[Chan Yeol’s] Girl inside the Window

girls-inside-the-window

Credit Poster : sasphire.wordpress.com

Title : 1st Chapter : [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

Author        : Fransiska Nooril Firdhausi (@fhayfransiska)

Genre         : Romance, Friendship

Length        : Chaptered

Cast            : Park Chan Yeol

                     Byun Baek Hyun

                     Lee Jin Ri (OC)

NB              : Anyeong readers, saya author baru di sini. Ini ff pertama saya, mulai sekarang mohon bantuannya ya ^^. Mian juga soal posternya yah, saya ganemu ulzzang yang cocok nih -,-

This plot is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?

And be a good readers please🙂

            “Ya, Chan Yeol ah! Mau sampai kapan kau begini terus?!”

Chan Yeol mendengus kesal mendengar keluhan Baek Hyun, sahabatnya. Dilemparkannya tatapan sinis pada sahabatnya yang tengah sibuk membolak-balik majalahnya dengan kasar itu. Chan Yeol menghembuskan napas berlebihan kemudian dengan keras membanting tubuhnya ke kasur.

“Ya, Yeol ah! Jawab pertanyaanku!”teriak Baek Hyun lagi.

Masih enggan menjawab, namja yang dipanggil Yeol itu malah menutup kedua telinganya dengan bantal. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini dia sedang malas berdebat dengan Baek Hyun. Chan Yeol menutup matanya dan berusaha untuk tidur, namun apa yang terjadi malah sebaliknya. Baek Hyun yang menyadari bahwa Chan Yeol berusaha menghindar dari pertanyaannya malah mengguncang tubuh Chan Yeol dengan keras.

“Ya, kau harus melakukan sesuatu! Sudah empat bulan kau hanya memandanginya saja, memangnya kau mau begini terus? Lalu bertepuk sebelah tangan? Dan sampai mati tidak mengenalnya?”ujar Baek Hyun sarkastis.

Sontak Chan Yeol membuka matanya, terkejut oleh kalimat terakhir yang dilontarkan Baek Hyun. Senyum kecut perlahan terlukis di wajah putihnya.

Agak lama, akhirnya Chan Yeol membuka mulut. “Ya, Bacon ah..”

Baek Hyun melirik sinis pada Chan Yeol yang tengah berbicara dengan mata terpejam. “Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!”potongnya cepat.

Chan Yeol tersenyum lemah, “Aku mau minta bantuanmu.”

            Baek Hyun berjalan cepat dengan muka ditekuk, sebelah tangannya menggenggam sebuket bunga mawar. Baek Hyun menatap sinis mawar itu. “Kalau bukan karena Yeol, aku tidak akan mau membawa bunga konyol ini! Terlebih untuk yeoja yang bahkan tidak aku kenal itu, cih!”

Namja bernama Baek Hyun itu mempercepat langkahnya hingga berjarak tiga meter dari tempat seorang yeoja yang tengah serius membaca sebuah buku. Diperhatikannya yeoja itu baik-baik, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Yeoja berambut panjang sebahu itu hanya mengenakan cardigan berwarna pucat dan rok selutut yang tampak sangat sederhana.

Tidak ada yang istimewa, apa yang Chan Yeol sukai dari yeoja ini? gumam Baek Hyun dalam hati.

Baek Hyun mendongakkan kepalanya ke sebuah rumah di seberang tempatnya berdiri, lebih tepatnya ke arah jendela di lantai dua rumah itu. Didapatinya seorang namja tengah memandangnya dengan penuh arti. Dengan segera Baek Hyun mengacungkan jempol tangannya tinggi ke udara, membuat senyum terbentuk di wajah namja itu. Namja itu adalah Chan Yeol.

Yeoja itu masih tenggelam dalam dunianya, matanya bergerak-gerak cepat membaca setiap kata yang tertulis di buku tebal yang berada di pangkuannya. Tiba-tiba harum bunga mawar mengusik indra penciumannya, dengan segera ia melepaskan pandangannya dari buku. Sontak yeoja itu terkejut mendapati sebuket bunga mawar kini berada di hadapannya.

Yeoja itu masih terdiam lama hingga Baek Hyun menegurnya, “Ya, ini untukmu!”

“Ah, mi.. mianhae.” Yeoja itu terlihat ragu saat menerima bunga dari tangan Baek Hyun. Dia menunduk malu namun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Baek Hyun tepat di matanya. “Mianhae, tapi .. aku tidak mengenalmu. Jadi, mawar ini…”

“Itu dari seseorang, jadi terima saja!”potong Baek Hyun cepat.

Terkejut, yeoja itu lantas mengangguk cepat. Dia memandang buket mawar dihadapannya penuh arti, kemudian memeluknya erat.

“Siapa namamu?”

Yeoja itu memandang Baek Hyun lagi, “Ehm.. Jin Ri. Itu namaku.”

            “Konyol sekali!”

Chan Yeol menatap Baek Hyun dengan senyum sumringah. “Gomawo, Bacon. Kau penyelamatku!”ujarnya kemudian.

Baek Hyun mendelik marah ke arah Chan Yeol. “Cukup. Jangan lagi! Aku tidak mau berhubungan dengan yeoja itu. Titik!”

“Hei, hei. Memangnya kenapa?”

Baek Hyun melemparkan majalah otomotif yang sedari tadi dibacanya tepat ke muka Chan Yeol. “Yang benar saja! Kau yang menyukai yeoja itu, tapi kenapa malah aku yang harus mendekatinya, memberikannya bunga, cokelat, buku, atau apalah seperti permintaanmu. Dan aku harus bilang kalau itu semua dari ‘seseorang’, tanpa sekalipun menyebutkan namamu. Konyol sekali! Jangan sampai yeoja itu salah kira kalau aku yang menyukainya!”

Chan Yeol mengelus dahinya yang terkena lemparan Baek Hyun, “Hei, sudah setengah hidupku aku lalui bersamamu, Bacon. Setidaknya bantulah sahabatmu ini. Kau tidak mau aku bersedih, kan?”

“Aissh, terserah kau! Setengah umurku aku lalui bersamamu tapi anehnya aku tidak kunjung mengerti dengan jalan pikiranmu.”

Chan Yeol tersenyum, berusaha mengabaikan kata-kata sahabatnya itu. Dia berjalan pelan ke arah jendela, kemudian menyibakkan tirai yang menghalangi cahaya masuk. Pandangannya kembali ke sosok itu, sosok yang telah memenuhi pikirannya selama empat bulan terakhir. Selama itu juga Chan Yeol hanya memandangi yeoja itu dari jendela kamarnya di lantai dua. Gadis dalam Jendela, begitu Chan Yeol menyebutnya. Yeoja yang kini telah dia ketahui bernama Jin Ri.

Jin Ri selalu duduk di bangku taman yang ada di seberang rumah Chan Yeol pada waktu yang sama, pukul tiga sore hari. Tidak ada hal lain yang dilakukannya, hanya membaca dan membaca. Terkadang yeoja itu tampak memilin-milin rambut panjangnya, tersenyum sendiri atau sesekali menguap lebar. Tidak ada yang istimewa, bahkan pakaian yang dipakainya sangatlah sederhana. Namun entah mengapa Chan Yeol justru tertarik dengan yeoja pemilik kesederhanaan itu.

Chan Yeol mengambil kameranya dan mulai membidikkan objeknya. Setiap sore, tidak ada sedetik pun dia lewatkan tanpa mengamati Jin Ri, tidak jarang pula dia mengabadikan foto yeoja itu dalam kamera kesayangannya. Baginya, hanya memandang yeoja itu saja sudah membuatnya begitu bahagia, dan dia tidak berusaha berbuat lebih jauh dari ini.

Chan Yeol tersenyum lagi ketika memandang Jin Ri. Tiba-tiba cairan merah pekat keluar dari hidungnya. Terkejut, dengan segera dia meraih kotak tisu di meja belajarnya dan cepat-cepat membersihkannya sebelum Baek Hyun menyadarinya.

“Ya, Yeol ah. Kenapa hidungmu kau tutupi tisu begitu?”ujar Baek Hyun yang menyadari gelagat sahabatnya yang tampak kebingungan.

Chan Yeol hanya menggeleng sambil meringis. “Ingusku tiba-tiba keluar.”

Baek Hyun memiringkan kepalanya, “Memangnya kau sedang flu?”

Chan Yeol terdiam agak lama, kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali. Merasa sahabatnya baik-baik saja, Baek Hyun pun kembali menekuni majalah otomotif yang sedari tadi dibacanya.

            Untuk kesekian kalinya Baek Hyun mengembuskan napasnya keras. Dipaksanya kakinya untuk melangkah mendekati yeoja yang tengah duduk di bangku taman dengan sebuah buku tebal di pangkuannya itu. Kali ini namja itu membawa payung, Chan Yeol memintanya untuk memberikan payung pada yeoja itu karena dia merasa langit mulai gelap.

Sudah lebih dari sepuluh kali Chan Yeol minta bantuannya untuk mendekati Jin Ri. Memang tidak masuk akal, namun anehnya Baek Hyun tidak pernah bisa menolak permintaan sahabatnya itu.

Perlahan-lahan tetesan air mulai membasahi bumi. Jin Ri mendongak ke langit ketika menyadari bahwa bukunya telah penuh oleh titik-titik air. Seperti baru tersadar, dia segera membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas jinjing berwarna biru muda. Ketika dia mulai beranjak, dia merasa tubuhnya tidak lagi terkena hujan karena seseorang telah memayunginya.

Jin Ri berbalik, “Ah, Baek .. Hyun ah.”

Baek Hyun menyerahkan payungnya pada Jin Ri. “Seperti biasa, dari seseorang.”katanya dingin.

Baek Hyun hendak pergi ketika dia merasa lengannya ditahan oleh sesuatu. “Ja .. jangan pergi!”

Terpana, Baek Hyun menatap tangan Jin Ri yang menahannya pergi. “Hei! Apa-apaan? Lepaskan!”Baek Hyun menepis tangan yeoja itu kasar.

Jin Ri segera memayungi Baek Hyun, “Aku tidak ingin kau sakit. Biarkan payung ini kita pakai berdua.”

Mendengar itu Baek Hyun hanya bisa terdiam.

            “Pokoknya aku tidak mau lagi! Cukup sudah, aku tidak mau berlama-lama dengan yeoja itu lagi. Cukup, Yeol!”

Chan Yeol tersenyum lemah, wajahnya kini terlihat sangat pucat. “Nee, nee. Aku minta maaf. Hal yang seperti itu diluar perkiraan, Bacon. Memangnya kenapa sih, bukannya dia hanya menggenggam lenganmu? Sakitkah?”

“Bukan itu masalahnya! Tapi yeoja itu orang yang kau sukai, aku tidak mau lantaran aku sebagai perantara kalian lantas yeoja itu jadi suka padaku!”Baek Hyun melemparkan sebuah bantal bulu ke badan kurus Chan Yeol.

Chan Yeol menghembuskan napasnya keras, kemudian tersenyum masam.

            Sore itu tetap seperti biasa, Chan Yeol terbangun dari tidur siangnya dan langsung berjalan mendekati jendela kamarnya. Perlahan disibakkannya tirai jendela yang warnanya mulai hilang, kemudian pandangannya kembali fokus. Fokus ke sebuah titik.

Yeoja itu masih seperti biasanya, memakai pakaian sederhana dan membaca buku. Namun ada yang berbeda karena kali ini yeoja itu mengikat rambutnya ke belakang. Chan Yeol tersenyum memandangi yeoja yang dikaguminya semakin cantik dari hari ke hari.

Chan Yeol menghembuskan napasnya keras, wajahnya kini tampak makin pucat. Tiba-tiba namja itu merasa kehilangan keseimbangan dan kepalanya pening. Setetes darah perlahan keluar dari hidungnya, namun Chan Yeol hanya terdiam. Namja itu masih berusaha berdiri meskipun dengan susah payah, pandangannya tidak sedikitpun beralih dari yeoja itu.

Perlahan sebulir air mata turun membasahi pipi putih Chan Yeol, namja itu masih saja terpaku dalam diam. Pandangannya pelan-pelan memudar karena air mata yang mulai memenuhi mata indahnya, yeoja yang tengah dipandanginya pun kini tampak makin kabur. Chan Yeol jatuh terduduk, dia tidak sanggup lagi menahan tubuhnya untuk tetap berdiri. Punggungnya bersandar pada sebuah lemari pakaian. Dia terisak keras.

Tiga minggu kemudian.

Jangan datang ke rumahku selama tiga minggu ke depan, aku dan keluargaku akan berlibur ke Inggris. Aku titipkan kunci rumah padamu. Terima kasih banyak, Bacon.

            Baek Hyun mendengus kesal ketika membaca lagi pesan yang terakhir kali Chan Yeol kirimkan padanya. Kini dia tengah berdiri di depan rumah sahabatnya itu, menghela napas keras mendapati rumah itu masih juga kosong meskipun telah tiga minggu berlalu. Namja itu pun memutuskan untuk memasuki rumah sahabatnya itu sekedar memeriksa bahwa semuanya baik-baik saja.

Baek Hyun memutar pelan kunci rumah Chan Yeol ketika dia merasa perasaannya tiba-tiba berdesir hebat. Seperti ada yang hilang, tapi dia tidak tahu apa yang hilang. Dengan paksa dihiraukannya perasaan aneh itu, dan berharap semua tidak sesuai firasatnya kali ini.

Ditinggal penghuninya selama tiga minggu membuat rumah itu sudah cukup kotor. Baek Hyun bahkan telah merasakan bau apek menghujam indra penciumannya. Dengan pelan namja itu melangkah menuju kamar Chan Yeol.

Perasaan aneh itu datang lagi ketika Baek Hyun menginjakkan kakinya di kamar Chan Yeol, namun kali ini lebih kuat. Baek Hyun memandangi setiap inci kamar sahabatnya itu, entah kenapa dia merindukan masa-masanya bersama Chan Yeol sewaktu kecil dulu. Mereka berdua memang lebih sering menghabiskan waktu di kamar ini daripada bermain di luar.

Baek Hyun menyibakkan tirai dan membuat cahaya matahari masuk dengan leluasa ke kamar Chan Yeol. Dia membuka jendela lebar-lebar dan membiarkan udara bebas memasuki kamar Chan Yeol. Baek Hyun tiba-tiba teringat, setiap kali Chan Yeol memandangi yeoja bernama Jin Ri, dia tidak pernah membuka lebar jendela kamarnya. Hanya memandang lewat kaca dari jendela itu. Oleh karena itu, Baek Hyun merasa kamar itu benar-benar butuh udara bebas.

Entah kenapa sesaat dia begitu menikmati keadaan hening di kamar sahabatnya itu. Namun masih saja dia merasa ada yang hilang, sesuatu yang hilang dan itu menyakitkan. Menyakitkan dan menyesakkan hatinya.

Kemudian matanya menangkap sesuatu di atas meja belajar. Sebuah buku bersampul cokelat polos dan agak tebal menarik perhatiannya. Perlahan Baek Hyun membuka buku itu dan mendapati dirinya menahan napas.

Di halaman pertama buku itu ada foto Chan Yeol dan dirinya. Di bawahnya tertulis, aku dan sahabat terbaikku. Baek Hyun tersenyum dan membuka halaman selanjutnya di mana dia menemukan banyak sekali fotonya bersama Chan Yeol. Kemudian pandangan Baek Hyun terhenti di sebuah foto, foto Jin Ri. Di bawah foto itu tertulis, Gadis dalam jendela.

Baek Hyun membuka halaman selanjutnya, di mana dia hanya menemukan foto-foto Jin Ri. Foto di mana yeoja itu tengah menguap, memilin-milin rambutnya, atau bahkan saat sedang memandang langit.

Baek Hyun tersenyum, “Dasar konyol, aku bahkan tidak tahu kalau kau rajin memotretnya, Yeol.”

Namun hati Baek Hyun mencelos ketika mendapati foto dirinya dengan Jin Ri. Foto saat Jin Ri tengah melarangnya untuk pergi saat hari hujan, di mana Jin Ri memayunginya dan menggenggam erat tangannya. Di bawah foto itu tertulis, Gadis dalam Jendela itu menyukai sahabatku. Baek Hyun mendapati matanya mulai basah ketika membaca kalimat itu, ia merasa benar-benar sentimentil kali ini.

“Bodoh..”gumamnya.

Akhirnya Baek Hyun sampai di halaman terakhir buku itu. Didapatinya foto dirinya dengan Chan Yeol tepat sehari sebelum sahabatnya itu pergi ke Inggris. Wajahnya tengah cemberut sementara wajah pucat Chan Yeol tengah tersenyum lebar.

Baek Hyun terkejut ketika melihat ada sebuah noda berwarna kecoklatan yang mengotori foto tersebut. Dia mengamatinya lebih dalam dan terbelalak ketika menyadari bahwa noda itu adalah noda darah. Baek Hyun buru-buru membaca tulisan yang ada di bawah foto itu sementara perasaan aneh yang sedari tadi dihiraukannya mulai merajai pikirannya.

Teruntuk sahabatku, Baek Hyun.

Mungkin saat melihat ini kau merasa aku konyol sekali bukan? Haha, aku pun begitu. Banyak sekali yang ingin aku katakan padamu, terlebih mengenai penyakitku ini. Maaf, aku tidak pernah menceritakannya kepadamu, aku tidak ingin kau sedih hanya karena aku. Alasanku tidak mendekati Gadis dalam Jendela itu juga karena ini.

Ya, aku sakit.

Mungkin kau pikir aku bodoh? Lemah? Haha. Tapi inilah jalan hidupku, kau pasti bisa mengerti betapa terkejutnya aku ketika divonis menderita leukimia. Hari-hariku menjadi suram, hampa dan aku memutuskan untuk mengurung diri di rumah, sampai akhirnya aku melihat yeoja itu. gadis dalam jendela, yeoja yang selamanya hanya bisa aku lihat dari jendela saja.

Yeoja itu tampak begitu hidup, membuatku mendapatkan kembali keyakinan untuk terus berjuang melawan penyakit ini. Namun ketika aku ingin mengenalnya lebih jauh, aku selalu teringat akan penyakitku. Meski dia tidak pernah mengenalku, setidaknya biarlah dia menyadari keberadaan ‘seseorang’ lewat dirimu. Entah mengapa, hanya dengan memandang yeoja itu saja mampu membuat aku tersenyum bahagia.

 Gadis dalam Jendela, dia seolah terpatri dalam jendela kamarku. Seperti sebuah film pendek yang tidak pernah aku lewatkan untuk menontonnya setiap pukul tiga sore. Tidak benar-benar bisa aku raih. Kalaupun bisa, pasti itu tidaklah lama.

Perlahan tapi pasti, penyakit ini akan membunuhku. Tidak usah khawatirkan aku, Bacon. Kau tidak perlu menderita karena aku, berbahagialah. Selama aku hidup aku selalu merepotkanmu, sampai aku mau matipun aku selalu merepotkanmu. Aku pasti akan sangat merindukanmu di sana, haha. Oh iya, tolong jaga Gadis dalam Jendelaku ya, jangan biarkan dia menangis. Janji?

 Bacon, sahabat yang telah banyak membantuku, terima kasih banyak.

Tertanda, Yeol.

            Buku yang dibawa Baek Hyun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, mendadak tubuh namja itu kaku seketika. Waktu seakan berhenti dan semuanya terdiam, hanya satu yang tak mau berhenti, air matanya. Baek Hyun jatuh terduduk di lantai, dia menyandarkan badannya pada tempat tidur Chan Yeol. Pandangan matanya mendadak kabur karena penuh dengan air mata. Kenangan tentang Chan Yeol berlalu lalang di benaknya dengan cepat.

“Bodoh.”

-TBC-

            Anyeong readers, gimana? Baguskah? Jelekkah? Geje kah? Hehe, mian yah. ^^ Want next chapter? It will be Baek Hyun’s🙂 . So, comment like oxygen readers.🙂 FF ini pernah dipublish di wp saya juga🙂

          Gomawo yang udah baca, jeongmal gomawo buat yang comment🙂 !!

266 responses to “[Chan Yeol’s] Girl inside the Window

  1. Aigoo kukira chanyeol yg terlalu takut aja buat deketin, ternyata dia sakit toh dan huaa endingnya blm puas thor. Baca baekhyun’s dulu aja deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s