IN THE RIGHT AGES [Oneshot]

Title: IN THE RIGHT AGES

Author: Gee Kazuko

Disclaimer: All plot, story ideas © geekazuko on 2012, All Cast © God except OC

Genre: A bit romance, AU, Hurt/Comfort

Lenght: oneshot

Rating: PG-17

Casts: Kim Hee Jin [OC], SJ Kang In, SJ Shin Dong

Support cast: SJ Eun Hyuk

WARNING: Sedikit editing usai diterbitkan di KFF. Tersusun dengan diksi yang ngejelimet (?), acak adul berantakan -_-v So sorry for it! Hope you like this story… ^^ Happy reading!!!

.

.

Saban sore, kala layangan dedaduan maple itu belum terhenti, Kim Young Woon masih bertatap di dekat jendela. Entah sejak kapan ia mulai rutin menyaksikan liukan angin, mematahkan tungkai maple yang melemah di musim gugur.

Guratan menua di wajahnya kian terabaikan menilik pikirannya yang mesti lekas ia tuangkan. Hari-harinya tak jauh berbeda dari sekian senja yang terlewati. Berpikir perihal hari senjanya yang kian menipis.

Kerap kali bibir kelunya tersenyum kala terbayang di dekatnya; seorang gadis kecil tengah memijat lengan kakunya atau berceloteh ria perihal tanya, “Kenapa merpati bisa terbang keatas sementara dedaunan maple malah terbang ke halaman rumah?” Sederhana. Namun cukup sulit untuk menjelaskan kepada seorang gadis kecil yang terus berbalik tanya perihal apa yang belum ia ketahui.

Manik mata kelabunya melarik ke sudut pintu. Sekonyong-konyong satu-satunya seseorang yang menguasai pikirannya melangkah lekas melewati ruang—yang tanpa di sadari ada sepasang bola mata yang mengikuti geraknya.

“Baru pulang?” Suara itu menghentikan langkah jenjangnya yang baru bertandak separuh lorong.

Belum sempat berbalik, Young Woon lekas menghampirinya. “Aku lapar,” sahutnya ringkas, melengos ke arah ruang hidang. Gadis itu kian mendekati deka usia dirinya, namun masih menjadi beban pikiran yang dirajam cemas.

“Kita siapkan bersama.” Sekejap manik cokelat pekatnya mengerling hendak mengikuti arah pandang pria itu ke sisi dapur.

Young Woon mengulurkan apron bermotif  kotak-kotak dengan perpaduan warna terang. Sementara tangan lainnya lekas menurunkan tas tangan lalu menalikan ujung-ujung apron di balik punggung.

Dengan cekatan pria itu menuang tepung beras dan mengambil kacang serta wijen di sisi gadis yang masih bingung harus berbuat apa. Young Woon mulai berkutat dengan bahan-bahan. Lekas lengan kakunya terhenti kala sebuah genggaman erat menghalanginya. Ceruk pandangan itu kian menipis terselimut cairan hangat yang siap mengalir.

“Songpyeon[1]? Kau mau aku membuatnya?” Nadanya lebih terdengar memaki, namun dengan kekerapan rendah. Young Woon tersenyum seketika menarik lengan gadis itu untuk melanjutkan adonan, sementara ia beringsut mengalirkan air dari kran wastafel.

“Buat sebagus dan seenak mungkin,” pintanya, memberi ruang gadis itu untuk mencoba melakukannya. Tangan besarnya beralih mengacak akar berutas-utas di puncak kepala gadisnya.

“Tapi…aku belum ingin…” selanya ragu. Dan pria itu memang sudah berlalu di lekuk lorong menuju ruang tengah. Buku-buku jarinya mulai memucat, terlanjur erat meremas apron pria itu di sisi meja. Wajahnya terpekur kilan dengan raungan yang sama kala pikirannya terotasi perihal usia. Kendati masa remajanya memang sudah tak mungkin terulang, namun yang dipikirannya tetaplah pria itu. Tak ayal secuil iba melarik tentangnya.

“Hee Jin-ah, kapan kau punya kekasih?”

***

Hee Jin masih bergeming. Membiarkan sekelebat tingkah pemuda-pemudi merajut asih di depannya. Tangannya sekonyong-konyong menyentuh bahu pria tambun; teman sejawatnya di ruang rapat. Agaknya mereka salah memilih tempat melepas penat kala satu waktu di almanak bertinta merah. Kendati masih ingin menikmati angin sejuk, namun tak ayal ini mematahkan gairah.

“Huk! Ada apa?” Pria di sisinya tersentak. Cuilan bakpao hampir membuncah dari mulutnya. Diteliknya lekat pria itu yang tak acuh dengan sekelilingnya.

“Kurasa aku bisa tersedak jika terus disini. Kita cari minum!” ajaknya, memaksa. Agaknya tak perlu waktu lama bagi Kim Hee Jin untuk melesatkan pikiran Shin Dong Hee yang memang butuh seteguk air. Tapi bukan Shin Dong namanya jikalau ia tak berkutik jahil di larikan kejenakaannya.

“Bukankah aku yang tersedak?” Lirikan Shin Dong kerap membuat gadis ramping itu salah tingkah. Terlebih keadaan intens di mukanya yang melintaskan teguran ringan sang ayah.

Pria itu kerap membuatnya tertawa hingga ayah sering menelik luapannya di hadapan orang-orang termasyur. Namun Hee Jin tak acuh. Rongga puas terasa lekat di banding bergeming memendar asa perihal usianya yang kerap menjadi tanya. Shin Dong ‘lah teman berderai tawa kala kepenatannya tak ayal menabrak intuisi gila—yang acap muncul bersinggungan dengan tatapan tak diniatkan mulai beradu.

“Er, mianhae.” Cengiran itu tak berarti apa-apa kecuali tanda untuk lekas menjauh dari bingkai asmara tak berujung.

Shin Dong Hee terpaku pikir kala gadis itu dilihat urung tak merajai semangat di hari libur. Lekas-lekas genggaman jahil menggapai lengan kurusnya. Menautkan di siku lengannya yang hangat. Berjalan beriringan langkah padu dengan segurat senyum yang mencairkan peluh asa.

“Jadi, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang sepasang murid SMA tadi? Begini, huh?” ujarnya, seraya mengumbar banyolan fisik. Mengetatkan tautan lengan mereka. Seolah mereka benar-benar sepasang kekasih yang hendak mampir berlenggang di muka mesin minuman kaleng.

Bibir berpoles gincu itu lekas membentuk sebuah senyum lirih. Kian mengembang. Tak ayal beberapa kali melayangkan sentuhan ringan di lengan bebal Shin Dong Hee. Pria itu hanya tersenyum menenggelamkan lekukan kelopak mata.

Ia memang tak pernah salah dalam meluangkan sekelumit rasa meski tak teraba oleh Kim Hee Jin. Tapi itu cukup membuat hatinya berdesir lega ketimbang melihat rumpangnya tawa gadis itu di sela-sela penat.

Mereka mereguk coke menuju pusat distrik Jongno-gu. Menelik pemandangan air mancur di tengah jalan Sejong-ro. Melewatinya, Shin Dong kerap meniru lagak Yi Sun Shin[2] yang gagah berkacak pinggang. Lagi-lagi Hee Jin terlupa akan singgung perihal usia seiring tawa itu membahana.

Hee Jin pernah berpikir perihal pendamping hidup yang berotasi mengumbar tanya. Bukan untuknya seperti yang digemborkan, melainkan untuk pria yang mungkin akan menyisih kelain tinggal. Ayah masih butuh dirinya, itu yang jadi pertimbangan. Kendati pria itu terus menyempitkan makna.

.

.

Kala senja yang sejuk di tengah hamparan maple, Hee Jin biasa pulang. Itulah senja yang tepat untuk bertukar pandang usai seharian berkeliar di hiruk-pikuk kota.

Ditemani secangkir teh camomile yang uapnya belum usai mengepuli bibir cangkir, Kim Young Woon terduduk di kursinya. Memandang hamparan maple yang tak pernah dibiarkan pergi menjauh dari asalnya. Kerap Hee Jin melenggang begitu saja, namun kali ini langkahnya berderap menolehkan tanya.

“Mau secangkir—untuk menemaniku?” Sorot lelah itu mengumbar asa yang masih bersemayam.

“Biar aku tuang sendiri—“ Tepisnya terlambat. Young Woon kerap memperlakukan gadisnya begitu manja.

Gomapta.”

Hee Jin duduk merapatkan kakinya. Selang beberapa detik hanya ada sebuah kesenyapan di antara sengau angin senja. Pandangannya tepat mengekori arah Young Woon bertatap di halaman. Senja mempesona dengan tumpukan maple. Berhias guratan pendar jingga di jurang langit menjadi momen yang ditunggu Young Woon untuk bercakap dengan gadisnya.

“Sudah dapatkan apa yang kau butuh?” Hee Jin terhenyak. Tanya itu mirip sebuah teguran bahwa memang sudah saatnya gadis itu berpikir.

“Aku belum membutuhkannya,” sahutnya ringan.

“Bagaimana jika aku yang membutuhkannya?” Sekelebat memori perihal ibunya hinggap mendesir jantungnya. Apa iya? Jikalau itu yang terjadi mungkin ia siap dibanding dirinya yang harus menyingkir. Tapi agaknya pemikirirannya terasa dangkal kala pria itu tersenyum memecah tanggapnya yang salah kaprah.

“Aku ingin melihatmu bersanding… dengan seseorang yang bisa menjagamu tanpa aku.” Batinnya sudah menduga yang acap menepis, disertai kakinya gegas menuju lorong ke ruang tengah. Namun kali ini Hee Jin mencoba tak berkutik.

“Usiamu sudah mendukung. Apa yang kau butuhkan jika bukan seorang pendamping?” tanyanya, meninggalkan opsi satu-satunya.

Roman wajah Hee Jin nampak lusuh. Kerlingan enggan mencoba menepis, namun satu yang menjadi puncak. Hee Jin tak bisa untuk enggan memikirkan pria ini.

“Aku masih ingin disisimu. Menemani senja demi senja dengan secangkir teh camomile denganmu.” Sejurus ia menyesap tehnya dengan kaku. Membiarkan getar bibirnya bersembunyi di balik bibir cangkir.

Semua perasaan itu terasa gamblang, kendati mereka sudah jarang bertukar cakap usai teguran itu.

“Bisakah kita tidak bicarakan ini? Jika aku tidak dibutuhkan lagi, aku akan mencarikanmu seorang wanita yang bisa menemani senjamu.” Young Woon lekas menoleh. Memandang manik cokelat pekat itu dengan segala pendar cemas. Ini yang ia takuti. Gadis kecilnya masih kerap bergelanyut manja di lengan kakunya.

Sejenak Young Woon terdiam, memilih turut menggenggam daun cangkir. Diteliknya sekilas gadis itu terpekur memandang goyakan tehnya. Tapi kali ini ia tak dapat berdalih, berlagak tenang melarik pandang.

“Yang aku pikirkan saat ini hanya menunggumu menikah. Itu saja Hee Jin-ah.” Hee Jin beralih mengangkat kenyataan bahwa seruan nona muda Kim tiada lagi. Bibirnya mengatup rapat, tatkala memandang pria yang menjadi sandarannya mulai berucap keputusan.

“Senja pukul empat, datanglah ke resto seberang kantor. Ia yang akan menggantikan aku.”

“Tapi, aboeji,” desah Hee Jin, resah.

“Hee Jin-ah, sudah waktunya. Kau tak perlu pikirkan yang lain termasuk aku.”

Lidah Hee Jin terasa kelu; sama seperti kilan yang masih berkumpar. Kendati ia sangat mengharapkan sisi hatinya terisi mekar cinta yang agung, namun bukan untuk kekasih atau semacamnya. Pria itu. Hanya pria yang kerap menunggunya kala senja mengantarnya membuka pintu rumah.

Young Woon masih menatapnya. Sekelumit asa itu tengah ia tuang mengelilingi gadisnya. Ia tak ingin Hee Jin berleha-leha menyamarkan usia. Jikalau wanita itu masih bernapas disisinya mungkin Hee Jin akan lebih lega meninggalkannya kelain ruang.

Naneun gwenchana,” bisik Young Woon, menyesap teh camomile yang tersisa di cangkirnya.

***

Mungkin saja Kim Young Woon tak sadar bahwa gadis itu tengah bertandak dibalik headline surat kabar. Namun, pintu terlanjur berdencit memberi segurat tanda bukti akan kepergiaannya.

Kim Hee Jin bukan gadis yang mudah frustasi, tapi kali ini instingnya berkata lain. Entah apa yang akan terjadi di kala petang, alih-alih tangannya meraih gagang telepon. Menekan angka-angka yang telah dihafalnya.

“Bisa nanti lekas jemput putriku?” Senyuman itu segelintir tanda cemas. Beradu dengan guratan di sudut mata. “Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu.”

Ia lekas menuju pintu. Mengintip di balik kerai jendela. Mobil silver itu sudah merayap meninggalkan gerbang rumah yang tengah bergerak menyisakan setengah pandang.

Hee Jin menatap jalan yang tampak lengang di balik setirnya. Sadar masih terlalu pagi, ia justru mempercepat kemudinya. Merasa butuh kesenyapan di ruang kerjanya, alih-alih berharap sekelumit obat penat mungkin dapat ia temukan di sela-sela tawa Shin Dong yang menggoda.

Tiba di lobi, tak banyak yang dijumpainya. Sapaan sekilas para karyawan hanya terbalas senyum singkat yang terbias. Lekas-lekas langkah kakinya menandak-nandak, berlari. Menggapai sisi langkah pria yang dikenalnya tengah menjuntai di hadapannya.

“Shin Dong-ah!” teriak Hee Jin, kala langkahnya mulai sejajar di lorong lift.

Pria itu menoleh dan lekas tersenyum. Setengah menepuk bahunya yang masih berjingkat menyelaraskan tarikan napas.

“Masih terlalu pagi, Kim agaesshi. Apa kau tidak olahraga lebih dulu di halaman rumah?” sindirnya, mengetahui gadis itu kerap datang sekena jam kerjanya. Hee Jin berdalih merogoh tas kulitnya.

“Lebih praktis seperti ini, bukan?” Ia menyeringai kecil usai mendapatkan botol air mineral dan lekas meneguknya tanpa sisa.

“Kalau begitu kau naik tangga darurat saja. Bagaimana?” tantang Shin Dong perihal olahraganya.

“Itu menyiksaku. Kau saja!” pekik Hee Jin, bersamaan pintu lift terbuka. Gadis itu melangkah lebih dulu, membiarkan pria tambun itu sejenak menelik tubuhnya.

“Hei, menyindirku, ya?” Tawa Hee Jin meledak seketika. Lekas ia menarik lengan pria itu agar tak tertinggal menunggu lift berikutnya.

Hee Jin masih mengusap jasnya. Menahan segurat mimik yang mengejek. Shin Dong tak acuh, asyik dengan wacana banyolan di gulir layar ponsel. “Hei!”

“Agaknya jarang sekali nona calon presdir datang sepagi ini. Ada apa?” selidik Shin Dong, melirik gadis itu bersandar di dinding lift.

“Apa tak boleh?” Hembusan napasnya terasa begitu berat.

Gadis itu terpekur. Tatkala hal itu masih berotasi di pikirannya.

“Shin Dong-ah,” serunya.

Tatapan itu berbalik tanya. “Kapan kau menikah?” cetus Hee Jin ringkas.

Shin Dong terdiam. Namun lekas ia menjawab, “Targetku secepatnya.”

Pandangan Hee Jin menerawang ke ujung pintu lift. Tersisa sembilan lantai menuju ruangannya.

“Lalu… gadis seperti apa yang akan menjadi pengantinmu itu?”

“Tentu saja cantik,” sahut Shin Dong sekenanya. Pria itu merasa ganjil dengan tanya-tanyanya. Hee Jin tak pernah bertanya hal seintim itu. Apalagi tentang pernikahan. Perihal yang menyangkut getar hati pun belum pernah dirasa.

“Hei, kenapa tiba-tiba kau membicarakan hal yang begitu alergi kau dengar?” seru Shin Dong tak kuasa memendam penasaran.

Hee Jin masih bertatap ke tempat awal. “Aboeji ingin aku menikah,” bisiknya lemah.

“Ya sudah menikah saja,” sahut Shin Dong ringan.

Gadis itu lekas-lekas menoleh. Menelik tajam ke arah pria tambun itu. “Kau pikir menikah itu gampang?” Suaranya hampir melengking. Shin Dong terhenyak, alih-alih ia mesti mengubah suasana.

“Tinggal menarikku ke altar, dengan tegas aku akan mengucapkan kalimat sehidup semati itu dengan lantang.” Shin Dong membusungkan dadanya, mengetuknya dengan ujung ponsel digenggamannya. Berniat serius dengan wajah tak menyakinkan kerap dianggap canda oleh Kim Hee Jin.

“Kau ini!” desis Hee Jin, kesal. Menepuk keras lengan pria itu.

“Ahahaha…” Keduanya terkekeh sejurus pukulan-pukulan ringan masih hinggap di lengan Shin Dong.

“Tuan Kim benar, kau memang sudah seharusnya menikah. Ayo, kita cari calon pengantinmu!” canda Shin Dong, yang tanpa sadar merenggut suasana itu kembali.

“Sore nanti aku akan bertemu dengannya,” ujar Hee Jin lirih.

Shin Dong terperangah. “Mwo?!” Keterkejutkannya membuka pintu lift di lantai yang mengakrabkan dua rekan sejawat itu. Hee Jin melangkah berat diiringi Shin Dong yang mematut lantainya kian menjauh dari langkah gadis itu. Alih-alih degup jantungnya meletup lemah, tak ayal menyisakan segurat penyesalan dan juga asa yang mulai tenggelam.

“Ia akan menikah? O, neo baboya! Babo, babo, Shin Dong Hee!” rutuknya, memukul ringan kepalanya dengan unjung ponsel.

***

Mentari kian bergulir. Memendar sinar jingga di jurang langit. Senja yang tak diingini Kim Hee Jin tiba menyerukan namanya.

“Kim Hee Jin-ssi, annyeong!” Suara itu melonglong pikirannya yang kosong.

Seorang pria terbalut jas hitam bertandang kala ia menuruni teras lobi. Seulas senyum luas itu menyambutnya yang baru turun menuju lobi.

Hee Jin membalas senyum itu singkat. “Kau siapa?” Sepenuhnya ia ragu, jika pria ini yang memang akan menunggunya di resto seberang.

“Aku Eun Hyuk. Ehm, maksudku Lee Hyuk Jae,” rapalnya, memperkenalkan diri. Sembari mengulurkan tangan, hendak menjabat untuk menjauh dari lingkaran lobi yang diam-diam tercuat berpasang-pasang mata—mencuri pandang kearah mereka.

“Ah, ne. Kau yang dibicarakan aboeji?” Pria itu mengangguk seketika.

“Bagaimana kau tahu a-ku?”

“Kau pernah datang ke kantor appa. Tak mudah melupakanmu.” Seketika hatinya berdesir ragu. Tak ayal sisi lainnya mencuat protes.

“O, tapi bukankah seharusnya kita bertem…”

“Aku tak suka menunggu. Jadi mungkin lebih baik kita bisa bertandang bersama. Kau keberatan?” potongnya lekas.

“O, tidak.” Hee Jin tampak canggung. Pria itu mempersilakan dirinya lebih dulu berjalan. Sementara ia mulai melaraskan langkah kala Hee Jin sudah beranjak.

Mereka beriringan menuju resto, menyusuri zebra cross yang ramai kala rambu bergulir merah menyala. Hee Jin menelik hati-hati kearahnya, pria itu menjulang tinggi merapat di sisinya. Aroma parfumnya bahkan begitu melekat menguar rona.

Agaknya mereka tak menyadari jikalau intaian memantau langkah. Berjarak lima meter dari zebra cross yang mulai ditinggalkan mereka, Shin Dong Hee berpikir keras mencetuskan sebuah asa kegagalan. Air mukanya berubah sumringah kala satu ide melangkahkan lekas kakinya menyusul keduanya.

Hee Jin memilih meja di tepi jendela. Membiarkan pria itu hanya turut menurutinya. Mereka duduk berhadapan dengan gerakan serempak.

“Mau pesan apa?” bisik Eun Hyuk santai—mulai mengakrabkan diri.

Hee Jin menghela sejenak napasnya—tanpa menatap pria itu. “Ehm, aku minum saja.”

Perlahan lengan itu lekas mengundang seorang pelayan yang mulai bertandang memberi seulas senyum dengan daftar menu.  “Kudengar kau selalu telat makan jika sudah sibuk bekerja. Bagaimana jika kupesankan nak jee bokkeum[3]?” Manik cokelat pekatnya menelik curiga.

“Satu nak jee bokkeum dan dua cangkir kahwa.” Pelayan muda itu mengangguk usai mencatat pesanan.

“Baiklah, ada lagi, tuan?” Gelengan pria itu dirasa cukup menjawab.

Hee Jin tak perlu bertanya mengapa pria itu tahu makanan kesukaannya. Tentu saja semua sudah teratur baik bak skenario buta oleh sang ayah.

“Tak sulit mencari hal tentangmu.” Eun Hyuk mencoba menjawab tanya bias itu—lebih menyakini.

Hee Jin bergeming, acuh tak acuh. Awal yang mempesona namun dirasa hambar tak berkesan. “Kau tak pesan makanan?” Ia mencoba untuk ramah.

“Kau akan terkejut jika melihatku memesan menu.” Senyuman itu seolah mencuat segelintir jati dirinya yang acap berlebihan.

Hee Jin berpikir jika asupan pria ini melebihi porsi Shin Dong Hee yang kerap mengemil di kala rapat.

Sejatinya ia tak sepenuhnya menginginkan pertemuan ini. Hal pertama mungkin karena dirasa ini terlalu memaksa. Namun apa daya, ia tak kuasa menolak titah itu. Tak tega menyakiti asa di hati pria rumah yang kerap mengintainya saat membuka pintu.

Kendati ia harus menyisih nanti, namun satu hal yang dipikirkannya kerap enggan ikut tersingkir hingga mengucap janji suci itu. Ia tak mungkin lagi mengendap-ngendap memeluk leher pria itu kala pagi bertatap di kerai jendela. Namun, ia akan beralih merasakan sentuhan hangat itu mengejutkan paginya. Tentu dengan sang pilihan. Lee Hyuk Jae? Ia pun masih belum tahu.

“Hee Jin-ssi? Ada yang kau pikirkan?” ujar Eun Hyuk, sekonyong-konyong mengejutkan.

“Tidak.” Hee Jin menggeleng. Dengan sekali delikan, manik hitam itu menelisik air mukanya.

“O, baiklah,” seru Hee Jin menjungkatkan alis matanya. Gadis itu enggan menguar asa itu kian mengembang kendati ia masih bimbang.

“Jadi apa yang akan kita bahas sore ini, Eun Hyuk-ssi?” ujarnya, tak ingin lagi bersuaka dalam ragu.

Pria bermarga Lee itu terkekeh pelan. Menyaksikan opera tak berkelanjutan, Hee Jin berdiri lekas. Membuat pria itu berhenti tertawa. Agaknya keseriusannya terpandang lain.

Mianhamnida. Tapi bisakah kita mengenal satu sama lain terlebih dulu? Kau tampak tergesa-gesa.” Segurat malu itu merona padam di paras anggun Kim Hee Jin. Eun Hyuk meraih bahunya lekas hingga ia duduk kembali dihadapannya kala menelik pinggan yang bergerak kian mendekat ke meja mereka.

“Pesanan Anda, silakan!” Eun Hyuk tak curiga sang pelayan tambun itu sekonyong-konyong mendekatkan cangkir berisi kahwa panas ke sisinya.

PRANGG!!!

“Argh, panas!!!” Cangkir-cangkir itu tergeletak pecah bersamaan dengan pinggan yang tak sengaja memantul ke sepatu pekatnya hingga menyentuh lantai. Lee Hyuk Jae berdiri menelik jasnya yang berlumurkan cokelat kahwa yang masih menguap.

“Kau tidak apa-apa?” pekik Hee Jin, panik. Menyunggut tarikan tissue, membersihkan noda.

“Kau lanjutkanlah, aku akan segera kembali.” Eun Hyuk lekas melangkah tanpa ingin berharap maaf dari si pelayan.

Sepeninggalan pria itu, si pelayan menyeret topi putihnya dan melirik pandang ke arah gadis yang melemah di kursinya. “Hee Jin-ah, ayo kita pergi!” Gadis itu tergelak, pelayan itu mengetahui akan namanya.

“Ini aku, Shin Dong!” Hee Jin kian membulatkan pandangan. Lekas ditariknya gadis itu menuju pintu keluar—tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk menjawab ajaknya.

Batin Hee Jin berdalih menolak. Tepat di muka pintu manik matanya berpendar pinta. Kakinya enggan menyeret langkah. Shin Dong heran menatapnya tak biasa.

Aniyo, aku tidak mungkin terus menghindar. Aku ingin membahagiakan aboeji,” ujar Hee Jin, pasti.

Pria itu melepas genggaman di lengan jenjang Kim Hee Jin. Menarik asa yang kian ulur tak ada tanda sempat mengejutkan balas. “Kesimpulannya? Kau akan menikah dengan pria kurus itu?” Seketika hatinya dirajam pilu; menyakitkan.

Kilan itu berpindah lekas di hati Shin Dong Hee. Tak ayal harapan itu masih setitik tinta, namun dirinya begitu berharga di mata rekan sejawatnya.

“Ia menyenangkan. Kurasa aboeji tidak salah memilihnya.” Hee Jin mencoba berkutat memilih takdirnya.

“Shin Dong-ah, bisa kau dukung aku? Saat ini aku butuh semangatmu,” bisik Hee Jin, lirih.

Shin Dong tak kuasa untuk tak mengangguk. Ia mencoba meluruskan pikirannya ke lain ruang. Kendati dirinya masih bersembunyi di balik derai tawa, namun sejatinya ia ingin muncul menoreh senyuman kala senja yang acap menjadi ruang temu mereka akan melepas penat.

“Semoga kau bahagia.” Pria itu melangkah lemah bak pemabuk yang berusaha berjalan tegap menuju pulang. Hatinya mungkin terlanjur tertawa, berlagak ingin memiliki sang dewi.

***

Kelam sudah kian menerkam kala deru mesin mobil kelabu itu hendak meninggalkan jalan. Hee Jin membiarkan pria bersenyum luas itu mengantarnya tanpa mobilnya yang terparkir di halaman kantor.

Langkah kakinya lekas mendekati teras rumah. Pendar lampu ruang utama masih menyala, namun tak pernah lagi ada gelak tawa berkuar di ruang itu—kala ia mengintip dirinya di usia enam belas. Agaknya ia merindu sosok wanita yang telah lama pergi dari ruang hidupnya.

Hee Jin membungkuk, menaruh sepatunya dalam rak dan menggantinya dengan sandal rumah. Alih-alih ia merasa pria itu masih bertaut di kerai jendela, lekas ia menepi menuju lorong tanpa menyapa.

Sudah sekian senja yang terlewatkan dan sekian pagi yang terabaikan, tanpa seulas tatapan ataupun sapaan. Kendati terasa kikuk namun Hee Jin merasa lebih baik ketimbang nantinya ia sukar menyisihkan diri. Terlampau menyayangi pria itu sesulit ia mencoba menyukai Eun Hyuk yang mulai berkuasa akan hari-harinya.

Juga tak ada lagi tawa dan canda Shin Dong Hee kala jam makan siang atau senja saat pulang. Kini paginya terjemput lekas oleh Lee Hyuk Jae begitupun senjanya terenggut hingga kelam kian menerkam hatinya dengan seulas kerinduan akan segala hidup lalunya.

“Aku ingin mendengar pengakuan darimu.” Hee Jin nampak bersemburat. Tatkala manik mata itu hanya dapat menatap namun tak ayal Lee Hyuk Jae bisa membaca makna yang tersirat.

Angin musim gugur berhembus ringan, seringan pria itu tersenyum menatap paras cemas Kim Hee Jin di sisi duduknya. Agaknya gadis itu kuatir akan asa yang tergopoh ringkih.

“Tentang apa?” Tanya itu seumpama larikan tantangan yang mulai terjawab.

“Kita…” Jantung Hee Jin meletup-letup kala seringaian pria itu mencoba untuk tak menyinggung.

“Apa yang ingin kau tahu? Bukankah tak sulit mencari hal tentangku?” sindirnya, persis membalikkan kalimat lalu yang sempat menjadi skenario di pertemuan awal.

Seketika Lee Hyuk Jae terkekeh pelan, lekas menyikut pinggangnya. “Kau menyukaiku Kim Hee Jin-ssi?” ujarnya, hati-hati. Diteliknya gadis itu terdiam menatapnya.

“OK, tak perlu dijawab. Aku sudah tahu,” cetusnya pasti.

Hee Jin tergelak. “Mwo?” Gadis itu memang dirasa sulit memantau sebongkah rasa yang ia punya. Kendati ia sudah lama tahu namun apa salahnya mencoba menyemai asa. Walau akhirnya akan ia tarik lagi usai senja menyelimuti ragu yang berkuasa.

“Aku bukan tipe pria yang mengalah namun juga bukan orang yang kerap mengekang. Untuk kesekian hari ini, terima kasih Hee Jin-ssi. Aku mungkin belum berkesan di hatimu. Tapi kau sangat mengesankan sekian hariku yang kosong.”

“Aku tak ingin memaksamu.” Hee Jin lekat menatapnya. “Kemarin ahjussi sudah membatalkan perjodohan kita.” Seketika ia terkejut mengumbar rasa tak percaya.

Sadar akan hal itu, Lee Hyuk Jae lekas tersenyum. “Aku yang menginginkannya.” Hee Jin tampak menggeleng.

“Apa maksudmu? Bukankah kau tahu aboeji sangat ingin kita menikah? Kau anggap apa ini?” Makian itu hampir melonjakkan dirinya.

“Pernikahan itu bukan hal yang main-main Hee Jin-ssi. Ada janji suci disana, tidak pantas jika aku mengucapnya terselubung kau yang ragu.”

“Aku yakin Eun Hyuk-ssi,” tepis Hee Jin, mengelah. Namun rupanya pria itu tak ingin kalimat itu terlanjur melampau samar.

Ahjussi sangat menyayangimu. Kau beruntung memilikinya.” Hee Jin terperangah. “Lekas carikan ia menantu yang menurutmu menyenangkan untuk bisa menemaninya berpatri di halaman—kala senja mengantarmu menantang pinggan terisi cangkir teh camomile.”

Lee Hyuk Jae tersenyum tipis, lekas mengusap punggung tangan Hee Jin yang nampak dingin terselimut angin.

Manik cokelat pekat gadis itu bergetar ringan. Alih-alih ia masih tak menyangka pria itu rela melepas asanya yang justru wajar akan dirinya. Namun, sisi hatinya masih ingin bersanding menyesap teh kala maple meliuk indah di ujung senja.

Gamsahamnida.” katanya, setengah berbisik.

***

Kendati senja sudah terlanjur urung melampau jingga lagi, Kim Young Woon masih bertatap kosong perihal tanya. Hari senjanya mungkin tak seramai kawan-kawannya yang terhias gelak tawa cucu-cucu manis di sekelilingnya. Namun, asa itu diam-diam masih berkumpar melenggangkan sang gadis memeluk lehernya.

Bogoshippo, aboeji…” lirih Hee Jin, tersudut rasa rindu.

Pria itu tersenyum tipis menelik paras gadis itu tersentuh napasnya. Lekas ia mengecup kening itu. Menegakkan senyumnya yang ragu—lama tak berkembang menguar tawa.

“Maaf sudah memaksamu.” Sepenuhnya Young Woon mengerti alih-alih gadis itu tetap enggan menyisih.

Animnida, aku yang harus meminta maaf sudah mengacaukan semuanya.” Nada Hee Jin berubah manja yang kerap mengundang tawa pria itu untuk lekas memeluknya. Ia rindu gadis kecilnya.

Aboeji, saranghae…” Young Woon mengetatkan gelut itu menyesakkan asa. Kendati ia sudah urung memikirkannya namun Kim Hee Jin mulai bertaut meniliknya.

Kelam melingsir ke malam berikutnya, waktu yang tertunggu-tunggu oleh sebagian orang-orang yang bernaung di Kim Corporation. Entah itu sibuk menyiapkan pesta megah peringatan ke sembilan belas tahun berdirinya perusahaan itu atau menyibukkan diri untuk menyiapkan sekelebat tingkah kala suara Kim Young Woon melengkingkan nama yang berjasa di tahun ini.

“Siapa ya, yang beruntung berjabat tangan dengan presdir malam ini?” Segelintir tanya itu mencuatkan tengok Shin Dong Hee di sudut meja pangan. Tangannya tengah memilah wejangan yang pas untuk menunggu puncak acara. Ia memilih pudding berlumur vanila cair dan menikmatinya di sudut ruang—yang tak terusik nyalangan musik klasik di seantero ruang.

Alih-alih benar menikmati puddingnya, ia tak tergerak kala seseorang duduk disisinya yang tak mungkin ada yang tertarik untuk mengenyakkan diri disana. Melihat dari sini, sungguh pemandangan yang membosankan, batinnya.

“Ini pesta, apa kau enggan menikmatinya?” Shin Dong Hee tergelak, mendapati rekan sejawatnya yang hampir ia hidari sejak beberapa hari ini.

“Kau sendiri, kenapa disini?” kilahnya, masih diserbu rasa terkejut.

Kim Hee Jin menilik saus vanilla yang tersudut di bibir pria itu. “Melihat rekan yang paling berjasa di hidupku mana mungkin aku tak menyapamu.” Ia beralih menarik tissue di pinggir meja. “Berapa usiamu? Makanmu berantakan,” ujarnya, menyeka sudut bibir Shin Dong Hee dengan hati-hati usai terkekeh pelan.

Sekonyong-konyong manik matanya menangkap rikuh kala lengannya tertaut dengan jemari seseorang. Beberapa detik terkesiap. Jemari itu justru mengeratkan genggaman. Agaknya Shin Dong Hee mulai berani mencuat asa.

Seketika manik hitam pekat itu menilik ke balik retinanya, yang terlampau menguar rasa tak percaya; perihal rasa konyol yang kerap muncul bersinggungan dengan gelak tawa yang hadir bersama pria itu.

“Ada yang ingin kau tanyakah, Kim agaesshi?” Hee Jin sepenuhnya terdiam. Berbalik tatap menuntut tanya, ada yang salah?

Genggaman itu melonggar kala detik sudah menjauhkan keduanya dari pandangan. Kim Hee Jin masih berkutat dengan kumpar rasa itu di sela-sela canda. Apakah iya? Batinnya terus memunculkan tanya. Alih-alih mencairkan suasana, Shin Dong Hee dirasa salah memilih topik.

“Bagaimana pria itu? Apa ia datang?” candanya dengan senggolan ringan. Hee Jin terpaku pikir kendati ia sudah tahu pasti namun dirasa cukup konyol jika pria itu benar menyembunyikan sekelumit rasa dibalik candaan.

Gadis itu lekas menggeleng. “Kami sudah berputus untuk menjalani kehidupan sebelumnya.” Diteliknya pria itu cukup terkejut dengan segurat penyesalan.

Mianhae…”

Gwenchana, aku tak sepenuhnya berpikir kala itu adalah ketepatan takdirku.” Hee Jin menorehkan senyum jahil dan pria itu masih enggan berhenti menatap paras yang mulai menggodanya.

“Lalu bagaimana denganmu? Selama aku bersamanya apakah kau mencari gadis lain untuk kau goda, huh?” Serentetan tanya itu membungkam tawa yang terlanjur garing tak tergubris kejenakaan Shin Dong Hee. Pria itu tersenyum tipis tatkala menepis rona meragukan yang kerap ternilai oleh tatapan Kim Hee Jin.

Bibir gadis itu terkunci. “Moreuda…”

“Ini konyol!” Hee Jin tak dapat lagi berkutik.

Tanpa bersuara, pria itu menaruh lambarnya di pinggir meja. Sekelebat tingkah lalu yang mengundang tawa kini tersungkur malu-malu mencuatkan rasa.

“Tapi aku tak berniat menggoda gadis lain selain agaesshi.” Lekas rona itu merekah di kedua pipi Hee Jin. Menepis ragu yang acap bertandang tatap memungkiri tanggapnya.

“Jadi… apakah kau masih berucap tanya tentang perasaanku?” Hee Jin tertawa ringan. Agaknya ia tak perlu lagi sebuah jawaban kendati tanpa tanya. Kalimat itu ‘lah yang mungkin melegakan napasnya saat ini. Dan ia sadar bahwa perasaan itu takkan pernah salah.

“Kau tak menganggapku sedang bercanda lagi, ‘kan?” selidik Shin Dong, penasaran.

Gelengan ringan diselingi senyum itu cukup membuat hatinya melambung. Agaknya ia tak sepenuhnya bisa menyalahi takdirnya yang tersapu kilan kala memuja sang dewi.

Mereka tersenyum menutup senja yang berlalu, beriringan dengan bunyi yang menyalang di stereo ruang. Suara berat Kim Young Woon terdengar menyebutkan nama. Selang beberapa detik, keduanya menilik pandang. Tersadar bahwa nama Shin Dong Hee telah disebutkan di atas panggung. Hee Jin beringsut mengucap selamat. Senyum itu terasa lebih gamblang menggambarkan indahnya paras sang dewi kala tersemai cinta.

Chukkahamnida, Shin Dong-ssi!”

Ucapan-ucapan itu melarik langkahnya menuju panggung. Berbalas senyum yang tak henti berhias di wajahnya. Menghampiri pemimpin sesungguhnya, agak berburu canggung. Lekas Kim Young Woon menjabat tangannya. Mengenal pribadi hangatnya yang terdengar di seantero kantor, ia tak meragukan penghargaan ini. Terlebih menilik cakapnya dengan Hee Jin—tanpa terdengar kata di kerumunan pegawainya yang berderai ramai di tengah ruang. Agaknya asa itu kian bersemai menjemput senjanya yang sepi.

***

Gadis itu menatap cermin dirinya. Menelik bayangan yang terpantul disana—terbalut gaun putih panjang yang bermanik-manik ringan, berpendar kristal. Sekali lagi ia mematut bayangan dirinya. Kendati tak percaya, namun ia cukup bahagia bisa tersenyum seperti itu.

Sejenak napasnya tertarik merogoh ruang lain hati yang tak menyesakkan—mengurangi rasa gugup yang tak henti menyergap. Hari ini akan menjadi momen tak terlupakan sepanjang hidupnya. Sekonyong-konyong gugup itu terpaut henyak kala dencitan pintu yang terbuka memunculkan sesosok pria. Pria yang mengetahui apa yang terjadi seusia dirinya.

“Kau gugup, Hee Jin-ah?” bisiknya. Pria itu menarik senyum menenangkan pandangan gadis itu yang terpantul di cermin.

Apa semua orang yang akan menikah merasa seperti ini?” Kim Young Woon mendekap bahunya. Menatap cermin yang memadukan tatap keduanya.

“Tenanglah, aku akan di sisimu hingga ke altar.” Bisikkan itu bak pendesir candu yang ampuh melampaui degup jantungnya. Hee Jin tersenyum, mengusap punggung tangan besar itu.

“Ternyata kau tak kalah cantik dengan eomma.” Hee Jin kian mengembangkan senyumnya, seketika merasakan kedua pipinya memanas. Sementara kekehan ringan itu terdengar di balik gelungan rambutnya.

Kim Young Woon berhenti tertawa. Kembali menilik gadis itu terpekur dalam semburat rona. “Aku tak menyangka secepat ini aku akan menyisih darimu.” Gadis itu menghela napasnya ringan. Di sela-sela rasa bahagia, pendar sendu itu kerap muncul mencuat setitik rindu yang lekas bertumpuk.

“Aku harus melepasmu. Merelakanmu untuk pria yang lebih baik dalam menjagamu.” Sejenak larikan cakap itu kerap mengundang kristal hangat menyusuri wajahnya. Tatkala pijakan kakinya menjungkat membalikkan diri. Berdiri mendekap erat pria itu.

“Kau yang terbaik,” bisiknya, terisak. Kim Young Woon merengkuh kedua sisi wajahnya. Tersenyum hangat dan beralih menyeka cairan bening itu.

Lekas ia menatap tepat manik cokelat pekatnya yang masih terselubung air mata. “Jangan hancurkan momen ini!” Gelengan ringan memperkuat tekadnya, menelisik ini akan menjadi hari yang terindah.

Sosok yang sangat dicintainya dan dihormatinya itu lekas menautkan lengan jenjangnya, berjalan beriringan—mengantarnya hingga ke depan altar. Kendati seisi ruang saling menautkan pandang ke arahnya namun ia hanya terpaku pada satu sosok yang sedang membelakanginya saat ini, tepat di depan altar.

***

EPILOG

Tumpukan maple di musim gugur tahun ini seolah menjadi pemandangan yang jauh menarik ketimbang isakan kecil menghiasi senjanya. Gadis mungil yang menggemaskan itu tak henti berceloteh kenapa dirinya terus memandang dedaunan maple yang bertebaran—kerap menyentak keningnya.

Bibirnya tersenyum lirih mendekap bahu gadis itu di penghujung petang. Memperlihatkan merpati yang mendarat mematuk paruh ke bayinya dalam sarang. Berbalik ke hamparan maple yang menyemai asa akan tungkainya melahirkan sekelebat daun muda yang berwarna, mencerahkan senja.

“Lalu apa yang akan kugapai di hari esok?” tanya polos itu kian mengembangkan kekehan sang ayah.

Seketika derai tawanya berbalik tanya. “Apa cita-citamu?” Paras lugunya menderap asa, tak ayal sekelebat memori wanita itu tanpa dirinya bertaut agak persis dengan bayangannya.

“Aku ingin seperti eomma, menemani aboeji,” ujarnya, tertawa kecil, tatkala jarinya menunjuk kedatangan wanita itu menantang pinggan berisi poci teh camomile lengkap dengan cangkirnya.

Shin Dong Hee menoleh, mengikuti telunjuk mungil itu kearah Kim Hee Jin yang tersenyum kearahnya; rekan sejati di hidupnya.

-FIN

______________________________________________________________________________

Note:

[1] Makanan istimewa liburan Chuseok; yang terbuat dari tepung beras diisi kacang atau wijen. Khususnya, pemuda dan pemudi mencoba membuat songpyeon yang sebagus mungkin karena percaya dengan begitu mereka akan mendapatkan pasangan yang cantik atau tampan.

[2] Patung pahlawan Korea yang terletak di tengah-tengah air mancur di jalan Sejong-ro, distrik Jongno-gu.

[3] Makanan khas korea; gurita panbroiled dibumbui dengan cabe merah.

______________________________________________________________________________

A/N: Annyeong 😀 salam kenal semuaaaa aku author baru di sini. Ini ff keduaku yang di publish di FFindo. Buat semua yang baca, tengkyu :* dimohon komentar (apapun itu), welcome…kritik juga boleh :*

Advertisements

One response to “IN THE RIGHT AGES [Oneshot]

  1. Pingback: IN THE RIGHT AGES [Oneshot] « elfleur·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s