(Dooyoon Moment) LOVEY DOVEY #1

(before this series : love in the same sight | I really want to marry you 12| Youre my bride)

Author : Dwlee87

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : Chapter

Main Casts : Yoon Doojoon, Heo Gayoon

Disclaimer : nama diatas milik mereka sendiri, saya hanya memiliki ceritanya

Authors note : ff ini sudah pernah dipublikasikan di fan3less dan di blog dooyooncouple

Happy reading, I really appreciate your comment, don’t be silent reader ok? ^_^

CHAPTER 1

When I see you, my heart flutters,

I want to step forward step by step

I want to show you my heart right now

(Apink – my my)

 

Doojoon POV

Hatiku hari ini begitu penuh dengan kebahagiaan. Resepsi pernikahan aku dengan Gayoon berjalan sukses. Selain itu tepat mulai sekarang kami akan hidup sebagai suami istri yang sesungguhnya. Aku sedari tadi menyetir mobilku menuju rumah kami sembari menyetel alunan musik dengan senyum mengambang di wajahku.

“Besok rencana kita apa?” tanya Gayoon yang duduk tepat di sebelahku

“Kau inginnya bagaimana? Kalau masih capek, kita jalan-jalan disekitar rumah saja, kalau sekiranya sudah fit kita bisa langsung berangkat ke Thailand.” Ucapku

“Thailand? Pattaya?????” tanyanya dengan nada antuias

“Ne…..apa aku tak pernah mengatakan padamu kita akan honeymoon ke Pattaya?”

“Ani…..kau tak pernah mengatakannya padaku.”

“Baru saja aku mengatakannya padamu.”

“Ya! kau ini selalu saja membuat keputusan sendiri.”

Ujarnya sambil memukul lenganku

“Apa kamu tak suka dengan keputusanku? Tidak kan? “Jawabku dengan tersenyum

Gayoon hanya memanyunkan bibirnya tak membalas. Aku hanya tersenyum melihat bibir majunya itu.

“Yobeo…..aku capek sekali….boleh aku tidur?” tanyanya

“Tidurlah, nanti kalau sudah sampai kubangunkan.” Ucapku

“Ne….gomawo…..”

Tak butuh waktu lama, Gayoonpun terlelap dalam tidurnya. Sembari menyetir sesekali kupandangi wajah tidurnya yang selalu membuatku ingin melihatnya lebih lama. Wajah cantik itu kini bisa kupandangi setiap hari, seumur hidupku. Selang beberapa waktu kamipun tiba di rumah kami. Kuparkirkan mobilku dengan cekatan di halaman depan.

“Chagiya…..kita sudah sampai…”

“Eng….” Gayoon tetap tidak bangun dan masih lelap dengan tidurnya

“Chagiya….”

“….” Tetap tak ada respon untuk bangun, aigo……sebegitu lelahkah dia?

Kubuka pintu mobil untuk memudahkanku mengangkat Gayoon. Padahal aku ingin menggendongnya seperti ini ketika dia terbangun. Wajah salah tingkahnya pasti lucu sekali dan sangat menarik untuk dilihat. Tapi wajah tidurnya ini juga membuatku gemas untuk melihatnya.Kubopong dia menuju kamar kami berdua. Kubuka pintunya dengan susah payah agar tak membangunkannya kemudian kubaringkan dia di atas kasur. Gayoon tetap lelap dalam tidurnya. Untung saja kami sudah tidak memakai baju pengantin kami jadi aku tak perlu membangunkan Gayoon untuk mengganti pakaiannya. Kulepas jasku akibat panas yang kurasakan. Akupun bersiap untuk mandi agar melepas lelahku. Kunikmati air hangat yang mengalir di tubuhku, pegal sekali rasanya mempersiapkan pernikahan kami, tapi semua lelah itu toh berbalas indah.

Kuseka badanku yang masih basah, segera kupakai bajuku dan keluar dari kamar mandi. Aku berjalan menuju tempat tidur dengan istriku yang tak menunjukkan tanda-tanda untuk bangun dari tidurnya. Kubelai rambut panjangnya yang terurai sembari memandangi wajahnya. Kenapa aku selalu tak bosan memandangi wajahnya? Aigo…..memandangi wajahnya secara intens seperti ini membuatku berpikir yang tidak-tidak. Sepertinya aku harus tidur di kamar lain saja. Segera kubangkitkan badanku untuk beranjak keluar kamar, tapi kenapa tanganku sepertinya ada yang menarik? Hya……..tanganku yang tadi membelai Gayoon sekarang dipegang olehnya. Aish…susah sekali menariknya, kenapa tenaga yoja ini kuat sekali. Sepertinya malam ini kesabaranku diuji. Mianhe chagi….sepertinya aku harus tidur di sebelahmu malam ini. Lho?Seharusnya kan aku tak merasa bersalah? Aku kan suaminya, wajar kalau aku dan dia tidur satu ranjang kan?

Akupun membaringkan diriku di sebelahnya, tangan kananku yang masih menyentuh wajahnya tetap dipegang erat. Apa tanganku sedemikian nyamannya? Sekali lagi kukatakan mianhe padamu, mungkin berapakali kukatakan tak kan cukup, aku hari ini agak jahat. Salahkan dirimu yang terlalu cantik. Bagaimanapun aku ini namja normal. Aku begitu ingin memelukmu sekarang, aku juga tidak meminta ijin padamu yang masih terlelap. Aku akan berusaha untuk tetap menjagamu dari pikiran jahatku. Kulingkarkan tangan kiriku ke pinggangnya dan kupeluk erat tubuhnya. Kucium kening istriku dan kutempatkan wajahku berada di depan wajahnya dengan jarak yang cukup dekat. Aku ingin ketika bangun nanti dapat melihat wajahnya sesegera mungkin. Akupun memejamkan mataku perlahan, kelelahan mengantarkanku ke alam bawah sadarku.

Gayoon POV   

Kucoba membuka mataku, sungguh terasa sangat berat dan membutuhkan usaha yang cukup kuat untuk membuka keduanya. Sepertinya aku kemarin demikian lelah sampai tidur senyenyak ini. Aku sadar kalau tidurku cukup lama. Kukedip-kedipkan mataku untuk mendapatkan kesadaranku secara utuh. Aku begitu terkejut mendapati Doojoon di depan wajahku dekat sekali. Apa ini mimpi? Sepertinya kalau mimpi ini terlalu nyata. Kuperhatikan wajah tidurnya yang begitu dekat dengan wajahku. Mencoba menata jantungku yang terkena baru saja terkena shock theraphy. Apa memang dia setampan ini? Aku tahu dia tampan tapi baru kali ini aku melihatnya secara seksama. Mata tanpa double eyelid yang terpejam, bentuk hidungnya yang tegas, Garis wajahnya yang begitu menampakkan kalau dia seorang namja.

Aigo….kenapa wajahku tiba-tiba panas begini?Aku baru sadar kalau dia sedang memelukku. Apa dia semalaman membiarkanku tidak bangun dan tidur dengan memelukku? Aku bahkan belum mandi! Pasti bau badanku tercium olehnya. Istri macam apa aku ini? Dasar tolol! Ingin sekali aku cepat bangkit dari tempat tidur dan segera mandi, tapi kalau aku melepaskan pelukannya, bagaimana kalau dia terbangun? Posisi ini sungguh membuatku serba salah. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah memandangi wajah suamiku sekarang. Kupegang wajahnya perlahan dari mata, hidung dan pipinya. Sepertinya baru kali ini aku menyentuh wajahnya seintens ini. Wajah tidurnya sungguh seperti anak-anak yang membuatku gemas. Eng………….entah kenapa tiba-tiba aku ingin menciumnya. Bolehkah? Sekarang aku istrinya kan? Bukankah sah saja kalau mencium suami sendiri? Kudekatkan wajahku perlahan ke arah wajahnya. Kukecup perlahan bibir suamiku yang masih tertidur lelap

“Aku senang kau ingin menciumku saat tidur, tapi aku lebih suka kalau kau melakukannya saat aku bangun.”

Aku sontak memundurkan wajahku karena kaget. Wajahku menjadi panas hanya dalam sepersekian detik.

“Ya! Kau sudah bangun?! Pasti kau senang mengerjaiku ya?”

“Ani….aku baru bangun beberapa saat sebelum kau menciumku, aku senang ternyata kau juga punya keinginan untuk menciumku.”

“Babo!” kulempar bantalku kearah wajahnya dan aku segera berlari menuju kamar mandi, wajahku pasti seperti kepiting rebus sekarang, telingaku terasa panas sekali. Terdengar suara mengikik dari kamar kami. Pasti dia sekarang sedang menertawakan kekikukanku. Sebal! Kenapa selalu aku saja yang dia kerjai?

Kubasuh diriku  dan kucuci rambutku untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh dari kepalaku. Semoga dengan mandi juga bisa menurunkan suhu tubuhku yang panas akibat malu. Badanku yang masih basah segera kuseka dengan handuk dan kubalut dengan baju mandi. Rambut basahku kubiarkan tergerai di samping dan kugosok perlahan dengan handuk. Akupun keluar dari kamar mandi dan kudapati Doojoon yang tengah mempersiapkan barang-barang keperluannya.

“Kita berangkat jam berapa?” tanyaku sembari mendekatinya

Doojoonpun menoleh akibat pertanyaanku. Dia hanya melihatku tanpa menjawab pertanyaanku, melihat dengan pandangan yang tak aku mengerti,beberapa detik kemudian dia langsung memalingkan wajahnya. Ya! Kenapa dia memalingkan wajahnya? Apa salahku?

“Yobeo, kamu tak dengar pertanyaanku? Kita berangkat jam berapa?” tanyaku lagi sambil mencari wajahnya yang sampai sekarang dia tetap berusaha berpaling dariku

“Jam 12.” Jawabnya singkat

“Kenapa kau menghindari menatapku?hadap sini! Kau kenapa sih?”tanyaku

Aku tertegun mendapati wajah Doojoon memerah salah tingkah, memang apa yang membuatnya begini? Perasaan aku tidak melakukan apapun, wajahnya seperti ini sangat jarang kulihat. Biasanya aku yang salah tingkah seperti ini.

“Yobeo….kamu kenapa?”kudekati wajahnya yang masih ditutupi tangannya menyembunyikan wajah merahnya.

“Ani……..” tanganku segera ditepisnya perlahan. Ah….sepertinya aku tahu sebabnya.

“Kenapa? Apa rambutku yang basah ini begitu mempesonamu sampai kau salah tingkah seperti ini?”

“Ka…….kau jangan terlalu GR.” Jawabnya terbata-bata, sungguh aku ingin sekali menggodanya. Jarang-jarang dia bisa salah tingkah gara-gara aku. Biasanya selalu aku yang kalah kalau berhadapan dengannya

“Jongmal? Lalu kenapa wajahmu merah sekali?” Sengaja kudekatkan badanku perlahan ke arahnya yang mengambil langkah mundur untuk menjauhiku

“ACnya mati.” ucapnya sekedarnya

“ACnya tidak mati kok, kau yakin tidak apa-apa?” Kusentuhkan tanganku ke dahinya dan tiba-tiba saja pergelangan tanganku digenggamnya erat dan dipandangnya wajahku dalam. Omo……apa dia marah? Tapi wajah merahnya terlihat masih belum padam. Dia mendekatkan wajahnya padaku dekat sekali sampai aku menelan ludahku, jantungku sepertinya mau lompat sekarang. Kurasakan bibirnya menyentuh di telingaku dan terdengar dia berbisik padaku

“Jangan harap aku akan melepaskanmu di Pattaya kalau kamu seperti ini lagi.”

Perkataannya membuatku kaku seketika. Diapun melepaskan genggaman tangannya dan mengecup pipiku kemudian berjalan menuju kamar mandi meninggalkan aku yang berdiri kaku di tengah kamar.

“A………..Apa maksudmu tadi?” untung suaraku masih tidak hilang dari kerongkonganku, bagaimanapun otakku sekarang tidak bisa berpikir logis.

“Apa perlu kujawab? istri yang baik harusnya tahu kan?” jawabnya sambil tersenyum

Aku hanya bisa memandangnya yang memasuki kamar mandi sambil bersiul. Aish! Molla! Kenapa aku selalu kalah darinya. Ya tuhan, tolong bantu aku dengan beberapa jantung cadangan untuk menghadapi suamiku yang satu ini >_<!

Ah! Aku sampai lupa untuk berganti baju…Baju? Jjamkan, bukankah barang-barangku belum kubawa ke rumah ini? Aigo…..lalu aku pakai baju apa?

“Yobeo………” teriakku dari kamar

“Ne….….?”

“Bajuku…….aku pakai baju apa?” tanyaku

“Bajumu semua ada di lemari coklat besar dekat tempat tidur” jawabnya singkat

Ha? Bajuku? Ada disini? Dengan tergesa kubuka lemari yang dikatakannya. Benar saja, semua baju-bajuku lengkap tertata rapi. Kuambil satu baju ganti dan beberapa baju yang akan kupakai, tapi sepertinya bajuku ada yang masih belum terbawa. Beberapa baju favoritku tak ada.

“Kenapa, sepertinya kau bingung, ada yang kurang?”

Aku menolehkan kepalaku, melihat suamiku yang sibuk menggosok rambutnya yang basah. DEG!…….

Apa ini yang tadi dirasakan Doojoon padaku?

“Sudah selesai mandinya?” tanyaku

“kalau aku keluar kan berarti sudah selesai? Kenapa juga kau tanya?”

“Ani……” kutolehkan kepalaku ke arah lemari sembari mencari-cari bajuku untuk mengatasi kegugupanku

“Ah…aku lupa mengatakan padamu, baju-bajumu sudah kupersiapkan, kau tinggal mempersiapkan barang-barang lain yang perlu kau bawa.”

“Mwo?????Kau sudah mempersiapkan bajuku? Kau siapkan dimana?”

“Di koper besar hitam dekat tempat tidur tuh”

Segera kubuka koper itu, benar saja semua baju favoritku sudah terlipat rapi, bahkan baju renangku dan topi lebarku sudah dimasukkannya.

“Bagaimana kau…..”

“Lama bersamamu masa aku tidak tahu seleramu, ada beberapa baju yang kusuka untuk kau pakai,jadi kumasukkan juga. Ah….sepatu dan tasmu ada di kamar lain, sudah tersimpan rapi kok, lalu berkas-berkas perusahaan appamu serta buku-bukumu aku letakkan di ruang kerja, kosmetikmu sudah tersimpan rapi di meja kosmetik, ada lagi yang tertinggal?” jawabnya

Aku terbengong, bingung sungguh. Kapan dia membawa barang-barangku? Bahkan semuanya sudah tertata rapi. Kenapa dia melakukan semuanya sendiri tanpa aku memintanya? Seakan hanya aku yang menerima tanpa memberi.

“Wae…? Kau tak suka aku membawakan barang-barangmu kemari?”

“Ani…..hanya….kapan kau…”

“Ah….Itu kau tak perlu tahu, aku sudah mengurus semuanya bersama appa dan ommamu, sekarang kau tinggal mempersiapkan barang-barang yang ingin kau bawa nanti.” Jawabnya sambil tersenyum

“Setidaknya bicaralah padaku, kalau begini aku merasa tak berguna. Aku belum pernah melakukan sesuatu untukmu.” ucapku sebal

“Eng….kau tersinggung?”tanyanya bingung

Kubalikkan badanku memunggunginya. Aku tahu aku harusnya bersyukur mempunyai suami yang begitu sigap. Aku hanya sebal terhadap diriku yang belum bisa memberikan suatu hal yang berharga walau sedikit. Aduh…..…aku ini kenapa sih? Mana ada istri yang ngambek padahal baru jadi suami istri sehari?

Doojoon mendekatiku perlahan seperti ingin membaca emosiku yang sedang tak stabil.

“Chagiya……..”

Kutolehkan wajahku perlahan untuk mengatasi emosiku yang masih meletup

“Kena……!”

Pipi kiriku disentuh dengan telunjuknya. Dia hanya tersenyum sedangkan aku terbengong. Suamiku ini umur berapa sih? Kenapa masih memainkan permainan kekanakan seperti ini? Tanpa sadar aku menggembungkan pipiku dan melihat suamiku yang menahan tawanya.

“Wajahmu yang salah tingkah ini selalu tidak pernah membuatku bosan.”

Tatapan jahilnya tadi kini berubah menjadi tatapan yang begitu lembut, tatapan yang selalu membuatku terdiam dan membuat jantungku berdegup lebih kencang melebihi kecepatan degup normalku.

“Kau sudah memberikan begitu banyak untukku, semua yang pernah kuberikan padamu bukanlah hal yang berarti dibandingkan apa yang pernah kauberikan untukku. Jangan merasa kau tak berguna dan jangan menganggapku melakukan ini untuk membalas budi. Semua kulakukan hanya karena aku mencintaimu, kurasa itu sudah cukup.”

Lagi-lagi kata-katanya selalu berhasil mengatasi rasa gundahku. Aku sampai malu pada diriku sendiri. Pandangannya yang begitu dewasa selalu membuatku merasa aku masih kekanak-kanakan

“Cepatlah ganti baju sebelum aku menyerangmu.” Diusapnya kepalaku sembari dia berjalan keluar dari kamarnya. Aish! Begini nih kalau sifat jahilnya kumat. Dia selalu tidak pernah puas melihat aku salah tingkah menghadapinya. Segera kuganti baju mandiku dengan baju casual. Kukeringkan rambutku dengan hair dryer dan kukuncir ekor kuda. Aku ingin tetap terlihat cantik di depannya walau sedang di rumah.

Akupun keluar dari kamar dan kudapati Doojoon yang kebingungan di dapur. Kutepuk jidatku. Aku ini istri macam apa? Bahkan sarapanpun lupa kusiapkan. Segera aku berlari menuju dapur.

“Ya! Setidaknya biarkan istrimu ini yang memasak untukmu!”

“Nampaknya memang untuk hal ini harus kuserahkan padamu, padahal aku berniat mengejutkanmu, tapi aku betul betul menyerah kalau soal ini.”

Kulihat telur yang sedikit gosong dengan kondisi yang cukup berantakan. Aku menahan tawaku mati-matian, aku tak ingin membuatnya tersinggung.

“YA! jangan tertawa! Sudah kubilang aku buruk dalam hal ini.”

Kuambil sedikit telur gosong itu dan kugigit sedikit

“Aigo….jangan dimakan! Sudah tahu gosong juga.”

Aku tersenyum memandang suamiku yang kebingungan mencegahku untuk memakan telur buatannya

“Bentuknya memang buruk, tapi rasanya lumayan kok.” Ucapku

“Jongmal?”

“Ne……gomawo kamu sudah berniat memasak untukku, sisanya biar aku yang melanjutkan, kau duduk saja ya.”

“Tapi aku ingin membantumu…..”

“Biarkan kali ini aku bekerja sendiri, aku tidak ingin kau teriris pisau atau terluka gara-gara hal sepele, begini-begini dapur itu tempat yang cukup berbahaya. Lagipula aku juga tak ingin dapur hancur karenamu.” Ujar ku sembari tertawa kecil

Doojoonpun akhirnya duduk di ruang makan dengan memanyunkan bibirnya pertanda tak terima dengan ucapanku.Kulihat bahan-bahan yang ada. Roti, telur,susu, kopi? Ah…..sebaiknya kumasakkan french toast saja. Dengan cekatan aku memasak bahan-bahan yang ada.

“Yobeo…”

“Ne….?”

“Bagaimana aku bisa masak dengan tenang kalau kau melihatku seperti itu? Memangnya melihat orang memasak itu mengasyikkan?”tanyaku

“Aku hanya belum percaya menyaksikan kau sudah menjadi istriku dan memasak untukku, rasanya seperti mimpi.”

“Kamu dari tadi tidak bisa berhenti nge gombal ya?” ucapku sambil membalik roti yang kupanggang

“Aku senang kok, tak boleh?”

Kubiarkan dia sibuk memandangiku walaupun aku rada risih dengan tingkah lakunya itu. Kuletakkan french toast yang sudah selesai kupanggang di atas piring dan kusajikan di atas meja makan.Kuseduh teh earl grey yang tersedia di dapur.

“Aku baru tahu kalau kau suka the earl grey.”

“Aku suka mengkonsumsinya di kantor, bisa merilekskan pikiranku kalau sedang penat.”

Baru beberapa jam bersamanya sebagai istri aku begitu banyak menemukan hal baru tentangnya. Teh favoritnya, baju casual yang senang dipakainya ,dirinya yang begitu apa adanya dan rileks yang baru kali ini ditunjukkan padaku.

“Kenapa dari tadi kau memandangiku terus? Apa aku begitu tampan sampai kau terlalu terpesona?” tanyanya

“Apa kau tak sadar kalau kau tak pernah serileks ini dihadapanku selama ini? Atau karena kita terlalu sering bertemu di luar dibanding di rumah? Entah kenapa hari ini melihatmu begitu berbeda.”

“Apa aku yang seperti ini membuatmu ilfil?”

“Ani……aku malah suka kok, berarti aku punya keistimewaan melihat sisimu yang lain sedangkan orang lain tak melihatnya.” Ucapku sambil memakan french toastku

Doojoon terlihat tersenyum simpul mendengar jawabanku. Kamipun berbincang-bincang sambil menikmati sarapan kami.

Doojoon POV

“Chagiya……cepat! Kita hampir telat!”

Kami berdua setengah berlari di bandara mengejar jadwal pesawat kami. Tahu kenapa? Jam di rumah kami error hampir satu jam dan baru menyadarinya setelah Gayoon melihat jam pada Iphonenya.

“Tuan Yoon dan Nyonya Heo, silahkan….”

“Aigo…….untung sempat.”Gayoon melempar tubuhnya di tempat duduk pesawat

“Tidak lucu kalau kita naik penerbangan berikutnya, kita bisa mati bosan di bandara.”ucapku

“Ne………”Gayoon menjawabku dengan mengatur nafasnya akibat olahraga lari sepanjang bandara incheon.

Tak berapa lama pesawatpun lepas landas. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang. Sedikit bosan kami menonton film bersama dengan film yang kami pilih. Terlalu banyak menonton film ternyata membuat Gayoon mengantuk dan dia tertidur di pundakku sekarang. Aku? Aku tetap terjaga karena aku tidak mengantuk. Aku juga ingin tidur tapi aku sungguh tak bisa memejamkan mataku. Perjalanan udara yang agak lama membuatku mulai merasa pusing. Sebenarnya aku tak terlalu kuat melakukan perjalanan udara. Mual dan pening mulai melandaku. Jebal….jangan sekarang, aku tak ingin terlihat lemah di mata istriku. Mana ada namja yang mau terlihat mabuk udara hanya karena perjalanan beberapa jam. Tapi mualku sudah begitu parah, untung saja Gayoon tetidur, jadi dia tidak melihatku yang tampak begitu buruk sekarang. Kuambil kantong muntah dari tempat duduk di depanku dan kukeluarkan sedikit isi perutku ke kantung itu.

“Yobeo……kau tak apa?”

Ah sial…..Gayoon terbangun, aku pasti terlihat jelek sekali sekarang

“Kau mabuk?Aigo…..wajahmu begitu pucat! Kenapa kau tak membangunkanku? Tunggu sebentar, kumintakan obat mabuk ke pramugari!”

Gayoon segera memencet tombol untuk memanggil pramugari. Pramugaripun segera datang dan menanyakan keperluan kami. Dengan sigap, pramugari itu mengambilkan obat mabuk dan memberikannya kepada kami.

“Jika butuh bantuan kami silahkan panggil lagi, permisi.” Pamit pramugari itu

Aku meringkukkan badanku untuk menghindari mualku menjadi semakin parah.

“Yobeo…obatnya diminum dulu, siapa tahu kau akan merasa enakan.”

Kuambil obat itu dan kuminum cepat. Untung juga tadi Gayoon terbangun, jika tidak aku pasti masih meringkuk sekarang. Berkat obat itu mualku banyak berkurang dan aku sedikit mengantuk.

“Mianhe, kau melihatku saat aku seperti ini, aku pasti terlihat jelek sekali.”Ujarku sambil menahan mualku yang masih tersisa

“Ya! Kamu ngomong apa? Kau ini sedang sakit, lebih baik kau cepat tidur.”

“Tapi aku tak ingin kau melihatku saat lemah begini.”

Gayoon hanya menatapku, kurasakan tangannya memaksakan kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Rambutku dibelainya nyaman sekali.

“ Pada saat kau lemah beginilah aku merasa berguna sebagai istrimu. Setidaknya biarkan aku menjadi sandaranmu.”ucapnya

Ucapan Gayoon membuatku semakin nyaman untuk bersandar di pundaknya, belaian tangannya mengantarkanku pada lelapku.

******

“Panas……”ucapku sembari mengibas-ngibaskan kaosku

“Yah, mau gimana lagi, beginilah Thailand. Sudah baikan?” Ucap Gayoon

Kuanggukkan kepalaku semangat. Sekali turun dari pesawat mualku langsung hilang seketika.

“Terimakasih sudah membiarkanku bersandar di bahumu, nyaman sekali.”

Gayoon tersenyum mengacak-acak rambutku, sontak saja aku kaget, belum pernah aku diperlakukannya seperti anak kecil begini.

“Ya……” ucapku tak terima

“Mian, tapi kau manis sekali saat tertidur di pundakku tadi.” Jawabnya sambil mehrong

Aish……Kenapa akhir-akhir ini malah aku yang salah tingkah menghadapinya? Apa dia ingin membalasku? Sungguh aku bingung harus berwajah seperti apa saat dia menjahiliku seperti ini.

“kenapa senyum-senyum sendiri?”tanyaku sebal

“Aku senang banyak melihat hal baru dari dirimu.”ujarnya mengikik

Saking gemasnya kurangkul pundaknya sembari berjalan keluar bandara

“Ya! Kenapa tiba-tiba merangkulku sih?”

“Salah sendiri kamu membuatku gemas.”

“Gandeng tangan saja, panas nih”

“Bodo, aku senang begini kok.”

“Ish kau ini.”

Kamipun keluar dari bandara dan menaiki taksi menuju hotel yang akan kami tempati.

**********

“Huah, capek.”ucap Gayoon yang langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur.

“Mau langsung jalan-jalan atau istirahat dulu, baru besok kita jalan?”

“Besok saja, aku capek sekali, lagipula aku takut kau masih sakit, lebih baik kau juga istirahat dulu.” ucapnya

“Kalau begitu aku mandi dulu ya, gerah sekali.”

“Ne……”

Sungguh aku tak menyangka Thailand begitu panas. Segera kubasuh badanku dengan air dingin dan kupakai kaos vneck casual putih dan celana jeans hitam. Kemudian akupun keluar dari kamar mandi.

“Chagiya, lekaslah mandi, setelah ini kita makan malam.”

“Ah….ne……….ya!’

Dia begitu terkejut melihatku, apa ada yang aneh?

“Kau serius memakai baju itu?Kita bukan mau ke pantai yobeo, pakailah pakaian yang lebih pantas, setidaknya kaos bermotif, bukan kaos polos begitu.”

“Salah ya? Habis nyaman sekali sih.”ucapku

“Aku baru tahu kalau kau secuek ini dalam hal fashion, sama sekali tidak nampak kalau kau tuan muda keluarga Yoon.”

“Memangnya ada kaitannya?”

“Busana itu cermin diri seseorang, ah sudahlah, aku takkan berdebat, ini hal yang tidak perlu diperdebatkan, tapi bisakah kau ganti bajumu itu, jebal……’

“Baiklah kalau maumu begitu. Akan aku ganti.”

“Aku mandi dulu.”

 

Gayoon POV

Kumasuki kamar mandi hotel kami. Aku tadi sebenarnya bohong mengatakan bajunya tak pantas untuk dinner. Di tempat seperti ini banyak sekali orang yang berwisata menggunakan baju casual sederhana. Aku hanya tak suka dengan vnecknya. Bisa-bisa banyak wanita yang menoleh padanya, aish! Aku tak mau itu terjadi. Akupun segera mandi dengan air dingin untuk menyegarkan badanku. Selesai mandi, kuhanduki badanku lalu kupakai baju tanpa lengan berwarna biru muda dan hotpants warna putih. Kukepang rambutku ke samping dengan pita putih. Akupun keluar dari kamar mandi dan kulihat Doojoon sudah mengganti bajunya dengan kaos king size hitam putih garis-garis. Jauh lebih baik daripada kaos vnecknya tadi. Mendengar pintu kamar mandi yang kubuka, diapun menoleh padaku. Sesaat dia terlihat senang dengan baju yang kupakai, tapi kemudian wajahnya berubah kecut.

“Ah…..aku babo.”ucapnya

“Wae? Ada yang salah dengan bajuku?Bukankah kamu yang memilihkannya untukku?”

“Ani…..kamu cantik, terlalu cantik malah. Aku takut nanti banyak namja menoleh padamu. Aku tak suka.”

Aku membelalakkan mataku, tak menyangka ternyata pikirannya sama saja denganku. Tanpa sadar aku tertawa, menertawakan kemiripan kami yang memiliki monopoli kuat terhadap satu sama lain.

“Hey, jangan tertawa, aku serius.”

“aku tidak menertawakanmu, aku menertawakan diriku sendiri. Ternyata kita punya pikiran yang sama. Aku bawa jaket panjang kok, nanti akan kupakai, puas?” tanyaku

Diapun mengangguk tersenyum. Senyumnya itu selalu bisa membuatku gemas melihatnya

“Ayo,” Dia menggandeng tanganku untuk mempercepat langkahku

“Begini saja” ucapku, kurangkul lengannya erat. Aku ingin menunjukkan bahwa dia namjaku, suamiku, aku tak ingin dia dilirik gadis-gadis tidak jelas karena Pattaya terkenal dengan hiburan malamnya. Doojoon terheran melihatku, apa aku salah merangkul lengannya?

“Wae, tak suka?” tanyaku

“Kelewat suka malah, makanya aku heran, baru kali ini kau memeluk lenganku seerat ini.” Ujarnya tersenyum

Aduh, aku terlalu agresif ya? Tak apa deh, toh dia senang. Kamipun berjalan menuju restoran hotel . Restaurant yang tertata apik dan elegan dilengkapi dengan view pantai begitu indah kulihat. Kami memesan makanan khas Thailand yang begitu ingin kami coba. Kami bercengkrama satu sama lain membahas hal-hal selama perjalanan, tata letak rumah, rencana ke depan terhadap rumah tangga yang akan kami bangun.

“ Aku ingin punya dua anak saja, kalau kamu?”tanyaku

“11 saja, aku ingin bikin klub sepak bola.” Ujarnya sambil tertawa

“Kamu pikir yang hamil siapa? Konyol!”ucapku tak terima

“Hahahaha, aku bercanda, yang penting anak kita sehat aku sudah senang kok. Berapa saja boleh. Memang kapan mau bikin?”

“Uhuuuuuuuuuuuukkkkk uhuk.” Pertanyaan Doojoon sungguh membuatku tersedak. Aku ini terlalu babo atau apa? Membuka topik yang aku sama sekali tak siap untuk memulainya.

“MMMMMM????Kok tersedak?”tanyanya sambil senyum jahil

Aduuh…… sekarang aku harus bagaimana?sungguh aku belum siap untuk itu…….>_<.

“Tuh kan……..membicarakannya saja sudah membuatmu tersedak, belum saatnya kita berpikir kesana, nikmati saja waktu kita berdua dulu.”ucapnya

Kutusuk-tusuk steakku menghilangkan salah tingkah terhadap kesalahan topik yang kupilih.

“Doojoon-a? Kamu Doojoon kan?”

Kudongakkan kepalaku mendengar suara seorang yoja memanggil suamiku tanpa embel-embel ssi. Lagipula dia memaggilnya dengan nada yang akrab sekali.

“Gyuri-ya?????? Bagaimana kamu bisa disini????”

Aku menatap mereka berdua dalam kebingunganku. Tampaknya Doojoon juga akrab dengannya. Dadaku terasa nyeri seketika. Wanita ini……dia siapa???

to be continue~~~~

Please RCL and please juga komennya agak panjang….>_<, gomawo~~~~~~X3

27 responses to “(Dooyoon Moment) LOVEY DOVEY #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s