Its All About Love, Baby! <= Present for My Namja

Title : Its All About Love, Baby!

Author : Inthahindah

Length : Oneshot

Genre: Romance, AU

Rate : PG +16

Cast :

  • Son Dongwoon B2ST (Beast)
  • Lee Soojin (OC)
  • Yoseob Appa *lupa namanyya siapa*

Disclaimers :This story really mine!!! Karakter Dongwoon di sini hanya sudut pandang author terhadap kebesaran hati suamiku selama ini. Ehehehe… Mian kalo ada yang gak sreg! Sorry juga kalo gaje. Buatnya ngebut! XDD

Warning!!!!! Siapapun dilarang membayangkan yeoja ini adalah dirinya! INI AUTHOR *dicaps biar dramatis* Son Dongwoon cuma milik author seorang *dibunuh Beauties*

Ketidakkorelasian antara judul dan isi bukan salah author!  Begitu juga dengan kesalahan grammar dan penulisan. Itu salah Lappie *nunjuk layar laptop*

SPECIAL FOR MY NAMJA

*** Its All About Love, Baby! ***

Baiklah! Ini aneh!

Di tengah hiruk-pikuk ini, aku malah memperhatikan layar ponsel. Keriuhan yang sebenarnya dibuat khusus untukku justru tak menarik perhatianku.

Aku masih menatap penuh harap.

Ayolah! Berdering! Berdering! Berdering!

Atau setidaknya bergetar!

Kumohoooon >.<

Huh!

Sejak beberapa hari yang lalu, twitterku penuh dengan mention dari Beauties dan Swooners.

Sialan! Bodoh! Tidak ada tanda-tanda dia akan menghubungiku. Kenapa? Apa dia lupa? Dia sudah tidur? Haruskah aku menanyakannya? Meneleponnya? Tapi ini sudah pukul 2 malam. Kasihan dia jika ternyata sudah tidur dan terpaksa bangun karena teleponku. Apalagi besok ia bilang akan sift pagi.

Tapi aku membutuhkannya sekarang!! Aku ingin doanyaaaaaaa…

Ah, ini bodoh!

Aku, Son Dongwoon. Aku magnae Beast yang kerapkali mengaku bahwa aku ganteng, meski sebenarnya aku tahu aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan member lainnya. Aku, magnae yang bahkan tak bisa dikatakan magnae karena wajahku tak lebih imut daripada Yoseob Hyung atau Hyunseung Hyung. Aku, magnae yang tak mampu berhadapan lama dengan kamera. Aku, magnae yang tak bisa melakukan tarian dengan sempurna seperti Hyung-Hyungku. Aku, magnae yang hingga saat ini masih sering menangis dalam diam kala ada Beauty yang mengatakan bahwa aku tak pantas ada di Beast. Aku, magnae yang hanya mampu menyunggingkan senyum tipis ketika Beauty berkata mereka bukan fans-ku, melainkan member lain. Aku, magnae yang hanya bisa menahan isak tatkala ada Beauty yang berkata mereka tak akan pernah bisa menyukaiku. Aku, magnae yang selalu berlindung di balik punggung pertahanan Doojoon Hyung. Aku, magnae yang begitu dijaga tak hanya oleh leader, tetapi juga semua member Beast lainnya.

Kenapa?

Karena aku rapuh. Karena aku tak setegar yang terlihat. Aku hanya berusaha tampak begitu.

Kekuatanku, selain keluargaku, adalah Beast. Dan Swooners, yang sudah pasti Beauty.

Dan Soojin.

Yeojaku! Sejak 2 tahun yang lalu. Satu-satunya orang luar yang kusayang. Satu-satunya simpul yang tak ingin kulepas. Satu-satunya harapan yang tak ingin kubuang. Malaikatku.

Dan ini yang sedang menganggu pikiranku sekarang.

Lee Soojin tidak menghubungiku hari ini! Detik ini! Dua jam yang lalu juga tidak.

DI HARI ULANG TAHUNKU!!

Mustahil dia lupa. Bahkan jam 10 tadi dia baru saja meneleponku. Dia menanyakan tentang rencana perayaan ulang tahunku bersama Beast dan Beauty. Dia juga bilang tak bisa datang ketika aku memintanya ikut.

Jadi kenapa Soojin tidak mengucapkan apa-apa padaku? Bahkan tidak ada doa? Padahal dia selalu menjadi yang pertama mengucapkannya padaku sejak 2 tahun aku mengenalnya. T_T

Ayolah! Ini ulang tahun ketigaku bersamanya. Sangat aneh jika dia lupa.

Atau dia mau mengerjaiku? Memberikanku kejutan?

Ah, semoga saja!

^_^_^_^_^

“Neon eodi?” tanyaku sesaat setelah nada tunggu berakhir.

Terdengar helaan nafas kecil di sana. “Aku masih di restoran. Wae?”

Aku mengernyit. “Begitu ramai? Kau kedengaran lelah.”

“Aniyo. Gwaenchanha. Memang cukup ramai. Tapi ini kan bukan pertama kalinya. Kau tahulah, ini restoran Yoseob Oppa.”

Aku mendengus. Cih! Yoseob Oppa. Aku yang lebih tua tidak dipanggil Oppa. Meski ia hanya lebih muda satu tahun, tetap saja. Seharusnya aku yang pacarnya ini juga dia panggil Oppa.

Ah, maja! Dia bahkan tidak pernah memanggilku dengan embel-embel ‘chagi’, ‘sayang’, ‘honey’, atau apalah. Pokoknya tidak pernah. Yang keluar dari mulutnya selalu ‘Woon-ah’ atau paling manis ‘Woonie’. Aku tak lebih spesial dari Yoseob Oppa atau member lainnya.

BAHKAN DOOJOON HYUNG PUNYA PANGGILAN KHUSUS DARINYA.

Mana bagianku sebagai pacar? -___-‘

“Sift mu sampai kapan?” tanyaku akhirnya. Yah, setelah sedikit berdebat dengan hati sendiri.

“Ah, aku lupa memberitahumu, Woon-ah! Mianhe! Tadi staf lain memintaku menggantikan sift-nya karena ada keperluan mendadak. Jadi aku baru selesai jam 10 malam. Mianhe….”

Aku mendesah kecewa. “Jadi, kau mau bilang kita tidak jadi ke luar?”

“Mm… mau bagaimana lagi. Jeongmal mianhe!”

“Gaereu, na gidaryeo!”

Ia sedikit terkesiap sepertinya. “Andwae… Kau besok ada jadwal pagi. Kalau malam ini kau…..”

“Soojin-ah… Na saengil-ieyeyo. Dan aku ingin merayakannya bersamamu. Gwaenchanha. Aku tunggu kau hingga selesai.” sahutku lembut.

Sepi di sana.

“Baiklah! Segera setelah aku selesai, aku akan mengabarimu, eo? Sudah ya! Annyeong, Son-sshi!”

Son-sshi?? Kenapa itu terdengar manis di telingaku? Kkkk…

^_^_^_^_^

“Selamat datang!”

Aku tersenyum ramah mendapat sambutan itu. Pelan, kumasuki restoran yang tak terlalu besar itu. Setelah menebar pandang dan mendapat tempat yang pas, aku pun langsung menjatuhkan diriku di atasnya. Tak lupa kusampirkan cotton jacket yang tadi kupakai.

Sepertinya aku jadi pusat perhatian. Samar kudengar bisikan-bisikan kecil yang disertai tatapan aneh dan bertanya. Wajar, aku datang tanpa penyamaran ke sini. Lagipula untuk apa? Toh ini restoran Yoseob Hyung.

Lagi, kuedarkan pandang ke penjuru restoran. Dan menemukannya. Yeojaku. Hehehehe….

“Dongwoon-ah? Neo yeogisseo mwohae?”

Aku mengalihkan perhatian. Dan terperangah menatap sosok berumur di depan mataku. Aku tersenyum salah tingkah. “Ah, Ahjussi… Annyeong haseyo!”

Aku membungkuk. “Kau belum jawab pertanyaanku.” ujar Ahjussi lagi.

“Ah, kkeugee,.. Aku… aku hanya ingin berkunjung saja, Ahjussi.”

Ahjussi tersenyum simpul. Dan penuh arti. “Hanya berkunjung?”

Aku lagi-lagi salah tingkah. Apa dia tahu hubunganku dengan Soojin? Apa Yoseob Hyung memberitahunya? Omooo, eotteohke? “Ah, ne, Ahjussi..” jawabku pendek.

“Baiklah. Chankamman, kupanggilkan pelayan terbaikku.” Ahjussi berlalu masih dengan senyum dalamnya.

Aku menghembuskan nafas lega. Bagaimanapun, aku tak ingin kedatanganku menyusahkan Ahjussi, atau bahkan Soojin.

“Annyeong haseyo, Tuan! Selamat datang di restoran kami. Anda mau….. Kau?”

Sapaan lembutnya berubah menjadi pekikan tertahan saat aku mengangkat wajahku. Aku menyunggingkan senyum kecil. “Annyeong!”

“Neo!” Soojin mengedarkan pandangnya ke sekitar. Diusahakannya agar wajahnya tak tampak gugup atau terkejut. “Kau sedang apa di sini?” bisiknya.

Aku melipat kedua tanganku di dada. Kucondongkan tubuhku sedikit ke depan. “Aku haus, Agasshi. Tolong buatkan aku cappuccino latte,eo?” godaku.

Soojin menganga. Gyaaa! Dia lucu >.<

|Setelah, mungkin, mengontrol dirinya atas tingkahku, ia segera menyunggingkan senyum. Terpaksa. “Ne, algesseumnida, Son-sshi! Mohon tunggu sebentar.”

Aku menahan tawa ketika dia mengerucutkan bibirnya. Sesegera mungkin ia berbalik dan meninggalkanku sendiri.

Aku kembali mengalihkan mata. Dan mau tidak mau menebar senyumku, karena ternyata aku memang jadi pusat perhatian di sini. Bahkan, ada beberapa yeoja yang akhirnya berani datang ke mejaku dan mengajakku foto bersama. Baiklah! Karena ini hari bahagiaku, tidak apalah aku berbagi dengan mereka. Lagipula, aku diberi kado doa super indah dari mereka. Hehehehe…

Minumanku sudah datang dari tadi. Tapi bukan Soojin yang mengantar. Dia itu. Pasti dia sengaja menghindariku. Dulu juga. Ketika aku datang ke sini bersama member lainnya, ia dengan sengaja tidak memandangku. SAMA SEKALI. Tapi aku cukup senang juga. Soalnya dia tidak berusaha mencari perhatianku. Hah, tanpa usaha pun dia selalu jadi fokus utama hidupku.

Aku menatap jam di ponselku. Sudah hampir pukul 10. Aku pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sini. Kulambaikan tanganku ke arah pelayan terdekat. Bingo! Itu Soojin. Lagi-lagi dia memaksakan dirinya senyum di depanku. Hahahaha…

“Ne, Son-sshi?”

“Agasshi, aku sudah selesai. Bisa tolong kau hitung sekarang?” titahku. Sebisa mungkin aku tak ingin tertawa atau tersenyum. Bagaimanapun, aku tak ingin Soojin jadi pusat perhatian.

Setelah menghitung pesananku, Soojin, masih dengan tatapan kesal, memberikan bill padaku. Aku mengeluarkan beberapa lembar uang padanya. Tak lupa menyelipkan note kecil yang sebelumnya sudah kusiapkan. “Igeo! Sisanya untukmu. Anggap saja tip!” jawabku sambil menyodorkan uang itu. Tak lupa kuselipkan sinyal melalui mata agar ia menyadari kertas itu.

Soojin mengangguk. “Ye! Kamsahamnida, Son-sshi. Silahkan datang lagi.”

^_^_^_^_^

BRAAKK!!!

Soojin membanting pintu mobilku cukup keras. Aku terlonjak kaget. “Neo wae gaereu?” tanyaku aneh.

“Aku yang tanya, bodoh! Untuk apa kau datang? Aku toh sudah mengatakan kita akan tetap bertemu.” amuknya. Yah, bukan amukan sebenarnya seperti kemarahannya terakhir kali ketika masalah Beautifull Show itu. Ia masih terlihat santai. Meski, yah, wajahnya sedikit memerah.

Aku menghempas tubuhku ke sandaran kursi. “Fuuhh! Mau bagaimana lagi. Aku merindukanmu.” Aku memandangnya, melihat reaksinya.

Wajahnya melembut. “Woon-ah…..”

“Aku serius! Kita sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Meski akan bertemu, tetap saja. Aku ingin melihatmu lebih cepat.” potongku lagi.

“Aku… aku…. Tapi kau juga tak perlu datang, kan? Dengan sengaja tebar pesona. Cihh!”

“Soojin-ah, bisakah kita tidak bertengkar? Ini ulang tahunku. Aku tidak mau sia-sia, eo?!” pintaku.

Kuelus lembut rambutnya. Hari ini digerai. Manis. Dia sangat jarang menggerai rambutnya. Aku bahkan nyaris tidak pernah melihatnya. Ditambah lagi intensitas pertemuan kami yang memang jarang, aku semakin sulit memantau kegiatannya.

Dia menunduk. “Baiklah! Ayo jalan! Selama kau tidak membawaku ke tempat aneh, malam ini aku milikmu.” jawabnya akhirnya.

Cih! Memangnya sebelum ini dia tidak milikku? Bodoh!

^_^_^_^_^

Baiklah!

Ini sangat tidak menyenangkan.

Aku, namja yang tengah berulang tahun. Aku, namja yang saat ini tengah bersama kekasihku di hari ulang tahunku. Aku, namja yang saat ini tengah menikmati waktu bersama malaikatku.

Dan aku tidak bahagia!

Kenapa?

Kenapa dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa? Kenapa ia sama sekali tidak mencetuskan ulasan doa untukku seperti sebelumnya? Dia berulangkali mengatakan ‘karena hari ini ulang tahunmu’, tapi kenapa tak ada doa? Aku bahkan tak mendapat ucapan “Selamat Ulang Tahun, Woon-ah!” Kenapa?

Arrrgggghhhh >,< Aku bisa gila kalau begini!

Setelah lelah berkeliling dan bermain, aku akhirnya membawanya ke sini. Surganya kekasih. Sungai Han. Kkkkk… Baiklah! Aku hanya tidak tahu harus kemana lagi. Lagipula, ini sudah pukul setengah 12 malam. Ah, sebentar lagi ulang tahunku selesai. T_T

“Soojin-ah, ayo turun!” ajakku. Sudah dari tadi aku mengajaknya keluar.

Ia menggeleng. Lagi-lagi. “Kita di sini saja, Woon-ah! Di luar masih banyak orang. Kau tidak memakai penyamaranmu. Bagaimana jika ada paparazzi yang melihat? Kau bisa kena masalah!” sahutnya.

Alasan itu. Lagi!

Aku mendengus. “Soojin-ah…. sekali saja! Bisakah kau tidak membahas masalah itu?”

Dia memandangku. “Mana bisa! Bagaimanapun juga, kau tetap harus hati-hati. Aku tidak ingin karirmy berantakan karena hal ini.”

Ini!

Kenapa dia harus lebih memikirkan aku dibandingkan kebahagiaannya? Ini sudah tiga tahun aku menyembunyikan hubungan kami dari Beauty. Mengaku tidak memiliki kekasih itu menyakitkan. Dan aku yakin, dia lebih tersakiti ketika aku mengatakannya di depan fans.

“Soojin-ah… sebentar saja. Bisakah kau melupakan bahwa aku seorang artis?”

“Andwae!” jawabnya sambil menggeleng. “Kenyataan tak bisa dikesampingkan, Woon-ah! Makanya, jangan cari mati, eo?”

“Soojin-ah….”

“Jangan berdebat, Son-sshi! Ulang tahunmu hampir berakhir. Jangan rusak hari bahagia ini! Arra?” titahnya.

Nah! Itu dia ingat ulang tahunku akan berakhir. Kenapa masih belum ada ucapan?

“Ah, aku lupa! Chankamman!”

Aku mengernyit. Soojin meraih tas tangannya yang tadi diletaknya di kursi belakang. Ia mulai mengobrak-abrik tas yang tak terlalu besar.

Dan mengeluarkan kotak kecil.

Mataku menyipit. Ia mengulurkan kotak kecil berwarna ungu itu padaku. “Igeo!”

Aku menerimanya dengan kening mengernyit. “Ini apa?”

Soojin tertawa kecil. “Hadiah ulang tahun, Son-sshi! Apalagi?” gelaknya.

Hadiah? Aku dapat hadiah? Aku meliriknya. “Boleh kubuka sekarang?” tanyaku.

“Ani! Nanti saja! Setelah hari ini berakhir.”

Kami terdiam. Aku menunggu, sebenarnya. Tentu saja. Aku sudah dapat hadiah, pasti disusul ucapan, kan?

Lama. Tidak ada yang membuka suara. Aku gerah. Akhirnya aku buka jendela mobil. Setidaknya menyegarkan wajahku, walau hatiku masih sedikit kesal. Kenapa dia tidak mengucapkannya?

“Kenapa kau tidak mengucapkan apapun untukku? Aku menunggumu semalam. Bahkan hingga kini kau tidak mengatakan apa-apa. Hanya memberiku hadiah, hanya itu? Kau tidak ingin mendoakanku?” ungkapku akhirnya.

Tidak! Ini bukan sebuah emosi. Yah, ini emosi! Tapi aku tidak mengatakannya dengan amarah. Aku hanya sedikit… kesal!

Dia diam. Menunduk. Dan menatap arloji di tangannya!

Dan masih tak mengatakan apa-apa!!

Aku membuang pandang ke luar. Kenapa? Kenapa akhir hari bahagiaku harus begini?

“Woon-ah….. mianhe..” sahutnya.

Aku berbalik menatapnya lagi. “Maksudmu?”

Wajahnya gugup. “Itu… Hadiah itu. Jika dibandingkan dengan timbunan hadiah dari fansmu, mungkin itu bukan sesuatu yang berharga. Mianhe! Hingga saat ini, aku tak pernah bisa memberikan sesuatu yang pantas bagimu. Jeongmal mianhe, Woon-ah… Aku benar-benar merasa tidak pantas di sampingmu!”

Halus. Dan bergetar.

“Soojin-ah, aku tidak suka gurauan seperti ini! Kau tahu aku tak pernah suka kau membahas perbedaan dunia kita.” jawabku sehalus mungkin.

Aku tak ingin bertengkar dengannya. Tidak lagi. Dan aku juga tidak ingin dikerjai dengan cara seperti ini. Ini sama sekali tidak lucu. Dan tidak menyenangkan.

“Aniya! Aku serius! Aku juga sedang tidak bergurau, Woon-ah! Ini… Ini yang sebenarnya kurasakan.”

Dia terisak.

Lagi?

Ini ke sekian kalinya yeojaku ini menangis. Karena perbedaan dunia kami. Tuhan, sebegitu terlukanya kah ia?

Tapi aku juga tak ingin melepasnya.

Aku menarik bahunya. Kuhadapkan dirinya ke arahku. Kusentuh dagunya, mensejajarkan pandangnya dengan mataku.

“Kau… apa kau sangat tersiksa di sampingku?” tanyaku. Serak. Sakit.

Dia menggeleng cepat. “Aniya! Bukan itu! Aku hanya merasa… kau benar-benar tinggi, Woon-ah! Kau tampak berkilau. Dan makin berkilau seiring waktu. Dan aku masih di sini. Di tempatku. Menatapmu dari kejauhan. Sedekat apapun aku denganmu, tetap tak bisa menepis fakta. Kita di dunia berbeda. Aku merasa tak pantas di sampingmu.” jawabnya. Masih terisak.

Sialan. Aku benci mengatakan ini. “Lalu? Apa yang harus kulakukan? Melepasmu? Atau melepas hidupku sekarang agar kita sejajar?”

Dia tertegun. Dan terbelalak. Aku tahu kata-kata selanjutnya.

“Mitcheosseo? Maldo andwae! Beast dan Beauty itu hidupmu. Tidak boleh! Kau tidak boleh melepasnya!”

“Lalu? Kau yang harus kulepas?”

Soojin terdiam. Aku senang! Dia saja tak ingin kulepas, kenapa membahas hal bodoh ini? Lupakah dia hari ulang tahunku hampir berakhir? -___-‘

“Aku…. aku….”

“Seragu itukah kau padaku?” tanyaku lagi.

“Aniii… Kan sudah kukatakan, aku hanya merasa tak pantas.” tekannya.

“Apa bedanya?”

“Beda, Woon-ah! Beda! Itu jelas-jelas ti…..”

“Lee Soojin!”

Singkat! Tapi membungkam mulutnya.

Aku menghela nafas. Kesal. Lega. Takut. Semuanya bercampur. Aku tak ingin ini berakhir buruk.

“Barabwa!” pintaku. Kuangkat kembali wajahnya yang tertunduk. “Pernahkah aku meminta lebih padamu?” tanyaku. Ia menggeleng. Aku tersenyum tipis. “Kalau ada pihak yang merasa tak pantas, akulah orangnya, Agasshi! Kau terlalu tangguh untuk tunduk pada namja seperti aku!”

Ia mengernyit.

Kulepas pegangan pada dagunya. Kehangatan itu justru kualirkan melalui jemariku pada lentik jarinya sekarang. “Soojin-ah, aku tidak pernah mengharapkan apapun. Aku tak perlu seseorang yang pantas. Aku hanya butuh tangan yang bisa menggenggamku saat aku terluka. Aku hanya butuh bahu yang bisa menenangkanku ketika aku jatuh. Aku hanya butuh senyuman tulus kala kegundahan besar menimpaku. Aku hanya butuh rengkuhan hangat saat tangisku tak mampu lagi kutahan. Aku hanya butuh seseorang yang tak hanya berada di sisiku kala bahagiaku, tapi juga menjagaku saat aku lemah. Aku butuh seseorang yang membuatku menjadi diriku sendiri, tanpa melupakan statusnya juga statusku. Aku butuh seseorang yang dengan besar hati memikirkan diriku melebihi hidupnya. Aku butuh seseorang yang selalu mampu membuatku berdebar tiap kali bertemu tak peduli sudah melewati tahun. Seseorang yang lebih dulu menangis untukku ketika aku dipojokkan.”

Dia menatapku dalam diam. Aku memajukan wajahku. Mengecup keningnya lembut.

“Bodoh! Aku tak butuh kadomu. Aku hanya membutuhkanmu, Lee Soojin!”

Kupeluk ia erat. Ah, rasanya seperti bertahun-tahun tak bertemu. Kuelus lembut rambut indahnya.

Pelan, kurasakan tangannya melingkar. Digenggamnya bahuku lembut. “Nadoo. Kumohon jangan melepas tanganku, Woon-ah! Mianhe.”

Aku sekali lagi mengecup puncak kepalanya. “Harusnya kau tidak membahas ini jika kau sendiri tidak ingin pergi dariku, Agasshi!”

Ia menganggukkan kepalanya dalam dekapanku.

“Woon-ah…” panggilnya.

“Mm?”

“Saengil chukkae..”

Deg! Jantungku berdebar lagi.

Sontak aku melepas pelukanku. Kupegang bahunya. “Ulangi!” pintaku.

Dia tertawa melihat reaksiku. Segitu anehnya? Wajar, kan?

Dia memegang pipiku lembut. “Gaereu! Saengil chukka, Son-sshi. Aku tidak tahu harus menitipkan doa yang bagaimana kepada Tuhan. Kau sudah sempurna, bahkan terlalu sempurna. Aku hanya bisa berharap kau lebih sempurna ke depannya. Kuharap Tuhan tak melepas mata-Nya darimu. Kuharap Ia tetap merengkuhmu erat. Dan semoga Tuhan juga tetap dengan setia meminta malaikat-malaikat-Nya untuk berdiri di sampingmu. Semoga mereka mampu menjagamu dengan ketat.”

Aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya!

Gentian aku yang memegang pipinya. “Kenapa kau tidak mengucapkannya dari kemarin? Aku menunggumu.” Kusentil keningnya pelan.

“23. 59.”

“Mwo?”

“Aku sudah menjadi orang pertama sebelum ini, Woon-ah. Tapi aku juga ingin jadi yang terakhir. Mendoakanmu. Mengucapkan kata-kata indah yang ingin kau dengar. Memelukmu. Mendampingimu.”

Ah! Apa ini? Jantungku berdebar lagi menatap senyumnya.

“Soojin-ah…”

“Aku akan jadi orang yang terus bisa kau andalkan, Woon-ah! Tak peduli butiran kerikil, bahkan batu yang dilempar padaku. Tak peduli ribuan hujatan diarahkan untukmu ataupun untukku. Tak peduli berapa kali kau jatuh. Tak peduli berapa kali tangismu tumpah. Aku akan ada di setiap langkah yang kau ayun. Aku akan jadi orang yang pertama kali menitipkan kepercayaan padamu meski dunia menjauhimu. Aku akan jadi orang yang dengan bangga menyentuh dan mengangkatmu, bahkan ketika ketika tetes hujan tak ingin singgah di kulitmu.”

Jangan! Ini tidak lagi sebuah debaran. Aku hampir mati bahagia karena kata-katanya. Mataku bahkan sedang memanas sekarang.

“Soojin-ah…..”

Dia memajukan wajahnya dengan mata terpejam. Dan refleks membuatku melakukan hal yang sama.

Bibirnya masih semanis biasanya. Meski memang, aku sangat jarang menyentuh mungil guratan itu. Tapi aku ingat semua sensasinya.

Dan masih sama.

Lagi-lagi ini terasa seperti pertama kali.

“Son Dongwoon,… Saranghae!”

DEG!

Kurasa aku akan benar-benar mati hari ini. Dia terlalu sering memacu kerja jantungku.

Ungkapan itu. Hampir 3 tahun aku bersamanya, sangat jarang ia mengumbar ungkapan itu. Seingatku malah tidak sampai sepuluh kali ia pernah mengucapkannya.

Mengontrol gelegak bahagia, aku hanya mampu tersenyum kecil. “Nadoo! Nadoo saranghae, Lee Soojin.” jawabku.

Kuacak pelan rambutnya sebelum akhirnya menyalakan mobil untuk mengantarnya pulang.

Yah! Kurasa ini ulang tahun yang hebat! Hehehehe…

*** FIN ***

Baiklah! Aku mundur sebelum dilempar XDD
So, hanya ini yang bisa aku buat untuk suami tercinta!
Gak mesti ngucapin apa-apa lagi, soalnya semua doa udah aku tulis di sana, di atas, di dalam ff…|
ehehehe…
Readersdeul yang singgah, jangan lupa dikomen yaq…

Advertisements

17 responses to “Its All About Love, Baby! <= Present for My Namja

  1. Cieeee soo jiiiin !!!
    Kkkkk ~ bisa aja buat dongwoon panik gara-gara belum nyucapain met ultah kkk ~

    Baguuuus chingu !! Aku suka ت

    • cieeeeee *buat diri sendiri*
      aku hebat bisa bikin suamiku stres..
      hahay *dirajam*

      ah, ye! kamsahamnida *bow* Nadoo johahaeeee *senyum lebar*

  2. eommaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ini terlaluuu mantaaappp.. aku nanggiiss baca ini malem2.. nae namjaaa nangis dalam diam.. T.T aigo eomma seperti ngasih tao semua klo dongwoon itu begini.. aku berasa real ama karakter dia inii.. ^^dae t the bak lah untuk eommaa ^^

    • bunbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn
      gomawooooooooooooooooooooooo *kisshug*
      iya donk! biar semua orang tahu gimana gedenya hati namja kitaaa….
      aku capek nangisin luka dia diam-diam juga kkkk

  3. bah, nancep. Dalem. Ngena. Ah tau deh saem >< sampe gatau mau komen apa
    hahaha woonie yang terakhir itu biasanya yang terbaik. Nice fic saem^^ as always.
    Btw pas baca awal2 kirain ini ff saem yang seri beautyfull show itu ternyata engga hahaha

  4. eonnieee.. aku hampir nangis jadinya.. T.T
    baca di kampus si, masih ditahan. coba di kos, langsung bombay dah.
    keren, eon T.T

    mianhae, eon. aku memposisikan driki sbg dongwoon ^^v
    *dibunuh indah eonnie*

    • jinjaaaaaaaaa???
      ahahahaha
      nyampe donk yaq cinta eon buat dia…
      kkkkk
      gak papa, gak papa…
      toh hany memposisikan,,
      bukan mencintai dan ikut memperebutkan dia :DD
      gomawoyoooooooo :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s