Our Story [Part 1-All New Life]

Title: Our Story

Author: Hyunvy

Cast: Park Chaesa, Park Aira, Yoo Minsung, Cho Kyuhyun, Choi Minho, Onew, Kim Jonghyun

Length: Series

Rating : PG-13

Genre: Romance, Friendship

Our Story Teaser

***

Hari itu cukup berarti bagi Chaesa karena ia akan mendaftar masuk SMA, Seoul International High School. Sebenarnya ada 2 jenis kelas yang berbeda di sekolah tersebut. Kelas yang berstandar nasional seperti biasa dan kelas yang berstandar internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris walaupun belum sepenuhnya, terutama untuk pelajaran bahasa Korea. Tetapi dipastikan untuk pelajaran bahasa Inggris akan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris.  Dan untuk memasuki kelas Internasional tidaklah mudah. Para calon siswa harus mengikuti 3 jenis tes yaitu tes saringan masuk dengan mata pelajaran umum seperti matematika, kimia, fisika, biologi, geografi, sejarah, sosiologi dan bahasa Korea lalu tes psikotes dan tes TOEFL. Jika lulus ketiga tes tersebut, barulah dianggap layak untuk memasuki kelas Internasional itu.

Chaesa sudah dipastikan masuk ke sekolah itu karena ia sudah lulus tes saringan masuk dan hari ini -Senin, 23 Juni- waktunya ia mendaftar kelas Internasional dan untuk 2 tes lainnya akan dilaksanakan lusa, Rabu tanggal 25 Juni.

Ia melangkahkan kakinya yang beralaskan sepatu kets berhak berwarna pink di koridor sekolah barunya. Sebuah tas berukuran sedang berwarna krem yang sedikit berenda menggantung bebas di bahu kanannya. Ia menggunakan skinny jeans berwarna hitam dan kemeja berwarna hijau tosca dengan hiasan kalung berbentuk menara eifel. Sedangkan tangan kirinya memeluk sebuah map bening berisi semua dokumen yang ia butuhkan untuk mendaftar. Ia memang berbeda, selain dari wajahnya yang sungguh terlihat bahwa ia adalah blasteran, ia pun datang sendiri, tidak seperti yang lainnya, datang bergerombol dengan teman-teman SMP mereka atau bahkan dengan teman SD mereka. Tetapi Chaesa agak tidak peduli, ia tetap fokus pada tujuannya, menuju ruang administrasi.

Terlalu banyak pasang mata yang memperhatikan Chaesa karena hari itu sekolah memang sedang ramai dengan para calon siswa. Ia sepertinya banyak menarik perhatian orang-orang. Penampilannya sangat modis dan elegant, terlihat pintar dan cantik. Ia melewati beberapa koridor mulai dari gerbang utama sampai ruang administrasi.

Saat itu Park Aira pun sedang mendaftar kelas Internasional, ia sudah selesai mendaftar dan ia sedang mengobrol dengan Song Jaerim, teman SMPnya di salah satu kursi koridor dekat ruang administrasi dan Chaesa pun berhasil merenggut sedikit perhatian Aira dan Jaerim.

“aku rasa yeoja tadi akan mendaftar kelas Internasional juga, dan aku yakin ia pasti diterima…” ujar Aira pada Jaerim

“ah, aku setuju denganmu… sepertinya ia juga bukan orang korea asli, matanya biru” balas Jaerim dengan matanya yang masih mencuri pandang pada Chaesa yang sudah ada di dalam ruang administrasi. Sungguh Chaesa terlalu banyak mengambil perhatian orang.

“aku jadi minder, kalau aku tidak lulus di kelas Internasional, bagaimana nasibku?” air wajar Aira mulai berubah menjadi agak masam

“ya kalau tidak masuk kau bersamaku saja di kelas Nasional… tapi kau kan pintar juga, kau pasti bisa Aira, hwaiting!” Jaerim mengepalkan tangan kanannya keatas, member semangat kepada Aira

“arra, doakan aku untuk tes lusa ya…”

“nde… sudahlah, ayo kita pulang, aku masih harus membantu ibuku memasak makan siang” Jaerim teringat tugasnya sebagai anak perempuan tertua dikeluarganya

“kajja…” Aira mulai berdiri dari tempatnya dan mulai menggandeng lengan Jaerim sambil berjalan ke luar sekolah.

***

Benar-benar hanya orang terpilih yang bisa memasuki kelas Internasional. Sekolah membatasi maksimal 75 siswa dengan nilai teratas  yang nantinya akan dibagi dalam 3 kelas, masing-masing 25 siswa agar proses pembelajaran bisa berjalan lebih efektif.

Yoo Minsung, teman kecil Aira pun mendaftar ke kelas Internasional. Aira dan Minsung memang cukup dekat, mereka satu sekolah dari mulai SD sampai SMP walaupun mereka tidak selalu satu kelas. Mereka mengikuti ekskul yang sama, theater karena keduanya memang sangat berminat dibidang seni peran tersebut dan mereka pun sudah berjanji akan memasuki ekskul theater juga di sekolah baru mereka ini.

***

Hari tes pun tiba. Siap tidak siap inilah waktunya 200 calon siswa kelas Internasional diuji. Tes berlangsung selama kurang lebih 5 jam dan tentunya cukup melelahkan, begitu pula yang dirasakan oleh Chaesa, meski persiapannya sudah sangat matang dan ia sudah beberapa kali mendapat tes psikotes dan TOEFL yang hampir mirip, tetapi tetap saja ia merasa tenaganya terkuras banyak, hampir dua per tiga dari seluruh tenaganya.

“baiklah, kalian sudah melakukan yang terbaik. Pengumuman kelulusan akan ditempel hari Jumat nanti di papan pengumuman depan ruang administras. Sekarang kalian semua bisa pulang” ujar Nam songsaenim yang sedari tadi mengurus semua jalannya tes

“kamsahamnida, songsaenim” serentak semua siswa mengucapkan terima kasih, membungkuk dalam lalu mulai keluar ruangan satu per satu. Beberapa siswa menggerutu, mengutuki soal yang menurut mereka sulit. Beberapa membahas jawaban dengan teman-temannya. Beberapa menekuk wajahnya lalu berjalan gontai menuju gerbang keluar. Beberapa berwajah gembira dan beberapa lagi berwajah datar dan melangkah pulang, seperti yang dilakukan Chaesa.

***

“omo, namaku tercantum… Itu, nomor 9…” ujar Aira setengah berteriak kegirangan

“namaku juga ada, nomor 14…” susur Minsung tidak kalah hebohnya

“yyeeeaaahhhh!!!!” keduanya bersorak kegirangan karena mereka akan kembali satu kelas. Disana tertulis langsung pembagian kelasnya, sesuai dengan urutan nomor, 1-25. 26-50 dan 51-75.

“excuse me…” ujar seseorang dengan sangat sopan kepada kedua yeoja yang sedang kegirangan itu. Chaesa.

“ah, mianhada kami menghalangimu…” ujar Minsung sambil menarik tangan Aira menjauh. Aira tidak melepas pandangannya pada Chaesa yang sedang sibuk mencari namanya di papan pengumuman.

“kau ini, ada apa melihatnya terus seperti itu?”

“aku ingat yeoja itu, aku melihatnya saat hari pendaftaran dan aku yakin namanya pasti ada disana” jawab Aira masih terus memperhatikan Chaesa, penasaran apakah dugaannya selama ini benar atau tidak. Rasa penasaran Aira akhirnya lega juga seiring dengan wajah lega Chaesa dan senyum kemenangannya.

“annyeong, kau masuk kelas Internasional juga ya?” Aira menyapa Chaesa langsung setelah Chaesa menjauhi papan pengumuman

“nde… kalian berdua juga?” tanya Chaesa sambil menunjuk Aira dan Minsung

“yup, perkenalkan aku Park Aira…” Aira menyodorkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Chaesa

“dan aku Yoo Minsung…” kali ini giliran tangan Minsung yang disambut baik oleh Chaesa

“Park Chaesa imnida, bangapseumnida…” ujar Chaesa sambil memamerkan senyumnya yang sangat manis

“tunggu, siapa namamu? Park Chaesa?” tanya Minsung dengan nada agak tinggi. Chaesa tidak menjawab hanya mengangguk kecil

“wae?!” tanya Aira bingung. Segera Minsung kembali ke papan pengumuman, melihatnya sebentar lalu kembali

“ternyata aku tidak salah ingat, namamu ada di urutan nomor 1 kan?” Minsung agak berapi-api mengucapkan kalimat itu. Dan lagi-lagi Chaesa hanya mengangguk.

“berarti kita akan satu kelas… dan kau hebat, nilaimu tertinggi” ujar Aira sambil bertepuk tangan kecil

“ah, kita akan sekelas kah? Kalian adalah teman pertamaku disini, mohon bantuannya…” sekali lagi Chaesa membungkukkan badannya

“tidak usah sungkan, mulai sekarang kita adalah teman…” ujar Aira sambil merangkul bahu Chaesa yang lebih tinggi 10 senti dari bahunya sendiri

Disinilah sebuah persahabatan dimulai.

***

Chaesa mengenakan seragam barunya. Sebenarnya ini pertama kali ia memakai seragam sekolah, karena selama ia bersekolah di Kanada, ia selalu menggunakan baju bebas, tidak ada seragam. Ia mulai mengenakan kemeja putih polos berlengan pendek, blazer coklat tua  dengan lambang sekolah di dada kanan dan saku di dada kiri, rok berwarna senada sepanjang 5cm diatas lutut dan sepatu kets barunya berwarna coklat senada dengan hak 3cm. Rambut panjangnya ia gerai, rambutnya memang agak coklat dan ikal dibagian bawahnya dan ia membubuhi sebuat pita dengan warna senada pula. Yang terakhir ia menggendong ransel barunya yang berwarna coklat muda. Ia sudah siap, benar-benar siap berangkat ke sekolah barunya.

Hari pertama ini juga spesial, ia diantar oleh ayahnya, bukan oleh supir seperti biasanya. Sekolahnya sejalan dengan kantor ayahnya. Pukul 7.30 ia pun bergegas pergi menuntut ilmu.

“sekolahmu selesai jam berapa?” tanya Daddy

“sekitar jam 3, dad…” jawab Chaesa

“be nice, okay?”

“okay…” Chaesa tersenyum manis diiringi usapan dikepalanya dari laki-laki yang sedari tadi ia panggil Daddy, ayahnya, Ludwig Wyne.

“bye, daddy…” Chaesa melambai dari luar mobil dan mulai membalikan badannya dan berjalan menuju gerbang sekolah seiring mobil ayahnya kembali melaju

‘semoga hari ini akan menjadi hari sekolah pertama yang menyenangkan. Aku sungguh tidak sabar bertemu dengan teman-teman baruku dan mulai belajar dengan budara timur…’ ia bergumam dalam hatinya

***

Kelas cukup berisik dengan 25 siswa yang sudah mulai memilih bangkunya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan Chaesa, ia memilih bangku paling tengah dan bangku paling depan. Cukup aneh memang karena hampir semua siswa menjauhi bangku yang menjadi center tersebut. Dsri dulu Chaesa memang senang duduk paling depan, menurutnya ia akan belajar lebih baik dan lebih memperhatikan.

Lain halnya dengan Aira dan Minsung yang memilih untuk menduduki bangku baris tengah saja, agar mereka tidak terlalu menjadi perhatian, terutama perhatian para guru. Bangku di kelas itu tersusun 5 baris dan 5 kolom dengan total 25 bangku dan meja yang terbuat dari kayu dan dapat memenuhi kebutuhan fasilita 25 siswanya.

“attantion please!” terdengar sebuah suara agak lantang dari seorang wanita yang masih cukup muda, mungkin umurnya baru 30an

“I’m Sohee Shin, dan mulai sekarang aku akan menjadi wali kelas kalian” lanjutnya setelah ia mendapat perhatian semua mata di ruangan itu

“annyeong hasimnika, Shin songsaenim…” seluruh isi kelas menyapa sambil membungkuk dalam

“mulai sekarang ssmpsi 3 tahun kedepan, kalian akan menjadi anak asuhku, anggap saja aku orang tua mu di sekolsh ini, kalian boleh menecritakan apapun kepadaku, jangan sungkan, okay?”

“nde……” lagi-lagi semuanya serentak

“baiklah kalau begitu, dihari pertama kalian ini aku memberikan kesempatan kalian untuk mulai saling berkenalan dan mulai membuat struktur organigram untuk kelas 10-1 ini. Baiklah sekarang perkenalkan diri kalian masing-masing di depan dengan mengucapkan nama dan asal sekolah. Ya, dimulai dari kau!” Shin songsaenim menunjuk seorang anak laki-laki yang duduk di bangku dekat pintu.

Anak laki-laki itu mulai berdiri, maju ke depan kekas dan mulai memperkenalkan dirinya.
“annyeonghaseo, Kim Suho imnida. Aku berasal dari Busan Junior Highschool.”

Acara perkenalan itu teus berlangsung, sampai giliran Chaesa memperkenalkan dirinya.

“hello, I’m Chelsea Park but you can call me Chaesa. I came from Toronto International Junior Highschool. Nice to meet you, guys…” Chaesa melambaikan tangannya sebagai penutup dari pengenalan dirinya. Apa yang terjadi? Semuanya terdiam mendngar Chaesa fasih memperkenalkan dirinya dengan bahasa Inggris dan budaya barat.

‘mengapa semua memperhatikanku dengan pandangan aneh seperti itu?’ Chaesa mulai bertanya-tanya dalam hatinya, barangkali memang ada sesuatu yang salah.

“Chaesa-shi, kau fasih sekali berbahasa Inggris, kau baru pertama kali bersekolah di Korea ya?” Shin songsenim mulai membuka pembicaraan memecahkan keheningan

“ah, nde songsaenim, mohon bantuan teman-teman semuanya…” akhirnya Chaesa membungkuk dalam dan teman-teman sekelas lainnya mulai bisa bertingkah seperti biasa. Seiring Chaesa kembali melangkahkan kakinya kembali ke bangkunya diiringi tepuk tangan yang lebih meriah dari seisi kelas, tidak terkecuali Shin songsaenim. Tingkah Chaesa memang sangat lugu dengan gayanya yang agak kebarat-baratan dan hampir seisi kelas menyukai keberadannya.

***

Setelah semua seisi kelas memperkenalkan dirinya masing-masing, Shin songsaenim mulai membimbing para muridnya untuk membuat struktur organigram kelas.

“baiklah, sekarang kalian sudah saling mengenal kan? Seperti yang sudah aku katakan tadi, sekarang kita akan membuat struktur organigram.” Shin songsaenim mulai menuliskan jabatan-jabatan apa saja yang dibutuhkan. Ia menulis secara menurun, mulai dari ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris, bendahara dan beberapa seksi seperti seksi pendidikan, keamanan, kreatif, kebersihan dan olahraga.

“okay, yang pertama adalah posisi ketua kelas, kira-kira siapa calon yang menurut kalian pantas?” sesudah Shin songsaenim menyelesaikan kalimatnya, seluruh kelas serasa ricuh menyebutkan beberapa nama. Shin songsaenim menanggapi mereka dangan antusias dan ia pun menuliskan 2 nama yang menurutnya paling banyak dicalonkan dan menurut penglihatannya pun mereka memang pantas.

” Kim Suho dan Cha Sunwoo. Akan dilakukan voting, voting terbanyak akan menjadi ketua kelas dan yang satunya menjadi wakil ketua. Semuanya setuju?”

“nde…..” seisi kelas sangat berantusias dan mulai memutuskan siapa yang akan mereka pilih dan voting pun dimulai dengan cara menunduk dan menutup mata serta mengacungkan lengan mereka. Mengapa mereka harus menutup mata? Agar kerahasiaan memilih tetap tejaga dan hanya Shin songsaenim yang mengetahuinya.

“Suho, kau menjadi ketua kelas dan Sunwoo menjadi wakil ketua”

“Selanjutnya pemilihan sekretaris, ada yang ingin mengajukan diri?” Shin songsaenim memulai lagi. Tapi untuk yang satu ini semuanya terdiam, saling berpandangan sambil berbisik pelan siapa yang mau dan siapa yang mereka calonkan sebagai sekretaris

“Chaesa saja songsaenim, Chelsea Park…” ujar Aira dengan suara yang cukup lantang

“ya sudah, kau bersedia kan, Chaesa?” tanya Shin Songsaenim meyakinkan sebelum ia menulis nama Chaesa di depan

“tapi aku belum pernah menjadi seorang sekretaris…” ujar Chaesa dengan nada agak cemas

“tidak apa-apa Chaesa, kau pasti bisa! Mari berjuang bersama…” Suho memberikan semangatnya sambil mengepalkan tangannya di udara, diikuti dengan Sunwoo yang memberikan support juga untuk Chaesa

“hhmmhh, baiklah..” jawab Chaesa akhirnya

“sudah ditetapkan, Chelsea Park yang menjadi sekretaris” Shin songsaenim menggoreskan spidolnya lagi ke papan tulis.

Pemilihan pengurus kelas sudah ditetapkan. Prosesnya berjalan lancar walaupun agak lama dan agak ribut. Dan sebagai sekretaris baru, Chaesa berkewajiban untuk menyalin ulang hasil pemilihan mereka.

Ketua Kelas : Kim Suho
Wakil Ketua Kelas : Cha Sunwoo
Sekretaris : Park Chaesa
Bendahara : Lee Jieun
Sie. Pendidikan : Kim Jonghyun, Yang Yoseob
Sie. Kreatif : Park Aira, Yoo Minsung
Sie. Kebersihan : Choi Sulli, Lee Taemin
Sie. Olahraga : Choi Seunghyun, Kim Taeyeon
Sie. Keamanan : Choi Siwon, Kim Junsu

Chaesa mulai menyisihkan satu buku tulis barunya khusus untuk kepentingan ‘pekerjaan’ barunya, dan ia pun mulai mencatat daftar struktur organigram tersebut dan sembari ia menghafal teman-teman barunya. Tentu yang paling ia ingat adalah Aira dan Minsung yang bersama -lagi- di seksi kreatif.

“baiklah anak-anak, mulai besok kalian sudah mulai berkerja sesuai dengan tugas kalian masing-masing. Suho, tolong bimbing teman-teman yang lainnya. Dan jangan lupa untuk membuat struktur organigram untuk ditempel di dinding. Aira dan Minsung, kalian yang mengkordinasi teman-teman kalian untuk membuatnya. Hari ini hari diskusi bebas, silahkan kalian mulai membicarakan mengenai pekerjaan baru kalian disini.” Shin songsaenim menyelesaikan kalimat penutupnya lalu melangkahkan kakinya keluar diiringi oleh bisikan-bisikan dari murid-muridnya yang mulai menjadi lantang. Ini saatnya para murid mendekatkan diri mereka masing-masing dan mulai bekerja sama.

***

Chaesa berjalan pelan menuju gerbang sekolah, ia memang agak telat karena ia harus mencatat ulang semua hasil rapat kelas mereka. Dan lagi ayahnya kebetulan harus menyelesaikan salah satu pekerjaan pentingnya, sehingga ia pun membuat Chaesa masih harus menunggu. Sebuah suara yang tak asing lagi mengalihkan perhatian Chaesa.

“lalu aku harus bagaimana eomma? Aku sudah tidak tahan berada di rumah itu…” suara itu semakin jelas dan terdengar beriringan dengan isak tangis

“kapan eomma pulang? Aku dan Hyunnie benar-benar merindukan eomma…” Chaesa yakin suara itu berasal dari tempat parkir depan yang hanya beberapa langkah lagi bisa ia capai. Ia mulai mengenali suara itu dan sosok yang mulai terlihat dihadapannya.

Yeoja itu mulai menjauhkan handphone dari telinganya dan mulai terisak keras. Tangan kirinya yang bebas mulai mencoba untuk menyeka air matanya yang mulai berjatuhan. Chaesa dapat mengira-ngira walaupun posisinya tepat dibelakang yeoja itu.

Chaesa memberanikan diri untuk menepuk bahu yeoja itu. Selain untuk mengatasi rasa penasarannya, juga untuk mencoba meredakan tangisnya yang semakin kencang.

Yeoja itu menoleh pelan dengan tangan kirinya yang masih menyeka pipinya yang sudah sepenuhnya basah oleh air mata. Untuk beberapa saat mereka terdiam berpandangan dan Chaesa agak terkejut.

“Aira-shi?!”

—–tbc—–

mian kalo updatenya agak lama… moga pada suka yah…

jangan lupa comment ya… 😀

Gomawo…
Hyunvy^^

Advertisements

15 responses to “Our Story [Part 1-All New Life]

  1. chaesa keren eon 🙂
    semuanya keren 🙂

    kyu, minho, sama onew jadi apa ?
    pengurus osis ? sunbaenim ? ko , cuma jjong yg satu kelas sama mereka ?
    aira knp nangis ? eommany diluar kota emang ?

    wah, tambah penasaran .. next part ditunggu ya eon 🙂

  2. suka cara penyampaiannya, jelas dan terinci…. masih ada bbrp yg salah ketik sih tapi…..bagus 🙂

  3. ommo aq telat bng komen -.-” mianhe

    ini udh ad part 2’ny kh???
    aq blm bs nebak alur cerita’ny hehehe
    dsni cast’ny bru muncuul beberapa///
    yg lain kpan muncul??? hehe
    ayooo dlanjut msh penasaran 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s