My Husband [7-END]

Poster By Elf4Kimchi ^^

Saia ga tau apakah masih ada yang tertarik sama FF abstrak ini? Atau…. malah udah pada lupa sama cerita ini? Ehhehe ._.v

Sorry for very very very loooong update. Dan cerita ini mungkin akan tampak membosankan karena kepanjangan dengan alur yang maksa dan ending yang aneh. ==v

Previous Part : Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5 Part 6

Happy Reading! ^^/ Komen berupa saran ataupun kiritik sangat ditunggu :3

——————————

Don’t blame gravity for falling in love

——

“Kita bercerai saja. Otte?”

Kalimat itu terus saja berputar-putar di otakku. Bercerai katanya? Bercerai? BERCERAI?! Demi Tuhan, apa yang ada di otak lelaki gila itu? Bercerai, hah? Aku memejamkan mataku sebentar untuk meredam emosi yang semakin menanjak naik.

Oke, mungkin seharusnya aku merasa senang. Aku tidak mencintainya dan dia akhirnya mengajakku bercerai. Bukankah memang seperti ini akhir yang kuharapkan? Aku bisa terbebas dari lelaki gila itu dan memulai hidup baru dengan Lee Donghae.

Hidup yang indah bukan?

Aku menggelengkan kepalaku tanpa sadar. Tidak. Sekalipun itu memang akhir yang kuharapkan, hatiku tidak merasa senang sedikitpun.

Alih-alih senang, aku justru merasa… err, entahlah. Yang jelas aku tidak suka saat dia mengucapkan kata ‘bercerai’ dengan memasang raut wajah yang berseri-seri seperti itu. Ekspresinya itu seolah-olah dia sedang mengajak berkencan ketimbang bercerai.

Biar bagaimanapun, perceraian itu kan bukan sesuatu hal yang menggembirakan. Seharusnya dia tidak perlu memamerkan kebahagiaannya sekalipun dia memang senang bercerai dariku.

Mengingat wajahnya saat mengucapkan kata ‘bercerai’ membuatku kembali menarik napas panjang. Kalau saja Otousan tidak keburu datang, lelaki gila itu pasti sudah habis kutendang! Ergh. KENAPA DIA HARUS MINTA BERCERAI?! Aku melemparkan tasku ke arah dasbor mobil untuk melepas kesal.

“Heeei! Apa yang kau lakukan?!”

Aku segera memalingkan wajah ke arah jendela. “Tidak ada.” Jawabku ketus.

Hikari bodoh. Bagaimana mungkin kau bisa lupa kalau sekarang kau sedang satu mobil dengan Ryu?! Aku merutuki diriku sendiri yang semakin lama malah semakin kehilangan tingkat kewarasan. Fiuuuh. Bangun, Hikari! Bangun.

“Apanya yang tidak ada? Jelas-jelas kau seperti orang stress. Sebentar-sebentar menarik napas, lalu memajukan bibir, mengembungkan pipi, dan terakhir tadi. Melemparkan tas seenaknya. Ayo cerita ada apa?”

“Kalau kubilang tidak ada ya tidak ada. Kau ini cerewet sekali.”

“Apa ada hubungannya dengan Lee Hyukjae-mu itu?” Ryu melirikku, dan itu membuatku sama sekali tidak nyaman.

“Tidak ada apa-apa, Ryu.” Balasku jengah. Aku mengambil tas yang tadi kulemparkan ke dasbor, lalu mengambil ponselku disana.

“Pernikahanmu baik-baik saja kan?”

Astaga. Kenapa lelaki ini cerewet sekali?

“Dia mengajakku bercerai.” Jawabku datar. Percuma menyembunyikan fakta ini dari manusia sok tau bernama Kamiki Ryunosuke.

“APA?!”

Dan tepat setelah Ryu berteriak, mobil yang sedang dikendarainya itu tiba-tiba saja menikuk ke samping dan berhenti dengan cara yang tidak menyenangkan sama sekali. Kepalaku sukses bersentuhan dengan dasbor mobil yang kuyakin pasti akan meninggalkan bekas kemerahan disana. “APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriakku tak sabar.

“Justru itu yang seharusnya menjadi pertanyaanku. APA YANG KAU LAKUKAN?!” Ryu balas berteriak sampai telingaku berdengung. Aku hanya mengelus-ngelus keningku tanpa berniat membalas teriakannya.

“Bercerai? BERCERAI? Astaga Hikari, apa kau gila?!” Ryu menggebrak stir mobil meskipun setelahnya dia mengaduh kesakitan karena pukulannya yang terlalu keras. Dasar Ryu bodoh.

“Yang gila itu lelaki itu. Bukan aku.”

“Sama saja!”

Aku mencebikkan bibirku. Sama saja dibelah mana?

“Apa kau lupa dengan perkataanku kemarin? Perceraian itu bukan hal yang bisa diucapkan seenaknya.”

“Ya! Yang mengajak bercerai itu DIA! Bukan AKU!”

“Eh?”

Sudah kuduga lelaki ini mengalami masalah pendengaran akut.

“Lee Hyukjae yang mengajakku bercerai.” Ulangku geram. Dan Ryu semakin membulatkan matanya. “Kenapa?”

Aku mengangkat bahuku malas. “Mana kutahu.”

Ryu kembali menjalankan mobilnya sementara aku sibuk memijat-mijat keningku yang mulai terasa sakit. Heeiish, tidak seharusnya aku setuju semobil dengan Ryu. Gara-gara aku dan Lee Hyukjae membawa mobil masing-masing ke hotel, akhirnya Otousan menyarankan untuk membagi kami menjadi dua kelompok.

Baiklah, ini sudah semacam apa saja. Tapi memang seperti itu kenyataannya. Agar kedua mobil bisa digunakan, otomatis kami semua harus berpencar menuju bandara. Otousan dan Okaasan berada di mobil Hyukjae. Sementara mobilku diisi aku dan Ryu.

Sekarang aku jadi heran, sebenarnya yang menjadi anak Otousan itu aku atau Lee Hyukjae? Kenapa Otousan lebih memilih diantar menggunakan mobil lelaki gila itu dibandingkan menggunakan mobilku?

“Tapi kenapa dia mengajakmu bercerai? Kalian bahkan belum satu minggu menikah. Ini gila.” Ryu menatapku tajam, “Apa yang sudah kau lakukan padanya?”

Apa maksudnya ini?

“Kau pikir aku ini apa hah? Aku tidak melakukan apapun padanya.” Aku memukul pipi Ryu agar kepalanya kembali menghadap ke depan. “Kalau menyetir itu lihat ke depan, bodoh!”

“Ergh, aku tidak percaya kalau kau tidak melakukan apa-apa. Sejauh pengamatanku, lelaki itu sangat mencintaimu, Hikachu!”

Aku menjulurkan lidah bersikap seolah-olah ingin muntah. Ucapannya itu sudah seperti peri cinta saja.

“Kalau dia memang mencintaiku, untuk apa dia mengajakku bercerai, hmm? Pergunakan otakmu dengan baik Ryu!”

Ryu mendecak sebelum kembali berkomentar, “Justru itu yang kumaksud. Kenapa dia mengajak bercerai jika jelas-jelas dia mencintaimu. Pasti ada sesuatu hal yang mengganggunya kan? Karena sikapmu yang kelewat batas misalnya? Eeiy, kau ini kan memang gadis yang kejam.”

“Aku tidak melakukan apa-apa!” Sergahku tak mau kalah.

Eh, aku memang tidak melakukan apa-apa kan? Euung, aku hanya pernah menampar dan menendangnya sekali. Itu… tidak masuk kategori sikap yang kelewat batas, bukan? Tidak mungkin dia mengajak bercerai karena tamparan dan tendanganku kemarin.

“Ryu…” Panggilku ragu.

“Apa?”’

Aku menarik napas sebentar lalu kembali bersuara. “Apa mungkin dia ingin bercerai karena sudah kutampar dan kutendang?” Oke, ini memang pertanyaan yang bodoh. Aku tau itu.

“Apa? Kau apa?” Ryu kembali menghentikan mobilnya mendadak hingga membuat dahiku membentur dasbor mobil untuk yang kedua kalinya. Bagus!

“Kamiki Ryunosuke! Tidak bisakah kau mengendarai mobilnya dengan wajar, hah?!” Aku kembali mengelus-ngelus dahiku sambil mengumpat kasar. Lelaki ini sepertinya memang mau menyiksaku diam-diam. Ugh.

“Ehehe.. Gomen, ne? aku kan hanya kaget saja.” Ryu kembali menjalankan mobilnya dengan lebih pelan. Aku hanya menggerutu tidak jelas sambil terus memijati dahiku yang sekarang mulai pening. Menyebalkan!

“Jadi kau benar-benar menyiksa suamimu, eh? Ckckc. Tidak heran kalau dia ingin bercerai secepat ini.” Ryu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gaya yang berlebihan. Belum sempat aku membalas omongannya, Ryu sudah kembali berkomentar, “Tapi, Hikachu… aku tidak yakin kalau itu satu-satunya alasan dia ingin bercerai. Maksudku, kau lihat sendiri bagaimana sikapnya hari ini kan? Kulihat-lihat dia begitu perhatian padamu. Dan dilihat dari sikapnya, lelaki itu sepertinya tidak membencimu.”

“Itulah yang membuatku bingung, Ryu.” Aku mendesah dan menyandarkan kepalaku pada kursi. “Saat aku menendangnya, itu karena dia menciumku seenaknya. Tapi dia hanya marah-marah sebentar lalu kembali bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa.” Aku mengingat-ngingat kembali kejadian kemarin pagi saat lelaki gila itu mencium bibirku dengan alasan morning kiss. Dia memang sempat marah, tapi itu masih terbilang biasa saja. Dia malah masih sempat-sempatnya menggodaku dengan meminta dibuatkan sarapan.

“Lalu bagaimana reaksinya saat kau menamparnya? Apa dia terlihat kesal atau semacamnya?” Ryu bertanya dengan nada ala detektif.

Hmm, saat aku menamparnya ya.

Aku menatap langit-langit mobil sambil menggigit pelan bibir bawahku untuk mengingat-ngingat kembali ekspresi wajahnya saat itu. Dan entah apa yang terjadi, dadaku tiba-tiba saja merasa sesak untuk alasan yang tidak jelas. Ekspresi Lee Hyukjae saat itu… sangat sulit untuk kujelaskan. Aku hanya mengingat sorot matanya yang menyakitkan setiap kali dia menatapku.

Tiba-tiba saja potongan kejadian kemarin siang terputar kembali di otakku. Di mulai dari kejadian di lobi saat aku menamparnya, lalu kejadian di tempat latihan dimana dia hanya menatapku di saat pertama kali aku datang dengan Leeteuk Oppa, setelah itu kejadian dimana dia meminta maaf karena ucapannya yang memang sudah kelewatan —yang membuatku menampar pipinya–, hingga akhirnya… pernyataan cinta Lee Donghae yang membuat sistem sarafku berjalan tidak wajar.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi Lee Hyukjae saat itu. Saat dia berdiri di belakang kursi Lee Donghae dan mendengar pernyataan cinta itu.

Lee Hyukjae, apa dia benar-benar terluka? Karena itukah dia ingin bercerai?

“Hei, kenapa kau malah melamun?”

Suara Ryu membuatku terkesiap. Aku mengerjapkan mata, dan setelah itu langsung tercengang begitu sadar kalau mobil ini sudah berhenti tepat di depan sebuah landasan terbang. Ini bukan bandara. “Kita ada dimana?” Tanyaku bingung.

“Menurutmu?”

“Landasan terbang pribadi Otousan?” Ujarku ragu. Melihat Ryu mengangguk membuatku menggelengkan kepala sambil mendesah berat. Otousan ini benar-benar.

“Kurasa paman sudah mulai kebingungan bagaimana caranya menghabiskan uang.” Canda Ryu sembari membuka pintu mobil. Aku mengikutinya.

“Kapan Otousan membuat ini semua, Ryu?” Tanyaku hampir tidak percaya. Karena setauku, selama ini Otousan tidak pernah bilang akan membuat landasan terbang pribadi di Seoul.

“Sesaat setelah pernikahanmu ditetapkan. Hebat kan?”

Aku mendecak dan mulai mengedarkan pandanganku ke sekeliling. “Dimana mereka?”

“Kurasa belum datang.”

Aku baru saja akan masuk kembali ke dalam mobil untuk menunggu kedatangan Otousan, Okaasan dan Lee Hyukjae saat pertanyaan itu meluncur mulus dari mulut Ryu. “Jadi Hikachu, apa kau akan mengikuti ajakan lelaki itu?”

Tanganku yang akan memegang handle pintu tertahan di udara. “Menurutmu?”

“Jangan.”

Eh?

Doushite?” Tanyaku acuh.

“Anggap saja aku ini sok tau. Tapi menurut pengamatanku, lelaki itu benar-benar mencintaimu. Kau pasti akan menyesal kalau melepaskannya, Hikari Chan.”

Aku tersenyum sinis. “Untuk apa menyesal? Menikah dengannya adalah satu-satunya penyesalan terbesarku. Aku mencintai Lee Donghae, kau ingat?” Dengan mengabaikan perasaan tidak nyaman yang melingkupi dadaku, aku kembali melanjutkan. “Dan kemarin, lelaki yang kucintai menyatakan perasaannya kepadaku. Apa lagi yang harus kulakukan selain melakukan perceraian dengannya?”

Itu bukan kata hatiku. Kalimat yang keluar itu sama sekali bukan keinginan hatiku. Aku tidak tau kenapa kalimat itu harus keluar dari mulutku. Ucapan Ryu yang terkesan membela lelaki itu membuatku mau tidak mau merasa geram. Apakah aku sudah mulai gila?

“Apa benar kau mencintai Lee Donghae-mu itu, hmm?”

Aku…

“Kau hanya bertemu dengannya satu kali dan kau sudah langsung menyimpulkan kalau kau mencintainya? Jangan melakukan kebodohan yang sama, Hikari Chan.”

Aku mendongak, menatap lurus ke arah Ryu. Apa maksud ucapannya itu?

“Jangan lagi bersikap gegabah. Kau tau bagaimana akibatnya dari sebuah ketergesaan kan? Jangan dulu menyimpulkan sesuatu hal yang belum pasti.” Ryu menatapku sambil tersenyum samar. “Kau tentu masih ingat bagaimana dulu kau buru-buru ingin menikah tanpa berpikir panjang kan? Dan hasilnya seperti apa? Kau salah menikahi orang.”

Jleb.

“Setidaknya, belajarlah dari kesalahan. Jangan lagi bersikap gegabah dan terburu-buru mengambil keputusan. Abaikan emosimu dan berpikirlah dengan jernih. Anggaplah menikah dengan Lee Hyukjae adalah sebuah kesialan. Tapi bagaimana kalau itu sebenarnya adalah cara Tuhan untuk mempertemukanmu dengan jodohmu yang sebenarnya?”

“Maksudmu lelaki itu adalah jodohku, hah?!” Sahutku sedikit tidak terima.

“Mana kutahu. Jodoh itu kan misteri. Aku hanya ingin menyampaikan kemungkinan-kemungkinan kecil yang bisa saja berpengaruh besar pada kehidupanmu di masa yang akan datang. Kalau seandainya jodohmu yang sebenarnya itu adalah Lee Hyukjae, sementara kau mengikuti emosi dengan bercerai darinya, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

Aku diam sambil memikirkan ucapan konyol Ryu. Apa mungkin ada kemungkinan seperti itu?

“Bagaimana kalau ternyata kau terlambat menyadari bahwa jodoh yang dikirimkan Tuhan itu adalah Lee Hyukjae dan bukan Lee Donghae? Apa yang akan kau lakukan? Meminta Lee Hyukjae untuk kembali menikahimu? Jangan gila.”

“Tidak akan ada kejadian semacam itu.” Aku menatap Ryu tajam. “Aku mencintai Lee Donghae, dan hanya dia lah satu-satunya jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku.”

“Kenapa kau seyakin itu? Apa kau ini kerabat dekat Tuhan, eh?”

“Ryu!”

“Hikari…” Ryu menarik napas panjang. “Perbedaan antara rasa kagum dan cinta itu sangat tipis. Bagaimana jika perasaan yang kau miliki terhadap Lee Donghae itu adalah perasaan kagum dan bukan cinta?” Aku sudah ingin menjawab, tapi Ryu sudah langsung memotong. “Setidaknya berikan waktu kepada hatimu untuk menetapkan siapa yang benar-benar kau cintai. Sebelum kau merasa yakin dengan perasaanmu, jangan pernah sedikitpun memikirkan perceraian.”

Dan tepat setelah Ryu mengucapkan itu, mobil Lee Hyukjae datang dan berhenti tepat di belakang mobilku. Melihat lelaki itu dari balik kaca, membuat perasaanku kembali terasa gamang. Apa yang harus kulakukan?

Konsentrasiku menjadi semakin buyar karena ucapan Ryu. Otousan bahkan harus berkali-kali berteriak agar aku membalas perkataannya. Semua yang ada di sekelilingku mendadak buram hingga hanya ada aku sendiri yang terjebak dalam kebingungan.

Kulihat Lee Hyukjae masih bersikap seperti biasanya. Dia masih bisa tersenyum lebar, melemparkan lelucon-lelucon lucu, dan wajahnya semakin terlihat ceria tanpa beban sedikitpun.

Lelaki itu, apakah bersikap seperti itu untuk menutupi perasaannya? Apakah dia sedang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya? Menyadari fakta itu, membuat hatiku terasa ngilu.

Jika memang dia memutuskan ingin bercerai  karena sikap burukku dan ucapan Lee Donghae kemarin siang, berarti saat ini dia sedang melukai dirinya sendiri kan? Bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja sementara hatinya mungkin sedang meronta-ronta menahan rasa sakit.

Lee Hyukjae, aku harus bagaimana? Kalau kau terus bersikap seperti ini, aku justru akan semakin merasa bersalah.

—–

Sudah hampir 15 belas menit sejak penerbangan pesawat yang dinaiki Otousan, Okaasan, dan Ryu tapi aku masih diam disini bersama lelaki gila itu. Kami berdua masih saling diam sejak kepergian Otousan. Lelaki itu berdiri dengan bersilang kaki  dan punggung yang bersandar pada tembok. Kedua tangannya terselip di balik saku celana sementara pandangannya lurus kedepan entah melihat apa.

Sepertinya dia memang sengaja diam untuk menunggu aku yang memulai percakapan. Mungkin seharusnya aku mengatakan sesuatu sekarang. Tapi apa? Apa yang harus kukatakan? Meminta maaf atas sikapku selama ini? Atau… memintanya memikirkan ulang mengenai perceraian? Ah, otakku semakin kusut saja. Semua yang kupikirkan tidak ada yang benar.

Ragu, aku mencoba mengarahkan kepalaku ke samping untuk menatapnya.

Deg! Sejak kapan? Sejak kapan dia melihatku seperti ini? Matanya yang teduh menatap dalam ke arahku membuatku semakin kehilangan konsentrasi untuk bernafas. Niatku melihat ke arahnya adalah untuk membuka percakapan dengannya. Tapi dengan situasi yang seperti ini, jangankan memulai percakapan, sekedar menarik napas saja rasanya sulit.

Kedua mata coklatnya sanggup membuatku kehilangan kekuatan. Seluruh energiku rasanya terserap masuk ke dalam kedua manik mata itu hingga aku merasa kesulitan untuk memalingkan wajahku darinya. Kumiko Hikari, ada apa denganmu sebenarnya? Sejak kapan seorang Kumiko Hikari menjadi lemah seperti ini? Berbeda dengan tatapan Lee Donghae, tatapan lelaki gila ini seperti memberikan gaya gravitasi tersendiri yang menarikku untuk terus masuk ke dalam tatapannya. Jantungku mulai berdetak tidak normal sekarang. Sepertinya aku hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi gila.

“Sejak kapan kau senang memandangi wajahku seperti ini, Hikari Chan?”

Glek! Siaaaal. Sepertinya aku memang sudah benar-benar gila. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali lalu segera memalingkan wajahku darinya. Kudengar dia terkekeh. Kau senang sudah membuatku gila, Lee Hyukjae-ssi? Huh.

“Berhentilah mentertawaiku! Ish.” Aku menggerutu kesal sambil berjalan meninggalkannya. “Lagipula tadi siapa yang duluan melihat, hah?”

“Hikari Chan…” Panggilannya sukses membuatku berhenti mendadak. Aku membalikkan badan. “Apa lagi?”

“Kau setuju untuk bercerai denganku kan?” Dia berjalan ke arahku dengan kedua tangan yang masih terselip di balik saku celananya. Wajah itu… masih tetap memperlihatkan senyumannya yang biasa. Senyuman aneh yang entah kenapa —untuk kali ini— terlihat tulus dimataku.

Aku meneguk ludahku, kemudian menjawab ragu. “Kau yakin ingin kita bercerai?”

“Hmm-mmm” Dia mengangguk. “Otte?”

Aku memalingkan wajah dan menarik napas pelan. “Kenapa?” Aku menatapnya. “Bukankah kau bilang kau mencintaiku? Kenapa sekarang kau malah ingin bercerai?”

Lelaki itu masih tetap tersenyum. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Justru karena aku mencintaimu makanya aku ingin kita bercerai.”

Dia maju selangkah hingga kini tubuhnya hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuhku. Lelaki itu lalu mengelus kepalaku pelan, —seperti yang dilakukannya di tempat latihan kemarin— “Aku ingin kau mendapatkan kebahagianmu. Itulah kenapa kita harus bercerai.”

Selesai mengucapkan itu, dia menatapku dalam sambil tersenyum samar lalu berjalan meninggalkanku.

“Lee Hyukjae-ssi!” Refleks aku memanggilnya setelah beberapa langkah dia berjalan. Aku masih belum membalikkan badanku. Dan aku yakin, lelaki itu juga pasti melakukan hal yang sama. Aku yakin dia sekarang berhenti dengan tanpa membalikkan badannya.

“Hmm?” Seperti biasa, dia hanya menggumam pelan untuk menjawab suaraku.

Aku menarik napas, lalu kembali bersuara sekalipun tenggorokanku masih terasa kering. “Bagaimana jika aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku?”

Hening selama beberapa saat. Aku masih menunggu suara darinya. Lee Hyukjae, jawab aku!

“Lee Donghae. Dia pasti akan memberikan kebahagiaan yang kau butuhkan.” Jawabnya serak. Apa dia sedang menahan air matanya? Aku mencengkram ujung bajuku kencang.

“Kenapa tidak kau saja yang berusaha memberikan kebahagiaan untukku? Kenapa kau harus menyerahkan kebahagiaanku pada lelaki lain?”

“Tentu.” Ucapnya pelan. “Aku tentu saja bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Seandainya kau tidak mencintai Lee Donghae dan Lee Donghae tidak mencintaimu, aku tentu akan melakukan itu. Berusaha membahagiakanmu.” Diam sebentar, lelaki itu melanjutkan. “Tapi takdir berkata lain. Kau dan Lee Donghae saling mencintai. Aku tidak bisa bersikap egois dengan mempertahankanmu dan menyakiti sahabatku sendiri. Kalian harus bahagia. Itulah kenapa aku memilih mundur.”

Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Aku ingin membantah ucapannya. Aku ingin menyangkal kalimatnya. Tapi aku tidak bisa.

Aku hanya bisa diam, hingga kudengar suara derap langkahnya yang berjalan menjauhiku. Dia pergi.

—–

Lotte World.

Entah apa yang ada di otakku sekarang, yang jelas saat ini aku memang sedang tidak waras. Dengan suasana hati yang tidak jelas, aku malah memilih pergi ke tempat yang sangat ramai dari lalu lalang orang. Lotte World.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling sambil menghela napas berat. Tempat ini tidak pernah sepi. Selalu padat dan ramai dengan ratusan ribu orang yang rata-rata datang bersama keluarga, teman atau bahkan pacarnya. Mungkin hanya aku satu-satunya pengunjung disini yang datang seorang diri dengan membawa setumpuk masalah. Aku tersenyum miris.

Tidak apa-apa. Aku memang sengaja memilih tempat ini agar tidak lagi merasa sendiri. Berada ditengah lautan manusia seperti ini membuatku merasa lebih nyaman ketimbang harus sendirian di tempat sepi dan meratapi nasib.

Sejenak, aku ingin melupakan masalahku. Untuk kali ini saja aku ingin menjadi diriku sendiri dengan melepaskan semua beban yang menghimpitku saat ini.

Aku melihat jam tanganku. Masih jam 11 siang. Itu artinya aku masih mempunyai waktu 9 jam untuk melepaskan image ‘Kumiko Hikari’-ku sebelum nanti aku bertemu dengan Lee Donghae.

Baiklah Hikari, ayo semangat! Aku menepuk kedua pipiku pelan lalu memaksakan diri untuk tersenyum.

Aku mulai melangkahkan kaki meskipun masih terasa berat. Sesekali otakku masih memutar ulang ucapan-ucapan yang dilontarkan Ryu kepadaku.

“Anggap saja aku ini sok tau. Tapi menurut pengamatanku, lelaki itu benar-benar mencintaimu. Kau pasti akan menyesal kalau melepaskannya, Hikari Chan.”

Aku mendesah. Apa yang bisa aku lakukan sekarang kalau kenyataannya lelaki itulah yang ingin melepaskanku? Haruskah aku mempertahankannya sementara hatiku sendiri masih terpaut pada lelaki lain yang merupakan sahabatnya sendiri? Tidakkah itu terdengar kejam dan egois?

“Apa benar kau mencintai Lee Donghae-mu itu, hmm?”

Tentu saja aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi kenapa tadi aku sulit sekali mengeluarkan kalimat itu? Kenapa tadi mulutku terasa berat untuk menjawab pertanyaan Ryu? Apa mungkin aku mulai goyah dengan perasaanku sendiri?

“Jangan lagi bersikap gegabah. Kau tau bagaimana akibatnya dari sebuah ketergesaan kan? Jangan dulu menyimpulkan sesuatu hal yang belum pasti.”

Aku mengerang. Lantas sekarang aku harus bagaimana?!

“Setidaknya, belajarlah dari kesalahan. Jangan lagi bersikap gegabah dan terburu-buru mengambil keputusan. Abaikan emosimu dan berpikirlah dengan jernih. Anggaplah menikah dengan Lee Hyukjae adalah sebuah kesialan. Tapi bagaimana kalau itu sebenarnya adalah cara Tuhan untuk mempertemukanmu dengan jodohmu yang sebenarnya?”

Kepalaku mulai terasa berat sekarang. Ya Tuhan, benarkah ini adalah caraMu untuk mempertemukanku dengan jodohku yang sebenarnya? Benarkah…. Lee Hyukjae itu… jodohku? Napasku mulai tercekat. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi kan?

“Bagaimana kalau ternyata kau terlambat menyadari bahwa jodoh yang dikirimkan Tuhan itu adalah Lee Hyukjae dan bukan Lee Donghae? Apa yang akan kau lakukan? Meminta Lee Hyukjae untuk kembali menikahimu? Jangan gila.”

Aku sudah mulai gila sekarang. Bagaimana mungkin Ryu bisa mengatakan kalimat sekonyol itu? Tapi…. Bagaimana kalau ternyata ucapan Ryu itu benar? Eerggh…

“Perbedaan antara rasa kagum dan cinta itu sangat tipis. Bagaimana jika perasaan yang kau miliki terhadap Lee Donghae itu adalah perasaan kagum dan bukan cinta?”

Aku menggigit bibirku pelan. Apakah mungkin seperti itu? Apakah mungkin perasaan yang kumiliki terhadap Lee Donghae ini adalah perasaan kagum dan bukan…. Cinta?

“Setidaknya berikan waktu kepada hatimu untuk menetapkan siapa yang benar-benar kau cintai. Sebelum kau merasa yakin dengan perasaanmu, jangan pernah sedikitpun memikirkan perceraian.”

Aku memijati pelipisku. Kenapa hidupku harus serumit ini? Lee Hyukjae dan Lee Donghae. siapa yang harus kupertahankan?

Aku berhenti tepat di depan wahana Gyro Swing.

Melihat permainan yang memacu adrenalin itu membuatku merasa tertantang juga. Kepalaku sudah cukup pusing sekarang. Membuat kepalaku berputar-putar seperti itu sepertinya menarik juga. Entah mendapatkan keberanian darimana, tiba-tiba saja kakiku sudah bergerak untuk mengikuti antrian di wahana itu. Kumiko Hikari, welcome to the jungle!

———

“Uoooeeekkkkk!”

Tepat setelah aku turun dari wahana setan itu, perutku langsung bereaksi. Sepertinya semua isi yang ada di dalam perutku keluar semua. Untung saja tadi aku sempat membawa kantong keresek.

“Uoooeeeekkk!!” Lagi. Aku mengeluarkan isi perutku. Haaaaah.

Setiap kali aku berjalan beberapa langkah, perutku pasti terasa mual hingga akhirnya muntah-muntah. Badanku sampai lemas dan orang-orang semakin memperhatikanku dengan pandangan mengasihani. Cish, memang aku terlihat semenyedihkan itu?

Butuh tenaga ekstra untuk bisa keluar dari area wahana setan itu. Demi Tuhan, orang gila mana yang tega-teganya membuat wahana menyiksa seperti itu? Benar-benar menyeramkan. Aku mengelap keringat yang membasahi wajahku dengan tisu. Entah kenapa kepalaku sampai sekarang masih terasa berputar-putar. Aku bahkan sudah tidak bisa lagi menghindari orang-orang yang berjalan dari arah yang berlawanan denganku hingga akhirnya tubuhku harus rela menubruk orang-orang itu selama beberapa kali.

Jalanku juga sudah tidak benar. Kalau ada yang memperhatikanku, mereka pasti akan mengira aku ini sedang mabuk karena dari tadi tubuhku sempoyongan dan terus-menerus terbawa arus orang-orang yang berjalan di sekitarku. Aku harus segera duduk kalau tidak ingin mati tertabrak orang-orang ini.

Aku mengedarkan pandanganku ke semua penjuru. Bingo! Ada satu kursi di depan sana. Aku segera berjalan cepat ke arah kursi tersebut. Dan tepat saat jarakku dengan kursi yang ada di depanku semakin mengecil, seseorang dengan tubuh besar tiba-tiba saja menabrak tubuhku hingga membuatku oleng dan mundur beberapa langkah. Aku sudah pasrah saja saat kakiku tidak mampu lagi menopang berat tubuhku yang kehilangan keseimbangan. Mataku sudah terpejam siap-siap menerima kerasnya aspal, sampai sepasang tangan memeluk pinggangku hingga membuat tubuhku terhenti di udara.

Aku segera mengangkat kepalaku ke atas. Butuh waktu beberapa detik untuk menyadari siapa orang yang menolongku ini. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Apa efek menaiki wahana setan itu bisa membuat mataku sekacau ini?

“Lee Hyukjae?” Tanyaku tidak yakin.

Kulihat tubuh lelaki itu berjengit kaget. Kalau begitu dugaanku memang benar. Sekalipun wajah lelaki itu sekarang ditutupi topeng singa, tapi aku masih bisa mengenalinya dengan baik. Dia boleh saja menutupi wajahnya dengan apapun. Tapi aku masih belum lupa dengan pakaian dan jaket yang dikenakannya itu. Wangi tubuhnya yang khas juga menjadi faktor yang membuatku yakin kalau lelaki ini adalah lelaki gila-ku. Eh, tunggu. Kenapa aku memanggilnya dengan lelaki gila-ku? Akhiran –ku itukan berarti…. Eerr, kepemilikan?

Lee Hyukjae mengangkat tubuhku agar bisa berdiri. “Gwenchana?” Tanyanya khawatir. Aku tidak tau kenapa. Tapi aku merasa sedikit senang mendengar suara khawatirnya itu.

“Kau Lee Hyukjae kan?” Tanyaku menuntut.

Lelaki itu terlihat semakin tegang. Dia memalingkan wajahnya dan pura-pura memperbaiki letak topengnya. Ku dengar dia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa menangkap apa yang dikatakannya itu.

“Tidak perlu menutupi diri lagi. Aku tau itu adalah kau.” Aku menahan diri untuk tidak tertawa. “Jadi dari tadi, kau mengikutiku?”

“Apa?!”

Aku yakin, matanya pasti sedang terbuka lebar sekarang.

“Jangan salah paham dulu. Aku hanya kebetulan saja sedang melewati daerah ini. Dan melihat ada wanita angkuh yang berjalan sempoyongan begitu, mau tidak mau aku harus menolongnya kan?”

Aku mendengus. “Tch. Masih tidak mau mengaku.” Dan tiba-tiba saja sebuah ide bodoh memasuki otakku. Akh, aku tidak tau setan gila mana yang sedang merasukiku saat ini sampai aku menyetujui ide bodoh yang mampir ke otakku tersebut.

Untuk pertama kalinya, aku tersenyum kepadanya. “Karena kau sudah datang, sekalian saja kita berjalan-jalan. Eo?” Aku mengalungkan lenganku pada lengannya. Tubuhnya kembali berjengit.

“Kita.. apa?” Tanyanya dengan nada tak percaya.

“Berjalan-jalan.” Jawabku sementara kakiku terus melangkah dan tanganku semakin erat memegang —-atau lebih tepatnya menarik— tangannya agar dia mau melangkahkan kakinya.

“Kau sedang tidak sehat ya?”

“Sepertinya begitu.” Balasku sekenanya. “Sudahlah, akui saja kalau kau sebenarnya senang kan?” Aku meliriknya sekilas lalu melanjutkan, “Lagipula daripada kau berjalan di belakangku sebagai penguntit, jauh lebih baik berjalan disampingku kan?” Sindirku membuatnya menarik napas panjang.

“Aku bukan penguntit!” Sambarnya keras sementara tangannya yang bebas memegang tanganku yang masih mengalung di lengan kirinya. Dia lalu mengarahkan tanganku ke arah telapak tangannya dan menyelipkan jari-jarinya di antara jariku. Aku hanya tersenyum menanggapi perlakuannya.

“Karena kita akan bercerai, anggap saja kalau perjalanan hari ini sebagai pesta perpisahan kita sebagai suami-istri.” Aku merasakan tubuh Lee Hyukjae menegang. Apakah dia kaget karena aku mengungkit masalah perceraian? Pegangan tangannya di tanganku pun mulai mengendur nyaris terlepas namun aku mencoba mempertahankannya. Aku mengeratkan peganganku di tangannya yang besar.

“Pesta perpisahan?” Aku mengangguk. “Terdengar bagus tapi juga menyakitkan di lain sisi.” Kudengar dia menghela napas pelan. “Kumiko Hikari, kau memang ahlinya membuatku terbang dan terhempas dalam hitungan detik.”

Aku hanya meringis. Apakah perkataanku tadi sudah keterlaluan? Aku hanya berusaha untuk bersikap realistis. Apakah itu juga salah?

——

Sudah 30 menit berlalu dan kami berdua hanya berjalan-jalan dengan arah yang tak jelas. Lelaki itu masih menutup rapat mulutnya sedangkan aku hanya bisa diam tanpa tau harus melakukan apa. Sepertinya, lelaki gila ini benar-benar sedang marah. Sikapnya kembali ke awal. Dingin dan acuh. Tangan kami masih terhubung, tapi aura dingin itu masih kental terasa.

Jujur saja, aku masih bingung dimana letak kesalahan dari ucapanku itu? Bukankah apa yang kukatakan itu memang kenyataan? Kenapa dia harus marah?

Ah, mungkin ini memang kesalahanku. Tidak seharusnya aku bersikap sok baik dengan mengajaknya berjalan-jalan bersama. Aku sendiri tidak mengerti kenapa sikapku harus berubah 180 derajat seperti ini. Pergi kemana keangkuhan yang selama ini menemaniku?

Sejak hari itu, rasanya aku kehilangan sikap angkuhku kepadanya. Sejak aku menamparnya dan dia memperlihatkan sorot matanya yang menusuk, aku seolah kehilangan jati diriku. Aku… menjadi semakin sulit mengabaikannya.

Siapa sangka, lelaki yang paling kubenci ini bisa memberi pengaruh yang cukup besar pada gadis angkuh sepertiku?

Aku yang biasanya cuek, sekarang malah sering mengkhawatirkan keadaannya. Aku yang biasanya selalu menjaga image di depan orang, tapi dihadapannya malah selalu bersikap apa adanya. Aku mudah sekali memperlihatkan sifat asliku kalau sudah berhadapan dengannya. Terkadang aku selalu merasa kehilangan jati diri ‘Kumiko Hikari’ setiap kali bersama dengannya.

Selama ini padahal hanya Otousan, Okaasan, Ryu dan Adachi-lah yang sanggup membuatku melepaskan image Kumiko Hikari yang tertanam di mata publik. Aku tidak pernah memperlihatkan sifat asliku di hadapan orang lain. Tapi kenapa lelaki itu sekarang malah mendapatkan pengecualian?

Sebuah pemikiran bodoh mulai terbersit di otakku.

Mungkinkah aku mulai menyimpan perasaan khusus padanya?

“Wah, bianglala!”

Pekikannya membuat jantungku hampir melompat keluar. Lamunanku buyar diganti kekagetan karena ulahnya yang mengeluarkan suara tiba-tiba.

Lelaki itu menatapku dengan wajah antusiasnya. Kenapa kelakuannya ini cepat sekali berubah-ubah? Aku mengerutkan kening heran.

“Bagaimana kalau kita naik bianglala saja? Eo?”

Belum sempat aku menjawab, lelaki itu sudah langsung saja menarik tanganku dan masuk ke dalam antrian yang cukup panjang. Aku menghela napas pasrah.

Selama proses mengantri itu, banyak sekali orang-orang yang berbisik-bisik dan membicarakan kami. Ah, ralat! Maksudku dia. Karena dari tadi, orang-orang sepertinya sibuk sekali memperhatikan lelaki gila ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin mereka semua bertanya-tanya, orang gila mana yang sedang kabur dari Rumah Sakit Jiwa. Hahhaha.

Aku terkikik geli melihat ekspresi orang-orang itu. Penampilan Lee Hyukjae saat ini memang sudah cocok dianggap gila. Lihat saja, mana ada orang yang mengenakan topeng singa di tempat permainan seperti ini? Dimana-mana kalaupun ada yang memakai topeng, pasti topeng yang lucu dan menggemaskan. Bukannya topeng menyeramkan semacam singa. Ckckc.

“Apa ada yang lucu?” Lelaki itu mengarahkan kepalanya kepadaku. Firasatku mengatakan, matanya saat ini pasti sedang mendelik tajam.

Aku berdehem pelan. “Tidak ada.” Kekehku sambil menutup mulut —-menahan diri untuk tidak tertawa—

“Tidak ada yang lucu, tapi tertawa sendiri.” Lee Hyukjae menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak pelan.

“Kau tidak bisa melihat ke sekelilingmu, eh?”

“Apa?”

“Mereka sedang membicarakanmu, bodoh! Ish, aku seperti sedang berjalan dengan manusia abnormal saja.”

Lee Hyukjae mengarahkan kepalanya ke arah orang-orang yang sedang berbisik-bisik itu. “Aaaah..” Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mereka itu pasti sedang membicarakan ketampananku.”

Aku memutar bola mata malas lalu menepuk kepalanya. “Tampan darimana?! Wajahmu saja tidak kelihatan. Dasar bodoh.”

“Heei, melihat ketampanan seseorang itu tidak harus dari wajah. Dari postur tubuh saja, orang-orang sudah bisa menilai betapa tampan dan mempesonanya diriku. Hohoho”

“Terserah kau saja lah.”

“Ah! Atau kau mau aku membuka topengku?”

Tepat setelah dia mengucapkan itu, kami maju ke barisan paling depan dan kotak besi itu terbuka. Aku segera naik tanpa mempedulikan ucapannya. Aku tau, dia saat ini pasti sedang memajukan bibirnya karena kesal. Tapi biar saja. Aku malas berdebat dengan orang gila seperti dia.

“Hei, kenapa kau duduk disini?” Omelku saat dia dengan seenaknya duduk di sebelahku. “Nanti oleng, bodoh!”

“Kau pikir ini bianglala murahan? Tidak akan oleng. Lagipula tidak asik kalau duduk berhadapan seperti itu.”

“Pindah atau kau akan kutendang?” Aku menaikkan satu kakiku membuat tubuhnya begidik dan akhirnya pindah ke kursi yang ada di depanku.

“Dasar gadis kejam.” Gerutunya dan aku hanya tersenyum puas.

Aku lalu melihat ke arah jendela menikmati pemandangan Lotte World dengan takjub. Ternyata menyenangkan juga bisa melihat taman hiburan mewah dari arah sini. Sebenarnya aku ini takut ketinggian. Tapi melihat pemandangan luar yang indah seperti itu, ketakutanku bisa sedikit teralihkan.

Sementara mataku tengah asik memperhatikan keindahan yang ada di luar sana, perasaanku malah merasa tidak enak. Seperti ada yang janggal disini.

Aku memutar kepalaku ke depan, dan benar saja! Pantas perasaanku merasa tidak enak. Lelaki gila itu ternyata sedang memperhatikanku dengan kedua matanya yang tajam. Dia tersenyum aneh dengan kepala yang bersandar pada kaca. Aku meneguk ludahku. Sejak kapan dia membuka topengnya dan menatapku seperti itu?

“Kenapa kau melihatku begitu?”

Lelaki itu mengangkat bahunya santai. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menikmati wajahmu selagi ada kesempatan.”

“Kau gila.”

“Benar. Aku memang gila karena harus mencintaimu sebesar ini.”

Glek. Tubuhku menegang seketika. Lee Hyukjae, berhentilah membuatku merasa bersalah seperti ini.

“Tidak seharusnya kau mencintai gadis angkuh sepertiku, Lee Hyukjae-ssi.” Aku menatapnya dan tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tersenyum kepadanya. “Setelah bercerai kelak, kau harus bisa menemukan gadis yang pantas kau cintai. Seorang gadis yang mencintaimu dengan tulus, setulus perasaanmu pada gadis itu. Eo?”

“Seandainya bisa…” Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela.

“Kau harus bisa. Dan pasti bisa.” Yakinku padanya.

“Kalau memang seperti itu, mungkin aku sudah berhenti dari dulu, Hikari Chan.”

Aku mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Aku memang memutuskan untuk melepaskanmu. Tapi bukan berarti aku mampu menatap gadis lain sebagaimana aku menatapmu.” Dia kemudian menatapku sendu dan itu membuat hatiku kembali merasa sesak. “Dua tahun lalu sejak aku melihatmu, mataku sudah tidak mampu lagi melihat gadis lain. Mataku sudah terpusat padamu. Hanya padamu. Menyebalkan sekali, bukan?”

“Dua tahun… lalu?” Aku semakin tidak mengerti sekarang. Bukankah aku bertemu dengannya hanya pada saat di altar dua hari yang lalu? Apa maksudnya dengan ‘dua tahun yang lalu?’

Lee Hyukjae. Lelaki itu tersenyum samar.

Dia lalu menarik napas panjang dan mulailah mengalir cerita tentang kegilaannya selama dua tahun kemarin. Sebuah kegilaan yang sanggup membuatku tercengang habis-habisan. Hatiku meringis mendengar ceritanya yang mengejutkan itu.

Jadi selama dua tahun ini… dia selalu memperhatikanku diam-diam? Dan dia… sudah menyukaiku selama dua tahun? Ya Tuhan, bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Dan bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya? Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kehadirannya selama ini? Manusia seperti apa aku ini sebenarnya?

Mengingat sikapku kepadanya selama ini yang acuh dan menyebalkan membuat rasa bersalahku semakin menanjak naik. Kenapa hari ini banyak sekali kejutan yang membuat otot-otot tubuhku melemas? Tuhan… seperti inikah balasanmu terhadap manusia angkuh sepertiku?

“Kenapa diam saja? Ayo turun.”

Aku tersentak begitu menyadari bianglala yang kunaiki ini sudah berhenti. Lelaki itu pun ternyata sudah memakai kembali topeng singa-nya. Setelah menarik napas panjang dan mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki, aku ikut turun.

Entah sejak kapan, melangkahkan kaki menjadi terasa sesulit ini. Aku menepuk-nepuk dada kiriku pelan. Bernafaslah Hikari, bernafas. Kenapa mendengarkan ceritanya membuat dadaku kembali terasa sesak?

Lelaki itu sekarang sudah berjalan jauh di depanku. Tapi ajaibnya, sejauh apapun lelaki itu meninggalkanku, punggungnya masih tetap jelas terlihat. Dan saat ini, mataku hanya fokus menatap punggungnya.Sampai cairan bening itu keluar, aku baru menundukkan kepala. Lee Hyukjae, haruskah kita bercerai?

Satu kalimat Ryu kembali memenuhi kepalaku.

“Bagaimana kalau ternyata kau terlambat menyadari bahwa jodoh yang dikirimkan Tuhan itu adalah Lee Hyukjae dan bukan Lee Donghae? Apa yang akan kau lakukan? Meminta Lee Hyukjae untuk kembali menikahimu? Jangan gila.”

Lee Hyukjae. Lee Donghae. Apa yang harus kulakukan terhadap kalian berdua?

“Berjalanlah disampingku.” Aku merasakan tanganku menghangat. Aku melirik tangan kananku lalu tersenyum. Perasaan nyaman itu perlahan mulai menjalari tubuhku.

“Gomawo.” Bisikku.

——

“Kau akan bertemu dengan Donghae? Hari ini?”

Aku mengangguk. “Hmmm. Kenapa? Tidak boleh?”

“Aku sudah tidak mempunyai hak untuk melarangmu kan?”

Aku mengaduk-ngaduk telur yang ada dihadapanku dan kembali bergumam tidak jelas. Ya Tuhan, semoga keputusanku ini tidak salah. Jantungku terus-terusan berdegup kencang setiap kali aku memikirkan keputusan yang akan kuambil ini. Huft.

“Kau tidak perlu menganiaya telur itu kalau memang tidak suka.” Lelaki itu mengambil telur yang sudah tidak berbentuk di atas piringku lalu memakannya lahap.

“Hei, aku jadi penasaran.” Aku menatapnya yang sedang asik memakan telurku. “Apa kau diam-diam sudah menyimpan radar di dalam otakku, eh?”

“Memang kenapa?” Tanyanya dengan mulut penuh.

“Terkadang, kau selalu bisa membaca apa yang ada didalam pikiranku. Kau selalu mampu menebak apa yang kuinginkan dengan baik. Kau menyimpan radar kan?” Aku menyipitkan mata.

Dia tertawa menanggapi pertanyaan bodohku itu. “Aku ini sudah mengikutimu selama dua tahun. Kau lupa?” Dia meneguk minumannya sedikit, lalu melanjutkan. “Jadi wajar saja kalau aku bisa membaca apa yang ada di otakmu itu.”

Dadaku kembali bergetar tanpa alasan, saat dia menatapku dengan senyuman tipisnya. “Untuk memahami apa-apa yang kau ucapkan, semua orang mampu melakukannya. Tapi untuk memahami apa-apa yang tersembunyi dibalik wajah angkuhmu, aku ingin hanya akulah yang mampu melakukannya.”

Untuk kesekian kalinya, kau membuatku tercengang dengan ucapanmu Lee Hyukjae-ssi.

Aku baru akan membalas ucapannya saat ponselku tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Aku meneguk ludah saat melihat layar LCD ponsel. Lee Donghae meneleponku.

Annyeong, Oppa.”

Annyeong Rae-ya. Kau ada dimana? Aku sudah sampai restoran sekarang.”

Deg. Aku kembali meneguk ludahku yang terasa pahit. Tenggorakanku tercekat mendadak saat mata itu menatapku tajam.

Berusaha mengabaikan tatapannya, aku menjawab pertanyaan Lee Donghae setenang mungkin. “Benarkah? Aku akan kesana sebentar lagi. Tunggu aku ya, Oppa.”

Aku kembali menatap Lee Hyukjae setelah mematikan sambungan telepon. “Aku sudah harus pergi sekarang.”

Lelaki itu mengangguk tapi tidak mengucapkan apapun. Aku tersenyum miris.

“Kau tidak ingin melihatku menjemput kebahagiaan yang kau harapkan?”

Lelaki itu menatapku. “Aku menginginkan kau bahagia. Tapi bukan berarti aku harus melihat sendiri kebahagiaan itu kan? Pergilah.”

“Kau harus mengantarku dan melihat sendiri kebahagiaanku dengan kedua matamu itu, Lee Hyukjae-ssi.”

“Apa?”

Aku bangkit berdiri. “Ayo.”

“Ya! Kau mau membunuhku pelan-pelan ya? Aku tidak mau.” Lelaki itu berusaha melepaskan tangannya namun kuabaikan. Dalam situasi mendesak seperti ini, tenagaku memang selalu naik berkali-kali lipat.

Aku terus berjalan menyusuri restoran dengan terus mencengkram lengannya kuat-kuat. Untung saja Otousan memiliki restoran di kawasan Lotte World hingga aku tidak perlu kerepotan mencari tempat yang bisa kukosongkan seenaknya.

Hanya tinggal menelepon Adachi, restoran ini sudah steril sesuai keinginanku. Hanya orang-orang tertentu saja yang memang bisa dipercaya yang tetap berada di restoran.

Aku berhenti di sebuah tikungan dan melihat Lee Donghae yang sedang asik memainkan ponselnya.

“Jadi kau bertemu dengannya disini juga?” Tanya lelaki yang sedang kucengkram itu tak percaya.

Aku tersenyum tipis. Mungkin terdengar kejam, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mau mengambil resiko terlalu besar dengan mengajak bertemu seorang artis di tempat yang tidak aman.

Aku memutar tubuhku menatapnya. “Tunggu aku disini, dan lihatlah bagaimana aku mendapatkan kebahagiaan itu.”

Lelaki itu mencebik. “Benar-benar gadis kejam.”

“Ini hukuman yang pantas atas semua tindakan gilamu selama ini.” Aku tersenyum sinis. “Lihatlah bagaimana aku bahagia.”

Ara. Dan setelah itu, kau pun harus melihat bagaimana aku terpuruk karena menyaksikan kebahagiaan dramatismu.”

“Wah, wah. Itu sih bukan urusanku.” Ucapku masa bodoh.

Aku kembali memutar tubuhku untuk berjalan ke arah Lee Donghae, tapi baru selangkah aku berjalan, tubuhku tiba-tiba saja terhuyung kebelakang dan sedetik kemudian, sepasang tangan sudah melingkar sempurna di sekitar leherku. Lelaki itu memelukku dari belakang. Nafasku tercekat saat itu juga.

“Bahagialah. Jika kau tidak bisa bahagia bersamaku, maka kau harus bisa menemukan kebahagiaanmu bersama sahabatku.”

Aku hanya diam, tak mampu menjawab ucapannya. Sebuah anggukan singkat menjadi satu-satunya jawabanku untuknya.

Dia merenggangkan pelukannya lalu berbisik, “Pergilah. Aku melepaskanmu.”

——

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Aku memaksakan diri untuk bersikap wajar ditengah perasaanku yang sedang kacau balau.

Lee Donghae mengangkat wajahnya dari ponsel, lalu tersenyum kepadaku. Senyumannya manis seperti biasa. Senyuman yang selalu mampu membuat hatiku bergetar. Aku duduk di depannya dan ikut menyunggingkan senyuman.

“Menunggu berapa lama pun tidak akan masalah bagiku.” Ujarnya membuatku malu.

“Sudah memesan makanan, Oppa?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi ketegangan yang semakin membahayakan kerja jantungku.

“Aku sudah makan,” Katanya begitu aku mengedarkan pandangan mencari pelayan. Dan tiba-tiba saja, tangannya sudah menggenggam tanganku erat. “Bagaimana jawabanmu, Rae-ya? Kau.. mau menerima perasaanku kan?”

Lelaki ini kenapa to the point sekali? Aku memintanya datang menemuiku memang untuk memberikan jawaban kepadanya. Tapi kan tidak harus secepat ini juga. Seharusnya dia memberikanku waktu untuk mengumpulkan keberanian. Hhhh~

“Rae-ya…”

Panggilan lembutnya membuatku berhenti menggerutu.

“Kau benar-benar ingin tau jawabannya secepat ini?”

Lelaki itu mengangguk.

Aku menatap Lee Donghae lekat. Ya Tuhan, semoga keputusanku ini benar.

——

“Jadi seperti itu, kebahagiaan yang kau inginkan?”

Aku menghentikan langkahku. Kupikir lelaki ini sudah pergi. Ternyata dia benar-benar menungguku. Aku membalikkan badan sambil tersenyum samar.

Lelaki itu, masih dengan kemeja putihnya berdiri kokoh di sudut ruangan. Matanya menatapku tajam, sementara kedua tangannya diselipkan dibalik saku celana. Dia menatapku tidak mengerti.

Perlahan, aku berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depannya dengan jarak yang sangat tipis. Aku menarik kerah kemejanya kearahku, lalu menyatukan bibirku dengan bibirnya singkat. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya  dan berkata, “Lee Hyukjae, bahagiakanlah aku. Buatlah aku mencintaimu, dan bantulah aku melupakan Lee Donghae.”

“APA?!”

==THE END==

BUAHAHHAHAH ending macam apa ini?

iya.. iya.. saya tau, endingnya memang kacau balau. Jujur aja saya bikin ini memang setengah-setengah. Antara semangat dan nggak (?) LOL jadi maap klo hasilnya ga memuaskan v.___.v

Kritikannya ditunggu yaaahhh <3333333

Dan sekedar info gapen, saya sebenernya sengaja bikin ending gantung kayak gini karena tadinya saya berencana bikin sequel My husband- My wife tapi dengan gaya yang baru (?) *halah* Saya mau nyatuin cerita My husband- My wife dengan mengambil sudut pandang orang ketiga. Jadi disitu biar kegambar juga gimana perasaan semua tokoh termasuk LDH.

Menurut kalian, mending dibuat sequelnya jangan? Tapi dengan gaya penulisan saya yang makin ancur kayaknya ga usah aja yah =______= *labil* Hahaha~

Okeh, buat yang udah baca, makasih :*

Makasih banyak mau ngikutin cerita abstrak ini dari awal sampe akhir. Kalau bukan karena kalian, mungkin saya ga bisa nyelesain cerita ini sampe akhir. *hug all* :”)

Advertisements

146 responses to “My Husband [7-END]

  1. Tuh kan kata” hyuk selalu bikin nangis ;-;
    Tp gapapa akhirnya happy ending \^^/
    Untung aja ga jadi cerai kl ga.. *siap” ngasah golok *ehh *canda
    Lama” bs jd hyukari shipper nih bkn eunhae shipper lagi ._. *eh
    hahaha ffnya keren thor! Daebak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s