Love Warrior — Trip 2

Author: Shalsasya

Main Cast(s):

  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Selina Shin

Support Cast(s):

  • SJ Donghae as Aiden Lee
  • Madam Ty
  • All exo’s member

Guest Cast:

  • Park Jiyeon as Alice Park

Genre: AU, fantasy, supernatural, and romance.

Rate: Teen

Credit poster goes to: Vira Thank’s Viraaa~

Length: Chaptered

Previous part: {Teaser + cast introduce!} [TRIP – 1]

Aku menaruh sepiring ke hadapan seorang lelaki yang duduk sendiri di mejanya. Dia mendongak ketika aku menaruh sepiring makanan ini, eh? Dia lelaki yang menolongku kemarin!

“Kau yang menolongku kemarin? Terimakasih, berkat kau luka bakar ku jadi tidak terlalu parah! Sekali lagi terimakasih!” ucapku sungguh sungguh. Lelaki di hadapanku mendongak tetapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun, aku melirik sedikit name tag yang tersemat di jasnya.

Oh Sehun.

.

.

.

[TRIP— 2; THAT BOY!]

Dia tetap diam tak bereaksi, hanya menatapku datar. Aku berdehem, “Terimakasih Oh Sehun,” kataku lagi memastikan dia mendengar apa yang aku katakan. Beberapa detik kemudian barulah seulas senyum terukir di wajahnya yang putih mulus itu, “Ya. Sama sama.” jawabnya singkat.

“Terimakasih juga kemarin kau menyelamatkanku dari hukuman Madam Ty.” ujarku yang dibalasnya dengan senyuman—lagi. Ah tidak! Ternyata senyumannya itu menular, aku malah ikut ikutan tersenyum, aish.

“Ng, aku…Ke dapur dulu.” pamitku kikuk. Ada apa denganku? Salah tingkah? Ah tidak mungkin. Aku berbalik dengan hati hati mengingat kejadian kemarin, aku tidak mau Baekhyun—atau siapapun—menabrakku dan menumpahkan minumannya. Eh tapi apa Sehun akan menolongku kalau terjadi hal seperti itu tadi?

“Selina!”

Aku nyaris mati di tempat melihat seorang lelaki yang duduk tidak jauh tempatku berdiri dengan santainya melambaikan tangannya ke arahku seraya menunjukkan deretan gigi putih rapih miliknya. Perhatian terpusat pada kami sekarang—Aku dan Baekhyun—aku menekuk wajahku menghindari tatapan tajam nan sinis dari berbagai arah lalu berjalan menuju pintu keluar—yang entah mengapa terasa sangat jauh—aku melemparkan senyum kecil untuk Baekhyun yang masih saja tersenyum 3 jari. Aku mempercepat langkahku, hampir berlari sebenarnya.

Hening. Suasana ruang makan mendadak hening dan itu semua terjadi karena seorang Byun Baekhyun.

“Pangeran menyapa upik abu, eh?” celetuk salah satu teman Cassie yang kalau tidak salah bernama Jessica. Ya, aku hapal suara tinggi khasnya.

Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung keluar dan menutup telingaku dari berbagai ejekan yang dilontarkan mereka.

.

.

.

“Ada masalah?”

Aiden langsung menyerangku dengan pertanyaannya begitu aku masuk. Aku menggeleng lalu melepas celemek yang kukenakan dan menggantungnya. “Mukamu kusut,” celetuknya lalu ikut ikutan melepaskan celemeknya dan duduk di kursi yang ada di hadapanku. “Sekusut apa?” candaku.

Aiden memajukan bibirnya lalu tak lama kemudian ia berkata, “sudah kusiapkan makanan untuk Paman Rob. Kau tidak akan mengunjunginya, eh?”

“Oh iya! Paman Rob! Hampir saja aku lupa,” aku menepuk jidatku lalu menoleh kepada Aiden, “mana makanannya?” tanyaku. Aiden langsung bangkit dari duduk nya lalu membawa satu nampan makanan yang berisi sepiring nasi dengan lauk pauk lengkap serta secangkir kopi.

“Mau ikut?” tawarku kepada Aiden setelah mengambil alih nampan berisi sarapan tersebut. Aiden melirik ke belakang sekilas, “err, sepertinya tidak. Aku belum menyelesaikan pekerjaanku,” tolaknya halus. Aku pun langsung melangkah keluar dari dapur ini.

.

.

.

Author’s

Selina menaruh nampan berisi menu sarapan lengkap itu di depan sel penjara milik Paman Rob. Lelaki tua itu, yang tadinya sedang duduk seraya memejamkan matanya langsung membuka kedua kelopak matanya untuk melihat seorang gadis yang sehari hari mengunjunginya. “Oh, Selina,” gumamnya sambil tersenyum kecil, ia mengambil nampan yang ditaruh oleh Selina.

“Apa kabar, paman?”

“Apakah seseorang yang mendekam di penjara bisa mengatakan kalau ia baik baik saja?” Paman Rob tertawa.

“Aish, Paman ‘kan sebentar lagi keluar,”

“yah semoga,” katanya pelan. “Kau apa kabar, Selina?” tanyanya balik sebelum menyuap sesendok nasi ke mulutnya. “Aku biasa saja.” Kekeh Selina. “Sebenarnya kemarin Madam Ty hampir menghukumku,”

“Hah? Yang benar saja.” Paman Rob berdecak. “Apa yang ia lakukan, Sel?”

“Dia hanya—”

“—oh ya Paman, aku sudah tahu siapa lelaki yang menolongku kemarin! Dia juga membuatku terhindar dari cambukan Madam Ty loh,” seru Selina bersemangat mengingat pertemuannya dengan lelaki berambut hitam kecoklatan di ruang makan tadi.

“Siapa dia? Kau sudah berterimakasih?”

Selina mengangguk. “Tentu saja, ternyata dia bernama Oh Sehun.”

“Oh—Sehun?” tanya Paman Rob memastikan, tenggorokan nya terasa terhimpit ketika mengucapkan nama milik lelaki yang sudah menolong Selina tersebut.

Selina mengerutkan keningnya, “Iya. Paman kenapa?” tanyanya bingung melihat sikap Paman Rob yang sedikit berubah, seperti yang terjadi kemarin. Padahal selama Selina mengunjungi Paman Rob di penjara bawah tanah ini, pria itu tidak pernah sedikitpun menunjukkan perubahan sikap yang sangat kontras seperti yang sedang terjadi sekarang. Pria itu menggeleng, membuat Selina makin penasaran dan bertanya lebih jauh, “Oh ayolah Paman, kau tidak bisa berbohong padaku,” bujuknya.

Paman Rob malah tertawa—yang terlihat sedikit memaksa—lalu menatap Selina, “tidak apa apa.” kilahnya, “kau bisa berteman dengannya, Sel.”

Selina terdiam berusaha mencerna perkataannya yang keluar dari mulut pria tersebut. “Aish, Paman mengalihkan pembicaraan,” ucapnya sebal. “Paman mengenal Oh Sehun itu?”

Paman Rob tidak bereaksi sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian barulah dia menggeleng, “tidak. Aku tidak tahu,”

“Lalu kenapa Paman menyuruhku berteman dengannya?”

“Tidak apa apa sih, aku hanya ingin kau berteman dengan anak baik seperti dia, apa itu salah?”

Selina mengangguk angguk tanda mengerti, “baiklah, Paman.”

“Apa Aiden tahu tentang ini?” tanya Paman Rob lagi.

“Aiden?”

Selina menggeleng, “tidak, untuk apa dia tahu?”

“Yah untuk—”

Perkataan yang hendak keluar dari mulut Selina terpotong karena seorang gadis berambut blonde berteriak memanggilnya, “Selina! Madam Ty memanggilmu!”

Selina yang tadinya berada di posisi menyandar pada tembok langsung bangun dan menoleh pada Paman Rob, “aku pergi dulu, Paman. Doakan aku baik baik saja ya,” candanya kemudian berjalan menyusul Alice.

“Apakah ada tanda tanda dia ingin menghukumku, Alice?” tanya Selina setelah menyamakan langkah kakinya dengan Alice. Perempuan itu menggeleng, menyebabkan rambut yang ia kucir kuda bergoyang ke kiri dan ke kanan. “Lalu?” tanya Selina lagi.

Alice mengangkat bahunya, “sepertinya dia sedang bersiap untuk mengajar. Kau tahu? Kelas tambahan dengan Madam Ty, ‘kan?”

Selina mengangguk. “Oke, thank’s Alice!” ucapnya ketika mereka mau berpisah, Alice mengambil jalan ke kanan untuk ke dapur, sedangkan Selina berbelok ke kiri untuk mencapai ruangan milik Madam Ty.

Ruangan Madam Ty cukup dekat dari sini, hanya perlu menaiki tangga satu kali lalu berbelok ke kiri. Karena ruangan Madam Ty terletak di dekat tangga.

Selina mengetuk pintu 3 kali hingga terdengar lengkingan wanita itu, “masuk!”

Selina membungkuk sebentar, “Madam memanggilku?” tanyanya memastikan.

“Ya.” jawabnya singkat lalu berjalan ke arah pintu, “bawa buku buku itu ke tempat ku mengajar,” suruhnya yang dituruti dengan patuh oleh Selina.

.

.

.

Ternyata ‘buku buku’ yang dimaksud oleh Madam Ty tadi adalah buku dengan halaman ribuan. Dengan susah payah, Selina mengangkat keempat buku tebal tersebut yang membentuk satu tumpukan, di depannya Madam Ty berjalan dengan tongkat kesayangannya sambil bersenandung, seolah mengejek Selina yang sedang keberatan di belakangnya. Sekuat tenaga tangan kecil milik Selina mengangkat buku buku itu saat menaiki tangga sampai akhirnya mereka sampai di depan kelas yang sudah tidak asing lagi bagi Selina. Gadis itu menelan ludahnya, gugup.

“Selamat pagi, anak anak!”

Suara ‘manis’ yang meluncur dari mulut Madam Ty membuat seluruh murid yang berada di kelas yang terisi oleh para murid murid ‘jenius’ itu duduk tegak, mereka membalas sapaan Madam Ty serentak, membuat wanita yang sedang berdiri tegap di depan kelas itu mengetukkan tongkatnya, senang.

“Ya, Byun Baekhyun, bisakah kau menghapuskan papan tulis ini untukku?” suruhnya seraya menunjuk seorang lelaki yang tengah serius menulis sesuatu di buku catatannya. Ia langsung berdiri, “tentu saja, Madam.” Baekhyun pun langsung berjalan menuju meja yang ada di depan untuk mengambil penghapus papan tulis.

Madam Ty berdehem, “Selina Shin,” katanya dengan volume yang sengaja dikeraskan. “Mau sampai kapan kau mematung disana? Cepat simpan buku buku itu di meja!” serunya. Selina menelan ludahnya—untuk kesekian kalinya sejak ia berdiri di depan pintu kelas itu—kemudian melangkah masuk, wajah nya ia tekuk dalam dalam untuk menghindari tatapan kaget dari Baekhyun, serta murid murid lainnya juga. Perasaan gugup, takut, dan malu bercampur menjadi satu sehingga Selina secara tidak sadar tersandung tongkat Madam Ty.

Kejadian itu berlangsung dengan cepat, tongkat kayu Madam Ty menyandung kaki Selina,  gadis itu pun langsung terjatuh, begitu pula dengan buku buku tebal yang ia bawa, menimbulkan bunyi yang cukup keras, menggema di kelas tersebut.

Sehun yang duduk di pojok kelas sudah ingin menolong Selina, tetapi keinginan itu ia tepis untuk menghindari hal hal tidak mengenakkan lainnya, yang akan merugikan Selina juga nantinya. Jadi yang ia lakukan adalah memandang punggung Selina karena pemiliknya masih tersungkur dan berdoa dalam hati agar Madam Ty tidak berbuat macam macam. Baekhyun yang sedang menghapus papan tulis menghentikan kegiatannya itu dan menatap Selina dengan bola mata yang nyaris keluar.

“Ya, kau!” teriak Madam Ty begitu Selina bangkit dan mengambil buku buku yang tercecer di lantai. “Ma—maaf. Tongkat milikmu menyandungku,” kata Selina pelan dan terbata.

“Kau itu tidak tahu malu, ya!” kini sifat asli Madam Ty keluar, ia mengambil sesuatu yang terbuat dari rotan dan mengacungkannya. “Kalian lihat? Anak ini sangat tidak sopan, dia contoh buruk bagi kalian!”

“Ya, Madam. Aku bisa melihat ketidaksopanannya, kentara sekali.” Timpal Chanyeol angkuh dengan senyum meremehkan terukir di wajahnya.

“Jelas jelas kau jatuh sendiri tadi, kenapa malah menyalahkanku?!” pekik Madam Ty sambil menghujamkan tatapan maha tajamnya tepat di kedua iris almond Selina. Gadis itu menunduk, semakin tidak berani untuk mengangkat wajahnya sesenti pun. Dengan satu sentakan, Madam Ty mendorong Selina sehingga gadis itu mundur beberapa langkah.

“Madam Ty! Apa yang akan kau lakukan?” Baekhyun menatap Madam Ty sambil berjalan ke arah wanita tua itu, “guru yang baik sepertimu tidak akan bermain fisik kan, Madam?” ucapnya sengaja merangkai kata kata yang pas untuk membatalkan niat Madam Ty yang sudah terbaca olehnya, mencambuk Selina.

“Astaga, Byun Baekhyun. Tentu saja itu perlu, anak macam dia tidak akan jera jika tidak diberitahu dengan cara kasar.”

“Memangnya apa yang sudah Selina lakukan? Dia hanya terjatuh, Madam.”

“Ia menjatuhkan bukuku! Ia juga menuduhku!”

“Maaf berkata seperti ini, Madam. Tapi tadi saya juga melihat dengan jelas tongkat anda menyenggol kaki Selina sehingga keseimbangannya goyah.” tutur Baekhyun sengit.

Perkataan Baekhyun membuat kemarahan Madam Ty mencapai ubun ubunnya, dengan segera ia mengacungkan cambuk rotannya yang tadi sempat ia turunkan, tanpa menunggu apa apa lagi ia mendaratkan rotan itu ke punggung Selina secara bertubi tubi, lengan dan kakinya juga tak luput dari sentuhan rotan tersebut. Mau apalagi? Selina hanya menunduk diperlakukan seperti itu, matanya sudah berkaca kaca karena tidak biasanya Madam Ty memukulnya dengan kekuatannya yang sebegini kencangnya, ia menggigit bibir bawahnya kuat kuat menahan ringisan. Murid murid lain malah menjadikan hal itu sebagai tontonannya, diantaranya ada yang berbisik bisik dan ada juga yang menatap Selina iba, termasuk seorang gadis dengan rambut digelung ke atas yang bername tag Cassie Kim, tak berbeda jauh dengan ekspresi Sehun yang sudah ingin menerkam wanita tua yang sedang menyakiti gadis yang mencuri perhatiannya akhir akhir ini.

“He—hentikan, Madam!” teriak Baekhyun sambil mencoba menghalangi Selina.

Cambukan rotan itu akhirnya berhenti seiring dengan suara helaan nafas yang bersumber dari Madam Ty, “sekarang kau boleh keluar!” serunya pada Selina. Gadis itu berjalan menuju pintu dengan agak tertatih, sakit yang ditimbulkan rotan itu sakitnya bukan main, Selina bisa membayangkan sebanyak apa lebam tercap pada kulitnya. Ia berusaha berjalan keluar kelas, minimal menjauhi Madam Ty agar wanita tua itu tidak meledak lagi.

Dengan langkah yang terseok seok akhirnya ia bisa keluar dari kelas tadi yang menjadi tempat eksekusi baginya tadi, nafasnya menderu, anak rambutnya menutupi matanya sehingga penglihatannya agak terhalang, tetapi Selina tidak peduli. Semua perhatiannya kini tersedot pada rasa sakit yang menjalar ke seluruh permukaan tubuhnya yang berdenyut. Akhirnya telapak kaki gadis malang itu tidak lagi kuat untuk menopang berat tubuhnya tersebut, ia jatuh terduduk kemudian menyandar ke tembok.

Satu tetes air mata sukses meluncur keluar dari matanya, disusul dengan satu tetes air mata lagi. “sakit..,” gumamnya pelan sambil mengelus ngelus kakinya sendiri. Tidak, rasa sakit itu tidak menghilang sedikitpun. Selina mengelap air matanya kasar, di saat saat seperti ini ia berharap seseorang membantunya, seseorang seperti Aiden, atau…

“Selina, kau tidak apa apa?”

Baekhyun langsung berjongkok di dekat Selina lalu menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajah gadis tersebut, sepersekian detik kemudian ia langsung merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa Selina mengatakan bahwa dirinya baik baik saja setelah di cambuk dengan kasarnya tadi? Berulang kali pula.

Selina mendongak dan menatap Baekhyun panik, “ke—kembali lah, Baekhyun, ja—jangan dekati aku,” bisiknya sambil menunjuk pintu kelas yang tepat berada di sebrangnya. Baekhyun menggeleng, “kau kesakitan. Mana bisa begitu?”

“Tidak, tidak boleh, Madam Ty akan semakin marah, aku mohon,”

“Madam Ty tidak akan memarahiku, Selina,”

“tetapi dia akan memarahiku,”

Selina tersenyum kecut lalu mendorong Baekhyun pelan, “sudahlah sana,”pintanya. “Aku baik baik saja,” lanjut Selina berbohong.

Baekhyun tetap diam tak bergeming, ia menatap Selina lekat dan sejurus kemudian ia mengecup singkat puncak kepala Selina lalu pergi begitu saja memasuki pintu kelas. Selina terkesiap, apa seorang Byun Baekhyun baru saja menciumnya?

Sementara itu di dalam kelas…

“Darimana kau Baekhyun? Menolong si pembantu itu, heh?” seru Kai ketika Baekhyun baru saja membanting pantatnya pada kursinya. Ia menoleh singkat pada sumber suara, tidak berminat sedikitpun untuk membalas ejekan sinis Kai.

Di depan sana, Madam Ty sudah siap di meja nya dengan buku tebal—yang tadi di bawa Selina—dengan posisi terbuka, ia berdeham. “Mari kita lanjutkan pelajaran,” katanya setenang angin yang bersemilir di luar jendela, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menyiksa seorang gadis dengan kejamnya.

Suara kursi yang bergeser terdengar dari pojok kelas, Sehun berdiri, “Madam, saya ingin ke toilet.” katanya yang dijawab anggukan Madam Ty, ia lalu berjalan keluar kelas. Sebenarnya ia tidak ingin ke toilet, ia hanya ingin membantu seorang gadis yang baru saja disakiti oleh wanita jahat tadi.

“Hey, apa itu sakit sekali?” Tanya Sehun berbisik. Selina reflek mendongak dan terkejut melihat satu laki laki lagi yang berniat menolongnya. Selina menggeleng pelan, agar Sehun tidak menolongnya lebih jauh sehingga ia tidak dihukum lagi oleh Madam Ty.

Sehun menatap Selina, “madam Ty tidak akan menghukum kita, kau ataupun aku. Aku sudah meminta izin kepadanya untuk keluar tentu saja.” Katanya mencoba meyakinkan agar ia bisa paling tidak sedikit saja membantu—lagi—gadis  dihadapannya. Selina menggeleng lagi, “tidak perlu. Aku bisa sendiri,” ia tersenyum simpul lalu mencoba untuk bangkit, berniat meninggalkan Sehun.

Selina mengerang pelan saat merasakan ngilu yang teramat sangat ketika ia coba melangkahkan satu kakinya, ia bisa saja jatuh mencium lantai jika Sehun tidak menangkapnya.

“Lihat? Berjalan saja kau tidak bisa,”

Selina tidak menjawab, ia malah menunduk sebab air matanya sudah mendesak keluar karena rasa sakit nya itu malah menjadi jadi. Sehun yang melihatnya kebingungan, “ada apa?” ia mengangkat wajah Selina dengan tangannya, gadis itu tidak menolak.

“Aku tahu kau kesakitan Selina Shin, biarkan aku membantumu,” tegas Sehun lalu siap menggendong Selina, satu tangannya ia selipkan di bawah lutut Selina sedangkan tangannya yang satu lagi ia selipkan di tengkuk gadis itu, lalu ia mengangkatnya. Sukses, Sehun menggendong Selina ala bridal. Sensasi aneh menjalari tubuh Selina ketika permukaan kulit nya disentuh oleh Sehun.

Selina menyembunyikan wajahnya, “apa kau keberatan?” tanyanya takut takut.

Sehun tertawa kecil, “kau mau jujur atau bohong?”

“hmm, terserah.”

“bohongnya kau ringan, jujurnya kau sangat ringan,” kekeh Sehun yang membuat Selina ikut ikutan terkekeh.

“Apa Madam Ty sering memotong jatah makanmu? Seperti kemarin?” tanya Sehun prihatin, ia menatap Selina sekilas, gadis itu sedang memilin ujung rambutnya.

“Tidak, tidak sesering ia mencambukku,”

Sehun mengerutkan keningnya, “jadi kau makan apa selama wanita jahat itu memotong jatahmu? Pantas saja kau ringan begini,”

“Aiden sering memberiku makanan,”

“Aiden? Siapa dia?”

“Hmm, dia juga pelayan di sini, sekaligus koki. Dia sudah seperti kakakku,” tutur Selina. “Oh ya, Sehun, tahu tidak, kemarin doa ku langsung dikabulkan oleh Tuhan loh,” kata Selina mulai bercerita tentang keajaiban yang ia terima kemarin malam.

Sehun tertawa kecil, “oh ya?”

Selina mengangguk, membuat kepalanya bersentuhan dengan dada bidang Sehun, “saat aku sedang kelaparan malam tadi, aku menemukan sekotak susu dan roti di depan pintu kamarku. Tuhan memang adil, dia mengirimkan malaikat untukku!” katanya semangat lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat Sehun.

Sehun tersenyum lebar tanpa bisa ia kontrol, “baguslah,” responnya singkat.

Suasana menjadi hening setelah itu, baik Selina maupun Sehun tidak ada yang berbicara. Lorong juga sepi, tidak ada yang berlalu lalang, hanya terdengar suara sepatu yang dikenakan Sehun ketika menyentuh ubin.

“Engg, tunggu. Darimana kau tahu kamarku?” tanya Selina bingung saat mereka sudah mau menaiki tangga.

Sehun berpikir sejenak, “mm, aku pernah kesini sekali bersama Suho.”

“Kau pasti tahu kan kalau tangga yang harus dinaiki untuk mencapai kamarku sangatlah banyak?”

Sehun menunduk untuk menatap Selina yang berada dalam gendongannya, “mm.” gumamnya mengiyakan lalu kembali melihat ke depan lalu menaiki satu persatu anak tangga. Setelah melewati kira kira 20 anak tangga, Sehun berhenti sejenak. Selina dapat merasakan dada Sehun naik turun, mungkin karena kecapekan, ditambah lagi ia harus menggendong Selina.

“Kau capek? Aku bisa turun, mungkin kakiku sudah tidak apa apa.” kata Selina menatap Sehun yang masih mengatur nafasnya.

Sehun tertawa kecil, “jangan bodoh. Aku tahu cara yang lebih cepat,”

Sehun menarik napas dalam dalam, karena kedua tangannya sedang menahan beban tubuh Selina, ia mencoba mengendalikan angin hanya dengan pikirannya. Perlahan tapi pasti kumpulan angin berkumpul di dekat mereka berdua, membentuk sebuah ‘karpet’ di bawah kaki Sehun. Kini kedua kaki milik Sehun tidak lagi berpijak pada ubin, melainkan melayang di atas kumpulan angin yang berbentuk ‘karpet’ tersebut.

Selina membulatkan matanya, mulutnya hampir menganga kalau tidak ia tahan. Otaknya bekerja untuk mengingat sesuatu. Angin, kekuatan angin, aerokinesis, hal itu tidaklah asing baginya. Ingatannya kembali melambung saat dimana ia tengah meringkuk di tengah lapangan ketika tengah malam Madam Ty menyuruhnya mengumpulkan sampah yang ada, kekuatan angin inilah yang menolongnya waktu itu, dan beberapa waktu sebelumnya.

“Sehun,” panggil Selina pelan, entah kenapa suaranya terasa menyangkut di tenggorokannya.

Sehun menunduk untuk menatap Selina, “ya?” tanyanya.

Selina balas menatap Sehun, lidah nya terasa kelu untuk melontarkan pertanyaan yang hendak ia tanyakan. Mereka berdua terus bertatapan sampai terdengar suara deheman yang menginterupsi mereka.

TO BE CONTINUED

Silahkan timpuk saya dengan psp nya Kyuhyun dan tendang saya ke dorm nya EXO karena Trip 2 ini tidak terlalu panjang, kurang dari 3000 kata, padahal trip 1 kemarin lebih dari 500o kata.

Jeongmal mianhae atas ketidakmaksimalan trip 2 ini huhuhuh *nangis dipelukan Sehun* asalnya mau nambah satu scene lagi tapi tapi .. ketahuilah(?) saya itu lagi sibuk sibuk nya sekarang, ngurusin SMA -_- kemarin aja senin sampe kamis tes terus tanpa henti.

Awkeh cukup buat cuap cuap gak penting nya, sekarang saya minta komen nya yah readers. :*

Buhbye, Kyuhyun’s wifey – shalsasya –

Advertisements

63 responses to “Love Warrior — Trip 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s