SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 7)

SIWON THE BOSS

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

PS: Typo, typo, sorry for that. Please feel free to correct me.

Resensi Cerita Lalu

Appa’s POV

“Kau mengecewakanku Tiffany. Ini jauh lebih mengecewakan daripada sekedar menolak perjodohan. Kau telah mempermainkan perasaan Appa dan Omma. Appa bosan dengan permintaan maafmu. Kau anak yang tidak tahu malu Tiffany! Kau bukan anakku lagi. Kau kupecat!”

Tiffany’s POV

“Aku menyayangi Appa dan Omma, karena itu aku selalu berusaha menuruti kata Appa. Dari kecil aku tidak pernah membantah. Aku selalu menuruti apa kata Appa. Tapi kebanggaan Appa tidak pernah selesai padaku. Appa ingin melihat aku menikah. Kenapa jadinya salah hanya karena aku tidak mau menikah untuk saat ini.”

Siwon’s POV

Aku merutuk diriku sendiri. Kenapa situasi menjadi tidak jelas seperti ini. Tiffany menghilang! Semua hartanyapun ludes tidak bersisa karena disita oleh Appa-nya. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tapi sosok yeoja itu tidak bisa aku temukan. Aku sangat mengkhawatirkannya. Tiffany kau kemana?

Chapter 1    |    Chapter 2        |     Chapter 3     |     Chapter 4    |    

Chapter 5    |     Chapter 6A    |    Chapter 6B    |

 Chapter 7

Suju Tower

Pukul 23.00

Siwon POV

Kangin berdiri mematung menghadapku. Wajahnya menunjukan rasa bersalah. Tanpa harus bertanya, dengan melihatnya saja aku sudah mengambil kesimpulan. Tapi kali ini aku berharap perkiraanku salah.

“Kau masih belum menemukannya, Hyung?”

Namja itu menggelang, “Aku sudah kerahkan semua agen-ku untuk mencarinya di seluruh Korea, tapi hanya itu informasi yang kudapat.”

Kubaca laporan yang baru diserahkan Hyung-ku itu dengan resah.

“Jadi Tiffany sudah sampai di provinsi Gyeongsang selatan?”

“Itu informasi yang kupunya. Ia mencari pekerjaan di sana.”

“Kenapa harus sampai sejauh itu, apa tidak bisa dia mencari pekerjaan di Seoul atau Incheon?”

“Kau baca lebih lengkap laporan itu. Intinya, Tuan Hwang telah menutup semua koneksi Tiffany. Mereka tidak diperbolehkan untuk menerima yeoja itu jika ia melamar pekerjaan.”

“Lalu apakah ia berhasil mendapatkan pekerjaan di sana?

Kangin Hyung menggelang, aku benci mendengar kenyataan itu,”Kau tahu Tuan Hwang sangat kuat. Ia menguasai hampir semua industri hulu dan hilir untuk semua produk wholesale Korea. Jika ia mengatakan tidak boleh, semua jaringannya sampai di pelosok Korea juga akan mengatakan tidak boleh. Kau mengerti itu Siwon?”

Aku mengangguk lemah,”Intinya ia menutup semua akses bagi Tiffany untuk mendapatkan pekerjaan di negara ini?”

“Ya begitulah. Semua ijazahnya pun disita Tuan Hwang, Tiffany menjadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak ada bukti bahwa ia adalah lulusan Harvard dan pernah bekerja sebagai Direktur di Hwang Company.”

Aku tidak menyangka hukuman yang diberikan Tuan Hwang kepada Tiffany begitu berat. Aku pikir, walaupun dipecat dan diusir, yeoja itu masih bisa mendapatkan pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi ternyata, untuk mencari pekerjaanpun sulit. Aku semakin putus asa,”Lalu apakah sekarang ia masih di Gyeongsang?”

“Agenku sudah menyisir daerah itu, tapi lagi-lagi kami tidak menemukan jejaknya. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepat. Dalam seminggu ini, kami mendengar ia sudah ke Daegu. Ulsan, dan terakhir Yeosu.”

“Kenapa kalian begitu lambat, aish maksudku kenapa hanya jejak saja yang bisa kalian dapat.” aku benci mendengar kenyataan bahwa Tiffany selalu raib begitu saja,” Lalu apa keterangan Jessica, kenapa Tiffany bisa sampai kabur dari rumahnya?”

“Appa Tiffany mengancam keluarga Jessica untuk tidak memberikan perlindungan kepada Tiffany. Itu yang kudengar. Mungkin ia mendengarnya dan memutuskan pergi tanpa pamit.”

Aish, orang tua macam apa itu, sudah mengusirnya kini melakukan segala cara untuk membuat hidup anaknya tambah hancur berantakan. Rasanya Tuan Hwang lebih kejam dari kriminal manapun, setidaknya penjahat-penjahat itu tidak akan tega menyiksa anaknya sendiri.

“Berapa agen yang kau punya, Hyung?”

“Aku punya 200.”

“Terlalu sedikit, apa bisa ditambah?”

“Aku bisa meminjam dari intel yang lain. Tapi mereka mematok harga yang sangat tinggi. Mereka bisa membuatmu bangkrut.”

Kuambil selembar cek kosong, dengan cepat kutandatangani kertas berharga itu tanpa menulis nominal  angkanya, “Aku tidak perduli berapa biayanya, kau isi cek ini sebanyak apapun yang kau mau Hyung. Tambah anggotamu sampai cukup untuk menemukan Tiffany. Jika perlu sampai ke luar negeri, lakukanlah!”

Aku menyerahkan cek itu. Kangin Hyung menatapku bingung. Ia masih belum menerimanya.

“Kau yakin dengan ucapanmu?”

“Aku belum pernah seyakin ini. Tidak ada jalan lain. Sudah sebulan Tiffany menghilang, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya. Apalagi dengan kenyataan ia susah mendapatkan pekerjaan.”

Aku memegang kepalaku, rasanya pusing sekali membayangkan bagaimana kehidupan yeoja itu sekarang. Tiffany tidak pernah hidup di luar pengawasan orang tuanya. Ia selalu hidup nyaman dan berkemewahan. Yang aku tahu, ia juga tidak punya banyak teman. Orang tuanya lah yang selalu memilihkan teman untuknya. Mereka sangat protektif pada anak semata wayangnya itu. Kekayaan kadang membuat hidup seseorang menjadi terkungkung dan terbatas.

Kangin Hyung mendekatiku, ia menepuk bahuku, “Kau jangan khawatir, Tiffany-ssi adalah yeoja yang kuat. Ia akan bertahan.  Aku berjanji untuk menemukannya bagaimanapun caranya.”

“Gomawo Kangin-hyung. Aku sangat mengandalkanmu. Aku sangat khawatir dengan keselamatannya”

Kangin Hyung tersenyum mencoba memberikan kekuatan padaku,”Kau harus percaya padaku, Siwon. Segera aku akan menemukan Tiffany!”

Namja itu berbalik sambil membawa cek yang kuangsurkan padanya,”Sebisa mungkin aku tidak akan menggunakan cek ini. Tapi akan kucoba mengerahkan semua agen yang ada di Korea ini. Aku berharap dalam seminggu ini kita sudah bisa menemukannya.”

“Tolonglah Hyung, tolong temukan dia”, aku berkata lirih dan menatap punggung namja itu sampai kemudian ia menghilang di balik pintu.

Kemudian tanpa sengaja aku menatap pantulan kaca jendela di sebelahku. Apa yang terjadi pada diriku? Sudah sebulan ini aku hampir tidak pernah bercukur, rambutku juga kubiarkan memanjang begitu saja. Tampak tak terurus dan acak-acakan. Waktuku terlalu penuh untuk mencari Tiffany. Setelah seharian bekerja, aku langsung mengitari seputar kota Seoul dan sekitarnya untuk mencari yeoja itu. Berkali-kali aku mendatangi kawasan Itaewon yang terkenal dengan kehidupan malam bersama raturan ekspatriat di dalamnya. Tempat itu bisa menjadi lahan bagi yeoja berpikiran sempit yang ingin mendapatkan uang dengan cepat. Pikiran buruk kadang-kadang memenuhi kepalaku, jangan-jangan Tiffany? Aish, tidak mungkin, dia tidak akan sampai menjual dirinya. Walaupun cenderung nekad, yeoja itu memiliki pendirian yang kuat. Tapi sampai kapan Tiffany akan kuat bertahan? Bagaimana ia bisa bertahan hidup dengan segala tekanan yang menimpanya.

Aku tidak memiliki banyak ide lagi, rasanya semua tempat di Korea ini sudah aku singgahi untuk mencari yeoja itu. Tapi hasilnya nihil. Dengan terpaksa aku raih HP ku dan kupencet beberapa nomor. Seharusnya aku tidak melakukannya. Aku sudah berjanji untuk tidak ikut campur dalam masalah ini, tapi dengan terpaksa aku melakukannya.

“Yoboseo, Hwang Ki Woo-ssi?”

“Hmm, Siwon, kau kah itu?”

“Mianhae mengganggumu malam-malam begini. Aku ingin bertemu Ahjussi, arraseo?”

Tidak terdengar suara, tampaknya Appa Tiffany itu harus berpikir lama hanya untuk bisa mengiyakan pertemuannya denganku.

“Ne, baiklah, ku tunggu besok di kantorku jam 10. Tidak boleh telat, satu detik terlambat aku tidak mau bertemu denganmu!”

“Gomawo Ahjussi, saya akan berada di ruang kerja Ahjussi tepat jam 10. Tidak akan terlambat.”

Suju Tower

Keesokan harinya

Pukul 07.00 pagi

Author POV

Besoknya  lagi-lagi member Super Junior melihat Siwon tertidur di kantor. Sudah sebulan ini bisa dihitung dengan jari berapa berapa kali Siwon pulang ke apartemennya. Member Super Junior bukannya tidak tahu dengan hal ini. Mereka sangat perduli dengan Siwon, tapi namja itu semakin tertutup sehingga sulit bagi teman-temannya itu untuk mengorek apa yang terjadi. Yang pasti mereka melihat Siwon sangat menderita. Penampilannya yang selalu tampan dan mempesona berubah menjadi tidak terurus. Bayangkan seorang Siwon yang dikenal sangat perduli dengan penampilan bahkan kini seperti dengan sengaja membiarkan cambangnya tumbuh. Untungnya ia masih tetap seorang namja yang tampan, sehingga publik mengira Siwon sedang membuat trend baru, menciptakan gaya namja yang maskulin. Tapi mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Siwon sedang ada dalam masalah. Hanya member Super Junior-lah yang tahu dan bisa merasakan perubahan itu.

“Semua sudah siap?”, Leetuk memberikan aba-aba. Hampir semua member Super Junior kini berkumpul di depan pintu ruang kerja Siwon. Namja itu rupanya masih tertidur di atas sofa-nya sehingga tidak menyadari kehebohan yang terjadi di luar ruangannya.

“Kami siap!”, suara member Super Junior terdengar serentak.

“Bagus! Kyuhyun kau siap dengan silet mu?”

“Siap! Silet tertajam yang pernah kutemukan”, Kyuhyun memperlihatkan silet kebanggaannya dengan senyuman psiko, membuat hampir semua member bergidik ngeri.

“Gunting?”

“Iya itu tugasku,” jawab Donghae semangat sambil mengacungkan guntingnya. Leetuk tersenyum puas

“Wardrobe?”

“Kami siap.”, jawab Hanggeng dan Heechul serentak sambil menunjuk sebuah travel bag,”Tinggal dipilih, tinggal dipilih, buka saja tasnya, pilihan banyak, harga murah, bisa kredit”

Member Suju langsung mengerumuni travel bag itu dengan antusias. Leetuk jadi emosi tingkat tinggi.

“Woi, kenapa kalian jadi berdagang? Ingat tujuan kita!”

“Mian, kami kelepasan Hyung he he he”, jawab kedua orang itu malu-malu.

“Sudah-sudah, sekarang toiletries bagaimana?”

“Siap. Semua ada dari yang aroma jeruk sampai strawberry. Kami juga menyiapkan loofah, semacam scrub dari kerang laut. Dijamin kulit terasa lebih bersih dan lembut. Semua produk yang kami siapkan semuanya mengandung moisturizer.”, jawab Henry dan Zhoumy berpromosi. Leetuk meringis menatap aneh kedua dongsaengnya.

“Yesung! ini yang paling penting bagaimana dengan sandera kita?”

“Sudah kusembunyikan di tempat aman”, jawab Yesung bangga dengan keberhasilannya.

“Siapa yang menjaga?”

“Ryeewok dan Eunhyuk.”

“Aish masa kau pasang mereka, bisa remuk badannya nanti. Tukar!”

“Dengan siapa?”, tanya Yesung, takut ia yang terpilih.

“Shindong dan Sungmin, kau dan kau maju sana”, tunjuk sang Leader Leetuk. Spontan membuat nama yang disebut menjadi sedikit resah.

“Aish Hyung, aku kan bagian meni pedi”, tolak Shindong, diamini Sungmin.

“Aku juga bagian refleksi, Hyung”, jawab Sungmin malas.

“Biar hal itu diurus Ryeewok sama Eunhyuk saja. Kalian pergi sana, setelah tunggu tanda, baru kalian ke sini membawa sandera. Mengerti?”

Dengan sebal dan takut-takut, kedua namja itu pergi meninggalkan member Super Junior. Ryeewok dan Eunhyuk datang dengan gembira,”Gomawo Hyung, untung kami tidak jadi menjaganya. Dari tadi sandera berontak, kami takut ia lepas.”

“Tenang, sekarang sudah ada Shindong dan Sungmin”, Leetuk mengabsen member Super Junior satu-satu,“Kibum mana?”

“Aku datang Hyung!”, dengan tergopoh-gopoh namja itu berlari-lari menghampiri mereka.

“Kau sudah siap dengan tugasmu?”

Kibum mengangguk sambil memperlihatkan sekantung plastik penuh berisi makanan,”Aku sengaja memesan makanan diet sehat, kupilih yang mengandung protein tinggi dan kolesterol rendah. Aku juga siapkan multivitamin dan suplemen.”

Leetuk tersenyum puas, ”Bagus, bagus, kalian telah bekerja dengan baik. Sekarang kita siap dengan rencana A, ayo kita bangunkan Siwon!”

Serempak member Super Junior  mendatangi dan mengguncang-guncang tubuh Siwon yang sedang tertidur pulas.

“SIWON BANGUUUUN!”

Dengan teriakan saja namja itu terbangun. Ia terkejut melihat hampir semua member Super Junior mengelilinginya dengan tatapan aneh.

“Eh kalian? Aku sedang tidak bermimpi?”, namja itu menggosok-gosok matanya.

“Mianhae Siwon, kami harus melakukannya. Ayo angkat dia!”, Leetuk memberikan aba-aba.

Dengan serentak member Super Junior membangunkan tubuh Siwon dan menarik tubuhnya untuk masuk ke restroom yang ada di ruang kerja Siwon. Namja itu berteriak-teriak ketakutan dengan sikap aneh teman-temannya yang tidak banyak bicara.

“Eh ada apa ini, kenapa aku masuk kamar mandi, toloooooooong!!!!”

“Sudah jangan bicara, kau turuti kami”

“Apa yang ingin kalian lakukan padaku?”

Setelah itu tidak terlihat lagi bagaimana nasib pemuda itu, karena Kyuhyun, Leetuk, dan Donghae sudah berada dalam kamar mandi bersama Siwon.  Hanya terdengar suara gemercik air dan suara Siwon yang berteriak-teriak minta tolong. Sekitar satu jam keempat namja itu masih ada di kamar mandi. Terdengar suara Kyuhyun yang mengancam Hyung-nya supaya diam.Donghae yang marah-marah karena Siwon selalu memberontak. Leetuk yang sudah kesal karena Siwon selalu berusaha kabur. Member Super Junior yang berada di luar merasa kasihan mendengarnya. Mereka tidak tega memperlakukan Siwon seperti itu. Tapi tidak ada cara lagi. Kalau tidak dipaksa lama-lama Siwon akan jadi seperti orang utan beneran.

Krek, pintu kamar mandi terbuka. Siwon keluar dengan wajah ketakutan. Ia sudah memakai handuk kimono yang menutupi tubuhnya. Member Super Junior penasaran dengan hasil karya Kyuhyun dan Donghae.

“Nah begitu dong, Siwon-ssi, kau kembali menjadi Siwon yang kami kenal”, ujar Eunhyuk senang. Member Super Junior yang lain bertepuk tangan melihat wajah namja itu kembali mulus dan rambutnya yang terpotong rapih.

Kyuhyun dan Donghae tersenyum bangga,”Tidak sia-sia kami belajar tiap malam. Kami berhasil mengembalikan Siwon kembali. Mungkin setelah ini kita bisa buat usaha barbershop ya Kyu?”

Kyuhyun mengangguk tersenyum pongah.

Ternyata Siwon ditarik ke kamar mandi untuk dicukur rambut dan cambangnya. Ada-ada saja kelakuan teman-temannya ini.

“Aish, tapi caranya bukan seperti ini. Kalian membuatku ketakutan. Aku pikir hari ini aku akan mati”, dengus Siwon kesal sambil memakai baju yang sudah disiapkan Hanggeng dan Heechul. Henry dan Zhoumi membantu menyemprotkan parfum dan gel rambut. Namja itu risih. Tapi ia tidak kuasa melawan, 1 dibanding semua member Suju, jelas ia kalah.

“Soalnya kalau tidak dipaksa, mana kau mau Hyung. Sekarang makanlah.”, Kibum mengangsurkan makanannya,”Di dalamnya ada suplemen dan vitamin, kau juga harus memakannya”. Lagi-lagi dengan terpaksa, Siwon menurut padahal ia tidak lapar.

“Selanjutnya bagian kami, refleksi dan meni pedi. Mana yang ingin kau pijat Hyung? Pundak atau kaki?”, tanya Ryeewok yang membuat Siwon terbatuk-batuk, untung makanan yang sedang dikunyahnya tidak keluar.

Sungmin memperlihatkan satu set alat meni pedi,”Aku tidak ahli dalam hal ini, tapi demi kau Siwon, aku berusaha membuat kukumu terlihat cantik”

Siwon kembali terbatuk-batuk padahal ia sedang makan. Kelakuan member Super Junior kadang aneh dan norak seperti ini.

“Sudah-sudah, aku tidak mau dipijat dan tidak mau medicure pedicure. Kalian ini merendahkanku sekali, kukuku bersih tahu!”

“Iya deh, jangan marah dong Siwon. Kami kan hanya ingin membantumu”, jawab Sungmin kecewa.

“Soalnya sudah sebulan ini kelakuanmu aneh. Lihat saja penampilanmu tadi, kucel begitu, bercambang lagi. Aish, mana ada Siwon seperti itu”, Heechul berucap.

Namja itu mendengus antara kesal dan ingin tertawa,”Ne, ne, mianhae kalau begitu. Lagian kalian sih caranya menakutkan”. Ia menyelesaikan makanannya,”Tapi aku berterima kasih, kalian begitu perduli padaku.”

Suasana mendadak hening, semua member Super Junior memasang tampang serius.

“Sekarang kau harus mengatakan pada kami. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kami yakin kau sedang ada masalah. Kami ingin membantumu, Katakanlah!”, Leetuk membuat tanda seperti mengancam yang membuat Siwon ketakutan untuk kedua kalinya.

”Tidak ada apa-apa Hyung”, Siwon mencoba menolak halus. Ia takut dimasukkan paksa ke kamar mandi lagi.

‘Sudah, jangan mengelak. Kau berubah sebulan ini. Kau menjadi Siwon yang tidak kami kenal. Ayolah katakan pada kami. Kami benar-benar ingin membantumu”, Donghae memaksa. Auranya sama semenakutkannya dengan Leetuk.

“Berubah? Mungkin karena aku memelihara cambang ya. Aku hanya ingin ganti suasana saja.”

“Jangan berdalih, kami yakin ada sesuatu yang mengganggumu. Kami sangat khawatir dan kami benar-benar tulus ingin menolongmu, Hyung”, bujuk Kyuhyun. Memandang namja itu membuat Siwon semakin khawatir dengan keselamatannya.

“Tenang kami dapat dipercaya. Kau tidak usah khawatir kami membocorkannya. Kami berjanji untuk menjaganya”, tukas Zhoumi dan Henry berbarengan.

“Aku katakan tidak ada masalah apa-apa, kalian ini suka berlebihan. Sebulan ini aku memang sangat sibuk sehingga tidak sempat mengurusi diriku sendiri. Mianhae jika itu membuat kalian khawatir. Sungguh aku baik-baik saja. I’m totally fine!”

Melihat Siwon yang keras kepala, akhirnya Leetuk memberikan tanda pada Yesung. Yesung segera ke luar ruangan.

“Kau tidak memberikan kami pilihan Siwon, dengan terpaksa, kami harus melakukan sesuatu.”, ancam Leetuk.

Tiba-tiba Yesung, Shindong, dan Sungmin datang membawa seseorang yang mulutnya terplester dan tangan serta kakinya terborgol kuat. Secarik kain menutupi muka orang itu. Seseorang misterius itu kemudian dipaksa duduk menghadap Siwon.

Leetuk membuka kain yang menutupi muka sosok itu.

“Kangin Hyung!”, Siwon terteriak,”Kenapa ia seperti ini? Apa yang kalian lakukan kepadanya?”

Kangin hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya karena mulutya terplester. Ia tidak bisa berbicara.

“Mianhae Siwon dan Kangin, kami terpaksa melakukannya. Kami tahu kalian berdua menyembunyikan sesuatu. Kami tidak bermaksud ikut campur, tapi karena melihat kondisi Siwon sudah semakin parah, terpaksa kami bergerak walaupun caranya begini”, ujar Yesung sambil menekan pundak Kangin supaya tidak banyak bergerak.

“Jadi kalian mengancamku?”

“Jangan katakan mengancam dong Siwon, lebih tepatnya berusaha membantu”, jawab Sungmin.

“Lalu apa yang akan kalian lakukan dengan Kangin-Hyung?”

“Jika kau tidak mau mengatakan apa masalahmu sesungguhnya, dengan terpaksa kami akan melakukan sesuatu pada Kangin. Sekarang kami ingin tahu apa masalahmu, siapa tahu kami bisa membantu”, Leetuk sudah siap membuat ancang-ancang jika Siwon menolak.

Siwon menggelang.

”Baiklah, kau tidak bisa diajak kerja sama ya. Yesung eksekusi Kangin segera!”

Satu lagi psiko setelah Kyuhyun kini beraksi. Yesung mengambil sebuah kemoceng dan dikelitikannya badan kemoceng ke seluruh tubuh Kangin yang memang tidak bisa menahan geli. Member Super Junior hanya bisa menatap kekejaman itu dengan ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan dengan posisi mulut terplester, kaki dan tangan yang kini terborgol, Kangin harus menerima perlakuan itu. Air mata Kangin sudah keluar dengan deras. Kaki dan tangannya terus begerak-gerak, tidak tahan menahan rasa geli akibat kemoceng. Sampai akhirnya Kangin jatuh dari kursinya karena tidak kuat menahan serangan Yesung.

“Ayolah Siwon, masa kau tega melihat Hyung-mu mati karena tertawa. Katakanlah pada kami. Yesung sekarang kau kelitikin telapak kaki Kangin.”

Siwon melihatnya dengan tatapan kasihan, kali ini giliran kaki Kangin yang jadi sasaran. Apa ia harus mengaku saja.

“Cukup cukup hentikan. Kau tidak lihat Kangin Hyung sudah menderita begitu. Baiklah aku mengaku.”

Semua member Super Junior tersenyum puas. Yesung menghentikan aksi kekejamannya pada Kangin. Kangin tersungkur karena tidak kuat.

Siwon melirik jam tangannya. Aish sudah jam sembilan pagi. Bukankah ia sudah berjanji untuk bertemu Tuan Hwang di kantornya pagi ini.

“Mianhae, tapi aku tidak punya banyak waktu, aku ada pertemuan penting jam 10 pagi ini.”

“Loh, kau kan berjanji untuk mengatakan masalahmu pada kami”, protes Shindong.

“Hmm, biarlah Kangin–Hyung yang menceritakannya pada kalian. Sekarang lepaskan dia dahulu. Kangin-Hyung, kau boleh menceritakan semuanya pada mereka kini. Jeongmal mianhamnida, aku harus pergi, ini sangat penting. Aku tidak boleh terlambat.”

Siwon segera menyambar jasnya dan berlari keluar meninggalkan member Super Junior yang kebingungan melihat aksi buru-buru namja itu. Mereka kemudian menatap Kangin Hyung dan membuka semua plester dan borgolnya. Muka namja itu sudah merah bercampur hijau, menderita karena kegelian dan ingin tertawa karena siksaan Yesung. Kasihan sekali sebenarnya melihatnya.

Leetuk mendekat dengan membawa kemoceng, “Baiklah Kangin, sekarang kau harus ceritakan semuanya pada kami. Jika tidak kemoceng ini akan membunuhmu.”

Kangin menatap Leetuk ketakutan,”Baiklah akan kukatakan semuanya, tapi tolong jauhkan kemoceng itu dariku, jebal.”

Hwang Company

Pukul 10.00

Kedua pria itu duduk saling berhadapan dengan muka tegang. Untunglah Siwon datang tepat waktu sehingga ia bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Tuan Hwang.

“Apakah anda tahu keberadaan Tiffany, Hwang Sajangnim?”, tanpa basa basi Siwon memulai maksud kedatangannya.

“Kau tahu kau tidak berhak bertanya soal itu. Kau telah berjanji untuk tidak ikut campur masalah ini”, jawab Appa Tiffany pendek.

“Mianhae, aku terpaksa Hwang-ssi, ini sudah sebulan Tiffany menghilang. Apa kau tidak khawatir?”

“Wae? Kau pikir aku tidak khawatir. Aku ayahnya, aku lebih khawatir dan perduli padanya dibanding kau”, gaya bertanya Siwon membuatnya sedikit emosi.

“Lalu kenapa kau mengusirnya, hal-hal buruk bisa saja terjadi pada Tiffany.”

“Jadi kau menyalahkanku karena kini aku membuat hidupnya menderita begitu?”

“Mianhae, aku tidak bermaksud menuduhmu Tuan Hwang. Tapi Fanny benar-benar menghilang, aku sangat khawatir. Hidup Tiffany bisa jauh lebih buruk daripada yang kita bayangkan.”

“Aneh sekali kau begitu khawatir padanya, kau tidak ada hubungan apa-apa dengan anakku.”

Siwon menghela nafas. Susah berdebat dengan orang tua ini. Tapi ia harus berusaha untuk mendapatkan informasi sebanyak apapun mengenai keberadaan yeoja itu.

“Walaupun aku tidak ada hubungan apapun dengan Tiffany, tapi aku telah terlibat sejak awal. Apa yang terjadi pada dia kini, mau tidak mau aku ikut andil di dalamnya. Aku tidak bisa diam saja membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan Tiffany kini, apalagi setelah kau menutup semua aksesnya untuk bisa mendapatkan pekerjaan.”

“Dari mana kau tahu itu? Oh kau menyewa detektif?”, Tuang Hwang bertepuk tangan dengan tersenyum sinis. Ia tidak suka ada orang yang memata-matainya.

“Itu tidak terlalu penting dibicarakan. Yang utama adalah kita harus mencari Tiffany dan memastikannya selamat”, Siwon sudah tidak bisa mengendalikan diri karena sampai detik ini Tuan Hwang belum memberikan jawaban yang memuaskan. Pada saat genting seperti ini, satu detik pun berharga bagi Siwon. Tiffany masih raib dan satu detik sangat penting untuk memastikan yeoja itu bertahan hidup.

“Kau berlagak seolah-olah kau- lah yang lebih perduli.”

“Lalu apakah kau memang perduli Tuan Hwang, kau memecatnya, mengusirnya tanpa bekal sedikitpun, menutup semua aksesnya, dan kini ia tidak punya apa-apa lagi.”

“Aku perduli dengan caraku sendiri. Aku mencintainya, dia anakku”, siapa namja ini seolah-olah punya hak untuk mengatainya macam-macam, rutuk Tuan Hwang dengan kesal.

“Kau tidak perduli Tuan Hwang. Jika kau mencintai anakmu, kau tidak akan berlaku sekejam itu.”

‘Hey, siapa dirimu, bisa-bisanya mengataiku kejam. Aku lebih kenal anakku, dan aku juga sudah lebih berpengalaman dalam hidup ini dibanding anak bau kencur sepertimu. Kau tidak tahu apa-apa.”

“Lalu sekarang kemana Tiffany, apa kau tahu bagaimana hidupnya sekarang? Bisa saja ia diculik, disiksa, atau mungkin mati kelaparan karena sikapmu Tuan Hwang.”

“Aish lagi-lagi kau menuduhku. Ingat kau tidak berhak ikut campur masalah keluarga kami.”

“Memang aku tidak berhak. Tapi aku perduli, apa hanya aku yang perduli sedangkan Appa-nya sendiri sudah tidak mau memperdulikannya lagi.”

“Lancang sekali mulutmu, anak muda!”, Appa Tiffany berdiri menatap Siwon dengan pandangan marah.

“Aku tidak pernah bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih senior daripadaku. Tapi kau tidak layak mendapat hormatku”, jawab Siwon, tidak perduli ucapannya itu terdengar kasar.

“Hati-hati dengan mulutmu. Aku bisa memutuskan kontrakmu dengan mudah”, ancam Tuan Hwang. Ia tidak suka dengan tuduhan dan sikap Siwon.

“Aku tidak perduli, silahkan saja jika kau tidak menginginkan kerja sama dengan perusahaanku.”

“Kau berani menentangku ternyata? Lalu apa yang kau inginkan hah! Kau ke sini hanya untuk mengata-ngataiku dan bersikap seolah-olah kau adalah pahlawan kesiangan yang berusaha menyelamatkan anakku dari ayahnya yang kejam begitu?”

“Aku hanya ingin tahu dimana Tiffany berada. Jika kau tahu katakanlah padaku. Setidaknya aku bisa memberikannya kehidupan yang layak dan tidak akan menghalanginya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.”

“Kau menyindirku? Manis sekali mulutmu mengatakan itu.”

“Aku heran karena kau sama sekali tidak khawatir dengannya”

“Ia layak mendapatkan hukumannya.”

“Tapi tidak sekejam ini Tuan Hwang.  Katakanlah dimana dia berada?“, Siwon marah dan sekaligus putus asa, ia tidak bisa membujuk Tuan Hwang lebih dalam lagi.

“Dengar anak muda, cukup sudah pembicaraan ini! Aku tidak tahu Fanny di mana dan bagaimana kondisinya sekarang. Tapi semuanya sudah kuperhitungkan. Aku bukan orang yang gegabah ketika memutuskan sesuatu apalagi untuk anakku sendiri. Sekarang pergilah sebelum aku menggunakan cara kekerasan untuk mengusirmu.”

Tuan Hwang mengusir Siwon yang sudah meradang karena emosi. Pria tua ini, orang tua yang keras kepala, tidak punya perasaan!

“Baiklah aku akan pergi.”

“Oh ya Siwon, apapun informasi yang kupunya tidak akan kubagi denganmu karena ini masalah keluarga kami, camkan itu!”

”Aku mengerti.”

“Aku masih berbaik hati untuk tidak memutus kontrak kerja sama kita. Tapi jika kau berani datang lagi ke sini hanya untuk menuduhku, aku bisa melakukannya tanpa ragu-ragu lagi.”

Siwon dan Tuan Hwang saling bertatapan tajam, perang urat syaraf masih berlangsung diantara keduanya.

“Lakukan apa yang menurutmu benar, Tuan Hwang! Aku tidak perduli.”

Siwon berbalik, ia ingin segera meninggalkan ruangan itu. Darahnya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. Sia-sia ia datang ke sini.

“Satu lagi Siwon, jika suatu hari Tiffany datang kepadamu. Tolong berikan ia pekerjaan.”

Siwon kembali berbalik, berdiri menghadap Tuan Hwang dengan perasaan bingung. Apa lagi ini maksudnya?

“Maksudmu?”

“Tolong berikan ia pekerjaan yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Mungkin pelayan atau pembantumu. Tidak bisa lebih dari itu. Jika tidak aku akan semakin menjauhkan Tiffany darimu.”

Siwon menyipitkan matanya tidak mengerti tapi Tuan Hwang sudah tidak ingin berbicara banyak lagi dengan namja itu. Ia sudah sibuk memakai kaca mata bacanya dan membaca beberapa dokumen yang tergelatak di meja kerjanya. Artinya ia sudah harus pergi dari ruangan itu.

“Sekarang pergilah, aku sibuk!”

Namja itu melangkah keluar masih dengan perasaan marah menggelegak. Kedatangannya untuk mencari Tiffany tidak membuahkan hasil. Emosinya malah terbawa oleh pernyataan-pernyataan Tuan Hwang yang dingin dan tidak berperasaan. Bagaimana mungkin orang tua itu tega menjerumuskan anaknya sendiri. Ia tidak percaya Tuan Hwang bisa sekejam itu. Tiffany bertahanlah!

Siwon kemudian mendapati mobilnya dan memacunya dengan kencang. Ia tidak bisa mengendalikan emosi dan frustasinya. Pikirannya selalu dipenuhi sosok Tiffany setiap saat. Ia selalu teringat kembali saat-saat pertemuannya dengan Tiffany di Jepang dulu. Yeoja ceroboh, bodoh, tapi menarik hatinya. Siwon tersenyum. Bagaimana Tiffany menginjak kakinya saat yeoja itu berusaha merebut travel bag-nya saat di bandara, tingkahnya yang mengesalkan ketika tiba-tiba merebut minuman yang ia beli di vending machine dulu, atau ketika yeoja itu tiba-tiba mengaku bahwa Siwon adalah namja chingunya. Siwon tertawa ketika mengingat wajah Tiffany yang malu karena ternyata ketahuan ia salah membawa travel bag dan salah menuduh dirinya yang telah mengambil minuman lemon cider itu.

Saat itu, Tiffany begitu mengesalkan sehingga ia pernah berdoa agar dirinya tidak dipertemukan lagi dengan yeoja itu. Tapi takdir berkata lain, Siwon selalu bertemu dan bertemu lagi dengannya. Bahkan sesampainya di Korea, entah kenapa ia rela melakukan segala cara untuk bisa bertemu kembali dengan Tiffany. Apakah ia merindukannya? Siwon tidak berani mengakuinya. Tapi ia memang penasaran dengan sifat yeoja itu. Tiffany memiliki sisi baik dan buruk pada suatu hal. Ia pintar tapi kadang kelihatan begitu bodoh. Ia dewasa pada suatu sisi tapi begitu kekanakkan di sisi yang lain. Suatu saat ia begitu berwibawa tapi di saat lain ia bisa begitu konyol. Ia begitu perhatian tapi bisa juga sangat cuek dan tidak berperasaan. Yeoja yang ada di dua kubu hitam dan putih, sangat unik!

Ia melewati restoran Pierre Gagnairre yang pernah dikunjunginya dulu bersama Tiffany. Kencan pertama, desisnya dalam hati. Ia menghentikan mobilnya untuk mengulangi lagi memorinya bersama yeoja itu. Bukan kencan yang baik, tapi Siwon tidak akan pernah melupakannya. Di tempat itu, ia baru menyadari jika yeoja itu begitu cantik dan anggun. Penampilan dan pembawaannya membuat Siwon terkesima. Sayang permintaan yeoja itu bersebrangan dengan apa yang diharapkannya. Ia mengira yeoja itu akan memintanya untuk mau berpura-pura menikahinya. Aish, Siwon kau terlalu percaya diri. Tentu saja tidak. Ia bukan yeoja seperti itu. Tapi mungkin karena itulah yang membuat Siwon tidak bisa melupakan Tiffany hingga detik ini.

Siwon memejamkan matanya, ada setitik air mata menetes dari ujung matanya. Ia bukan namja yang sentimental, tapi kondisi ini membuat perasaannya limbung. Ada banyak perasaan berkecamuk dalam hatinya, antara perasaan bersalah, ketakutan kehilangan, dan kerinduan yang membuncah. Tanpa disadarinya, ia kini sudah ada di suatu klub malam di kawasan Itaewon. Apakah ia begitu linglung sampai tidak terasa sudah menenggak beberapa puluh botol soju. Kesadarannya yang tinggal beberapa persen mengatakan bahwa ia tidak berhenti meracau di tempat itu. Beberapa hostess perempuan menggodanya tapi ia tidak tertarik. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya tapi ia merasa sedang menyanyi-nyanyi seperti orang gila di tempat itu. Siwon begitu mabuk sampai tidak menyadari apa yang dilakukannya. Sesekali menyebutkan nama Tiffany, itu yang paling diingatnya, sampai beberapa menit kemudian badannya ambruk.

Seseorang tiba-tiba menahan dan membopongnya,”Untunglah kau kutemukan Hyung, kau mabuk ayo kita pulang!”

Matanya terpejam, kepalanya pening seperti berputar-putar. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia merasa dirinya muntah, efek karena terlalu banyak minum. Ia hanya bisa merasakan seseorang membopongnya dan memasukannya ke dalam sebuah mobil. Kesadarannya hanya tinggal beberapa persen lagi. Siwon melihat beberapa orang dalam mobil itu menatapnya dengan pandangan khawatir.

“Kita pulang Hyung, sadarlah. Tiffany akan segera kita temukan. Percayalah pada kami.”

Siwon tersenyum menatap member Super Junior yang ternyata berusaha menolongnya. Matanya kemudian terpejam, setelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi.

Apartemen Siwon

Keesokan harinya.

Siwon POV

Aku terbangun dengan mata yang sangat berat. Ada perasaan tidak enak pada perutku. Apa yang terjadi kemarin, kenapa tiba-tiba aku sudah ada di apartemenku? Aku melihat ke sekeliling ruangan. Aku melihat Ryeewok, Kyuhyun dan Kibum sedang berdiri menatapku.

“Kau sudah bangun Hyung?”, tanya Kibum ia memeriksa suhu badanku dengan thermometer.

“Badanmu panas, kau demam.”

”Apa yang terjadi kemarin, aku lupa.”

”Kau mabuk!”, jawab Kibum pendek, ia menyiapkan beberapa obat untukku,”Kau juga muntah di jalan.”

“Mwo?”, aku tidak percaya aku mabuk dan muntah, aku adalah orang yang bisa mengendalikan diri. Aku selalu membatasi takaran minuman yang ingin kuminum.

“Kau mabuk, kau meracau, membuat kegaduhan di klub malam. Apa yang kau lakukan Hyung? Kau ingin menjatuhkan imejmu dengan mengunjungi klub seperti itu? Untung kebanyakan pengunjung di sana adalah ekspatriat sehingga mereka tidak terlalu mengenalmu. Bagaimana jika berita ini sampai tersebar ke media dan seluruh Korea tahu?”, Kyuhyun tiba-tiba menceramahiku habis-habisan. Aku tidak percaya aku melakukan hal itu semua.

“Aku melakukannya?”

“Ya kau melakukannya? Kau berteriak teriak memanggil nama Tiffany seperti orang kesurupan.”

Wajahku memerah karena malu. Mungkinkah aku melakukan itu semua?

“Sudahlah Kyuhyun, jangan menekan Hyung kita seperti itu. Sekarang Hyung, makanlah bubur buatanku ini, aku masukan ginseng dan sedikit jahe agar tubuhmu hangat.”

Mungkin karena kelaparan aku memakannya lahap.

“Gomawo Ryeewok, dan juga kau Kibum, Kyuhyun, karena telah menyelamatkanku”

“Itulah gunanya dongsaeng”, jawab Ryeewok berseri-seri,”Cepat sembuh ya Hyung, supaya kau bisa cepat menemukan Tiffany-ssi.”

Aku tersenyum, ucapan terima kasihku begitu tulus,”Lalu kenapa kalian bisa cepat menemukanku?”

“Kita berbagi tugas Hyung, kami bertiga memiliki tugas mengawasimu sedangkan yang lain membantu Kangin mencari Tiffany”, Kibum menjelaskan,”Kami juga khawatir dengan dirimu.”

“Mwo? Kalian melakukannya. Tapi aku tahu jadwal kalian begitu padat. Tidak usah merepotkan.”

“Jangan berkata begitu Siwon Hyung. Ketika kau sedih, kami juga ikut bersedih. Kau merasa kehilangan, kami juga akan merasakan hal yang sama. Kami akan melakukan sebisa mungkin untuk menemukan Fanny,” entah malaikat darimana Kyuhyun bisa berkata sebijak itu.

Aku tersenyum, spontan aku memeluk ketiga dongsaengku itu dengan perasaan haru. Kadang karena begitu sibuk, aku melupakan esensi sebuah persahabatan. Super Junior ternyata lebih dari sebuah grup boy band yang mendunia. Ia adalah pelabuhan bagi para member untuk saling berbagi dan bergantung. Aku merasakannya kini. Kebersamaan ini membuatku merasa kuat.

“Gomawo, kalian begitu baik.”

“Sekarang beristirahlah Hyung dan makan obat ini. Besok mudah-mudahan kami sudah membawa kabar baik untukmu.”

Seminggu kemudian

Suju Tower

Member Super Junior kecuali Siwon berkumpul dengan resah, mereka belum bisa menemukan Tiffany hingga kini.

“Kami bahkan sudah ke Pulau Jeju untuk mencarinya, tapi tidak pernah ada orang yang merasa melihat Tiffany”, lapor Heechul yang memimpin pencarian untuk area Korea bagian selatan.

Leetuk yang memimpin pencarian Korea bagian Timur mengangguk,”Kami sudah mengelilingi daerah Andong, tapi kami belum menemukannya juga.”

“Korea bagian tengah, Cheongju, Busan , semuanya sudah kami jelajahi, tetap tidak ada hasil. Apa jangan-jangan Tiffany ke luar negeri, mungkin jadi tenaga kerja Korea di Arab?”, seru Yesung pemimpin pencarian Tiffany untuk Korea bagian tengah.

“Aish, kau membuatku takut,  Yesung Hyung”, seru Eunhyuk.

“Soalnya kemana lagi kita harus mencarinya, Korea area utara sudah disisir habis oleh Hanggeng, Shindong dan Donghae. Lagi-lagi jawabannya tidak ada  kemajuan. Satu-satunya cara kita harus memikirkan kemungkinan pencarian ke luar negeri”

“Ke luar negeri ke mana?”

“Mungkin Amerika? Tiffany kan pernah kuliah di sana atau mungkin ke daerah Timur Tengah”, jawab Hanggeng,”mungkin ia jadi TKW di sana.”

“Kalian berdua sama saja. Membuat kami jadi takut”, seru member Suju yang lain.

‘Hyung!!” , tiba-tiba Henry tergopoh-gopoh berlari mendekati mereka, wajahnya pucat pasi,”Mana Siwon Hyung , Siwon Hyung mana?”

“Aish kau kenapa sih Henry, kau seperti habis melihat hantu”, jawab Leetuk asal. Otaknya sibuk memikirkan strategi pencarian Tiffany. Apa perlu dibuat pengumuman di televisi ya?

Henry duduk sambil terengah-engah,”Siwon Hyung mana?”

“Siwon kan masih cuti, Henry”, jawab Sungmin,”Memangnya ada apa sih?”

Henry mencoba menarik nafas dan menenangkan diri. Ia menunjuk-nunjuk pintu luar, ”Itu, itu ada Tiffany-ssi di luar kantor. Dia mencari Siwon Hyung.”

“Mwao? Kenapa kau tidak bilang dari tadi”

Terbirit-birit semua member Super Junior berlari-lari ke luar kantor untuk membuktikan ucapan Henry. Mudah-mudahan yang dilihat namja itu memang Tiffany bukan hantu.

Apartemen Siwon

Siwon POV

Aku merentangkan badanku sambil menghadap balkon.Sudah seminggu ini aku dipaksa cuti oleh member Super Junior yang lain. Akibat mabuk berlebihan, aku jatuh sakit dan dengan terpaksa harus mendekam di kamar selama 7 hari penuh. Beberapa member bergantian menjagaku kecuali hari ini. Sikap mereka yang terlalu protektif aku rasa terlalu berlebihan. Tapi aku menghargai niat tulus mereka. Walaupun akibatnya aku tidak bisa mencuri-curi waktu untuk mencari Tiffany. Tapi untungnya Kangin Hyung  selalu sigap memberiku informasi, sayangnya jawabannya lagi-lagi mengecewakan.  Tiffany belum juga ditemukan.

HP-ku berdering, kuangkat dengan segera. Setiap ada telefon aku selalu sigap menjawabnya, siapa tahu kali ini ada kabar baik yang kuterima.

“Hyung datanglah ke kantor sekarang?”, itu suara Kibum. Tapi HP yang masuk atas nama Leetuk.

“Wae? Ada masalah dengan kantor kita?”

“Cepatlah. Tiffany ada di ruang kerjamu sekarang!”, kali ini giliran suara Heechul.

“Mwo!”

Aku terkejut tiba-tiba dadaku sesak karena bahagia, benarkah itu? Aku sedang tidak bermimpi? Aku tepuk-tepuk pipiku. Sakit, berarti aku memang tidak bermimpi.

“Siwon!”, seseorang di seberang HP memanggilku lagi. Sekarang giliran suara Kangin Hyung, “Kau baik-baik saja?”

“Ne ne aku baik-baik, aku segera ke sana. Tolong jaga Tiffany jangan sampai ia pergi lagi.”

Aku segera mengganti bajuku dengan setelan kantor. Aku melakukannya secepat mungkin.

“Bagaimana keadaannya Hyung, apa dia baik-baik saja?”, aku berbicara sambil memasang sepatu.

Suara di sana tidak terdengar.

“Hyung jawablah, apa Tiffany baik-baik saja?”

“Hmm, tidak terlalu buruk sebenarnya tapi..”

“Ada apa Hyung, jangan berputar-putar, ada apa dengan Tiffany?”, kali ini aku agak takut mendengar reaksinya.

“Sudahlah kau datang saja cepat dan kau bisa melihat Tiffany dengan mata kepalamu sendiri.”

Klik. Sialan HP ditutup begitu saja.

Dengan terburu-buru aku beranjak keluar apartemen dan memacu mobilku secepat mungkin. Tiffany tunggu aku segera, jangan pergi lagi. Perasaanku tidak menentu antara tegang dan tidak sabar. Aku juga deg-degan dengan pernyataan Kangin tadi, memang ada apa dengannya? Kutepiskan bayangan buruk dalam otakku, lebih baik aku berkonsentrasi dengan kendaraanku supaya sampai dengan selamat karena aku masih ingin melihat yeoja itu.

Aku sampai ke Suju Tower dan berlari-lari menuju lift, aku tidak sabar untuk bertemu yeoja yang telah membuatku merana selama sebulan lebih. Di ruang resepsionis, member Super Junior sudah menyambutku, spontan mereka memelukku. Leetuk dan Eunhyuk tampak menangis. Melihat tingkah mereka aku jadi khawatir.

“Ada apa Hyung, kenapa menangis, kau juga Eunhyuk, TIffany baik-baik saja bukan?”

“Ia baik, kami hanya terlalu gembira karena bisa melihatmu bertemu Tiffany lagi”

“Sekarang mana dia?”, aku sudah tidak sabar. Mataku celingukan mencari Tiffany.

“Ia ada di ruanganmu. Cepatlah kau temui dia, tampaknya ia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu”

Tepatnya akulah yang sudah tidak sabar ingin bertemu yeoja itu.

“Gomawo Hyung, aku ke sana.”

Kubuka perlahan pintu ruang kerjaku diiringi tatapan member Super Junior. Untuk kali ini aku tidak akan marah bahkan jika mereka menguping sekalipun.

Kulihat sosok yeoja bertopi berdiri membelakangiku. Ia memakai t-shirt lebar yang sedikit lusuh dan celana jeans panjang yang sedikit robek dengan sepatu kets.

“Tiffany?”

Yeoja itu berbalik, ia melihatku. Aku menatapnya. Benar itu Tiffany. Aku ingin memeluknya tapi kutahan. Ada yang berubah pada dirinya, tidak hanya penampilannya tapi juga tubuh dan wajahnya. Ia begitu kurus, mukanya memancarkan rasa lelah yang luar biasa. Tapi ia tetap cantik menurutku.

“Siwon-ssi, mianhae karena aku mengganggu jadwal kerjamu.”

Yeoja itu membungkukan badannya.

“Tidak, kau tidak menggangguku sama sekali”, Aish aku ingin memeluknya. Aku benar-benar ingin memeluknya! Tahukah Tiffany aku begitu merindukanmu. Tapi aku hanya bisa menjawab dengan kalimat pendek. Mulutku terasa kelu.

“Boleh aku duduk?”

“Oh tentu silahkan-silahkan, hmm kau ingin minum apa?”, tawarku. Setelah penantian ini aku hanya bisa berkata seperti itu? Dasar bodoh!

“Apa saja, hmmm jika kau tidak keberatan aku ingin makan?”, yeoja itu mengelus-elus perutnya sambil tersenyum malu.

“Makan? Kau mau makan apa? Sebutkan saja?”

“Apa saja yang penting bisa dimakan, aku lapar sekali.”

“Aku akan menyuruh Office Boy untuk membelikanmu makanan paling lezat. Jangan khawatir.”

Aku segera menelepon Office Boy dan menyuruhnya membelikan semua makanan dan minuman paling enak di restoran yang ada di kompleks Suju Tower.

“Gomawo Siwon-ssi”, ucap Tiffany. Ia memandangku lembut. Aku belum pernah melihatnya menatapku seperti itu.

“Aku senang melakukannya”, aku tersenyum kemudian duduk di sofa menghadapnya,” Kau kemana saja Tiffany?”

Rasanya aku ingin berteriak, kau kemana saja Tiffany? Tahukah kau membuatku sangat khawatir? Tahukah kau, aku mencarimu kemana-mana? Tahukah kau aku sangat menderita karenamu, Tiffany? Tapi aku tahan. Semuanya tertahan dalam batinku saja.

Yeoja itu menunduk kemudian tersenyum, senyumannya tidak berubah. Aku merindukan senyumnya dan kini ia tersenyum padaku. Rasanya hatiku meleleh saat itu juga.

“Aku sekarang sering berkeliling Korea.”

“Memang apa pekerjaanmu sekarang?”

“Kau jangan mentertawaiku ya?”

“Ani, aku tidak akan tertawa?”

“Janji?”, ia mendelik padaku.

Aku mengangguk membuat tanda swear dengan kedua jariku.

“Aku tergabung dalam kelompok Sirkus namanya Korea Gypsi. Kau pernah dengar nama sirkus itu? Mereka cukup terkenal di Korea dan aku menjadi salah satu pemain di dalamnya.”

Aku ingin tertawa, apa dia menjadi pemain sirkus? Tapi kutahan dalam hati karena aku berjanji untuk tidak tertawa. Aku tidak bisa membayangkannya.

“Kau bermain apa?”

“Hmm, aku jadi badutnya. Itu loh yang dilempar-lempar kue tart dan badutnya harus melompat-lompat supaya tidak terkena kue itu. Aku juga bermain sepeda satu roda. Aku ternyata ahli melakukannya.”

Kali ini aku tidak mau tertawa, aku ingin menangis. Yeoja angkuh di hadapanku ini kini bekerja sebagai badut sirkus.

“Kau melakukannya Tiffany? Sudah berapa lama?”

Yeoja itu mengangguk,”Sekitar dua tiga minggu ini.”

“Kenapa kau tidak mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu. Kau pintar Tiffany, kau bisa bekerja dimanapun kau mau.”

”Aku sudah melakukannya tapi tanpa ijazah, mana mereka mempercayai kemampuanku. Aku sudah menghubungi semua kenalanku, tapi mereka tidak mau menerimaku. Mereka takut dengan Appa”, ia menunduk sedih, andaikata aku bisa memeluknya.

Tiba-tiba mukanya kembali cerah, “Untunglah aku diterima pekerjaan di tempat Gypsi Korea  itu, walaupun sebagai badut, tidak masalah asal bukan pekerjaan kotor.”

“Untunglah, karena bisa saja kau bertemu orang jahat dan menipumu.”, aku bernafas lega melihat yeoja itu ternyata masih mampu mempertahankan idealismenya.

“Memang, aku pernah hampir tertipu.”

“Maksudmu?”

“Aku pernah ditawari pekerjaan, ternyata aku disuruh melayani tamu-tamu karaoke. Mereka meminta macam-macam. Tahukan maksudku? Mereka memintaku untuk melayaninya. Aku kabur tapi  bodyguard di tempat karaoke itu mengejarku sampai ke mana-mana. Untung aku bertemu Tuan dan Nyonya Park Shin Hoo, pemilik sirkus itu. Aku selamat dan kini aku bekerja pada mereka. Mereka sangat baik, mereka mengajariku bagaimana berakting menjadi badut. Aku punya foto pada pertunjukan pertamaku, kau ingin melihatnya?”, ia mengangsurkan beberapa  foto kepadaku. Aku terhenyak melihat ia menjadi badut gendut di situ. Jika aku diijinkan menangis, aku ingin menangis saat itu juga. Hidupnya terlalu keras.

“Kau membuatku khawatir Tiffany, tidak bisakah kau memberi kabar padaku, atau sementara kau bisa tinggal di rumah sahabatmu, siapa namanya kalau tidak salah Jessica?”

“Aku kabur dari rumahnya, aku tidak enak karena Appa mengancam memecat Jessica jika ketahuan ia memberi tumpangan padaku.”

“Kau kan bisa memberi kabar padaku?”

Yeoja itu menatapku,”Bagaimana mungkin aku memberi kabar padamu. Kau masih ingat pertemuan kita dulu, aku begitu marah padamu sampai mengancammu untuk tidak menggangguku lagi.”

“Sudahlah kita lupakan itu, yang penting mulai saat ini, kau harus selalu memberi kabar padaku. Kau janji?”

“Kau begitu baik padaku, Siwon-ssi, aku begitu malu dengan sikapku”, yeoja itu menghela nafas dan menarik kedua tanganku, “Tujuanku ke sini adalah untuk meminta maaf padamu, selama sebulan lebih ini, aku banyak berfikir dan melakukan introspeksi. Memang benar kata Appa, aku terlalu banyak memiliki sifat buruk sehingga membuat orang-orang di sekitarku menderita. Aku juga akan meminta maaf pada namja-namja yang pernah dijodohkan Appa padaku dan orang pertama yang ingin aku mintakan maafnya adalah kau Siwon-ssi. Mianhae karena telah banyak melibatkanmu dalam masalahku. Maafkan aku juga karena ucapanku yang lancang dan buruk tentangmu. Padahal kau selalu baik padaku, aku saja yang begitu bodoh karena selalu merasa benar.”

Yeoja itu menunduk lagi. Ia melepaskan genggaman tangannya. Aish aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Kuraih tubuh yeoja itu, kubenamkan kepala dan tubuhnya di dadaku. Kupeluk ia begitu erat. Sesuatu yang hangat menjalari tubuhku dan aku merasa nyaman karenanya. Sampai tiba-tiba Office Boy datang membawakan makanan yang kupesan.

“Kau makanlah dulu Tiffany. Perlu aku suapi?”, aku menggodanya, yeoja itu menggelang.

“Aku selalu merepotkanmu, masa makan saja harus kau bantu.”

Yeoja itu kemudian makan makanan yang terhidang di meja sofa dengan lahap. Aku begitu takjub melihat nafsu makannya yang tinggai. Padahal yang aku tahu ia makan begitu sedikit. Tapi sekarang ia makan seperti sudah beberapa hari perutnya tidak diisi. Semua yang terhidang di meja yang sebenarnya bisa dimakan oleh seluruh member Super Junior habis begitu saja tanpa sisa. Aku melihatnya tidak percaya. Nafsu makannya melebihi Shindong.

“Aku kenyang”, ujarnya sambil mengelus-elus perutnya,”Rasanya sudah lama tidak makan seenak itu.”

“Kau sudah tidak makan berapa hari Fany?”

“Coba kuingat ya, hmmm mungkin sudah tiga hari aku tidak makan.”

“Mwo? Apa pemilik sirkus itu tidak memberimu makanan?”, aku terkejut tiga hari tidak makan. Untung saja ia masih bisa hidup.

“Mereka memberikanku uang sebagai pengganti makanan tapi uang itu aku berikan pada anak-anak di rumah singgah yang pernah aku temui. Mereka jauh lebih menderita daripadaku.”

“Tapi bukan berarti kau tidak makan Tiffany. Aish kau lagi-lagi membuatku khwatir, kau tahu kau bisa sakit karena sikapmu. Bukan waktunya kau jadi pahlawan jika kau sendiri menderita seperti itu.”

“Sudahlah Siwon-ssi, toh hari ini aku bisa mendapatkan makanan gratis darimu. Mereka belum tentu bisa makan semewah ini kan? Oh ya, jika masih ada sisa makanan di dapurmu boleh aku minta? Bukan untukku tapi untuk mereka. Aku tidak menyangka masih ada orang miskin di Korea ini. Mereka sampai mengais-ngais tempat sampah untuk mencari makanan. Aku belum pernah melihatnya seumur hidupku. Aku begitu terkejut karena pemandangan itu kini hampir aku lihat setiap hari.”

Seperti yang pernah kukatakan, kehidupan yeoja itu sudah disetting sedemikian rupa,  pemandangan bagi  matanya pun sudah diatur sehingga sebelum kejadian ini, ia tidak pernah melihat potret kemiskinan di negara ini barang sedikitpun.

“Tidak usah sisa, aku belikan makanan yang baru. Kau tahu alamat rumah singgah itu nanti aku akan mengirimkan makanan ke alamat itu.”

“Ini aku tulis alamatnya, pinjam pulpen dan kertasmu.”

Yeoja itu menuliskan sesuatu dan menyerahkan kertas itu kepadaku. Ia memandang sekeliling ruang kerjaku, dan tiba-tiba berdiri kemudian bersikap seolah-olah akan beranjak pergi. Ia membetulkan topinya,”Baiklah Siwon-ssi, misiku sudah selesai, aku mau pulang. Gomawo atas kebaikanmu. Aku tidak akan melupakannya.”

“Kau mau kemana?”, aku khawatir melihatnya akan pergi lagi. Hatiku ingin menahannya.

“Aku akan kembali ke rumah Tuan dan Nyonya Park. Siang ini aku ada latihan. Tuan Park berjanji mengajari bagaimana caranya bergantung di tali hari ini. Aku pergi ya Siwon-ssi.”

Yeoja itu berbalik tapi aku menariknya, spontan aku memeluknya.

“Siwon-ssi?”

“Jangan pergi Tiffany, kau di sini saja, tinggallah bersamaku.”

Aku memohon dengan sangat. Tiffany tidak menolak pelukanku yang semakin erat, bisa kurasakan hembusan nafasnya. Beberapa menit aku memeluknya, aku tidak akan melepaskannya kali ini. Tapi yeoja itu melepaskan dirinya. Ia menatapku.

“Mianhae, aku tidak bisa hidup menjadi parasit bagi orang lain. Sudah cukup aku merepotkanmu. Sekarang saatnya aku untuk mandiri.”

“Tidak, kau bukan parasit Tiffany, aku senang kau bisa tinggal bersamaku.”, aku masih ingin memeluknya.

“Aku tidak mau dikasihani.”

“Andwe, jangan anggap itu adalah belas kasihanku. Ehmm begini saja, kau mau bekerja padaku?”

Yeoja itu tersenyum tidak percaya,”Aku pastikan Appa pasti sudah menghubungimu untuk tidak boleh memberikan pekerjaan padaku bukan?”

Ia berbalik, aku menarik tangannya,”Tidak, Appa-mu tidak berkata seperti itu. Ia mengijinkanku memberikan pekerjaan untukmu.”

“Benarkah?”, aku lihat binar terang di matanya,”Ia mengijinkanmu?”

“Tapi…”, aku tidak meneruskan perkataanku, aku masih ingat dengan ancaman Tuan Hwang beberapa saat yang lalu,” Tapi aku tidak boleh memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu.”

“Jadi? Pekerjaan apa yang kau tawarkan padaku?”

“Kau hanya bisa menjadi pelayanku. Jika tidak Appa akan membuatmu jauh dariku.”

Yeoja itu menatapku tidak percaya,”Tidak, aku tidak mau! Lebih baik aku jadi pekerja sirkus saja, itu lebih memiliki harga diri dibanding menjadi pembantumu.”

Tiffany berbalik pergi, aku mengerti perasaannya. Ia memang tidak pantas menjadi seorang pelayan. Apa jadinya seorang lulusan Harvard menjadi pelayanku. Dunia sudah berhenti berputar atau sudah terbalik mana utara mana selatan? Tuan Hwang tidak memberikanku banyak pilihan. Aku harus menahannya, ia tidak boleh pergi.

Aku tarik tangannya tapi ia menepiskannya.

“Aku tidak berminat Siwon-ssi!”

Kutarik lagi tangannya sampai tidak sengaja aku membuat topinya terjatuh, dan aku melihatnya secara jelas kini. Sosok Tiffany yang baru, aku tercengang.

Tiffany begitu gugup, ia mencoba mengambil topi itu tapi aku lebih dahulu mengambilnya, topi itu ada di tanganku kini.

“Kembalikan topiku!”, ia melompat-lompat untuk mengambil topinya.

Aku mengacungkan topi itu tinggi-tinggi sehingga ia kesulitan meraihnya, “Kenapa dengan rambutmu Tiffany?”

Ia menutupi rambutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya merah karena malu. Aku menatap sosoknya yang berbeda dari biasanya. Rambutnya…

“Tiffany jawablah!”

“Baiklah, seperti yang kau lihat. Aku memotongnya pendek, kau puas?”

“Kenapa?”

“Aku menjualnya.”

“Mwo?”

“Sudahlah pasti kau akan mengejek atau mentertawaiku”

“Ani, kau bisa menghukumku jika aku melakukannya. Kenapa kau memotong rambutmu?”, aku bertanya dengan lembut, aku tidak mau membuat perasaannya lebih terluka.

“Aku menjual rambutku untuk sebuah salon. Saat itu aku begitu kelaparan sampai seseorang menawariku berapa puluh ribu won untuk  bisa mendapatkan rambutku. Katanya rambutku bagus untuk dibuat wig atau sanggul. Aku tidak ada pilihan saat itu. Jadi aku mengiyakan begitu saja.Tapi sekarang rambutku sudah mulai panjang. Lihat rambutku sudah menyentuh telingaku. Beberapa bulan lagi rambutku akan kembali normal.”

Aku pandangi sosoknya kini. Tiffany dengan rambut pendek, untunglah modelnya tidak seperti model untuk rambut namja, ia masih kelihatan seperti yeoja. Tapi memotong rambutnya sampai pendek jelas membuatku shock. Tepatnya alasan yang membuatnya memotong rambutnya itulah yang membuatku kaget setengah mati. Tiffany ternyata kau begitu sangat menderita di luar sana.

“Kau harus tinggal bersamaku Tiffany!”, aku berseru setengah memaksa

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa lagi mendengar hal ini. Di luar begitu berbahaya untukmu.”

“Jangan khawatir Siwon-ssi, aku sudah kuat, awalnya memang sulit, tapi aku sudah terbiasa.”, yeoja itu ternyata masih memiliki sifat keras kepala.

“Tiffany,kenapa kau begitu stubborn? Tolonglah kali ini aku memintamu untuk tinggal bersamaku.”

“Untuk menjadi pelayanmu, aku tidak mau!”

Tiba-tiba sebuah janji yang pernah diucapkan Tiffany di Jepang terlintas di pikiranku.

“Ingat kau pernah berjanji untuk memenuhi permintaanku dan kau menyanggupinya. Kau ingat saat di Jepang dulu waktu kau memaksaku untuk mengaku sebagai namja chingumu? Sekarang aku akan menagihnya.”

Yeoja itu menatapku dengan putus asa,”Apakah aku tidak boleh ingkar janji?”

“Ani, kau tidak boleh ingkar terhadap sesuatu yang sudah kau janjikan. Sekarang aku menagihnya.”

Ia bertanya dengan nada lemah,”Apakah aku harus menjadi pelayanmu?”

Aku memegang kedua bahunya dengan lembut, Tiffany mendongakkan matanya memandangku putus asa, “Dengar Tiffany, sesungguhnya aku tidak pernah mau menjadikanmu sebagai pelayanku. Tapi jika itu tidak kulakukan aku takut Appamu akan melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi dari ini. Di luar sana jauh lebih kejam daripada sekedar menjadi pelayan di tempatku. Tolonglah Tiffany kita harus bekerja sama. Ini demi kebaikanmu. Aku berusaha melindungimu.”

“Terus aku tinggal di mana?”

“Kau tinggal bersamaku, di apartemenku?”

“Mwo? Berdua saja?”

“Tenang, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu. Aku berjanji. Sambil menunggu waktu Appa-mu membebaskanmu, kau bisa tinggal di apartemenku sepuasmu.”

“Tapi kita hanya berdua saja.”

“Aku butuh kepercayaanmu. Kau percaya padaku?”

Yeoja itu terdiam.

“Kau akan kugaji beratus-ratus kali lipat dari harga seorang pelayan umumnya.”

“Andwe, aku bukan yeoja seperti itu. Aku hanya mau dibayar berdasarkan prestasi kerjaku bukan karena belas kasihanmu.”

“Baiklah, aku ikut kata-katamu saja. Jadi kau setuju?”

“Apakah aku punya pilihan lain?”

Aku tersenyum, spontan aku acak-acak rambutnya yang pendek, “Baiklah artinya kau setuju. Kalau begitu kita harus segera berkemas.”

“Tapi tas dan semua perlengkapanku ada di rumah Tuan Park.”

“Kita ke sana saja sekalian pamit dan tolong ingatkan aku untuk membeli makanan yang banyak untuk teman-temanmu di rumah singgah itu. Kau setuju?”

Tiffany mengangguk pelan walaupun tampak tidak yakin. Dalam hatinya, ia merasa senang karena seseorang yang ia percayai mau menampung dirinya. Ia merasa aman bersama dengan Siwon, walaupun harus menjadi pelayan. Tapi itu mungkin lebih baik daripada hidup dalam ketakutan dan ketidakjelasan akan nasibnya. Sudah sebulan ini ia hidup menderita, terutama pada masa-masa awal ia diusir Appa. Ia bisa merasakan bagaimana susahnya mencari uang, bagaimana menahan lapar, dan bagaimana sulitnya bisa tidur dengan nyenyak. Selama ini ia tidak pernah berfikir sampai ke arah itu. Hidupnya sudah terlalu bergelimpangan harta dan kenyamanan. Semua bisa ia dapatkan dengan mudah. Mungkin karena hidup ini begitu gampang, ia cenderung merendahkan orang lain dan bersikap seenaknya. Pada awalnya ia sangat membenci Appa karena memperlakukannya dengan sangat kejam, tapi akhir-akhir ini, Tiffany sering bertanya-tanya, apakah ini maksud Appa memberinya hukuman? Untuk merasakan kerasnya hidup dan memberinya pelajaran agar bisa survive? Sayangnya perjuangan ini belum selesai, ia masih menunggu Appa memafkannya. Tapi minimal ia sekarang bisa hidup dengan lebih nyaman bersama Siwon. Mudah-mudahan Siwon memang sebaik yang ia kira. Ia mempercayai namja itu seperti ia mempercayai dirinya sendiri. Mudah-mudahan mulai besok semua akan kembali menjadi lebih baik, walaupun kini ia hanya seorang pelayan dari seorang namja yang dulu selalu ia lecehkan, Choi Siwon.

To Be Continued

 

Author: AUTHOR come back! Senang banget part ini bisa publish. Mian membuat readers menunggu agak lama, tapi tidak sampai lumutan kan menunggu Siwon Oppa dan Tiffany Unnie dalam ff ini? Gomawo buat readers yang setia membaca ff ini. Melihat bagaimana respon dan antusiasme readers pada ff ini bikin author selalu semangat menyelesaikannya.  

Readers masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Pengen dipublish cepet? Kalau begitu jangan lupa ya untuk RCL, read, comment, & like. Readers juga bisa ngasih masukan atau kritik sama author. Author selalu welcome loooh, buktinya beberapa kritikan udah langsung author terapkan , walaupun belon otomatis hehehe maklum masih penulis amatiran. Seperti yang selalu Author katakan, RCL nya readers itu seperti oase di padang pasir *cieee author lebay. Readers memberikan author semangat dan inspirasi so please do not finish until reading ya, berikan komen apapun yang readers suka *ngarep ngarep.

Segitu saja dari Author, sampai ketemu lagi di part selanjutnya. I LOVE READERS, SARANGHAE, MUAH MUAH

193 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 7)

  1. Hahaha Kocak waktu oppars pada mandiin siwon Dan nyandra kangin ampe ngelitikin cm krna pengen tau siwon knp, lawak senyum2 sendiri baca’a… 😀
    Oppa2ku disini So sweet bgt sih peduli satu sama lain :* walau kadang suka lebay xD
    Kenapa siwon ga langsung ngajak nikah 😀
    Makin seru, OK aku lanjutin bacanya~~

  2. itu member SJ pea banget masa ngebangunin siwon ._.
    kangin yg imbasnya wkwkwkwkwk
    koplak dah scene meber SJ yg bantu siwon bangun dan cari tiffany LOL
    akhirnya tiffany kembali juga walopun udah berubah jd tegar (?)
    daebak ‘-‘)9

  3. asli ngakak banget pas bagian bullying siwon sama kangin. itu ngakak parah! kasian kangin dibully parah. aku kira apa yg bakalan dikerjain ama mereka ternyata cuma kemoceng. hahaha koplak. aaaahhh aku suka Sifanny coupleeee~

  4. Ya ampuun bgtu mndritnya drmua fany unnie..
    G’ pa2 unnie jdi plyannya siwon oppa,,drpda krja di tmpat srkus itu..

  5. hoi siapa yg pny ide konyol bwt bersihkn siwon ha,.ha..
    sprti yg didg ternyta hdp fany bnr2 dibwh tnpa uang,tmpt tggl,org yg diknl n beruntung ad spsg suami istri yg mw menampungny n trm bkrja.
    yg bikin kaget siwon btngkr am appa fany krn mers appa hwang biarkn fany hdp sengsara.tp rpny appa hwang pny rnc ingin dktkn sifany tnp mrk sdri.
    aplg skrg fany mw tgl am siwon.asik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s