SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 3)

SIWON THE BOSS

 Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

I confess that you will find typo, please feel free to correct me. I welcome 😉

Resensi cerita lalu

Yeoja ini memang pantas diberi pelajaran. Siwon tersenyum sinis, walaupun dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak. Kecerobohan yeoja itu jadi tampak menggelikan untuknya.

“Kepribadianmu itu sebenarnya hanya ada tiga C Tiffany: Cuek, Ceroboh, Canggung “ …“Tapi kau berpura-pura  menjadi yeoja yang  idaman namjadeul. Kau berhasil, aktingmu sempurna”

Chapter 1  |  Chapter 2   |

SIWON THE BOSS

Chapter 3

Nagano park & forest

6.30 malam

Di sebuah bungalow mewah, Siwon kembali mematut penampilan dirinya di depan cermin. Semuanya sudah melekat di badannya dengan sempurna. Kemeja, dasi, jas, sampai sepatu dan jam tangan sudah terpasang dengan rapi tanpa cela. Baiklah ini adalah hari terakhirnya di Nagano, karena besok, pagi-pagi sekali ia sudah harus berada di Bandara Haneda untuk pulang kembali ke Korea. Ia ingin memastikan semua berjalan sesuai dengan skenario dan rencananya. Agenda malam ini adalah mendatangi perjamuan makan malam bersama para pimpinan Otsuji Coop dan melanjutkan pembicaraan mengenai langkah-langkah kerja sama mereka ke depan.

Seperti biasa, ia akan memulai sesuatu dengan berdoa. Doa selalu memberinya kekuatan. Ia berharap semua berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan, dan ia bisa kembali ke Korea melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Cukup sudah insiden 2 hari yang membuatnya mood-nya hancur. Mudah-mudahan ia tidak bertemu dengan yeoja itu lagi. Hidupnya selalu tenang, sehingga letupan-letupan kecil akibat kelakuan yeoja itu cukup menganggu ketentraman batinnya.

Tiba-tiba diingatnya perkataan Donghae tentang doanya supaya ia lekas memiliki pasangan. Jika Hyung-nya saja berdoa untuk dirinya kenapa ia tidak berdoa untuk Donghae dan dirinya juga. Baiklah, ia berdoa semoga ia bisa mendapatkan pasangan terbaik untuk seumur hidupnya. Walaupun ia tidak berani menebak-nebak , siapa kira-kira yeoja itu, dimana mereka akan bertemu, dan kenapa ia bisa menyukainya. Tapi ia yakin Tuhan selalu punya cara sendiri mempertemukan dirinya dengan orang itu, entah siapa, entah kapan, entah dimana, dan entah bagaimana.

 

Prince Nagano Hotel

06.30 malam

Tiffany mematut dirinya di kaca. Ia sudah selesai berdandan malam ini. Usaha terakhirnya adalah dengan berpenampilan tidak menarik untuk pertemuan nanti. Ia mengoleskan make up tebal berwarna gelap pada matanya, lipstick pucat pada bibirnya, dan bedak terang yang cukup kentara untuk kulitnya. Rambutnya digerai disisir lepas begitu saja. Gaun yang ia pilihpun adalah busana model lama yang lebar menutupi seluruh tubuhnya. Semoga kau suka Ho Min he he he, Tiffany tersenyum senang.

Suara pintu diketuk membuyarkan lamunan Fanny. Tanpa menunggu dibukakan, Omma tiba-tiba sudah menerobos masuk ke kamar dan terkejut melihat penampilan anaknya.

“Omona, apa yang kau lakukan Tiffany? Omma memegang dadanya karena shock dengan dandanan Tiffany,” Kau ingin memalukan nama keluarga Hwang di depan Ho Min-ssi? Bagaimana kalo Appa sampai melihatmu seperti ini, Fanny Fanny, ampun deh kamu ini!”

Yeoja itu tersenyum menyeringai,”Model gothic sedang trend Omma. Sekarang sudah enggak jaman lagi pake warna pink, merah. Trend-nya hitam, abu-abu, coklat tua. Yah, seperti ini”

“Model gothic apaaan itu, kau berdandan seperti hantu Fanny? Kau ingin menakuti kami?”

Omma memandangi dengan seksama setiap senti penampilan anaknya.  “Apa yang akan dipikirkan Ho Min nanti jika bertemu kamu, bisa-bisa perjodohan ini batal di tengah jalan”.

“Masa aku dibilang hantu sih?”, yeoja itu pura-pura marah padahal hatinya tersenyum senang ketika Omma menyebutkan ‘bisa-bisa perjodohan batal di tengah jalan’. Yes!

“Ani, ani, enggak bisa pergi dengan dandanan kayak gini,” Omma menggelengkan kepala sambil melirik jam tangannya,”Masih ada waktu 15 menit lagi untuk make over! Kemari Tiffany!”

Ia langsung menarik pergelangan tangan anaknya, membawanya ke meja rias, dan dengan terampil membersihkan make up ala vampire di muka anaknya.

“Omma aku enggak mau dandan lagi?”, tolak Tiff ketakutan,”Mukaku nanti rusak”

“Sudah jangan banyak bicara, Omma tahu kau sedang berusaha untuk membatalkan pertemuan ini bukan?”

Yeoja itu menunduk, iya sih. Seperti patung ia hanya bisa diam ketika Omma sudah mulai mengoleskan eye shadow pada matanya.

“Fanny, kau ini sudah dewasa tapi kelakuan masih kayak anak kecil. Masa kau berdandan seperti nenek sihir untuk acara nanti. Kau harusnya malu dengan umurmu, dengan pendidikanmu, jabatanmu!”

“Aww, aduuh, sakit Omma” Yeoja yang sedang dinasihatinya itu tiba-tiba mengaduh ketika Omma menyisir rambutnya.

“Omo, kau apakan juga itu rambut. Kau sasak ya? Aish Fanny kau ini benar-benar…”, Omma sampai tidak bisa melanjutkan perkataannya. Salah apa ya ia dalam mendidik anaknya, memang Fanny itu pintar, berbakat, serba bisa tapi sifatnya itu masih kekanakan, sangat- sangat tidak dewasa.

“Nah lihat, sekarang kau sudah cantik”, puji Omma sambil membalikan badan Tiffany ke arah kaca dengan puas,”Omma ternyata berbakat jadi make up artist”

“Terserah Omma deh!”, tukas Tiff seadanya. Sekarang ia memang sudah tampak lebih normal daripada tadi.

“Ho Min pasti langsung jatuh cinta padamu!”, ujar Omma senang,”Tapi bajumu, cobalah berdiri, ya ampun kau mau pake daster ceritanya. Fanny kau ini kelakuan tidak berubah, Omma kan sudah membelikanmu gaun”

Dengan cekatan wanita setengah baya itu langsung mengambil busana yang tergantung dalam lemari,”Pakai baju ini!”

Dengan gerakan tangannya Fanny menolak,”Ani Omma, bajunya seksi banget. Aku enggak bisa pake baju kayak gitu”

“Seksi dari mana? baju ini bagus, gayanya klasik tapi tetap modis. Cepatlah pakai. Sini Omma bantu!”

Kali ini Fanny berubah jadi manekin ketika Omma sedang berusaha memakaikan baju pada tubuhnya.

“Nah, sudah sempurna penampilan anak Omma”

Omma mematut penampilan anaknya dengan bangga, tapi dilihatnya wajah anaknya yang menunjukan keputus asaan. Ia tahu Tiffany tidak menyukai perjodohan ini. Tapi Fanny harus mengerti, ini adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya dan Appa kepada anak semata wayangnya itu.

“Kau sedih sayang?”, Omma merangkul pundak anaknya. Sebetulnya Fanny ingin menangis, tapi ditegarkan hatinya.

Tiffany menunduk,”Omma, aku tidak mau dijodohkan. Aku tidak mau menikah sekarang. Kenapa Appa tidak bisa bersabar Omma? Sampai saatnya nanti, aku akan memberikan cucu pada Omma dan Appa. Tapi berikan dulu waktu untuk bebas dan meraih cita-citaku”

“Fanny, Omma dan Appa sangat sayang padamu. Kau harus mengerti bahwa perjodohan ini bukan semata-mata kami ingin mendapatkan cucu”

“Lantas apa Omma?”

Omma menggiring Fanny untuk duduk di atas ranjang sambil terus merangkulnya memberikan kekuatan. “Kau adalah pewaris tunggal Hwang Company, di tanganmu lah masa depan 10.000 pekerja bertumpu. Kau akan memiliki tanggung jawab besar atas kehidupan mereka juga keluarganya. Apa yang terjadi jika tiba-tiba Hwang Company bangkrut? Berapa ratus ribu orang akan menderita. Kami tahu itu adalah tantangan tersulit bagimu nanti. Sekarang, masih ada Appa yang akan mengajarimu, mendukungmu. Tapi usia juga kemampuan fisik kami terbatas Fanny. Kau mengerti maksud Omma?”

Tiffany menunduk, ia sudah sedikit paham walau hatinya masih berontak.

“Kami tahu kau tidak akan bisa sendirian menghadapi semuanya. Kami percaya kau mampu tapi Fanny semua orang juga memiliki keterbatasan. Apakah kau nanti bisa menanggulangi semua masalah perusahaan sendirian tanpa ada orang yang dapat kau percayai? Dunia bisnis sangat keras dan kejam Fanny. Sudah berapa kali Appamu diancam, diteror,dijegal oleh lawan bisnisnya. Jika tidak kuat, sudah lama perusahaan kita hancur. Itulah dunia yang sebenarnya akan kau temui nanti“

Yeoja itu terkejut, baru kali ia tahu ternyata Appa sering mendapatkan masalah berat seperti itu.

“Tapi aku lihat Appa sepertinya baik-baik saja”

“Itulah fungsi Omma dan dirimu pada Appa. Ketika Appa sedang jatuh, stress, sakit, atau ketakutan. Kita akan berada di sampingnya memberikan kekuatan untuk bangkit, dan maju kembali. Setiap Appa diancam, hanya dengan melihatmu, semangat Appa tumbuh kembali. Ia harus menyelamatkan puluhan ribu karyawan dan keluarganya bukan? Ia tidak boleh menyerah.  Jadi kau bisa mengerti maksud kami Fanny? Kami ingin memastikan bahwa orang yang nanti kau percayai seumur hidupmu adalah orang yang memang benar-benar tepat untukmu dan juga untuk perusahaan kita”

“Appa seorang pahlawan, tapi aku tidak. Aku tidak mau menjadi hero”, tidak ia tidak sekuat itu. Tiff tidak sanggup memikul tanggung jawab sebesar itu. Kehidupan puluhan ribu karyawan dan keluarganya bergantung padanya,”Apakah ini namanya pengorbanan Omma? Apakah aku tidak bisa menolaknya?”

Omma tersenyum,”Semua pengorbanan akan selalu setimpal dengan balasannya. Kau tidak usah khawatir. Tuhan tidak pernah tidur bukan? Hanya satu hal yang bisa kau lakukan. Lakukan yang terbaik tidak hanya untuk dirimu tapi juga untuk orang lain”, Omma memeluk Fanny dengan erat. Ia tidak bisa melihat bahwa mata anaknya sudah sedikit berkaca-kaca,”Ayolah sekarang kita pergi, Appa sudah menunggu di luar dari tadi”

 

Nagano Winter Olympic Building

07.00 malam

Dengan ragu-ragu, yeoja itu turun dari mobil bersama Appa dan Omma. Berbalut gaun anggun berwarna merah fuscha yang lembut dengan rambut panjang bergelombang berwarna kecoklatan, kehadiran Tiffany di gedung itu membuat setiap orang menoleh karena kagum. Kedatangannya seperti Cinderela yang tiba-tiba masuk ke ruang pesta dansa. Semua mata menoleh padanya, begitu cantik. Eye-smile-nya membuat hampir semua namja di sana jatuh hati. Tiffany menyadari itu, tapi apa artinya jika akhirnya ia harus jatuh di pelukan pria yang belum pernah ditemuinya sama sekali.

Belum sampai ke pintu restoran yang dituju tiba-tiba Fanny mencolek Omma dari belakang “Omma, aku mau ke belakang, boleh kan?”

Omma memandang anaknya penuh selidik,”Tapi kau akan kembali ke sini bukan?”

“Iya, janji”

Tiffany melangkah ke luar gedung itu. Hey, jika ia ingin kebelakang kenapa harus sampai keluar gedung.

Ia tidak berniat kabur, tapi perasaannya begitu sesak malam ini. Ia ingin melepaskan kesedihannya, keputus asaannya. Rencana Appa sungguh hebat. Biasanya ia bisa menggagalkan setiap perjodohan ini. Tapi yang ini rasanya berbeda. Mungkin Appa telah belajar dari pengalaman terdahulu, sehingga kali ini perjodohan dibuat sedemikian rupa sehingga Tiffany tidak bisa mengelak.

Yeoja itu terduduk di bangku taman sambil terisak. Bulir air matanya jatuh tak tertahankan.  Ia tidak ingin menikah sekarang. Ia masih ingin bebas. Tidakkah orang tuanya mengerti?

Mungkin sebenarnya dialah yang egois dan tidak mau memahami perasaan kedua orangtuanya. Mungkin juga ia jahat karena tidak mau berkorban demi kehidupan seluruh  karyawan perusahaan dan keluarganya. Lantas kenapa ia yang harus disalahkan jika ia menolak perjodohan ini? Bukankah ia adalah korban. Tapi korban dari apa? Appa sedang tidak menumbalkan dirinya untuk orang lain. Ia memahami tanggung jawab besar Appa dan dirinya untuk perusahaan ini. Aish semuanya jadi membingungkan, ia baru menyadari jika perjodohan ini ternyata sangat kompleks, tidak lagi sekedar upaya untuk menghasilkan cucu seperti yang ia pikirkan dulu. Dia bukan Tuhan yang berhak menentukan kehidupan manusia, tapi kini ia menyadari ada tanggung jawab sangat besar dibalik nama marga Hwang dalam namanya.

Tiba-tiba Suara HP berbunyi.

“Yoboseo, Appa. Ne, ne, aku ke sana, Iya Appa, aku enggak akan kabur. Ne, aku mengerti”

Klik

Appa meneleponnya dengan penuh kecurigaan. Sudah jam 7.30 dan Ho Min itu ternyata sudah hadir dalam perjamuan makan malam mewah yang khusus diadakan untuk perjodohan kali ini.

Tiffany membersihkan mukanya yang agak berantakan karena menangis tadi. Ia berjalan menyusuri lorong gedung, mencari restoran tempat keluarganya berkumpul sambil berlari-lari kecil. Tapi tiba-tiba

Bruk…

Puluhan kertas melayang-layang di udara tanpa bisa dihentikan. Ia menabrak seseorang yang tengah membawa map berisi banyak lembaran kertas.

“Hey kau kalo jalan itu lihat ke depan, pake mata apa?”

Dengan menunduk karena menahan air mata yang masih jatuh, Tiffany berjongkok memungut kertas-kertas itu.

“Gomenasai, saya tidak sengaja”. Lagi-lagi ia melakukan kecerobohan. Fanny memunguti lembaran kertas yang tampak seperti dokumen penting itu satu per satu.

“Aish sudahlah, sini aku bantu”, namja yang ditabrak tadi ikut berjongkok dan mengambil sisa-sisa kertas yang masih tergeletak di lantai.

“Sekali lagi maafkan saya. Saya tidak melihat anda tadi”

Tiffany berdiri mendongakkan kepalanya dan menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah dikumpulkannya kepada namja itu. Namja itu pun kemudian berdiri dan menerima kertas yang akan diserahkan yeoja itu. Ia menatap muka yeoja yang menabraknya.

Tiffany dan Siwon terkejut,”Kau! Aish kau lagi, mau apa kau ke sini?”

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya. Ooh Tuhan, kenapa Kau mempertemukanku dengan yeoja ini lagi. Lihat saja apa yang telah dilakukannya kali ini. Menabraknya sehingga membuat dokumen perjanjian penting ini jatuh terkena debu dan kotoran di lantai. Sebelumnya  ia memaafkan perbuatan yeoja itu. Tapi setelah melihat siapa yang menabraknya, pemberian maaf itu pupus begitu saja berganti dengan rasa kesal. Teramat sangat kesal apalagi setelah kejadian sore tadi ketika yeoja itu berusaha kabur tanpa mengucapkan permintaan maaf yang sopan atas kesalahannya.

“Mianhae…” ucap Fany menunduk dengan lemah. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Lupakan keegoisan mu Fany. Ia sadar namja itu berhak marah atas semua sikapnya.

“Satu kali dimaafkan, dua kali menjadi tidak tahu diri, tiga kali benar-benar membuat masalah. Apa maumu? Jujurlah kau stalker bukan? Kau ingin info apa dariku hah? Kau ingin tanda tanganku. Sini mana tanganmu”

Tanpa diminta, Siwon meraih tangan kiri Fanny, mengambil pulpennya di saku jasnya dan langsung membubuhkan tanda tangan di telapak tangan yeoja itu. Fany terkejut atas sikap Siwon,”Apa yang kau lakukan, kau lancang Tuan Siwon!”

Fany menarik tangannya kembali.

“Mungkin itu belum cukup ya, biasanya yeoja seperti kamu akan mencari foto-foto diriku. Baiklah. Mana Hp-mu. Kau ingin aku bergaya selca?”

Lagi-lagi tanpa mendapatkan ijin, Siwon langsung menyambar HP yang digenggam Fany, lantas memfoto dirinya sendiri dengan menggunakan HP itu.

Yeoja itu terkejut dengan semua kelakuan Siwon. Apa maksudnya? Siapa juga yang butuh tanda tangan dan fotonya. Siapa sih dia? Lagaknya seperti seorang artis saja. Tapi malam ini ia malas untuk berdebat. Pikirannya terlalu penuh dengan perjodohan ini.

“Baiklah, sekarang semua sudah kau dapatkan. Tolong jangan ikuti aku lagi, jangan ganggu aku, dan jangan buat masalah denganku lagi. Kau mengerti? Karena sekarang aku tidak segan-segan membawamu ke kantor polisi dengan tuduhan lebih serius jika kau kembali berulah”

Tifanny menunduk dan membungkuk, terserah namja aneh ini saja maunya apa. Ia juga tidak mau berurusan dengan namja itu lagi. Rasanya kesialan selalu menghampirinya jika bertemu orang itu.

 “Tidak masalah, aku juga berharap kita tidak bertemu lagi. Mianhae”, jawab Fanny pelan.

Beberapa detik mereka saling terdiam, Siwon agak bingung dengan sikap patuh yang ditunjukan yeoja itu padanya. Biasanya yeoja itu akan kehilangan kendali dan ikut terbawa emosi. Tapi sekarang dengan wajahnya yang pucat, seperti habis menangiskah? Ia hanya menunduk dan berulang-ulang minta maaf. Aneh, tapi sudahlah tidak ada gunanya memikirkan kenapa yeoja itu menangis dan berubah menjadi pendiam. Ia seorang stalker yang sudah berani masuk dalam lingkungan hidupnya. Siwon lantas pergi meninggalkan Tiffany yang masih menunduk sendirian.

 

Siwon POV

Aku percaya takdir, aku percaya tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Semua sudah terencana, semua telah diatur. Tapi untuk kasusku bersama yeoja ini, sampai detik inipun aku masih tidak mengerti. Apa maksud takdir mempertemukan kami kembali. Malam inipun aku lagi-lagi bertemu dengan yeoja itu, lagi-lagi dengan cara yang tidak biasa. Kali ini ia menabrakku sehingga dokumen-dokumen penting yang akan kuserahkan pada pimpinan Otsuji Coop berceceran memenuhi semua lantai. Siapa dia? Apa memang dia benar-benar stalker yang selalu menguntit kemanapun bintang idolanya pergi? Aku sering bertemu stalker seperti ini, tapi tidak pernah ada yang benar-benar menggangguku seperti yang yeoja ini lakukan. Yeoja itu entah kenapa selalu membuat masalah denganku.

Baiklah aku harus melakukan sesuatu  supaya dia berhenti berbuat keonaran pada malam terakhirku di Jepang ini. Kuambil pulpenku kubuat tanda tangan di telapak tangannya, lalu tanpa dia bisa mencegahnya. Aku ambil HP-nya dan kuarahkan HP itu memfoto diriku sendiri. Sumpah, aku belum pernah melakukan hal aneh itu. Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana cara supaya dia benar-benar berhenti membuntutiku. Tapi anehnya, ia hanya diam saja. Terus terang aku terbiasa menghadapi emosinya yang selalu meninggi jika bertemu denganku. Aku melihatnya seperti habis menangis. Aku dibuat bingung, apakah dia memang benar-benar stalker ataukah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan. Jika kebetulan kenapa terlalu berpola? Kami bertemu tiga hari berturut-turut dengan kondisi dimana yeoja itu selalu membuat kekacauan denganku. Apakah ia memang sengaja atau lagi-lagi  hanya kebetulan? Tapi jika dia stalker, aku tidak pernah menemukan tanda-tanda bahwa dia menguntitku atau mencari-cari kesempatan untuk memfotoku.  Ia bahkan tidak mengenalku. Aish, dia dari desa terpencil Korea bagian mana sih? Seluruh dunia hampir mengenalku tapi yeoja itu bahkan tidak mengenaliku sama sekali.  Tapi sudahlah, memikirkan bertemu yeoja itu membuat kepalaku pusing. Lebih baik aku berkonsentrasi dengan jamuan makan malamku bersama investorku dari Otsuji Coop. Mereka sudah menungguku di restoran. Semuanya pasti akan berjalan baik, selalu sempurna, seperti biasanya.

“Siwon-san, demi kerja sama baru kita. Mari kita bersulang”, Kento Otsuji-san, CEO Takahashi Coop berdiri mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, diikuti direktur yang lain. Kami sudah berkumpul di sebuah meja makan dengan hidangan mewah tergelar di atasnya

Aku ikut berdiri,”Demi pembangunan Suju Tower dan kerja sama yang erat bagi kedua perusahaan. Semoga sukses di masa depan”

Aku mengangkat gelasku dan sama-sama bersulang. Setelah itu, kami menikmati sajian santap malam dengan santai bersama mereka. Obrolan sudah mengalir lancar, tidak lagi sebatas urusan investasi dan pekerjaan.

“Ah, Siwon-san, kenapa anda datang sendiri ke acara makan malam ini. Undangan ini juga berlaku untuk pasangan anda” , pernyataan Otsuji-san yang kebetulan duduk di dekatku membuatku tersedak.

Aku hanya tersenyum, bingung juga untuk menjawab pertanyaannya,”Sayangnya, saya belum memiliki pasangan Otsuji-san”

“Wah saya tidak menyangka? Profil anda begitu hebat. Perempuan manapun pasti ingin menjadi pasangan anda. Anda hanya tinggal memilih saja.”

“Anda terlalu berlebihan, saya belum ada apa-apanya, apalagi dibanding anda. Anda memiliki kehidupan lengkap. Karir sukses dan keluarga yang mencintai anda”

Kento Otsuji, pria paruh baya itu terkekeh mendengar penuturan jujur dari Siwon, “Kau terlalu merendah Siwon-san, dalam cinta kadang kita tidak harus terlalu memilih, jalani saja karena sebenarnya orang itu ada di depan kita. Tapi biasalah, kita selalu memandang terlalu jauh ke depan, terlalu memberikan syarat sehingga melupakan bahwa orang itu sebenarnya ada di dekat kita”

Aku menaikkan alis mataku, benarkah? Aku mulai mengingat-ingat yeoja yang berada di lingkunganku. Apakah salah satu dari mereka? Rasanya tidak mungkin mereka. Aissh, berpikir mengenai yeoja selalu membuatku pusing. Rasanya aku lebih senang disuruh menghitung angka dibanding berpikir mengenai yeoja mana yang akan jadi pendampingku kelak.

“Kau hanya harus mau keluar dari zona nyaman sedikit. Tidak harus terlalu agresif tapi juga tidak boleh terlalu dingin”

Otsuji-san tampak semangat memberikan petuah cinta kepadaku. Aku hanya tersenyum, aku sudah biasa dinasihati orang-orang mengenai masalah itu. Walaupun aku sudah kenyang diceramahi, tapi aku terbiasa untuk terlihat ‘tertarik dengan pembicaraan itu’. Berpura-pura memperhatikan padahal otakmu entah melayang kemana-mana.

“Siwon-san, kau lihat perempuan yang ada di meja belakangmu itu?”

Spontan aku menoleh ke belakang, mengikuti arah mata Otsuji-san. Aku terkejut untuk kesekian kalinya. Yeoja itu, ya ampun, jadi selama jamuan makan malam ini ternyata ia duduk di belakangku. Dengan cepat aku membalikan badanku menghadap Otsuji-san. Aku tidak mau keberadaanku tertangkap radar stalker itu. Aku mengarahkan posisi tubuhku untuk tidak terlihat oleh yeoja itu dengan mudah. Kenapa yeoja itu selalu ada di mana-mana?

“Ia cantik dan sepertinya masih single. Kau perhatikan, disitu ada 2 orang yang kupikir adalah orang tuanya. Dan satu lagi ada seorang pria gagah yang sepertinya menyukai yeoja itu”

Mendengar ada seorang pria yang menyukai yeoja itu, lagi-lagi dengan spontan aku menoleh ke belakang, ke arah meja tempat yeoja itu duduk dengan lebih jelas. Jadi dia bukan stalker?

“Kau lihat yeoja itu, cantik sekali bukan? Cocok sekali jika ia berdampingan denganmu”

Aku hanya tersenyum pahit. Bisa gila jika dia menjadi yeoja chingu-ku.  Tapi aku tetap memperhatikan tingkah yeoja itu, entah kenapa ada semacam dorongan untuk terus melihatnya.

“Lihatlah, ia tampaknya tidak nyaman dengan jamuan makan malamnya. Hmm coba kucari tahu kenapa. Aha, aku tahu! Orangtuanya rupanya sedang berusaha mengenalkan pria itu padanya, tapi perempuan cantik itu tampak tidak tertarik”

Otsuji-san ternyata memiliki kebiasaan menganalisa seseorang. Aku mengikuti arah mata pria itu. Kulihat kedua orang tuanya yang tampak semangat berbicara pada namja di sebelahnya. Rasanya aku pernah melihat pasangan itu, siapa ya? Kulihat juga namja yang dianggap Otsuji sedang dijodohkan dengan yeoja itu. Namja dengan fisik yang lumayan tapi aku tidak suka dengan seringai licik yang terlihat dari senyumnya. Ia juga tampak terlihat menggoda yeoja itu dengan sentuhan-sentuhan sensual. Kurang ajar! Berani sekali dia bersikap seperti itu pada seorang yeoja. Sayangnya orangtuanya terlalu terpesona mungkin dengan penampilan gagah dari namja itu sehingga tidak menyadari aksi pelecehan yang dilakukan terhadap anaknya. Aku menatap yeoja itu. Ya memang benar, ia kelihatan tidak antusias dengan acara makan malam ini. Sungguh ironis dengan sikap orangtuanya begitu bersemangat.

“Ini seperti perjodohan yang diatur orangtuanya, tapi sayangnya gadis itu tidak tertarik. Orangtuanya tidak habis-habis berpromosi mengenaik kelebihan gadis itu. Lihatlah, muka pria muda itu. Rasanya ia seperti ingin menerkam gadis itu karena terlalu bernafsu”

Entah kenapa aku termakan dengan analisa Otsuji-san. Kasihan sekali yeoja ini, dipaksa mengikuti perjodohan yang tidak ia inginkan. Pantas tadi dia kelihatan begitu tertekan dan tampak seperti habis menangis. Mungkin inilah sebabnya. Aku mencoba menganalisanya.  Memang benar yang dikatakan Otsuji-san, yeoja itu begitu cantik. Tapi bukan kecantikannya yang membuatnya menarik di mataku. Ada kadar intelektualitas dan kecerdasan ketika menatap matanya. Aku mengingat pertemuanku dengannya, gesture-nya yang gesit menunjukan semangat dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Yeoja yang menarik.

“Instingku mengatakan yeoja itu tepat untukmu”

“Aku hanya tersenyum, Otsuji ini terlalu berlebihan. Dari mana dia bisa berkata hal tidak masuk akal seperti itu.

“Kau ingin nasihat yang tulus dariku?”

Pria itu berbisik ke arahku, aku menatapnya bingung,”Maksudnya?”

“Dekati gadis itu sebelum pria itu menyambarnya sekarang!”

“Tidak, tidak, saya bukan pria senekad itu”

Otsuji menepuk bahuku,”Ayolah! Kesempatan tidak datang dua kali”

“Apa maksud Otsuji-san? Aku tidak mengenal mereka. Lagia pula mereka sedang ada acara penting”, partner kerjaku ini ternyata sangat aneh, bisa-bisanya menyuruhku mendekati yeoja itu ditengah acara perjodohannya.

“Itulah yang membuat orang sering kehilangan kesempatan. Terlalu banyak pertimbangan. Kesempatan itu harus dicari bukan ditunggu. Percayalah aku punya insting yang kuat tentang ini. Teman-teman selalu menganggapku cenayang karena biasanya aku berhasil “

“Tapi…”, aku bingung dengan tekanan Otsuji-san. Benar-benar gila jika aku menuruti permintaannya.

“Ayolah, jika kaupun nanti tidak tertarik padanya, itu urusan nanti. Minimal kau telah menyelamatkannya dari perjodohan ini”

“Tidak, tidak tolong Otsuji-san, saya tidak tertarik dengan yeoja itu dan perjodohan itupun jika memang benar sama sekali bukan urusanku”

“Jadi kau tidak merasa mampu menyelamatkannya?”

Aish, aku tidak suka dianggap tidak mampu. Jiwa kompetitifku begitu tinggi. Otsuji-san tampaknya tahu itu.

“Jika kau adalah seorang pria yang baik. Selamatkan dia dari perjodohan ini. Sekarang!”, pria setengah baya itu mendorongku.

Aku bukan tipe namja gegabah yang bisa dengan tiba-tiba datang menemui orang asing apalagi tanpa alasan yang jelas. Apalagi misi kali ini adalah untuk mengganggu jamuan makan malam dan perjodohan orang lain. Mau ditaruh kemana mukaku.  Terbiasa dengan sesuatu yang selalu direncanakan, aku tidak siap dengan sikap spontan seperti yang disuruh Otsuji-san. Tapi orang itu terus memaksaku. Aish, jika aku tidak berfikir bahwa ia adalah investor utamaku tentu aku sudah menolaknya mentah-mentah. Tapi ia adalah partner bisnis utamaku sekarang, baiklah aku akan mendekati yeoja itu, tidak lebih karena aku tidak mau Otsuji-san kecewa. Ini semua murni karena alasan bisnis.

“Pergilah, dekati gadis itu, dan selamatkan dia Siwon-ssi”

“Otsuji-san, ini tidak mungkin”

“Ikuti kata hatimu, kau tentu tidak ingin melihat yeoja cantik itu menderita bukan. Ayolah ini kesempatan besar bagimu untuk menolongnya”

Siapa aku? Siapa juga yeoja itu? Kenapa aku harus menolongnya. Namanya saja aku lupa. Tapi akhirnya dengan sangat malas, aku berdiri meninggalkan kursiku. Melemparkan serbet ke arah meja. Aku rapihkan setelan jas Armani-ku. Dengan pelan, aku berjalan ke arah meja di mana yeoja itu berada. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yeoja yang tengah duduk itu tiba-tiba berbalik ternyata ia melihatku. Kurasakan ia melihatku sama terkejutnya ketika aku melihatnya tadi. Tapi ia kini menatapku sedemikian rupa. Tiba-tiba ia tersenyum sangat manis. Aku semakin mendekatinya. Adegan ini seperti sebuah scene slow motion dalam film, entah kenapa waktu tiba-tiba berjalan begitu lambat. Aku berjalan ke arahnya tanpa tahu apa yang harus aku lakukan. Kulihat Otsuji –san terus tersenyum kepadaku memberikan semangat. Tuhan, apa yang sebenarnya sedang aku lakukan.  Tidak kuperdulikan tatapan kebingungan dari orang tuanya itu karena mereka dengan kentara melihat sosokku yang tengah berjalan mendekati anaknya dan bagaimana yeoja itu tidak bergeming terus menatapku. Beberapa detik lagi aku sudah mendekatnya tanpa tahu apa yang semestinya aku lakukan. Entah kenapa tiba-tiba yeoja itu lantas berdiri, menatapku pelan, kemudian memegang erat pergelangan tanganku dengan kedua tangannya. Aku terkejut dengan aksinya. Ia terus menatapku dengan berjuta makna, ada semacam isyarat yang aku sendiri tidak mengerti maknanya. Ada semacam sihir juga yang membuatku tidak mampu melepaskan pegangan tangannya. Sambil mengeratkan pegangannya padaku, yeoja itu berbalik menghadap kedua orangtuanya dan namja itu.

“Appa, Omma, Ho Min-sshi, perkenalkan Choi Siwon, dialah namja chingu-ku yang sebenarnya. Mianhae karena aku menutupinya selama ini”

 

To Be Continued.

 

Author:

Eng ing eng, bagaimana kelanjutannya? Penasaran kenapa tiba-tiba Fany bisa ngomong kayak gitu? Ikuti terus next partnya. Jangan lupa biar cepet publish, readers bisa RCL (read, comment, like) trus komen komen heheheh ngareppppp banget. Author sangat berterimakasih atas semua komen dan RCL yang masuk selama ini, itu semacam dukungan supaya author menulis lebih bagus lagi. Karena sekarang yang jadi motivasi author menulis adalah readers. Saranghae

146 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 3)

  1. Haha,,paan tuh tiff..main ngku2 klw siwon adlah nmja chingumu..
    Pi bgus deh,,drpda ntar jdi djodhin ke homin..g’ bnget deh..
    Psti swon shock bnget tuh..

  2. Pingback: SIWON THE BOSS (PART 2) – YOURMIND·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s