On Rainy Days

On Rainy Days

Title: On Rainy Days
Author: Seung Ra & Hyun Soo
Main Cast: Kim Young Woon (Kangin), Hwang Ji Ae (OC), and another cast
you can find it by yourself.^^
Genre: Find it by yourself.
AN: Annyeong Haseyooo readerdeull~ kali ini Seung Ra bawa FF project Seung Ra sama temen Seung Ra, Hyun Soo. jadi gini nih, dia yang ngasih ide dan jalan ceritanya, Seung Ra yang nulis FFnya.hehehe~ jadi beginilah hasilnya. Hope You Like It^^

Backround Song: disaranin setel “On Rainy Days” nya BESAT (B2ST), dan “Kiss The Rain” nya Yiruma.

This Fanfiction Made by Hyun Soo and Seung Ra (Me). Plagiarizm and Copy paste aren’t allowed. SIDERS just Go Away, Active readers are welcome.. Thank You and Happy Reading^^ 

Hari itu, hujan deras sedang mengguyur kota Seoul yang kering, membuat embun-embun kecil berbekas di dedaunan hijau beberapa jejer pepohonan.

Hujan… butiran-butiran air suci yang turun dari Surga dengan derasnya. Begitu ingin menampakkan dirinya kali ini, sampai berakhir dengan tetes terakhir manisnya.

Begitu pula halnya dengan seorang pemuda yang sedang tersenyum manisnya kearah sebuah bungkusan di sebelahnya, kotak kecil yang berisikan hadiah yang ingin ia berikan untuk yeoja-Nya. ‘Hari Anniversary kita sudah dekat’ pikir pemuda itu.  Wampper mobilnya terus bergerak tentu arah.

Begitu ia mengalihkan pandangannya, senyuman manisnya hilang, berganti dengan paras wajah shock dan panik, lalu semuanya gelap.

————————————————————————————————-

TING TONG..

Suara bell mengusik aktivitas seorang wanita yang sedang berkutik dengan aktivitas biasanya, membaca majalah sambil  mulutnya mengunyah beberapa snacks kering. “Ji Ae-ahh.. tolong bukakan pintunya, Eomma sibuk!”  “ne, Eomma..” kata perempuan yang disebut-sebut namanya ‘Ji Ae’ tadi lalu beranjak pergi menuju pintu.

TING TONG…

Bel berbunyi untuk yang kedua kalinya. “ye~ sebentar!” kata Ji Ae, secepat mungkin ia melanjutkan langkahnya, menurunkan kakinya menuruni tangga.
“nuguseyo?” lalu Ji Ae dikejutkan oleh sosok yang sangat ‘FAMILIAR’ baginya, siapa lagi kalau bukan namjachingu kesayangannya, Kangin.

“Na-ya.. Ji Ae-ahh (*ini aku, Ji Ae..)” matanya berbinar, sebuah garis melengkung menarik paksa kedua sudut bibirnya berlawanan membentuk senyuman.

Tanpa aba-aba lagi, Ji Ae langsung menghamburkan langkahnya ke arah pintu, lalu membukanya sumringah. “Kangin Oppa!” katanya, lalu membentangkan kedua tangannya untuk memulai sebuah pelukan hangat yang sudah lama tidak mereka tidak rasakan satu sama lainnya. Kenapa begitu? Yahh.. karena kesibukan dalam bidang mereka masing-masing. Kangin yang sibuk sebagai seorang photographer  terkenal, dan Ji Ae yang masih sibuk dengan urusan kuliahnya, berhubung semester ini adalah semester terakhirnya.

“Aigoo~ Aigoo~ uri Ji Ae… kau rindu Oppa huh? Bagaimana kabarmu?” kata Kangin di sela-sela pelukan mereka. “Rindu. Sangat rindu! Kabarku baik sejauh ini, dan jaaaaauuuhhh lebih baik lagi saat aku tahu oppa mengunjungiku disini..” katanya. Wajahnya tenggelam di dada bidang Kangin. Memeluk Kangin untuk beberapa saat, melepaskan rindu yang selama ini terpendam.

“eumm.. by the way. Jangan peluk aku terlalu lama. Nanti kau juga ikut basah” Kangin tertawa kecil. Tapi Ji Ae hanya menggeleng tidak peduli, malah lebih mempererat pelukannya. “I Don’t Care… aku masih ingin memelukmu.” Beginilah sifatnya, jika di depan Kangin, ia berubah menjadi manja dan kekanak-kanakkan. Begitu bertolak belakang pada sifat aslinya yang cenderung dewasa dan memiliki pemikiran matang. Bagaimana caranya melakukan semua itu? Kita semua juga pasti tak akan bisa membayangkannya. Mungin itu terjadi secara alamiyah..

“oh iya, bagaimana kalau kita masuk lalu mengganti bajumu? Nanti kalau lama-lama begini kau bisa sakit..” katanya, seraya melepaskan pelukannya, dan menarik tangan namja-Nya masuk ke dalam rumah. Beberapa langkah Ji Ae ingin mendekati tangga, Kangin menyetop langkahnya. “Waeyo?” Tanya Ji Ae keheranan. “lebih baik kita menyapa ibumu dulu.. tidak sopan, sudah lama tak bertemu” jawabnya (*Kangin) sambil tersenyum.

Ji Ae mengangguk, melepaskan gandengan tangan mereka dan membiarkan Kangin berjalan menuju ibunya, “oh iya, Ji Ae-ahh.. Eomoni dimana?”  Ji Ae tersenyum, “Di dapur..” lanjutnya.

Senyum Ji Ae tak kunjung mereda, masih terkembang saat melihat punggung Kangin—yang gagah dan sempurna—mengecil, sampai sosoknya menghilang dibalik pintu dapur.

Sungguh sebuah karunia yang tak ternilai memiliki namjachingu seperti Kangin. Orang yang pengertian, penyayang, dan penuh pemahaman. Sempurna, bukan?

————————————————————————————————-

TOK TOK TOK..

Kangin mengetuk pelan pintu kamar yeoja-Nya. Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka. Sosok tinggi Ji Ae muncul dari balik pintu. “Oppa. Kau sudah bertemu ibuku?” tanyanya. Kangin hanya mengangguk sambil terenyum, lalu kembali meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar Ji Ae. ‘Sudah berapa lama aku tidak main ke sini ya?’ batin Kangin, “Kamarmu berubah banyak..” ia(*Kangin) mengedarkan sorot matanya keseluruh sudut ruangan, mengintrogasi satu per satu benda yang serasa ‘asing’ baginya.

“mungkin hanya perasaan Oppa saja kali…” “tapi mungkin iya juga ya, sudah hampir 7 bulan kita kehilangan contact, kan?” lanjut Ji Ae. Ya benar, ini sudah hampir 7 bulan mereka tak meng-contact satu sama lain.

Hanya keheningan yang tercipta setelah itu.  Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing, ada sedikit rasa canggung juga sebenarnya.. berhubung sudah hampir 7 bulan mereka tak bertemu.  Kangin hanya menggaruk tengkuknya tidak lupa dengan senyuman kikuknya.

“err… Ji Ae-ahh” akhirnya, setelah mulutnya risih membungkam. Kangin memecah keheningan. “ye?.. Oppa?” jawab Ji Ae tak kalah kikuk.  “Mau bermain?” Ji Ae mengerutkan alisnya bingung, ‘Bermain?’ batinnya.

“eo! Bermain.. kau mau?” “tapi kemana?”
Kangin menunjukkan sederetan gigi rapinya, “ke Lotte World. Aku butuh hiburan” JI Ae menatap Kangin keheranan, ‘Main? Tapi ini kan sudah malam..’ “tapi kan ini sudah malam.”  Tanya Ji Ae penuh selidik. Membuat Kangin—yang entah untuk keberapa kalinya—mengulum senyumnya.

Tangan besar Kangin menenggelamkan tangan mungil nan panjang Ji Ae dalam genggamannya. “Oppa… ya ya ya! Pelan pelan!”  protesnya ditengah genggamannya. Terburu-buru turun menuruni tangga. “eeiittss.. Oppa jamkkan!” langkah mereka terhenti. “Waeyo?” Tanya Kangin. “Bilang Ibu dulu!”  Kangin menepok  jidatnya , melepaskan genggaman tangan mereka. Tapi Ji Ae menarik kembali tangan Kangin dalam genggamannya.

Berteriak, membuat suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan, “Ibu! Aku pergi dulu!”  “hey.. kau mau kemana?” ibunya membalas dari dapur. Setengah berteriak. “suatu tempat bersama Kangin Oppa!” tanpa Ji Ae sadari, ibunya hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca dari belakangnya.

————————————————————————————————-

“Oppa.. kau yakin tempat ini masih buka? Kurasa tidak”  sepi. Hanya kata itu yang bisa mendeskripsikan keadaan disini sekarang. Gelap, sepi, dan.. tak ada tanda-tanda kehidupan? “Yakin. Ayo!”  untuk kesekian kalinya Kangin menggandeng tangan Ji Ae.

Tapi benar saja. Keadaan masih sedikit ramai di dalam, bukan karena ada tanda-tanda orang lain di dalam. Tapi lampu-lampu mainan di arena permainan masih menyala, musik-musik lantunan dari arena permainan mengalun bergantian, bercampur menjadi satu, menciptakan sebuah harmoni yang tersusun indahnya.

See? Masih buka, ‘kan?”
Ji Ae mengangguk, memang hanya bisa mengangguk. Tapi dalam hati ia berpikir, ‘Bagaimana taman bermain ini masih bisa buka? Ini sudah elewat dari jam dua belas malam..’.

“baiklah kalau begitu… tunggu apa lagi?” Ji Ae mencoba untuk membuang pikiran yang barusan melintas diotaknya. Lalu mengaitkan jemari Kangin di sela-sela jemarinya, membuat tangan mereka terkunci jadi satu.

————————————————————————————————-

Berbagai permainan mereka naiki,
berbagai style suara teriakkan pun mereka keluarkan. Huffftt… memang mereka itu pasangan yang sungguh  aneh. Loves random things.. tapi bukan mereka kalau tidak menyukai hal-hal ‘Random’.

“Aigoo~ aku lelah!” jerit Ji Ae yang disambut oleh pijatan bahu dari Kangin. “eottaeyo? Joh-a?” kata Kangin dengan intonasi suara yang berbeda dari sebelumnya, menjadi lebih… lembut. “eum. Joh-a…” itu kalimat terakhir yang menjadi bahan percakapan mereka. Selanjutnya mereka sudah tenggelam sdengan dunia masing-masing, juga kegiatan yang mereka tekuni.

Kangin memijat bahu Ji Ae, gently. Dan Ji Ae pun hanyut dalam kenikmatan pijatan Kangin. Sambil menikmati, ia memejamkan matanya. Sungguh mereka sangat merindukan masa-masa seperti ini, masa-masa dimana mereka kembali bisa saling menatap wajah pasangan mereka face-to-face, masa-masa dimana Kangin menebar senyumnya, dan masa-masa dimana mereka bisa melepas rindu mereka sesuka hati.

“Oppa..” Ji Ae kembali membuka mata dan suaranya, “eum?”
“Kau mau es krim?” Kangin mengerutkan dahinya tanda berpikir. Tapi kemudian ia mengangguk. “Boleh.. tapi memangnya ada stand yang buka? Ini sudah lewat pagi..” lanjutnya seraya tertawa kecil membuat Ji Ae mengerucutkan bibirnya. “Tch.. apa yang lucu? Kenapa Oppa tertawa? Aku serius!”

Dengan susah payah Kangin menghentikan gelak tawanya lalu berkata, “ok, ok.. Mian. Kalau soal lucu, kau yang menurutku lucu disini, Aigoo~”  ia mencubit pipi Ji Ae lembut. “Oppa~ YA! Keumanhae! (*Oppa.. hey! Hetikan!) aku ini cantik, bukan lucu. Arro?!” balas Ji Ae dengan penuh percaya diri.

“Iya, aku tahu… kau ini yeojachingu-ku yang paling cantik. Ok? Jadi sekarang mana es krimnya?”  Kangin membuka kedua telapak tangannya dan menyodorkannya ke hadapan Ji Ae, meminta jatah es krimnya “Oppa tunggu disini” kata Ji Ae yang kemudian angkat kaki untuk membeli es krim.

Disisi lain….
tanpa sepengetahuan Ji Ae. Kangin menatap kepergian Ji Ae dengan tatapan sendu, tak lupa dengan senyum lemah. Buliran air mata pun menyusul turun perlahan. Meninggalkan kesan miris yang teramat dalam.

Tapi memang itu yang ia rasakan sekarang. Bahkan ia tidak bisa membayangkan jika seandainya ia benar-benar meninggalkan Ji Ae sekarang.. ‘Akankah Ji Ae masih se-ceria ini? Akankah ia masih bisa tertawa lepas seperti saat kita menaiki arena permainan tadi? Dan… masih bisakah ia menjadi Ji Ae-Nya yang manja?’, pikiran-pikiran macam itu terus menari-nari di otak Kangin.

Sebentar lagi… Ji Ae-ahh

————————————————————————————————-

Mereka berjalan di trotoar sambil menikmati es krim rasa Bubble Gum favorit mereka. Tidak lupa juga untuk mengunci jemari mereka dan sesekali menganyunkannya.

Full of smile, seperti itulah Ji Ae menikmati es krimnya saat ini, berbeda dengan raut wajah Kangin yang penuh dengan kecemasan. Pikiran dipenuhi dengan berbagai macam pemikiran. Layaknya benang kusut yang susah untuk di uraikan kembali ke wujud semulanya. “Oppa… na neun haengbokkhada(* Oppa.. aku sangat bahagia..)” keheningan terpecahkan, suara Ji Ae mampu mengalihkan pikiran Kangin, dan membuatnya kembali ke alam sadarnya. “hmm? Ne.. Oppa ddo… haengbokkhada (*hmm? Sama.. Oppa juga bahagia)”

Bahagia? Apa benar aku bahagia?’ pekik Kangin dalam hati.
saat melihat arlojinya, benda itu sudah menunjukkan pukul dua pagi dini hari.
beberapa saat mereka berjalan, sebuah halte Bus kecil tempat mereka berhenti tadi pun muncul di hadapan mata. Yap. Ini memang sudah waktunya bagi Ji Ae untuk pulang. Hanya Ji Ae? Ya.. memang hanya Ji Ae.

“Oppa…” lagi, Ji Ae membuka suaranya terlebih dahulu. Sedetik kemudian menenggerkan kepalanya pada bahu Kangin. “Kau harus terus menemaniku sampai ajal memisahkan kita, menikah, mempunyai dua sepasang anak perempuan dan laki-laki, menjalani masa tua bersama, dan melihat cucu-cucu kita dewasa, menikah,.. lalu–”  “Pasti” potong Kangin. Sesaat sorot matanya menangkap Ji Ae di dalamnya. Lalu kembali  membuang pandagannya ke jalanan abu-abu yang membentang luas.

“Pasti” jawabnya sekali lagi, hanya kali ini suaranya merendah, terdengar lebih pelan.

Baik Ji Ae maupun Kangin tidak membuka mulut mereka lagi setelah pembicaraan terakhir mereka tadi.. sampai akhirnya Bus besar berwarna hijau muda datang dan berhenti tepat di depan mereka. “Kajja~” Kangin membiarkan JI Ae berjalan memimpin di depan. Tapi memang seperti itu perilaku seorang Namja sejati, bukan?

Mereka masuk dan duduk bersebelahan di tengah-tengah Bus yang kosong melompong. Kangin duduk di pinggir dekat jendela, dan Ji Ae duduk di sampingnya. Belum lama setelah mereka duduk, gerak-gerik Ji Ae sudah kelihatan tak teratur juga tak tentu arah.  Dan…

PLUK.

Kepalanya jatuh, sukses mendarat di bahu Kangin. Memang, Kangin juga menyadari bahwa yeoja nya ini paling mudah tertidur, apalagi kalau sudah lelah seperti ini. Ia tersenyum lembut, lalu menurunkan sedikit tinggi bahunya sejajar dengan kepala Ji Ae. Tangan panjang dan besar nya merapikan poni-poni kecil Ji Ae yang menerbak ke depan, lalu mengelusnya penuh kasih.

Ia juga dapat melihat dari ekor matanya kalau Ji Ae sedang  tertidur pulas dengan senyuman indahnya terpampang jelas. ‘Apakah ia begitu bahagia hari ini?’ batin Kangin. Ia tahu kalau Ji Ae senang hari ini.. tapi soal bahagia.. hanya Ji Ae pribadi yang tahu tentang ini. Tidak ada orang lain yang akan tahu lebih baik dari dirinya sendiri.

————————————————————————————————-

Ji Ae menerjap-nerjapkan matanya dan mendaati suatu sumber sinar putih terang di hadapannya. Merasa sedikit silau, ia menggunakan lengannya untuk menutupi wajahnya dari terangnya sinar itu.

Perlahan… Ji Ae melepas lengannya dari matanya. Lalu menyadari bahwa sumber sinar terang nan menyilaukan itu hanyalah sebuah sinar lampu di kamarnya.

“Kangin Oppa..” panggilnya, masih asyik dengan kegiatan mengucek-ngucek matanya.  “Oppa…” sekali lagi Ji Ae memanggil Kangin dengan suara paraunya. Nihil.. sosok yang dicarinya tidak ada. “Oppa-ya..” dan yang terakhir kali, Ji Ae mengeraskan frekuensi suaranya menjadi lebih keras,  ia harap ini bisa membuat sosok yang dicarinya muncul.

“Aigoo~ Ji Ae-ahh.. tak perlu mengeraskan volume suaramu kalau tidak ingin Ibumu bangun” Bangun? Penasaran JI Ae merilik jam weker di dashboard kecil tepat di sebelah tempat tidurnya. Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi dini hari. Dan.. yahh… mungkin Kangin benar, Ibunya sudah tidur.

Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, “Oppa..ku kira kau sudah pulang. Dan.. meninggalkanku. Jadi aku memanggilmu terus. Hehe.. Mian” katanya dengan gelagat polos—atau lebih tepat bodoh—nya.  Bagaimana pun juga, mendengar suara Ji Ae yang bergetar saat kata-kata ‘meninggalkanku’ nya membuat Kangin kembali sedih dibuatnya. Bagaimana kalau ternayata ia memang benar-benar sudah meninggalkan Ji Ae-nya… selamanya?

“anio.. Oppa disini. Hanya habis dari Toilet. Memangnya setakut itukah kau berpikiran bahwa Oppa akan meninggalkanmu?” Kangin memperkecil jarak mereka, berjalan mendekat kerah Ji Ae yang masih duduk diujung tempat tidurnya. Lalu ikut duduk di sampingnya dan merangkil bahunya.

Tidak tahu harus jawab apa dan bagaimana lagi, Ji Ae hanya mengangguk. Toh memang begitu kenyataannya.. ia takut akan Kangin meninggalkannya, sedangkan mereka baru bertemu sekitar tiga-empat jam yang lalu. Juga baru saja ingin memulai masa-masa yang telah lama mereka rindukan kembali.

Sungguh habislah sudah kata-kata Kangin.
Ia(*Kangin) menatap dalam-dalam bola mata coklat Ji Ae dengan tatapan sendunya. Wajahnya bergerak mendekat..lebih dekat lagi, dan jauh lebih dekat, saking dekatnya sampai akhirnya bibir mereka bertemu. Tidak ada nafsu dalalm ciuman mereka kali ini.. hanya ada rindu dan.. cinta.

Kangin mengakhiri ciuman mereka terlebih dahulu. Dan kembali menatap Ji Ae dalam, “Look. Semua orang di dunia ini pasti akan ‘pergi’ suatu saat nanti, ‘kan?.. begitu pula juga Oppa. Karena Oppa hanyalah seorang manusia biasa yang tidak tahu kapan ajal akan memanggil Oppa. Jadi… walaupun nanti Oppa sudah tidak bersamamu lagi,.. maksud Oppa, jika suatu saat nanti bentuk Oppa bukanlah lagi raga manusia biasa… yang bahkan tak akan bisa tertangkap dengan sorot pandangan mata. Tapi ketahuilah… Oppa masih aka nada terus bersamamu, kapanpun… disini” Ia menunjuk dada Ji Ae dengan satu telunjuknya.

kenapa… Kangin Oppa tiba-tiba berbicara seperti ini?’ batin Ji Ae. Mulai muncul di otaknya prangsangka-prasangka buruk tentang Kangin. ‘Apa yang akan terjadi padanya?, Apa maksud dari perkataannya?’ dan lain-lain.. mulai menghantuinya.

“Op—“

DDRTTTT DDRRTTT…

Ponsel Ji Ae bordering di atas meja di depannya. Tapi Ji Ae masih melihat Kangin dengan pandangan yang sulit diartikan, semuanya bercampur aduk jadi satu, entah itu sedih, panic, cemas, khawatir, dan… curiga mungkin? “Wae? Tunggu apa lagi?” Kata Kangin santai. “ayo cepat angkat” lanjutnya.

Akhirnya Ji Ae pun menyerah dan memutuskan untuk mengangkat ponselnya.

Lee Chi Hoon

JI Ae tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponsel. Chi Hoon ternyata, Lee Chi Hoon adalah teman dekatnya semasa mereka kecil, bahkan hubungan mereka juga masih sampai sekarang. Ia berbalik menghadap Kangin dan tersenyum lembut, kemudian berlanjut mengangkat ponselnya.

“eo.. Chi Hoon-ahh..”

Ji Ae-ahh…” mimik wajah Ji Ae berubah, mendengar suara Chi Hoon yang serak, atau lebih tepatnya suaranya tercekat.

“wae? Kau ada masalah sampai menelephoneku sepagi ini? Ceritakan saja padaku.”  “oh! Aku tahu.. kau rindu padaku huh? Haha kau ini! Chi Hoon-ahh.. kita ini bukan anak kecil lagi” katanya sambil tertawa kecil.

“Ji Ae-ahh.. aku tahu ini berat untukmu, tapi kau harap kau bisa merelakan-Nya..” Chi Hoon kembali membuka suara. Tak jauh lebih parau dari sebelumnya.

Ji Ae mengerutkan dahinya bingung, ada beberapa pikiran negative datang di pikirannya. “Merelakan… siapa?” katanya was-was.

Kau… belum tahu?”  Ji Ae menggeleng. Ia lupa.. kalau ini adalah percakapan telephone, jadi mana mungkin Chi Hoon bisa melihat gelengannya. “tahu apa? Aku tidak tahu apa-apa..” frekuensi bicara Ji Ae mengecil.

Kangin hyung.. kecelakaan malam ini..

DEG..

Mata Ji Ae melebar, membulat sempurna. Pikirannya belum bisa berpikir lurus, masih terlalu shock dengan apa yang di dengarnya tadi. Tapi kemudian sebuah oemikiran muncul di otaknya.

Ia tersenyum miris, “Chi Hoon-ahh.. jangan bercanda! Ini sungguh tidak lucu.. dari tadi Kangin Oppa kan bersam—“ tak ditemukannya lagi sosok Kangin di tempat tidurnya. Langkahnya berlanjut mencari Kangin ke toilet, kosong.

Tak memperdulikan sahabatnya, Chi Hoon, yang terus menanyakannya di telephone. Berlanjut ke lantai bawah, ia mengetuk pintu kamar Ibunya gusar.. berkali-kali sampai akhirnya ibunya membukanya.

“Ji Ae-ahh..” JI Ae yang juga kaget karena ibunya tiba-tiba memeluknya. Bertanya pada Ibunya, “Bu, tadi Kangin Oppa ada disini, ‘kan? Tadi ibu bertemu dengannya, ‘kan?” Ibunya hanya diam di pelukannya. Ia merasa perlakuan Ibunya sungguh aneh dan mencurigakan hari ini. Tapi kenapa Ibunya jadi seperti ini? Hanya itu yang terlintas di benaknya. Lalu melepaskan pelukan mereka.

“Ibu tahu… Ibu minta maaf dan turut berduka, nak. Ibu harap anak ibu yang kuat ini bisa menerima kenyataan kalau Kangin sudah tiada” untuk kedua kalinya Ji Ae dikejutkan oleh kalimat yang sama. Bahkan kali ini oleh Ibunya? “Ibu.. bicara apa sih?.. Kangin Oppa tadi ada disini, Bu. Masa Ibu tidak ingat?…” “Bahkan tadi aku melihat Ibu sedang berbincang dengan Kangin Oppa saat mencuci piring di dapur…” lanjutnya.

Ji Ae dan ibunya sama-sama mengeluarkan air mata. “Tadi.. Ibu sedang menerima telephone dari Chi Hoon tentang Kangin…Ibu sama sekali tidak melihat Kangin ada di rumah kita” Ibu Ji Ae mengusap air matanya yang turun kian deras. “tapi sungguh ibu minta maaf.. tadinya ibu ingin langsung member tahumu.. tapi Ibu takut kau terpukul.. Maafkan Ibu, nak” Ji Ae menggeleng tak tentu arah. Tak percaya akan semua ini. Mengapa semua ini begitu rumit baginya?

“Ibu bohong,’kan? Tidak mungkin, bu! Tadi Kangin Oppa ada disini. Bersamaku di kamar.. bahkan kita pergi bersama tadi…”
“Maaf, Ji Ae-ahh…” Ji Ae mundur beberapa langkah dari Ibunya lalu angkat kaki tergesa ke lantai atas, masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Ia menangis pilu. Isakkan tangisnya yang kian mengeras menggema di seluruh sudur kamarnya. Dadanya… kenapa ini semua sungguh terasa sakit dan menyesakkan? ‘Lalu… dengan siapa aku berbicara, tertawa, bergandengan tangan, dan bahkan…. Berjalan-jalan?’ pikirnya.

Dengan hati yang tersayat-sayat dan jalan yang terseok-seok, Ji Ae melangkah lagi menuju tempat tidurnya. Ada sebuah kotak lumayan besar berwarna merah muda engan sebuah pita merah maroon sebagai hiasannya. Ia menyerka air matanya , menatap kotak itu intens. Terselip sebuah surat kecil diantara pita hiasannya. Di depannya bertuliskan, To: My Lovely, Ji Ae. Sempat terlintas di pikirannya Kangin adalah pemberi dari kotak ini..

To: Hwang Ji Ae,
From: Kangin.

Ji Ae-ahh.. oremanida…(*Ji Ae-ahh.. it’s been a long time..)
seingat Oppa terakhir kali kita bertemu itu sekitar.. 7 bulan yang lalu, ‘kan?Oppa sungguh sungguh rindu padamu.

Untuk sekian lama, akhirnya kita bertemu juga. Oppa sangat senang bisa bertemu dan melihat senyum cerahmu seperti waktu terakhir kali kita bertemu. Senyumanmu masih sama…

Senyuman kekanak-kanakkan dan menghangatkan.
kau tahu… Oppa paling rindu dengan senyumanmu dan tingkah manjamu itu. Walaupun Oppa tahu sebenarnya kau itu tidak manja dan kekanak-kanakkan. Kekeke~ seytelah 7 bulan tidak bertemu…

Sampai akhirnya kita bertemu hari ini..
melepas rindu dan penat yang selama ini kita pendam…
tapi dengan keadaanku yang seperti ini…

Maaf sudah meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Aku tebak pasti kau sudah mendengar semuanya dari Chi Hoon, ‘kan? . aku sudah Tiada, Ji Ae-ahh…

Ada sebuah Truck yang menabrak mobil yang kukendarai tadi malam saat menuju ke rumahmu. Dan entahlah.. aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Intinya yang kutahu aku sudah tiada saat melihat tubuhku—atau mungkin jasadku—yang tergeletak di aspal dengan bercak-bercak darah dimana-mana… sungguh tragis.

Tapi kuharap, Ji Ae-ku tidak akan bersedih terlalu lama, Ji Ae-ku yang Oppa kenal adalah seorang wanita yang tegar, kuat dan dewasa. Kau harus bangkit dan carilah pria lain.. yang tentunya lebih baik dari pada Oppa Bear-mu ini…

Oh iya, Ji Ae-ahh.. di dalam kotak ini ada hadiah untukmu.
karena sebentar lagi hari Anniversery kita. Kuharap kau mau memakai itu di hari jadi kita yang ke-5. Tak terasa lima tahun sudah kita bersama..

Oppa ingat waktu pertama kali kita bertemu di halte Bus dekat sekolahmu. Waktu itu hujan dan membuat kita semua basah kuyup. Kau yang masih berpakaian seragam sekolah lengkap menggigil kedinginan membuat Oppa tidak tega dan memutuskan untuk memberika jaket Oppa untukmu, dari sejak itulah cerita cinta kita dimulai…

Seiring tahun, Oppa mengikuti perkembanganmu dan mengenalmu lebih dalam lagi. Kau menjadi tambah dewasa dan tumbuh sebagai wanita cantik. Satu tahun.. dua tahun… tiga tahun… empat tahun… dan tahun ke-lima.. lima tahun lamanya. Lima tahun sudah kita mengenal dengan baik. Dan lima tahun itu juga Oppa tahu kalau Ji Ae adalah seorang gadis yang kuat.

Masalah kau hampir di D.O oleh kepala Kampus-mu saja kau bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Padahal kalau Oppa jadi kau, Oppa sudah tahu apa lagi yang harus di perbuat.. Uri Ji-Ae sungguh gadis yang hebat.

Jadi Oppa harap kau juga menghadapi masalah ini seperti itu, lalu melupakan Oppa, mencari pria lain, menikah, hidup bersama, punya anak, dan menghabiskan sisa-sisa usia di masa tua mu nanti bersama pasangan, anak, juga cucu-cucumu.

Memang…
raga Oppa sudah tidak ada lagi, tak Nampak lagi.. tapi satu hal yang perlu Ji Ae ingat. Kalau Oppa akan selalu ada selamanya di hatimu, arasseo?..

Sudahlah.. tangan Oppa pegal menulis terlalu panjang.. heheh.
kau buka saja hadiahnya, ne? lalu pakai di hari Anniversery kita. Hope you like it.

Farewell,
Your Kangin Oppa Bear..

Tawa kecil hadir disela-sela derasnya air matanya.
dengan segera tangan lentiknya menggapai kotak itu, perlahan-lahan membukanya.

Sebuah gaun…
dengan warna favoritnya,biru sapphire dan beberapa hiasan permata-permata putih di sekitarnya menambah kecantikkan dari gaun itu. Designnya yang simple berpadu dengan gemerlap dari permata-permata putih menambah kesan yang lebih Elegance dari baju itu.

Gomawo Oppa.. for your Beautiful last gift

————————————————————————————————-

Pemakaman di warnai dengan aura kelabu dan kesunyian. Ji Ae tidak bisa apa-apa kecuali menangis dalam diam. Mengingat-ingat kembali masa-masa dimana Ia dan Kangin selalu bersama dan berjalan bergandengan tangan.

Sekarang semua itu tidaklah lagi ada…
hanya tinggal kenangan.. sebuah kenangan tanpa nama.. Memory without Name

————————————————————————————————-

EPILOG

Ji Ae melihat keluar jendela yang tampak kurang jelas terututpi titik-titik hujan. Berpikir dalam-dalam.. hanyut dalam pemikirannya. Ia ingat sesuatu mengenai hujan.. entah itu takdir atau kesengajaan, semuanya serasa dimulai saat hujan turun membasahi bumi. A Beautiful nor Hurtful Memories without a Name..

On Rainy Days.. we met and get to know you..

On Rainy Days.. you said your ‘Love confessions’ and we became a Lover..

On Rainy Days.. I loose you…

Thank you for the memories and a lot love from you… Kangin Oppa.
Saranghaeyo.. yeongwonhi…

 

THE END

Advertisements

5 responses to “On Rainy Days

  1. …………Whoah! No comment! Alur, cerita, uda bagus bangat xD Kaget tiba-tiba Kangin itu roh T^T Semuanya uda bagus, cm masi ada typo yang harus di perhatiin. Keep writing and hwaiting! ^^d

    • omo~~~ makasih yaa^^
      typos? iya nih. Ms. Word kan ada Gramarnya jadi yahh gitulah.. makasih udh mau cape” komen”
      Hwaiting! q^^p

  2. huwaaa ~ seandainya semua yg gentayangan bisa kek kangin oppa (?) nemuin jiae dulu sbelum beneran pergi.. yah walaupun justru nambah sakit di hati (?) *plaaak
    typo nya agak mengganggu thor soalnya agak banyak .__. tapi storynya bagus :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s