SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART1)

SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 1)

Introduction Author

Annyeonghaseyo, Super Junior Radio Love Series is back! Mianhae buat readers setia yang udah baca SJRLS yang kemaren dan udah ga sabar nunggu biasnya muncul di SJRLS kedua ini. Agak-agak telat karena Author lagi geje gitulah otaknya hehe. Seperti yang sudah Author janjikan, kali ini pairing yang Author tampilin adalah Siwon & Tiffany. Buat Siffany shippers congrat yaaa. Setelah dengan banyak pertimbangan, akhirnya Author memutuskan untuk pake pairing Siwon yang udah standar. Soalnya secara karakter, Tiffany mewakili yang Author pengen. Ok deh ga mau banyak curcol, selamat membaca readers. Buat readers yang belum baca Suju Radio Love Series itu apa sih, terus radio love story versi perdana gimana, bisa diklik di bawah ini ya. PS: Ff Doubt in Love sama Siwon the Boss ini beda, jadi readers bisa langsung baca part ini tanpa harus baca Doubt in Love. Tapi biar aura love member Suju dapet satu-satu, readers juga bisa baca Doubt in Love. Setelah seri Siwon the Boss selesai nanti akan muncul lagi  Suju Radio Love Series dengan cast Suju yang laen.

HAPPY READING

Chapter 1 Doubt in Love  | Chapter 2  Doubt in Love |

Chapter 3  Doubt in Love | Chapter 4  Doubt in Love |

Chapter 5  Doubt in Love | Chapter 6  Doubt in Love |

SIWON THE BOSS

 Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Chapter 1

PROLOG

Suju Tower

Seoul pukul 08.00 pagi

Seorang namja berperawakan tegap terlihat sedang berbicara begitu serius di melalui headset bluetooth nirkabel yang menempel di telinga kanannya, sebelah tangannya mendorong travelling bag, sebelah tangan yang satunya lagi sedang merapikan jas-nya. Ia tampak sangat sibuk untuk melakukan itu semua. Kelihatan sekali begitu terburu-buru untuk bisa mencapai pintu lift. Beberapa yeoja cantik menyapanya tapi hanya dibalas dengan senyuman dan lambaian tangan ringan. Namja itu begitu berkonsentrasi dengan pembicaraannya di HP. Dari kejauhan sosoknya tampak sangat menonjol, perawakannya yang tinggi, wajahnya yang tampan, serta wardrobe bermerk yang melekat di badannya menarik perhatian setiap orang yang lalu lalang di setiap area Suju Tower, sebuah gedung berkelas dunia dimana Suju Radio yang terkenal itu berada.

“Baiklah, revisi proposal sudah kami kirimkan barusan. Anda hanya tinggal mengeceknya, secara substansi tidak ada perubahan. Aku mengerti, ada sedikit masalah di nilai exchange rate yang sudah kita tetapkan”

“Ne ne mereka sudah mengajukan penawarannya, angka bagus. Kami siap untuk bernegoisasi lebih lanjut”

“Ani, saya tidak di Korea beberapa hari ke depan. Sedang on the way ke Tokyo.  Ne, ne, see you there”

Namja itu terus berkonsentrasi dengan lawan bicaranya di telepon. Sampai seseorang tiba-tiba mengejarnya dan memberikan sebuah map. Donghae membantu memencet tombol lift dan bersama-sama dengan namja tampan itu, mereka beriringan masuk ke dalam lift diiringi tatapan kagum dari orang-orang sekitarnya. Siwon dan Donghae, pemimpin gelombang Hallyu yang kini berhasil merambah dunia bisnis berskala global bersama dengan member Super Junior lainnya. Terdengar bisik-bisik para yeoja di sekitar mereka. Tapi pandangan mereka langsung terhalang ketika pintu lift pelan-pelan menutup membawa kedua namja itu turun ke lantai dasar.

“Kau yakin perhitungan investasi ini sudah benar, hyung?”

Siwon membuka lembaran-lembaran kertas dalam map yang baru saja diberikan Donghae, Direktur Marketing andalannya

“Ya aku sudah menghitungnya berpuluh-puluh kali. Ini adalah angka tercantik yang bisa kita tawarkan untuk membangun Suju Tower di Tokyo”, Donghae mengangguk pasti.

“Lalu bagaimana dengan Suju Radio, apakah angkanya sudah masuk?”

“Tentu saja. Suju radio adalah inti dari semua motivasi membangun Suju Tower. Bahan yang aku berikan padamu ini sudah sangat lengkap termasuk insentif tambahan  yang bisa Otsuji Cooperation dapatkan dari perjanjian ini. Kau bisa mengeceknya di pesawat nanti. Anyway, semua barang pribadimu sudah kau siapkan Siwon?”

Namja itu tidak menjawab, ia terlalu sibuk membaca angka-angka yang ada di dalam map itu. Walaupun sedang serius sekalipun, secara sekilas saja sudah terlihat bagaimana karisma dan pesonanya. Pantas saja hampir semua selebritis yeoja dan sosialita Korea mengantri untuk mendapatkan perhatiannya.

Donghae hanya tersenyum tipis, begitulah Siwon yang ia kenal. Semua yang ada dalam dirinya begitu sempurna. Tidak hanya penampilan fisik dan kepribadiannya saja tapi dalam pekerjaan pun, ia selalu total dan perfeksionis. Semuanya harus serba teliti, rapi, dan terencana. Ia cenderung menolak kesalahan walau tidak disengaja sekalipun. Menurutnya semua hal di dunia ini bisa berjalan baik jika semuanya telah dipersiapkan dengan matang. Kegagalan terjadi karena ketidakmampuan dalam membuat perencanaan yang tepat. Donghae hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sosok dongsaeng-nya ini.

“Cobalah kau mencari tempat wisata di Jepang nanti. Kau terlalu lelah bekerja Siwon, saatnya kau sedikit rileks dan bersantai. Maybe you don’t need it, but your body does”

Siwon tersenyum,”Donghae-hyung, aku pergi untuk bekerja. Aku tidak butuh bersantai saat ini. Ingat kita punya komitmen untuk membangun Suju Radio & Entertainment di Jepang, China, dan Taiwan untuk 3 tahun ini”

“Aku mengerti. Aku hanya mengingatkanmu Siwon. Kau terlalu workaholik sampai melupakan waktu pribadimu. Aku doakan semoga kau bertemu jodohmu di sana”

Kali ini Siwon terkekeh dan bersama-sama mereka ke luar lift berjalan menuju lobi gedung,”Gomawo sudah mendoakanku Hyung, walau ya rasanya tidak mungkin”

Ya memang tidak mungkin, dengan segala kesibukan dan aktivitasnya sebagai seorang CEO dari Suju Radio & Entertainment rasanya sulit sekali untuk membuat suatu hubungan serius dengan seorang yeoja. Ia mengakui sudah lama sekali ia tidak berkencan atau menikmati waktu santai bersama teman-teman dekatnya. Pernah terbersit kerinduan untuk memiliki yeoja chingu. Bagaimanapun ia adalah seorang namja normal yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tapi siapa yeoja yang akan tahan dengan jadwal kerjanya yang nyaris 24 jam setiap harinya. Ia juga tidak mau terganggu dengan rengekan dan tuntutan pasangannya agar ia bisa memberikan perhatian layaknya seorang kekasih. Sudahlah, hidup adalah pilihan dan Siwon lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya sekarang.

“Aku serius Siwon, kau butuh pendamping untuk mengurusimu”

“Lebih baik doamu juga kau bagi untukmu sendiri Donghae-ah. Terlalu banyak berkencan dengan yeoja juga tidak baik bukan?”

Siwon tersenyum kecil ke arah Donghae. Yang disindir hanya menggeleng-gelengkan kepala.Berbanding terbalik dengan Siwon, Donghae terkenal karena karismanya untuk menggaet banyak sosialita cantik.

“Aish, sudah kubilang aku bukan playboy seperti itu Siwon. Mereka saja yang kegenitan mendekatiku”

“Ya dan kau tidak menolaknya”

Donghae hanya mengangkat bahu,“ Selama sama-sama suka kenapa tidak?”

Mereka tertawa bersama, persahabatan mereka yang begitu dekat membuat komunikasi mereka begitu mengalir lepas.

“Baiklah, mobilku sudah menunggu. Kutitipkan Suju Radio sementara padamu. Oh ya tolong ingatkan Hankyung-hyung untuk ikut meeting bersamamu dengan SBS besok. Dari email terdahulunya mereka siap menjadi sponsor untuk acara Morning Street dan melakukan promosi untuk Super Junior Welcome Back.  Dan untuk Leetuk-hyung, tampaknya ia harus bersiap-siap juga ke Tokyo. Aku memilihnya untuk menangani operasional Suju Radio & Entertainment di Jepang”

“Kau sudah mengingatkan aku lebih dari sepuluh kali Siwon. Aku pasti mengingatnya. Semoga berhasil, ingat jaga dirimu baik-baik. Kau butuh istirahat Siwon-ah”

Donghae masih merasa khawatir dengan sifat workaholik sahabatnya itu. Tapi ia tahu, nasihatnya akan dianggap angin lalu saja oleh Siwon. Siwon sendiri segera masuk ke dalam mobil dengan supir yang telah bersiap mengantarnya ke bandara Incheon menuju Haneda Airport di Tokyo. Sekarang jam 9 pagi. Walaupun waktu chaeck in dan flight-nya 3 jam lagi tapi Siwon tidak mau mengambil resiko terlalu lama di counter imigrasi. Itulah dia, selalu terencana dan terkontrol. Semua harus sempurna.

“Baiklah Hyung dan terima kasih atas doamu. Mungkin jika aku tidak menemukan jodohku di Jepang, aku akan minta satu dari koleksimu”, namja itu kembali terkekeh menatap Donghae yang pura-pura mendengus kesal.

“Up to you, mau semuanya pun silahkan, aku sudah bosan”, Donghae tersenyum melihat gesture Siwon yang terkejut dengan pernyataannya,” Pokoknya ingat Siwon, kau harus beristirahat. Setelah pulang dari Jepang nanti, aku akan meminta Direktur HRD membuatkan surat cuti untukmu”.

Siwon tersenyum kecil dan bergegas masuk ke mobilnya. Donghae menatap mobil Siwon yang sudah mulai menjauh dari Suju Tower Seoul. Besok, Siwon akan menandatangani kerja sama dengan salah satu investor dari Jepang. Mereka akan mendirikan Suju Tower di sana termasuk di dalamnya Suju Radio dan Entertainment. Keberhasilan Super Junior mengepakkan sayapnya hingga merambah dunia bisnis salah satunya adalah karena kelihaian Siwon dalam berbisnis dan kemahirannya bernegoisasi.

“Semoga berhasil Siwon. ”, desisnya pelan kemudian berbalik menuju ruangan tempat kerjanya.

Di mobil, Siwon melihat dirinya di pantulan kaca. Apakah ia sudah begitu tua, sampai-sampai semua member Super Junior selalu mengingatkannya untuk mencari pasangan. Umurnya baru menginjak 25 tahun tapi tuntutan lingkungannya untuk segera memiliki pendamping mau tidak mau membuatnya jengah. Saking seriusnya member Super Junior untuk membuatnya mempunyai yeoja chingu, ia bahkan sering terlibat dalam puluhan kencan buta yang direncanakan chingudeulnya itu. Tapi sayang usaha mereka tidak pernah berhasil. Soalnya hyung dan doangsaeng-nya itu juga kadang tidak selektif mencari kandidat. Ada yang lumayan tapi kebanyakan yeoja teman kencannya itu prilakunya aneh-aneh sampai ia ketakutan dan akhirnya jadi parno sendiri. Sekarang setiap kali member Suju mengajaknya ke suatu tempat, ia tidak akan mengiyakan begitu saja. Jangan-jangan mereka akan menjebaknya lagi, meninggalkannya sendirian di suatu ruangan kemudian tiba-tiba bertemu dengan yeoja agresif yang setelah melihatnya langsung bertingkah seperti zombie yang seperti ingin memakannya bulat-bulat.

Siwon tidak bisa marah, bagaimanapun member Suju yang lain bermaksud baik. Mereka mungkin kasihan melihat dirinya melakukan semuanya sendiri. Sebagai single dengan segudang kesibukan mungkin mereka berharap dirinya memiliki pendamping yang dapat mengurusinya dengan baik. Membuatkannya sarapan, menyiapkan bajunya, menyiapkan bekal untuk makan siang, membereskan rumah, mencuci bajunya. Jika itu yang diharapkan member Suju, seharusnya bukan calon istri yang mereka ajukan tapi lebih baik memberikan maid alias pelayan saja. Ya ya ya, itu ide yang bagus. Ia memang membutuhkan seorang Maid yang bisa mengurusi kebutuhannya dengan baik, tapi ia tidak suka dengan maid yang bodoh, harus yang pintar dan mengerti semua tetek bengek kebutuhannya yang memang cukup ribet. Tapi siapa orang pintar di dunia ini yang mau jadi maid, ha ha ha, kau bodoh sekali Choi Siwon, tentu saja tidak ada.

Seoul pukul 08.00 pagi

Di waktu yang sama di sebuah rumah mewah tampak yeoja dengan hanya memakai tshirt dan celana pendek sedang duduk santai di ruang keluarga sambil sesekali mengetik sesuatu di I pad-nya. Tidak jauh dari dirinya, kedua orangtuanya tampak sibuk membereskan barang bawaan dalam koper masing-masing. Yeoja itu tampak tidak perduli dengan kesibukan Appa dan Omma-nya. Ia terus berkutat dengan tabletnya sambil tidur-tiduran menikmati semilir angin yang masuk dari taman bunga di sebelahnya.

“Aish Stephanie Hwang, kita bisa telat pergi kalau kau bermalas-malasan begini”, sosok wanita yang dipanggil Omma hanya bisa mengomel kesal dengan kelakuan anaknya yang tidak mempersiapkan diri untuk persiapan keberangkatannya,”Kenapa kau tidak membawa barang-barang pribadimu. Masa harus Appa dan Omma lagi yang mengurusinya. Sudah besar masih harus dilayani, apa kau tidak malu?”

Yeoja yang lebih senang dipanggil Tiffany itu hanya tersenyum lebar,” Sudah aku bilang Omma, aku malas ke sana. Semingguan ini aku ingin tidur dan memanjakan diri. Setelah meeting berturut-turut di Busan kemaren, badanku rasanya rontok”, ia menguap kemudian asyik lagi bermain-main dengan I-pad nya.

“Jangan bikin masalah Fanny, besok kau akan bertemu Kim Ho Min-ssi. Ingat kau sudah menyanggupinya. Berarti kau sudah berjanji dan harus datang. Atau perlukah Appa mengancammu lagi? Semua fasilitasmu akan Appa tarik jika kau ingkar janji  termasuk pekerjaanmu”, kali ini Appa yang angkat bicara. Nada suaranya tegas, sudah tidak bisa bermain-main kali ini rupanya.

Tapi yeoja itu masih tidak bergeming dengan I-pad nya,”Besok kan? Ya sudah Appa dan Omma saja yang pergi duluan. Nanti aku menyusul”

Omma mendelik,”Kami sudah tau kelakuanmu, bilang akan menyusul padahal sebenarnya kau akan kabur. Iya kan? Mianhae Fany, kami sudah tidak bisa dibohongi lagi”

Tiffany mendengus kesal. Sampai kapan orang tuanya terus mengatur kehidupan pribadinya. Sudah berapa puluh kali ia bertemu dengan namja berbeda-beda hanya untuk menuruti ambisi Omma dan Appa supaya ia segera menikah dan segera memberikan mereka cucu. Ia segera membuka push massage email di I pad-nya, jarinya dengan lincah bergerak ke atas kebawah  mencari-cari sesuatu hal yang mencegahnya untuk pergi. Aha, akhirnya ia menemukannya.

“Appa, perusahaan Park Brothers mengajukan ijin pertemuan besok, aku baru baca emailnya”

Appa memandang Fany tajam dengan tatapan tidak suka,”Jangan cari alasan lagi Fany”

“Tapi ini benar kok, lihatlah emailnya Appa. Sebagai Direktur Public Relation di perusahaan, aku tidak boleh melewati pertemuan penting ini. Tapi karena acaranya besok, dengan sangat menyesal  aku tidak bisa ikut Appa pergi ke Jepang. Otokhae?”

Appa membaca email di tablet anaknya itu. Ia tahu Fany sedang membuat seribu satu alasan untuk tidak bertemu Kim Ho MIn, namja yang akan ia jodohkan dengan anaknya. Itu berarti Fany akan menggagalkan rencananya untuk ribuan kalinya. Kali ini tidak boleh gagal. Appa tersenyum licik.

“Baiklah Direktur Public Relation yang terhormat karena kau berbicara atas nama jabatanmu maka Appa sebagai Owner di perusahaan tempatmu bekerja memutuskan supaya Wakil Direktur PR-lah yang akan menggantikanmu bertemu dengan wakil dari perusahaan itu”

“Mwao?”

“Tidak usah banyak tanya lagi segera hubungi Jessica Jung untuk mempersiapkan meeting dengan mereka. Dan kau Fany tetap ikut Appa ke Jepang. Appa bicara sebagai atasanmu , tentu kau tidak akan membantah orang yang memberikanmu gaji dan kehidupan mewah yang selama ini kau dapat bukan?”

Skak Mat! Fany kalah. Aish ia tidak tahu bagaimana caranya lagi untuk bisa menghindar dari perjodohan kesekian kalinya yang diatur oleh kedua orang tuanya. Sampai saat ini, sampai detik ini, ia belum berfikir untuk menikah apalagi memiliki anak. Usianya masih sangat muda. Baiklah ia sudah berumur 23 tahun sekarang, umur yang sudah cukup untuk menikah. Tapi bukan berarti, ia harus menikah sekarang bukan?

Ia adalah wanita karir yang tengah merintis karirnya yang cemerlang. Lulusan Harvard dengan predikat terbaik. Pekerja yang cekatan dan ambisius. Modal yang lebih dari cukup untuk bisa sejajar dengan Appa nantinya. Tapi setelah semuanya tercapai, dengan mudahnya Appa menyuruhnya menikah.

“Perusahaan ini butuh penerus Fany, karena kau adalah anak Appa satu-satunya maka kau harus segera memberi kami cucu. Tolong jangan sampai ketika Appa meninggal, Appa masih belum bisa menimang cucu darimu!”

Selalu alasan itu yang Appa katakan sampai Fany bosan mendengarnya. Memang menikah dan memiliki anak itu mudah. Apa ia dilahirkan hanya untuk menjadi mesin pemberi cucu untuk Appa. Lantas untuk apa ia sekolah tinggi-tinggi, bekerja mati-matian, jika tugas akhirnya adalah untuk memproduksi anak. Fany mengakui gaya pemikirannya terlalu liberal. Ia terlalu lama hidup di Amerika, sehingga untuk beberapa hal pemikirannya sudah tidak sesuai dengan culture Korea. Tapi bahkan di Korea sekarangpun sudah tidak jaman lagi namanya perjodohan.

Aish, sekarang ia harus berfikir bagaimana membuat Ho Min itu tidak menyukainya. Sejauh ini ia selalu berhasil, begini intinya, secara fisik Tiffany tampak sempurna. Ia cantik dan memiliki senyum yang menarik. Ia pintar dan cerdas. Sifatnya juga menyenangkan, humoris dan pandai bergaul. Bodoh sekali jika tidak ada namja yang menyukainya.

Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kelihaiannya memanipulasi pikiran orang. Yeoja itu bisa membuat para namja merasa terintimidasi dengan keterus terangannya. Tiffany menyadari itu, ia tahu tidak mungkin bisa menolak namja pilihan Appa tapi ia bisa membuat para namja itu mundur teratur. Itu adalah bagian dari strateginya untuk menghindar dari setiap perjodohan yang diatur Appa. Lagian, ia memang tidak tahan dengan namja yang level kecerdasannya di bawah dia. Tiffany selalu saja menemukan kekurangan dari namja itu. Dengan kepintarannya berbicara ia bisa mempengaruhi pikiran namjadeul itu. Setelah obrolan ringan selama beberapa menit saja, para namja akan menyadari bahwa mereka terlalu rendah dan tidak sepadan dengan yeoja itu. Mereka akan merasa Tiffany bukan ada di level mereka. Terlalu jauh untuk dicapai. Akhirnya,  para namja itu lantas menjadi minder dan tidak percaya diri. Kemudian mundur dari perjodohan atas kesadaran sendiri karena menganggap diri mereka tidak layak berdampingan dengan Tiffany.

Jessica, wakil-nya di kantor sekaligus sahabatnya menyebut fenomena ini sebagai ‘Tiffany’s Effect” yaitu akibat psikologis dan trauma yang diderita para namja setelah bertemu Tiffany sehingga mengakibatkan mereka jadi rendah diri dan merasa tidak berharga sebagai seorang namja. Seberat itukah efeknya? Sayangnya bisa dibilang begitu.  Tiffany selalu bangga dengan kemampuannya itu.

Tapi Jessica selalu marah jika tahu ia gagal lagi dalam perjodohan ini,”Itu benar-benar jahat Fanny-ah. Kau tahu Lee Jung Han yang kau temui minggu lalu sekarang harus bolak balik psikolog hanya supaya sadar bahwa ia adalah namja pintar. Sejak pertemuannya denganmu, ia selalu melamun dan tidak bisa berkerja dengan baik. Ia selalu meracau bahwa dirinya bodoh. Itu semua gara-gara kau!”

“Cih, kenapa aku yang disalahkan? Aku hanya bertanya berapa IQmu? Berapa IPK mu saat kuliah? Kuliahmu di mana? Dapat ranking berapa waktu di sekolahmu? Itu kan pertanyaan standar”, Fanny heran apa yang salah dengan pertanyaannya?

“Ne ne, tapi tidak usah kau menyebut bahwa IQ mu 140, IPK mu 4, Kuliah di Harvard, selalu ranking satu, dan bekerja sebagai Direktur di satu dari 10 perusahaan terbesar Korea”, Jessica terus menceramahinya.

“Memang itu faktanya, aku tidak berniat menyombongkan diri”

“Okey, aku reka adegannya ya, Berapa IQ mu? Ia menjawab 120. Lalu kau bilang, oooh aku 140. Terus kau tanya berapa IPK mu? Dia jawab 3,4. Lalu kau dengan senyum sinismu itu menjawab, kalau IPK ku 4. Kau tanya ranking berapa? Dia menjawab yang penting masuk 10 besar, dan kau seperti biasa akan bercerita mengenai dirimu yang selalu juara kelas, selalu menang di beberapa Olimpiade Fisika, dan kemudian membanggakan dirimu yang lulus sangat memuaskan dari Harvard dan pekerjaanmu yang begitu keren setelah namja itu selesai menceritakan dirinya yang jadinya biasa-biasa saja ”

“So… what’s the problem?”, tanya Fanny masih tidak mengerti.

“Hentikan sifat angkuhmu itu Fanny atau jika tidak sampai kau tua kau tidak bisa memiliki suami sampai kapanpun karena sikapmu yang keterlaluan. Kau tahu namja itu berdiri dengan harga dirinya, dan kau membuat mereka tidak bernilai. Dengan mulut manismu kau melukai harga diri mereka”

“Aku hanya menceritakan tentang diriku”

“Selalu saja beralasan begitu. Watch out your mouth!”

Cih, Jessica selalu saja membela para namja itu. Ia sama sekali tidak merasakan rasanya dijodohkan dengan orang yang tidak disukai. Ia bukan yeoja yang jahat tapi ia tidak punya pilihan lain.

Dan siapa lagi Ho Min itu? Hmm, namja itu tidak terlalu buruk sebenarnya, boleh dibilang tampan, memiliki profil dan latar belakang keluarga yang bagus. Semuanya tampak well on track. Tapi Tiffany tidak menyukainya. Terus terang seumur-umur ia belum merasakan namanya jatuh cinta atau menyukai namja. Entahlah, ia selalu saja menemukan kekurangan dari namja-namja yang dikenalnya. Ia tahu, manusia itu tidak sempurna, tapi baginya memang butuh namja sempurna yang bisa menggerakkan hatinya. Tapi dimanakah namja sempurna itu? Apakah ia memang nyata?

“Ini travel bag-mu, isinya sudah kami siapkan. Kami mengenalmu Tiffany sayang, jadi kami sudah mengepak barangmu sebelum kau menyadarinya”, Omma tiba-tiba membuyarkan lamunan Tiffany sambil menunjuk travel bag berwarna hitam bening di sudut ruangan. Tiffany terkejut sesaat kemudian ia tampak lunglai. Kali ini ia tidak bisa lari dari rencana Appa.

”Sekarang tidak ada alasan lagi kau harus ikut kami. Ayo kita harus segera pergi ke bandara Incheon, kita harus segera check in!”, Appa mengultimatum dengan tegas.

Tiffany tampak menyerah tapi sebenarnya otaknya sedang berfikir keras. Ia harus melakukan sesuatu. Perjodohan kali ini tampaknya serius, mengingat Appa  sampai harus cuti dari pekerjaannya hanya untuk bertemua Ho Min itu di Jepang. Masih ada waktu satu hari lagi. Ayolah Tiffany berpikirlah! Jangan permalukan almamatermu, IQ-mu, kecerdasanmu, sesuatu yang selama ini selalu kau banggakan. Jika kau sampai kalah, semua kebanggan itu tidak ada artinya lagi. Tiffany lantas membayangkan dirinya dengan perut buncit karena hamil sedang mengurus anak dan memasak, membereskan rumah dengan daster dan penampilan yang acak-acakan karena kelelahan. Ia bergidik begitukah masa depannya kelak? Begitu menakutkan. Apapun caranya, ia harus bisa membatalkan perjodohan ini. Tapi bagaimana? Must be a way to escape but how? Think think think Tiffany!

To Be Continued

Author: Gimana prolog-nya readers? Namnya prolog memang dibikin ga terlalu panjang biar mancing penasaran dulu supaya readers tertarik baca part selanjutnya. Mudah-mudahan suka ya dan jangan lupa RCL, read , comment, & like. Author juga butuh masukan jadi jangan bosen komen mo muji mo ngritik terseraaaaah Author mah rela yang penting bikin semangat nulis lagi. Karena semakin banyak komen semakin cepet ff ini publish xixixixixi. Oh ya yang penasaran married life nya Kibum-Sulli yang sabar ya. Akan muncul kok tapi sekarang author konsen dulu sama Oppa Siwon tercinta.

173 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART1)

  1. Fany fany,,haha
    smbong x drmu..pi tak pelah,,krna emng da yg dsmbong kan..lgian fany sprtinya perfect x tuk seorng wnita..
    Slhnya sifatnya ja yg kyak gtu..

  2. Pingback: SIWON THE BOSS (PART 2) – YOURMIND·

  3. Pingback: DEATH KISS PART 3 – YOURMIND·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s