Command of 100 Days [Part 1 of 2]

Command of 100 Days

Title: Command of 100 Days

Author: LucifeRain

Genre: Life, Romance – comedy dikit dikit

Ratting: General

Lengh: Oneshoot

Main Cast:

Kim Kibum

Lee Ji Eun

Jang Wooyoung

Jung Nicole

Disclaimer: ini FF request-an dari Choi Jinhya a.k.a Thyaa Eonnie. Ide cerita dari Thyaa Eonnie, aku hanya menerjemahkan imajinasi itu dalam bentuk tulisan #halaaahhhh

Semoga tidak mengecewakan kkkkK~

*`~*`~*`

Ji Eun P.O.V

aku melangkah di tepi jalan kota Incheon dengan wajah berseri seri. sambil bersenandung kecil, ku ayunkan paperbag coklat yang berada di tangan kiriku.

senyumku semakin mengembang ketika wajah seseorang terlintas dalam benakku. Seseorang yang sangat istimewa, jika ada kata kata lain yang maknanya lebih dalam dari kata ‘istimewa’ maka aku akan mengucapkanya ribuan kali.

Dia memiliki posisi indah di mataku, menempati ruang terbesar di hatiku dan Dia adalah tujuan hidupku. semua hal itu semakin istimewa. ketika ia membuatku merasa sempurna

Jang Wooyong, dialah orang istimewa itu. berawal dari persahabatan sejak SMA, dan kemudian ia menyatakan cintanya. Setelah kuliah kami memutuskan untuk bertunangan. Orangtuanya sangat baik, ia menerimaku yang sebatang kara ini apa adannya.

Ya, aku sebatang kara, orang tuaku meninggal saat aku SMA dan Wooyoung Oppa lah yang membangkitkan semangat hidupku, dia mengantikan senyum usangku dengan warna baru yang lebih ceria. Kami terpaut 2 tahun dan ia sekarang bekerja di Yokohama sebagai pengacara muda yang sedang melanjutkan S2-nya. Dan lusa lalu dia mengabariku akan pulang ke Incheon, itulah sebabnya mengapa aku senang sekali.

“Annyeong Haseyo” sapaku pada seluruh pegawai di dalam ruang ganti.

aku bekerja part time di salah satu café. meskipun aku meraih beasiswa di universitas, tapi tetap saja perlu banyak biaya untuk mengerjakan semua tugas terutama keperluan hidupku.

“Ji Eun-ssi cepatlah sedikit! Café sedang ramai ramainya” seru menager café dari luar.

Aku meletakkan paperbag itu di loker. setelah ku pastikan penampilanku telah rapi, aku pun melangkah keluar ruang ganti.

Café ini mikik paman Wooyong Oppa, sebenarnya ia merasa tidak enak menerimaku sebagai pelayan –karena aku tunangan keponakan kesayanganya- tapi aku bersih keras mendapatkan pekerjaan ini karena aku benar-benar butuh uang.

Dan nanti malam, Wooyoung Oppa berjanji akan kesini. Aku sangat rindu padanya, sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Bongoshipoyo Wooyoung Oppa….

Author P.O.V

“Waitress!”

“waitress!!”

“Waitress!!!”

Panggilan itu seakan menggema dimana-mana, seluruh pelayan café mondar mandir kesana kemari. Ji Eun mendecak kesal, mereka terlihat seperti setrikaan dimatanya, YA! Kenapa pelanggan selalu tidak sabar!

Ji Eun mengambil nampan yang berisikan dua gelas minuman. setelah melihat kertas yang bertuliskan nomor meja pesanan, Ia segera berjalan menuju meja itu. suasana café begitu ramai, Pengunjung sangat bising seperti sekumpulan lebah.

Saat ia melangkah dengan mata yang sibuk mencari nomor meja pesanan, tiba-tiba…

~BRAKKKK~

~PRANGGG~

Mata Ji Eun terbelalak lebar menatap gelas minuman yang merosot dari nampannya, gelas-gelas kaca itu terbanting ke lantai dan pecah berserakan disana. Jantungnya berdegup kencang ketika ia mendongak dan mendapati seorang namja dengan baju basah sedang menatapnya Murka. Sepertinya ia menabrak orang itu.

“YA! KAU BUTA ATAU APA?!!!” teriakan itu membuat suasana café hening sejenak, semua pandangan mengarah padanya.

“Joesonghamnida” Ji Eun membungkuk, ia memejamkan matanya rapat-rapat dan berulang kali mengucapkan kalimat itu

“MWOYA? MAAF KATAMU?!!” bentak namja itu, emosi sedang menyulutnya.

“jeongmal jeosonghamnida, saya benar-benar tidak sengaja. Akan kucuci baju anda, kalau perlu aku akan menggantinya” suara Ji Eun gemetar, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat

“Tsk… APA KATAMU? Sepuluh tahun gajimu pun takkan mampu mengganti kemeja merek ETON seharga US$ 1200. Kau kira kau mampu ke Los Angeles untuk membeli kemeja ini?”

Nafas Ji Eun tercekat menerima penjelasan namja itu, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ji Eun menengadah, memberanikan diri untuk melihat namja itu.

Namun sial, Ia seakan terkurung ketika lekuk tajam mata namja itu menyambar penglihatanya. Seperti ada kobaran api yang menghanguskan segala fungsi sel motorik dalam tubuhnya. Membuatnya beku dalam sekali terjangan.

“maaf” lirih Ji Eun, bahkan suaranya nyaris tak keluar.

“KAU MEMBUATKU MUAK!!!” namja itu berteriak, membuat suasana semakin tegang.

Ji Eun melihat namja itu membuka asal dasi hitamnya lalu melemparkan ke sembarang arah. Nafas Ji Eun  tertahan ketika melihat namja itu mencengkram kerah kemejanya, kedua tanganya menarik kemeja dengan arah berlawanan, menghentak dengan sangat keras hingga kancing kancingnya terputus dan melompat ke lantai.

Namja itu membuka kemeja putihnya dengan kasar, menyisakan baju dalam hitam tanpa lengan yang menjadi pelapis kemeja putihnya tadi. Baju hitam itu melekat pas, mencetak setiap lekuk otot yang ada di tubuhnya. Bahkan sekarang Ji Eun dapat melihat urat dalam otot lengan namja itu menegang ketika berhadapan denganya

BRAKKK….

Kemeja itu menampar keras wajah Ji Eun, dengan sigap Ji Eun menampung kemeja yang kemudian merosot dari wajahnya. pipinya memerah, antara kesakitan dan menahan malu….

“ aku tidak mau tahu kau harus mengembalikan kemeja itu padaku dalam keadaan sempurna dan katakan pada manager café ini, aku batal memesan VIP Room”  bentaknya lalu berbalik dan berjalan menjauh.

Seorang wanita menatapnya sinis, ia melipat kedua tanganya di depan dada “kau menghancurkan dinnerku, dasar gadis miskin kampungan” cibirnya lalu pergi mengikuti namja tadi.

*`~*`~*`

Ji Eun menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja, sejak tadi pandanganya mengarah pada paperbag coklat yang tergeletak di atas meja. Café sudah tutup, seluruh pegawai sudah pulang 30 menit lalu. Tapi kenapa Wooyong belum datang juga.

Teringat akan kejadian tadi sore. kemeja itu, ia menyimpanya di loker. Untung saja Jang Ahjusii –pemilik café- tidak memarahinya justru menghibur dan mengatakan bahwa orang kaya memang suka seenak jidatnya.

Ji Eun memandang jam tanganya, kemudian ia mendesah gelisah karena sudah hampir tengah malam dan Wooyoung belum tiba juga. Tiba-tiba perasaanya mendadak tidak enak. Ia menyesap secangkir teh hangat yang sejak tadi menemani kebisuanya.

Ji Eun menarik paperbag itu lalu mengeluarkan isinya, sebuah Scraft rajutan bermotif garis-garis hitam putih. Ia membuatnya sebulan lalu dan selesai tepat ketika Wooyong menelfonya.

If you go

If you leave

Noreul Tarmagago

Noreul tarmaganeun

Urin saranghago

Lantunan melody lagu Love Letter For you– milik Lyn ft. MC Mong, membuyarkan lamunannya. Ia beranjak dari duduknya berjalan ke arah meja kasir dan mengambil tas ransel disana.

Kemudian Ji Eun menggali tas itu lalu menemukan ponselnya berdering. Alis Ji Eun menyatu ketika mengetahui yang menelponya adalah nomor suatu instansi.

Ia membuka Flap ponselnya lalu menempelkan ke telinga. Seketiak jieuntercengang, kalimat yang meluncur dari orang di seberang sana bagaikan mimpi buruk, Pertanyaan yang terputar dalam otaknya benar benar terjawab, rasa tidak nyamanya terbalas sudah. Tangan Ji Eun bergetar, air bening menggenangi pelupuk matanya.

Ia berlari secepat yang ia bisa, menghentikan taksi demi suatu tujuan. Rumah sakit….

Orang dari instansi berkata bahwa taxi yang wooyoung tumpangi dari bandara mengalami kecelakaan beruntun, seluruh korban langsung dilarikan ke rumah sakit.

Lima belas menit waktu yang ditempuh Ji Eun, ia berlari menuju ruang operasi. Gadis itu semakin terguncang ketika mengetahui Kepala Wooyoung terkoyak lebar, membuatnya harus di Operasi mendadak. Untuk sesaat bahkan Ji Eun lupa cara bernafas, apalagi ketika ia sampai di depan ruang Operasi beberapa suster keluar sambil mendorong tempat tidur beroda.

Di atasnya terbaring seseorang yang wajahnya tertutup kain putih. tulang dalam raga Ji Eun seakan runtuh, membuat ia merosot terduduk di lantai. Ia kenal lekukan tubuh itu, Wooyoung…. Kenapa ia pergi tanpa permisi?

Ji Eun mengepal erat tanganya, membuat buku-buku jarinya memutih. Air matanya tak terbendung lagi, ia menarik nafas dalam “JANG WOOYOUNGGGGGGGGGG”

*`~*`~*`

Ji Eun P.O.V

Kalian tahu, kehilangan orang yang kalian cintai bagai kehilangan separuh nafas. Apalagi kehilangan semua orang yang kalian cintai, apakah kalian masih mempunyai nafas yang tersisa untuk ini?

Aku benar-benar hancur, Wooyoung adalah semangat hidupku. Sekarang siapa yang ku punya di dunia ini? Aku menarik selimut hingga menutupi wajah dan lagi-lagi menangis. ah tidak, sepertinya air mataku sudah habis. Aku terlalu lelah, bahkan untuk bernafas sekalipun.

Sudah seminggu aku mengurung diri di flat pribadiku yang berukuran kecil ini. Masih belum bisa merelakan kepergian Wooyoung, bayang-bayangnya bahkan tetap hadir ketika aku menutup mata.

“ahhhhhhh”

Ku tegakkan punggung dan memberikan sedikit perenggangan kecil dengan menarik kedua tangan dan menolehkan kepala kekanan dan kekiri, posisi meringkuk membuatku pusing.

Aku beranjak, berniat mengganti bajuku yang aromanya sudah tak sedap, ku arahkan langkahku ke lemari kayu yang hanya memiliki satu pintu. Ketika aku membuka itu, paperbag coklat menggantung di sana.

Aku menyernyit, bukankah Scraft-nya ada di atas tepat tidur? Lalu kenapa paperbag itu kelihatan berisi?. Mataku kontan membulat lebar ketika teringat akan sebuah benda.

Segera kusambar paperbag itu dan melihat isinya, benar saja…. Bukankah ini kemeja namja laknat itu? mati kau Lee Ji Eun!

*`~*`~*`

Ting… tong…

Aku berada di depan sebuah apartment yang tergolong kelas atas. Aku mengetahui alamat namja itu dari Jang Ahjussi, Ahjussi bilang namja itu sering memesan makanan dari café.

Namanya Kim Kibum, mahasiswa berumur 22 tahun. Ia kuliah di Kangnam Unniversity, yang merupakan universitas termahal di Korea. Keluarganya pemilik Kim Corporate yang sangat mempengaruhi stabilitas saham di korea. Informasi ini kudapat dari Jang Ahjussi.

Bulu jangatku meremang ketika kenop pintu terputar pertanda seseorang akan membukanya, dan aku hampir melompat saking kagetnya karena Kim Kibum kini berdiri di hadapanku. Ia langsung menyerangku dengan tatapan tajam dibalik lekuk matanya yang runcing.

“a…. annye…ong haseyo” sapaku gugup, aku tertunduk tak berani beradu dengan sinar matanya.

“kau! Cihh… gadis miskin” sentaknya, aku menggigit bibir bawah kuat-kuat.

“hinalah aku sepuasmu yang penting aku bisa pergi sekarang” ucapku, namun sayang hanya berani di dalam hati.

“aku baru saja ingin membakar café itu karena ulahmu”

Aku terkesiap mendengar ucapannya “Mwo?!”

“kau, kenapa kemari?” tanyanya dingin

“naega? Hanya untuk mengembalikkan ini” aku menyodorkan paperbag itu padanya.

Namja itu merampasnya dengan kasar, ia membuka sedikit lalu membuang begitu saja ke belakang. Lagi-lagi aku mengendus, kenapa orang kaya tak pernah menghargai sesuatu? Padahal aku harus mengorbankan sebulan gajiku untuk me-laundry kemeja somplak itu.

“kau kira aku menerimanya segampang itu? pertama kau menghancurkan dinnerku, kedua kemeja itu telah terkontaminasi virus orang miskin seperti mu. Kau harus ganti rugi!” tandasnya tajam

“tapi… tapi…. Kemeja itu kan hanya terkena noda sedikit” kali ini aku membuka suara, dan menatapnya walau agak takut.

“ohhh begini saja, bagaimana kalau aku membuka restoran baru di depan café itu lalu merekrut semua pegawai termasuk kokinya dengan gaji tiga kali lebih besar. Aku yakin café itu akan bangkrut” ia menyeringai tajam di akhir kalimat, sedangkan aku hanya bisa tertunduk merutuki nasib.

“baiklah akan menuruti perintahmu” lirihku. Aku tak bisa membayangkan Jang Ahjussi yang sangat baik itu bersedih karena kecerobohanku.

“kau harus menjadi pembantu di apartmentku selama 100 hari, Ini perintah! Itulah akibatnya kalau berani bermain-main dengan KEY!”

*`~*`~*`

Setelah kejadian itu, setiap dini hari sebelum kuliah aku harus berangkat Ke apartment Namja sombong itu untuk membersihkan rumahnya. Apartmentnya memang luas sekali, tergambar jelas bahwa dia adalah anak orang kaya.

Saking luasnya aku jadi sering pegal-pegal sendiri. Aigoo… apa dia tidak bisa menyewa satu pembantu lagi hah? Robot saja akan melarikan diri kalau disuruh bersih-bersih apartmentnya yang luas itu.

Ditambah lagi namja butek itu sering mengadakan pesta di rumahnya, jadilah aku seperti menjadi kuli kapal pecah. Dasar orang kaya, apa dia tidak tau kalau biaya sekali pesta di rumahnya sama saja dengan biaya hidupku sebulan? Arggghhh…

 

Author P.O.V

Ji Eun memandang pintu bercat putih dihadapanya dengan tatapan malas. Semua ruang di apartment sudah ia bersihkan, tinggal kamar Key lah yang belum. Ji Eun melirik jam yang menempel di dinding. Sudah jam 8 dan sejam lagi dia ada mata kuliah.

“kenapa jam segini dia belum keluar.” Gerutu Ji Eun. Yeoja itu mulai mondar mandir tak jelas di depan pintu kamar Key. Jika ia meninggalkan Apartment ini sudah pasti Key akan marah besar dan menyerocos panjang lebar karena kamarnya belum di rapikan.

Ji Eun memutar kenop pintu secara perlahan, ia menghela nafas panjang lalu memberanikan diri untuk masuk ke kamar Key dengan membawa alat pel yang juga merangkap sebagai sapu.

Ia berdecak kesal ketika melihat kondisi kamar Key, baru kemarin malam dibersihkan tapi paginya sudah berantakan lagi. baju berhamburan sana sini, bed cover yang menggulung asal dan benda-benda yang tergeletak tak karuan langsung menyapa indra penglihatanya.

Dengan enggan Ji Eun memungut pakaian yang berserakan di samping pintu, sepertinya si tuan muda itu berulah dengan mengobral semua baju bajunya di lantai. Ketika Ji Eun melangkah dengan gumpalan kain yang hampir menutupi matanya, tiba-tiba ia merasa kakinya mengijak sesuatu dan…

BRUKKK…

Semua terjadi begitu cepat hingga dia sadar bahwa dirinya berada di atas seorang namja yang benatapnya murka.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!”

“ah, Mianhae…” cepat-cepat Ji Eun menegakkan badan sebelum namja satu itu meneriakinya lagi, dalam hati ia mengutuk kesal, kenapa Namja itu suka sekali berteriak?!!!

“ya! Lee Ji Eun cepat pijati aku!” titah  Key, ia mengambil posisi tengkurap di atas bed Cover yang tergeletak asal di lantai.

Key menoleh kebelakang, ia mendecak kesal melihat Ji Eun yang masih betah mematung. “cepat lakukan!”

“tapi aku harus ke kampus sekarang” elak Ji Eun dengan mimik memelas.

“Lee Ji Eun, ini perintah! Dan ancamanku masih berlaku!”

Ji Eun membanting tumpukan baju dalam gendonganya, dengan wajah masam ia berjalan ke arah Key seraya berkacak pinggang. secara kasar ia memijat punggung Key dengan siku dan menarik lengan Key sekuat tenaga

“YA! Kau ini memijat orang atau mengangon sapi hah?!”

Ji Eun tersenyum licik “karena aku belum pernah memijat Sapi, jadi aku melakukan percobaan sekarang”

“YA! Arrgggghhhh…”

“Chagiya! Kyaaaaaa! Apa yang kalian lakukan?!”

Untuk pertama kalinya Ji Eun beryukur bertemu Nicole karena dia datang di saat yang tepat. Walaupun bisa dipastikan mulut Nicole yang mengaga lebar itu pasti karena ia melihat Ji Eun sedang menyikut bahu Key dan memelintir lengan namja itu dengan kakinya.

*`~*`~*`

Setelah melewati perdebatan hebat, akhirnya Ji Eun bisa sampai di kampus dengan selamat. Hampir saja Key menyuruh Ji Eun mencuci semua baju bajunya yang berada di dalam lemari. Huft… bisa tepos tanganya.

Nafas Ji Eun sedikit memburu ketika memasuki ruang kuliah, pasalnya ia harus berlari jika tak mau dosen Killer lebih dulu sampai darinya. Baru saja ia merasakan betapa nikmatnya duduk di bangku tiba-tiba ponsel dalam sakunya bergetar panjang.

JI Eun P.O.V

kukeluarkan ponsel yang sejak tadi bergetar dalam saku. Setelah tau siapa yang menelepon, buru-buru ku telengkupkan ponselku di atas meja tanpa berniat sedikitpun untuk mengangkat panggilan.

Karena ponsel laknat itu terus bergetar, semua orang di kelas pun memandangku dengan tatapan yang artinya cepat-angkat-atau-kau-akan-merasakan-kaus-kaki-ku-yang-tidak-dicuci-enam-bulan. Yahhh kira kira seperti itulah hasil terjemahan abalku.

Dengan wajah seribu tekukan, kuraih ponsel yang sudah tak bergetar itu. bisa di pastikan kalau Key akan mengomel panjang lebar karena 20 missed call terpampang jelas di layar ponsel.

Dan Sialnya saat aku menekan tombol hijau hendak memeriksa panggilan terakhir, bertepatan dengan itu Key menelepon ku. Entah panggilan itu lebih cepat beberapa sekon yang jelas kini dilayarku terpampang tampilan durasi.

“LEE JI EUN? KENAPA KAU BARU MENGANGKAT TELEPONKU? CEPAT PULANG DAN SIAPKAN PESTA UNTUK NANTI MALAM”

Ya sodara-sodara, ternyata yang keluar adalah suara Yeoja. Dan lengkingan suara Yeoja ini sungguh mengerikan karna bisa terdengar jelas dan K-E-R-A-S dari jarak sejauh 20cm padahal aku tak mengaktifkan Loudspeaker. Suara siapa lagi kalau bukan nicole…

Ya, dia Jung Nicole adalah pacar si tuan Komandan alias Key. Kurasa sifat mereka berdua sama… sama-sama merintah orang dengan seenak jidatnya dan sangat boros. Bayangkan saja, biaya pestanya semalam sama dengan sebulan gajiku di café dulu.

Terpaksa aku kembali ke Apartment laknat itu, kalau tidak pasti si tuan komando itu akan menyemburku habis-habisan dengan omelan panjang lebarnya.

*`~*`~*`

Sesampainya di Apartment, Nicole langsung memerintahku bertubi-tubi, sedangkan dia hanya duduk santai di atas sofa sambil menonton acara gosip. Aishh rasanya ingin kulempar dengan kemoceng.

Tapi untunglah si tuan Komando yang cerewet itu sedang pergi. Kata Nicole, Key pergi karna harus menghadiri rapat perusahaan. Aku baru tau kalau Key anak tunggal, pasti tanggung jawabnya besar sekali. Anni, orang sombong seperti dia mana mungkin bisa bertanggung jawab dengan benar.

Malam pun tiba, suasana glamour menguasai seluruh area. Ruang tamu yang disulap menjadi diskotik dadakan terlihat sangat minim cahaya ditambah lagi hentakan musik beat yang kencang dan kerlap-kerlip lampu disco membuatku pusing melihatnya.

Aroma asap rokok terasa sangat menyengat, belum lagi para wanita yang diundang mengenakan pakaian yang aku yakin bahan handukku lebih besar dari pada busana yang mereka kenakan.

Ku tuangkan Vodka ke dalam dua gelas yang sudah tersedia di atas nampan, ku tenteng nampan itu kemudian berjalan ke arah sebuah meja yang penuh dengan puntung rokok, gelas bir dan kulit kacang. Benar-benar berantakan.

Saat aku metetakan gelas itu ke atas meja, tiba-tiba seseorang merangkul pingganggku. Kontan aku pun merontak ketika tahu orang sedang mabuk.

“hei, siapa gadis ini? Cantik sekali” teriaknya, ia menyandarkan badannya ke punggungku. Berat.

“dia itu pembantu, bodoh!” Sahut nicole yang sedang asik meneguk minuman beralkohol dengan Key. Kelakuan orang-orang disini sangat menjijikan.

“kau lebih cantik kalau berpakaian Sexy” bisiknya di telingaku. tak terima diperlakukan sehina itu, ku sikut perut Namja itu kemudian ku pukul ia dengan nampan hingga jatuh.

Plakkk..

Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipiku dan itu berasal dari tangan Nicole. Dia menatapku penuh amarah dan lagi-lagi dengan bodohnya aku hanya bisa menunduk.

“NUTS! KAU ITU HANYA PEMBANTU! BERANI MATI, HAH?!” bentaknya.

“Jeongmal Mianhaeyo” lirihku. Sebenarnya aku ingin sekali berteriak ‘asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak dibayar untuk ini semua’

Sesaat kemudian umpatan-umpatan pedas melayang untukku, segera aku berjalan ke dapur. Namun saat aku melewati sofa, mataku tertuju pada Key yang masih berbalut kemeja formal. Ia tertidur dan semburat kelelahan tampak jelas dari ekspresinya.

Berat rasanya menahan emosi seperti ini, setiap mereka mengadakan perta kerap kali akulah yang dijadikan bahan olok-olok. Tak jarang aku disentuh oleh tangan nakal si pengunjung pesta. Namun setiap aku menghajar mereka, Nicole selalu menyiksaku. Apa yang harus ku lakukan? Kalau saja ini bukan demi paman Wooyoung Oppa yang menganggapku seperti keponakanya juga.

Wooyoung Oppa, Jeongmal Bongoshipoyo…

tepat 3 dini hari aku terbangun dari tidurku, setiap pesta biasanya aku dipaksa untuk menginap untuk membereskan semuanya. Tapi kali ini aku ketiduran di dapur, sungguh aku sangat lelah dengan kondisi ini.

ku raih serbet di Uper Cabinet lalu beranjak keluar dapur, Seperti biasa mereka menyisakan ruang yang berantakan untuk ku bersihkan. Saat aku membereskan meja yang berantakan, aku baru sadar ternyata Key masih terbaring di atas sofa.

Aku tersentak ketika mendengar bunyi decitan gagang pintu, aku pun enoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati seorang Namja keluar dari kamar Key seraya memasang kancing bajunya dengan.

Setelah Namja itu pergi dari Apartment, Nicole keluar dari kamar Key dengan baju yang berantakan. Buru-buru ku palingkan wajah ketika ia menangkap tatapanku.

“kau melihatnya?”

Tubuhku menegang, Ku gigit bibir bawahku kuat-kuat. Entah harus ku jawab apa pertanyaan itu.

“ku pastikan hidupmu tak akan tenang jika kau mengadukan ini pada Key” Ancamnya membuat bulu jangatku meremang. Ternyata selama ini dia…

~*~TBC~*~

 jangan lupa RCL-nya. part 2 bakalan di post secepatnya ^^

Cheers,

LucifeRain (ayya)

Advertisements

28 responses to “Command of 100 Days [Part 1 of 2]

  1. “Aku tersentak ketika mendengar bunyi decitan gagang pintu, aku pun enoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati seorang Namja keluar dari kamar Key seraya memasang kancing bajunya dengan.”

    dengan apa? belum selesaikah itu kalimatnya?
    alurnya kecepetan Ayya…. dan Thya hehehe
    Btw ada masukan lagi sih sebenernya tapi entar deh full masukannya di part 2 aja. *capcus ke part 2*

  2. annyeong chingu salam kenal ya

    aku dapet usulan baca ff dari thyia Saeng .. haha
    ternyata ff KEY-IU

    aku suka bangat sama ceritanya ..
    si jieun udah tunangan sama wooyoung , tapi wooyoung malah meninggal ..
    udah gitu si key ampun dasar orang kaya , bertindak semena” aja ya ..
    marah”nya itu keterlaluan , kalo aku jadi jieun udah tak pites .. hahaha

    pas balikin baju juga si key marah parah
    malah nyuruh jieun jadi pembantu

    ampun dah itu key teriak” mulu , dasar eomma .. haha
    tapi lucu pas jieun mijitin key gitu lucu

    gondok klo aku jadi jieun , itu nicole asal nyuruh” aja
    jieun di sntuh namja lain , omo bagusnya jieun langsung hajar . tapi nicole malah nampar . haddoooh jieun kasian bagt

    tapi di ending itu nicole selingkuh ya ??
    wahhh pake ngancem lagi ..

    lanjut part 2 mau baca dulu .. hihi

  3. a.Q suka ffnya…karakter tokohnya jg a,Q suka….
    NICE FF maaf yah br bs komend skarng….

  4. aduh,
    Key loe dihianati ma Nicole..
    dari dulu kok aku suka ma Nicole ya, mending yang artis lain dech jgn ma dia. hehehhehe

  5. ish nicole mulutnya minta drobek kyaknya..nyebelin bgt.. key knp mau”nya ama yeoja setan kyak dia.ckckkk
    oia.. it kyaknya ad kalimat yg menggantung..-> aku pun menoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati seorang Namja keluar dari kamar Key seraya memasang kancing bajunya dengan.
    ini msh ad smbungannya atau gmana?

    lanjut dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s