahu? Memangnya kalian tidak mengobrol?

“Aaah~” aku gelagapan, “itu… kemarin dia buru-buru, dan aku juga. Jadi, yah… hanya bicara sebentar. Aku tidak sempat menanyakan sedang apa dia di sini.”

Ya, aku yakin kalian sudah tahu bahwa aku baru saja berbohong lagi.

Jibyung bergumam paham, lalu mengendus hidungnya lagi, “Hey, sepertinya aku harus menutup telfon sekarang.

“Baiklah.”

Ng~ Annyeong!

Ne~

PIP!

Jibyung memutuskan sambungan lebih dulu, sehingga saat ini layar handphone’ku menampilkan foto kami bertiga—aku, Jibyung dan Jikyung—di hari pernikahanku yang kupasang sebagai wallpaper.

Ah, apa aku bisa merangkul mereka berdua sekaligus, seperti di foto ini?

Hyung!!” seruan nyaring Key membuatku melepaskan pandangan dari foto itu, dan hampir saja aku meloncat dari kloset yang sejak tadi kujadikan tempat duduk. Dengan perasaan masih terkejut, aku keluar dari bilik toilet dan menemuinya.

YA!! Apa yang hyung lakukan di sana?! Kami mencarimu sejak tadi, tahu! Kami sudah menghubungimu, tapi handphone’mu selalu sibuk.” Omelnya dengan sebelah tangan di pinggang.

“Iya, iya, maaf.”

“Apa sekarang toilet sudah jadi tempat serbaguna? Kudengar dari Jonghyun hyung—”

“Iya, Cerewet!” selaku, kemudian beranjak keluar dari toilet lebih dulu.

HYUNG!!”

(End of POV)

>>><<<

5 days later…

(Author’s POV)

Jonghyun memperhatikan Onew yang tengah meneguk air mineral di tangannya dengan haus. Mereka baru saja menyelesaikan konser mereka yang lagi-lagi sukses besar, seperti biasa.

Onew yang sadar bahwa Jonghyun sedang memperhatikannya menoleh, “Mwoya? Jangan menatapku seperti itu, aku jadi ngeri.” katanya datar.

Hyung, sejak kemarin sebenarnya aku penasaran dengan perkembangan permasalahanmu.” tanggap Jonghyun pelan. Dia memang masih ingat bagaimana Onew memperingatinya dan member lain untuk tidak ikut campur dalam urusannya. Tapi Jonghyun tahu persis toh pada akhirnya hyung-nya itu tetap terlihat tidak mampu menyimpan hal ini sendiri.

“Aku tidak mau membahas itu,” kata Onew lagi, seperti yang sudah Jonghyun duga sebelumnya, “setidaknya tidak di sini.”

Jonghyun mengangguk-angguk, “Aku mengerti. Selama hyung yakin akan baik-baik saja, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita.”

Onew terdiam selama sesaat, lalu mengangguk, “Ya. Semuanya pasti baik-baik saja.” Katanya yakin, walaupun dalam hatinya ada sedikit perasaan yang mengganjal, tapi dia memutuskan untuk bersikap lebih optimis.

Jonghyun menatap Onew dengan curiga. Dia tahu Onew masih merasa ragu tentang perkataan yang baru saja keluar dari bibirnya sendiri. Tapi Jonghyun tidak ingin lebih mendesak Onew.

Kajja! Kita harus siap-siap pulang.”

>>><<<

Driver menghentikan van di lapangan parkir gedung apartemen tempat SHINee menginap. Satu-persatu dari semua yang mengisi van tersebut keluar dari pintu van.

Onew baru saja memutuskan untuk turun terakhir ketika mata sipitnya menangkap seseorang yang memakai hoodie putih berlari kecil pada jarak beberapa meter dari tempatnya sekarang—menuju taman di dekat apartemen.

Onew menegakkan tubuhnya, sementara perhatiannya sepenuhnya tertuju pada orang tersebut yang terlihat semakin menjauh. Onew mendorong-dorong Minho yang baru saja hendak mengeluarkan satu kakinya dari van.

Ppallihae, Minho-ya!”

Hyung, ada apa?!” seru Minho terkejut.

Ppalli~~!”

Minho turun dengan terburu-buru, dan akibatnya tubuhnya sedikit terhuyung karena Onew mendorongnya dengan keras.

“Aku pergi sebentar.” Ucap Onew dengan cepat, sebelum berlari mengejar orang yang dilihatnya tadi.

Ya!!” seru Key, Minho dan manager hampir bersamaan. Tapi kemudian mereka sadar Onew sudah tidak bisa dicegah lagi karena jaraknya yang kini semakin menjauh.

Namja bermata sipit itu menghentikan langkahnya. Matanya memindai setiap sudut taman, berharap seseorang yang memakai hoodie putih tertangkap oleh penglihatannya. Seulas senyum tipis terukir di bibir Onew tatkala dia benar-benar menemukan orang yang dia maksud.

Dengan segera Onew menghampirinya yang sedang duduk di sebuah ayunan, kemudian mendudukkan dirinya di ayunan di sampingnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Tapi kemudian orang itu—Jikyung—menyadari keberadaan Onew saat namja itu menggerak-gerakkan ayunannya.

Tanpa memedulikan tatapan tajam yang diberikan Jikyung, Onew tersenyum, lalu membuka mulut pertama kali, “Akhirnya kita punya waktu luang.”

Jikyung mendengus, ingat bahwa akhir-akhir ini namja di sampingnya itu sangat berusaha untuk membuat Jikyung mau berbicara dengannya. Jikyung menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, “Kamu duluan.” katanya pasrah, sadar bahwa kali ini dia tidak bisa menghindar lagi dari Onew.

“Dengan sikapmu akhir-akhir ini, kurasa kamu sudah tahu bahwa aku tidak main-main, kan?” Onew memulai pembicaraan. Dia menatap lurus jauh ke depan sambil menggerak-gerakkan ayunannya dengan pelan. Jikyung hanya berdeham sebagai jawaban.

Onew menatap Jikyung sedetik, karena detik berikutnya dia langsung menunduk, “Saat itu, aku belum selesai bicara.”

Jikyung menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata sejenak, tau ‘saat’ mana yang Onew maksud; saat Onew menyatakan perasaannya tempo hari. Jikyung juga tahu bahwa hatinya seolah dirobek-robek lagi ketika ingatannya mengulang perkataan Onew saat itu.

“Aku tahu.” Ujar Jikyung parau, meski sebenarnya dia tidak terlalu berniat mengeluarkan suara.

“Lalu kenapa kamu malah marah dan pergi begitu saja kalau kamu tahu hal itu?” tanya Onew, dengan nada yang agak mendesak.

“Jelaskan dulu apa ‘pembicaraan yang belum selesai’ itu.” balas Jikyung dengan jauh lebih santai. Tapi sebenarnya saat ini dia tengah menahan cairan yang menggenang di kelopak matanya agar tidak jatuh. Dia menguatkan hatinya untuk mendengar apa yang akan Onew ucapkan selanjutnya. Jikyung sudah menduga bahwa ucapan Onew selanjutnya itu merupakan hal yang buruk baginya. Tapi entah kenapa hati kecilnya mengharapkan bahwa itu adalah hal yang baik. Maka dia membiarkan Onew berbicara lebih dulu.

Onew menghembuskan nafasnya keras, “Hanya satu kalimat lagi yang belum sempat kukatakan saat itu.”

“…”

“Aku… ingin meminta bantuanmu untuk menghilangkan perasaanku padamu.”

Jikyung tahu dia hancur tepat saat suara lembut itu sampai di gendang telinganya. Inilah yang sudah dia duga sebelumnya. Ternyata benar, Onew hanya kembali memberinya harapan kosong.

Kedua telapak tangan Jikyung mengepal kuat di pegangan ayunannya yang sedikit berkarat, hingga buku-buku jarinya tidak bisa lebih memutih lagi dari saat ini. Hanya tinggal menghitung mundur untuk menunggu buliran air matanya jatuh.

Setetes air mata akhirnya jatuh di pipi Jikyung, dan di waktu yang sama, yeoja itu berdiri dengan tiba-tiba, membuat Onew mendongak padanya dengan heran, “Jikyung-ah..”

Sebelum air matanya jatuh semakin deras, Jikyung membalikkan badan, dan tanpa bicara apapun langsung berlalu dari hadapan Onew. Namun dengan cepat Onew mengejarnya, menangkap lengannya, dan menghadapkan tubuh Jikyung ke arahnya. Saat itulah Onew terkejut melihat wajah Jikyung yang sudah penuh dengan air mata.

“Jikyung-ah, waeirae?”

Jikyung mulai terisak pelan, tapi beberapa detik kemudian suara isakannya itu mengeras. Dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Jikyung-ah, apa aku salah bicara? Ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanya Onew cemas. Jikyung menepis tangan Onew di lengannya, kemudian hendak pergi lagi, tapi lagi-lagi Onew mencegahnya.

“Ada apa denganmu?”

Jikyung menghempaskan lagi tangan Onew, “Jangan paksa aku untuk mengatakannya!”

Onew tidak menyerah begitu saja, “Tapi aku ingin mendengarnya!”

“Lepaskan!”

“Jikyung-ah!”

“LEPASKAN!!” Jikyung benar-benar memberontak kali ini. Dia menatap Onew dengan pandangan menusuk, dan air mata yang masih terus mengalir, “Kau mengatakan itu pada orang yang salah! APA KAU TIDAK BERPIKIR BAGAIMANA JIKA NYATANYA AKU JUGA MENCINTAIMU?! HAH?! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat aku tahu bahwa aku masih punya harapan, TAPI TIDAK BISA MEWUJUDKANNYA KARENA KAU SUDAH JADI MILIK ORANG LAIN?!”

Tubuh Onew menegang. Matanya menatap Jikyung nyalang, hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Kedua tangannya menggantung bebas di sisi tubuhnya, “Apa… maksudmu?” katanya dengan suara hampir tercekat. Otaknya masih berusaha mencerna setiap perkataan yang keluar dari bibir Jikyung, menguraikan benang-benang kusut di otaknya menjadi lurus seperti semula.

Yeoja di hadapan Onew itu kembali terisak di tempatnya selama beberapa saat. Jikyung tidak menyangka bahwa dirinya bisa juga mengeluarkan isi hatinya di hadapan Onew. Ada sedikit rasa lega bercampur takut dan juga sakit yang Jikyung rasakan saat ini.

Kemudian Jikyung memutuskan untuk kembali ke kamar apartemennya daripada berdiri di sini hanya untuk menambah rasa sakit tersebut. Sementara Onew masih mematung di tempatnya, terlalu shock.

>>><<<

Seoul, Daehan Bab Restourant…

Di restoran bernuansa khas Korea itulah Jibyung dan ibunya—Minhyun—menyantap makan malam mereka yang sebenarnya ‘agak’ terlambat.  Minhyun yang mengajak putrinya itu untuk makan di sini.

“Sudah lama aku tidak mengunjungi restoran ini.” ujar Minhyun sumringah. Jibyung tersenyum lebar dan menyantap bulgoginya dengan lahap. Seharian ini dia sibuk bekerja untuk menyelesaikan proyek baru perusahaan tempat kerjanya—untuk musim semi nanti, sehingga tadi dia tidak sempat makan siang.

“Pelan-pelan saja!” ujar Minhyun memperingati, dan sedetik kemudian Jibyung tersedak karena mulutnya terlalu penuh dengan makanan. Minhyun segera menyodori Jibyung air minum, “Apa kubilang.” katanya datar.

Jibyung masih terbatuk-batuk ketika Minhyun melanjutkan makan malamnya, “Ah~ tenggorokkanku sakit—uhuk!”

“Ya, eomma! Jangan habiskan semua—uhuk!”

*

Keundae, sayang sekali Jikyung tidak di sini. Tiba-tiba aku jadi merindukannya.” Celetuk Jibyung sambil mengunyah makanan di mulutnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia teringat Jikyung. Minhyun hanya mengangguk setuju, karena mulutnya sibuk meneguk air minum.

Eomma, haruskah aku menelfonnya?” Jibyung memainkan jarinya dengan asal di atas keypad handphonenya.

Keurae! Ide yang bagus.” angguk Minhyun setuju. Dengan segera Jibyung menekan speed dial 1 di handphonenya.

Ne?” akhirnya suara Jikyung terdengar setelah sebelumnya tidak ada jawaban pada panggilan pertama.

“Jikyung-ah, mwohaniya?” tanya Jibyung dengan nada ceria.

Aku ketiduran tadi.” Jawab Jikyung parau. Jibyung bisa menangkap sesuatu dari suaranya tersebut.

Gwaenchana? Kau habis menangis? Wae?” tanya Jibyung lagi sambil menatap Minhyun di depannya. Minhyun yang mendengar itu langsung mengerutkan alis dan terdiam.

Ah, aniya. Aku tidak menangis.

“Eiiy~ kkojitmal.”

Jikyung tertawa, “Aniya, aku hanya sedikit flu karena sering keluar malam.”

“Oh~ awas saja kalau kamu berbohong.”

Of course I don’t~

Arasso. Kapan kamu pulang? Ini sudah seminggu lebih sehari.”

Aku akan pulang besok.

“Oh, jinjja? Kamu tidak lupa membelikan kami oleh-oleh, kan?” Jibyung mengerling lagi pada Minhyun yang ikut terkekeh geli.

Oleh-oleeeeh saja yang ada di pikiranmu.” cibir Jikyung. Jibyung mencebikkan bibirnya, seolah Jikyung ada di depannya dan sedang melihat ekspresinya sekarang.

Jibyung-ah, ada  panggilan masuk.” Kata Jikyung lagi pada Jibyung.

“Ah, baiklah. Jikyung-ah, haruskah aku menjemputmu besok?” tanya Jibyung untuk yang terakhir kalinya.

Aku tidak mengharuskan.” Jikyung terkekeh garing.

Arasso. Aku tutup, ya? Annyeong!”

Ng~

Jibyung meletakkan handphonenya di dalam saku jaket sambil menghela nafas pelan, “Eomma..” gumamnya yang membuat Minhyun memusatkan perhatiannya pada Jibyung.

“Aku yakin Jikyung habis menangis. Dia tidak bisa membohongiku.” ujar Jibyung lagi sementara tangannya mengambil gelasnya yang masih berisi air minum. “Tapi apa yang membuatnya menangis, ya?” Jibyung merasa tidak enak, entah kenapa.

Minhyun tersenyum lembut, “Mungkin ada suatu hal, tapi dia tidak ingin mengatakannya. Ngomong-ngomong, kapan dia pulang?”

“Aku akan menjemputnya besok.” Jawab Jibyung sedikit menerawang.

Jinjja? Baguslah.”

Jibyung mengangguk tak kentara sebagai tanggapan.

Ya! Ya! Ya, Shin Jibyung! Apa yang kau lakukan?!” pekik Minhyun heboh karena Jibyung tanpa sadar menyiram pemanggang di meja mereka dengan air minum dari gelasnya tadi.

“Ah! Eomma, eotteokhae~? Aku tidak sengaja~”

>>><<<

To Be Continue

14 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 5

  1. waaa, akhirnya jikyung menyatakan juga isi hatinya sama onew alhasil smpe bikin dy mematung di tempat saking syoknya..uda pasti bakal susah bwt onew ngelupain perasaannya ama jikyung klo gitu mah..tapi firasat jibyung kayanya uda jalan nih, smoga aja ga ngerusak hubungan ketiganya >.<
    dtunggu next updateny lagi ya ^^

  2. ahhh,,, gatau kenapa setiap X baca ni FF, perasaanku jd.y perih bgt~,,, (*lebay)
    serasa jd Jibyung,,,
    Yg punya suami tp ternyata,,,
    Yah,,, The Story Only I Didn’t know,,, :((((
    Hikss,, Lanjutnya jgn lama2,, ne? 🙂

  3. wah wah makin panas aja eui….
    apa onew akan pisah ma jibyung stlah tau isi hati jikyung???
    hah kasian jibyung nya,
    dbohongn suami tercinta….
    next part dtnggu…..

  4. Aaahhh, aku ska epep ini..
    Kasian jibyung dy g tau jinki ma kmbrn na saling suka..
    Dbwt angst jinki na bnar2 slingkuh, angst seangst2 na*reader phsycho..
    next chap jgn lma2 ya thor..

  5. aigooo~ wlpwn emg ga enk jd jd jikyung tetep aja yg jadi korban yaa jibyung yg g tau apa2.. berasa ga da artinya kan klo gtu?? huhuhu

    lanjut baca….^^

  6. Gimana nasibnya jibyung ya ?
    Onew Sama jikyung Aja punya perasaan yg Sama ? =,=
    Lanjut aku suka ffnya 😉
    *maaf Engga bisa comment banyak hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s