SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: DOUBT IN LOVE (PART 4)

DOUBT IN LOVE (PART 4)

Main Cast:

Kibum SUJU

Sulli f(x) = 20 years old

Henry SUJU M

Additional Cast: Other Super Junior Members

Rating: PG-15

Genre: Romance, Angst, Friendship

Disclaimer: humans, things, and ideas of this ff belong to God.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 |

Introduction from Author for DOUBT IN LOVE

Banyak yang bilang Kibum agak geje di sini. Yah begitulah maunya author *plak aduuh jangan nimpukin author dong readers. DOUBT IN LOVE ini adalah love and hate relationship Sulli & Kibum, jadi Kibum dibikin ‘abu-abu’ biar Sulli ada bete-betenya sama Oppa kita ini. Trus Henry cast-nya sebagai apa di sini? Penasaran makanya lanjoooootttt baca terus and jangan lupa ya komen, komen, komen, and komen. Supaya author tambah semangat nulisnya, otre. Again deep bow for readers who have spared your time to give me feedbacks, gomawo gomawo gomawo.

Chapter 3

 “… Aku tidak mau menjadi Sulli-mu dan karena kau juga bukan Kibum-ku. Aku juga bisa meninggalkanmu!

 “Cobalah untuk mengetahuiku lebih banyak. Cobalah menahanku untuk tidak pergi Sulli. Tapi jangan memaksa masuk. Ini terlalu cepat”

Chapter 4

Di Kediaman Sulli

Malam-malam aku menelefon Henry. Aku mencari waktu yang tepat menelefonnya karena aku tahu namja itu begitu sibuk. Tidak lama kemudian, aku sudah mendengar suara Henry di seberang telefon.

“Yoboseo, halo Henry”

“Sulli?”

“Ne, mianhae menggangu mu malam-malam begini. Aku ingin minta maaf karena membuatmu menunggu tadi siang. Aku dipaksa belajar oleh Kibum-sshi dan enggak bisa kemana-mana sebelum tugasku selesai. Aku minta maaf Henry. Kau pasti kesal padaku”

Aku mendengar Henry tertawa, aku suka mendengarnya dia tertawa begitu hangat.

“Tidak apa-apa Sulli, aku mengerti kau harus lulus tahun ini bukan? Aku mendukungmu untuk belajar. Fighting!”

“Kau tidak marah kan?”

“Mana mungkin aku marah dengan yeoja imut kayak kamu”, ucap Henry pelan.

Deg, hatiku kenapa berdebar  ya.

“Tapi aku masih merasa bersalah dan itu pasti pengaruh sama siaranku besok. Apa yang bisa kulakukan ya supaya aku tidak merasa bersalah seperti ini? Besok aku traktir kamu makan arraso?”

“Besok pasti kamu disuruh belajar lagi oleh Kibum Sajangnim”

Oh iya aku mendesah kecewa.

“Sulli, kau sedang ada di rumah hari ini? Rumahmu di dekat YLK Women School kan?”, suara Henry terdengar bersemangat.

“Ne, memangnya kenapa”

“Aku menuju ke sana ya, aku akan mengajakmu makan malam di tempat yang paling enak”

“Sekarang?”

“Ne, kau tunggu aku di tikungan jalan jam 7”

Klik Hp mati ditutup begitu saja.

Aish Henry, jangan-jangan dia mengajakku ke restoran mahal. Mana  cukup uangku untuk mentraktirnya. Kubuka celengan koinku, kumasukan semua isinya ke kantung plastik. Jika uang di dompetku tidak cukup untuk membayar makanan, mudah-mudahan uang celenganku ini bisa membantu.

Aku berdandan seadanya, kuraih tas slempang-ku. Omma sudah menghadangku di tangga.

“Mau kemana malam-malam begini Sulli?”

“Aku mau bertemu teman”

“Siapa? Yeoja? Namja?”

“Ada deh, yang pasti orangnya baik. Omma enggak usah khawatir. Aku pergi sebentar kok, jam 9 tepat aku pasti pulang. Daah!”

Aku tidak membiarkan Omma bicara. Aku mencium Omma kemudian pergi menuju pintu ruang tamu. Omma hanya bisa melongo melihatku keluar dengan terburu-buru. Kemudian Omma mengambil HP-nya.

Aku menemukan Henry sedang duduk di halte tikungan jalan dekat rumahku. Dengan memakai topi dan jaket baseball-nya, Henry terlihat enak dipandang.

“Mian Henry, kau tidak lama menungguku bukan?”

Henry tersenyum sambil menggelangkan kepala.

“Kamu siap untuk makan besar malam ini Sulli?”

Aku mengangkat jempolku. Tentu saja siapa yang akan menolak makan besar!

Kami bersama naik bis, aku duduk dan Henry berdiri. Malam itu bis cukup penuh dengan orang-orang yang hendak pulang dari bekerja.

“Tidak apa-apa kan kita naik bis?”, Henry menatapku khawatir

“Tidak masalah, setiap hari aku ke kampus dan radio juga naik bis”

“Aku hanya ingin menikmati setiap detik kehidupan di Seoul, keramaiannya, suasananya. Rasanya sulit kudapatkan jika naik mobil. Kau tahu aku bisa mengerti bahasa Korea karena kebiasaanku ini. Di mobil terlalu sepi, kau tidak bisa belajar apa-apa”

Aku mengangguk mengerti. Henry Lau bukan warga negara Korea. Ia adalah warga Kanada keturunan Chinese yang kini menetap di Korea. Sebagai warga asing wajar sekali jika ia ingin mengenal culture dan kebiasaan adat setempat.

“Tapi apa kau tidak rikuh, kau kan artis Henry. Nanti kau akan dikuntit penggemar kemana-mana”

“Tidak apa-apa aku malah senang bisa berinteraksi langsung dengan mereka”

Bis masih melaju dengan kecepaan sedang. Sesekali aku menatap ke arahnya. Lagi-lagi opini orang-orang tentang Henry terbukti benar. Ia sangat ramah dan rendah hati. Kini aku sedang membandingkannya dengan Kibum. Kedua namja itu sama-sama berasal dari keturunan orang kaya, sama-sama tidak memanfaatkan fasilitas orangtuanya, dan sama-sama berbakat dalam bidang musik. Secara fisik mereka sama-sama tampan. Bedanya Kibum seleranya terlalu tinggi dan Henry adalah namja yang bersahaja.

Radioku tempat bekerja ini memang jempolan kalau merekrut staf. Tidak hanya good looking tapi juga serba bisa.  Pengecualiannya mungkin aku. Dibanding para karyawan lain yang ada di kantorku, aku ini paling biasa-biasa banget.

Akhirnya kami sampai di tempat yang dituju, sebuah rumah makan kecil milik Ahjuma yang sudah tua. Untunglah Henry membawaku ke sini, rasanya uangku cukup untuk mentraktirnya.

Henry berbisik,”Ini tempat makan favoritku, makanannya enak harganya murah, aku bisa makan banyak sampai puas di sini”

“Oh ya, aku penasaran!”

Dan memang benar, ketika aku melihat daftar harga dan menunya, semuanya dijual dengan harga yang lumayan tidak menguras kantong. Aku lihat pengunjung lain sedang makan dengan lahap. Rasanya saliva ku menetes melihat makanan yang terhidap di meja makan, begitu menggiurkan.

Pesanan sudah datang, aku tersenyum kesenangan melihat surga makanan di depan mataku. Henry juga sama. Kami makan dengan sangat lahap.

“Henry, seperti janjiku, aku akan traktir kamu”

Namja itu menggelang,”Aku tidak pernah membiarkan seorang yeoja membayarku makan”

“Tapi aku sudah berjanji, ayooolah jika kau tidak menerimanya, aku akan merasa tidak enak terus. Kamu mau siaranku jadi jelek karena memikirkan rasa bersalahku ini”

“Aniyo Sulli-ah, tidak baik yeoja membayari makanan pada kencan pertama”

Kencan? apa? Aku merasa ada bola bekel mendadak masuk ke tenggerokanku. Aku keselek dan kemudian terbatuk-batuk.

“Kenapa kamu sakit?” Henry mendekatiku, ia tampak khawatir,”Kita ke dokter  ya”

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menelan makanan yang mengganjal di tenggorokanku, “Aku enggak sakit kok, swear, cuman keselek aja” ujarku sambil mengacungkan dua jari padanya,”Tapi tetap kau harus mau aku traktir”

“Aish kau keras kepala Sulli. Begini saja, kita bertanding. Siapa yang menghabiskan makanan lebih banyak dalam hitungan 10 menit. Dia yang menang. Pemenang bisa menentukan apakah dia akan mentraktir atau ditraktir. Bagaimana sepakat? Otokhae?”

“Setuju”

Pertandingan yang menyenangkan, tentu saja aku yang akan menang. Aku makan dengan sangat cepat. Kulihat Henry tidak secepat aku saat makan.

“Oket times up, tepat 10 menit. Ya Sulli berhenti!”

Henry mengingatkanku yang terus makan. Aku berhenti dengan terpaksa. Sumpah makanannya enak banget.

“Okey sekarang kita hitung berapa piring dan mangkuk dengan jumlah terbanyak”

Aku menghitung jumlah piring dan mangkuk yang telah aku habiskan,”Yes, 15, aku menang lalalala” Aku bersenandung kegirangan.

“Tunggu kau belum menghitung punyaku”

“Okey satu, dua tiga….ah tidak 16”

Henry tersenyum puas,”Aku pemenangnya berarti aku yang mentraktirmu he he”

“Makanmu lambat sekali tapi kau bisa menghabiskan lebih banyak dariku. Aish aku tidak percaya, kau pasti berbuat curang”

“Mana mungkin aku curang, dari tadi aku terus di depanmu”

Aku pura-pura marah, mulut kutekuk.

Henry tertawa,”Jika kau seperti itu kau seperti burung Tweety”

“Masa aku disamakan dengan burung kuning jelek itu sih?”

“Daripada aku samakan dengan Woody Woodpecker? Tweety masih lebih imut”

Aku ambil koran yang tergeletak di sebelahku dan kupukulkan ke arahnya, “Terus saja menghinaku sekalian aja samakan aku dengan Sylvester atau Tazmania”

“Aduuh Sulli jangan pukul aku, aduuh”, ia meringis,”Iya-iya kamu enggak mirip Tweety tapi kalo lagi cemberut tetep seperti Tweety hahaha”

“Henry!”, aku tidak berhenti  memukulnya, aku senang melihat reaksi Henry yang mencoba menghindar dariku. Sampai akhirnya berhenti dan kami berdua tertawa terpingkal-pingkal. Kami berhenti tertawa ketika Ahjumma pemilik rumah makan mendekati kami.

“Ahh Henry kemana saja kau selama ini”, ia kemudian memandangku terus berbalik lagi menatap Henry,”Diakah yeoja cingu-mu?”

Henry tampak gugup menatapku,”Dia teman siaranku Ahjumma, namanya Sulli”

Aku mengangguk ke arah Ahjumma yang mendekatiku,”Jangan sakit hati kalo dia bilang kau hanya teman siaran. Kau pasti sangat spesial karena sebelumnya ia tidak pernah membawa yeoja siapapun ke sini. Henry ini juga pernah berjanji, jika suatu hari nanti datang ke sini dengan membawa seorang yeoja. Pastilah yeoja itu adalah yeoja cingunya”

Deg, dadaku berdegup. Rasanya  seperti ombak yang bergelombang besar menghantamku.

“Ahjumma jangan salah sangka. Kami tidak seperti itu. Sulli adalah teman siaranku”, Henry menjelaskan posisiku dengan tergagap. Ia menatapku seolah-olah ingin minta maaf.

Tapi Ahjumma itu tidak memperdulikan perkataan Henry,”Kau tahu kan dia adalah pemain biola yang hebat?”

Aku mengangguk setuju,”Benar Ahjumma, dia sangat jenius”

“Tapi sayangnya dia tidak mau bermain biola di sini. Lagi-lagi dia bilang nanti di depan yeoja cingu-nya”

Henry sudah mulai resah, ia menengok kearah lain untuk menghindari percakapan ini. Tapi aku menikmatinya, aku penasaran dengan kejutan-kejutan dari Ahjumma mengenai Henry.

“Ahjumma hanya ingin minta tolong padamu Sulli. Bujuklah dia supaya mau bermain biola malam ini di depan pengunjungku. Dia pasti tidak akan menolak permintaan cingu-nya bukan? Sudah lama Ahjumma menantikan kesempatan ini karena Ahjumma hanya bisa melihat permainannya di televisi saja”

Henry tampak sedang memilik-milin taplak meja. Ia tampak resah. Aku sendiri sebenarnya juga merasa canggung dengan situasi ini tapi aku juga kasihan melihat Ahjumma.

”Henry dengarkan permintaan Ahjumma. Ia ingin sekali melihatmu bermain biola. Aku juga ingin melihatmu bermain”

“Kau kan pernah melihatku waktu di konser”

“Iya dengan jarak berpuluh-puluh meter dari tempatmu berdiri, tidak asyik. Aku ingin live version dari jarak dekat”

Ahjumma dan aku menatapnya penuh harap.

“Jaebal Henry, please”

Namja itu menyerah ketika melihatku, “Baiklah, Ahjumma boleh aku pinjam biola itu?”, Henry menunjuk biola tua yang tergeletak di sebuah lemari. Ahjumma mengambilkannya.

Henry mengambil tempat di lantai yang lebih tinggi. Keberadaannya yang membawa biola mengusik perhatian pengunjung. Beberapa berbisik dan menjerit, mereka baru menyadari bahwa sosok itu adalah Henry, sosok idola mereka.

“Maafkan apabila saya mengganggu kenyamanan makan pengunjung semua. Ijinkan saya menemani tuan dan nyonya sekalian dengan iringan biola. Selamat menikmati”

Pengunjung berteriak riuh. Henry Henry terdengar suara yeoja memanggil-manggil dengan histeris. Spontan pengunjung bergerak mendekati Henry ingin melihatnya lebih dekat.

Akhirnya namja itu memainkan biolanya. Aku tidak tahu terlalu banyak mengenai musik klasik tapi apa yang sedang dimainkannya membuat aku teringat dengan permainan biola klasik.  Aku terhanyut dalam permainan melodinya sekaligus terkesima dengan penampilannya. Ia berubah menjadi sosok lain ketika bermain biola, terlihat lebih cool dan mature. Mendengar alunan biolanya membuatku merinding, terkadang nadanya begitu lambut dan sedih tapi tiba-tiba bergerak cepat dan menderu. Aku terpana, sungguh, permainannya membuat aku terbuai serasa berada dalam kisah negeri dongeng.

10 menit kemudian Henry menyelesaikan permainan biolanya. Terdengar tepuk tangan dan jeritan pengunjung yang membahana di rumah makan Ahjumma. Henry turun dari tangga dan menghampiriku dengan tersenyum.

“Bagaimana penampilanku”

Aku hanya bisa menatapnya. Kini aku melihat sosok Henry menjadi lain, ada yang berubah dari bagaimana cara aku memandangnya kini.

“Hey kenapa kau bengong begitu. Kita pulang yuk sudah malam”

Henry merangkulku dan aku tidak menolak, aku terdiam. Ada sesuatu yang tengah bergolak dalam hatiku tapi aku sendiri tidak tahu apa.

Setelah membayar dan berpamitan kepada Ahjumma, aku dan Henry lantas keluar berjalan menuju halte dalam keheningan.

“Kau tahu aku tadi memainkan musik apa?”

Aku menggelang

“Pyotr Ilyich Tchaikovsky”

“Ya Henry, aku tidak mengerti musik klasik dan siapa Caikovi itu, tapi aku menyukainya. Permainan biolamu sungguh hebat, daebak”

“Jinja?”, ia menatapku tidak percaya.

“Ne, musiknya itu seperti untuk cerita princess di negeri dongeng dengan pangeran dan penyihir. Awalnya penuh masalah tapi ujungnya pasti happy ending. Pangeran dan princess pasti menikah dan hidup bahagia selamanya”, mimpiku adalah memiliki kisah cinta seperti fairy tales hahaha. Kayaknya aku terlalu mengkhayal.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Mwao, aku tahu apa? Aku tidak tahu apa-apa?”

“Judulnya tadi adalah Sleeping Beauty. Ada prince yang tampan, princess yang cantik, dan witch yang kejam tentunya. Kau sepertinya lebih mengenal Tchaikovsky ini dibanding aku. Awal aku mendengarnya aku tidak membayangkan ke arah sana loh”

“Berarti sebenarnya aku lebih berbakat dari kamu dong Henry”

“Oh ya?”

“Ne, aku berarti sudah punya insting yang tajam mengenali musik. Cuman aku enggak bisa main biola saja. Tapi kalo aku belajar dengan baik, aku pasti bisa kayak kamu eh hehehe”, entah kenapa ya aku bsa bicara ngelantur dengan Henry.

“Ya sama saja dong kalo begitu. Apa benar kamu ingin bisa main biola?”

Aku menggaruk garukan kepalaku yang tidak gatal,”Aku ngerasa tidak punya bakat apa-apa Henry. Aku hanya ingin punya satu saja bakat yang bisa membuat Appa dan Omma-ku bangga. Bisa main biola keren juga”

“Kau berbakat Sulli. Siaranmu bagus”

“Sayangnya siaran tidak masuk hitungan Appa dan Omma”

“Kau bisa belajar biola denganku kalo mau”

“Jinja?”

Henry mengangguk pasti. Aku tidak tahu siapa yang memulai tapi kini kami berjalan bergandengan tangan, terasa ringan dan tanpa beban. Aku nyaman berbicara dengannya, ia juga homoris dan selalu membuatku tertawa. Tidak seperti ketika bersama Kibum. Hey kenapa Kibum muncul dalam pikiranku, mengganggu saja!

Tiba-tiba sebuah mobil sport melintas dan menghalangi jalanku dan Henry. Mobil mewah yang aku belum pernah melihatnya sama sekali. Henri berdiri di depanku dengan tangan kanannya tetap memegang tangan kiriku. Insting kami mengatakan akan ada masalah.  Sosok namja keluar dari mobil itu dengan angkuh. Aku terkesiap.

“Kibum-ssi!”

Namja itu berdiri di depanku dan Henry dengan angkuh dan dingin seperti es. Bergantian Kibum menatap aku dan Henry dengan pandangan menyelidik. Aku merasa diintimidasi oleh tatapannya yang tajam. Henry terus memegang tanganku erat dan membuat tanda semuanya akan baik-baik saja.

“Apa yang kalian lakukan malam-malam di tempat sepi seperti ini”

“Apapun itu, yang jelas itu bukan urusanmu!”, balasku sengit.

Ia menyeringai,” Ini menjadi urusanku karena Omma-mu menyuruhku untuk menjagamu”

“Kau membuntuti kami?”, aku berteriak tidak percaya.

Henry menahanku untuk tidak memaki-maki Kibum, “Maafkan aku Kibum-ssi, sepertinya kau salah sangka. Aku dan Sulli tidak melakukan apa-apa, kami hanya makan malam”

“Oh cuma makan malam? Mana bisa aku percaya. Ayo pulang Sulli, Omma sudah menunggumu dari tadi. Ingat kau janji untuk pulang tepat jam 9!”

“Tidak aku tidak mau pulang denganmu. Aku bersama Henry”

Kibum menatapku dan Henry bergantian dan terkejut melihat kami masih saling berpegangan tangan. Senyum sinisnya muncul.

“Kau harus menurut, demi kebaikanmu. Ayo”, ia menarik tanganku paksa tapi Henry menghentikannya. Sekarang kedua tanganku ditarik oleh Henry dan Kibum. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah untuk melepaskan tanganku.

“Maaf Kibum-ssi tapi aku yang mengajaknya berarti aku pula yang bertanggungjawab untuk mengantarnya pulang”

“Kau hanya akan membahayakannya saja”

“Aku akan menjaganya”, Henry berkata dengan sungguh-sungguh.

“Dengan membawanya pulang naik bis?”, namja itu meragukan Henry. Aish, Kibum benar-benar menyebalkan.

“Aku tidak masalah pulang dengan Henry naik bis, lebih ramai, lebih aman daripada berduaan saja di mobil, justru itu yang berbahaya”, aku mengibaskan pegangannya.

Ia tertegun dengan ucapanku,”Aku yang akan mengantarmu pulang, suka atau tidak suka!”

“Suka atau tidak suka, aku akan pulang BUKAN denganmu!”

“Ini perintah Omma-mu! Kau ingin melawannya?”

Seumur-umur aku tidak pernah melawan keinginan Omma dan Appa. Walaupun aku tampak ceroboh dan pecicilan, aku adalah anak yang berbakti.

“Sulli pulanglah bersama Kibum!”, Henry tiba-tiba melepaskan pegangan tangannya. Aku terperangah.

“Aku tidak mau kau jadi anak durhaka karena melawan keinginan Omma-mu. Omma-mu telah menyuruh Kibum-ssi untuk menjemputmu maka patuhilah. Jika bukan karena ada nama Omma, kalau aku harus bertarung dengan dia, aku pasti akan melakukannya untuk bisa mengantarmu pulang”

“Henry, aku…”, aku sedikit menangis, beberapa bulan ini aku memang cengeng sekali, entah kenapa.

Ia menepuk-nepuk pipiku dan membersihkan tetes airmataku dengan punggung tangannya,”Sudahlah, kapan-kapan kita bisa jalan-jalan lagi bukan. Syuut, aku tahu tempat makan lain yang enak dan murah dengan pemandangan yang bagus. Kau siap-siap saja jika kuajak”

“Tapi Henry…”

“Kapan-kapan kita latihan main biola ya. Sudah jangan nangis cup cup, kalo kamu nangis terus nanti aku panggil kamu Tweety loh”

Namja itu berhasil membuatku tersenyum,”Ya Henry, masa Tweety sih”

Beberapa meter dari arah kami. Kibum menatap aku dan Henry bergantian. Entah apa yang ada di pikirannya. Pancaran matanya tampak kelam dan beku. Tapi aku tidak perduli. Aku sudah tidak mau perduli lagi dengannya. Aku berusaha membenci Kibum-ssi.

“Sampaikan salamku untuk Omma dan Appa-mu ya”, Henry berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku hanya bisa menatapnya sedih.

Kibum mengamit tanganku, “Ayo masuk! Kita pulang” Kibum membukakan pintunya. Aku hanya menurut dengan perasaan marah.

————————————

Aku menyender duduk di tempat tidurku. Masih terisak-isak sedih karena kajadian malam tadi. Aku marah pada Kibum dan Omma? Aku juga merasa sedih dan malu pada Henry. Omma, tega banget sih sampai harus menelefon Kibum untuk menyusul dan menjemputku. Kenapa Omma tidak percaya padaku? Aku tidak akan berbuat macam-macam dengan Henry. Seharusnya Omma-lah yang harus waspada dengan Kibum karena namja itu telah mencuri ciuman pertama dan keduaku. Aku juga teramat marah pada Kibum. Aish kenapa namja itu selalu hadir dalam setiap langkahku. Padahal aku sedang berusaha untuk melupakannya. Jika ia memang tidak suka padaku, it’s fine tapi pergilah jangan terus-terusan berada dalam pandangan mataku. Memberikan perhatiannya tapi menghempaskanku ketika aku sudah mulai jatuh hati. Selalu saja begitu.

Aku dihantui perasaan bersalah pada Henry. Masihkah ia mau berteman dan siaran denganku? Ia sangat baik dan tidak egois seperti Kibum. Aku ingin sekali menelefonnya tapi aku merasa takut. Takut Henry benar-benar marah dan kecewa.

Tiba-tiba suara getaran HP membuyarkan isakan tangisku. Sebuah SMS masuk, aku membacanya.

Sulli, kau sudah sampai rumah? Aku mengkhawatirkanmu. Semuanya ok? Henry

Aku tersenyum, ada rasa bahagia yang muncul membaca smsnya. Henry ternyata tidak membenciku.

Sudah. Tidak ada masalah. Mianhae. Aku selalu buat masalah ya?

Henry membalas.

Malam tadi menyenangkan. Adegan perpisahan kita dramatis

Aku terkikik.

Ne, Seperti cerita drama.

SMS Henry

Hmm kamu sedang ngapain?

Tentu saja aku tidak mengatakan bahwa aku sedang menangis. Kemudian kuketik beberapa kalimat di HP-ku.

Masih membayangkan pertandingan makan dan menontonmu main biola

Jawaban Henry.

Akan kulakukan lebih sering jika kau mau

Aku membalasnya lagi.

Suka banget musiknya. Sedang berkhayal jadi princess

SMS Henry

Oke kalo begitu aku jadi pangerannya ya.

Deg entah kenapa ada perasaan lain ketika membaca text massage-nya yang terakhir. Aku membalasnya

Berarti kau harus memainkan biolamu itu setiap saat untukku

Beberapa detik kemudian

Tidak masalah. Cepatlah tidur sudah jam 11. Besok siaran

Aku menarik selimutku dan bergegas tidur

Iya. Aku tidur  Prince Henry. Bye

SMS terakhir.

Bye Sleeping Beauty. Prince Henry.

Aku tertidur dengan tersenyum bermimpi menjadi Sleeping Beauty yang disihir untuk tidur selamanya sampai seorang Pangeran tampan datang menciumku. Aku membuka mataku dan secara samar kulihat Pangeranku. Kukucek-kucek mataku dan kulihat dia sedang tersenyum. Kukira mataku rabun karena aku melihatnya berbayang dua. Tapi setelah mataku terbuka dengan sempurna. Pangeranku memang ada 2: Kibum dan Henry. Aku berteriak sejadi-jadinya jadi dalam satu waktu bersamaan aku dicium 2 pangeran. Ihh menjijikan. Aku menjerit!

 

—————————————————-

Sudah sebulan ini aku siaran tandem dengan Henry. Semakin mengenalnya, semakin aku tahu kepribadian dan talentanya. Ia namja dengan kepribadian paling hangat dan apa adanya yang pernah kutemui. Ia juga lucu, riang, dan selalu membuatku gembira. Ia adalah pendengar setiaku. Aku selalu cerita apa saja padanya dan ia akan mendengarkanku dengan baik. Kepiawaannya bermusik juga tidak hanya terbatas pada biola. Ia bisa main piano, drum, menyanyi. Aha pantas saja dia ditarik owners  SMent menjadi bagian dari Super Junior M.

Dan seperti biasa, setelah siaran Kibum akan menungguku di library dengan setumpuk tugas dan soal. Setelah siaran malamku berakhir ia tidak pernah lagi mengantar jemputku, kecuali pada saat kejadian aku pergi dengan Henry dulu. Walau kami hampir bertemu tiap hari tapi jarak aku dan Kibum semakin lebar. Kami hanya berbicara untuk urusan siaran dan kuliahku. Tidak lebih. Aku juga tidak berusaha untuk mencari perhatiannya seperti dulu. Sikapku juga seadanya karena ia juga memperlakukan tidak lebih baik. Sebetulnya jauh dalam lubuk hatiku, aku merasa sakit. Bagaimana sih rasanya mencintai seseorang, tapi orang itu mengacuhkanku. Tapi anehnya, ia masih sering mengunjungi Appa dan Omma jika aku sedang tidak berada di rumah. Mungkin Kibum berusaha menghindari pertemuan denganku. Tapi aku tidak perduli apa tujuannya datang ke rumah. Tepatnya berpura-pura tidak perduli. Kalaupun sekedar menduga-duga, mungkin ia memang mendapatkan kenyamanan ketika bersama orang tuaku tapi sayangnya tidak ketika bersamaku. Untunglah aku bukan yeoja sentimental yang selalu menangisi keadaan. Ketika satu pintu tertutup, pintu lain bukankah akan terbuka. Aku selalu optimis dengan kehidupan cintaku. Apalagi sekarang Henry sering masuk mengisi ruang hatiku yang sepi. Miminal aku tidak sesedih dulu. Ia selalu membuatku gembira. Tunggu, mungkinkah aku juga mencintai Henry?

“Ya belajar yang benar jangan melamun!”

Aku mendelik kesal ke arahnya. Sudah 2 jam ini aku dipaksa membaca banyak buku tebal berbahasa Inggris yang dibelikan Kibum saat dia ke Amerika. Sebulan ini ia memang sering bepergian ke luar negeri dan selalu pulang dengan membawa setumpukan buku dan PR untukku. Tidakkah ada oleh-oleh yang lebih menyenangkan? Sepatu , baju, CD begitu? Seleranya benar-benar payah!

“Kau pikir membaca buku ini mudah, aku harus benar-benar memahaminya satu persatu”

“Scanning and skimming, hanya itu yang perlu kau lakukan. Cerilah keywords yang penting baru membaca detil di bagian itu”

Aish Tuan sok pintar ini benar-benar menjengkelkan. Aku berdiri menyerah.

“Aku pulang ah, aku cape tiap hari belajar rasanya ingin muntah”

“Ingat kau harus lulus tahun ini atau kau mau menikah muda?”

“Rasanya menikah lebih baik daripada harus menderita begini”, jawabku asal,”Tiap hari selama 12 jam berturut-turut harus mengetik dan membaca buku. Aku jadi mual. Mungkin aku harus berpikir mengenai kemungkinan aku nikah saja. Toh menikah juga bukan pilihan yang buruk-buruk amat”

“Memang siapa yang mau menikahimu. Kau mau dengan ahjussi tua pilihan Appa-mu”

Aku mendengus sebal,”Kau terlalu meremehkanku. Banyak namja tampan yang suka padaku”

“Kau terlalu percaya diri Choi Sulli. Memang siapa namja tampan itu?”

“Henry! Dia tampan dan aku yakin dia mau menikahiku. Aku hanya tinggal memintanya!”

Bruk. Namja itu membanting buku yang ada di tangannyake atas meja. Suara buku terbanting membuatku terkejut. Aku menatapnya takut. Kulihat rasa marah di mimik wajahnya.

“Kau pikir apa yang sedang kulakukan ini hah! Menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk mengajarimu. Memastikan bahwa kau bisa menyelesaikan skripsi dan ujianmu dengan baik. Sekarang kau dengan mudah mengatakan lebih baik menikah di atas semua tanggungjawabku pada Omma dan Appa-mu supaya bisa menghindari kau dari drop out dan pernikahan”

Dasar namja gila, kenapa tiba-tiba marah, membuatku jadi tambah emosi saja,“Aku kan tidak pernah memintamu menolongku Kibum-ssi”, jawabku ketus,”Kau saja yang terlalu berlebihan”

“Oh ya dan sekarang dengan mudahnya kau berkata ‘tidak pernah meminta bantuanku’ dan “aku terlalu berlebihan”.

“Memang kenyataannya begitu kok. Kau yang datang ke rumahku, menawarkan diri untuk menjadi tutorku dan merasa bertanggungjawab untuk membuatku lulus. Lalu aku harus ngomong apa lagi?”

Kibum menatapku tajam dan tersenyum sinis, “Tidak pernahkah kau melihat seseorang bukan dari permukaannya saja. Apa hatimu terlalu keras sehingga tidak sensitif lagi melihat mana yang benar-benar tulus menolongmu?”

Aku menggelang, aku tidak paham maksudnya. Namja itu kenapa sih kalo bicara selalu abstrak,”Kalau kau tulus menolongku? Lalu kenapa marah?”

‘Aish, kau ini benar-benar…”, ia tidak melanjutkan pembicaraannya.

Aku belum pernah melihatnya semarah ini. Tapi aku tidak perduli dan aku puas membuatnya sakit. Kibum, aku akan menang dari permainan ini. Kita lihat saja, “Kalau kau tidak mau, jangan buang waktumu untuk mengajariku. Aku tidak butuh. Kalaupun aku harus drop out. Itu adalah tanggung jawabku”

“Ooh jadi begitu. Padahal aku memiliki niat baik. Aku hanya ingin kau lulus dan mengejar impianmu, melihatmu bahagia bukannya berujung dengan pernikahan karena perjodohan dengan orang yang tidak kau cintai. Aku bertahan untuk menjaga perasaanku sendiri supaya kau bisa lulus. Lalu itu jawabanmu?”

“Niat baik apa? Kau tidak ada hubungannya apakah aku lulus atau tidak. Terus kau menjaga perasaan apa? Menjaga perasaan karena sebenarnya kau tidak mau membantuku dan kau merasa kesal karena aku tidak bisa mengikuti permintaanmu. Ya ya ya Kibum-ssi memang sangat pintar, dan aku terlalu bodoh untuk bisa mengerti ajaranmu. Sudah ah, aku tidak mengerti kau bicara apa. Aku capek. Aku mau pulang!”

“Apa kau bilang? Capek? Kau masih bisa bermain, makan malam, dan nonton film hampir tiap hari dengan Henry. Apa itu capek?”

Aku terkejut, dia tahu semua kegiatanku dengan Henry. Mendadak aku merasa marah karena kegiatanku dimata-matai.

“Ya apa yang kau lakukan, memata-matai kami. Apa hakmu?”

“Aku berhak. Orangtuamu menyuruhku untuk mengawasimu”

Aish, Omma dan Appa masih saja tidak percaya padaku. Pulang nanti aku harus bicara dengan mereka untuk menyingkirkan sosok Kibum dari rumah kami..

“Sampai kau lulus semuanya selesai Sulli. Kau tidak perlu lagi diawasi oleh Orangtuamu. You are free, you can fly like a bird. Tapi kau harus LULUS, dan selama itu belum tercapai aku bertanggungjawab atas dirimu. Tapi kenapa kau tidak bisa bekerjasama untuk kebaikanmu sendiri?”

“Kenapa kau harus perduli padaku? Lulus, tidak lulus, menikah atau tidak menikah itu bukan urusanmu”, jawabku ketus

“Itu urusanku!”

Aku terhenyak dengan jawabannya

“Kenapa kau harus bertanggungjawab atas diriku Kibum-ssi? Kau tidak perlu melakukannya jika merasa terpaksa”

“Karena aku perduli padamu dan tidak pernah merasa terpaksa, paham? Selamanya aku selalu ingin memikul tanggung jawab atas dirimu, tidak boleh ada orang lain, Henry dan siapa lagi!”

Apa yang dia katakan barusan? Aku menatapnya tak percaya.

“Kenapa kau perduli padaku?”

“Karena kau adalah Sulli-ku”

Tiba-tiba percakapanku dan Kibum saat di rumahku dulu menggema dan berputar-putar di kepalaku.

“Apakah kau tahu perasaanku Kibum-ssi”

“Ne, kamu mudah ditebak Sulli”

“Aku adalah Sulli-mu tapi kau tidak mengijinkan dirimu menjadi Kibum-ku. Kalau begitu aku juga akan meninggalkanmu dengan mudah!

“Kau tidak akan bisa pergi dariku, ….selamanya kau adalah Sulli-ku”

“Tapi kau bisa, ini tidak adil!”

Percakapan yang membuat aku nyaris putus asa itu telah memercik kemarahan yang selama ini aku pendam. Aku tidak perduli bahwa namja di depanku adalah Kibum Sajangnim, direkturku.

 “Kau bersikap seolah-olah perduli padaku Kibum-ssi tapi sebenarnya kau menyakitiku perlahan-lahan. Kau tahu perasaanku tapi kau terus bermain-main dengan hatiku. Kau menciumku, kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak. Tapi setelah itu kau membuangku. Tapi kau terus berada di sekitarku. Bersikap seolah tidak ada apa-apa dan seperti punya hak atas hidupku. Lalu sikap apa yang layak aku berikan padamu. Apakah aku harus menjadi anak kecil yang diam karena diberi permen?”, amarah yang terpendam selama ini aku keluarkan tanpa mengenal tempat.

Namja itu menatapku tajam seolah menahan sesuatu yang berat.

“Aku tidak pernah membuangmu. Untuk saat ini kau hanya perlu menurut saja padaku!”

“Ya kau egois, keras kepala, mau menang sendiri. Enak saja menyuruhku tunduk padamu sedangkan kau tertawa di atas tangisan seseorang. Kau namja dengan sifat terburuk dan terbrengsek yang pernah aku kenal”

“Jaga bicaramu Sulli, kau tidak mengenalku dengan baik”

“Mengenalmu lebih dalam malah membuatku tambah menderita. Aku menyesal pernah mengenalmu. Aku benci Kibum-ssi!  Aku pulang! Aku tidak mau lagi belajar denganmu. Tidak perduli aku lulus atau tidak. “

“Aish, apa hatimu sudah membatu ya untuk bisa mengerti apa itu pengorbanan dan tanggung jawab? Orang tua mu? Semua yang menyayangimu? Mereka hanya memintamu untuk lulus. Dan kau berkata seperti itu. Kau bukan Sulli yang kukenal”

“Yeah. Kau memang tidak mengenalku, Kibum-ssi. Aku tidak sepolos yang kau kira. Aku bisa lebih jahat jika aku mau”

Dia bertepuk tangan,”Hebat, akhirnya aku tahu bahwa kau ternyata yeoja seperti itu. Menyedihkan”

Bahasanya entah kenapa begitu tajam menusukku.

Kuambil tasku dan segera berlari menuju pintu. Kibum menarikku dan menghempaskanku di sofa begitu saja. Aku berontak tapi dia langsung menindihku.

“Lepaskan aku, kau gila!”

Aku memukul-mukul dadanya tapi dia mencengkram erat kedua tanganku.

“Jika kau melihatku begitu buruk biar saja, aku tidak perduli. Lebih mudah menjadi namja seperti itu bagiku sekarang”

Ia menciumku dengan panas dan keras. Aku memberontak tapi aku tidak berdaya. Badannya terlalu kuat menekanku. Tanganku juga tidak bisa bergerak. Kibum tidak memberikan kesempatan sama sekali bagiku untuk melepaskan diri. Aku meronta-ronta, tapi itu hanya suara hatiku. Faktanya aku tenggelam dalam ciumannya yang liar, aku menikmati setiap sentuhan yang dia berikan, setiap sel tubuhku seperti spons yang haus akan air. Aku merindukan kedekatan seperti ini .

Ia melepaskanku. Aku pikir semuanya selesai. Tapi Kibum menciumku lagi, lebih panas dan menuntut dari sebelumnya. Jantungku berhenti berdetak. Aku terbawa suasana yang dia ciptakan. Kali ini aku membalasnya dengan perasaan yang sama. Suara hatiku tetap berteriak menolak tapi respon tubuhku berkata sebaliknya.

Kibum menyesap bibirku, mengulumnya membuat aku merasa di awang-awang. Aku tidak berani menutup mataku, aku takut kesadaranku hilang begitu saja. Ia pun menatapku dengan tatapan yang sangat kelam. Aku melihat amarah dan gairah dalam matanya. Aku tahu ini tidak baik. Tapi aku malah mengencangkan pelukanku ke lehernya. Kibum terus menciumku, mulai dari bibir kemudian mengarah ke kedua cuping telingaku,  turun ke dagu hingga leherku. Ia kemudian mencium bibirku kembali, menggigitnya. Aku benar-benar gila karena menginginkannya.

Kibum tiba-tiba melepaskan ciuman dan pelukannya dengan nafas terengah-engah. Aku menatapnya kaku. Ciuman kami begitu lama dan tidak memberikan kesempatan untuk sering bernafas. Sel otakku sudah bekerja kembali. Jika ini adalah permainan, aku lagi lagi kalah untuk kesekian kali. Dia selalu menang!

Ia berdiri menjauh, matanya kelam menatapku,”Seharusnya aku tidak sejauh ini, seharusnya kubiarkan  saja kau tidak diterima di perusahaan ini. Ini lebih mudah buatku dan juga untukmu!”

Dia membereskan buku-bukuku yang berantakan karena tertindih di sofa tadi kemudian memasukannya ke dalam tasku.  Kembali ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku membeku menatapnya. Ciuman tadi begitu dalam dan berani tapi lagi-lagi ia berlaku seperti tidak ada apa-apa.

“Sebetulnya skripsimu itu sudah selesai. Aku sudah membacanya kemarin, hanya kesalahan minor nanti kau bisa lihat sendiri. Tes yang kubuat untuk ujian remedialpun kau bisa menjawabnya dengan sempurna. Semuanya sudah selesai. Kau tidak perlu lagi belajar bersamaku. Semoga berhasil! Ini tasmu”

Ia kemudian pergi meninggalkanku sendirian di ruang library tanpa penjelasan apapun. Hey Kibum, kau telah menciumku tiga kali. Kau juga telah tahu perasaanku. Lantas kau dengan mudahnya meninggalkanku seperti ini, tanpa kepastian dan kejelasan. Jika kau tidak menyukaiku, stop menciumku, stop untuk memperlakukanku seperti yeoja murahan yang bisa didekati walau tanpa cinta. Namja brengsek tapi aku mencintainya!

Dengan hati yang kembali terluka aku menangis. Rasanya aku sudah tidak punya harga diri lagi sebagai seorang yeoja. Aku memang tidak pernah bisa menang darinya. Selama Kibum masih ingin bermain-main dengan hatiku, selama itulah aku akan terus jadi pecundang.

Di Luar Pintu Library

Author POV

Di balik sisi pintu kanan ruang library, seorang namja bertopi dan berjaket biru hanya bisa berdiri termangu sambil menenteng kantung plastik berisi aneka cemilan dan minuman. Ia telah mendengar dan melihat  semuanya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul, harapannya pupus begitu saja. Jika saja ia lebih pintar menduga dari awal tentunya ia tidak akan mengijinkan hatinya berlari sampai sejauh ini. Ia terlalu bodoh untuk berfikir bahwa hubungan Kibum dan Sulli hanya sebatas pekerjaan dan kedekatan dengan orangtuanya saja. Namja itu memandang kantung plastik yang dipegangnya. Tadinya ia ingin memberikan makanan dan minuman itu untuk menemani Sulli belajar. Tapi diurungkan niatnya. Ia bisa melihat dari balik pintu Sulli sedang tertunduk sedih dan menangis. Ada keinginan untuk menghiburnya membuatnya ceria seperti biasa. Tapi itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Bukan dia yang bisa membuatnya tersenyum. Jika Sulli-pun tertawa, itu hanya permukaannya saja hatinya tidak. Henry membuang kantung makanan itu ke tempat sampah kemudian pergi dengan perasaan sakit dan kecewa.

To Be Continued

Author nongol: Gimana readers DIL part 4? Sampai part ini Kibum masih agak nyebelin. Mianhaeeeee. Ga bosen ngingetin, kalo udah baca komen ya plissss, aku kan masih author baru alias abal-abal, jadi kalo dicuekin readers, jadi berasa ‘ff-ku jelek ya sampe ga ada yang mo baca’ . Kritikan dan masukannya ditunggu loh, mau muji juga ga pa2 hehehe.

Advertisements

72 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: DOUBT IN LOVE (PART 4)

  1. Eehhh??? ==a
    koment ku yg panjangnya 2 krts polio ilang jd cm 3 baris???
    #aigo…
    Chingu.. FF mu daebak!
    Kau berhasil membuatku geregetan bgt sm sikap kibum ke sulli
    (jd gk pnjng deh koment aku) #mian
    intinya ff mu daebak

  2. Kok kibum oppa gitu sih??? Sedih bacanya,, sebenernya Ά̲̣̥ƿά̲̣̥ sih perasaan kibum oppa yang sebenernya ke sully?
    Penasaran banget,,

  3. hiks 😥 ini baru menyesakkan …
    dan saya gk tau harus komen apa. cuma bisa turut merasakan kesedihan mereka bertiga.

  4. Kibum kenapa si?
    Yayh yaaa ini ff deabak daebak
    Yah d posisi sulli iti baper baper gimana gtu
    Pernah rasain soalnya
    Ga enak cooiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s