Gehört mir Teil [1/4]

Author                  : YanluSarang_KasihWright

karakter               : Choi Minho, Kim Sarang (OC), Lee Jinki, Choi Niola (OC), Kim Kibum , Eun Hye (OC), Lee Taemin, Lee Minyoung (OC), Kim Jonghyun , Park Leena (OC)

Genre                   : Romance, complicated

rating                    :T

abstrak                 : Cinta tidak membutuhkan sesuatu yang lain kecuali dirinya sendiri, ia datang tetapi tidak ingin dimiliki, lalu ia pergi, tetapi tidak bisa menghilang, segalanya tidak bisa dimiliki, meski ingin memiliki, karena cinta tidak pernah terikat pada apapun, gehört mir… (aku ingin memilikimu)

annyeong hasseo, sebelum mulai baca tulisan2 konyol yang bakal bawa kamu bolak-balik ke toilet, perkenalkan, nama author sebenarnya bukan kasihWright, kalo dipaksain biar ke korea-koreaan jadinya Kim Sarang* wkwkwk, ini cerita I buat waktu lagi baca ceritanya Nora yang keajaian moment, makanya jadi ada casting2 ga jelas gitu, hehehe:D

*hatimu belum hidup bila kau belum pernah merasakan sakit, rasa sakit karena cinta mampu membuka hatimu, bahkan bila sekeras batu sekalipun…

Matahari berbaur dengan kaca jendela sebuah kamar bergorden biru laut tanpa kanopi dibagian depan. Tumpukan not blog dan kertas latihan ujian masuk berserakan di lantai. Lampu meja yang menggatung masih bersinar hingga cahayanya tak tampak  ketika matahari sudah menggantung dua meter dari permukaan.

Seseorang tanpa kaus dalam berbaring dibalik badcoverbiru gelap. Matanya masih tertutup walaupun jam weker di atas meja kecil di samping ranjangnya terus menjerit. Perlahan angin masuk melalui pintu jendela lebar yang selalu terbuka ketika malam, meniup lembaran-lembaran kertas dari meja belajarnya, menerbangkan selembar kertas foto yang baru saja selesai tercetak. Bahkan mesin printer di atas meja kecil di samping komputer yang kabelnya terhubung dengan terminal yang menghubungkan dengan telepon rumah, dimana koneksi internet terpaksa disalurkan melalu modem yang mengandalkan sinyal telepon, masih menyala lampu hijau, tanda ia juga lupa mematikannya.

Kertas itu terbang perlahan, dan membelok tertiup kipas angin dari atas lemari kecil, karena heater di kamar berantakan itu tak akan berguna selama musim-musim yang masih mendapatkan cukup matahari. Matanya berkerut, tangannya dengan malas meraih kertas yang jatuh di atas wajah lusuh yang belum menyentuh air sejak dua hari terakhir.

Setelah melihat foto seorang yeoja berkucir dua yang menggembungkan pipi, bersandar pada seorang namja bermantel biru dengan mata bulat bersinar, bibirnya tersenyum.

Ia menguap, lalu merentangkan tubuhnya, malas untuk bangun.

“Sara…,” ia tersenyum dan memaksakan kakinya berjalan tersaruk-saruk menuju tube kesayangannya.

Dua hari terakhir sebelumnya, ia belum mandi karena tak sempat, ya… itu alasan yang ia katakan pada hyung dan dongsaengnya.

Belum sempat dia mengenakan handuk dengan benar, seseorang mengetuk pintu, dengan suara khas gugup yang selalu semanis itu.

“Minho hyunng, cepatlah!” namja yang berkerut dahinya menggoyangkan kenop dengan sangat gusar.

Beberapa saat setelah mengenakan pakaian, pintu tebuka.

“Taemin, whats right?

Tanpa menjawab, Taemin berlari, dan menyaksikan kertas-kertas latihan semester tiganya berserakan. Hatinya merasa lemah seketika.

“Minho hyung, apa yang kauperbuat semalam, kenapa kertas-kertasku…,”

“Taemin, apa maksudmu, apa… apa maksud kertas-kertas ini…,” dengan wajah tolol, hyung whore[1] di depannya menekuk kaki, berlutut dan membereskan kertas-kertas itu.

“Semalam aku memang kesini, tepat tengah malam, dan aku menyalakan komputermu karena Key hyung tidak mengijinkanku mencetak kertas, jadi aku berada di sini sampai larut malam dan ketiduran…,”

Taemin jelas tidak bisa menyembunyikan rasa bimbang terhadap kertas-kertas yang ia janjikan pada Minyoung untuk di kerjakan bersama sepulang baseball. Minho dengan wajah tak yakin menatap jendela, lalu segera berlari dan melihat betapa banyaknya kertas blank yang berjatuhan di halaman belakang.

“Baiklah, kau lupa menutup jendela, dan kau kembali ke kamarmu tanpa mematikan mesin itu,”

“Kukira kau sudah membereskan semuanya, Hyung,”

“Sudahlah, aku akan memperbaiki secepatnya. Kau punya waktu dua puluh lima menit dari sekarang untuk berkemas dan berangkat sekolah.”

“Baiklah,” Taemin menata seluruh kertas yang tintanya berceceran tidak karuan. Lalu berbalik dan membawa semuanya berlari menuruni anak tangga.

Minho hanya menghela napas panjang dan mulai menata kertas di bagian belakang mesin cetak dan menetiti tinta. Ia berjalan dengan cepat menuju mejanya, mematikanweker dan mengambil tinta yang baru. Ia baru mulai menyuntikan tinta, ketika ponselnya berdering.

Dering panggilan sutradaranya.

Tunggu sebentar, ia berkata pada dirinya sendiri, dan berhasil mengisi tinta dengan sedikir tercecer di lantai. Lalu ia menyalakan komputer dan mulai menjalankan mesin pencetak dengan sangat cepat.

Ia bejalan dengan cepat, menutup jendela, lalu membereskan kembali ranjangnya. Senyumnya mengembang ketika diambilnya foto dari balik badcover , lalu meletakkannya di tali lalu dijepit. Lantainya kotor minta ampun, sedangakan sisa waktu untuk sarapan tersisa sepuluh menit.

Kertas hasil cetak sudah selesai, ia segera mematikan semuanya, lalu beranjak keluar dengan meneteng tas dan membawa kerta-kertas itu di tangan kananya.

ïGehört mirð

“Itu bukan salahku, lagipula kau sendiri yang mengijinkanku mencetak lebih dulu, bukan?” namja dengan senyuman paling sinis yang pernah ada didunia ini bercermin, merapihkan seragamnya. Ia menatap dirinya sendiri dengan sangat hati-hati.

Lalu ia tersenyum, senyuman yang sangat menyejukan hati, dan sanggup membunuh rasa kecewa dengan seketika “Baiklah, aku minta maaf untuk itu, kau tahu aku akan ada ujian masuk, kan?” dia menggoyangkan bahu Taemin.

“Aku harap Minho hyung sudah memperbaiki semuanya,” dengan wajah tak acuh, Taemin bangkit, menyeret tasnya dan membuka pintu, lalu menghilang.

Namja yang sangat menuntut keperfectan disetiap tugas sekolahnya, dengan segera menyusul dongsaengnya menuju ruang tengah. Masakan yang sudah dimasaknya dua jam sebelum semuanya bangun, dibantu dengan hyung tertua yang selalu mencicipi ayam goreng sebelum dihidangkan, sudah tertata rapih.

“Selamat makan,” dia duduk bersebelahan dengan hyungnya yang segera menghabiskan ayam goreng di piring terakhir.

“Kibum, apa yang kau lihat?” hyung yang duduk di depannya, memperhatikan dengan wajah tolol.

Apa yang dia lakukan dengan ayamku?  Tanyanya dalam hati, sementara mulutnya menganga tak rela.

“Key hyung, kau bisa mengambil jatahku, aku… aku… akan sarapan bersama Sara pagi ini,” Minho bangkit dan membungkuk, berlalu begitu saja.

Semua yang ada di meja makan tercenung. Key menatap pencuri ayamnya dengan tatapan aneh, menyadari akan hal itu, si pencuri ayam goreng  menoleh dan mendapati semua orang melihatnya. Dia meringis dan berkata “Maaf, ini sangatmenggoda,”

Key menaikan satu alis, seakan berkata apa yang baru saja kauperbuat, FroggyBoy?

“Minho hyung menyelesaikan semuanya dengan sangat baik, dia sangat baik,” Taemin berbicara pada dirinnya sendiri, sembari memeriksa kertas-kertas di atas meja yang Minho tinggalkan begitu saja.

“Pasti dia juga memperlakukan Sara dengan baik, sebaik dia meninggalkan sarapan untuk menjemputnya,” si pencuri ayamberkata degan mulut penuh.

“Sebaik tidak memakan ayamku, Onew hyung,” Key angkat bicara, tersenyum dan mulai memakan jatah Minho.

Onew tersenyum malu “Maaf,” katanya lagi.

“Ujian masuk, seminggu lagi…,” namja yang duduk di depan Key membalik sendok, dan mulai meneguk air mineral “Kalian sudah menemui Shin il sook songsaeng[2]?”

“Belum, kurasa dia masih sangat sibuk dengan komik-komiknya yang sangat tidak berarti bagiku.” Key mengunyah nasi terakhirnya dengan pelan, lalu meneguk air mineral.

“Jangan begitu, dia juga menentukan tes ujian masuk kita,” namja itu berusaha memasang tali sepatunya dengan benar, yang terlepas ketika hendak berdiri.

“Jong hyung, bagaimana aku tidak harus membenci orang yang memaksaku menggambar manusia kartun selama berjam-jam? Memuakkan, bukan?”

“Bersabarlah, kau akan segera meninggalkan Korea tak lama lagi, “ namja itu berdiri, dan menali sepatunya dengan lebih benar.

Taemin menghabiskan makanannya dengan pelan, memerhatikan hyung-hyungnya berbicara dengan memasang wajah tak peduli.

“Sudahlah, kita hanya akan melihatnya dua bulan terakhir,” Onew membereskan meja, lalu mereka semua mencuci tangan.

Jonghyun mengemudi, di sampingnya duduk Taemin yang menyumpal mulutnya dengan sedotan yang mengalirkan susu pisang.

Onew mebolak-balikan buku catatanya yang jauh dari kata rapi, sesekali melihat catatan key lalu menariknya dengan paksa sebelum Key sempat membacanya.

Benar-benar FroggyBoy, putus Key mendadak sebal.

ïGehört mirð

Niola duduk di samping Ji Yeon, menanti Onew yang sudah dua minggu tak berbicara dengannya. Hatinya bertanya-tanya, apakah Onew benar-benar kesal padanya, atau dia sama sekali melupakan ciuman itu.

Ciuman ketika Niola membawanya pulang ke apartementnya, ketika dia pingsan karena ketakutan bukan main. Ketika itu suhu badan Onew naik secara mendadak, dan ia mengompresnya dengan setengah hati, sebenarnya ia tidak terlalu peduli apa yang akan terjadi pada namja super menyebalkan yang sama sekali tidak peduli padanya, meski dia adalah satu-satunya yeoja yang cantik di sekolah mereka.

Seketika Onew bangun dan mendapati dirinya berada di dalam kamar seorang evil girl berkedok putri salju, ia berlari dan mendapati pintu terkunci. Ia ketakutan, benar-benar takut pada Niola, seakan yeoja itu benar-benar akan memperkosanya.

Beberapa detik kemudian, Niola membaringkan tubuhnya, beranjak tidur. Sedangkan Onew berjalan dengan gemetar untuk mencuri kunci. Matanya tak bisa beralih dari wajah bening yeoja itu, tetapi pikirannya bertarung pada logika, kenyataan bahwa yeoja itu sudah sinting.

Niola menatap onew dibalik badcovernya, lalu seperti sebuah kekuatan besar menghujam Onew, dia melangkah tegas dan memandang yeoja itu dengan sangar. Sedetik kemudian, dengan yakin dia mendekati yeoja itu. Niola merasa ketakutan luar biasa dari tatapan namja itu, tubuhnya menggigil.

Lalu dengan cepat namja itu mengambil kunci yang terkalungkan di lehernya, dan mencuri ciuman singkat, yang benar saja seperti yang ia rencanakan dengan sangat iblis, Niola terduduk kaku.

Lalu Onew dengan cepat berlari dari ruangan dimana Niola tak bisa berbuat apa-apa.

Ciuman yang membuat Niola terancam kaku, sedangkan hanya berasa sialan, ciuman memuakkan bagi Onew.

Ji yeon sesekali terkekeh ketika Niola menjawab sapaan namja-namja yang berseliweran.

Niola, satu-satunya yeoja cantik yang mulai tergila-gila pada Onew.

Minho berjalan terhuyung , menenteng tasnya. Senyumnya tak pudar setelah mengantarkan Sara ke sekolahnya.

“Dimana Onew?” yeoja berambut panjang tergerai berlari ke arahnya.

Mendadak sorot mata Minho berubah. Reaksinya jelas terkesan bingung dan terganggu “Aku buru-buru,” katanya, dan berlalu.

“Hey, aku bicara padamu,” yeoja itu memegangi tangan Minho, mencengkamnya kuat, seakan luka di tangannya bukanlah penghalang untuk memepertegas siapa dirinya di depan hyung whore.

Luka yang ditimbulkan Onew ketika yeoja itu membantunya memindahkan meja, dan tak ada kata terimakasih ataupun maaf.

Sungguh kasihan Niola.

Yeoja ini sudah tuli, putus Minho dalam hatinya. Ia hanya menatap yeoja di depannya tanpa ekspersi yang jelas, berdiri tegap, tatapannya lurus ke tembok.

“Aku ingin bicara pada dia, dia di mana?” suaranya mulai sedikit berteriak.

Minho hampir membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi yeoja itu berjalan mendekat dan meraih tas tangan namja itu “Berikan tasku!”

“katakan dimana dia…” yeoja itu benar-benar terbukti sangat menjengkelkan, membuat Minho hilang rasa seketika.

Tiga namja berjalan mendekat. Satu di antara mereka, memanggil nama yeoja itu dengan sangat kesal “Niola!”

Namja-namja di sampingnya tertegun, bagaimana mungkin namja di sampingnya bisa memanggil yeoja dengan sangat memprihatinkan seperti itu.

Wajah yeoja itu bersemu merah, lalu menyerahkan kembali tas tangan Minho, dan berlari ke dalam kelasnya, disusul Onew dan Jonghyun mengekor di belakang.

Key duduk bersebelahan dengan Jonghyun di belakang Onew. Mereka menertawai si pencuri ayam goreng itu yang terus saja bertengkar dengan partner duduknya.

Onew merasa sepuluh ribu terganggu dengan ocehan Niola yang terus saja berbicara. Dalam hatinya ia bersumpah ingin sekali menyumpali gadis di depannya dengan sepatu.

Niola tak sedikitpun merasa terganggu dengan respon Onew yang hanya menatapnya tanpa berkedip selama bermenit-menit, sementara dua iblis di belakang mereka terus tertawa terbahak-bahak.

“Kurasa Onew hyung belum juga mempunyai gandengan untuk festival salju saat perpisahan nanti,” Key, dengan berbisi-bisik menulis sesuatu di buku catatannya, meski dalam hatinya merasakan kehampaan yang sama, dia terus mengolok-olok hyungnya, bersamaan tawa Jong yang terus meledak-ledak.

Onew menoleh, dan segera membuka mulut “Jika aku akan mengajak sepoang yeoja ke festival itu, tentu yeoja yang kuajak  akan menolak.”

Pipi yeoja di sampingnya merekah seketika, namun ia tak merespon. Itu pasti aku. Aku tidak akan menolak, putusnya dalam hati.

Onew berbalik, menatap yeoja di sampingnya grogi dengan wajah mengantuk “Bukan kau!”

Niola tak setuju dengan pendustaan itu. Ia sangat yakin Onew terpikat padanya, sementara Onew merasa hampir gila duduk bersamayeoja cantik yang selalu membuat otaknya berputar-putar, setiap kali yeoja itu berkata sesuatu dengan sangat manis, dan menjengkelkan.

Aku pasti sangat membencinya, putus Onew dalam hati.

ïGehört mirð

Seorang yeoja berambut lurus sebahu, berdiri di depan kaca wastafel, memerhatikan segerombolan yeoja yang jelas-jelas sering kali mengolok-oloknya, dengan sebutan sutradara yang mengencani klein. Minho bukan klein-ku, dia kekasihku, desaknya pada diri sendiri.

Urusan pekerjaan tambahan sebagai sutradara amatir, untuk memenuhi tugas ayahnya yang sangat menyebalkan,  ketika ia menjalankan sisi hidupnya sebagai traine di sebuah drama, itu sudah menjadi resiko dengan adanya rasa cemburu, ketika chagi-[3]nya beradegan mesra dengan yeoja lain.

Dia mengingat-ingat nama yeoja cantik yang sempat merangkul bahu chagi-nya selepas casting, yeoja manis yang sangat… menawan. Belum sempat dia mengingat nama yeoja itu dengan baik, seorang yeoja menepuk bahunya, dia tersenyum saat merapikan rambut.

“Sara…, did you know, one thing went wrong?

Sara membalikan tubuhnya, menatap yeoja di depannya dengan tatapan tak yakin “Yah, aku sudah katakan pada koordinasi, pemilihan dewan presiden kelas tidak seharusnya kau merekomendasikan aku, yang lagi pula… aku juga sudah katakan dont blame me if the things go wrong.”

“Tapi kau seharusnya,” Minyoung membasuh wajahnya, lalu mendongak untuk menatap wajahnya di depan kaca, sementara Sara merasa sangat tidak yakin dengan keputusannya. Dia merasa sangat tolol.

“Oh, Minyoung, please… dont…,

“Kau harus melakukan kampanye.” Minyonung meyakinkan Sara, yang sebenarnya tidak mengefek apapun.

“Haih…, sudah kuduga…”

Lalu keduanya melangkah meninggalkan ruangan serba putih itu.

Minyoung, yeoja itu terus meyakinkan Namhyuk tentang rencana pengusulan presiden senior kelas tahun ini. Dia begitu bersemangat menentang Eun Hye, yang sudah jelas akan menang dalam kampanye sehari setelanya. Sara merasa usaha yang akan Minyoung dan teman-temannya dengan memasang spanduk sebesar gawang sepak bola hanya akan membuatnya menahan tawa.

Minyoung hanya menatap Sara dengan geram, melihat yeoja itu menertawakan Namhyuk yang lagi-lagi menjatuhkan spanduk bertuliskan pilih Sara! Berkali-kali. Sialan kau, calon presiden!, hatinya tersungut ingin menjambak yeoja yang dibela-belanya melawan Eun Hye, malahan hanya tertawa ria.

Nothing funny here, girl!” Minhyoung jelas gusar, matanya menatap Sara dengan sangat mengerikan hingga Sara menutup mulutnya dengan segera dan ikut menggulung spanduk.

Yeoja itu tidak sepenuhnya bersemangat membantu Sara, mengingat betapa buruknya pertengkaran dengan namja yang meletakkan kertas latihan ujian di depan dadanya dengan tak acuh dan pergi.

When will he does his best islike what was Minho doing for Sarang? Minyoung menggigit bibirnya, menatap Sara yang terus tertawa ketika mengangkat spanduk bersama Namhyuk.

“pelan-pelan, Sara…” namja itu mengingatkan di tengah tawanya.

Sara masih tertawa “Aku tidak habis pikir dengan kalian, mungkin aku bisa membantu sedikit kalau kalian ijinkan, selalin seorang yeoja bernama Niola yang membantumu, Namhyukssi[4]. Aku juga sangat berterimakasih pada Taemin ssi, Minyoung.”

Ucapan terimakasih Sara yang ditunjukan karena jasa Taemin justru menusuk Minyoung lebih dalam dari ketika chagi-nya terag-terangan membandig-bandigkan dirinya dengan Sara, dan meninggalkannya begitu saja ketika Leena datang.

Ia sangat berterimakasih pada Leena yang menghiburnya, dan meyakinkan Sara tidak akan menanggapi itu sebagai masalah. Minyoung yakin, dan Leena menguatkannya agar menjaga perasaan Sara dan tidak mencampuradukan masalahnya dengan Taemin pada Sara.

“Sara, Namhyuk ssi, aku akan mencuci tangan sebentar,” yeoja itu berjalan membelakangi kedua temannya. Hatinya begitu sesak, langkahnya gontai.

Sesampainya di toilet, dia mengunci diri, mencoba melupakan Sara tidak semanja dirimu, meski Minho hyung sebaik dirinya sendiri.

Ia terus meneteskan air mata, bagaimana mungkin namja itu berubah setelah mencukur rambutnya menjadi seperti itu?

Isakan Minyoung membuat seorang  yeoja yang tersenyum ria di depan cermin, menoleh bingung. Ia ingat kejadian tadi pagi yang meyebabkan seorang yeoja cantik, temannya sendiri menangis.

Perlahan ia melangkah mendekat dan mengetuk pintu. Dengan suara ragu ia bertanya siapa yang ada di dalam, Minyoung segera mengenali suara yeoja yang sangat dekat dengannya setelah Sara, setelah membersihkanpipinya, ia membuka pintu dan memeluk yeoja itu.

Yeoja jenjang dipelukannya mencoba menenangkan, dan bertanya pelan-pelan apa yang terjadi. Tetapi keduanya tak menemukan jawaban.

~~Tbc~~


[1]Hyung whore; panggilan dari fans (hanya tokoh Minho, anggota SHINee)

[2]Songsaeng; guru

[3]Chagi; panggilan sayang

[4]Ssi; saudara (panggilan hormat)

19 responses to “Gehört mir Teil [1/4]

  1. err, saya bingung @_@
    ide ceritanya sih bagus, tapi kurang dijelaskan thor, banyak yg tiba2 kayak misalnya masalah presiden senior (btw, itu tuh apa) tiba2 banget gada cerita sebelumnya. Trus bagian yg flashbac sebaiknya dibedakan tulisannya atau ditulis sbelumnya kalo itu flashback, haha
    terus banyak typo ya?? Sarang apa Sara sih namanya,
    tuh kan aku masih bingung @_@
    entar diperbaiki ya thor, biar yg baca nggak bingung, ide ceritanya sih bagus dan ga biasa…

    semangat!!

    • wah… jadi kaya kalo namanya Liebermann dipangil Libby (maksud gak)
      aku juga ngga maksud nih, *der.. wkwkwk,
      namanya sarang, tapi galau jadi nggak enak aja gitu, akhirnya kepenggal-penggal…
      yah… berhubung cerita udah selese, mian ya nggak sempet diperbaiki…
      wkwkwk (dimaafin ngga nih?)

  2. Pingback: Gehört Mir Teil [4/4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s