This Is War [part 1]

Title : This Is War Part 1

Author : Lietha (@liethassi)

Casts : Han Neulmi (@annisandiani) , SHINee’s Choi Minho , Infinitie’s L / Kim Myungsoo

Rating : G / General

Genre : Romance, a lil’ bit comedy and friendship J

Disclaimer : Choi Minho and L are Nisa’s boyfriend (?) but L is actualy my groom-to-be (???) . Story line and poster are mine. If you want to repost , please ask me first!

Kali ini aku buat cerita yang ringan, gampang dicerna (?) dan dibaca. Lama-lama bosen juga bikin cerita pake bahasa tingkat dewa. 🙂

Buat Nisaaaaaa~ ini nih yang namanya penyiksaan hidup. Emang bisa apa kamu milih antara L ato Minho? *padahal udah agak yakin bakal milih siapa :p*  Wkwkwkwk. Kalo milih si Minho, si EEELL nya buat akuuuuu yaaaa *plak* bytheway si chaeri-taecyeon numpang eksis ya :p

THIS IS WAR

Part 1

©Lietha-2012©

———-

-Kita putus.

Choi Minho terpaku saat membaca sebuah pesan singkat dari kekasihnya, Han Neulmi, beberapa saat yang lalu.

Saat ini dia sedang berada di rumah, tepatnya di kamarnya. Saat ia sedang bersiap-siap tidur, ponselnya berbunyi. Dan saat itulah pesan singkat dari kekasihnya itu datang.

Tapi, entah setan apa yang merasuki Minho, ia langsung membalas pesan Neulmi. Dan ia membalasnya tanpa berfikr panjang lagi.

-Baiklah kalau itu maumu.

Han Neulmi sejak beberapa jam yang lalu termenung di kamarnya. Memikirkan hubungannya dengan kekasihnya, Choi Minho, yang terkesan jalan di tempat. Ia ingin seperti teman-temannya yang punya hubungan yang ‘hidup’ dengan kekasihnya.

Saat itu sesuatu masuk ke dalam otaknya.

Neulmi mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja belajarnya dan dia mengetikkan sesuatu yang tadinya masuk ke otaknya.

-Kita putus.

Tapi ia bimbang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia mengirimkan pesan itu.

Tapi ia harus bertindak. Ia ingin ada sebuah perubahan pada hubungannya. Apapun akan ia lakukan demi membuat hubungan mereka move termasuk ini.

Ia berfikiran bahwa mungkin saat ia meminta putus dari Minho, Minho akan tergerak hatinya.

Maka, dengan mantap ia mengirimkan pesan itu.

Tapi sebersit penyesalan menelusup ke hatinya. Bagaimana kalau Minho mengiyakan? Bagaimana kalau Minho tidak peduli? Bagaimana kalau….

Ada SMS masuk.

Dari Minho.

Dengan tidak sabar Neulmi menekan tombol ‘read’ di ponselnya. Dan jantung Neulmi rasanya anjlok saat membacanya.

-Baiklah kalau itu maumu.

“Ya! Kok bisa-bisanya kau mutusin dia? Memangnya kau bisa hidup tanpa dia apa?”

Neulmi masih menelungkup diatas mejanya. Hari ini ia benar-benar berantakan. Pelajaran hari ini hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar dari telinga kiri. Begitupula dengan ocehan Hyun Chaeri, sahabatnya, yang sejak tadi terus-terusan membicarakan tentangnya dan Minho.

“Cukup, Chaeri-ya. Aku benar-benar stress sekarang. Jangan tambah-tambahi deh.”

Mendengarnya, emosi Chaeri langsung naik seketika. “Ya, aku sama sekali nggak bermaksud membebanimu atau apa. Tapi sebagai sahabat yang baik sudah sepantasnya aku berbuat ini kepadamu. Itu tandanya aku benar-benar peduli padamu, Neulmi-ya.”

“Tapi sahabat yang baik itu selalu menyediakan waktu untuk sahabatnya merenung. Setidaknya itu yang kutahu.”

Chaeri langsung termenung. “Ya!”

Teririakan Chaeri sama sekali tidak digubris Neulmi. Neulmi sadar bahwa maksud dan niat sahabatnya itu baik. Chaeri ingin membantunya untuk menyadarkan pikirannya. Tapi, Neulmi tidak suka dengan cara Chaeri walau ia tahu bagaimana sifat dan kebiasaan Chaeri.

“Neulmi-ya,” Chaeri menyentuh bahu Neulmi, memaksa Neulmi untuk mendengarkan perkataannya. Maka dari itu, Neulmi yang sedang menelungkupkan kepalaya diantara tangan yang ia lipat diatas meja, mendongak dan menatap Chaeri. “Apa?”

“Dengar aku.” Chaeri menatap muka Neulmi dengan serius. Membuat Neulmi tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan Chaeri. “Tiga bulan lagi kita ujian. Jadi cepat selesaikan masalahmu kalau kau mau kuliah di SNU.”

“Ah,” Neulmi mengerang. Memang impiannya sejak dulu adalah ingin masuk Universitas Seoul. Tapi…. untuk menyelesaikan masalahnya secepat mungkin… rasanya ia belum bisa. “Shiroyo,” ucap Neulmi ogah-ogahan.

“Ya!!”

“Kalau ingin mengomeliku, jangan mendekat.” Neulmi menatap tajam Chaeri yang sedang berjalan menujunya. “Sudah cukup telingaku mendengarkan suara jelekmu itu, dasar cewek sok tahu.”

Chaeri langsung memukul kepala Neulmi dengan kertas yang ia bawa begitu mendengar ucapan Neulmi. “Ya! Apa katamu, Nona-yang-baru-saja-putus? Enak saja. Suara bagus seperti ini kau bil—“

Gantian Neulmi yang menendang kaki Chaeri hingga Chaeri mengaduh kesakitan. “Sudah kubilang jangan mengoceh tidak penting didepanku.”

“Aku nggak ngoceh, tauu!”

“Ooooh lihat saja ya, kau,” dengan slow motion, Neulmi memutar kepalanya hingga menatap Chaeri, “kalau kau putus sama Taecyeon-mu itu, aku bakalan benar-benar menceramahimu sampai telingamu berbuih.”

Chaeri merengut dan tanpa sadar Neulmi tersenyum. Sahabat. Memang hanya sahabat yang bisa membuatnya tersenyum. Memang ia masih belum bisa melupakan tantang kejadian putusnya dia dengan Minho, tapi dengan adanya Chaeri, ia bisa sedikit melupakannya.

“Janji, ya, setelah ini kau langsung bicara sama Minho?”

“Janji.” Jawab Neulmi sambil mengaitkan kelingkingnya di kelingking Chaeri.

Ternyata, menguatkan hatinya untuk bicara dengan Minho tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan juga tidak segampang bibir berucap. Intinya, Neulmi benar-benar tidak siap.

Flashback ke masa lalu, saat Minho menerima pernyataan sukanya, Neulmi masih ingat bagaimana senangnya dirinya saat itu. Matanya berbinar-binar dan senyum lebar sama sekali tidak hilang dari wajahnya meskipun sudah berjam-jam setelah perasaannya diterima Minho.

Choi Minho, teman seangkatan yang berbeda kelas dengannya, adalah seorang pria yang sejak kelas satu menjadi pria idaman Neulmi. Pada awalnya Neulmi memang menyukai Minho karena faktor wajah dan tubuh.

Semua orang pasti amat sangat setuju dengannya. bahwa Choi Minho mempunyai wajah tampan melebihi siapapun di dunia ini dan tubuhnya yang tinggi serta bahu yang bidang.

Pada awalnya tidak sedikit orang yang menyukai Minho. Bahkan sampai sekarang meski Neulmi telah menjadi kekasih Minho, ada saja ulah para siswi di sekolah yang berstatus sebagai pengemar Minho mengirimi Minho hadiah atau bekal atau bunga. Bahkan pernah salah seorang siswi bertingkah frontal di depan Neulmi demi menarik perhatian Minho.

Siswi itu dengan senaknya berlari menghampiri Minho yang sedang duduk berdua dengan Neulmi di taman sekolah. Padahal siswi itu jelas-jelas sudah melihat Neulmi yang sedang bercerita tentang kejadian yang barusan terjadi padanya dan sudah jelas bahwa Minho memperhatikan Neulmi yang tengah bercerita, tapi siswi unknown itu malah dengan beraninya mendorong Neulmi hingga oleng dan jatuh ke rumput. Dan yang dilakukan siswi itu adalah memberikan bekal makan siang kepada Minho lalu sebelum pergi, siswi itu dengan kurang ajarnya mencium pipi Minho dan mengucapkan kata ‘saranghaeyo oppa’.

Gadis mana yang tidak marah saat melihat dengan kepalanya sendiri kekasihnya dicium gadis lain? Bahkan kejadian itu terjadi tepat di depan matanya.

Dan reaksi Minho?

Biasa-biasa saja seakan-akan kejadian barusan tidak penting baginya.

Setelah siswi itu pergi, Minho memang terdiam beberapa detik. Lalu kemudian dia membuka bekal yang diberikan siswi itu lalu menoleh ke Neulmi sambil berkata, “Ayo kita makan.”

Sebenarnya saat itu Neulmi benar-benar ingin menangis tapi ia menahan tangisnya hingga sampai di rumah. Setelah sampai dirumah ia lalu menangis sepuasnya. Dan besoknya saat Minho menjemputnya, walaupun ia telah menangis semalaman, Neulmi langsung bersemangat lagi dan seketika melupakan bahwa penyebab ia menangis semalaman adalah Choi Minho.

Dan Neulmi juga tidak tahu kenapa ia masih kuat berhubungan dengan Minho yang jelas-jelas susah di tebak.

Memang Minho setelah menjadi kekasih Neulmi tujuh bulan yang lalu benar-benar menjalankan perannya sebagai pacar dengan amat sangat baik dan tanpa cela. Selalu menjemput Neulmi, pulang bersama Neulmi, meluangkan waktunya untuk bersama Neulmi, dan sesekali mengajak kencan Neulmi.

Tapi hanya itu saja. Tidak ada perlakuan spesial dari Minho yang menunjukkan bahwa dia adalah kekasih Neulmi. Minho selalu menolak jika Neulmi menunjukkan tanda-tanda ingin berpegangan tangan jika sedang berjalan bersama. Minho terkesan menghindar jika Neulmi mengharapkannya mengucapkan kata-kata sayang atau cinta. Setidaknya Neulmi selalu meminta Minho untuk menunjukkan perhatiannya pada Neulmi.

Seperti mengirimi Neulmi pesan singkat berisi pertanyaan ‘sudah makan belum?’ atau ‘have a nice dream’. Itulah hal yang selalu ditunggu-tunggu Neulmi sejak tujuh bulan lalu.

Hubungan mereka terkesan jalan di tempat. Tidak ada perubahan. Bahkan cowok yang bukan pacar pun bisa melakukan apa yang dilakukan Minho pada Neulmi.

Terkadang Neulmi iri dengan hubungan sahabatnya, Chaeri, dengan kekasihnya yang bernama Ok Taecyeon yang juga sekelas dengan Minho. Hubungan Chaeri-Taecyeon hangat dan menyenangkan. Penuh tawa dan penuh ejekan setengah menghina. Saat pertama kali mendengar Chaeri memanggil Taecyeon dengan Si-Gigi-Besar dan saat mendengar Taecyeon memanggil Chaeri Nona-Mulut-Duri, Neulmi terkajut. Tapi itulah cara mereka menunjukkan perasaan mereka, Neulmi tahu itu.

Dan itu yang ia inginkan dari Minho. Tidak perlu yang muluk-muluk, dengan Mnho memanggil Neulmi sebagai ‘Mi-ya’ atau panggilan-panggilan sayang biasa lainnya, Neulmi sudah sangat senang. Tidak perlu memanggilnya ‘sayang’ ‘cintaku’ atau semacamnya.

Tapi sayangnya, sepertinya Minho tidak mengerti apa kemauan Neulmi. Itulah yang membuat Neulmi melakukan ini semua. Ia sudah mencoba tidak egois. Tapi ia hanya remaja berusia 17 tahun yang benar-benar ingin menjadi seperti remana remaja kebanyakan yang disayang pacarnya. Ia ingin punya pacar yang pengertian, yang sayang dengannya.

Memang, secara fisik Choi Minho nyaris mendekati sempurna.

Tapi hatinya? Siapa yang tahu? Bahkan Neumi yang notabene adalah kekasihnya selama 7 bulan sama sekali tidak tahu.

“Huh.”

Tanpa sadar Neulmi mendengus keras. Sangat keras sampai orang yang kebetulan sedang lewat di dekat Neulmi menoleh.

“Hey, Han Neulmi.”

Neulmi menoleh. Dan dia mendapati… Kim Myungsoo.

Kim Myungsoo? Eh??

Dahi Neulmi berkerut. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Myungsoo di sekolah. Memang ia bukan  tipe orang yang setiap istirahat berjalan memutari sekolah demi menyapa taman-teman. Tapi sungguh, sudah lama ia tidak melihat Myungsoo. Biasanya Myungsoo sering keluar masuk kelasnya dengan seenaknya sendiri lalu mengajak semua orang di kelas mengobrol, termasuk juga Neulmi. Tapi Neulmi tidak suka tingkah Myungsoo yang terkesan sok akrab. Jadi, selama tiga tahun, jika Kim Myungsoo mengajaknya bicara, sebisa mungkin Neulmi mencoba menghentikan percakapan tidak penting yang dimulai Myungsoo.

“Yeoboseyoooo~” Myungsoo menggerakkan tangannya di depan muka Neulmi dan Neulmi langsung tersadar dari lamunannya. “Wah, kukira kau mati.”

“Yang benar saja!” Neulmi memukul lengan Myungsoo dengan keras. “Kemana saja kau beberapa hari ini?”

Myungsoo langsung menampakkan wajah jahilnya begitu mendengar ucapan Neulmi. Maka ia langsung mendekatkan wajah dan tubuhnya sehingga membuat Neulmi mundur beberapa langkah. “Ini hanya diantara kita berdua saja, ya.” Selepas mengatakannya, Myungsoo langsung melihat sekeliling seperti memeriksa apakah ada orang yang menguping mereka. Setelah itu Myungsoo kembali mendekat ke Neulmi. “Jujur saja, ya, Han Neulmi. Apa kau merindukanku?”

“YA!” Neulmi memukul Myungsoo membabi buta hingga membuat Myungsoo berteriak kesakitan dan memohon agar Neulmi menghentikan tindakan brutalnya. “Dasar kau GILA!!!”

Tapi, Han Neulmi sama sekali tidak sadar bahwa di kejauhan, seorang pria sedang memandang kejadian itu dengan mata menyipit.

“Jadi itu alasanmu meminta putus dariku, ya?”

-to be continued-

Pendek? Hahaha 🙂 sekali kali nggak papa dooong bikin FF yang ringan plus pendek.. wkwkkwk pasti udah banyak yg bisa tebak siapa orang di akhir cerita sebelum TBC 🙂

Ohya buat kelanjutannya Our Marriage… hahahaha … cuma bisa ketawa kalau ada yang tanya Our Marriage .. nantilaah ya kalau udah sempurna aku post . aku gaksuka kalo post sembarangan apalagi itu 2 part terakhir :p *yakin ini aku udh ditendang gara2 kebanyakan omong*

Makasih ya udah baca . sebenernya udah masuk tahap editing 3x tapi yah maaf kalo ada typo ..

Salam terhangat dari saya , Tiffany Hwang (?) #eh

42 responses to “This Is War [part 1]

  1. setuju, charmnya minho itu selain muka sama tinggi dan suara dalemnya, ya pundaknya………………..

    L atau minho? dua2nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s