[Freelance] A Love from Son of Mafia

Tittle: A Love from Son of Mafia
Author: ShoIce aka Hyutha
Cast:
o Gongchan B1A4
o Yuma
o Jinnyoung B1A4
Cameo:
o Arim
o Yuma’s Father
o Yuma’s Uncle
o etc
Genre: Romance, School, Friendship
Rate: PG-16

“…..”
“ Gongchan..”, kecemasan menghantamku seketika laksana gempa 7,9 sr yang pernah mengguncang Bengkulu* author’s experience.
‘ Kenapa dia kutemukan dengan keadaan seperti ini’.
“ Brm…brrrmm…..”
“ Bagaimana keadaan bocah itu?”, kulihat Gongchan dengan keringat bercucuran, bibirnya meneteskan darah.
“ Ia belum sadarkan diri”
LOVE

“Srruuup….”, nikmatnya chocolate milk ini tak sebanding dengan kondisi Gongchan yang begitu mengkhawatirkan semalam.
“ Akhirnya pembobol uang 2 milyar milik pamanmu berhasil dikuak”, Ayah tiba-tiba muncul bersama korannya.
“ Ouh .. Syukurlah”
“ Yang aneh di sini…. Pelaku seperti menyerahkan diri begitu saja”.
Kuraup lembaran Koran dari tangan Ayah. Lima jemari kanan menutup mulut tanpa sadar begitu aku tahu pelaku ditemukan saat aku melihat Gongchan yang terkapar dan TKP tidak jauh dari tempat Gongchan malam itu.
‘ Seperti ada hubungan antara….’
LOVE

“Yuma! Aku ikut senang mendengar pamanmu telah mendapatkan kembali uangnya!”
“ Terima kasih Arim”
Kelas yang penuh dengan kegaduhan, beberapa murid High Class yang terdampar ke kelas ini, sibuk dengan urusannya masing-masing. Kwangmin, duduk dengan sempurna di pojok, asyik membolak-balikkan lembar demi lembar buku tanpa sentuhan gambar yang menarik, penuh dengan angka, rumus, dan penjabarannya. Selain Kwangmin, Jinnyoung anak seni juga menjadi anggota kelas ini secara tiba-tiba pada tahun ajaran kali ini. Kwangmin, Jinnyoung a…..High Class juga mengirimkan Narsha, ballerina yang rupawan, punya suara 3 oktaf, dan ibunya desainer ternama, kelas Internasional. Hal ini terjadi karena High Class menambah siswa baru sehingga beberapa siswa lama tersebar di kelas-kelas regular.
Yup! Dugaanku benar! Siswa-siswa brilliant itu langsung menyabet posisi atas untuk ukuran akademi dan non akademi…rasanya tidak bisa berbuat apa-apa di sini….
LOVE

“ Yuma, bisa tolong bawakan ini? Banyak pelanggan yang sudah mengantri”
“ Baik Ayah (!)”
‘Dandang-dandang’ besar berisikan berbagai macam bubur, silahkan pilih yang mana yang anda suka. Semua bahan terjamin kualitasnya, alami, bahkan ada bahannya yang berasal impor, aku bangga dengan profesi Ayah.
“ Bubur apa ini?”, ‘Jinnyoung’, kenapa dia bisa datang kesini? Mudah-mudahan dia belum betul-betul mengenalku di kelas. Tempat penjualan bubur Ayah memang sudah tergolong besar, tapi jarang didatangi oleh para lelaki muda seusiaku, yang membuatku bosan juga merasa bersyukur ialah kedatangan para Ibu, penyuka bubur, penjelajah makanan, pelanggan yang sudah merasakan betapa nikmat bukan main berbagai macam bubur di sini.
“ a…. yang ini bubur jagung”, Jinnyoung tampak menyukai tampilan bubur jagung buatan Ayah.
“ Kau…..satu kelas denganku(?)’, ouhh tak sanggup melihatnya, Ayah cepat keluar.
“ Ya…aku Yuma”, ingin rasanya menghidupkan petasan agar wajahku tak nampak olehnya.
“ Ou…”, akhirnya posisiku digantikan oleh Ayah, my Super hero.
“ Wah, ada pembeli yang satu kelas dengan Yuma”, aku hanya melirik sedikit sambil membawa diriku masuk ke dalam.
LOVE

“ Ada bubur sisa di sini. Tolong Ayah, antarkan ini ke tempat pamanmu, Yuma”
“ A..yah”, tersungging wajah malas yang sengaja tidak dihat oleh Ayahku.
“ Cepat bergegas”
Fuihh…bila ingat kejadian waktu itu. Ah, sudahlah untuk apa kupikirkan. Sepi, sunyi trotoar ini tapi lampu pijar yang menyala menghangatkan pandanganku, disambut gemerlap bintang di atas sana.
“ Langsung pulang Yuma?”, ketika aku sampai di rumah paman yang 2x lipat besarnya dari rumahku dan tak heran ia menampung tiga belas anak. Lima anak kandung dan delapan anak asuh. Ketiga belas anak itu adalah laki-laki. Setiap aku berkunjung ke rumah adik Ayahku itu, bertemu dengan ketiga belas saudaraku terasa seperti bertemu dengan Super Junior. Haha
“ Iya paman”
“ Hati-hati ya.. kebetulan jalanan malam ini ramai”
“ Baik”
‘ Malam ini… dinginnya’
“ Yuma…”, terdengar samar-samar tapi langsung kuhentikan langkah.
“ Gongchan…”, ha!! Bertemu lagi! Jantung ini berdegup cepat karena di tempat ini hanya ada aku dan dirinya.
“ Terima kasih atas pertolonganmu”, ia memang tampan tapi tidak membawa nuansa keakraban, yang kulihat dia berdiri di depanku dengan tatapan kosong. Setengah jiwaku merasa waspada dengan kedatangannya yang tidak disadari, Oh God!
“ Sama-sama…e.. Bagaimana keadaanmu saat ini?”
“ Jauh lebih baik”
“ Baguslah, kalau begitu aku pergi” humpsss
“ Yuma, jangan tinggalkan aku”, aku hanya berdiri tidak berkutik, memahami perkataannya namun tidak berani sedikit pun berbalik.
“ Dengarkan aku Yuma.. apa yang kau lihat kemarin, mungkin kau merasa aneh. Racun ini akan bereaksi kapan saja. Sekujur tubuhku akan segera berkeringat dan mungkin aku bisa tak sadarkan diri seperti malam itu”
“ Apa..apa maksudmu?”
“ Kalau saja laki-laki itu memberi tahuku bahwa itu racun, diriku tidak akan sepeti ini.. Hanya kau Yuma, orang yang kupercaya.. lihat saja, sedikit pun aku tidak ingin menjadi seperti dia”
“ Maaf Gongchan…. Aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan dan maaf aku tidak bisa berlama di sini”
Pukul, 20:00 PM. Gongchan membiarkan kepergianku saat itu. Entah kenapa seberkas rasa iba padanya muncul begitu saja. Aku merasa apa yang dia ucapkan adalah hal yang membuatnya seperti itu. Gongchan …
LOVE

“ Kau tidak bersemangat pagi ini? Apa ada masalah Yuma? Kau kan sangat menyukai bahasa Jepang?”
“ Ah, tidak Arim. Emm… Arim, apa kau tahu sesuatu mengenai Gongchan?”, Arim tersontak.
“ Apa?! Gongchan! Anak mafia itu!”
“ Apa!”
“ Yuma kau belum tahu?”, aku menggeleng, informasi tentang Gongchan yang satu ini cukup mencengangkan.
“ Sejak ia masuk ke sekolah ini, ia selalu menyendiri. Kau tahu sendiri bagaimana tingkahnya yang pasif tapi meyakinkan, kan? Tapi walaupun seperti itu, Gongchan pintar ICT. Tahu tidak (?) tahun ini ia dikontrak sebuah perusahaan alat-alat elektronik besar, sayang kesempatan itu ditolak mentah-mentah! Dan satu lagi Yuma… Gongchan pernah menbantu merakit mobil balap diumurnya yang masih muda!!!”, terkesan diriku oleh perkataan Arim.
“Waaa….. Arim(!) kau tahu sebanyak itu(?)”
“ Queen of internet Arim!”, pembicaraan yang menarik di balkon atas sekolah.
“ Yuma, lihat orang yang kita bicarakan!”, Arim menepuk-nepuk pundakku.
Gongchan bermain bersama murid pria lainnya, sepertinya memang biasa saja tapi aku percaya ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tiba-tiba gerimis dan Gongchan masih men-dribble, shooting bolanya tanpa memikirkan tetes-tetes hujan membuat poninya turun, manis.
“ Hey Yuma, kenapa kau memperhatikan Gongchan seperti itu?”
“ Hey”, Arim mencubit pipiku.
“ Au… Arim!”
“ Jangan terlalu diperhatikan. Jangan salahkan aku jika Yuma temanku ini jatuh cinta”, Ariiim!
LOVE

Arim menyibukkan diri dengan club dancenya. Sekarang, aku seorang diri berjalan menuju library. Arim adalah teman yang sangat aku sayangi, sudah enam tahun persahabatan ini berjalan. Arim selalu tersenyum untukku walau aku tahu seringkali masalah datang padanya. Aku bangga, salut dan senang oleh sikapnya yang kuat ini.
Kala itu suasana tidak gaduh. Sekolah ini mempunyai fasilitas yang baik. Jika borring, aku bisa pergi ke penjuru sekolah yang aku suka. Itulah sebabnya, aku belajar mati-matian untuk mendapatkan sekolah ini. Sekolah terpandang dengan mutu yang bisa memuaskan hati para wali.
“Sssttt… “, dengan hati-hati kudengar suara memanggilku.
“ Gongchan “, ia melambaikan tangan, menyuruhku ke sana. Denan polosnya aku menghampirinya.
“Aku butuh bantuanmu?”
“ Ha(?)”
“ Maukah kau menjadi pacarku?”
“ Apa??”, telingaku yang sedang salah dengar atau Gongchan yang sedang bercanda.
“Ssssttt…”
“Meski di sini tak banyak orang..tolonglah Yuma, jangan berteriak”.
Yuma memandang sekitar, wajahnya kian memerah dan sebentar-bentar ia tersipu, sedang Gongchan tersenyum geli melihat tingkah Yuma. Awalnya, Yuma sudah merasa keanehan muncul karena lelaki seperti Gongchan tidak mungkin menyempatkan diri melenggang ke surga ilmu itu.
“Yuma…. Hanya untuk menolongku”, Gongchan melanjutkan.
“Tidak!”, secara cepat Yuma lontarkan.
“Yuma, bukankah kau sudah mendengar sendiri bahwa hanya kaulah orang yang kupercaya. Apa yang kuceritakan malam itu memang benar. Aku ingin kau ada, disaat racun itu bereaksi, tidak ada seorang pun yang membantuku setelah Ibuku pergi”, Yuma menjadi bimbang.
“Bagaimana ya….emm…belum lama aku mengenalmu…memangnya bantuan seperti apa yang kau inginkan?”
“Ntahlah, aku juga tidak tahu#”
“Ha!#”
“Hanya memastikan kondisiku dan jika kau tidak keberatan aku rela dirawat oleh wanita sepertimu….karena..aku butuh seorang wanita yang peduli terhadapku yang sama seperti Ibuku….”
“Eh..(**) ..baiklah masih kupikirkan”
Di etalase lain, sepasang mata mengamati dengan seksama adegan manis antara Gongchan dan Yuma. Namun dalam hati kecilnya, ia sangat ingin berdiri di sisi Yuma bahkan melindunginya. Semenjak mengenal Yuma, sedikit demi sedikit ia merasa simpati dengan Yuma.
“ Apa sebenarnya yang mereka bicarakan”
‘Gongchan…siapa dia sebenarnya…akhir-akhir ini dia hadir di sela-sela kehidupanku…apakah aku bisa menerima tawarannya…kenapa aku…kenapa aku…Gongchan’
LOVE

“Ayah”, desis pelan pemuda itu.
“Bagaimana misi kali ini?”
“Berjalan dengan baik Pak”
“Akan kuberi tahu misi selanjutnya…”, cukup sudah pemuda ini mengamati para lelaki bertubuh besar, berjubah hitam, sangar, dan sangat berbahaya. Pemuda ini sangat tahu apa yang akan dilakukan mereka. Dibalik persembunyian kecilnya, hatinya kian menangis. Sesekali kenangan itu muncul lagi, lelaki paruh baya yang dengan hati-hati mengajari pemuda kecil itu mengendalikan setir. Saat itu, ia merasa tidak akan pernah menjauh dari lelaki paruh baya itu, tapi kenyataan pahit memudarkan semua kenangan indah keluarga kecil itu. Bertambah pula kemalangan pemuda itu ketika kini setiap 1 Desember menabur melati atau anggrek di pemakaman. Sendiri.. meneteskan air matanya di atas rumput-rumput di samping orang yang sangat ia cintai bersemayam.
“ Ayah.. aku merindukanmu” desis ulang pemuda itu. Sampai kapan pun gerombolan lelaki itu tidak akan pernah tahu bahwa pemuda itu selalu menguntit mereka.
LOVE

Sebulan lagi, ‘bulan sibuk’ akan segera menyeruak ke seluruh penjuru sekolah. Ujian..’ Sebentar lagi aku akan sibuk berdiskusi dengan buku-buku pelajaran, tapi bagaimana dengan Gongchan(?)’.
Sebelumnya aku tidak pernah berpikir tentang hal ini. Pagi ini aku berangkat sekolah bersamanya karena Gongchan menjadi pacarku sekarang. Gongchan tidak segan-segan mengantarku sampai ke depan kelas. Aku sangat canggung melakukan hal ini. Tiba-tiba rangkaian mata di kelas menyorotkan sepasang mata lantas mendekatiku.
“Yuma, jangan katakan kau dan Gongchan menjalin hubungan”, mereka semua mengerubungiku layaknya segerombol binatang bertaring yang telah mendapatkan mangsanya.
“Dengar Yuma! Gongchan tinggal di sebuah lingkungan yang tidak biasa. Aku tidak percaya ada gadis yang mau jadi pacarnya…”
“Yuma, aku tidak percaya ini. Apa dimatamu dia orang yang baik (?) jangan diam saja Yuma! kami khawatir denganmu…”
Selesai aku mendengar celotehan mereka, seseorang menatapku dengan rasa iba. Ketika aku berbalas melihatnya, ia menghiraukanku.
LOVE

Malam minggu ini aku merenungi sebuah ‘destiny’ menjadi pacar Gongchan untuk hari yang #3. Walau teman-teman masih tidak ingin menerima tapi sikap mereka kepadaku tidak akan pernah berubah.
♫♫♪ You are my everything, geudaeneun…♫♫♪
“ Hallo(?)”
“Oh Yuma! Kau sudah tidur?”, nadanya sangat gembira.
“ Belum”
“Dengarkan baik-baik, hari ini aku terpilih menjadi penyerang tim sepak bola, bagaimana?? Kau bangga padaku?”, Yuma tersenyum simpul, ia berpikir pacarnya ini sangat ingin membuatnya senang.
“Maksudmu?”
“Yuma, sebetulnya aku direkrut ke tim ini Karena pelatih melihat permainanku di kota awal tahun ini. Dulu, aku selalu bermain tidak untuk tim sekolah, haha”
“Selamat Gongchan”
“Mungkin aku akan banyak latihan”
“Tidak apa-apa, aku juga harus mempersiapkan diri untuk ujian..”
“Terima kasih Yuma. Selamat malam”
Call’s end
Aku sangat bangga melihatnya berdiri di lapangan.
‘Yuma, jika kau ingin memastikan keadaanku, hubungi aku kapanpun kau merasakan sesuatu hal buruk terjadi padaku. Jika tidak kuangkat, kuberi tahu sekali lagi, aku.. dalam keadaan tidak sadar’ kata – kata itu selintas muncul, kata-kata Gongchan yang tidak boleh dilupakan Yuma bila ia masih berstatus kekasih Gongchan.
Sambil mengerjakan butir-butir soal untuk besok, aku tengah memikirkan bagaimana pertandingan Gongchan. Pertandingan pertamanya mewakili sekolah. Menjadi anak tunggal di keluarga Han membuatku merasa kesepian.

LOVE
“Nam Gil..bagaimana keadaan anakku?”
“Tuan Cho, Gongchan masih tinggal di apartemennya. Tidak ada kabar buruk dari sekolahnya”
“Bagus! Aku ingin dia untuk saat ini terpisah denganku. Bagaimana pun juga, nyawanya terancam jika bersamaku. Andaikan Ibunya masih ada, akan kupasrahkan Gongchan padanya”
LOVE

Hari ini, kabar dari klub sepak bola inti membuatku senang. Namun tak terlihat tanda-tanda kehadirannya. Pelajaran terakhir membuat kakiku ingin segera menuju apartemen Gongchan. Sungguh, jangan terjadi! Kecemasan pun menjadi-jadi dan kemudian meledak-ledak di dada ini. Aku yakin semua yang telah ia katakan padaku bukanlah dusta.
Bell berbunyi.
“ Yuma, ada apa denganmu?”
“A.. Jinnyoung! Ada hal penting yang harus kuselesaikan!”
“Bolehkah aku ikut denganmu?”
“Jangan! E…
Maksudku ini sangat privacy! Sampai jumpa! “
I love you… someone in there
Please wait me..

LOVE
Lambung yang mulai terutak-atik sendiri tidak mengurangi rasa kekhawatiranku. Aku hanya perlu berlari selama quarter minute atau lebih.
“ Permisi aku Yuma”, langsung saja kutelusuri rumah penuh dengan nuansa white persis dengan pemilik apartemen ini. Saat penjajakan pertama, aku terperangah melihat sekeliling yang tersusun pada tempatnya, tidak ada frame-photo keluarga di sini. Sepintas kegelian kurasakan memandang photo close-up Gongchan dan pose seperti hendak memeluk seseorang dengan background pantai yang tidak kukenali dimana tempat itu, ‘but very cool’.
“ Gongchan! Kau kelelahan? Kudengar kau juga tidak mengirim keterangan tidak masuk hari ini”, ia justru bertambah pulas dalam tidurnya di atas sofa violet.
“Bagaimana! Bagamana ini! Aku harus menyentuhnya! Ouh!!! Yang benar saja!! Baik!! Hanya mengguncangkan bahunya dan terus memekik! Atau memberinya parfume dari kaos kaki ini”, celoteh Yuma di dalam apartemen.
Kubalikkan badannya dan dugaanku benar, punggungnya sangat basah. Dengan cekatan, langsung saja kuambil andil untuk merawatnya, mungkin menunggunya hanya sampai batas yang aku mau. Penat terasa kusinggahi kulkas, tapi hanya menyuguhkan makanan-makanan yang bukan seleraku. Aku sudah sangat lapar. Gongchan, bagaimana semua ini bisa terjadi(?)
“ Yuma apa yang kau lakukan di sini?”
Diriku begitu kaget mendapati kedatangan seseorang yang aku kenal misterius, dia adalah….Jinnyoung.
“Jin….Jinnyoung!! sejak kapan ka..kau berada di situ?”
Di tengah kecemasanku yang tiada tara saat itu, Gongchan terbangun dalam ketidaksadarannya.
“ Kalian berdua….”, Jinnyoung berkata menatap Gongchan.
“ Jinnyoung lihat! Dia sedang sakit? Penyakitnya memang selalu datang tiba-tiba….aku kesini, ingin merawatnya”
LOVE

Di rumah sweet-housenya, Gongchan mulai menyadarkan dirinya dari keadaan yang tidak pasti. Seorang pemuda sebayanya bukanlah seseorang yang ingin ia lihat di saat sadar.
“Gongchan…siapa yang kau cari? Yuma? Dia sudah kusuruh pulang. Aku kasihan melihatnya yang pucat berusaha menunggumu bangun”
“Kenapa kau berada di sini!”, ucap Gongchan dengan kesal.
“Tidak sengaja masuk, aku penasaran dengan tingkah laku Yuma dari pagi tadi. Aku menguntitnya”
“Apa!”, tambah Gongchan dengan geram.
“ Jadi seperti ini sekarang saudaraku. Kau sudah lupa ada aku di sini. Untuk apa kau menyuruh Yuma untuk melakukan hal ini”
“ Kau, sekarang lebih baik kau pergi! Tidak peduli kau saudaraku atau bukan! Tapi yang jelas sekali pun kau memanggilku saudara sekali pun juga kau…tak pernah mengaggapku saudara!”
Laki-laki itu ditatap jahat oleh Gongchan. Tangannya sudah meremas-remas, ingin segera menghajar wajahnya yang tanpa rasa bersalah.
“ Tunggu..! kau telah merebut posisi High Class!”
“Apa Gongchan? Merebut …justru kau yang semestinya berpikir. Apabila racun yang ada di dalam tubuhmu sekarang menginginkanmu untuk masuk kelas High Class? Lupakan!”
Senyum kecil tersungging begitu saja, dengan masih mengenakan seragam, laki-laki itu membuat Gongchan muak.

LOVE

Hari-hari saat ini begitu membingungkan. Dalam seminggu ini, aku jarang menemukan Gongchan. Ponsel yang tidak aktif, membuatku kembali lagi untuk mendatangi apartemennya walau entah dimana ia berada sekarang. Guru mathematic course, krystal eonni banyak menyusun jadwal padatku untuk belajar. Tapi semenjak aku menjadi pacarnya, rasa cemas tak pernah hilang sejam saja dari benakku meskipun rasa kecewa sesekali muncul telah menyetujui permintaannya dulu.

Pagi yang menawan, Arim siap sedia sepanjang hari untukku. Berkat menjadi waka organisasi bulletin sekoah, sukses membuatku tersibukkan. Nanti di terik panas yang menyilau, saat tingkat konsentrasi para siswa hendak mencapai titik akhir, kelasku akan mengadakan Math Test, so Full!
“Yuma, mukamu pucat. Kita di sini sementara menunggu keputusan Miss Dam Bi”
Diriku membentuk sorotan mata kepada lelaki yang sangat aku rindukan kehadirannya.. gongchan masih terlihat maskulin.
“ Yuma! Aku tahu kau sedang melihat Gongchan, kan? Yuma, setelah timnya memenangkan pertandingan dua minggu lalu, tim inti akan berangkat secepatnya ke dorm. Headmaster sudah memberikan target untuk tim ini. Bersabarlah menunggu Gongchan. Ohya, di website antar sekolah, gongchan menjadi pantauan Best Player! Wahh!
Tapi kedua panca indera yang sangat berharga ini tidak ingin menghentikkan usahanya. Perassanku saat ini ingin banyak mengetahui hubungan dia dengan Jinnyoung.

“Yuma, ikut aku”, tanpa disadari Gongchan berdiri di hahapanku.

LOVE

“Aku senang mendengar kemenangan tim sekolah kita…”
“Jinnyoung berkata sesuatu padamu?”
“A…apa yang kau bicarakan?”
“Apakah ada yang ia lakukan padamu?
“Tidak! Tidak ada yang dia lakukan padaku, juga tidak ada yang ia katakan padaku. Aku pikir sekarang bukanlah moment yang tepat untuk menanyakan banyak hal..”
“Baiklah, aku mengerti..”
“Waktunya untuk kembali ke kelas”
“Tunggu Yuma.. dalam waktu dekat jangan menghubungiku, jangan datangi apartemen seperti waktu itu dan jangan, mencariku. Keadaan semakin mendesak dan berbahaya…aku juga tidak tahu apakah mungkin aku masih bisa berada di sini”
“Gongchan”
“Kembali ke kelas, cepat”.

LOVE

Weekend
Mobil ayah berhenti di sebuah kuil tua. Ini adalah piknik yang kedua kalinya. Pemandangan yang membuat semua paku lepas dari kepalaku. Merah jambu kelopak bunga sakura sangat manis. Bibi dan Baro kecil juga ikut, jadi aku dapat tambahan pekerjaan sekarang.
“Kak Yuma! Aku ingin bermain di dekat sungai”
“Sungai…?”, Bibi memberi isyarat mengizinkan.”
“Ayo Baro…”, aku menggandeng sepupu kecilku yang lucu, sudah besar pasti tampan.
Kuawasi Baro yang dari tadi asyik melempar batu ke sungai dan mengejar capung. Tiba-tiba kudapati sekelompok pria bertubuh besar dengan kostum serba hitam di seberang sungai. Hatiku langsung terhenyuk, memandang Gongchan yang juga ikut dalam gerombolan itu. Tangannya diapit dua lelaki besar. Bagaimana ini? Bagaimana………..?
Dengan rasa takut yang benar-benar bergejolak, Baro dengan cepat kukembalikan kepada Bibi. Jari-jemari ini sudah tidak terkendali lagi. Hasilnya, nomor Gongchan tidak berhasil untu dihubungi(Persis dengan pesan yang sudah ia sampaikan). Jalan pintas saat ini ada dalam pikiranku adalah Jinnyoung.
“Halo Jinnyoung”
“Yuma?”
“Aku, aku melihat Gongchan dengan sekelompok orang tak dikenal. Aku sangat mencemaskannya..”
“Baik, aku mengerti. Dimana kau sekarang?”

Jinnyoung menarikku hingga kami sampai pada taman yang jauh dari pandangan sungai. Di tempat itu, aku tidak mampu lagi untuk melihat hutan. Aku menuruti apa yang Jinnyoung katakan karena isi otakku sedang mereka-reka apa yang dialami Gongchan.
“Aku sudah lama mengenalinya. Dia adalah seseorangyang selalu bertempat sebagai rivalku..Semenjak Ibunya meninggal, hubungan keluargaku dan keluarganya merenggang. Ditambah dengan Ayahnyayang bekerja pada pada suat perserikata tidak dikenal”
“Jinnyoung…apa yang harus kulakukan…?”, Yuma menundukkan kepalanya.
“Untuk saat ini cobalah untuk tenang dengan apa yang kau lihat. Dia sedang berusaha…”, Jinnyoung mencoba membuat keadaan lebih baik
“Aku yakin dia orang yang kuat…Berusaha keras untuk lepas dari racun itu, kan?”
“Benar “

LOVE

Gongchan berlari di tengah hutan yang masih rimba di fajar yang bergeming. Pagi yang sendu ini, dia akan bertemu kakek yang sangat ia butuhkan. Dia sudah tidak peduli dengan kakinya yang amat kedinginan dan menggigil.
Lelaki tua dengan seragam ala dokter menyunggingkan seberkas keramahan. Ia dan Jinnyoung sudah sering menerima kehangatan itu.
“Kakek!”
“Gongchan cucuku…aku sudah cukup lama menunggumu”
“Maaf”
“Jadi apa yang membuatmu datang kemari nak?”
Kakek pun membawa Gongchan ke tempat yang menendakan umur bangunan itu tua dan dipenuhi dengan kawanan lavender yang begitu menarik. Gongchan masih sangat kenal pohn apel yang menjadi tempat persembunyiannya ketika belia.
“Aku ingin melihat reaksi racun itu”
“Baiklah jika kakek inginkan”
Gongchan meminum segelas sake.
“Lihat diriku……seluruh badanku akan berkeringat! Sepuluh menit kemudian aku bisa tidak sadarkan diri. Aku juga terkadang merasakannya secara tiba-tiba. Walaupun tidak nampak sekali effect-nya tapi ini membuatku tidak sadar”
“Sudah berapa kali kau tidak sadarkan diri?”
“Entahlah kek..karena hal ini…aku sering tidak masuk sekolah. Setelah aku tahu paman Eunhyuk menjadi kepala sekolah , maka aku pindah ke sana supaya lebih memudahkan urusan..”
“Pamanmu tahu hal ini?”
“Yang dia tahu aku punya penyakit asma”
“Kalau sudah begini, mau tak mau aku harus menolongmu”
“Benar kek, aku harus segera menemuan obat! Sebentar lagi ujian tingkat akhir”, hanya sebagai alasan.

Rumah tua yang penuh dengan sejuta kenangan antara Gongchan, ayah, dan terlebih ibunya. Hari ini ia tidak bisa tidur dan mencari kesibukan . Di ruang tengah, di depan tungku perapian, diambilnya selembar Koran yang baru datang tadi pagi. Matanya dengan tajam mengikuti kata demi kata yang terukir jelas di halaman utama. Dia terduduk diam dan memikirkan sesuatu hal yang terjadi di suatu tempat.
Derap langkah terdengar di malam itu. Dengkuran owl tak membuat Gongchan sedikit pun untuk berkutik dari tempat itu.
“Jadi apa rencanamu sekarang?”
“Kakek”, Gongchan berdiri dan memejamkan matanya sejenak”.
“Entahlah kek. Dua hari setelah operasi dilakukan pada diriku belum bisa membuatku berpikir sempurna”
“Lelaki itu…sebenarnya kakek ingin ia meninggalkan apa yang ia lakukan sekarang dan memberikan perhatiannya padamu”
Kakek menduduki kursi goyang memandangi cucu kesayangangannya dengan penuh kasih saying.
“Aku sudah tahu alasan mengapa Ayahmu melakuan hal itu Gongchan…tapi aku ingin kau mengetahuinya dari mulut Ayahmu sendiri. Semua ini ia lakukan hanya untuk melindungi dirimu”.

LOVE

“Tuan Cho…sekarang polisi melakukan pengejaran besar-besaran”
“Jadi begitu”
“Ini adalah perintah terakhir padamu Nam Gil”
“Tuan…
Ap…apa yang Tuan maksud?”
“Berikan cek ini pada Gongchan dan katakana padanya temui aku lima tahun kemudian”

LOVE

Yuma berada di taman bersama sepupunya Baro, sambil menikmati yakult dan memerhatikan Baro. Namun tiba-tiba kedua tangan yang berukuran orang dewasa dan bukan tangan perempuan menutup matanya dari belakang. Tangannya sangat kuat dan Yuma mencoba menebak siapa pemilik tangan itu.
“Gongchan…”, perlahan –lahan matanya pun terbuka.
“Yuma, sudah lama aku tidak melihatmu”, Yuma berdiri dari duduknya dan menampakkan ekspresi marah, Yuma menepuk-nepuk dada Gongchan.
“Kau…kenapa baru datang sekarang! Apa kau tahu bagaimana sekarang keadaanku?!”, Gongchan merasa bersalah.
“Kau…kau membuat hubungan denganku, lalu kau pergi begitu saja tanpa meninggalkan alasan! Kau tahu! Bagaimana sikap teman-temanku! Mereka mengasihani diriku tentang hal ini dan satu hal yang perlu kau ketahui… kau sendiri yang memintaku untuk merawatmu, betapa khawatirnya aku saat kau menghilang!!!, di tengah kemarahannya yang membeludak, Yuma tidak mungkin melupakan Baro. Ternyata kawasan itu kini tidak menandakan keberadaan Baro kecil.
“Baro, Baro!!”, Yuma pun berlari namun ditahan Gongchan.
“Kau!! Karena kau! Dimana sepupuku???!”
“Tenanglah Yuma!Ddi kau hanya meluapkan emosi tanpa berpikir dingin”
Gongchan menarik tangan Yuma dan mencari Baro bersama.

Ternyata Baro tidak pergi terlalu jauh dari taman, ia hanya memandangi mainan-mainan yang dijual di pinggir jalan. Setelah itu, Gongchan dan Yuma mengantar Baro ke rumah orang tuanya. Yuma masih tidak ingin berbicara dan menatap Gongchan sedari tadi.
“Maaf Yuma, aku tidak bermaksud seperti itu padamu. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana keadaanku sekarang. Beberapa waktu lalu setelah pertandingan sepakbola usai, aku menemui kakek dan ingin sembuh supaya aku tidak merepotkan dirimu lagi”
“Apa? Kau”
Gongchan menampakkan bekas jahitan di perutnya.
“Gongchan….”
“Operasi yang sukses, tidak perlu kau memikirkannya”
Yuma melahap habis minumnya dan merasa tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Gongchan pun tersenyum.
“Baiklah Gongchan, sekarang terserah apa yang ingin kau katakan. Kau ingin memutuskan hubungan denganku atau sebaliknya..”
“Hah, Yuma! Apa yang kau bicarakan??!”, Gongchan tersedak oleh minumnya.
Gongchan mendekat kepada Yuma dan menggenggam tangannya. Dipasangkan gelang berwarna biru pada tangan Yuma oleh Gongchan.
“Apa ini?”
“Itu gelang kesayangan Ibuku. Kurasa hanya kau yang bisa menyimpannya dengan baik”

Mereka pun menaiki bus. Malam itu adalah malam berbintang indah bagi Yuma. Yuma bisa memaklumi keadaan Gongchan dan ia masih menyayangi lelaki itu.
“Yuma, ada sesuatu hal yang harus kukatakan padamu”
“Apa?”
Gongchan menatap Yuma dengan serius.
“Lusa aku akan pergi ke Barcelona melanjutkan sekolah dan menggapai cita-citaku di sana. Maafkan aku karena memberitahumu sekarang ini… Ayahku mengirimkan uang untuk pergi dari sini. Aku harus mematuhinya jika aku masih berniat hidup. Aku akan kembali lagi untukmu. Tunggulah aku Yuma dalam waktu lima tahun”, pelan-pelan Gongchan mengungkapkan kata demi kata tanpa sedikit pun bermaksud ingin menyakiti hati Yuma.
Gongchan menyenderkan kepalanya pada pundak Yuma. Secara tidak sadar Yuma meneteskan air mata. Gongchan mengelus helai rambut Yuma dengan lembut.

LOVE

Five years later….

Semua orang telah berhamburan keluar gedung setelah acara pelepasan sarjana-sarjana muda tanpa terkecuali Yuma. Para sarjana berfoto kepada teman-teman, keluarga bahkan kekasih mereka. Hal itu membuat Yuma murung, di saat bahagia seperti itu ia ingin Gongchan ada di sisinya. Selama lima tahun ia hanya menyimpan hatinya untuk Gongchan. Melalui email, skype, dan tentunya handphone keduanya tidak pernah melupakan satu sama lain. Sebagai calon dokter spesialis kulit ia begitu bangga dengan pencapaiannya.
Yuma kemudian berlari agak jauh untuk menghubungi Gongchan.
“ The number you’re calling is not active….”
“Apa-apaan ini! Baru kali ini dia berani untuk melakukan hal di luar perjanjian…
Gongchan!!!!!!!!!!!!!!!”, seseorang melakukan back-hug padanya.
“ Berhentilah meneriakkan namaku… “
Yuma menoleh.. dan menutup mulutnya yang ternganga melihat pemuda yang kini dua kali lipat lebih tampan dari sebelumnya. Gongchan memeluk Yuma erat.
“Yuma, aku senang sekali ada di sini. Aku sangat senang kau sudah menyelesaikan kuliahmu. Aku sangat merindukan pacarku ini”
“Aku juga.. bagaimana denganmu?”
“Kau meragukanku..kau tidak lihat tampilanku sekarang. Aku adalah seorang arsitek yang akan dibutuhkan oleh banyak perusahaan, haha”
Dua orang, lelaki dan pria berjalan ke arah mereka.
“Hey, apa yang kalian lakukan di sana”
Ternyata Jinnyoung dan Arim, keduanya bergandengan. Yuma melirik Gongchan sebentar, Gongchan membisikkan sesuatu padanya.
“Hubungan kami sekarang membaik, tenanglah”
“Oh Yuma, sahabatku! Aku bangga sekali padamu…hah, kalau aku jadi kau mungkin isi kepalaku ini entah apa jadinya. Oleh karena itu, aku menjadi designer…”, ucap Arim dengan girang yang membuat lainnya tertawa dengan kekonyolannya.
Dua pasangan tersebut tidak lama kemudian menikah dan ber-honey moon bersama-sama^.

LOVE

Advertisements

2 responses to “[Freelance] A Love from Son of Mafia

  1. bahasanya agak gak jelas karna kurang nya titik (.) koma (,)
    penempatan titik/koma juga penting. makanya kalo salah kasih akibatnya fatal.
    tapi lumayanlah ff nya~~

  2. Agk kurng fhm sma jln crtax. Sering bingung. Tpi mqn k tngh trus mnjlng akhir aq bru bsa fhm. Over all bgus kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s