Another Lucifer World Chapter 2

Another Lucifer World

-First Night in the Castle

Story and Written by :

Jilockets91

Main Cast :

Choi Minho as Elias

Choi Siwon as Andrew

Park Jung Soo as Dennis

Kim Jonghyun as Ty

Lee Donghae as Aiden

Lee Taemin as Nikky

Lee Jinki as Chase

Yang Yoseob as Endorphins

Lee Seunghyun as Victory

Park Bom as Jenny

Choi Seunghyun as T.O.P

Kim Heechul as Casey

Lee Hyukjae as Spencer

Kim Ryeowook as Nathan

Lee Sungmin as Vincent

Lee Gikwang as AJ

Yoon Doojoon as Doojoon

Kwon Jiyong as G-Dragon

Park Sandara as Sandara

Gong Minzy as Minzy

Rated : PG -15

Genre : Fantasy, Horror, Action, Thriller, a bit romance, angst

Disclaimer : The story is real my imagination. Plot is mine! And main cast belong to God.

Cover : A-Shawol  ( Posternya bagus eonni^ ^)

====================================================================

Dunia yang berbeda

Jauh dari ketenangan

Kehidupan yang kelam

Bahaya selalu mengintai

Bersiap-siaplah

Jika kau datang ke tempat ini!

Seorang pria berjalan memasuki sebuah ruangan yang bisa kita sebut sebagai perpustakaan. Matanya berputar kesal saat melihat sesuatu hal di depannya. Sambil tangannya membawa sebuah kertas tipis di dinding, ia berseru sangat keras.

“Berhentilah bermain-main, Mrs. Park!”

***

Mataku kembali normal saat werewolf itu mundur kebelakang. Mendekati seorang pria dan membungkukkan badannya. Perlahan, tubuh werewolf itu mengecil, menjelma menjadi seseorang yang aku tunggu beberapa waktu. Itu, Mrs. Jenny.

Aku berdesis sebal melihat Mrs. Jenny terkikik geli seraya menatapku. Sambil terus mengumpat—meskipun aku tahu bahwa semua makhluk disini akan mendengarku—aku melangkah mendekatinya.

“Kau membodohiku,” ucapku. Ia terlihat menahan tawanya, membuatku ingat akan Ty saat mengerjaiku. Pria di sebelahnya tersenyum teduh sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Hai,” sapanya ramah padaku. Aku sedikit menganggukan kepalaku sambil menyebutkan namaku pertama kali, “Elias,”

“Dennis. Aku sahabat pimpinan penyihir disini.,” ucapnya terkesan berwibawa. Aku mencoba membandingkannya dengan Andrew—orang yang kutemui sekilas dan juga membuatku takut saat kesan awal melihatnya—dan kurasa ia lebih pantas menjadi ketua daripada pimpinan bodoh itu.

“Kau baru menilai dari satu sisi untuk Andrew,” ucapnya—memotong pikiranku. Ia kembali tersenyum padaku. Dan aku tentu saja tak bisa membalasnya. Karena aku sama sekali tak tahu bagaimana cara untuk bersikap seramah mungkin.

“Baiklah Elias, ini waktunya kau istirahat. Dan makan, ya! Bukan’kah kau sangat lapar?” Mrs. Jenny berucap padaku tiba-tiba.

“Hanya sedikit..aku hanya ingin segera mengistirahatkan otakku.,” jawabku.

“Baiklah,” ujarnya singkat. “Dan satu lagi, besok kau harus bangun lebih awal…untuk pembukaan,”

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti. Ia tersenyum misterius. Mr. Dennis menepuk pundakku dan mengelus punggungku.

“Sudahlah. Kau terlihat sangat lelah hari ini, bukan? Kau akan segera mengetahuinya esok hari! Jangan hiraukan si bodoh ini!” Mr. Dennis menjitak kepala Mrs. Jenny layaknya seorang kakak. Mrs. Jenny memajukan bibirnya.

“Yaa~! Mr. Dennis kau mengataiku bodoh, huh!” rajuknya. Dan aku sekarang tertawa lepas.

“Nah Elias. Tertawa itu lebih baik. Dan sekarang, Jennny, tolong kau antarkan Elias ke kamarnya.” Perintah Mr. Dennis tegas. Mrs. Park membungkuk kemudian memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.

Aku kembali berjalan beriringan dengan Mrs. Jenny. Aku sama sekali tak bersuara satu detik pun. Dan aku lebih memilih untuk memandangi ukiran dinding lorong menuju kamarku yang baru.

“Kau tahu, Mr. Andrew itu lebih muda dari Mr. Dennis,” Mrs. Jenny membuka percakapan.

“Pantas saja ia terlihat sangat bodoh!” sindirku. Mrs. Jenny langsung menghentikan langkahnya dan menatapku tajam.

“Sesuai dengan perkataan Mr. Dennis barusan, kau jangan menilai orang dari satu sisi, mengerti?!”

“Yeah,” jawabku malas.

Aku terbangun saat mendengar suara lolongan serigala yang bagaikan bunyi jam weker rumahku. Membuat telingaku berdenging sesaat dan aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.

Masih dengan mata yang terpejam, aku meraba-raba dinding di sekitar kamarku. Dan tak ada hasil sama sekali. Apakah disini tak ada kamar mandi?

“Hei Elias, kau sudah bangun?” sudah kuduga itu suara Ty. ia mendatangiku dengan pakaian yang sama seperti yang kemarin. Aku mendengus.

“Ty, dimana kamar mandinya?” tanyaku pelan. Ty menatapku tanpa berkedip sangat lama. Kemudian…

“BWAHAHAHA….” Ty tertawa keras. Membuat air liurnya menetes kemana-mana. Aku menatapnya jijik sekaligus heran.

“Ada yang salah?” ucapku polos. Ty berusaha menghentikan tawanya beberapa menit. Setelah tawanya reda, ia menatapku.

“Disini tak ada kamar mandi,” jawabnya.

“Benarkah?! Lantas bagaimana bisa kau sudah berpakaian serapi ini?”

“Sihir.” Ucapnya singkat. Aku menghela napas.

“Baiklah. Sihir, huh. Jika benar sihir, tolong buatlah kamar mandi dan juga pakaian untukku.” Pintaku. Ia memandangku aneh.

“Kamar mandi? Dengan satu jentikan jari aku bisa membuatmu rapi.” Jawabnya.

”Benarkah?” tanyaku kembali tak percaya. Ia menganggukan kepalanya. Sekarang, aku tahu bahwa sihir itu sangat simpel.

Hari ini, Mrs. Jenny membawaku ke tempat yang tak jelas. Banyak sekali makhluk yang ‘terlihat’ sebaya denganku duduk dengan tenang di kursi mereka masing-masing. Meskipun sesekali menengok ke kiri-kanan, menarik perhatian makhluk disampingnya untuk sekedar mengajaknya mengobrol ataupun hanya berkenalan.

“Ini adalah tempat untuk latihan pertamamu, Elias..” bisik Mrs. Jenny padaku. Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Tak mengerti dengan apa yang baru saja di sampaikannya. “Kau akan mengerti, lihat saja…”

Aku menuruti instingku untuk menduduki salah satu kursi kosong saat Mrs. Jenny meninggalkanku sendirian. Duduk di sebelah seorang pria dengan poni yang menutupi sebelah matanya.

“Hai,” sapaku kaku. Ia sama sekali tak meresponku dan masih saja bermain dengan sesuatu di tangannya.

Sesuatu seperti…kepala Werewolf yang dengan asyiknya ia menusuk-nusuk pisau tajam tepat pada mata merah besar werewolf itu. Dan jika aku tak salah menduga, kepala werewolf itu adalah kepala werewolf yang dipenggal kemarin oleh Ty.

Aku hampir muntah melihat aksinya. Seraya menyeringai, ia membawa paksa mata itu dari tempatnya. Dengan sangat menikmati, ia memotong mata itu menjadi dua bagian, membuat urat-urat yang mengelilingi mata itu terputus. Bagai jeruk, ia memeras mata itu dan menampung cairannya dalam sebuah gelas. Dan aku tak mau melihat kelanjutan yang kau pasti tahu dari kejadian ini.

Sebegitu bencinya’kah pria ini pada werewolf?

“Ia seorang wanita, kau tahu…” aku terkaget mendengar sesuatu berbisik ditelingaku. Tatapanku mengikuti mataku untuk berputar, melihat seluruh penjuru ruangan. Menemukan seorang yang tengah melambai tangannya padaku adalah jawabannya. Ia yang berbisik padaku.

Aku mendatanginya. “Hai,” sapaku.

“Hai juga. G-Dragon, kau?” ia langsung berlagak akrab padaku. Dan aku dengan senang hati melayaninya karena ia sama sekali tak berbasa-basi denganku.

“Elias,” jawabku santai. Aku duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kedua tanganku di atas meja. “Aku baru tahu kalau ia seorang wanita. Yah…dengan tatanan rambut seperti itu, juga sifatnya yang, mm…—“

Psycho!” tambah GD. “Ia memang seperti itu dari awal. Yah…bagaimanapun juga, ia lebih muda dariku. Dan kemampuan sihirnya satu tingkat di atasku,” lanjutnya. Hanya satu kata dari bibirku yang membentuk sebuah bulatan dan berkata ‘WOW’ dalam hati.

“Aku sedikit ngeri melihatnya,” ucapku agak pelan. Takut jika ia bisa mendengarku.

“Kau akan segera terbiasa. Hei! Ini waktunya latihan di jam pertama oleh Mr. Doojoon!” ia menarik tanganku menuju ruangan lainnya. Dan seseorang menunggu disana. Seorang pria dengan mimik muka serius.

“Apa yang akan kita lakukan disini?”

Sesuai perkiraan, semua makhluk disini memang bisa membaca pikiranku. Buktinya GD melirik padaku dan berucap sesuatu.

“Berlatih ilmu bela diri,”

Aku tertegun sejenak. Ilmu bela diri bukanlah sesuatu yang sulit, ya’kan?

Aku menyakinkan diriku sendiri yang kenyataanya memang tak mengerti sama sekali tentang ilmu bela diri. Dan GD menyadarinya.

“Haha..kau sama sekali tak bisa bela diri, hah?” guraunya. Aku meninju bahunya keras. Dan ia tertawa sangat kencang.

“Memangnya kenapa kalau aku tak bisa bela diri, hah?” ketusku. Dari kejauhan aku melihat Ty melambaikan tangannya padaku sambil merangkul bahu pria disisinya.

“Hai Elias! Kita bertemu lagi!!” teriak Ty sangat keras. Makhluk yang disebut sebagai Mr. Doojoon itu terlihat marah—mungkin karena terganggu—dan mendatangi Ty secara langsung. Dan apa yang terjadi? Mr. Doojoon menjitak kepala Ty sambil mengomel.

Aku dan GD tertawa, meskipun tak tahu apa yang keluar dari mulut Mr. Doojoon untuk Ty. Dan kulihat Ty tertunduk malu seraya memegangi kepala dengan kedua tangannya—mungkin bermaksud untuk mencegah apabila Mr. Doojoon kembali menjitaknya.

Aku menghampiri Ty setelah Mr. Doojoon pergi untuk memarahi murid lain yang kurang ajar selain Ty. Ty melihatku dan langsung mendelik tajam.

“Hai Ty,” sapaku kembali. Ty mendengus. “Hei Ty, kau terlihat lebih baik setelah Mr. Doojoon menceramahimu,”

“Jangan mengejekku!” kesal Ty. “Jika aku tak melihatmu dengan GD, pasti tak akan terjadi hal seperti ini! Aku malu kau tahu! Dilihat oleh semua makhluk disini! Aah~ itu merusak image-ku,”

“Jadi kau menganggapku pembawa sial, huh?”

“Yeah, seperti itulah…” jawab Ty santai. Sekarang berbalik, giliran aku yang mendengus. Aku baru menyadari ternyata Ty masih belum melepaskan rangkulannya dari pria disampingnya. Aku melihatnya setengah mengejek.

“Ternyata kau penyuka sesama jenis, Ty..” sindirku. Ty langsung melepas rangkulannya dan menjitak kepalaku—sangat keras sampai semua murid melirik ke arah kami. “Yak!! Mengapa kau menjadikanku pelampiasanmu karena tadi kau dimarahi Mr. Doojoon!!”

“Heh…suruh siapa seenaknya menyebutku penyuka sesama jenis, hah? Aku ini masih normal, tahu!” balas Ty sengit.

“Kau mengulang perkataanku kemarin sore, huh..”

“Baiklah…aku normal, kau normal ok?”

“Ok. Aku normal, kau tidak normal…”

“Ya~aku normal!”

“Kau tidak normal!”

“Aku normal, bego!”

“Kau tidak normal!”

“Sudah kubilang aku normal, bodoh!”

“Kau tidak normal!”

“Aku normal!”

“Kau tidak normal!”

“Aku normal!”

“Kau normal!”

“Aku tidak normal!”

Aku tersenyum puas, “See? Kau bilang sendiri kau tidak normal,”

Ty kembali memukul kepalaku, “Y-ya! Aku terjebak, bodoh!”

“Aku bisa geger otak jika kau terus memukulku!”

“Itu akibatnya jika—“

“Kau mengerikan!”

“Kau bodoh!”

“Kau bego!”

“Kau idiot!”

“KAU MENYEBALKAN!!!” teriakku bersamaan dengan Ty. Dan dalam mataku aku melihat Mr. Doojoon menatapku marah. Sudah dipastikan hari ini aku akan kenyang dengan nasihatnya.

“YA! DASAR BOCAH NAKAL!”

Entahlah, kau tahu! Mengapa hari ini aku terjebak bersama Mr. Doojoon untuk berlatih ilmu bela diri. Hanya karena aku murid baru, oh ayolah! Baru semenit aku sudah merasa tak nyaman berada satu ruangan dengannya. Apalagi sebelumnya, GD dan Ty juga TOP—orang yang Ty rangkul dan kenyataan bahwa ia hanya sepupu Ty—sudah menakut-nakutiku tentang bagaimana cara Mr. Doojoon mengajarkan ilmunya pada muridnya.

“Kau sudah siap?” Mr. Doojoon mencerai beraikan lamunanku tentangnya. Aku mengangguk ngeri. “…baiklah, angkat dagumu ke atas, tarik napasmu dalam-dalam…keluarkan dengan satu kali hembusan yang lembut. Posisikan dagumu seperti semula, bentuk tanganmu seperti ini..” Mr. Doojoon melipat satu tangannya ke belakang. Aku mengikutinya. “…Putarkan kaki kananmu setengah lingkaran ke depan, miringkan lututmu, dan sekarang…melompatlah!”

Aku memandangi Mr. Doojoon tanpa berkedip. Ia benar-benar mengagumkan. Melompat memutar dari lantai bawah ke atas setinggi sepuluh meter bukanlah sesuatu yang mudah.

“Mau kau coba?” tawar Mr. Doojoon dan ia…tersenyum?! terlihat sangat ramah.

“Tentu,” balasku ragu. Aku memposisikan diriku untuk bersiap.

“Eum…bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku sambil mengangkat daguku.

“Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?” Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu mengeluarkannya dengan satu hentakan napas, namun perlahan.

“Mengapa kau bersikap dingin pada semua murid tapi tidak padaku..?” aku memutar lengan kananku ke belakang punggungku. Ekor mataku masih menangkap dengan jelas bayangan Mr. Doojoon yang menghela napas.

“Aku akan menceritakannya pelan-pelan. Hm…kau tahu…” aku membentuk setengah lingkaran dengan kaki kananku. “..aku menemukan sesuatu padamu…”

Aku memejamkan mataku sambil mencoba memiringkan lutut kiriku, “Seperti semacam kekuatan tersendiri..” lanjutnya. Aku melompat sebisaku.

Semua bunyi tak lagi terdengar di telingaku. Aku merasakan udara hampa di sekitarku. Sangat tinggi. Beberapa detik sampai kakiku berpijak pada tanah.

Aku membuka mataku dan Mr. Doojoon bertepuk tangan. “Luar biasa,” gumamnya. “Kau bahkan melebihiku…”

Mataku membulat, “Benar’kah? Ini keren,”

“Sudah kubilang, kau mampu menguasai satu gerakan dengan cepat, heum..”

Kau tahu, kurasa aku akan tidur nyenyak dan bermimpi indah malam ini.

Hari ini aku kembali dihadapkan dengan seorang guru lain. Casey.

Ia benar-benar terlihat bengis. Dan kau tahu! Kami di suruh untuk saling berpasangan. Dan ini gawat. Aku berpasangan dengan wanita psycho yang waktu itu aku bicarakan dengan GD.

Namanya Minzy. Dan sekarang kami berhadap-hadapan dengan jarak kurang dari satu meter karena perintah Mr. Casey. Kulihat ia menyeringai padaku. God! Aku belum ingin mati sekarang.

“Pusatkan pikiran kalian pada pasangan di hadapan kalian masing-masing!” seru Mr. Casey. Aku berkeringat dingin. “Dan sekarang, ucapkan sebuah mantra untuk merubah pasangan kalian dalam bentuk apapun! Sekarang!”

Mantra?! Mantra!! Aku tak sehuruf pun tahu tentang mantra, atau kalimat-kalimat aneh apapun itu. Minzy mulai menggerakan mulutnya. Dan apa yang terjadi—

Whuuss~

“Wraebe…wraebe…” suara apa itu? Aku melihat semua makhluk di ruangan ini membesar berkali lipat. Tapi aku sendiri…GYAA!!!

Minzy merubahku menjadi seorang kodok!

“Hai kodok. Kau sangat tampan untuk dijadikan sebagai bahan percobaanku,” sapa Minzy sambil tersenyum setan. Ia mengeluarkan pisaunya dan menodongkan(?) mata pisaunya pada perut katakku yang buncit.

Aku berteriak sekeras-kerasnya, namun apa yang terdengar? Hanya suara aneh yang berbunyi “Wraebe…”

Kemarin bermimpi indah, sekarang aku akan bermimpi buruk!

“Minzy,” Mr. Casey mendekatiku dan Minzy dengan gaya anehnya. Minzy menoleh. “Bisa kau serahkan katak itu padaku?” Mr. Casey menjulurkan tangannya. Dan Minzy menyerahkanku langsung. Dapat kucium bau tak sedap dari tangannya. Apakah ia belum cuci tangan?

Aku berjingkrak senang saat Mr. Casey merubahku kembali menjadi seorang manusia. Tapi buruknya, aku kembali terkurung dengan guru aneh ini dalam satu ruangan, hanya karena aku tak mampu menguasai satu kosakatapun dalam ilmu sihir.

“Baiklah anak muda,” Mr. Casey memukulkan tongkat sihirnya pada meja. “Sekarang ikuti apa yang aku ucapkan,” Mr. Casey memejamkan matanya.

“Sekarang…”

“Sekarang..”

Mr. Casey langsung membuka matanya cepat dan menatapku dengan tatapan horror. “Mengapa kau mengulang kataku yang tadi!”

“Mengapa kau mengulang kataku yang tadi!” ulangku. Mr. Casey menatapku geram.

“Ya!”

“Ya!”

“Berhenti mengikutiku!!”

“Berhenti mengikutiku!!”

“Hei!”

“Hei!”

“Maksudku, ulang mantra yang aku ucapkan!”

“Maksudku, ulang mantra yang aku ucapkan!”

“Bukan kata-kata tak penting yang keluar dari mulutku yang kau ikuti!”

“Bukan kata-kata tak penting yang keluar dari mulutku yang kau ikuti!”

Mr. Casey menghela napas. Aku menghela napas.

“Stop!”

“Stop!”

“Ahh Elias! Jangan mengikuti ucapanku sekarang!”

“Ahh Mr. Casey! Jangan mengikuti ucapanku sekarang!”

“BERHENTI MENGIKUTIKU ELIAS!!!!!!!” teriakan Mr. Casey sungguh menggelegar. Aku menutup kedua telingaku karena aku berada di dekatnya.

“Mengapa tadi kau mengikutiku ucapanku, huh?!!” semprot Mr. Casey. Aku mengerut bingung.

“Kau bilang harus mengikuti ucapanmu,” jawabku.

“Maksudku hanya mantra, bodoh!” Aku mengangguk karena geli.

Suasana kembali hening. Mr. Casey menutup matanya. “Ikuti ucapanku,”

“Ikuti ucapanku,” ulangku—lagi. Mr. Casey langsung menatapku dengan deathglarenya yang sangat menakutkan.

“Aku hanya bercanda, Mr. Casey. Peace..” ucapku gugup sambil mengacungkan kedua jariku—dan aku berpikir bahwa tindakan yang kuambil konyol. Mr Casey mendecak kesal.

Mèoûsqûàleupa dè farànteiól..”

“Meusqauluepa—“

“Bukan begitu bodoh! Mèoûsqûàleupa dè farànteiól

“Meoousleaqu—“

“Membacanya bukan seperti itu! Mèoûsqûàleupa dè farànteiól

“Bagaimana cara membacanya!!”

Mèoûsqûàleupa dè farànteiól

“Meouskualeupa de faran..eum, tai—“

“Yak!! Mèoûsqûàleupa dè farànteiól

“Meouskualeupa de faranteiol..”

Mr. Casey menepuk pundakku sebagai tanda bahwa latihan hari ini selesai. Senyumku mengembang. Terbesit sebuah ide jahil di otakku.

Aku menyeringai sambil tatapanku terfokus pada Mr. Casey. “Mèoûsqûàleupa dè farànteiól

.

.

Mr. Casey berubah menjadi seorang tikus kecil. Aku terkikik geli dan segera berlari keluar ruangan sebelum Mr. Casey kembali ke tubuh asalnya dan akan menghukumku.

2 years later

Aku menatap lurus ke depanku. Menarik udara dingin disekitarku, dan mengeluarkannya lewat mulutku. Sudah dua tahun aku tinggal disini, atau secara khusus, sudah dua tahun aku terkurung di sini. Bukan maksudku untuk sombong, tapi yeah…aku dengan mudah menyerap dan menguasai semua ilmu yang diberikan kepadaku. Aku jenius, bukan?

Satu hal tiba-tiba terlintas di otakku. Sesuatu yang kuinginkan saat aku pertama kali datang kesini. Sesuatu yang kuinginkan seperti…pulang. Sekarang, mungkin aku sudah siap secara mental untuk pulang dan menghadapi werewolf itu sendirian. Tapi sampai saat ini aku belum berhadapan dengan werewolf, satupun itu.

Tapi bukan’kah aku bisa terbawa kesini karena sesuatu yang menyangkut dengan duniaku sendiri? Sesuatu yang menyakitkan. Aku tak tahu apakah sempat orang tuaku yang tak memperdulikanku, mencariku? Sesuatu yang tak mungkin! Dan tak akan pernah terjadi!

Aku merasa sangat nyaman tinggal di kastil ini! Semua makhluk benar-benar ramah padaku. Dan satu lagi! Disini tak ada manusia!

Ty pernah bilang padaku, jika semua makhluk disini semuanya sudah mati. Dan aku sudah dua tahun tinggal disini. Itu artinya…mungkin aku sudah mati, yeah! Aku senang!

Aku memegang urat nadi di tangan kiriku. Benar-benar tak berdenyut, tak bergerak! Woohoo~~

BUK

Aku merasa sesuatu menepuk keras tulang punggungku dari belakang. Sangat keras sampai aku terjungkal ke depan dan alhasil, kepalaku menabrak batang pohon.

Aku menoleh ke belakang. Mr. Andrew terlihat berjongkok di atas sebuah batu besar yang tadi di tempati olehku. Jadi tadi ia mendorongku karena ingin duduk di situ? Ckck…dasar ketua egois!

Aku melempar kerikil yang berada di dekat tanganku padanya. Dengan sigap—tanpa melihat—ia menepis kerikil itu.

“Kau tidak istirahat, Elias? Aku tahu kau sangat lelah dengan latihan kerasmu!” ia membuka percakapan denganku. Aku berdiri di depannya. Menatapnya seolah aku ini adalah adik kesayangannya.

Ia tersenyum sangat manis. Aku bertaruh, jika aku jadi wanita, aku pasti akan jatuh cinta padanya.

“Untuk apa kau kemari?” tanyaku ketus. Ia kembali tersenyum, membuat lesung pipinya terlihat.

“Besok aku akan pergi,” ucapnya pelan. Matanya menatap langit yang hanya dihiasi awan kelabu. “Pergi ke tempat yang sangat jauh…”

“Kau sudah bilang ini ke semua anggota disini?” tanyaku kembali. Ia menggelengkan kepalanya. Matanya masih menerawang. “Termasuk Mr. Dennis?”

Ia kembali menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak semua orang. Hanya kau satu-satunya orang yang kuberitahu. Aku minta kau jangan memberitahukan hal ini kepada siapapun..”

“Mengapa kau pergi? Apa tujuanmu?”

“Kau akan tahu nanti,”

Aku membiarkan hening menyelimuti kami sampai pagi. Ia menyuruhku untuk menemaninya.

Esoknya, ia benar-benar melakukannya. Mr. Andrew benar-benar pergi dari kastil ini. Meninggalkan kami semua—meskipun semua anggota disini belum menyadarinya—entah kemana.

Aku berjalan bersamaan dengan Ty, GD, dan TOP menuju ruangan yang ditunjukan oleh Mr. Casey. Sampai sekarang, aku hanya akrab dengan mereka bertiga. Tak ada keinginan untuk menambah atau mengurangi teman.

Pandanganku menatap ke atas, tapi pikiranku pergi kemana-mana. Ty yang rupanya sedikit ‘ngeh’ menghentikan langkahnya dan menghadang jalanku.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Elias?” tanya Ty khawatir padaku. Mendengarnya, GD dan TOP yang tengah berbincang langsung berkerumun di depanku. Aku mengerutkan kening. Bukan’kah mereka dapat membaca apa yang ada di pikiranku, huh!

“Kalian tentu saja bisa membaca pikiranku ‘kan? Tak usah repot-repot menanyakannya secara langsung padaku,” jawabku datar.

“Karena level ilmu sihirmu lebih tinggi dari kami,” tandas GD dan TOP.

“Maksudmu? Aku tak mengerti! Bukan’kah Mr. Andrew bilang bahwa semua orang dapat membaca pikiranku—“

“Jika tingkat ilmumu rendah!” timpal Ty. “Maksudku, saat kau datang ke kastil ini, kau..bisa dibilang masih ‘polos’. Sehingga semua makhluk di kastil ini tak terkecuali seorang yang tak tahu apa-apa mengenai ilmu sihir dapat membaca pikiranmu. Tapi sekarang, kau menguasai semua ilmu dengan cepat, dan sekarang kami semua tak dapat membaca pikiranmu!”

Tak terasa, kami sudah sampai di depan ruangan yang ditujukan Mr. Casey. GD menarik tanganku untuk masuk, meninggalkan Ty dan TOP berdua.

“Hei Elias! Kau belum bercerita apapun padaku!” teriak Ty. “Kau berhutang satu buah cerita padaku!”

Okay, aku tersenyum karena sifat Ty yang kekanak-kanakan.

Di depanku terlihat Mr. Casey yang tengah mengabsen muridnya satu-persatu. Dan coba kau tebak! Setelah aku di absen, hari ini aku kembali dipasangkan dengan Minzy! Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah tiga hari yang lalu, saat aku tengah mengobrol dengan Sandara. Sahabatnya mungkin?

Kami dikumpulkan dalam satu ruangan yang terihat seperti sebuah Colosseum.

Aku dipasangkan dengan Minzy bukan untuk saling menyerang. Tapi untuk saling bekerja sama dalam sebuah arena duel yang disebut sebagai ‘The Death Game’

Dua tahun sekali, semua penyihir dan makhluk di kastil dikumpulkan dalam ruangan ini untuk menyaksikan kelas ‘senior’ yang saling beradu kekuatan agar dapat bertahan di arena. Aku tak tahu disini ada tingkatan kelas. Kelas junior dan kelas senior. Tapi mengapa Mr. Andrew memasukanku dalam kelas senior padahal aku tak tahu apa-apa mengenai sihir, huh!

Cara ini yang digunakan Mr. Andrew agar kami siap melawan werewolf itu secara fisik dan mental—dan aku berpikir bahwa cara ini konyol. Mempertaruhkan nyawa sendiri—meskipun semua makhluk disini sudah mati—dan mungkin akan mati dua kali, huh. Mendapat luka-luka karena kekuatan fisik dari lawan yang sangat menyakitkan—dan aku tahu bahwa dengan simpel dapat menyembuhkannya dengan sihir—dan untuk penyembuhan dalam waktu yang sedikit lama.

Yang digunakan di arena ini hanya, otak, kemampuan sihir, dan ilmu bela diri. Semua yang sudah kupelajari namun aku belum sepenuhnya mengerti dan benar-benar menguasainya. Tak ada kawan, disini hanya ada lawan untuk ditantang dan dikalahkan agar mencapai suatu kemenangan.

“Jangan banyak melamun!” sahut Minzy yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. “Permainan akan segera dimulai,”

“Benarkah?! Kau sudah siap?”

“Tentu, kapanpun dan di manapun,” jawabnya sambil tersenyum. Ah ralat! Maksudku menyeringai kecil. Seringaian yang sangat tipis tapi aku masih bisa melihatnya.

Semua murid sudah duduk dengan pasangannya masing-masing. Dan aku dapat melihat dari kejauhan bahwa GD berpasangan dengan TOP, juga Ty yang berpasangan dengan seorang wanita, akh! Kalau tak salah itu adalah Sandara, bukan?

Kami melewati beberapa babak penyisihan dengan mudah. Tentunya mudah karena semuanya dilakukan dengan Minzy seorang. Aku bahkan belum melakukan apapun, Minzy sudah merobohkan lawannya dalam satu detik. Oww~~ ia benar-benar sangat keren. Beruntung aku bisa bekerja sama dengannya, kekeke..

Aku dan Minzy sampai di babak final dengan cepat tak kurang satu apapun. Tentu karena Minzy. Dan sekarang, aku tengah menyaksikan GD dan TOP di semi final melawan Ty dan Sandara.

Sayangnya aku tak akan bertemu dengan Ty di final, hanya karena kaki Ty keseleo. Dan GD menggunakan kesempatan yang tersisa itu untuk menendang kepala Ty hingga tersungkur keluar arena—dan itu dilakukan oleh GD. Tidak oleh TOP yang mungkin karena TOP tak ingin melukai sepupunya. Benar’kan kataku! Di sini tak ada kawan, yang ada hanya lawan. Ty benar-benar pingsan setelah ditendang GD. Dan Sandara yang melawan dua orang sekaligus, ia menyerah.

Aku akan melawan GD dan TOP di final nanti. Kami diberi kesempatan untuk beristirahat hanya lima menit. Waktu yang sangat sedikit.

Minzy menarik tanganku ke tengah arena saat namaku dan namanya dipanggil oleh Mr. Casey. Di depanku, GD dan TOP terlihat sangat gagah. GD pernah bilang padaku bahwa Minzy satu tingkat lebih hebat darinya. Tapi sekarang ia berdua dengan TOP yang tak kalah hebat darinya. Aku tak tahu apakah aku akan benar-benar hancur sekarang.

“Hai Elias,” sapa GD berbasa basi sebelum pertandingan dimulai. Aku menelan air liurku gugup. Menatap Minzy yang terlihat sangat tenang. Tapi aku yakin bahwa ia benar-benar sudah kelelahan. Yeah, kalian bisa menyebutku sebagai orang yang menyebabkannya.

Selagi TOP dan GD merenggangkan ototnya, aku melirik ke baris penonton. Entah, aku ingin sekali Mr. Andrew melihat pertandingan ini. Tapi ia sudah bilang padaku bahwa akan pergi sangat lama.

Mr. Casey sudah menjentikan jarinya, pertanda bahwa pertandingan sudah dimulai. GD berlari ke arahku sambil mengepalkan tangannya. Saat tangannya hampir memukul wajahku, Minzy dengan sigap menghalanginya dan memukul balik wajah GD.

GD tersungkur beberapa meter kebelakang. TOP menaikan tangannya ke atas, menunjuk langit. Dan seketika, seekor burung gagak yang sangat besar muncul di sampingnya.

Burung itu mengibaskan sayapnya yang panjang. Terbang ke arah Minzy dengan kuku tajamnya yang bersiap mencakar wajahnya.

Minzy melompat menaiki burung itu. Burung gagak itu terlihat sangat marah. Dengan lincahnya, burung itu berputar dan menukik agar Minzy jatuh. Namun Minzy mengeluarkan sebuah pisau dan menancapkannya pada kepala si burung gagak.

Whuss~

Burung gagak itu lenyap!

Minzy mengusap peluhnya. Sedetik sebelum GD dan TOP menyerangnya secara bersamaan. GD melayangkan pukulannya, Minzy dapat menghindar. TOP menendang kakinya, namun Minzy melompat ke atas. Hampir, ia terpeleset namun sihir itu membantunya.

“Lakukan sesuatu, Elias!” teriak Minzy. Aku tahu ia benar benar kewalahan. Tapi kau tahu, otakku menemukan jalan buntu di dalam sebuah labirin yang sangat panjang.

Sihir!

Sesuatu kata yang terlintas di otakku. Tapi aku masih ragu untuk melakukannya.

“ELIAS!!!” Minzy tak sempat menghindar saat tendangan mematikan TOP menendang perutnya beberapa kali. Ia roboh!

Dan kini tinggal aku seorang yang bertahan.

Apa yang harus kulakukan dalam keadaan segenting ini!

Menyerah?

Tapi Minzy melarangnya dengan sangat keras.

Aku tertohok saat menyadari bahwa GD berbalik ke arahku sambil menyeringai.

“Sekarang giliranmu, Elias…”

Wait to the next chap ^ ^

 

8 responses to “Another Lucifer World Chapter 2

  1. lah, siwonnya pergi kemana ya..penuh misteri gitu .___.
    keren deh minho bisa secepat itu belajar sihirnya, apa mgk itu kekuatan yg dimaksud? hmmm, itu kocak banget perang mulut minho-jonghyun..wkwkwk
    wow, perang gladiator *eh* kira2 gimana ya perlawanan minho?
    penasaran de ma lanjutannya..dtunggu ya 😀

  2. kyaaaaaaaaa lg tegang2’ny npa di cut??/
    hwaaa gmna tu minho bkal brhasil ap ga???
    siwon pergi kmn????
    itu minho ddunia manusia udh bneran mati?? waa jngn doong T.T
    taemin am jinki blm muncul yah???
    ah msh penasaran
    lanjuuut 😀

    • kan biar penasaran, hehe…
      Minho berhasil? gimana ya…~

      Siwonnya pergi ke rumah saya, hehehe#plak!
      tunggu Taemin dan Jinki muncul di peradaban,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s