SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: DOUBT IN LOVE (PART 5)

Main Cast:

Kibum SUJU

Sulli f(x) = 20 years old

Henry Suju M

Additional Cast: Other Super Junior Members

Rating: PG-15

Genre: Romance, Angst, Friendship

Author: Kim Hye Ah

Disclaimer: Humans, things, and ideas in this ff belong to God

Chapter 1 Chapter 2  |   Chapter 3  |   Chapter 4  |

Resensi Cerita Lalu

“Kenapa kau harus perduli padaku? Lulus, tidak lulus, menikah atau tidak menikah itu bukan urusanmu”.

“Karena aku perduli padamu dan tidak pernah merasa terpaksa, paham? Selamanya aku selalu ingin memikul tanggung jawab atas dirimu, tidak boleh ada orang lain, Henry dan siapa lagi!”

Chapter 5

6 Months Later

Sulli POV

Semenjak kejadian tidak mengenakan di library dulu, besoknya Kibum tidak pernah muncul lagi di kantor. Bahkan berita-berita di majalah dan koran menyebutkan bahwa Kibum hiatus dari Super Junior sampai waktu yang tidak jelas kapan dan entah karena apa. Beberapa staf HRD mengatakan Kibum bahkan telah mengundurkan diri dari jabatannya di Suju Radio juga tanpa alasan yang jelas. Orang-orang tentu saja menanyakan keberadaannya padaku. Tapi aku sendiri tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu kemana ia menghilang. Sekarang sudah hampir 6 bulan Kibum pergi tanpa ada kabar berita. Aku nyaris putus asa untuk mencari tahu dimana keberadaannya. Aku selalu mengunjungi rumahnya tapi nihil. Rumah itu tidak pernah ditempati lagi sejak kudengar Kibum menghilang. Aku pernah mencoba pergi ke kantor tempat Ha Neul Eonni, kakak Kibum bekerja, tapi ternyata kantor Eonni sudah pindah dan tidak ada yang tahu pindah ke mana.

Sampai akhirnya aku nekat untuk menemui Siwon, CEO SUJU Radio. Tapi jawaban yang ia berikan sangat klise dan menggantung.

“Ia sedang cuti untuk urusan pribadinya. Aku ingin menahannya tapi apa yang akan ia lakukan lebih penting dari sekedar menjadi PD di sini. Aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Jika ia ingin kembali ke SUJU Radio, aku akan menerimanya setiap saat”

Hanya itu keterangan yang bisa aku dapat. Tapi keterangan yang Siwon-ssi berikan membuatku semakin cemas dan penasaran. Berulang kali aku mengirimi Kibum email atau menelpon dan meng-sms-nya. Tapi semua koneksi dengan nomor HP-nya selalu mati. Namja itu juga tidak pernah membalas e-mailku. Walaupun aku membencinya tapi aku mengkhawatirkannya. Aku merasa bahwa akulah penyebab dia pergi karena dia menghilang sehari setelah pertengkaranku dengannya. Apakah kata-kataku terlalu kasar untuknya? Apakah ia sakit hati padaku?

Baiklah aku pernah mengatakan aku menyesal telah mengenalnya. Tapi aku lebih menyesal jika ia pergi seperti ini. Entah berapa ratusan sms dan email yang aku kirimkan untuk menanyakan kabarnya. Dari yang asalnya surat formal menanyakan kabarnya, permintaan maaf, sampai surat yang akhirnya sarat dengan emosi dan kemarahan. Aku pikir aku juga telah sama gilanya dengan Kibum. Kau pikir apa yang dipikirkan namja itu ketika membaca suratku yang penuh amarah dan sumpah serapah. Mungkin ia berfikir aku adalah sejenis pyscho. Berarti aku lebih gila dari Kibum? This love makes me going crazy.

Bertanya dengan Kyuhyun-pun tidak ada bedanya. Ia malah membuatku semakin bersedih.

“Kenapa kau jadi perduli padanya. Bukankah kau hanya memanfaatkan kebaikannya saja selama ini”

Mungkin memang benar tuduhan Kyuhyun. Aku selama ini hanya memanfaatkannya saja, membuatnya harus mengantar jemput tiap malam dan membantuku belajar tiap hari. Sedangkan yang aku lakukan hanya membuatnya kecewa. Aish, aku sungguh orang yang tidak tahu berterima kasih.

Kibum tidak pernah tahu bahwa aku menangis tiap malam merindukannya. Berharap Kibum akan datang. Tidak masalah jika Kibum tidak datang untukku asal aku masih bisa melihatnya di sekelilingku, itupun sudah membuatku sangat bahagia. Tapi dia tidak pernah muncul hilang begitu saja seperti asap.

“Kau melamun Sulli?”, Henry tiba-tiba membuyarkan lamunanku

Aku tersentak karena terkejut,”Aniyo, aku hanya sedang melihat poster Lady Gaga yang baru ditempel itu. Bagus”, aku berdalih berpura-pura sedang mengagumi poster besar yang menempel di dinding sebelah kanan studio siaran.

“Siaranmu tampak tidak bersemangat akhir-akhir ini”, ujar Henry pelan. Saat itu sedang break iklan sehingga namja itu bisa leluasa ngobrol denganku.

“Perasaanmu saja kali Henry. Zhoumi mengatakan siaranku tambah ceria malah”

Namja itu tersenyum pendek. Yeoja di depannya memang pandai berakting. Seolah-olah sedang gembira, padahal tidak. Mungkin hanya dia yang merasakan perubahan aura dalam nada suara dan bicaranya pada saat siaran. Sulli tetap riang, ramah, dan bersemangat ketika menyapa pendengar. Tapi entahlah bagi Henry itu semua tampak palsu. Namja itu bisa merasakan kesedihan pada setiap nada bicaranya.

“Kau ada waktu sore nanti Sulli?”

Aku menggelengkan kepala.

“Kita jalan-jalan yuk”

“Kemana Henry”

“Kemana saja yang penting bisa membuatmu senang”

“Aku lagi tidak mood nih”

“Sayang sekali, padahal aku mau traktir kamu makan loh. Kamu kangen kan makan di tempat Ahjumma yang menyuruhku main biola itu”

Mendengar kata ditraktir makan di tempat Ahjumma itu, sebagian dari diriku kembali bersemangat. Aku mengangguk padanya tanda setuju,”Iya deh aku mau, tapi bener ya ditraktir soalnya aku belum gajian nih”

“Beres. Nah gitu dong Tweety, fighting!”

“Aish Henry, aku bukan Tweety tahu”

Itulah Henry, dia tidak pernah lelah untuk membuatku merasa gembira. Ia selalu saja tahu ketika aku sedang bersedih karena tiba-tiba mengingat Kibum. Namja itu seolah-olah hadir untuk menggantikan Kibum dalam hatiku. Di tengah kesibukannya, ia selalu ada untukku, memperhatikanku, dan berusaha membuatku tersenyum.Ah Henry, kenapa Kibum tidak seperti kamu saja sih.

Beberapa bulan terakhir ini  juga aku disibukkan dengan ujian remedial dan seminar ‘defense’ untuk mempertahankan penelitianku pada pengujiku. Sungguh bulan-bulan yang amat berat tapi Kibum telah berhasil membekaliku dengan ilmu. Buktinya aku bisa dengan mudah menjawab soal exam dan mempertahankan argument skripsiku di depan para professor itu. Tapi di balik cerita sedih tentu selalu ada kabar membahagiakan. Aku lulus dengan IPK 3,85 berarti aku cum laude bukan? Orangtuaku tentu saja sangat bahagia.

Dan hari ini adalah hari yang menegangkan karena besok adalah hari graduation-ku. Beberapa jam lagi aku layak menyandang gelar Bachelor of Art. Hatiku begitu bahagia karena pengorbananku untuk lulus begitu berat.

Sambil duduk di bangku taman, aku menyaksikan bagimana orang-orang berfoto di bawah pohon Sakura yang berbunga pink dan putih. Bunganya merekah indah. Spring adalah musim terbaik dari semua musim yang ada. Hawanya tidak begitu dingin tapi juga tidak panas. Rasanya aku lulus pada saat yang tepat, pada saat orang berbahagia menikmati pergantian musim dari dingin ke sejuk seperti ini. Semuanya bahagia, kecuali aku.

“Sulli”, tiba-tiba seorang namja berlari dengan tergopoh-gopoh mendekatiku. Aku tersenyum menyambutnya. Henry membuka kaca mata hitanm dan topinya. Sejak ia mentraktirku makan kedua kalinya di rumah Ahjumma pemilik biola tua itu, aku memang jarang bertemu dengannya.

“Maaf aku terlambat, kau tahu kan Super Junior M akan segera mengadakan konser serentak di Asia Timur, waktu latihan benar-benar padat”, ia masih terengah-engah kemudian duduk di sampingku.

Aku masih tersenyum,”Tampaknya kau semakin popular saja Henry. Tuh liat fansmu! Mudah-mudahan saja aku tidak dimusuhi karena bersamamu”

Aku menunjuk ke arah puluhan yeoja yang berkumpul di belakang Henry dan terus memanggil manggil namanya.

“String adalah fansku yang baik, mereka malah senang jika aku jalan dengan yeoja, berarti aku namja normal dan sehat hehehe”

Aku mengangguk-angguk. Memang sudah beberapa bulan ini sejak Kibum menghilang, aku memang sering jalan berdua dengan Henry. Bukan berarti aku melupakan Kibum, tapi bersama Henry aku merasa nyaman. Mungkin tepatnya, aku membutuhkan seseorang untuk berdiri tegak pada saat dimana hatiku sedang hancur dan rapuh karena merindukan Kibum. Namja itu hadir pada saat yang tepat dan ia sangat memperlakukanku dengan baik.

“Jadi ada apa kau memanggilku ke sini Sulli?”

Aku mengambil sesuatu dari ranselku,”Aku ingin memberikan dua undangan ini untukmu. Satu supaya kau datang di acara kelulusanku besok dan kedua untuk menemaniku di pesta dansa. Kampus kami selalu mengadakan pesta dansa sehabis acara wisuda”

Namja itu tersenyum riang. Entah kenapa setiap melihat Henry hatiku jadi tenang dan damai. Sebagai seorang teman dekat, ia sangat tidak menuntut dan selalu mendukungku.

Henry membuka surat undangan itu dan membacanya hati-hati. Tiba-tiba mimik wajahnya berubah, tidak seceria tadi. Mungkinkan ia tidak suka dengan undanganku?

“Sulli bisakah kita mencari tempat yang lebih privacy, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu”

“Ada apa?”

Sambil bertanya-tanya, akhirnya aku dan Henry menemukan restoran yang agak sepi. Aku dibuat penasaran dengan tingkahnya yang berubah jadi serius. Setelah memesan beberapa makanan dan cemilan, kami kini mulai bercakap-cakap. Aku yang memulai pembicaraan karena penasaran.

“Ada apa sih Henry? Aku jadi merasa tidak enak begini jadinya”

“Kau benar-benar ingin mengundangku pada acara yang sangat penting seperti ini?”, ia menunjukan kedua undangan tadi,”Are you sure?”

Aku mengangguk,”Ya tentu saja”. Ya tentu saja kepada siapa lagi. Henry-lah chingu yang paling dekat sekarang ini.

“Aku tersanjung. Aku akan berpakaian sebaik mungkin di acaramu besok supaya kamu tidak malu”

“Aish, kenapa harus malu, kau selalu kelihatan keren”

“Menurutmu aku keren?”, dia berbalik menanyakan pendapatku.

“Namja yang bermain biola sambil nge-dance akan selalu kelihatan keren dimataku”

“Hahaha kau ini! Aku tidak ingin kelihatan keren di depanmu, aku hanya ingin terlihat namja yang baik untukmu”

Aku sedikit tercekat dengan pernyataannya, “Kau memang selalu baik untukku Henry. Sungguh aku tidak bohong”

Namja itu kemudian terdiam, suasana hening sejenak sampai kemudian ia mengambil sesuatu dari kantung jasnya. Sebuah cincin!

“Hmm, sebenarnya dari dulu aku ingin menyerahkan ini. Mudah-mudahan kau suka Sarangheyo Sulli-ah!”

Aku tertegun melihat cincin emas dengan tahta berlian mungil di atasnya, begitu cantik dan manis. Harganya pasti sangat mahal. Aku menatap Henry tidak percaya. Kutajamkan pendengaranku. Ia memang berkata sarangheyo padaku.

“Maaf membuatmu tidak nyaman tapi kupikir ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya”

Aku tersenyum, memang seharusnya seperti ini kisah cinta dibuat. Bukan dengan kemarahan dan ketidakpastian seperti yang aku alami dengan Kibum, tapi mengalir tenang dan menenangkan seperti yang aku rasakan dengan Henry.

“Maukah kau jadi yeoja chingu-ku?”

Sebetulnya mudah sekali aku mengatakan iya, karena tidak ada lagi namja yang dekat dan memberikan perhatian lebih padaku seperti Henry akhir-akhir ini. Tidak ada pilihan lain selain dirinya. Ia selalu hadir menemaniku saat susah dan gembira. Ia selalu membuatku merasa nyaman dan damai. Tapi hati ini masih mengharapkan Kibum. Sulit sekali untuk mengusir sosoknya dari ingatanku. Tapi aku harus memilih dan  karena otakku sudah ingin mengusir jauh sosok Kibum dari kesadaranku, Henry-lah yang terpilih. Kali ini logikaku yang berjalan, aku hempaskan suara hatiku yang menangis ketika aku mengangguk di depannya. Sejak mengenal Kibum, aku percaya bahwa cinta kini harus datang dari logika juga. Aku tidak mau terbawa perasaan seperti yang terjadi antara aku dan Kibum dulu. Rasanya begitu menyakitkan jika ternyata gagal. Bersama Henry rasanya aku bisa mengatur kehidupan cintaku dengan baik.

Henry tersenyum,”Sekarang tatap mataku baik-baik dan jawablah pertanyaanku. Kau tidak boleh menunduk. Sekarang jawablah, apakah kau mencintaiku juga?”

Baiklah akan kukatakan padanya. Aku bersiap untuk mengatakan Nado Sarangheyo. Tapi ketika aku menatap kedua bola matanya yang lembut memandangku seolah menuntut kejujuran. Entah kenapa lidahku terasa kelu, mulutku berat untuk mengatakan Sarangheyo sambil menatap Henry begitu rupa. Otakku tidak bisa bekerja dengan jernih. Hatiku malah ingin muncul dengan terus berteriak Sarangheyo Kibum! Henry menatapku menunggu jawabanku. Keringat dingin mengucur deras di pelipisku. Aku seperti dipaksa untuk mengatakan yang tidak aku rasakan. Aku tidak mencintai Henry, aku hanya menyayangi dan membutuhkannya. Aku tidak bisa lebih jauh dari itu dan aku juga tidak bisa berbohong padanya.

Aku tertunduk, “Mianhae aku tidak bisa Henry”

“Sudah kuduga”, ujar Henry,”Sudahlah aku mengerti dan tidak memaksamu. Cinta tidak dapat dipaksakan Sulli”

Ia kemudian mengambil sesuatu lagi dari kantung jasnya, undanganku?

“Sebetulnya aku sedang memancing kejujuran darimu. Jangan salah mengerti, aku memang benar-benar mencintaimu’, ia meyerahkan kedua undangan itu, “Sebenarnya aku tidak berhak atas undangan ini walaupun aku ingin sekali menemanimu, menjadi pangeranmu di acara yang paling penting besok. Tapi aku tidak boleh bersenang-senang di atas usaha keras seseorang. Undangan ini adalah hak Kibum-hyung. Kau harus memberikannya pada dia”

“Henry apa yang kau katakan, kenapa kau menyebut-nyebut Kibum, dia masa lalu bagiku. Aku bahagia denganmu. Mianhae jika aku belum bisa mengatakan sarangheyo, tapi aku bersedia menjadi yeoja chingumu”

“Kebahagiaanmu adalah kebahagianku, kesedihanmu adalah kesedihanku. Tidakkah aku juga ikut menderita menyadari bahwa kau merindukan Kibum selama ini. Kau tertawa bersamaku tapi hatimu menangis Sulli, jujurlah!”, namja itu menggengam tanganku,” Sampai kapanpun aku tidak bisa benar-benar membuatmu tersenyum karena hanya Kibum-lah yang ada di hatimu”

Hatiku gamang mendengar pernyataannya. Ia tahu semua isi hatiku. Apakah aku seperti buku terbuka sehingga mudah sekali terbaca.

“Tidak Henry, berikan aku waktu lebih lama, aku akan buktikan bahwa aku bisa melupakan dia”

Aku menangis. Aku tidak mau kehilangan orang-orang yang penting dalam hidupku untuk kedua kalinya. Setelah Kibum, kemudian Henry. Aku tidak rela.

“Demi kebahagianmu, aku harus rela melepasmu Sulli”

“Henry, jika kau mencintaiku kenapa kau tidak menahanku, kenapa? Bukankah tadi kau memintaku untuk menjadi yeoja chingu-mu. Lalu kenapa kau malah menolakku? ”

Henry terdiam, aku mulai menangis sesegukan. Ia menghampiri dan memelukku. Aku menangis dalam dekapannya.

“Jika bisa aku menahanmu pasti aku akan melakukannya tapi itu malah akan menyakitimu dan aku juga”

Aku menatapnya memohon, “Jangan kau usir aku dari hatimu Henry, maafkan jika kau tahu semuanya. Aku tidak berbohong soal perasaanku pada Kibum, memang begitulah kenyataannya. Tapi hanya kau namja yang dekat denganku dan aku tidak mau kehilanganmu”

“Aku tidak mengusirmu Sulli. Tahukah kau, mengatakan ini begitu berat buatku. Damn I wanna be your man you know that!. Tapi itu tindakan yang licik sekali. Aku hadir diantara kalian berdua yang seharusnya tidak aku lakukan. Tapi aku teramat mencintaimu. Tapi aku juga tidak sanggup jika kau mencintaiku dengan setengah hati. Aku ingin semuanya dari dirimu, semua hatimu, tidak terbagi antara aku dan Kibum. Dengan sabar aku menunggu keajaiban itu. Tapi semakin aku bersabar semakin aku melihat jelas bahwa Kibumlah yang selalu ada di pandangan matamu. Apakah kau juga memikirkan perasaanku?”

Aku tidak tahu bahwa apa yang Henry tahu tentang perasaanku membuatnya sakit. Tapi namja itu tidak pernah menunjukannya sama sekali. Ia selalu bersikap sangat baik dan manis kepadaku.

“Maafkan aku Henry, aku tidak menyangka semua ini menyakitimu. Tapi mari kita mulai dari awal lagi, kau mau? Aku akan berusaha keras untuk mencintaimu sungguh”

“Cinta tidak bisa dipaksa Sulli. Semakin kau berusaha keras semakin kau menyadari bahwa kau mencintai Kibum. Bukankah kau sudah berusaha keras untuk bisa menyukaiku. Tapi itu malah membuatmu semakin terpuruk. Jujurlah padaku Sulli, kau ingin Kibum kembali”

Aku menangis semakin terisak-isak. Dengan bahasa lembutnya. Henry telah berhasil menguliti setiap lapisan dinding yang aku bangun untuk menutupi perasaanku pada Kibum,”Iya iya baiklah, aku ingin dia kembali. Aku memang merindukannya. Tapi aku tidak mau berharap pada sesuatu yang tidak pasti karena itu menyakitiku. Tolonglah Henry bantu aku untuk mendapatkan jalan terbaik”

“Kau mau aku membantumu?”

Dia melepaskan pelukannya, aku mengangguk. Ia membersihkan bekas tangisan di pipiku dengan punggung tangannya,”Tapi janji ya, kau tidak akan menangis lagi Tweety?”

Aku mengangguk penuh harap. Tolonglah aku Henry, raihlah aku dari keterpurukan ini

“Kalau begitu ayo kita pergi!”

Setelah meletakan beberapa ribu won di atas meja makan. Dia menarikku ke arah motor Harley-nya. Aku bingung dengan sikapnya. Henry tetap bersikap tenang dan lembut seperti biasanya.

“Kita akan ke mana?”, aku berteriak kencang dari belakang motor.

“Kau akan tahu nanti. Sekarang pegangan yang kuat dan pakailah helm ini karena aku akan ngebut siang ini!”

———————————–

Aku dan Henry telah berada di depan sebuah rumah mewah berarsitektur art deco dalam waktu 15 menit saja. Ternyata Henry sangat agresif saat mengendari motor di jalan. Aku sampai tidak mampu berteriak saking takutnya ketika motor besarnya meliuk liuk cepat di jalanan.

“Ini rumah siapa?”

Henry turun dari motornya. Ia menyerahkan 2 undangan kelulusanku.

“Kau tinggal masuk ke dalam rumah itu dan  kau akan tahu sendiri apa yang harus kau lakukan. Ini semacam insting kau pasti mudah melakukannya. Ayo masuk!”

“Eh, kau tidak ikut Henry?”

Aku berhenti berjalan ketika melihat Henry beranjak pergi.

“Aku hanya sampai di sini Sulli. Aku tidak berhak ikut campur atas apa yang akan terjadi di rumah itu. Tapi tenanglah semua akan baik-baik saja, seperti yang kubilang ikuti saja instingmu”

“Tidak, aku tidak mau kalo begitu. Aku ikut kau saja”, aku berlari menyusulnya.

“Tidak bisa! Bukankah kau memohon bantuanku untuk mendapatkan jalan keluar. Inilah yang bisa kulakukan untukmu, karena selanjutnya mungkin aku tidak berhak lagi”

“Henry, kata-katamu membuatku sedih. Aku tidak mau kehilanganmu”, ini bukan masalah siapa yang kau cintai, Kibum atau Henry. Tapi ini tentang merasa kehilangan seseorang yang pernah begitu dekat denganmu. Siapapun pasti tidak akan rela.

“Dengar Sulli, kau harus masuk ke rumah itu tanpa aku. Lupakan soal aku pernah memintamu menjadi yeoja chingu-ku”

“Tidak Henry, aku akan bersamamu”, aku bersikeras.

“Tidak. Ingat kau harus meraih cintamu kembali. Jangan kecewakan aku Sulli. Aku ingin melihatmu bahagia”

“Kau benar-benar akan meninggalkanku?”

“Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau hanya tinggal datang padaku jika butuh bantuanku. Ingat kau mencintai Kibum bukan?”

Aku terdiam.

“Berjuanglah demi perasaanmu. Aku akan membencimu jika kau tidak berhasil meraih cintamu. Semoga berhasil Sulli. Fighting!”, ia tersenyum kemudian memelukku sebentar.

Aku harus berjuang untuk mendapatkan orang yang kucintai. Baiklah, aku mengerti. Demi Henry yang akan membenciku jika aku menyerah dan demi perasaanku pada Kibum.

“Henry! Tunggu!”

Henry berbalik, aku menghampirinya sambil berlari-lari. Kuambil sebuah kotak mungil dari tasku,”Henry, ini cincinmu aku tidak berhak menyimpannya,terimalah!”

Henry tersenyum, membawa cincin itu dan memelukku lagi sesaat.

“Kau tahu aku akan sangat merindukanmu. Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang kulakukan. Jangan menangis lagi ya Tweety”, ia menepuk-nepuk punggungku.

Aku menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Ini seperti adegan perpisahan. Aku tahu setelah besok, hubungan ini tidak akan pernah bisa sama lagi. Henry kemudian pergi melesat dengan motor besarnya membawa setumpuk perasaan sedih dan juga gembira. Jika yang dimaksud cinta itu adalah pengorbanan, seperti itulah hal terbaik yang dapat ia lakukan untuk yeoja yang dikasihinya. Selamat tinggal Sulli, Sarangheyo! Beberapa tetes air mata tanpa disadari keluar dari pelupuk mata Henry. Beginilah cinta itu baginya, selalu memberi tanpa menuntut balas.

Di tikungan jalan yang lain. aku berdiri mengumpulkan semua kekuatan untuk bisa masuk ke rumah itu yang ternyata gerbangnya tidak terkunci sama sekali.  Aku melewati halamannya yang luas dan bergegas mendekati teras yang menuju ruang tamu. Tapi sebelum sempat memencet bel, seseorang telah keluar dari rumah itu.

“Sulli?”

Aku menatap tidak percaya.”Ha Neul Eonni?”

“Suatu kejutan kau datang kemari Sulli, mari masuk”, yeoja cantik itu mengajakku masuk ke rumahnya. Tapi aku buru-buru menolak karena kulihat Eonni tampak seperti akan pergi.

“Tidak usah Eonni, aku ke sini sebentar saja hanya ingin menyerahkan ini”

Aku mengangsurkan kedua undangan itu,”Aku mohon untuk memberikannya pada Kibum-ssi”

Yeoja itu membaca isi surat undanganku, wajahnya ikut gembira

“Kau besok diwisuda selamat ya?”

Ia memelukku hangat.

“Terimakasih Eonni, maafkan jika mengganggu waktu Eonni. Eonni tampaknya akan pergi, aku mohon pamit”

“Sulli tunggu dulu”

Aku berhenti melangkah, yeoja cantik itu mendekatiku,”Maukah kau menemaniku minum teh?”

———————————–

1 hour later

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan adikku?”, tiba-tiba ia memecahkan keheningan dengan pertanyaan berat seperti itu.

Teh yang baru saja masuk ke mulutku tiba-tiba membuat tenggorokanku tersedak. Aku tidak siap dengan pertanyaan sejenis itu dari kakak seorang Kibum.

Kim Ha Neul menyesap tehnya pelan, kami sekarang berada di sebuah café tidak jauh dari rumahnya. Kue kue kecil yang mengundang selera tersusun dengan manisnya di depanku. Aish jika saja dia bukan kakak Kibum, mungkin aku akan menghabiskan semuanya dengan rakus.

“Dia adalah atasanku dan aku adalah bawahannya. Itu saja”

“Lalu kenapa kau memberikan undangan ini kepadanya bukan kepada yang lain?”

“Karena dia berhak atas undangan itu Eonni”

Aku mengulangi kata-kata Henry yang terngiang di kepalaku. Kibum-hyung yang berhak atas undangan ini.

Eonni menatapku penuh tanda tanya lantas kujelaskanlah semua kronologis ceritanya. Bagaimana Kibum menawarkan dirinya untuk membantuku lulus kuliah, bagaimana ia mengajariku dengan sabar dan teliti, dan bagaimana ia menghabiskan banyak uangnya untuk membeli banyak buku asing di luar negeri untukku. Aku melupakan bagaimana Kibum selalu bersikap dingin dan kasar kepadaku. Ha Neul Eonni tersenyum keheranan.

“Aish Kibummie bagaimana bisa ia melakukan itu”

“Mungkin karena ia tidak mau melihat ku di drop out. Appa  mengancam akan menikahkanku dengan paksa jika aku tidak lulus”

“Yaya aku mengerti tapi kenapa ia memilihmu?”

“Maksud Eonni?”

“Kibum adalah adikku yang luar biasa. Ia sangat pintar, IQ nya saja 138. Dari kecil sampai kuliah ia selalu menjadi yang terbaik. Kau tahu banyak yeoja yang memujanya. Mereka sering meminta Kibum untuk mengajari mereka pelajaran. Tapi selalu ditolak. Bahkan ketika guru-gurunyapun meminta Kibum untuk membantu mengajari teman-temannya, ia tetap saja menolak. Sampai-sampai orangtua mereka memohon-mohon pada Kibum, adikku itu tetap tidak mau. Padahal apa susahnya sih berbagi pengetahuan dengan orang lain. Kau tahu kenapa?”

Aku menggelang sambil menyesap tehku.

“Karena ia tidak suka dipaksa harus bicara”

“Mwao? Apa maksudnya?”

“Waktu lahir, orangtuaku sampai mengira ia bisu. Tapi ternyata tidak. Ia hanya tidak mau bicara saja. Dari kecil ia selalu menyendiri. Jika anak-anak sebayanya sedang bermain, ia pasti akan berada di pojok belakang memandangi mereka. Kami sangat khawatir melihat perkembangannya karena emosinyapun jadi tidak terkendali. Kadang diam kadang meledak ledak. Tapi terapi-pun hanya membantunya sedikit. Kibummie sudah mau berbicara tapi seperlunya saja”

Aku mendengarkan penuturan Eonni baik-baik. Aku ingin mengenal Kibum lebih banyak.

“Setelah diperiksa oleh psikolog ternyata ia menderita semacam kesulitan untuk mengekpresikan diri melalui bahasa verbal. Jika tidak disalurkan maka ia akan meledak-ledak seperti itu.  Aish aku lupa apa istilahnya. Tapi ia berubah menjadi lebih ceria ketika ia mengenal musik. Ia tidak terlalu sering tertekan lagi”

Eonni memainan sendok di tangannya, matanya menerawang ke arah jendela restoran. Ternyata hujan turun membuat suasana di ruangan ini terasa lebih dingin.

“Walaupun begitu kondisi itu tidak akan pernah hilang hanya bisa dikendalikan. Hal itu membuatnya menjadi tidak percaya diri. Makanya ia menolak ketika diminta untuk mengajari teman-temannya, ia takut tidak bisa menyampaikan apa yang ada dipikirannya dengan baik. Ia tidak mau mengecewakan teman-temannya. Ia sering mendapat masalah karena ketidakmampuannya itu.  Kau tahu ia sering dicap nakal karena ia tidak bisa memilih kata yang tepat untuk berbicara. Dianggap tidak sopan, anak kurang ajar. Padahal ia tidak ada maksud untuk berkata buruk. Tapi untunglah karena kepintarannya membuat ia selalu dibela”

Hatiku tercekat mendengar penuturan panjang lebar dari Ha Neul Eonni, sebegitu parahkah ketidakmampuan Kibum dalam berkomunikasi?

“Parahnya sampai dewasa hal itu masih terjadi, jika ada yeoja yang mendekatinya ia akan cenderung lari. Jika yeoja itu memaksa, maka ia akan bersikap kasar supaya yeoja itu mundur. Apabila ia menyukai seseorang, ia akan memilih menghindar daripada mengutarakan perasaannya. Selalu menjaga jarak, yah seperti itu. Kalau ia ingin mengatakan perasaannya selalu berputar-putar tidak straight to the point”

Ya ya memang itulah Kibum yang kukenal.

“Kau mengerti kenapa, Sulli?”

Aku menggelang.

“Ketika akan berbicara apalagi jika pembicaraan itu begitu penting, ia harus berfikir dan memilah dahulu, apakah kata-kata itu tepat diutarakan, sopankah? Baguskah? Tidak otomatis seperti kita. Dan ia bisa membutuhkan bermenit-menit hanya untuk menyusun beberapa kalimat saja”

Aku tertegun mendengar penuturan panjang lebar dari Ha Neul Eonni. Aku tidak menyangka seperti itukah Kibum sebenarnya.

“Aish kenapa aku jadi bicara ngelantur seperti ini ya Sulli”

“Tidak apa-apa Eonni, aku senang Eonni mau mempercayakannya padaku. Aku jadi lebih mengetahui Kibum-ssi”

“Apakah kau menyukai Kibum-ku?”

Aish Eonni ini pertanyaannya selalu saja membuatku tidak bisa bernafas. Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa.

Ha Neul Eonni tersenyum,”Kau tahu, aku telah mencicipi cake chocoberry dan bulgogi buatanmu loh, enak sekali. Kau tidak boleh pelit berbahagia rahasia resepnya denganku ya”

Aku mengangguk.

“Kau membuat semuanya dari hati. Itulah mengapa hadiahmu begitu berbeda. Padahal Appa menghadiahkan rumah mewah tapi ia hanya datang sekali-kalinya”

Aku jadi teringat rumah mewah yang aku kunjungi bersama Kibum setengah tahun lalu. Jangan-jangan Eonni tahu kalo aku juga pernah datang ke rumah itu. Mudah-mudahan ia tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Kibum di dalamnya.

“Kau membuatnya karena kau menyukainya bukan Sulli?”

Rasanya aku tidak harus berkata apa-apa lagi. Eonni mungkin bisa menebak dengan mudah perasaanku. Aku mengangguk pelan. Wajahku memerah karena malu.

“Lalu kenapa kau tidak menahannya?”

“Mwao ? Aku tidak mengerti maksudmu Eonni”

“Jika kau menyayanginya kenapa kau tidak menahannya. Kau melepaskannya pergi. Itulah yang telah kau lakukan”

Aku menggigit bibirku bingung.

“Maaf Eonni tapi kesalahan apa yang telah aku lakukan. Aku tidak melepaskannya, Kibum-ssi lah yang pergi”

“Kibum pergi? Mau pergi ke mana dia? Ketika dia sudah menetapkan hatinya dia tidak akan pernah pergi. Mungkin di permukaan terlihat seperti itu tapi dia akan selalu ada dalam jarak yang ia tentukan untuk bisa bersama dengan orang yang dipilihnya.Tidak akan pernah terlalu dekat tapi juga tidak menjauh.  Begitulah aku mengenalnya”

Satu lagi kesamaan kakak beradik ini. Gaya bicara yang terlalu abstrak sehingga butuh otak yang tajam untuk mencerna setiap perkataannya. Tapi di balik itu semua, aku seperti tertampar keras. Ha Neul Eonni telah menyingkap layar yang membuatku dapat memahami Kibum lebih baik.

“Kami memang pernah berselisih paham sedikit dan besoknya ia sudah pergi. Aku sangat menyesal Eonnie karena aku mengatainya macam-macam. Aku sudah meminta maaf melalu sms dan email, tapi ia tidak pernah membalas”, aku menunduk sedih, tidak sanggup menatap mata Eonnie karena akan membuatku teringat pada Kibum dan rasa bersalahku, “Eonni kalau begitu bisakah aku bertemu dengannya, aku mohon dengan sangat. Aku ingin memberikan undangan ini sendiri kepadanya”

Eonni menghela nafas,“Maafkan aku, aku tidak yakin bisa mempertemukanmu dan juga memberikan undangan ini padanya”

“Kenapa Eonni?”, aku bertanya dengan hati berdebat-debat. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada Kibum.

“Karena Kibum menghilang! Ia benar-benar menghilang”…

“Aku, Omma, dan Appa telah mencarinya kemana-mana termasuk ke Amerika”…

“Sampai ke kerabat kami yang ada di Eropa pun kami minta bantuan mereka untuk mencarinya, tapi tidak ada satu petunjukpun kemana dia pergi”…

“Kami sudah putus asa mencarinya”…

“Entah dia ada di mana dan kami sangat khawatir”…

Rentetan kalimat yang diucapkan Eonni telah membuat harapanku bertemu Kibum musnah untuk kesekian kalinya. Kibum pulanglah!

To Be Continued

Author nongol: Gimana ff nya kali ini? Tau-tau udah part 5 aja. Sekarang udah tau kan kenapa Kibum Oppa suka geje gitu. Part ini termasuk part yang bikin author sedih, karena Henry-nya itu loh. Ya ampun Henry Oppa co cwiiiit bgt sih dia. Sayang Henry Oppa sukanya ama Sulli bukan ama Author *tepok jidat.

Oh ya, seperti biasa kalo udah baca jangan lupa RCL, komen, komen, komen yaaaaa readers. Komen readers itu kayak oase di padang pasir, jiaaah bahasanya…. Jadi kayak orang kasmaran nunggu komen-nya readers. Soalnya sama kayak Sulli, author juga lagi dikerjar2 pembimbing biar cepet beres. Jadi komen readers ini jadi kayak support buat Author untuk terus lanjooot bikin ff. Gomawo udah baca readers, I love youuuu!

Advertisements

61 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: DOUBT IN LOVE (PART 5)

  1. Pingback: SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: DOUBT IN LOVE (PART 4) « hyeahkim·

  2. Pingback: SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PROLOG) « hyeahkim·

  3. hmm, jadi gitu..
    ngerti..ngerti..ngerti banget malah 🙂 , soalnya aku hampir mirip sama kibum..cuma beda bapak beda ibu *plak
    maksudnya sifatnya.. -_- tapi ga gitu2 banget sih *gaje*

    tapi itu si henry kasian amat TT tapi co cwit (?)
    yang tabah ya henryyyy~
    cemungud qaqa! (kok jadi alay gini sih?!-_____-)

  4. Nah loh???
    Kibum ilang?? Kok bisa y?? ==’
    kya…knp jd bgni sih?? Tambah runyem huehuehueee……
    Ahh aku selalu dibuat penasaran tingkat tinggi klo baca ff ini. Baik itu krn kibum, sulli, henry! Argh…..
    Kau benar2 daebak chingu!
    FF mu daebak
    gumawo
    lanjut

  5. huhuhu 😦
    kangen kibum .. kim kibum ayo keluar dari tmpat prsmbunyianmu …
    jgn menghilang terlalu jauh ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s