[EXO SERIES | 1ST] THE LEGEND – KAI

EXO SERIES – THE LEGEND

Ketika langit dan bumi menjadi satu legenda, melalui dua belas kekuatan yang hidup,
Terpeliharalah Pohon kehidupan.

Sebuah mata dari kekuatan merah menciptakan kejahatan yang menyelubungi jantung Pohon Kehidupan.
dan perlahan, jantung itu mulai ‘mengering’.

Untuk mempertahankan agar jantung pohon kehidupan tetap hidup, para legenda ini membagi Pohon kehidupan menjadi dua dan menyembunyikan tiap sisi.
Maka dari itu, ruang dan waktupun berubah terbalik dan menjadi samar.

Dua belas kekuatan itu terbagi menjadi dua dan terciptalah dua matahari yang serupa ke dalam dunia yang tampak sama. Para legenda mengembara secara terpisah.

Para legenda kini akan melihat langit yang sama namun harus berdiri diatas tanah yang berbeda.
Mereka akan berdiri diatas tanah yang sama namun akan melihat langit yang berbeda.

Hari di mana kedua tanah yang berbeda akan dipersatukan dalam satu barisan,
Dibawah naungan satu langit di dalam dua dunia yang Nampak serupa.
legenda akan saling bertermu satu sama lain.

Hari dimana kekuatan merah disucikan dan dua belas kekuatan akan dipersatukan kembali menjadi sebuah akar yang sempurna.
‘Sebuah dunia yang baru akan terbuka’

 

EXO. THE LEGEND.
CHARACTER BY : SM ENTERTAINMENT
FANFICTION BY : DARKFANTASTICBLUE
@DO NOT COPY THIS WITHOUT PERMISSION!

 

 

 

 

 

EXO – THE LEGEND
CHAPTER 1 – KAI
CAMEO: – JUNG EUN SEOK [OC] 

Hanya sebuah kenangan pahit yang kembali terputar oleh organ pemprosesku. Sebongkah kenangan, yang membawaku kedunia yang berbeda. Dunia yang kelam. Berbeda dengan dunia kalian. Duniaku begitu gelap. Gelap.

Memang ruang ini penuh dengan benda benda berkilau yang dapat memantulkan cahaya matahari dengan mudahnya. Maksudku, lihatlah. Dihadapan mataku, terdapat banyak sekali bongkahan emas, berkarung karung uang yang bertebaran, bahkan perhiasan perhiasan yang terlihat mahal bercecer begitu saja di ruang yang kelam ini. Mungkin, dengan pemandangan seperti ini, kau akan tergiur dengan barang barang itu, eh? Hei, siapa yang tidak menginginkan semua ini? Semuanya pasti menginginkannya. Begitupula denganku.

Tapi kau tahu? Bahkan, dibalik benda benda yang berkilau ini, tersimpan kenangan kenangan kelam yang kau tak ketahui. Dibalik indahnya benda benda ini, tersimpan beberapa hal kotor yang tak juga kau ketahui. Bahkan dimataku, benda itu sangatlah terkutuk.
Bagaimana bisa aku mengatakan hal seperti itu?
Jiika kalian adalah penyimpan rahasia yang baik, akan kuberi tahu hal sebenarnya. Namun, jika tidak, aku mohon, jangan laporkan hal ini pada siapapun. Bahkan pada orang orang yang kau sayangi dan kau percayai sekalipun. Karena, ini sangat berarti bagi roda kehidupanku.

‘Semua ini bukanlah milikku,’

Pahit untuk mengatakannya, namun, inilah yang terjadi sebenarnya. Barang barang ini, bukanlah milikku. Ini bukan hakku.
Sebenarnya, semua ini adalah milik mereka. Semua ini adalah hak mereka.
Ingin rasanya aku berlari dari takdir ini. Ingin rasanya aku lepas dari keterikatan ini. Namun, kenyataan ini telah melilit jiwaku kuat.

‘Mencuri,’

Inilah pusat dari semua kenangan pahitku. Ya, inilah penghalang cahaya kehidupanku. Hidupku hancur karena sebuah kesalahan fatal yang kulakukan!

‘Kau dengar? Aku mencuri!’

Kali ini kalian masih mendengarku? Ya, inilah aku. Salah satu dari sosok sosok gelap dunia. Aku adalah seorang ‘Pencuri’. Pemandangan indah di depan kalian adalah salah satu hasil curianku hari ini. Hari ini?
Ya, aku bukanlah pencuri biasa. Aku adalah pencuri besar. Aku dapat mencuri dalam jumlah yang besar, dan membawa hasil yang lebih dari cukup untuk perharinya. Inilah keunggulan diriku. Ya, mungkin, hanya ini bakat yang kumiliki sejak aku dilahirkan. Tapi, tunggu dulu. Bahkan, aku tak tahu, untuk apa aku dilahirkan.

Oh, betapa bahagianya kalian dilahirkan dengan kondisi orang tua yang lengkap—Oh, betapa bahagianya kalian mengetahui identitas orang tua kalian—Oh, betapa bahagianya kalian diberi pendidikan yang pantas oleh kedua orang tua kalian. Lantas, diriku ini?

Baiklah, mungkin saatnya aku harus bercerita kepada kalian. Mungkin, inilah saatnya aku membuka identitasku pada kalian. Mungkin, inilah saatnya aku membiarkan roda hidupku berputar dihadapan kalian.

Yah—seperti yang kau tahu barusan.

Aku adalah seorang Yatim-Piatu.

Sosok pemuda yang seharusnya kupanggil ‘Ayah,’ telah pergi meninggalkan diriku saat aku berusia 7 bulan didalam kandungan. Beliau meninggal karena sebuah kecelakaan Pesawat. Ya, almarhum ayahku dulu, katanya adalah orang yang sibuk. Dia selalu pergi keluar negri hanya untuk bekerja. Tapi sepertinya, tuhan benar benar mengizinkannya untuk berisitirahat. Kalian lihat saja, bahkan dengan adilnya tuhan membiarkan ayahku beristirahat dengan tenang di dunia sana. Tak banyak yang kuketahui tentang almarhum ayahku. Bahkan, aku hanya mendengar cerita ini dari Bibiku.
Dan sosok wanita yang seharusnya kupanggil ‘Ibu’, telah pergi meninggalkan diriku saat aku dilahirkan. Ya, beliau berusaha membawaku untuk memijakkan kakiku di dunia ini, sedangkan dirinya, harus berpijak pada tanah yang lain. Tuhan benar benar adil padanya. Bisa kau lihat, ibu bahkan bisa beristirahat dengan tenang seperti ayah di dunia sana. Sama seperti ayah, tak banyak yang kuketahui tentang almarhum ibuku. Hanya cerita cerita dari bibi-lah yang dapat membuatku dapat membayangkan sosok dari kedua orang tuaku itu.

Aku mempunyai seorang Paman dan Bibi.
Mereka memiliki watak dan sikap yang berbeda terhadapku.
Bibi mengasuhku sejak lahir sampai usiaku menginjak 3 tahun. Beliau sangat sabar dalam mengurus diriku, mendidikku, bahkan mengajariku untuk melakukan beberapa hal. Beliau juga sangat suka bercerita padaku. Bercerita tentang nenek moyang kami, Ayahku, Ibuku, bahkan jalan hidup Bibi sendiri. Namun, saat aku mulai menginjak usia 4 tahun, beliau wafat karena mengidap penyakit kanker hati yang sudah terdengar sangat parah. Dan bahkan, lihatlah, Tuhan begitu adil pada Bibiku. Ia mempersilahkan dirinya untuk beristirahat dengan tenang di dunia sana.
Dan, berbeda sekali dengan Pamanku. Paman begitu benci denganku.
Dia selalu memperlakukanku layaknya sampah. Seenaknya saja dibuang dan tidak dipedulikan. Bahkan, setiap dia bertemu denganku, dia selalu memakiku dengan sangat kasar,

‘Anak Pembawa sial!’

Itulah yang selalu terucap dari bibir Pamanku. Entah, apa yang membuatnya berkata seperti itu. Namun, yang hanya bisa kulakukan hanyalah mengunci bibirku rapat, dan memainkan jari jari tanganku. Aku tak mau bercampur baur dengan gejolak emosi yang dimiliki pamanku itu.
Dan akhirnya, dia benar benar menyeretku keluar dari kehidupannya. Dia menitipkanku pada sebuah panti asuhan yang terkenal ‘kumuh’, yang terletak di sudut kota.
Sudut? Pasti jarang sekali yang mengunjunginya bukan? Ya, sepertinya kau benar. Jarang sekali ada yang mengunjungi panti asuhan kecil kami. Paling-paling, yang datang hanyalah penagih uang listrik yang berada dari pusat kota.

Sejak dulu, aku memang tak mempunyai teman. Entah mengapa, semua orang membenciku. Padahal, diriku ini sebenarnya tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka. Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk menggambar di pojok ruang. Mengapreasikan perasaanku melalui tetesan tinta dan selembar kertas. Jarang sekali ada yang memperhatikanku. Keberadaanku seperti kerikil kecil. Benda kecil yang sering di hiraukan, dan terkadang ikut tertendang orang. Sampai, seorang gadis berumur 6 tahun seusiaku, datang menghampiriku. Dengan mata emerald-nya, dia memerhatikan lihainya gerakan tanganku dalam menggambar.

“Kau suka menggambar, eoh?” pertanyaan itulah yang menjadi awal pembicaraan kami. Dia bertanya padaku dengan wajah riangnya. Seakan akan, aku adalah anak anak normal, seperti anak anak yang lain. Dia tidak tahu bahwa diriku ini adalah sosok, ‘Anak pembawa Sial.’. Sepertinya dia tak memandang sebelah sisi gelapku itu. Mata emeraldnya selalu terbuka lebar untuk menatap segala hal positive yang kulakukan. Dan bodohnya, aku hanya menjawab pertanyaan darinya dengan sebuah anggukan kecil.

“Hei, Hei! Sepertinya aku belum mengenalmu. Kenalkan, aku EunSeok. Jung Eun Seok. Kau sendiri?” itu adalah sebuah pertanyaan kedua yang melintas dari bibirnya. Dan kau tahu, dia mengulurkan tangan padaku. Mengajakku untuk menjalin tali pertemanan dengannya. Dan kau tahu, aku hanya membalas reaksinya dengan mengangkat kepalaku dan tersenyum kecil.

“Namaku, Kim Jong In.” dan, aku membalas uluran tangannya. Ya, mungkin, hari itulah yang menjadi hari terindahku di Panti asuhan kecil yang kutempati. Karena, itu adalah sejarah awal, dimana ada orang yang mengajakku berkenalan.

“Kai,” gumam gadis manis itu menyebutkan sebuah nama yang sangat terdengar elegan, “Bolehkah aku memanggilmu, Kai?” saat itu, gadis manis bernama Eunseok menarik senyuman hangatnya. Menatapku layaknya aku adalah anak anak normal seperti anak anak panti yang lain. Tanpa ada beban disetiap tarikan senyumnya. Dan, bodohnya lagi. Aku bermain dalam rasa Malu-ku. Dan aku hanya mengangguk.Kau tahu, semejak itulah, aku mempunyai teman. Ya, teman yang manis dan baik.

Namun, sepertinya tuhan sangat teramat sayang pada gadis itu. Ya, seorang gadis manis bernama EunSeok—yang bernotabane sebagai teman pertamaku.
Begitu mudahnya, tuhan mengambil kehidupannya. Ya, dia pergi meninggalkanku, seminggu sejak hari perkenalan kami. Ya, dia wafat karena sebuah kecelakaan kecil. Dia tersandung di Kamarnya dan kepalanya terbentur keras oleh laci kamarnya itu. Seandainya kita tak terlambat menyelamatkannya, mungkin dia masih bisa bermain lagi bersamaku. Namun, sepertinya takdir tak berpihak padaku. Dan tuhan sangat menyayangi dirinya, bahkan kau tahu bukan bahwa tuhan mengizinkannya untuk beristirahat dengan tenang di dunia sana.

Sejak itu, aku mulai berfikir. Bahwa tuhan sangatlah adil dalam memperlakukan makhluknya yang lain. Ia membawa orang yang aku sayangi untuk beristirahat tenang disana, sedangkan diriku? Tuhan sama sekali tak melirikku.
Dia tak pernah memberiku petunjuk apapun dalam lajunya hidupku.
Bahkan, dia selalu membawa kabur orang orang yang berperan sebagai kompas kehidupanku.
Tuhan, dimana keadilanmu?

Tuhan memang adil dalam memperlakukan makhluknya yang lain. Tapi, kenapa hal itu tak berlaku padaku? Dengan adilnya ia mempersilahkan orang yang kusayangi untuk beristirahat disana. Dan tetap tidak mau membawaku pergi ke sisinya.
Apakah kau terlalu ‘benci’ denganku sehingga kau tak mau membawaku ke alam sana?
Apakah kau terlalu ‘Jijik’ denganku sehingga kau tak mengizinkanku untuk berada disisimu?
Bahkan, kau sama sekali tak memberitahuku dimana sisi keburukkanku. Sama seperti mereka, kau hanya menganggapku sebagai kerikil kecil yang tak berdaya.

Dan, semejak aku berargumen seperti itu. Kira kira saat itu umurku sekitar 10tahun. Aku memutuskan untuk bertemu tuhan secepatnya. Ya, secepat yang aku bisa. Aku ingin bertemu orang yang kusayangi disana.
Aku harus menemui tuhan secepatnya!

Usaha demi usaha kulakukan. Entah dengan mencoba menggantung diriku dengan tali digudang, namun selalu saja gagal karena aku dicegah oleh petugas kebersihan yang tak sengaja lewat. Mencoba mengiris pergelangan tanganku sendiri dengan pisau dapur, tapi selalu saja gagal karena juru masak panti telah menangkapku basah sebelum aku melakukan aksiku. Bahkan, aku mencoba untuk terjun dari gedung sekolah di sebrang panti yang cukup bisa dibilang tinggi.

Cara terakhir tadi nyarsi saja sempurna! Andai, rumah sakit ditiadakan dari dunia ini! Pasti aku sudah berada di sisimu, tuhan?! Kenapa kau begitu menolak kehadiranku,eoh? Begitu hinakah diriku ini? Apa yang salah dari diriku ini, tuhan? Aku sama sekali tak pernah menghinamu, bahkan meneriakimu saja aku tak pernah! Kenapa kau tak pernah membalas pengabdianku?!

Dan akhirnya, Aku terlahir kembali, dengan kondisi yang berbeda. Aku terbangun dari rumah sakit, dengan membawa perasaan yang berbeda. Bahkan, aku merasa bahwa tubuhku ini bukanlah tubuhku yang dulu! Aku merasa, aku lebih Kuat.
Aku mempunyai Jiwa yang lebih kuat.
Aku memiliki kekuatan yang lebih kuat.
Tapi
Inikah balasan darinya?
Balasan untuk pengabdianku saat ini?
Tapi bukan ini yang kuinginkan. Yang kuinginkan adalah perhatian dan kasih sayang!
Bukan kekuatan yang dapat membawaku kemana saja!

Kemana saja?

Ya, aku terlahir kembali dengan membawa sebongkah kekuatan yang bisa dibilang sangat hebat. Kekuatan yang membuatku terlihat sangat berbeda dari kebanyakan teman temanku yang lain. Sebuah kekuatan yang mustahil di dapatkan oleh seorang manusia.

‘Kekuatan Teleportasi,’

Entah, dari mana datangnya, begitu mudahnya aku menguasai kemampuan ini. Aku dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan sangat cepat. Bahkan dalam satu kedipan mata, aku dapat berpindah ke tempat tempat yang sulit dijangkau.
Awalnya aku tak menyadari kekuatan ini, sampai akhirnya, aku berangan angan untuk kabur meninggalkan rumah sakit ke tempat yang jauh dari tempat menjenuhkan itu. Dan dalam satu hentakan, aku telah berpindah jauh dari tempat menjenuhkan itu. Akupun tak ingat, bagaimana caranya aku melakukan hal itu semua. Hal itu terjadi begitu saja. Tanpa bawah sadarku. Dan setelah itu aku menyadari, bahwa tuhan telah membayar usahaku.
Oh terimakasih tuhan, kau membayarku dengan bayaran yang salah.

Ya, bagaimana tidak? Dengan kekuatan seperti itu, itu memungkinkan diriku untuk menjadi seorang ‘pencuri’. Dengan mudahnya aku mengambil barang barang berharga kepunyaan orang lain, dan membawanya kabur dengan cepatnya.
Awalnya, aku sangat puas dengan hasil kerjaku ini. Ya, puas sekali. Dengan mudahnya aku tertawa lepas saat itu, menertawakan mereka. Orang orang yang selalu mengabaikanku!

Haha, lihat saja ekspresi bingung mereka saat kehilangan barang barangnya. Pemandangan yang lucu. Ya, saat itu aku masih memandang sebelah mata.

Namun, saat ini tuhan sudah membuka sebelah mataku lagi. Membuatnya terbuka sempurna. Menyadarkan diriku akan kesalahan fatal yang telah kuperbuat.  Menyadarkanku akan perasaan perasaan kecewa mereka. Dan mengingatkanku pada memori memori kelamku dulu. Bagaimana aku kehilangan Orang tuaku, kehilangan bibi tersayangku, dibuang oleh pamanku sendiri, dan bagaimana aku kehilangan satu satunya temanku, ‘Jung Eun Seok’. Sosok yang sangat berarti bagiku. Dia yang mengajariku tentang semangat hidup. Dia yang mengajariku untuk memandang dunia ini dengan mata terbuka. Sama seperti bibi, dia mengajariku banyak hal yang berguna, walaupun hanya satu minggu. Ya, hanya satu minggu dia menuntunku berjalan pada roda hidupku. Namun, hal itu sudah merubah besar cara pandangku memandang dunia ini. Ya, termaksud caraku memandang dirinya.
Kau tahu? Aku memandangnya, berbeda dengan caraku memandang gadis gadis seumuranku pada umumnya. Aku memandangnya dengan tatapan berbeda. Ya, dia adalah gadis ter-special di mataku. Mungkin saat itu, aku belum menyadari, bahwa aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, begitu bodohnya diriku dulu.
Namun, sebodoh bodohnya diriku dulu, adalah sepintar pintarnya diriku sekarang. Maksduku, kau lihat saja. Sekarang, Diriku ini amat teramat sangat kotor. Bukan Kotor dalam arti fisik. Namun, kotor dalam mental dan jiwa. Kebiasaanku untuk mencuri telah membutakan hatiku. Merusak jiwaku. Merendahkan mentalku. Ya, aku terlahir kembali di dunia yang berbeda.
Aku terlahir di dunia yang penuh kecurangan, kebencian, nafsu duniawi, dan semacamnya. Dan aku hanya bisa berlari pada duniaku kini! Berlari pada kehidupan yang penuh dengan hal hal kelam. Seringkali aku bertanya, untuk apa tuhan melahirkanku kembali di dunia yang berbeda ini? Untuk apa tuhan memberiku kekuatan yang tak dimiliki orang lain ini? Untuk apa tuhan mempertahankanku untuk berpijak di tanah ini?
Toh, ada atau tidaknya aku, takkan ada perbuahannya untuk dunia ini!
Takkan ada yang melihat keberadaanku!
Tuhan, Tuhan!
Kau dengar aku?
Jangan jangan kau tak mendengarku?
Jangan jangan, kau tak mendengarku layaknya mereka tak mendengarkanku?

Tuhan, Tuhan!
Kau lihat aku?
Jangan jangan kau tak melihatku?
Jangan jangan kau tak melihatku layaknya mereka tak melihatku?

Memang diriku sekarang adalah sosok yang hina! Memang diriku sekarang adalah sosok yang kotor! Memang diriku sekarang tak pantas lagi berdamping denganmu tuhan!
Namun setidaknya, Dengarkan aku!
Lihatlah aku!
Rasakan kepedihan hatiku juga tuhan! Rasakan!

“Tuhan—“ aku mulai bergumam dalam kesunyian. Suaraku menggema kesetiap sudut ruang yang hening. Tak ada sahutan. “Aku hanya ingin—mendapat keadilanku,”

Bibirku bergetar. Aku mengigit bibir bawahku. Menahan jeritan tangis hatiku yang sedari tadi memberontak. Batinku ikut menjerit. Menjerit meminta pertanggung jawaban yang menimpaku selama kurang lebih 18 tahun! Bayangkan, 18 tahun aku hidup di dunia yang berbeda dengan teman temanku! 18 tahun lamanya aku telah memikul beratnya beban hidupku. Dan sampai 18 tahunpun, pengabdianku belum terjawab seutuhnya oleh tuhan!

‘Bo-Bodoh, dia tak mungkin mendengarkanku.’

Ya, benar. Tuhan benar benar sibuk. Sibuk sekali mengurusi makhluk makhluknya yang lain!
Bahkan dia benar benar tak punya waktu untukku, eoh?

Dan detik berikutnya, aku kembali memejamkan mataku. Memfokuskan segenap jiwa ragaku. Ya, aku akan melakukan Teleportasi lagi. Kali ini bukan untuk mencuri. Kali ini aku benar benar ingin melakukan Teleportasi untuk mendapat keadilanku.
Setelah itu, aku takkan memakai kekuatan ini lagi. Sungguh.
Aku hanya butuh keadilan.
Kalau perlu, ini adalah Teleportasi terakhirku—

—***—

Aku membuka mataku kembali. Dan iris hitamku kembali menangkap pemandangan terjal yang ada di bawah sana. Ya, pemandangan ini tak berubah.
Pemandangan terjal ini tak berubah, walaupun 8 tahun telah terlewati dengan cepat.
Ya, ini adalah lokasi, dimana dulu aku nyaris bertemu dengan tuhanku. Ya, diatas atap sekolah, tepat berada di sebelah panti. Ya, aku berteleportasi untuk kembali kemari. Mengulangi kembali kejadian 8 tahun lalu. Ya, itu niatku.

Kau tahu, jika tuhan benar benar tak mau memberiku keadilan, maka aku akan mengambil keadilanku sendiri! Ya, aku akan mencuri keadilanku sendiri!
Aku akan pergi menemui tuhan, dan mengambil keadilanku! Meminta pertanggung jawaban darinya!

Aku memutar bola mataku, melihat sejenak kebawah. Ya, sama seperti dulu, hanya tanahlah yang menyambut diriku di bawah. Ya, tak ada matras, kasur, trampolin, dan sebagainya. Justru, aku tak membutuhkan semua itu. Ya, tekadku sudah bulat, ‘Aku akan bertemu tuhan.’

Aku menggertakkan gigiku spontan. Ya, selalu seperti inilah reaksi yang kuterima jika aku akan menemui ajalku. Punggungku meremang dingin. Tangan dan kakiku bergetar hebat. Aku mengigit bibir bawahku, menahan setiap reaksi negative yang diberikan oleh tubuhku. Ya, aku harus maju! Aku harus maju! Aku harus bertemu Tuhan!

‘Ayah, Ibu, Bibi, EunSeok… Sebentar lagi aku akan menyusul’

Aku melangkahkan kaki kananku yang sedari tadi bergetar hebat.

‘Tiga.’

Gumamku menghitung mundur.
Aku melangkahkan kaki kiriku yang sedari tadi ikut bergetar pula,

‘D-Dua.’

Kali ini terdengar getaran pada hitungan mundurku.
Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Entah kenapa, aku begitu berat meninggalkan dunia yang kelam ini. ‘Aku belum melakukan sesuatu yang berarti disini,’
Ya, itu yang menghantui pikiranku semejak aku melangkahkan kaki kananku tadi. Entah kenapa, benakku berfikir seperti itu. Sepertinya, ada sebuah kewajiban yang belum kuselesaikan disini. Tapi, apa?

“Jangan!”
Sebuah sahutan sontak membuatku terlonjak kaget. Aku membalikkan tubuhku, menatap sosok yang mencegah aksiku barusan.
Dan aku mendapatkan sesosok manusia, dengan jubah hitam yang melilit tubuhnya. Tudung hitam yang dikenakannya menutupi wajahnya. Membuatku tak dapat melihat dengan jelas sosoknya itu. Dia berjalan mendekatiku, langkahnya perlahan, namun membawa aura yang berbeda. Entah mengapa, aku seperti tak bisa menghindari dirinya. Ya, entah—aku seperti memiliki ikatan kuat dengannya. Aku tak bisa membantah bahkan kabur sekalipun.
“Tuhan masih menginginkanmu,”

Aku membulatkan kedua bolamataku sempurna. Apa dia bilang? Tuhan? Menginkanku? Dia bercanda? Tuhan telah mempermainkanku! Dia membawaku di dunia yang tidak sepantasnya ku tinggali! Dia hanya mempermainkanku!

“Bo-Bohong,” ujarku sedikit terbata. “Dia tak pernah menginginkanku,”
“Dia selalu mempermainkanku! Menyeretku dalam penderitaan! Dia tak pernah melihat keadaanku—dia—“

“Kau tak tahu apa apa, Kai” ujarnya seraya memotong pembicaraanku. Aku terlonjak kaget mendengarnya memanggil nama kecilku. Ya! Nama elegan yang kudapat dari teman kecilku dulu. ‘Kai’ bagaimana dia tahu nama itu!? Aku tak pernah menceritakan nama kecilku pada siapapun!

“Ba-Bagaimana kau tahu, namaku adalah Kai?” tanyaku hati hati. Sosok ini pasti bukan orang biasa. Ya, auranya berbeda dengan aura manusia.

Walaupun tak terlalu jelas, aku dapat menangkap seringaian yang melebar dari bibirnya. Dia kembali mendekatiku. Mendekatkan bibirnya tepat di telingaku, dia berbisik.

“Aku tahu semua, Kai. Aku tahu.” Bisiknya menggelitik telingaku. Aku ternganga tak percaya. Dia? Mengetahui semuanya? Siapa dia? Dia mencengkram bahuku semakin erat. Aku dapat merasakan sentuhan sentuhan dingin yang diberikan oleh tangannya.

“Si,siapa kau?” tanyaku dengan nada yang sedikit bergetar. Entah mengapa, aku merasa takut berhadapan dengan sosok ini.

“Aku?” bisiknya kembali, “Aku adalah bongkahan dari kekuatanmu, Pelindung dirimu,”
Aku semakin menyerngitkan alisku tak mengerti. Sosok itu menjauhkan dirinya dari telingaku. Dia membuka tudung hitamnya. Dan terlihat jelas, sosok asli dari sang jubah hitam.

Ya, dia adalah cermin diriku. Wajahnya, rambutnya, postur tubuhnya, sama persis seperti diriku! Aku membulatkan mataku tak percaya, Inikah sosok dari kekuatanku selama ini?
Inilah sosok dari Teleportasi-ku selama ini?

“Tuhan—mengizinkanku untuk berbicara padamu, Kai.” Ujar pemuda yang persis sekali denganku seraya menepuk pundak kananku, mata hitamnya menatap mataku tajam, “Aku harus menjelaskan, tujuan sebenarnya tuhan menyerahkan diriku untukmu,”

“Tu-tujuan sebenarnya?” ulangku tak mengerti. Sosok itupun hanya mengangguk.

“Ya—Tuhan benar benar membutuhkanmu, Kai. Dia menginginkanmu. Oleh karena itu, tuhan selalu menolakmu untuk pergi ke alam sana. Ada sebuah kewajiban darinya, yang belum kau laksanakan,” jawabnya seraya mencengkram pundakku semakin erat, “Sebuah kewajiban yang penting,”

“Kewajiban macam apa?” tanyaku. Ya, sejak aku ingin jatuh tadi, aku selalu merasakan ada suatu kewajiban yang belum kulaksanakan. Sebuah kewajiban, yang terdengar sangat ‘penting’, dan mendesak jiwaku.

“Kau harus melaksanakan kewajibanmu, sebagai salah satu dari keduabelas legenda yang terpisah, Kai. Kau adalah sang legenda!” ujarnya, kilatan matanya terlihat sangat bersemangat sekali. “Dan sang legenda tak akan mati, sebelum ia melaksanakan tugasnya!”

Aku menyerngitkan alisku tak mengerti. Pembicaraan ini benar benar membuatku pusing, “Kedua belas legenda? Apa itu? Dan apa maksudmu mengatakan bahwa diriku adalah salah satu dari kedua belas legenda?”

“Ya, kau adalah salah satu orang yang terpilih Kai,” sahut sosok itu seraya mengangguk padaku, “Aku akan menjelaskanmu, jika kau ikut bersamaku,”

“I,Ikut bersamamu? Kemana?”

“Aku akan membawamu—kepada cahaya kehidupanmu, Kai. Bagian dari dirimu yang paling berkilau. Kau belum pernah melihatnya bukan?”

Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok di hadapanku. Cahaya kehidupanku?
Kehidupanku yang kelam ini, mempunyai cahaya kehidupan? Bahkan, diriku sendiri pun tak tahu hal macam ini.

“Kau pasti ingin merasakan—bagaimana kau dipandang oleh orang lain, bukan?” “Bahkan, semua orang akan memperhatikanmu, Kai. Kau akan menemukan tujuan hidupmu lagi, Kai.”

“Tu-tujuan hidupku?” ulangku tak percaya, ya, inilah yang kucari cari selama ini! Tujuan hidupku! Ya, ya! Ini dia!

“Bagaimana, Kai?” tanyanya seraya mengulurkan tangannya padaku, aku menatap sosoknya sesaat, “Kau ikut denganku?”

Perlahan, aku mulai menggerakkan tanganku, membalas uluran tangannya.

“Aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu jika kau ikut denganku, Tenang saja.”

Senyum mengembang di wajahku. Mungkin tak ada salahnya jika aku menerima ajakan darinya. Akupun menerima uluran tangannya,

“Selamat, Kai. Kaulah penguasa Teleportasi yang kami cari. Selamat bergabung dengan kami, EXO. Setelah ini, kita cari kesebelas saudaramu yang lain,”

TO BE CONTINUED

 TOLONG COMMENTNYA UNTUK 2ND-NYA YA^^
MIAN KALO LABIL
MIAN KALO ADA TYPO [SAYA NULIS DI HAPE, GAK BAWA LAPPY]
TULIS KEBUT~ MAU HIATUS SOALNYA .____.
COMMENT! COMMENT! #tepar satu2 

poster By: Sasphire^^
Gomawo sangat eon.. #Saeng kesusahan kasih Link gara2 pake Hape

31 responses to “[EXO SERIES | 1ST] THE LEGEND – KAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s