[6th] Telepathy: Secrects, Bloody, and Prohibition

[6th] Telepathy: Secrets, Bloody, and Prohibiton

AUTHOR               : IFALOYSHEE

MAIN CASTS         : Krsytal Jung, Choi Minho, Lee Donghae, Cho Hara (OC)

OTHER CASTS      : Kim Myungsoo/ L, Kang Jihyun/ Soyu, Choi Jinri/Sulli.

GENRE  : FANTASY, ROMANCE

DISC                       : All of this story  from now on, are pure from my Imagination. Dont like the pairing, better you dont read. The casts are belong to their fans. Except Cho Hara, she is an Original CHaracter. Just belong to me. Dont ever copy my idea, or copy this story. If you want to reblog this, or copy this, just ask me first and credit me.

“dia bisa membaca pikiran, dia bisa melihat masa depan dengan jelas, instingnya paling bagus diantara semua makhluk hidup, dan tentu saja dia juga bisa melakukan telepati…..”

prologChapter 1 Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Warn: 4000+ words, contain some bloody scenes, TBC  placed at right area ROFL, annoying Lee Donghae.

***

Ruangan besar dengan cahaya remang-remang ini terlihat sepi, bukan terlihat lagi tapi memang benar-benar tidak ada orang disana kecuali dua gadis yang kini saling melihat satu sama lain dalam diam.

Studio tari di kawasan yang tidak jauh dari Seoul, dengan jendela yang tertutup dan hanya menyisakan ventilasi udara di atas masing-masing jendela, terbuka sehingga memberikan celah cahaya disana.

“jadi ini studio milikmu?” Tanya Cho Hara dengan kepalanya yang menengok tidak beraturan melihat setiap bagian dari ruangan besar yang ia pijak sekarang.

“tapi seumur hidupku, Donghae tidak pernah memberitahuku kalau dia memilki saudara  perempuan sepertimu, Kang Jihyun-ssi.” Ucap Hara lagi sedangkan gadis dihadapannya masih diam menatap Hara dengan mata sinisnya.

Kang Jihyun, atau yang akrab dipanggil Soyu itu berjalan beberapa langkah mendekati Hara dengan pelan sehingga membuat heelsnya yang berbenturan dengan lantai terdengar jelas. Ia tersenyum sinis, masih menatap Hara.

“jadi dia tidak pernah memberitahumu? Alasannya karena aku bukan saudaranya.”

Hara mendongakkan kepalanya kemudian mengangguk. “arasseo. Kau berbohong padaku untuk memancingku agar mau pergi denganmu kan? Aku sudah tahu itu sejak awal.” Jelasnya dengan nada suara yang menyebalkan.

Soyu menajamkan pandangannya pada hara, tidak menyangka kalau gadis didepannya ini tau strateginya. “dari awal kau memang selalu membuatku kesal.”

“aku tahu Donghae, bagaimana kemampuannya, bagaimana kehidupannya dulu sebelum dia berbaur dengan manusia dan segala hal yang berhubungan dengan makhluk yang sejenis dengannya. Ya walaupun terkadang aku merasa kalau dia masih menyembunyikan beberapa hal dariku.”

“kau tahu aku?”

“sejujurnya tidak. Karena Donghae tidak pernah menyebutkan namamu sebelumnya tapi dia berkata kalau aku bertemu dengan seseorang yang memiliki bola mata berwarna cokelat pekat dan bau yang khas seperti Donghae maka aku harus segera menghindar.”

“menghindar? Donghae berkata seperti itu?” seru Soyu.

“Ne. Karena kebanyakan dari tipikal makhluk seperti Donghae itu tidak begitu ramah terhadap manusia.”

Soyu tertawa mendengar kalimat Hara barusan. “konyol. Begitu cintanya kah Donghae padamu sampai dia menyuruhmu menghindariku hanya karena aku tidak ramah pada manusia?”

“tentu saja.”  Jawab hara singkat dengan ekspresi yang begitu menyebalkan dimata Soyu. Reflek Soyu mendorong Hara dengan kasar, merasa semakin muak dengan manusia satu itu.

Dengan keras tubuh Hara jatuh ke lantai, punggungnya membentur lantai dengan keras namun gadis itu hanya merintih sangat pelan, begitu pelannya sampai Soyu tidak mendengarnya dan mengira Hara tidak merasakan sakit apapun.

“semenjak Donghae bertemu denganmu, dia melupakan kami dan juga derajatnya. Dia bertingkah layaknya manusia biasa dan mulai meninggalkan kami bahkan dia juga membawa Krystal, adik satu-satunya untuk jauh dari jangkauan kami. Dan yang lebih membuatku muat sekarang, Donghae membantu Krystal menghilangkan telepati Krystal.”

“lalu kenapa?”

“KENAPA?! Pria amis itu tidak tahu diri! Berbuat seenaknya sendiri! Dan kaulah penyebab semua ini, kalau saja dia tidak bertemu denganmu pasti Donghae masih bersama kami di Canada.” Seru Soyu penuh emosi, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis-yang-menurutnya-pencuci-otak-donghae ini dengan berhadap-hadapan langsung seperti sekarang ini. Kekesalan yang ia pendam selama entah berapa  lama itu ingin ia luapkan saat ini juga.

Hara bangkit untuk duduk, ia mendongak untuk melihat Soyu dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu tertawa meremehkan. “lalu apa maumu?”

“mauku?” Soyu berjalan memutari Hara dengan tatapan yang masih melihat kearah hara dengan sinis kemudian Soyu berhenti tepat didepan Hara, ia berjongkok sedikit membuat gaun ketat pendeknya itu tertarik sedikit keatas.

“mauku, Myungsoo juga CL…..sama. membuat Donghae kembali pada kami bagaimanapun caranya.” Desis Soyu pelan, tepat beberapa centi didepan wajah Hara.

“dan membawa Soojung juga, lalu membuatmu hidup tanpa mereka berdua.” Lanjutnya.

Hara memang tidak banyak bicara, ia hanya diam walaupun diotaknya sudah terancang berbagai cara untuk memaki Soyu.

“kami memiliki dunia sendiri, dan kau juga Cho Hara. Jadi kembalilah kedunia manusiamu itu jangan sok jatuh cinta pada Donghae, arachi?”

“Andwaeyo.”

Hanya satu kalimat itu yang Hara ucapkan. Tidak dipungkiri lagi, Soyu semakin emosi kali ini. Bahwa  mengancam Cho hara tidak semudah yang ia pikirkan, yang Soyu perkirakan kalau Hara hanyalah gadis tengik yang akan menangis jika ditatap sinis atau berlari karena takut dengannya. Kenyataannya hal itu berbanding jauh.

“sial. Donghae sengaja membuat kami tidak bisa membaca pikiranmu, entahlah bagaimana caranya tapi aku akui kalau Donghae sangat berbakat dengan kemampuannya. Kau dan Donghae….sama-sama makhluk sial!”

“kalau begitu biarkan aku dan Donghae hidup tentram diapartemen, tidak usah repot-repot mengurusi kami, Soyu-ssi.”

“bukankah dia playboy? Kau tahan hidup dengannya? Hahaha ironis sekali.”

Hara meneguk ludahnya, berusaha menahan rasa sakitnya mengingat kenyataan kalau Donghae tidak mencintainya bahkan menolaknya terang-terangan. “aku tahan.”

“kau…manusia rendahan.” Ejek Soyu seenaknya, namun Hara hanya mengangkat sebelah alisnya meledek Soyu.

“setidaknya manusia rendahan sepertiku selalu mendapat kecupan manis dari Donghae.”

“mwoya?! Dia sering menciumu? Aku tahu kalian berdua tinggal satu apartemen tetapi….jangan katakan kalau kau…”

“Donghae memiliki aroma yang berbeda dari manusia, dia harum dan aroma itu tidak pernah hilang dari tubuhnya. Oh ya, dia juga memiliki otot diperutnya yang bagus.” Sengaja Hara merangkai kalimatnya untuk memanas-manasi Soyu untuk membuat Soyu berpikir kearah yang tidak-tidak.

“sial. Berapa kali kalian melakukan…nya? kau tahu kalau Donghae juga sama seperti manusia pria lainnya. Ia bisa membuatmu hamil! Demi Tuhan, aku bersumpah pria itu akan mendapatkan sanksi yang—“

“sebelum kau menyumpahinya aku harus menyela ucapanmu. Jangan berani kau menyumpahi Donghae didepanku dan aku rasa kau boleh kembali ke Canada sekarang, karena aku harus pulang. Aku tidak menghubungi Donghae seharian ini.”

Hara hampir bangkit berdiri sebelum tangan Soyu menariknya membuat tubuh Hara kembali terduduk dilantai. “jelaskan padaku lebih jauh!”

Dengan seenaknya Hara menghempaskan tangan Soyu, kemudian berdiri lalu tersenyum sinis. “dasar bodoh. Ternyata makhluk-yang-kau-bilang-derajatnya-lebih-dari-manusia itu bisa aku bohongi juga, konyol. Aku kan hanya manusia RENDAHAN? Begitu kan? Dan kau baru saja tertipu oleh manusia rendahan sepertiku.”

Soyu mengerutkan dahinya bingung kemudian ikut berdiri dan menatap Hara sinis. “jadi kau dan Donghae tidak pernah melakukan hal-hal itu di apartemen?” desisnya.

”tentu saja tidak pernah. Kau pikir aku manusia murahan? Kau pikir aku sama seperti gadis-gadis yang Donghae kencani setiap harinya itu? aku memang mencintai Lee Donghae tapi pria itu….pria itu menganggapku tak lebih dari seorang adik.”

Soyu masih terdiam ditempat sampai suara sepatu kets Hara terdengar, Hara berjalan mundur dengan pelan ia sungguh ingin keluar dari tempat ini. Tapi langkah Hara terhenti ketika melihat perubahan warna bola mata Soyu, dari cokelat pekat menjadi merah kehitam-hitaman. Hara tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ia tahu. Dan dengan secepat kilat Hara berbalik untuk berlari kearah pintu tapi tiba-tiba langkahnya terasa berat dan tubuh Hara kembali berbalik kearah Soyu dengan sendirinya.

***

Cho Hara’s

Demi Tuhan hal ini tidak terpikirkan olehku sebelumnya, seharusnya aku sadar sedari tadi kalau Soyu tpasti akan menggunakan telepatinya cepat ataupun lambat. Dan benar saja, sekarang aku merasa tubuhku terkunci! Tidak bisa bergerak sedikitpun, hanya jari-jariku yang gemetar.

Bola mata merah kehitaman itu semakin menatapku dengan tajam, hanya dengan tatapan Soyu saja aku merasa mataku sendiri panas, seperti berdiri tepat dibawah matahari.

Perlahan tangan dan kakiku sudah bisa aku kontrol, sudah bisa digerakkan namun bersamaan dengan itu rasa sakit terasa menjulur keseluruh tubuhku. Panas dan perih. Tanganku terangkat menekan dadaku yang terasa sesak bukan main seperti dihantam oleh  batu.

Soyu masih diam tidak jauh didepanku dengan sorot matanya yang masih sama, tajam. Ia melipat kedua tangannya didepan perutnya lalu seringaian muncul diwajahnya ketika ia mengirimkan rasa sakit ke perutku.

Dan sial, kenapa rasanya bisa sesakit ini?!

Ini untuk pertama kalinya aku mendapat perlakuan telepati. Dan Demi Tuhan aku akan lebih memilih mengiris tanganku sendiri dengan pisau dibandingkan menahan banyak rasa sakit, perih dan panas yang bergemuruh didalam tubuhku.

“aku memang tidak sehebat Krystal ataupun CL. Aku tidak bisa menelepati seseorang sampai meninggal, tapi aku bisa membuatmu menahan rasa sakit seperti ini selama lima jam. Atau kalau aku beruntung, bisa sampai besok pagi. Kau mau yang mana Cho hara?”

Sepuluh menit saja aku rasanya seperti mau mati! Bagaimana kalau lima jam? Apalagi sampai BESOK PAGI? Gila. Ini sungguh gila.

Nafasku mulai tersendat-sendat, dan kini giliran kepalaku merasakan pusing yang amat hebat. Tanganku kini beralih untuk memegang kepalaku sendiri berharap jika aku memukulnya pelan bisa menghilangkan rasa sakit. Tapi….tentu saja nihil. Bahkan ini lebih parah….

Setetes darah keluar dari dalam hidungku, mengalir kemudian jatuh dipermukaan kaus putihku meninggalkan noda merah disana.

“bagaimana rasanya, Cho Hara?”

Aku hanya menggeleng masih dengan nafas putus-putus, ingin sekali berteriak pada Soyu untuk menghentikan semua ini tapi aku tidak punya tenaga untuk berbicara.

BRAK.

Aku merasakan angin malam menerpa punggungku setelah aku mendengar bunyi pintu terbuka dengan keras. seketika ekspresi  Soyu langsung  berubah. “lee donghae…” gumam Soyu pelan. Sedetik kemudian tubuh Soyu terlempar keras  ke dinding tanpa ada seseorang yang mendorongnya. Aku merasakan perlahan tubuhku mulai bisa digerakan namun rasa sakitnya belum juga hilang. Dengan pelan aku membalikkan tubuhku, menemukan Donghae yang berdiri diambang pintu dengan nafas tersengal.

Aku melirik ke arah Soyu yang pingsan dilantai, aku yakin kalau Donghae yang membuatnya pingsan seperti itu.

Pria itu….Lee Donghae berlari menghampiriku kemudian memelukku sebentar, ia memandangku dengan tatapan sayu. Tepat sepersekian detik setelahnya aku merasakan mual diperutku dan tanpa sadar aku memutahkan darah tepat kepermukaan kemeja abu-abu milik Donghae.

“Hara…” ucap Donghae pelan, tangannya masih memegang punggungku kemudian mengelusnya perlahan. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca sekarang.

Aku kembali memuntahkan darah selama beberapa kali, tanganku terangkat untuk menutupi mulutku tapi darah masih juga keluar membuat telapak tanganku dipenuhi cairan merah kental sekarang.

Aku mendongak untuk melihat wajah Donghae, rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi itu kini berantakan. Entah kenapa. Rasa sakit itu datang lagi, menyerang perutku dan reflek tanganku langsung menekan perutku sendiri.

Donghae mengeluarkan setetes air mata kemudian memelukku lagi tidak peduli dengan bau anyir darah yang tercium begitu menyengat sekarang, dia malah memelukku erat sekali sampai aku sulit mengambil nafas.

Lipstick-mark berwarna pink yang mengecap di leher Donghae.

Aku menghela nafas merasa ada rasa sakit di dadaku yang bahkan rasanya lebih dari telepati Soyu tadi. Aku hanya tidak habis pikir….kenapa aku mau memperjuangkan pria brengsek sepertinya ditempat ini, menggantungkan nyawaku? Sementara dia bersenang-senang dengan wanita lain?

Oke, aku tahu kalau aku memang tidak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita Donghae itu kan? Tapi setidaknya perhatikan aku sebagai gadis yang kau anggap sebagai dongsaengmu ini, bisa kan Lee Donghae?

Aku tahu kau akhirnya datang dan menyelamatkanku walaupun sedikit terlambat. Tapi bahkan melihat lipstick pink dilehermu itu mengubah persepsiku untuk memilih mati ditangan Soyu saja. Aku…hanya tidak mau terlihat bodoh bahwa manusia sepertiku sok membelamu didepan mahkluk “tinggi derajat” seperti Soyu.

Tapi Lee Donghae memelukku, dia bahkan menangis untukku.

Oke, dia hanya prihatin.

Sepertinya satu kesimpulan itu yang aku anggap benar.

“nal puleo…” [release me]

Aku berusaha melepas diri dari pelukan Donghae, aku benci pria brengsek ini. Aku harus membencinya. Tapi Donghae malah mengeratkan pelukannya.

“Aniyo.”

“Lee Donghae jebal….”

Bodohnya dia malah mengusap rambutku pelan seolah menenangkanku. Dia memang tidak bisa membaca pikiranku tapi apakah sebegitu tidak pekanya perasaan Donghae sampai dia tidak mengerti apa yang aku rasakan sekarang?

“aku tidak bisa bernafas. Lepas, aku mohon Donghae.”

Perlahan Donghae melepaskan pelukannya kemudian matanya melebar kaget melihat wajahku. “kenapa menangis?” tanyanya khawatir.

“tidak apa-apa…sungguh.” ucapku tenang tapi bodohnya air mataku mengalir lagi begitu saja.

“apakah begitu sakit sampai kau menangis?”

Aku menggelengkan kepala, kemudian memaksakan senyuman didepan Donghae. “tidak apa-apa. Ah, aku menodai kemejamu Donghae-ah? Kita harus segera pulang dan aku akan mencucinya sebelum nodanya menjadi permanen.”

Donghae hanya diam sambil melihatku, namun tidak bereaksi apapun hanya bola matanya yang bergerak-gerak menyusuri wajahku. “hal yang aku benci didunia ini…adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tidak bisa membaca pikiranmu. Aku tidak tahu kapan kau berbohong dan kapan kau jujur.”

“aku….jujur.”

Donghae tersenyum kecut, dia selalu tahu kalau aku berbohong tapi dia tidak tau dimana letak kebohonganku yang sebenarnya. Jari-jari Donghae terangkat mengelap ujung bibirku yang terdapat bercak merah disana. Kemudian wajahnya mendekat mengecup keningku cukup lama.

“Cho Hara…aku…aku…”

“Hmm?”

“aku…Lee Donghae si pria brengsek harus membawamu pulang sekarang. Kajja.”

***

Krystal Jung sibuk dengan pikirannya sendiri, ia memilih duduk diam sementara Sulli dengan Minho sibuk mendekorasi ruangan dengan pita-pita yang bermacam-macam warnanya itu. mereka bertiga sudah sejak tadi berada di rumah Sulli, mendekorasi ruangan untuk birthday-party  Sulli besok.

Minho lebih dulu datang untuk membantu Sulli dan ketika Krystal datang, dekorasinya sudah hampir selesai. Memang bukan pesta yang terlalu besar, hanya pesta kecil yang dibuat oleh Sulli sendiri dibantu oleh sahabat dekatnya seperti Krystal, tentu saja karena untuk minggu-minggu ini Krystal terus menghabiskan waktunya bersama Minho, Sulli juga sudah mengenalnya dengan baik sekarang.

Awalnya Krystal excited ketika Sulli meminta bantuannya tapi pertemuannya dengan Myungsoo sore tadi menghancurkan semua mood baiknya. ‘dulu? Aku memiliki kemampuan ini sejak dulu. Yang perlu kau tahu bahwa derajatku ini lebih tinggi dari manusia. Itulah kenapa aku tidak diperbolehkan berhubungan denganmu, tapi kini kau berada di garis yang sama denganku, Krystal Jung. Jadi menurutmu bagaimana kesimpulannya?’ jelas kalimat yang diucapkan Myungsoo tadi sangat membekas dipikiran Krystal. Krystal berpikir…apakah maksud Myungsoo itu mengajaknya kembali ke masa lalu? Mengajak Krystal untuk kembali menjadi sepasang kekasih?

Demi Tuhan Krystal memang membenci pria itu tapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau satu-satunya pria yang ia cintai tetap sama, Kim Myungsoo. Dan belum berubah sampai saat ini.

Krystal menghela nafasnya, kemudian melirik kearah Minho yang sibuk bermain balon dengan Sulli. Ya, pria-pengecualian itu yang harus ia kejar sekarang. Krystal harus fokus dan tidak boleh terusik oleh masa lalunya.

Dan hal yang masih membuatnya shock sampai saat ini….Myungsoo ternyata sama dengannya? Sama-sama makhluk supernatural yang bahkan tidak pernah Krystal bayangkan akan kehadirannya ke dunia manusia.

“hahahahahaha aigoo! Jadi saat kecil dulu kau pernah menangis karena mendengar suara balon meletus? Jinjjayo! Itu sungguh menggelikan! Berapa umurmu saat itu Minho-ya?” Sulli tertawa heboh sambil memegangi perutnya, sebelah tangannya memegang balon kemudian memukul-mukul balon tersebut kekepala Minho.

“Ya itu memang menggelikan sekali ssul, saat itu umurku sekitar delapan tahun. Apakah aku terlalu dewasa untuk menangisi hal konyol seperti itu? Hahahaha”

“Ne! Tentu saja. Kau kekanakan sekali, jangan-jangan sampai sekarang kau masih menangis jika mendengar suara balon meletus? Benar kan? Hahahaha”

Minho dengan cepat menjitak kepala Sulli lalu merengut “Aniyo!” serunya. Sulli malah menertawakannya lagi semakin keras, menertawakan ekspresi Minho yang kesal seperti anak kecil.

Krystal hanya terkekeh kecil melihatnya, Sulli memang tipikal gadis yang menyenangkan jadi siapapun yang bersamanya pasti akan merasa nyaman dan tidak pernah bosan. Dan Krystal sendiri pembawaannya terlalu serius, berbeda dengan Sulli.

Krystal mengambil smartphone nya, memperhatikan gantungan berwarna silver itu. memegangnya dan membolak –balikan benda silver itu tanpa maksud apapun. Ukiran nama itu masih terlihat jelas.

Kim Myungsoo | Krystal Jung

Ia ingat, gantungan ini diberikan oleh Myungsoo di hari terakhir sebelum Myungsoo menghilang entah kemana. Sewaktu itu Myungsoo nekat menemui Krystal memanjat sampai jendela kamar Krystal lalu memberikan gantungan silver itu. karena Hara maupun Donghae keduanya tidak menyukai Myungsoo, dan saat itu Donghae menjaga Krystal ketat bagaimanapun caranya tidak memperbolehkannya menemui Myungsoo ataupun Myungsoo sendiri yang menemui Krystal.

Dan sekarang Krystal yakin sekali kalau Donghae pasti memiliki alasan yang cukup penting untuk hal itu. dan bagaimanapun caranya Krystal ingin sekali tahu.

“Teh hijau?”

Lamunan Krystal buyar seketika melihat cangkir putih yang tersodor didepan wajahnya. Krystal mendongak, melihat Minho yang sedang menunduk kearahnya sambil tersenyum.

“aku bisa menjadi pendengar yang baik kalau kau mau bercerita,” ucap Minho meletakkan teh tersebut ke atas meja kemudian duduk disebelah Krystal.

“dia pasti pria yang sangat penting bagimu ya?” Ujar Minho to the point. Ia ikut melihat kearah gantungan silver milik Krystal kemudian menyentuhnya.

“maksudmu Myungsoo? Dia sungguh bukan siapa-siapa. Hanya seseorang dimasa lalu dan tidak berarti apa-apa lagi sekarang.” Jawab Krystal.

“oh tapi dia sempat menjadi seseorang yang penting dimasa lalu kan?”

Tepat sasaran. Jawab Krystal dalam hati. Bagaimana bisa Minho mengenal dirinya sebaik ini? Maksudnya…dia seperti begitu tahu tentang apa yang Krystal rasakan.

“tapi…well, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu sekarang. Bisakah kita tidak membahas hal ini? Ngomong-ngomong dimana Sulli?”

“dia sedang ke belakang sebentar.”

“Krys, apakah Donghae hyung sudah menemukan Hara?” tanya Minho. Krystal membelalakan matanya secara tiba-tiba ia baru ingat akan hal ini. Sungguh Krystal baru ingat kalau Donghae tadi sempat kelabakan mencari Hara.

“M-Mollayo.” Krystal menggelengkan kepalanya pelan.

“bagaimana kalau aku menelponnya saja?”

“bukankah Donghae hyung tadi berkata kalau nomor Hara tidak aktif kan?”

“Ah~ aish, aku baru ingat.” Krystal menepuk dahinya pelan kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Minho, “aku merasa ada sesuatu yang….”

Minho memandang Krystal bingung tepat ketika Krystal menggantungkan kalimatnya. “sesuatu yang apa?” tanyanya bingung.

Krystal hanya diam saja, ia memejamkan matanya mencoba berpikir lebih keras.

“kau hubungi saja Donghae hyung.”

“Andwae!!!” seru krystal keras, membuat Minho sedikit terlonjak kaget.

“Wae?”

“gwenchana Soojung-ah? Aku mendengarmu berteriak tadi.” Sulli datang tiba-tiba dengan celemek masih menggantung ditubuh kurusnya itu.

Krystal hanya diam saja lalu tiba-tiba ekspresinya terlihat kosong. Rahangnya terlihat lebih tegas dan dahinya mengerut begitu saja. “ssul…minggir.”

“eh?”

“minggir.” Tegas Krystal lagi lebih keras. Sulli kemudian menggeser posisi tubuhnya beberapa centi, ia dan Minho sama-sama melihat Krystal dengan bingung.

Mata Krystal tertuju pada pigura yang terpasang ditembok tidak jauh dihadapannya yang terdapat fotonya, Sulli dan Hara sedang bermain ski. Foto yang diambil sekitar beberapa bulan yang lalu dan sengaja Sulli pasang di ruang utama karena menurutnya foto tersebut bagus, meskipun Krystal terus protes mengenai rambutnya yang terlihat berantakan di foto itu.

Tapi bukan itu masalahnya.

Mata Krystal yang sedetik lalu pupilnya berubah warna menjadi merah gelap itu memandang wajah Hara didalam foto itu. wajah Krystal masih terlihat tanpa ekspresi.

“pulpen.” Gumam Krystal pelan sekali hampir tidak terdengar malahan.

Sulli segera berbalik dan berjalan menuju meja yang tidak jauh darinya, kemudian membuka lacinya dan mengambil sebuah pulpen hitam disana.

“kertas.” Gumam Krystal lagi.

Sulli diam sebentar kemudian mengambil kertas putih polos didalam laci tersebut. Ia berbalik lagi berjalan menuju Krystal lalu meletakkan kertas dan pulpen tersebut diatas meja.

Krystal dengan sigap memegang pulpen dan menggerak-gerakannya diatas kertas namun tidak menyentuhnya, sedetik kemudian ia menorehkan tinta diatas kertas putih tersebut.

Cho Hara

Hospital

Blood

Sulli terdiam sebentar kemudian menganggukseolah mengerti apa maksud tulisan Krystal sedangkan Minho masih duduk dengan bingung, sesekali ia melirik kearah Sulli yang kini ekspresinya sama seriusnya dengan Krystal.

Sulli terduduk didepan Krystal sambil memperhatikan raut wajah Krystal.

Krystal kembali menuliskan sesuatu diatas kertas, kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya.

Dance room

Dark studio

Tears

Peck

Lee Donghae

Ia terdiam sebentar. Didalam pikiran Krystal muncul bayang-bayang Hara yang berdiri di dalam studio gelap, lalu tiba – tiba tubuh Hara terbanting ke lantai. Bayangan itu kabur dan tampak blur, Krystal meng-konsentrasikan dirinya lagi. Kali ini ia melihat gambaran Donghae sedang berlari dari dalam mobilnya menuju ruangan tempat Hara tadi dan tepat saat itu juga bayangan dipikiran Krystal hilang begitu saja, yang terakhir Krystal ‘lihat’ adalah Hara yang memuntahkan darah ketika Donghae memeluknya.

Lalu dengan cepat Krystal kembali menulis diatas kertas lagi, dua kalimat terakhir.

Night

Telepathy

Trak. Pulpen tersebut Krystal lepaskan begitu saja, kemudian lama kelamaan pupil matanya kembali berubah warna menjadi hitam seperti biasanya. Krystal melirik kearah Sulli yang masih duduk didepannya dengan mewanti ucapan yang terlontar dari mulut Krystal.

“kita cari hara sekarang. Ia dalam bahaya.” Ucap Krystal bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Sulli dengan paksa.

“bahaya?”

“kau tidak perlu kujelaskan dua kali kan?” desis Krystal pelan sambil melirik kearah Minho yang masih memperhatikan tulisan Krystal dengan dahi mengernyit.

“Minho-ya kau bisa jaga rumah Sulli sebentar? Aku ada urusan penting dengan Sulli dan harus pergi sekarang. Arachi?”

Minho mendongak kemudian menoleh kearah jendela besar ditembok sebelah kanannya. “hujan salju begitu lebat. Lebih baik nanti saja.” Ucapnya datar.

“aish!! Aku harus pergi sekarang, ini penting.”

“tapi Soojung-ah….” Sulli melirik kearah jendela kemudian kembali melihat kearah Krystal. “salju sangat lebat. Diluar pasti sangat dingin.”

“memangnya aku peduli?” ujar Krystal acuh, dia mengambil jaketnya dan mengantungi kunci mobil kedalam saku jaketnya.

***

Midnight at Seoul International Hospital

Krystal membuka pintu menemukan ruangan VIP yang sunyi. Hanya terdengar bunyi alat-alat rumah sakit yang ia tidak tahu apa namanya itu dan juga helaan nafas dari pria yang kini sedang duduk menunduk dengan kedua tangannya menopang dahinya.

Ia bisa melihat Hara yang terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat itu.

“jadi ini benar-benar terjadi?” ucap Krystal pelan nyaris tanpa suara. Matanya memandang kearah Donghae dengan tajam begitu Donghae menoleh kearahnya. Krystal tahu. Ia melihat semuanya dan tidak bisa dipungkiri lagi kalau Donghae lah satu-satunya yang patut Krystal salahkan.

Donghae bangkit dari duduknya, memandang Krystal dengan matanya yang lelah itu. “kau sudah tahu semua kan Klee? Aku yakin kau pasti sudah mengetahui hal ini sebelum semuanya benar-benar terjadi bukan? Dan kenapa kau baru datang?! Kenapa kau tidak langsung datang ke studio tari itu dan menyelamatkan Hara hah?!”

“kau jangan marah padaku! Aku sudah berusaha, Donghae oppa! Kau tahu dijalan salju turun lebat sekali dan kau tahu kalau aku bukan pengemudi yang baik. Sulli dan Minho melarangku pergi tapi aku tetap pergi saja, walaupun aku menyesal karena datang tidak tepat waktunya.”

“Arasseo. Jangan berbicara terlalu keras Klee, ini tengah malam dan kita berada dirumah sakit sekarang. Baiklah aku mengerti, kau juga sama sepertiku kita sama-sama sudah berusaha tapi setidaknya aku tidak datang terlalu telat.”

“tidak terlalu telat katamu?” Krystal tanpa dikontrol mendorong bahu Donghae. “kau tidak lihat kondisi Hara sekarang?! Tentu saja kau sangat terlambat. Neo….Argh!!! tidakkah kau memikirkan bagaimana kalau nasib Hara seperti Jiyeon hah?”

“hara tidak akan sampai seperti itu. dia pasti sudah siuman besok Klee. Aku yang akan menjaganya disini.”

Krystal tertawa meremehkan “bagaimana bisa aku bisa mempercayai pria brengsek dan egosi sepertimu untuk menjaga Hara? Tidak Oppa…kau lebih baik pulang saja, kencan dengan gadis-gadismu itu. biar aku saja yang disini.”

“Klee kau tidak tahu bagaimana persis masalahnya. Jadi kau lebih baik ikuti kata-kataku saja okay? Ini urusanku, Hara urusanku. Kau pulang dan fokus dengan targetmu itu. Minho.” Ucap Donghae masih dengan pembawaannya yang tenang. Ia tahu kalau Krystal memang mudah terpancing emosinya dan Donghae selalu menyikapinya dengan tenang, jika Donghae balik emosi maka Krystal justru lebih emosi lagi.

“aku jelas tidak tahu apa-apa karena kau menyembunyikan semuanya dariku!”

“menyembunyikan apa?!”

“kenapa Myungsoo ternyata sudah sejak lama menjadi makhluk supernatural? Kenapa gadis bernama Soyu itu mengincar Hara dan menyakitinya? Kenapa kau menyembunyikan perasaanmu dari hara? Kenapa kau begitu menentang hubunganku dengan Myungsoo sejak dulu? Aku tidak tahu semuanya Donghae oppa! Jawabannya hanya kau yang bisa menjelaskannya!” seru Krystal, ia benar-benar tidak tahan kalau Donghae terus menyembunyikan hal itu darinya.

“okay…aku akan jujur Klee. Kau dengarkan aku baik-baik. Aku mendapat kemampuan ini sejak kecil, bersamaan dengan CL juga Soyu sedangkan Myungsoo beberapa tahun setelahnya. Makhluk seperti kami, termasuk kau Klee bukanlah disini tempatnya. seharusnya kita tidak boleh bergaul dengan manusia karena kaum kita menganggap manusia memiliki derajat yang lebih rendah dibandingkan kita. Aku, Soyu, Myungsoo dan CL bersahabat sejak kecil dan kami membuat perjanjian untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain dan kami membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar.”

“CL adalah seorang demon, dan dia sama sepertimu memiliki kemampuan yang beda dengan yang lain. Kenapa disebut demon? Karena kau dan juga CL memiliki sisi jahat yang bisa keluar kapan saja ketika kalian sedang membenci seseorang, atau yang biasa kau sebut telepati itu. tapi kemudian…”

“kemudian?”

“aku melihat gadis di masa depan ketika umurku lima belas tahun. Aku selalu bermimpi tentang gadis yang sama saat itu, dan kau tahu siapa? Dia Hara…aku kemudian tidak sengaja menemukan hara dalam kondisi yang memilukan. Kau tahu kan kalau Hara broken home? Lalu sampai umurku dua puluh aku terus menjadi stalker Hara hingga akhirnya aku memutuskan untuk tinggal bersama Hara dan meninggalkan sahabat-sahabatku.”

“tapi kau mengatakan padaku kalau Hara anak angkat ibumu?”

“Ya saat itu aku berbohong padamu. Dia adik angkatku dengan keputusanku sendiri. Dan saat itulah aku juga membawamu untuk ikut berbaur dengan manusia, sama sepertiku dan kau tinggal bersama Dana ahjumma. Dia sudah sejak lama kenal denganku tanpa sepengetahuan Soyu, CL ataupun Myungsoo.”

[a/n: Krystal itu bukan adik kandung Donghae, dia itu sodaranya Donghae dan mereka masih sedarah. Jadi seperti hubungan antara kamu dan sepupu kamu gitu]

“jadi maksudmu sekarang mereka menyalahkan Hara karena kau meninggalkan mereka?”

“begitulah. Dan kau Krystal Jung….hati-hati dengan Kim Myungsoo. Kau tidak boleh kembali padanya walaupun dia memintamu.”

“kenapa kau melarang aku berhubungan dengan sahabatmu sendiri?”

“mereka mengikat kita dengan aturan, asal kau tahu.” Donghae berjalan ke belakang Krystal kemudian memperhatikan punggung Krystal. Donghae menggerakan jarinya ke sepanjang tulang punggung Krystal “ada sebuah tanda tak terlihat disini…yang bisa menyakitimu jika kau melanggar aturan.”

Entah kenapa Krystal merasa merinding sekarang, setelah mendengar kalimat ‘tanda tak terlihat’ itu. “apa aturannya? Dan apa sanksinya?” tanya Krystal sedikit takut.

“sebenarnya inti dari aturan yang mereka buat adalah dengan tujuan yang sama…menjauhkan kita dari manusia. Dan untuk sanksinya yang jelas tidak main-main, dan hanya mereka yang tahu. Kalau aku, sanksi-ku…aku akan kehilangan kekuatanku sepenuhnya jika aku mengatakan aku mencintai seorang manusia secara tulus dari hatiku sendiri.”

“kau tahu sanksimu, kenapa aku tidak?”

“karena aku sempat menjadi sahabat mereka, jelas aku tahu. Kau juga akan tahu jika mereka memberitahumu. Aku hanya ingin kau menjadi manusia biasa saja, aku tidak mau kau terlibat apapun dalam dunia aneh yang kita miliki sekarang. Aku hanya berusaha melindungimu, Klee. Jadi tidak usah pikirkan masalahku dan ikut campur didalamnya. Cukup Hara yang terbaring sekarang aku saja sudah kelimpungan. Kau jangan ikut juga. Kalau kau mau tahu….telepati itu…sakitnya tidak main-main.”

Krystal menelan ludahnya susah payah, ia tidak mengira kalau kemampuannya ternyata mempunyai cakupan yang luas. Mengerikan dan bahkan berhubungan dengan nyawa sekalipun.

“tapi…Hara tidak akan…mati kan karena insiden tadi?”

Donghae menggelengkan kepalanya lalu tersenyum paksa. “dia tidak akan mati. Yang bisa menelepati seseorang sampai mati hanya kau dan CL. Soyu jelas tidak bisa, tapi gadis itu sangat handal dalam urusan menyakiti manusia. Kau bisa tanyakan pada Hara bagaimana sakitnya kalau dia sudah sadar nanti.”

Krystal lagi-lagi bergidik mendengarnya, ia menoleh lagi kearah Hara yang masih terbaring tidak sadar itu. “aku sendiri tidak bisa membayangkannya bagaimana kejadian tadi…” Krystal menghela nafas, “pasti begitu mengenaskan.”

Donghae lagi-lagi hanya tersenyum terpaksa, ia hanya tidak mau membuat Krystal khawatir jika Donghae menunjukan bagaimana terpuruknya ia saat ini.

“Oh…”

Donghae menjetikan jarinya seperti baru ingat akan suatu hal, ia berbalik mengambil sebuah kertas dengan penuh coretan yang tergeletak diatas meja kemudian menunjukkannya pada Krystal.

“selama aku menunggui Hara, aku tidak tahu harus melakukan apa jadi aku mencoba membaca masa depanmu dengan modal fotomu yang aku simpan didalam handphone.”

Krystal hanya mengangguk dan mengambil kertas tersebut dari tangan Donghae sambil memperhatikannya.

Dahi Krystal mengernyit bingung karena hanya bisa melihat gambar-gambar panah yang tidak jelas. “apa maksudnya oppa?”

Donghae mendongakkan dagu Krystal untuk menatapnya. Pupil mata Donghae berubah warna menjadi merah pekat.

Keren. Dalam hati Krystal berbicara kalau Lee Donghae memang sangat keren jika dilihat dari jarak dekat seperti ini. Pantas saja Hara begitu menyukainya.

“masa depanmu…”

Donghae nyengir mendengar Krystal memujinya didalam pikirannya itu kemudiaan Donghae melanjutkan berbicara lagi. “aku tidak tahu bagaimana persis endingnya tapi..yang pasti aku bisa melihat kalau Minho akan….”

TBC–

oke, sebenarnya buat part 7 sampe kedepannya mau saya protect tapi berhubung saya lagi males menerima permintaan password dan juga sebentar lagi saya uas kan gasempet tuh cek email jadinya gak saya protect huahahahaha. but still….kalo silent readers masih banyak saya jadinya protect ff ini khusus buat good reader! *galaknya keluar*
Yaudah. Makasih udah mau baca dan komen yaa^^  kritik dan saran selalu ditunggu :”)

o-much pecks-o

IFA

52 responses to “[6th] Telepathy: Secrects, Bloody, and Prohibition

  1. mereka ini mahluk apa? (myungsoo, Kristal Donghae)
    kristal apa yg harus ia tanggung ketika melanggar aturan mereka ya??

  2. woaaaaa!!!!!
    kasian Hara! Soyu menegrikan!
    nenek sihir!
    aturan untuk menjauhkan dari manusia?
    derajat tinggi?! persetan sama semuanya!
    kenyataannya aturan itu menyiksa kan!

    aku panaaaaaas -_______-!!!!

    di akhirnya Donghae bijak banget! suka!

  3. ternyata bener si soyu punya rencana buat hara, pake ngaku” sodarannya donghae lagi.. iuhhh bgt –..–
    oh iya mereka kan (krystal, donghae,L) manusia supernatural. nah mereka itu dateng dari mana? dari bumi juga? :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s