[Kris’] Wedding Pain

A-IPYx9CIAA8g88.jpg large

Credit Poster : @Aishita91 / Aishitartwork

Title            : 3rd part (Kris’) Wedding Pain

Author       : Fransiska Nooril Firdhausi (@fhayfransiska)

Genre         : Romance, Friendship, Angst

Length       : Chaptered (Baca yang urut yah, biar nyambung^^)

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

Cast            :

  • Wu Yi Fan a.k.a Kris
  • Kim Hyo Ra (OC)
  • Kim Min Seok a.k.a Xiu Min
  • Park Chan Yeol
  • Park Soo Ra (OC)
  • Byun Baek Hyun
  • Lee Jin Ri (OC)

Annyeong, long time no see chingu. Mian lama yah buat part 3 ini, sebenernya plotnya udah ada dari lama cuma pas mau bikin kepentok sama ujian. Molor deh ^^v. Oh iya, part ini lumayan panjang kok, yah itung” mengobati hati readers yang udah nunggu lama *emang ada yang nunggu? #plak

This plot is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good readers please, don’t forget to comment^^

_________

            Chan Yeol menatap langit kota London yang cerah, tidak terlihat awan hitam barang sedikitpun. Namja itu menghirup udara sejuk yang ada di sekitarnya hingga seulas senyum perlahan terbentuk di bibir pucatnya. Pandangannya tiba-tiba beralih ke arah orang-orang yang berlalu lalang di depannya, beberapa diantara mereka memakai jas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya, serta beberapa sisanya tampak sedang menunggu dengan memasang wajah sedih dan cemas. Chan Yeol menghembuskan napasnya keras kemudian menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Oppa, hasil check up nya baru akan keluar nanti sore.”

Chan Yeol menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang yeoja berwajah manis berbalut dress selutut telah berdiri di samping tempatnya duduk. Chan Yeol tersenyum lemah, kemudian bergumam, “Hasilnya akan sama saja, atau bahkan lebih buruk. Itu pasti.”

“Berhentilah menyerah dan jangan berkata seakan-akan Oppa tak punya harapan lagi!”ujar yeoja itu dengan nada meninggi.

“Soo Ra ya …”

“Oppa.” Yeoja yang dipanggil Soo Ra itu lantas duduk bersimpuh di hadapan Chan Yeol kemudian menggenggam erat tangan kurus namja itu. “Percayalah, Oppa pasti akan sembuh. Aku akan kembali ke Seoul dan mencari pendonor sumsum, pada saudara atau sepupu kita, atau mungkin orang lain.”

Chan Yeol menggeleng pelan kemudian melepaskan genggaman tangan Soo Ra. Dia mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan memohon dari yeoja di hadapannya itu. “Sudahlah, tidak ada lagi harapan untukku, Soo Ra. Sumsum Appa, Umma dan kau yang adikku saja tidak cocok, bagaimana dengan orang lain?”

Soo Ra hendak membantah perkataan Chan Yeol ketika dia merasakan handphone di dalam tas mungilnya bergetar. Setelah melihat nama yang tertera di layar handphonenya, dengan segera yeoja itu bangkit dan meninggalkan Chan Yeol untuk menerima telepon.

Chan Yeol memandangi punggung Soo Ra yang perlahan menjauh, ia mendapati dirinya merasa bersalah karena membuat dongsaengnya itu kerepotan karenanya. Soo Ra memaksa untuk ikut pergi ke London di tengah kesibukannya bersekolah, yeoja itu ingin selalu berada di samping oppa-nya dan merawatnya. Meskipun hingga kini perasaan ingin sembuh tidak pernah sekalipun tumbuh dalam hati Chan Yeol.

Sebenarnya, pengobatan di Seoul tidak jauh berbeda dengan di London, namun Chan Yeol bersikeras berobat ke London untuk menenangkan hatinya sekaligus menghindari semua masalahnya. Terlebih, Chan Yeol memang sangat menyukai kota yang terkenal dengan Big Bennya itu.

Chan Yeol hendak bangkit dari tempatnya duduk ketika dia merasakan tubuhnya tiba-tiba ditabrak dengan keras oleh seseorang, hal tersebut sanggup membuat tubuhnya yang lemah limbung dan jatuh tersungkur ke lantai rumah sakit. Cukup keras hingga membuat namja itu lantas merintih.

Sorry!” kata seseorang itu sambil membantu Chan Yeol kembali berdiri. Chan Yeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk memberitahukan bahwa dia baik-baik saja. Ia mengangkat kepalanya kemudian mendapati seseorang yang telah menabraknya adalah seorang namja berpostur tinggi, berambut blonde dan memakai tuxedo hitam. Air muka namja itu tampak cemas ketika melihat wajah pucat Chan Yeol. “Are you okay?”katanya lagi.

Sekali lagi Chan Yeol hanya mengangguk sementara namja di hadapannya tampak merogoh saku celananya dan kemudian memberikan sebuah kartu nama pada Chan Yeol. “Hubungi aku kalau seandainya terjadi sesuatu padamu, sekarang aku sedang buru-buru. Maaf, aku pergi dulu.”ujar namja itu dalam bahasa inggris.

Namja itu lantas berlari meninggalkan Chan Yeol yang masih terdiam mematung. Ia tidak begitu mengerti apa yang baru saja diucapkan namja ber-tuxedo itu, selain karena namja itu mengucapkannya dengan sangat cepat, kemampuan bahasa Inggris Chan Yeol memang tidak terlalu bagus. Chan Yeol lantas membaca sebaris kalimat di kartu nama berwarna putih dan berbentuk segi empat itu, “Wu Yi Fan?”

Kemudian sudut mata Chan Yeol menangkap sesuatu, sebuah kotak berwarna putih dan berukuran kecil kini tergeletak di lantai. Chan Yeol mulai menerka-nerka apa yang ada di dalam kotak itu hingga dia memutuskan untuk mengambil dan memeriksa isinya. Didapatinya sebuah cincin perak berhiaskan batu permata yang tampak mewah di dalam kotak putih itu.

Chan Yeol terbelalak, “Namja tadi pasti menjatuhkan benda ini saat menabrakku tadi. Tunggu, dia memakai tuxedo, berarti mungkin saja ini cincin pernikahan!?”

Tanpa pikir panjang Chan Yeol berlari ke arah namja yang menabraknya tadi pergi, dia sedikit berharap akan menemukannya dan mengembalikan benda yang penting itu.

_________

            “Ramai sekali.”

Untuk kesekian kalinya keluhan semacam itu keluar dari mulut seorang namja bernama Baek Hyun. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan keras, membuat yeoja di sampingnya perlahan menggeleng. Jalanan di depan mereka berdua memang terlihat sangat padat, banyak sekali orang berlalu lalang, ditambah dengan arus lalu lintas yang terlihat kacau.

Lampu hijau bagi pejalan kaki, dengan segera Baek Hyun melangkahkan kakinya, bermaksud menyeberang jalan menuju rumah sakit St. Maria yang kini berada tidak jauh di depannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia menyadari bahwa yeoja yang sedari tadi bersamanya kini tidak berada di sampingnya lagi. Baek Hyun lantas berhenti dan berbalik, didapatinya yeoja itu masih berdiri di tepi jalan dengan tatapan kosong.

“Ya! Jin Ri ya! Cepat kemari, keburu lampunya merah lagi!”

Namun yeoja bernama Jin Ri itu masih saja terdiam. Sedetik kemudian tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin perlahan keluar dari pori-pori kulitnya. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia teringat sesuatu, sesuatu yang pernah terjadi padanya di masa lalu. Sesuatu yang baginya terlihat sama persis dengan apa yang terjadi saat ini. Jalanan ramai, lalu lintas kacau dan orang-orang yang berlalu lalang, serta seseorang yang memanggilnya dengan lantang, semuanya persis dengan apa yang terjadi di memori masa lalu Jin Ri. Kecelakaan itu, memori yang begitu mengerikan baginya.

Wajah Jin Ri tiba-tiba memucat. Yeoja itu lantas memejamkan matanya erat-erat dan menutup telinganya dengan kedua tangannya, entah kenapa tiba-tiba dia merasa takut. Dia baru menyadari, trauma yang pernah ia alami dulu belum sepenuhnya hilang.

“Kalau memang takut menyeberang, kenapa tidak bilang dari tadi?”

Baek Hyun menarik tangan Jin Ri pelan, kemudian menuntunnya menyusuri jalan di depannya. Jin Ri membuka matanya dan terbelalak begitu mendapati Baek Hyun kini tengah menggenggam tangannya erat. Namja itu memang hanya diam, namun di wajahnya terlukis suatu kecemasan yang dalam. Jin Ri menatap lekat-lekat jari-jari mereka yang berpaut satu sama lain. Perasaan takut yang tadi memenuhi hati Jin Ri perlahan menghilang, menguap dan berganti menjadi perasaan bedebar yang tidak menentu.

__________

            Chan Yeol berlari keluar rumah sakit dengan tergesa-gesa, menghiraukan napasnya yang kini saling memburu. Namun namja yang ia cari belum juga terlihat. Tiba-tiba Chan Yeol berhenti karena merasakan jantungnya telah berkontraksi begitu cepat dan mendapati dirinya kesulitan bernapas. Chan Yeol bermaksud mengatur napasnya ketika tiba-tiba matanya terpaku pada jalanan ramai yang ada di depannya. Dia melihat seseorang, tidak, dua orang. Dua orang yang sebenarnya saat ini begitu dirindukannya, sekaligus dua orang yang benar-benar ingin ia hindari.

Baek Hyun dan Jin Ri.

Chan Yeol terkesiap dan sekujur tubuhnya langsung menegang, ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yeoja itu, yeoja yang amat dicintainya kini berada tidak jauh darinya. Yeoja yang kini begitu terlihat nyata, tidak lagi seperti dulu, seperti saat-saat ia memandanginya lewat jendela, yeoja yang baginya bagai sebuah ukiran yang terpatri di kaca jendela kamarnya. Yeoja bernama Jin Ri.

Baek Hyun dan Jin Ri di London? Aku pasti sedang bermimpi, ini pasti efek obat-obatan yang aku minum, lagipula untuk apa mereka kemari? Mencariku? Gumam Chan Yeol dalam hati.

Ingin rasanya Chan Yeol berlari menuju yeoja yang ia rindukan itu kemudian memeluknya erat. Namun hal tersebut langsung ia urungkan ketika mendapati tangan Baek Hyun dan Jin Ri tengah berpaut satu sama lain. Mereka yang tengah berjalan beriringan, tampak begitu cocok dan akrab di mata Chan Yeol. Baek Hyun terlihat benar-benar melindungi yeoja itu. Pemandangan itu sanggup membuat hati Chan Yeol kini terasa kelu, ia lantas memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit.

Mereka tidak boleh menemukanku.

Dengan tertatih-tatih Chan Yeol kembali berjalan meninggalkan rumah sakit, namun kali ini dengan tujuan yang berbeda, lari dan pergi sejauh-jauhnya dari Baek Hyun dan Jin Ri sebelum mereka berdua sempat menemukannya.

________

“Hei, Kris! Dari mana saja kau?!”

Seseorang bertubuh tidak terlalu tinggi dan berpipi tembam menatap galak seorang namja yang jauh lebih tinggi darinya. Dia lantas berjinjit dan mencengkeram kerah tuxedo milik namja yang dia panggil Kris itu.

“Maafkan atas keterlambatanku, Min Seok. Aku terlambat bangun pagi ini. Aku benar-benar minta maaf.”ucap Kris di sela napasnya yang terengah-engah karena sedari tadi berlari. “Aku sudah lewat rumah sakit, itu jalan pintas tercepat menuju gereja ini.”tambahnya.

Seseorang yang ternyata bernama Min Seok itu malah semakin membulatkan matanya, “Dasar bodoh! Enak saja kau bilang begitu, ini upacara pernikahan adikku dan kau sebagai seorang pembawa cincin malah datang terlambat! Sekarang cepatlah masuk karena upacara akan segera dimulai!”

Napas Kris mulai tenang, perlahan ia mengangguk patuh dan berjalan menuju ke arah gereja. Dia merogoh saku dalam tuxedonya, bermaksud mencari kotak cincin yang tadi dibawanya dari rumah, namun sayangnya namja itu tidak menemukannya. Kris pun mulai was-was. Dirogohnya juga kedua saku celananya, namun namja itu tak juga menemukan kotak cincin yang ia cari. Min Seok yang turut berjalan di belakangnya menangkap gerak-gerik mencurigakan Kris sembari menatapnya penuh selidik.

“Jangan bilang kau lupa membawa cincin pernikahan adikku, Kris.”kata Min Seok dingin.

Langkah Kris terhenti, sontak dia menggeleng. Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun dia berkata, “Tentu saja tidak, Min Seok. ”

__________

Gereja St. Yoseph, London

Yeoja itu berjalan dengan anggunnya menuju altar, ia mengapit erat lengan ayahnya yang berjalan beriringan di sampingnya. Yeoja itu tersenyum, tampak begitu bahagia.  Kris hanya menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap wajah cantik yeoja yang notabene adalah sahabatnya itu. Seorang sahabat, namun Kris menganggapnya lebih dari itu. Seorang yeoja bernama Kim Hyo Ra, yang telah merebut hati Kris sejak bertahun-tahun yang lalu. Seorang yeoja yang kini akan menikahi orang lain, dan orang itu bukanlah Kris.

“Apakah kamu, Kim Hyo Ra menerima James Tylor sebagai suamimu yang sah untuk mencintainya saat sakit dan sehat, susah dan senang, untuk mencintainya dan menghargainya mulai hari ini sampai kematian memisahkan kalian?”

Tubuh Kris menegang seketika, ditatapnya dalam-dalam yeoja bernama Hyo Ra yang berbalut gaun putih mewah dan berhiaskan manik-manik yang tampak rumit itu.  Yeoja itu perlahan mengangguk pasti, kemudian mengucapkan sebaris kalimat “Ya, saya bersedia.”

Kris memejamkan matanya dan menghembuskan napas pelan, dia menempelkan sebelah tangannya ke dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Ikrar yang James ucapkan serta pendeta yang mengesahkan pernikahan mereka itu hanya lewat begitu saja di telinga Kris.

“Kalian bisa bertukar cincin sekarang.”

Kris tersentak dari lamunannya, didapatinya James dan Hyo Ra tengah menunggunya untuk cincin pernikahan mereka. Kris tampak ragu, namun sedetik kemudian, dengan tangan yang bergetar hebat ia mengeluarkan sebuah kotak dari saku dalam tuxedonya. Dibukanya kotak itu dan diserahkannya pada James.

James sontak terbelalak, terang saja, cincin yang kini berada di hadapannya bukanlah cincin pernikahan mereka. Melainkan sebuah cincin berwarna perak yang lebih sederhana bentuknya dibanding cincin pernikahan mereka. James memandangi Kris yang hanya menunduk, bermaksud meminta penjelasan. Namun James yang tidak ingin upacara pernikahan mereka jadi hancur gara-gara cincin pernikahan yang salah memutuskan untuk mengambilnya dan memasangkannya di jari manis Hyo Ra.

Maafkan aku, Hyo Ra, gumam Kris dalam hati.

_____________

Kris hanya menatap kosong orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, sesekali dia menyesap pelan jus jeruk di tangannya. Resepsi pernikahan Hyo Ra dan James yang dilaksanakan seusai upacara pernikahan tidak berhasil membuat hati Kris membaik, padahal di sana banyak sekali teman lama Hyo Ra yang tidak lain juga teman-teman Kris. Mereka semua tampak memberi ucapan selamat kepada Hyo Ra, sementara Kris hanya duduk di pojok ruangan dengan tatapan nanar dan sulit diartikan.

“Kris, ikutlah denganku.”

Kris mendongak dan mendapati seorang namja Inggris tengah menatapnya tajam. Kris menghembuskan napas keras kemudian mengikuti ke mana pria bule itu pergi. Mereka berjalan menyusuri lorong dan berhenti di tempat yang agak jauh dengan ruang resepsi.

Bruaaghh!!

Kris jatuh tersungkur ke lantai setelah mendapat pukulan tiba-tiba di pipinya. Cukup keras hingga namja itu lantas merintih dan berusaha kembali berdiri, namun namja bule yang ternyata adalah James itu malah menarik kerah tuxedo Kris kasar.  “Apa maksudmu, hah?! Kau kemanakan cincin pernikahan kami?!”

Perlahan darah mengalir dari ujung bibir Kris yang sobek, namja itu hanya diam dan mengalihkan pandangannya dari tatapan marah James.“Jawab! Kau kemanakan cincin pernikahan kami, hah?!”

“James, hentikan!”

James hendak memukul Kris untuk kedua kalinya ketika dia mendengar seseorang berteriak. Seseorang itu tidak lain adalah Hyo Ra, yeoja itu memandang kedua namja yang tengah bertengkar di hadapannya dengan tatapan takut. “Apa yang kalian lakukan?”

James melepaskan cengkeramannya dari kerah tuxedo Kris, ia lantas berjalan mendekati Hyo Ra dan mengajaknya pergi, namun yeoja itu menolak. Hyo Ra berlari mendekati Kris dan memberikan sebuah sapu tangan pada namja yang tengah terluka itu.

“Hyo Ra, apa yang kau lakukan? Lelaki itu sudah menghancurkan upacara pernikahan kita. Jauh-jauh darinya!”

Hyo Ra masih terdiam di tempatnya, dia menatap cemas ke arah Kris. “Tidak apa-apa, Kris. Aku tahu pasti tidak ada unsur kesengajaan mengenai cincin itu. Aku percaya padamu. Aku percaya kau tak akan pernah mengecewakanku.”

Kris tidak menanggapi ucapan Hyo Ra, ia hanya terdiam.

“Cincin ini? Sebenarnya milik siapa? Kenapa pas sekali di jari manisku?” Hyo Ra tersenyum kepada namja di hadapannya, “Kris?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Lagi-lagi Hyo Ra tersenyum kemudian menepuk pelan punggung Kris. “Maafkan suamiku, Kris.”

Setelah berkata demikian, Hyo Ra pergi meninggalkan Kris yang masih terdiam mematung. Kris melirik jari manis Hyo Ra yang masih mengenakan cincin yang salah, kemudian tersenyum kecut. Ternyata yeoja itu tidak terlalu mempermasalahkan cincin yang salah, selama ini Hyo Ra memang tidak pernah sekalipun marah pada Kris. Bagi Kris, Hyo Ra adalah yeoja penyabar yang mempunyai senyum bagai bidadari dan selalu mampu membuat hatinya tenang.

Hyo Ra, cincin yang kau kenakan sekarang, adalah cincin milikku yang semenjak dulu ingin aku berikan padamu. Kau tahu? Sebenarnya aku selalu membawanya setiap akan bertemu denganmu, agar aku bisa langsung memberikannya ketika melihatmu tersenyum dan kemudian menyatakan perasaanku. Kali ini pun aku membawanya dari rumah, bersama dengan cincin pernikahanmu. Entah apa yang aku harapkan dengan membawanya, namun aku sedikit bersyukur karena cincin itu akhirnya sampai padamu, meski mungkin di saat  yang tidak tepat. Meski hingga saat ini kau tidak tahu perasaanku.

Sekali lagi maafkan aku.

Kris memejamkan matanya, perlahan-lahan berbagai kenangannya bersama Hyo Ra berlalu lalang di pikirannya dengan cepat.

_______

London, two years ago

“Kris, kemarilah pemandangannya sangat bagus di sini!”

Kris tersenyum melihat tingkah yeoja bernama Hyo Ra yang tampak begitu bahagia ketika melihat sungai Thames yang begitu jernih. “Hei, kenapa kau kampungan sekali! Jangan bertingkah seperti orang yang baru satu hari ke London, ok?”

Mendengar itu, Hyo Ra hanya cemberut. Kris terbahak melihat ekspresi lucu yeoja di hadapannya. Hyo Ra kembali berjalan menyusuri tepi sungai Thames, ia tampak benar-benar menikmati suasana yang saat itu cukup lengang. Sementara yeoja itu tampak asyik dengan dunianya sendiri, Kris merogoh saku celana jeansnya. Namja itu mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih dari dalam sakunya, kemudian menyembunyikan benda itu dibalik punggungnya yang tegap. Perlahan ia berjalan mendekati Hyo Ra yang tengah asyik menatap pantulan wajahnya di sungai.

“Hyo Ra, boleh aku bicara sesuatu?” Kris benar-benar menjaga suaranya agar tidak bergetar dan kelihatan grogi.

“Tunggu, Kris. Aku mau bilang sesuatu padamu dulu, boleh kan?”

Kris mengangguk, membuat yeoja bernama Hyo Ra itu tersenyum. “Kau sudah pernah dengar ceritaku tentang seseorang yang menarik perhatianku kan?”

Kris tertegun, ya, dia memang pernah mendengar cerita itu dari mulut Hyo Ra, namun itu sudah lama sekali. Jangan bilang yeoja itu akan membicarakannya lagi sekarang di saat Kris tengah berusaha menyatakan cintanya setelah sebelumnya selalu gagal.

“Aku bertemu dengannya lagi kemarin.”

Ayolah, jangan lagi, batin Kris dalam hati.

“Kami bertemu di café dan berkenalan, namanya James. Kau tahu, ternyata dia lebih tampan kalau dilihat dari dekat.”

Kris mendesah pelan, ia mulai mengerti arah pembicaraan Hyo Ra. Perlahan ia menurunkan tangannya yang tadi terlipat ke belakang untuk menyembunyikan kotak cincinnya, kemudian memasukkannya lagi ke dalam saku celananya. Tentu saja semuanya ia lakukan tanpa Hyo Ra sadari.

Hyo Ra tersenyum, “Kris, aku rasa aku menyukainya.”

Three weeks later …

Kali ini juga Kris memantapkan hatinya untuk memberikan cincin dan menyatakan perasaannya pada Hyo Ra. Ia tepis semua perasaan resah dan takut apabila yeoja itu akan menjauhinya ketika ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya selama ini.

Kris melangkahkan kakinya, mencari sosok yeoja bernama Hyo Ra. Semua tempat di sekeliling kampus telah ia datangi, namun yeoja itu tidak ada di manapun. Dengan langkah gontai seakan menyerah, Kris mengarahkan kaki panjangnya ke sebuah café tidak jauh dari kampusnya.

Ketika memasuki café itu alangkah terkejutnya Kris ketika mendapati yeoja yang sedari tadi dicarinya kini tengah duduk manis dengan seorang namja Inggris di sampingnya. Hyo Ra yang langsung menyadari kehadiran Kris di café itu lantas mengajaknya duduk bersama. Kris tidak sanggup menolak, selain itu ia juga ingin tahu tentang namja Inggris itu lebih banyak.

“Perkenalkan, Kris dia James. James, ini sahabatku, Kris.”

Kris dan James saling berjabat tangan dengan kaku, keduanya saling bertatapan tajam satu sama lain. Dari sudut pandang Kris, James adalah sosok namja kaya yang perfeksionis, terlihat dari betapa rapi dan licin kemejanya. Sesaat tercipta keheningan di antara mereka, namun Hyo Ra dengan sigap mengambil alih situasi dan menciptakan sedikit lelucon. Membuat dua namja itu perlahan tertawa. Mereka kemudian memesan tiga buah kopi kepada pelayan.

“Oh, iya Kris. Aku mau bilang sesuatu.”

Kris berhenti menyesap kopinya yang masih panas, dia memusatkan perhatian pada apa yang akan diucapkan Hyo Ra. Kris mulai menerka-nerka apa yang akan yeoja itu katakan, ia berharap semua tidak akan sesuai dengan perkiraannya.

Hyo Ra tampak tersenyum, “Kris, aku dan James berpacaran.”

Six months later …

Cincin itu masih tersimpan rapi di sebuah kotak putih berbentuk kubus. Kris menatap dalam-dalam cincin yang bentuknya sederhana itu. Sudah berkali-kali ia mencoba memberikan cincin itu pada Hyo Ra, namun semuanya gagal. Kris sontak mengalihkan pandangannya, tidak sanggup menatap benda yang membuat luka di hatinya seakan membesar ketika melihatnya itu.

Kris menghembuskan napas keras kemudian membanting tubuhnya ke sofa, dia memejamkan matanya. Perlahan berbagai kenangan masa lalunya dengan Hyo Ra memenuhi isi kepalanya. Kris mengacak rambutnya kasar, hatinya kini benar-benar terasa sakit. Pertemuan pertamanya dengan yeoja itu, sifat manja dan tengil yeoja itu, hari-hari bahagia yang ia lewati bersama yeoja itu, serta saat di mana Kris mulai menyadari perasaannya yang semakin membesar dari hari ke hari, semuanya berlalu lalang di kepalanya. Dia benci, sangat membenci perasaan sakit itu.

Aku harus melakukan sesuatu, sebelum semuanya benar-benar terlambat, batin Kris.

Kris segera meraih handphone yang ada di meja belajarnya, kemudian mencari nomor telepon Hyo Ra di kontak.

“Hyo Ra, aku ingin mengatakan sesuatu. Bisa kita bertemu?”ucap Kris setelah telepon tersambung.

Seseorang di seberang telepon terdiam agak lama, seakan berusaha mencerna kata-kata Kris, namun sedetik kemudian seseorang itu menjawab, “Maaf Kris, aku benar-benar sibuk saat ini. Bisa lain waktu? Atau kalau memang sangat gawat, katakan saja di telepon sekarang.”

Napas Kris tercekat, apa yang harus ia lakukan? Kris menarik napas dalam-dalam kemudian membulatkan tekadnya untuk mengatakan perasaannya. Ia tahu, Hyo Ra tengah berpacaran dengan James sekarang, dan hal yang ingin dilakukannya sekarang merupakan sesuatu yang tabu apabila dikatakan, dan mungkin saja setelah itu Hyo Ra akan benar-benar menjauhi dan meninggalkannya. Namun Kris tidak peduli, perasaannya mengalahkan rasa takutnya kehilangan yeoja itu, ia merasa lebih baik mengatakan kebenarannya pada Hyo Ra daripada terus memendam perasaan yang kini serasa ingin meledak.

“Hyo Ra. .”

“Kris …”

Mereka berdua berbicara pada saat yang bersamaan, kemudian keduanya terdiam. “Hyo Ra, kau dulu.”kata Kris kemudian.

“Kris, aku dan James akan segera menikah.”

Saat itu juga jantung Kris seakan berhenti berdetak, telepon genggam yang menempel di telinganya terlepas dan jatuh ke lantai, cukup keras. Kris tidak bergerak, lebih tepatnya tidak mampu.

“ ….Kris? Kau masih ada di sana kan? Kris?”

Hyo Ra, yeoja itu belum juga memutuskan sambungan meskipun ia menyadari kalau orang yang diajaknya bicara tidak sekalipun merespon perkataannya.

“Kau tahu Kris? Aku sekarang sedang sibuk memilih gaun untuk pernikahan kami nanti. Oh iya, kau sebagai sahabatku mau kan menjadi pembawa cincin di upacara pernikahan kami nanti?”

Samar-samar Kris mendengar celotehan yeoja itu di telepon, namun ia tetap terdiam, terlalu shock untuk berkata-kata. Kris lantas menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa kemudian menghembuskan napas keras. Kris mengerang pelan, ia merasakan hatinya kini begitu sakit dan perih. Ia yakin, tidak lama lagi hatinya tak akan sanggup merasakan apa-apa lagi, karena kali ini hatinya sudah mulai terkikis rasa sakit dan kemudian akan menghilang selamanya.

Semuanya sudah terlambat.

__________

Present.

Kris memandangi ponselnya dan sontak terbelalak ketika mendapati tujuh missed call dari nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya. Karena penasaran, namja itu pun menghubungi pemilik nomor tak dikenal itu.

Ah. He. . hello. Is there Wu Yi Fan?”ucap seseorang di seberang telepon dengan bahasa Inggris yang terdengar payah sekali.

Kris membulatkan matanya begitu mendengar seseorang itu memanggilnya dengan nama aslinya. “Yeah, its me. Who is there?

Seseorang di seberang terdiam agak lama, kemudian berkata lagi. “I’am Chan yeol, ummm.. I call you because .. hmm .. your ring…

Kris tersentak, “Ring?

_________

Kris menyusuri jalanan di sepanjang Tower Bridge, jembatan yang membentang di atas Sungai Thames dengan langkah cepat. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tampak mencari seseorang. Kris berjalan sembari memandangi Sungai Thames yang kini berada pada jarak 42 meter di bawahnya, kemudian menghela napas keras. Tentu saja, bagi Kris Sungai Thames punya banyak kenangan untuknya, tempat itu memang tempat yang paling sering Kris dan Hyo Ra datangi.

Tiba-tiba langkah Kris terhenti ketika ia melihat seseorang di koridor jembatan, seseorang yang ia cari. Seseorang itu tampak memandangi keindahan kota London, namun di wajahnya tidak terbentuk seulas senyum pun. Ia lebih terlihat melamun.

Excuse me.

Ucapan Kris membuat seseorang itu tersentak, kemudian membungkuk dalam-dalam ketika ia melihat Kris. Kris pun balas membungkuk. “Are you Chan Yeol?

Seseorang yang Kris panggil Chan Yeol itu mengangguk ragu-ragu. Kemudian ia merogoh saku mantel cokelatnya dan mengeluarkan sebuah kotak berbentuk kubus dan berwarna putih. Diserahkannya benda itu pada Kris sementara Kris tampak menghembuskan napas keras seakan malas untuk melihat benda itu lagi.

“Kamsahamnida, Chan Yeol ssi.”ucap Kris sambil tersenyum, membuat Chan Yeol perlahan terperangah.

Kris tersenyum lagi, kemudian mengulurkan tangannya pada Chan Yeol. “Maaf karena membuatmu bingung. Aku bisa berbahasa Korea, kok. Perkenalkan, aku Wu Yi Fan, panggil saja Kris.”

Chan Yeol tampak menghembuskan napas lega, kemudian membalas jabatan tangan Kris. Ia lantas memasang wajah kenapa-tidak-bilang-dari-tadi, “Chan Yeol imnida.”

Kris terkikik melihat ekspresi Chan Yeol, sementara Chan Yeol hanya menggaruk kepalanya, salah tingkah. Kemudian di saat yang hampir bersamaan keduanya bersandar pada jembatan dan mulai memandangi Sungai Thames yang kini berada di hadapan mereka. Tercipta keheningan di antara mereka berdua, Kris dan Chan Yeol tampak larut dalam pikirannya masing-masing.

“Ah, maaf. Sebenarnya itu cincin pernikahan bukan?”

Kris tersadar dari lamunannya kemudian tersenyum samar. Kris yakin namja di sampingnya itu tengah berusaha membangun percakapan di antara mereka, menandakan bahwa ia cukup perhatian dengan Kris yang memang terlihat kacau. “Ya. Itu cincin pernikahan sahabatku.”

“Sahabatku. Yah, sahabat yang aku cintai.”lanjut Kris sembari tersenyum kecut.

Chan Yeol hanya terdiam, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. “Hari ini pernikahannya, dan aku yang menjadi pembawa cincin di upacara pernikahannya.”

Kris menghembuskan napas keras. “Aku bangun terlambat pagi ini, kau tahu kenapa? Karena aku memikirkannya sampai malam. Aku memikirkan wajah apa yang harus aku pasang saat ia mengucapkan ikrarnya nanti? Saat ia menatap wajah suaminya dengan senyum merekah lalu kemudian menciumnya di depanku? Dengan wajah apa aku harus mengucapkan selamat kepadanya? Di mana aku harus meletakkan hatiku? Haha, konyol sekali bukan.”

Kris tertawa, namun Chan Yeol hanya terdiam karena merasa tidak ada yang perlu ditertawakan, ia lantas memandang Kris simpati. “Bukankah aku yang menyukainya dulu, aku yang menyukai yeoja itu bahkan mungkin perasaan itu sudah ada sejak pertama kali aku mengenalnya. Tapi kenapa ia memilih orang lain. Bukannya yang selama ini akulah yang selalu ada di sampingnya. Waeyo?”

Chan Yeol menepuk punggung Kris, bermaksud menenangkan namja yang tampak benar-benar rapuh itu. “Mianhae, aku berbicara terlalu banyak ya.”ucap Kris kemudian.

“Gwenchanayo, Kris ssi. Lanjutkan saja ceritamu dan aku akan mendengarnya.”

Kris tersenyum untuk kesekian kalinya lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Saat ini Kris memang benar-benar butuh seseorang untuk berbagi keluh kesah, dan entah kenapa dengan Chan Yeol yang baru ditemuinya ia malah ingin bercerita banyak hal.

“Gadis itu dari Korea, oleh karena itu aku berusaha keras memahami dan mempelajari bahasa ibunya itu. Aku benar-benar suka semua hal berhubungan dengannya. Selama ini aku selalu berusaha menyatakan perasaanku, namun selalu gagal. Hingga akhirnya ia jatuh ke pelukan orang lain, hingga akhirnya ia benar-benar telah menikah dengan orang lain dan sampai saat ini ia belum tahu perasaanku. Aku tahu, kini semuanya sudah terlambat.”

Kris menghembuskan napasnya keras kemudian menoleh ke arah Chan Yeol. “Chan Yeol ssi. Ada yeoja yang kau sukai?”

Chan Yeol hanya terdiam, heran dengan Kris yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Kalau diam tandanya ada kan?”ejek Kris, membuat seulas senyum kecut terbentuk di sudut bibir Chan Yeol.

“Yeoja yang aku cintai menyukai sahabatku sendiri.”

Udara di sekitar Chan Yeol terasa berat, ia merasa tubuhnya menegang.

“Selama ini aku hanya sanggup memandanginya, dan aku tidak pernah berniat untuk menemuinya. Sahabatkulah yang selalu membantuku untuk lebih mengenal yeoja itu. Aku selalu memberikan sesuatu untuk yeoja itu lewat sahabatku.”

“Kenapa kau tidak menemuinya dan langsung menyatakan perasaanmu?”

Alis Chan Yeol perlahan terangkat, kemudian namja itu tersenyum sendu. “Aku tidak bisa. Sekalipun aku bertemu dengannya semuanya akan sia-sia pada akhirnya.”

“Chan Yeol ssi, kau tahu, tidak ada yang sia-sia kan?”

Chan Yeol hanya terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh tanya Kris. Chan Yeol menatap kosong aliran sungai Thames yang ada di hadapannya.

“Sebelum terlambat Chan Yeol ssi. Setidaknya biarlah gadis itu tahu perasaanmu. Yah, supaya nasibmu tidak sama sepertiku.”ucap Kris dengan tatapan menerawang.

“Seandainya setelah aku mengenalnya, bagaimana jika aku tiba-tiba pergi selamanya? Bukannya yeoja itu juga akan bersedih? Daripada yeoja itu bersedih, lebih baik ia tidak mengenalku sama sekali.”

Kris terbelalak, “Maksudmu?”

Chan Yeol tersenyum getir. “Hidupku tidak lama lagi.”

Hening. Tidak ada suara di antara mereka berdua, hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang di sekitar mereka. Tiba-tiba Kris beranjak dari tempatnya, kemudian mengguncang keras bahu Chan Yeol. “Dasar bodoh, justru di saat seperti inilah kau harus mengatakan semuanya pada yeoja itu! Katakan kalau kau mencintainya, kau tahu, yang paling menyedihkan adalah menyembunyikan perasaan sampai mati!”

Chan Yeol mendengus, lalu menatap garang ke arah Kris “Lalu, apa bedanya denganmu, hah?! Tidak usah sok menggurui seakan-akan cintamu berjalan lancar, kau juga sama! Kau juga sama gagalnya seperti aku!”

Kris terbelalak, tidak percaya dengan bentakan Chan Yeol barusan. Chan Yeol mengalihkan pandangannya dari wajah Kris, tiba-tiba ia merasakan kepalanya pening dan badannya limbung. Pandangan matanya kabur seketika. Chan Yeol berusaha menahan tubuhnya untuk tetap berdiri, namun tidak mampu. Namja itu lantas jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang sakit.

“Chan Yeol ssi!” Kris berteriak keras ketika melihat setetes darah mengalir dari lubang hidung Chan Yeol. Kris bermaksud memegangi badan Chan Yeol yang nampak berusaha berdiri , namun namja itu menepis tangannya keras.

“Lepaska …”

Detik itu juga Chan Yeol merasakan dunianya seketika menggelap.

________

Rumah Sakit St. Maria, London

Hari sudah hampir sore, tetapi suasana di rumah sakit itu masih saja ramai. Tampak di salah satu sudut ruangan dua orang tengah duduk sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, keduanya terlihat menunggu sesuatu.

“Kita semakin dekat dengan Chan Yeol.”

Jin Ri mengangguk pelan. “Aku tidak menyangka kita berada di rumah sakit tempat Chan Yeol biasa berobat. Aku selalu berpikir mencarinya akan memakan waktu lama.”

Baek Hyun tersenyum. “Kata petugas rumah sakit, ia akan kembali sore ini untuk mengambil hasil check up. Semoga kita bisa segera bertemu dengannya.”

Baek Hyun menghembuskan napas pelan kemudian menempelkan punggunggnya pada sandaran kursi. Dalam hati, ia berteriak lega karena setelah ini ia akan segera bisa bertemu sahabatnya lagi. Perasaannya terbukti benar, Chan Yeol masih hidup. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit ketiga yang ia dan Jin Ri kunjungi. Betapa senang hatinya ketika salah seorang petugas di rumah sakit ini membenarkan adanya seorang pasien bernama Park Chan Yeol.

“Baek Hyun ah, aku tahu ini mungkin bukan saat yang tepat untuk mengatakannya.”

Baek Hyun tersentak dari lamunannya dan lantas menatap yeoja yang kini duduk di sampingnya. Sekilas ia menangkap raut wajah sendu yeoja itu.

“Aku tidak seperti yang Chan Yeol pikirkan.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak menyukaimu seperti yang Chan Yeol pikirkan.”

Entah kenapa saat itu juga Baek Hyun merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Tiba-tiba ia merasakan desiran aneh di hatinya, perasaan yang menyesakkan. Dan menyakitkan.

“A .. aku tahu.”ucap Baek Hyun kemudian.

Jin Ri tersenyum, “Aku hanya tidak ingin kau salah sangka mengira aku menyukaimu.”

Baek Hyun tersenyum getir, “Ten.. tentu saja.”

Tercipta keheningan lagi di antara Baek Hyun dan Jin Ri. Tidak tahu harus membicarakan apa, keduanya lantas kembali larut dalam pikiran masing-masing. Jin Ri tampak memilin-milin ujung bajunya, ia merasa canggung setelah mengatakan apa yang telah ia pikirkan semalam kepada Baek Hyun tadi. Sementara Baek Hyun mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat hatinya tiba-tiba terasa sakit.

Suara sirine ambulans yang tiba-tiba memecah lamunan Jin Ri, begitu pun dengan Baek Hyun. Keduanya lantas memandangi lekat-lekat petugas-petugas rumah sakit yang berlarian kemudian mengerumuni mobil ambulans itu. Seorang petugas menurunkan tandu dari dalam mobil, namun Baek Hyun dan Jin Ri tidak dapat melihat jelas seseorang yang terbaring di atas tandu itu. Keduanya hanya melihat sesosok namja tampan berpostur tinggi yang ikut turun dari mobil ambulans. Namja itu lalu mengikuti kemana petugas-petugas rumah sakit pergi dengan raut cemas terukir jelas di wajahnya.

Para petugas itu melewati lorong di depan Baek Hyun dan Jin Ri duduk. Baek Hyun lantas menatap rombongan yang tengah tergesa-gesa itu lekat-lekat, kemudian pandangannya beralih ke arah seseorang yang berada di atas tandu sorong. Baek Hyun memelototkan matanya ketika mendapati betapa ia familiar dengan tubuh yang jenjang itu, mantel dan sepatu kets yang dikenakan orang itu, serta rambut ikal itu. Baek Hyun merasa seseorang itu mirip dengan …

Tiba-tiba Baek Hyun beranjak dari tempatnya duduk.

“Chan Yeol ah!!”

__TBC__

Finally, part 3 selesai juga^^. Gimana chingu kesan kamu setelah baca ff yang tambah geje ini ? -___- oh, iya author juga mau bilang terimakasih karena udah minjem nama seseorang yang nama koreanya Kim Hyo Ra (annisa00bgt)^^

Jadi, FF ini selalu punya main cast yang berbeda untuk tiap partnya, tapi ceritanya tetep nyambung sama part sebelumnya. Karena itu, bacanya yang urut yah ^^. Untuk next part (4th part) ada yang bisa nebak siapa yang bakal jadi main castnya? Wkwkwk, doakan author ga lama” ya bikinnya #plak.

Comment like oxygen, readers. Gomawo ^^

177 responses to “[Kris’] Wedding Pain

  1. aku sempat ngira si kris nabrak chanyeol pas di RS.
    kirain ceritanya bakal sinetronisme, alias semacam Kris buru-buru nyamperin calon istrinya di UGD yang kena accident, taunya nabraknya pas di luar yak dan…….ngga jadi sinetronisme dan ini nomu daebak lah!!!!!

    anyway, pasti seru kalo Kris pas acara nikahan ngasi minuman yang udah dicampur baygon ke mempelai lakinya jadi tar hyora nikah sama dia. wahahahaha [otak sinetron. mianhe.]

  2. Makin keren kok thor ^o^b
    itu Baekhyun knpa? Apa dia suka ama Jin Ri?
    Aaaa~ penasaran..
    Lanjut~

  3. Unnie kok setiap ending per chapter gantung ya?? Apa di chap dpn chanyeol baek jinri msh lnjt lg ceritanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s