The Letter

Judul: The Letter

Author: Joonisa (@Joonisa or @AuthorJoonisa)

Genre: Family, Angst

Rating: General

Cast:

Lee Sungyeol (INFINITE)

Kim Myungsoo (INFINITE)

Kim Narae (OC/You)

Support Cast:

Lee Sungjong (INFINITE)

Edited by: thecuties and Joonisa

***

Annyeonghaseyo.

Namaku Lee Sungyeol. Umurku 26 Tahun. Aku adalah seorang konsultan di salah satu rumah sakit khusus kanker di Korea Selatan, lebih tepatnya lagi di Busan. Pekerjaanku adalah mendengarkan seluruh keluh kesah pasien, karena pasien yang sudah divonis kanker – bahkan yang sudah divonis kalau hidupnya tidak lama lagi – pasti membutuhkan teman bicara, setidaknya untuk meringankan sedikit beban yang ada di pikiran, agar mereka tetap mau berjuang untuk hidup.

Sebenarnya kampung halamanku adalah di Seoul, dan dulunya aku bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di sana. Bagi sebagian orang mungkin pekerjaanku adalah pekerjaan yang mapan dan cukup bergengsi, tapi apa gunanya pekerjaan seperti itu kalau kau tidak menikmatinya? Bayangkan saja, pekerjaanku adalah mendengarkan keluh kesah pasien, sedangkan atasanku membatasi waktu untuk setiap pasien hanya 15 menit, dengan alasan pasien yang menunggu untuk konsultasi setiap harinya sangat banyak! Bagaimana mungkin seseorang bisa menumpahkan seluruh beban yang mengganggu pikirannya hanya dalam waktu 15 menit?

Atasanku sudah berkali-kali memperingatiku karena aku dinilai terlalu lamban dalam menangani pasien, tapi aku masih tetap pada pendirianku untuk mendengarkan keluh kesah mereka sampai selesai. Pada akhirnya atasanku memindahkanku ke kantor cabang yang ada di Busan karena jumlah pasien yang ada di Busan tidak sebanyak yang ada di Seoul. Di tempat kerjaku yang baru ini, aku diberi ruangan khusus yang terpisah dari gedung rumah sakit. Ruangan ini sudah kudesain sedemikian rupa sehingga terasa nyaman dan membuat pasien betah untuk berlama-lama. Aku juga dibantu oleh seorang asisten yang bertugas untuk merapikan ruangan ini dan menyediakan minuman untuk pasien, namanya Lee Sungjong.

Annyeonghaseyo..

Aku dan Sungjong menoleh ke arah pintu. Di sana ada seorang pria muda yang berdiri tanpa ekspresi di wajahnya. Dia menggunakan seragam pasien rumah sakit.

“Bolehkah aku masuk?”

Aku sedikit terkesiap dan langsung mengangguk cepat. “N… ne. Tentu saja.”

Dengan canggung pria itu melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ekspresinya terlihat sedikit lebih baik.

“Ruangan ini kelihatannya nyaman. Tidak seperti di rumah sakit.”

Gamsahamnida (terima kasih),” ucapku sedikit tersipu. “Silakan duduk.”

Pria ini pun duduk perlahan di sofa. Wajahnya berubah menjadi sendu, setelah sebelumnya ada sedikit semangat yang terpancar di wajahnya begitu melihat ruangan ini.

“Siapa namamu?” tanyaku begitu aku duduk di hadapannya.

“Kim Myungsoo,” jawabnya pelan tanpa menatapku. Aku melirik ke arah Sungjong, tapi ia hanya tersenyum sambil mengaduk teh.

“Hmm… Cuaca hari ini cerah ya?” tanyaku untuk memecah keheningan. Myungsoo menoleh ke arah jendela, lalu tersenyum tipis.

“Iya benar. Aku hampir tidak menyadarinya.”

Aku tersenyum. Setidaknya obrolan tentang cuaca sebagai pembuka percakapan bukan ide yang buruk, meskipun terkesan kuno. Sungjong datang menghampiri kami berdua, lalu meletakkan teh yang dibuatnya di atas meja.

“Silakan dilanjutkan ngobrolnya, Myungsoo-ssi, Sungyeol-ssi.”

Gamsahamnida,” ucap Myungsoo pelan.

Gomawo, Sungjong-ah,” tambahku. Sungjong tersenyum dan kembali ke mini pantry. Myungsoo menyesap tehnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.

“Sungyeol-ssi..” Myungsoo mengambil jeda. “Kenapa kau melakukan pekerjaan ini?”

Ne?” tanyaku sedikit terkejut. “Ah… Itu.. Karena sejak kecil aku selalu suka mendengarkan cerita orang lain.”

“Kalau begitu kau populer di kalangan para wanita?”

Ne?”

“Biasanya wanita menyukai pria yang mendengarkan ceritanya dengan baik, benar kan?” tanya Myungsoo dengan sedikit terkekeh.

“Ah… Tidak selalu begitu,” aku menggaruk tengkukku pelan. Karena kenyataannya aku tidak populer di kalangan wanita.

“Sebenarnya aku… ”

Aku berhenti menggaruk tengkuk dan beralih untuk menatap Myungsoo dengan serius.

“Aku suka bernyanyi dan bermain musik. Banyak yang mengatakan kalau aku memiliki bakat dan potensi untuk menjadi seorang musisi yang sukses. Kedua orang tuaku pun tidak pernah protes ketika melihat ketertarikanku di bidang musik lebih besar daripada di bidang akademis.”

Myungsoo menghela nafas, tatapannya terlihat begitu hampa.

“Meskipun begitu, aku tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kakak perempuanku yang nilainya selalu bagus dan berprestasi di sekolah. Secara tidak sadar terkadang orang tuaku membandingkanku dengannya. Sejak saat itulah aku mulai merasa muak dengan keberadaan kakakku.”

“Apakah kakakmu bersikap buruk padamu?” tanyaku penasaran. Myungsoo menatapku lurus, lalu menggeleng pelan.

“Sama sekali tidak. Dia bahkan sangat baik padaku sekalipun aku selalu bersikap dingin padanya. Kupikir dia adalah penjilat ulung, tapi semua prasangka burukku sirna begitu kedua orang tua kami meninggal dalam kecelakaan pesawat pada bulan Mei, 3 tahun yang lalu.”

Myungsoo menunduk dalam untuk menahan air matanya supaya tidak keluar, tapi usahanya sia-sia.

“Kakakku masih sama. Dia masih bersikap sangat baik padaku. Dia…” Myungsoo mengusap air matanya. “Dia bahkan merawatku dengan sangat baik. Sampai akhirnya aku divonis mengidap kanker hati stadium akhir seperti sekarang, sikap baiknya justru semakin bertambah.”

Myungsoo menggigit bibirnya. Aku tahu dia akan menangis lagi, makanya aku diam agar ia tidak canggung untuk menumpahkan semuanya.

“Orang-orang yang mengunjungiku selalu mengatakan hal yang sama, yaitu semangat, berjuanglah, atau lakukan yang terbaik. Tapi karena aku berpikiran sempit.. kata-kata itu justru membuatku frustasi.”

“Kenapa?” tanya Sungjong tiba-tiba. Aku melirik ke arahnya, memberi isyarat untuk diam. Ia langsung mengangguk patuh dengan wajah polosnya.

“Aku tentu saja melakukan yang terbaik, tapi yang kuhadapi sekarang adalah suatu keadaan yang mana meskipun aku sudah melakukan yang terbaik tetapi tidak ada hasilnya! Siapapun tahu aku sebentar lagi akan kalah! Karena aku tidak tahu caranya menang makanya aku berada di rumah sakit ini! Kenapa orang-orang itu tidak mengerti?”

Aku masih diam seribu bahasa menyaksikan Myungsoo yang sedang di puncak kekalutan. Myungsoo kemudian menatapku tajam.

“Sungyeol-ssi, apa kau mengerti?”

Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang tidak terduga itu. Aku pun mencoba untuk menjawab jujur. “Eumm… Hanya pikiranku yang bisa mengerti, tapi perasaanku tidak.”

Myungsoo kembali terdiam selama beberapa detik, lalu ia tersenyum tipis. “Kau pria yang baik.”

Ne?”

“Tadinya aku sudah ingin menghajarmu kalau kau mengatakan aku bisa merasakan apa yang kau rasakan seperti yang dikatakan orang-orang yang mengunjungiku. Mana mungkin mereka bisa mengerti dan merasakan apa yang kurasakan, kecuali mereka memiliki nasib yang sama denganku.”

Aku membelalakkan mata, lalu kemudian menghembuskan nafas lega. Untung saja aku mengatakan hal yang benar, kalau tidak aku bisa babak belur. Myungsoo kembali menerawang, tapi kali ini dia tersenyum.

“Kakakku itu… Dia tidak pernah mengatakan hal-hal pemberi semangat seperti Semangat, jangan pernah kalah, atau lakukan yang terbaik. Dia hanya pernah berkata aku sudah tahu kau selalu melakukan yang terbaik.”

“Dia benar-benar seorang kakak yang hebat,” pujiku tulus.

“Tentu saja! Dia memang hebat, dan aku sangat berterima kasih karena ternyata dialah yang paling memahamiku selama ini, bahkan lebih dari orang tuaku sendiri. Ia selalu menyayangiku meskipun aku pernah muak padanya. Tapi..”

Myungsoo tiba-tiba tercekat. Kalimatnya terhenti, tapi sesaat kemudian ia terlihat bisa menguasai dirinya kembali.

“Tapi sulit bagiku untuk mengucapkan terima kasih dengan cara yang baik padanya. Saat aku ingin mengucapkan hal itu padanya, tiba-tiba lidahku…” Myungsoo menghentikan kalimatnya.

“Kelu dan yang keluar justru kalimat-kalimat bernada dingin…” lanjutnya.

“Aku merasa sangat bodoh,” ucapnya dengan wajah tertunduk lesu.

“Kalau kata-kata itu terlalu sulit untuk diucapkan, bagaimana kalau kau menuliskannya lewat sebuah surat?”

Mwo? Surat? Tsk.. Kau bercanda? Aku ini bukan tipe pujangga yang suka menulis surat!” Myungsoo mengibaskan tangannya. Jelas sekali kalau ia menolak ideku. Itu adalah haknya untuk menolak ideku, dan aku sama sekali tidak berhak untuk memaksanya.

Tapi jujur, aku sangat menyayangkan kalau Myungsoo tidak sempat berterima kasih pada kakaknya. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan menulis surat, tapi aku akan berlutut untuk berterima kasih dan meminta maaf.

Sayangnya, Myungsoo bukanlah aku.

***

Keesokan harinya

KLEK!

Annyeonghaseyo,

“Myungsoo-ssi? Silakan masuk,” sambutku ramah. Myungsoo pun masuk dengan langkah gontai, wajahnya lebih pucat dari kemarin. Ia mengeluarkan sebuah amplop dari saku bajunya, lalu menyerahkannya padaku.

“Aku sudah menulisnya semalam suntuk. Maukah kau menyerahkan ini pada kakakku?”

Aku menatapnya bingung. “Kenapa kau tidak menyerahkannya langsung? Kau kan setiap hari…”

“Aku terlalu pemalu untuk melakukannya, Sungyeol-ssi!” potongnya cepat.

“Tapi…”

“Kumohon!” Myungsoo memasukkan amplop itu ke dalam saku jas praktekku. “Sekali ini saja kau jadi tukang posku, ne?”

Aku pun akhirnya mengangguk karena tidak ingin mengecewakannya. “Tapi aku tidak tahu yang mana kakakmu.”

“Di dalam amplop itu sudah kusisipkan foto kakakku, namanya Kim Narae. Dia akan datang ke rumah sakit setiap jam 10 pagi. Kau tunggu saja dia di lobi, oke? Oh iya, tolong koreksi suratku dulu ya, kalau ada yang salah tolong dihapus! Aku hanya menulisnya dengan pensil!”

Aku hanya bisa mengangguk. Myungsoo tersenyum lebar sambil menepuk bahuku. “Kalau begitu aku pergi dulu!”

Myungsoo pun membalikkan badan dan mulai melangkah pergi. Aku lantas membuka amplop yang diserahkan oleh Myungsoo untuk melihat foto kakaknya yang bernama Kim Narae itu dan…

Omo! Jadi ini kakaknya Myungsoo? Cantik sekali… Sangat mirip dengan Myungsoo.

Aish! Sungyeol, apa yang kau pikirkan? Kau hanya harus menyerahkan surat ini, tidak ada maksud lain! Bodoh!

Aku beralih ke surat yang ditulis oleh Myungsoo dan mulai membacanya.

Untuk yang tercinta, Kim Narae Noona.

Maafkan aku, aku sempat muak dengan kehadiran Noona karena aku selalu dibanding-bandingkan dengan Noona. Aku selalu merasa berada di bawah bayang-bayang Noona.Aku membenci Noona padahal Noona jelas-jelas tidak bersalah. Yang salah itu adalah aku yang terlalu angkuh, karena tidak menerima kenyataan kalau Noona memang hebat.

Setelah Ayah dan Ibu meninggal, aku baru menyadari kalau Noona ternyata benar-benar baik dan bukan penjilat seperti yang kutuduhkan pada Noona. Hanya Noona yang mengerti aku, hanya Noona yang benar-benar memahamiku luar dan dalam.

Sebenarnya, aku ingin sekali mengucapkan maaf dan terima kasih pada Noona secara langsung. Tapi dengan segala kebodohanku, yang keluar selama ini hanya sikap dinginku pada Noona. Atas saran dari Sungyeol, aku pun menulis surat ini. Awalnya aku takut ditertawakan karena aku sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini, tapi setelah dipikir lagi, lebih baik aku ditertawakan daripada harus menyesal karena tidak sempat meminta maaf dan berterima kasih pada Noona.

Aku mencintaimu…

Dari Kim Myungsoo

Yang tidak pandai menulis surat.

Hyuuuuunggg!!!”

Aku cepat-cepat mengusap air mata yang menetes di pipiku, lalu langsung menoleh ke belakang begitu mendengar teriakan Sungjong..

“Ada apa?” tanyaku cemas melihat wajahnya yang panik.

“Kau ini sedang apa, Hyung? Kau tidak lihat Myungsoo yang tergeletak di sana?” tanya Sungjong sambil menunjuk-nunjuk ke satu arah. Aku pun mengikuti arah yang ditunjuknya dan…

ASTAGA MYUNGSOO!

***

Sudah sekitar 15 menit aku dan Narae menunggu di depan ruang ICU. Myungsoo yang tiba-tiba pingsan masih diberikan penanganan intensif oleh dokter. Aku mengamati Narae yang duduk di ruang tunggu dengan wajah pasrah. Mungkin tidak apa kalau kuserahkan surat ini sekarang.

“Narae-ssi,

Ne?”

“Kemarin Myungsoo mengunjungi ruanganku. Dan ia banyak bercerita tentangmu.”

“Benarkah?” Narae terlihat terkejut, tapi kemudian ia tersenyum. “Pasti sekarang kau sudah tahu betapa menyebalkannya aku bagi Myungsoo. Aku memang bukan kakak yang baik untuknya. Aku selalu membuatnya kesal.”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Dia bilang kau adalah kakak yang hebat.”

Mwo?” Narae terlihat tidak percaya. Aku menyerahkan amplop surat yang ditulis oleh Myungsoo.

“Myungsoo menitipkan ini padaku sebelum ia pingsan di taman rumah sakit.”

Gamsahamnida,” Narae menunduk lalu mengambil amplop itu dari tanganku. Dengan gerakan yang cukup cepat namun rapi, ia membuka amplop itu dan membaca suratnya. Selama beberapa saat Narae membaca surat itu dalam diam, tapi itu tidak berlangsung lama karena baru saja aku melihat air mata mengalir di pipinya. Semakin matanya menyusuri tulisan yang ada di dalam surat itu, semakin banyak air mata yang keluar.

“Myungsoo-ya,” ucap Narae disela isak tangisnya.

Narae menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan, sementara tangan kirinya terjuntai lemah dengan surat Myungsoo yang masih digenggamnya. Entah kenapa melihatnya menangis seperti ini, aku ingin sekali memeluknya untuk menenangkannya.

“Narae-ssi, Sungyeol-ssi.”

Aku dan Narae kontan menoleh ke arah dokter yang keluar dari ruang ICU. Narae berdiri sambil mengusap air matanya.

Ne?”

“Myungsoo ingin bicara dengan kalian berdua.”

Ne, Dokter.”

Aku dan Narae bergegas masuk ke ruang ICU. Narae langsung menghampiri Myungsoo, sementara aku hanya mengekor di belakangnya.

“Myungsoo-ya,” Narae menggenggam erat tangan Myungsoo.

No… Noona.. sudah baca suratku?” tanya Myungsoo dengan suara parau. Narae mengangguk cepat dan air matanya perlahan menetes.

Noona… Sudah… Memaafkanku?” tanya Myungsoo lagi, kali ini dengan suara yang terdengar lebih lemah dari sebelumnya.

“Kau tidak perlu minta maaf, Myungsoo-ya. Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun,” ucap Narae di sela isak tangisnya. Samar-samar aku melihat Myungsoo tersenyum di balik masker oksigennya. Melihat adegan seperti ini membuatku tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata.

“Aku ingin memelukmu, Noona,” Myungsoo mengulurkan kedua tangannya. Tanpa ragu Narae langsung memeluk Myungsoo. Selama beberapa saat mereka terus berpelukan seperti ini dan…

TIIIIIIIIITTTT…..

== END ==

FF ini pernah diikutsertakan dalam lomba FF di School of Fanfiction (SOFF) dan ada sedikit editan dari versi lombanya. Sedikittt aja, ga mengubah isi cerita sama sekali ^^.

Oh iya author punya blog pribadi buat publish FF, jadi selain update di FFINDO, author juga publish di sana termasuk FF yang ini ^^

Please visit  authorjoonisa.wordpress.com

 

Bye ^^

Advertisements

25 responses to “The Letter

  1. dannnn tiiitttttttttttt… myungsoo.
    ceritanya simple api dalem banget ya author.
    menguras emosi dan geregetan gtu. *padahal ga tau gregetan sm siapa.
    kekeke~~~~

  2. singkat, padat, menyentuh
    DAEBAK
    tapi ada sesuatu yg sedikit gantung thor dokter bilang
    “Myungsoo ‘ingin ‘bicara’ dengan kalian berdua.”
    tapi L_ppa keburu gaada -_-
    blm sempt blang apa2 sma sungyol bru sma narae dwg.
    Baik’a dokter bilang ‘ingin ‘bertemu’ 🙂
    maaf ya thor di keritik dikit demi kebaikan
    hahahaha 😀

    KEREN…. Saya suka, saya suka ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s