Command of 100 Days [Part 2 of 2END]

Command of 100 Days

Title: Command of 100 Days

Author: LucifeRain

Genre: Life, Romance – comedy dikit dikit

Ratting: General

Lengh: Oneshoot

Main Cast:

Kim Kibum

Lee Ji Eun

Jang Wooyoung

Jung Nicole

Disclaimer: ini FF request-an dari Choi Jinhya a.k.a Thyaa Eonnie. Ide cerita dari Thyaa Eonnie, aku hanya menerjemahkan imajinasi itu dalam bentuk tulisan #halaaahh

Command of 100 Days [Part 1 of 2]

 

Author P.O.V

 

Ji Eun masih terlihat ceria memilih buku diantara susunan buku yang memenuhi sebuah rak sebelum Key datang dan menariknya keluar dari Bookstore tanpa membiarnkanya membeli buku yang ia suka terlebih dahulu.

Sesampainya diluar, Ji Eun menepis tangan Key dan membuat namja itu mau tak mau berbailik menghadapnya.

“apa yang kau lakukan?” desis Ji Eun sembari mengusap pergelangan tanganya yang sakit karna di tarik Key terlalu kuat.

“aku harus berbelanja dan kau harus membawakan semua belanjaanku” titah Key, dan ia langsung menarik tangan Ji Eun seolah-olah tak memberikan gadis itu kesempatan untuk berbicara. Ia benci penolakan.

 

Key mematikan mesin mobilnya ketika mereka sampai di kawasan parkir sebuah mall terbesar di Seoul. Ia keluar dari pintunya lalu berjalan mengitari bagian depan mobil kemudian membuka pintu samping dan menarik Ji Eun keluar.

Entah apa yang ada dalam pikiran namja itu, yang jelas ia terus menarik Ji Eun setiap mereka memasuki satu toko ke toko lain. Dan hal itu membuat Ji Eun merasa risih, bukan karna gandengan tangan yang konyol itu. tapi karena kadar ketampanan Key yang melebihi batas membuat banyak pasang mata terarah pada mereka.

“bisakah kau melepaskan tanganku? Aku bersumpah tidak akan lari!” hardik Ji Eun yang mulai tak sabar.

Key baru mau melepaskan tanganya setelah mereka memasuki toko yang menjual setelah busana formal yang harganya bisa diyakini dalam kisaran 7 digit angka.

Key menyambar setiap pakaian yang ‘cukup’ menarik dimatanya lalu melemparnya kepada Ji Eun, tanpa mau melihat keseluruhan bagian busana itu. Ji Eun yakin si tuan komando itu sedang tidak berada disini, raganya saja yang sok sibuk memilih pakaian sedangkan pikirannya sedang tidak fokus. Hey, untuk apa dia mempedulikan namja menyebalkan itu?

Dua jam berlalu dan tangan Ji Eun sudah dipenuhi barang belanjaan yang beratnya sama sekali tidak mauniawi untuk seukuran Ji Eun.

“YA! Apa kau tak bisa cepat sedikit?!” bentak Key.

“bisa tapi aku harus membuang barang-barang ini dulu!” tukas Ji Eun.

 

Ji Eun terpaksa berlari kecil untuk menyeimbangi langkah Key yang panjang dan cepat. Huft, sungguh naas nasibnya.

Saat mereka berada di kawasan parkir, mata Ji Eun menangkap siluet seseorang yang tak asing. Ia menoleh ke arah kanan dan terkejut mendapati Nicole berada dengan seorang namja di samping sebuah mobil. Jarak mereka bisa dibilang jauh, tapi Ji Eun dapat melihatnya dengan jelas.

“kenapa berhenti?” Key menatap Ji Eun heran.

“ah, tidak. Ayo berjalan lagi”

“berjalan kemana? Kita sudah sampai, bodoh!”

Ji Eun menoleh ke arah Key dan benar saja Mobil key sudah berada di belakang namja itu. dan untuk selanjutnya, mata Ji Eun tak bisa lepas dari Nicole pasalnya ia yakin betul namja yang berada di samping yeoja itu bukanlah namja yang kemarin malam.

Ji Eun cepat-cepat membuang muka saat Nicole menciduk tatapanya. Ia ingin memasuki mobil namun tangan Key menahanya.

“ada apa disana” tanya Key heran.

Ji Eun melirik sekilas ke arah Nicole yang saat itu melayangkan senyum sinis. Sesaat kemudian ia menatap Key heran, apakah namja itu tidak marah kekasihnya bersama namja lain? Jelas-jelas Nicole tersenyum sinis kearahnya dan Key.

“kau tidak melihatnya?” tanya Ji Eun takut-takut.

“apa?”

“kau tidak marah?”

“memangnya kenapa?” tanya key yang mulai kesal dengan omongan Ji Eun.

Ji Eun meletakkan barang belanjaan di jok tengah kemudian kembali menatap Key ragu.

“ehmm… Kibum-ssi, kurasa kau tidak bermasalah dengan penglihatamu kan” tanya Ji Eun ragu, sejurus kemudian ia baru sadar kenapa pertanyaan itu terdengar seperti harapan konyol.

“softlens ku rusak dua hari lalu” jawab Key singkat kemudian pergi memasuki mobil meninggalkan Ji Eun yang mematung.

Jadi itu alasanya kenapa Yeoja itu dengan santainya melenggak di depan Key dengan namja lain. Buru-buru Ji Eun memasuki mobil sebelum si tuan komandi itu berencana untuk meninggalkanya.

“kau seharusnya memakai kacamata” saran Ji Eun.

“tidak. sepertinya aku harus ke optik setelah ini dan biasanya itu memakan waktu lama karena pemilik optik adalah teman lamaku. Ku harap kau tak bosan menunggu dan tak berencana menguping pembicaraan kami”

“bisakah aku pulang saja” pinta Ji Eun dengan wajah memelas “banyak tugas yang menumpuk” sambungnya lagi dengan suara yang ikut ikutan memelas.

“tidak, karena ini perintah!”

 

~*~*~*~

Ji Eun menggeliat kecil di balik selimut, selang beberapa detik matanya mengerjap kemudian terbuka sempurna meski dalam keadaan sayu. Sepertinya pagi ini dia tak bisa memberi perenggangan kecil di tubuhnya karena disuruh duduk di kursi tanpa sandaran selama berjam-jam untuk menunggu Key membuat pinggangnya terasa sakit. oh baiklah, bahkan ia merasa seperti tak mempunyai pinggang.

Ia beranjak kemudian berjalan malas ke arah dapur untuk meneguk segelas air putih. Ck, bayangan ia membunuh namja menyebalkan itu selalu terlintas dalam benaknya.

Ji Eun melangkah ke depan kulkas lalu mengambil spidol merah yang terletak di atasnya. Ia memandang kalender yang sengaja dipasang di depan kulkas, sepertinya sudah semua angka tercoret lingkaran merah dan itu artinya dia harus membalik kalender itu karna ini adalah awal bulan. Setelah melingkari angka satu, ia tersenyum puas. Sudah 70 hari dan itu artinya sebulan lagi ia bebas.

Oh tuhan, lepas dari jeratan iblis itu bagaikan surga. Tapi.. ada sesuatu yang ganjal dihati, setelah 100 hari mungkin aku akan merasa kehilangan sesuatu.

 

~

 

Seorang gadis tampak sedang berdoa di samping sebuah makam, tak lama kemudian matanya terbuka diiringi seulas senyum lebar.

Sudah lama Ji Eun ingin mengunjungi makam Wooyoung, tapi baru hari ini ia bisa melakukanya. Dirinya sudah tidak sabar berkunjung kesini, karena ia ingin berbagi cerita tentang 2 hal baik.

Yang pertama adalah dia mendapatkan beasiswa dan yang kedua adalah masa profesinya menjadi pembantu di rumah Key akan segera berakhir. Well, entah ini layak disebut berita baik apa tidak. Yang pasti hatinya seakan ada ketidakrelaan saat nanti ia meninggalkan si Tuan komandan.

Disaat Ji Eun tengah antusias bercerita di dalam hati, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia berdecak kesal saat melihat layar ponsel, lagi lagi si Tuan komando itu memanggilnya.

“yoboseyo…”

“YA! Berani kau meninggalkan Apartmentku dalam keadaan berantakan” lengkingan teriakan Key membuat Ji Eun terpaksa menjauhkan ponselnya beberapa senti jika tak mau telingatnya tuli dadakan.

“baiklah aku akan ke sana” ucap Ji Eun acuh tak acuh.

“andwae! Aku sedang tidak disana dan kuncinya ada padaku. Datangi aku tepi sungai Han.

Ji Eun menutup flap ponselnya sambil menggerutu. Bagaimana bisa dia menemukan Key di tepi sungai han yang panjang itu. aish, kenapa namja itu tak pernah memberi petunjuk yang jelas.

Saat Ji Eun melangkah pulang, ia baru sadar langit terselimuti awan hitam. Untung saja ia membawa payung lipat di dalam tas sandangnya.

 

Bis yang ditumpangi Ji Eun berhenti di sebuah halte di samping sungai Han. Seluruh orang bergegas turun dan berteduh di halte karna saat itu hujan yang mengguyur tergolong lebat.

Tubuh Ji Eun tak mampu berdesakan dengan semua orang yang berteduh di halte dan sialnya bis berikutnya tak kunjung datang dan membuat orang-orang itu bertahan cukup lama.

Ji Eun menyerah, ia membuka payungnya kemudian berjalan di tepi sungai Han sembari mengamati sekitar. Sepanjang ia berjalan, matanya tak menangkap sosok Key, lagi pula mustahil namja itu mau hujan-hujanan.

 

Ji Eun membuka flap ponselnya, jemarinya bermain singkat di atas keypad kemudian menekan tombol merah. Saat Ji Eun hendak menempelkan ponselnya ke telinga tiba-tiba seseorang merampas ponsel itu.

“kau sangat lambat, Lee Ji Eun”

Ji Eun melengos, ia kenal betul suara itu meskipun wajah pemilik suara terhalang payungnya.

“Mianhaeyo”

Ji Eun mengangkat sedikit payungnya, namun sesaat kemudian ia tak mampu berkata apa-apa saat melihat Key berdiri di depanya dengan wajah pucat dan tubuh yang basah pasca di guyur hujan.

Key menepis payung Ji Eun hingga membuat gadis itu terkesiap, sejak tadi tubuhnya terasa lemas dan tenaga yang tersisa hanyalah untuk memeluk Ji Eun, menyandarkan tubuhnya di tubuh gadis itu. ia tak peduli.

“Kibum-ssi, kau berat” protes Ji Eun sembari menopang pundak Key. Namun ia kembali tak berkutik ketika deruan nafas key menyapu lembut permukaan kulit lehernya. Kalimat protes yang yang dirangkainya sudah berpendar entah kemana saat Key mempererat tingkaran tanganya di pinggang Ji Eun. Diam-diam mereka menikmatinya.

“dingin” kalimat itu terlontar dari bibir key yang membiru, giginya gemeletuk seakan memperkuat ucapanya.

Ji Eun baru saja hendak membuka mulut, namun ia kembali terdiam saat mendapati sebuah softlens bening tersangkut di atas kantung jaket Key.

“kau tidak apa-apa? Seharusnya kau memakai kacamata saja”

Key menyandarkan kepalanya di pundak Ji Eun. Baju mereka sama-sama basah tapi entah kenapa memeluk gadis itu mampu menimbulkan percikan hangat. Ia sadar, ia menikmati aroma gadis itu.

“kenapa kau tidak bilang tentang Nicole?” tanya key, Ji Eun tercekat.

 

~*~*~*~

Ji Eun memindahkan mangkuk berisi bubur yang baru dimasaknya ke dalam nampan. Ia mengangkat nampan itu menuju kamar Key dan meletakanya di atas meja samping tempat tidur Key.

“merasa lebih baik?” Tanya Ji Eun seraya menempelkan plester kompres di kening Key.

Kejadian di bawah hujan tadi benar-benar tak terduga, sulit dipercaya jika mengingatnya. Untung saja Ji Eun bisa memapah Key ke dalam bus meski harus meninggalkan mobil Key yang terparkir di bawah pohon karna namja itu tak sanggup menyetir.

“kurasa semangkuk bubur dan segelas gingger tea bisa menghangatkan tubuhmu”

Key menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, ia menarik selimutnya yang sempat melorot lalu menatap Ji Eun. “suhu tubuhku sudah hangat, bukan dingin” tukas Key.

“aku tau kau kedinginan” Ji Eun mengambil kursi lalu menyeretnya ke samping tempat tidur. Ia meraih mangkuk sup lalu menyendokkan isinya.

“buka mulutmu!” perintah Ji Eun setelah sendok tiu berada di depan mulut Key.

Key menatap bubur itu sekilas lalu kembali menatap Ji Eun “kau tidak bisa memerintahku Lee Ji Eun” Ucapnya namun sekejap kemudian ia membuka mulutnya dan melahap sesendok bubur itu. saat Ji Eun kembali menatap mangkuk bubur, Key tak dapat membendung senyum gelinya.

“kau di hukum, Kim Kibum” tukas Ji Eun. Key menaiknya alisnya lalu kembali menerima suapa dari Ji Eun.

“kau sudah membuatku basah kuyup dan membuatku mengenakan pakaianmu yang gober gober seperti gorden ini…”

“itu karena kau pendek!” celetuk Key yang langsung menerima pelototan dari Ji Eun. Aigoo… sepertinya posisi mereka tertukar.

“kau harus ganti rugi, tuan Komando! Hari ini aku yang menjadi Nyonya komando dan kau tidak bisa memerintahku!” sahut Ji Eun telak.

“itu berarti kau istriku?” goda Key membuat Ji Eun terbelalak, sebaliknya Key malah tergelak dibuatnya. “kau mau mendengar ceritaku?” tanya Key seusai tawanya lalu kembali menerima suapan dari Ji Eun.

“sepertinya tidak” jawab ji Eun acuh tak acuh.

“baiklah aku akan menceritakanya karena kau memaksa”

“aku tidak berkata seperti itu, namja tuli!” hardik Ji Eun, Key mengeringai lebar. Tak terasa semangkuk bubur itu pun habis dan kini ia siap bercerita meskipun sebenarnya tidak diminta.

 

__ FLASHBACK__

 

Key baru saja keluar dari mini market ketika titik-titik air menyapa jalan untuk yang pertama. Ia menggerutu karena payungnya tertinggal dimobil, terpaksa ia berteduh di depan minimarket sembari menunggu hujan turun.

Key menguap lebar, matanya tampak sayu dan terlihat jelas dari ekspresinya bahwa ia benar-benar letih. Semua ini karena setelah lulus kuliah bulan depan ia dipaksa menggantikan ayahnya sebagai direktur di perusahaan yang sejak lama di rintis ayahnya.

Dirinya masih terlalu muda memimpin sebuah perusahaan besar, tapi ayahnya tak punya pilihan. Ia adalah anak tunggal dan orangtuanya baru dikaruniai anak setelah belasan tahun pernikahanya. Ayahnya sudah terlalu tua begitu pula dengan orang kepercayaan ayahnya.

Setiap hari seusai kuliah dan menghadiri rapat -yang dimaksud sebagai latihan atau perkenalan, ia belajar mati-matian hingga dini hari. Itulah mengapa akhir-akhir ini tubuhnya terasa remuk.

 

Key mengalihkan pandanganya ke arah halte di samping market, sejurus kemudian ia mematung melihat seseorang disana.

“nicole?” guman Key sambil menyipitkan matanya. Awalnya ia mengira hanya halusinasi atau orang yang mirip dengan Nicole tapi ketika yeoja itu menatapnya datar, Key yakin bahwa dia Nicole.

Yang Key tak habis pikir, sedang apa nicole di halte dan menggandeng seorang namja. Key ingat bahwa namja itu pernah di katakan Nicole sebagai sahabatnya tapi ketika namja itu mencium Nicole, Key merasa dibodohi.

Kantung belanjaan Key terlepas seiring dengan perginya namja itu ke halte. Key meraih tangan Nicole dan membuat Yeoja itu terlonjak dengan mata membulat lebar.

“Key?! Kau melihatku?” tanya Nicole yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Key.

“oh, jadi kau memanfaatkan situasi  hilangnya softlensku dan masih mengganggap aku bodoh untuk tidak membelinya?” desis Key. “ikut aku!” Key menarik tangan Nicole keluar halte, tak peduli dengan guyuran hujan yang mengganas meskipun ia tahu tubuhnya tak akan bertahan lama.

-bughh-

Sebuah tinju melayang di pelipis Key dan membuat namja itu terhuyung ke belakang, sekejap kemudian key sadar softlens sebelah kirinya lepas. Key memejamkan mata sebelah kirinya lalu mengejar Nicole yang dibawa lari namja itu.

Key terjatuh ketika kakinya menyandung sebuah batu, seharusnya ia masih bisa menjaga keseimbangan namun tubuhnya yang lemas menolak perintah itu dari otaknya.

Tiba-tiba terdengar derap langkah mendekat, key menengadah dan mendapati Nicole.

“mianhae, key! Aku hanya menuruti keinginan ayahku!”

“kau selingkuh!” tuduh Key.

Nicole berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Key lalu mengangkat dagu namja itu agar menatapnya. “aku memang selingkuh, tapi bukan dengannya melainkan denganmu” tutur Nicole dan membuat Key membeku setelah mendengarnya.

“aku sudah bertunangan 2 tahun lalu dan baru merasakan cinta yang sesungguhnya denganmu. Kau cinta pertamaku, Key. Tapi ayahku tidak setuju saat kuberi tahu bahwa aku ingin membatalkan pertunangan karena kau tidak lebih kaya dari tunanganku”

Key tak berkutik setelah mendengar alasan yang dilontarkan Nicole. Lalu siapa yang harus disalahkan? Cintanya pada Nicole atau ayah Nicole yang terlalu materialistis?

 

“dan sampaikan maafku pada Ji Eun. Katakan bahwa waktu aku dan seorang namja keluar dari kamarmu itu karena aku meminjamkan namja itu bajumu karena bajunya basah dan ia memilih menggantinya di toilet kamarmu. Saat itu aku pura-pura mengancam Ji Eun karena Aku sangat cemburu, dia bersamamu sepanjang hari tetapi aku harus mencuri-curi waktu”

Ya, Key sadar akan yang dikatakan oleh Nicole. Setiap hari waktunya memang lebih banyak dihabiskan bersama jieun selama di apartemen jika dibandingkan bersama kekasaihnya-Nicole.

Nicole berniat membantu Key berdiri namun namja itu menolaknya. Dengan susuah payah key berdiri kemudian menatap Nicole dingin.

“itu artinya kau akan meninggalkanku?” tanyanya getir.

“maafkan aku…”

Key hanya bisa menatap punggung Nicole sampai yeoja itu menghilang di dalam mobil merah dan membawanya pergi. Ia merasa rasa letihnya dilipat gandakan. Emosinya bergejolak namun ia tak mampu menyalurkanya.

Saat ia menoleh ke arah samping, Key menemukan peredam yang tepat. Dengan tenaga yang tersisa ia berlari kearah Ji Eun, merampas ponsel gadis itu dengan tujuan ia bisa mendapatkan peredamnya

 

__ FLASHBACK END__

 

“lalu kau akan menangis setelah aku meninggalkan kamar ini?” komentar Ji Eun menanggapi cerita pilu –setidaknya itu yang terdengar dari nada bicara Key- itu.

“bisakah kau memberikan tanggapan yang lebih baik” hardik Key, Ji Eun hanya mendelikkan bahu.

“tidurlah, aku harus pulang”

Saat Ji Eun beranjak dari duduknya, Key langsung menjulurkan tangan dan meraih tangan Ji Eun. Ia menarik Ji Eun lalu mendekapnya, memaksa gadis itu agar berbaring di sampingnya. Ia tak mau kehabisan peredam sedini ini.

“kau benar, mungkin aku akan menangis setelah kau pergi. Maka dari itu kau harus menemaniku” bisik key tepat di telinga Ji Eun.

Ji Eun meronta namun Key semakin memperkuat mendekapnya. “kau menyuruhku tidur bersamamu?”

“aku tak peduli kau mau menyebutnya apa” ucap Key sambil mengelus lembut rambut Ji Eun kemudian meletakan dagunya di puncak kepala gadis itu.

“k-kau gila!” maki Ji Eun, Key hanya terkekeh singkat “bagaimana kau bisa segila ini sekarang?”

“anggap saja otakku konslet”

“kau memang gila!”

“dan aku menyukainya! Dan mulai sekarang biasakanlah memanggilku KEY! Ini perintah!”

 

~*~*~*~

Key P.O.V

 

“YA! Kenapa menyuci piring saja kau sangat lambat!”

“ne, sebentar lagi selesai!”

“JI EUN! Buatkan aku kopi!”

“ne!”

“Ji Eun, kenapa kemejaku kau jadian kain lap, dasar Pabbo!”

“KYAAA!!! NASINYA GOSONG!”

“LEE JI EUN! CEPAT BUATKAN AKU BURGER ISI SPAGETTI!”

 

Plakkk…

Sebuah mangkuk plastik mendarat mulus dikepalaku, kutatap si pelempar itu. bahunya terlihat naik turun dan keringat membanjiri wajahnya, meski begitu dia masih terlihat cantik. Mwo? Aku memujinya? Sepertinya otakku kembali konslet.

“bisa tidak kau meminta satu satu! Aku lelah bodoh!” omelnya galak.

Ia memhempaskan tubuhnya di sofa lalu membuka celemek yang ia kenakan. “semua kerjaan sudah beres, dan aku mau pulang”

 

Aku menatap sendu lalu duduk disebelahnya “kau tahu kenapa hari ini aku sangat menjengkelkan karena memerintahmu terus-terusan?” tanyaku, Ji Eun menggeleng.

“hari ini.. hari terakhirmu” sambungku

Ji Eun melompat dari sofa kemudian bersorak girang “akhirnya surga di depan mataku dan selamat tinggal tuan komando!”

“kau senang?” tanyaku, ia menggangguk pasti. Ji Eun menyambar tasnya kemudian bersiap melangkah pergi.

“tapi aku tidak” kalimatku itu mampu menahan langkah Ji Eun. Ia berbalik kemudian memandangku dengan tatapan yang sulit diartinya. Sama sekali tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.

“maukah kau membukakan pintu flatmu besok malam?”

Setelah aku mengucapkan itu terjadi keheningan panjang di antara kami. Aku terdiam, mungkin dia menyalah artikan ucapanku tadi tapi aku benar-benar berniat mendatanginya sebelum aku dilantik menjadi direktur lusa nanti.

“aku menunggumu”

Ucapan itu seperti pengharapan bagiku, aku tersenyum pada Ji Eun dan ia membalas senyumanku “ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu”

 

~

Hari terasa sangat panjang tanpa kehadiran Ji Eun, tekadang aku berteriak seakan ia masih ada. Bahkan beberapa kali aku berhalusinasi bahwa ia sedang mengerjakan sesuatu di dapur. Oh Key, apa yang terjadi pada dirimu.

Entah apa yang terjadi pada diriku. Mungkin aku baru sadar bahwa hadirnya jieun membawa sebuah arti dalam hidupku. Apa yang kulakukan, apa yang kupikirkan semuanya berubah sejak munculnya jieun. Apakah aku menemukan titik terang saat aku memasuki dunia baru ini?

Aku berdiri di depan pintu sebuah flat dengan pakaian yang masih mengenakan jas formal. Ku lirik jam di pergelangan tanganku dan disana jarum panjang dan pendek sedang bertatapan dengan angka 12. Tidakkah terlalu larut untuk mengunjungi seorang gadis?

Aku ragu Ji Eun akan membuka-kannya kecuali ia mau dianggap tetangganya bukan gadis baik-baik. Semua ini karena pertemuan keluarga yang harus ku hadiri, aku tidak menyangka akan berakhir selarut ini.

Ku urungkan niatku untuk mengunjunginya, ku tatap sekali lagi pintu itu kemudian melangkah pergi. Mungkin besok setelah pelantikan adalah waktu yang tepat sekaligus memberi tahunya tentang kabar gembira itu.

 

~*~*~*~

Author P.O.V

 

Key melajukan mobilnya dengan sangat cepat, masih berbalut jas abu-abu ia meninggalkan acara yang baru saja selesai demi menemui seorang gadis. Banyak angan yang meletup-letup dalam benaknya tentang apa yang akan dilakukanya setelah ini dengan Ji Eun.

Mungkin mengajaknya makan atau sekedar jalan-jalan adalah hal yang tepat. Dia yakin Ji Eun juga ikut gembira mendengar pencapaiannya ini.

Namun, ketika Key sampai di depan flat Ji Eun. Semua harapanya pupus seketika ketika salah satu tetangganya memberikan sebuah surat padanya. Ia membuka surat itu dan membacanya kemudian segala sesuatu terasa sesak.

 

-sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku beritahu padamu, tapi aku menundanya karna kau berjanji akan datang malam itu.

Aku menunggumu sampai larut tapi kau tak datang. Kau tahu? Aku meraih beasiswa untuk melanjutkan kuliahku di salah satu unniversitas terbaik di jepang. Dan aku harus berangkat sore ini juga.

Saat aku datang ke apartmentmu, seseorang memberitahuku bahwa kau tak ada disana. Kau sedang dilantik menjadi direktur perusahaan besar. Cukkhae… aku senang mendengarnya.

Aku tidak mungkin kesana dan menemuimu hanya untuk mengucapkan salam perpisahan yang tidak ada artinya ini, karena itulah aku pulang dan menulis ini karena aku yakin suatu saat kau akan datang. kalau aku tahu kau membaca surat, aku pasti sangat senang.

Terima kasih telah mengisi harihariku dengan perintahmu yang menjenggkelkan. Command of 100 days itu sangat berkesan meskipun terkadang aku berniat membunuhmu karena kau menyebalkan. Hahaha…

Selamat tinggal, Key.

 

Regards,

 

Lee Ji Eun.-

Setelah membaca surat itu, Key langsung meraih ponselnya dan mengubungi Ji Eun. Tapi sial! Ponsel Ji Eun sama sekali tidak aktif. Awalnya Key hanya mengira itu karena Ji Eun berada dalam pesawat, tapi berhari hari kemudian Key selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika menghubungi Ji Eun.

Key berniat menyusulnya, tapi itu terlalu egois. Akhirnya ia memutuskan membiarkan Ji Eun menggapai cita-citanya karena selama ini ia sadar, dirinya telah memberatkan hidup gadis sebatang kara itu. suatu saat, ia berjanji akan membayarnya.

 

~*~*~*~

3 years later.

 

Seorang yeoja tampak sibuk memberi perintah kepada para pagawainya. Saat ini restaurant yang dirintisnya selama dua tahun dan sudah memiliki cabang di tokyo dan Seoul sedang popular di kalangan pecinta kuliner.

Yeoja itu berhasil menemukan resep yang berbeda dan memiliki cita rasa untuk. Sekarang ini, ia berada di restaurant cabang yang terletak di Seoul. Sepertinya ia harus berada disini beberapa hari kedepan karena restaurant yang berada di lokasi paling strategis ini baru buka seminggu dan sudah seramai sekarang.

Ji Eun mentap sekeliling, ternyata para pelayan di restaurant itu sedang sibuk melayani pelanggan padahal pesanan sangat menumpuk dan masakan yang perlu diantar sudah mengantri dimeja. Sepertinya ia harus menambah jumlah waiter.

Ji Eun mengehela nafas panjang lalu mengambil baki dan mengisinya dengan makanan yang sesuai dengan pesanan meja nomor 5. Ia tahu seorang owner besar seperti dirinya tak layak untuk melakukan ini, tapi dia tidak suka melihat pengunjung menunggu lama.

“permisi… Permisi…”

Sudah berulang kali kalimat itu melambung dari mulut Ji Eun. Suasana restauran ini benar-benar padat dan sepertinya dia juga harus membuka sebuah cabang lagi di Seoul.

 

Akhirnya Ji Eun dapat meletakan pesanan dengan selamat ke meja nomor 5, meskipun sang pengunjung sedikit heran karena yang mengantar pesananya tak berseragam pelayan. Namun Ji Eun hanya tersenyum menanggapi ekspresi itu.

Ketika ia berbalik, tiba-tiba bakinya terjatuh dan Ji Eun tak sempat meraihnya. Ji Eun memejamkan matanya rapat-rapat, untung saja baki itu tak berisi apa apa. Dirinya bisa dituntut kalau mengotori baju seseorang lagi! lagi?…. pernahkah dia? Kenapa semua ini mengingatkanya pada sebuah hal.

Ji Eun terkesiap saat tangan seseorang melingar di pundaknya, matanya terbelalak lebar dan sejurus kemudian ia baru sadar dirinya berada dalam pelukan seorang namja.

Astaga, siapa yang berani membuatnya malu di depan pelanggan seperti ini? tak bisa dimaafkan! Ji Eun berontak namun dekapan itu semakin erat di rasakanya. Dengan sekuat tenaga di dorongnya pria itu.

ketika ia berhasil menatap namja kuarang ajar yang memeluknya, ia membeku dengan tatapan tidak percaya.

 

“Kim Kibum?” guman Ji Eun, ia merasa degub jantungnya meliat kala matanya terkunci dalam pesona yang dipancarkan namja di hadapanya.

Benarkah dia Kim Kibum? Penampilanya berubah drastis namun tak sedikitpun menurunkan kadar ketampananya. Ia mengenakan trench Coat coklat gelap sehingga membuatnya tampak dewasa dan  memperkuat pendaran karismanya.

Ji Eun masih mengagumi lekuk tajam mata Key, namun yang membuat tubuhnya bergetar ketika menyadari sebuah kacamata dengan bingkai berwarna coklat almond yang bertengger disana dan rambut Key yang diubah Shaggy berwarna coklat pasta sangat cocok dengan warna kacamata itu. Dia tampan, ah tidak, sangat tampan…

 

“YA! Lee Ji Eun! Kenapa kau tidak pernah memanggilku KEY?” hardik Key namun sesaat kemudian ia terkekeh. Tampak jelas gurat kerinduan terlukis di paras mereka.

“Key…”

Ji Eun mendekatkan tubuhnya pada Key, ia menyandarkan kepalanya di pundak Key lalu melingkarkan tangannya di pinggang namja itu. ia tak peduli dengan semua tatapan yang mengarah padanya. Yang jelas, dirinya sangat mencintai sosok dihadapanya ini. Sosok yang merubah pikirannya sejak 3 tahun yang lalu. semuanya seperti mimpi.

Key membalas pelukan Ji Eun dengan lembut, ia memindahkan jumputan rambut yang menutupi telinga Ji Eun kebelakang lalu mendekatkan wajahnya disana.

“lee Ji Eun… maukah kau menemani hari-hariku kedepannya tanpa berniat pergi seperti sebelumnya? Aku tidak mau kehilanganmu lagi” bisik key dalam frekuensi yang hanya mampu ditangkap indra pendengaran Ji Eun.

Ji Eun terkekeh kecil lalu memindahkan dagunya di atas pundak Key “kau melamarku?” tanyanya dengan penuh senyum.

“Ya, dan kau harus mau karena ini perintah!”

 

JI Eun kembali membenamkan kepalanya di pundak Key dan mengeratkan dekapannya, begitu juga dengan Key. Kerinduan yang teramat besar membuat mereka enggan melepas pelukan itu meski di tempat yang tidak seharusnya seperti sekarang dan itu membuat mereka kembali tertawa.

“Jeongmal Bongoshipo”

 

__THE END__

 

thanks for all reades yang udh bebaik hati ninggalin jejak di pat sebelumnya :*

 

Cheers,

 

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

30 responses to “Command of 100 Days [Part 2 of 2END]

  1. huwwaaaa finaly read .. hihi

    jadi nicole itu udah di jodohin n udah tunangan
    dia selingkuhnya sama key . aduh kesian keynya

    sampe akhirnya si jieun yang harus ngerawat key .
    tapi suka sceane jieun tidur sama key . wkwkwkwk *yadongkumat*

    mereka sama” suka itu
    tapi jieun dpt beasiswa n pergi ke jepang dia

    pada akhirnya mereka di pertemukan lagi ..
    finaly happy ending
    aku suka aku suka

    daebak overall ffmu daebak chingu ..
    KEY-IU COOL COUPLE ..

  2. a.Q suka endingnya….happy ending favorit.Q banget….
    author daebak a.Q rata2 suka sm FF yg d bikin author…..NICE FF…
    d tunggu yah FF lainya…

  3. yeee! so sweet!! ah key pesona matamu membuatku kleper2 #bhs apa tuh?

    jd dia gk tau nicole selingkuh karna gk pake soft lense? ckck bkin ff kyk gini lg ya author!

  4. kyaaa aku suka endingnya maniiiisss..
    oiya ayya-ssi aku kurang ngerti dg kalimat ini -> Yeoja itu berhasil menemukan resep yang berbeda dan memiliki cita rasa untuk. Sekarang ini, ia berada di restaurant cabang yang terletak di Seoul.
    untuk??
    atau mungkin mksdnya gni yaa -> Yeoja itu berhasil menemukan resep
    yang berbeda dan memiliki cita rasa. Untuk sekarang ini, ia berada di
    restaurant cabang yang terletak di
    Seoul.
    overall ini keren! ^^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s