(Dooyoon moment) lovey dovey #2

(before this series : love in the same sight | I really want to marry you 12| Youre my bride|lovey dovey 1)

Author : Dwlee87

Rating : PG-15

Genre : Romance

Length : Chapter

Main Casts : Yoon Doojoon, Heo Gayoon

Disclaimer : nama diatas milik mereka sendiri, saya hanya memiliki ceritanya

Authors note : ff ini sudah pernah dipublikasikan di fan3less

Untuk yang belum baca awalnya ini linknya :

Happy reading, I really appreciate your comment, don’t be silent reader ok? ^_^

if i were to chose between you and the world

even if everything is taken away from me, if it’s you, i’m okay

day or night i’m thirsty for love

(T-Ara We were in Love)

Writer POV

Gayoon memandang suaminya dan wanita itu dengan penuh kebingungan. Suasana akrab diantara keduanya membuat Gayoon secara tak sadar merasakan cemburu.

“Aku sudah pulang beberapa minggu yang lalu, ingin saja jalan-jalan ke Thailand. Bagaimana kabarmu sekarang? Kudengar kau jadi pengusaha sukses?” Tanya wanita itu

“Ah…..biasa saja, seharusnya bukan kabar itu yang kuharapkan kau mendengarnya. Aku sudah menikah, kau tak tahu?”

Raut muka yoja itu berubah seketika, yang semula ramah, tiba-tiba saja berubah menjadi kecut. Dia mencoba kembali tersenyum

“Oh ya? Bisa aku tahu siapa yoja beruntung itu?” tanyanya

“Kenalkan, dia istriku, Heo Gayoon, kau pasti tahu kan? Putri keluarga Heo?”jawab Doojoon begitu antusias. “Chagiya, dia sahabat Bomi sejak SMA, mungkin kau tak mengenalnya karena dia keluar negeri sejak semester 3.”

“Sahabat Bomi?Jongmal? Wah sayang sekali aku baru kenal sekarang.” Gayoon yang semula berpikir yang tidak-tidak mulai menemukan pikiran positifnya. Pantas saja Doojoon akrab, dia sahabat Bomi, pikirnya. “Kenalkan, Heo Gayoon, bisa kau panggil Gayoon.” Gayoon dengan antusias mengulurkan tangannya

“Aku Park Gyuri bisa kau panggil Gyuri saja.” Ucapnya menyalami Gayoon

Gayoon POV

Yoja itu memandangku tersenyum dan begitu dalam . Sangat dalam sampai aku merasa ditelanjangi dengan tatapannya. Seolah dia ingin mencengkramku erat. Pandangannya sangat membuatku tak nyaman.

“Ah, kau belum makan kan Gyuri? Aku traktir ya? Lama sekali aku tak bertemu denganmu, kau harus cerita banyak padaku, oh ya bagaimana kabar Joon?”

“Aku duduk sini ya?” tanyanya padaku, kuanggukkan kepalaku pertanda setuju .

“Aku sudah putus dengannya.”jawabnya

“Wae???????Aku melihat kalian cocok sekali.” Tanya Doojoon keheranan

“Itu…………..” Dia menatap Doojoon dengan pandangan yang…..entahlah, aneh kurasakan. Pandangannya terhadap Doojoon seperti mencari sesuatu, Mencari hal yang begitu lama dia rindukan. Kurasakan tatapannya yang sedih walau hanya sesaat.

“Kau tak perlu tahu, aku punya alasan sendiri.” jawabnya dengan tetap menyunggingkan senyumnya

“Kuambilkan minuman istimewa restoran ini, kau disini dulu ya, berbincanglah dengan istriku.”

Doojoonpun meninggalkan kami berdua. Suasana begitu canggung, aku sama sekali tak bisa membuka pembicaraanku dengannya yang terus membolak-balik halaman menu. Tiba-tiba saja dia melihatku. Dia menatapku sama dengan saat tadi dia menyalamiku, tatapan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.

“Tom-yamnya enak, kau bisa mencobanya.” Ucapku berusaha membuka pembicaraan dan menghindari tatapannya

“Kau kenal Bomi?” tanyanya

Kutolehkan kepalaku, mau tak mau aku menatapnya.

“Ne….aku mengenalnya, walau mungkin tak sebaik kau mengenalnya.” Ucapku

“Bagaimana kau mengenalnya?”

“aku pernah dirawat di rumah sakit yang sama dengannya.” Ucapku

“Oh……” dia membuka lagi daftar menu dan memanggil pelayan untuk membawakan pesanannya

“Lalu, kapan kau mengenal Doojoon?” tanyanya lagi

“Sekitar 3 tahun yang lalu.” Ucapku

“3 tahun lalu……satu tahun setelah Bomi meninggal ya?”ucapnya sambil tersenyum

“Kau mencintainya?”tanyanya lagi

“Ah? Ne…….” ucapku sambil menunduk, tentu saja aku malu jika ditanyai begitu.

“Jangan menunduk.”

“Eh…?”

“Matamu………….warna coklat terang itu…..sama.”

Dipegangnya pelupuk mataku perlahan. Jjamkan! Perlakuannya ini sungguh membuatku tak nyaman! Aku memundurkan wajahku untuk menghindari sentuhannya lebih intens padaku.

“Ah….mianheyo,aku hanya merasa matamu indah, sama indahnya dengan mata bomi. Tapi kalian berdua mempunyai pandangan yang berbeda. Pandanganmu lebih tegas.” Ucapnya

Apa dia sedemikian kehilangan Bomi, bahkan sampai saat ini dia terus mengaitkan obrolan kami dengan Bomi. Sebenarnya apa hubungannya dengan Bomi? Aku merasa yoja ini menyimpan sesuatu. Entahlah, aku merasakan hal yang aneh padanya. Tatapannya padaku, tatapannya pada Doojoon membuatku mulai berpikir ada yang tidak beres. Tapi kata Doojoon dia sahabat Bomi, jika Bomi bisa bersahabat dengannya, tentu aku bisa kan? Mungkin aku berpikir terlalu jauh.

“Maaf menunggu lama, kalian ngobrol apa saja?” tanya Doojoon

“Hanya bertanya kalian kapan bertemu  saja kok. Aku tidak menyangka kalau istrimu juga kenal bomi.”ucapnya

“Tidak sangka ya Bomi mempertemukan kita bertiga.”ucap Doojoon sambil tertawa.

Aku berusaha untuk tertawa. Tertawa formalitas merupakan keahlianku. Bagaimanapun aku masih merasa tak nyaman dengan yoja ini.

******

“Doojoon-a gomawo atas traktirannya, lusa aku akan berpesiar dengan kapalku di pantai untuk merayakan ulang tahunku, ikutlah kalau kalian mau, biar ramai.” Ucapnya

“Ne……kami akan sempatkan untuk datang.”ucap Doojoon melambai padanya, sementara otakku mulai tak fokus. Aku terus memikirkan pandangan misterius yoja itu kepada kami berdua.

“Chagiya….”

Aku terus berjalan dalam lamunanku menuju kamar hotel.

“Chagiya!”

“Ah….ada apa memanggilku?” tanyaku selepas sadar dari lamunanku

“Kau kenapa? Sejak bertemu Gyuri kau aneh.”

“Yobeo……..bagaimana hubungan kalian dengan Gyuri?”

“Kalian? Kau tanya aku dengan Bomi?”

“Ne…..”

“Aku sih tidak terlalu akrab, tapi sering sekali kami jalan bertiga, aku seperti merasa tidak kencan dengan Bomi karena dia selalu menguntit kami.” Ucapnya sambil tertawa.

“Hubungannya dengan Bomi?”tanyaku

“Mereka akrab sekali, terkadang aku cemburu dibuatnya. Kau kenapa sih tanya dia terus?”

“Ani……aku hanya merasa ada yang aneh dengannya…….pandangannya padamu….pandangannya padaku…….seperti mencari sesuatu, entahlah, lebih baik kau hati-hati terhadapnya, aku merasa ada yang tak beres.”

Aku yang begitu serius dengan pikiranku sampai tak menyadari kalau Doojoon memelukku dari belakang.

“Kau tak cemburu kan chagi?” tanya dari belakang kepalaku

“Ani…….aku hanya merasa tak nyaman dengannya entahlah….perasaan yang aneh…..”

“Itu cemburu……”

“Ya! Aku tahu beda cemburu dan bukan,.”

“Jongmal? Dari tadi mukamu berkerut, hati-hati cepat keriput.”

“Bodo ah, aku mengkhawatirkanmu malah bercanda.” Kulepas pelukannya paksa tapi dia memegang tanganku sehingga aku tak bisa berjalan lebih jauh.

“Bisa tidak sih tidak bikin aku gemas? Jadi ingin menciummu nih.”

Aku langsung menegangkan badanku. Aku tak bisa seperti dulu yang bisa dengan leluasa menolaknya untuk menciumku. Sekarang dia suamiku, dia bisa saja melakukannya tanpa ijinku.

“Kenapa sih kau selalu tegang kalau aku bilang ingin menciummu? Segitu tak sukanya kucium ya?”

Aigo……kau sudah mengenalku berapa lama sih? Aku ini tegang setengah mati tahu! Mana ada istri yang tidak suka dicium suami yang dicintainya? Hufff…….aku menarik nafasku dalam, kutatap namja yang masih menatapku itu. Aku dekatkan badanku sampai hanya berjarak sekian centi darinya.

“Apa?” tanyanya

Kutarik kaosnya cepat dan kucium bibirnya terlebih dahulu. Perlahan kujauhkan wajahku darinya dan kudapati Doojoon yang tengah terkejut dengan kelakuanku.

“Aku bukannya tak suka kau cium, tapi aku harus mempersiapkan jantungku dulu jika kau ingin menciumku. Aku terlalu senang untuk itu. Lagipula bukankah kau lebih senang kalau aku yang menciummu? Ini untuk membayar yang tadi pagi.”

Doojoon POV

Gayoon membalikkan badannya dan aku masih belum mendapatkan kesadaranku dengan utuh. Bagaimanapun ada perbedaan ketika dia yang menciumku terlebih dahulu. Ah……otak jahatku mulai berputar lagi. Tenanglah Doojoon-a, dia bilang dia belum siap. Aku harus menjaga janjiku terhadap diriku sendiri, menjaga istriku dari pikiran jahatku. Tapi kalau begini? Dia selalu senang memancingku. Aku tak tahu bisa bertahan sampai kapan kalau seperti ini terus. Sisi lain dari dirinya terlihat terlalu cantik untukku.

“Yobeo….kau tak ke kamar ?”tanyanya yang sudah berjalan cukup jauh dariku

Kamar? Dalam keadaan otakku seperti ini? Seseorang tolong aku untuk bisa menjauhkanku dari pikiran yang tidak-tidak ini!

“N…Ne chagi…..” Kulangkahkan diriku beriring dengan Gayoon yang merengkuh lenganku. Kemarin aku bisa mempertahankan pendirianku walau melewatkan malam bersamanya. Bagaimana dengan malam ini?

Kami berdua masuk ke kamar kami. Aku mengganti bajuku dengan baju tidurku demikian juga dengan Gayoon. Aku duduk di kasur sambil berusaha menenangkan jantungku dan menjernihkan otakku, sementara Gayoon masih mengganti bajunya di kamar mandi. Apa aku pura-pura tidur saja? Tapi bagaimana kalau Gayoon tersinggung? Kuacak-acak rambutku dalam kebingunganku.

“Yobeo kau kenapa?”

“Eng…..tak apa kok.” Ujarku tersenyum. Sebisa mungkin kutata wajahku agar wajar dilihatnya

“Tidur yuk, supaya besok tidak capek, mau jalan-jalan kan?”

Aku menganggukkan kepalaku pertanda setuju. Syukurlah Gayoon tak berpikir macam-macam. Dia dengan tenang merebahkan dirinya di sampingku. Aku tersenyum lega melihatnya. Aku hanya takut dia tak nyaman jika aku bertingkah macam-macam. Aku baringkan badanku sambil menatap langit-langit. Aku menoleh pada istriku, tak kusangka ternyata dia juga sedang memandangku.

“Kenapa?”

“Rasanya berbeda saja melihatmu dalam keadaan berbaring seperti ini, di ranjang yang sama, habis kemarin aku ketiduran…..”

Chagi….please…..jangan mulai lagi…..aku sudah bisa menahan diriku….

Tiba-tiba saja tanganku dipegangnya dan dia bersandar begitu saja di lenganku. Sebenarnya mau yoja ini apa? Menguji kesabaranku?

“ Bantal yang ini lebih empuk, hehe.”

Apa dia ini tidak tahu kalau suaminya namja normal?

“Chagi…….kau ini mengujiku atau apa sih?” tanyaku padanya. Dan seperti biasa dia hanya menatapku polos tanpa sadar apa yang diperbuatnya

“Kenapa? Kepalaku terlalu berat ya bersandar di lenganmu? Aku dari dulu ingin sekali seperti ini…….…”

“Kau tak sadar kalau aku ini namja normal?”

Sontak dia bangun dari lenganku dengan wajah merah padam.

“Lain kali jangan mengujiku seperti ini kalau kau memang belum siap.” Ucapku tersenyum

Lebih baik begini daripada aku terlanjur berbuat yang tidak-tidak. Kubalikkan badanku untuk menjemput kantukku, tidur akan membuat segalanya lebih baik. Kurasakan punggungku hangat, kutolehkan kepalaku. Gayoon memunggungi punggungku  sekarang.

“Yobeo….mianhe…..aku belum bisa menjadi istri yang baik, tapi aku memang belum siap….biasakah kau bersabar?”ucapnya

Kenapa dia yang minta maaf? Aigo…..apa aku sudah melukai perasaan istriku? Kubalikkan badanku dan kupeluk dia dari belakang.

“Kenapa kau minta maaf? Aku tak berniat begitu……aku akan menjagamu, itu janjiku…… Kau tak usah terlalu memikirkannya.” Ucapku menenangkannya. DIgenggamnya tanganku yang memeluknya

“Gomawo…….”ucapnya.

“Bolehkan kita melewatkan malam ini seperti ini, nyaman rasanya memelukmu.” Tanyaku

“Kau suka kupunggungi?” kali ini dia membalikkan badannya menghadapku

“Kau ingin mengujiku lagi? Kukatakan padamu aku tak sesabar itu.” Ucapku

“Aku tahu kau taksabaran, tapi aku tahu kau adalah orang yang menetapi janji.” Ucapnya tersenyum padaku. Baiklah, kali ini aku kalah, dia menang.

“Aku ingin tidur di lenganmu dan kau boleh memelukku, dengan begitu kita sama-sama nyaman kan?”

“Kau ini membuat perjanjian dengan suamimu sendiri?”

Dia hanya mengikik seakan memaksaku untuk menyetujui tawarannya

“Baiklah…..sini!”

Diapun bersandar di lenganku dengan nyamannya . Badannya menghadap kearahku sehingga aku bisa nyaman memeluknya. Kami berbincang sejenak, sampai kantuk menjemput kami. Kami berdua tidur begitu nyenyak dengan bunga tidur kami masing-masing

********

“Yobeo….bangun……sudah siang..”

Aku mendengar sayup-sayup suara Gayoon yang membangunkanku. Kurasakan keningku dikecupnya agar aku membuka penuh kedua mataku.

“Sudah bangun? Tidurnya nyenyak?” tanyanya

Aku berusaha membuka kedua mataku dan …..ah…..ini betul-betul celaka.

“Yobeo kenapa? Ada yang sakit?”

“Chagi…..sepertinya idemu untuk tidur di lenganku adalah ide buruk.”

“Wae….?”

“sekarang lenganku kesemutan…….”

Gayoon tertawa sambil membungkukkan badannya padaku

“Mianhe…(merong)”

********

“Kalian yang disini….silahkan nikmati makanan yang ada! Terimakasih kalian sudah menyempatkan diri merayakan ulang tahunku.”

Gyuri sebagai bintang malam ini terlihat begitu nampak glamour dengan baju pestanya. Dia tampak tersenyum menyambut tamu-tamunya. Senyum yang tak jauh berbeda ketika kami masih bertiga bersama Bomi.

“Jangan terlalu lama menatapnya.” Ucap Gayoon

“Hm? Ada yang salah?”tanyaku

“Bajunya itu….aduuuh…..nanti kau melihat kemana-mana.”

Baru kusadari baju Gyuri lebih terbuka sejak dia pulang dari luar negeri. Baju dengan punggung yang terbuka dan mini skirtnya tentu saja membuat mata namja jelalatan kemana-mana.

“Aku takkan melihatnya, aku lebih ingin melihat kau yang memakai gaun itu.” Ucapku

“Akan kupakai kalau kau memang ingin.”

Aku menoleh cepat. Dia serius? Atau dia hanya mengucapkannya karena emosi akibat cemburu?

“Yaksok? (janji)?”

“Ne!….eh????????!!!!!!!! JJamkan! Aku tadi bilang apa?”

Tuh kan dia tidak sadar, bodo amat, dia sudah janji padaku

“Janji tetap janji, tidak bisa ditarik, aku akan terus melihatmu di kapal ini, jadi janjimu akan kutagih suatu saat nanti.”

Gayoon menghindari tatapannya dari mataku. Tingkah salah tingkah ini yang selalu membuatku rindu padanya.

“Aku ke belakang dulu, tadi aku minum terlalu banyak.”ucapku

“Ne yobeo….cepatlah kembali…….”

Gayoon POV

Suasana gemerlap pesta sangat membuatku tak nyaman. Kualihkan perhatianku pada makanan yang disajikan. Toh makanannya sangat mengundang seleraku.

“Mana Doojoon?”

Aku sontak menoleh. Rupanya Gyuri menghampiriku.

“Dia sedang ke belakang sebentar, terlalu banyak minum.”ucapku tersenyum

“Oh….kebetulan, aku ingin bicara denganmu.”

“Ne….?Bicara apa?”

“Aku tak suka berbasa-basi, kurasa kaupun orangnya begitu, benar tidak?”

Pandangannya aneh kemarin kini tak kurasakan lagi, berbaik menjadi pandangan menantang.

“Ya…..aku orang yang suka terus terang, tak suka berbelit-belit. Katakan saja.”ucapku

“Kau tahu kan aku putus dengan pacarku?”

“Ah….ne, kau yang mengatakannya kemarin.”

“Sebenarnya aku memutuskan pacarku karena hubunganku dengannya bukanlah cinta. Pada dasarnya aku mencintai orang lain.”

DEG!…..Baiklah….sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini. Apa ini firasat anehku kemarin?

“Kau mencintai suamiku?” tanyaku

Yoja itu hanya menatapku, tatapan aneh yang kurasakan lagi, dia hanya menatapku lama, tanpa menjawab sedikitpun pertanyaanku. Dia lalu tersenyum

“Kau tahu maksudku rupanya, aku tak perlu menjelaskan panjang lebar kalau begitu.”

“Lalu apa maksudmu mengatakan padaku? Kau tahu kan aku ini istrinya?” tanyaku

“Aku ingin bersaing, secara sehat tentunya. Kalau dia tiba-tiba mencintaiku, apa kau mau melepaskannya?”

“Kalau aku melepaskannya, aku tak yakin dia mau melepaskanku.”ucapku

“Aku rela menjadi yang kedua kok.” Ucapnya

Sepertinya yoja ini sinting. Bomi-ya, sebenarnya dia sahabatmu dalam hal apa? Dalam hal berbagi cinta dengan Doojoon? Kurasa tidak.

“Jika dia memang memilihmu, berarti dia tidak pantas menjadi suamiku, aku akan pergi dengan senang hati.”

“Kau…..percaya diri sekali ya?” Dia mendekatkan diri padaku, cukup dekat hingga aku merasakan hembusan nafasnya. Dipegangnya wajahku perlahan. Aku tak melepaskan pandanganku darinya. Aku tak takut dengan apapun untuk mempertahankan rumah tangga yang baru kubangun.

“Kau cantik…..sungguh cantik dan mempesona, yoja yang berpendirian kuat. Walau sifat kalian berdua berbeda, pada dasarnya sama saja. Sepertinya aku mengerti kenapa Doojoon bisa jatuh cinta denganmu.”

Dia membandingkan aku dengan siapa? Bomi?

“Tapi aku takkan kalah, tenang saja, aku fair kok. Kalau dia menolakku aku akan langsung mundur. Tapi kalau dia bingung, aku akan terus maju, berarti dia masih ada sedikit perasaan padaku. Katakan pada Doojoon aku ingin bicara empat mata dengannya kalau dia kembali.”

“Oke, nanti akan kusampaikan.” Jawabku tersenyum. Kucoba setenang mungkin dalam menghadapi masalah yang baru saja timbul. Diapun meninggalkanku sendiri dalam otakku yang sedang berpikir penuh.

“Kya……” kurasakan pipiku disentuh sesuatu yang sangat dingin.

“Delivery service!” Doojoon membawa dua es cocktail di tangannya.

“Kata orang-orang ini enak sekali, antrinya sangat panjang, aku ingin mengambilnya untuk kita berdua, makanya lama, mianhe, kau sudah bertemu Gyuri?” tanyanya

“Ehm…..sudah…tadi dia titip pesan padaku untukmu.” Ucapku

“Ya?Pesan?”

“Ya……dia ingin kau menemuinya di dek, katanya ingin bicara empat mata.”ucapku

“Eng……tak apakah? Aku bakal berdua dengannya lo, aku tak ingin kau berpikir yang tidak-tidak padaku, kalau kau tak suka lebih baik aku tak memenuhi pesannya.” Ucapnya

“Tak apa……aku percaya padamu, sepertinya dia ingin bicara penting pergilah….”ucapku. Jebal yobeo………bukannya aku ingin mengujimu….tapi aku ingin percaya…..kau adalah namja yang paling teguh pendiriannya dari namja-namja yang kukenal. Karena itu….aku ingin…..ingin percaya padamu.

“Oh…kalau kau mengijinkanku aku akan kesana, minumlah cocktailnya aku akan segera kembali.”

“Ne….” kulambaikan tanganku padanya dengan berdoa dalam hati.

******

Aku menunggu dan terus menunggu. Semenit….10 menit……..30 menit….. baiklah ini terlalu lama. Akan kususul mereka berdua. Kucari kesana kemari tempat pertemuan itu. Kapal pesiar ini cukup besar untuk menyesatkanku. Tiba-tiba saja aku mendengar suara tawa dari salah satu sisi kapal. Akupun segera menuju arah suara itu, dan benar saja, Doojoon dan Gyuri sedang bercengkrama satu sama lain. Apa sedemikian mengasikkan sampai Doojoon lupa padaku? Aku mencoba mencari salah satu sisi untuk mendengarkan perbincangan mereka.

“Kau ingat tidak waktu Bomi mau jatuh ketika pentas di panti asuhan?”

“Ah….ingat!Dia itu memang rada-rada babo, tapi di situlah lucunya dia.”

Sayup-sayup aku dapat mendengar pembicaraan mereka. Rupanya mereka saling bernostagia tentang ingatan bomi yang ada di otak mereka, pantas saja Doojoon sampai melupakanku. Walau terkadang terasa sakit, aku tahu, bagaimanapun tempat Bomi tetap istimewa di hatinya. Pada akhirnya aku ikut mendengarkan pembicaraan mereka, sampai terkadang aku ikut tersenyum mendengarnya, Bomi-ya….andai aku mengenalmu lebih awal……

“Jadi mata Gayoon itu adalah donor dari Bomi, dan Bomi meminta Gayoon untuk menjagamu?” tanya yoja itu. Baiklah, sepertinya inti pembicaraan mereka akan mulai disini.

“Kurang lebih seperti itu.” Ucap Doojoon tersenyum, senyum lembut yang selalu kulihat mengambang di wajahnya. Kau tersenyum mengingat siapa yobeo? Bomi atau aku? Bolehkah aku sedikit berharap itu untukku?

“Bolehkah aku berandai Bomi tak menitipkanmu pada Gayoon?”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Kalau boleh jujur, aku putus dengan Joon kurang lebih karenamu Doojoon-a”

Yoja itu mulai mendekati suamiku. Tidak! Dia berniat menggodanya?

Writer POV

Doojoon melangkah mundur untuk menghindari godaan yoja itu, sampai dia tersudut.

“Apa maksudmu Gyuri-ya? aku tak mengerti!” ucap Doojoon

“Sejujurnya aku mencintaimu Doojoon-a, aku mencintaimu sejak Bomi mengenalkanku padamu.” Ucapnya sambil mulai menggoda namja yang kini terpojok di hadapannya

“Hentikan!” tangan doojoon menghentikan gerakan tangan yoja itu

“Kau tahu aku sudah beristri dan aku mencintainya! Jangan kaupikir Bomi meninggal dan kau bisa menggantikannya! Kukira kau mengerti Bomi lebih dari apapun! “

“Aku bersedia menjadi yang kedua kalau kau mau, aku tak berniat menjadi istrimu kok, simpananmu juga boleh.” Ujar yoja itu dengan tetap menyunggingkan senyumnya

“Kau mulai sinting Gyuri!” Doojoon segera menjauh dari yoja itu. Gyuri menatap kepergian Doojoon dengan dingin lalu meluncurkan kata-kata yang membuat Doojoon menoleh cepat.

“Kau mencintai Gayoon atau Bomi yang ada di diri yoja itu?”

Gayoon yang berada tak jauh dari lokasi itu mendengar dengan seksama dan penuh harap. Dia berharap Doojoon memberikan jawaban yang dia harapkan.

“Gayoon dan Bomi dua yoja yang berbeda, dengan sifat yang berbeda. Aku dulu mencintai Bomi, tapi aku kini mencintai Gayoon lebih dari apapun, jangan kau menyamakan keduanya. Kuingatkan padamu, jangan ganggu Gayoon dengan celotehanmu yang tidak-tidak seperti ini lagi. Aku masih ingin menganggapmu sahabat. ” Ujar Doojoon

Gayoon langsung tersenyum terharu mendengar jawaban suaminya. Dia merasa bisa mempercayai suaminya lebih dari apapun, Dia yakin, cinta suaminya kini hanya untuknya. Gayoon segera meninggalkan tempat itu dan memilih untuk menanti suaminya di tempat pesta.

Doojoon POV

“Bukankah pada dasarnya sifat mereka berdua sama?”

Ish! Yoja ini kenapa sih? Apa dia mulai gila sejak di luar negeri? Aku tak mengenal Gyuri yang seperti ini. Dia terus saja mencecarku seakan tak terima dengan penolakanku.

“Sebenarnya siapa yang lebih mengenal keduanya? Aku atau kau?  Lebih baik kau sembuhkan saja sifat gilamu itu sekarang!”

Aku langsung membalikkan badanku. Tak peduli dia mau bicara apa aku takkan menoleh.

“Kalau aku jadi kau…….aku takkan berhenti mencintai Bomi sampai aku mati.”

Ucapannya kali ini sontak membuatku menoleh, dia hanya menyunggingkan senyumnya dan memunggungi sembari meninggalkanku yang berusaha mencerna kata-katanya. Aku mencoba berpikir sambil berjalan menuju tempatku bersama Gayoon tadi. Akupun sampai di tempat pesta. Kucari sosok Gayoon tapi tak kutemukan. Aku mulai panik, kucoba kucari ke semua sudut tempat itu, yang kutemukan hanya sisa minuman kami berdua. Aku kini berlari menelusuri setiap sudut kapal. Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Firasatku sangat tidak enak. Tiba-tiba saja aku terpikir perkataan Gyuri yang dikatakannya tadi padaku.

“Tuan Yoon.” Aku menoleh, seorang waitress menyampaikan seamplop surat padaku

“Ini dari nona Park, silahkan dibaca.” Ujarnya

Kubuka amplop itu cepat dan isinya membuatku bergetar hebat

Orang yang paling kau cintai ada padaku

Aku juga ingin memilikinya

Aku ingin merebut semuanya darimu

Tak tahukah andai Bomi tak mencintaimu

Aku takkan menjadi sahabatmu

Pandanganmu yang dulu mencari sosok bomi sudah tak ada

Pandanganmu yang lembut untuk Bomi juga sudah menghilang

Apa hanya aku yang kini memikirkan Bomi sedangkan kau tidak?

Aku bisa melihat Bomi dari Gayoon

Setidaknya aku bisa memiliki mata indah itu

Kuremas surat itu. Yoja ini sinting! Segera aku menelepon orang-orang yang sekiranya bisa membantuku. Dalam panikku, seseorang memanggil namaku

“Doojoon-ssi”

Kututup teleponku cepat dan membelalakkan mataku

“Joon-kun????”

to be continue~~~

RCL PLEASE ^_^

9 responses to “(Dooyoon moment) lovey dovey #2

  1. Gyuri nya psikopat ya?
    Kkk… Kenapa pasangan Gyuri bkn Jjong SHINee?#readers ngelunjak..haha,lnjt jgn lm2..hehe

  2. lagi seru2ny malah keluar tulisan TBC -_-
    Gyuri bner2 gila! nekat bgt jdi orang -_-
    Doojoon bner2 org yg setia+bisa dipercaya >_< Gayoon bner2 bruntung XD
    itu Gayoon diculik ama si Gyuri? -_-
    Next part ditunggu!!~~~ Hwaiting

  3. Pingback: (Dooyoon moment) LOVEY DOVEY #3 end | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s