[Baek Hyun’s] Egoistic Princess

A_2RGjECUAAsTMI.jpg large

Title : 2nd Chapter [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

Credit Poster : Thanks to Aishita

Author : Fransiska Nooril Firdhausi (@fhayfransiska)
Genre : Romance, Friendship
Length : Chaptered


Cast :
• Byun Baek Hyun
• Lee Jin Ri (OC)
• Cho Sung Hee (OC)

Read previous chapter here : 1st [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

(Bacanya yang urut yah, biar ga bingung^^)
Anyeong readers, author kembali, mian kalau lama ^^ Di 2nd part ini author minjem nama salah satu author juga di sini (@chosm96) a.k.a Cho Sung Hee. Hehe.


This plot is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?
And be a good readers please, don’t forget to comment^^


_________
Baek Hyun menatap tajam yeoja berambut ikal yang tengah duduk di seberangnya. Sedetik kemudian pandangannya beralih ke arah di mana kedua orang tuanya duduk.

“Baik.”ujarnya. “Aku akan menerima perjodohan ini, asalkan dengan satu syarat.”

Yeoja berambut ikal itu kini menatap Baek Hyun sama tajamnya, ia mengerutkan dahinya seakan tidak percaya dengan apa yang barusaja diucapkan namja itu, namun lebih tepatnya dia tampak kecewa.

“Ijinkan aku pergi ke Inggris.”
Kata-kata Baek Hyun barusan membuat kedua orang tuanya tertegun. Mereka lantas menoleh ke arah Baek Hyun, meminta penjelasan. Keduanya heran dengan keinginan anak laki-lakinya yang tidak biasa itu, karena selama ini Baek Hyun tidak pernah tertarik sekalipun mereka mengajaknya berlibur ke luar negeri.

Dua orang paruh baya yang duduk di kanan-kiri yeoja berambut ikal itu saling berpandangan, mereka tampak berbicara lewat mata masing-masing. Sesaat kemudian keduanya mengangguk dan tersenyum, “Baiklah, kami orang tua dari Cho Sung Hee akan membiayai semua persiapan serta kebutuhanmu selama di Inggris, asalkan dengan satu syarat juga.”

Kedua orang tua Baek Hyun kembali melirik anak laki-lakinya dengan cemas, namun wajah Baek Hyun hanya datar saja. Baginya syarat apapun akan dia lakukan asal dia bisa pergi ke Inggris dan menemui seseorang.

“Ajak Sung Hee bersamamu.”

Baek Hyun sontak melotot, begitupun dengan yeoja berambut ikal yang ternyata bernama Sung Hee itu.

“Kalian akan menikah di masa depan nanti, sementara kalian baru bertemu satu kali ini. Kami yakin dengan perjalanan kalian ke Inggris, kalian akan semakin mengenal dan mengerti satu sama lain. Kami harap keluarga Byun juga setuju dengan pendapat kami.”

Semua orang di ruangan itu lantas terdiam, tampak larut dalam pikiran masing-masing. Namun Baek Hyun tidak ingin mempermasalahkan apapun lain, seperti yang telah dia pikirkan jauh-jauh sebelumnya, tidak ada yang bisa menghalanginya untuk pergi ke Inggris. Apapun akan dia lakukan, sekalipun itu hal yang paling tidak dia sukai. Dan kemudian dia mengangguk, tanpa ragu.

“Baik. Saya akan menyanggupi syaratnya.”
_________

Jin Ri menatap kosong buku di hadapannya. Dibukanya perlahan lembar berikutnya, namun kemudian membalikkannya lagi karena menyadari bahwa halaman itu belum sempat dibacanya. Hal itu terus terjadi beberapa kali hingga yeoja itu memutuskan untuk menyerah, pikirannya sedang tidak fokus. Yeoja itu kemudian mendesah hebat, dialihkannya pandangan dari buku itu. Ditolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang.

“Sudah hampir sebulan aku tidak melihatnya. Apa dia sakit?”gumam Jin Ri kemudian.

Jin Ri menyandarkan punggungnya pelan ke bangku taman yang telah menjadi teman baiknya selama hampir setengah tahun terakhir. Dipejamkannya matanya, yeoja itu mulai menikmati semilir angin musim gugur yang berhembus pelan dan menerpa wajahnya.

Perlahan Jin Ri membuka mata dan tersentak mendapati seseorang yang telah ditunggunya sejak sebulan yang lalu kini tengah berdiri di hadapannya.

“Baek Hyun ah.”katanya lirih.

Baek Hyun menatap Jin Ri sendu, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Baek Hyun yang dulu menatap yeoja itu dengan pandangan dingin seakan tidak ingin disentuh, namun kini namja itu terlihat sangat lemah dan rapuh.

“Baek Hyun ah, gwenchanayo?”
Baek Hyun hanya terdiam sementara Jin Ri mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekatinya. Jin Ri menatap dalam-dalam mata Baek Hyun yang kosong, sesaat dia merasa tersedot ke dalamnya dan merasakan betapa sepasang mata mungil itu bersikeras menahan tangis.

Jin Ri mengguncang pelan lengan Baek Hyun, perasaan cemas mulai merajai pikirannya. “Waeyo, Baek Hyun ah? Waeyo?”gumamnya lagi.

Namja itu tetap saja diam, pandangannya masih sama kosongnya, namun sedetik kemudian namja itu memperdekat jaraknya dengan Jin Ri. Dan dengan pelan membenamkan wajahnya ke bahu yeoja itu. Jin Ri benar-benar tersentak melihat tingkah Baek Hyun yang tiba-tiba aneh, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Kini wajah namja itu benar-benar dekat dengan wajahnya, napas berat namja itu kini terdengar jelas di telinga Jin Ri. Yeoja itu merasakan pipinya memanas dan jantungnya mulai berdegup tak karuan.

Mereka berdua hanya terdiam, tidak ada seorangpun yang memulai pembicaraan. Sesekali terdengar bisik-bisik orang di taman ketika melihat adegan itu, namun Jin Ri berusaha menghiraukannya. Baginya Baek Hyun tampak sangat lemah sekarang, dan yang harus dia lakukan adalah menghibur dan membuatnya nyaman.

Tiba-tiba bahu Jin Ri bergetar dan yeoja itu pun menyadari sesuatu, Baek Hyun menangis. Namja itu kini terisak pelan di bahunya, Jin Ri melihat sebulir air mata jatuh ke pipi putih namja itu.

“Ba.. Baek Hyun ah. Gwenchanayo? Baek Hyun ah. .”Jin Ri mulai panik. Namja itu tak menjawab dan terus terisak, membuat Jin Ri memutuskan untuk diam. Ditepuknya pelan punggung Baek Hyun, bermaksud membuatnya merasa tenang dan nyaman.

Jin Ri kembali tersentak ketika Baek Hyun perlahan mengangkat kepalanya dari bahu Jin Ri. Hati yeoja itu langsung mencelos ketika melihat Baek Hyun tampak begitu hancur, wajah yang pucat pasi dihiasi dengan sepasang mata mungilnya yang sembab karena air mata.

“Aku telah kehilangan semuanya.”ucap Baek Hyun tiba-tiba.“Aku telah kehilangan seseorang yang sangat penting untukku, ini semua salahku.”

Jin Ri hanya menatap Baek Hyun cemas, tidak menanggapi kata-kata ambigu namja di hadapannya itu. Kemudian yeoja itu mendapati Baek Hyun mengeluarkan sebuah buku agak tebal bersampul cokelat pudar dari dalam tas punggungnya. Baek Hyun menatap buku itu dalam-dalam, kemudian mengelus pelan sampul buku itu. Pandangannya tampak pedih.

Tiba-tiba namja itu menyerahkan buku bersampul cokelat yang ada digenggamannya pada Jin Ri. Jin Ri menerima buku itu dengan ragu, ditatapnya lekat-lekat sampul depan buku itu. Dibukanya perlahan, sesaat pikirannya mendadak kosong ketika ia melihat sebuah foto, foto seorang namja yang tampak tersenyum bahagia dan seorang namja lainnya yang tidak lain adalah Baek Hyun.

Begitupun dengan lembar-lembar selanjutnya, foto Baek Hyun dengan namja manis itu selalu menghiasi. Jin Ri tersenyum, orang inilah yang pasti begitu penting untuk Baek Hyun, begitu pikirnya. Namun Jin Ri tiba-tiba tersentak ketika mendapati foto dirinya yang tengah menatap langit. Merasa tidak yakin kalau itu dirinya Jin Ri pun membuka halaman-halaman selanjutnya. Gerakan tangan Jin Ri terhenti ketika mendapati ada banyak sekali potret dirinya dalam buku itu, entah saat dia tengah membaca buku, menatap langit, ataupun saat dia tengah menguap. Serta saat dia tengah menggenggam erat tangan Baek Hyun di hari hujan.

“Baek Hyun ah, ini semua…”
“Buku itu milik sahabatku, Chan Yeol namanya.” Baek Hyun menghirup pelan udara di sekitarnya yang tiba-tiba terasa berat. “Namja itu menyukaimu, tepatnya sejak lima bulan yang lalu.”
Jin Ri hanya termenung mendengarnya, pandangannya terus menatap foto Chan Yeol yang tengah memakai t-shirt abu-abu dan tampak tersenyum.

“Namun yang namja bodoh itu lakukan hanya memandangimu lewat jendela kamarnya.” Baek Hyun mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke sebuah jendela berkaca gelap yang berada di lantai dua rumah di seberang tempatnya duduk. Jin Ri mengikuti arah telunjuk Baek Hyun dan mendapati dirinya menahan napas. Yeoja itu mulai menerka-nerka apa yang akan Baek Hyun katakan selanjutnya.

“Dialah ‘seseorang’ itu.”tambah Baek Hyun.

Setetes air mata jatuh ke pipi putih Jin Ri, namun dengan segera dia menghapusnya. Entah mengapa mendengar kata ‘seseorang’ membuat hatinya tiba-tiba tersentuh. Yeoja itu pun kembali membuka halaman demi halaman buku itu, hingga sampai di halaman terakhir, di mana terdapat sebuah foto dua orang namja dengan tulisan rapi di bawahnya.

Jin Ri membaca setiap kata yang tertulis di halaman itu dengan seksama, matanya bergerak-gerak cepat. Baek Hyun yang berada di sebelahnya hanya menatap kosong yeoja itu, baginya melihat Jin Ri sama saja dengan melihat sosok Chan Yeol. Dan hal itu sanggup membuat hatinya kini terasa sakit. Perasaan bersalah yang selama ini berusaha dihiraukannya perlahan kembali memenuhi hati dan pikirannya.

“Padahal dia tampak begitu hidup.”gumam Jin Ri membuyarkan lamunan Baek Hyun.

Yeoja bernama Jin Ri itu mulai terisak ketika selesai membaca surat Chan Yeol, ia memeluk erat-erat buku bersampul cokelat itu seakan tidak ingin melepaskannya. Dia baru tahu, bahwa selama ini ada seseorang yang begitu menyayanginya, memperhatikannya serta melindunginya dari jauh. Kenyataan bahwa seseorang itu tidak akan pernah dia temui membuatnya terisak lebih keras.

“Kenapa dia tidak menemuiku saja, kenapa …”gumamnya disela isak tangis.

Baek Hyun menghela napas keras. “Jin Ri ya …Sekarang dia ada di Inggris, mungkin sedang melakukan pengobatan. Atau .. mungkin saja menghindar dari semua ini.”

Tangis Jin Ri terhenti, diarahkannya pandangannya pada Baek Hyun. Yeoja itu mulai menilai mimik wajah Baek Hyun dan mendapati tidak ada kebohongan di sepasang mata mungil milik namja itu. “Jadi, dia masih ..”

Baek Hyun mengangguk, “Ikutlah denganku ke Inggris, dan temui dia di sana.”
“Aku yakin dia masih hidup, dia tidak boleh pergi sampai aku memukulnya dulu. Dia harus tanggung jawab karena membuat kita khawatir. ”ucap Baek Hyun lagi sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara dan tersenyum, membuat yeoja bernama Jin Ri itu perlahan tersenyum lemah dan mengangguk.
__________

“Joon Myun Oppa, bagaimana ini?”

Sung Hee melemparkan bantal bulu kesayangannya ke tembok kamarnya dengan keras, ia terlihat frustasi, kemudian ia kembali fokus mendengarkan seseorang yang tengah berbicara padanya di seberang telepon.

“Aku tidak suka namja bernama Baek Hyun itu, dia tampak tidak punya semangat hidup. Bayangkan saja, wajahnya begitu pucat dan lemah. Sepertinya dia juga cengeng, terlihat dari matanya yang sembab dan sayu. Bagaimana umma dan appa sebegitu bersemangat menjodohkan aku dengan dia?”

Yeoja berambut ikal itu membanting tubuhnya ke kasur, dia sedikit berharap namja bernama Joon Myun itu cemburu ketika dia membicarakan namja lain. Namun yang dia dapat malah kekehan serta celotehan panjang dari namja yang lebih tua dua tahun darinya itu.

“Nee, Oppa. Aku tahu, tapi aku semakin tidak bisa mentolerir jika aku harus pergi ke Inggris bersamanya. Ayolah, dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali, appa dan umma pasti sudah gila!”

Terdengar kekehan lagi dari seberang telepon, membuat Sung Hee menghembuskan napas keras karena kesal. “Sudahlah, percuma aku cerita pada Oppa. Dari tadi hanya menertawakanku saja. Sudah! Pergilah sana dengan si Jin Ri itu!”

Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Sung Hee menutup telepon genggamnya dan melemparkan benda mungil itu ke sembarang tempat. Dia benar-benar kesal dengan sikap namja yang telah lama disukainya itu. Namja bernama Joon Myun, yang sangat tidak sensitif. Selama ini Sung Hee telah memberinya sinyal-sinyal, namun tidak ada respon dari Joon Myun. Hal itu membuat Sung Hee kesal, ditambah dengan kedekatan namja itu dengan seorang yeoja bernama Jin Ri.

Memang, Joon Myun dan Jin Ri telah bersahabat sedari kecil, wajar kalau hal itu membuat mereka sangat dekat. Mereka sering terlihat bersama-sama saat mengerjakan sesuatu dan hal itu benar-benar membuat Sung Hee kesal. Sung Hee juga iri dengan Jin Ri yang lebih banyak tahu tentang Joon Myun dibandingkan dirinya.

Sung Hee sangat membenci Jin Ri walaupun dia tahu kalau sebenarnya yeoja itu sama sekali tidak bersalah. Namun egonya mengalahkan semuanya, baginya segalanya sah dalam perang cinta. Tidak jarang Jin Ri mendapat perlakuan menyebalkan dari Sunghee, hal itu membuat Jin Ri kesal dan akhirnya hingga kini mereka berdua pun saling bermusuhan.

Sung Hee menatap jam dinding kamarnya dengan malas, dan mendapati bahwa hari benar-benar sudah larut. Tiba-tiba dia kembali teringat dengan namja bernama Baek Hyun, calon suaminya kelak. Sebenarnya dia telah menolak mentah-mentah perjodohan itu, dia tentu lebih memilih Joon Myun, orang yang telah lama dia cintai. Namun apa yang kemudian dikatakan kedua orang tuanya benar-benar menyakitkan dan membuat dia tidak mampu mengelak lagi.

“Bagaimanapun seorang nona kaya sepertimu tidak boleh menikah dengan pemuda miskin seperti Joon Myun.”

Sung Hee memang egois dalam berbagai hal, namun satu prinsipnya yaitu untuk selalu mematuhi dan membahagiakan kedua orang tuanya, sekalipun dia harus mengorbankan apa yang paling ia sukai. Sung Hee dengan terpaksa menerima perjodohan itu. Awalnya dia sedikit berharap namja bernama Baek Hyun itu juga akan menolak perjodohan yang egois ini, namun ternyata semua benar-benar di luar perkiraannya. Namja itu menerima, bahkan tanpa perlawanan sama sekali.

“Mianhae, Joon Myun Oppa.” Sung Hee mulai terisak, “Mulai sekarang .. aku akan berusaha untuk melupakanmu. Meskipun aku tahu itu sulit, tapi … ”

Malam itu juga Sung Hee tertidur dengan air mata membasahi pipinya.
________

Bandara Internasional Incheon, Seoul.

Baek Hyun melirik jam tangannya kemudian menghela napas keras. Sudah satu jam dia menunggu, dan yeoja yang ditunggunya itu belum juga tiba. Baek Hyun lantas menendang kopernya karena kesal.

“Ya, Baek Hyun ah. Waeyo?”tanya yeoja berambut lurus dan berpipi sedikit tembam yang duduk di sampingnya.

“Yeoja itu lama sekali, sih!”

“Sabarlah, yeoja memang seperti itu.”

Namja bernama Baek Hyun itu hanya mengerucutkan bibirnya, membuat yeoja bernama Jin Ri yang berada di sampingnya tertawa pelan.

“Baek Hyun ah, gomawoyo.”

Baek Hyun menoleh dan mendapati Jin Ri tengah tersenyum padanya. “Gomawo sudah mengajakku pergi ke Inggris untuk bertemu dengannya. Juga karena memberitahuku soal dia. Aku pasti akan menyesal seandainya aku tidak tahu soal semua ini.”

Kata-kata Jin Ri membuat senyum perlahan terukir di bibir Baek Hyun. Kemudian mereka berdua pun tertawa, kini mereka terlihat jauh lebih akrab daripada sebelum-sebelumnya.

“Oh, iya Jin Ri ya. Mengenai janji yang ada di surat Chan Yeol …”

“Ya, wanita jalang! Mau apa kau dekat-dekat calon suamiku!”

Baek Hyun dan Jin Ri sontak menoleh ke arah seorang yeoja berambut ikal yang barusaja berteriak pada mereka. Sedetik kemudian wajah Jin Ri yang terkejut berubah masam, sementara wajah yeoja berambut ikal itu tampak semakin marah. “Ya! Tidak dengar apa kataku barusan, jauh-jauh dari calon suamiku!”

Jin Ri berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati yeoja berambut ikal itu dengan kesal. Dia benar-benar tidak tahu kalau yeoja lain yang diajak Baek Hyun ke Inggris adalah musuh terbesarnya, Cho Sung Hee. Baek Hyun hanya mengatakan kalau dia akan mengajak yeoja lain tanpa sekalipun menyebutkan nama yeoja yang dimaksud.

“Ya, Cho Sung Hee berhenti berteriak-teriak atau semua orang di bandara ini akan tahu sifat burukmu.”

Yeoja bernama Cho Sung Hee itu lantas terdiam, kemudian melihat sekeliling dan mendapati banyak orang tengah memandanginya sekarang. Banyak dari orang itu tampak menggeleng-gelengkan kepala atau berbisik-bisik. Sung Hee menelan ludah.

“Dasar tidak tahu malu.”ucap Jin Ri lirih. Sung Hee memelototkan matanya kemudian menarik rambut Jin Ri keras hingga membuat yeoja itu oleng dan hampir terjatuh. Sung Hee benar-benar kesal karena merasa dipermalukan di depan orang banyak oleh musuh terbesarnya sendiri, Lee Jin Ri.

“Ya! Apa yang kau lakukan!”

Jin Ri bermaksud membalas dengan menarik rambut ikal Sung Hee sama kerasnya, membuat yeoja itu merintih kesakitan. “Ya, Jin Ri beraninya kau!”

Sung Hee mendorong bahu Jin Ri dan berhasil membuat yeoja itu terjatuh, namun Jin Ri tidak hanya diam, dia langsung bangun dan mendorong tubuh Sung Hee sama kerasnya. Tanpa mereka sadari, kini semua orang di bandara tengah memasang mata pada pertengkaran kekanak-kanakan mereka.

“Ya! Buat apa kau ke sini dan dekat-dekat dengan calon suamiku?! Belum cukup dengan Joon Myun oppa, hah ?!”

“Apa maksud perkataanmu itu, hah?! Joon Myun hanya sahabatku! Lalu apa maksudmu dengan ‘calon suami’?”

Sung Hee tersenyum bangga. “Baek Hyun tidak bilang padamu? Aku calon istri Baek Hyun, dan kami berdua akan pergi ke Inggris!”

“Mwo?! Calon istri? Jangan bercanda! Aku juga akan pergi ke Inggris dengan Baek Hyun!”

“M … Mwo?!”

Mereka berdua lantas menoleh ke arah di mana Baek Hyun duduk, namun keduanya tidak menemukan sosok namja itu di sana. Koper yang dibawa Baek Hyun juga raib. Pandangan keduanya kemudian beralih ke sosok bertubuh tidak terlalu tinggi yang tengah berjalan cepat menjauhi mereka. Jin Ri dan Sung Hee saling pandang, kemudian dengan cepat dan hampir bersamaan menarik koper bawaan mereka dan mengejar Baek Hyun. Mereka berusaha menghiraukan tatapan-tatapan heran dan kesal dari orang-orang di bandara.

“Aku tidak kenal mereka!”umpat Baek Hyun kesal sambil terus berjalan cepat.

________

“Pokoknya aku duduk dekat jendela!”

“Enak saja! Aku sudah bilang duluan kalau aku yang mau duduk di sana!”

Baek Hyun memijit-mijit kepalanya yang mendadak pusing. Sudah cukup beban berat berupa perasaan cemas yang dia bawa, namun kini beban itu semakin bertambah dengan hadirnya kedua yeoja cerewet dan gemar berdebat itu. Dan kini mereka berdua tengah bertengkar tentang posisi duduk di pesawat, benar-benar bukan hal yang patut diperdebatkan.

“Sudah aku bilang kan, kalau kalian bertengkar lagi aku akan meninggalkan kalian dan pergi sendiri!”ujar Baek Hyun yang berhasil membuat Jin Ri dan Sung Hee terdiam.

“Begini saja, kita ambil tempat duduk yang bertiga dan aku akan duduk di tengah. Aku punya tanggung jawab untuk menjaga kalian, oleh karena itu kalian tidak boleh duduk jauh-jauh dariku. Dan aku yang akan memutuskan di mana Jin Ri dan Sung Hee duduk. Di kanan atau di kiriku, ok?”
Jin Ri dan Sung Hee pun mengangguk kesal.
_______

Bandara Internasional Heathrow, London.

Baek Hyun berjalan keluar pintu bandara dengan wajah pucat, sementara Jin Ri dan Sung Hee berjalan beriringan di sampingnya. Keduanya memegang tangan Baek Hyun, menopang tubuh namja yang tampak kepayahan itu. Tiba-tiba Baek Hyun berlari meninggalkan keduanya menuju toilet, membuat Jin Ri dan Sung Hee menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu ternyata seorang Baek Hyun alergi dengan ketinggian.”kata Sung Hee.

Jin Ri mengedikkan bahunya, kemudian menambahkan. “Mungkin lebih tepatnya dia alergi pesawat terbang. Dia bahkan sudah muntah dua kali di pesawat.”

Tiba-tiba Sung Hee melirik sinis ke arah Jin Ri, didapatinya yeoja itu juga tengah memandanginya sama sinisnya. “Lalu buat apa kau ikut kemari, harusnya hanya aku dan Baek Hyun saja. Dasar pengganggu!”

Jin Ri mendelik kesal ke arah Sung Hee. “Terserah kau mau bilang apa, yang penting aku kemari punya tujuan. Tidak seperti dirimu, hanya ikut-ikutan saja mentang-mentang calon istri Baek Hyun.” Jin Ri mengatakan dengan nada penekanan di kalimat terakhir, sebenarnya hatinya terasa sakit karena harus mengakui bahwa Sung Hee yang notabene adalah musuh besarnya merupakan calon istri Baek Hyun, namja yang sempat singgah di hatinya. Kini pun Jin Ri yakin kalau perasaan itu belum sepenuhnya hilang, sekalipun dia berusaha keras melupakannya.

Sung Hee meremas tangannya keras hingga buku-buku jarinya memutih. Dia berusaha keras menahan emosinya yang mulai bergejolak. “Memangnya apa tujuanmu kemari?”

“Kami akan menemui seseorang, dan akulah yang mengajak Jin Ri kemari.”

Sung Hee tersentak ketika mendapati bahwa Baek Hyun lah yang menjawab pertanyaannya. Namja yang masih pucat itu kini tampak menarik tangan Jin Ri agar kembali berjalan keluar bandara bersamanya, meninggalkan Sung Hee yang hanya terdiam. Sesaat kemudian yeoja itu mendengus kesal, “Lagi-lagi Jin Ri, kenapa semua namja seakan takluk padanya? Dan mengapa selalu aku yang kalah!?”

_______

Falcon Hotel, London.

“Baiklah Jin Ri ya, aku yakin Chan Yeol berada di salah satu rumah sakit di London. Dia pasti tengah menjalani pengobatan dan rumah sakit yang paling baik pasti berada tidak jauh dengan jantung kota London. Jadi, mari kita mencari mulai dari rumah sakit di daerah Paddington.”

“Dan kita akan mulai mencarinya besok.”

Sung Hee mengintip dari balik celah pintu kamar hotelnya dan mendapati Baek Hyun dan Jin Ri tengah serius membicarakan sesuatu di lorong hotel.

“Chan Yeol? Siapa itu?”gumamnya.
Sung Hee kembali menatap dalam-dalam wajah Baek Hyun yang masih pucat, mendadak hatinya dipenuhi rasa khawatir akan kesehatan namja itu. “Umma bilang, aku harus menunjukkan kesan sebagai yeoja yang baik dan perhatian padanya.” Sung Hee kemudian tersenyum, “Baiklah, aku akan membuatkan sesuatu untuknya!”

_______

Badan Baek Hyun benar-benar remuk karena terlalu lama duduk di pesawat. Alasan dia tidak pernah mau diajak orang tuanya untuk pergi keluar negeri adalah karena dia phobia ketinggian dan pesawat terbang. Memang aneh dan terkesan kampungan. Namun kali ini dia berusaha melupakan phobianya itu dan bersikeras untuk pergi ke London demi menemui Chan Yeol.

Baek Hyun memutuskan untuk tidur ketika dia tiba-tiba mencium bebauan aneh dari arah luar kamar hotelnya. Karena penasaran, dengan berat hati dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Sung Hee tengah menangis di depan pintu kamarnya sambil membawa sepiring masakan yang tampak gosong. Baek Hyun berusaha menerka-nerka masakan apa yang di bawa Sung Hee, namun namja itu tetap tidak menemukan jawabannya karena masakan Sung Hee sama sekali tidak berbentuk. Dengan kata lain, abstrak.

“Su .. Sung Hee ya?”

Sung Hee terisak. “Mianhae, Baek Hyun ah. Aku hanya ingin membuatkan sesuatu untukmu. Aku bermaksud pinjam dapur hotel namun aku malah menghancurkan hampir separuh peralatan memasak para koki. Aku juga gagal membuat masakan pertamaku, padahal aku membuatnya untukmu dan berharap kau akan cepat pulih bila makan masakanku. Tapi .. huwaaa ..”

Baek Hyun memandangi gadis yang menangis di hadapannya dengan takjub. Namja itu memandang kosong jari-jari Sung Hee yang dipenuhi plester, kemudian melihat wajah Sung Hee dan mendapati kulit putih yeoja itu tampak kehitaman karena terkena asap. Baek Hyun tersentuh, perlahan sebuah senyuman terukir di wajah tampannya.

Ternyata yeoja ini memikirkanku, gumamnya dalam hati.

“Sung Hee ya.”
Sung Hee berhenti menangis dan menatap heran Baek Hyun yang tengah tersenyum sumringah. “Mau kencan denganku?”
_________

Langit kota London malam itu benar-benar cerah, bintang-bintang tampak sangat jelas dan bulan pun bersinar dengan eloknya. Namun udara dingin masih terasa, membuat sebagian besar orang yang berjalan-jalan di Kingston st. itu kembali merapatkan jaketnya. Tampak beberapa orang tengah menggosok-gosokkan tangannya untuk sekedar menghangatkan badan.

Di sebuah café, tampaklah dua manusia, yang satu tengah menyeruput secangkir americano sementara yang lain hanya memandang jalanan kota London yang cukup ramai dengan pandangan menerawang.

“Baek Hyun ah, siapa ‘seseorang’ itu? Dan untuk apa kau mencarinya?”

Lamunan Baek Hyun buyar karena pertanyaan Sung Hee yang tiba-tiba, namja itu lantas menatap Sung Hee dalam-dalam, namun sedetik kemudian namja itu tersenyum. “Dia sahabatku.”

“Lalu apa hubungannya dengan Jin Ri?”

Baek Hyun membenarkan posisi duduknya kemudian melanjutkan, “Sahabatku itu menyukai Jin Ri, yeoja yang hanya bisa dia pandangi lewat jendela kamarnya. Selama ini dia tidak pernah berani menemui Jin Ri dan selalu minta tolong padaku untuk mendekati yeoja itu. Hingga akhirnya aku mengetahui sebuah kenyataan bahwa dia meminta bantuanku karena dia sakit.”

Sung Hee hanya terdiam meskipun banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya. Dia tidak berani memandang wajah Baek Hyun, hanya mendengarkan sambil sesekali mengaduk-aduk americanonya yang masih panas. Lagi-lagi Jin Ri, bosan, gumam Sung Hee dalam hati.

“Aku ke London untuk menemuinya, entah kenapa aku yakin sekali dia masih hidup. Mungkin kami punya ikatan batin yang kuat karena sudah lama bersama. Aku merasakannya di sini.” Baek Hyun tersenyum sambil menepuk dadanya pelan.

Sung Hee mengangkat kepalanya dan mendapati Baek Hyun tampak tersenyum sendu. Sebuah perasaan hangat perlahan menyelimuti hatinya, saat itu juga dia merasa ingin sekali memeluk dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja kepada namja yang kini duduk di hadapannya.

“Aku tidak bisa menuruti apa katanya untuk tetap di Seoul dan hanya diam menunggu kabar kematiannya seperti orang bodoh. Aku harus bertemu dengannya, kemudian memukul dan memarahinya karena tega membuat aku khawatir. Meskipun kecil kemungkinan untuk bertemu dengannya di London yang luas ini, apapun akan aku lakukan. Aku tidak ingin menyesal karena membiarkannya pergi tanpa sekalipun bertemu Jin Ri.”

Baek Hyun tersenyum lagi. “Aku harus memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia masih hidup. Aku juga tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk kedua orangtuaku, hanya kau dan Jin Ri yang tahu.”
Sung Hee menatap Baek Hyun dengan wajah seperti hampir menangis. Yeoja itu mulai merasa bersalah setelah mengetahui masalah berat yang dipikul Baek Hyun serta karena membuat namja yang duduk di hadapannya kerepotan menangani keegoisannya.

“Mianhae, aku selalu merepotkanmu. Seharusnya aku tidak ikut pergi ke Inggris dan melawan keegoisan orang tuaku, kini aku pasti hanya jadi penghalang untukmu mencari sahabatmu. Mianhae..”

Baek Hyun hanya tersenyum kemudian meraih tangan Sung Hee. “Gwenchanayo, benar kata kedua orang tuamu. Kita harus lebih dekat karena kita akan menikah nantinya, lewat perjalanan ini, mari kita ubah semuanya. Nee?”

Mendengar itu, Sung Hee tersenyum kemudian mengangguk mantap.

“Tapi … aku tidak mau menikah denganmu kalau nanti setiap hari harus memakan masakanmu, Sung Hee ya.”

Sung Hee memelototkan matanya ke arah Baek Hyun. “Ya! Apa-apaan kau Baek Hyun ah!”
________

Jin Ri memandang jam dinding klasik di kamar hotelnya dan kembali mendesah hebat. Sudah tiga kali dia mendatangi kamar Baek Hyun yang terletak di sebelah kanan kamar hotelnya dan kamar Sung Hee yang berada di sebelah kiri kamar hotelnya. Namun tetap saja kedua kamar itu masih juga kosong meskipun kini hari benar-benar sudah larut. Jin Ri merasakan dirinya mulai kebosanan setengah mati.

“Baek Hyun dan Sung Hee lama sekali. Mereka pasti tengah bersenang-senang.”gumamnya lirih. Terselip nada iri dalam kata-katanya.

Jin Ri bangkit dari tempatnya duduk dan meraih buku cokelat milik Chan Yeol. “Chan Yeol ah, apa aku cemburu? Apa aku masih menyukai Baek Hyun? Kenapa hati ini begitu sakit ketika aku melihatnya berkencan dengan yeoja lain?”

Jin Ri memeluk buku milik Chan Yeol erat, kemudian membukanya dan mengelus pelan foto di lembar pertama buku itu. “Gomawo, Yeol ah. Telah dengan tulus menyukaiku yang pengecut ini. Yang sampai saat ini belum bisa melupakan Baek Hyun meskipun dia sudah jadi milik orang lain. Mianhae, Yeol ah.”

Sebulir air mata turun membasahi pipi Jin Ri. “Yeol ah, aku pasti akan bertemu denganmu, kan? Kemudian saat itu dan selamanya kita akan terus bersama kan? Yeol ah, tolong buat aku melupakannya, tolong.”

Perlahan seulas senyum terbentuk di wajah cantik Jin Ri.

“Jangan pergi dan tetaplah menungguku.”

___TBC___
Anyeong readerdeul, gimana 2nd part ini? Kayaknya makin aneh ya, hahaha. Author gaada ide sama sekali, akhirnya jadinya kayak begini deh. Oh, iya mian kalau Baconnya engga sesuai kenyataan, dia kan gak phobia pesawat, yang sering muntah di pesawat malah Luhan. Wkwkwk, author ngaco. Oh, ya buat next part (3rd part) bakalan ada our next exo boy lho (siapa ya kira-kira? Coba tebak, ekeke) terus ada yang minat jadi tokoh ceweknya ga ? Syaratnya harus komen terus sebutin nama korea kamu yah, entar yang beruntung author pilih (ayo dipilih-dipilih #apasih) gomawo ^^
Take it with full credit, OK ?
Seeya next part, sorry because it will be take a long time. Annyeong ^^🙂

195 responses to “[Baek Hyun’s] Egoistic Princess

  1. kasian sebenernya, udah temennya di inggris, nyamperin kudu naik pesawat, muntah, masih bawa makhluk riweuh -sebut saja spesies : cewek- dua biji pula…

    Godbless baekhyun. Amiin.

  2. Yaahh,,, kok tbc… Tapi gak pp, deh… Oiya, aku bukan maksud apa-apa ya, cuma mau ngomong doang. Aku kurang suka sama Sung Hee, awalnya dia gak mau dijodohin sama Baekhyun tapi pas di London dia malah nempel-nempel sama Baekhyun. Menurutku kesannya dia itu cuma gak mau kalah sama Minri, beda sama Minri yang emang suka sama Baekhyun. Kalo aku sih pengennya Sung hee sama suho aja. Terus kalo ceritanya nanti chanyeolnya meninggal, aku pengen Baekhyun sama Minri…
    Tapi itu cuma pendapatku, kok… Kalo emang gak sesuai harapanku juga gak pp, aku tetap dukung ceritanya. Tapi sebenernya ceritanya udah bagus kok, thor!🙂
    Lanjut, thor! Hwaiting! ^^9

  3. Yaahh,,, kok tbc… Tapi gak pp, deh… Oiya, aku bukan maksud apa-apa ya, cuma mau ngomong doang. Aku kurang suka sama Sung Hee, awalnya dia gak mau dijodohin sama Baekhyun tapi pas di London dia malah nempel-nempel sama Baekhyun. Menurutku kesannya dia itu cuma gak mau kalah sama Minri, beda sama Minri yang emang suka sama Baekhyun. Kalo aku sih pengennya Sung hee sama suho aja. Terus kalo ceritanya nanti chanyeolnya meninggal, aku pengen Baekhyun sama Minri…
    Tapi itu cuma pendapatku, kok… Kalo emang gak sesuai harapanku juga gak pp, aku tetap dukung ceritanya. So, aku harap komentarku yang tadi tidak menyinggung perasaan Author. Sebenarnya ceritanya udah bagus kok, thor!🙂
    Lanjut, thor! Hwaiting! ^^9

  4. Oh yeol emg msh hidup thor? Aigoo baek jd rbutan yahh, tp lbh setuju sm sunghee nih walaupun dia kesannya agak childish tp gpp biar minri sm yeol kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s