Tomorrow’s way

Tittle                 : Tomorrow’s way

Author             : Sicafiramin @Sicafira

Main Cast        : Park Jiyeon

                        Lee Taemin

                        Choi Minho

Support Cast   : Suzy

Length             : OneShot

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : General

Summary         : Apa yang akan terjadi hari esok? Bagaimana jika hari esok tidak ada?

Apa yang sedang aku pikirkan? Kematian bisa datang kapan saja bukan? di dalam kehidupan tidak ada Tombol “Undo” atau mungkin kau bisa menekan “Ctrl-Z”? Hidup itu sudah ada yang mengatur, setiap orang memiliki Jalannya masing-masing, jalan mana yang akan kau pilih? Kebaikan?keburukan? hanya ada 2 pilihan, mengapa hanya ada 2? Apakah masa depanmu ada 2? Satu-satunya jalan yang harus kau tempuh, yang mana? Pilihanmu akan menentukan hari esok.

             Namaku Park Jiyeon, Aku lahir 18 tahun yang lalu, aku mensyukuri kehidupan yang aku jalani saat ini. Tapi… mengapa? Harus ada kelahiran bila ada kematian?

Mengapa kita tidak bisa kembali ke masa lalu? Mengapa kita tidak bisa mengulang waktu kembali? Bukankah memperbaiki  kesalahan itu hal baik?

Choi Minho, sahabatku… sedang apa kau sekarang? Aku merindukanmu… apa kau bahagia disana? Aku sangat kehilanganmu Minho,kau tau? Hal itu… errr kecelakaan itu aku sungguh minta maaf, aku tidak tau berapa banyak kata maaf yang harus aku ucapkan. Karena aku? Seharusnya aku yang pergi saat itu, bukan kau…. Aku ingin menghancurkan ‘masa kini’, aku ingin berpegang teguh pada ‘masa kini’, aku tidak memahami diriku sendiri, aku tidak dapat memulai dari awal,meski aku bersembunyi di kota yang asing, membentang jendela ini aku memikirkan masa, aku ingin berlari dari ketergesaan, aku akan dibingungkan oleh keraguan hingga aku berlari jauh, mengikuti kenanganku yang terkoyak, aku akan kembali ke masa itu, suatu saat seperti seorang bocah lelaki, aku terlahir untuk hidup, dunia yang kugambar sewaktu kanak-kanak, aku seorang bayi, selalu menangis.

“Park Jiyeon!!! Sedang apa kau di atas sana? Cepat turun” Teriak orang-orang dibawah sana, aku melongo kebawah dengan tatapan tak suka.

“Kau sudah gila?” Teriak Suzy temanku, aku tak mendengarkan mereka, aku tetap berdiri di atas sini … siap-siap bertemu Minho dan bersama dengannya

“Apa kau akan mengakhiri hidup? Apa kau tidak berfikir masih banyak orang yang membayar mahal hanya untuk hidup… dan Kau orang beruntung yang di berikan kehidupan, tapi kau menyia-nyiakannya?” Tiba-tiba seseorang berbicara padaku, aku menoleh ke samping dan ada seorang namja sedang berbaring di sini, mengapa aku tidak menyadarinya,Dia Lee taemin teman sekelasku  dan apa yang dia bicarakan? Mengapa kata-katanya menyakitkan?

“Kau mengganggu tidur siangku” katanya sambil menatap langit biru yang kelam bagiku. Tiba-tiba aku menangis, aku merindukan Choi Minho…

“Hiks, Hiks, … Miaaan” kataku pelan. Ia bangun dan menghampiriku , mengelus rambutku yang kusut, membetulkan seragamku yang kotor.

“Hentikan Jiyeon,.. hal ini tidak akan menyelesaikan masalah..” Serunya

Yang ia katakana benar Hiks… Jiyeon kau bodoh.

“Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, mengapa aku seperti ini? Mengapa aku harus seperti ini?” Tanyaku terisak

“ini hanya pikiranmu sesaat, kau terpukul dengan kepergian Minho. Kumohon hentikan…” ia memelukku, aku menangis di pelukannya. Hangat,..Lembut, seperti pelukan Minho.

~~~~

Insiden bunuh diri kemarin membuat heboh seluruh sekolah, bahkan orang tuaku.

Aku tahu yang aku lakukan kemarin itu salah, gomawoh lee taemin…  namja itu .. sudah menyelamat kan aku. Aku tahu mereka kecewa padaku, terutama Minho. Oke Minho, aku tidak akan mengecewakanmu lagi, kau sahabatku terbaikku.

Aku menatap taemin yang sedang tertidur di kelas, aku baru sadar kalau ia sering tertidur, mengapa kau sering tertidur? Apa yang kau lakukan semalam sehingga kau kurang tidur? Apa lelah? Apa kau bekerja? Apa kau begadang ? menonton film? Bermain game? Mengapa aku tertarik untuk mengetahui nya? Sejak kejadian kemarin aku merasa choi Minho hidup kembali, kata-katanya menyakitkan tapi menyadarkanku,pelukannya …

“Berhenti menatapku Jiyeon” kata Taemin tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Aku terkejut, bagaimana ia bisa tahu? Apa ada mata lain saat kedua matanya yang bagus itu terpejam?

“Mian, kau boleh meneruskan tidurmu” Kataku agak salah tingkah dan langsung menuntupi wajahku dengan buku

“Aku tidak bisa tidur lagi…” Keluhnya langsung berdiri dan membereskan bajunya

“K..kk..kau? mau kemana?” Tanyaku seakan tak mau ia pergi, aku masih ingin menatapnya..atau aku masih ingin berada di dekatnya? Berada didekatnya ia seperti minho.

“Bukan urusanmu” katanya sinis

“sinis sekali, hmm aku boleh berbicara padamu?” pintaku

“apa? Ingin mengucapkan terima kasih?” tanyanya, aku mengangguk. Ia sudah tau rupanya -__-

“sebaiknya kau lebih mensyukuri hidup…jangan akhiri hidupmu dengan cara bunuh diri.”

“Hmm~ kita bisa mati kapan saja bukan?”

“Mengapa kau membicarakan kematian?”

“Sudahlah lupakan, kau boleh pergi” aku tertunduk moodku sedang rusak karena sikapnya yang sinis. Tapi ia malah tersenyum dan memegang tanganku

“Pulang sekolah jangan kemana-mana,” katanya, aku mengangguk lalu tersenyum. Ternyata aku memang menyukainya. Hahaha aku menyukai namja hanya karena namja itu mencegahku untuk mati? Huffftt, Ternyata Minho benar, aku memang mudah menyukai seseorang.

“Kau? Jadi dekat dengan namja pendiam itu kekekeke~” Kata Suzy tiba-tiba datang menghampiriku, aku tersenyum ‘dekat? Dengan Taemin?’

“Hanya mengucapkan terima kasih untuknya, karena dia aku selamat kemarin” Kataku

“Kau begitu kehilangan Minho ya? Lebih baik kau lupakan dia..” Kata Suzy dengan santainya, aku tidak suka dengan kata-katanya enak saja menyuruhku melupakan Minho.

“Apa yang kamu katakan? Aku tidak akan melupakan MINHO selamaaanyaaa ingat itu. Dan jangan berbicara apapun jika kau tidak mengerti apa-apa” Bentakku sambil beranjak pergi

“Ta..ta pi.. aku kan.. Ya~ Park Jiyeona” Teriak Suzy, aku tidak menghiraukannya.

Aku duduk di kelas berdua bersama Taemin, setelah semua pergi aku langsung menghampirinya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku, ia memegang kepalanya dan tertunduk

“Tunggu sebentar” Katanya, wajahnya pucat dan lesu apa ia masih mengantuk?

“Kau kenapa? Ayo bicara saja, aku ingin pulang.” Kataku merasa bête, padahal aku senang bisa dekat dengannya

“Temani aku jalan-jalan sekarang, anggap saja sebagai balas budi unttukku karena aku sudah menyelamatkanmu kemarin. Bagaimana? Hanya ke Festival saja kok sampai jam 7. Hmm?” Ajaknya. Aku terdiam, apa ia sedang mengajakku berkencan? Bukankah pergi ke festival berdua sepulang sekolah adalah kencan? Lalu bermain bersama, makan bersama,? Whaaaaa

“Ayo.” Aku menarik tangannya keluar saking semangatnya benar kan aku menyukainya, hahah

Kita satu Bus? Duduk berdua, apa lagi yang kurang ya? Hmm Mp3? Aku segera memasangkan earphone ke telinganya, awalnya ia menolak tapi aku paksa dan langsung memutarkan lagu SHINee – Hello. Ia menutup matanya dan aku malah bersandar di bahunya, hmm benar-benar seperti orang pacaran.

“Bangun Taemin kita sudah sampai” kataku menggoyang-goyangkan bahunya, haduuh mengapa ia hobi sekali tidur sih? Seperti Minho saja.

“Kenapa cepat sekali?” Keluhnya

“Kau fikir kita ini mau kemana? Ke festival seoul 20 menit juga sampai” Kataku lalu menggandeng tangannya. Sepanjang jalan aku menggandeng tangannya, ia Nampak tidak risih atau keberatan, ia malah tersenyum dan mengelus rambutku sesekali.

“Mau ice cream?” Tawarnya, aku mengangguk tak lama ia datang membawa 2 ice cream vanilla.

“Gomawo~”Kataku senang

“Habis ini kita main itu yukk” ajaknya, aku mengangguk. Ahhh senang sekali, sikap Taemin lembut sekali. Kami bermain disini sampai puas, sebenarnya ini sudah jam 8 malam tapi aku tidak mengingatkannya, aku merasa ingin di dekatnya selalu.

“Cape? Kita duduk di sana kajja” ia menarik tanganku ke sebuah bangku di bawah pohon jauh dari keramaian.

“Gomawoh lee taemin, aku benar-benar senang” Kataku berseri-seri

“Benarkah? Aku juga berterima kasih padamu karena sudah menemaniku ke tempat seperti ini.”

“Kau jadi berbeda ya? Apa ini sikapmu yang sebenarnya?”

“hahaha kau itu lucu sekali, aku memang seperti ini, makanya jangan menilai orang dengan sebelah mata ya… “ iya terkekeh, wajahnya manis sekali membuat aku semakin suka padanya.

“Kau pernah merasa kehilangan?” Tanyaku sambil terus menatap wajahnya

“Tentu,.. aku pernah kehilangan sahabat ku saat aku masih kecil” Kata taemin

“Sama denganku, apa kau masih sedih hingga kini? Maksudku… apa kau merindukannya” tanyaku

“Tentu saja” Jawabnya

“Kau mau jadi sahabatku?” Tanyaku lagi

“Tentu” ia tersenyum ke arahku.

“Jangan tersenyum, kau kelihatan manis” Keluhku

“kau lebih manis…..” Katanya lembut

**

Keesokan harinya aku menghabiskan waktu lagi bersama Taemin, kini kita pergi menonton. Aku tidak fokus pada film yang aku tonton, aku lebih fokus pada Taemin yang tiba-tiba memegang tanganku, tiba-tiba berteriak saat hantunya muncul, tiba-tiba tangan kita bertemu di satu kotak pop corn. Sepulang menonton kami pergi makan, ia menyuapiku, ia mengelap noda di mulutku, persis seperti apa yang di lakukan di drama-drama yang sering aku tonton.

1 Minggu berlalu dan aku semakin dekat dengannya, teman-teman mengira aku pacaran dengannya, tapi sayangnya kita hanya sebatas sahabat. Padahal aku juga ingin lebih dari itu.

“Kau pacaran yaaaa?” Goda Suzy

“aah tidak , kita hanya sahabatan saja hanya itu saja…” kataku tersipu malu padahal hatiku berkoar-koar.

“Mesra sekali, aku jadi ingin sedekat itu dengan namja..” keluh Suzy

“Bukankah kau dekat dengan si Jinki itu?” kataku

“Mwo? Benarkah? Kita dekat mungkin karena sering makan ayam bersama kekekek” ia terkekeh, dan aku malah ikut tertawa

“Kau senang sekali, apa kau lupa pada Minho? 1 minggu kematian Minho kau bermuram durja, bahkan terbilang jutek. Dan sekarang 1 minggu dekat dengan Taemin kau jadi ceria seperti ini. Aigoo~” Kata Suzy,  mendengar kata-katanya senyumku memudar.

“Minho…” sahutku pelan, aku lupa padanya? Tentu saja tidak.

Sepulang sekolah aku langsung pergi ke makam Minho, membawa setangkah bunga mawar putih. “Minho, aku merindukanmu, maaf sudah melupakanmu, tapi jika mengingatmu aku selalu ingat Taemin, aku menyukainya… ia seperti mu, ia bisa membuatku tersenyum lagi, ia begitu baik… Minhooo, bagaimana kabarmu? Kau pasti sedang berkencan dengan bidadari ya? Hehehe” tiba-tiba air mataku menetes perlahan, aku teringat kenangan bersama Minho lagi…

Flashback………….

“Jiyeonaaa~ aku lapar….” Keluh Minho sambil bermain game rumahku, sementara aku sedang memasak makanan.

“Iya, aku kan sedang masak, tunggu sebentar” Keluhku, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang

“Chagii~ kenapa lama sekali” Keluh Minho mendekatkan wajahnya ke wajahku

“Kenapa kau manja sekali?” Protesku terus memotong sayuran

“Kita seperti suami istri ya chagi? Dirumah berdua, kau memasak untukku” Katanya, aku tertawa mendengar ucapannya, konyol sekali

“Memang aku akan menikah denganmu? Pacaran juga belum” Kataku

“Kau tidak mau?” Tanya Minho

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, dan err bisa lepaskan Back Hug mu itu? Disini sedikit panas”

“Tidak sudahlah lupakan, kau masak yang enak ya chagiiiiii~” Kata Minho sambil melepas pelukannya. Ia memang seperti itu, seperti orang pacaran, bahkan suami istri, hahaha lucu sekali, kita ini kan hanya sahabat.

“Masakanmu enak Chagii~” Puji Minho makan dengan lahapnya

“Bilang sajaa kalau kau lapar, dasar ckckck”

“Beneran ini enak” ia mengacungkan jempol padaku lalu makan lagi dengan semangat, hahaha lucunya.

Flashback end…

“Chagii~ kita sahabat kan? Apa ada yang memasak untukmu disana?atau kau tidak perlu makan disana?” Tanyaku sambil menyeka air mataku. Tiba-tiba handphoneku bergetar, ternyata itu dari Taemin.

“Yoboseyoo” Kata Taemin

“Ne?” Tanyaku berusaha menghilangkan kesedihanku

“Namsan Tower jam 5. Kau lupa?” Tanya Taemin, aku terperanjat kaget dan segera berlari ke rumah “Miannn, aku tadi ketiduran… oke tunggu aku 20 menit lagi oke” aku menutup telfon dan segera berlari mencari taksi.

Setelah berganti baju aku segera pergi ke Namsan Tower, huffhh aku telat 40 menit ? ia pasti menungguku lama, Mian ya Taemin, dan mengapa tangga menuju Namsan Tower jauh sekali, kan cape.

Setelah sampai di atas, aku tidak melihat siapa-siapa, padahal biasanya ada banyak orang, oh iya sekarang kan bukan malam minggu,pantas sepi, lalu kemana Taemin? Aku memandang kota Seoul dari atas sini, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.

“Chagiii~” Katanya lembut, aku terdiam.

“Minho?” sahutku sambil berbalik ke belakang ternyata itu Taemin, ia terdiam dan menatap wajahku

“Apa aku seperti Minho?” Tanyanya, wajahnya tampak sedikit kecewa

“Miann kupikirr…”

“Sudahlah Jiyeon, tenang saja.. lihat hari sudah hampir gelap” Taemin menunjuk langit

“Indah ya?” Kagumku menatap Kota Seoul menjelang gelap…menyaksikannya dengan orang yang aku sukai. Aku menoleh menatap wajah Taemin yang sedang menatap pemandangan kota, mengapa ia seperti Minho? Apa roh Minho nyasar ke Taemin?

“aaaakkhh…” Tiba-tiba taemin berteriak sambil memegang dadanya, ada apa?

“Taemin? Kau kenapa?” Kagetku

“hhhhh…hhhhh…” ia seperti yang sesak nafas, ia terduduk di bawah masih sambil memegangi dadanya, apa ia asma? Aku mencari-cari obatnya di sakunya tapi tidak ada.

“hhh..Jiyeonaa.. hhhh.. hhhhh…” ia memegang tanganku

“Taemin? Mana obatnya? Aku akan panggil ambulance ya?” Dengan segera aku memanggil ambulance, menunggu ambulance datang, aku memeluknya dan air mataku keluar, aku ingin menangis, Hiks taemin kau harus bertahan… sebenarnya kau kenapa? Tiba-tiba ia mimisan banyak dan tak sadarkan diri.

**

1 jam aku menununggu dokter keluar dari ruangan Taemin di periksa, semoga ia tidak terjadi apa-apa, aku tidak bisa berhenti menangis, aku sangat takut Minho, aku butuh kamu … Hiks. Tak lama Dokter pun keluar.

“Anda Saudaranya?” Tanya Dokter

“Bukan aku temannya” Jawabku

“Bisa kau hubungi orang tuanya? Ada hal penting yang harus di bicarakan” Kata Dokter serius

“Mianhaeyo , tapi aku tidak menemukan kontak orangtua Taemin di handphone nya, dan mungkin teman hanya aku teman satu-satunya” Jelasku sesuai kenyataan

“Hmmm, Baiklah.. ikut saya ke ruangan..” Pinta dokter, aku pun menurut. Tangan dan kaki serasa membeku, menjadi dingin dan merasa ketakutan.

“Jadi?” Tanyaku membuka pembicaraan

“Leukemia”kata dokter tiba-tiba

“Ne?” aku masih tidak mengerti

“iya, Taemin mengidap Leukimia stadium 3, sebenarnya ia pernah di periksa kemari sekitar 2 minggu yang lalu” Jelas dokter

“Apa itu Lekeumia? Apa itu parah?” Tanyaku

“penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang. Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri.Dan kanker itu sangat parah” Jelas dokter berbicara dengan hati-hati tapi air mataku menetes kembali..

‘kanker? Apakah Taemin akan meninggal? Andwae!!!!!’

“Dokter pasti salah, ku lihat dia sehat-sehat saja dok” Aku mencoba mengelak berharap kata-kata Dokter ini salah, aku bisa melihat wajah turut berduka dari sang Dokter.

“ia sudah positif Leukemia stadium 3, ciri-cirinya sudah Nampak bukan? Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat, demam, Kesulitan Bernafas, mimisan… itu gejala yang di alami Taemin”

**

Aku berdiri menatap wajah Taemin yang tampak pucat terbaring lemah.

            “Tuhan kau sangat tidak adil, setelah kau mengambil Minho dariku, sekarang kau pelan-pelan akan mengambil Taemin … Aku sudah merasa nyaman dengan Taemin, di masa-masa sulitku hanya Taemin yang datang menghiburku. Tuhaaaan mengapa kau tidak membiarkan aku mati saja saat itu? Mengapa kau harus mengirim kan Taemin padaku namun akhirnya seperti ini? Jika hari esok ada, aku harap aku bisa menjalani semua ini, aku ingin berbuat banyak untuk Taemin. Tuhaan tolong sembuhkan taemin.. Hiks” Aku menangis tanpa air mata, air mataku terkuras habis dari siang. Tak lama tangan Taemin bergerak, dan ia membuka matanya.

“hmmm~” Sahutnya

“Kau sudah sadar?” Kataku berusaha setabah mungkin

“Jiyeon ? mengapa? Aku berada di sini? Apa yang terjadi?” Tanya taemin

“Taemin, kau.. hiks” Tiba-tiba aku memeluknya, aku merasa tidak mau kehilangan dia padahal aku baru saja dekat dengannya.

“Mianhae” Kata Taemin

“wae? Waeeee????????? Kenapa harus kamu Lee Taemin? Wae???? Hiks, nappeun” aku memukul bahunya ringan, ia menatap wajahku

“Geuman, appo !” Keluh Taemin

“Hiks, kenapa kau tidak bilang, Dokter bilang .. kau”

“ne, arrayo.. sudahlah Jiyeon, aku menerima apapun yang tuhan berikan untukku, sekarang aku hanya berharap padamu, tolong jangan tinggalkan aku.” Kata Taemin.

Aku menggeleng, lalu memeluknya kembali

“Aku sayang padamu Taemin” Bisikku

“Nado~”

**

“Chemotherapy?” Kaget Taemin

“ne” Dokter mengangguk

“apa itu sakit?” Tanya Taemin

“Tidak..” Jawab dokter

“Penyembuhan lain?” Tanyaku

“Transplantasi bone marrow dilakukan jika ada sumsum tulang yang cocok dengannya,

Pemberian obat-obatan tablet dan suntik dan Transfusi sel darah merah atau platelet itu sudah pasti dilakukan” Jelas Dokter

“Asshh~ aku sungguh tidak mengerti” Keluh Taemin

“Keadaanmu sudah lumayan membaik Taemin, kita lakukan Chemotherapy 1 jam lagi sementara kami mempersiapkan dahulu, kau anak hebat Taemin.” Jelas Dokter sambil mengelus rambut cokelat Taemin. Dokter namja berusia sekitar 30 tahunan ini Nampak Ramah.

“Taemin…Keluargamu? Mungkin keluargamu ada yang cocok sumsum tulangnya denganmu” Kataku polos

“Aku tidak punya orang tua” Kata Taemin

“Jadi?kau?”

“ne,.. aku Yatim piatu, keluarga ku meninggal kecelakaan, aku sebatang kara selama 2 tahun”

“Aku tidak tahu, Mianhae” Aku tertunduk

“kamu tidak tahu karena aku tidak pernah bercerita padamu. Sekarang aku ada kamu sahabatkuuu” Kata Taemin tersenyum manis, aku pun ikut tersenyum walau merasa sedih ia masih menganggapku hanya sahabat.

**

“Aaaakkhh Geumanhae~ appo!!! Sakitttt aaaahhh…” Aku melihat dari Kaca temapat Taemin di Chemotherapy, ia berteriak kesakitan, padahal Suster hanya menyuntikannya obat. Aku tidak tega.

“Sakiiiiiitt, aaahhh Hiks”

Tak lama Taemin pun tak sadarkan diri, ia dibawa ke kamarnya lagi. Wajahnya pucat kembali, aku sangat sedih saat melihatnya seperti ini. Handphoneku bergetar, ternyata ada Pesan dari umma. Ia menyuruhku pulang, karena dari kemarin aku tidak pulang, walau sudah mendapat izin dari umma kemarin, tapi tetap saja ia akan khawatir.

“Taemin Kau tunggu disini ya? Aku mau pulang dulu, hufftt” aku merapikan poninya, lalu pergi pulang ke rumah.

Taemin POV

Aku membuka mataku perlahan, aku merasa cape, dan sakit di sekujur tubuhku, hal itu menyakitkan. Dimana Jiyeon?

“Kau mencari Jiyeon?” Tanya seseorang, aku terbangun lalu menoleh ke samping dan mendapati seseorang tengah berdiri di sampingku. MINHO? Aku melongo tak percaya, aku juga merasa ketakutan.

“Minho? K..kk..kau?” Kagetku, tapi ia tersenyum evil seperti biasa.

“Kau pasti kaget ya Taemin? Entahlah, aku sendiri heran aku tiba-tiba menjadi roh gentayangan, dan kupikir orang yang bisa melihatku hanya orang yang sedang di ambang kematian,sseperti kau, Kakek – kakek yang tadi, hmmm~” Minho masih Nampak seperti yang dulu, Tampan, Rapi, berkarisma, sekalipun dia adalah sebuah Makhlus halus dalam kata lain Roh.

“Aneh…” Bisikku

“Memang, tapi aku kemari ada urusan denganmu” Kata Minho

“Apa itu?”

“Aku mencintai Jiyeon, dan aku belum sempat menyatakannya padanya, aku ingin dia merasakan kasih sayang dari orang yang dia cintai”

“Orang yang dia cintai itu kau Choi Minho”

“Tidak, ia menyukaimu Taemin, sedekat apapun aku dengan dia, ia hanya menganggapku sahabat.”

“Lalu? Kenapa harus aku? Kau tidak tau bagaimana kondisiku? Sebentar lagi aku akan ikut denganmu”

“Hiyy, enak saja, kau dan aku berbeda, kau neraka, dan aku surga.. mengerti?”

“Memang kau siapa seenaknya saja… whuu”

“Sudahlah, mungkin tuhan melakukan ini untuk membuat hari-hari terakhir mu menjadi lebih bermakna dimata seseorang yang tulus menyayangimu” Kata Minho,

“Aku juga menyayanginya, selain dia siapa lagi tjuan aku hidup bertahan di dunia ini?” Tanyaku

“Gomawoh Lee Taemin, aku tau kau orang baik, tapi kau sulit menunjukan itu” Kata Minho

“Jadi? Seetelah ini kau akan kemana?” Tanyaku

“Mungkin melihat keadaan mu dan Jiyeon, hingga sudah waktunya kau …”

“Sudahlah, aku tahu sebentar lagi aku akan meninggal, jadi jangan bahas kematian lagi, kita bahas hari esok akan bagaimana?” Aku mengalihkan pembicaraan

“Jika hari esok tidak ada?” Tanya Minho

“ya, kau benar, tuhan mencabut nyawa kita kapan saja” Aku tertunduk, sejujurnya aku merasa tidak sanggup bila harus seperti ini, aku menginginkan bersama Jiyeon selamanya, namun keadaan yang membuat kami seperti ini.

 Tuhan jika esok hari terakhirku, aku mohon buatlah Jiyeon tetap tabah dan ceria. Hanya ia yang aku miliki saat ini, buat ia bahagia selamanya walau tanpa aku sekalipun. Aku janji aku akan membuatnya bahagia di hari-hari terakhirku.

Untuk mendapatkan sesuatu, merasakan sakit sangatlah baik. Jika hidup adalah pertarungan, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menang atau kalah, semua hal itu yang kumengerti, Karena kejutan yang membuatku ingin menangis. Jantungku bertalu-talu saat berlari menuju hari esok, aku ingin hidup dengan jujur,aku hanya ingin hidup dengan jujur seperti bocah lelaki di hari itu, aku terlahir untuk hidup. Nafas yang kuhela seperti ini , aku tidak ingin terjebak dalam perkataan orang lain, aku tidak ingin tersesat, esok hari pasti selalu bersinar, tidak apa-apa tidak kembali ke masa dulu, aku pengecut mengenai jalan hidupku esok hari, tapi aku akan berdiri di tempatku walau tak bisa berbalik lagi.

THE END

Gantung banget kan? Aku suka cerita yang nge gantung Hahahahah *abaikan. Awalnya ini cerita buat tugas cerpen, tapi bagusan jadi FF yasudaaa hehehehe. FF ini terinspirasi dari lagu ‘If tomorrow never comes’ waktu itu di puter past tes B.inggris *gapenting.Trus dari lagu YUI-Tomorrow way’s. FF ini udah pernah aku post di PJYFF dan di Blog ku sendiri hihi~

13 responses to “Tomorrow’s way

  1. Ooo, pantesan serasa pernah baca ternyata pernah di post di PJYFF..
    tapi tetep suka ma ceritanya krn qt sbg manusia mmg ga pernah bs tau kapan umur kita bakal berakhir..tapi tetep berharap ada sekuelnya biar ga ikutan penasaran sama minho *lho*

  2. astaga.. Jadi selama ini Minho gentayangan?:o

    Kasian, cakep2 ga bisa tenang cm gr2 ga ngungkapin perasaannya.
    Hiks.. Kasihan juga si Jiyeon, udah seneng dapet taem, eh.. mau di tinggal pergi T.T *pukpuk Jiyeon eonni*

    Nice ff thor ^^

  3. minho dateng kirain setan baik, masih aja sinis ternyata -_-
    nah, endingnya kenapa ga taemin mati pas ngungkapin cinta ke jiyeon? kalo gitu kan clear thor,
    kalo gantungnya disini, tiga-tiganya (2min+jiyeon) gantung ceritanya u,u
    tapi aku tetep suka ide ceritanya xD
    good job ~

  4. uwaaa minho gentayangan…itu tae bs liat dy aduuuuh
    jd taemin mati ap enggak???
    hweeee nyesek niiiie…..
    jiyeon gmna???
    itu kata2 yg d akhir ngena bngt… T.T
    authooor gantung bkin sequel’ny dooong….
    yah yah yah yah 😀

  5. Author buat ff ini jadi sequel dong,gantung banget cerita nya nih,jebal,mian kalo aku kesan nya maksa
    pokonya author beserta ff nya DAEBAK~

    oh ya author kalau punya twitter follow aku ya:@wishTMN
    gomawo^^;;;;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s