Seasons of The Lucifer [CHAPTER 19]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic, Violence, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Credit Poster: @dEanKeya

Previous chapter: here

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

 ~*~*~*~

Tut… tut… tut…

Minhyun menatap ponselnya heran, ia kembali menelusuri daftar kontak dan menekan tombol merah. Tak ada nada sambung yang mengalun dari sana, beberapa saat kemudian terdengar suara operator yang menyatakan bahwa nomor tersebut tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

Ia berdecak kesal lalu menyimpan ponselnya kembali seraya bertanya tanya dalam hati kenapa panggilanya di tolak. Ia terduduk di lorong rumah sakit tepat di depan kamar Jonghyun, menatap ujung sepatunya yang mengentak hentak gusar.

Tiba tiba sebuah Minuman kaleng terayun di depan wajahnya, Minhyun menengadah dan mendapati Minho berdiri di hadapanya dengan ekspresi datar.

“gomawo” ucapnya pelan setelah meyambut minuman kaleng dan bersamaan dengan itu Minho duduk di sebelahnya.

Setelah meneguk setengah, Minhyun meletakan minuman itu di bangku kosong sebelahnya lalu menunduk lagi. ia masih merasa janggal karena Key menolak panggilanya, seperti ada yang mencelos dalam dirinya.

Tatapan yang tidak fokus hanya dapat menangkap siluet langkah kaki yang lewat di hadapanya, mendadak semua hening seakan tak ada yang menembus indra pendengaranya. Tapi sebuah tepukan dibahu memupuskan lamunanya, Minhyun terkesiap pelan lalu menatap Minho yang memandangnya heran.

“Gwaenchana?” tanya Minho dengan suara rendah, Minhyun mengangguk kecil.

“aku memanggilmu berulang kali”

“benarkah?”

“tidak…”

Minhyun mendengus kecil lalu kembali mendunduk dengan posisi yang sama.

“kau tidak mendengar apa yang kukatakan sebelumnya?”

Minhyun kembali menatap si pemilik suar bariton yang kini menatap ke arah lain “apa?”

Ia tersentak pelan saat Minho menatapnya dengan tiba tiba, tatapan itu disisipi sorot kecewa yang tertutupi ekspresi datar khas seorang Choi Minho. Karisma namja itu selalu kuat menjeratnya.

“aku ingin membawamu ke tempat yang jauh dimana tak ada orang yang mengenal kita suatu saat nanti”

Minhyun mencengkram ujung jaketnya, berusaha menyalurkan rasa gamang. Segelintir rasa gelisah menyusup disela debaran jantungnya karena mata yang menatapnya tiba tiba berubah penuh keyakinan.

“aku ingin kau menjadi Cho Minhye untuk pertama kalinya di hadapanku dan hanya untuku”

Minhyun berhasil lari dari tatapan Minho, terlalu sukar untuk mencerna kalimat itu atau separuh jiwanya yang menolak mengartikan maksud kalimat itu. semestinya ia  terfokus kepada Minho namun pusat pikiranya terbawa seorang Kim kibum.

Minhyun sadar selama beberapa hari terakhir ia mengabaikan semua tentang Key, hari harinya di penuhi dengan membantu Minho meski namja itu tak terlalu membutuhkan bantuanya dan sibuk belajar untuk mempersiapkan ujian akhir.

Dia tidak bisa tidak memperdulikan Minho, seluruh raganya menghendaki namja itu namun jiwa yang seutuhnya memilih lari bersama sosok lain. Yang menjadikan ia sebagai harapan sebagai perantara dan peredam, namun dirinya mengacuhkan sosok itu lebih banyak.

“kenapa?”

Sorot mata Minho melembut, ia menatap pantulan dirinya di kedua manik mata Minhyun. Minho menahan diri sebisa mungkin agar keinginanya untuk memeluk pemilik mata coklat bening itu tak menyeruak ke permukaan.

Tergenang kilasan memori dimana ia melihat sosok Cho Minhye sedang tersenyum menikmati setangkai arum manis di sebuah taman bermain, Disney land. Kala itu mungkin Minhyun mengira pertemuan mereka sebuah kebetulan, dimana ia menarik yeoja itu kedinding agar tak ketahuan Jonghyun bahwa mereka sedang mennguntit. (SoL Chapter 7B)

Namun sebenarnya kejadian itu telah ada dalam rencananya, Tak ada yang tahu seberapa kencang ritme debaran jantungnya ketika Minhyun melepas kacamata hitamnya dan memperlihatkan paras murni seorang Cho Minhye. Dan ketika seorang Cho Minhye menyuguhkanya seulas senyum manis, dorongan untuk mencumbu gadis itu semakin meliar.

Sejak itu separuh hatinya seakan terlepas dan terbang dengan sayap yang mengepak di lingkaran langkah gadis itu. menyaksikan kepedulian seorang Cho Minhye terhadap yang lain padahal problema hidup sebagai Cho Minhyun bagaikan buah simalakama, membuat desakan untuk melindungi gadis itu semakin menggila.

“alasanya sudah ku katakan sewaktu aku memanggilmu di malam Valentine”

Tatapan lembut Choi Minho menjeratnya, seakan ada ribuan kupu kupu yang mengepak dalam perutnya dan sedang berupaya untuk berhembus keluar. Memberi variasi efek gugup sekaligus menggelitik.

Minhyun berpaling ke arah kanan, menatap pantulan dirinya di kaca jendela ruangan dihadapanya. Mematut diri bahwa ia adalah seseorang berambut Shaggy berwana coklat madu yang mengenakan Jeans dan jaket Hoodie berwarna biru gelap. Ingat posisi, Cho Minhyun.

Minhyun mencoba mengembalikan fokusnya dan menggali ingatan tentang malam yang dikatakan Minho, namun ia tak menemukan alasan itu dari seluruh kalimat Minho yang diingatnya. Selayaknya ia mendengarkan Minho waktu itu, bukanya gelisah karena mengingkari janji dengan meninggalkan Key.

“kau mau?”

Pertanyaan itu membuat Minhyun terhenyak, ia tak mampu membalas tatapan penuh harap itu. biarlah kebisuanya menciptakan asumsi tersendiri untuk Minho.

“MIN-AH! Ikut aku!”

Entah kenapa Minhyun merasa terselamatkan ketika Jinhya muncul tiba tiba dan menarik lengannya kasar. Yeoja itu tampak gusar dan ikat ikut berlari bersamanya… Meninggalkan Choi Minho sendirian. Tanpa ia sadari, dirinya telah ditolak dan menolak.

~*~*~*~

“kita mau kemana?!” tanya Minhyun setengah berteriak.

Tiba tiba Jinhya menghentikan langkahnya dan Minhyun yang berada dibelakangnya kontan menabrak punggung Jinhya hingga terhuyung.

“wae?!” bentak Minhyun kesal.

“gilanya Onew kumat!” Jinhya terlihat cemas.

“oh… kalau tidak gila itu bukan Onew! Lagi pula rumah sakit jiwa hanya berjarak dua gedung dari rumah sakit ini. mari kita antar dia!” celetuk Minhyun asal dan langsung dihadiahi tatapan horor dari Jinhya.

“baiklah, ceritakan padaku semuanya”

Jinhya menarik tangan Minhyun agar berjalan bersamanya “tadi aku bertemu Onew, saat aku mengajaknya bicara dia membalasku ketus. Dia masih marah karena aku menghancurkan gelasnya waktu itu. sebenarnya itu gelas apa sih?”

“mungkin itu dari Eunki”

“benarkah? Pantas saja Onew membentakku saat ku singgung tentang gelas itu” mereka mulai berjalan menaiki tangga, tempat itu cukup sepi karena merupakan lantai paling atas “tapi Eunki tidak pernah memberitahuku…” lirih Jinhya.

“Eunki menghilang sejak lama tapi Onew masih menganggapnya ada. Tadi Onew mengusirku karena melihatnya seolah olah berbicara dengan Eunki, dia berhayal lagi. kau harus membantuku, Min-ah. Aku takut dia mengamuk lagi, aku ingin menyadarkanya…”

Langkah mereka tiba di puncak anak tangga dan berhadapan pada sebuah pintu dengan kaca persegi yang berada di sisi atas pintu itu. dari sana mereka melihat Onew berdiri dibawah gumpalan awan kelabu.

Ditemani hembusan angin dalam kesendirian yang selalu ditampik untuk disadari.

~

“Eunki…”

“Eunki…”

“Lee Eunki…”

Gadis dihadapanya tak menyahut meski pandangan mereka bertaut. Tak ada kata yang meluncur dari bibir gadis itu, ia merasa sejak tadi dirinya seakan berbicara dengan angin.

Onew menarik tangan Eunki yang mengantung di sisi tubuh gadis itu, lalu menggenggamnya dengan lembut. Tak ada temperatur suhu yang menjalari permukaan kulit Eunki, ia merasa seperti menggenggam udara.

Semilir angin berhembus cepat, meniup liar helaian rambut panjang Eunki. Sekaligus mendesak Perasaan kalut yang menembus ulu hatinya, sejak kemarin Eunki tak mengatakan sepatah katapun. Kerap kali ia menemukan tatapan kosong gadis itu kala bersamanya.

“Eunki Bicaralah padaku…”

Pada akhirnya anginlah yang membalas setiap perkataanya secara sesisan sinis dengan membisikan kenyatan pahit yang selalu dihindarinya.

“Eunki! Apa kau tak mau lagi menerimaku sebagai Lee Jinki? Apa kau akan seperti orang orang yang hanya mau tersenyum ketika aku menyapa mereka lebih dulu?” lirihnya frustasi namun gadis itu tetap bergeming.

Onew menghela nafas berat sembari menatap gumpalan awan hitam yang sama tidak bersahabatnya dengan hembusan udara. Terbentang dalam benaknya bayang bayang masa lalu dimana ia dikucilkan dan dihina, dan ketika dunianya berubah baginya semua itu tetap sama karena semua memandangnya dengan ‘ada apanya’

“mereka hanya mau berteman denganku bila aku memberi contekan ulangan atau pr, mereka juga sering berbicara sendiri ketika aku berpidato tanpa ada niat untuk menyimak sebaris kata saja yang sudah kubuat dengan susah payah, mereka tak pernah menghargaiku. Lee Eunki apa aku akan menjadi seperti mereka?!”

Suara Onew bergetar, begitu pula dengan bahunya yang berguncang pelan. Dirinya seakan lupa cara bernafas untuk sekejap ketika gadis dihadapanya menatap dingin, seolah tak ada kepedulian yang tersisa untuk dirinya.

“Eunki bicaralah padaku…”

Lalu tangan Eunki hilang dalam genggamanya begitu pula dengan tubuh gadis itu yang secara perlahan berpendar seperti butiran buram. Onew menggeleng panik, ia memeluk cepat tubuh Eunki seraya memejamkan matanya.

Deruan angin terus berbisik di telinganya, memaksanya untuk membuka mata dan menerima kenyataan bahwa ia hanya mendekap angin.

Lee Eunki seolah hanyut dalam hembusan angin…

Onew menatap panik sekeliling, ia memejamkan matanya dan mencoba membayangkan bila sewaktu ia membuka mata Eunki akan menyambutnya dengan seulas senyum hangat.

Lee Eunki kembali.

Namun itu hanya menjadi kisah yang tak sampai karena Ketika ia membuka mata, dirinya hanya ditemani desisan angin yang mengejeknya dan menyudutkanya. “tidak, Lee Eunki! Aku belum menepati janjiku!!!” teriaknya gusar.

Bahunya naik turun seiring dengan nafasnya yang memburu. Onew memejamkan mata dan berfikir keras. Eunki harus ada ketika ia membuka mata, harus! Lee Eunki. Don’t push me away, you must turn back to me.

Bugh..

Seseorang mendorongnya dari belakang hingga ia jatuh tersungkur.

“IREONA!!!”

Jeritan itu membuat matanya terbuka sempurna. Bukan Eunki yang hadir ketika ia membuka mata, melainkan Jinhya, gadis yang dibencinya karena telah menghancurkan mug dengan mozaik bergambar daun yang disusun dari kerikil kerikil kecil. Gelas berwarna putih susu itu pemberian Eunki yang sangat berharga dan selalu menemaninya dalam kondisi terpuruk apapun (re: SoL chap 3)

“Lee Jinki! Bangun dari khayalanmu!!!”

Onew membeku ketika Jinhya mengucapkan namanya, semestinya ia membalas perlakuan kasar gadis itu tapi bibirnya terlalu kelu.

Onew bangkit berdiri dengan tumpuan tanganya, ia menghujam Jinhya dengan tatapan nanar “kau tidak tahu apa apa” ucapnya dingin lalu berbalik dan melangkah pergi.

“DIAM DI SITU!”

Onew mengacuhkan perintah Jinhya, ia tetap melanjutkan langkahnya. Tidak ada yang peduli denganya, bahkan Jinhya sekalipun pasti berbuat demikian karena rasa bersalah telah menghancurkan gelasnya waktu itu. sampai titik akhir langkahnya pun, ia akan terus sendirian.

“LEE JINKI! YOU ARE THE DUMBEST PEOPLE I’VE EVER KNOWN!!!”

Teriakan itu berhasil membuat langkah Onew berhenti, ia berbalik dan melayangkan tertawa getir dengan tatapan kosong.

Jinhya melenguh, namja itu… bahkan disaat seperti ini masih sempat tertawa?!

“bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kau selalu hanyut dalam hayalanmu? Lee Eunki sudah lama menghilang, sadarlah!” Jinhya menggenggam lengan Onew namun namja itu masih mematung dalam posisinya.

Jinhya seperti ditohok ketika menghadapi sosok asli Lee Jinki untuk pertama kalinya. Sorot kosong tatapan itu seperti menyimpan genangan nanar dibaliknya, yang meskipun dihapus sekering apapun tetap akan meninggalkan bekas.

“kenapa kau harus menutupi sisi Lee Jinki?” suara Jinhya bergetar, perasaan kalut melingkupi emosinya “Kau selalu paranoid terhadap setiap orang, selalu berfikiran negatif bahwa setiap orang hanya mau berinteraksi denganmu ketika mereka butuh”

“setiap hal pasti ada pro dan kontra” sebisa Mingkin Jinhya menatap lembut meski lawan bicaranya enggan beradu mata denganya “mungkin mereka ada yang menjelekanmu, tapi kau tak sepenuhnya buruk… Kalau tidak, mana mungkin murid SSedna menjadikanmu hot topic setiap kali kau selesai berpidato bahkan mereka rela menempeli kamarnya dengan fotomu dan menjerit jerit seperti orang gila ketika kau lewat, aish~ yeoja yeoja menyebalkan itu!!!”

“lalu apa kau melupakan SHINee? Mereka selalu ada untukmu begitu juga dirimu. Kalian sudah menghabiskan banyak waktu seperti saudara. Jadilah dirimu sendiri…”

“kau tidak mengenalku..”

Jinhya menelungkupkan telapak tanganya di pipi Onew, memaksa namja itu agar sedikit menunduk untuk menatapnya.

“apa yang kubilang tadi ada yang salah?”

Onew membisu kala alunan suara itu menggoreskan sebuah maksud di dasar batinnya, rententan kalimat Jinhya porak poranda dalam pikiranya.

“aku tahu kau sangat menggilai musik klasik, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan tumpukan buku buku sastra sejak kecil, aku tahu kau mahir merangkai kalimat bermakna dalam bahkan kau selalu menyelipkan secarik kertas dengan kata kata indah di bawah pintu kamar Eunki saat hari ulang tahunya”

Tak ada deruan angin yang berbisik sinis di telinganya, semua tergantikan dengan hangatnya sinar oranye mentari sore yang menyusup di sela sela langit kelabu. Bahkan mataharipun memberikan yang terbaik dalam tugas akhir sebelum ia kembali ke peraduanya.

Wajah Jinhya terlihat berkilau diterpa kilauan bias matahari, mata itu menatapnya penuh keyakinan. Lee Jinki merasa dirinya ada ketika Jinhya berbisik…

“semua itu karena aku tahu kau adalah Lee Jinki”

tangan Jinhya yang tadinya menelungkup di pipi Onew, secara perlahan turun dan melingkar di pinggang namja itu. Jinhya membenamkan kepalanya di bahu Onew hingga aroma maskulin namja itu meracuni penciumanya.

Seulas senyum mengembang dibibirnya ketika Jinhya merasa tangan namja yang dipeluknya kini melingkari pinggangnya dan tangan yang satunya mengelus lembut puncak kepalanya. Jinhya mengeratkan pelukanya, perasaanya tersambut.

~

Di balik pintu dengan kaca transparan pada sisi atasnya, seseorang mengumpat kesal seraya memperhatikan jam tanganya. Namun tetap saja luapan bahgia menyusupi perasaanya ketika menyaksikan itu.

“aish! Sudah 5 menit mereka berpelukan. Apa dia membawaku hanya untuk menyaksikan ini? CHOI JINHYA MATI KAU!!!”

~*~*~*~

~1 month later~

 

Sebulan berlalu sejak kejadian itu dan kini para murid tahun ketiga ShineShall maupun ShinSedna sedang menjalani ujian akhir pada hari terakhir pula.

Sekitar Dua minggu yang lalu Jonghyun keluar dari rumah sakit, kesehatanya meningkat pesat dan sekarang ia bisa melakukan aktifitas dengan normal meskipun belum seaktif dulu. Selama di rumah sakit, Onew, Minho, Taemin maupun Minhyun sering mengajaknya belajar bersama agar Jonghyun bisa menyesuaikan diri dengan soal latihan ulangan yang akan dihadapinya menjelang ujian.

Sedangkan Taemin masih menjadi bahan olokan Onew dan Minhyun tapi tidak dengan Jonghyun, karena penampilanya yang semi gundul (?) akhirnya bahan lelucon diantara member SHINee bertambah satu.

Tidak ada kejelasan hubungan antara Taemin, CL dan Sungrin. Disatu sisi Taemin sangat menginginkan Sungrin tapi disisi lain Taehyun membutuhkan sosok wanita yang bisa menjaganya dan sudah dianggapnya sebagai Eomma.

Setiap sore di setiap sudut SHINee Dorm menggema alunan musik klasik dari alat musik papan kunci yang terletak di kamar Onew. Seminggu setelah Jinhya menyadarkanya, Onew pergi ke perancis selama beberapa hari dan membeli Boesendorfer Grand Piano putih yang sama seperti punya Eunki.

Diwaktu luang Onew selalu meracik nada nada baru dari pianonya, tak jarang ia mengombinasikan satu instrumen dengan istrumen populer lainya. Penghuni Dorm yang sedang belajar atau beraktifitas kontan sangat menikmati lantunan melodi itu.

Sedangkan Key jarang berada di Dorm karena dia lebih sering pergi ke Breath of Heaven, mungkin dia lebih suka belajar di tempat yang menenangkan seperti itu. Tapi hal itu membuat Minhyun tak punya kesempatan untuk berbincang lebih jauh dengan key.

Disaat ia mencari Key, namja itu selalu tak ada. Dan seringkali, ketika namja itu ada pasti secara kebetulan Minho mengajaknya untuk belajar atau melakukan aktifitas bersama.

Minho banyak berubah, kini ia lebih sering menganti Gaze Snowstrom-nya dengan tatapan santai. tak ada lagi Frozen Smirk khas seorang Choi Minho yang mampu menyudutkan siapa saja, ia lebih sering melayangkan senyuman mempesona yang bisa membuat siapa saja meleleh.

Dan Minhyun masih dengan keplinplanan-nya, bingung harus berbuat apa dengan kedua namja itu. ia kapok dengan segala tindakan cerobohnya tapi tetap saja tak mempunyai jalan keluar

~

Teeeeeetttthhhhhh….

Bunyi bel memenuhi gedung SShall, disaat bersamaan para guru mengambil lembar jawaban satu persatu dari seluh siswa dikelas. Beberapa murid bersorak girang karena ujian yang mereka jalani telah usai.

Ternyata soal ujian lebih mudah dari latihan soal yang mereka kerjakan selama ini, bahkan para murid sepakat bahwa soal latihan mempunyai kesulitan sepuluh kali lipat dari soal ujian akhir dan itu terbukti membantu.

Para murid berangsur meninggalkan kelas dengan wajah gembira, begitu pula dengan lima orang namja plus satu namja jadi jadian yang baru saja keluar kelas dan memilih untuk berjalan ke Cafetaria.

Sesampainya di gedung Cafetaria, mereka memilih posisi paling pojok yang mengarah ke Sungai –yang memisahkan SSall dan SSedna. Langsung saja mereka memesan makanan dan beberapa gelas minuman.

“ahhh… tak terasa ujian sudah berakhir” ucap Taemin sembari merenggangkan tanganya ke udara.

“hey! Siapkan diri kalian untuk Prom Night sabtu malam nanti!” celetuk Onew dan hanya ditanggapi anggukan dari yang lain karena mereka sibuk berkutat dengan makananya.

Beberapa menit kemudian Cafetaria telah ramai dengan murid SShal yang telah diteror cacing cacing dalam perut mereka. Tak mau perut mereka menciptakan koor fals dadakan lebih ancur lagi, para murid itu pun menghabiskan makanan mereka dalam rekor cepat.

Setelah kenyang merekapun bercanda ria dengan yang lain, yang menjadi hot topic saat itu adalah pertanyaan ‘sehabis ini kau mau kuliah dimana?’ atau semacam ‘apa kau akan mengambil pendidikan di luar negeri’ dan sebagainya dengan maksud serupa.

“ahhhh~ aku pasti akan merindukan ShinShall” lenguh Taemin dan setelah ia melambungkan kalimat itu, seluruh penghuni Cafetaria di setiap penjuru menoleh kepadanya lalu mengangguk serempak.

Taemin pun hanya bisa menatap cengo. Ternyata teman temanya masih menyandang presikat sableng nan gendeng.

“aku malas membicarakan masa depan, aku ingin kita menikmati masa masa terakhir di SShall” serupa dengan Taemin, setelah Minhyun mengucapkan itu seluruh penghuni Cafetaria di setiap penjuru menatapnya dan mengacungkan jempol dengan serentak.

Melihat itu, mulut Minhyun terngaga lebar dan langsung ditutup oleh Onew yang mendorong bawah dagunya ke atas. Aigooo….

“bahas yang lain saja!” saran Minho, kontan Taemin, Minhyun dan Onew menatap sekeliling dengan waspada. Untungnya kejadian konyol tadi tak terulang, mereka tak bisa membayangkan ekspresi Minho setelahnya.

“aku belum mempersiapkan pakaian buat Prom nanti, apalagi OxyGEn” ujar Jonghyun.

“aku juga belum” imbuh Minhyun.

“Jonghyun Hyung, bagaimana kalau kau memakai topi untuk menutupi luka jahitmu” saran Key ditengah kesibukan menghabiskan makananya.

“itu terlalu biasa! Lebih baik kau menutupinya dengan pita merah jampu, pasti kau terlihat lucu seperti bayi tabung muahahahha” tawa Onew menggelegar setelahnya dan langsung mendapat sundulan maut dari Jonghyun.

Dan sisa hari itu mereka habiskan untuk bercanda ataupun sekedar makan dan nonton film bersama. Di hari hari kedepanya mungkin kumpul bersama seperti ini akan jarang terjadi karena mereka pasti punya jalan masing masing.

~*~*~*~

Prom Night di malam sabtu tiba, bisa dipastikan seluruh murid SShall maupun SSedna sibuk mematut diri di depan cermin karena bukan hanya murid di tahun ketiga yang mengikuti perayaan rutin sehabis ujian akhir itu, tetapi murid di tahun pertama dan keduan juga ikut berpartisipasi.

Event ini bukan hanya pesta dansa tahunan biasa, selain untuk menghapus bekas kepenatan sehabis ulangan, melalui perayaan inilah kandidat untuk calon The Lord and Juliette dipilih satu dari setiap kelas.

Gedung aula yang terletak di kawasan SSedna itu disulap menjadi ballroom megah. Setiap namja berusaha untuk menarik perhatian Yeoja yang dibaluti gaun cantik untuk menyeretnya ke lantai dansa.

Meskipun begitu, ada panggung khusus yang diperuntukan bagi sapa saja yang bisa malakukan dance populer masa kini agar Prom Night tak terkesan kolot dan kuno. Member SHINee minus Key tetap menyandang presikat ‘the most wanted boy’ di antara para yeoja, seakan tak ada ruang bagi mereka untuk sendirian.

Sepertinya Minhyun menjadi satu satunya orang tidak berminat dengan acara ini, ia memilih berdiri di pojok meja panjang yang dipenuhi dengan kue kue kecil sembari menikmati segelas minuman.

Jonghyun terlihat sama seperti dulu, mengumbar senyum ramah kepada setiap gadis. Ia terlihat tampan menggunakan topi kupluk hitam. Sedangkan Onew sibuk bercengkrama dengan para panitia Prom Night. Bila menatap lantai dansa, pasti pasangan yang paling menarik dilihat adalah Taemin – Sungrin. Mereka sangat ceria dan santai.

Dan Minho… tak ada yang menyaingi terangnya karisma putih menyala dalam pesona namja itu. dia terlihat luar biasa tampan mengenakan keja putih dengan dasi hitam yang dipadukan Jas semi formal berwarna Pearl Blue dan Jeans putih.

Minhyun meneguk minumanya dengan pandangan yang tak lepas dari sosok seorang Choi Minho, dalam hati ia berharap namja itu akan menghampirinya dan menuntunya ke lantai dansa.

Namun ketika Minhyun menatap pantulan dirinya di gelas kaca, ia sadar posisinya sekarang. Tak mungkin hayalanya terwujud. Minhyun segera meletakan gelasnya di atas meja lalu melangkah pergi…

“Min-ah, kau mau kemana?” seruan Jinhya membuatnya berbalik. Sahabatnya itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna coklat pasta dan seluruh rambutnya yang diikat ke atas.

Andai aku bisa berpakaian seperti itu…

“Choi Jinhya… warna gaunmu sangat mirip dengan jas Onew” goda Minhyun.

Jinhya terkejut kecil lalu mengedarkan padanganya mencari sosok yang disebutkan Minhyun “itu hanya kebetulan” tampik Jinhya sembari mengulum tawa.

“kebetulan yang nikmat haha” celetuk Minhyun asal seraya tertawa “aku tidak berminat dengan acara seperti ini, mau kembali ke Dorm saja” tuturnya pada Jinhya.

“ah sayang sekali”

“biar saja” Minhyun meringis “lagi pula aku tak mungkin menjadi The Lord tahun ini apalagi Juliette haha itu sangat tidak mungkin”

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Jinhya, Minhyun pun melangkah keluar aula dan berjalan menuju SShall.

~

Sesampainya di Dorm ia langsung berjalan menuju mini bar dan menuangkan segelas air putih lalu meneguknya. Minhyun merebahkan punggung di sofa depan televisi, tak ada siapa siapa di Dorm. Key? Tentu saja dia pergi ke Breath of Heaven.

Minhyun kembali memejamkan matanya untuk sesaat namun sekejap kemudian kembali terbuka karena pendengaranya menangkap sebuah suara seperti decitan kursi yang digeser.

Minhyun beranjak dan berjalan menuju sumber suara, ia agak terkejut karena suara itu berasal dari dalam kamar Key dan Minho. Minhyun menggenggam kenop pintu sembari menarik nafas mengumpulkan keberanian.

Saat dia membuka pintu, kamar itu terlihat gelap namun di lantai atas terdapat dua buah lilin di dalam wadah kaca yang menyala. Minhyun melangkah ringan menaiki tangga, meskipun remang namun posisi kamar yang sama dengan kamarnya membuatnya sedikit lebih mudah.

Langkah Minhyun terhenti pada undakan anak tangga teratas, ia tertegun mendapati Key yang berbaring di atas sofa sembari menatap terangnya bulan dari jendela besar di kamarnya.

Ketika Minhyun barjalan, dirinya langsung menegang karena Key berbalik secara tiba tiba dan menghujamnya dengan tatapan dingin.

Key merubah posisinya menjadi duduk “sebaiknya kau pergi” titahnya lalu mengalihkan pandangan dari Minhyun dan lebih memilih untuk menikmati cahaya bulan.

“tapi aku..”

“pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi”

Seakan ada ribuan jarum beracun yang menusuk batinya saat mendengar pernyataan itu, untuk sesaat paru parunya seolah menolak asupan oksigen karena dorongan rasa sakit yang timbul di ulu hatinya.

Semasa hidupnya Minhyun mendapat sangat banyak penolakan terhadap dirinya, bahkan dirinya menolak untuk menjadi diri sendiri. Dan kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa begitu banyak yang tidak sudi menerimanya.

“tapi aku ingin membantumu untuk sembuh dari Venustraphobia” lirih Minhyun.

Key beranjak dari duduknya lalu berjalan kehadapan Minhyun “tapi aku sedang menunggu seorang gadis yang menyembuhkan phobiaku untuk pertama kali, dan aku yakin itu bukan kau”

Minhyun tercekat meskipun ia bingung kenapa perasaanya bisa sehancur ini, bukanya tadi ia berharap banyak pada Minho? Tapi kini…

“aku yakin bisa membantumu…”

“pergilah!”

Jika Minhyun tak pernah mendapatkan tatapan dingin yang mematikan karena Minho telah berubah banyak, maka saat ini ia seakan disuguhkan bongkahan es yang terlalu dingin melebihi gumpalan salju. Tatapan tajam Key menohoknya dalam.

Key menarik lengan Minhyun dan menyeretnya menuju tangga, tapi Minhyun berusaha sekuat mungkin melepas cengraman tangan itu meski pun tetap saja ia terseret.

“baik, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi maukah kau berdansa denganku, aku tidak suka akhir yang buruk!”

Mendengar itu Key melepas cengkramanya ia menatap Minhyun dengan pandangan yang sulit di artikan. “baiklah, aku juga tidak suka akhir yang buruk”

Minhyun bernafas lega karenanya “tunggu sebentar, aku akan kembali” ucapnya lalu bergegas menuruni tangga.

Minhyun melepas Vest abu abunya dan melingkarkan Scart berwana Fuchsia pemberian Key waktu itu di leher kemeja putihnya, dengan ini ia tak sepenuhnya terlihat seperti namja bukan?

Ketika Minhyun kembali ia mendapati Key tengah bersandar di samping jendela dan menyambutnya dengan seulas senyum yang mampu membuatnya meleleh. Kenapa sifat namja itu benar benar seperti musim pancaroba? Berganti dengan cepat dan selalu memberi efek tak terduga.

Baru Minhyun sadari di dalam ruangan itu bergaung alunan klasik Moonlight Sonata. Diterangi cahaya bulan dan sinar dari dua lilin kecil, Minhyun melihat tangan Key yang terulur di hadapanya.

Tanpa ragu Minhyun mengangkat tanganya dan menggenggam telapak tangan yang terbuka.ia menumpukan telapak tangan yang satunya pada bahu Key dan meski pelan, dapat dirasakanya lingkaran tangan namja itu pada pinggangnya.

Terpaan sinar bulan di wajah key membuat namja itu seakan dipendari aura putih, sadar atau tidak rasa sakit di hatinya berubah menjadi letupan euphoria yang indahnya melebihi ladang bunga di musim semi. Key tersenyum dan menularkan senyum yang sama hangatnya pada Minhyun.

Sesekali Key mengangkat genggaman tangan mereka agar tubuh Minhyun berputar, terlihat jelas bahwa mereka sangat menikmati interaksi dalam tatapan yang saling beradu.

“kau tidak perlu menunggu gadis itu datang, karena aku yakin bisa melenyapkan phobia-mu”

Akhirnya kata yang ditahan Minhyun terlepas keluar, ada perasaan lega sekaligus gelisah dalam hatinya.

“dengan apa?”

Dan pertanyaan itu kembali menghanguskan segala Euphoria karena Cho Minhyun tak tahu harus menjawab apa.

Tatapan Key berubah tajam “apa kau benar benar ingin membantuku?”

Minhyun menegak ludahnya “nde..” jawabnya ragu.

“kau tahu? Mungkin phobia-ku tak bereaksi padamu karena kau selalu berpenampilan seperti namja. kau memang bisa menolongku, Cho Minhye”

Key melepas tautan tangan mereka, ia melangkah maju dan menghujam Minhyun dengan tatapan dingin. Refleks Minhyun pun melangkah mundur kebelakang namun tatapanya tak mampu lepas dari jeratan mematikan itu.

“hanya ada satu cara untukmu agar aku bisa melawan Phobia-ku”

Key mendorong bahu Minhyun hingga ia jatuh ke atas tempat tidur. tanpa memberikan kesempatan baginya untuk bangkit, Key langsung mengunci tubuh Minhyun dengan rentangan tangan di samping masing masing bahunya.

Jantung Minhyun berdebar liar ketika ia merasakan deruan nafas Key di lehernya karena namja itu semakin menurunkan tubuhnya dan menindihnya secara perlahan. Minhyun mencoba berontak namun dengan sigap tangan key mencengkram telapak tanganya di antara kepalanya.

“… dan cara itu hanya bisa dilakukan ketika kau memperlihatkan dirimu sebagai perempuan murni”

dengan perlahan Key melepas lingkaran Scarf di leher Minhyun dan membuatnya semakin menegang kala merasakan kecupan dilehernya yang semakin lama berubah menjadi hisapan kecil.

“key jangan, kumohon…” ucapnya disela nafas yang tersenggal.

Key mengangkat kepalanya dan menatap Minhyun dengan kilat bengis “kenapa? Bukanya kau ingin membantuku? Lagi pula kita sudah cukup dewasa untuk melakukan ini”

Minhyun mengerang histeris karena dirinya tak bisa lepas dari jeratan Key, namja itu terllau kuar mencengram pergelangan tanganya. tapi sesaat kemudian jeritan itu tak terdengar karena mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Key yang menciumnya liar.

Air bening menetes dari sudut matanya. Minhyun terpejam, ia tak menyangka konsekuensinya akan seberat ini. tapi seluruh jiwa yang terus terbawa oleh namja itu mendorongnya untuk membalas perlakuan Key. dan semua itu hanya berujung dilema.

~*~*~*~

Minho melangkah menuju meja yang dipenuhi gelas gelas minuman, ia menyambar gelas berisi sirup melon lalu meneguknya sampai habis. Meladeni para Yeoja sungguh menguras tenaga.

Sejenak, ia mengedarkan pandangan ke sekitar namun yang dicari tak kunjung tertangkap penglihatanya. Sesaat kemudian tatapanya teralih ke arah Onew yang berjalan mendekatinya.

Onew meraih gelas minuman di belakangnya lalu berdiri di hadapan Minho “kau tidak mengajak seorangpun berdansa?” tanya onew sembari menikmati minumanya.

“aku hanya ingin berdansa dengan seseorang tapi itu tidak mungkin” ujar Minho dengan suara rendah.

“kenapa? Karena dia baru saja pergi dari aula ini?” Onew meletakan gelasnya di atas mela lalu kembali menatap Minho “kenapa kau tidak menemuinya di Dorm dan mengajaknya kesini untuk berdansa?”

Alis minho bertaut mendengar ucapan Onew, apa mungkin Hyungnya itu mabuk tapi disini tidak ada minuman keras kecuali dia baru saja meneguk minuman dengan gelas gelasnya.

“yang kau maksud itu Cho Minhyun kan?”

Mata Minho membulat, raut kekagetan terpeta jelas di wajahnya “hyung…”

“kau kira aku sebodoh apa sampai tak tahu ada Yeoja diantara kita” Onew melayangkan senyuman khasnya sembari menepuk pundak Minho yang masih menatapnya terkejut.

“kejar dia, Cho Minho”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Minho mengangguk pasti lalu pergi dari sana. Namun dalam diam Onew merasa kalimat yang dilontarkanya barusan lebih cocok diperuntukan bagi dirinya.

Sejak tadi ia terus memperhatikan Jinhya yang tertawa bersama teman temanya, rasanya ia ingin menghampiri gadis itu dan menuntunya ke aula dansa.

Tapi Keinginan itu langsung melebur tak berbekas kala ia mendapati Choi Jinhya sedang berdansa bersama seorang namja yang cukup populer di ShineShall. Onew tersenyum miris, gadis yang menyandang predika Juliette dua kali berturut turut itu mana mungkin mau berdansa dengan pecundang besar seperti dirinya.

__TBC__

Well, part ini panjang dan cepet kan dipublis? Haha aku seneng banget nulis part ini.

Bagian Taemin, Onew dan Jonghyun Cuma tersisa satu Scene lagi. tapi Minho-Minhyun-Key? Siapkan diri kalian readers, karena chapter depan ada sebuah kejutan yang kalian nantikan dan langsung membongkar sebuah rahasia besar *bahasanya -___-

Oh ya, SoL special edition di post sekitar minggu depan ya. Sedikit bocoran, SoL edisi itu akan menceritakan bagaimana mereka bisa tahu Minhyun itu adalah yeoja. Jadi kalau berminat tinggalkanlah jejak kalian karena SoL special edition rencananya nggak aku pos disini…

semua komen akan dibalas. So, thanks a lot for all reader.

Cheers,

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

206 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 19]

  1. Sumpah deh, aku gemas dengan Minhyun. Sebenarnya maunya dia itu apa ? Siapa? Key… atau minho ?! Bentar-bentar dia kek ngasih harapan ke Minho. Tapi dia juga sok-sok peduli ke Key..
    Author-ssi… tlong diperjelas.. Hahahaa*readers baperrr total.

  2. Key Minhyun jebaal! Yah, walaupun ffnya udah tamat tapi hati ini masih memilih Key Minhyun #bahasanya:v

    Si Minho sama aku aja deh thor, dia cocoknya sama aku bukan sama Minhyun/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s