Dirty Storey Room [Part-1]

Author : mumuturtle

Title     : Dirty Storey Room

Genre  : romance, life

Rating : PG-15

Length : ?

Cast     :

  • Byun Baek Hyun (EXO-K)
  • Oh Seo Yeon (OCs)
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin a.k.a Kai

Other casts      : temukan sendiri…!

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan plotnya saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Enjoy It!! Sebelumnya anggap saja disini Sehun dan Kai lebih tua satu tahun dari BaekHyun oke?

Satu lagi… untuk My Boy My Kiss… harap masih setia menunggu. FF tersebut masih dalam proses. Karena udah Part terakhir jadi aku gak mau setengah-setengah jadinya. So, tunggu ya!

~Dirty Storey Room~

~æ~æ~æ~

Malam yang indah terasa sangat dingin seperti hari-hari biasanya di musim dingin. Namun taburan bintang yang menghiasi langit biru kelam itu tak mampu untuk membuat gadis itu sekedar menengadahkan kepalanya. Sekedar tersenyum mungkin, atau berwah ria mengagumi indahnya langit yang memayungi koridor terbuka di pelataran sekolahnya.

Gadis berambut ikal sebahu itu hanya fokus pada jalanan di depannya, sembari tangan kirinya memegangi tangannya yang lain, yang kini terasa berdenyut sakit. Tampaknya berusaha mendobrak pintu itu bukan keputusan yang tepat untuk seorang gadis lemah seperti dirinya.

Sesekali ia bahkan menolehkan kepalanya kebelakang dengan cemas. Memastikan tak ada satu orangpun dari sekelompok gadis-gadis—yang bisa dibilang cukup bar-bar—itu yang mengejarnya. Jujur saja, ingin sekali rasanya ia berlari kencang. Berlama-lama di sekolah di malam yang sudah larut ini hanya akan membuat rasa ketakutannya semakin menjalar. Ia ingin cepat keluar dari sekolah yang merangkap neraka untuknya itu.

Tapi kakinya yang berjalan terpincang-pincang itu benar-benar menyusahkannya. Nafasnya hanya tersengal sia-sia, terbuang hanya untuk menahan ngilu di tangan dan kaki beserta ketakutannya tanpa memperpendek jarak yang ia tempuh. Langkah kakinya konstan.

Drtt…

Gadis itu terkesiap saat sebuah getaran dari saku blazernya itu mengejutkannya.

”Appa!” ia sedikit memekin ketika menjawab panggilan itu. terlalu senang mendengar suara khas ayahnya yang membuatnya sedikit merasa lebih tenang.

BRUKK!

”AH!” lagi-lagi gadis itu memekik. Namun lain hal, kali ini ia memekik kaget saat tubuh kecilnya itu dengan keras menabrak seseorang. Ia bahkan meringis kesakitan karena tangannya terasa semakin ngilu di buatnya.

”Argghh—shh..”

Ia mendongak ketika mendengar rintihan lainnya. pria itu juga tengah menahan sakit. Entara sekali, banyak lebam di sudut-sudut wajahnya. Salah satu matanya bahkan sudah tak bisa terbuka dengan sempurna karena bengkak. Aliran darah segar dari sudut bibir pria itu membuatnya mengernyitkan dahi. Apa yang terjadi dengan pria ini? apa tabrakan tubuhnya berakibat sangat hebat? tubuhnya bahkan tak bisa dibilang gemuk.

”Gwenchana?” Tanyanya hati-hati. Sejurus kemudian matanya sukses terbelalak saat mendapati tatapan tajam dari pria itu.

Ia kenal pria ini. Tak bisa di katakan kenal juga karena sejujurnya mereka tak pernah mengobrol, bertegur sapa sekalipun. Yang gadis itu tahu, pria di hadapannya ini satu kelas dengannya. Seorang pria yang selalu duduk di bangku paling belakang dekat dengan tembok. Tak jarang pria ini sering membolos saat jam pelajaran atau paling tidak tidur saat sudah jelas-jelas guru tengah menerangkan materi. Pria yang bahkan ia tak tahu namanya. Gosip yang beredar bahwa pria ini termasuk dalam jajaran anak-anak nakal—bahkan santer beredar terdengar bahwa pria ini tidak naik kelas—membuat ia jauh-jauh. Sudah cukup masalah yang ia dapat dari sekelompok gadis barbar itu, ia tak mau menambah masalah dengan berurusan dengan pria tak jelas seperti itu.

Pria itu menatap lekat wajah terkejut gadis di depannya. Sebelah alisnya terangkat naik sembari pandangannya mengarah pada pakaian gadis di depannya yang tak cukup rapi. Tangannya terulur cepat, menarik blazer hitam yang tak terkancing—seakan semakin berusaha membukanya.

”Apa yang akan kau lakukan?” Seru gadis itu terperanjat. Ia mencengkram kerah blazernya erat-erat. Wajahnya tampak panik. Apa ia sudah berurusan dengan pria itu? Apa pria itu akan menciumnya tiba-tiba seperti yang biasa ia lihat di drama-drama?

”Cih..” Pria itu hanya menyeringai sesaat setelah ia menemukan jahitan nametag di balik blazer hitam itu. Oh Seo Yeon, tertulis jelas nama gadis itu. dan seiring matanya bertemu padang dengan si pemiliki nama, jemarinya terampil mengancingkan kembali blazer hitam itu. terlihat lebih rapi dari sebelumnya.

Ia berbalik. Pria ia melangkah pergi satu langkah demi langkah meninggalkan Seo Yeon yang masih mematung di tempatnya, berikut pula pria itu meninggalkan segala tanda tanya di benak gadis itu.

Apa yang telah di lakukan lelaki itu? Untuk apa ia melihat nametagnya? Siapa namanya?

”Appa… HANDPHONEKU? Dimana handponeku terjatuh tadi?”

~æ~æ~æ~

Pintu kamar mandi itu terbuka setelah sekitar lima belas menit yang lalu seseorang memasukinya. Muncul seorang gadis, dengan pakaian rumahan dan sebuah handuk di tangannya. Mengeringkan rambut panjangnya yang basah sembari bersenandung kecil.

”Sehun Oppa?” Panggilnya saat menyadari keberadaan seseorang lainnya di kamarnya.

Lelaki bertubuh tinggu tegap dan berkulit putih itu berbalik. Baju panjangnya yang terlihat kebesaran di tubuhnya itu sama sekali tak menutupi aura tampan dari lelaki itu. Seo Yeon, adiknya pun mengakui jika kakaknya tampan. Mungkin ia akan jatuh cinta pada kakaknya jika saja ia bukanlah berada di keluarga Oh ini.

”Kenapa pulang larut malam?” Tanya Sehun langsung. Tak ada senyuman hangat yang menghiasi wajahnya. Tak satu centipun ia beranjak untuk mengecek apakah adiknya masih baik-baik saja setelah sukses membuat seluruh orang rumah khawatir—karena pulang larut.

Dingin. Seo Yeon paham mungkin sikap lelaki itu padanya tak akan pernah berubah. Terkadang ia sangat ingin melihat Sehun tersenyum hangat padanya, seperti saat ia melihat Sehun tersenyum penuh perasaan pada kedua orang tuanya. Tapi tidak untuknya. Ia tak pernah menunjukkan perasaan hangat itu untuknya. Melainkan lelaki itu menyalurkan perhatiannya dengan cara yang teramat dingin. Tanpa senyum sekalipun. Khawatir namun paras wajahnya menunjukkan sebaliknya.

Apa karena Sehun merasa Seo Yeon merebut sebagian perhatian dari orang tuanya? Apa sebegitu tak sukanya Sehun dengan kehadiran Seo Yeon?

”Aku ada kerja kelompok. Bukankah ayah juga sudah menjelaskannya tadi?” Jawab Seo Yeon sembari berjalan menuju ranjangnya, yang itu berarti semakin mendekatkannya pada Oppanya itu. beruntung Sehun tidak menjauh.

Ia duduk di tepi ranjangnya. Tangan kanannya masih sibuk berusaha mengeringkan rambut basahnya itu. Sedetik hening, setelah akhirnya Seo Yeon di buat tercenung mendapati kakaknya kini duduk bersimpuh di depannya. Kakaknya memandangnya. Meski tanpa ekspresi tapi ia tahu kakaknya tengah mengkhawatirkannya. Perlahan, senyum simpul pun terulas dari bibir Seo Yeon.

”Apa mengerjakan tugas membuat kakimu terkilir?” Tanya Sehun sembari menaikkan salah satu alisnya.

”Itu… aku…”

”Mau sampai kapan kau berbohong?” Seo Yeon hanya tertunduk. Tak tahu harus berbuat apa-apa sementara Sehun sibuk dengan pergelangan kaki Seo Yeon yang terlihat memar. Berusaha memijatnya secara halus meski pada akhirnya Seo Yeon tetap merintih kesakitan.

”Tempat mana lagi yang mereka gunakan untuk menyekapmu?” tanya Sehun, dingin.

”Kamar mandi.” Jawab Seo Yeon dengan lesu. Ia lalu mendongak, dahinya berkerut menatap puncak kepala kakaknya itu. ”Bagaimana kau bisa tahu?”

”Kau pikir baru sekali kejadian ini terjadi? Kai memberitahuku.”

”Kai? Lalu kenapa jika kau tahu, kau tak langsung menolongku? Kenapa kau justru pulang? Apa dengan tahu saja sudah cukup untukmu? Apa perasaanmu tak terdorong sama sekali untuk menolongku? Aku adikmu… ARGH!” Seo Yeon menjerit keras. Ketika serta merta Sehu tiba-tiba mengeraskan pijatannya di kaki Seo Yeon. Entah ia sengaja menekannya atau tidak. ”Kau menyakitiku!”

Sehun bergeming. Ia beranjak dari posisi awalnya. Berdiri, menatap sejenak adiknya itu dengan tajam dan bergegas melangkah pergi. Seo Yeon memutar bola matanya. Terkadang ia benar-benar muak dengan sikap kakaknya itu. terkadang ia ingin sekali menampar pipi putih Sehun. Membuatnya marah? Ya! Bahkan melihat lelaki itu marah padanyapun tak pernah. Lelaki itu teralu tak berperasaan padanya, terlalu mendinginkan diri padanya.

Cklekk..

Terdengar suara daun pintu yang terbuka. Seo Yeon masih menatap lurus kedepan, enggan untuk berpaling karena menghindari sosok kakaknya itu.

”Oh Seo Yeon!” merasa terpanggil, ia segera menoleh. ”Kenapa kau tak gunakan status ayah? Ketua yayasan! Kupikir mereka akan takut dan tak akan menganggumu lagi. Setidaknya ayah akan lebih mendengarmu, dan tak ada satupun murid yang ingin di keluarkan. Kau bisa mempertimbangkannya.”

~æ~æ~æ~

Mobil Audi berwarna putih itu melesat cukup cepat menembus keramaian kota Seoul di pagi hari. Salah satu jendela di buka, membuat helaian rambut panjang yang ia gerai beterbangan menari bersama angin yang masuk. Ia mendesah pelan. Di tekannya sebuah tombol untuk menyalakan audio player yang ada, dan suara dentuman musik pop langsung membahana di mobil itu. mengusir setidaknya sedikit kejenuhannya.

Menggunakan status ayahnya.

Seo Yeon masih ingat betul bagaimana nada suara kakaknya ketika mengucapkan sepenggal kalimat itu.

Status ayahnya? Pantaskah dia menggunakan status ayahnya untuk menjauhkan gadis barbar itu darinya? Ia sudah mencobanya! Berkali-kali ia mengancam kumpulan gadis itu, namun mereka tak pernah mendengarkannya. Mereka selalu menutup telinga mereka untuk setiap permohonan Seo Yeon.

Mereka selalu bilang itu tak berguna. Mereka selalu bilang Seo Yeon tak pantas mengucapkan kata itu. Mereka bahkan tak peduli jika Sehun tahu perihal apa yang mereka lakukan karena mereka sendiri tidak menyakini bahwa Sehun peduli pada adiknya. Mereka—gadis-gadis barbar itu—tahu siapa dirinya. Entah dari mana namun mereka tahu status asli Oh Seo Yeon dalam keluarga itu. Membuatnya hanya bisa bungkam diperlakukan seperti itu, demi ayahnya. Ia tak ingin membuat masalah besar yang akan berimbas pada pekerjaan ayahnya. Ia tak ingin membuat kecewa keluarga Oh—keluarga dimana Seo Yeon sangat berhutang budi pada mereka.

Seo Yeon menyeringai, ketika air matanya sudah menggenangi pelupuk matanya. Ia hidup di keluarga kaya. Bisa dibilang ia memiliki tubuh dan wajah yang terbilang sempurna. Ia memiliki kakak tampan yang sangat dikagumi gadis di sekolahnya. Tapi kenapa ia harus berjungkir balik karena statusnya yang bahkan sudah berlalu itu?

”Kang Seo Yeon sudah hilang. Jalani hidupmu dengan baik, Seo Yeon. Namamu sekarang OH SEO YEON!” Tandasnya pada dirinya sendiri sembari kakinya menginjak pedal gas. Memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, tanpa SIM yang ia miliki—sudah jadi barang pasti ia akan kena tilang jika ada polisi yang melihatnya.

Pandagannya hanya fokus pada jalanan di depannya. Sementara pikirannya melayang kelain tempat.

Ckkiittt…

Sepersekian detik setelah kesadarannya sempat buyar, gadis itu menginjak pedal rem dengan cepat. Tubuhnya yang tidak di pasangi seatbelt itu terpelanting kedepan, dahinya membentur kemudi yang sukses membuatnya meringis kesakitan.

Ia mendongak dengan alis yang bertaut. Bola matanya berputar cepat ketika mendapati sosok lelaki yang tiba-tiba berdiri di depan jalan mobilnya itu masih terlihat santai. Dengan kedua tangan yang mendekam di saku celana dan cengiran seakan ia tak merasa bersalah sekalipun.

”Aish…” Seo Yeon mengumpat seraya tangannya membuka pintu mobil dengan kasar. Begitu pula saat menutupnya.

”SUNBAE! KAU GILA, HAH? KAU MAU MATI BERDIRI DISITU?” Teriak Seo Yeon kesal sembari berjalan menghampiri lelaki tinggi itu. Lelaki dengan seragam sekolah lengkap seperti yang ia kenakan saat ini. bedanya lelaki itu menggunakan setelan untuk seorang lelaki.

”Kau yang gila!” Balasnya. Ia mengayunkan jari telujuknya yang teracung itu untuk menoyor gadis di depannya. Membuat Seo Yeon sedikit terhuyung kebelakang. ”Kau pikir kau memiliki SIM? Berani-beraninya kau mengemudi secepat itu! Bagaimana jika ada polisi?”

”Tapi tak ada polisi disini!” Balas Seo Yeon menyulut.

”Aku hanya bilang jika. Memalukan sekali jika siswa dari Seoul International High School terjerat polisi hanya karena mengemudi tanpa SIM, kau mengerti?” Ujar lelaki itu. ia lekas menggamit tangan Seo Yeon dan menyeretnya. Langkahnya yang lebar dan cepat itu membuat Seo Yeon sedikit kewalahan, bahkan hampir saja ia terjatuh. ”Masuk!”

Seo Yeon mengerutkan keningnya menatap lelaki di depannya itu—seniornya di sekolah. Ini mobilnya, kenapa ia harus masuk ke bangku penumpang?

”Aku yang akan menyetir, setidaknya aku sudah memiliki SIMku. Cepat atau kau mau terlambat.”

Seo Yeon mendengus kesal. Mau tak mau ia harus menuruti lelaki itu jika ia tak mau terlambat. Mata pelajaran pertama adalah kesenian dan ia sangat paham sifat otoriter guru pengajarnya itu. benar-benar mengerikan.

”Sehun Oppa yang menyuruhmu?” Tanya Seo Yeon dan di balas dengan kerutan dahi saat lelaki disampingnya itu menoleh sekilas padanya.  ”Apa Sehun Oppa yang menyuruhmu berdiri disana? Menghadangku dan menggantikanku mengemudi?”

Lelaki bernama Kim Jongin itu tertawa. Yang hanya membuat Seo Yeon semakin merasa kesal dengan lelaki itu. ”KIM JONGIN…”

”Panggil aku KAI! Mengerti?” potong lelaki itu cepat. ”Apa kakakmu terlalu protective padamu sampai kau berpikir seperti itu? Kau pikir aku ini siapanya sampai dia berani menyuruhku seperti itu? Aku memang sahabatnya tapi aku bukan pembantunya. Lagipula aku hanya ingin mendapat tumpangan, kebetulan sekali melihat mobilmu.”

”Kau memang bukan pembantunya tapi kau terlihat seperti itu!” Seru Seo Yeon. Gadis itu segera membuka pintu mobil di sampingnya setelah mobilnya berhasil di parkirkan dengan benar oleh Kai.

Ia butuh memutari setengah bagian dari mobilnya itu sebelum akhirnya ia melangkah beriringan dengan Kai. Meski tampaknya ia justru terlihat seperti berlari kecil karena kesulitan untuk menyamai langkah kaki kecilnya dengan langkah kaki lebar Kai.

”Seberapa sering Sehun Oppa menyuruhmu untuk mencari tahu keadaanku?”

”Hey! Aku bilang aku bukan pembantunya!”

”Katakan saja! Sehun Oppa bisa tahu semua yang aku lakukan tentu darimu! Seperti tadi malam! Bagaimana bisa Sehun Oppa tahu gadis-gadis itu kembali menyekapku sementara ia sendiri tak ada di sana? Ia berkata kau memberitahunya.” Sulut Seo Yeon dengan cepat. Dadanya mengembang saat ia menghirup nafas panjang-panjang setelah berkata dengan satu helaan nafasnya.

”Baiklah. Aku memang memberitahunya. Bukannya tak ada salahnya Oppamu sendiri tahu?”

”Untuk apa ia tahu jika pada akhirnya ia tak melakukan apapun?” Keluh Seo Yeon. Dadanya merosot turun dan sedetik kemudian ia menghela nafasnya.

Seo Yeon mengedarkan pandangannya ketika langkah kakinya sudah memijaki keramik putih yang melapisi lantai gedung sekolahnya itu. sudah menjadi kebiasaannya saat ini. setidaknya ia harus tetap selalu waspada akan keberadaan gadis bar-bar itu. Tak ada yang tak mungkin jika saja sepagi ini mereka sudah menyerangnya.

Tiba-tiba edaran bola matanya itu terhenti pada satu titik. Sosoknya terlihat begitu mencolok diantara siswa lain di sekitarnya. Bajunya tak rapi dan keluar di beberapa bagian. Tak mengancingkan blazernya dan dasi yang asal terpasang. Belum lagi lebam-lebam di wajahnya belum hilang. Apa lelaki itu tak mengerti dengan fungsi krim penghilang bekas luka?

”Apa yang kau lihat?” Kai menginterupsi lamunannya. Ia segera menoleh menatap seniornya yang juga menatap ke arah pandang yang sama. ”Lelaki berantakan itu?”

”Siapa namanya?” Tanya Seo Yeon. Matanya membulat lebar seakan antusiasme di dalam dirinya telah bangkit. Namun hanya di tanggapi dengan kerutan kening oleh Kai. ”Aku bertanya siapa namanya?”

”Bukankah dia sekelas denganmu?”

”Memang tapi… aku tak mau berurusan dengan lelaki seperti itu. Terlihat… tak teratur? Ayolah Sunbae, kau hanya perlu memberi tahuku namanya saja.” Pinta Seo Yeon. Ia menggoyang-goyangkan lengan kiri Kai. Jarang-jarang gadis itu merajuk pada Kai.

”Baekhyun.”

Sebuah senyum entah mengapa terulas begitu saja saat ia mendengar Kai mengucapkan nama lelaki itu. Bodoh memang dirinya sampai tak begitu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Nama teman sekelasnya saja ia tak tahu. Seo Yeon baru saja hendak berbalik meninggalkan Kai, masih dengan senyumannya, namun buru-buru lelaki itu menghentikan langkahnya.

”Tunggu! Kau… Senyummu tidak biasa. Kau tidak menyukainya, kan?” Seo Yeon menaikkan kedua alisnya saat mendengar pertanyaan itu.

Menyukainya?

Hey! Bahkan ia baru tahu namanya. Ia tak mengenal pria itu!

”Tentu saja tidak! Ah… Sunbae, jangan beritahu Sehun Oppa kalau aku menanyakan nama lelaki itu. Kau tahu, kan? itu bahkan tidak penting dan tidak akan membahayakan nyawaku. Jadi jangan laporan padanya, ne?” Seo Yeon tersenyum semakin lebar. Hitung-hitung sebagai sebuah suap untuk membujuk Kai agar menuruti kata-katanya.

~æ~æ~æ~

Tek… tek… tek…

Suara kapur dan papan tulis yang beradu itu masih membahana di kelas. Masih menjadi lagu utama di pagi menjelang siang ini. Terkadang suara bariton dari guru tambun berkacamata di depan itu menggantikan. Tatkala penjelasan guru itu tak di dengarkan oleh murid-murid namun suaranya masih lantang dan semangat. Tampaknya guru itu tak terlalu peduli dengan antusiasme muridnya. Seperti, tugasnya hanya mengajar dan menjelaskan jika murid tak mendengarkan itu bukan menjadi urusannya.

Seo Yeon berkali-kali sudah menguap menahan kantuknya. Pelajaran sejarah, siapa siswa disini yang tidak bosan dengan pelajaran itu? serasa di bacakan cerita dongeng penghantar tidur. Tangannya pun sudah terasa pegal menulis semua catatan yang di berikan guru itu dan betapa tidak beruntungnya dia masih ada setengah dari papan tulis yang belum ia pindahkan ke buku catatannya.

Ia menolehkan kepalanya, menatap sekelilingnya yang terlihat sama bosan seperti dirinya. dan tiba-tiba saja ia tertarik untuk memperhatikan seorang lelaki di pojokan kelas itu. Ia tertidur—seperti biasa yang ia lakukan di hari-hari lainnya. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja sebagai bantal untuk kepalanya bersandar. Wajahnya benar-benar terlihat tenang dan…. tampan? Entah itu hanya pendapatnya saja atau memang seperti itu kenyataannya?

Lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Bahkan dengan jarak sejauh ini Seo Yeon masih bisa melihatnya. Ia duduk di bangku paling depan dan berbanding terbalik dengan lelaki itu. Dan bodohnya, tak ada satupun dari teman-temannya yang peduli. Atau ia terlalu menyendiri sehingga tak memiliki teman? Seingatnya ia jarang melihat lelaki itu tertawa renyah bersama gurauan teman-temannya.

”Seongsaenim, chogiyo… boleh aku ijin ke toilet?”

~æ~æ~æ~

Gila!

Ini gila!

Benar-benar gila!

Sejak kapan seorang Oh Seo Yeon berbohong untuk keluar dari kelas? Ia berkata ingin ke toilet namun lihat lah, ia justru berada di ruang kesehatan sekarang ini. Bau obat-obatan dan semacam alkohol tercium benar di hidungnya. Menusuk dan membuat hidungnya sedikit kembang kempis tak tahan.

Untung saja ruangan ini kosong. Sehingga ia tak perlu lagi berbohong. Dilangkahkan kakinya untuk semakin memasuki ruang kesehatan itu. Semakin jelas pula terlihat semua corak putih yang mendominasi ruangan itu. Matanya berbinar ketika sebuah kotak P3K di temukannya.

Segera ia melangkahkan kakinya, membuka kotak itu dengan cukup terburu-buru dan mengeluarkan hampir seluruh isinya.

”Kenapa krim itu tidak ada? Apa sekolah tak menyediakannya?”

Beralih dari kotak P3K itu, ia berbalik menuju sebuah lemari kaca. Di bukanya lemari itu—yang ternyata cukup berat. Di masukkannya sebagian kepalanya, meneliti dengan cermat setiap isi dari lemari itu.

”Ini dia!” Seo Yeon memekik senang saat tangannya berhasil menggenggam krim berukuran kecil itu. matanya melengkung membentuk bulan sabit seketika bibirnya mengulas sebuah senyum.

~æ~æ~æ~

Lima meter.

Lima meter ia berdiri dari Baekhyun dan ia hanya berani menatapnya. Ia tak berani mendekat seinchi pun padahal Baekhyun sendiri masih terlelap dalam tidurnya. Tangannya sudah terkepal dengan erat menahan rasa gugupnya.

Tapi kenapa ia harus gugup? Toh Baekhyun tak mengenalnya. Ia hanya ingin memberikan krim ini. hitung-hitung ia menolong seseorang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Keberaniannya sudah muncul kembali. Seperti semula saat ia dengan semangat mencari krim penghilang bekas luka itu. Seo Yeon mengambil nafas dalam-dalam saat kini ia berada di sisi meja Baekhyun. Wajah Baekhyun yang tertidur itu kini berada tepat di depannya.

”Ehem…” Seo Yeon berdeham. Berusaha membangunkan lelaki itu. dan untungnya berhasil. Baekhyun langsung terbangun dari tidurnya. Ia menegakkan kembali tubuhnya meski tampaknya ia sangat malas untuk melakukannya. Matanya yang terlihat kuyu itu susah payah berusaha terbuka dan sedetik kemudian matanya mendelik saat menatap wajahnya berikut keningnya ikut berkerut.

”Ini. Krim ini bisa menghilangkan lebam di wajahmu.” Seo Yeon menyodorkan krim berukuran kecil itu di atas meja.

Hening.

Tak ada yang bersuara. Seo Yeon menunggu respon dari lelaki itu setidaknya ucapan terima kasih saja cukup untuknya. Sedangkan Baekhyun justru menatap tajam pada gadis itu. membuat gadis itu semakin gugup dan tak tahu harus berbuat apa.

Baekhyun beranjak dari duduknya. Suara derit yang cukup nyaring terdengar ketika kursi yang semula diduduki lelaki itu terdorong kebelakang. Tak berkata apapun, tak ada senyum sedikitpun, tak ada ucapan terima kasih sekalipun, Baekhyun justru pergi dari tempatnya. Meninggalkan Seo Yeon yang mematung di tempatnya setelah sempat menyenggol kecilnya. Membuat Seo Yeon harus sedikti terhuyung dibuatnya.

”Ya! Baekhyun! Krimnya? Bagaimana bisa kau membiarkan wajahmu lebam seperti itu?”

”Kau tak seharusnya membangunkannya.” suara seorang gadis mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh. ”Biasanya ia akan marah jika tidurnya diganggu. Beruntung kau tak kena amuk olehnya.”

~æ~æ~æ~

~Dirty Storey Room~

To Be Continue…

 

AUTHOR’S NOTE:

Annnyeeeeoooongggg………..

Masih ingat aku? Sepertinya aku terlalu lama tidak update di sini. Berapa ya? Satu bulan lebih mungkin. Dan bukannya aku menpublish FF My Boy My Kiss part terakhir aku justru post FF baru. Aduh…. FF itu aku lagi gak ada inspirasi ni. Bener-bener buntu. Setelah banyak halangan saat-saat itu aku jadi gak tahu mau nulis apa. semua kosa kata yang aku punya aja kayak ilang gitu aja. FF diatas noh aja kata-katanya seadanya aja yang nyangkut di otakku.

Gimana sama FF diatas? Ada yang suka gak sama castsnya? Sekarang aku bawa casts baru ni, soalnya biasanya aku pake SHINee.

Semoga suka ya…

Sekali lagi, ditunggu ya My Boy My Kiss nya… dan juga FF baru ini… ^^

Advertisements

204 responses to “Dirty Storey Room [Part-1]

  1. Pingback: Rekomendasi FF EXO Part 2 – My World·

  2. Waaaaahhhh keren ceritanyaa!
    Aku pikir Sehun dingin tapi peduli, taunya cuek begitu-_- tapi aku suka *lalu disiram XD
    Sebenernya kenapa Seoyeon digangguin sama cewe2 barbar?
    Dan kenapa Baekhyun gak marah waktu dibangunin Seo? jangan2.. Suka? O.O
    Aaarrggghhhhh

  3. annyeeonng, author nim aku pembaca baru di sini, sebenernya aku tau ff ini udh lama bgt, udh dr cari2 recommended ff di google, sedih pas tau ff ini nggk dilanjutin, tp aku tetep pengen baca, jadilah aku mulai baca ini ff
    masih ada harapan semoga ff inu dilanjutin sampai end aja

  4. awalnya tertarik karna liat covernya bagus, ehh.. setelah baca ternyata bagus juga nih ff. nyesel ngga baca dari dulu jadinya. daebak^^

Leave a Reply to Choco(L)ate Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s