Mine (Oneshot)

Title                 : Mine.

Main Cast       : Park Sang Hyun (Cheondoong) [MBLAQ] , Kang Yoo RIem  (OC)

Support Cast : Kang Min Hyuk (CN Blue)

Rating             : PG-13

Genre              : Romance, fluff.

Author              : Yuechara15 ( @yuechara15 )

Type                 : Oneshoot

Lenght              : 2,351

Disclaimer        : My plot & I own this-cute-boy-named-cheondoong but only in my dreams.

Summary          : ‘Would you be mine?’

A/N : Okay, ini sebenernya potongan dari fanfic lama yang pernah di publish di blog saya dulu. Karena ngerasa kurang puas dan kebetulan lagi iseng juga akhirnya ngambil bagian ini dan dijadiin oneshot fanfic with lots of changes. So, if you think that you have read this storyline somewhere, it must be my old fanfics 🙂 This is purely comes from my brain.

Okay no need to talk again, enjoy it! Happy reading.

————————————————————————————————————————-

Siang itu terasa hangat, aku masih bisa mengingat sedang memimpikan apa pada saat itu. Aku bermimpi tentang padang rumput yang dipenuhi bunga-bunga warna warni dan angin musim semi yang berhembus menerbangkan kelopak-kelopak bunga. Aku menghirup dalam-dalam udara di sekitarku, mencoba menikmati suasana musim semi yang tenang. Namun hal itu menghilang secara instan ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipiku….

“YooRiem-ah.” Kudengar suara seorang laki-laki disampingku memanggil namaku.

Aku dengan enggan  membuka mataku dan menemukan sesosok MinHyuk Oppa sedang duduk disampingku dan ia dengan jelas memegang sekaleng coke dingin yang ia tempelkan di pipiku. Rupanya benda itulah yang membuatku terbangun, dan pelakunya adalah kakakku sendiri.

“Ya-oppa, kenapa aku dibangunkan? Aku masih ingin tidur siang.” Kataku sambil menggeliat di tempat tidurku.

“Yak, kau ini. Ada yang mencarimu, temui sana!” Kata MinHyuk Oppa padaku.

Aku mengucek kedua mataku dengan punggung tanganku. “Mencariku? Siapa?” Tanyaku.

“SangHyun hyung.” Jawab MinHyuk oppa singkat.

“HEE??? MWOO?” Aku pun terbangun sambil berkata setengah berteriak dengan kaget.

MinHyuk oppa menutup kedua kupingnya. “Ya, YooRiem-ah! Kencang sekali suaramu!” Keluhnya.

“Ah mianhae, oppa.” Kataku. “Apa yang SangHyun-sshi lakukan disini? Kenapa ia mencariku?” Tanyaku pada MinHyuk  oppa.

“Aku tidak tahu, cepat temui sana. kasihan dia lama menunggumu.” Kata MinHyuk oppa menyuruhku.

“Arasseo..” Jawabku dan bangun dari tempat tidur. Sebelum keluar kamar aku melihat kearah cermin dan melihat penampilanku. Ah, rambutku berantakan, wajahku kusut dan aku sedang mengenakan kaus jelek dan celana pendek selutut.

Aku pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tengah sambil menyisir rambutku dengan jari, sebisa mungkin merapihkannya. Aku langsung melihat SangHyun-sshi sedang duduk di sofa sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku ketika aku sampai di ruang tengah. Aku membalasnya dengan senyuman riang dan berjalan kearahnya, lalu duduk di dekatnya.

“SangHyun-sshi, ada apa mencariku?” Tanyaku padanya yang sedari tadi tersenyum.

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, kau kosong kan hari ini?” Ujarnya.

“Apa? Jalan-jalan? Sekarang?” Tanyaku dengan kaget lalu disambut dengan debaran jantungku yang tentunya tidak dapat didengar oleh siapa-siapa kecuali aku sendiri.

Dia tersenyum dan mengangguk. “Ya, sekarang. Kau mau kan?” Tanyanya.

“Sudah kau pergi saja, hari ini aku mau sendirian dirumah, sekalian membereskan rumah. Aku gak mau kau jadi kut membantu, kau kan kemarin sudah membersihkan gudang dan halaman.” Ujar Minhyuk Oppa dari arah tangga memotongku yang baru saja membuka mulut ingin menjawab ajakan SangHyun-sshi.

“He? Kenapa aku tidak boleh membantu? Kau ini aneh sekali.“ Kataku.

MinHyuk Oppa berjalan kearah kami. “Bukannya tidak boleh, aku tidak ingin kau terlalu lelah. Dari kemarin kau sudah membereskan rumah.” Ujarnya sambil duduk di sampingku.

“Lihat, Oppamu saja menyuruhmu jalan-jalan. Ayolah, aku hanya ingin mentraktirmu makan.” Ujar SangHyun-sshi membujukku.

Aku menghela nafasku. “Baiklah, aku ganti baju dulu.” Kataku dan bangkit dari dudukku. Kulihat SangHyun-sshi tersenyum senang mendengar jawabanku, aku pun berlalu menuju kamarku.

Setelah kurang lebih lima belas menit aku bersiap-siap aku keluar dari kamar dan turun menghampiri SangHyun-sshi dan MinHyuk Oppa. Begitu aku turun SangHyun-sshi langsung tersenyum kepadaku, ia terus memandangku dengan tatapan ramahnya . Lalu ia pun berdiri dan menghampiriku “Sudah siap?” Tanyanya padaku.

“Ne~ Kita berangkat sekarang?” Tanyaku dengan excited.

“Ya, ayo cepat.” Katanya dan tersenyum.

“Oppa~ aku pergi dulu ya. Jangan lupa beri Daniel makan siang dan mandikan dia sore nanti.” Ujarku berpesan pada kakakku—ah ya Daniel itu anjing kami—sekaligus berpamitan padanya.

“Iya iya aku mengerti. Hati-hati dijalan.” Kata MinHyuk Oppa padaku dan SangHyun-sshi.

“MinHyuk-ah, kami pergi dulu ya.” Kata SangHyun-sshi.

“Ne hyung.” Jawab MinHyuk oppa singkat.

Aku dan SangHyun-shhi pun keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya dan kami pun berangkat menuju…… eh? Aku sendiri tidak tahu mau kemana?

Ah ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kang YooRiem, aku murid kelas 3 di kyunggi high school dan umurku 18 tahun. Aku tinggal di Seoul bersama kakak laki-laki-ku, Kang MinHyuk. Kami hanya tinggal berdua dengan MinHyuk Oppa, Ayahku seorang pelaut dan sekarang sedang berlayar di dekat Brazil atau entah dimana, sedangkan Ibuku dipindahkan tugas oleh bos-nya di sebuah kota yang letaknya sangat jauh dari Seoul. Aku sedang berada di tingkat akhir sekolah maka sangat sulit sekali jika aku harus pindah sekolah, sedangkan kakakku tidak ada niatan untuk pergi dari Seoul. Maka kami pun memutuskan untuk tinggal di rumah ini berdua saja.

Lalu lelaki yang bernama SangHyun itu adalah seniorku di kelas tari yang aku ikuti, kami baru saling mengenal sekitar sebulan dan selama itu pula kami sudah dekat. Ia juga teman dekat kakakku semasa SMA, mereka berdua sekelas selama 2 tahun.

Mengenai hubungannku dengannya… hm.. aku dan SangHyun-sshi hanya sebatas teman dekat. Hm, setidaknya untuk saat ini. Aku merasa sangat nyaman jika bersamanya, dan juga kurasa ia juga merasa nyaman bersamaku. Ia sangat baik kepadaku, selalu membantuku jika aku mengalami kesulitan. Kebaikan-kebaikannya itulah yang membuatku menyukainya, ya, kurasa aku jatuh cinta padanya. He is my crush.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol dan membicarakan banyak hal, tak jarang pula SangHyun-sshi melontarkan beberapa lelucon yang membuat kami berdua tertawa. Kami melewati dua puluh menit perjalanan tanpa bosan sedikitpun, hingga akhirnya kami tiba di tujuan.

Aku melangkahkan kakiku turun dari mobil dan seketika itu juga mataku dimanjakan dengan pemandangan taman dan danau yang indah yang terhampar di depan mataku. Aku tersenyum riang dan berlari mendekat kearah danau. Ini masih bulan februari, musim semi belum sepenuhnya tiba sehingga angin musim dingin masih terasa.

“Ya! YooRiem-ah, jangan pergi terlalu jauh dulu.” Kudengar SangHyun-sshi berkata itu sambil berlari mengejarku.

“Hyaaaa SangHyun-sshi, disini indah sekali. Sayangnya belum banyak pepohonan yang bersemi hijau.” Ujarku dengan sangat excited dan tersenyum riang memandang sekeliling.

SangHyun-sshi tersenyum. “Kau suka tempat ini?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya. Melihat air danau yang tenang membuatku merasa rileks.” Jawabku penuh semangat sambil terus memandang kearah danau.

“YooRiem-ah~” Panggilnya.

“Hm?” Aku menjawab, tetapi tidak mengalihkan pandangan. Mataku sepertinya telah tersihir oleh danau ini.

“Kau.. apa tidak kedinginan hanya memakai sweater seperti itu?” Tanyanya.

Ya aku memang hanya menggunakan sweater dan itu benar-benar membuatku kedinginan, sudah tanggal 25 februari  dan aku mengira udara tidak begitu dingin lagi, namun perkiraanku salah. “Ah, sebenarnya sih aku sedikit kedinginan, tapi tidak apa-apa.” Jawabku.

Sanghyun-sshi melepaskan jaketnya, membiarkan dirinya hanya mengenakan hoodie-nya, lalu ia memasangkan jaketnya padaku.  Aku menoleh dan memandangnya, ia tersenyum,  mata kami bertemu. Astaga, kurasakan jantungku berdegup dengan kencang! Aku tidak pernah berhadapan dengan seorang laki-laki sedekat ini. Dia.. wajahnya sangat manis…. ah tidak, tampan! SangHyun-sshi tersenyum menatapku, ia mengambil tanganku dan menggenggammnya. Erat.

Jantungku berdebar hebat, dan wajahku memanas akibat genggaman itu, untuk seketika aku merasa diriku mencair. “Ah, gomawo.” Kataku pada akhirnya setelah berhasil mengeluarkan kata-kata tanpa gemetar sedikitpun.

Ia hanya membalasnya dengan senyum padaku lalu ia meng-eratkan genggamannya padaku. Ya, dia memang belum melepaskan tanganku.  Jantungku masih terus berdebar hebat, aku meliriknya yang sedang memperhatikan danau di depan ini dengan sangat tenang. Ia masih belum melepaskan tanganku juga, dan sekarang kurasa wajahku sudah memerah karena malu. Haruskah aku melepaskan genggamannya? Aku merasa canggung dengan genggamannya itu, tapi… tapi… hangat… tangannya membuatku hangat. Dan sesuatu dalam diriku menahanku untuk tidak melakukannya.

“SangHyun-sshi…” Panggilku.

“Oppa.” Katanya

“Eh? Apa?” Tanyaku bingung.

“SangHyun Oppa.” Ia menoleh kearahku. “Kau seharusnya memanggilku Oppa.” Katanya.

Aku terdiam dan wajahku semakin panas. “O.. Oppa.. SangHyun Oppa..” Kataku pada akhirnya dengan terbata.

Ia tersenyum dan mengacak-acak rambutku. “Kau lucu sekali.. Mulai sekarang panggil aku Oppa! Arasseo?”

“Ne, Oppa..” jawabku sambil tersipu. Astaga mengapa hanya memanggilnya Oppa saja aku sudah salah tingkah begini.

Ia kembali tersenyum dan merangkul bahuku, kurasa lelaki ini tidak tahu bahwa aku sudah meleleh sedaritadi karenanya.

“Oppa..” panggilku.

“Hm?” Jawabnya sambil menoleh padaku.

“Itu tempat apa?” Tanyaku sambil menunjuk kearah sebuah gerbang dengan tangga panjang.

Ia melihat kemana aku menunjuk. “Ah, itu adalah kuil tua. Tapi sekarang digunakan sebagai pusat seni oleh warga sekitar, banyak yang menjual berbagai souvenir. Kau mau kesana?” Ujarnya lalu bertanya padaku.

“Ya, ayo!” Jawabku sambil mengangguk pasti dan tersenyum riang.

SangHyun-sshi.. ah tidak, SangHyun Oppa mengandengku menuju tempat tersebut. Kami melihat-lihat kedalam tempat itu namun terlihat sepi, hanya ada sekitar lima belasan pengunjung. SangHyun oppa membawaku ke sebuah kios. Aku melihat barang-barang yang dijual di kios tersebut, ada macam-macam aksesoris yang berbentuk unik yang terbuat dari bahan-bahan alam, seperti kayu dan bebatuan.

“Waah bagusnya.” Seruku sambil melihat-lihat barang-barang yang dipajang di kios sederhana tersebut.

“YooRiem-ah..”

Aku menoleh dan melihat SangHyun Oppa sedang menunjukan sebuah kalung yang terbuat dari kayu kepadaku. “Waa.. cantiknya..” Kataku.

SangHyun Oppa tersenyum dan bertanya. “Bagus kan? Kau suka?”

“Eh? Iya bagus.. aku juga suka.. tapi….”

“Ini untukmu.” Katanya dan langsung memakaikanku kalung itu tanpa menunggu persetujuan dariku. Wajahku berada di depan dadanya ketika ia memasangkan kalung itu dileherku, aku dapat mencium wangi parfumnya dan sedikit bisa kurasakan kehangatan dari tubuhnya.  Ia menjauh dariku dan meletakkan kedua tangannya di pundakku.

“Cantik, kalung itu cocok untukmu.” Katanya sambil tersenyum padaku yang blushing semakin menjadi.

SangHyun Oppa membayar kalung itu dan ia mengajakku berjalan-jalan lagi. Entah mengapa aku merasa sangat senang bersamanya hari ini, ia tak henti-hentinya membuatku tertawa dengan tingkahnya atau leluconnya. Aku sangat menikmati hari ini, perjalanan kami, atau mungkin lebih tepat disebut kencan, sangat membuatku senang. Setidaknya ada hal yang bisa mengalihkan pikiranku dari pe er dan tugas akhir semester.

Sudah pukul 7 malam dan aku masih belum pulang kerumah, SangHyun Oppa mengajakku makan malam diluar. Kami makan di sebuah restoran itali yang terletak tak jauh dari danau tadi. Restoran ini ramai, banyak pengunjung dari berbagai kalangan. Kulihat ada para pekerja kantor yang makan sambil berdiskusi, ada juga satu keluarga besar, ada sekumpulan anak muda, dan yang pastinya banyak pasangan yang makan disini.

Seorang pelayan menghampiri kami ketika aku dan SangHyun Oppa baru saja melangkahkan kaki masuk ke restoran ini. “Selamat malam, mari saya antar ke meja.” Ujarnya dan ia menuntun kami menuju meja yang letaknya di pojok dan dikelilingi banyak tanaman sehingga orang lain akan susah melihat orang yang duduk disana. Hm.. mungkin pelayan ini mengira kami berpacaran, setidaknya kami berdua memang terlihat seperti pasangan pada saat ini.

Aku dan SangHyun Oppa duduk dan memilih-milih apa yang akan kami pesan lalu memberitahukan pesanan kami pada pelayan. Kami pun menunggu pesanan datang sambil membicarakan banyak hal. SangHyun Oppa menayaiku tentang bermacam hal, sekolahku, tugas-tugasku, teman-temannku dan yang lain-lain.

“Jadi kira-kira kapan kau akan lulus?” Tanyanya.

“Hmm… kurang lebih sebulan lagi.” Jawabku.

“Sudah tahu ingin masuk universitas apa?” Ia bertanya lagi.

“Entahlah, aku belum tahu. Tetapi aku ingin kuliah di Seoul, jadi aku akan mengambil kampus yang dekat-dekat sini saja.” Jawabku padanya.

“Ooh begitu. Lalu kau akan mengambil jurusan apa?” Tanyanya lagi.

“Arsitektur.” Jawabku sambil tersenyum, ya, aku sangat suka mendesain. Aku telah belajar sedikit tentang arsitektur, dan aku sangat menyukainya. Itulah yang membuatku sangat ingin mempelajari bidang itu lebih mendalam.

“Hmm, kalau begitu aku akan menjadi klien pertamamu selulusnya kau nanti. Kau akan membuatkan rumah untukku, janji?” Ujarnya sambil menjulurkan jari kelingkingnya dan tersenyum lebar padaku.

Aku tertawa kecil dan tersenyum. “Baiklah, aku janji.” Ujarku dan aku pun mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.

Ia tersenyum, jari kami masih saling terkait. Kami berdua saling pandang dan saling tersenyum satu sama lain. Aku melepaskan jariku ketika kulihat seorang pelayan datang dan menaruh pesanan kami di meja.

“Terima kasih.” Kataku kepada pelayan tersebut dan ia hanya menjawabnya dengan senyum dan langsung beranjak pergi.

“YooRiem-ah, setelah makan kau ingin langsung pulang?” Tanya SangHyun Oppa padaku yang baru saja menyuapkan spaghetti kemulutku.

“Eh? Hm terserah.. aku ikut denganmu.” Jawabku.

“Baiklah, kau keberatan tidak jika aku mengajakmu ke pusat kota sebentar sehabis ini?” Ia bertanya padaku sambil memotong sosis.

Aku mengangguk.

“Baiklah, tetapi aku ingin pukul 9 sudah ada dirumah. Bisakah?” Kataku, ada beberapa tugas yang ingin aku cek.

Ia tersenyum. “Aku usahakan kausudah ada dirumah sebelum pukul 9.” Ujarnya.

Aku tersenyum kearahnya. “Gomawo..” ujarku.

“Eh? Untuk apa?”

“Untuk hari ini.. aku benar-benar senang. Sebelum kau menjemputku tadi sebenarnya aku sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan apapun. Haha, sangat terima kasih kau mengajakku jalan-jalan, setidaknya hari liburku tidak menjadi mengerikan.” Ujarku lalu tersenyum padanya.

Ia membalas senyumku. “Sama-sama, aku senang melihatmu tersenyum.” Katanya.

Aku hanya membalasnya dengan senyumku sambil melanjutkan makan. Aku memikirkan semua sikap dan perlakuannya padaku, ini terlalu banyak untuk seseorang yang baru dikenalnya selama sebulan. Mungkinkah ia.. hm… menyukaiku? Ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkannya. Membuatku pusing saja .

Angin malam berhembus menerpaku, aku merasa semakin kedinginan meskipun aku telah mengenakan jaket SangHyun Oppa. SangHyun Oppa mengajakku ke sebuah tempat dimana aku bisa melihat dengan jelas pemandangan kota yang gemerlap. Lampu-lampu yang terlihat dari atas sini benar-benar memanjakan mataku. Ah, aku benar-benar senang hari ini. Benar-benar terhibur!

“YooRiem-ah!” SangHyun Oppa memanggilku sambil berjalan dan membawa dua buah roti daging. “Ini untukmu.” Ia memberikan satu jagung kepadaku.

“Ah, terima kasih.” Kataku sambil menerimanya.

“Makanlah, masih hangat.” Katanya.

Aku mengangguk dan menggigitnya sedikit, lalu menikmati pemandangan kota yang begitu indah. Aku tidak pernah menyangka bahwa kota Seoul bisa seindah ini pada malam hari. Kukira pemandangan indah hanya bisa ditemukan di daerah saja.

“YooRiem-ah…”

“Hm?” Jawabku sambil menoleh kearahnya.

“Ini..” Ia memberikanku sebuah amplop.

“Apa ini?” Tanyaku sambil membolak balik amplop tersebut.

“Baca saja.”

Aku pun membukanya dan membaca apa yang tertera disana.

“You’re my special one.”

Aku terdiam, masih menatap selembar kertas itu. Masih mencerna apa yang tertulis disana, atau lebih tepatnya masih mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak bermimpi atau berhalusinasi. Apakah ini sebuah confession?

“Oppa… apa maksudnya?” Tanyaku pelan, kikuk.

“YooRiem-ah….” Panggilnya, aku pun mengangkat wajah dan menatap lelaki ini. Ia meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya.

“Kau tahu… kita bertemu mungkin sudah ditakdirkan, dan saat bertemu denganmu kurasa aku telah menemukan sesosok gadis yang benar-benar ku inginkan. Sesosok gadis yang kuinginkan untuk bersamaku, yang kuinginkan terus tersenyum padaku, dan sesosok gadis yang ingin aku lindungi. Aku.. aku menyukaimu. Aku ingin kaulah yang berada disisiku, aku ingin kaulah yang tersenyum padaku, dan kaulah yang ingin aku lindungi, sayangi dan aku jaga terus hingga nanti. I want you to be mine.” Ujarnya panjang lebar sambil menatapku dalam-dalam, aku bisa tahu bahwa ia bersungguh-sungguh.

“Oppa…..” Aku hanya bisa mengeluarkan satu kata itu, rasanya tidak bisa berkata-kata lagi. Air mataku sudah mulai menggenang, perasaan senang ini seakan memaksa untuk menghambur keluar.

“YooRiem-ah….. would you be mine?” Tanyanya padaku.

Aku memeluknya erat, dan menangis bahagia. Tidak perlu menjawabnya, aku tahu ia bisa mengetahui apa jawabanku, mengerti apa arti pelukanku, arti tangisanku.  Dan aku pun tahu ia tersenyum ketika ia membalas pelukanku.

End-

—————————————————————————————————————-

Read my other fics! Without Words. The Eternal Promise, Prove It Till The End. Letting You Go (Sequel of Without Words)

Advertisements

4 responses to “Mine (Oneshot)

  1. whaaaa romantis banget ceritanya :))
    tapi Thunder pas pertama gak keliatan maksa banget sukanya. aku suka jalan cerita kayak gini
    🙂

  2. Envy-_- eh calon suami gue ternyata sifatnya begini… Ckck…. Ga nyangka deh sama Thunder 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s