(Dooyoon Moment) You’re My Bride

(before this series : love in the same sight | I really want to marry you 12)

Author : Dwlee87

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : one shot

Main Casts : Yoon Doojoon, Heo Gayoon

Disclaimer : nama diatas milik mereka sendiri, saya hanya memiliki ceritanya

Authors note : ff ini pernah di publish di fan3less dan blog pribadi dooyooncouple (ff ini rewrite dari yang pernah kutulis dulu Xp)

I promise that I’ll never change

I promise you eternity

Your two cheeks blush

You shyly lower your head

I will love you forever

(Marry me – Kim hyun Joong)

This happy story begin………

Gayoon POV

Kutarik nafasku panjang di depan kaca kamarku. Kulihat rambutku dan bajuku dengan seksama. Prefect I think, tapi kenapa kegelisahan ini tidak juga hilang? Jantungku terus berdegup dan badanku berjalan kesana kemari tanpa kuperintah. Kulihat lagi tasku memeriksa berkas-berkas yang sekiranya kugunakan nanti, semuanya sudah kusiapkan dengan baik. Kududuki kasurku dengan gelisah sembari melihat jam tanganku. Tenanglah heo gayoon….tenang…….semua akan berjalan seperti biasa…..Kutarik lagi nafasku panjang untuk menata irama jantungku.

“Gayoon-a, Doojoon sudah datang, cepatlah!”

DEG!

Kupastikan kalau jantungku masih berjalan normal walau sedikit terasa sesak akibat terkejut dengan paggilan ommaku. Kurapikan rambut dan bajuku, akupun melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu. Tampak doojoon yang tersenyum puas setelah melihatku dari kepala hingga ujung kaki

“Sudah siap?”

Akupun mengangguk.

“ Aku sudah tak sabar! Ayo!” kata ommaku

Doojoon mengisyaratkan padaku untuk menggamit lengannya. Akupun menggamit lengannya dengan cepat. Oh Tuhan…degup jantungku semakin kencang dengan kecepatan yang luar biasa. Kenapa aku bisa segugup ini. Kulihat Doojoon yang tampak tenang disampingku. Apa rahasianya bisa setenang itu? Apa hanya aku yang terlalu gugup?

“Gugup?” tanyanya. Aku sedikit tersentak

“Ne….” ujarku menghela nafas.

Ditepuknya tanganku yang menggamitnya

“Sama….” Ujarnya tersenyum

“Kau? Gugup? Aku melihatmu sepertinya tenang sekali”

Dialihkannya tanganku yang tadi menggamitnya ke arah dadanya. Kurasakan degup jantung yang sangat kencang disitu.

“Puas?”

Aku tersenyum simpul. Kunaiki mobil yang disetir oleh tunanganku, sedangkan orang tua kami menaiki mobil limo mengikuti kami. Hari ini adalah H-3 acara pernikahan kami, dan sekarang kami semua menuju kantor catatan sipil. Untuk apa? Tentu saja mencatatkan Doojoon dan aku sebagai suami istri. Intinya, walau pernikahannya masih 3 hari lagi, tapi status sebagai istri akan kudapatkan hari ini. Itulah yang membuatku gugup sedari tadi.

Kumainkan iphoneku tanpa arti, kubuka menunya tanpa tujuan. Beberapa kali aku melihat Doojoon yang menikmati kegiatan menyetirnya. Kutarik nafas panjang dan kuhela perlahan.Tiba-tiba kurasakan punggungku ditepuk perlahan

“Tenanglah, menikah tidak serumit yang kaupikirkan,” ucapnya

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

Beberapa saat sampailah kami di kantor catatan sipil. Orang tua kami memasuki kantor itu terlebih dulu. Kupegang dadaku dan sepertinya jantungku masih berdegup sekencang tadi, tapi antusiasmeku mengalahkan kegugupanku. Doojoon yang disampingku tersenyum menggamit erat tanganku dan mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

*****

“Tolong diisi disini, jika sudah selesai anda boleh memanggil saya.”

“Kamsahamnida..” ucap kami berdua

Kuamati formulir itu dengan seksama. Keringat dingin mulai membasahi tanganku.

“Kau dulu atau aku?” tanya doojoon padaku

Kuraih ballpointku cepat dan kububuhkan tandatangan di formulir itu. Setelah selesai, kuberikan formulir itu pada namja di sebelahku dan dengan cepat pula dia membubuhkan tanda tangannya. Setelah dia selesai, giliran orang tua kami yang mencantumkan tanda tangannya masing-masing sebagai saksi.

“Ah…selesai! Akhirnya kalian resmi menjadi suami istri adeul-a” ucap ommaku

“Naeui anae? (istriku?)” dipeluknya pundakku secara mendadak oleh doojoon membuatku sedikit terkaget

“Eits jangan norak! Ini belum distempel petugas” ucapku sembari melepas pelukannya

Segera kami panggil petugas kantor dan dengan cepat formulir itu menjadi berstempel. Kini secara resmi kami berdua telah menjadi suami istri. Tidak ada perbedaan signifikan dengan status itu saat ini, tapi entah kenapa ada keterikatan tersendiri dengan status itu. Status yang membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain.

“Kami harus kembali ke kantor, minggu  ini kalian urus saja urusan kalian, masalah kantor serahkan pada kami semua,” ucap yoon appa

“Ne appa, gomawoyo,” ucap doojoon

“Kami berangkat dulu, nikmati waktu kalian.”

Mereka semuapun pergi meninggalkan kami berdua di depan kantor catatan sipil.

“Kita mau kemana setelah ini? Masalah pernikahan sudah beres kan? “

“Kau lupa? Kita belum foto pre wedding gara-gara acara kaburmu itu!”

“Ah…….mianhe…” Bagaimana aku lupa hal sepenting itu?

“Tidak ke luar kota kan? Tidak usah terlalu rumit , sederhana saja…….” ucapku

Doojoon hanya tersenyum dan menarik tanganku menuju mobilnya

Doojoon POV

“Yak….Heo agassi, tolong lingkarkan tanganmu di leher tuan Yoon, ah..ya seperti itu, prefect sekali! Tuan Yoon tolong berkespresi tertawa sembari membaca buku dan nona Heo juga…siap….KLIK!KLIK!KLIK”

Dengan arahan fotografer itu kami berdua berfoto layaknya artis yang sedang menjalani proses photoshoot. Scene demi scene kami jalani dan beberapa di antaranya aku mengambil kesempatan untuk menggoda yoja yang sudah berstatus istriku itu.

“Hadap sini, dari tadi kau melihat kamera terus.”

“Kan sedang difoto, tidak boleh lihat kamera…”

“Ish…kau ini, apa tidak tahu foto prewedding itu seperti apa?”

“Memang harus seperti apa?”

“Hyung-nim, biarkan kami berfoto dengan pose kami sendiri tak apa kan?”

“Oh tentu saja tuan silahkan.”

Gayoon menatapku bingung, segera kueratkan pelukanku dan memberinya backhug sehingga membuatnya sedikit kaget.

“Yah! Jangan tiba-tiba begini!”

Bukannya kukendurkan, tapi aku semakin mempererat pelukanku.

“Ayo senyum, foto prewedding kan harusnya begini….mesra…”

Gayoon menggembungkan pipinya dan menatapku, berusaha melihat kamera dengan tersenyum.

Kenapa dia selalu bisa membuatku gemas? My cutie wife~~

Sejenak aku mengangkat tangannya dan mengalungkannya di pundakku, aku merangkul pinggangnya dan melihat wajahnya yang menegang. Wajah yang selalu terpampang ketika aku mendekati wajahnya.

“Rilekslah, nanti hasil fotonya jelek.” Aku menjulurkan lidahku untuk menggodanya. Gayoon hanya menarik nafas dan berusaha berpose serileks mungkin. Melihat wajahnya yang sudah mulai rileks, tanpa dia sadari, aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya perlahan.

“Yah!” Lenganku dipukulnya keras dan membuatku memicingkan mata, haha, biarlah, aku sudah mencuri satu ciuman darinya.

“Woah…..this great! “ teriak fotografer itu. Aku meninggalkan Gayoon yang sibuk menutupi wajah merahnya melihat hasil foto yang baru saja di ambil oleh fotografer itu. “Kau mengambilnya dengan baik sekali” ucapku.

“Yobeo….bisakah kau tidak menggodaku hari ini? Sudah cukup aku capek mengatur jantungku….”

“Permintaanmu kali ini kutolak…”

“Wae….”

“Menghukummu yang sudah membuatku 2 minggu merindukanmu….jantungmu takkan kubiarkan istirahat hari ini. Lagipula aku suka melihat wajahmu merah, kau makin cantik dengan rona merah muda itu.”

Gayoon hanya menatapku terdiam, salah tingkah. Wajah yang sudah dihiasi oleh blush on merah muda itu semakin terlihat merah akibat malu sepertinya. Dia mendekatiku dan merengkuh lenganku, aku menatapnya terkejut, melihat dia menyandarkan kepalanya di lenganku.

“Begitu maumu…? Kalau begitu aku juga takkan membiarkan jantungmu istirahat kali ini.”

“Mwo?”

Kerah bajuku ditariknya dan dia menciumku, sedikit lebih lama dari yang biasa kami lakukan. Genderang jantungku seketika bertabuh begitu kencang dan kerongkonganku menelan ludah seketika. Gayoon menjauhkan wajahnya, memgang dadaku yang kini menabuhkan debar yang luar biasa.

“Aku berhasil kali ini, jangan kira bisa mengalahkanku!” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya, aigo….kapan aku bisa menang dari yoja ini?

“Istri anda agresif ya tuan?”tanya fotografer itu

“Ya….dan aku selalu pusing dengan sikapnya yang membingungkan.”

*****

Sesi poto prewedding inipun terus berlanjut sampai entah berapa kali kami harus berganti pakaian. Aku tak menyangka pemotretan itu memakan waktu lama dan sangat melelahkan. Setelah beberapa jam, kamipun selesai menyelesaikan foto prewedding kami. Kulihat Gayoon yang sedikit kelelahan meregangkan otot-ototnya dan sedikit memijat lehernya.

“Kau lelah?”tanyaku

“Ne….sedikit…lagipula ini gara-gara aku…jadinya kita harus melakukan foto prewedding dalam sehari…mianhe…”ucapnya

“Ehm…….kalau aku masih ingin mengajakmu ke suatu tempat masih kuat?” tanyaku

“Pemotretan pre wedding juga sudah, apa lagi yang harus kita urus?” tanyaku

“Aku ingin kau ikut denganku ke suatu tempat yang bisa membuatmu senang dan terkejut”

GAYOON POV

Aish…..tatapan nakalnya itu….apa yang bisa aku tolak dari tatapan itu? Tempat yang membuatku terkejut? Memangnya tempat apa..? Sejujurnya aku begitu lelah…tapi rasa penasaran menyelimutiku dan mengalahkan rasa capekku.

“Kemana?”tanyaku

“Sudahlah ikut saja, tidak surprise kalau kukatakan sekarang,”

Cowok ini mulai lagi, senang sekali bermain rahasia denganku

“Ne…ne…arasseo…..aku ganti baju dulu…..”

Segera kuganti bajuku dan sedikit membenahi makeupku. Setelah itu akupun berpamitan bersama Doojoon kepada kru-kru yang mengurus foto prewedding kami. Kamipun bersama berjalan ke tempat parkir dan Doojoon dengan segera membukakan pintu tempat penumpang di sebelah pengemudi. Kutempatkan diriku di tempat duduk samping pengemudi seperti biasa. Doojoon hanya bersiul riang tanpa sedikitpun berbicara denganku. Doojoonpun segera menancap gas mobilnya dan meninggalkan tempat foto preweddin kami.

“Sebenarnya kita mau kemana sih?” tanyaku memaksa

“Sudahlah, nanti juga kamu tahu, sebentar lagi sampai kok.” Ujarnya tersenyum

Aku hanya bisa memanyunkan bibirku melihat senyumnya itu. Selang beberapa saat, kami tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Doojoon memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah tersebut.

“Ini rumah siapa? Kenapa kamu membawaku kemari?”

Doojoon hanya tersenyum memandangku dan menarik tanganku ke depan pintu rumah itu. Dibukanya telapak tangan kananku dan diberikannya sebuah kunci.

“Kunci apa ini?”

“Kunci rumah ini.” Jawabnya

“Mwo???????” aku membelalakkan mataku tak percaya

“Kita sudah menikah, tak lucu kan kalau kita belum punya rumah? Sudah lama aku merencanakan membeli rumah ini sebagai hadiah pernikahan kita, tak suka?” tanyanya

“Bukannya tak suka…..Cuma….aku terlalu terkejut, tak percaya rasanya kamu melakukan ini semua…”

“Tak sopan! Ayo cepat buka!”

Aku sedikit tertawa. Kubuka pintu rumah itu dengan kunci yang diberikan padaku. Kumasuki rumah itu dengan Doojoon yang mengikutiku dari belakang. Kulihat ruang tamu yang begitu elegan dengan lantai dan tembok krem yang membungkusnya. Kujejakkan langkah kakiku lebih jauh lagi ke dalam menuju ruang tengah. Padanan sofa putih dan furniture lain berwarna putih serta dua pot besar yang diletakkan begitu seimbang di ruang itu membuatku menahan nafas. Pajangan ruangan yang tepat diletakkan secara tak berlebihan. Tirai jendela vertikalnya membuatku melihat ruangan ini semakin nampak elegan

Akupun berlari menuju pintu belakang dengan penuh antusias. Terdapat  beberapa pot besar dengan tanaman yang menghijaukan pandanganku. Tempat duduk kecil yang diletakkan di tengah-tengahnya seakan mengundangku untuk bersantai sembari menikmati angin taman. Tangga yang meliuk ke atas ditempatkan seimbang nan apik di ruangan itu. Senyumku semakin mengambang tanpa sadar. Kupandang Doojoon yang melihat wajah puasku.

“Joha?”

“Ne……nomu joha…….bagaimana kau bisa mendapatkan rumah sebagus ini?” tanyaku

“Aku membangunnya dan meminta teman arsitekku untuk membuatkannya, aku senang kalau kau suka.”

“Antarkan aku ke tempat lain.” Pintaku. Doojoonpun menggandeng tanganku menuju suatu tempat. Kulihat furniture berwarna biru mendominasi ruangan itu. Kursi-kursi panjang tanpa sandaran ditata berjajar rapi di depan keramik yang digunakan sebagai meja dengan kaca transparan di atasnya. Kuamati dengan seksama dan tak kusangka dia mengantarkanku ke dapur. Walaupun itu dapur, tapi tumbuhan hijau masih terhiaskan di ruangan itu.

“Kau suka masak kan? Apa kau suka dapur seperti ini” tanyanya

Aku mengangguk kencang. Ya Tuhan, aku bersyukur begitu kau berkahi kenikmatan seperti ini.

“Ehm…..jjamkanman, kau belum mengantarkanku ke kamar? Kamar kita dimana? Aku ingin melihatnya.”

“Kau sudah melewatinya tadi, ada disana.” Doojoon menunjukkan kamar pojok di dekat ruang tengah. Akupun berlari memasuki kamar itu . Kasur double bed dengan alas berwarna merah. Televisi flat screen diletakkan di hadapannya. Atap yang bisa melihat langit-langit. Lantai bermotif kayu dan furniture yang didominasi warna coklat membuat kamar tidur ini terasa sejuk untuk ditempati. Kaca dengan berbagai arah membuatku merasa hangat dengan cahaya yang memasuki kamar itu

“Aku betul-betul tak menyangka seleramu sebagus ini.” Ucapku

 

“Kau memuji atau menghina nih?”

 

“Terserah interpretasimu…..aku maunya memuji kok X3.”

 

“Ish kau ini, senang sekali ya menggodaku, mau balas dendam?”

 

“Anggap saja begitu…..,kasurnya tidak kebesaran?”

 

“Kan buat berdua….segini masa kebesaran?”

 

“Iya juga ya, lupa…..” aku menjitak kepalaku sendiri.

 

“Rumah ini kapan bisa ditempati ?” tanyaku

 

“Sekarang juga bisa, masalah administrasi dan lain-lain sudah beres kok, mau dipakai?” tanyanya dengan tampang…….agak mesum kulihat. Dasar namja!

“Besok saja! Tidak lucu memakai rumah sebelum resepsi.”

 

“Aish…..iya…iya…..3 hari lagi resepsi kita, istirahat yang cukup ya…naeui anae…” dikecupnya perlahan keningku seakan dia ingin menandakan kalau aku sudah terikat.

 

“Ne….naeui nampyon.” Kubalas perlakuannya tadi dengan kecupan di pipi kanannya. Dia hanya tersenyum simpul dan mengusap rambutku.

 

DOOJOON POV

 

“Jangan mondar-mandir! Kau ini menghalangi jalan saja.” Ucap ommaku yang sedari tadi sibuk keluar masuk ruangan yang menjadi tempat persiapan mempelai wanita.

 

“Appa….kenapa aku gugup sekali? Padahal kemarin tidak begini.”ucapku

 

“Biasa……gugup pernikahan….dulu appa juga begitu kok.”

 

Aku memanyunkan bibirku. Kutatap pintu yang tertutup di hadapanku. Terdengar suara canda tawa dibaliknya. Ah….toh nanti aku juga melihatnya kan? Kenapa pula aku tak bisa melihat istriku sendiri?

 

“Doojoon-a, tempatmu tidak disini! 15 menit lagi acara dimulai, tunggu dibalik pintu resepsi.” Ujar ommaku

 

“ah ne….”aku mengangguk dan menggaruk kepalaku yang tak gatal.

 

Akupun berjalan menuju pintu. Aku tetap dengan kegiatanku sedari tadi. Mondar mandir tanpa pikiran dan tujuan yang jelas. Kutengok kiri dan kanan. Bermain dengan iphoneku, tapi semuanya tidak menghentikan kegugupanku. Aish…..jinjja! Kenapa 15 menit itu begitu lama? Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melakukan kegiatan yang tidak jelas seperti ini. Tiba-tiba punggungku ditepuk dari belakang. Akupun menoleh. Yoja yang terbalut gaun putih dan bertudung kecil dengan mahkota mungil di atasnya, tersenyum padaku dan menggandeng lenganku. Dia nampak begitu senang melihatku yang masih belum kembali pada kesadaranku karena terkesima melihatnya.

 

“Yeppo?” tanyanya

 

“Ne…. jongmal yeppo…….kenapa aku selalu terkesima melihatmu?”

 

“Karena aku terlalu cantik? (merong)”

 

“Sepertinya begitu.” Kucium bibirnya yang terbalut lipstik merah mawar itu, ehm? Sepertinya keinginanku menciumnya berhasil digagalkannya. Ditutupnya bibirnya cepat sebelum bibirku berasil menyentuhnya.

 

“Wae? Kita kan sudah suami istri?” protesku

 

“Nanti lipstiknya hilang, lagipula nanti juga kita akan berciuman, sabar dong.”

 

“No….jinjja….sama suami sendiri pelit sekali!”

 

“Bukan pelit….aku kan hanya melatih kesabaranmu.”

 

Ah….ini yoja, selalu saja bisa mengelak. Lenganku tetap dipeluknya erat dengan senyumnya yang terus mengambang di wajahnya. Wajahnya itu cukup untuk membuatku menahan ketidaksabaranku.

 

“Mempelai memasuki ruangan.” Teriak mc yang ada dibalik pintu

Perlahan pintu resepsipun dibuka. Aku menarik nafasku. Terus terang aku tak suka dengan pesta glamour ataupun semacamnya. Tetapi semua ini menyangkut nama baik dua perusahaan. Baik perusahaan  Heo ataupun keluarga Yoon. Aku tak ingin karena keegoisanku, usaha dan hasil yang sudah kuraih hilang begitu saja. Pintu resepsipun terbuka penuh. Terdengar sorak sorai undangan pernikahan kami. Kamipun tersenyum dan melempar pandangan kami ke setiap undangan yang kami lihat. Lantai hall dengan karpet indah menghiasi perjalanan kami menuju podium hall. Lampu-lampu kecil menghiasi berbagai sudut ruangan. Buket-buket bungapun tertata apik di setiap meja lengkap dengan lilin-lilinnya. Beberapa tempat dihhiasi dengan photo prewedding kami berdua. Yah…walau aku tak suka pesta glamour, tapi penataan hall ini sedikit banyak membuatku takjub.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seseorang, bukankah itu Junhyung? Apa Gayoon mengundangnya?

 

“Kau mengundangnya?”tanyaku berbisik pada Gayoon

 

“Siapa?”tanyanya

 

“Junhyung! Kau mengundangnya? Lebih baik dia tak usah kau undang!” ucapku sedikit cemburu

 

“Ya! apa kau tak lihat di sebelahnya? Itu Hara, dan mereka sudah mencintai satu sama lain, masalahku dengannya sudah selesai selama kau ke Jepang….Ah…..!” Gayoonpun menghindari pandangan mataku

 

“Selama aku ke Jepang kau bertemu dengannya ya?Aish….”

 

“Ah! Pokoknya masalahku dengannya sudah selesai! Titik! Masa kau tak percaya padaku sih???aduh….tidak lucu kita bertengkar pada saat seperti ini hanya gara-gara kesalahpahamanmu!” ujarnya mencubitku tanda tak terima

 

Kutahan tawaku, sebenarnya aku sangat percaya padanya, hanya saja aku ingin melihat wajah marahnya yang selalu imut kulihat itu. Kucubit pipinya perlahan.

 

“Kau suka sekali mencubit pipiku ya?!”tanyanya tak terima

 

“Ne….nomu joha, mau protes?”tanyanya

 

“Iya….aku protes….rasakan!”dia kembali mencubit lenganku dengan kekuatan agak full sepertinya, sakit sekali  kurasakan.

 

“Yah! Sakit!”

 

“Salahmu…….”

 

Kamipun melewati tempat Junhyung dan Hara. Kulihat Junhyung tersenyum begitu tulus ketika kami melewatinya. Sepertinya benar kata Gayoon. Masalah diantara mereka sudah selesai. Yah….semoga kau dan Hara bisa berbahagia seperti kami.

 

Tepuk tangan undangan mengantarkan kami menuju podium hall. Kamipun segera diperkenalkan dengan biografi kami masing-masing. Setelah diperkenalkan kamipun dipersilahkan duduk. Acara awal adalah kata sambutan dari orang tua kami kemudian dilanjutkan dengan kerabat terdekat dan sahabat-sahabat kami.

 

“ Doojoon itu dulu begitu playboy, tapi semenjak bertemu Gayoon dia berubah, aku bersyukur ada yang merubahnya hingga menjadi sukses seperti saat ini.” Ucap Gikwang yang berhasil membuatku hampir menyemburkan minumanku. Kulihat Gayoon tertawa mengikik memandangku. Aku hanya memanyunkan bibirku seketika.

 

“Gayoon itu yoja yang keras kepala……sebenarnya aku salut dengan Doojoon yang bisa tahan dengan sifat keras kepalanya itu.”ucap jieun yang kusetujui dengan anggukan kepalaku. Gayoon yang melihatkupun segera melancarkan pukulan mautnya di lenganku.

 

“Sakit ah!”

 

“Bodo!” ujarnya sedikit marah.

 

Setelah beberapa kata sambutan, acara hiburanpun dimulai. Sebelum pengisi acara, terlebih dahulu diadakan unjuk kebolehan baik dari kerabat ataupun teman-teman kami. Ada yang menyuguhkan nyanyian, adapula yang menyuguhkan tarian. Kamipun begitu menikmati satu persatu pertunjukan yang disuguhkan.

 

“Ehm…..sebenarnya aku tak bisa menari dan menyanyi….maka dari itu aku akan memberikan kado yang mungkin sedikit berbeda dari yang lain just for Gayoon only,” ucap Jieun yang tak ayal adalah sahabat terdekat Gayoon.

Ruangan hall pun digelapkan. Terlihat layar LCD diturunkan dan tampak slide dengang judul Doojoon Gayoon Happily ever after. Slide pertama yang ditayangkan adalah…..foto kami berdua saat kecil???!!! Ya! darimana Jieun mendapatkannya? Pandanganku langsung tertoleh pada Gayoon yang sontak menggelengkan kepalanya. Sepertinya Jieun menggeledah rumah kami atau bekerjasama dengan para orang tua kami. Kulihat slide demi slide, Jieun membuat adegan pertemuan kami sampai pernikahan ini menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Setelah slide itu seleai, tepuk tangan riuhpun terdengar. Kami berdua melakukan standing applause sebagai tanda bahwa kami sangat puas dan menyukai hasil karya Jieun.

 

“Untuk Doojoon dan Gayoon kuharap kalian berbahagia sampai jadi kakek nenek, cepat punya anak ya, aku ingin cepat jadi tante.”

 

Ucapan Jieun sedikit banyak membuat kami salah tingkah. Masa baru menikah sudah ditagih punya anak….??>_<

 

“Yup….puncak acara!Pemotongan kue oleh pengantin! Mempelai harap ke tengah untuk memotong kue pengantin.”

 

Kue pengantin putih yang cukup tinggi berhiaskan bola-bola coklat yang dihiasi seperti mutiara serta pita besar yang menghiasinya sudah diletakkan dihadapan kami. Kamipun memegang pisaunya berdua dan memotong kue besar itu bersama-sama.


Potongan pertama kami berikan masing-masing pada orang tua kami, kemudian pada teman-teman dan rekan kerja kami.

“Sekarang silahkan menikmati makanan yang tersedia, yang ingin berdansa silahkan ke tengah-tengah hall.”

Musik waltzpun di alunkan. Beberapa pasangan ada yang berdansa di tengah hall. Kupandang Gayoon yang tengah mengamati pasangan-pasangan yang berdansa itu.

“Mau berdansa?” tanyaku

“Ayo….” Ucapnya dengan menggamit ajakan tanganku. Kamipun berjalan ke tengah hall dan berdansa waltz. Tak kusangka Gayoon cukup pandai berdansa. Setidaknya dia tidak pernah menginjak kakiku ^_^.

“Yup…berhubung kedua mempelai sedang menikmati dansa ditengah hall…..…musik tolong berhenti!”

Ucapan MC sontak membuat kami terkejut. Seiring dengan berhentinya musik, kamipun menghentikan dansa kami.

“Bagaimana kalau kita memberikan kepada mereka momen sejenak……… , sepertinya ada yang kurang sejak acara tadi……ehm…..ah…kedua mempelai belum berciuman! “

Sejenak aku terkejut. Gayooonpun demikian. Ah…..kalau aku pada dasarnya cuek saja….tapi aku sangat paham kalau Gayoon kurang suka momen pribadi seperti itu dilakukan di depan umum, apalagi menjadi pusat perhatian seperti ini.

“Ipseul-e! Ipseul-e!!!” Teriakan para undangan semakin intens menggoda kami, apalagi Gayoon terlihat sangat salah tingkah.

“Tenang saja…….kami akan meredupkan lampunya……….kami takkan bisa melihat kalian melakukannya….ok?” ucap MC

Mendengar ucapan MC, kulihat Gayoon menghembuskan nafas lega. Kamipun berhadapan satu sama lain. Wajah Gayoon yang kaku dan gugup membuatku menahan tawaku.

“yah! Jangan tertawa!” ucapnya

“Mian….habis kamu lucu….lagipula ini bukan pertamakalinya kita berciuman.”

“Tapi dengan suasana seperti ini baru pertama kalinya kan?”

“Sudah ah..ditunggu nih…kita malah ngobrol.”

Gayoonpun mengangguk dan menempatkan kepalanya pada posisi dan sudut yang tepat untuk kucium. Kudekatkan kepalaku perlahan, Seiring mendekatnya wajah kami berdua, lampu hallpun semakin redup dan setelah bibirku bersentuhan dengan bibirnya, ruangan hall hanya bercahayakan lilin tanpa lampu sama sekali. Teriakan dan tepuk tangan  undangan riuh terdengar. Tapi kami berdua belum memisahkan kedua bibir kami. Sepertinya ciuman ini sedikit lebih lama dibandingkan yang pernah kami lakukan, karena sebelumnya lebih tepat disebut kecupan dibandingkan dengan kisseu…..:p. Seiring diterangkannya lampu, kamipun menjauhkan wajah kami. Kulihat wajah Gayoon sedikit lebih merah dibandingkan tadi. Kubisikkan perlahan ke telinga sebelah kirinya….”Now you are trully my bride.” Gayoonpun menatapku yang tersenyum memandangnya dan dia hanya bisa menundukkan wajahnya yang semakin memerah.

FIN   

Untuk kehidupan rumah tangganya sebenarnya author udah nulis, tapi tergantung reader mau apa ga… kalau mau besok atau lusa aku post, untuk part ini memang ga ada konflik…cuman khusus acara wedding mereka ajah, Please RCL, gomawo~~~

 

25 responses to “(Dooyoon Moment) You’re My Bride

  1. Kyaaa aq udh bca smwx n aq mtusin klo commentx aq rapel dsni. Aq qra prtmax gayoon bkln trus nybelin tpi trxta nggk. Aq ska ff ini. Dri yg chaptered smpe yg ini. Daebak deh pkokx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s