(Dooyoon moment) I really want to marry you #1

Author : Dwlee87

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : Chapter (sekuel from love in the same sight)

Main Casts : Yoon Doojoon, Heo Gayoon

Disclaimer : nama diatas milik mereka sendiri, saya hanya memiliki ceritanya

Authors note : ff ini pernah di publish di fan3less dan blog pribadi dooyooncouple

Following the happy breeze,

beneath that bright sky that blinds me
Beautiful melodies and fresh air

fills this road that I’m walking with you
Do you remember?

Those awkward and unfamiliar times when we first met
I’m thankful to you for silently taking care of me

when I was hesitant and young

(forever – snsd)

GAYOON POV

Kubuka mataku perlahan. Cahaya mentari pagi terasa menusuk tubuhku dari celah jendela kamarku. Kulongok perlahan jam kubusku, ehm? Jam 8? Baguslah, aku masih ada waktu untuk berdandan dan pergi tepat waktu ke kantor appaku. Kubersihkan badanku dan kupakai bajuku segera. Tiba-tiba dering iphoneku berbunyi keras. Terlihat tulisan yobeo call, kuangkat iphoneku cepat

“Chagi-ya…..annyeong~~~, sudah bangun???”

Suara namja itu membuatku tersenyum simpul

“Sudah…ini mau berangkat ke kantor, kenapa?”

“Ingin dengar suaramu saja untuk membangun mood pagi hari.”

Kudengarkan suaranya dengan mode loud karena aku harus menyiapkan berkas-berkas kantor appaku

“Ya! Kau ini diajak omong malah ribet sama berkas kantor appamu!”

“Yah, tahu sendiri lah aku masih sibuk mengurus ini dan itu di kantor, tapi bagaimana kau tahu aku sibuk memegang berkas-berkas ini?” tanyaku heran

“Terdengar suara berisik kertas yang bergesek-gesek tidak jelas di iphoneku, apalagi kalau tidak berkas-berkas itu. Kau akhir-akhir ini dingin padaku ya? 2 tahun tidak bertemu rasanya kita makin jauh, biasanya kau menerima teleponku dengan nada manja, sejak kau kerja di kantor aku jarang mendengar nada itu lagi >_<”

“Ei…….perasaanmu saja, memangnya aku semanja itu kalau telepon? Kayaknya ga gitu juga deh.”

Entahlah…akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Dulu aku begitu mudahnya berkata manja di depannya. Tapi setelah dia kembali dari Jepang…..ada suatu hal yang membuatku mengerem itu semua…ehm…apakah lazim aku menjadi malu padanya? Sedikit perubahan fisik dan sifatnya yang semakin dewasa membuatku merasa kecil disampingnya. Kemampuannya dalam berbisnis dan nama besarnya di kalangan atas membuatku merasa minder dan tak pantas. Selain itu….rasa berdebar itu muncul lagi. Rasa berdebar ketika aku pertama kali menyadari ketika aku mencintainya. Wajarkah orang jatuh cinta lagi pada orang yang sama?

Kubawa berkas-berkas itu dengan tangan kiri dan kutenteng tasku di tangan kanan sembari memasang headphone pada iphoneku

“Yah mungkin juga 2 tahun ini aku butuh penyesuaian lagi denganmu hehe, by the way kau sekarang dimana?”

Kubuka pintu kamarku perlahan

“Di depanmu”

“MWO???”

Sesosok namja yang kini berdiri tegap di hadapanku sukses membuatku terkejut dengan mulut menganga

“Tutup teleponnya, kita seperti orang bodoh jika terus begini.”

Perkataan doojoon menyadarkanku akan ketegunanku melihatnya. Kututup cepat iphoneku

“Neo….wae? kenapa di sini?” tanyaku.

Kuamati wajahnya yang hanya menatapku dengan tatapan nakalnya. Ya Tuhan….kenapa baru sekarang aku berdebar seperti ini? Perasaan kemarin-kemarin jantungku masih berdetak normal ketika bertemu dengannya. Sekarang? Jantungku berdetak sangat tidak normal, debaran yang sudah lama tak kurasakan itu muncul lagi….

“Menjemputmu.” Jawabnya singkat. Direbutnya berkas-berkas yang kubawa ditangan kiriku dan ditaruhnya kembali di meja kamarku dengan rapi, kemudian ditariknya tangan kananku tanpa menunggu izinku, dengan paksa lebih tepatnya

“Jjam…..jjamkanman…..yobeo.~~~~!!”  Doojoon menutup telinganya dan mengacuhkan teriakanku

“Ah…kalian berdua hati-hati di jalan ya,” ujar ommaku yang sepertinya senang sekali melihat anaknya diseret tanpa ampun(??) didepannya

“Ne…omma, aku pinjam dia seharian ini” ujar doojoon

“Aish….kamu ini mau membawaku kemana sih???”tanyaku, doojoon tetap tidak menjawab pertanyaanku sembari tetap menarik tanganku menuju keluar rumah yang akhirnya dilepaskannya setelah sampai tepat di samping mobilnya. Dibukakannya pintu mobilnya untukku.

“Masuklah, nanti kau akan tahu. Aku sudah meminta izin appamu untuk membawamu hari ini, kau tidak usah masuk kantor.”

Aku amati wajahnya yang menatapku dengan tatapan jahil namun penuh arti, biasanya wajahnya akan seperti itu bila dia ingin melakukan sesuatu entah apapun itu. Ya sudahlah… aku tak mungkin bisa melawan namja satu ini. Kutempatkan diriku di tempat duduk samping pengemudi. Ditutupnya pintu mobil dan sekarang dia sudah duduk di sampingku. Dijalankannya mobil itu dengan cekatan.

Hening…..aku yang tetap dengan kebingunganku menatap doojoon yang menikmati kegiatan menyetirnya dengan tersenyum-senyum sendiri sedari tadi. Kuamati wajahnya yang sudah lama tak kupandangi itu. Apa perasaanku saja atau memang dia semakin tampan? Merasa kupandangi, doojoon sesekali melirik ke arahku. Kurasakan wajahku yang mulai panas entah karena memerah atau ac mobil ini tidak bekerja untuk wajahku.

“Tuh kan, kau sekarang lebih pendiam daripada dulu,” ucapan doojoon yang tiba-tiba mengagetkanku

“Eh? Jinjja? biasa…memikirkan urusan kantor…..” ucapku sekenanya, bagaimana aku tidak menjadi diam? Aku kehilangan kata-kata dan debar itu…bukannya aku membenci debaran ini, tapi kalau begini terus menerus nanti malam aku bisa masuk rumah sakit karena sakit jantung.

“Saat sedang bersamaku jangan pikirkan kantor! Membuatku sebal saja! Bukankah lebih baik memikirkanku? Minimal itu tidak akan membuatmu pusing” ucapnya tertawa

Kutembamkan pipiku bulat-bulat pertanda tidak setuju,  sepertinya memikirkanmu malah bisa membuatku lebih gila dibandingkan  memikirkan urusan kantor.

“Wajah lucumu itu tidak berubah ya?” dicubitnya pipi kiriku dengan keras

“Sakit tahu!” jawabku

“Salah sendiri, berwajah seperti itu,….ah disini!” dihentikannya mobilnya cepat di suatu toko designer gaun pengantin ternama di Seoul

Eh? Gaun pengantin???????? Omo?? Apa aku berpikir terlalu jauh? Kenapa dia mengajakku kemari?

“Gaja!” ajaknya

“Jjamkan!!!!” kutarik cepat tangan doojoon

“Boleh kutahu kenapa kita kemari?” aku tahu ini pertanyaan bodoh, tapi sepertinya otakku tidak bisa berpikir logis sekarang. Doojoon hanya menatapku dan menjawab pertanyaanku tanpa basa basi

“tentu saja membeli baju pengantin kita, mau apa lagi? Kalau kau tetap terbengong seperti itu akan kugendong kau masuk!”

Kenapa 2 tahun ini ternyata tak menghilangkan sifat pemaksa dan suka mengancamnya itu? Kupercepat langkahku keluar dari mobil dan berdiri di sampingnya yang sudah keluar mobil dari tadi. Doojoon sedikit menertawakan tingkahku dan ditariknya tanganku untuk menggamit lengannya. Kutelan ludahku, seiring dengan semakin dekatnya kami menuju toko itu. Ya Tuhan!!!! Benarkah dia mau membeli baju pernikahan kami ?????? Aku…..sepertinya……atau lebih tepatnya masih  belum siap untuk menghadapinya sebagai suamiku. Aigo! Memikirkan kata suami saja sudah membuat wajahku panas.

“Wajahmu merah, sakit?” dipegangnya dahiku perlahan

“ Ani….jongmal gwenchana.” kujauhkan kepalaku dari tangannya untuk menghindari kegugupanku menjadi lebih parah

“Ehm…kau aneh……….” ucapnya

Kualihkan pandanganku dari wajahnya, masih dalam usahaku untuk mengembalikan warna wajahku sembari melihat-lihat display gaun pengantin yang terpampang di toko itu. Berbagai macam gaun pengantin yang terpampang begitu apik kulihat, berbagai warna, merah, hijau, pink, krem, putih  dengan berbagai modelnya.

Seketika mataku tertuju pada satu gaun putih yang terpampang di salah satu pajangan toko. Kulepaskan gamitanku dari tangan doojoon, mataku begitu terpaku melihat gaun putih berlengan sesiku yang dipajang di salah satu sudut toko. Kupegang perlahan gaun itu. Begitu halus dan lembut, perhiasannya tak terlalu banyak namun begitu elegan dipandang. Apakah aku akan terlihat cantik jika mengenakan baju ini? Apakah doojoon akan senang melihatku terbalut gaun putih ini dan akan bahagia jika aku menjadi istrinya? istri??????mwoya?????

“Kau suka?” tanya doojoon, aku tak menjawab, alih-alih pikiranku masih melantur ke sana kemari

“ Kau ingin mencobanya?” kali ini ucapan doojoon menyadarkanku dan membuatku tergagap

“Ah….ani…..” ucapku

“Ya! Kau dari tadi aneh, sebenarnya kenapa?”

Kutatap wajah doojoon yang begitu mengkhawatirkanku, aku tertunduk dalam

“Wae? Jangan katakan kau masih gugup melihatku akibat terlalu lama tak bertemu?” Doojoon terlihat tertawa puas melihat wajahku yang tertunduk dengan tawa khasnya

BINGO! Bolehkah aku bertanya kenapa namja ini selalu bisa membaca isi kepalaku? Bukannya kembali ke warna semula wajahku malah semakin merah sekarang

“Ne……aku terlalu gugup, juga terlalu senang, memangnya tak boleh?” ucapku dengan melihat langit-langit untuk menghindari tatapan tunanganku itu.

“Aigo….kyopta!” dicubitnya lagi kedua pipiku dengan keras

“Sudah kubilang sakit!kenapa kau suka sekali mencubit pipiku?” teriakku

“Salah sendiri pipimu tembam begitu, menggoda orang untuk mencubitnya. Lalu kau pikir aku tidak gugup melihat tunanganku makin cantik sekarang? Aku semakin ingin cepat menikah sebelum gugup ini hilang”

“Kau ingin membuatku sakit jantung?” tanyaku

“Kita bakal sakit jantung berdua kok.” ditariknya tanganku menuju ruang pribadi untuk mencoba baju pengantin. Baiklah, Tuhan…kumohon padamu aku diberikan jantung cadangan untuk menghadapi namja ini.

“Ah tuan yoon, ada yang bisa kami bantu?”

“Tunanganku ingin mencoba beberapa gaun bisa?”

“tentu saja bisa tuan, nona heo, ayo ikut saya.”

Aku memandang doojoon dengan penuh kebingungan dan wajahnya mengisyaratkanku untuk tidak khawatir

“Kau ini, belum menikah saja sudah sebingung ini, bagaimana kalau hari-h nanti? Sudahlah mencoba baju tidak ada salahnya kan?”

Ah..molla! aku sudah menyerah dengan sifat pemaksanya ini! Apa yang bisa kulakukan untuk menghilangkan sifat pemaksanya? Ehm….bukan menghilangkan…lebih tepatnya mengurangi karena terkadang sifat pemaksanya adalah salah satu daya tariknya :p.

“Nona heo, mari.”

Kuikuti pelayan toko itu menuju ruang ganti, kucoba beberapa baju pengantin yang dianjurkan dengan berbagai warna dan modelnya. Doojoon yang sembari tadi melihat dari ruang tunggu beberapa kali sibuk memotretku dengan kamera iphonenya. Semua dibilangnya cantik, tapi belum ada wajah kekaguman seperti yang kulihat ketika dia melihatku memakai dress putih saat kencan pertama kita dulu. Aku ingin melihat wajah itu lagi…>w<

“ Bisakah aku mencoba gaun putih itu?” kutunjuk gaun putih yang tadi kulihat terpajang di dekat pintu masuk

“Ah…ne nona heo, sebentar saya ambilkan.”

Diambilnya gaun pengantin itu cepat dan dipakaikannya dengan cekatan di badanku. Rambutku sedikit ditata dengan gaya berbeda untuk menyesuaikan dengan gaun itu, kemudian diletakkannya tudung pengantinnya sebagai sentuhan terakhir. Kulihat diriku di depan kaca ruang ganti. Ah….aku sungguh menyukai gaun ini, apalagi warnanya adalah kesukaan doojoon. Aku sedikit berputar dan bersiap untuk menunjukkannya pada doojoon yang menantiku diluar. Entah kenapa kali ini dadaku sedikit berdebar lebih cepat dibandingkan mengenakan gaun sebelumnya, kuintip doojoon yang sibuk membaca koran di ruang tunggu untuk menghilangkan rasa bosannya. Tiba-tiba saja dia menyadari kepalaku yang sedikit terlihat dari balik tembok

“ Hey…no wae?kenapa tidak cepat keluar?” tanyanya

Aku berjalan perlahan ke depannya, kulihat doojoon yang membelalakkan matanya melihatku dari atas sampai ke bawah. Bibirnya terlihat sedikit menganga terbengong melihatku.

“Hey? Kenapa berwajah seperti itu? Apa aku terlalu cantik sampai kau terdiam?” ujarku menggodanya. Aku senang bisa melihat wajah itu lagi…wajah terkagumnya saat melihatku…membuatku gemas saja.

“Ah…..ne….neo jongmal, nomu yeppo, kita menikah sekarang saja bagaimana?” tanyanya dengan tawa kecil sembari memegang tudung yang kupakai.

“Ngawur!” kutampik tangannya pelan dan kumanyunkan bibirku

“Eits, serius nih, habis ini ke catatan sipil yuk, minimal udah resmi suami istri gitu walaupun belum pestanya?”

“Aish! Aku belum siap! Biarkan aku menyiapkan hatiku dulu….!”

“Ck, kelamaan ………..!” doojoon mengayunkan tanganku seperti anak kecil

“Sabar sedikit kenapa sih? Curang namanya kalau aku saja yang deg-degan menghadapimu.”

Tiba-tiba saja doojoon menggendongku dengan bridal style yang membuatku kaget setengah mati

“ya! Jugullae? Turunkan aku!” kupukul dadanya dengan sedikit keras.

“Kubawa pulang seperti ini saja ya?”

“Ya! Sirheo! Turunkan aku! Kita di toko tahu! Lihat-lihat tempat kenapa sih?”  kenapa namja ini semakin senang menjahiliku sih? Siapa yang mengajarinya?

“ne….arasseo….akan kuturunkan tapi …popo !!!” tanyanya sambil menyodorkan pipi kanannya padaku

“Mwoya?!!!! Turunkan aku! sekarang!”  tanganku sedikit memberontak berusaha menjauhkan pipinya yang mendekat ke arah bibirku

“Tidak akan kuturunkan sebelum kamu memenuhi permintaanku, lagipula aku senang kok menggendongmu begini,” Doojoon bersenandung kecil dengan sesekali mengayunkan gendongannya

Sepertinya  dia ingin memuaskan hasratnya yang 2 tahun ini absen untuk menggodaku ya? Apakah wajahku sebegitu menariknya ketika salah tingkah seperti ini? Terpaksa kupenuhi permintaan manjanya. Kudekatkan bibirku perlahan ke pipinya dan tak kusangka dia memutar cepat kepalanya dan aku mencium tepat di bibirnya, Sontak kumundurkan wajahku secepat kilat.

“YA!!!!” Kututupi wajahku yang tak tahu sudah berwarna seperti apa. Malu, bingung bercampur menjadi satu. Mungkin aku tidak akan bersikap seperti ini jika hanya berduaan saja dengannya, tapi ini??? Toko!!!! Tempat umum!!! Apa urat malunya sudah putus????

Doojoon dengan segera menurunkanku, sedangkan aku sudah tak bisa lagi merasakan badanku yang sudah berdiri menjejak tanah dari tadi. Dibukanya tanganku yang ada di depan wajahku perlahan, kutundukkan wajahku, salah tingkah, aku berusaha menghindari tatapan wajahnya yang mengamati wajahku dengan jarak super dekat.

“2 tahun tak bertemu denganmu ternyata bisa membuatku begitu rindu melihat wajahmu. Ingin rasanya aku bisa melihatmu setiap hari, setiap aku bangun dari tidurku, setiap aku lelah setelah bekerja, mendampingiku sebagai istriku…….kau tahu? Membayangkan kau menjadi istriku saja sudah membuatku begitu bahagia………, dua bulan lagi pernikahan kita…..haruskah aku bersabar selama itu?”

Kutatap balik wajahnya yang penuh kesungguhan menatapku. Aku begitu tertegun menatap matanya yang menunjukkan keseriusannya. Begitu besarkah dia menginginkanku? Sebesar itukah keyakinannya bisa bahagia bersamaku?

“ Dua bulan? Kau merencanakan pernikahan kita dua bulan lagi?” tanyaku, Doojoon membalasnya dengan mengangguk, kulihat wajahnya yang berubah menjadi kekanakan seakan menginginkan sesuatu yang sudah lama diimpikannya namun tetap dengan pandangannya yang lurus dan tegas tanpa mengurangi keseriusannya

“Bersabarlah selama dua bulan itu, jika kau sudah melewati dua bulan itu, kau akan mendapatkanku dengan dengan perasaan bahagia yang tak pernah kaurasakan. Apalah artinya kau mendapatkanku sekarang? Bukankah kesenangan pernikahan kita akan berkurang?” tanyaku

Doojoon tertawa kecil dan mengacak-acak rambutku

“Jangan mengacak-acak rambutku!”

“kau ini….perkataanmu ada benarnya juga, aku akan bersabar dua bulan lagi…ehm….ngomong-ngomong kau suka gaun ini?” tanyanya

“Kalau kau? Apa kau suka melihatku dengan gaun ini?” tanyaku balik

“Ne….kau tahu kan seleraku ^_^?kau sangat cantik dengan gaun ini,” Ucapnya

“Baiklah, aku pilih gaun ini saja……ehm…..kau tak mencoba tuxedonya?”

DOOJOON POV

Kucoba beberapa tuxedo di ruang ganti yang telah disediakan. Tak diragukan tuxedo di toko ini semua berkualitas tinggi dan sangat nyaman dipakai. Gayoon menyibukkan dirinya melihat-lihat tuxedo yang terpampang di toko, sepertinya kegalauannya soal pernikahan kami sudah hilang. Beberapa tuxedo sudah kucoba, tapi belum ada yang cocok dengan seleraku. Gayoonpun menyerahkan semuanya padaku, katanya aku memakai apapun dia setuju saja. Kata terserah itu malah membuatku bingung, tuxedo apa yang serasi dengan gaun yang dipakainya tadi?

“permisi tuan Yoon, Nona Heo meminta anda untuk mencoba tuxedo ini.”

Aku menoleh, kulihat tuxedo yang dibawa pramuniaga itu. Cukup sederhana namun elegan dipandang. Kucoba pada tubuhku. Ehm…not bad, great choice.

“Chagi…..eotte?” tanyaku

Gayoon melempar pandangannya padaku. Dia tersenyum menghampiriku. Dilihatnya baju itu dengan seksama depan dan belakang.

“Keren, aku suka kamu memakai tuxedo ini, tapi terserah sih, aku hanya mengatakan pendapatku saja,”

“Kau suka?” tanyaku,

“ne…..” Gayoon mengangguk kecil sembari membenarkan kerah kemejaku

“Jadi ingat pertemuan pertama kita, bukankah situasinya sama seperti ini?”

“Ya….situasinya sama tapi perasaan kita jauh berbeda daripada dulu, wae?” tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya menatapku

“Aku masih ingat betapa terkejutnya aku ketika kau menciumku secara tiba-tiba.”

Gayoon sedikit terbatuk menatapku, terlihat semburat merah muda di wajahnya.  Entah kenapa denganku hari ini, 2 tahun absen menggodanya membuatku ingin menjahilinya seharian penuh. Beberapa kali kusadari dia menghindari tatapan mataku dan wajahnya merona ketika kugoda. Tapi itu belum cukup, aku masih belum puas menggodanya hari ini

“Jangan mengingatkanku, kau pikir aku tidak malu mengingatnya?”

“ Sejujurnya apa waktu itu kau sudah ada sedikit rasa padaku?” tanyaku

“Ehm….ani….betul-betul tak ada, tapi aku tak menyangkal kalau aku sedikit terkejut melihat kau begitu tampan. Kalau kau? Bagaimana kesanmu pertama kali bertemu denganku?” Gayoon memandangku dengan penuh selidik

“Kau yoja yang cantik tapi menyebalkan, pandanganmu selalu berhasil membuatku gugup.”

“Sebegitu menyebalkankah aku dulu? Mianhe…” jawabnya sambil mengikik

“ Memang pandanganku seperti apa sampai membuatmu begitu gugup?” gayoon menatapku dengan pandangan nakalnya

Ish…aku paling tidak bisa jika dia menatapku dengan pandangan itu, pandangan yang seolah aku lebih kecil darinya, pandangan meremehkan yang sedikit nakal. Jika aku yang dulu, aku pasti akan terbujur kaku dengan bibir yang gemetar, tapi tidak dengan aku yang sekarang.

“Kalau kau terus memandangku seperti ini jangan salahkan aku jika menciummu.”

Gayoon memegang kerahku dan mendekatkan wajahnya dengan jarak sekian senti di depan wajahku

“Coba saja kalau berani.” Gayoon tersenyum sinis menantangku

Jantungku berdegup cepat sekali, sial, sejak kapan dia berani menggodaku seperti ini? Apa dia ingin membalasku karena aku sudah menggodanya tadi?

“Kaupikir aku tak bera…” kurasakan bibirku dikecup cepat oleh gayoon yang membuatku terbelalak

“Ternyata seperti ini rasanya menjahili? Aku jadi mengerti perasaan puasmu saat menjahiliku, ini pembalasan, karena kau sudah membuat jantungku tidak beres hari ini.” Di dekatkannya telinganya ke dada tempat jantungku berdegup “Sepertinya aku berhasil membalasmu.” Gayoon menggigit bibir bawahnya tersenyum senang karena sudah berhasil membuatku terbengong di tempat.

Aigo! Kupikir jantungku berhenti! Sekarang malah berdebar kencang sekali. Yoja ini…….tak kusangka dia bisa berbalik menggodaku dan membuatku mati kutu >_<!

“Ya! Neo! Sejak kapan kau jadi berani begini?”

“Sejak dulu, bukankah kau tahu aku ini seperti apa? Bagaimana rasanya sakit jantung dengan cara seperti ini? Tidak enak kan? “ jawabnya dengan mengangkat alis

“Kalau sakit jantungnya seperti ini aku mau. ”aku menjulurkan lidahku (merong)

“Kalau begitu siapkan saja jantung cadangan sebanyak mungkin,  jangan kau pikir aku akan pasrah begitu saja kau goda seperti tadi.”

Aku tertawa kecil, benar-benar yoja kuat yang tak mau kalah, bahkan untuk hal remeh seperti ini.

“ Bagaimana tuan yoon?”  Seorang pramuniaga mengejutkanku

“Ah….ehm…aku jadi pesan yang ini saja.”

“ Setelah ini kita mau kemana?” tanyanya

“Ehm…..undangan sudah beres,… catering tinggal periksa saja, tempat….sudah ada beberapa tempat yang sudah aku kontak, kita tinggal ke sana untuk memastikan akan memakai yang mana. Souvenir ada beberapa model, tinggal kaupilih kau suka yang mana……, ehm…apa lagi ya? Sepertinya kemarin banyak yang aku list.”

“Hyah?! Kau sudah mengurusnya sejak kapan? Kenapa aku tak tahu? >.<”

“Susah kalau menunggumu, kalau begini kau takkan bisa menolaknya kan? Hehehe”

Aku memang tahu cara yang paling tepat untuk memaksanya, kulihat dia hanya mendesah pelan dan tertunduk sebentar. Dengan wajah sedikit marah namun tetap imut kupandang  dia menatap lurus padaku.

“Arasseo….hari ini kutemani kau mengurus semua itu, senang?”

“Kau betul-betul tahu aku. Gaja!”

*******

Kuhentikan mobilku di halaman depan rumah keluarga Heo. Tanpa terasa kami berkeliling hingga malam. Gayoon yang lelah terlelap di kursi samping pengemudi.

“Ehm….” Gayoon menunjukkan tanda-tanda dia terbangun, padahal aku berniat membopongnya ke kamar

“Sudah sampai…..kau tak apa?” tanyaku

“Gwenchana…….ehm…..sudah sampai ya? Ternyata mengurus semuanya itu melelahkan…..”   jawabnya sambil sedikit meregangkan otot-ototnya

“Ada beberapa yang belum fix, biarlah aku yang mengurusnya……..aku tak tega melihatmu kelelahan seperti ini lagi.”

“Kau ini ngomong apa? Ini pernikahan kita berdua, bukan pernikahanmu seorang. Jangan suka memegang kendali sendirian. Kau pikir aku senang?” Gayoon yang terlihat lelah itu mulai menggodaku lagi dengan wajah marahnya. Yoja ini memang selalu berhasil  membuatku gemas.

“Baiklah nona heo…aku tak kan berdebat lagi denganmu, puas? Nanti kau akan kuhubungi lagi untuk mengefixkan semuanya, oke?”

Gayoon mengangguk dengan berusaha membuka penuh kedua matanya yang masih lelah sembari memainkan gantungan iphonenya. Beberapa saat kusadari kalau dia memikirkan sesuatu sambil mengernyitkan kening, seakan memikirkan sesuatu yang penting

“Kau memikirkan apa? Ada yang mengganjal?” tanyaku khawatir

“Ani……..tak ada……” jawabnya tersenyum

Diciumnya pipi kananku

“Jalga….” Dibukanya pintu mobilku dan kulihat dia yang berjalan sendiri menuju rumahnya dengan berbagai pikiran yang memenuhi otakku. Aigo…sebenarnya yoja ini kenapa? Kenapa dia jadi sensitif sekali sekarang? Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres. Ah! Sampai lupa aku mengantarnya ke depan rumahnya. Segera kubuka pintu mobilku dan menyusul langkah gayoon menuju rumahnya.

“Kalian sudah pulang? Bagaimana?” rupanya di depan pintu nyonya park sudah menanti kami

“ Ah…rupanya omma bersekongkol yah? Sudah tahu anaknya bakal dipaksa nikah begini?” kulihat gayoon yang mulutnya sudah maju sebagai pertanda protesnya

“Soalnya kalau menunggumu kelamaan,bagaimana? Semua sudah fix?”

“Hanya tinggal beberapa saja yang perlu diperiksa lagi…sebagian besar sudah beres omma..” ucapku

“Baguslah kalau begitu, nanti aku akan membantu kalian menyebarkan undangan.” Nyonya park terlihat gembira sekali dan meninggalkan kami berdua di depan pintu rumah mewah itu

“Lebih baik kau pulang, ini sudah malam, kau juga pasti lelah kan?” ucap gayoon

“Ne….jalga…sampai besok ya” kukecup kening tunanganku itu. Dia mengantarkan kepergianku dengan tersenyum. Sebenarnya aku melihat ada yang aneh pada senyumnya itu…tapi entahlah mungkin perasaanku saja. Kukendarai mobilku cepat keluar dari rumah keluarga Heo.

********

Sudah 1 bulanan ini kami mengurus semua yang berkaitan dengan pernikahan kami, semuanya sudah fix dan tinggal menunggu hari H saja. Aku begitu bahagia dan tak sabar menanti hari itu tiba. Hanya satu kekhawatiranku, perasaan Gayoon. Tidak satu atau dua kali kulihat dia melamun dan berpikir hal lain selagi bersamaku. Aku menangkap ada hal yang tidak beres dengannya. Jika kutanya kenapa, pasti dia hanya tersenyum dan mengatakan tak apa-apa. Apa wanita selalu begitu jika akan menikah?

Hari ini pemandangan itu kulihat lagi. Pandangan menerawang yang bergelayut di mata Gayoon. Kupandangi wajahnya dengan meminum kopiku di café tempat kami melewatkan makan siang bersama di waktu istirahat kantor.

“Benarkah kau tak apa-apa dengan pernikahan ini?” Kuberanikan diriku untuk bertanya kesekiankalinya pada tunanganku itu

Gayoon yang sedikit terkejut menjawab pertanyaanku dengan jawaban klise yang selalu kudengar

“Aku benar-benar tak apa-apa, hanya gugup menjelang pernikahan, itu saja, biarkan aku menata hatiku dulu.” Ucapnya untuk menenangkanku. Semakin dia berkata tak apa-apa justru hatiku semakin was was. Tapi aku hanya bisa diam walaupun pikiranku sudah liar untuk mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku hanya bisa berdoa agar pernikahan kami berjalan lancar dan yoja yang di hadapanku bahagia atas keputusan ini, itu saja.

********

RRRRRRRRRRRR    RRRRRRRRRRRR       RRRRRRRRRRRRR

Suara dering iphoneku begitu keras membangunkanku. Kulongok jamku, ehm….masih jam 6, siapa yang meneleponku sepagi ini? Kuambil cepat iphoneku yang ada di meja samping tempat tidurku. Heo omma? Camerku? Kenapa dia meneleponku?

“Ne..yoboseyo omma.” Jawabku dengan setengah mengantuk, kuusahakan mataku untuk membuka penuh

“Doojoon-a….ehm…apa gayoon ada di rumahmu?” tanyanya

“Eh? Aniyo omma…..waeyo?”

“Aigo….eottohke……????”

Kudengar suara kekhawatiran di ujung sana. Akupun mulai was-was dan merasa ada yang tidak beres.

“Gayoon……ehm…dia tidak ada di rumah, iphonenya pun ditinggal. Aku sudah menelepon ke semua saudara, teman dan kolegaku, tapi tak ada satupun yang melihatnya….bagaimana ini?”

DAR!!!!! Gayoon kabur!???? Maldo andwae! Kekhawatiranku sejak kemarin terwujud sekarang. Ada apa dengan yoja itu sebenarnya?

“Ehm….omma tenang dulu, kita cari sama-sama, kalau perlu kita lapor polisi untuk mencarinya.”

“Ne….doojoon-a , di mejanya hanya tertulis aku akan kembali, jangan cari aku, tak perlu khawatir. Kupikir dia hanya bercanda, ternyata seserius ini….omma khawatir….omma hanya bisa mengharapkanmu.”

“Omma tenang saja ya, dia pasti ketemu, mungkin dia hanya ingin menenangkan diri.”

“Baiklah kutunggu kabar darimu nak.”

KLEK

Tenang? Mungkin aku bisa menenangkan camerku tapi tidak dengan pikiran, hati dan jantungku! Otakku pening! Hatiku tidak karuan, jantungku jangan ditanya! Apa yoja ini berniat mengujiku? Baiklah gayoon, jika itu maumu akan kuterima tantanganmu kali ini. Segera aku bangkit dari tempat tidurku dan berbenah diri. Kuambil iphoneku cepat dan baru kusadari ada message dari gayoon. Kubuka cepat message itu

Yeobo…mianhe…mungkin aku akan sedikit membuatmu khawatir, jangan cari aku untuk beberapa  hari ini ya, aku pasti kembali kok,.….- nae chagi

AISH! Kulempar iphoneku ke jok mobil dan segera kutancap gas mobilku cepat. Kutekan tombol iphoneku

“Yoboseyo, yoon doojoon imnida, ini dengan kepolisian seoul?”

GAYOON POV

Kukemudikan mobilku perlahan sembari menikmati pemandangan sekitar. Ah….sudah lama aku tak merasa senyaman ini. Angin semilir menghembus rambutku perlahan. Kulihat lagi buket bunga yang kuletakkan di jok mobil. Buket bunga krisan kuning dan matahari yang tertata apik. Aku tersenyum melihatnya dan kulempar lagi pandanganku ke pemandangan sekitar. Ehm…apa semua orang akan bingung mencariku? Kupikir begitu…terutama tunanganku yang satu itu, walaupun kutinggalkan pesan untuk tidak mencariku….tapi dia sekarang pasti sudah gelimpungan mencariku. Mianhe doojoon-a, aku yang manja ini ingin sekali melepas penat. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik jika sudah melepas penatku.

Tak terasa aku sudah sampai di kota tujuanku. Tebak dimana? kangwondo……di kota inilah aku ingin melepas penatku. Kota dimana bomi dibesarkan sekaligus tempat peristirahatan terakhirnya. Kutelusuri prefectur itu sampai di suatu desa yang cukup bersih dengan hamparan laut biru yang begitu luas. Di desa ini tempat tinggal keluarga bomi. Sebenarnya orang tua bomi tinggal dan bekerja di Seoul, tapi setiap akhir minggu mereka pasti pulang ke kangwondo. Sudah beberapa kali ini aku mengunjungi kerabat bomi dan aku cukup akrab dengan mereka. Kuberhentikan mobilku tanpa rencana.

Kubuka pintu mobilku dan kurasakan angin laut berhembus kencang menerpa tubuhku. Kupejamkan mataku perlahan dan menghirup bau laut itu dalam-dalam. Kubuka sepatuku dan berlari kencang ke arah pantai. Pasirnya yang putih begitu menggodaku untuk bergulung di atasnya. Tanpa memikirkan baju dan penampilanku akupun bergulung dan mengakhirinya dengan merentangkan kedua tanganku lebar-lebar dalam posisi terlentang. Kulihat langit biru yang begitu indah terbentang di atas langit kangwondo. Andai aku tidak sendirian kesini, pasti akan menjadi perjalanan yang cukup romantis untuk kami (aku dan doojoon tentunya). Ah……babo, kan aku yang menginginkan pelarian ini? kenapa aku langsung memikirkannya?  Sepertinya cintaku padanya terlalu penuh dan semakin hari semakin membuatku tamak untuk selalu bertemu dengannya. Setidaknya aku harus bersabar beberapa hari ini….ehm…bisakah?

“Nona Heo…?” suara seorang ahjussi mengagetkan lamunanku.

“ah….appa?????? Annyeonghaseyo!!!!” kubungkukkan badanku dalam-dalam untuk memberi salam. Siapa sangka aku akan bertemu appanya bomi di pantai seperti ini. Aku memanggilnya dengan sebutan appa karena permintaan yoon ahjussi sendiri, dia sudah menganggapku sebagai anaknya

“Sedang apa disini? Bukankah kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahanmu? Mana doojoon?”

Sudah kuduga pertanyaan ini akan keluar dan aku hanya bisa membalas dengan tersenyum kecil.

“Semuanya sudah beres ahjussi, aku kesini untuk mengantarkan undangan kepada kalian langsung, sekaligus menjenguk makam bomi……doojoon akan menyusul nanti ^_^” ucapku bohong,

“Ah begitu…syukurlah, sebenarnya aku tadi agak terkejut melihatmu, kupikir kau lari gara-gara gelisah untuk menikah.”

Ahjussi satu ini perasaannya lumayan tajam juga, bagaimanapun perasaan orang yang sudah makan asam-garam kehidupan memang tidak bisa ditipu. Melihatku yang tersenyum kecut sepertinya yoon ahjussi tahu kalau tebakannya benar adanya. Ditepuknya punggungku perlahan

“Tenangkanlah dirimu di rumah kami ok? “

Aku tersenyum mengangguk dan membantu yoon ahjussi membawa beberapa perlengkapan nelayannya. Kami berdua berjalan bersama menuju rumah haraboji dan harmoni keluarga yoon

*****

“Ijinkan saya menginap beberapa hari saja, saya mohon” ucapku pada keluarga yoon

“Apa tidak lebih baik kamu kabari keluargamu? Kurasa itu lebih baik.” Ucap nyonya son, ammanya bomi ini benar-benar sosok ibu yang lemah lembut dan bijaksana

“Ah…itu….” Aku terdiam dan tak menjawab saran dari nyonya son

“Aigo….anak ini, dia ingin dicari sepertinya….. begitu?” yoon ahjussi menepuk-nepuk kepalaku. Tebakan itu tak sepenuhnya salah, terbesit di benakku agar doojoon mencariku, tapi pelarianku ini lebih cenderung untuk mempersiapkan penuh hatiku sebelum menikah dan…….entahlah, ada suatu hal yang mengganjal di benakku.

“Biarkan dia menginap disini sejenak, toh dia bisa membantu kita, iyakan nak?” kali ini yoon haraboji mengusap punggungku dari belakang, mereka sudah seperti keluargaku sendiri dan mereka selalu bisa membuatku nyaman.

“Gomawo haraboji….” Kupeluk yoon haraboji seperti anak kecil, nyonya son hanya tertawa melihatku dan menepuk-nepuk kepalaku

“Tinggallah disini sampai hatimu tenang, oh ya 2 minggu lagi di desa ada festival tahunan, kamu datang ya? Sekarang apa rencanamu?” tanya nyonya son

“Jinjjayo? Saya pasti datang …..sekarang …….aku ingin mengantar ini ke bomi.”

******

Kulangkahkan kakiku di tempat pemakaman yang ada di bukit ujung desa. Makam yang ada di bukit ini tepat mengarah ke laut. Desa ini terlihat begitu apik dipandang dari atas bukit. Aku berjalan diantara batu-batu nisan yang terpasang di tanah itu. Kakiku terhenti di salah satu batu nisan yang masih terlihat terawat dan bersih dengan nama yoon bomi tertulis di nisannya. Kuletakkan rangkaian bunga krisan dan matahari yang kubawa tadi di depan nisan itu. Kupegang batu nisan itu perlahan,

“Bomi-ya…annyeong……, mianhe aku sudah lama tidak kesini ya…..ehm….sekitar 4 bulan? Hehe….tahu tidak? Aku sekarang sudah 23 tahun…….ehm…aigo…aku ini ngomong apa sih? Bukan itu yang ingin kukatakan padamu. Sebenarnya…aku membawa kabar gembira, kurang dari 1 bulan lagi aku akan menikah dengan doojoon,aku sungguh senang, senang sekali sampai aku tidak tahu harus berbuat apa……”

Aku terdiam dan menunduk.

“Bomi ya…apa menurutmu aku bisa jadi istri yang baik?”

DOOJOON POV

Kulempar badanku yang sudah lelah di atas tempat tidurku. Pencarianku terhadap Gayoon  2 minggu ini? NIHIL! Tidak kusangka dia sudah melakukan “transaksi” dengan kepolisian seoul untuk melancarkan aksi kaburnya kali ini. Kukunjungi semua tempat yang mungkin dia singgahi, tapi sama sekali tidak ada hasilnya. Kupandangi iphone gayoon yang tak pernah kubuka ditanganku.Dia menguncinya dengan sandi dan selalu saja gagal kubuka. Beberapa angka dan huruf sudah kucoba namun tetap tak ada hasilnya. Namaku, namanya, ulang tahun, tanggal pertunangan, tanggal lamaran, semua sudah kumasukkan dan gagal dengan sukses.

Tiba-tiba saja di kepalaku muncul angka yang belum kumasukkan. Iseng kucoba dan kuharap tidak akan gagal kali ini. Kutekan angka-angka itu dan……OPEN! Great! Kenapa aku tidak tahu dia akan memakai angka ini? Tebak dia memakai password apa? Hari dimana kami berdua bertemu, hari dimana dia menciumku pertama kali walau tanpa perasaan.  Hari dimana aku mengenal yoja bernama Heo Gayoon.

Dengan penuh rasa penasaran kubuka note yang ada di iphonenya berharap menemukan petunjuk untuk menemukannya. Tidak sesuai harapanku, isi note-note itu tidak lain adalah catatan-catatannya untuk perusahaan, schedule rapat, dan pertemuan-pertemuan klien. Tidak ada yang bisa kujadikan petunjuk sama sekali. Ah, foto! Kenapa baru terpikir olehku untuk membuka kumpulan fotonya? Kubuka foto-foto yang tersimpan di iphonenya. Tak kusangka banyak sekali foto-foto selcanya. Foto saat bangun tidur, rekan kerja, pemandangan kantor, foto-foto kami berdua dan…omo!….banyak sekali fotoku dari berbagai sudut. Aku tidak pernah sadar dia memotretku sebanyak ini. Foto saat makan siang, kencan di taman bermain, bahkan saat jalan-jalan di taman dekat perumahanpun ada. Apa dia menyukaiku sedemikian besar? Atau aku yang terlalu tampan? AISH! Bukan saatnya aku berpikir narsis!

Kubuka lagi foto-foto itu, DEG! Salah satu foto membuat jantungku berhenti sejenak. Tak kusangka gayoon menyimpan foto berduaku bersama bomi yang dulu kupajang di kamarku. Kapan dia menyimpan ini? Bomi….sepertinya aku sudah lama tak menjengukmu ya? Setelah masalah ini selesai aku pasti akan menjengukmu bersama gayoon. Ehm…jjamkan! Apa gayoon ke kangwondo? Menjenguk bomi? Seharian ini aku tak berpikir untuk mencarinya kesana. Kubuka kembali foto-foto gayoon yang ada di iphone itu dan bingo!!! Aku menemukan dia sedang berfoto di pantai yang sangat aku kenal, di desa yang sangat aku kenal. Setidaknya secercah harapan untuk menemukannya muncul. Kupandangi foto gayoon yang ada di iphone itu. Yoja ini…kenapa senang sekali membuat segala sesuatu berjalan tidak normal? Baik jantungku, pikiranku bahkan persiapan acara pernikahanpun tidak dibiarkannya berjalan mulus. Ah…molla…aku sudah menyerah dengan sifatnya yang tak terduga. Semoga besok aku menemukannya di sana, jika tidak, aku tak tahu lagi harus mencarinya kemana. Kuraih gulingku dan mengesampingkan badanku, lelah seharian membuatku tertidur cepat hari ini.

*****

Pagi ini aku mempersiapkan diriku menuju kota kangwondo. Kukendarai cepat mobilku, berharap sesuatu yang tak pasti, tapi entah kenapa keyakinanku besar sekali kalau gayoon ada disana. Aku sama sekali tak mengindahkan pemandangan sekitar, otakku hanya terfokus untuk menemukan gayoon.  Berjam-jam perjalanan membuatku sedikit lelah tapi sama sekali tak kurasakan.  Setelah 4 jam perjalanan akhirnya aku sampai juga di kota kangwondo. Udaranya yang bersih dan angin laut yang segar membuatku melupakan permasalahanku sejenak. Kutancap gas mobilku menuju satu bukit di desa ini. Tak berapa lama aku sampai di bukit itu. Bukit pemakaman tempat bomi bersemayam.

Kubuka pintu mobilku. Angin laut menerpa tubuhku, sudah begitu lama aku tidak serileks ini. Aku berjalan di antara batu nisan dan sampai di nisan dengan tulisan yoon bomi terukir disana. Kulihat buket bunga krisan dan matahari yang sudah  layu diletakkan tepat di atas nisan itu. Aku tersenyum kecil dengan menatap nisan itu. “bomi ya….dia disini kan? Sahabatmu itu…membuatku pusing saja, bahkan kau dulu tidak pernah membuatku seperti ini. Ehm…..…..kami akan menikah….beberapa minggu  lagi…kau pasti tahu kan?” Kupegang batu nisan yang ada di hadapanku itu. “Apakah menurutmu aku bisa menjadi suami yang baik? Dulu ketika melamarnya aku begitu yakin sampai dia lari dariku. Kejadian ini meruntuhkan kesombonganku untuk menjadi suaminya, begitu juga dengan kepercayaan diriku dalam mencintainya. Apakah caraku mencintainya salah? Apa aku terlalu memberinya tekanan dengan memaksanya menikah sekarang?Aku hanya menginginkan kami berdua bahagia bersama………apakah aku salah Bomi?”

******

“Yak teruuuus..stop..stop…!!!dipasang seperti itu !! pas sekali!!!papan selanjutnya cepat dipasang! Samakan dengan papan sebelumnya!!”

Kulihat dari jauh persiapan festival yang sepertinya akan dilaksanakan nanti malam. Kubiarkan mobilku terparkir di pinggir pantai. Aku melangkahkan kakiku di pantai berpasir putih itu, menikmati hembusan angin laut yang begitu segar.

“Gayoon-a kemari!! Cepat bantu aku! Aku tak kuat mengangkat ini!”

Keningku berkerut, Gayoon? Suara yang tak asing ditelingaku, aku sangat mengenal suara ini, suara ammanya Bomi, tapi apa aku ta salah dengar? Dia memanggil nama gayoon?

“Ne omma, sebentar……aku letakkan kerang-kerang ini dulu!”

Mataku tertuju pada seorang yoja dengan pakaian nelayan, tak berbeda dengan penduduk asli, berlari menuju ammanya bomi yang berjalan tertatih dengan membawa sekeranjang ikan yang begitu berat di tangannya. Aku menghela nafasku panjang, lega, sebal, senang, semua campur aduk melihat tawa gayoon yang begitu lepas. Ingin sekali aku memeluk tubuh mungilnya sekarang juga, 2 minggu tak melakukan kontak apapun dengannya membuatku rindu akut. Tapi entah kenapa, badanku hanya berdiri kaku melihat yoja itu tertawa tanpa beban. Apakah dia menganggap pernikahan kami sebagai suatu beban? Selama mempersiapkan pernikahan kami  aku tak pernah melihat tawanya yang begitu tulus dan sebahagia sekarang. Rasa bersalah menggelayutiku sampai terbesit di otakku untuk membatalkan pernikahan kami. Apalah artinya pernikahan kami jika salah satu tidak tulus untuk menjalaninya?

“Nona heo…mari saya bantu…..” kulihat sesosok pria mengulurkan tangannya untuk membantu gayoon, tapi dapat kulihat dengan jelas maksud lain dari namja itu, dia ingin menarik perhatian gayoon tidak lebih. Kenapa sih tunanganku itu begitu cantik sampai semua namja hampir selalu tertarik padanya?

“Tak usah Seulong-ssi aku bisa sendiri.”

“Tak apa nona Heo…keranjang itu berat, biar aku membantumu.”

Tak kuat mengangkat beban itu, sepertinya Gayoon mengiyakan namja itu membantunya. Melihatnya berjalan beriring dengan namja itu membuat hatiku panas. Akupun berjalan cepat menghampiri mereka. Selang jarak beberapa meter dari mereka berdua, kulihat Gayoon tersandung batu di depannya sehingga membuatnya terjatuh dengan ikan-ikan yang berserakan di sekelilingnya. Dasar namja bodoh! Apa yang kau lakukan di sampingnya dari tadi? Kenapa tidak kau tangkap tubuhnya sebelum dia terjatuh? Tolol!

Author POV

“Gwenchana??” Ujar namja itu

“Ah ne…gwenchana….auch!”

“Kenapa nona heo?”

“Eng…sepertinya kakiku terkilir…” ujar gayoon yang meringis menahan sakit di kakinya

“Ah…kalau begitu biarkan aku gendong sampai ke….”

Belum sampai namja itu menyelesaikan kalimatnya, doojoon dengan sigap menggendong tunangannya dan sukses membuat mulut gayoon tak menutup dan membelalakkan  matanya begitu lebar. Gayoon yang tak percaya sekaligus malu dengan pelariannya menunduk cepat tanpa berani memandang wajah doojoon. Doojoon yang melihat reaksi tunangannya itu hanya tersenyum getir.

“Biar saya saja yang membawanya, terimakasih sudah membantu, permisi.”

Doojoon sedikit membungkuk pada namja itu dengan membawa gayoon dalam gendongannya. Doojoon tak bicara sepatah katapun pada gayoon. Pikirannya masih campur aduk melihat gayoon yang terus menunduk tanpa menatap wajahnya sedikitpun. Dia terus berjalan menuju rumah keluarga yoon

“Annyeonghaseyo…….Appa…….Omma….”doojoon memberi salam pada keluarga yoon yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk festival desa nanti malam

“Woa………doojoon!!!adeul-a….kapan kamu datang????aigo….gayoon kenapa???” nyonya son berlari ke arah mereka berdua

“Ah…hanya terkilir eomma tak perlu khawatir, ehm….ada kamar yang bisa dipakai omma? Kakinya harus segera dikompres sebelum semakin bengkak,” Ucap doojoon

“Gunakan saja kamar Bomi di ujung, kamar itu masih tetap seperti dulu, Omma tak merombaknya.”

“Ne…omma kamsaheyo.”

Doojoon berjalan cepat menuju kamar yang dimaksud. Didudukkannya gayoon di atas kasur. Doojoon mengambil baskom dengan es di dalamnya, dengan cekatan segera mengompres kaki gayoon.

“Auch……” gayoon meringis kesakitan

“Tahanlah, agak sakit sedikit memang, tapi tidak akan bengkak nantinya.”

Gayoon terdiam menatap namja yang sudah 2 minggu tidak dilihatnya itu. 2 minggu tak bertemu dan mendengar suaranya memunculkan rasa rindu pada diri yoja itu,tapi rasa bersalah atas pelariannya masih menyelimutinya. Takut dan gelisah berkecamuk dalam pikirannya.

TBC

16 responses to “(Dooyoon moment) I really want to marry you #1

  1. huwaaaww…!!!
    Doojoonnya nakal juga yaak?
    karakter Doojoon di sini tipe aku banget..
    aku suka Doojoon di sini..
    lanjutannya jngan lma” yaah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s