Love Warrior – Trip 1

Author: Shalsasya

Main Cast(s):

  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Selina Shin

Support Cast(s):

  • SJ Donghae as Aiden Lee
  • Madam Ty
  • All exo’s member

Genre: AU, fantasy, supernatural, and romance.

Rate: Teen

Credit poster goes to: Farihadaina@galleryoffanfiction.wordpress.com

Length: Chaptered

Previous part: {Teaser + cast introduce!}

.

.

.

Selina menghela nafas panjang sebelum memasuki pintu berukuran 2 kali lipat tubuhnya, ia meraih gagang pintu itu lalu menariknya pelan. “Ma—maaf, Madam Ty menyuruhku untuk mengambilkan tongkatnya yang tertinggal,” ujarnya. Wajahnya ditekuk menghindari tatapan dari murid murid XynAcademy yang sedang belajar elemen bumi dengan Madam Rin. Malu? Mungkin. Karena usia murid di sini tidak berbeda jauh dengan umur Selina sendiri dan dia cukup tahu diri karena kasta para murid di sini jauh lebih tinggi darinya yang hanya seorang pelayan di Xyn Academy. Madam Rin menghentikan penjelasannya sejenak tentang unsur tanah dan menyilakan Selina untuk masuk. Gadis itu berjalan—masih dengan wajah ditekuk—menuju meja yang ada di sudut ruangan, tongkat kayu milik Madam Ty menyandar kokoh disana. Hampir saja ia sampai ke sudut ruangan, sebuah pensil jatuh sampai ke ujung sepatu kusamnya. Selina tersentak sedikit lalu menatap enggan ke arah jatuhnya pensil tersebut, dan ia lebih terkejut lagi mengetahui ternyata si baik hati yang telah menolongnya kemarin lah yang menjatuhkan pensil itu. “Ah, bisakah kau mengambilkannya?” pinta Baekhyun sambil tersenyum. Selina terpaku sebentar lalu dengan cepat ia mengambil pensil itu yang membuatnya menyenggol pelan meja Baekhyun. Selina merutuki dirinya dalam hati lalu menyerahkan pensil laknat yang sudah sedikit menyusahkannya. “Terimakasih.” Ucap lelaki tampan itu setelah mengambil pensil miliknya. Selina mengangguk dan tanpa basa basi melanjutkan perjalanannya ke sudut ruangan yang entah kenapa terasa sangat jauh lalu mengambil tongkat milik Madam Ty. Setelah itu ia berbalik dan membungkuk pada Madam Rin. “Nah, kalian lihat Selina ini. Dia anak baik dan sopan. Walaupun kalian punya kekuatan spesial tapi kalian juga harus berprilaku baik seperti Selina.” Katanya kepada para murid yang menurutnya agak melunjak karena bisa masuk ke Academy ini. Selina tersenyum kikuk lalu mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.

“Tentu saja dia sopan, diakanhanya seorang pelayan!” seru Kai meremehkan perkataan gurunya tersebut. “Iya!” imbuh yang lain semangat.

Di pojok ruangan, Sehun mengepalkan tangannya. “Diam kalian semua.” Katanya lantang dengan nada datar yang membuatnya kini menjadi pusat perhatian. “Adaapa, Sehun? Kau membelanya?” ejek Chanyeol. Sehun diam tidak membalas, ia menatap lelaki dengan rambut cokelat keriting itu tajam. “Tentu saja Sehun membela pelayan tadi! Merekakansama sama dari kalangan yang tidak pantas!” perkataan Xiu Min sukses menohok Sehun. Kata kata itu terlalu kasar. Sehun hanya bisa memalingkan tatapannya dari mereka lalu kembali membaca buku catatannya, mengubur amarah dan rasa sakit hatinya dalam dalam. Sementara itu di depan Madam Rin mulai memijit keningnya, lelah. Kenapa anak anak ini terlalu tidak sopan? Pikirnya lalu menatap Sehun dengan tatapan kasihan.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan disana? Lama sekali!”

Bukannya berterimakasih karena Selina sudah dengan patuhnya mengambil tongkat miliknya, Madam Ty malah mengambil rotannya dan memukul gadis itu beberapa kali. Selina meredam ringisannya dan menunduk, menerima dengan pasrah setiap cambukan yang ia terima. “jangan bilang kau membuat keributan disana. Itu memalukan, kau tahu? Kau ini hanya seorang pelayan!” katanya dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. “Aku tidak melakukan apa apa, Madam,” ujar Selina pelan.

“Lalu? Kenapa lama sekali? Seharusnya kau bisa lebih cepat lagi.” Madam Ty mendengus lalu mengibaskan tangannya. Selina mengerti apa yang dimaksud wanita itu, ia langsung keluar dari ruangan Madam Ty dan menuju kamar nya sendiri di lantai atas karena pekerjaannya untuk hari ini sudah usai dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ujung sepatunya menimbulkan bunyi pelan ketika bersentuhan dengan lantai kayu yang dingin. Lorong begitu sepi saat ia melewatinya, hanya ada dia seorang karena para murid sudah dibubarkan dan bersiap siap untuk tidur. SuasanyaXynAcademy nyaris mencekam pada malam hari. Selina menggosokkan kedua tangannya berulang ulang untuk mengurangi rasa dingin. Sampai di ujung lorong terdapat tangga yang terhubung pada kamarnya, seseorang menepuk bahunya pelan, membuat gadis itu terlonjak kaget. “A—Aiden kau mengagetkanku!” katanya pelan.

Lelaki itu malah menunjukkan deretan gigi putih nya yang rapih, “kau sudah makan malam?” tanyanya khawatir melihat tubuh Selina yang dari ke hari makin kurus, pipinya semakin tirus. Ulah siapa lagi kalau bukan Madam Ty, wanita itulah yang menyebabkan penurunan berat badan Selina, dengan teganya wanita itu mengurangi jatah makan milik Selina hanya karena urusan sepele. Aiden mengusap pipi dingin Selina sebentar lalu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. “Ini,” ia menyodorkan sebuah roti isi. “Makanlah, aku tidak suka nona Shin yang kurus seperti ini,”

Kedua ujung bibir Selina terangkat, “terimakasih Aiden, kau selalu peduli kepadaku,”

Aiden mengelus pelan rambut Selina, “tidak apa apa, kau sudah seperti adikku sendiri. Beri tahu aku kalau sesuatu terjadi,” ujarnya sambil tersenyum. Selina memeluk Aiden sebentar, “terimakasih Aiden, terimakasih.” Gumamnya. Aiden menepuk nepuk punggung Selina, “sanakembali ke kamarmu, sudah malam,” suruhnya. Selina mengangguk lalu menaiki satu demi satu anak tangga untuk menggapai kamarnya.

Pintu kamarnya berderit ketika Selina membukanya, wangi lavender langsung menyergap hidung Selina ketika ia masuk, kemarin gadis itu sengaja membawa beberapa tangkai bunga lavender untuk ditaruh di kamarnya. Ia menaruh roti pemberian Aiden di meja yang terletak di depan jendela lalu duduk di tikar tipis yang menjadi tempat tidur baginya. Ia meluruskan kakinya sebentar sambil menyandar, mengistirahatkan tubuh mungil itu setelah seharian banting tulang demi memenuhi setiap kemauan Madam Ty. Beberapa menit kemudian ia bangkit untuk mengambil sehelai baju tidur dari lemari kayu berukuran sedang di pojok kamarnya. Setelah mengganti baju, Selina mengambil roti isi lalu memakannya pelan pelan seolah roti itu adalah roti terbaik di dunia. Ia tersenyum kecil mengingat kata kata Aiden tadi, ia benar benar bersyukur masih ada seseorang yang peduli dengannya, bahkan menganggapnya sebagai keluarga.

Baru saja ia menyelesaikan suapan terakhir, seorang wanita merangsek masuk ke dalam kamar kecilnya. “Oh, bagus lah kau belum tidur!”

Selina terkejut mendapati Madam Ty memasuki kamarnya malam malam begini, ini berarti pertanda buruk baginya, mana mungkin Madam Ty mau capek capek menaiki puluhan anak tangga hanya untuk sekedar mengunjungi Selina, pasti wanita tua ini akan menyuruh Selina melakukan ini itu, bahkan di waktu yang selarut ini.

“Cepat bereskan halaman belakang! Tadi murid murid meninggalkan banyak sampah disana,” suruhnya tanpa ampun. Selina membuka mulutnya, mencoba mengatakan kalau sekarang sudah malam dan pekerjaan itu bisa ia lakukan besok paginya karena tubuhnya sudah sangat lelah, tapi segera ia telan kembali omongannya sebelum ia diberi bonus cambukan karena sudah berani membantah.

“Baik, Madam.”

Yah, apa lagi yang bisa ia lakukan?

.

.

.

Udara dingin langsung saja menusuk kulit pucat Selina ketika ia sampai di halaman belakang XynAcademy yang berukuran lumayan besar. Angin malam bertiup pelan membelai rambut coklat gelap milik Selina yang tidak diikat. Selina merapatkan jaketnya dan mulai memunguti satu persatu sampah yang tergeletak begitu saja di rumput lalu memasukkannya ke dalam trashbag yang ia pegang dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya memunguti sampah. Baru saja seperempat halaman ia bersihkan, kakinya sudah terasa sangat ngilu karena suhu rendah yang terus terusan menerjangnya. Kedua mata beriiris almond itu mengeluarkan air mata, Selina menggigit bibir bawahnya meredam sakit pada kakinya. Ia terduduk di rerumputan dan memijit kakinya pelan. Tetapi sia sia saja karena sakit itu tak kunjung mereda, Selina menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Terisak pelan. Kenapa dunia begitu kejam padaku? Kenapa? Tanyanya dalam hati. Di saat saat seperti ini ingatannya selalu melambung kepada Ibu dan Ayahnya. Seandainya mereka masih ada, pikirnya.

.

.

.

“Hei aneh! Berhenti memandang keluar, itu membuatmu semakin terlihat aneh. Kau tahu?” ledek Suho melihat teman sekamarnya sedari tadi terus memandang keluar melalui jendela kamar mereka yang mengakses langsung halaman belakang XynAcademy yang luas. Lelaki itu mengacuhkan Suho, ia lebih memilih memandangi seorang gadis yang sedang meringkuk di tengah tengah halaman itu. Ia terhenyuk melihat gadis itu, dengan pelan ia membuka jendela kamar mereka yang membuat angin malam langsung menyerbunya.

“Hei, dingin!” teriak Suho.

“Biarkan aku sebentar.” Sahutnya dingin. Suho hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Sehun. Mungkin efek dari teman teman lain yang menjauhi nya hanya karena masalah masa lalu lelaki itu. Sebenarnya Suho sendiri ingin menemani Sehun, tetapi jika dia terlihat dekat dengan salah satu lelaki yang dilecehkan di XynAcademy akan membuatnya ikut diaucuhkan serta dilecehakan pula.

Lelaki itu memandang Suho, setelah di rasa lelaki itu sudah terlelap sempurna, ia menghirup nafas dalam dalam, bersiap untuk menggunakan Aerokinesisnya. Dengan gerakan teratur, ia menggerakkan tangannya dan angin pun langsung berkumpul di telapak tangannya. Ia mengerahkan angin itu untuk membersihkan sisa sampah yang ada lalu memasuki nya ke dalam trashbag yang ada di belakang Selina. Bukan hal sulit baginya mengendalikan angin dari jarak sejauh ini. Setelah puas dengan apa yang ia lakukan, ia buru buru menutup jendela nya sebelum gadis itu menyadari keberadaannya.

.

.

.

Selina merasakan angin kencang bertiup disekitarnya, ia segera mendongak dan melihat halaman sudah bersih dari sampah. Dengan reflek ia menoleh ke atas, dan mendapati seseorang sedang menutup jendelanya. Selina langsung berdiri tanpa mempedulikan rasa ngilu nya, berusaha melihat siapa lagi si baik hati yang telah menolongnya. Tapi sia sia, ia pun mengambil trashbagnya dan menaruh kantung berisi sampah itu di samping tempat pembakaran.

“Siapa kau? Apakah kau Baekhyun lagi?” gumamnya.

Siapapun itu, aku merasa sangat berterimakasih. God bless you.

 

.

.

.

Selina’s point of view

 

“Bangun, pemalas!”

Seruan Madam Ty mengagetkanku, dan mau tidak mau aku langsung duduk tegak dan mengucek mataku agar bisa melihat sosok wanita di depanku dengan jelas. Aku menatap jendela yang berada di sebelah kanan, langit saja masih gelap. Lantas aku memalingkan wajahku ganti menatap Madam Ty.

“Adaapa, Madam? Tidak biasanya aku dibangunkan sepagi ini,” kataku berusaha sesopan mungkin agar tidak membangkitkan semangatnya untuk memarahiku di awal hari ini apalagi sampai mengeluarkan rotan kesayangannya itu.

Madam Ty mengetuk ngetukkan tongkat kayu nya dengan ketukan yang konstan—kebiasaannya—“Alicetidak datang hari ini.” ucapnya lalu berdehem. “Cepat siapkan adonan roti untuk sarapan para murid!” lanjutnya memerintahku untuk melakukan tugas yang seharusnya sudah menjadi kewajiban wanita bernama,Alice. Kesal? Iya. Bagaimana bisa ia tidak masuk dan melimpahkan tugas beratnya kepadaku?

“Baik, Madam. Tapi aku ingin membersihkan diri dulu,” ujarku yang ditanggapi anggukan olehnya, iapun berbalik dan keluar dari kamarku. Dengan berat hati aku bangun dan mengambil handukku yang tergantung di belakang pintu.

Sepertinya hari ini akan terasa panjang.

.

.

.

“Hei, Selina!”

Aiden langsung menyapaku dengan senyum tiga jarinya begitu aku memasuki dapur super besar yang terletak di bawah tanah gedung XynAcademy ini. Aku membalas senyumnya.

“Tumben ke dapur?” tanyanya sambil mengaduk cream soup yang sedang ia masak, asap nya mengepul dan mengeluarkan aroma yang luar biasa mengundang selera. Aku membenarkan letak celemeknya yang agak terlipat di bagian bawah dan menjawab pertanyaannya, “Alice tidak masuk hari ini. Aku menggantikannya,” jelasku. Ia lantas mengentikan aktifitasnya dan menatapku dengan kedua matanya yang layu, “Kau tidak seharusnya mengikuti semua perintah Madam Ty, kau bukan budak,” ucapnya tegas. Aku menggeleng, “Sayangnya aku tidak bisa, Aiden. Cambukkan rotannya sangat menyakitkan, kau tahu?” aku tertawa terpaksa mengingat nasibku yang sangat miris. Hidup di bawah kuasa Madam Ty bersama cambuknya itu.

“Aish, baiklah. Aku akan membantumu.” Kata Aiden akhirnya menyerah. Aku menggeleng tegas, “lalu masakanmu?” tanyaku sambil menunjuk cream soup yang belum matang. Aiden malah tertawa, “Wookie bisa menghandlenya, ayo kita buat adonannya!” katanya riang kemudian merangkul bahuku.

“Ya ampun. Bagaimana Alice bisa melakukan semua ini sendirian?” keluhku saat menghaluskan adonan dengan kedua tanganku. Disebelahku Aiden yang sedang mengaduk adonan menoleh, “dia menggunakan kekuatannya,” jawabnya singkat lalu kembali fokus dengan adonan berwarna krem yang ada di depannya. Bagaimana bisa kami berdua yang tidak mempunyai kekuatan apapun—yah aku punya namun kekuatan itu dikunci oleh Madam Ty—membuat puluhan roti dalam waktu sesingkat ini? Astaga. Aku memandang tumpukan tepung yang ada di sebelahku, aku harap aku bisa sulap sekarang, dengan begitu aku bisa merubah tumpukan tepung itu menjadi puluhan roti dalam sekejap. Fantastis!

“Hei, jangan melamun!”

Suara Aiden mengagetkanku, ia melempar sedikit tepung ke wajahku. Aku mengerucutkan bibirku sebal seraya mengusap pipiku untuk menghilangkan serbuk berwarna putih itu. “Makanya jangan melamun, Tuan Putri.” Desis Aiden yang membuatku kembali menghaluskan adonan dengan rolling pin agar pekerjaan berat ini cepat selesai.

Setelah 2 jam kemudian, kami sudah selesai memanggang adonan adonan tadi menjadi puluhan roti lezat yang mengundang selera untuk sarapan para murid XynAcademy. Aiden mengambil satu dan langsung memakannya tanpa basa basi. “Hei! Madam Ty bisa memarahimu,” bisikku lalu melirik ke belakang—memastikan tidak ada sosok wanita tua yang ditakutkannya itu yang bisa datang dan menghukumnya kapan saja—”tenanglah, dia tidak pernah memarahiku,” ujar Aiden. “Kau mau? Roti yang kita buat kelebihan,” tawarnya sambil mengambil satu roti lagi dan menyodorkannya ke arahku. “Apa aku boleh?” aku tidak yakin boleh melahap sarapan sebelum jam yang ditentukan oleh Madam Ty.

“Aish, Selina, tentu saja kau boleh! Kalau wanita tua itu melarangmu bilang saja aku yang memaksamu,” kata Aiden sebal dan dengan paksa menaruh roti itu dalam genggamanku. Aku tersenyum kikuk, “terimakasih,” ucapku lalu memakan roti yang Aiden berikan.

Baru saja aku selesai menelan suapan terakhir, Madam Ty tergopoh gopoh menghampiri aku dan Aiden. “Selina Shin, bisakah kau mengantarkan sarapan ini?”

.

.

.

Author’s Point of View

 

Dengan ekstra hati hati Selina membawa nampan berisi roti roti—yang tadi ia buat—menuju meja bagian tengah karena bagian depan sudah mendapat jatah mereka masing masing. Ini pertama kali baginya mengantarkan sarapan untuk murid XynAcademy makanya ia merasa agak gugup. Suasana ruang makan agak riuh karena ada lumayan banyak murid yang menyesaki ruangan itu, obrolan, tawa, dan canda terdengar dari berbagai sisi ruangan. Selina terus melangkah sampai ia berhenti di salah satu meja yang ditempati oleh Cassie Kim dan teman temannya, ia menurunkan nampannya dan menaruh roti itu satu persatu. “terimakasih.” Ucap Cassie manis yang dibalas oleh anggukan Selina.

Selina mengambil kembali nampannya dan saat ia berbalik sesuatu yang panas mengenai baju serta lengannya yang membuat gadis itu menjatuhkan nampan dan meringis. Ternyata dari lawan arah seorang murid kebanggan XynAcademy sedang membawa cangkir berisi teh hangat dan ia dengan teledor menabrak Selina yang baru saja berbalik. Setiap partikel air panas yang mengenai kulit Selina membuatnya merasakan sakit, seperti melepuh. Dari ujung kanan, Sehun yang melihat kejadian sekejap mata tersebut langsung menggunakan aerokinesisnya untuk mengeringkan baju Selina, angin yang dikendalikannya menyusup lewat baju Selina, mengurangi rasa panas yang menyerang kulit putih pucat milik gadis tersebut. Sontak, perhatian seluruh murid yang tadinya tertuju pada Baekhyun dan Selina sekarang tertuju pada Sehun yang baru saja secara tidak langsung menolong Selina. Suasana menjadi hening mendadak sampai Sehun berkata, “Maaf. Aku reflek,” jelasnya datar lalu dengan—pura-pura—cuek kembali duduk di tempatnya dan melahap sarapannya. Selina menatap Sehun, hendak mengucapkan terimakasih tetapi jaraknya dengan lelaki yang baru saja menyelamatkannya tersebut cukup jauh dan ia tidak mungkin berteriak, jadi ia mengurungkan niatnya dan menyusun rencana untuk mengucapkan terimakasih kepada Sehun jika bertemu nanti.

Sementara itu Baekhyun yang sudah tersadar dari kekagetannya langsung menarik lengan Selina yang masih terasa hangat akibat terkena tumpahan air teh nya tadi dan menuntunnya keluar dari ruang makan itu. “Hei, lepaskan aku,” desis Selina tidak enak ketika para murid kembali melayangkan tatapan tidak sukanya pada dia dan Baekhyun. Hello, seorang pelayan macam Selina baru saja ditolong oleh Baekhyun. Mulut tukang ejek seperti Xiu Min, Kai, dan Chanyeol tentu saja tidak tahan untuk tidak meledek Selina, begitu juga dengan murid serupa lainnya.

“Biarkan saja, ini salahku. Kau harus mengeringkan bajumu dulu,” paksa Baekhyun tetap pada pendiriannya yang mau tidak mau membuat Selina pasrah dan akhirnya mengikuti langkah lelaki itu.

Sementara itu di ruang makan suasanya menjadi gaduh, ada yang iri, tidak suka, sampai terpana atas sikap pahlawan Baekhyun. Satu orang gadis yang duduk di bagian tengah memandang pintu keluar ruangan itu dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. “Sejak kapan Baekhyun peduli dengan gadis itu?” gumamnya. Gadis disebelahnya menoleh, “eh apa, Cassie?” tanyanya tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan yang dilontarkannya barusan. Gadis yang dipanggil Cassie tadi menggeleng, “tidak apa apa.” Jawabnya bohong.

.

.

.

Baekhyun tetap mencengkram pergelangan tangan Selina, tidak melepaskannya seolah Selina tahanan yang dapat kabur kapan saja. “Hei, kita mau kemana?” kata Selina bertanya karena sedari tadi Baekhyun tetap menuntunnya. Lelaki itu menoleh sekilas, “ke kamarku, bajumu harus diganti.”

Sontak Selina menghentakkan tangan Baekhyun yang mencengkram pergelangan tangannya. “Aku bisa mengganti bajuku di kamarku, Baekhyun. Terimakasih,” ia berbalik hendak pergi dari hadapan Baekhyun sekarang juga karena memasuki kamar murid Xyn Academy sangat dilarang jika diluar pekerjaan, dan dia tidak mau mengambil resiko dicambuki oleh Madam Ty puluhan kali, atau mungkin ratusan kali. Tetapi ternyata Baekhyun mempunyai sifat pantang menyerah yang kental sehingga ia menarik lengan Selina—lagi—dan membujuknya, “Ayolah. Ini salahku, jadi aku harus bertanggung jawab, ok? Lagipula aku belum meminta maaf padamu,”

Selina mendesah, “Aku memaafkanmu, sudah lepaskan,” ucapnya yang sama sekali tidak dituruti oleh Baekhyun, “Madam Ty tidak akan tahu,” bisiknya meyakinkan. Selina terdiam sebentar, “baiklah.”

Akhirnya mereka berdua sampai di kamar Baekhyun, sebenarnya Selina sudah tahu dimana letaknya dan apa saja yang ada di kamar Baekhyun karena memang ia yang membereskan kamar para murid disini. Jadi, ini bukan hal yang mengejutkan bagi Selina. Baekhyun menghidupkan lampu kamarnya lalu menyuruh Selina duduk di sofa kecil yang ada sementara dia sendiri mencari baju yang pantas dipakai oleh Selina.

“Bagaimana dengan ini?”

Baekhyun menunjukkan salah satu kemeja berwarna abu abu yang sudah kekecilan jika ia kenakan tetapi ia yakin kemeja ini akan cukup dipakai Selina. Gadis itu mengangguk dan meraih kemeja abu abu tersebut, tanpa disuruh ia berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Dari luar kamar mandi, Baekhyun berseru, “Hei, bagaimana kau tahu letak kamar mandiku?” tanyanya penasaran. Selina yang sedang mengganti bajunya tersenyum kecut, “tentu saja aku tahu. Aku yang membereskan kamarmu sehari harinya,” jawabnya lalu tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi Baekhyun. “Akan kukembalikan secepatnya,” ujar Selina lalu dengan buru buru berjalan menuju pintu. “Ng, tunggu—“

Entah apa yang ada dipikiran Baekhyun saat ini, ia menahan Selina. “Apa?” tanya gadis itu bingung. Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebenarnya di dalam hatinya ia sangat ingin mengetahui gadis itu lebih sehingga tadi ia menahan Selina agar tidak langsung pergi.

“—itu jepit rambutmu turun sedikit.” Jawab Baekhyun bohong. Selina mengangkat sebelah alisnya, “bukan masalah be—“

Belum sempat Selina menyelesaikan ucapannya, Baekhyun segera menarik tangan gadis itu dan mendudukkan nya secara paksa di depan meja rias yang ada di kamarnya. Entah apa yang ada dipikiran Baekhyun saat ini, ia hanya mengikuti nalurinya.

“Apa yang kau lakukan!?” sungut Selina kesal. Di cermin meja rias Baekhyun sekarang terpantul bayangan seorang gadis dengan kulit putih pucat, mata dengan iris biru, pipi tirus serta bibir merah delima, sedangkan di belakangnya terdapat seorang lelaki tampan dengan rambut yang sewarna dengan milik Selina—coklat gelap—sedang memandangi gadis itu lekat. Tanpa permisi Baekhyun melepas jepit yang terpatri di rambut Selina yang agak bergelombang lalu mengambil sisir miliknya yang tergeletak begitu saja di dekat siku Selina.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Merapikan rambutmu, Nona.”

“Tidak perlu.”

“Ayolah, kau ini cantik tahu.”

Baekhyun segera merutuki dirinya setelah dengan gamblangnya memuji Selina, aduh apa sih yang aku pikirkan!? Dengan kikuk ia menyisir rambut Selina. Sedangkan wajah Selina agak memerah mendengar pujian yang dilontarkan Baekhyun tadi, dia berusaha bersikap senormal mungkin dan menganggap tadi itu angin lalu. Apa tidak salah? Lelaki tampan di belakangku baru saja memuji pelayan sepertiku?

 

Atmosfir di antara mereka menjadi canggung sekarang. Hening. Baekhyun berdehem, “kau sering perawatan rambut, ya? Rambutmu halus sekali.” Katanya lalu meletakkan sisir dan memandang bayangan Selina yang terpantul di cermin. Selina tersenyum kecil, “kau bercanda? Aku tidak punya waktu untuk itu, Tuan Byun.”

Baekhyun mengernyitkan dahinya, “benarkah?”

“Ya. Dan aku anggap yang barusan pujian,” kata Selina tepat sasaran membuat Baekhyun salah tingkah. “Kemarikan jepit milikku, aku harus kembali bekerja dan kau harus kembali ke ruang makan sebelum orang orang mencari kita,” tandas Selina lalu berdiri, berjalan menuju pintu.

Baekhyun memakaikan jepitan tersebut di rambut Selina dengan mudah karena gadis itu lebih pendek darinya.

Selina tersenyum, “Terimakasih.” Ia membungkuk sedikit lalu meraih gagang pintu untuk membukanya. Tetapi ucapan Baekhyun lagi lagi menahannya, “Senang bertemu denganmu, Nona Shin!” serunya. Selina menoleh dan tersenyum manis, lalu kembali berbalik meninggalkan kamar Baekhyun.

Selina melangkahkan kaki jenjangnya menuju lantai bawah. Ia memegangi dada kirinya yang tidak ia sadari sedari tadi berdegup kencang. “Astaga, kenapa aku jadi deg degan begini?” gumamnya pelan.

.

.

.

“Darimana saja kau?”

Tanya Aiden langsung begitu Selina memasuki dapur. “Kudengar tadi kau terkena air panas nya? Siapa yang menumpahkannya kepadamu?” tanya Aiden lagi.

“Baekhyun. Sudahlah, aku tidak apa apa.” Potongnya ketika melihat mulut Aiden sudah menganga, siap untuk menghujaninya dengan pertanyaan lainnya. “Kau adikku, bagaimana aku tidak khawatir!” ujar Aiden cemberut.

“Kau tidak terluka bakarkan?” tanya Aiden memastikan. Selina menggeleng, “tidak, Aiden.” Jawabnya.

Selina berjalan meninggalkan Aiden yang masih mencerna apa yang ia katakan, gadis itu mengambil semangkuk cream soup lalu sebuah roti, dan segelas susu segar, ia meletakkan semua itu di sebuah nampan dan membawanya.

“Aku mau ke bawah dulu, Aiden. Dah,”

Tanpa menunggu jawaban dari Aiden, Selina sudah keluar dari dapur dan berjalan ke ujung lorong dengan nampan berisi makanan tadi di tangannya. Ia menuruni satu persatu anak tangga dan ia pun sampai di tempat tujuannya.

Tempat ini terlihat sepi, bukan terlihat lagi tapi memang sepi. Penjara bawah tanah yang terdapat di XynAcademy ini selalu sepi. Memang aneh sih sebuah penjara terletak di bangunan Academy ini, tetapi ini berfungsi untuk mengajari para murid, sebagai pengingat agar mereka tidak melakukan tindak kriminal jika tidak ingin menjalani sisa hidup di penjara bawah tanah ini. Selina membungkuk pada orang orang yang sedang duduk di balik jeruji besi yang ia lewati itu.

Akkhirnya ia sampai di ujung lorong penjara, dimana seorang pria dengan umur 40 tahunan sedang duduk diam, pandangannya menerawang ke arah ventilasi yang terletak di atas. Selina berdehem meminta perhatian dari pria tua itu, saat ia menoleh, Selina tersenyum kecil kemudian menaruh nampan yang tadi ia bawa di dekat jeruji sel pria tua itu. “Ini sarapan untukmu, Paman Rob,” kata Selina. Pria tua itu—yang ternyata bernama Rob—membalas senyum Selina dan mengambil nampan itu lalu menyendok sesuap cream soup. “Selalu enak. Apa kah Aiden yang membuatnya?” tebak Paman Rob yang dijawab anggukan Selina. “Yah, masakan dia selalu enak. Walaupun dia bukan koki disini,” Selina tertawa kecil sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding samping. Suasanya menjadi hening sebentar sebelum Paman Rob bertanya, “tanganmu kenapa, Selina?”

Selina tersadar dari lamunannya dan melihat lengannya sendiri yang kulitnya memerah, dia kembali mengingat peristiwa kecil tadi pagi dan mendesah. “Seseorang tidak sengaja menumpahkan air hangatnya,” jelasnya.

“Siapa itu?” tanya Paman Rob.

“Byun Baekhyun. Paman tahu?”

Lelaki tua itu terlihat berpikir sebentar sebelum mengangguk, “murid murid pernah berkunjung ke sini sekali, yang berambut coklat gelap itu?”

Bukannya menjawab pertanyaan Paman Rob, Selina malah tertawa kecil. “Banyak murid berambut coklat gelap disini, Paman.”

“Ya, ya, aku tahu kok. Dengar dengar dia yang paling pintar di Academy ini,”

Selina mengangguk angguk. “Tetapi seseorang menolongku dengan pengendalian anginnya sehingga tidak terjadi luka bakar yang parah,”

“Angin? Maksudmu, aerokinesis?”

Selina mengangguk dan seketika itu pula mata Paman Rob melebar, dia teringat sesuatu yang sangat ia rindukan. “Siapa namanya?” tanyanya penasaran. Selina menghela nafas, “Aku tidak tahu. Pokoknya anaknya tinggi, kulitnya putih susu,” jelasnya. “Lalu dia juga dijauhi oleh teman temannya, aku tidak tahu kenapa,” lanjut Selina lagi, membuat Paman Rob merasakan sesak di dadanya. “Kenapa, Paman?” tanya Selina balik melihat perubahan sikap pria tersebut yang sangat kontras.

“—aku tidak apa apa, ah kurasa aku mau istirahat dulu,” ucap Paman Rob lalu membaringkan tubuhnya. Sebelah alis milik Selina terangkat, tetapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, ia pun bergegas pergi dari penjara bawah tanah tersebut. Meninggalkan Paman Rob yang sudah berlinang air mata.

.

.

.

Selina’s Point of View

Aku merenggangkan otot otot ku yang sempat kaku setelah membereskan seluruh kamar asrama milik murid murid itu. Sebenarnya hari ini tidak terlalu berat, kamar mereka semua tidak terlalu kotor, yah walaupun ada sebagian yang jorok sekali. Sesudah menaruh perlengkapan untuk bersih bersih, aku memilih untuk berdiam diri di salah satu jendela yang ada di lorong lantai 4. Menghadap langsung ke arah halaman yang kemarin sempat kubersihkan. Aish, aku jadi teringat si-baik-hati-entah-siapa yang sudah dua kali menolongku. Kalau yang pertama menolongku sih, Baekhyun. Tapi yang kemarin aku tidak tahu itu Baekhyun atau orang lain. Oh, ya aku juga belum mengucapkan terimakasih kepada lelaki yang menolongku di ruang makan tadi pagi. Aduh.

Aku memandang ke bawahsana, ternyata para murid tingkat atas sedang bersemedi—eh aku tidak tahu pasti—pokoknya yang kulihat mereka sedang duduk bersila disana. Walaupun kekuatan mereka berbeda beda, dasar kekuatan mereka itu sama, jadi walaupun kau mempunyai kekuatan sehebat apapun tetapi tidak mempelajari dasar dasar kekuatanmu, itu sama saja bohong, kira kira begitulah yang kudengar dari Madam Pearl.

Kegiatan bersemedi mereka telah selesai, sekarang para murid malah mengobrol satu sama lain. Aku bisa melihat Baekhyun dihampiri oleh seorang gadis dengan rambut pirang, oh aku tahu gadis itu! Cassie Kim. Ya, Cassie menghampiri Baekhyun dan mereka pun bercakap cakap. Aih, mereka cocok sekali. Yang satu cantik, yang satu tampan. Yang satu anak petinggi Exo kingdom, yang satu murid kebanggan XynAcademy. Cassie Kim jelas jelas sangat berbeda denganku yang hanya seorang pelayan yatim piatu ini, aku tidak pantas jika disandingkan dengan Baekhyun.

Eh, tunggu. Apa aku baru saja membandingkan diriku dengan Cassie? Astaga apa yang baru saja kupikirkan? Tentu saja Baekhyun lebih memilih gadis cantik itu dibanding aku. Ah, otakku jadi kacau gara gara perlakuan Baekhyun tadi pagi!

Aku memalingkan wajahku ke arah lain, hmmm kemana lelaki yang baru saja menolongku tadi pagi? Kenapa dia tidak ikut belajar?

“Selina Shin!”

Lengan baju ku ditarik seiring dengan teriakan yang menyerukan namaku tadi. Aku reflek menoleh dan menatap sosok wanita di depanku takut takut. Pertanda buruk.

“Apa yang kau lakukan tadi di ruang makan!?” bentaknya.

Aku segera menunduk tidak berani menatap kedua mata milik Madam Ty, “Aku—“

“Kau membuat keributan, kau tahu!?” bentaknya lagi tanpa ampun memotong perkataanku. “Atas dasar apa kau berani mendekati Baekhyun?” dia memberi jeda sebentar di perkataannya lalu berdeham, “Dia itu seorang Byun Baekhyun, jelas jelas berbeda denganmu, Selina Shin.” Jelasnya. Iya, tentu saja aku tahu, Madam. Aku memberanikan diri untuk mendongakkan kepalaku untuk menatap Madam Ty, “Aku tidak mendekatinya, aku—“

“Simpan alasanmu Selina Shin! Kau membuatku malu!” teriaknya menyudutkan aku. Astaga, kalau begini aku tidak bisa apa apa lagi. Tinggal menunggu rotannya menyentuh tubuhku. Dan benar saja, Madam Ty mengeluarkan cambuknya, bersiap siap untuk menyambukku.

“Madam Ty.”

Satu suara pria menginterupsi kegiatan Madam Ty yang telah siap untuk mendaratkan cambuk rotannya kepadaku, aku mendongak untuk melihat siapa orang itu, sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih—lagi kepadanya karena ternyata yang memanggil Madam Ty adalah lelaki yang menolongku kemarin. Dia datang di waktu yang tepat, setidaknya Madam Ty menunda kegiatan menghukumku.

Madam Ty menghampiri lelaki itu, mereka terlihat berbincang singkat sebelum akhirnya wanita itu menoleh lagi kepadaku, “Beruntung aku ada urusan sekarang, Selina. Aku tidak jadi menghukummu. Sebagai gantinya sekarang kembalilah ke kamarmu, renungkan ke salahan mu tadi pagi!” serunya. Aku hanya mengangguk, “Oh iya! Tidak ada makan siang dan makan malam untukmu hari ini!” tambahnya kejam. Kulihat lelaki yang berdiri di samping Madam Ty membulatkan matanya sedikit. Lagi lagi aku mengangguk pasrah menanggapi Madam Ty dan segera berbalik untuk menuju kamarku.

Di perjalanan menuju kamarku—lagi lagi—aku bertemu Aiden yang sedang membawa keranjang pakaian kotor. Dia—seperti biasa—menyapaku dengan senyum semringahnya yang kujawab dengan senyum lemahku. “Adaapa?” tanyanya prihatin.

Aku menggeleng, “biasa, Madam Ty menghukumku.”

“Apa punggungmu terluka lagi?”

“Tidak. Aku dilarang mengambil jatah makan siang dan makan malamku,” aku memaksakan tawaku untuk mengurangi sedikit rasa khawatir Aiden yang tergambar jelas di wajahnya yang—ehm—tampan.

“Aish, coba saja kalau aku bisa melawan wanita jahat itu,” gumamnya. Aku memelototi lelaki di depanku, “kau gila? Tentu saja tidak usah!” seruku menepis pikiran pikiran nekatnya.

“Sudah ya, aku ke kamar dulu. Aku masih kenyang kok,” dustaku lalu melambaikan tanganku pada Aiden. Dia mendecak lalu tersenyum kecil.

.

.

.

Enaknya menjadi burung yang berterbangan di langitsana. Bebas, tanpa beban. Bisa menuju tempat mana saja sesuai kemauan mereka. Aish, dibandingkan dengan burung burung yang sedang memblah hamparan langit biru itupun, aku sangat menyedihkan. Hidupku diatur, terikat, tidak bisa melakukan apapun yang aku mau. Atau minimal, aku tidak mau diperbudak seenaknya. Sudah setengah hari aku berdiam diri di kamar ini, dan ternyata langitpun sudah menguning, mengantarkan sang surya ke tempat peristirahatannya. Bosan. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk tidur tadi, tetapi pawai yang sedang terjadi di dalam perutku ini menghalangi niat ku untuk terlelap. Aku bangkit dari tempat dudukku yang mengarah ke jendela dan meraih gagang pintu, aku hanya ingin mengintip sebentar keadaan di luarsana.

Pintu kamarku berderit pelan ketika aku membukanya, tetapi pintu ini hanya bisa terbuka setengah karena ada sesuatu yang mengganjalnya. Aku menunduk untuk melihat apa yang mengganjal pintu ini.

Aku mengernyitkan dahiku, sepotong roti dan sekotak susu?

Apakah ini kiriman dari malaikat? Apakah do’a ku terkabul dengan cepat sehingga Tuhan langsung mengirimkan makanan untukku?

Dengan hati hati—dan karena aku juga sudah sangat lapar—ku ambil kedua jenis makanan yang itu dan membawanya masuk, kututup pintuku pelan pelan.

Ternyata ada secarik kertas yang terselip, aku menariknya dan terpampanglah torehan tinta yang membentuk kalimat:

Makanlah, aku tidak suka melihat pipimu yang semakin tirus.

 

Aish! Ini pasti Aiden! Aku harus mengucapkan terimakasih kepadanya besok. Oh, berarti aku utang dua kali ucapan terimakasih, kepada Aiden dan kepada lelaki yang menolongku tadi pagi.

.

.

.

“Aiden! Terimakasih, ya!” ucapku riang begitu menemukannya di dapur, Aiden sedang mengaduk ngaduk sup. Dia menoleh lantas menatapku heran, “untuk apa?” tanyanya bingung. Aku tertawa, “oh ayolah Aiden, ini samasekali bukan gayamu. Tidak usah pura pura tidak tahu,” aku menyenggol lengannya.

Dan anehnya dia semakin menatapku dengan ekspresi seolah olah aku ini adalah alien yang baru saja didatangkan dari mars.

“Terimakasih sudah mengantarkan sepotong roti dan sekotak susu padaku tadi malam,” jelasku.

“Hah?”

“Astaga, hello Aiden apa yang terjadi dengan otakmu?”

“Aku tidak mengantarkan makanan itu padamu,” ujarnya dengan alis yang masih saling bertautan. “hah? Masa, sih?”

Dia mengangguk yakin, “aku terus di dapur.” Katanya.

“Jadi.. siapa yang mengantarkan makanan itu?” tanyaku. Apa benar yang mengantarkannya adalah malaikat? Wow!

Dia menggeleng lagi.

“Oh iya, Madam Ty bilang kau harus mengantarkan salad salad itu ke ruang makan,”

“Apa? Aish, aku trauma mengantarkan makanan.” Kataku yang membuat Aiden tertawa. “Sudahsana, cepat cepat,” usirnya.

“Aish, baiklah.”

.

.

.

Aku menaruh sepiring ke hadapan seorang lelaki yang duduk sendiri di mejanya. Dia mendongak ketika aku menaruh sepiring makanan ini, eh? Dia lelaki yang menolongku kemarin!

“Kau yang menolongku kemarin? Terimakasih, berkat kau luka bakar ku jadi tidak terlalu parah! Sekali lagi terimakasih!” ucapku sungguh sungguh. Lelaki di hadapanku mendongak tetapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun, aku melirik sedikit name tag yang tersemat di jasnya.

Oh Sehun.

To Be Continued.

 

 

Annyeong readers! Pertama tama aku mau minta maaf karena ini publish nya telat banget. Maaf maaf.

 

Makasih buat yang udah komen di teaser Love Warrior, makasih banget. Alhamdulillah responnya positif.

 

Gimana chapter 1 nya? Maaf nya kalau garing karena belum masuk ke konflik utama. Maaf, but I’ll do my best!

 

Oiya, aku mau minta pendapat readers nih. Baiknya aku post Love Warrior ini setiap hari apa? Sabtu atau Minggu? Hehehehe.

 

Udah deh segitu aja bacotannya.

 

 

Buhbye, have a nice day! xoxo

Advertisements

44 responses to “Love Warrior – Trip 1

  1. Pingback: Love Warrior — Trip 2 « Gallery of Fanfiction·

  2. Pingback: Love Warrior — Trip 2 | FFindo·

  3. Pingback: Love Warrior — Trip 5 | FFindo·

  4. Pingback: Love Warrior — Trip 5 « Angelic Devil ♔·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s