Season of The Lucifer [CHAPTER 16]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic, Violence, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Support Cast:

Donghae SuJu as Lee Donghae

Jia Miss A as Jia

CL  as Lee Chaerin

 

ANNYEONG READERS ^O^

Oh ya, sekarang Season of The Lucifer ada versiTRAILER loh *prok prok prok.

Liat disini ya –> SoL Trailer <– pasti keren deh, Big thanks ya buat Jinhya Eonni a.k.a LIDERONYU yang udah mau repot repot buatin >///<

Mulai dari part ini nggak akan ada lagi pertanyaan, tapi setiap pertanyaan akan terjawab. Happy reading \(^_^)/

Warning: Lupakan paras Taemin yang ceria, cute dan selalu tersenyum. Tapi bayangkan dia adalah seorang Lucifer.

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

 

~*~*~*~

“keluar!”

Minhyun menegang mendengar ucapan dingin itu “kumohon maafkan aku” pintanya dengan wajah memelas. Namun Minhyun tak bereaksi saat Key beranjak dati Spring Mattress dan menyeretnya keluar.

“kau… melakukan Skinship” Minhyun mengguman tanpa sadar tapi sepertinya berefek pada Key yang langsung melepas tanganya.

Key menatap Minhyun dengan gerakan kilat lalu berjalan menuju pintu kemudian membukanya “keluar!”

“ayolah, kau bisa minta apa saja dariku” pinta Minhyun lagi.

Key membuka mulutnya hendak berbicara tapi tertahan karena bersamaan dengan itu ponselnya berdering, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda itu.

Di tatapnya layar ponsel kemudian ibu jarinya mengusap layar itu secara horizontal dan membuka sebuah pesan disana.

“Key, tadi Taemin hampir ditabrak orang yang pernah dibuatnya masuk penjara. Dia bilang orang itu menerornya beberapa bulan lalu, kau tau siapa orang itu? dan aku juga tidak tau siapa Taehyun tapi Taemin bilang dia dalam bahaya. What Should we do?”

Key kembali menyimpan ponselnya, ia melirik jam tanganya lalu menatap Minhyun yang berdiri di depanya. “kau harus melakukan sesuatu?”

“apa?”

“kau harus menjemput Taehyun di Familia Daycare”

Minhyun menyernyit bingung “Taehyun? Siapa dia?”

“Taemin’s son”

“Mwoya?!”

~*~*~*~

Taemin mendesah frustasi ketika kecepatan mobilnya melambat dan akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan berpapan nama ‘Familia Daycare’. Ia memukul setir mobil lalu mengumpat tajam, tempat itu telah sepi dan kekhawatiran menjadi gas beracun dalam otaknya.

Dia tidak ada disana padahal Taemin telah berjanji akan menjemputnya, lalu sejurus kemudian titik fokusnya kembali berfungsi ketika Minho berguman dan menunjuk sesuatu.

Minho yang duduk di sebelah Taemin lebih dulu membuka pintu mobil lalu menghampiri Minhyun yang berada di bawah pohon sebelah gedung itu, sedangkan Taemin membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.

Taemin semakin gelisah ketika panggilanya tak diangkat, dengan gerakan cepat ia membuka pintu dan bergegas menghampiri Minho dan Minhyun.

“kenapa kau disini?” Minhyun bergeming ketika tatapan Taemin menghujamnya, baginya ketegangan raut wajah Taemin terbaca jelas begitu juga suaranya yang tidak stabil.

“tadi aku bertemu CL” Minhyun terdengar ragu “dan dia melihat Sungrin dan Taehyun diculik”

“Sungrin? Bagaimana bisa dia…”

“tadi aku menhampirinya saat dia panik. CL sempat menjelaskan kalau tadi dia dan sungrin menjemput Taehyun tapi dia meninggalkan mereka sebentar, saat CL kembali dia melihat beberapa orang membius Sungrin dan Taehyun lalu dibawa kedalam mobil” jelas Minhyun takut takut, dia tidak pernah melihat Taemin sekhawatir itu.

“dimana CL?” tanya Minho tiba tiba.

Minhyun mengalihkan pandanganya ke Minho “aku menyuruhnya memakai mobil yang ku bawa. Tapi aku tidak diperbolehkan ikut karena berbahaya”

Taemin mengacak acak rambutnya frustasi “bagaimana bisa dia sendirian?!”

“jangan terlalu cemas, Taemin! Key memasang alat pelacak di jaket ku dan jaket itu kuberikan pada CL?!”

“jadi tadi kau bersama Key?” Minhyun tak dapat membalas ucapan Minho karena Taemin menariknya untuk masuk ke dalam mobil “kau harus terlibat, cho Minhyun!” tegas Taemin namun Minhyun tak mampu mengalihkan pandanganya dari minho, tatapan nanar itu membuatnya terhenyak.

 

~*~*~*~

Minhyun merasa gamang berada diantara 2 namja yang sibuk dengan pikiranya masing masing, mereka terus melanjutkan perjalanan atas petunjuk Key karena sesekali namja itu mengirimkan pesan singkat ke Minhyun tentang daerah mana yang harus mereka lewati.

“Taemin”

“Minhyun”

Mereka tersentak kala menyerukan itu bersamaan. menyadari Minhyun yang tetap diam, Taemin angkat bicara “kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bisa berada disana”

Minhyun terpekur sejenak, mencari kata kata yang tepat. “tadi pagi aku berada di Breath of Heaven menemui Key” refleks Minhyun membuang tatapanya keluar jendela, ia tak mampu menatap spion depan dimana sepasang mata menyudutkanya.

“dia menyuruhku untuk menjemput Taehyun…”

“Key tau semuanya” potong Minho dengan suara rendah “dia mulai mencari tahu tentangmu setelah kalian bertemu di Diskotik Gay. Saat itu Key mendapatimu sedang menelepon seseorang dan dia mendengar ada yang menunggumu. (re: SoL Chap 6A) Aku tau segalanya dari Key”

Minho mendengus pelan “Key terlalu peduli dengan sekitarnya tapi tidak dengan dirinya sendiri”

Hening kembali. Tak ada yang menyambung percakapan setelah itu, semua ditekan oleh ego masing masing. Tak tahan dengan situasi ini, Minhyun angkat bicara “bisa aku tau bagaimana kau memiliki Taehyun? Apa ini ada hubunganya dengan CL? Apa kalian…” Minhyun membiarkan kalimatnya menggantung namun mempunyai arti tersendiri.

Taemin menhela nafas berat “baiklah Minhyun, aku akan menepati janjiku waktu itu. Janji kalau suatu saat aku akan mengatakan alasan aku bekerja setiap malam….”

 

__FLASH BACK__

4 Years Ago

 

Seorang namja berumur sekitar 14 tahun terlihat bingung sembari berjalan menyusuri lorong sebuah apartment, ia terus mencocokan nomor di setiap pintu dengan nomor yang tercatat dalam secarik kertas pada genggamanya.

Taemin sempat mengeluh karena dirinya membawa 2 koper yang lumayan berat dan baru menemukan apartment kakaknya setelah berjalan cukup lama. Mulai hari ini ia akan menetap di Seoul karena kedua orang tuanya yang berada di busan memaksanya pindah ke Seoul dan bersekolah di Dongwook middle School yang merupakan salah satu sekolah terbaik di korea.

Orang tuanya memberi harapan besar pada dirinya untuk meneruskan perusahaan dibidang furnitur yang terkenal di korea dan negara sekitarnya. Hal itu karena ia hanya dua bersaudara dan kakak sulungnya lebih memilih bekerja dibidang musik. Ia sudah seratus kali menggerutu karena itu.

 

Taemin menekan bel disamping pintu beberapa kali dengan jeda yang cukup lama, setelah pintu itu terbuka ia mengerutkan dahi karena yang berdiri di depanya bukan kakaknya melainkan seorang Yeoja yang sepertinya keturunan China. Hey, dia cantik ._.

“annyeong haseyo” sapa Yeoja itu, aksen koreanya sangat bagus sepertinya dia sudah lama berdomisili di negara ini.

“annyeong haseyo” balas Taemin. Saat ia membungkuk memberikan hormat, Taemin baru sadar kalau perut Yeoja itu sangat besat. Ommo! Rasanya Taemin ingin meletuskanya dengan jarum, mungkin perut itu isinya semangka (?).

Merasa janggal, Taemin kembali memperhatikan nomor di pintu dengan seksama lalu menatap kertas ditanganya. Nomornya sama tapi… “Jeosonghamnida, sepertinya salah salah Apartment” ujarnya kikuk, mana mungkin kakaknya mengoleksi ibu hamil.

“annyeong haseyo” salam taemin lalau berbalik berniat pergi, tapi naas dia menubruk seseorang dan membuatnya terhuyung ke belakang.

“Hyung!” pekiknya girang kala mendapati Hyung-nya berdiri sambil tertawa kecil “Hyung! Diamana apartment mu? Yang itukah?” cerca Taemin sambil menunjuk apartment di balik tubuh Hyung-nya.

Lee Donghae memutar kepala adiknya seratus delapan puluh derajat dan mau tak mau tubuh adiknya itu pun ikut berputar “ini apartment ku?”

“lalu kenapa ada Yeoja berperut semangka disitu” tanya Taemin polos.

Donghae terkekeh geli lalu merangkul yeoja yang juga tertawa itu “dia Meng Jia, ah tidak, tapi Lee Jia. Dia kekasihku” ujar Donghae lalu mengacak acak rambut Taemin.

Selepas ternganga lebar, Taemin memelototi donghae “kau bercanda, Hyung? Kalau begitu pasti di dalam perutnya benar benar semangka, kau kan tidak mungkin…”

“dia mengandung anakku”

“MWO?!” pekik Taemin nyaring  “YA! Hyung kau kan sudah dijodohkan dengan Lee Chaerin? Aigoo… bagaimana bisa kau menghamilinya? Kalian belum menikah! Eomma dan Appa pasti marah besar!”

“dasar cerewet!” gerutu Donghae “masuklah, aku akan menjelaskan semuanya. Huft… sudah kuduga akan seperti ini”

Donghae membantu Taemin membawakan kopernya, setelah itu ia menuntun Dongsaengnya duduk di ruang tamu sedangkan Jia menyibukan diri di dapur tak mau mengusik dua bersaudara itu.

“Hyung, jelaskan semuanya padaku” Taemin melipat kedua tanganya di depan dada.

“semuanya tidak terduga, Taemin-ah! Kau bisa tutup mulut dari Eomma dan Appa kan? Mungkin aku akan memberi tahu mereka setelah anakku lahir”

“Hyung, kau kan baru 21 tahun. Masih terlalu muda lalu bagaimana dengan Chaerin Noona Bukanya setelah dia lulus sekolah akan ditunangkan denganmu?” cerocos Taemin masih tak habis pikir dengan hyung-nya.

pertunangan Donghae dan Chaerin memang sudah lama direncanakan, bahkan mereka dijodohkan sejak ibunya mengangkat Chaerin menjadi anaknya sekitar 3 tahun lalu dan tinggal dirumahnya. Itu semua karena Chaerin yang dulunya tinggal di panti asuhan pernah menolong yang hampir kecelakaan. Lagipula ibu Taemin sudah lama menginginkan anak perumpat, eh pas brojol (?) yang keluar namja yang-terkadang-mempunyai-kadar-kecantikan-diatas-yeoja-normal.

“lagi pula Chaerin Noona kan lebih cantik” celetuk Taemin tiba tiba.

Donghae terkikik kecil “kau menyukainya?”

“hanya jika aku lebih dulu lahir darinya”guman taemin menyerupai gerutuan “Ya! Kau mengalihkan pembicaraan!” hardiknya.

“baiklah, dengarkan aku baik baik. Kau tahu? Seoul punya kepala kepolisian bernama Jung Yunho dan Jia itu keponakanya. Dia mengirim Jia dari China kesini dengan iming iming menyekolahkanya di unniversitas di Seoul karena keluarga Jia tergolong kurang mampu. tapi Jia malah  dijadikan agen rahasia”

“maksud hyung?”

“adik tiri jung Yunho merupakan bandar narkotika terbesar Se-asia dan Jung Yunho menutupi hal itu dengan sangat bersih dengan menjadikan Jia sebagai bonekanya. Jia yang menjalankan perintah untuk membuang bukti atau mencuri berkas kepolisian bahkan mengubahnya.”

“lalu bagaimana kau bisa mengenalnya, Hyung?” Tanya Taemin lalu menyesap Teh yang baru saja disediakan Jia ketika Donghae menjelaskan tadi.

“Yunho tidak berbohong tentang menyekolahkan Jia di Unniversitas. Kami sama sama bersekolah di Inha Unniversity dan saat kami memasuki kelas yang sama disitu aku mulai tertarik padanya”

Donghae mengambil jeda panjang, ia terlihat berfikir “hmm… setahun setelah kami berbacaran, Jia meminta untuk mengakhiri hubungan kami. Saat ku desak, akhirnya dia bercerita tentang dirininya…”

“…mengetahui kalau sebenarnya Jia tidak mau bekerja dengan Yunho, aku langsung menculiknya yang saat itu berada Incheon dan menjalankan tugas dari yunho” Donghae mengguman tak jelas “lalu aku membawanya kehotel”

Donghae berdeham, agak salah tingkah “itu diluar kendali. Kau tau maksudku kan? Apa kau sudah belajar sistem reproduksi?” gurau donghae di akhir kalimat.

“eh? Sistem reproduksi wanita atau pria? Kalau wanita memiliki… ”

“Ya! kau tidak perlu menjelaskanya” tukas Donghae, mereka pun tertawa lebar.

 

~*~*~*~

2 Month later

 

Taemin mememainkan ibu jarinya di pipi seorang bayi mungil yang masih memerah, senyum girang terus tersungging di bibirnya menyadari betapa lucu mahluk di hadapanya ini. ini semua ajaib, dari bergabungnya dua sel yang sangat kecil hingga membentuk seorang bayi bahkan bisa besar seperti Shindong Ahjussi penjual Bakpao terenak di sekolahnya -__-

“Ya! Lee Taemin! Kau sudah setengah jam senyam senyum seperti orang gila disana!” hardik Donghae, ia lalu beranjak menuju box bayi yang berada di samping Ranjang Jia. Beberapa jam lalu Jia melahirkan dan mereka masih berada di rumah sakit.

“hyung…” Taemin menyadari kalau Donghae telah berada di sampingnya tapi ia masih betah memandang bayi itu, wajahnya merah persis seperti semangka.

“Hyung… aku juga ingin punya bayi”

-Pletakkk-

Donghae menjitak kepala Taemin berharap kalau otak adiknya bergeser akan kembali seperti semula “kau yang benar saja!” umpatnya.

“Hyung, apa kau sudah memberinya nama?” tanya taemin sambil mengusap kepalanya yang masih sakit.

“belum…tadinya aku mempersiapkan nama Yeoja tapi yang lahir namja”

“bagaimana kalau Lee Watermelon. Itu langka” celetuk Taemin, saat donghae hendak melayangkan jitakan lagi Taemin dengan asal berkata “Lee Taehyun! Itu nama yang bagus”

“dia itu kan anakku, kenapa namanya mirip denganmu?!” umpat Donghae “lee Dongji, itu lebih bagus” Donghae menggabungkan namanya dengan Jia dan dia tidak mau berfikir kalau itu aneh.

“Lee Taehyun lebih bagus dari Lee watermelon” Jia yang dari tadi menonton perdebatan itu akhirnya angkat bicara, sesaat kemudian Donghae menatapnya penuh harap “Lee Dongji itu lebih buruk dari Lee Water melon.

Taemin membekap mulutnya karena hampir saja ia tertawa girang sambil melompat. tak mau membangunkan bayi itu, ia hanya melayangkan senyum namun terasa sangat tulus. Bagaimana bisa rasanya sesenang ini? Taemin mengecup pipi Taehyun kecil yang tertidur damai.

 

~*~*~*~

Sejak tadi Jia sibuk berkutat dengan laptopnya, ia membaca email dari Victoria, temanya yang juga dijadikan Yunho sebagai boneka suruhanya. Total ada 3 orang yang bergabung dalam sindikat yang dibentuk Yunho. dan setelah Jia melarikan diri, Yunho merekrut seorang Yeoja yang juga masih memiliki hubungan darah denganya.

Victoria juga membenci Yunho namun ia tak bisa lari karena namja itu mengancam akan membunuh orangtuanya, begitu pula dengan temanya yang satu lagi. dan pesan Victoria barusan adalah Yunho menugaskan anggota baru itu untuk menerima imbalan dari Elison Kim, anaknya adik tiri Jung Yunho yang sudah meninggal karena HIV.

Satiap bulan Gembong Narkoba Elison Kim selalu memberinya uang bernominal sangat tinggi sebagai imbalan karena Jung Yunho telah menyembunyikan sindikat mereka, namun kali ini Yunho senggaja tak menerima uang itu selama 6 bulan dan baru mengambilnya sekarang untuk membeli sesuatu yang mewah.

 

“kau yakin akan berhasil menjalankan rencanamu?” bisik Donghae tepat di telinga Jia setelah ia melingkarkan lenganya di leher yeoja itu dari belakang.

“aku belajar banyak hal hal licik dari Yunho” ucap Jia seraya mengusap pelan lengan Donghae dan tangan yang satunya bergerak menutup layar laptop.

Donghae menghela nafas berat “tapi firasatku tidak Enak”

“ini harus ku lakukan, Donghae-ah. Orang suruhan Yunho terus mengerjarku, lebih baik aku yang lebih dulu menghancurkan mereka sebelum mereka membunuhku” jelasnya dengan alasan yang sudah ia lontarkan berkali kali.

 

~*~*~*~

Donghae menatap miris punggung Jia yang mulai menjauh, ia mati matian memaksa agar Jia mau diantar ke sebuah hotel tempat ia menjalankan rencananya. Baginya setiap menit akan terasa lama karena kekhawatiran melingkupi perasaanya, Lawan Jia bukan orang sembarangan.

Donghae mengambil Ponselnya, nafasnya seakan sesak kala menatap wallpaper yang merupakan foto Jia ketika mencium Taehyun. Sebisa mungkin ia mennghapus bayangan buruk yang akan menimpa Jia.

Ia menekan speed dial pada ponselnya lalu mendekatkan benda itu ke telinga, sudah saatnya ia mengabarkan segala hal tentang Taehyun dan Jia pada kedua orangtuanya.

 

~

 

Jia cepat memasuki lift yang sudah hampir tertutup, ia memilih berdiri di sudut karena target utamanya kali ini berada tepat di depan tombol angka bagian kanan sebelah pintu lift.

Ia sudah berulang kali menjalankan tugas semacam ini, namun belum pernah ada yang membuatnya segugup ini. sebelumnya ia selalu pasrah untuk mati jika ketahuan mencuri berkas berkas atau menukarnya. Tapi untuk saat ini dia tak bisa pasrah, salah selangkah maka rencana yang dipirkanya matang matang itu akan hancur.

Bunyi dentingan terdengar disusul dengan pintu lift yang terbuka. Demi meminimalisir kecurigaan, Jia berjalan mendahului Yeoja yang menjadi target utamanya. Ia sudah melacak kamar yang digunakan sebagai tempat transaksi dan berhasil, targetnya menapaki jalur yang sama denganya.

Lorong yang dilewati mereka sepi karena berada di lantai paling atas. Kepala Jia tetap lurus namun matanya terus melirik sisi kiri dan kanan, mengamati setiap cctv berukuran kecil yang bahkan tak terlihat secara kasat mata. Tapi bekerja menjadi anak buah Yunho membuatnya hafal dimana letak semestinya cctv itu.

Setelah memprediksikan tempatnya tak tertangkap kamera cctv, Jia pura pura menjatuhkan ponsel kemudian berhenti dan memungutnya. Ia sengaja membungkuk agak lama, dan setelah Yeoja yang menjadi targetnya lewat ia langsung mengeluarkan sebuah suntikan kecil lalu menancapkan jarum berisi obat bius itu tepat ke leher belakang Yeoja tadi.

“akhh” Yeoja itu memekik kecil dan langsung terkulai di lantai. Dengan cepat Jia mengambil seubuah ID card di dalam tas Yeoja itu lalu pergi dengan tergesa gesa.

ID Card itu hanya berisi nama, tanggal dan lambang sindikat Elison Kim. Setiap transaksi ID Card selalu berubah karena berbeda tanggal, karena itulah Jia tak perlu repot repot menyamar dan sebagainya seperti sekarang ia telah berada di dalam kamar yang berisikan seorang wanita dan 2 orang Pria berjaket hitam.

“give me your ID Card!” titah wanita yang ternyata keturunan western.

Setelah menyerahkan ID Cardnya, Wanita itu melihat sekilas lalu memberinya pada Pria berjaket hitam. Pria itu lalu mengeluarkan koper besar dari dalam lemari.

“Seperti biasa, katakan pada kami berapa jumlah uang yang ada di dalam koper baru kau bisa mengambilnya. Jika salah maka kau terbukti palsu dan kau tahu kan akibatnya” ujar Pria itu lalu tersenyum sinis.

Jia berusaha keras mempertahankan ekspresi tenangnya, ini diluar dugaanya karena dia tidak pernah mewakili sebuah transaksi dan dia sama sekali tidak tau berapa uang transaksi setiap bulan.

“Nothing” ucap Jia setelah berfikir keras dalam waktu yang sempit.

Hal itu membuatnya gamang dan jantungnya serasa berhenti ketika pria berjaket hitam itu membuka koper

“You’re right” ucap wanita western tadi.

Hanya ada beberapa lembar kertas disana dan Jia langsung menghela nafas lega sekaligus mempertahankan sikap tenangnya. Jika dalam 6 bulan Yunho tak mengambil uangnya maka mustahil lembaran bernominal itu cukup dalam koper yang sebenarnya berukuran besar itu.

~

 

“kita menang, Donghae…” batin Jia.

Jika ada kata yang maknanya melebihi kata ‘bahagia’ maka ia akan terus menyorakkan itu dalam hatinya. Ia sangat puas karena diibaratkan dirinya sekali berjalan menuju dua arah.

Dalam genggaman Jia terdapat beberapa lembar surat transaksi 30% uang hasil penjualan narkoba yang akan diserahkan pada Yunho dan surat tanda kepemilikan atas sebuah mansion mewah beserta tanah seluas dua hektar yang ditempati mansion itu.

Surat kepemilikan mansion itu belum dipindah tangankan tetapi tingal mengisi nama dan membubuhkan tanda tangan di atas matrai. Jia tersenyum licik, ia sudah bertekad balas dendam dan menghancurkan Yunho.

 

~*~*~*~

Jia menutup Flap ponselnya, ia baru saja menghubungi Donghae dan memintanya untuk mengambil benda yang dipesan Jia kemarin. setelah menjalankan misinya, ia menyerahkan berkas itu kepolisi lalu pergi ke ujung kota Seoul tempat mansion itu berada.

Jia menghentikan sebuah taksi kemudian masuk ke dalamnya, bertepatan setelah menyebutkan alamat apartmentnya tiba tiba ponselnya berdering. Ia menyernyit ketika mendapati Video Call namun tak berfikir lama untuk menerimanya.

Mata Jia membulat ketika melihat seorang Pria duduk di sofa apartmenya dan Taemin yang berada di sebelah Pria itu dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal.

“serahkan surat rumah itu padaku atau nafas bayimu berakhir di tanganku”

Jia menegang mendengar ucapan Jung Yunho, ia memaki dalam hati. Sial, bagaimana Yunho bisa kabur padahal baru saja ia mendapat kabar dari polisi bahwa Yunho telah ditangkap.

 

~

 

peduli dengan umpatan orang orang yang tertabrak liar olehnya, Jia terus berlari secepat mungkin menuju apartmentnya. Dirinya tak bisa berfikir jernih kali ini dan ketika ia membuka pintu apartment itu, Jia melihat Taehyun tergeletak di lantai tepat di samping kaki Yunho.

Hatinya sesak melihat Taehyun menangis dan di perlakukan seburuk itu, Jia menatap Yunho penuh dendam. Sudah dipastikan laki laki bajingan itu kabur karena penampilanya yang sangat berantakan dan ia sama sekali tak membawa antek anteknya yang Pastinya juga sudah tertangkap.

“brengsek kau Jung Yunho” desis Jia

Jia melayangkan kakinya hendak melangkah namun sejurus kemudian suara desingan peluru terdengar, beruntung ia sempat mengelak walau dapat teringat jelas bagaimana peluru itu lewat tepat di depan matanya.

Jia berbalik kemudian berlari menuju jalan keluar apartment, mustahil Yunho mengeluarkan pistol di tempat seperti ini jika tak ingin mati. Tapi meskipun begitu jika ia berteriak atau apapun, bisa dipastika timah panans itu bersarang ditubuhnya karena Yunho pasti tak mau menanggung mati sendirian.

 

~

 

Donghae berlari secepat mungkin menuju apartmentnya, beberapa menit yang lalu Jia memberitahu bahwa Yunho menemukan Taehyun di Apartment. Ketika  tiba di sana, Donhae menyaksikan insiden peluru yang hampir mengenai kepala Jia.

Ia sempat berfikir mengikuti Jia yang sedang dikejar Yunho namun ketika ia melewati pintu apartment langkahnya terhenti saat mendengar tangis Taehyun yang pecah. Kebimbangan meliputinya namun sesaat kemudian kakinya melangkah ke dalam apartment lalu meraih Taehyun yang tergeletak di lantai.

Ia melepas ikatan Taemin dan membuka kain yang menyumpal mulutnya “Gwaenchana?” tanya Donghae, suaranya bergetar panik.

“ne” Taemin menggangguk, ia terlihat sangat takut. Tali yang mengikat tubuhnnya ternyata sangat kencang dan membuat kulit tanganya nya mengelupas.

“Taemin, jaga Taehyun baik baik” Donghae mengecup kening Taehyun, bayi itu terus menangis meskipun ia telah menimang senyaman mungkin.

Saat Donghae menyerahkan Taehyun pada Taemin, secara perlahan tangis bayi itu mereda dan cukup membuat Donghae tersenyum lega meski kekhawatiran besar tengah melandanya.

Ia menatap Taemin intens “dengar, Aku sudah memberitahu Appa dan Eomma tentang Taehyun, Meski kecewa tapi mereka bisa menerimanya. Mereka sedang dalam perjalanan kemari jadi serahkan Taehyun pada Eomma setelah mereka datang” jelas Donghae cepat.

“jika mereka atau aku tidak datang dalam waktu 2 jam, berjanjilah kau akan menjaga Taehyun dan tak kan pernah meninggalkanya” suara Donghae berubah parau, ia menghela nafas berat lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.

“dan ini…” Donghae merogoh sakunya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna perak kemudian menyerahkanya pada Taemin “itu milik Taehyun”

“ne, Hyung” Taemin mengeratkan dekapanya pada Taehyun, sebersit firasat buruk tak mampu ditepisnya sejak tadi. Ia memejamkan matanya, dalam ketakutan mengalun untaian doa.

 

~*~*~*~

Donghae merapatkan mobilnya ketepi jalan lalu menekan Klakson, ia berhenti tepat di samping Jia yang sedang berlari dan menyuruh yeoja itu masuk. Jung Yunho memang sudah tak terlihat namun Jia masih merasa terancam. Ia tahu betul bagaimana sifat Yunho yang tak pernah mau kalah.

Jia meminta Donghae melajukan kecepatan mobil sambil mengamati keadaan sekeliling. Mobil itu melesat lincah di tengah hiruk pikuk kendaraan yang cukup ramai, meski tanpa arah atau tujuan karena mereka terlalu panik.

Saat Jian berbalik untuk mengamati kondisi dibelakang, sekujur tubuhnya kembali menegang.

“ah, itu mobil Eomma dan Appaku!”

Jia menoleh cepat ke arah Donghae yang menunjuk mobil yang berjarak beberapa mobil di depan mereka “damn! Yunho membajak taksi di belakang kita”

Mendengar itu kontan Donghae menatap Spion depan. Saat ia kembali mengamati sekitar, Donhae memukul keras setir mobil “Sial! Kantor polisi sudah lewat” umpatnya “aku akan putar balik” ucap Donghae. mereka harus ketempat itu segera jika ingin selamat.

Mobil yang mereka naiki melaju sangat cepat, saat Donghae memutar setir kekanan tiba tiba terdengar suara tembakan disusul dengan bagian belakang mobilnya yang meledak.

Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, dimana Yunho menembakkan peluru ke arah ban belakang Mobil yang ditumpangi Donghae dan Jia. Mobil yang hendak berbelok itu langsung berputar liar karena melaju cepat dan menghantam seluruh mobil di sekitarnya.

Bunyi tumbukan besi dan ledakan yang menimbulkan api berefek dahsyat, jeritan pilu bersahut sahutan. banyaknya Kendaraan yang berkenti karna lampu merah membuat kecelakaan beruntun tidak bisa dihindari.

 

~*~*~*~

Taemin membaringkan Taehyun dalam box bayi di kamar donghae, sudah tiga jam ia menunggu kedatangan donghae ataupun orang tuanya namun mereka sama sekali tidak datang.

Firasat buruk yang mati matian dilenyapkan Taemin ternyata percuma karena setengah jam kemudian ia mendapat kabar dari rumah sakit tentang kecelakaan beruntun yang menimpa Donghae dan Jia bahkan kedua orang tuanya.

Taemin terisak keras, tubuhnya bergetar hebat dan nafanya tak beraturan. Ini semua bagai mimpi buruk namun tak ada kesempatan untuk bangun karena kenyataan adalah sama kelamnya.

Sesaat kemudian isakanya terhenti kala menatap bayi mungil yang terlelap tenang di dalam box, wajah itu terlalu polos untuk disuguhi kenyataan sepahit ini. air bening dari sudut matanya tak lagi jatuh meski nafanya masih terasa sesak.

“hyung, aku akan menepati janjiku” ucapnya seraya mengusap pelan pipi Taehyun dengan punggung tanganya.

 

__FLASHBACK END__

 

Taemin menghembuskan nafas berat setelah mengakhiri ceritanya, ia menatap Minhyun yang duduk di belakang melalaui spion depan lalu menatap Minho yang duduk di Jok sebelah “aku sangat menyayanginya” lirih Taemin kemudian.

Minhyun tersenyum miris, kini ia telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang selama ini melingkupi Taemin. “bukankah keluargamu tergolong kaya, untuk apa kau bekerja setiap malam?” tanya Minhyun.

“bisnis furniture keluarga ku dijalankan orang kepercayaan ayahku dulu, karena aku belum cukup umur untuk bekerja disana jadi aku hanya dapat 20% dari gaji ayahku dulu. itu tidak cukup untuk membiayai Taehyun dan CL, lagi pula aku tidak tega membiarkan CL sendirian bekerja di tempat itu” papar Taemin.

“lalu kenapa kau berpacaran dengan CL? Bukankah seharusnya kalian saudara angkat?” tanya Minhyun lagi, ia benar benar tidak suka dibuat penasaran.

“awalnya begini. Aku menyerahkan Taehyun ke keluargaku yang berada di Busan tapi aku selalu tidak tenang karena merasa mengingkari janji. Saat itu aku cerita pada Chaerin dan ia bersedia merawat Taehyun karena kebetulan akan kuliah di Seoul”

Minhyun mengangguk kecil mendengar ucapan Taemin “apa tidak repot?” tanya Minhyun iseng sembari membuka pesan baru dari Key kemudian meunjukkanya pada Taemin.

“dulu kami menyewa baby sitter tapi setahun belakangan kami menitipkanya ke Daycare kalau CL sedang sibuk. Supaya Taehyun bisa bermain dan mempunyai banyak teman sekaligus menghemat biaya”

Minhyun mengulum senyum lalu menyeletuk “kalimatmu seperti bapak bapak saja” awalnya Minhyun ingin ngakak tapi mengingat ada es batu (?) di samping jok kemudi, ia langsung mengurungkan niatnya.

 

“bukanya kau bilang Yunho masuk penjara karenamu?” Minho menoleh ke arah Taemin yang terlihat sedang berfikir.

“Yunho melarikan diri sehabis kecelakaan beruntun itu, ia menyewa pengacara handal yang mematikan semua bukti dari jia, tapi aku berhasil mengotak atik Laptop jia dan menemukan beberapa berkas tentang sindikat yang dibuatnya. Aku juga menyerahkan peluru yang hampir mengenai Jia Noona waktu itu dan ternyata polisi menyimpan peluru yang sama karena itu penyebab kecelakaan”

 

Bercerita banyak membuat suasana mobil itu tak segamang tadi, Minhyun menolehkan pandanganya keluar jendela untuk menatap langit. Matahari hampir kembali ke peraduanya dan menyisakan semburat oranye yang tergores lepas di angkasa.

“Taemin-ah” panggil Minhyun pelan “apa kau tidak lelah bekerja sampai pagi? Kau kan sekolah…”

Taemin menyaandarkan punggungnya ke sandaran jok lalu melirik sekilas ke arah Minhyun dari Spion depan “sebenarnya aku hanya bekerja sampai jam 4 dan jam berikutnya ku habiskan di rumah Chaerin karna Taehyun rela bangun pagi pagi untuk bertemu denganku. Harnya pada jam itu aku bisa menemuinya”

 

Minhyun tersenyum penuh arti, kini ia mengerti bagaimana Spring Lucifer yang sebenarnya. Sisi yang tertutup itu telah terkoyak dan dari sana ia melihat pengorbanan besar yang harus ditempuh untuk meraih kebahagian. Spring. Dimana bunga baru bermekaran, namun sebelum itu ada usaha besar untuk memunculkan tunas baru pasca badai musim semalam yang mengancam. Serupa dengan seorang Lee Taemin.

Kasih yang tulus

Beban hidup yang harus ditopang sendiri

Pengorbanan

sebuah tanggung jawab besar

 

~*~*~*~

Seorang namja terlihat sibuk berkutat dengan laptopnya, pada layar terdapat banyak garis yang merupakan gambaran jalan beserta tanda nama yang muncul setiap titik kuning dan merah yang saling mengejar, melewati garis itu. Titik merah adalah tanda dimana CL berada sedangkan titik kuning menjadi tanda dimana ponselnya yang diberikan kepada MInhyun.

Key memang tak memberitahukan pada Minhyun kalau ia bisa melacak dimana ponselnya berada juga kemampuan ponsel di tangan Minhyun yang bisa melacak dimana alat pelacak itu berada.

Konsentrasi Key terpecah ketika ponselnya berdering, ia mengusap layar ponsel dengan ibu jarinya lalu mendekatkan ke telinga.

“yobboseyo”

“Yobboseyo, Kim Kibum-ssi”

Key berdecak kecil, ia benci ketika nama itu disebutkan “ada apa?” tanyanya.

“Pastor Jung Jihoon memanggilmu, ia sedang berada di gereja” ucap orang itu.

Key terdiam ragu, sudah lama ia tak mengunjungi tempat itu karena disebelah gereja yang lumayan besar itu terdapat yayasan Theresia dan tempat tinggal para Biarawati maupun pelayan tuhan lainya.

“tadi, pastor Jung Jihoon bilang suasana sekitar gereja sedang sepi karena para suster dan brother sedang ada acara”

~

Key memasang Hoodienya lalu memasukan tanganya ke dalam saku jaket, ia berjalan sambil menunduk ketika sampai di lingkungan gereja. Setelah ibunya meninggal ia sering bermain ke tempat ini karena Choi Minho teman akrabnya dari kecil dulunya tinggal disini, Lagipula dulu banyak anak seusianya yang sekarang mungkin sudah diadopsi.

Pastor Jung Jihoona adalah orang pertama yang menyadari Phobianya terhadap perempuan. Ia sering memperhatikan Key yang sering menjauh ketika anak perempuan mendekatinya.

Dan Minho lah orang kedua yang mengetahui hal itu setelah diberitahukan Pastor Jung Jihoon. Sejak memasuki SShall accademy, key tidak pernah mengunjungi tempat itu karena Phobianya yang semakin besar.

Ketika Key melangkah masuk ke dalam gereja, ia melepas Hoodienya. Tempat ini banyak berubah dan secerca rasa kerinduan melingkupi hatinya.

Key mencelupkan ujung jemari tangan kananya ke permukaan air di sebuah mangkuk besar berwarna emas yang terletak di atas meja berjarak beberapa langkah dari pintu yang dilewatinya.

Ia merapatkan jari tengah, telunjuk, dan ibu jarinya yang masih basah karena air tadi lalu menyentuhkan ke dahi, dada, dan bahu dari kiri ke kanan dalam letak vertikal seraya beruman pelan.

“kim kibum”

Key menoleh ke sumber suara dan mendapati Pastor Jung Jihoon yang berada di belakang mimbar di depan altar sedang tersenyum menatapnya. Pastor itu masih terlihat ramah seperti dulu.

Pastor Jung Jihoon memindahkan cawan yang berada dalam genggamanya ke atas mimbar lalu berjalan ke arah Key yang juga melangkah ke arahnya.

“apa kabar, nak?” sapanya ramah “kau tetap menjalankan ibadahmu dengan renungan yang ku berikan, bukan?”

“tentu, pastor” Key mengangguk mantap “ada apa memanggilku?”

Pastor Jung Jihoon tersenyum lembut “aku akan mempertemukanmu pada seseorang”

“siapa?” key hanya mendapat seulas senyun atas pertanyaanya, namun sesaat kemudian langkah kaki terdengar dari arah kiri.

Key refleks menoleh setelah Pastor Jung Jihoon menoleh ke kiri terlebih dahulu. Seketika itu pula tubuhnya menegang kala menatap seseorang yang tersenyum kepadanya. Senyuman itu masih sama dan selalu menuntunya kedalam bayang masa lalu.

Key tercekat, terasa jelas telapak tanganya yang mendingin. “Krystal…”

 

__TBC__

 

Annyeong reader…

Maaf banget ya kalo aku ngaret ngepostnya, abis ide awal partnya taemin banyak yang nggak sesuai pas digabungin. Mikir buat benerinya butuh waktu lama sih hehe. Panjang kan part ini? haha

Ya semoga aja SOL nggak sampe chapter 23dst *panjang amat ya -___-

Udah ada pencerahan dong buat chapter chapter berikutnya dan penyelesaian problem mereka 😀 haha entah kenapa aku suka banget bikin pairing yang aneh, ex: Taemin-CL, Hyukjae-Sooyoung n kali ini Donghae Suju dan Jia miss a yang menjadi korban haha.

Jangan lupa ninggalin komen ya, sangat butuh kritik yang membangun agar tulisanku nggak sealay part part sebelumnya -___- . see u 😀

 

Cheers,

 

LucifeRain (Ayya)

 

NB: baca ff baru ku ya Command of 100 days

 

Advertisements

61 responses to “Season of The Lucifer [CHAPTER 16]

  1. Aigoo..Taemin benar2 sosok yang bertanggung jawab..
    Yang kayak gini nih,namanya pria idaman.. Ssshhh… 😡 *ngayal*

  2. ok brti dugaan q salah taehyun itu bukan anak taemin tp anakny donghae.
    knp mkin ksini mkin seru aja. tp knp gk da romancenya pdhl pngn bngt romance minho minhye. tp tak pa lah 1 msalah hmpir trpecahkn

  3. akhirnya mosteri taemin terbongkar juga. sempet shock kirain taehyun itu bener bener anaknya teamin. taemin dewasa banget ya..
    key kerenn keren keren..

  4. Author-ssi… ntah kenapa tiba-tiba aja aku pengen romance scene Key-Minhyun *kedip-kedip…

    Part ini sungguh luar biasa. Ternyata pengorbanan dan Tanggung jawab Taemin sebesar itu.

  5. Entah knp di chap ini q jtuh cinta ama taemin cm q gk stuju dia Ma CL
    Untuk key smog drimu gk blikan ama kristal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s