Gehört mir teil 2/4

Author                  : KasihWright

karakter               : Choi Minho, Kim Sarang (OC), Lee Jinki, Choi Niola (OC), Kim Kibum , Eun Hye (OC), Lee Taemin, Lee Minyoung (OC), Kim Jonghyun , Park Leena (OC)

rating                    :T

abstrak                 : Cinta tidak membutuhkan sesuatu yang lain kecuali dirinya sendiri, ia datang tetapi tidak ingin dimiliki, lalu ia pergi, tetapi tidak bisa menghilang, segalanya tidak bisa dimiliki, meski ingin memiliki, karena cinta tidak pernah terikat pada apapun, gehört mir…

Part 1

Selanjutnya, I mau bilang, selamat membaca, SARMIN& JJONG saranghae 😀

“Leena, aku tidak mungkinmengakhiri hubungan secepat ini, aku benar-benar masih mencintai dia,” tetes air mata membasahi pipi yeoja itu lagi.

Bel istirahat akan berbunyi sepuluh menit lagi. Dibalik dinding pembatas, Sara mencegah dirinya membaur. Dia melangkah meninggalkan toilet dan berlari keluar.

Outrageous!

Kenapa aku selalu membuat masalah dimana-mana?, putusnya dalam hati.Sara mengambil tas tangan, lalu melangkah pergi. Sebelum dia berbelok untuk keluar dari sekolah, seseorang mencengkam bahunya dengan halus, jelas tangan seorang  yeoja.

Sara menoleh dan mendapati yeoja mengerikan dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.

Kau mau mengajak berkelahi? Pikirnya saat menoleh.

Yeoja itu berjalan khas langkah model, lalu berbalik dan mengangkat dagu Sara “Aku akan casting hari ini jam delapan, ya?” dengan nada sangat memuakkan bagi Sara, dia menyeriangai.

Sara hanya diam, mengingat saat Kim Ai, yang diperankan yeoja iblis ini berpelukan dengan Kwang, yang diperankan kekasihnya sendiri. Dan dalam scene tertentu, harus ada sesi ciuman, yang Sara sendiri merasa muak sebagai sutradara pengganti atas rekomendasi ayahnya.

Ia pernah memutar otak, mengusulkan pada Kim Juni, ayahnya sendiri, agar Swan production mengganti salah satu aktor, tetapi usul itu ditolak mentah-mentah.

“Baiklah, Noona. Kurasa itu tidak layak  dibahas di sekolah seperti ini,” dengan susah payah Sara menenangkan nada bicaranya, meski jelas punggungnya sudah panas ingin segera berbalik dan pergi.

“Aku ingin segera mencapai sesi memeluk Choi Minho lagi,” dia tersenyum “Maksudku, Kwang.”

Sara menghela napas “Sesegera mungkin, dan segera berakhir!” sara tersenyum dan melangkah pergi.

ïGehört mirð

“Jadi kau akan tetap meninggalkan Korea untuk belajar ke Cambridge?” Taemin duduk bersebelahan dengan hyung yang sibuk membaca buku. “Hyung, aku bingung dengan peran Minho hyung dan Eun hye, maksudku… bagaimana mungkin ada sesi ciuman seperti itu?”

Mendadak hyung di sebelahnya menutup buku ditangannya. Matanya yang berkilauan menerawang jauh “Kurasa aku canggung membicarakan profesional dan perasaanku sendiri”

“Kalian belum, maksudku… apa kau yakin Eun hye hanya menjalankan perannya dengan baik?”

“Apa maksudmu? Kau mulai menghasutku lagi ya?” mata tajam itu menatap Taemin tajam, lalu tertawa dan mengabaikan dongsaengnya.

“Key hyung, aku dan Minho hyung sering ke sekolah Minyoung, dan kurasa mereka lebih dari dekat, seperti… tiba-tiba Minho hyung melupakan bahwa dia berada di sekolah Sara, dan membicarakan seuatu yang tidak penting,padahal Minho hyung itu kan pendiam,”

“Sssh…, mereka tidak mungkin mengadakan hubungan semacam kepemilikan satu sama lain, sudahlah Taemin, kau ini…”

“Kau yang tidak sensitif.”

“Kaupikir kau sensitif?”

“Tentu saja, aku lebih mengerti yeoja dari pada kau,”

“Kasihanlah Minyoung karena kau terlalu banyak mengerti yeoja.”

Taemin merebahkan tubuhnya, setelah meletakan cemilan di lantai. Pikirannya melayang-layang. Ia merasa sedikit bersalah dengan memarahi Minyoung karena dia terlambat hampir emat puluh menit.

When will she become a patient and relax girl like Sarang?

Kemudian dia memejamkan mata, tak peduli hyungnya  duduk tanpa bisa terlelap akibat ucapannya.

Bagaimana jika Eun Hye memang tertarik pada dongsaengnya? Bagaimana jika Eun Hye benar-benar tidak menyadari seseorang mengaguminya? Apakah Minho juga merasakan hal yang sama? Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepala Key sampai ia lupa kapan ia merebahkan tubuhnya dan terlelap.

Onew duduk di bawah pohon eucaliptus[1] bersama Jong, siang yang cukup terik dan panas setelah menendang bola dan kalah dalam pinalti.

Memalukan.

Memuakkan!

Jong terus memaki sepatunya yang terlepas dan membelokan bola, membuat kekalahan score 4-3. Padahal dia sudah membuat Leena janji akan mentraktirnya minum kopi sore nanti.

“Kenapa aku lupa memakai sepatu yang sudah tidak waras ini!” dia meneguk air, dan mengibaskan keringatnya. Yeoja-yeoja yang berkeliaran menatapnya dngan penuh rasa terkesima, melihat Jong, yang selalu menyanyi ketika datang ke sekolah terlambat dengan suara yang sangat halus dan merdu mengibaskan kepalanya.

Namja yang duduk dengan mata mengantuk di sampingnya hanya diam, meneguk air dan menatap seorang yeoja yang memandnagnya tanpa berkedip.

Namja itu mengalihkan pandangan ke arah Jong “Jong, apa Minho akan pulang bersama Sara hari ini?” tanyanya dengan nada tak menghiraukan ucapannya sendiri.

“Kurasa akan bersama Sara, jam tiga sore nanti aku akan pergi menemuiklein Foundation. Jadi kau bisa pulang bersama Minho untuk menjemput Sara.” Jong tak kalah tidak menghiraukan ucapannya.

“Begitukah,” Onew menghela napas, mengedarkan pandang, dan lagi-lagi melihat Niola duduk bersama teman-temannya, memerhatikan namja itu tanpa berkedip.

“Aku tidak suka, sungguh. Aku benci yeoja yang tidak bisa berkedip,” tanpa sadar, Onew menceletuk.

“Terserah, tapi kurasa kau sangat senang membicarakan apapun dengan Sara, kurasa itu mengganggunya,”

“Kurasa tidak.”

Keduanya sama-sama tahu, Onew tertarik pada sutradara amatir, anak pemilik Swan production.

Onew menemani Minho menjemput Sarang. Keduanya ingin bertemu Sarang, namun dalam konteks yang berbeda. Minho ingin membicarakan lanjutan cast, dan akan mengajak Eun hye bersama mereka. Sedangkan Onew ingin bercerita banyak hal pada yeoja yang selalu tersenyum dan menanggapi cerita garingnya dengan antusias, dan selalu berkomentar dengan tepat dan seperlunya.

Key dan taemin menguntit. Taemin jelas ingin meminta maaf, dan bertemu yeoja pemurah senyum yang menolongnya tempo hari, sedangkan Key, di otaknya terdapat seribu tanda tanya yang akan ia lihat tentang Eun hye.

Leena meninggalkan sekolah bersama bus umum. Ia sudah janji akan menemui Jong untuk membicarakan perhitungan dana sosial awal tahun dari yayasan Foundation yang diprakarsai ayah mereka, dan dipercayakan pada mereka.

Minyoung keluar dari sekolah dengan wajah kusut, berjalan bersama Namnyuk yang selalu pulang bersama karena rumah mereka beriringan.

Taemin meutup wajahnya dengan tangan, seolah melihat sesuatu yang sangat dihindari. Sangat alergi. Reaksi itu membuat Key merasa Taemin benar-benar namja yang menyebalkan.

Minho mencoba menelpon chagi-nya tetapi tak dapat terhubung. Onew mulai resah, bahkan ketika Minho masih menunggu dengan tenang, dia berkali-kali bertanya di mana Sarang.

Semenit kemudian,seorang namja yang mengurai rambut bergelombangnya, melangkah dengan khas, membuat Key menyipit, bertanya-tanya, sedangkah Minho menganga kagum.

Onew dan Taemin menghela napas dan menjatuhkan kepalanya ke bantalan kursi, meski Onew tidak menyadari Key dan Tae menguntit mereka.

Pikiran mereka sama.

Tidak menyukai gadis yang terlalu cantik.

Minho mengklakson dengan cepat, membuat Key bingung dan mengurungkan niatnya membunyikan klakson.

“Aku tidak ingin mengerti yeoja itu,” Taemin berbicara dengan nada ngantuk yang membuat namja di sampingnya emosi mendadak.

“Dia yang kusuka, lagi pula aku akan bersyukur jika kau menghindari dia, seperti Sara menghindarimu.” Key menyahut dengan nada sombong yang ditinggikan.

Tae hanya menguap. Menunggu.

Eun hyue tidak sepenuhnya berlaku kejam pada Sara, ia hanya ingin perofesional, tetapi kontrak dan perkataan Kim Juni untuk membatu Sara bersikap profesional terhadap Minho justru membuat kepalanya pening.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa ada namja yang sangat menyukainya, dibandingkan ketertarikan yang dirasakannya terhadap Minho.

Yeoja itu tersenyum, menyadari namja yang sedikit dikaguminya datang, lalu berjalan mendekat.

“Dimana Sara?” Onew dan Minho bertanya bersamaan.

“Dia sudah pulang empat jam yang lalu,” Eun hye menatap Onew dengan tatapan sedikit tidak nyaman.

“Hah? Bagaimana bisa?” masih bersamaan.

Keduanya saling menatap. Eun hye tersenyum geli, lalu bergabung bersama Onew, duduk di belakang. Sesekali percakapan antara Minho dan Eun hye membuat Onew menguap.

Mereka berencana menemui Sara di Swan Production.

“Jadi, hyung… menyukai seorang yeoja mungkin cukup, tetapi memiliki satu, sama sekali tidak cukup, lihat saja Minho hyung, atau Onew hyung yang jelas-jelas Niola menyukainya, dia malahan menolak mentah-mentah, bukan?” Taemin menatap Key dengan tatapan memelas.

Sungguh Key sanagt muak dengan tatapan seolah dia sorang pengemis “Jangan tatap aku seperti itu, bodoh!”

Lalu mereka pergi.

ïGehört mirð

Seorang kellner Frau berjalan membawa dua cangkir esspreso. Leena tersenyum, sesekali Jong salah membaca tulisannya

Jong hanya ingin mengalihkan perhatian Leena terhadap pertanyaanya mengenai bagaimana sikap Taemin terhadap Sara, karena Tae selalu bersikap seperti itu pada semua yeoja, beruntungnya Tae tidak tertarik pada Leena, karena bisa jadi itu akan mengganggu konsentrasi berhitungnya.

Semilir angin berhembus membelai rambut Leena, pipinya merona ketika kilatan cahaya matahari membelainya.

“Jadi, mungkin saja Tae hanya dekat pada Sara, dan kurasa Sara tidak akan bersikap lebih pada dia,” Jong meneguk kopinya “Kopinya enak sekali,”

“Esspreso,” Leena mengingatkan dengan manis.

Lalu keduanya kembali membicarakan  apa-apa saja yang membuat Jong sesekali salah bicara karena gugup.

Cuaca musim panas tidak selalu menghalangi air langit terjatuh tanpa pemberitahuan, tetapi tidak terjadi sore itu, matahari masih saja memamerkan cahayanya sampai jam berputar mendekati angka enam. Minyoung duduk di tepi ranjangnya, membaca setiap tulisan pelajaran bahasa latin, bahasa yang seharusnya sudah mati dan tidak perlu dipelajari, tapi ia tetap nekat mempelajarinya karena memang sesuatu yang tidak berguna selalu menarik perhatiannya.

Ia menatap kanopi jendelanya, merasakan hembusan angin membelai gorden kuning di sisis dinding yang di cat hijau lembut. Apa yang akan terjadi padaku nanti, kenapa Tae harus selalu menyukai setiap yeoja di muka bumi ini?  Ia mengerjap, berjalan mendekati kanopi jendelanya dan duduk di sana beberapa waktu.

Jika saja dia benar-benar menganggap Namhyuk Lee— namja paling tidak cool sama sekalidi muka bumi, memberinya perhatian dengan selalu berjalan bersama saat pulang, dan mengajaknya ngobrol sesuatu yang sangat ia sukai.

Ia mencoba meneriaki dirinya sendiri dalam hati. Tidakkah itu mungkin saja terjadi, bila tiba-tiba Sara juga suka pada Tae, yang jelas-jelas selalu membicarakan Sara dengan terang-terangan, atau menyiulkan suara menyebalkannya saat bertemu teman-temannya.

Shin Minyoung benar-benar frustasi, ia beranjak menghubungi Leena, untuk menghilangkan rasa resah yang ia sendiri yakin, Leena juga tidak akan tahu bagaimana mengatasi semua itu.

“Jadi, apa ada alasan lain kenapa seseorang harus tidak suka pada Sarang, maksudku selain tingkah artis drama love is punish  yang selalu bersama Minho ssi?” Leena memutar matanya, menatap dirinya di cermin.

“Hiah… dan aku yakin, seseorang tidak bisa menyalahkan bagaimana seorang namja bersikap ingin memiliki seluruh yeoja di muka bumi ini,” Minyoung menghela napas, lalu dengan pengakhiran pembicaraan yang ia sendiri memutuskan untuk bersikap biasa-biasa saja, ia merasa menemukan semangat baru.

Lalu ia tersenyum.

ïGehört mirð

Sarang melihat kedatangan kleinya, yang ia sendiri menyipitkan mata saat Onew tersenyum dengan wajah sangat ceria datang menghampirinya. Ia berdiri seketika, menyambut dua klein dan seorang pendamping gelap yang datang dan pergi sesuka hatinya.

Eun hye bersandar di dinding, sementara Minho tersenyum, tidak menyadari sesuatu membuat Sarang membalas senyumnya dengan gusar. Ia ingat ucapan Eun hye beberapa jam lalu, dan belum lagi makian ayahnya karena shoot tidak jatuh sesuai tempo.

Semua itu membuat kantung mata Sarang lebih cokelat dari biasanya.

Onew duduk di belakang Sarang, memerhatikan yeoja itu dengan sangat kagum, dan sesekali tertawa ketika asisten Sarang yang justru memarahi Minho karena lupa dialog. Sarang hanya menatap mereka—tanpa berkedip, meski ia harus bersikap profesional layaknya Minho bukan siapa-siapa baginya.

Beberap detik setelah waktu break diberikan, Sarang berjalan menyusuri koridor untuk menemui ayahnya yang sangat menjengkelkan bukan main. Belum sempat dia menceritakan bagaimana Minho dan si pemeran Kim Ai datang terlambat dengan membawa orang yang tidak dibutuhkan dan sangat sering, yang sebenarnya cukup berguna bagi Sarang untuk mendapatkan teman saat tidak ada yang diajak bicara.

“Jadi, appa… aku tidak memepermasalahkan temanku datang saat aku bekerja,” Sara melipat tangannya, menatap meja Kim Juni.

“Oh ya, apa aku salah dengar, hallo? Apakah seseorang yang sangat menyampah dan mengajakmu bicara sampai hilang konsentrasi bisa dibilang tidak apa-apa?” Kim Juni meneguk kopinya, lalu dengan tidak sabaran mengambil selembar kertas dan menulis sesuatu disana.

“Aku tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan Swan, lagi pula aku tidak—”

“Aku tidak mau kalau suatu ketika kau datang padaku, mengadukan dengan suara histeris bahwa kau lupa ada jadwal menyutradari proyekmu, dan malahan kau pergi mengerjakan apa-apa yang kau sebut pr dengan namja mengantuk itu.”

“Appa, kau ini bicara apa? Baiklah, kurasa aku harus kembali.”

“Kuingatkan, Sarang… dengan kau kehilangan konsentrasi gara-gara namja pemeran Kwang sudah membuatku cukup marah, dan akan bertambah dengan namja mengantuk itu?”

Dan belum ditambah namja amburadul yang tergila-gila pada pacar Hyungnya, putus Sara, menyentakan pintu tanpa menoleh ke arah Kim Juni, sekalipun.

Jika seseorang bertanya pada Sarang mengapa ayahnya sangat eksentrik dan hanya bicara seperlunya pada orang sekitar, sebenarnya itu bukan alamiah dia eksentrik seeksentrik bagaimana Minho hanya diam tanpa mengucap sepatah katapun ketika Sarang benar-benar menasehatinya, ayahnya, Kim Juni itu hanya menjalani hidupnya dengan gaya eksentrik.

“Baiklah, Minyoung, kurasa kita bisa memulai mengerjakan pr bersama mulai besok, karena… aku sangat yakin, Mrs. Janggeum akan segera bekerja sebagai sutradara drama itu, jadi… “

“Kau tentu sudah lupa bagaimana kau harus bersikap profesional, Sara… maksudku, bagaimana kau bisa tidak menyelesaikan proyekmu hanya karena, kau tahukan, yeoja itu, yang sangat menjengkelkan sekali itu membakar habis seluruh jenggotmu,”

“Aku tidak punya jenggot, Minyoung, dan well… this is over!”

“Sebaiknya pikirkan sebelum ayahmu benar-benar memberimu dua puluh empat jam dihadapan guru privat,”

“Um, yeah… saranmu, well… sangat berhasil membuatku berpikir dua kali, trims.”

“Baiklah, sampai jumpa,”

Sambungan telpon tertutup.

Sara berbalik, untuk mengemasi tas dan seragam sekolahnya, beranjak menghindari pulang dengan Minho ataupun Kim Juni. Ia menengadah, menatap ruang gantinya dan mengerjap beberapa kali, sebelum seseorang mengetuk pintu.

Minho berdiri persis di depan ruang ganti Sarang, wajahnya datar, seperti biasa, dan ketika Sarang membuka pintu dengan kantung mata yang benar-benar coklat, mendadak guratan aneh tergambar di wajahnya. ia memegang pelipis Sarang dan menanyakan kabarnya, kabar yang tentu saja seharusnya dia tanyakan dua hari yang lalu, hari ketika Kwang salah mengucap nama Ai, dan justru memanggil Eun hye dengan nama aslinya. Sara benar-benar sakit mendadak.

Mereka berjalan menyusuri catwalk sampai didepan studio, lalu dengan tak yakin, Sara membuka pintu depan mobil Kim Juni, duduk di sebelah persenelingnya, dan hanya tersenyum pada Onew dan chagi-nya, yang sudah bertingkah sangat menyedihkan.

ïGehört mirð

“Hyung, ini rahasia, dan aku tidak pernah mengatakan pada siapapun kecuali rahasia bahwa semua yeoja di dunia ini pasti menyukaiku,”

“Diamlah, Tae. Kau selalu saja menghasutku.”

“Ayolah, hyung… aku tahu kau benar-benar, maksudku lebih dari hanya mengagumi iklan susu sapi yang dibintanginya, kau suka padanya, dan itu bukan hal sulit untukmu jika kau tidak terdahului oleh Minho hyung atau siapapun itu,”

“Diamlah, Tae, aku sedang ingin tidur,”

“Kau ini, selalu saja mengabaikan perasaan sendiri, kurasa Eun hye pasti suka padamu, ingatkan waktu kita menguntit, hanya Minho hyung yang terpana, sedangkan Eun hye, biasa saja.”

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel yang ia lupa untuk segera dicharge berbunyi, dan mati seketika. Dengan cepat, dia membuka pintu dan berlari menuruni anak tangga, meraih gagang telpon di ruang tengah dan segera menghubungi seseorang.

“Kau sedang sibuk?” suara kecil keluar dengan halus dari balik speaker.

“Tidak, chagi, aku… sebenarnya ingin menemuimu, tapi aku tidak sempat bertemu denganmu,”

Kening Minyoung berkerut, kalaupun chaginya meminta maaf, apakah dia benar-benar sudah tidak akan mengulanginya? Dia memandangi kanopi jendelanya, melangkah mendekati pantulan cahaya rembulan.

“Oh, yeah… aku sudah melupakan semuanya, aku yakin kau sudah sangat capek dengan mencetaknya semalaman, jadi aku tahu pasti kau sangat lelah,”

Taemin bergeming. Bagaimana dia bisa tidak marah sama sekali, lagipula Minho hyung memang sangat baik. “Oh, yah, maksudku… aku memang sangat lelah, jadi aku ingin beristirahat sepanjang waktu,”

“baiklah, kurasa kau sudah harus tidur,” dengan hati sedikit terjerat rasa aneh, dia mengakhiri pembicaraanya.

“Yah, chagi, aku selalu merindukanmu,”

Lalu setelah itu, dia berbaring di samping Niola. Mata kedua yeoja itu menerawang jauh, Minyoung mengerjap, dan menyadari bantalnya basah, tak lama sebelum Niola menyalakan lampu, dia menutup kedua matanya dengan rapat seolah benar-benar tertidur dengan pulas.

Niola memegangi selimutnya dengan sedikit memiringkan badan menghadap kanopi jendela di sebelah kanan, di mana pantulan rembulan bersinar dengan cahaya peraknya.

Dia memikirkan satu hal, tentu saja, bagaimana dia membawa Onew ke dalam kamar apartementnya dan ditinggalkan begitu saja. Tapi sekarang dia harus sudah memepersiapkan banyak mufffin, coklat, dan berbagai hal untuk membantu Sara dalam kampanyenya beberapa hari lagi.

Tidak ada alasan menolak permintaan Minyoung yang jelas selalu saja berbaik hati mengajarinya bagaimana sedikit bersikap tangguh dan tidak terlalu feminim, dan juga teknik jungkir balik yang hampir mematahkan lehernya, Niola benar-benar menghargai semua itu.

Niola tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana Minyoung terlihat begitu tersiksa setelah latihan semester yang ia kerjakan hanya bertuliskan nilai E, dan tentang bagaimana Namhyuk memaksanya membuat acara kampanye sukses melawan calon dari kelas senior yang sangat tenor, Eun hye.

Tentu saja tidak akan ada yang menyangka Eun hye rela menjadi musuh Sarang dalam kehidupan nyata untuk mencalonkan diri, kecuali bahwa dia memang sangat repot-repot untuk mencalonkan diri.

Niola benar-benar menganggap tidak ada masalah yang terjadi pada perasaanya, dan bertanya-tanya siapa yang akan diajak Onew ke acara festival di akhir tahun saat pengumuman ujian masuk, dia hanya tersenyum mengingat bagaimana Onew menatapnya dan ketika namja itu berteriak.

Onew tidak sedikitpun berpikir untuk naksir Niola, karena dia begitu memperhatikan Sarang dengan baik, sebaik dia tidak lupa mengingat bagaimana Sarang mengucapkan terimakasih, dan bagaimana ia berjalan di catwalk bersama Minho.

Tidak.

Niola terlalu percaya diri, percaya bahwa namja yang disukainya tidak pernah bisa menolak, tidak kecuali, Onew.


[1]Eucaliptus, cemara

7 responses to “Gehört mir teil 2/4

  1. hmmm, err~ jujur masih bingung sama jalan ceritanya..mian ya (.___.)
    btw gatau kenapa serasa perpindahan ceritanya cepet antara cast yg 1 dgn cast lainnya. serasa membingungkan sebenernya lagi menceritakan cast yg mana..ya mungkin bisa dikasih keterangan pov ato ga stidaknya ada jeda atau gimana..
    mian klo ada kata yg ga berkenan, cuma saran aja koq sbg reader..gada mskd ngejelek2in ato ngbash..keep fighting ^^

  2. iya…a.Q juga sedikit bingung sih…jg sm part 1nya…tp part ini kyknya a.Q bs mengerti sdikit…

  3. Pingback: Gehört Mir Teil [3/4] | FFindo·

  4. alur’ny aq ngerasa msh loncat2 jd kurang ngerti,,
    yg aq tangkep dsni tae play boy-.-”
    key yg sllu tdur n ga peduli am perasaanya
    minho yg menggalau..
    hihi mian klo salah…
    tp udh ckup bkin penasaran so dlanjuuut 😀

    • wawawaa….. empat jempol *der, (maksudnya dua jempol saya dan dua jempol punya Anda *jgn negative thinking ya..)
      makasih

  5. Pingback: Gehört Mir Teil [4/4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s