Seasons of The Lucifer [CHAPTER 18]

Seasons of The Lucifer

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

Naomi masih terlihat pucat. Tanpa pikir panjang Jonghyun berlari ke arah Naomi, ia berhenti di tepi jalan karena kendaraan yang lewat cukup ramai namun kesenjangan waktu itu membuat Naomi sadar akan kehadiranya.

Sial! Seorang namja menyambar lengan Naomi, meski sekilas Namun Jonghyun tahu kalau orang itu Naoki. “Naomi Tunggu!”

Jonghyun langsung melangkah menerobos jalan meski beberapa kali Klakson dibunyikan untuk memperingatinya. Saat ia menoleh ke arah Kiri tiba tiba terdengar Klakson panjang dan sebuah mobil sedan yang melaju cepat, Jonghyun melangkah mundur bermaksud untuk menghindar namun Sial sebuah Truk Container menyambarnya.

“Jonghyun!!!!” teriakan Naomi seakan menggema.

Truk tadi berhenti secara mendadak dan dari jarak beberapa meter dari tempat itu terlihat tubuh seorang namja yang dipenuhi cairan merah berbau anyir.

 

~*~*~*~

 

Di ujung sebuah lorong rumah sakit, tampak jelas dua orang yang sejak tadi sibuk berganti posisi duduk atau sekedar mondar mandir untuk menyalurkan kecemasan.

Lampu emergency merah yang berada di atas pintu ruangan belum juga redup sejak sejam yang lalu, entah sudah berapa banyak harapan yang melambung. Hidup dan mati sahabatnya ada di sana.

“Hyung! Minhyun!”

Seruan itu membuat mereka sama sama menoleh dan mendapati Taemin sedang berlari ke arahnya. Taemin menghampiri Onew yang berdiri di depan pintu dengan raut yang sama cemasnya.

“operasinya belum selesai?” tanyanya.

Onew mengangguk singkat “sejak sejam yang lalu”

“aish!” Taemin mengacak rambutnya frustasi. Padahal ia berharap Sehabis mengantar Taehyun ke rumah, Jonghyun sudah selesai di operasi ketika ia kembali ke rumah sakit.

Tapi sekarang…. Sial! Ia tidak tega menebak bagaimana kondisi Jonghyun dan apa saja yang mungkin hilang dari tubuh namja itu atau bahkan posisi yang tidak sesempurna dulu.

Kecelakaan yang dialami Jonghyun sangat tragis, darahnya membanjiri jok belakang mobil Key saat mengantar ke rumah sakit. Key tidak mungkin melihat Jonghyun atau menjenguk Minho yang kebetulan di rumah sakit yang sama, dia harus menjinakkan phobianya lebih dulu untuk itu namun sayangnya tidak bisa. Tapi mereka mengerti kalau Key sangat ingin melakukanya.

Setelah Lama berperang dengan kekhawatiran, akhirnya lampu merah itu padam dan sejurus kemudian pintu ruangan terbuka. Minhyun beranjak dari duduknya lalu menghampiri Onew dan Taemin yang berhadapan dengan dokter.

“Uisa-nim, bagaimana keadaanya?” tanya Taemin.

“sangat kritis, pasien kehilangan banyak darah. Ada peretakan pada tulang, luka yang tergolong parah pada punggung dan lecet di wajah, 4 jahitan dikening dan 12 jahitan dikepala. Kami harus memotong seluruh rambutnya untuk itu”

Mendengar penjelasan dokter, Onew, Minhyun dan Taemin melemas seketika. Meski Jonghyun tak kehilangan bagian tubuhnya namun rasa sakitnya pasti mencekam.

“jadi Jonghyun gundul?” Taemin dan Minhyun langsung menghyujamkan pelototan pada Onew, itu bukan pertanyaan yang tepat untuk situasi ini! aish!

“hampir, karena kami bukan potong rambut Profesional” Huh! Ternyat dokter dan  Onew sama saja, keluh Minhyun dan taemin dalam hati.

“apa diantara kalian ada bergolongan darah B? disini hanya tinggal 1 kantung yang tersedia”

Onew dan Taemin saling tatap dan menggeleng kemudian. “aku golongan darah B” seru Minhyun.

“bagus! Cepat ikut denga suster” Minhyun langsung berjalan kearah seorang suster setelah ditunjuk dokter tadi. “dan kalian, tolong bantu dia mengisi biodata di ruangan sebelahnya”

Taemin menoleh kearah Onew ketika dokter itu pergi “hyung, Kau saja ya! Minho Hyung tadi mengirim pesan, aku disuruh keruanganya sekarang” pinta Taemin. setelah mendapat anggukan dari Onew, namja itu pun pergi

 

~*~*~*~

Suasana kelas terasa mencekam, para murid sibuk berkutat dengan beberapa lembar kertas yang berisi 50 anak soal dan harus diselesaikan dalam waktu 1 jam. Tak ada waktu untuk berdiskusi atau bertanya jawaban, karena selain guru yang mengawas memiliki mata elang, hal itu juga bisa membuyarkan konsentrasi.

Sebulan menjelang Ujian akhir, setiap kelas terus diberi soal soal latihan. Dan semakin terlihat para siswa tahun ketiga yang semakin sibuk mondar mandir di perpustakaan atau berdiskusi di kelas maupun di taman.

Bel usai pelajaran sekaligus bel pulang berbunyi, sejurus kemudian terdengar helaan nafas dari hampir seluruh siswa. Mereka menyerahkan lembar jawaban kepada guru kemudian kembali ke tempat duduk dalam keadaan lesu.

“Soal yang mematikan” gerutu Minhyun sambil memasukan alat tulisnya ke atas meja.

“Minhyun-ah, kau mau ikut menjenguk Jonghyun?” Onew yang berjarak 3 meja disamping berseru kepadanya. seminggu berlalu sejak insiden kecelakaan Jonghyun, keadaan namja itu membaik dengan sangat pesat, tapi belum bisa bergerak banyak. dia punya daya tahan yang kuat, mungkin sudah terbiasa mengingat dulu dia sering adu jotos atau latihan berat sewaktu bersama Elison Kim.

“ye!” ucap Minhyun sembari mengenakan tas ranselnya, ia menoleh ke sebelak kiri menatap seorang namja yang sedang membereskan tasnya “Minho-ya, apa kau mau ikut?”

Minho menatap Minhyun sekilas lalu mengangguk, ia sudah kekuar dari rumah sakit 3 hari yang lalu. Luka jahitnya semakin membaik meskipun benangnya belum di lepas.

Minho hanya menyampirkan tasnya di pundak kiri, ia berjalan ke arah Onew yang menunggu mereka. “kau tidak ikut, key?” tanya Minho dengan suara rendah.

Key menggeleng “mianhae”

“Hyung!” Taemin berlari kecil ke arah mereka “apa kau tidak punya berkas atau apapun yang harus diserahkan ke SSedna?” tanyanya tiba tiba.

Onew berfikir sejenak “untuk apa?”

“aku ingin bertemu Sungrin tapi dia tak pernah mau mengangkat teleponku atau membalas pesanku. Aish! Yeoja itu, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya”

“ehm… ehm… ingat anak ingat istri” celetuk Onew dan sukses membuat Minhyun yang ikut menghampiri mereka tertawa lebar. Sedangkan Taemin wajahnya mesem mesem gara gara jadi bahan olokan lagi.

“di atas meja belajarku ada map biru, seharusnya itu ku serahkan besok tapi kau ambil saja”

“okay! Sampaikan salamku pada Jonghyun Hyung!” secepat Taemin mengakhiri kata katanya, secepat itu pula dia mekesat pergi. Rasanya Onew dan Minhyun gatal untuk mengolok olok ‘Appa’ muda itu.

 

~*~*~*~

Sekeluar dari gedung SShall, udara panas langsung menggelitik kulit Taemin. Korea memasuki musim panas bulan ini dan siswa ShineShall Accademy berganti seragam dengan kemeja putih lengan pendek yang dipadukan dasi navy red dan celana coklat gelap, meskipun begitu tetap saja terasa panas.

Taemin mempercepat langkahnya melewati Golden brige dan memasuki gedung ShineSedna. Ia menyerahkan berkas dalam genggamanya ke ruang organisasi siswa kemudian kembali menyusuri lorong lorong kelas.

Meski setiap murid menatapnya dengan gemas, namun Taemin berusaha tak memperdulikanya. Ia terus mencari sosok seorang gadis diantara para siswi yang mengenakan kemeja putih lengan pendek dan mini skirt kotak kotak purple – Violet.

“permisi, apa kau kenal….” Taemin tak melanjutkan ucapanya, ia tercengang melihat gadis yang ditanya malah megap megap menatapnya. Jika ini manga, pasti mata gadis itu berhentuk hati merah jambu yang berdagub dagub (?)

Ia berpaling ke gadis lain dan mendapati reaksi yang sama. SIGH! Tidak adakan yeoja yang waras disini?!!!! Taemin memukul pundak seorang gadis yang membelakanginya sambil berkomat kamit berharap yeoja yang dihampirinya ini sedikit lebih normal.

“HIYAAAA!!! JINHYA EONNI! AWASS!!!”

GUBRAKK bg%^&ur%$*

Taemin tak jadi bicara dengan yeoja tadi. Jeritan cempreng itu… tidak salah lagi itu pasti Sungrin! Taemin berlari secepat yang ia bisa, menembus kerumunan di koridor utama dan akhirnya berhasil menemukan yeoja yang ia cari.

Sungrin dan Jinhya tampak tersungkur di lantai dengan buku berserakan diantara mereka, tidak salah lagi pasti Sungrin menabrak Jinhya dengan cerobohnya. Saat  Taemin menjulurkan tanganya kehadapan Sungrin, gadis itu tersentak dan menatapnya dingin.

Alunan bel menggema diantara adegan kaku mereka, lama kelamaan kerumunan yang mengitar berangsur angsur hilang bersamaan dengan perginya Shin Sungrin tanpa menyambut uluran tanganya. Mengabaikanya.

“Lee Taemin, Gwaenchannayo?” pertanyaan Jinhya membuat Taemin menarik kembali tanganya sekaligus menyadarkan lamunanya.

Taemin menggangguk kecil lalu membantu Jinhya membereskan buku yang berserak.

“bagaimana keadaan Jonghyun?” tanya Jinhya memecah keheningan.

“tidak terlalu buruk. Apa kau ingin menjenguknya? Minhyun dan yang lain baru saja berangkat”

Jinhya meraih tumpukan buku di tangan Taemin dan menyatukan dengan susunan bukunya “baiklah, setelah aku menyerahkan ini ke teman Sungrin, aku akan ke rumah sakit” ucapnya sambil bangkit berdiri dan begitu juga Taemin “kau dengan Sungrin baik baik saja kan?”

Taemin terdiam sesaat lalu melayangkan senyuman termanis yang dimilikinya “sangat baik”

 

~*~*~*~

Sungrin berlari secepat mungkin seraya menoleh kebelakang, mengawasi bahwa seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini tidak mengikutinya. Sungrin menyadarkan tubuhnya di tiang penyanggah atap di lantai dua, terengah engah sembari mengamati jejak seseorang di bawah dan tak menemukanya.

Ia menautkan alis lalu menumpukan kedua tanganya di pagar pembatas. Orang itu tak ada di tempatnya terjatuh tadi, di koridor maupun di halaman sekolah. Sungrin mengigit bibir dengan gusar, saat ia berbalik hendak lari… Taemin berada di hadapanya.

“ikut aku” Taemin menarik lenganya kasar dan kaku.

Lorong lorong kelas yang kosong membuat langkah kaki mereka menggema, Sungrin terpaksa berlari kecil untuk mensejajari langkah Taemin yang panjang. Ia baru sadar Namja dihadapanya ini cukup tinggi, atau dia yang tergolong pendek?

“pe… lan…” pinta Sungrin disela nafasnya yang memburu, seketika itu pula taemin berhenti dan berbalik. Menghujam matanya dengan tatapan kaku.

Dalam sekali gerakan Taemin melingkarkan tangan kananya di pundak sungrin dan menyelipkan tangan kirinya dibelakang lutut gadis itu. ia menggedong Sungrin ala bridal style, tak peduli dengan kaki gadis itu yang menendang nendang di udara dan semakin memberatkanya, juga pekikan nyaring yang menyakitkan telinga

“diam atau aku akan menciummu!” ancam Taemin dan berhasil membuat sungrin bungkam.

“oh, aku lupa kalau kau bapak bapak berotak mesum!”

“MWOO??!!!”

Sungrin tak lagi memberikan perlawanan, dia tak mau beradu tatap dengan Taemin lagi karena itu akan menghancurkan segalanya. Sungrin mencengkram lengan kemeja Taemin ketika namja itu menaiki anak tangga satu persatu.

Semakin lama posisi kepala Sungrin menjadi bersandar ke pundak Taemin dan itu membuatnya lebih leluasa mencium aroma namja itu, ritme helaan nafas mereka sejalan bahkan tanpa mereka sadari degub jantung mereka yang meliar juga mempunyai irama yang sama.

Taemin mendorong pintu sebuah ruangan dengan kakinya, di dalam sana banyak terpajang kanvas kanvas besar yang ditutupi kain kasa. Painting Room itulah yang tertulis pada plang di samping pintu, terdapat banyak jendela besar yang langsung menghadap taman belakang SSedna. Mungkin itu menjadi inspirasi tersendiri untuk setiap orang yang akan melukis.

Taemin mendudukan Sungrin di jendela besar yang terbuka, tanganya ditempatkan di bingkai bawah jendela diantara tubuh Sungrin untuk mengunci gerakan gadis itu. dengan iseng dia mendekatkan wajahnya ke sungrin hingga membuat gadis itu tersentak dan secara refleks melingkarkan lengan di lehernya.

Sungrin yang takut ketinggian tak berani menatap ke bawah, namun saat ia menatap lurus tepat ke wajah Taemin, seringai setan namja itu menyapanya.

“sialan kau!” makinya.

Sungrin menurunkan tanganya ke lengan Taemin, berharap agar namja itu tak menjahilinya dan menyebabkan adegan yang tidak mengenakan.

“kenapa kau menghindariku, Shin Sungrin?”

Sungrin terdiam. Mata mereka masih beradu penuh arti terselip. Bunyi gesekan dedaunan dari taman belakang terdengar liar, dan sejurus kemudian semilir angin menyapu keras rambut mereka. Hembusan itu membuat jumputan poni sungrin keluar dari jepit rambutnya dan menghalangi matanya.

Masih dalam satu pandangan yang sama, Taemin mengangkat tanganya dan  merapikan jumputan rambut itu dengan menyelipkan kebelakang telinga Sungrin. “jawab aku” desisnya pelas.

“aku tidak tahu”

“kau baik baik saja?”

Sungrin mengangguk, namun matanya menyiratkan makna berbeda.

“ceritakan padaku semuanya, tentang asal usulmu, dan bagaimana kau mengenalku. Shin Sungrin! Kau membuatku gila” serang Taemin.

Sungrin terdiam, pandanganya beralih ke arah lain sebisa mungkin mengindari kontak mata dengan Taemin. Emosinya berkecamuk meskipun tidak tersalurkan, Sungrin tahu ia harus mengawali cerita ini dari…

“Jung Yunho dia ayahku…”

“kau bisa tidak menceritakanya jika kau mau” potong Taemin cepat ketika mendengar getaran suara sungrin.

“ketika umurku 9 tahun, orang tuaku bercerai karena Eomma tahu kalau Appa adalah seorang penipu. Beberapa tahun setelahnya Eomma menikah dengan pria bermarga Shin. Saat itu aku bersikeras tidak mau menganti margaku, Jung Sungrin menjadi Shin Sungrin karena aku sangat menyayangi Appa” Sungrin menghela nafas dalam, berusaha sekuat mungkin agar tak ada genanagan air dipelupuk matanya.

“dulu aku sering bersandar di bawah pohon sambil memejamkan mata, membayangkan momen bahagia ketika keluargaku utuh. Aku sangat menyayangi Appa, bahkan aku sering mengunjunginya meski Eomma melarangku. Aku senang setiap kali Appa memangkuku dan memelukku”

“aku menutup telinga dan mataku ketika Jia Eonni menjelaskan semua tentang Appa, bahkan aku membelanya. Tapi apa yang aku dapatkan? Appaku adalah seorang penipu” Sungrin menangis menkipun tak ada isakan dari bibirnya.

“puncaknya ketika ia dipenjara, aku yang selalu membanggakan Appa seketika diolok oleh semua teman sekelasku dan akupun memutuskan untuk pindah ke Seoul”

Entah atas dorongan apa, tiba tiba Taemin mengecup kening Sungrin dan membuat gadis itu menatapnya nanar.

“jangan menciumku Taemin-ssi, biarkan cerita ini selesai dan kau pun akan menyesal” balas Sungrin dingin.

“aku sengaja masuk ke sekolahmu dan mendekati CL, kau tahu untuk apa? Untuk balas dendam! Karena kau yang membuat hukuman Appa semakin berat!”

Taemin tersentak mendengar pengakuan Sungrin, ia menelungkupkan telapak tanganya di kedua pipi Sungrin lalu mengecup pangkal hidungnya. “kau tak mungkin balas dendam Sungrin-ah, kau begitu polos ketika aku menemukanmu di diskotik”

Sungrin menggeleng pelan “waktu itu aku baru berumur 13 tahun dan aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas penderitaanku. Maafkan aku… aku…”

Taemin melepaskan tanganya lalu mengecup pipi Sungrin. Sepertinya ancaman Taemin untuk mencium Sungrin agar dia diam, berhasil. Sungrin menghela nafas panjang sembari menunduk.

“ketika melihatmu bekerja untuk menghidupi Taehyun, aku merasa bersalah karena menyimpan dendam padamu. Kau begitu tulus untuknya, maafkan aku… aku merasa tidak tahu diri setiap berhadapan denganmu… maafkan aku”

Taemin tak bisa mendiamkan Sungrin karena semua bagian wajah gadis itu sudah diciumnya. Ia berusaha untuk tidak memalingkan pandanganya dari mata yang menatapnya pilu itu.

Mereka punya satu hal yang sama. Cinta yang tulus. Untuk seseorang yang mereka sayangi. Tetapi Sungrin memiliki kekeliruan.

“dirimu adalah dirimu. Ayahmu adalah ayahmu. Kalian berbeda, termasuk kesalahkan kalian. Sungrin-ah, Jangan mengorbankan dirimu. Aku sangat berterima kasih kau mau mengorbankan cintamu dengan menembak Jung Yunho untukku. Kau melakukan sesuatu yang benar… Jung Sungrin, Gomawo…”

Kali ini Taemin dibuat bungkam karena Sungrin menyatukan bibir mereka, bagian yang belum dikecupnya. Ditemani desisan angin musim panas, mereka membagi pengertian lewat pelukan hangat dan ciuman yang lembut. Semua begitu indah.

~*~*~*~

Key keluar dari mobilnya lalu menyandarkan punggung pada pintu mobil. Ia berhadapan dengan sebuah rumah berlantai 3 yang masih sangat diingatnya bagaimana luas rumah yang melebihi batas normal itu.

Key menginjakan kakinya di teras rumah yang berdebu sehingga meningalkan jejak pada bekas langkahnya. Sudah bertahun tahun sejak ia meninggalkan rumah ini, seluruh pengurus rumah diberhentikan dan diberi pesangon yang cukup besar. Ia tidak mau seseorang menyentuh rumah ini lagi.

Dirogohnya saku celana untuk mengambil beberapa kunci dalam satu lingkaran pengait, Key memilih kunci paling besar dan memasukkanya pada lubang di pintu.

Membuka rumah itu sama saja membuka ulang kepingan masa kecilnya, disetiap sudut ada kenangan sekaligus trauma. Sejak bertemu Krystal, Key merasa bebanya lebih ringan. Dia bertekad untuk menghapus beban itu demi… demi… dirinya? Hanya dirinya?

Seluruh perabot di rumah itu telah dilapisi kain putih yang kini berdebu, dulu banyak teman temanya yang mengagumi kemewahan rumahnya…. Atau tergiur dengan kekayaanya?

Langkah Key menggema di setiap sudut ruang, hanya secerca cahaya yang menyusup nakal dari tirai kusam menjadi penerang. Key terus melangkah ke menuju lantai dua rumah itu dan berhenti di sebuah ruangan, bukan kamarnya atau perpustakaan tempat kesukaanya, melainkan kamar ibunya.

Pintu itu terbuka dan key seakan berada pada ambang trauma. Tanganya masih menggenggam gagang pintu dan tak berani melepasnya, ia bisa jatuh kapan saja dan takkan mampu lagi menatap kedepan karena keberanianya luntur sekaligus.

Key tahu, tidak ada yang berubah dari kamar ibunya karena dia sangat hafal letak setiap benda maskipun sekarang benda itu tertutupi kain putih.

Ketika sudut ruang itu tertangkap matanya, tanganya yang berada pada gagang pintu bergemetar.

“EOMMAAAA!!!” teriakan itu berdengung di telinganya. Teriakan pilu masa kecilnya.

Bodoh! Dirinya telah bertekad menantang masa lalu, tapi kenapa sekarang seluruh raganya memerintahkan untuk lari. Masa lalu itu sangat menusuk bahkan tanpa tersenntuh sekalipun.

Key tampak gusar saat kakinya melangkah dengan ragu kesebelah kanan dan berhenti di depan sebuah pintu. terakhir kali ia membuka pintu itu dengan perasaan kecewa dan menutupnya dalam diam lalu menangis

Karena ibunya bunuh diri di dalam Bathtub. Key seakan melihat potongan masa itu, nafasnya tercekat dan jantungnya menghentak keras. Tiba tiba kran air menyala dan mengucur air merah memenuhi Bathtub bahkan tumpah ruah karena kelebihan kapasitas.

Di bathub itu ibunya tenggelam dalam air yang tercampur darahnya sendiri dan kucuran air yang tumbah bagai dentingan nada minor menakutkan.

BRAAKKK

Key menutup pintu itu dan semua menghilang.

Hosh… hosh…

Saat Key berbalik, matanya menatap sudut ruang itu. dulu ia menangis disana setelah pemakaman ibunya, menggenggam secarik kertas yang tintanya telah luntur terkena percikan air karena diletakan diatas Bathtub jasad ibunya.

Sejak mengetahui ibunya adalah penyuka sesama jenis, key tak pernah memandang ibunya seperti dulu bahkan ia tak mau menyentuh ibunya lagi, setiap ia tertidur bayangan ibunya selalu hadir, juga bayangan dirinya di sudut ruangan ini dan isi surat itu.

Memorinya masih mengingat dengan jelas bagaimana isi surat itu meski dia hanya membaca sekali lalu membuangnya. Mencoba untuk melupakan setiap kata itu namun meskipun matanya di butakan atau pendengaranya ditulikan, rangkaian kalimat itu selalu menghantui pikiranya.

~

Gaeul menghianatiku…

Dia memilih namja lain, bukankah dia telah berjanji pada Hyun Joong untuk mencintaiku seumur hidup?

Hyun Joong membohongiku…

Dia memiliki anak diluar sana, Hyun Joong tak pernah memberitahu bahwa dia mencintai seseorang. dia dan Gaeul bersahabat sejak lama dan dia bersedia menikahiku untuk menutupi status Lesbian Gaeul.

Dia menikah denganku karena Hyun Joong tak mau terikat dalam pernikahan yang sesungguhnya. Dia hanya mencari sebuah status. Aku yang tidak normal. Gaeul hanya kebetulan mencintaiku, mencintai seorang wanita…

Awalnya aku meminta Hyun Joong menghamiliku, agar aku dan Gaeul bisa merawatnya bersama sama. Tapi kau tahu siapa ibu dari anak Hyun Joong yang satunya? Kim gaeul…

Hyun Joong bekerja di bidang Aerodinamic di Jepang dan aku baru ingat Gaeul pernah tinggal disana beberapa tahun dengan alasan pekerjaan.

Hidupku penuh rasa dihianati, setiap detik hal itu menjadi gas beracun dalam otakku. Terlebih lagi ketika Kibum tahu ketidak normalanku.

Dia membenciku, dia tak mau menatapku lagi bahkan menepis tanganku ketika menyentuhnya. aku benci Hyun Joong dan Kibum sangat mirip denganya.

Aku kewewa sekaligus terhianati.

~

 

Key menyandarkan tubuhnya ke dinding, seperti ada beban yang mengganjal hingga membuat ia melupakan cara bernafas untuk sekejap. Ia menangis dalam diam. Masa pilu itu terbuka kembali dan dia seakan mendapat tohokan beruntun di ulu hatinya.

Pada akhirnya siapa yang merasa sangat kecewa? Siapa yang paling dikhianati? Dirinya…

Sampai pada batas emosinya, Key memerintahkan raganya untuk menjauhi tempat itu. dia merasa kalah menantang masa lalu.

Saat kakinya melangkah menuju pintu, key tak sengaja menangkap siluet album foto penuh debu yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Dirinya termenung ragu, tanpa diperintahkan tanganya menyentuh permukaan album itu. ia merasa gamang.

Key pangsung merogoh sakunya dan mengambil botol antiseptic disana, ia melumuri tanganya dengan cairan itu dan sisanya di siramkan ke atas album tadi lalu dilap dengan kain yang menutupi meja tadi.

Ia tak mau bersentuhan dengan barang bekas sentuhan ibunya, semua harus steril. Key keluar dari rumah itu dengan membawa album foto yang dibungkus menggunakan jaketnya.

Ia belum kalah dengan masa lalu dan dia bertekad untuk menantang masa lalu untuk kedua kalinya dengan album foto ini. cukup dirinya sendiri yang menantang masa lalu, tanpa perantara dan tanpa peredam apapun.

Key meletakan album itu di jok sebelah pengemudi, saat ia menyalakan mobilnya tiba tiba ponselnya bergetar.

~Cho Minhye Calling~

Itulah yang tertera di layarnya dan lingkaran berwarna merah dan hijau di bawah tulisan tadi menjadi pilihan.

Tanpa diduga Key membuka penutup ponselnya lalu melepas baterai secara asal dan melemparkan bagian yang terpisah itu ke atas dashboard tanpa menatapnya lagi.

 

__TBC__

Annyeong ^^

Part 19 udah selesai, jadi aku post hari selasa atau rabu aja ya ^^ maaf ya kalo aku lebih sering lama ngepostnya.

Oh ya, aku mau curhat nih seterah mau senger atau enggah #eh? Semacam pengakuan dosa gitu, ternyata karena ide SoL kebanyakan jadi ide ide kecil banyak yang terabaikan juga banyak pergantian dari ide utama.

Misalanya seharusnya Eunki meninggal kecelakaan pesawat jadinya meninggal kecelakaan, Cuma di part 2 aku bikin key fanatik banget sama antiseptik dan aku baru inget sekarang -___-

Rencana awal aku mau bikin sad ending dengan mematikan satu karakter yaitu Kim Jonghyun tapi malah…. *rahasia. Udah gitu seharusnya Kystal yang lesbi dan ummanya Key Pedofil, tapi kok semerem amet ya dan aku lupa bikin anaknya Taemin sakit padahal itu alasan dia buat kerja.

Banyak ide ide berubah dari ide awal dan menciptakan 6 tokoh yang memiliki karakter kuat yang berbeda itu susahnya ngajubileh. Ini gagal kali ya ._. Fiuhhhh dan bla bla bla…

Makasih buat semua readers maupun siders *bow

 

Cheers,

 

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

86 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 18]

  1. Entah knp q ngrasa eommany key jg korban ,,di awal q pikir kristal itu suka zama eommny key jd q .erinding sendiri ey trnyata dugaan slh xixixix😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s