[Xiu Min’s] Oblivious Summer

oblivioussummer-fileminimizer

Title            : 4th part (Xiu Min’s) Oblivious Summer

Credit Poster : Thanks to Vnjwoon

Author       : Fransiska Nooril Firdhausi (@fhayfransiska)

Genre         : Romance, Friendship, Angst

Length       : Chaptered

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

Cast            :

  • Kim Min Seok a.k.a Xiu Min
  • Choi Soo Young a.k.a Summer Choi
  • Wu Yi Fan a.k.a Kris
  • Park Chan Yeol
  • Park Soo Ra (OC)
  • Byun Baek Hyun
  • Lee Jin Ri (OC)
  • Cho Sung Hee (OC)
  • Huang Zi Tao a.k.a Tao

Hello, chingu. Finally, ff ini kelar juga, kali ini author pake cast yeojanya bukan OC ya, hehe. Oh iya, itu Summer emang nama Britishnya Soo Young kok. Ok, deh langsung capcus dibaca aja ya. ^^

This plot dan OC is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good readers please, don’t forget to comment^^

________

          “Aku tidak akan berubah seperti yang kau minta, aku tidak ingin mengusahakan apapun, karena aku ingin kau menerimaku apa adanya.”

_________

            Yeoja yang tengah duduk bersantai itu kembali terkikik untuk kesekian kalinya, menertawakan portet dirinya semasa kecil yang kini tengah ia pandangi lekat-lekat. Seorang yeoja kecil dengan poni belah dan rambut dikepang dua sanggup membuatnya perlahan terbahak. Kenapa dulu aku begini culun, batinnya.

Yeoja itu masih memandang foto yang sama, namun dengan objek yang berbeda. Kali ini pandangannya fokus pada namja berpipi tembam dan bertubuh pendek yang berdiri di samping yeoja berkepang dua yang tidak lain adalah dirinya itu. Senyum perlahan menghilang dari bibir tipis yeoja itu, ia lantas terdiam.

“Soo Young, cepat kemari! Pemotretannya akan dilakukan sebentar lagi!”

Suara lantang menejer Kim membuat yeoja yang ternyata bernama Soo Young itu tersentak dari lamunannya, dengan segera ia memasukkan album foto mungilnya itu ke dalam tasnya. “Yeah, sir. I’ll be there soon!”teriak Soo Young ketika mendengar suara lengkingan menejernya lagi.

________

            Rumah Sakit St. Maria, London

Chan Yeol membuka mata dan mendapati dunia di hadapannya penuh dengan warna putih. Sedetik kemudian tercium bau obat-obatan yang terasa begitu menusuk indra penciumannya. Chan Yeol kembali mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia terbelalak begitu mendapati seseorang yang sangat dikenalnya tengah tertidur pulas di sofa yang berada di sudut ruangan itu, tampak kelelahan. Seseorang yang ia kenal sebagai sahabatnya, sahabatnya yang begitu ia rindukan dan ia sayangi, sekaligus seseorang yang ia sangat tidak ingin ia temui. Seseorang bernama Baek Hyun.

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka pelan ketika Chan Yeol hendak bangkit dari tidurnya dan berusaha untuk duduk. Seorang yeoja memasuki ruangan itu dengan wajah lelah dan mata setengah tertutup, namun sedetik kemudian matanya membulat begitu melihat ke arah tempat tidur dan mendapati Chan Yeol sudah sadar.

“Oppa!”

Yeoja itu langsung berlari mendekati tempat tidur Chan Yeol dan membantu namja itu duduk. “Oppa, kau sebaiknya tidur dulu.”

Chan Yeol tersenyum, “Gwenchanayo, Soo Ra ya, terlalu lama berbaring tidak akan membuat tubuhku lebih baik.”

Soo Ra mengangguk ragu, “Aku akan panggilkan dokter, Oppa tunggu sebentar ya.”

Tanpa menunggu jawaban dari Chan Yeol, yeoja bernama Soo Ra itu segera beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Chan Yeol melirik ke dinding di sisi kiri tempat tidurnya dan mendapati sebuah intercom di sana. Namja itu lantas terkekeh, “Dasar Soo Ra, padahal ada intercom di kamar ini. Kenapa ia malah memilih berlari untuk memanggil dokter, dasar bodoh. Haha.”

“Yang bodoh itu kau!”

Chan Yeol tersentak dan menoleh ke sumber suara, didapatinya seseorang yang tadi tertidur di sofa tadi kini telah terjaga dan tengah menatapnya tajam. Chan Yeol hanya mendengus, namja itu langsung mengalihkan pandangannya. Entah kenapa melihat wajah Baek Hyun membuat hatinya terasa ngilu.

“Buat apa kau kemari? Bukannya aku sudah bilang, tetaplah di Seoul dan jagalah Jin Ri untukku.”

Baek Hyun beranjak dari tempatnya duduk kemudian berjalan ke sisi kanan tempat tidur Chan Yeol. Ia menatap penuh tanya ke arah Chan Yeol. “Kau pikir aku bodoh? Tetap menunggu di Seoul katamu? Lalu bagaimana, apa yang lantas kulakukan? Menunggu kabar kematianmu? Itu hal yang paling konyol yang pernah aku dengar, Yeol!”

“Kalau aku bilang begitu ya sudah ikuti saja apa kataku, bodoh! Buat apa kau jauh-jauh kemari? Kau tidak akan bisa membujukku untuk kembali ke Seoul! Aku akan tetap di sini, sampai mati!”

“Aku akan melakukan apapun agar kau pulang! Aku tidak akan membiarkan kau mati begitu saja, bodoh!”

“Kalau begitu anggap saja aku sudah mati, bodoh!”

Buagghhh!

Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di pipi putih Chan Yeol. Membuat namja yang sedang dalam kondisi lemah itu perlahan terhuyung. Chan Yeol lantas memandang sosok yang telah memukulnya itu dengan tatapan tak percaya.

“Aku sudah berjanji, kalau aku bertemu denganmu aku akan memukulmu sebagai hukuman karena telah membuat aku khawatir.”

Chan Yeol meraba pipinya yang mulai memerah, sedikit meringis begitu mendapati bekas pukulan itu kini mulai terasa sakit.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dilupakan, apalagi oleh sahabat sendiri. Selain itu …” Baek Hyun berhenti sejenak, menghirup udara di sekitarnya yang kini terasa begitu berat. “Aku tidak akan pernah membiarkan perasaanmu pada yeoja itu sia-sia, Yeol. Maafkan aku.”

Namja bernama Chan Yeol itu hanya terdiam dan menunduk, ia tidak sanggup menatap wajah sahabatnya. Ia sebenarnya tahu, ia benar-benar tahu kalau semua yang ia lakukan adalah hal bodoh dan tidak masuk akal. Namun Chan Yeol selalu berpikir tidak ada lagi harapan untuknya, tidak ada hal berarti yang bisa ia lakukan di sisa hidupnya, selalu begitu yang ada di pikirannya. Sesungguhnya ia hanya tidak ingin orang bersedih karenanya, hanya itu.

Baek Hyun menarik lengan Chan Yeol kemudian merengkuhnya pelan. Chan Yeol tidak menolak, ia hanya diam, terlalu larut dalam pikirannya.

“Apa artinya bersahabat lebih dari 12 tahun kalau pada akhirnya aku hanya akan melupakanmu? Kalau seandainya begitu, bukannya lebih baik aku tidak mengenalmu sama sekali?”

Baek Hyun melepaskan pelukannya, ia tersenyum. “Yeol, ayo kita pulang.”

___________

Kingston st., London

Namja itu berjalan santai melewati jalanan ramai di depannya, sesekali ia tampak menggosok-gosokkan tangannya karena kedinginan atau sekedar membenarkan syalnya yang melorot. Udara musim gugur memang cukup dingin dan namja itu sangat benci dingin, sungguh, ia bahkan pernah berharap satu tahun tanpa musim gugur atau dingin sama sekali. Dan tak perlu ditanyakan, ia suka sekali musim panas, musim yang membuatnya tidak perlu mengenakan jaket, baju berlapis-lapis ataupun mantel tebal setiap hari.

“Hei Min Seok, kemarilah! Ada majalah mingguan yang membahas soal Summer, lho!”

Really, Sir?” Min Seok membulatkan matanya, ia lantas berlari cepat ke arah kios majalah yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berpijak. Namja berpipi tembam itu langsung merebut majalah yang di tengah dipegang Tony, si pemilik kios. Min Seok membuka-buka halaman majalah itu dengan kasar, sementara Tony hanya terkikik melihat tingkah pelanggannya yang seperti anak kecil itu.

Uwaaaahhh, Summer is so beautiful, Sir! Lihat, lihat, benar kan?” Min Seok menyodorkan majalah itu pada Tony, sementara Tony hanya menatap datar foto yeoja yang ditunjuk Min Seok di majalah.

Uhm, I don’t like Korean girl, Min Seok. Menurutku kulit mereka terlalu putih seperti porselen, dan itu membuat mereka terlihat … yeah, seperti vampire.”

Min Seok menatap polos ke arah Tony, “Secara tidak langsung kau mengejek aku menyukai vampire, Sir.” Mereka berdua lantas tertawa bersamaan.

“Tapi Summer hebat juga ya, dia orang Korea tapi sering muncul di majalah lokal.”

Mendengar itu Min Seok hanya tersenyum sambil terus membaca berita tentang Summer, model yeoja yang sangat ia puja.

“Hei, Min Seok. Kapan kau akan menikah? Aku dengar adikmu menikah lebih dulu darimu, apa kau tak malu keduluan adikmu begitu?”

Min Seok menghentikan kegiatan membacanya kemudian melirik ke arah Tony. Selama ini ia dan Tony memang sangat dekat, jarak umur di antara mereka yang terpaut sepuluh tahun tidak jadi halangan untuk saling berbagi keluh kesah. Tony sering bercerita tentang istrinya yang cerewet atau anaknya yang nakal, tidak jarang pula Min Seok bercerita pada Tony tentang keluarganya atau tentang studinya di London. Begitu dekatnya hingga hampir tidak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain.

I will marry this girl, Sir.” Min Seok menunjuk foto Summer sembari tersenyum lebar hingga terbentuk lesung pipit di pipi tembamnya. Tony hanya mendengus, kemudian menatap namja di hadapannya dengan tatapan aku-bukan-anak-kecil-yang-bisa-kau-bodohi-begitu-saja-Min-Seok.

Min Seok lantas terkekeh, “Aku serius, aku bukan hanya sekedar fans dari seorang Summer, I Love her. Really!

“Jangan memimpikan yang aneh-aneh, Min Seok.”

Sir, don’t you know? Aku menyukai Soo Young karena aku merasa telah mengenalnya dari lama dan aku yakin kelak dia akan benar-benar jadi istriku.”

“Soo Young? Nama asli Summer?”tanya Tony.

Min Seok tersenyum, kemudian mengangguk.

_________

            Langkah Min Seok terhenti di depan sebuah diskotik, selama ini tidak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di tempat itu. Namun kali ini ia memberanikan diri memasuki tempat itu, entah kenapa ia sungguh penasaran dengan suasana diskotik yang menurut teman-temannya begitu menyenangkan. Tidak mau dibilang kampungan, namja itu lantas cepat-cepat memasuki diskotik yang dibilang cukup berkelas itu.

Bau alkohol lansung tercium begitu Min Seok menginjakkan kakinya di diskotik, ia langsung merasa berada di dunia berbeda. Begitu banyak orang di sana, sementara Min Seok baru menyadari bahwa ia tidak terlalu suka keramaian. Lampu disco yang berganti warna dengan cepat membuat Min Seok terpaksa berulang kali mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia hendak pergi meninggalkan tempat itu ketika ia merasa lengannya ditarik oleh seseorang.

Hei, where are you going to go, Baby? Just stay here!

Seorang yeoja Inggris yang nampaknya benar-benar sudah mabuk menarik lengan Min Seok erat-erat. “Just stay here and enjoy it!”gumam yeoja itu lagi. Min Seok hanya diam tidak menanggapi, ia mulai menyesali perbuatannya karena penasaran dengan diskotik.

Yeoja ini menakutkan, batinnya.

Min Seok melepaskan genggaman tangan yeoja Inggris itu kasar, ia lantas berlari ke arah meja bar. Ia langsung duduk di kursi bar itu dengan memasang mimic wajah yang sulit diartikan. Sang bartender yang melihat sikap aneh Min Seok hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, bartender itu bisa membedakan mana pelanggan lamanya dan pelanggan yang bahkan baru sekali masuk diskotik.

“Bartender, tolong tequila sunrisenya satu lagi!”

Min Seok menolehkan kepalanya ke arah yeoja yang duduk di sampingnya, yeoja itu tampak benar-benar mabuk. Matanya sudah setengah tertutup dan caranya bicara benar-benar kacau. Ditatapnya dalam-dalam yeoja itu, Min Seok merasa ia sungguh familiar dengan wajah itu, seperti pernah bertemu, atau bahkan mengenal? Tunggu, dia kan ..

“Summer!”

Min Seok berteriak ketika menyadari bahwa yeoja di hadapannya adalah yeoja pujaannya, Summer. Ia kembali menatap yeoja itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tidak salah lagi, dialah Summer. Min Seok lantas tersenyum cerah, sesaat ia bersyukur karena nekat masuk ke diskotik kali ini.

“Hei, gendut. Mau apa lihat-lihat? Sana pergi!”

Min Seok terbelalak, “Gendut? Maksudnya aku?”

Of course! Kau melihatku terus seperti itu, dasar mesum!”

Yeoja yang masih mabuk itu menunjuk pipi tembam Min Seok dan tersenyum sinis, “Pipi macam apa itu?” kemudian yeoja itu mengarahkan telunjuknya lagi, kali ini pada perut Min Seok, “Perut macam apa itu?”

Min Seok hanya menelan ludah, ia kemudian menunduk malu. Min Seok lantas membatin dalam hati, Tidak apa-apa Min Seok, Summer hanya mabuk. Mungkin ia punya kebiasaan ‘terlalu jujur’ ketika mabuk.

Yeoja yang Min Seok panggil Summer itu beranjak dari tempat duduk dan berjalan menjauhi meja bar, yeoja itu berjalan sempoyongan, ia tampak benar-benar sudah mabuk. Min Seok yang melihat itu segera mendekati Summer yang tengah berjalan keluar diskotik, kemudian berjalan beriringan di sampingnya. Tentu saja, ia khawatir apabila terjadi sesuatu pada yeoja yang kini setengah sadar itu, sebagai lelaki ia tidak bisa membiarkan yeoja itu begitu saja.

Hei, stop follow me! Lihat, tinggimu saja tidak lebih dariku, kau tak malu berjalan beriringan di sampingku begitu?”

Langkah Min Seok terhenti, ia baru menyadari bahwa tingginya hanya sebatas telinga Summer. Ia melihat ke bawah, kemudian menghela napas lega mendapati Summer mengenakan high heels yang cukup tinggi.

“Kau pendek, gendut lagi. Tidak pantas bersanding denganku, sudah pergi sana!”

Min Seok terhenyak, sejenak ia merasa ejekan itu familier di telinganya. Memang tidak jarang ia mendengar hal semacam itu dari teman-temannya, namun kali ini berbeda. Ejekan itu lebih terdengar sebagai sebuah déjà vu di telinganya. Namun ia tidak ingat di mana, kapan dan oleh siapa ejekan itu ia dapat sebelumnya.

Min Seok kembali tersentak begitu mendapati tubuh Summer kembali terhuyung. Saat itu juga dengan sigap Min Seok memegangi lengan yeoja itu, membantunya untuk tetap statis berdiri.

“Min Seok ah …”

Min Seok terbelalak dan mengalihkan pandangannya pada Summer yang kini sudah tak sadarkan diri. “Hah?! Apa aku tidak salah dengar?”

Sejak kapan Summer tahu namaku?

__________

Winter, Seoul, 12 years ago

“Kau pendek, gendut lagi. Tidak pantas bersanding denganku, sudah pergi sana!”

Lagi-lagi namja kecil itu menangis, sementara Soo Young hanya terkikik keras karena merasa sukses membuat seorang namja menangis untuk kesekian kalinya.

“Dasar cengeng!”ujar Soo Young lagi sambil menjulurkan lidahnya.

Namja kecil itu berhenti menangis, ia lantas menatap polos ke arah Soo Young yang tampak mengepak barang. “Soo Youngie, kau mau pergi kemana?”

“Aku akan pergi jauh.”

“Lalu, kapan kau akan kembali?”tanya namja itu polos.

Soo Yooung hanya menggeleng, membuat kedua rambutnya yang dikepang dua terkibas ke udara. “Aku tidak tahu, Min Seok.”

“Kalau kau pergi, aku main dengan siapa? Lalu kalau kau tak kembali nanti aku menikah dengan siapa?”

“Kau benar-benar yakin akan menikah denganku, Min Seok? Hei, kau masih kecil, ah tidak kita berdua masih kecil, masih sepuluh tahun, Ok?Kenapa kau malah sudah memikirkan soal pernikahan?”

Namja bernama Min Seok itu hanya meringis, menunjukkan sederet gigi putihnya. “Karena aku hanya mau menikah denganmu nanti, dan kau tidak boleh bersama orang lain. Kau harus janji!”

Soo Young mendengus, “Tidak mau! Lihat, kau gendut, lebih pendek dariku lagi! Min Seok, mimpiku ingin jadi model, nanti aku ingin bersanding dengan pria yang lebih tinggi dariku. Kau pendek, jadi… tahu maksudnya kan?”

Min Seok menggeleng, “Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus menikah denganku nanti.”

Butiran-butiran salju perlahan turun ke bumi, membuat Min Seok dan Soo Young kembali merapatkan jaket dan syal mereka karena udara terasa lebih dingin.

“Setidaknya jadilah kurus dan tinggi, Min Seok.”kata Soo Young lagi.

 

Min Seok mengerucutkan bibirnya.“Aku nggak akan berubah seperti yang kamu minta, aku juga nggak akan mengusahakan apapun, karena aku ingin kamu menerima aku apa adanya.”

_______

Mimpi? Itu kan kejadian dua belas tahun lalu, kenapa aku memimpikannya lagi?

Soo Young membuka kelopak matanya yang berat dan mendapati dirinya berada di tempat yang sama sekali asing. Ia langsung terbangun dari tempatnya tidur dan memandangi seluruh penjuru ruangan itu lekat-lekat. Soo Young sontak terkejut begitu mendapati sebuah poster dirinya yang berukuran cukup besar terpampang di ruangan itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah meja di samping tempat tidur dan mendapati setumpuk majalah dengan cover dirinya. Soo Young langsung was-was, “Apa aku diculik? Oleh fansku sendiri?”

Soo Young memeriksa pakaiannya, masih lengkap, ia pun menghembuskan napas lega. Kemudian yeoja itu beranjak dari tempat tidurnya dengan membawa dua buah bantal dan berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar itu, namun sebelum ia menyentuh kenop pintu, pintu itu telah dibuka lebih dulu oleh seseorang dari luar.

“Kyaaaa!!” dengan segera Soo Young memukuli seseorang yang baru memasuki kamar itu yang ternyata adalah seorang namja dengan bantal yang ia bawa. Namja itu tengah membawa semangkuk bubur dan segelas air. Soo Young makin memperkeras pukulannya dan mendapati namja itu menjatuhkan apa yang dibawanya ke lantai. Praangg!!

“Rasakan! Rasakan, dasar penculik!”

“Ya, ya! Summer, hentikan!!”

Soo Young menghentikan pukulannya ketika mendengar suara namja itu, ia lantas menatapnya dan terbelalak. Namja itu!

“Min Seok?”ujar Soo Young kemudian.

Min Seok hanya menatap Soo Young heran, “Dari mana kau tahu namaku, Summer? Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?”

Soo Young terdiam, yeoja itu lantas menatap Min Seok dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak salah lagi, dialah Min Seok, namja yang menjadi teman masa kecilnya dulu. Lagipula tidak banyak yang berubah dari diri namja itu, tetap saja chubby, gendut dan pendek? Ah, tidak nampaknya namja itu kini lebih tinggi darinya, tapi mungkin hanya dua senti di atasnya. Tapi yang aneh adalah… kenapa namja itu tidak ingat padanya?

“Summer?”

Soo Young tersentak, ia lantas menggeleng cepat. “Tidak. Tidak, aku tidak mengenalmu. Lupakan saja yang barusan aku bilang.”

“Ah , Summer. Tunggu, kau mau kemana?”ujar Min Seok ketika melihat Soo Young berjalan cepat menuju pintu apartemennya.

Langkah Soo Young terhenti, kemudian berbalik dan menatap Min Seok dengan tatapan garang. “Sebenarnya aku di mana? Dan kenapa aku bisa bersama denganmu?”

“Kau tidak ingat kejadian semalam?” Soo Young menggeleng.

“Ini apartemenku. Kau pingsan karena mabuk semalam dan aku membawamu kemari karena aku tidak tahu rumahmu. Ah, tentu saja aku tidak melakukan apa-apa, tenang saja!”

Soo Young mendengus, yeoja itu langsung berjalan keluar dari apartemen Min Seok. “Ya, Summer! Tunggu!”

Min Seok berusaha mengejar Soo Young, namun handphonenya tiba-tiba berbunyi nyaring. Namja itu berusaha mengabaikannya, namun benda mungil itu terus saja berbunyi, membuatnya terpaksa menerima telepon sekalipun tanpa melihat nama yang tertera di layar.

Hello, yeah … ah, Sung Hee ya?”

________

Soo Young memperlambat larinya ketika ia menyadari bahwa Min Seok tidak mengejarnya lagi, ia lantas memandangi kakinya yang kini tak beralas. “Sial, sepatuku tertinggal!”

Yeoja itu berjalan dengan lesu, kemudian lagi-lagi ia menyadari sesuatu. “Sial, tasku tertinggal juga. Arrgh!” Soo Young menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal.

Soo Young memandang sendu jalanan yang tampak ramai, kini mau pulang pun susah karena ia tidak membawa uang untuk naik taksi sementara apartemennya berada cukup jauh dari tempatnya kini beranjak. Tiba-tiba setetes air mata jatuh di pipinya, dengan cepat yeoja itu menghapusnya. Namun anehnya air mata itu tak kunjung berhenti, malah semakin deras dan ia tak mampu menghentikannya.

Sakit, kenapa hati ini begitu sakit ketika namja itu mengatakan bahwa ia tidak mengenalku? Bukannya dulu akulah yang tidak pernah menghiraukannya? Kenapa justru kini akulah yang merasa sakit karena ia sama sekali tidak ingat padaku?

_______

Jin Ri menarik napas dalam-dalam kemudian menyentuh kenop pintu yang kini terasa begitu dingin baginya. Ia membuka pintu itu perlahan, kemudian melongokkan kepalanya ke dalam. Dari sudut matanya, terlihat seorang namja tengah terduduk di kasur dengan pandangan mata yang kosong dan wajah yang pucat. Jantung Jin Ri mulai berdetak cepat , ia bertanya-tanya dalam hati, diakah yang bernama Chan Yeol, seseorang yang sangat ingin ia temui, seseorang yang kini tampak begitu lemah dan rapuh. Di samping namja itu, duduklah seseorang yang telah lama ia kenal, Baek Hyun.

Dengan hati-hati Jin Ri memasuki kamar itu. Chan Yeol mengangkat kepalanya ketika menyadari pintu kamar rawatnya kini terbuka, kemudian matanya melebar begitu mendapati seorang yeoja kini tengah berdiri di hadapannya. Yeoja itu ..

“Chan .. Chan Yeol ssi?”

Chan Yeol hanya memandang yeoja di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Ia tampak menelan ludah, kemudian mengusap kedua matanya dan menepuk pipinya keras. Ia begitu takut kalau semua ini hanyalah mimpi. Dengan hati-hati Jin Ri meraih tangan Chan Yeol, membuat jantung namja itu seakan berhenti berdetak. Kini Jin Ri menggenggam erat tangan Chan Yeol, “Yeol ssi. Gomawo, jeongmal gomawo.”

Chan Yeol menatap yeoja yang telah lama ia cintai lekat-lekat. Ditelurusi olehnya setiap inci wajah yeoja itu. Selama ini ia tidak bisa melihatnya dari dekat, namun kini, wajah yeoja itu hanya berjarak tidak lebih dari tiga puluh senti dari wajahnya. Chan Yeol kembali menelan ludah, “Jin .. Jin Ri?”

Jin Ri mengangguk, “Aku di sini, aku di depanmu, di hadapanmu. Aku nyata, dan aku tidak terlihat berada di dalam jendelamu lagi kan?” Jin Ri semakin mempererat genggamannya. Kini mata yeoja itu tampak berkaca-kaca.

Chan Yeol menundukkan kepalanya, ia tampak tersenyum getir. Namun air mata mulai muncul di sudut mata indahnya, namja itu tampak bersikeras menahan tangis. Jin Ri menarik Chan Yeol ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh kurus namja itu erat-erat. Chan Yeol terhenyak tak percaya namun sesaat kemudian ia balas memeluk yeoja itu dengan kikuk, dibenamkannya wajahnya ke bahu yeoja itu. Sejenak ia mencium bau harum yeoja itu, bau yang membuatnya nyaman.

“Gwenchanayo, Chan Yeol ssi. Berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja, dan kita akan kembali ke Seoul, nee?”

Tanpa keduanya sadari, Baek Hyun yang berada tidak jauh dari mereka tampak mengalihkan pandangannya. Entah kenapa melihat pemandangan yang seharusnya menyenangkan itu malah membuat perasaannya begitu sakit. Ia tidak pernah tahu apa yang membuat hatinya merasakan sakit seperti itu.

Pintu kamar rawat itu tiba-tiba terbuka pelan, membuat Jin Ri dan Chan Yeol saling melepaskan pelukan dengan kikuk. Keduanya lantas menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang namja tinggi berambut blonde dan membawa sekeranjang buah-buahan telah berdiri di hadapan mereka.

“Kris ssi?”ujar Chan Yeol terkejut.

Seorang namja yang bernama Kris itu tersenyum, kemudian membungkukkan badannya pada Baek Hyun dan Jin Ri yang tampak baru di matanya. “Aku datang menjenguk, Chan Yeol ssi. Dan aku ingin minta maaf soal yang waktu itu, mungkin karena aku, kau jadi begini.”ujar Kris dengan nada menyesal.

Chan Yeol menggeleng pelan, “Gwenchanayo, semuanya tidak seburuk yang kau pikirkan, Kris ssi. Lagipula akulah yang harus minta maaf, aku memang tidak seharusnya marah begitu. Nasihatmu benar sekali, maaf karena aku baru menyadarinya kali ini. Dan, terima kasih karena telah menyelamatkanku.”

Chan Yeol melirik kea rah Jin Ri, sesaat kemudian ia tersenyum cerah “Kris ssi, kau juga tidak boleh menyerah. Masih banyak yeoja lain yang menunggumu di luar sana, kau tidak boleh selamanya terpuruk. Ah maaf, apa aku terkesan terlalu mengguruimu?”

Kris membulatkan matanya, ia menatap Chan Yeol heran, berusaha memahami maksud namja yang kini berada di hadapannya.

“Seperti yang kau bilang, aku belum terlambat kan? Karena itu aku tak akan menyerah.”tambah Chan Yeol. “Dan aku akan pulang ke Seoul, aku akan menjalani pengobatan di sana.”

Kali ini giliran Baek Hyun dan Jin Ri yang membulatkan matanya ke arah Chan Yeol yang kini tengah tersenyum lebar, “Nee, aku akan pulang ke Seoul bersama kalian.”

________

Passion Café, London

“Mwo? Sung Hee ya? Kau sudah punya calon suami?!”

Sung Hee mengangguk cepat dan tersenyum jahil ke arah namja yang duduk di depannya, “Bagaimana denganmun, Min Seok Oppa? Kau lebih tua tiga tahun dariku, dan sampai kini belum mendapat calon istri. Dan kau bahkan keduluan oleh adikmu yang berumur hampir sama denganku? Kau mau jadi bujang lapuk?”

“Aku baru 22 tahun Sung Hee ya, aku tidak setua itu.”

Sung Hee tertawa lagi begitu melihat raut kesal dari Min Seok, “Oppa, kau memang punya wajah baby face yang bisa menipu siapa saja, siapa sangka wajah seperti itu ternyata telah berumur lanjut.”

Min Seok mendengus kemudian menyesap jusnya pelan, “Cukup, Sung Hee. Aku tidak mau membicarakan hal itu lagi. Ngomong-ngomong ada urusan apa kau pergi ke London?”

Sung Hee mengaduk-aduk jus stroberinya pelan, kemudian pandangannya beralih ke arah jalanan yang terlihat dari kaca café. “Aku hanya menemani calon suamiku, ia mencari temannya di London.” Mendengar itu Min Seok hanya mengangguk, “Lalu bagaimana dengan Joon Myun yang sering kau ceritakan itu? Kau sudah tidak suka padanya?”

Sung Hee tersedak, “Tentu saja … tentu saja tidak. Aku tidak menyukainya. Aku sudah punya calon suami, mana mungkin aku masih menyukainya.”

Min Seok terkikik melihat yeoja di hadapannya salah tingkah. Min Seok dan Sung Hee memang telah berteman cukup lama, Min Seok adalah anak dari rekan kerja ayah Sung Hee. Sebelum Min Seok pindah ke London tidak jarang Sung Hee berkunjung ke rumahnya, yeoja itu kerap kali menumpahkan kekesalannya pada Min Seok dan menjadikan namja itu sebagai pelampiasan.

Tidak jarang yeoja egois itu tiba-tiba memukul atau memarahi Min Seok yang tidak tahu apa-apa, kemudian menangis seperti anak kecil di hadapan Min Seok. Sementara Min Seok yang memang sudah memahami watak Sung Hee hanya diam saja menanggapinya. Namun lebih dari itu, Sung Hee merupakan sesosok yeoja yang selalu sigap membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Yeoja itu kerap melakukan hal konyol yang bahkan bisa mempermalukan dirinya sendiri hanya untuk menghibur Min Seok saat namja itu tengah bersedih.

Sung Hee mengaku benar-benar merasa kehilangan setelah Min Seok dan keluarganya memutuskan untuk pergi ke London.

“Kenapa kau memilih untuk tinggal di apartemen, Min Seok Oppa. Bukannya rumah keluargamu juga sama-sama di sini?”

“Simpel saja, aku hanya ingin terbebas dari umma dan appa yang cerewet. Yah selain itu, kau tahu sendiri aku tidak terlalu dekat dengan mereka.”Sung Hee mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

Min Seok mengalihkan pandangannya pada jalanan yang terlihat lewat kaca jendela café. Terlihat banyak orang berlalu lalang, pandangannya lantas terhenti pada seseorang di luar sana. Min Seok tertegun sesaat ketika melihat yeoja itu. Seorang yeoja bertubuh jenjang yang sedang menyeberang jalan, yeoja itu terlihat begitu anggun sekalipun ia hanya berjalan biasa.

Min Seok menghembuskan napasnya keras, ia kembali mengingat saat-saat pertama kali ia melihat Soo Young, yeoja itu. Saat itu adalah di saat yang sama seperti kali ini, ia sedang duduk di café sembari memandangi jalanan kota London yang tampak benar-benar ramai. Saat itu juga, Min Seok melihat yeoja itu, Soo Young. Soo Young tengah menyeberang jalan dan Min Seok mendapati dirinya tidak berhenti memandangi yeoja itu. Min Seok merasa ia telah mengenal yeoja itu dari lama. Dan saat itu juga, perasaan Min Seok pada Soo Young mulai tumbuh.

Min Seok tersentak dari lamunannya ketika mendapati Soo Young tengah berjalan beriringan dengan seorang namja, namja bertubuh tinggi yang tidak ia kenal. Keduanya tampak begitu akrab, tampak seperti sepasang kekasih. Min Seok beranjak dari tempatnya duduk, dan dengan segera namja itu berlari keluar café, meninggalkan Sung Hee yang tengah terheran-heran.

“Ya! Min Seok Oppa! Aissh, kenapa ia meninggalkanku begitu saja.”

_________

“Summer!”

Soo Young menghentikan langkahnya dan berbalik badan, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Min Seok kini tengah berdiri di belakangnya dengan wajah lelah dan napas terengah-engah. Sepertinya namja itu baru saja berlari.

“Ah, Summer, aku ..”

“Mau apa lagi? Tak usah sok kenal denganku!”ujar Soo Young galak.

“Aku .. hanya ingin bertanya, apa kau pernah mengenalku sebelumnya?”

Soo Young mendengus, ia berjalan mendekati Min Seok, “Tidak. Dan jangan pernah kau berharap aku mengenalmu sebelumnya.”

Min Seok menelan ludah, “Tapi..” Min Seok melirik ke arah namja yang berada di samping Soo Young, namja bertubuh tinggi dan bukan orang Inggris, namja itu lebih terlihat seperti orang Cina. Namja itu menatap Soo Young dan Min Seok dengan tatapan penuh tanya. Namja itu lantas membungkuk, “Ah, hello, I am Huang Zi Tao. I am ..”

He’s my boyfriend! Ok, kau sudah tahu. Jadi jangan dekati aku lagi.”ucap Soo Young tiba-tiba, yeoja itu lantas menarik lengan namja Cina itu dan berjalan meninggalkan Min Seok.

Min Seok terbelalak, “Boyfriend?”

Soo Young dan namja Cina itu mulai berjalan meninggalkan Min Seok yang masih juga terdiam. Min Seok lantas memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Ia menatap sendu punggung Soo Young yang mulai menjauh, kemudian ia memejamkan matanya.

“Soo Youngie!”ucap Min Seok lantang.

_________

“Hei, apa-apaan, memangnya sejak kapan aku jadi pacarmu?”

“Diamlah, Tao.” Soo Young mempererat genggaman tangannya di lengan namja yang ia panggil Tao. “Tetaplah seperti ini sampai namja itu pergi.”bisik Soo Young.

“Memangnya dia siapa?”

Soo Young semakin mempercepat langkahnya, “Dia itu ..”

“Soo Youngie!”

Langkah Soo Young terhenti, ia tertegun. Namja itu, namja itu memanggilnya seperti dulu, seperti saat ia masih kecil dulu. Soo Young merasa hatinya terasa kelu, tiba-tiba air matanya mengalir.

“Soo Youngie, aku menyukaimu! Jangan pergi dengan namja lain!”teriak Min Seok lagi, membuat air mata Soo Young semakin tak terbendung.

Soo Young menghapus air matanya kasar kemudian membalikkan badannya, ia menatap tajam ke arah Min Seok. “Sudah berapa kali aku katakan! Aku tidak menyukaimu, kau pendek, gendut, tidak cocok bersanding denganku! Setidaknya jadilah kurus dan tinggi, bodoh!”

Soo Young kembali berjalan cepat menjauhi Min Seok.

“Aku tidak akan berubah.”

Langkah Soo Young kembali terhenti. Ia mulai menerka-nerka kata-kata apa yang akan diucapkan Min Seok selanjutnya.

“Aku tidak akan berubah seperti yang kau minta, aku tidak ingin mengusahakan apapun, karena aku ingin kau menerimaku apa adanya.”

Kali ini juga air mata Soo Young kembali mengalir. Kata-kata itu, persis seperti yang Min Seok katakan sebelum ia pergi ke London, kata-kata yang sampai kini masih terekam jelas di kepalanya. Namja itu masih sama, ia tidak pernah berubah. Tapi, yang masih jadi pertanyaan di kepala Soo Young, kenapa Min Seok tidak ingat padanya? Apa dia benar-benar berubah hingga Min Seok tidak mengenalinya? Tidak, Soo Young tidak pernah berubah, ia masih Soo Young yang dulu, Soo Young yang keras kepala dan punya mimpi besar.

Soo Young tidak berniat menanggapi pernyataan Min Seok, ia lantas menarik lengan Tao dan berjalan cepat menjauhi namja itu. Pikirannya benar-benar kacau.

“Tao, aku akan pergi ke Seoul.”

Tao memiringkan kepalanya, menatap wajah Soo Young yang sembab dan terlihat kacau. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh meskipun sebenarnya ia benar-benar khawatir dengan keadaan Soo Young yang notabene adalah sahabatnya. Ia merasa ini hanyalah masalah Soo Young dengan namja tembam itu, dan ia tidak perlu ikut campur. “Kenapa?”tanya Tao kemudian.

“Aku harus memastikan sesuatu.”

_________

Min Seok berjalan lesu menuju apartemennya, ia benar-benar merasa seperti menjadi orang bodoh. Entah kenapa tiba-tiba ia memanggil Soo Young dengan “Soo Youngie” dan tiba-tiba mengatakan perkataan bodoh seperti “Aku tidak akan berubah dan bla bla bla.” Ia tidak tahu mengapa perkataan seperti itu tiba-tiba muncul di pikirannya.

Min Seok mengacak rambutnya kasar. “Summer pasti merasa aku ini pengganggu. Ah! Dasar Min Seok bodoh.”

Min Seok berjalan menuju kamarnya dan menatap malas ke arah semangkuk bubur dan segelas susu yang masih berceceran di lantai dan belum ia bereskan. Ia mendesah hebat, “Ah, Summer benar-benar menambah pekerjaanku.”

Namja berpipi tembam itu menatap ke arah dinding kamarnya, kemudian beralih ke meja di samping tempat tidurnya, ia lantas menepuk kepalanya keras. “Bodoh, pantas saja Soo Young memukulku, dia pasti mengira aku penguntit. Kenapa aku bisa lupa membersihkan poster dan majalah-majalah itu, aisssh!”

Min Seok membanting tubuhnya ke kasur, ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih pucat. Ia melirik ke samping tempat tidurnya dan mendapati sebuah tas berwarna kecoklatan tengah bertengger di sana. Min Seok lantas terbelalak, “Aissh, yeoja itu meninggalkan tasnya di sini.”

Min Seok meraih tas Soo Young, ia bermaksud menempatkan tas milik Soo Young itu di tempat yang lebih aman ketika sebuah album foto mungil terjatuh dari dalam tas itu. Min Seok mendengus, namun kemudian matanya terpaku pada album yang kini tengah terbuka itu. Ia menatap dalam-dalam sebuah foto, foto seorang yeoja berkepang dua dan seorang namja tembam yang berdiri di sampingnya, namja tembam itu lebih pendek daripada si yeoja. Umur keduanya sekitar sepuluh tahun.

Napas Min Seok tercekat, “Namja ini? Bukannya … bukannya ini aku?”

Min Seok menatap foto itu lekat-lekat, tidak salah lagi. Seseorang yang ada dalam foto itu adalah dirinya, dirinya sewaktu kecil. Min Seok masih mengingat dengan jelas seperti apa ia semasa kecil. Dan yeoja itu, siapa yeoja yang berdiri di sampingnya itu? Siapa?

Min Seok kembali berpikir keras, dan mendapati bahwa yeoja itu begitu mirip dengan Soo Young. Sekalipun dalam foto itu Soo Young terlihat begitu berbeda, begitu culun, namun wajah itu tetaplah wajah Soo Young. Min Seok menahan napas, dia dan Soo Young lah yang berada di foto itu, tidak salah lagi. Min Seok mengerutkan keningnya.

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?”

________

Summer, Seoul, 13 years ago

“Aku suka sekali musim panas!”

Soo Young tersenyum melihat namja di sampingnya terlihat begitu bahagia. “Kenapa?”

“Di musim panas, aku tidak perlu terus-terusan mengurung diri di rumah seperti saat musim dingin. Aku juga bisa bermain sepuasnya di pantai. Aku bisa melakukan apapun! Aku suka sekali musim panas!”

Sekali lagi Soo Young tersenyum, “Min Seok ah, aku ingin jadi model kalau sudah besar nanti. Aku juga ingin mengganti namaku. Oh, camkan nama panggungku ini ya, jangan sekali-kali kau melupakannya.”

Min Seok mengernyitkan dahinya, “Siapa?”

“Summer.”

___TBC___

Akhirnya yah, TBC juga #plak. Annyeong semuanya, gimana ff ini? Semakin baik atau semakin geje? Wkwkw. Oh, iya buat 5th part ada yang bisa nebak sapa yang bakal muncul? Keep reading and don’t forget to comment chingu^^

126 responses to “[Xiu Min’s] Oblivious Summer

  1. ah….aku kira baekhyun udah mulai suka sama tunangannya eh..ternyata suka sama jin ri

    keep writing thor^^

  2. Cieee.. Chan Yeol udah ada pasangannya🙂 hahaha JinYeol..

    Ihhh~ Bacon kok malah cemburu sih? Kan udah ada Sung Hee :p

    Cieee~ bias gue muncul niehh~ *tunjukXiumin :p Hahahaha
    Itu Xiumin amnesia ya? Kok bisa lupa sih ama Soo Young? Tapi tetep cinta ya~ Namanya juga cinta~ :p Soo Youngnya sok jual mahal ihh~ Terima aja kali Soo walaupun Umin pendek n Gemuk :p Hahaha

    Oke lanjut~ ^^

  3. Aaa muritku kesannya cerita in bed dr yg lain dan yg paling aku sukaa. Apalagi sm kata2nya soo young kalo ngehina minseok wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s