Saranghae [1]

Title: Saranghae

Author: Susan Octavianna a.k.a CJH (@OCTSSN)

Length: Series

Casts:

  • Kim Jun Myeon (Suho – EXO-K)
  • Hani – Oh Hyojin
  • Indriana Husein (OC – Indonesian Actress)

Rating: PG 15+

Genre: Romance, sad, generaly I don’t even know = =

Disclaimer: This FanFic is inspirated from a movie, titled ‘SARANGHAE’. But the plot are really different and all of the story is mine. Do not copy and please ask for my permission if you want to past this FanFic in the other blog.

Annyeong readers! ^^ setelah sekian lama, akhirnya aku KEMBALIIIII~ hahahah 😀 setelah melalui masa-masa UKK yang menguras seluruh tenaga dan pikiran akhirnya sekarang aku bisa mengepost kembali FF yang terinspirasi dari judul film yang sama-sama ‘SARANGHAE’. Udah tau kan artinya saranghae? Yang gatau, buka kamus! #maksa.

Nah cerita ini tuh emang judulnya sama, tapi ceritanya beda! Bener-bener beda! So, jangan bilang aku mem-plagiat karya orang lain. Ini murni dari otak saya. Haha.

Sebelumnya, saya sudah post. prolognya, gimana? Penasaran ga? Kalo engga semoga penasaran, dan kalo penasaran mari kita lihat deh..

Kalo gitu, saya ucapkan..

Selamat membaca!

Salam,

CJH.

ææææ

“Hebat lo Ndri, bisa shooting sama orang Korea!” Puji sang manager kepada artisnya yang sedang duduk didepan meja rias. Sang artis tersenyum sambil mengoleskan shadow.

“Ya bersyukur banget lah gue. Lumayanlah, kemajuan..” Jawabnya santai.

“Tapi lo beneran T.O.P banget! Gue aja ga nyangka lo bisa kepilih jadi pemain utama!” Kata si manager lagi sambil bertepuk tangan. Sang artis hanya mengangkat bahu.

“Tapi Ndri, ntar gue ikut kan ke Korea? Lo kudu ajak gue! Gue mau ngeceng ah! Itu tuh personel boy band super junior, namanyaaaaa Siwon! Dia ganteng banget!” Seru si manager bersemangat.

“Gatau juga sih, kita liat aja nanti.” Kata Indriana Husein – Indri – yang sedang merapikan rambutnya.

“Tapi Ndri, lo kan gabisa bahasa Korea? Lo mau ngomong apa disana? Lo mau cing cang cing cong gitu?” Si manager bertanya lagi. Sepertinya ia tidak pernah kehabisan daftar pertanyaan dalam otaknya.

“Katanya sih bakalan ada penerjemah yang bakalan jadi perantara Gi, tenang aja. Gue yakin penerjemah itu yang terbaik, nanti lama-lama juga gue bisa ko bahasa Korea. Kalo cuman ngomong selamat pagi sama terimakasih mah cetek!” Jelas Indri.

Si manager mengangkat sebelah alisnya. “Lo yakin? Gimana coba?” Tantangnya.

“Cuman ngomong ‘annyeong’ sama ‘kamsahamnida’ doang kan? Orang desa juga bisa kali!” Kata Indri mempraktekan cara berbahasa Korea walaupun dengan logat yang masih salah.

Mendengar itu si manager tertawa. “Cara ngomong ‘annyeong’ lu berasa kucing mengeong! Ga enak didenger! Itu tandanya lo belum bakat!”

Indri mendengus kesal lalu menoleh ke arah Ogi, managernya yang walaupun pada kenyataannya dia adalah seorang laki-laki namun kelakukannya mirip dengan perempuan. Oleh karena itu Indri sering memanggilnya dengan sebutan “OmSetAn” atau dalam artian “Om Setengah Tante”.

“Lo kayak yang bisa aja Gi! Bahasa inggris lo aja belepotan apalagi bahasa korea. Yang ngerti bahasa lo itu cuman makhluk di luar galaksi kita!” Indri balas mengejek. Yang di ejek malah tertawa. “Segala sesuatunya butuh proses. Lo ga liat muka gue udah mirip Goo Jun Pyo gini? Gue pasti bakat ko bahasa korea!”

Indri kembali mendengus. “terserah lo aja deh!”

“Ah, ngambek! Ga seru lo Ndri! Udah ah, gue laper. Gue mau cari makan! Lo mau nitip ga? Gue beliin, tapi ntar duitnya ganti!.” Tawarnya.

“Halah, kirain mau nraktir! Beliin gue macaroni scottle aja deh! Buruan ya! Keburu gue kelaperan! Lo kan jalannya kaya putri solo!” Kata Indri.

“Eits, gue bukan putri solo, gue putri London! Oke, gue pergi. Bye. Jangan kemana-mana!” Pesan Ogi sembari melenggang keluar ruangan rias milik. Jalannya sedikit melambai dan melihat itu, Indri pun bergidik. “Ih, kesambet apa gue punya manager kayak gitu..” Gumamnya sambil meneruskan riasannya.

ææææ

“Apa?! Kenapa harus aku? Ayolah bos, tugasku masih sangat banyak disini! Mana mungkin aku meninggalkannya begitu saja!” Seru gadis berambut sebahu yang sedang berhadapan dengan bosnya di kantor.

“Tenang saja, tugasmu akan ku serahkan pada Keny. Kau tinggal berangkat saja.” Jawab si bos tenang.

Gadis dihadapannya melongo parah. “Tapi kan bos…”

“Sudahlah Hani, ikuti saja! Aku memilihmu karena bahasa Koreamu lah yang paling bagus! Dan terlebih lagi kau punya darah Korea, tentu saja semua perawakanmu tidak akan ada yang bertentangan dengan orang Korea!” Jelas si bos.

Gadis itu, Oh Hyojin – Hani – menghela napas. Ia tidak bisa berkutik apa-apa lagi. Perkataan bosnya memang benar. Didalam kantor ini, hanya ada 3 orang yang menguasai bahasa Korea. Dia, dan dua orang temannya yang sedang ditugaskan ke luar untuk menjadi penerjemah. Ia memang keturunan orang Korea. Ayahnya dari Korea sedangkan ibunya dari Indonesia yang juga merupakan blasteran Korea-Indonesia. Oleh karena itu, wajahnya sedikit berbeda dengan wajah orang Indonesia. Matanya menurun dari ibunya. Ia memiliki bulu mata yang lentik, mata yang bulat dan berwarna cokelat. Ia juga heran kenapa matanya berwarna cokelat. Padahal ibu dan bapaknya berwarna hitam. Ia hanya mensyukuri apa yang telah ia dapatkan. Tubuhnya langsing dan semampai. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Kulitnya kuning langsat dan mulus seperti orang Korea. Ia memiliki kemampuan berbahasa yang hebat. Ia menguasai 4 bahasa. Indonesia, Korea, Jepang dan Inggris. Semuanya ia dapatkan selama ia kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) terkemuka di Jakarta. Kini ia bekerja di salah satu agen percetakan buku yang terkenal akan buku-buku cetakan yang best seller.

Sebenarnya ia sedang berkutat dengan salah satu novel bahasa Inggris yang perlu diterjemahkan dan akan segera di terbitkan. Namun sebelum pekerjaannya itu selesai, bosnya telah memintanya untuk menjadi penerjemah artis Indonesia yang akan melakukan shooting dengan orang Korea. Ia sudah berusaha menolaknya namun ternyata sifat keras kepala bosnya ini memang sulit di luluhkan sehingga mau tidak mau ia harus menurut.

“Begini ya bos, kenapa pula harus aku? Memangnya si Hendri belum pulang?” Tanya Hani pada sang bos. Berharap keputusan yang telah di buat laki-laki dewasa ini dicabut dan Hani bisa meneruskan pekerjannya.

“Belum. Makanya itu aku menunjukmu! Sudahlah, kau ikuti saja. Semua pekerjaanmu sudah ku atur. Besok kau akan bertemu dengan artisnya dan kau akan berangkat ke Korea lusa. Jadi persiapkan dirimu. Sekarang kau boleh keluar.” Jelas sang bos yang terlihat sudah tidak mau menerima segala macam bentuk penawaran dari Hani.

Mendengar itu, Hani terkulai lemas di kursinya. Ia benar-benar tidak bisa mengajukan penawaran macam apapun lagi jika bosnya sudah menyuruhnya keluar ruangan. Ia hanya mengangguk pelan. “Dimana aku akan bertemu dengan artis yang bos sebut-sebut itu?” Tanyanya.

“Besok datanglah seperti biasa kesini. Dia akan kesini katanya. Dia baru saja mengirim Blackberry messenger padaku.” Jawab sang bos.

Hani mengangguk lalu berdiri dari kursinya. “Baiklah kalau begitu bos, aku permisi dulu.” Hani berbalik dan meninggalkan ruangan si bos dengan langkah gontai. Sesampainya di luar ia menggerutu. “Terimakasih Mr. Hendra telah memberiku tugas yang membuat kepalaku mendidih dan sekarang terimakasih kembali telah memberikanku tugas yang sepertinya akan meledakkan kepalaku!!”. Ia lalu melangkah cepat kembali ke ruangannya.

ææææ

“Ih seneng dong Han lo bisa dapet tugas buat jadi penerjemah artis! Kan lumayan lo bisa ketemu sama artis korea!” Seru Sari yang baru saja mendengar cerita Hani tentang keputusan bosnya.

“Tapi kan Sar, lo sendiri tau kerjaan gue masih setumpuk! Masa dia bilang mau diserahi ke si Keny? Lagian gue sering ko ketemu dan ngobrol sama artis Korea waktu gue SMA di Korea.” Timpal Hani yang masih tidak terima. Sari menepuk pundak Hani berusaha menenangkan emosi gadis itu. “Lo tenang aja. Si bos kayak gitu juga itu karena dia percaya sama lo. Udahlah, kalo gue sih mau aja.” Kata Sari.

Hani menatap Sari tidak percaya. “Ah, elo sama aja Sar! Udah ah gue pulang! Capek gue hari ini! Ya cape fisiklah cape hati lah! Beuh, lengkaplah sudah!” Gerutu Hani sambil menyambar tas selendangnya dan bergegas pulang. “Gue duluan ya!”

“yah, elo ga seru Han! Ya udah deh, bye!” Kata Sari sambil melambaikan tangannya.

Hani melangkah keluar ruangan dan menuju halte bis. Ia pun pulang naik bis dan sesampainya di rumah ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Kau tahu kenapa aku tidak mau pergi ke Korea? Sebuah kenangan pahit ada disana. Kenapa aku pindah ke Indonesia adalah karena aku ingin lupa akan kenangan itu. Dan sekarang kau menyuruhku pergi ke Korea? Sungguh, itu tugas paling jahat untukku!” Ucapnya sesaat sebelum ia terlelap tidur karena kelelahan.

ææææ

“Gi, lo yakin ini jalannya? Lo ga nyasar?” Tanya Indri yang sedang duduk di dalam moil bersama Ogi mencari alamat kantor penerbit tempat Hani bekerja.

“Iya, gue yakin ko! Tuh tempatnya!” tunjuk Ogi. “Gue selalu benar!” Katanya bangga.

Indri melongokkan kepalanya dari jendela mobil. “Wuidih, gede juga nih kantor! Coba kantor agensi kita segede gini, banyak tuh artisnya!” Puji Indri saat melihat gedung tinggi menjulang yang bertuliskan “Antique Publishing”.

“Kalo banyak artisnya, lo ga laku! Yuk turun!” Ajak Ogi yang sudah selesai memarkir mobil dan turun dari mobil. Indri ikut turun tanpa mempedulikan sindiran Ogi. Ia melangkah masuk kedalam gedung dan langsung menuju meja resepsionis.

“Selamat pagi mba, ada yang bisa di bantu?” Tanya resepsionis muda tampan.

“Oh iya mas, saya mau ketemu salah satu penerjemah. Namanyaaa siapa ya? Gi, namanya siapa?” Indri menyenggol Ogi yang sedang memeriksa BBMnya.

“Apa? Eh, itu loh mas kita ini tamunya Mr. Hendra.” Kata Ogi.

Si resepsionis mengangguk paham. “Oh yang artis itu ya? Oh iya sudah di tunggu sama Mr. Hendra di ruangannya. Ada di lantai 7 gedung ini paling ujung.” Jelasnya.

“Bisa anterin ga mas? Soalnya ntar kalo nyasar berabe!” Kata Ogi. Si resepsionis mengangguk. Ia memanggil salah satu temannya dan mengatakan sesuatu. Temannya itu mengangguk paham dan langsung mempersilahkan Indri dan Ogi untuk mengikutinya. “Ikut saja sama dia mbak, dia bakal nunjukin jalannya.”

Indri tersenyum. “Oke, makasih ya mas!” Katanya lalu berjalan mendahului Ogi.

“Makasih ya ganteng!” kata Ogi lalu melenggang mengekor Indri. Sang resepsionis tersenyum namun setelah itu ia bergidik. Ia lalu berbicara pada teman wanitanya yang sedang duduk. “Tu orang gendernya apaan ya? Serem amat!”. Temannya hanya tertawa.

Indri dan Ogi di antar sampai ke depan ruangan Mr. Hendra. Didalamnya Hani dan Mr. Hendra sudah menunggu kedatangan Indri dan Ogi. Setelah mengucapkan terimakasih, Indri dan Ogi mengetuk pintu ruangan.

“Silahkan masuk!” terdengar jawaban atas ketukan pintu dari dalam. Ogi membuka pintunya dan masuk. “Hello Mr. Hendraaaa~” Katanya lalu memeluk Mr. Hendra.

“Oy, Gi!” Katanya sambil membalas pelukan Ogi. “Makin subur aja kamu!”

Ogi tertawa. “Emang! Mana penerjemah yang bapa ajukan?”

Mr. Hendra menunjuk Hani yang langsung berdiri dari duduknya dan memberi salam. “Halo, perkenalkan saya Hani. Saya yang akan menjadi penerjemah anda.” Katanya lalu mengajak Indri dan Ogi bersalaman. Indri tersenyum dan membalas jabatan tangan Hani dengan lembut. “Saya Indriana Husein. Panggil aja Indri.”

Hani mengangguk. Lalu Mr. Hendra mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk. “Ini Hani, orang yang bakalan jadi penerjemah kalian nanti. Menurut info sih mau shooting di Korea ya? Main film kan?”

“Iya, kita mau main film Mr!” Jawab Ogi.

“Dan kita butuh penerjemah. Saya pikir Hani adalah penerjemah yang hebat.” Ujar Indri.

Mr. Hendra mengangguk. “Emang! Dia penerjemah yang…..” tiba-tiba Mr. Hendra merogoh saku jasnya dan mengeluarkan handphonenya. “Maaf, saya harus terima telepon dulu.Nanti saya kembali lagi.” Katanya serata bangkit dari duduknya dan keluar ruangan.

Sepeninggal Mr. Hendra, Ogi langsung banyak bertanya pada Hani.

“Lo emangnya beneran bisa bahasa Korea ya?”

Hani mengangguk sambil tersenyum. “Bisa.”

“Beneran? Coba kenalin diri lo pake bahasa Korea!” Tantang Ogi.

“Annyeonghaseyo, joneun Oh Hyojin imnida. Indonesiaseo wasemnida. Jeongmal bangabseubnida. Kamsahamnida.” Kata Hani dengan logat Korea yang benar-benar mirip.

(Terjemah: Halo, nama saya Oh Hyojin. Saya dari Indonesia. Sangat senang bertemu dengan anda. Terimakasih.)

“Waw! Hebat! Lo orang Korea ya? Ko nama lo Oh Hyojin?” Tanya Indri.

“Gue emang keturunan Korea. Oh Hyojin itu nama Korea gue. Jadi kalo gue di Korea, orang-orang yang baru kenal suka manggilnya Hyojin. Tapi gue suka memeperkenalkan diri sebagai Hani. Itu nama Indonesia gue. Biar ga ribet.” Jelas Hani.

Ogi mengangguk. “Keren! Ntar ajarin gue ya!”

Hani mengangguk santai. “Lo mau shooting film apa sih?” Hani penasaran dengan pekerjaan Indri yang disebut-sebut sebagai artis yang akan main film bersama orang Korea.

“Gue mau shooting film judulnya ‘SARANGHAE’. Tapi berhubung gue ga bisa bahasa Korea, bos lu itu nyaranin buat make salah satu penerjemahnya. Dan terpilihlah elo. Gue bersyukur lo yang jadi penerjemah gue. Soalnya kalo yang abal-abal kan berabe.” Kata Indri. Hani manggut-manggut paham. “Gitu ya. Besok kita berangkat? Siapa lawan mainnya?”

“Katanya sih member boy band. Namanya simple banget! Suho.” Kata Indri.

“Oh, Kim Jun Myeon.” Gumam Hani. “Hah? Jun Myeon?” Ulang Ogi. “Orang namanya cuman 4 karakter kok, Suho!”

“Itu nama panggungnya. Nama aslinya Kim Jun Myeon. Personel EXO-K.” Jelas Hani.

“Lo kenal?”

“Engga. Gue cuman tau dari temen gue aja. Namanya Kim Jun Myeon. Liat mukanya pun ga pernah.” Kata Hani.

Indri mengangguk. “Oh gitu. Okedeh kayaknya besok kita berangkat deh! Gue tunggu di Soetta aja ya? Tau kan?”

Hani mengangguk. “ Iya gue tahu.”

“Sip deh kalo gitu. Oh ya berhubung kita masih banyak keperluan, kayaknya kita bakalan pamit sekarang. Sampai jumpa besok ya..” Kata Ogi.

“Okedeh. Ada yang mau di titip sama bos? Soalnya kayaknya dia lama deh.” Kata Hani.

“Bilangin makasih aja dan gue terkesan banget sama kantor lo yang super duper gede.” Kata Indri seraya keluar dari ruangan.

“Oke, sampai jumpa.” Kata Hani sambil tersenyum.

Sepeninggal mereka Hani terduduk kembali di kursi sofa empuk itu lalu ia menghela napas. “Apakah aku harus kembali kesana? Apakah itu harus? Phew.” Hani menyenderkan punggungnya ke senderan kursi dan memejamkan matanya sesaat.

 ææææ

Hari ini Jakarta berembun. Tumben sekali Jakarta menghasilkan tetesan-tetesan embun pagi yang menyejukkan. Burung-burung mulai keluar dari sangkarnya untuk mencari makanan sambil berkicau menyapa penghuni dunia yang masih meringkuk di balik selimut. Sang surya menampakkan dirinya yang memancarkan cahaya kehidupan bagi siapapun di muka bumi ini. Hari sudah pagi.

Didalam sebuah apartemen sederhana, seseorang masih terbalu oleh selimut tebal yang menutupi semua tubuhnya. Gadis muda itu masih tidur. Ini baru jam 06.30 a.m dalam kamusnya jam bangun itu adalah jam 8.00 a.m. Namun sepertinya ia tidak bisa menuruti apa kata kamus kehidupannya itu, ia harus bangun sekarang juga karena..

KRIIIIING!!!

Jam weker di meja kecil samping tempat tidurnya berbunyi nyaring seakan menjerit kalau hari sudah pagi dan manusia yang ada didalam selimut itu harus segera bangun dan mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan.

Hani mengerang pelan. Ia menggeliat dari dalam selimutnya dan meraba-raba meja kecilnya untuk mematikan benda kecil nyaring itu tanpa membuka matanya sedikitpun. Setelah berhasil mematikan alarm pagi, ia kembali tidur namun tiba-tiba

DRRRRT!

Handphonenya bergetar tepat di samping telinganya. Tindakan itu membuat matanya langsung terbuka lebar dan ia terlompat dari tidurnya. Ia mengerang. “Argh! Ada apa dengan pagi ini? Tidakkah kau lihat ini masih sangat pagi bagiku hah?!” Gerutunya.

Ia mengambil handphone nya dan melihat siapa yang menelepon. Melihat tulisan di layar ponselnya ia mendengus kesal. “Maumu apa sih orang tua?!” Ia lalu menekan tombol hijau.

“Halo?” jawabnya dengan nada suara yang malas-malasan.

“Hani?! Kau baru bangun?! Astaga! Kenapa kau hobi sekali bangun siang?!” Pekik seseorang dari ujung sana.

Hani mengerjap. “Apa? Bos, ini masih sangat pagi!”

“Tapi kau harus ke bandara sekarang!! Cepat! Waktumu hanya satu jam! Pesawat akan berangkat satu setengah jam lagi!” Kata si Bos lagi. Mendengar itu Hani langsung terkejut dan segera turun dari tempat tidurnya. “Apa?! Satu jam?! Aku belum mandi!” Pekik Hani panik. “Kalau begitu aku mandi dulu! Jangan menelepon lagi bos! Aku akan siap dalam 30 menit!” Ujarnya lalu menutup telepon dan pergi ke kamar mandi.

“Aaaaaa~ kenapa aku bisa lupa?!!” Pekiknya dari dalam kamar mandi.

ææææ

“Hani! Hani!” Ogi melambaikan tangannya. Yang dipanggil segera menghampiri Ogi, Indri dan Mr. Hendra dengan tergesa-gesa.

“Capek sekali!” Ujarnya sambil terengah-engah. “Pesawatnya belum berangkat kan?”

“Pasawatnya delay nih!” Timpal Indri. “Lo dari mana aja?”

“Maaf ya, tadi gue kesiangan! Bos, katanya mau berangkat sebentar lagi! Ah!” Gerutu Hani pada bosnya.

“Kalau saya tidak bangunkan kamu, kamu ga akan ada disini sekarang! Sudah tunggu saja, sebentar lagi kalian berangkat!” Kata si Bos. Hani pun mengerucutkan bibirnya.

“Duh, aku belum sarapan bos! Bisa ga aku beli makanan dulu sebentar aja!” Pinta Hani. Si bos memutar bola matanya, pertanda kesal. “Ih kamu nih ya bukannya sarapan dulu. Nih ga usah beli, saya bawa roti. Sarapan disini aja. Nanti kalo kamu pergi lama lagi.” Kata si bos sambil menyodorkan dua bungkus roti kepada Hani.

“Ah, akhirnya. Makasih bos, sering-sering.” Kata Hani sambil membuka bungkus roti dan memakan isinya.

“Perhatian-perhatian. Kepada penumpang tujuan Seoul, Korea Selatan harap memasuki pesawat karena pesawat akan segera berangkat. Terimakasih.” Terdengar suara dari microfon yang menyuruh para penumpang tujuan Seoul segera naik ke pesawat.

“Hati-hati di jalan ya.” Pesan si bos pada Hani, Indri, dan Ogi. “Crew kalian sudah disana?”

Ogi mengangguk. “mereka udah pergi lusa Mr. Jadi kita nyusul. Sip deh, pergi dulu ya Mr. Jaga diri!”

Mr. Hendra mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Hani, jangan pecicilan ya! Awas!”

Hani langsung menghormat dan menyalami Mr. Hendra. “Pergi dulu ya bos! Jangan lupa saya pulang kerjaan harus udah beres! Bye bos! Doakan ya!”

Si bos tersenyum dan melambaikan tangannya. “Sampai jumpa lagi.”

Setelah melambai pada bos, Hani, Indri dan Ogi langsung masuk ke pesawat dan duduk di kursi yang telah di tentukan. Ogi dan Indri duduk bersama sedangkan Hani di belakangnya. Akhirnya, 10 menit kemudian pesawat tujuan Seoul, Korea Selatan take off dan terbang mulus di udara.

Selama di pesawat, Hani hanya diam. Ia memandang keluar jendela. Ia bahkan lebih sering menghela napas.

Akankah aku bertemu dengannya lagi? Akankah dia masih mengenaliku? Kurasa semuanya telah berubah. Tapi belum tentu. Mungkin dia berubah. Atau aku berubah. Entahlah. Semuanya terlalu membingungkan.

Ujarnya dalam hati. Matanya menerawang jauh ke hamparan awan yang terlihat seperti kapas. Putih bersih dan dingin. Ingin rasanya Hani melompat menembus awan-awan itu. Namun rasanya tidak mungkin.

“ehm!” suara dehaman seseorang di sampingnya memutus jalan pikiran Hani yang sedang bertamasya di hamparan awan-awan itu. Hani menoleh dengan ekspresi datar.

“Kau mau ke Korea?” Tanya laki-laki disampingnya menggunakan bahasa Inggris.

Hani mengerjap sesaat. “Oh, iya. Kau juga?” Hani balik bertanya.

Laki-laki itu mengangguk. “Aku orang Korea. Kau sepertinya bukan.”

“Aku sebenarnya keturunan Korea.” Jawab Hani sambil tersenyum.

“Oh pantas saja wajahmu mirip dengan orang Korea. Putih dan kau cantik.” Puji laki-laki itu.

“Kamsahamnida.” Jawab Hani sambil membungkuk pelan.

“Hei, kau bisa bahasaku?” Tanya laki-laki tampan itu terkejut mendengar Hani mengucapkan terimakasih dalam bahasa Korea.

“Bahasa Koreaku lancar.” Jawab Hani. “Jadi kurasa kau bisa menggunakan bahasa Koreamu sekarang.”

Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk. Lalu ia menjulurkan tangannya dan mengajak Hani bersalaman. “Namaku Kim Jong In. Kau bisa memanggilku Kai.”

Hani membalas jabatan tangan Kai dengan hangat. “Namaku Oh Hyojin. Tapi panggil saja Hani. Senang bertemu denganmu. Sedang apa kau di Indonesia?”

“Aku hanya refreshing saja. Bosan di Korea terus.” Jawab Kai. Hani mengangguk paham. “Kau sendiri mau apa ke Korea?”

“Oh, aku penerjemah yang akan membantu shooting film di Korea. Pemeran utama wanitanya orang Indonesia dan aku rasa jika tanpa penerjemah mereka akan sulit berkomunikasi.” Jelas Hani. Kai manggut-manggut paham. “Jadi kau seorang penerjemah. Itu pekerjaan yang bagus.”

“Terimakasih. Kau sendiri? Kau bekerja? Kuliah?” Tanya Hani.

“Aku anggota salah satu boy band.” Jawab Kai singkat.

Hani melebarkan matanya. “Benarkah?”

“EXO-K. Nama boy band ku.” Jawab Kai.

“EXO-K? Hey, artis di depanku ini akan menjadi lawan main salah satu anggota EXO-K di dalam film itu!” Hani memekik pelan.

“Benarkah? Biar kutebak. Pasti Suho.” Kata Kai.

“Kau benar! Tapi, kenapa kalian terpisah? Apakah sedang ada masalah?” Hani penasaran. Kai menggeleng pelan. “Tidak. Tidak ada. Aku hanya sedang merasa bosan.  Jadi aku melarikan diri ke Indonesia.”

Hani mengangguk pelan. “Begitu ya?”

Kai menguap. “Ngantuk sekali. Kurasa aku harus tidur. Senang berkenalan denganmu. Sebenarnya aku masih ingin mengobrol namun sepertinya mataku tidak bisa di toleransi. Nanti bangunkan aku ya kalau pesawat sudah mendarat.” Kata Kai.

Hani mengangguk. “Baiklah.” Kai memakai kupluk jaketnya dan memakai kacamata hitamnya lalu terlelap tidur. Hani memandangi wajah Kai dengan seksama.

“Orang ini tampan juga.” Gumamnya pelan. Namun setelah itu ia membungkam mulutnya dan menggelengkan kepalanya. “Tidak tidak! Tidak boleh! Kau tidak boleh jatuh cinta dengan orang Korea lagi! Tidak untuk kedua kalinya Hani!” Ia menepuk pipinya dan merubah posisinya menjadi menghadap ke jendela lagi dan memalingkan wajahnya dari Kai yang sedang terlelap tidur dibalik jaket cokelat dan kacamata hitam.

ææææ

“Kai! Kai!” Hani mengguncang tubuh Kai pelan. “Sudah sampai di bandara!” Bisiknya.

Kai menggerakkan badannya dan membuka kacamatanya. “Sudah sampai? Ayo turun.” Katanya.

Hani mengangguk dan mengikuti langkah Kai berserta penumpang lainnya keluar pesawat.

“Kau mau kemana sekarang Hani?” Tanya Kai.

Hani menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku hanya ikut artisnya saja. Kau sendiri?”

“Kurasa aku harus pulang. Boleh kuminta nomor ponselmu? Siapa tahu Suho membutuhkanmu nanti sehingga aku bisa memberikan nomormu padanya.” Kata Kai.

“Oh, ini.” Hani menyebutkan nomor ponselnya. “Kalau begitu, sampai jumpa Kai!” Hani melambai sambil tersenyum. Kai mengangkat sebelah tangannya. “Sampai jumpa!”

Hani dan Kai berpisah di landasan. Hani langsung menghampiri Ogi dan Indri yang baru saja sampai di peron.

“Kita mau kemana sekarang?” Tanya Hani.

“Kata produser kita harus ke Apartemen di daerah Seoul kota. Naik apa?” Tanya Ogi.

Hani mengangguk. “Ikut saja denganku. Aku hafal seluruh Korea.”

Indri dan Ogi mengangguk paham. Akhirnya mereka mengikuti langkah Hani keluar bandara dan mencari bus untuk ke Seoul.

Aku disini. Aku sampai. Aku benar-benar di Korea lagi. Oh, Tuhan. Ujar Hani dalam hatinya ketika ia menginjakkan kakinya di aspal negeri Ginseng ini. Negeri yang menyimpan banyak kenangan manis dan kenangan terburuknya.

ææææ

Hani, Indri dan Ogi sudah sampai di hotel yang dituju. Sekarang mereka sedang berunding untuk proses shooting film tersebut. Mereka hanya tinggal bertemu dengan artis korea yang menjadi pemeran utama pria. Malam ini mereka baru selesai berunding dan sudah mendapat keputusan bahwa mereka akan menguhubungi artisnya malam ini dan meminta bertemu besok atau lusa.

Indri dan Ogi akan menginap bersama crew yang lainnya. Namun Hani tidak mau menginap bersama mereka karena Hani akan pulang ke rumah ayahnya.

“Apakah kau akan menginap disini Nona Hani?” Tanya produser asal Indonesia itu.

Hani menggeleng. “Tidak perlu, aku akan pulang kerumah ayahku saja. Terimakasih.”

“Ayah lo ada disini Han?” Tanya Indri.

Hani mengangguk sambil tersenyum. “Iya, dia kan kerja disini.”

“Oh begitu, apa perlu ku antar?” Tawar salah satu cameraman.

“Tidak perlu, terimakasih banyak. Aku hafal seluruh Korea.” Jawab Hani singkat. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat beristirahat.”

“Hati-hati ya Han!” Pesan Indri.

“Oh iya, sebelum aku lupa. Indri, mulai sekarang tolong biasakan berbahasa formal pada semua orang karena terkadang bisa di anggap tidak sopan.” Jelas Hani.

“Oh gitu ya? Okedeh!” Jawab Indri sambil mengacungkan jempolnya.

“Aku pulang dulu, sampaikan salamku pada Ogi.” Kata Hani lalu membungkuk dan berjalan keluar pintu kamar hotel.

Hani berjalan menyusuri lorong hotel sendirian. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon ayahnya.

“Halo? Ayah? Ini aku! Iya! Ayah, aku akan pulang kerumah. Bagaimana….?  Oh iya baiklah. Kuncinya di bawah keset ya? Oke.” Setelah berbicara dengan ayahnya, Hani keluar hotel dan berjalan menuju halte bus.

Jalanan di Korea masih ramai malam itu. Kota itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk terlelap. Mungkin lama-lama kota ini akan seperti New York, kota yang tidak pernah tidur. Hani berjalan menyusuri trotoar dan akhirnya duduk di halte bus.

Ia melihat sekeliling halte bus itu. Tidak ada yang berubah. Pikirnya. Masih sama seperti yang dulu. Halte ini adalah halte yang biasa Hani gunakan untuk pulang dari sekolah bersama seseorang.

Seorang laki-laki yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Seseorang yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Namun sayangnya kisah itu kini telah berlalu. Hani pindah ke Indonesia setelah lulus SMA dan kuliah di Indonesia. Awalnya ayah Hani tidak mengizinkan Hani untuk pulang ke Indonesia dikarenakan ayahnya tinggal sendirian di Korea. Namun Hani bersikeras untuk pulang ke Indonesia. Hani harus mengeluarkan beribu alasan untuk meluluhkan hati ayahnya itu.

Satu alasan yang pasti, Hani ingin melupakan laki-laki itu. Hani sadar, walaupun akan sulit melupakan seseorang yang telah masuk kedalam hidupnya namun ia harus. Kalau ia mau hidupnya terus berjalan. Dan setelah ia pindah ke Indonesia, rasa sakitnya sedikit terobati. Beruntung sekali hidupnya di Indonesia. Ia lulus kuliah dengan kemampuan yang luar biasa dan diterima bekerja disalah satu perusahaan penerbit di Indonesia.

Namun sekarang, ia kembali menginjakkan kakinya di Korea. Tempat dimana masa lalunya  terjadi. Salah satunya di halte ini. Halte yang menyimpan kenangan manisnya dengan laki-laki itu.

“Halte ini, aku merindukan halte ini dan orang itu..” Gumamnya pelan lebih pada diri sendiri.

Hani mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba matanya berhenti pada sebuah tulisan kecil yang ditulis oleh spidol. Hani memandangi tulisan itu dan tersenyum kecil.

“Tulisan itu masih ada.” Katanya lagi. Ia mengelus tulisan itu dan pikirannya kembali melayang ke masa lalu.

TID TID!

Suara klaskon bus memutus pikirannya yang sedang menelusuri jejak masa lalunya di tempat itu. Hani mengerjapkan matanya dan menghela napas pelan. Ketika bus berhenti Hani bangkit dari duduknya dan masuk kedalam bus. Sebelum Hani masuk kedalam bus itu, ia bergumam.

“Kisahku telah berakhir, tapi mungkin tulisan itu akan tetap ada. Mungkin.”

Setelah Hani duduk tenang, bus akhirnya melaju meninggalkan halte hijau yang terang. Sepeninggal bus itu, seorang laki-laki tampan duduk di tempat Hani duduk sebelumnya. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan tulisan yang tadi Hani lihat. Laki-laki itu menyentuh tulisan itu sambil tersenyum.

“Tulisan tanganku waktu SMA. Masih terukir disini.” Katanya. “Melihat ini, aku jadi ingat pada gadis manis itu. Gadis bermata cokelat keturunan Indonesia. Aku merindukannya.” Katanya. Laki-laki itu bergeser dan duduk didekat tulisan itu.

“Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Apakah dia masih mengingatku?” Gumamnya lagi. Ia menghela napas panjang. Ia lalu tersenyum samar. Ia teringat masa-masa ketika bersama gadis bermata cokelat itu. Ketika mereka duduk bersama dikursi panjang ini, berpegangan tangan erat seakan tidak mau kehilangan satu sama lain, saling melempar tawa dan mengucap kata cinta satu sama lain.

Tiba-tiba..

“Hoi!” Laki-laki itu terkejut mendengar suara perempuan yang mengagetkannya dari samping. Ia mengerjap tapi tetap tersenyum.

“Hei! Sudah selesai?” tanya laki-laki itu mendongkak menatap wanita cantik berambut panjang yang berdiri dihadapannya.

“Tunggu dulu sebentar!” Perempuan itu duduk di samping laki-laki itu. Ia merangkul tangannya dan menyenderkan kepalanya di bahu si laki-laki. “Aku ingin menghabiskan malam bersamamu..” Katanya manja.

Laki-laki itu terkekeh pelan. “Kau mau menghabiskan malam ini bersamaku? Di halte?”

Perempuan itu mengangguk. “Tidak apa-apa. Asalkan denganmu..”

Laki-laki itu tertawa pelan dan mengelus rambut gadis yang sedang bersender padanya itu. Tak berapa lama kemudian, bus datang dan berhenti didepan halte.

“Ayo kita pulang. Aku tidak mau nanti disalahkan kalau kau pulang kemalaman.” Ajak laki-laki itu pada wanitanya.

Dengan sedikit malas-malasan, gadis itu menurut. “Yah, padahal aku masih ingin bersamamu malam ini..”

Laki-laki itu tersenyum dan menggenggam tangan gadisnya lalu mengajaknya naik ke dalam bus. “Kau bisa meneruskannya di dalam bus..” Godanya.

Gadis itu terkikik pelan lalu menurut dan naik kedalam bus. Setelah mereka duduk nyaman, bus melaju meninggalkan halte.

ææææ

Hani melangkah masuk ke dalam pagar rumah yang terang. Sekilas Hani memperhatikan keadaan rumah itu. Terang benderang. Hani membungkuk untuk memeriksa di bawah keset didepan pintu. Tidak ada kunci rumah yang ayahnya sebutkan itu. Hani pikir didalam rumah ada orang karena rumah terlihat terang benderang.

Ting tong!

Hani menekan bel rumah ayahnya yang besar dihiasi lampu-lampu yang terang sehingga membuat rumah itu kelihatan sangat mewah.

Ting tong!

Hani menekan sekali lagi bel pintu itu. Beberapa detik setelah Hani menekan bel, seseorang membukakan pintu.

“Bibi!” Pekik Hani senang.

“Ah, Hani! Astaga Hani kau sudah besar sekarang! Ayo masuk!” Ajak bibi Hyun kedalam rumah.

“Mana ayah?” Tanya Hani sambil menarik kopernya.

“Ayahmu belum pulang. Sepertinya nanti malam. Bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah bekerja?” Tanya bibi Hyun.

Hani tersenyum. “Aku baik-baik saja. Aku sudah bekerja di salah satu perusahaan penerbitan. Aku jadi seorang penerjemah. Bagaimana kabar bibi dan ayah? Aku sangat merindukan kalian!” Pekik Hani bersemangat.

“Bibi baik-baik saja dan ayahmu sama seperti dulu, gila kerja. Tapi sekarang dia sudah bisa mengatur semuanya. Bagaimana kabar ibumu? Aku juga merindukan kalian semua. Kapan ibumu akan ke Korea?”

Hani menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Kabar ibu sangat baik karena aku menjaganya dengan sangat baik.” Kata Hani.

Bibi Hyun tersenyum. “Baiklah. Apa kau sudah makan? Kau mau makan?”

Hani celingukan. “Sepertinya aku akan langsung istirahat saja bibi, karena besok sepertinya aku harus mulai bekerja.” Kata Hani.

“Bekerja?” Bibi Hyun tidak mengerti.

“Aku kesini karena ada proyek menjadi penerjemah artis Indonesia yang akan bermain film dengan artis Korea.” Jelas Hani.

Bibi Hyun mengangguk paham. “Begitu ya.. Baiklah, naiklah ke kamarmu, dan selamat beristirahat.” Kata Bibi Hyun.

“Terimakasih bibi, selamat malam..” Kata Hani seraya naik ke lantai dua rumah itu dan masuk kedalam kamarnya.

Hani menutup pintu kamarnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. “Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti saat aku SMA.” Gumamnya sambil tersenyum kecil. Ia meletakkan kopernya dan duduk di tepi ranjangnya. Ia mengelus ranjang itu pelan. “Semuanya terawat dengan baik. Terimakasih bibi Hyun, kau telah merawat kamarku dengan sangat baik.”

Ia lalu bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terhubung dengan balkon kecil yang menghadap langsung ke Kota Seoul yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip malam itu. Indah sekali. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sambil memejamkan matanya. Jauh didalam hatinya, ia mengaku kalau ia merindukan negara ini. Terlalu banyak yang ia rindukan sehingga ia tidak tahu harus berkata apa ketika ia sampai di negeri kelahirannya ini.

“Seoul memang indah. Selalu indah..” Gumamnya.

Ia membalikkan badannya dan melangkah menuju meja belajarnya. Masih ada foto-fotonya semasa SMA terpampang dalam pigura. Ia tersenyum geli saat melihat dirinya semasa SMA dulu. Namun senyumnya tergulung kembali ketika matanya menangkap sebuah foto dimana ia sedang berpose di taman dengan seorang laki-laki tampan yang juga sedang tersenyum merangkulnya.

Dalam foto itu, ia dan laki-laki itu terlihat sangat bahagia. Namun pada kenyataannya sekarang foto itu membuat dada sebelah kiri Hani merasa sesak dan sakit. Ia tak kuasa menahan rasa sakit itu sehingga tanpa sadar ia menaruh kembali foto itu dengan satu hentakan keras dan dengan posisi yang terbalik.

Hani mendengus kesal sambil mengacak rambutnya sendiri. “Haaaaa~ kenapa harus seperti ini? Ayolah Hani! Kau kesini mau bekerja! Jangan campurkan urusan masa lalu dengan yang sekarang!” Katanya seolah memberi sugesti pada diri sendiri.

Ia melirik jam tangannya. Ini sudah menunjukkan pukul 09:00. Ia kembali menghela napas. “Fokuslah Oh Hyojin!!”

Setelah berhasil mengatur napasnya, ia membuka kopernya dan mengeluarkan baju. Ia lalu berganti baju dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.

Ia memasang alarm di jam weker kecilnya. Setelah berdoa, ia menguap panjang dan tak lama kemudian ia terlelap tidur.

ææææ

SREEEEKK!!

Cahaya matahari menembus jendela kamar Hani. Cahaya menyilaukan itu seolah cahaya surga yang membuat sang putri yang sedang tertidur pulas itu membuka matanya. Perlahan tapi pasti, Hani  membuka matanya. Ia mengerang pelan dan berusaha bangkit dari posisinya.

“Bibi?” Tanyanya pada bibi Hyun yang ternyata membuka jendela kamar Hani. Mata Hani menyipit karena belum bisa menyesuaikan dengan cahaya yang ada.

“Selamat pagi Hani. Bangunlah, matahari sudah tinggi.” Ujar bibi Hyun.

Hani menguap panjang. “Aku masih mengantuk. Lagipula alarmku belum berbunyi..” Kata Hani sambil hendak tidur lagi.

“Alarm mu sudah berbunyi nyaring dari jam 6. Aku sengaja mematikannya karena itu berisik sekali! Lagipula kau tidak kunjung bangun.” Jelas bibi Hyun.

“Benarkah?” Hani hanya melongo. “Jam berapa ini?”

“Jam 8. Ayo mandi! Katanya kau mau bekerja.”

Hani terdiam sejenak. Ia masih harus mengumpulkan nyawanya karena sepertinya nyawanya belum pulih sempurna dari alam mimpi. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengecek apakah ada telepon atau pesan masuk.

Ternyata ada sebuah pesan masuk dari Indri yang memberitahukan kalau hari ini mereka sepakat akan bertemu dengan artis Korea itu. Mereka akan bertemu di Jims café jam 09.00.

Membaca pesan masuk itu, Hani mengerutkan keningnya. “Jam 9? Bibi bilang ini jam 8? Astaga aku bisa telat!” pekiknya pada diri sendiri. Ia langsung melompat turun dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi.

Bibi Hyun yang sedang membereskan koper Hani keheranan melihat kelakukan Hani yang tak kunjung berubah dari masa SMA. Bibi Hyun berdecak pelan sambil menggelengkan kepala tanpa berkomentar apa-apa. Hani langsung mandi dan bersiap untuk pergi ke Jims café menemui Indri dan para crewnya.

Selesai mandi, ia langsung berias dan memakai baju yang nyaman dipakai karena ia pikir penerjemah tidak perlu memakai pakaian yang terlalu formal. Toh, ini hanya projek film dan tidak akan bertemu dengan orang super penting petinggi negara. Jadi ia menggunakan baju kaos dan jeans hitam lalu menyisir rambutnya dan menghiasnya dengan jepitan rambut pita yang membuatnya terlihat seperti anak SMA.

Setelah mematut diri didepan cermin, ia turun untuk mengambil sarapan. Di meja makan ia bertemu dengan ayahnya yang sudah hampir selesai sarapan. Mendengar suara derap sepatu dari arah tangga, ayahnya menoleh dan mendapati Hani tengah menuruni tangga dengan setengah berlari sambil membawa tas selendang kesayangannya.

“Hani! My Honeeeey~” pekik Mr. Oh HyunJo girang.

“Ayaaaah~ selamat pagi..” Sapa Hani sambil memeluk ayahnya. “Aku merindukan ayah!”

Ayahnya tersenyum. “Ayah juga. Sepertinya kau buru-buru. Sampai jam berapa kemarin?”

“Aku sampai jam setengah 9 malam dan ayah belum ada dirumah. Aku sudah memeriksa keset tapi tidak ada kunci, karena kupikir dirumah ada orang karena terang benderang dan ternyata ada bibi didalam.” Jelas Hani sambil mengoleskan selai anggur dalam rotinya dan memasukkannya kedalam mulut.

“Ayah maaf sekali aku tidak bisa berbincang lebih lama karena aku harus pergi sekarang.” Katanya seraya menegak segelas susu yang telah disediakan.

“Pergi kemana? Ayah antar?” Tawar ayahnya.

“Aku harus menemui orang penting, tidak usah ayah aku buru-buru karena sepertinya ayah sedang santai. Kalau begitu aku duluan, sampai nanti.” Hani pamit sambil mengambil selembar roti dan kotak susu kecil.

Melihat itu, ayah Hani hanya menggelengkan kepalanya. “Kau seperti anak SMA saja. Kakak, apakah supnya masih ada?” Tanya ayahnya pada bibi Hyun yang tiba-tiba datang membawakan semangkuk sup hangat.

“mana Hani?” Tanya bibi Hyun. “Dia baru saja pergi.” Kata Mr. Oh. Bibi Hyun menghela napas. “Padahal aku mau memberikan sup ini padanya.”

“Buatku saja, sini!” Mr. Oh langsung mengambil mangkuk sup dalam nampan itu dan menyeruputnya. Melihat itu, bibi Hyun tidak berkomentar tapi mengambil tindakan menggetok kepala Mr. Oh dengan sendok.

“Kau ini sarapan atau makan siang?! Banyak sekali!” Gerutu bibi Hyun lalu melangkah kembali ke dapur tanpa menghiraukan Mr. Oh yang meringis kesakitan.

 ææææ

“Hyung, kau sudah pulang!” Pekik Sehun ketika melihat Kai ada di dalam dorm.

“Aku sudah pulang dari semalam. Kau tidak mendengarku masuk?” Tanya Kai yang sedang menuangkan segelas susu.

“Benarkah? Ah, apa aku tidur pulas sekali?” Tanya Sehun pada dirinya sendiri.

Kai meneguk susunya lalu berkata. “Sudahlah, mana Suho hyung?” Tanya Kai pada Sehun yang sekarang ikut-ikutan menuangkan susu kedalam dua gelas.

“Dia sedang bersiap pergi untuk menemui produser asal Indonesia.” Kata Sehun.

Mendengar itu, Kai langsung teringat akan Hani. Gadis yang ia temui dipesawat saat akan pulang ke Korea. “Ah, itu. Baiklah.” Kai meletakkan gelasnya di meja. Sebelum ia pergi, ia menegur Sehun karena ia menuangkan susu kedalam dua gelas.

“Banyak sekali konsumsi susumu sampai dua gelas!” Kata Kai.

“Apa? Oh ini. Ini bukan untukku!” Kata Sehun.

“Lalu?”

“Yang satu untukku dan satu lagi untuk Luhan Hyung.” Kata Sehun sambil tersenyum seraya keluar dapur dengan dua gelas susu ditangannya. Kai menggelengkan kepala melihat adiknya yang begitu dekat dengan Luhan. Ia mengekor dibelakang Sehun untuk bertemu dengan Suho.

Kai melirik kedalam kamar Suho. Terlihat Suho yang sedang merapikan penampilannya. Kai masuk lalu berdeham.

“ehm!”

Suho menoleh dan tersenyum akan kedatangan Kai. “Hello, Kai.”

“Halo juga hyung. Kau mau kemana?” Tanya Kai berbasa-basi.

“Aku akan menemui produser Indonesia.” Kata Suho yang sedikit dingin pada Kai.

“Oh begitu..” Jawab Kai pendek.

“Ada apa? Kemana saja kau? Pergi tidak memberitahuku..” Kata Suho sambil membalikkan badannya ke arah Kai yang berdiri didekat pintu.

“Aku ke Indonesia. Aku pergi karena aku bosan..” Jawab Kai yang mulai mengeluarkan aura dinginnya.

Suho yang merasakan aura dingin Kai mulai keluar, ia pun menanggapi hanya dengan anggukan tanpa berkomentar lalu pergi keluar kamar. Diperlakukan seperti itu, Kai hanya terdiam. Sepeninggal Suho, Kai memandang ke arah cermin dengan ekspresi datar. Seperti biasanya. Ia menghela napas kemudian berbalik dan keluar dari kamar Suho.

ææææ

Hani berjalan menyusuri trotoar untuk sampai ke Jims café. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.47. Itu berarti hanya tinggal 13 menit saja waktunya untuk sampai ke Jims café di seberang ujung jalan.

Ia berhanti di dekat tiang lampu lalu lintas dan diam menunggu lampu berubah merah agar ia bisa menyebrang. Ia memandang ke seberang jalan sana. Tiba-tiba Hani melihat seorang laki-laki yang hendak menyebrang juga dari seberang jalan sana dan Hani kenal siapa laki-laki itu. Itu laki-laki yang ada didalam masa lalunya.

Hani terkejut dan seketika tubuhnya berubah tegang. Tangannya bertautan untuk mengatur debar jantungnya yang tiba-tiba tidak karuan. Hatinya bertanya-tanya kenapa ia harus melihat laki-laki itu lagi pada saat yang seperti ini. Ia menghela napas berkali-kali. Ia lalu merogoh tas selendangnya dan mengeluarkan topi hitam lalu memakainya. Tak lama kemudian, lampu berubah merah dan semua orang menyebrang.

Hani ikut menyebrang dengan sedikit bersembunyi diantara para pejalan kaki yang lainnya. Baru setengah jalan menyebrang, Hani menubruk seseorang.

“aw!” Hani terjatuh dan memekik pelan.

Laki-laki yang menubruk Hani membantu Hani berdiri. “Tidak apa-apa? Maaf.” Ujarnya.

Hani mengintip pakaian yang laki-laki itu pakai lewat topinya. Menyadari siapa yang berada didepannya sekarang, Hani langsung menjauhkan dirinya sambil membungkuk dan menunduk.

“Maaf telah menubrukmu. Maafkan aku..” Katanya seraya pergi. Laki-laki itu keheranan melihat gadis bertopi hitam yang baru saja bertubrukan dengannya.

“Aneh..” gumamnya lalu berjalan pergi.

Setelah sampai di seberang jalan, Hani membuka topinya perlahan dan melihat ke seberang jalan yang lainnya. Ia menarik napas lega.

“Untunglah!” Ujarnya sambil mengelus dadanya. Namun saat ia hendak memasukkan topinya ke dalam tas, ia tersadar akan sesuatu. Sebuah gantungan ponsel mengait pada tas selendangnya.

Hani mengambil gantungan ponsel itu dan menelitinya. “Punya siapa ini?”

Hani memperhatikan gantungan ponsel itu dengan seksama. Ia lalu terkejut ketika ia melihat sebuah ukiran huruf dibelakang gantungan itu.

-HK-

Hani terbelalak dan menutup mulutnya karena rasa tidak percayanya atas apa yang ia lihat sekarang.

“Gantungan ini? Gantungan miliknya?! Oh Tidak!! Kau benar-benar mencari bahaya Hani!!” Pekiknya panik.

Hani kenal dengan gantungan ponsel itu. Gantungan ponsel yang turut serta dalam kisahnya di masa lalu. Gantungan itu milik laki-laki yang bertubrukan dengannya tadi. Dan laki-laki itu adalah………

~ TO BE CONTINUED ~

Daaaaan akhirnya TO BE CONTINUED!! Haha, gimana nih awalan ceritanya? Penasaran ga? Maaf yaa kalo jelek, aneh, freak, dan yaaaa begitu deh! Ini bikinnya di sela-sela kebetean waktu belajar -_- hahaha 🙂 Oya, maaf juga kalo ada typo, itu kecelakaan dalam proses pengetikkan.. 

Okedeh, semoga suka daaaan yang pasti saya minta KOMEN, KRITIK, SARAN, apapun unek-unek readers tentang part. 1 ini, hehe~

Kalo gitu, selamat komen dan sampai jumpa di balasan dan postingan berikutnyaaaa~

Salam,

CJH.

22 responses to “Saranghae [1]

  1. Pingback: Saranghae [8] – END. | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s