My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 6

Main Cast :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast :

  • 2PM Kim Junsu
  • Other SHINee member
  • Etc.

Genre : Marriage Life, Family, Life, Comedy

Length : Continue

Rating : PG 16 *apa bisa dibilang NC, ya? .__.a* *yg gak suka adegan mesum, skip aja tulisan yg warna biru di bawah.. :D*

>>> Previous <<<

“Aku… ingin meminta bantuanmu untuk menghilangkan perasaanku padamu.”

“Kau mengatakan itu pada orang yang salah! APA KAU TIDAK BERPIKIR BAGAIMANA JIKA NYATANYA AKU JUGA MENCINTAIMU?! HAH?! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat aku tahu bahwa aku masih punya harapan, TAPI TIDAK BISA MEWUJUDKANNYA KARENA KAU SUDAH JADI MILIK ORANG LAIN?!”

>>><<<

(Author’s POV)

Gwaenchana, Hyung. Menurutku hyung sama sekali tidak salah.” Jonghyun mendudukkan dirinya di ayunan yang tadi sempat ditempati Jikyung. Sambil menopang siku di lutut, dia memperhatikan Onew yang sedang mondar-mandir di hadapannya setelah sebelumnya namja bermarga Lee itu menceritakan apa yang terjadi pada Jonghyun.

Onew mengacak rambut belakangnya dengan frustasi sambil menyuarakan geraman kesal, “Ini tidak seringan yang kau pikirkan.” katanya dengan nada agak tinggi. Entahlah, Onew merasa marah pada dirinya sendiri setiap perkataan Jikyung tadi kembali terngiang di telinganya.

“Baiklah, aku tahu.” ujar Jonghyun mengerti. Selanjutnya, dia hanya membiarkan Onew melampiaskan seluruh kekesalannya, entah itu dengan menggeram kesal lagi atau menendang-nendang kerikil, bahkan udara kosong.

“Seharusnya saat itu aku langsung mengatakannya pada Jibyung. Aaargh~ bodoh!” Onew memaki dirinya sendiri. Sejurus kemudian dia berjongkok begitu saja sambil menangkup wajah dengan telapak tangannya, “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Jonghyun di belakangnya memperhatikan dengan prihatin, tapi tetap tidak mengatakan apapun.

Onew berdiri lagi, lalu memutar tubuhnya menghadap Jonghyun, “Lagipula kenapa aku harus merasakan hal aneh ini, sementara aku sudah memiliki Jibyung, hah?!”

“Sudahlah, Hyung.”

“KENAPA AKU BISA SESERAKAH INI?”

Sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, Jonghyun segera bangkit, mengingatkan Onew untuk tidak terlalu berisik karena saat ini mereka berada di tempat umum, “Tidak, Hyung, bukan seperti itu.” kata namja yang lebih muda setahun dari Onew itu.

“Kau hanya tidak bisa membohongi perasaanmu, dan itu bukan hal yang salah. Hanya waktu dan keadaan yang menyudutkanmu, Hyung. Sebenarnya tidak ada yang salah di antara kalian.”

“…”

“…”

“Aku… aku tidak yakin.”

“…”

Keadaan jadi sunyi saat Onew termenung cukup lama, sementara Jonghyun membaca jam tangannya berkali-kali, “Bisakah kita kembali, sebelum manager hyung marah?” tanyanya hati-hati.

“Kau duluan, aku masih ingin di sini.” jawab Onew pelan.

Kim Jonghyun menghela nafas pelan, “Baiklah, kalau begitu aku juga akan tetap di sini.”

>>><<<

Incheon Airport, the next day…

Ittabwayo, Eonni!” Jikyung melambai pada rekan-rekan kerja yang membantunya selama di Jepang. Jibyung yang berada di sampingnya hanya melempar senyum dan membungkukkan badan.

Ne. Pulang dan istirahatlah!”

“Hati-hati di jalan!”

Si Kembar membungkuk bersamaan, “Kamsahamnida! Annyeonghi gaseyo!” Mereka menunggu hingga dua orang lainnya semakin menjauh.

“Langsung pulang?” tanya Jibyung sambil menaiki motornya dan memasang helm.

Jibyung menguap, “Tentu saja. Aku lelah sekali.” jawabnya malas. Jibyung mengangsurkan satu helm ke arah Jikyung, dan beberapa saat kemudian mereka telah meluncur di jalanan.

Jikyung memperhatikan punggung Jibyung yang tegak. Sebuah pemikiran dengan segera melintas di benaknya. Kejadian semalam bagaikan potongan film yang saat ini sedang diputar di depan matanya. Dan karena itu, Jikyung segera memejamkan mata, berusaha melupakan hal itu. Dia melingkarkan lengannya ke pinggang Jibyung, dan meletakkan dagunya di bahu yeoja itu.

“Apa sudah terjadi sesuatu?” tanya Jibyung dengan sedikit berseru supaya Jikyung bisa mendengarnya.

Aniya,” jawab Jikyung dengan suara lebih pelan. Dia tahu Jibyung sedang merasakan apa yang saat ini dia rasakan, “aku hanya lelah.” lanjutnya, berusaha mengelak.

“Katakan saja, Jikyung-ah. Kamu tahu aku tidak bisa kamu bohongi.”

Molla~

Mworago?

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa segalau ini.”

“Eiiy~ kamu selalu begitu. Aneh sekali.”

“Hehe~”

“Tapi benar, kan? Kamu tidak berbohong?”

“Tentu saja tidak! Apa gunanya membohongimu?”

Keduanya terkekeh bersamaan.

‘Bisa. Aku tetap bisa membohongimu, Jibyung-ah. Aku sudah berkali-kali membohongimu.’ Batin Jikyung berasa bersalah.

Jikyung hanya tinggal menjawab ‘Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti ini’, maka Jibyung tidak akan tahu apa yang sebenarnya dirasakannya. Jikyung juga menggunakan cara ini untuk membohongi Jibyung (dengan maksud baik) saat dia merasa patah hati untuk pertama kalinya—saat dia tahu Onew memilih kembarannya itu, dan juga saat Jikyung tahu Onew dan Jibyung akan segera menikah. Jikyung kira saat itu adalah terakhir kali dia melakukan ini. Tapi ternyata tidak, dia baru saja mengulanginya lagi.

“Emm~ keundae, posisi kita sepertinya kurang mengenakkan, Jikyung-ah. Kamu tidak perlu berpegangan seintens itu.” celetuk Jibyung setengah bercanda.

Wae?!” Jikyung memukul bahu kembarannya dengan cukup bertenaga, “Kita ‘kan saudara. Kembar. Apa salahnya?”

“Iya, baiklah, baiklah. Teruskan saja.”

>>><<<

2 days later…

Incheon Airport…

Para fans menyambut kedatangan SHINee yang baru saja keluar dari gerbang penerbangan. Beberapa di antara mereka langsung mengeluarkan kamera dan membidik satu persatu idola mereka itu.

Jonghyun, Onew dan Minho sesekali melambai atau sekedar melempar senyum jika ada yang memanggil mereka. Tidak terlalu ribut, karena tidak banyak fans yang datang.

*

Onew langsung memejamkan matanya yang terasa berat begitu tubuhnya sudah menyentuh kursi van. Tenaganya benar-benar seolah tersedot habis, tapi Onew tidak ingin mengeluh terang-terangan meskipun dalam hati dia berteriak lelah. Setelah ini, mungkin mereka hanya punya waktu sekitar 4 jam untuk istirahat, sebelum harus kembali beraktivitas nanti malam.

Sebelum benar-benar terlelap, Onew sempat mendengar beberapa orang yang duduk di belakangnya terlibat perdebatan kecil. Onew hanya tahu itu suara Key dan Minho, tapi tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka perdebatkan, karena kesadarannya sudah terlanjur sulit dikendalikan.

>>><<<

Yaa~ lihat siapa yang datang~” seru Taemin yang pertama kali memasuki waiting room SHINee. Mereka baru saja selesai rehearsal beberapa waktu lalu.

“Jibyung-ah!” timpal Jonghyun yang berjalan di belakang Taemin. Onew masuk setelah Jonghyun.

Wasso?” ucap namja bermata sipit itu. Jibyung tersenyum lebar dan segera menghampiri Onew untuk menyerahkan sebotol air mineral pada suaminya, “Gomawo.” Onew langsung meneguk minuman itu hingga tersisa setengahnya.

Wasso?” semua perhatian langsung tertuju pada Jonghyun yang tiba-tiba berseru. Taemin tertawa saat melihat Key berlari menghambur pada Jonghyun yang menyambutnya dengan pelukan.

Key mendramatisir, “Onew-ya. bogoshippeunde.

Setelah sadar Duo Kim itu sedang meledek mereka, Onew dan Jibyung terkekeh bersamaan, “Mwoya~?

“Seharusnya kami melihat pemandangan itu.” ejek Key setelah menghentikan permainan konyolnya dengan Jonghyun.

“Ah, kalau kalian tidak bisa melakukannya karena ada kami, kami tidak akan melihat, kalau begitu. Silakan~” goda Jonghyun yang menghempaskan tubuhnya di sofa di samping Taemin, menutupi matanya dengan telapak tangan tanpa benar-benar merapatkan jari-jarinya, “Taemin-ah, kau tidak boleh lihat~”

“Seperti ini, huh?” Onew menarik Jibyung mendekat dan merengkuh pinggang yeoja itu di hadapan keempat dongsaengnya yang iseng, “Ini! Lihat saja sesukamu, ikuti kalau perlu.” lanjutnya, mulai sangtae.

Jibyung hanya tertawa pelan saat Onew menggoyangkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan, sementara empat orang lainnya sudah sibuk sendiri berkomentar ini-itu.

Diam-diam Minho, Key, dan terutama Jonghyun merasa kagum dengan betapa hebatnya topeng Onew. Jonghyun tahu sebenarnya Onew masih sempat memikirkan tentangnya dan Jikyung, bahkan di sela-sela melaksanakan schedule mereka. Jonghyun tahu sebenarnya Onew memiliki banyak beban pikiran. Tapi hal itu tertutupi sempurna oleh tingkah-tingkah konyolnya, sehingga orang-orang tidak akan tahu bagaimana suasana hati Onew yang sebenarnya.

“Ah, apa ini?” Minho mengintip kantung yang terletak di atas meja di tengah mereka, “Noona, kau yang membawa ini? Oooh! Chicken!

Yaa!” sorak Onew sambil merebut sekotak fried chicken dari tangan Minho, lalu memisahkan diri dari yang lain, bermaksud mengonsumsinya sendiri. (-___-) Jibyung mengekor di belakangnya.

Karena sudah tahu kebiasaan Onew, yang lain hanya angkat pundak, tidak terlalu peduli dengan Onew yang pasti tidak akan membagi makanan favoritnya itu kepada siapapun. Lagipula mereka berpikir Jibyung pasti menyediakannya khusus untuk Onew, seperti yang memang sering dilakukan yeoja itu jika berkunjung ke waiting room SHINee seperti ini.

Kimbap!” pekik Taemin yang mengeluarkan kotak lain dari dalam kantung tadi. Mereka segera saja membuka penutup kotak itu. Jonghyun yang beruntung menemukan sepasang sumpit di dalam kantung tadi mendapat kesempatan menjadi yang pertama menikmati potongan nasi gulung itu.

Taemin yang juga ingin segera melahap kimbap yang menggiurkan itu mencari-cari sumpit lain yang bisa digunakannya—di dalam kantung tadi, tapi tidak ada apapun yang ditemukannya selain beberapa botol air mineral.

“Taemin-ah?

“Aaa~” Taemin membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima kimbap yang disodorkan Jonghyun padanya. Tapi kemudian dia memberengut dan protes karena Jonghyun malah memain-mainkan sumpit yang menjepit kimbapnya di udara, tidak langsung memasukkannya ke mulut Taemin.

Hyung, aku lapar!”

Jonghyun tertawa pelan dan akhirnya benar-benar memasukkan kimbap itu ke mulut Taemin yang sudah seperti anak kecil yang diimingi mainan. Minho menepuk bahu kanan Jonghyun yang baru saja melahap sepotong lagi kimbap yang dibawakan Jibyung itu. Begitu Jonghyun menoleh untuk menanggapinya, namja bermata belo itu sudah membuka mulut, mengisyaratkan pada Jonghyun untuk menyuapinya juga.

Jonghyun berdecak, tapi toh akhirnya juga menuruti permintaan dongsaeng yang berbeda setahun dengan dirinya itu, “Apa aku mendadak jadi baby sitter kalian?” gerutunya pelan, dan sedetik kemudian lagi-lagi Jonghyun merasakan tepukan pelan di bahunya yang lain, dia menoleh dengan cepat, dan kali ini Key yang bertingkah seperti dua orang ‘terdahulu’.

“Aissh~” dumel Jonghyun, kemudian menjejalkan potongan kimbap lain yang masih tersisa ke dalam mulut Key. Taemin tertawa tanpa suara melihat wajah sebal Jonghyun yang masih menggerutu tak jelas.

“Itu karena Jibyung noona hanya membawa satu sumpit, dan kebetulan kau yang memegang sumpit itu, Hyung.” ujar Minho sambil mengunyah sisa kimbap di mulutnya.

Di sisi sofa yang lain, Onew dan Jibyung sibuk dengan dunia mereka sendiri. Jibyung tersenyum kecil melihat Onew melahap ayam di tangannya dengan cepat.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak makan ayam.” kata Onew sambil terkekeh pelan.

Jibyung tersenyum semakin lebar, “Berterimakasihlah karena aku sudah membawakannya untukmu tanpa disuruh.” ucapnya setengah bercanda. Jibyung tahu Onew tidak sempat bersantai seperti ini, karena terlalu sibuk. Jibyung mengangkat tangannya dan meletakkannya di kedua bahu Onew, memberikan pijatan pelan yang membuat Onew manggut-manggut, menyetujui apa yang dilakukannya.

“Ehmm~ nyaman sekali. Terus seperti itu! Jangan berhenti sampai aku suruh, arachi?

Arasso.” Jibyung mengangguk tanpa ragu. Onew terdiam selama sesaat, tidak menyangka Jibyung akan benar-benar menanggapinya dengan baik, padahal sebenarnya Onew hanya bercanda tentang menyuruhnya jangan berhenti.

Onew mengambil potongan fried chicken yang lainnya, menyodorkannya ke arah Jibyung yang masih memijat pundaknya, “Mau makan juga?” tanyanya.

Jibyung menggigit sebagian kecil daging ayam yang dibalut tepung renyah itu. Onew membantunya memasukkan hasil gigitan itu yang sempat hampir jatuh karena Jibyung tidak menggigitnya dengan kuat. Jibyung kembali memusatkan perhatiannya pada kegiatannya mencoba mengurangi rasa lelah Onew, sementara Onew sendiri memakan lagi potongan fried chicken yang baru saja Jibyung cicipi.

Keundae… kamu tidak kerja?” tanya Onew sambil mengunyah daging di mulutnya.

“Ah, hari ini tidak. Sebenarnya aku sedikit tidak enak badan.” jawab Jibyung dengan santai.

Onew langsung memutar tubuhnya 30 derajat ke arah Jibyung, mengamati Jibyung dengan seksama, kemudian berkata, “Pantas wajahmu terlihat pucat. Tadi kukira hanya perasaanku saja.”

Onew menempelkan punggung tangannya di dahi Jibyung untuk mengecek suhu tubuh istrinya. Dengan segera punggung tangannya terasa panas setelah kulitnya bersentuhan dengan kulit dahi Jibyung yang sedikit berkeringat, “Kamu demam.” katanya dengan nada cemas.

“Tenang saja, demamnya sudah turun.” Jawab Jibyung yang menepis pelan tangan Onew dari dahinya.

“Sudah turun saja sepanas ini, bagaimana dengan keadaanmu tadi? Dan lagi, aigoo~ kenapa kamu tidak memakai pakaian yang lebih tebal dari ini? Sudah tahu demam!” omel Onew tanpa henti, dan melanjutkan lagi, “Dan seharusnya kamu istirahat saja di rumah, bukannya malah berkeliaran di luar dan menemuiku di sini.”

Jibyung mengerjap berkali-kali, tidak tahu harus bagaimana menanggapi omelan Onew.

“Sudah minum obat?” tanya namja itu dengan suara lebih pelan.

Jibyung mengangguk, “Tadi pagi.”

“Tadi pagi?! Ya, Shin Jibyung!”

Jibyung terlonjak kecil dan segera menyesali perkataannya sendiri. Kenapa dia harus menyebutkan segala kapan dia minum obat?

“Tapi hanya tadi pagi aku merasa demamku tinggi.” elak Jibyung kemudian, membuat Onew berdecak, tak habis pikir dengan kebiasaan yeoja ini.

“Kamu pikir, dengan minum obat sekali saja demam itu langsung pergi selamanya, Yeobo?”  ledek Onew yang langsung mencari sesuatu di dalam tasnya yang terletak di atas meja. Dia tidak terlalu memedulikan beberapa orang coordi memasuki ruangan dan manager yang menyuruh mereka bersiap-siap untuk perform.

Jibyung berdiri dari duduknya dan membungkuk kecil ke arah orang-orang ‘di belakang layar’ itu.

“Pakai ini, dan pulanglah!” ujar Onew dengan sebuah mantel tebal yang terbentang di tangannya.

Jibyung memasukkan tangannya ke lubang lengan di mantel milik Onew itu sambil merengut, “Kamu mengusirku?” katanya.

“Aku memikirkan kesehatanmu, tau!” tukas Onew, membantu Jibyung mengancingkan mantel itu untuk mempersingkat waktu.

“Tapi mantel ini kebesaran di tubuhk—”

“Siapa suruh tidak pakai mantel sendiri?” Onew mengomel lagi, sampai beberapa kerutan terbentuk di dahinya. Jibyung hanya mencebikkan bibir. Beginilah kalau Onew sudah mengomeli orang. Sangat cerewet.

“Ayo! Aku akan mengantarmu sampai di depan.” Onew menarik tangan Jibyung dan meminta izin pada managernya sekaligus pada member lain yang sudah mulai sibuk bersiap-siap.

“Sampai jumpa, yeorobun!” pamit Jibyung sambil melambai dan membungkuk sekilas.

Ne! Hati-hati!” balas semuanya serempak. Jibyung mengangguk sekali lagi, sebelum Onew kembali menariknya dan sosok mereka menghilang di balik pintu ruangan yang berdebam pelan.

“Dia… yeojachingu Onew, ya? Aku sering melihatnya mengunjungi Onew di beberapa event kalian.” tanya salah satu coordi yang sedang menata rambut Taemin. Taemin yang merasa pertanyaan itu ditujukan padanya hanya tertawa pelan, sementara tatapannya tertuju pada handphone Android’nya.

*

Onew memindai keadaan sekelilingnya sebelum memeluk Jibyung sekilas, “Hati-hati, ya!” katanya penuh perhatian. Jibyung mengangguk dan tersenyum saat Onew melepaskan pelukan mereka.

Mereka saling bertatapan sejenak, Jibyung mencari sesuatu di mata Onew, namun dengan segera menyadarkan dirinya sendiri. Yeoja itu mulai melangkahkan kakinya menjauhi Onew, “Bye~” ujarnya sambil melambai dengan telapak tangan yang tertutupi mantel Onew yang memang kebesaran di tubuhnya.

Bye~ cepat sembuh!” Onew balas melambai dengan senyum tiga jarinya yang khas, “Jangan lupa minum obat lagi, dan istirahat begitu sampai di rumah!”

Arasso!

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Jibyung melihat taksi yang muncul di kejauhan dan akan lewat di depannya saat ini. Jibyung segera menyetopnya, kemudian melambai lagi pada Onew yang masih memerhatikannya, sebelum masuk ke jok penumpang taksi berwarna putih itu, dan menyebutkan tujuannya pada supirnya.

Jibyung terus memerhatikan Onew yang semakin terlihat mengecil karena taksi ini membawanya menjauh, dan akhirnya Jibyung melihat namja itu kembali masuk ke dalam studio.

Jibyung menghela nafas dan meluruskan kembali posisi tubuhnya. Jibyung menyandarkan kepalanya yang terasa berat dan berputar-putar ke sandaran kursi tempatnya duduk, sementara tangannya dia masukkan ke dalam saku mantel yang membuatnya merasa lebih hangat dan nyaman itu. Jibyung memejamkan mata, berusaha meredakan rasa pusing yang mulai menyerang lagi.

Padahal Jibyung masih merindukan Onew, kalau boleh jujur. Dia sengaja kemari untuk menemui Onew, tapi belum lama, dia sudah disuruh pulang. Lagipula apa namja itu tidak merindukannya juga?

Tapi mungkin akan beda ceritanya kalau tadi Jibyung tidak kelepasan mengatakan bahwa dirinya sakit. Tiba-tiba Jibyung jadi menyesali hal itu. Dan lagi, ternyata sekarang Jibyung merasa lebih tidak enak badan dibanding saat masih di dekat Onew tadi.

>>><<<

Jikyung memainkan sedotan jusnya dengan pelan, tidak terlalu berselera makan siang ini—layaknya siang-siang sebelumnya. Matanya memang memandang ke arah luar jendela cafetaria yang cukup jauh dari tempat duduknya, tapi siapapun yang melihatnya akan tahu bahwa Jikyung sebenarnya tengah melamunkan sesuatu.

Sudah hampir seminggu berlalu sejak peristiwa perdebatannya dengan Onew di Jepang, tapi ingatan tentang dirinya yang membentak Onew saat itu—dan membocorkan rahasianya sendiri—terus mengganggu pikiran Jikyung.

Jikyung merasa dirinya telah melakukan kesalahan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu langsung di depan Onew? Bukankah sebaiknya dia terus menyimpannya sampai akhir? Ataukah justru saat itulah ‘akhir’ yang sebenarnya? Apakah Jikyung sudah tidak bisa menyimpannya lagi sendiri, dan saat itu dia sudah mencapai batas ‘akhir’nya, sehingga dengan mudah mengatakannya begitu saja di depan Onew? Entahlah, Jikyung juga kurang mengerti akan hal itu.

Tapi masalah sebenarnya adalah bagaimana caranya Jikyung memperbaiki hubungan mereka kembali seperti semula, sebagaimana hubungan adik ipar dan kakak ipar pada umumnya? Sejak malam itu, mereka—Onew dan dirinya—bahkan belum saling berkomunikasi lagi.

Mengingat ‘perasaan’ itu, Jikyung tentu tidak bisa mengelak bahwa dia memang (kembali) mencintai Onew. Tapi jika memang dia ingin hubungannya dan Onew seperti saudara, bukankah Jikyung harus kembali mengubur perasaan itu, dan bukankah hal itu membutuhkan banyak waktu? Lalu apa mungkin hubungan mereka terus seperti ini, selama waktu yang dibutuhkan tersebut?

Lagi-lagi Jikyung tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jika dipikirkan dengan logika, sebenarnya ini hanya masalah perasaan yang sepele. Tapi bagi Jikyung yang merasakannya, ini adalah hal yang sulit. Dia harus rela menyakiti hatinya sendiri hanya karena hal ini.

“Shin Jikyung-ssi, halo?

Jikyung mengerjap, dan pikirannya berhamburan seketika saat sebuah telapak tangan terlihat melambai di depannya. Jikyung menoleh dan melihat ternyata pemilik tangan itu adalah Kim Junsu, namja yang mengenakan topi baseball yang saat ini duduk di kursi lain hadapannya—yang tadinya kosong.

“Oh, Oppa! Sejak kapan oppa di sini?” tanya Jikyung sambil memaksakan senyum di bibirnya.

“Ternyata benar kamu tidak menyadari kehadiranku. Aku bahkan sudah sempat memesan minuman.” jawab Junsu santai.

Jikyung tertawa kering, “Jinjja? Maaf, Oppa. Aku benar-benar tidak tahu.”

“Sepertinya kamu tidak benar-benar fit. Kamu sakit?” tanya Junsu yang menyadari ada yang aneh dengan tingkah Jikyung.

“Eh? Aniyo, aku hanya sedikit tidak enak hati. Mungkin karena pengaruh Jibyung.” jawab Jikyung berbohong.

“Ah, benar juga. Aku baru ingat lagi kamu punya kembaran.” kekeh Junsu, masih dengan sikap santainya, “Bagaimana keadaannya… dan Onew?” tanyanya lagi, dengan membisikkan nama Onew. Ya, Junsu sudah tahu mengenai pernikahan Onew dan Jibyung. Jikyung sendiri yang memberitahunya, dan Jikyung yakin Junsu tidak mengatakan hal itu kepada siapapun lagi, bahkan pada member 2PM lainnya.

Jikyung terdiam sesaat, “Baik.” jawabnya singkat, tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang Jibyung dan Onew yang bisa jadi akan membuatnya teringat lagi pada ‘kejadian’ itu.

Seorang pelayan yang menghampiri meja mereka untuk mengantar pesanan Junsu membuat keduanya sama-sama mengalihkan perhatian kepada pelayan tersebut. Jikyung kembali menatap ke arah jendela saat Junsu mengucapkan terima kasih pada pelayan tadi.

Junsu menyesap ice coffee’nya dengan mata yang tertuju pada Jikyung yang sepertinya tidak menyadari apa yang dia lakukan.

Sepertinya suasana hatinya tidak terlalu baik, batin Junsu pada dirinya sendiri, dengan perasaan sedikit kecewa.

Sebenarnya Junsu sengaja menemui Jikyung untuk menanyakan bagaimana keputusan yeoja itu mengenai pernyataan cintanya beberapa minggu lalu. Ya, sudah beberapa minggu berlalu sejak hari itu. Junsu sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Jikyung sudah membuat keputusan atau belum? Dan sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin dia ingin menanyakan hal ini, tapi Junsu tahu akhir-akhir ini Jikyung sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi dia terpaksa menunda hingga hari ini, namun sepertinya hari ini juga bukan waktu yang tepat, dan itu artinya Junsu harus bersedia menundanya lagi.

Di sisi lain, Jikyung sebenarnya malah tidak ingat tentang sesuatu antara dia dan Junsu. Dia belum memikirkan keputusan yang Junsu minta—belum sama sekali.

“Jikyung-ah!” panggil Junsu, mulai mencoba menyairkan suasana.

Jikyung menoleh, dan beberapa saat kemudian mereka sudah terhanyut dalam obrolan-obrolan ringan yang diselingi candaan. Selera humor Junsu sedikit banyak membuat Jikyung merasa terhibur dan membuatnya lebih nyaman.

>>><<<

Dengan tergesa-gesa dan penuh semangat Jibyung memarkirkan motornya di depan butik. Dia melepas helm kemudian turun sambil membawa bento berukuran cukup besar yang memang dibawanya dari rumah, berlari memasuki butik keluarganya itu.

“Ah, matta!” sentaknya ketika tangannya akan membuka pintu masuk, lalu kembali lagi ke tempat motornya diparkir tadi, hanya untuk mencabut kunci motor yang lupa dilepasnya. Dan setelah itu dia masuk lagi dengan lebih bersemangat.

Eomma! Eomma, eomma, eomma!” Jibyung berlari-lari dengan gaduh, menghampiri Minhyun yang sedang duduk santai di sebuah sofa sambil membaca majalah. Wanita yang dipanggilnya eomma itu menoleh dan langsung memasang mimik heran.

“Ada apa? Ah, Jibyung-ah, kau sudah sehat?”

Jibyung hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

“Ini, cobalah!” Jibyung mendudukkan diri di samping Minhyun dan membuka bento yang dibawanya tadi, “Tadinya aku hanya iseng bereksperimen membuat masakan baru. Tapi sepertinya lumayan juga dijadikan menu sehari-hari. Aku ingin eomma mencobanya dulu. Aaa~”

Minhyun yang tidak sempat menanggapi cerocosan(?) Jibyung itu hanya bisa menurut ketika Jibyung menyuruhnya membuka mulut. Dia heran kenapa anaknya ini jadi semangat dalam hal masak-memasak, yang beberapa waktu lalu paling tidak bisa dilakukannya. Apa demamnya kemarin yang menyebabkan ini terjadi? Atau kepalanya terbentur sesuatu?

Eotte?” Jibyung memandang Minhyun dengan harap-harap cemas, sementara Minhyun masih mengunyah makanan di mulutnya, lalu mengangguk-angguk. Tapi lagi-lagi dia merasa heran, sejak kapan Jibyung jadi bisa mengkombinasikan bumbu-bumbu masakan dengan rasa yang pas begini?

“Enak.”

Jinjja?

“Ng~” Minhyun memberikan anggukan setuju sekali lagi dan mencicipi lagi masakan eksperimen (?) itu, “Sepertinya bahan dasarnya ayam. Kau bermaksud membuatnya untuk Jinki, kan? Aah~ kalian ada acara sendiri, ya?” godanya iseng.

“Iya, memangnya kenapa? Apa salah juga aku membuatkan makanan untuknya?” Jibyung merepet lagi. Jibyung memang sudah membuat janji dengan suaminya itu—untuk makan bersama malam ini. Bagaimanapun Jibyung juga ingin merasakan suasana makan bersama Onew sebagai sepasang pengantin—yang pastinya akan berbeda dengan makan malam yang sering mereka lakukan sebelum menikah.

“Eiiyy~ aku ‘kan hanya bercanda. Kenapa kau marah?”

“Aku tidak marah.”

“Aku bisa mengukur berapa senti bibirmu itu maju, kalau perlu.”

Eomma~

“Iya, iya, aku mengerti.

Jibyung mendengus, kemudian melirik jam tangannya, “Ah! Yang lain pasti sudah menungguku. Eomma, aku berangkat kerja sekarang.” katanya yang langsung berdiri.

Ya, ya! Tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untukmu.” Minhyun ikut berdiri. Setelah Jibyung bergumam mengiyakan, wanita berusia kepala empat itu melesat masuk ke sebuah ruangan di belakang, kemudian kembali lagi dengan membawa paper bag berukuran kecil, lalu menyerahkan paper bag itu pada Jibyung.

Jibyung mengintip isi paper bag itu dan mengeluarkan isinya, “Apa ini?” tanyanya, memutar-mutar botol berisi cairan di tangannya.

“Itu obat, bagus untuk tubuhmu. Minumlah! Sisakan juga untuk Jinki.”

“Benarkah?” tanya Jibyung lagi, yang kemudian dengan polosnya meneguk cairan itu hingga tersisa setengah botol. Minhyun cekikikan diam-diam.

“Aah~ kenapa rasanya aneh?” komentar Jibyung acuh tak acuh sambil mengecap lidahnya, “Eomma, aku berangkat sekarang.” pamitnya lagi.

Ne~ hati-hati, ya!”

Arasso. Annyeong~

>>><<<

Jikyung terbangun oleh suara ribut yang tertangkap oleh telinganya dan entah berasal dari mana. Penglihatannya segera di sambut oleh sandaran sofa putih yang saat ini sedang digunakannya sebagai tempat tidur. Jikyung baru ingat dia sedang berada di apartemen kembarannya, dan mungkin dia ketiduran.

Jikyung merubah posisinya menjadi duduk, menguap lebar seraya sedikit mengucek mata dengan punggung tangannya. Dia menolehkan kepalanya ke sana kemari, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada jam yang menggantung di dinding. 7.20 pm, itu artinya Jikyung sudah ketiduran selama 2 jam.

Yeoja itu memijat pelan tengkuknya yang terasa pegal, mungkin karena posisi tidur yang salah. Sedetik kemudian Jikyung ingat dengan suara ribut yang membuatnya terbangun. Jikyung beranjak dari sofa dan mencari sumber suara itu ke arah dapur.

Hidungnya mencium aroma masakan yang terasa semakin kentara seiring dengan jaraknya yang semakin dekat dengan dapur. Jikyung melihat Jibyung yang tengah menyusun makanan di atas meja makan. Sebuah apron berwarna biru muda terikat di tubuhnya, dan itu adalah pemandangan yang sangat jarang Jikyung lihat.

“Ah, ireonasso?” tanya Jibyung yang baru menyadari keberadaan Jikyung.

Yang ditanyai masih menatapnya takjub, “Molla. Aku merasa sudah bangun, tapi aku juga merasa masih bermimpi melihatmu memasak sebanyak ini.” ucapnya asal.

Yaa~ apa maksudmu?” Jibyung mengacungkan spatula di tangannya ke arah Jikyung, menunjukkan ketidakterimaannya atas komentar yang baru saja terlontar dari mulut ‘kakak-lima-menit’nya itu.

“Untuk apa kamu memasak sebanyak ini? Ah, bukan. Lebih tepatnya, sejak kapan kamu bisa memasak sebanyak ini?” celetuk Jikyung santai, membuat Jibyung menatapnya dengan pandangan memrotes (lagi), “Hari apa sekarang? Apa hari spesialku?” lanjut Jikyung yang memasang pose seolah sedang berpikir keras. Dia benar-benar mengingat-ingat hari apa sekarang, sampai-sampai Jibyung tumben-tumbennya memasak?

Jibyung mendengus melihat tingkah Jikyung, “Siapa yang bilang aku memasak semua ini untukmu?”

“Lalu—” perkataan Jikyung terinterupsi oleh suara pintu apatremen yang menandakan ada seseorang yang masuk.

Jibyung buru-buru melepas apronnya, “Ah, dia sudah datang.” gumamnya senang, lalu berlari kecil ke ruang tengah, tepat saat sebuah suara memanggil namanya.

“Jibyung-ah..

Tubuh Jikyung menegang dengan segera. Dia sangat mengenali suara itu, dan mendadak pikirannya buntu. Dia bingung, apa yang harus dilakukannya, karena Jikyung tahu dia pasti akan berhadapan dengan Onew saat ini juga.

Suara beberapa langkah kaki yang bersahutan terdengar semakin mendekat ke arah dapur. Jikyung semakin keras menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Namun begitu matanya menangkap pintu kamar mandi, Jikyung berlari dan bergegas masuk ke kamar mandi tersebut, tepat saat Onew dan Jibyung sampai di dapur.

“Apa ada orang lain selain kita?” tanya Onew pada Jibyung, karena dia mendengar suara pintu kamar mandi yang berdebam agak kencang.

Jibyung tersenyum lebar, “Jikyungie.”

Onew meneguk ludah dengan canggung karena jawaban Jibyung itu, sementara Jibyung sendiri meneruskan perkataannya, “Tadi dia ke sini hanya untuk mampir. Tapi ternyata dia ketiduran sampai beberapa menit yang lalu.”

“O-oh~” Onew mengangguk seadanya, tanpa benar-benar mengerti apa yang dibicarakan Jibyung.

Mereka duduk di meja makan yang sudah penuh dengan hidangan-hidangan yang cukup menggugah selera makan Onew. Jibyung menyodorkan segelas air putih yang langsung disambar namja itu.

“Oh, ya ampun!” pekik Onew setelah menghabiskan air minumnya. Dia menunjuk area dapur dengan dagunya.

Jibyung nyengir, “Aku masih belum bisa memasak dengan rapi.” ujarnya sambil menggaruk pipinya yang tiba-tiba gatal.

“Untung saja hasilnya ‘terlihat’ enak. Kalau sama hancurnya, aku tidak tahu bagaimana jadinya.”

Yaa~” bibir Jibyung maju beberapa milimeter, “Setidaknya aku sudah berusaha.” katanya dengan nada kecewa.

“Iya! Aku baru saja akan mengatakannya tadi.” Onew menirukan nada bicara Jibyung dengan sama persis. Onew mengusap pelan puncak kepala Jibyung, “Makanya dengarkan dulu pembicaraan orang lain sampai selesai!”

Jibyung hanya meringis lebar.

“Ah, kalau kamu merasa terganggu, aku bisa membereskannya dulu sekarang.” Kata yeoja itu saat melihat—tepatnya mengira—tatapan Onew mengarah lagi ke dapur—padahal sebenarnya namja itu tengah memperhatikan pintu kamar mandi yang memang berada di dekat dapur.

“Tidak usah, nanti saja. Siapa yang merasa terganggu?” cegah Onew pada Jibyung yang baru akan beranjak dari kursinya.

Jibyung duduk kembali, “Begitu? Oke.” ujarnya ringan.

Jibyung mengambil mangkuk Onew yang masih kosong, lalu mengisinya dengan beberapa sendok nasi dari rice cooker. Onew memperhatikan sambil menggigiti sumpitnya.

Keundae, apa Jikyung akan ikut makan?” tanya Onew pelan, sambil sedikit melirik ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup rapat.

“Entahlah.” jawab Jibyung, mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh, “Kalau aku mengajaknya bergabung, kamu tidak keberatan?” tanyanya kemudian.

“A-apa? Kenapa.. kenapa aku harus keberatan?! Tentu saja tidak! Memangnya dia orang lain!” elak Onew sedikit gelagapan, dan tidak sadar bahwa suaranya mengencang dengan sendirinya. Onew menyendok kuah sundubu jiggae di depannya, sekedar untuk menutupi kegugupannya sekaligus mengalihkan perhatian Jibyung.

“Wah~ enak.” komentarnya, yang segera disambut senyum sumringah sekaligus lega dari Jibyung.

“Benarkah? Coba juga yang itu! Aku membuat yang satu itu tanpa buku resep, loh! Itu eksperimen pertamaku.”

“Eksperimen?”

*

Di dalam kamar mandi, Jikyung yang selesai mencuci wajah di washtafel, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin di depannya.

“Apa yang bisa kau lakukan sekarang, Bodoh?” gumamnya pada bayangannya sendiri, “Mengurung diri di sini sampai mereka selesai? Itu berarti kau pengecut.”

“Atau keluar dari sini, dan bersikap biasa saja di depan mereka? Cih~ yakin kau bisa melakukan itu dengan baik? Kau bukan aktor yang bisa berakting dengan sempurna, kan?”

“Atau… keluar dari sini dan berpura-pura tidak melihat mereka? Kau gila?! Yang ada mereka akan menganggapmu buta!”

“Astagaaa~ apa yang sedang aku lakukan sekarang? Kenapa aku bicara pada bayanganku sendiri?” Jikyung menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras dan buru-buru mencuci mukanya lagi, “Aku tidak gila. Sadarlah, Shin Jikyung! Kau belum gila.”

Jikyung kembali menatap bayangannya di cermin. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu mengulanginya lagi hingga tiga kali, “Sebenarnya apa yang aku takutkan? Aku tidak akan mati hanya karena melihat Onew, kan?” gumamnya.

Jikyung menarik kedua ujung bibirnya, hingga dia bisa melihat bayangan yeoja yang tengah tersenyum canggung di cermin. Jikyung segera memperbaikinya hingga kesan canggung itu hilang, dan sekarang, dia hanya bisa melihat dirinya sendiri tersenyum dengan manis.

Annyeong!” ucap Jikyung, masih dengan senyum di bibirnya. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu tersenyum lagi, “Ehem, ehem! Oh, Onew-ya!

Annyeong!

“Onew-ya! Ehem, ehem!”

Yaaa~ adik ipar~ makan yang banyak! Jibyung sudah bersusah payah menyiapkan itu semua sejak tadi sore.”

Kali ini Jikyung merapikan baju yang dikenakannya, “Bersikaplah seperti tidak ada apapun yang terjadi di antara kalian, Jikyung! Tenang, oke?

“Shin Jikyung, hwaitting!

Jikyung memutar knop pintu dan menariknya perlahan. Dia mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka.

“…membuat yang satu itu tanpa buku resep, loh! Itu eksperimen pertamaku.”

“Eksperimen?”

“Ng!”

Jikyung membuka pintu semakin lebar. Biasa saja, biasa saja, batinnya pada dirinya sendiri.

“Kamu juga makanlah!”

Arasso. Ah, Jikyung-ah!” panggil Jibyung, tepat saat Jikyung baru hendak melangkah keluar dari kamar mandi, “Mau ikut makan?” tawar Jibyung.

N-ne? Ah, tidak. Aku… kurasa aku harus pulang sekarang.” Jikyung melangkah dengan pelan, keluar dari kamar mandi. Tanpa sadar tangannya memilin tepian bajunya dengan gerakan tak tenang, dan hal itu tidak luput dari perhatian Jibyung.

Bersikaplah seperti biasa, seperti biasa, pikir dua orang di antara semua yang ada di ruangan itu.

Wae?” tanya Jibyung dan Onew bersamaan.

Jikyung tersenyum tipis, dan tampak agak canggung, “Aku hanya… ada sedikit pekerjaan yang kutunda di rumah.”

“Tunda saja lagi!” celetuk Onew sambil nyengir. Jikyung menatapnya, tetap dengan canggung dan sedikit terkejut karena Onew terlihat sangat biasa saja.

“Benar!” kekeh Jibyung, “Makanlah dulu! Aku baru sadar makanan yang kubuat terlalu banyak untuk dua orang. Siapa tahu kamu mau mencoba masakanku?” selorohnya kemudian.

“Tidak. Aku tidak mau mengganggu kalian, sungguh!”

“Apanya yang mengganggu? Ayolah! Lihat, makanannya kelihatan enak, kan? Aku sampai tidak sanggup menghabiskannya sendiri.” ucap Onew asal, mengundang sebuah jitakan mendarat dengan mulus di kepalanya.

Dua lawan satu, Jikyung tidak bisa menolak. Pada akhirnya dia makan di meja yang sama dengan pasangan pengantin baru itu, meski dia merasa lebih canggung lagi.

>>><<<

Onew menutup pintu mobil di samping tempat Jikyung duduk, lalu berlari kecil mengitari bagian depan mobil dan duduk di kursi pengemudi. Tanpa mengatakan apapun, dia memasang safety belt’nya dan melajukan mobil keluar dari area gedung apartemen itu.

Jibyung memintanya mengantar Jikyung pulang, dan Onew tidak punya alasan untuk menolak—kalian tahu alasan macam apa yang dibutuhkannya. Tapi bukan berarti Onew merasa keberatan, ini hanya masalah perasaan.

Mereka duduk diam, masing-masing tidak melakukan hal lain selain menatap lurus ke arah jalanan di depan mereka. Dan Onew sebenarnya tidak terlalu suka dengan keadaan seperti ini. Selain itu, beberapa pemikiran yang bergumul di otaknya pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk buka mulut, “Tentang pembicaraan kita di Jepang—”

“Tentang itu…” sela Jikyung cepat, masih menatap ke depan, “… maaf, aku sudah membentakmu saat itu.”

Onew menolehnya sebentar, “Apa kamu…”

“Lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan hal itu. Aku hanya sedang emosi.”

Onew mendengus pelan, lalu berkata panjang lebar, “Jangan membuatku bingung lagi, Jikyung. Kamu ingin aku hanya menganggapnya angin lalu, sementara bayanganmu yang sedang menangis ketika mengatakan itu selalu muncul di benakku? Katakan saja semuanya! Tidak perlu menutupinya lagi di depanku.”

Jikyung hanya berpaling ke arah jendela di sampingnya tanpa mengatakan apapun.

Onew berpikir bahwa ini terasa lebih berat—setelah dia tahu perasaan Jikyung yang sesungguhnya. Dia jadi merasa semakin ragu. Onew kira yang akan terjadi hanya; dia mengutarakan perasaannya pada Jikyung (seperti yang sudah terjadi beberapa waktu lalu), kemudian meminta bantuan Jikyung untuk menghilangkan perasaannya itu, lalu Jikyung membantunya, dan berhasil, masalah selesai. Tapi ternyata yang terjadi tidak semulus yang dipikirkan. Onew tidak sampai pada dugaan tentang bagaimana jika Jikyung juga memiliki perasaan yang sama padanya, seperti yang kini memang sedang terjadi.

“Maafkan aku, kalau aku sudah menyakitimu. Aku tidak tahu kalau—”

“Aku tidak apa-apa.” sela Jikyung untuk yang ke sekian kalinya. Suaranya gemetar. Dia menarik nafas dalam selagi mengumpat dalam hati, kenapa perjalanan sampai di rumahnya terasa selama ini? Jikyung khawatir pertahanannya akan runtuh sebelum mereka sampai di tempat yang dituju.

Onew menghentikan mobilnya, melihat lampu lalu lintas berwarna merah. Suasana terasa semakin sunyi di ruang sempit dalam mobil itu.

“Aku sudah memaafkanmu.” ujar Jikyung memecahkan kesunyian sekaligus memberi penjelasan lebih detail bagi Onew. Setelah memantapkan hatinya, Jikyung memberanikan diri menatap figur tegap di sampingnya itu, “Jadi, lupakan saja hal-hal yang terjadi kemarin, dan kita kembalikan keadaan seperti semula. Aku adalah saudara iparmu, begitupun sebaliknya. Dan selamanya tidak akan berubah, karena bagaimanapun, kamu sudah punya Jibyung.” Jikyung merasakan tenggorokannya tercekik, perih. Namun dia terus melanjutkan, “Setuju?”

Onew mencengkram steer dengan erat, lalu sedetik kemudian mengarahkan tatapannya pada Jikyung dan tersenyum, hanya tersenyum.

Lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Onew menginjak pedal gas, dan kendaraan beroda empat itu pun kembali meluncur di jalanan Seoul yang bisa dibilang agak lengang. Sekali lagi, hanya ada kesenyapan di antara mereka. ‘Kesepakatan’ yang dibuat Jikyung justru membuat suasana semakin canggung. Sebenarnya masing-masing dari mereka malah tidak terlalu yakin dengan ‘kesepakatan’ itu, bahkan Jikyung sendiri.

*

“Sudah sampai. Gomawo, Onew-ya.” Jikyung (mencoba) tersenyum lebar dan melepaskan safety belt’nya dengan mudah. Dia baru akan membuka pintu mobil saat suara Onew membuatnya mengurungkan niatnya.

“Jikyung-ah.

“Y-ya?” sahut Jikyung pelan.

“Boleh aku… sebentar saja… memelukmu?”

Jikyung meneguk ludah dengan sedikit gugup, tapi dia mengerti apa maksud Onew. Dengan sedikit ragu, Jikyung mengangguk dan mendekatkan dirinya pada Onew. Namja itu melingkarkan kedua lengannya pada Jikyung, merengkuh Jikyung ke dalam dekapannya dengan perlahan, sambil berharap dalam hati, bahwa semua akan kembali seperti semula setelah ini.

Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan masing-masing dan saling menjauhkan diri.

“Mau mampir sebentar?” tawar Jikyung, berusaha terlihat biasa.

Onew menggeleng, “Sampaikan saja salamku pada eommonim.

“Baiklah. Terimakasih, aku masuk sekarang.”

“Ng, selamat malam.”

Ne, hati-hati!”

Jikyung menutup pintu mobil sehingga menimbulkan suara berdebam pelan. Onew memperhatikannya yang sudah melewati gerbang rumah keluarga Shin, hingga kemudian menghilang di balik pintu rumah.

Onew menghela nafas panjang dan memutar balik mobilnya, tanpa sedikitpun menyadari seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam mobilnya sendiri.

“Itu… SHINee Onew, kan?” gumam orang itu dengan mata membulat di balik kacamata beningnya, “Tapi… perempuan tadi… bukankah itu Jikyung?”

Dia berpikir beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengikuti mobil yang dikendarai Onew.

>>><<<

(Jibyung’s POV)

11.20 pm…

Kukira Onew akan kembali lagi ke sini setelah mengantarkan Jikyung. Karena itu aku menunggunya. Tapi hingga saat ini dia tidak datang. Aku sudah menelfon ke handphone’nya berkali-kali, tapi tidak di angkat, dan terakhir kali aku memanggilnya, handphone’nya tidak aktif. Apa dia kembali ke dorm? Mungkin juga.

Aku memutuskan untuk menunggu sebentar lagi sembari memejamkan mataku yang terasa berat. Tapi sepertinya aku ketiduran, karena begitu tersadar, jam sudah menunjukkan pukul 11.41 pm.

Ah, sepertinya dia benar-benar pulang ke dorm. Tidak mungkin dia mengantar Jikyung selama ini.

Aku baru saja membaringkan diri di atas tempat tidur ketika telingaku menangkap suara bel. Dengan keadaan setengah sadar aku turun dari tempat tidur dan baru tersadar ketika sudah berada di depan pintu.

Lagi, bel ditekan dengan sedikit tak sabaran. Aku menyalakan interkom dan berbicara, “Ne, nuguseyo?

Annyeong haseyo. Jibyung-ssi, aku ke sini untuk mengantar Jinki.” Seseorang menyahut dari luar. Ah, kalau tidak salah ia salah satu manager SHINee. Tapi, mengantar Jinki, katanya?

“Ah, ne.” Gumamku seraya membukakan pintu. Benar saja. Aku melihat Onew yang terkulai lemas di rangkulan managernya itu. Aku menatap manager oppa dengan bingung, tapi kemudian membiarkannya masuk lebih dulu. Tunggu, dia bukan manager SHINee. Dia… dia… dia!! Dia 2PM Junsu!

“Junsu-ssi?!” pekikku agak keras. Dia hanya tersenyum lebar. Omo, omo~ ada angin apa dia datang kemari? Dan yang tidak mengenakkan, aku berdiri di hadapan seorang Kim Junsu dengan penampilan berpiyama ini?! Pukul aku sampai pingsan!

“Dia mabuk.” ucapnya kemudian yang membuatku tersadar dari spacing out.

“Oh ya. Bantu aku membawanya ke sana, bisakah?” tunjukku ke arah pintu kamar.

Junsu mengangguk seraya memapah Onew ke kamar, dan aku membantunya. Ah, ngomong-ngomong, kenapa Onew bisa mabuk?

“Junsu-ssi, kenapa Onew bisa mabuk, dan kau yang membawanya ke sini?”

Pria bertubuh kekar itu membaringkan Onew di tempat tidur, kemudian menjawab, “Tadi kami tidak sengaja bertemu, dan aku tidak tahu kenapa dia mabuk. Dia memintaku untuk tidak membawanya pulang ke dorm, dan malah menyuruhku ke sini. Jadi maaf kalau aku mengganggu.” jelasnya, dan aku mengangguk paham.

Ne, gwaenchanayo, Junsu-ssi.” ujarku pelan, masih menebak-nebak hal apa yang membuat Onew mabuk.

Keurae, kalau kau tidak membutuhkan bantuan lagi, aku pergi sekarang.” Junsu tersenyum simpul.

Aku membalasnya, “Ne. Terimakasih sudah mengantarnya kemari. Dan maaf karena sudah merepotkanmu.”

“Ng~ gwaenchanayo.

Aku mengantarnya sampai ke pintu masuk apartemen, “Hati-hati.” Aku membungkuk kecil ke arahnya. Kami memang belum terlalu akrab dan belum terbiasa menggunakan banmal saat berbicara pada satu sama lain. Berbeda dengan Jikyung.

“Ya, selamat malam.” dia tersenyum simpul dan balas membungkuk.

Junsu-ssi melangkah lebar, semakin menjauhi apartemenku. Aku pun segera menutup pintu dan menguncinya. Aku memasuki kamar, mendapati Onew bergerak-gerak tak jelas di atas tempat tidur.

Aku menghampirinya dan melepas sepatunya. Kemudian kulepas jaket yang membalut tubuhnya. Dia tampak kepanasan, wajahnya penuh dengan keringat.

“Ya ampun, kamu bau.” Komentarku setelah melepaskan jaketnya dengan susah payah, lalu kulempar benda itu ke sembarang tempat. Aku mendengarnya bergumam tak jelas, lalu tangannya menggapai-gapai hingga meraih tanganku. Tanpa kuduga, dia menarikku sehingga tubuhku condong ke arahnya yang masih berbaring.

Dia memandangiku dengan mata segaris—hampir tampak terpejam kalau kau tidak memperhatikannya dengan seksama. Jantungku berdetak tak karuan saat salah satu tangannya naik ke atas punggungku, membuatku semakin merapat dengannya. Dia bernafas tepat di depan hidungku, dan aku baru ingat untuk mengernyit karena bau alkohol dari nafasnya tersebut. Dan kemudian dia menyeringai—demi apapun, aku baru kali ini melihat seringaian itu.

Onew meletakkan tangannya yang lain di kepalaku, mengaitkan rambutku ke belakang telinga. Masih dengan seringaian itu, dia menurunkan tangannya menyusuri pipi, rahang, dagu dan leherku.

“Istriku…” kekehnya tiba-tiba, “kau… cantik, ya?”

“Sejak dulu aku memang cantik.” candaku menanggapinya, meskipun jantungku rasanya akan menembus tulang rusukku.

“Ahaha~ benar juga. Tentu saja.” dia menepuk bahuku, sementara aku masih berusaha untuk tidak menghirup bau alkohol dari mulutnya, dan tentu saja sambil berusaha menjauhkan diri.

“Aigoo~ aku sangat merindukan Shin Jibyung~

Keurae, istriku adalah Shin Jibyung, bukan orang lain. Shin Jibyung-lah orang pertama yang kucintai dan juga mencintaiku. Kita menikah karena saling mencintai. Tapi hingga saat ini, aku belum mendapat waktu luang sehingga sering meninggalkanmu. Benar begitu, kan?”

“…” aku memilih diam, tapi juga menyetujui dalam hati racauan tak jelasnya.

Onew memejamkan mata, “Tapi kenapa rasanya jadi serumit ini~?” katanya lemah.

Apanya yang rumit? Dasar orang mabuk.

“Apa yang kamu bicarakan?” rontaku untuk ke sekian kalinya. Tapi dengan segera dia mendekapku erat dengan kedua tangannya.

“Aaa~ eotteokhae~? Orang tua kita ingin segera punya cucu. Apa yang harus kita lakukan, yeobo?” kali ini dia mengoceh dengan nada sedih yang dibuat-buat. Tapi meskipun begitu, aku cukup dibuat ‘merinding’ mendengarnya.

M-mwoya~?” suaraku mendadak terdengar gugup di telingaku sendiri.

Tangannya lagi-lagi menyingkirkan rambut yang menutupi mata kiriku dan mengaitkannya di belakang telingaku lagi. Dia menangkup pipiku dengan satu tangannya, “Byung~ bagaimana kalau kita melakukannya malam ini?”

A-apa?

Dia menyeringai, “Lebih cepat lebih baik, kaaan~?”

“O-Onew-ya!” pekikku pelan karena telapak tangannya yang besar itu turun dan telah sampai di leher bawahku. Dia mengulangi apa yang dilakukannya tadi. Tapi gawatnya kini tangannya itu tidak hanya berhenti di sana, melainkan terus turun ke tulang dadaku.

Y-ya!

Aku berusaha melepaskan diri lagi, tapi ternyata malah membuat tangannya yang tadinya di punggungku sekarang bergerak ke belakang tengkukku, menarikku, hingga yang kusadari selanjutnya adalah saat bibir kami sudah saling terpaut.

Aku terbelalak kaget.

Ige.. mwoya?

Detak jantungku semakin berontak saat Onew menyapu pelan permukaan bibirku dengan lidahnya, lalu dengan nafas memburu melumat bibirku dalam. Aku hampir tidak mempercayai apa yang kurasakan dan kulihat sekarang. Tapi kemudian aku sadar bahwa ini kenyataan, ketika Onew semakin menekan tengkukku dan bibirnya semakin liar melumat bibirku.

Aku berusaha melepaskan diri lagi, namun kali ini kedua tangannya benar-benar mengunci tubuhku hingga aku tidak bisa menjauh sedikitpun darinya. Malah sekarang dia membalikkan keadaan; dia membawaku berguling, membuatku berbaring ditempat tidur dan dia di atas tubuhku.

Bingung, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku merasa sedikit takut. Dia memang suamiku, tapi dia sedang dibawah pengaruh alkohol sekarang.

“Aa!” pekikku tertahan saat tiba-tiba saja Onew menggigit bibir bawahku. Lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku, dan itu membuatku tegang seketika. Seperti ada sensasi ‘menyengat’ saat itu terjadi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi tanganku terlipat di antara tubuh kami, dan dia menekan tubuhku sedemikian rupa hingga membuatku sulit bergerak. Ditambah lagi bau alkohol dari nafasnya—bahkan aku bisa merasakan rasa alkohol itu dari lidahnya—yang membuatku pusing.

Lidahnya menyusuri langit-langit mulutku, dan aku hampir saja melenguh dan menyadari bahwa energiku menguap karena perlakuannya. Onew kemudian melepaskan ciumannya di bibirku, lalu berpindah ke rahangku. Aku merinding dan merasa semakin lemas.

“Onew..”

Dia berpindah ke leherku. Menghisap kulit leherku kuat, dan aku yakin pasti meninggalkan bekas.

“Ah! Ya!” aku memekik lagi. Tapi kemudian aku sadar bahwa Onew dalam keadaan tak sadar, dan tentu saja diragukan apakah dia akan menurut atau tidak.

Ini seperti bukan dirinya. Onew adalah pria yang sangat menghormatiku sebagai perempuan. Dia tidak pernah menyentuhku—mungkin tidak hanya padaku. Dan memang saat ini dia sudah menjadi suamiku. Tapi… ini tidak seperti yang kubayangkan. Jauh dari yang kubayangkan.

“Onew.. mm!” dia kembali membungkamku dengan bibirnya. Sementara tangannya mulai turun ke kancing piyamaku. Aku yang akhirnya bisa menggerakkan tanganku menahan tangannya tersebut. Tapi sejurus kemudian aku menyerah lagi, karena percuma saja melakukan itu kalau dia sekasar ini.

Dia membuka beberapa kancing atas piyamaku, dan menarik turun bagian lengannya, sehingga aku bisa merasakan udara—yang bercampur dengan nafasnya—menyapu bahuku. Belum cukup dengan hanya seperti itu, aku kembali dibuat terkejut saat bibirnya mendarat di bahuku.

“Ya-hh~”

Kali ini aku benar-benar panik dan semakin bingung saat tangannya dengan tergesa masuk ke balik bajuku. Apa yang harus kulakukan sekarang?

>>><<<

To Be Continue

*usap keringet* DEMI APAAA COBAAAA?!! Itu scene mesum(?) pertama yg saya bikin demi cerita ini! > < *nunjuk2 tulisan biru* Astaghfirullah~ *tobat lagi/plakk* Jadi dimaklum ya, kalo rada gak enakeun(?) dibacanya.. dan maaf kalo lagi2 updatenya kelamaan tapi hasilnya mengecewakan. Mood emang gak bisa dipaksain. v(“-__-)v

13 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 6

  1. oh God, beneran bikin tegang deh bacanya aplg pas jikyung-onew bertatap muka setelah kejadian di jepang..serasa jd jikyung disini >.<
    btw siapa ya yg ngeliat adegan pelukan di mobil tadi, junsukah? soalnya langsung mengenali itu jikyung langsung..hmmm
    astaga, onew smpe mabuk2an gitu dan omo..pikirannya pasti rujit banget smpe mw ngelakuin 'itu' walau wajar sih krn mreka uda suami istri..tapi itu jibyung kenapa ya? apa dy mmg belum siap ngelakuin ato ada hal lainnya? semakin penasaran gimana kelanjutan hubungan si kembar ama onew..dtunggu ya..fighting!! 😀

    • ohohoho~ analisa yg bagus.. 😀 *unjuk gigi sama jempol*

      ehehehe~ jibyung kayak gitu karena ada hal lainnya. ntar di clip depan kejawab, deh.. 😀

      makasih udah nunggu~ >< fighting!! ^o^/

  2. yah kembali normal… sebenernya emang permasalahan cinta terlarang onew en jikyung bisa diselesain kalu si onew en jibyung pny ank 😀

    pasti mw gak mw mrk jadi iklasin perasaannya masing2… tp ya gak dengan cara mabok juga kali nyu…

  3. Aaah, aku mau ini epep brakhir angst, si onyu ma jikyung aja si jibyun dtinggalin…
    Thoor, lanjutan na cepat yaa..

  4. Kasihan Jibyung nya….
    Onew nya plin plan…emamh sich klw perasaan hati gk mungkin lupa begitu aja… tpi kan Onew udah punya istri….

    di tunggu lanjutannya,. ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s