SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 2)

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

PS: Sorry for typo, please feel free to correct my writing 😉

Resensi FF sebelumnya

“…Aku hanya mengingatkanmu Siwon. Kau terlalu workaholik sampai melupakan waktu pribadimu. Aku doakan semoga kau bertemu jodohmu di sana”

“Hentikan sifat angkuhmu itu Fanny atau jika tidak sampai kau tua kau tidak bisa memiliki suami, sampai kapanpun karena sikapmu yang keterlaluan. Kau tahu namja itu berdiri dengan harga dirinya, dan kau membuat mereka tidak bernilai. Dengan mulut manismu kau melukai harga diri mereka”

Chapter 1 |

SIWON THE BOSS

Chapter 2

Haneda Airport, Jepang

18.00 malam

 

Sepanjang perjalanan di pesawat tadi, Tiffany tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun untuk beristirahat. Perjodohan ini mengganggu pikirannya. Sambil memakai headset ia mendengarkan streaming music dari tabletnya. Kebetulan ia sedang mendengarkan musik dari Suju Radio, lagu-lagunya enak, easy listening dan penyiarnya juga memiliki kualitas di atas rata-rata. Ia mulai menyenangi radio itu setelah perusahaannya berencana untuk beriklan di Suju Radio mulai bulan depan. Terdengar suara Heechul di telinganya, Tiffany menyukai gaya siaran namja ini yang bebas, walaupun cenderung cuek dan nyablak. Sebetulnya kepribadiannya memang sebebas dan secuek itu dalam artian positif tentunya, tetapi tuntutan pekerjaan dan lingkungan membuatnya harus menjaga imejnya. Hanya orang-orang terdekatlah yang tahu bagaimana sifat aslinya, karena di luar ia akan berusaha terlihat santun, anggun, dan berwibawa.

“Anyeong ELF, Star DJ Heechul is back di Malam Anti Galau. Jadi biarpun sudah malam kayak gini, lagu yang diputer tetep harus ajep-ajep dong. Enggak boleh lagu yang mellow soalnya toko kelontong udah pada tutup jual ember buat nampung airmata ELF. Makanya headsetnya pake biar enggak gangguin orang rumah. Pengen ngelepas penat dengan jingkrak-jingkrak sendiri di kamar boleh juga. Tenang enggak akan ada yang bilang kalian gila kok hmm cuman sedikit sarap ajah hihihi. Khusus untuk malam ini gimana kalo kita bikin acara ‘suka-suka gue aja’, ELF bebas mau ngapain aja mau sms, mau e mail, mau rekues lagu terserah yang penting harus kreatif dan lucu sekalian bantuin ELF yang lagi galau di luar sana supaya bisa hepi. Sebagai lagu pembuka gimana kalo kita dengerin remix-nya Shindong yang sukses ngebuat It has to be-nya Yesung jadi lagu disko. Dijamin ngakak tapi enggak tanggung jawab ya kalo sakit perut. Check this out babe!”

Tanpa menunggu jeda, tiba-tiba terdengar suara musik yang menghentak dan hingar bingar. Bagaimana bisa lagu yang sesendu itu tiba-tiba jadi lagu untuk disko. Ha ha ha Tiffany tidak habis tertawa ketika ternyata Shindong memparodikan lagu itu dengan lirik yang jenaka. Kreatif dan sukses membuatnya sejenak melupakan masalah perjodohan itu. Jika kontrak kerja sama dengan Suju radio sudah berhasil ditandangani, ia ingin minta berfoto dengan Heechul dan Shindong, dua Star DJ favoritnya. Tapi tentunya harus dia-diam, apa kata orang kalau melihat kelakuannya yang masih seperti ABG. 

Pilot sudah mengumumkan bahwa pesawat yang mereka tumpangi sebentar lagi akan mendarat walaupun sedikit ada turbulensi karena cuaca sedang tidak bagus. Waktu pendaratan lebih cepat 10 menit dari jadwal departure yang seharusnya. Yeoja itu lantas memandang keluar melihat lampu-lampu yang terpasang di jalan landasan dengan cemas. Sampai saat ini belum ada satupun ide yang bisa membantunya keluar dari masalahnya sekarang.

Dengan langkah gontai, ia menyusuri bridge yang menghubungkan pesawat dengan terminal bandara Haneda. Orang tuanya sudah lebih dahulu berjalan dan meninggalkan Tiffany sendirian. Katanya mereka ingin beristirahat dahulu di sebuah café di lantai 4. Kini ia sudah ada di depan conveyor, putaran tempat barang-barang yang disimpan di bagasi pesawat di keluarkan. Sudah lebih dari 10 menit, ia belum menemukan travel bag-nya. Badannya sudah lelah sekali, ia ingin segera tidur tapi beberapa menit berlalu tas itu masih belum muncul juga. Tunggu tunggu, bukankah itu tas-nya? Aha ternyata travel bag hitam bening itu muncul juga dan tanpa mengeceknya lebih lanjut yeoja itu langsung membawa dan mendorongnya keluar menuju ruangan imigrasi Jepang.

“Agasshi tunggu!”, seseorang tiba-tiba menarik travel bag-nya. Dengan spontan Tiffany menarik travel bag itu kembali.

“Hey, apa yang kau lakukan!”, teriak Fany dengan marah sekaligus terkejut. Siapa sih namja ini ujug-ujug datang dan merebut tas seenaknya.

Namja yang memanggilnya itu terdiam, nafasnya terengah-engah, mungkin ia berlari cukup jauh untuk bisa menyusulnya,” Agasshi, itu travel bag-ku”

“Mwo? Ini travel bag-ku, enak saja mengatakan ini punyamu. Kau ingin mencurinya ya?”

“Aniyo, ini travel bag-ku, bagaimana kau bisa sembarangan mengambil tasku dan menuduhku pencuri?”, namja itu terus memaksa mengaku-ngaku sebagai pemilik tas tersebut,”Yang ada kau yang mencoba mencuri tasku”

Tentu saja Tiffany tidak terima dengan serangan mendadak ini. Bagaimana bisa namja itu jadi pemilik travel bag-nya? Siapa sih orang ini? Mengganggu banget, padahal ia sudah letih ingin tidur, “Hey apa maksudmu ? Ini tasku dan kau tiba-tiba merebutnya. Bukankah itu namanya pencurian”

“Ahgassi tolong jangan memperpanjang masalah yang sangat simple ini, itu travel bag-ku. Tolong kembalikan. Saya masih berusaha mencegah anda berurusan dengan polisi”

Tiffany mendelik tajam pada namja itu. Namja setinggi tiang listrik yang aneh, sudah berani mengancam ya rupanya, “Silahkan kalau berani? Saya tidak takut. Tas ini milikku!”

Namja itu tiba-tiba mengambil tas yang dipegang Fany dengan paksa,”Aku ada pertemuan penting malam ini, tolong jangan membuat masalah denganku”

Fany terkejut karena travel bagnya tiba-tiba sudah berpindah tangan, “Hey apa yang kau lakukan. Kembalikan, itu tas-ku!” , dengan spontan Fany mengejar si pencuri tas yang kini sudah berjalan ke luar terminal departure. Tanpa namja itu sadari, Tiffany telah menarik jasnya sehingga membuat namja itu hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan,”Kembalikan tas  ku baboo!”

Tiffany menarik paksa pegangan travel bag dengan kedua tangannya tapi namja itu terlalu kuat.

“Pencuri kau, kembalikan tasku!”, yeoja itu berteriak-teriak sehingga membuat kegaduhan di terminal kedatangan Bandara Haneda yang sedang lenggang.

“Agasshi , jangan sampai saya kehilangan kesabaran. Bisakah kau diam, kau berisik sekali. Kembalilah ke conveyor itu siapa tahu tas mu tertinggal di sana”, namja itu sudah tidak nyaman dengan aksi heboh Tiffany. Keributan itu rupanya menarik perhatian pengunjung karena untuk beberapa saat mereka menjadi bahan tontonan gratis orang-orang yang  lalu lalang di terminal 3 Haneda airport. Tapi ia tidak bisa bertidak lebih keras dari sekedar menggertak. Imejnya, nama baiknya dipertaruhkan jika media sampai mengendus kekacauan ini.

“Aniyo, enak saja kau bicara, kembalikan!”, yeoja itu terus berteriak dan berusaha merebut travel bag hitam itu. Untuk sesaat terjadi tarik menarik tas yang tidak seimbang, sampai tiba-tiba…

“Aish, kau ini…aww kenapa kau menginjak kakiku?”, namja itu tiba-tiba mengaduh kesakitan

“Maaf tidak sengaja”, Tiffany tersenyum manis, setelah berhasil menginjak kaki Siwon sehingga membuat namja itu kehilangan kontrol, ia lantas merebut tas-nya dan dengan cepat mendorongnya keluar. Siwon menyusulnya sambil berlari, ditahannya rasa sakit akibat injakan yeoja psiko yang memakai sepatu berhak tajam itu. Ia harus merebutnya, terserah jika yeoja itu mau mengambil barang-barang pribadinya, yang penting dia harus menyelamatkan dokumen dan data perusahaan yang terdapat dalam travel bag itu. Sesakit apapun tentunya fisik Siwon lebih kuat dari Tiffany, ia berhasil menyusul yeoja itu. Kali ini beberapa petugas keamanan di  Bandara Haneda Jepang ikut menyusulnya dengan tergopoh-gopoh berusaha melerai pertengkaran dua turis Korea ini.

“Kau mau kabur kemana?”

Secepat kilat Siwon sudah menarik tangan Tiffany  dan dicengkramnya pergelangan yeoja itu kuat.

“Kau tidak bisa pergi lagi Agasshi”

Tiffany meringis, namja itu sangat kuat. Ia berusaha melepaskan diri,” Lepaskan aku, kau gila!”

Untunglah salah satu polisi sudah ada di antara mereka.

“Tolong jangan buat keributan di sini Tuan dan Nona. Mari kita selesaikan baik-baik. Ada apa masalahnya?”

Untunglah Tiffany bisa mengerti dengan bahasa Jepang yang digunakan polisi itu. Dengan marah Tiffany menunjuk-nunjuk namja berbadan tinggi itu sambil tetap berusaha melepaskan pegangan Siwon pada tangannya,”Ia ingin mencuri tas ku!”

 “Hah, ini memang tasku. Wanita ini mengambilnya begitu saja”

“Enak saja jadi kau menuduhku pencuri”, sungut Tiffany kesal .

 “Tenanglah, kalian membuat keributan di sini”, petugas keamanan itu mulai galak,” Bisakah saya melihat boarding pass kalian?”

Tiffany dan namja itu menyerahkan boarding pass-nya. Sambil mengecek nomor boarding pass dengan nomor yang tertempel di sticker travel bag itu, ia kemudian mengambil paksa travel bag yang dipegang Tiffany lantas menyerahkannya kepada Siwon. Tiffany hanya bisa melongo bingung.

“Kenapa tas saya diambil?”

“Maaf Nona, tas ini milik Tuan Choi Siwon. Nomor boarding pass Tuan Choi dengan sticker bagasi ini sama. Rasanya permasalahan sudah selesai. Kejadian ini memang sering terjadi. Nona bisa kembali ke counter conveyor untuk mengambil tas milik Nona di sana dan mohon untuk tidak membuat keributan lagi”

Tiffany termangu bingung. Jadi travel bag ini milik namja itu. Aish, bisa-bisanya ia bertindak seperti orang bodoh. Karena terburu-buru ia mengambil tas tanpa mengeceknya terlebih dahulu, Beberapa orang yang melihat keributan ini menatapnya dengan pandangan menusuk. Maluuuunya, mau ditaruh ke mana mukanya ini. Membuat keributan dan ternyata dia lah yang salah. Semuanya ini gara-gara perjodohan yang membuat otaknya buntu.

Petugas keamanan itu kemudian pergi meninggalkan Tiffany dan Siwon berdua. Yeoja itu merasa sangat bersalah pada namja yang ternyata bernama Choi Siwon. Ia membungkukan badannya sangat dalam,”Jeongmal Mianhamnida Tuan Choi Siwon. Maaf saya telah membuat keributan. Mohon dimaafkan”

Tiffany membungkukan badannya sekali lagi lagi. Selama ini orang-orang lah yang selalu membungkukkan badan  kepadanya. Tapi sekarang Fany-lah yang  harus membungkuk malah lebih dalam dan lebih lama dari biasanya untuk menunjukan rasa penyesalannya pada namja itu. Yah hanya itu yang bisa dia lakukan.

Tapi kenapa namja itu tidak bergeming, hanya menatapnya dengan pandangan kesal. Baiklah ia bersalah, tapi cepatlah untuk berkata ‘saya maafkan’ daripada mendiamkannya dengan situasi canggung seperti ini.

Namja yang dipanggil Choi SIwon hanya tersenyum kecut. Dasar yeoja aneh, sembarangan mengambil tasnya, menuduhnya pencuri, menginjak kakinya, dan sekarang hanya bisa minta maaf setelah ia kehilangan beberapa puluh menit waktu berharga untuk bisa bertemu dengan koleganya di Jepang Bagi Siwon, waktu satu detik pun juga sangat berharga, tapi sekarang lihatlah akibat kelakuan yeoja kampungan itu. Seharusnya ia sudah bertemu dan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Otsuji-san di sebuah restoran mewah di area Tokyo Midtown, Roponggi malam ini. Yeoja itu juga telah meninggalkan luka kecil di kakinya. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya jika hak runcing sepatu stiletto itu menembus kakimu. Akhirnya sampai jam 8 ini ia masih berada di bandara Haneda berdua dengan yeoja ini, sambil sedikit berjalan terpincang-pincang.

“Kau tahu kecerobohanmu membuat aku terlambat untuk sesuatu yang sangat penting”

Tiffany menunduk merasa bersalah,”Mianhae aku benar-benar menyesal, maafkan atas keteledoranku”

“Kau tahu kakiku jadi luka karena sepatu jarum-mu itu”

“Mianhae aku menyesal, ijinkan aku mengobati lukamu”

“Sudahlah, kau hanya memperumit keadaan saja”

“Tolonglah Tuan Choi”

Tiffany berlari-lari kecil menyusul Siwon. Heran, walaupun kakinya sakit tetap saja namja itu berjalan lebih cepat dari dirinya yang masih harus berlari-lari.

“Apa kau tidak pernah ke bandara sebelumnya?”

Maksudnya? Tentu saja pernah bahkan sering bukankah pekerjaannya menuntutnya untuk travelling hampir tiap minggu. Tapi demi meredakan suasana yang tidak nyaman, yeoja itu memilih diam, menunduk dan menyusul langkah kaki Siwon yang lebar.

“Sudahlah, aku berikan kau penjelasan juga kau tidak akan mengerti bagaimana tata cara saat kau di bandara”

Mwao? Hey apa yang dia pikirkan soal diriku, begitu bodohkah. Apa perlu kusebut kalo IQ-ku 140! Rutuk Tiff masih berani bicara hanya di level dalam hati saja. Ia masih merasa bersalah.

“Aku maafkan karena kuanggap ini baru pertama kalinya kau pergi ke luar negeri ”

Namja itu langsung beringsut pergi meninggalkan Tiffany sendirian yang masih menunduk karena merasa malu dan bersalah. Tapi bisa-bisanya namja itu mengatakan ia baru pertama pergi ke luar negeri. Nyebelin banget ngomongnya. Hey, apakah dia tidak tahu kalo hampir seluruh belahan dunia sudah ia jelajahi. Tapi karena perasaan bersalahnya begitu besar, ia hanya berharap namja itu mau memaafkannya. Sekarang dengan muka yang masih merah karena menahan malu yang amat sangat ia kembali ke conveyor tadi untuk mengambil travel bag-nya yang asli. Tiffany ingin segera sampai ke hotel dan tidur nyenyak melupakan kejadian memalukan barusan. Semoga besok, ia sudah mendapatkan ide untuk menolak perjodohan ini dan insiden kecil ini bisa segera ia lupakan.

“Kenapa kau terlambat Fany, kami menunggumu dari tadi?”, Appa bertanya ketika mereka sudah masuk dalam mobil yang membawa mereka ke Kota Nagano.

Yeoja itu tidak menjawab, pura-pura tertidur. Ia masih kesal dengan kejadian tadi dan yang pasti sangat kesal pada Appa dan Omma-nya. Hidupnya sangat melelahkan, selalu terjerembab dalam satu perjodohan ke perjodohan lain sehingga membuat dirinya bersikap ceroboh seperti tadi.

“Kau tahu, tadi ada yeoja gila yang ngamuk-ngamuk di bandara?”, tanya Omma.

Tiffany menggelengkan kepala tidak perduli.

“Ia salah mengambil tas orang tapi tetap keukeuh kalo tas itu adalah miliknya. Sampai-sampai orang yang memiliki tas itu katanya dipukuli oleh yeoja itu karena dianggap mencuri barangnya. Untung polisi datang, kalo tidak sudah masuk rumah sakit mungkin pemilik tas itu. Lagi stress kali ya Appa”

“Ne, mungkin sudah tidak waras he he sampai berani membuat keributan di bandara sekelas Haneda”

“Katanya yeoja itu orang Korea”

“Omo, nah itu tuh, namanya yang mencoreng muka negara. Masa bikin keributan di negeri orang”, Appa menoleh ke arah Tiffany yang memasang tampang pura-pura tidak tahu,”Kau lihat kejadian itu Fany?”

Tiffany hanya bisa melongo tajam ke arah orang tuanya.  Jadi ia dianggap gila dan stress maksudnya begitu? Malam ini benar-benar mengesalkan.

“Ani, aku tidak melihatnya Appa”, ya tentu saja tidak melihatnya karena ia pelakunya, “Ya ya mungkin dia stress dan sedang mencapai taraf gila beneran Appa. Apapun bisa dilakukan kalo level stress sudah akut”

Analisa yang memang ia tujukan untuk dirinya sendiri, tanpa sadar yeoja itu sudah tertidur lelap. Nagano, here I come. Mari kita lihat takdir apa yang akan menantinya di sana.

 

Prince Hotel, Nagano

10.00 pagi

“Kau mau kemana Fany, ingat nanti malam kau akan bertemu Ho Min”

Omma menelefonnya ketika Tiffany dengan diam-diam meninggalkan restoran hotel sehabis mereka menyelesaikan sarapan.

“Aku hanya ingin jalan-jalan Omma, Iya-iya sore juga sudah kembali. Tolong kasih tau Appa ya, jebal Omma. Bye”

Yeoja itu menutup Hp-nya. Harus ada cara untuk kabur. Tapi bagaimana caranya? Sudahlah daripada berfikir terus mengenai pertemuannya dengan Ho Min itu. Lebih baik ia melepaskan kepenatannya dengan berjalan-jalan di sekitar Nagano ini. Aneh, kenapa Oppa memilih Nagano sebagai tempat pertemuan, kenapa tidak memilih Tokyo, atau Kyoto, Osaka, atau  kota-kota yang kebih besar dari kota ini.

Udara sangat terik, beginilah Jepang ketika musim panas. Ia bisa lebih panas dan kering dari Jakarta sekalipun. Tapi untunglah Nagano termasuk kota yang lebih dingin dari Tokyo, hawanya tidak sepanas Tokyo. Dengan berbekal 500 yen, ia menyewa sebuah sepeda kecil dan berjalan-jalan menyusuri kota kecil tapi indah ini. Tapi ada sedikit pemandangan menarik, di daerah tempatnya menginap, ia melihat banyak kapel dan bridal shop di mana-mana. Banyak juga toko yang menyewakan gaun pengantin dan segala pernak perniknya. Tidak jauh dari area itu ada sebuah kawasan hutan dengan banyak bungalow yang disewakan untuk berbulan madu. Otaknya yang memang sedikit konspiratif mulai terjaga, apakah ini maksud Appa membawanya ke Nagano, untuk menikahkannya dengan Ho Min? Di sini?

Aish, Appa apa yang kau lakukan. Ia kini baru mengerti, kenapa ia harus jauh-jauh ke Jepang dan kenapa tidak di Tokyo atau kota-kota besar lainnya di negara ini. Ne ne, Appa sedang mencari tempat yang membuatnya tidak bisa kabur begitu saja dan menikahkannya sekaligus di sini. Jarak Nagano ke Bandara Haneda atau Narita teramat jauh jika harus mengendarai kendaraan. Jika ingin cepat, ia harus naik shinkansen, kereta api super express yang harganya lumayan mahal. Harga bukan masalah memang tapi tetap saja ribet jika ia ingin kabur dan pulang ke Korea. Tiffany mengenali Appa seperti mengenali dirinya sendiri karena semua sifat Appa menurun pada dirinya. Jadi ia tahu persis apa yang ada dalam pikiran Appa.

Memikirkan semua ide konspirasi ayahnya dan udara yang cukup panas membuatnya kehausan. DIcarinya vending machine yang menjual aneka minuman botol. Sambil memasukkan koin logam yen, otaknya tidak berhenti berpikir untuk melawan rencana Appa. Tapi entah kenapa lagi-lagi otaknya buntu.

———————————————–

Tidak jauh dari tempat itu, tampak seorang namja yang keberadaannya lagi-lagi menarik perhatian orang-orang  yang sedang berwisata di sana. Terdengar bisik-bisik turis dan penduduk lokal yang menyebut-nyebut nama Siwon. Beberapa malah dengan terang-terangan memfoto namja itu dari jarak dekat. Mereka tidak percaya ada Siwon Super Junior di tengah-tengah mereka. Sekelompok yeoja berteriak-teriak memanggil namanya. Seperti biasa Siwon adalah namja yang tahu bagaimana menempatkan diri dan bagaimana harus bersikap. Ia terus tersenyum sambil sesekali melambaikan tangannya ke arah mereka. Dengan santai tapi penuh percaya diri, ia berjalan-jalan menyusuri pasar lokal yang menjual aneka souvenir khas Nagano.  Baiklah, ia akan membeli beberapa untuk semua chingudeul-nya di Super Junior, terutama untuk Ryeewok dan Kyuhyun, dua magnae ini selalu menagih oleh-oleh jika ia berpergian ke luar negeri. Kelakuan mereka seperti orang yang tidak pernah ke luar negeri saja.

Tiba-tiba Siwon teringat yeoja aneh yang ditemuinya di bandara kemarin. Aish, mengingatnya membuat mood-nya ambruk. Padahal  hari ini begitu menyenangkan baginya. Pertemuan kemarin berjalan dengan baik, walaupun agak terlambat karena yeoja antah berantah itu telah mengganggu jadwalnya. Ia tidak bisa menerima ada sedikit cacat dalam rencananya apalagi sampai datang terlambat ke suatu pertemuan yang sangat penting. Tapi untunglah, ia dan Otsuji Coop telah menemukan kesepakatan yang signifikan untuk pembangunan Suju Tower. Tugasnya sekarang hanyalah menghadiri pesta dan merayakan keberhasilan kerja sama ini bersama mereka. Kakinya pun sudah tidak sakit lagi seperti kemarin. Seperti biasa, semua terencana dan berakhir sempurna. Ia memasukan beberapa ratus koin logam yen dalam vending machine untuk membeli sebotol cider dingin, jenis minuman yang ia sukai. Dan soal yeoja itu? Mudah-mudahan ia tidak pernah bertemu yeoja bodoh itu lagi. Siwon mengambil botol minumannya, ketika ia mencoba membuka tutupnya tiba-tiba seseorang berteriak.

“Eh jangan diminum, itu air minumku!”

Seseorang berteriak dan langsung mengambil botol minuman yang dipegangnya. Sesaat Siwon ternganga tidak mengerti apa yang telah terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Minuman botolnya tiba-tiba sudah berpindah tangan dan isinya langsung menghilang diminum sekali teguk oleh orang itu. Orang itu? Yeoja itu? Mwao? Ottokhae? Kenapa ia bisa di sini, merebut air minumku begitu saja! Tuhan, dia bukan setan, hantu, atau sejenisnya bukan?

Glek glek glek. Tiffany meminum minuman favoritnya dengan sangat cepat. Ia sangat kehausan setelah berjalan-jalan dengan sepeda. Tidak diindahkannya tatapan marah namja yang di depannya. Salah sendiri, kenapa ia mengambil air minumku.

“Are you insane?”

“What?”, Tiffany mendongakkan kepalanya. Mwao? Namja yang ada di bandara itu ada di depannya? Kenapa bisa?

“Hey kau, itu air minumku dan kau mengambilnya. Tidak sopan!”

“Aku tadi memasukan koin ke sini, tapi aku lupa untuk mengambilnya. Sekarang aku kembali untuk mengambil minumanku”

“Apa kau memang ditakdirkan selalu jadi pencuri ya? Aku baru membelinya dan kau, kau mengambilnya begitu saja. Itu air minumku tahu!”, sumpah belum pernah Siwon sekesal dan semarah ini. Ia selalu bisa mengendalikan emosinya tapi yeoja ini, aisssh benar-benar menantang kemarahannya.

“Pencuri? Hey, jangan sembarangan ya kalo ngomong. Aku baru membelinya beberapa detik lalu. Ketika ke sini sudah ada kau. Aku tidak melihat kau memasukkan uang di mesin ini. Jelas kau mengambil minumanku!!”

“Dengarkan baik-baik! Ini minumanku. Tidak perduli kau melihatnya atau tidak, aku membeli minuman ini dengan uangku. Aku memasukan uang ke sini. Botolnya keluar dan kau yeoja tidak tahu diri mengambil dan langsung meminumnya. Sekarang minta maaf, ayo minta maaf dan kembalikan minumanku!”

“Aniyo, aku tidak akan meminta maaf kali ini karena aku tidak bersalah! Kau yang harusnya minta maaf, berani-beraninya menuduhku macam-macam, padahal kau yang salah! Jadi kita impas!”

Siapa juga yang mau minta maaf, Tiffany tidak merasa bersalah sedikitpun. Kemarin memang murni kesalahannya tapi sekarang seharusnya namja itu yang minta maaf.

“Ngeyel banget ya, kemarin sudah buat masalah sekarang kau bikin masalah lagi. Kau ini stalker ya? Kau membuntutiku dari sejak di Incheon kan sampai ke sini?”, tuduh Siwon. Yah ia memang sering berurusan dengan stalker tapi tidak senekad yeoja ini.

”Stalker? What the hell is that? I don’t know you. Memang siapa sih kamu? Artis? Selebritis?”

Jadi ia tidak mengenalku? Seorang warga Negara Korea tidak mengenal Choi Siwon? Siwon menatap yeoja itu aneh. Apa ia tidak pernah bergaul seumur hidupnya? Mungkin ia sedikit berlebihan menganggap semua orang Korea mengenalnya. Tapi sampai saat ini, kemanapun ia pergi, bahkan ke luar negeri sekalipun, semua orang pasti mengenalnya. Sudahlah, rugi jika kau menghabiskan waktumu untuk berpikir tentang yeoja itu.

“Sekarang aku hanya minta kau minta maaf dan kembalikan cider lemon-ku. Ayoo!”

“Tidak mau, harusnya kau yang minta maaf padaku”, yeoja itu tetap menolak. Kenapa sih ia harus berurusan dengan namja ini lagi.

“Kau berani menantangku rupanya ya. Mau berurusan lagi dengan polisi Agasshi?”

“Hah, lapor polisi hanya gara-gara air minum. Nih botolnya kukembalikan. Oh ya kalau kau tidak punya uang untuk membelinya. Nih aku berikan untukmu, gratis tidak usah kau kembalikan”

Yeoja itu mengambalikan botol air minum yang sudah kosong dan mengacungkan beberapa uang receh yen kepada Siwon. Sebagai seorang namja, harga dirinya tidak terima diperlakukan yoeja serendah itu. Ia sangat menghargai yeoja. Tapi yeoja jenis ini bukan untuk diperlakukan baik-baik. Ia menarik tangan Tiffany dan menggeretnya masuk ke kantor polisi.

“Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!”, yeoja itu berteriak-teriak.

“Diam! Kau harus belajar tata krama bersama polisi sekarang!”

Tentu saja kedatangan dua turis asing di kantor Koban yang selalu sepi membuat mereka diperlakukan sangat baik dan professional. Tiffany terus berteriak-teriak supaya tangannya dilepaskan tapi Siwon memegang lengannya sangat kuat.

“Brengsek lepaskan aku!”

Seorang polisi datang menghampiri mereka “May I help you sir, madam?”, rupanya Bapak Koban bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik.

Yeoja itu tidak tahu rencana apa yang ada dipikiran namja itu. Ia sedikit ketakutan karena seumur hidupnya  belum pernah ia berurusan dengan polisi. Dalam benaknya, polisi selalu terkait untuk menyelesaikan masalah kriminal. Dan ia bukan kriminal kan? Ancaman namja itu ternyata tidak main-main.

“Saya ingin melaporkan yeoja ini atas perbuatan tidak menyenangkan”, tuduh Siwon sambil menunjuk Tiffany yang ketakutan.

Polisi itu mengangguk-angguk, “Boleh saya meminta ID anda dan bentuk perbuatan tidak menyenangkan seperti apa yang anda tuduhkan?”

Dua turis asing itu menyerahkan paspornya. Polisi itu mengeceknya sebentar.

“Saya bertemu dia di bandara  dan ia membuntuti saya sampai ke sini. Dan ia juga selalu mencari masalah. Sebagai turis saya merasa diperlakukan tidak menyenangkan oleh dia”

Siwon menunjuk-nunjuk Tiffany dengan pandangan tajam, tampak gurat kekesalan menghiasi wajahnya.

“Saya tidak pernah membuntutinya. Kebetulan saja saya memang berniat ke daerah sini. Ia yang sebenarnya melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Orang ini mengambil minuman saya yang tertinggal di vending machine di depan sana”, Fany membela diri

“Maksudnya, vending machine yang dekat dengan restoran soba itu?”, tanya polisi lebih lanjut.

“Iya iya betul di situ”, jawab Fany mantap.

“Kapan terakhir anda meninggalkan vending machine? Apa minuman yang anda beli? Dan berapa koin yang anda masukkan? Oh ya anda ke sini dengan berjalan kaki atau bersepeda. Jika bersepeda, bisa menyebutkan spesifikasinya”

Tiffany bingung, kok pertanyaan polisi ini jadi mengarah ke air minumnya.  

“Sekitar pukul 11 siang, saya beli cider lemon, koinnya 200 yen. Rasanya seperti itu. Saya ke sini dengan sepeda, saya menyewanya”, yeoja itu lantas menyerahkan tanda bukti bicycle rental pada Bapak Koban.

Polisi itu tersenyum kemudian berbalik memasuki sebuah ruangan kemudian datang lagi dengan membawa botol minuman ‘cider lemon’? Hah! Apa maksudnya? Ia mau memberikannya gratis pada Fany?

“Seseorang menyerahkan botol minuman ini kemari. Ia menyebutkan bahwa minuman ini tertinggal oleh seorang perempuan bersepeda dengan ciri-ciri seperti anda tepat pada jam yang tadi anda katakan”

Suasana hening sejenak. Tiffany tidak tahu harus sedih atau senang. Cider lemon-nya sudah kembali bukan? Keajaiban jenis apa ini? Seseorang menemukan minuman yang hanya berharga 200 yen dan berinisiatif melaporkannya kepada polisi. Tapi itu berarti, cider lemon yang ia minum tadi bukan miliknya. Itu pasti milik namja itu. Aissh, kebodohan ini terulang lagi, untuk kedua kalinya dengan namja yang sama. Muka Tiffany sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu. Ia tidak mampu menatap Siwon.

Tuh kan, apa kubilang. Dasar yeoja bodoh, aneh! Siwon menggerutu dalam hati. Walaupun ini bukan pertempuran tapi ia merasa menang. Ia senang keadilan dapat ditegakkan walaupun masalahnya hanya sebotol minuman murah yang harganya hanya 200 yen. Sebagai seorang businessman dan member Super Junior, apalah arti 200 yen. Tapi ini bukan masalah besar kecilnya nilai uang. Ini masalah keadilan dan harga diri tentu saja. Seumur hidupnya, belum pernah ia diperlakukan rendah oleh siapapun. Yeoja ini memang pantas diberi pelajaran. Siwon tersenyum sinis, walaupun dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak. Kecerobohan yeoja itu jadi tampak menggelikan untuknya.

Tiffany menunduk. Ia sudah tidak berani menatap Siwon. Lagi-lagi ia harus minta maaf.

 “Cider Lemon ini untukmu”, cuma kata-kata seperti itu yang dapat terucapkan sambil mengacungkan botol minuman itu ke arah Siwon.

“Tidak perlu. Aku bisa membeli pabriknya jika mau”, SIwon menjawab dingin.

Cih sombong sekali orang ini. Tapi Tiffany tidak mau bertengkar lagi. Ia takut namja itu nekat membawanya lagi ke kantor polisi. Sekarang mereka sudah ada di luar kantor polisi. Beberapa polisi yang mengetahui kejadian tadi hanya tersenyum memandangi mereka. Dasar turis Korea yang aneh!

“Hmm baiklah aku mengaku salah”

“Hanya itu saja?”, tanya namja itu lebih lanjut.

“Maksudmu?”

“Kau bersalah, jelas kau bersalah. Tapi kau hanya mengatakan ‘mengaku bersalah’? Mana minta maafnya”

Tiffany merutuk dalam hati, tentu namja itu menuntutnya untuk minta maaf. Kemarin ia sampai membungkuk 90 derajat selama beberapa menit untuk minta maaf dan sekarang ia harus mengulanginya lagi, pada namja yang sama! Ah, ia harus mengalahkan ego-nya untuk bisa mengatakan itu. Dengan berjalan menggandeng sepedanya, ia memandang sekeliling, ia takut ada orang yang mengenalnya dan kemudian mendengarnya berkata Mianhamnida. Semua yang pernah dekat dengannya pasti akan terkejut karena ia memang jarang menggunakan kata-kata itu. Untuk beberapa hal ia memang terlalu angkuh apalagi jika itu menyangkut ego dan harga dirinya. Tapi tunggu, di ujung matanya ia melihat Appa dan Omma sedang bersepeda. Mata kedua orangtuanya itu celingak celinguk ke sana kemari seperti sedang mencari seseorang. Ya ampun pasti mereka sedang mencariku, rutuk Fany dalam hati. Ia harus kabur. Jangan sampai kedua orangtuanya menemukan dirinya.

“Sekarang aku hanya ingin mendengar permintaan maafmu dan kau akan kulepaskan”  Siwon mencengkram tangan Fany sambil melangkah melangkah tanpa tahu apa yang ada di pikiran yeoja di sebelahnya.

Krik Krik krik, tidak ada jawaban. Wajah yeoja itu tampak pucat pasi.

“Hey, kau! Telingamu kau simpan dimana? Ayo bilang minta maaf. Aku ingin permintaan maaf yang tulus dan bukan dibuat-buat”

“Hmm, aku harus pergi!”

“Maksudnya?”

Dalam beberapa detik, yeoja itu langsung melepaskan pegangan tangan Siwon, dengan kecepatan kuda ia langsung mengayuh sepedanya sambil berbalik arah dengan begitu cepat. Siwon terkejut, lagi-lagi yeoja itu mengerjainya.

“Jeongmal miahamnida Tuan Choi Siwoooooon!”, Tiffany berteriak menjauhi Siwon sambil mengendari sepedanya sekencang mungkin.

“Hey Kau!” tapi sia-sia yeoja itu sudah kabur begitu saja. Dasar tidak tahu diri! Sudah mengambil travel bag-nya, minumannya, sekarang disuruh minta maaf malah kabur. Mood Siwon benar-benar drop sore itu. Ia sudah mencoba menurunkan level amarahnya tapi yeoja itu benar-benar tidak tahu diuntung.  Kenapa Tuhan masih mempertemukan dirinya dengan yeoja aneh itu. Mudah-mudahan nasib buruk ini hanya berakhir sampai di sini. Di malam yang penting nanti, Siwon berharap nasib baik yang akan mendatanginya.

Tiffany mengayuh sepedanya dengan kencang menuju hotel, masuk ke kamarnya dan bersembunyi di sana. Ia harus menghindar dari spionase Appa dan Omma. Pasti namja nyebelin itu marah sekali karena ia nekat kabur. Terus terang ia tidak pernah bersikap selepas itu pada seorang namja. Ia sendiri terkejut karena dirinya bisa menjadi Tiffany yang asli di hadapan orang itu. Ia ingat perkataan Jessica.

“Kepribadianmu itu sebenarnya hanya ada tiga C: Cuek, Ceroboh, Canggung “. Jessica memang paling senang menganalisa kepribadiannya,”Careless, clumsy, and akward”

“Mwo?”

“Ne, tapi kau berpura-pura  menjadi yeoja yang sempurna idaman namjadeul. Kau berhasil, aktingmu sempurna”

Yeah demi nama baik leluhur, demi warisan perusahaan, dan demi menjaga harkat martabat keluarga Hwang yang terkenal.

Fany melihat jam tangannya, aish sudah pukul lima. Acara pertemuannya sendiri berlangsung jam 7 malam. Dan sampai saat ini ia belum menemukan satu ide-pun untuk bisa menghindar dari perjodohan ini. Kepalanya pusing, rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

 

To Be Continued

Author: FF ini kayaknya agak panjang dari serial Doubt in Love, enggak apa-apa kan readers? Soalnya numbuhin feeling diantara kedua orang antik ini memang takes time banget, ga bisa ujug-ujug suka gitu deeh. Mudah-mudahan readers suka ya. Pengen next part publish lebih cepet lagi? Jangan lupa ya RCL xixixi, kritikan n komen readers itu berharga banget loh buat authors. Gomawo dah baca bowing bowing 90 derajat kayak Fanny ke Siwon 🙂

137 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 2)

  1. Haha,,fany…2x
    ade2 aje..
    Bner kta jessika..drmu cuek,,cerboh dan cnggung..
    Bsa2 nya brmslah ma siwon dlm hri yg sma..
    Mna g’ tw lgi klw siwon tu artis..hadeehh

  2. Pingback: SIWON THE BOSS – YOURMIND·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s