HEARTBREAKER | PART 3B

TITLE: HEARTBREAKER [3] vers. B

CAST: CHO HWAYOUNG

KIM JOON MYUN

BYUN BAEK HYUN  

GENRE: ROMANCE/ANGST/TRAGEDY

RATING: GENERAL/TEENAGER

SUMMARY: “love is Destiny. Really? Can I Get my Destiny too? I Just Thinking, That I Can’t Keep This Much Longer, I Want That Love! But, What should I do? ” 

MASSAGE: Annyeonghaseyo^^ Sebelumnya, Mianhamnida, pembuatan FF Ini sempet Molor sebentar.. #WHAT!?SEBENTAR! #DitendangMassa. 

Karena Aye udah gatel Pengen Ngelanjutin Ni FF, Jadi Aye kebut deh buatnya. Walopun ngebut, Semoga Readerdeul tetap Mau membaca dan Me-RCL ff Ini^^

“BAGI PARA SENIOR, DAN PECINTA FANFICT SILAHKAN MASUK” ^^ 

AUTHOR: F_BLUE |FANTASTIC BLUE|CHO HWAYOUNG

PLAYLIST : EXO – BABY DON’T CRY

[PROLOG]_JOON MYUN SIDE

Aku mengalihkan pandanganku menuju luar jendela. Pagi ini, Seoul tampak begitu indah. Semburat Cahaya matahari remang remang menerangi jalan setapak yang kita lalui. Setetes embun pagi turut berjatuhan dengan tempo irama yang indah. Kicauan burung burung bagai menggantung di gendang telinga kami, turut menemani jauhnya kami melaju. Aku menghela nafas sejenak, membiarkan semburat pemandangan ini melintang di hadapanku. Aku tersenyum kecil, dulu, aku dan Kyuhyun selalu bersama sama bermain sepeda di sekitar sini. Walaupun sebenarnya, sepeda itu hanya meminjam—err—maksudku, meminjam tanpa izin. Kau tahu? Siapa dulu yang mau meminjamkan sepedanya pada anak dekil seperti kita? Err—itu dulu!

“Hyung! Joonmyun!” aku menolehkan kepalaku. Kai tampak menyeringai memperhatikanku dari kaca spion. Aku tersentak. Kemudian mendelik. Huft! Mengganggu saja! Dasar, Kim Jong In! Dari dulu sampai sekarang—Pandangannya tak berubah. Walaupun sebenarnya dia ini baik, namun tatapannya saja yang seperti orang nakal. Kalian akan terbiasa jika sudah dekat dengannya. Ya, seperti aku ini contohnya.

“Wae?” ucapku datar, Mengacuhkan seringaian lebar di bibir Kai.

“Tak apa kalau kau meninggalkan pacarmu di Villa sendiri?” tanya Kai tetap dengan seringaian di bibirnya. Aku menarik pandanganku. Uft! Tidak penting! Dasar, sama saja mengulangi pertanyaan Sehun sebelum berangkat tadi! Hei! Gadis itu bisa mengurus urusannya sendiri! “Sayang sekali loh jika ditinggal, menurutku—Gadis itu cantik, Sifat baiknya dapet—bodynyaa.. umnn—“ Kai menggantungkan kalimatnya.

Aku menyeringai mendengar ucapan kai yang menggantung, “Kau suka bukan?”

“Emnn– Kupikir—itu untukmu saja, hyung! Aku terlalu muda untuk serius sepertimu!” ucap Kai memalingkan wajahnya. Kutebak wajahnya sudah merona sekarang.

Sehun mendelik menatap kami bergantian, “Kai-Hyung! Seriuslah! Kau Mau mobil kita menabrak Pohon, heh!?” Sehun menarik ujung bibirnya sebal. Kai menyeringai seraya menggaruk tengkuknya

Aku menyeringai, layaknya tak mendengarkan peringatan dari Sehun“Kau pikir aku serius, heh?!”

Kali Ini Kai mengerem Mobilnya mendadak. Sontak, aku dan Sehun terpelanting ke depan. Sehun mendelik kesal seraya memukul pundak kai pelan. Aku membenahi posisiku. Wajah Kai sudah berbalik 180 derajat tepat berhadapan denganku. Sehun hanya menarik ujung bibirnya sebal.

“Ma-Maksud hyung?”

Aku menghela nafas sejenak mengamati wajah Kai yang teramat serius sekali dalam pembicaraan ini. Sehun hanya mengunci rapat mulutnya—tak mau mengingatkan lagi. Aku balas menatap kilatan mata Kai yang amat serius.

“Seperti yang kau dengar barusan, Kau pikir aku serius?”

Sehun menoleh kearahku, Sepertinya dia juga ikut penasaran. Matanya membulat. Sama halnya dengan Kai. Aku menyeringai, mengabaikan kilatan serius mereka. Mengalihkan pandanganku kearah jendela. Memilih untuk mengamati alam dibanding terhanyut dalam pembicaraan ini. Namun bibirku tak kuasa menjawab.

“Tentu saja tidak”

-HeartBreaker-

Aku memejamkan kedua mataku. Dentuman irama yang lembut kembali menyeruak masuk kedalam telingaku. Sebuah Irama yang menggetarkan hati. Tuhan, kenapa kau harus membawakan dentuman ini padaku? Kenapa harus kau takdirkan aku mendengarkan dentuman irama ini? Kenapa kau harus tentukan dengannya aku bisa mendengar dentuman ini? Ya, dengan Earphone-nya lah aku bisa mendengarkan dentuman ini. Irama yang mengalir, terasa terbawa oleh darahku sendiri.

Baby don’t cry tonight

Eodumi geodhigo namyeon

Baby don’t cry tonight

Eobseossdeon il-i doelgeoya

Mulgeopum-idoeneungeos-eunni ga aniya

Kkeutnae mollayahaessdeon

So baby don’t cry cry

Nae sarang-i neol jikilteni

Bagai sebuah pena yang menari diatas sebuah kertas, lagu itu terbawa begitu saja dalam benakku. Betapa terhenyaknya hatiku mendengar lagu itu. Bagaimana bayang bayang kelam itu menghantuiku, bayang bayang kelam orang yang mengenyak diriku dulu, bayangan kelam JoonMyun oppa ketika melihatku. Bahkan, dirinya saja tega meninggalkanku sejak tadi pagi. Entah, apa yang ada di dalam benak Joon Myun Oppa. Entah, apa yang membuatku begitu memikirkan dirinya. Fakta telah menjelaskan padaku bahwa dia adalah kekasihku. Fine, aku benar benar menekuni fakta itu, tapi apakah dia… dia… apakah dia juga bisa menerima fakta itu? Joon Myun, Aku akan selalu memaafkanmu. Tapi, jangan biarkan aku menangis oppa.. Jangan tinggalkan aku sendiri.. Aku tidak mau sendiri..

“Ehm,” suara deheman keras memecah belah lamunanku. Aku mengerjabkan mataku. Tak terasa mataku sudah mulai berkaca-kaca. Dengan sigap aku segera menepis pelupuk mataku. Berusaha agar pemuda di sebelahku ini tidak melihat bahwa diriku ini sudah terhanyut dalam lagu yang diputarnya. “Kau menangis?”

Pemuda itu mengulurkan sapu tangan berwarna biru kehijauan kepadaku. Dia tersenyum hangat kepadaku. Menandakan bahwa aku boleh saja mengambil sapu tangannya. Dengan ragu, kuambil sapu tangan itu perlahan.

“Te-Terimakasih” ujarku sedikit terbata-bata. Pemuda itu mengangguk dengan senyum hangat yang tetap melekat di wajahnya. “A,Aku mudah terharu dengan lagu lagu seperti ini. Haha, seperti aku saja yang mengalaminya. Terutama bagian pianonya! Lembut! Sepertinya aku bisa memainkannya!” ujarku senang seraya bercerita kepadanya. Sudah lama aku tak bercerita dengan banyak orang, kecuali dengan Kyuhyun oppa.

Pemuda itu menolehkan wajahnya kearahku, “E,Eh!?” raut wajahnyapun seketika berubah. Sama seperti tadi pagi. Mimik wajahnya terlihat familiar, tidak seperti Byun Baekhyun yang biasanya. Kilatan matanya terlihat serius, “K-Kau bisa bermain Piano!? Sungguh!?”

Aku memiringkan kepalaku, menyipitkan kedua belah mataku, “Eh, memangnya kenapa?” ucapku balas bertanya, “Kau Juga bermain piano?”

Dia menggeleng keras, “Ti-Tidak. A,aku hanya bertanya. Aku tidak jago dalam urusan Musik. Aku lebih memfokuskan pada suara vokalku.”

Aku mengerjabkan kedua mataku. Seutas senyum mengembang di bibirku. “Yak! Byun Baekhyun! Kau Ini sama seperti kakakku!” ujarku seraya memandangnya senang. “Kyuhyun Oppa juga lebih suka memfokuskan dirinya pada vokalnya!” Sudah kuduga, pemuda ini punya banyak kesamaan dengan kyuhyun-oppa. Baekhyun menatapku sesaat. Kilatan matanya mencerah, tak redup seperti tadi. Senyum hangatnya juga sudah mulai kembali menghias bibirnya. Dia tertawa renyah seraya mengacak acak rambutku. Aku mengaduh, kemudian menarik ujung bibirku. Pemuda ini benar benar seperti Kyuhyun Oppa!

“Dan kau, Kau juga mirip dengan Dia!”

Baekhyun membelalakkan kedua matanya, tak sadar bahwa dia telah mengatakan hal itu. Dia segera menutup mulutnya. Kilatan mata riangnyapun kembali meredup. Aku memicingkan mataku, memerhatikan segala keganjilan yang terjadi. “Ah, eh, Lupakan” ujarnya sewot seraya membenahi posisi duduknya, dan menatap keluar jendela. Aku mengangguk, dengan sejuta pertanyaan yang menggantung dalam benakku. Aku ikut menatap keluar jendela.

Hari ini, aku dan Baekhyun ini, akan pergi jalan jalan. Entahlah, aku juga tidak tahu dia akan mengajakku kemana. Karena di villa tidak ada hiburan, baekhyun mengajakku untuk pergi jalan jalan bersamanya. Well, ini bukan kencan! You Know!? Bayangkan saja, kita jalan jalan dengan mengendarai bis umum. Hem!? Kata pemuda yang bernama baekhyun ini, dengan mengendarai bis umum, kita sudah membantu mengurangi tercemarnya udara oleh kendaraan pribadi kita. Huft! Nasihatnya sama saja seperti Kyuhyun oppa! Bedanya, kyuhyun oppa mengatakan itu jika aku tidak mau mengendarai sepeda ketika beranjak SMP.

“Maaf,” ujar Pemuda di sebelahku ini seraya menundukkan kepalanya. Kilatan matanya tetap meredup. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Sehingga ia menjadi seaneh ini, “Maaf aku membuatmu bingung.” Ujar Baekhyun melanjutkan perkataannya. Aku menatap kedua belah matanya. Hei! Justru permintaan maafmu sekarang membuatku semakin bingung!

“Ah, Eh, Tidak apa apa, Baekhyun-sshi. Aku mengerti” ujarku tersenyum simpul padanya, meskipun dalam benakku telah tertanam berjuta pertanyaan tentangnya. “Emn, Baekhyun-sshi. Sebenarnya ada apa? Kau Sedih? Sedang Galau-kah?” tanyaku hati hati, berusaha membuat pemuda ini tak tersinggung atas pertanyaanku. Aku memasang wajah sok polosku, Ah, tau saja dengan wajah seperti ini dia mau bercerita denganku.

Baekhyun tersenyum menatapku. Dia mengacak acak rambutku gemas, “Gwenchana, Kau hanya mengingatkanku pada seseorang.” Aku menatap matanya dengan kedua belah mataku. Aku memiringkan kepalaku, dan bergumam sok mengerti.
“Seseorang? Siapa?” tanyaku cepat. Entah apa yang merasukiku, aku ingin tahu lebih dalam tentang dirinya. Namun sepertinya takdir tak mengizinkan terjawabnya naungan pertanyaanku ini.

Bis tujuan kita sudah sampai. Kita berhenti tepat di hadapan sebuah gedung bercat putih yang bisa dibilang megah. Aku sendiri tak tahu ini gedung apa dan ini dimana. Sosok pemuda di hadapanku bergumam senang seraya berdiri. Ia mengulurkan tangannya padaku, membantuku beridiri. Kemudian ia segera mengganggam tanganku erat, dan menarikku keluar dari bis membosankan ini.

Deg! Seketika jantungku kembali berdegup ketika merasakan sentuhan hangat dari telapak tangannya. Iris hitamku menangkap sosok tampannya sejenak. Merasakan ada rasa teduh dibalik pelupuk matanya. Senyum hangatnya membuat darahku berdesir sejenak. Perlahan, Aku mengembangkan senyum dibibirku. Dan memandang sosok itu lembut. Membiarkannya membawaku, kemanapun ia pergi.

-HeartBreaker-

Aku mempercepat laju gerakku, menyusul posisi sesosok pemuda di hadapanku. Sesekali kusibakkan poni yang sedaritadi menutupi pengelihatanku. Aku memandang seluruh koridor ruangan besar ini. Ruangan ini bercat putih, dihiasi lukisan lukisan bintang yang menghiasi dindingnya. Dengan pot bunga antik yang memenuhi di setiap sisinya, juga beberapa jendela besar yang terbuka lebar, membiarkan udara sejuk dan sinar matahari yang cerah menerobos masuk kedalam ruangan ini. Aku menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal. Ruangan ini sangat familiar, pasalnya aku tak pernah datang ke tempat ini.

“Emnn—Baekhyun sshi!” panggilku seraya tetap menjaga langkahku agar tak terpisah jauh darinya. Pemuda itu menolehkan wajahnya kearahku. Dia bergumam kecil seraya menunjukkan senyuman khasnya, “Sebenarnya—Ini tempat apa?”

Lagi lagi pemuda manis dihadapanku ini memasang senyum hangatnya. Matanya menatap sekitar, memerhatikan setiap sudut ruangan, dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya, “Percaya atau tidak, Ini adalah Musium Bintang dan Musik.” Aku mengikuti arah pandang matanya, memerhatikan sekitar. Hemn, benar juga. Di setiap sudut, pasti terdapat lukisan lukisan bintang beserta rasi rasi dan penjelasannya. Aku bergumam sendiri dalam hati. “Almarhum kakekku sangat suka sekali pada Bintang. Ia juga suka dengan Musik, karena itulah, dia membuat Musium ini. Tidak terlalu banyak yang mengetahui detailnya musium ini. Karena jauh dari kota,”  jelas Baekhyun seraya menghela nafas panjang. Aku memangut mangut sok mengerti.

“Ah, Baekhyun-sshi, ngomong-ngomong, Rasi bintang yang kau sukai apa?” tanyaku berusaha mengubah topik. Baekhyun tersenyum padaku, seraya melangkahkan kakinya menuju sebuah lukisan besar berbingkai kuning keemasan. Disana terlukiskan bintang yang berbentuk seperti seekor lembu jantan. Aku mendekati lukisan itu. Rasi ini memang indah, terkesan jantan. Terkesan pemberani, dan bisa menyelesaikan masalah dengan mudah. Yah, itu hanya opiniku sih.

“Taurus.” Ujar Baekhyun seraya memerhatikan lukisan berbingkai kuning keemasan itu, “Karena aku lahir pada 6 Mei. Lalu, menurutku, rasi ini terkesan berani, tangguh—Yah, begitulah, Rasi ini cocok untuk setiap lelaki.” Lanjut Baekhyun menjelaskan lebih detail. Namun, iris mataku sudah menjalar kemana mana untuk mencari rasi bintang yang mungkin sesuai dengan seleraku. “Lalu kau sendiri, Hwayoung?”

Aku menggaruk garuk kepalaku, menunjukkan cengiran tak jelas di bibirku. Seraya berjalan menuju salah satu lukisan di sudut ruang, Lukisan itu berbingkai Silver dengan hiasan perak yang menghiasi di setiap sisinya. Aku termangu sesaat. Rasi ini sangatlah simple, tapi menarik perhatianku. Rasi ini berbentuk seperti sebuah Teleskop. Aku sendiri baru melihat ada rasi seperti ini.

Telescopium” gumamku seraya membaca tulisan yang tertera pada papan kayu tepat disebelah lukisan itu. Baekhyun mematung sesaat, lagi lagi ekspresi wajahnya berubah. Sama halnya dengan di bis tadi. Hei! Memang salah ya, jika aku menyukai rasi ini?

“Te-Telescopium? Ke,Kenapa?” tanya  Baekhyun seraya menatapku lamat lamat. Ekspresi Wajahnya dipenuhi sejuta rasa takjub. Entah, apa yang ada di otaknya. Apakah aku seperti orang yang sedang dirindukannya? Hei, Kalau begitu, kenapa Ia tak bertemu saja dengan orang itu. Dibanding menatapku aneh seperti itu. Huft, Baiklah. Sepertinya aku tidak perlu mencampuri urusan orang. Apalagi baekhyun sudah banyak membantuku.

“Bentuknya seperti Telescop—aku suka! Bentuknya simple. Ya, tahu saja aku bisa melihat alam semesta dengan telesop raksasa ini.” Ujarku senang. Raut muka Baekhyun tak berubah. Sama seperti tadi. Aku yang merasa kehabisan katapun hanya bisa membisu salah tingkah. Namun tiba-tiba, Baekhyun menarik seutas senyum dibibirnya.

“Alasan yang bagus!” ujarnya seraya tersenyum hangat. Dengan sigap, aku membalas senyumannya seraya menunduk, berterimakasih. Baekhyun mengacak acak rambutku lagi. Hei! Ini sudah ketiga kalinya. Memang ada apa dengan rambutku?! Uhh… Padahal, aku sudah susah payah merapikannya. Aku menarik ujung bibirku sebal. Baekhyun hanya tertawa renyah melihat tingkahku. Namun, dibalik tingkahku ini, aku sedang tersenyum bahagia. Bahagia bisa melihatnya tersenyum kembali.

-Hearbreaker-

Lagi lagi aku menyamakan laju langkahku dengan pemuda di hadapanku ini.Huft, kenapa sih laki laki itu jalannya cepat sekali!? Atau aku yang berjalan terlalu lambat? Ah, tidak juga. Aku berjalan normal kok. Yah, Laki laki dan Perempuan itu banyak sekali perbedaannya! Kadangkala, perbedaan itu membuatku jengkel.

Langkahku terhenti ketika melihat sebuah lorong panjang dengan sebuah pintu putih raksasa diujung lorong itu. Aku menyipitkan kedua belah mataku, berusaha memfokuskan bayangan agar lebih terlihat. Pintu apa itu? Kenapa besar sekali?

“Baekhyun-sshi! Tunggu!” ujarku setengah berteriak memanggil sesosok namja di hadapanku. Dia berbalik kearahku. Lalu bergerak mundur menyusulku. Spontan, jari telunjukku menunjuk lorong panjang itu tadi. Baekhyun menyerngit tak mengerti. Namun sesaat kemudian, Ia tersenyum. Memahami maksudku.

“Kau penasaran dengan ruangan itu?” tebak Baekhyun berusaha membaca apa yang ada di benakku. BINGO! Pemuda ini hebat, selalu saja dapat menebak apa yang terjadi. Baekhyun tersenyum hangat padaku, “Itu hanya gudang dari ruang musik. Disana hanya terdapat Alat-alat musik yang kurang sempurna.”

Aku memangut mangut mengerti, namun pandanganku belum teralih dari lorong itu, “Bolehkah kita masuk?” tanyaku seraya memohon kepada pemuda di hadapanku ini. Huft, untung saja dia pemuda yang baik, dengan cepat ia mengangguk. Dan menuntunku berjalan menyusuri lorong itu. Mendekati sang pintu raksasa.

Baekhyun menarik pelatuk pintu itu. Dan suara deritan keras dari pintu tersebut menyerobot masuk dalam gendang telinga kami. Aku memandangi ruangan di hadapan kami sesaat. Ruangan ini besar, bercat kuning pudar, Disana dipenuhi banyak sekali alat musik, seperti Biola, Harp, Cello, Flute, dan masih banyak lagi. Namun Mataku tertuju pada sebuah giant piano yang ditutupi oleh kain putih yang besar. Bagai milikku sendiri, aku segera menghampiri benda itu, dan menarik kain putihnya. Dan, dihadapanku terdapat sebuah Giant Piano berwarna hitam yang megah dan mewah. Hei! Piano seperti ini kan masih bagus! Kenapa diletakkan di gudang?!

“Emn, Baekhyun-sshi! Kenapa Piano ini ditaruh di gudang? Sayang sekali bukan, padahal belum ada yang cacat.” Ujarku seraya mencoba memencet setiap tuts yang terhidang dihadapanku. Suara dentuman yang dikeluarkannya tak aneh. Tidak ada yang cacat sekiraku.

“Kakekku bilang, kursinyalah yang rusak. Sekali ada bagian yang rusak, kakek akan segera memasukkan alat musik itu disini.” Jelas Baekhyun seraya membuka salah satu jendela di gudang itu. Angin sejuk menerobos masuk kedalam ruangan, Sinar matahari hangat menerangi ruangan ini. Mataku terpejam. Alam telah menghanyutkanku. Alam telah membawa ketenanganku. Alam telah menuntunku.

Spontan, jarikupun bermain diatas piano.Mengikuti sebuah irama, yang baru saja tercatat di otakku. Dentuman dentuman sihir di bis itu. Menyeruak masuk kedalam memoriku, memaksa semua syaraf ototku untuk bekerja. Menghasilkan sebuah susunan nada yang indah,

“Deoneun mangseoli jima jebal

Nae simjang-eul geodu eoga”

Entah apa yang merasukiku. Entah apa yang membuatku berfikir, untuk menyanyikan lagu tersebut. Aku berhenti sejenak. Kulihat mata hitam baekhyun, sedang menatapku lekat-lekat. Menatapku dengan pandangan yang berbeda. Angin semilir membawa Rambutnya menari di udara. Tatapan matanya berubah, sendu. Kilatan matanya meredup.

“Geurae nalkaro surok joh-a

Dalbich jochado nun-eul gam-eunbam”

 

Suara emas Baekhyun terdengar jelas menyeruak gendang telingaku. Mataku tak berkedip memerhatikkannya yang mengikutiku bernyanyi. Dia tersenyum kecil seraya mengangguk. Mempersilahkanku untuk melanjutkan lagu itu. Tanpa mengalihkan pandangku,jemariku kembali menari diatas tuts piano. Walau senggang, suasana ini sangat hangat. Dengan ditemani semilirnya hembusan angin, ditemani suara kicauan burung diluar sana, Bahkan, sepertinya alam sedang memihak pada kami.

 

“Na anin dareun namjayeossdamyeon

Heegeug-an-ui hangujeol-ieossdeoramyeon”

 

Lanjutku seraya memasang senyuman hangat padanya. Dia membalas senyumanku seraya berjalan mendekat, suara tapak kakinya menggema di sekujur ruangan.

 

“Neoui geusaram gwa

Bakkunsangcheo modu taewobeoryeo”

 

Kini Baekhyun tepat berada di hadapanku. Tatapan kami bertemu, Mata hitamnya tampak bersinar sekali di mataku. Dia kembali tersenyum hangat. Aku membalas senyumannya. Dan terus memainkan jemariku.

“Baby don’t cry tonight

Eodumi geodhigo namyeon

Baby don’t cry tonight

Eobseossdeon il-i doelgeoya

Mulgeopum-idoeneungeos-eunni ga aniya

Kkeutnae mollayahaessdeon

So baby don’t cry cry

Nae sarang-i neol jikilteni”

Kami menghela nafas tertahan, berpadu pandang satu sama lain. Memasang wajah keberhasilan. Sibuk bergumam senang dalam hati.

“Tak Buruk juga,” ujar Baekhyun tersenyum padaku. “Tak kusangka, ini kedua kalinya aku bernyanyi di gudang ini.”

Aku masih tersenyum kepadanya, seraya menutupi Giant Piano itu dengan Kain Putih tadi. Namun sepertinya aku baru saja menangkap keganjilan di ucapannya.

‘Eh, kedua kalinya?’

-HeartBreaker-

Aku menatap setiap tarian tarian yang dimainkan oleh gelombang lantai. Desiran desiran pantai yang merdu tertangkap jelas oleh lubang telingaku. Tabrakan Gelombang air dengan batu-batu karang raksasa membuat pesona pantai ini menjadi semakin agung. Aku menyelonjorkan kakiku diatas hamparan pasir putih. Memejamkan mataku, menerima segenap keindahan yang diberikan oleh nuansa alam ini. Detik berikutnya, mataku kembali terbuka. Aku menatap sosok pemuda di sebelahku.

“Baekhyun-sshi! Bolehkah aku bermain di ombak sana?” tanyaku seraya membenahi topiku yang sedikit melorot. Baekhyun tersenyum padaku. Mengangguk mengizinkanku.

Dengan sigap aku membenahi posisiku. Berlari menuju kearah ombak. Sepertinya nasib sial kembali tertuju kearahku. Tiba-tiba saja, kakiku tersandung oleh benda aneh. Dan alhasil, aku jatuh berdebum diatas pasir putih. Aku mengaduh kesakitan. Seraya memerhatikan sekitar, mencari penyebab yang pasti, kenapa aku bisa terjatuh. Dan, kedua iris onyxku bertemu dengan sebuah benda. Benda yang berkilau, sama dengan benda yang berkilau tadi pagi.

“Hwayoung-sshi, Gwenchanayo?” ujar seorang pemuda seraya mendekatiku, Baekhyun-sshi. Akhirnya dia datang juga. Aku segera bangkit dari posisiku. Balas mendekati dirinya. Aku menunjukkan sesuatu di tanganku. Sebuah Emas murni yang sama seperti Emas yang melilit di leher jenjangnya, dengan hiasan hati yang sama sama separuh.

Baekhyun menatapku lamat lamat. Perlahan ia mendekatiku, memerhatikan apa yang sedang kubawa. Sekejab kedua bolamatanya membulat takjub, matanya tak henti hentinya menatap apa yang sedang kubawa. Raut Wajahnya terlihat lebih Familiar! Sangat Familiar! Wajahnya terlukiskan perasaan rindu—yang amat teramat dalam.

Grebb!

Tangannya terulur memendekapku erat. Aku terkesiap tak percaya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Pemuda bernama Byun Baekhyun ini memelukku erat. Kedua bolamataku membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba, sebuah tetesan air jatuh di ubun ubunku. Sontak, itu membuatku kaget.

“Ba,Baekhyun” panggilku gugup. Aku tak ingin mengganggunya yang sedang menangis. Namun, pemuda di hadapanku ini malah memelukku semakin erat.

“Ku-Kumohon…” bisiknya parau tepat di telingaku. Aku belum pernah mendengar suaranya yang sesuram ini. Akupun hanya bisa diam membisu. Tak kuasa berfikir, apa yang harus kulakukan. Kemudian pemuda itu kembali membisikkan sesuatu kepadaku, kali ini suaranya lebih terkesan berat dan parau. Menggambarkan kesedihan terdalam.

“Kumohon untuk sekali ini saja,”

-TO BE CONTINUED-

Mohon Tetep RCL ya^^b BIAR FF INI SEMAKIN SEMANGAT SAYA LANJUTIN^^

Doain ya, semoga Lanjuttan FFnya Akan Kelar Lebih cepat^^

FIGHTING~

23 responses to “HEARTBREAKER | PART 3B

  1. akhirnya ni ff datang juga #nangis
    itu si hoonmyun maksudnya apa ??
    ‘tentu saja tidak’?? oh no !!
    trus org yg sllu baekhyun pikirin itu kok mirip bget sama hwangyoung ya ?? ato emg hwangyoung ??
    makin penasaran nih -__-
    adegan trakhinya bkin nyesek T__T
    jgn lma-lma thor lanjutannya 😀

    • Ahahaha… Akhirnya FF Ini Selesai Author Buat
      #IkutaNangis

      Ahaha.. Ok 😉
      Kenapa nyesekk? Kekekekekk-

  2. Jgn blg itu reankarnasi yoeja baekhyun 😦
    Aigooo baeki
    😦 hope u get happy ending with her
    Jd suhonya bisa buat aq xD

    • Bwahahaha…
      Ujung2 nya Kok JoonMyun Oppa ama Chingu? XD
      #Tarik Suho.

      Hahaha, Gomawo udah comment 🙂

  3. Pingback: [TEASER] HEARTBREAKER|PART 3C | FFindo·

  4. Pingback: ELECTRIC SHOCK | PART 1 | FFindo·

  5. Pingback: [FF | ONESHOOT] JEALOUS | FFindo·

  6. Pingback: HEARTBREAKER | PART4 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s