A Precious Journey

Ini adalah fanfiction pertama author dan sebagai FF perkenalan dari author ^^~ Ohya, sebelumnya tolong maklumin kalo banyak kurangnya. Masih belajar ^^

Fanfiction A Precious Journey
Fanfiction – A Precious Journey

Tittle

A Precious Journey

Lenght

Oneshot

Rating

PG-15

Genre

Romance

Author

Han Soyeon aka MissPark0107

Cast

G-Dragon Big Bang as Kwon Jiyong

Park Soyeon T-Ara as Han Soyeon

DISCLAIMERS !!
Cerita dalam fanfiction ini terinspirasi dari movie Jepang berjudul KOIZORA. Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikannya dengan fantasi dan imajinasi author ^^

HAPPY READING 🙂

            Hangatnya sinar Matahari membangunkanku dari mimpi panjangku. Kuregangkan tubuhku beberapa kali sambil mengumpulkan jiwaku kembali. Di waktu sepagi ini sudah terdengar cekcok dari lantai bawah. Membosankan dan memuakkan. Appa yang keras kepala dan Eomma yang tak mau kalah. Pasangan yang serasi. Segera aku berangkat tanpa memandang kedua orang tua yang juga tak begitu peduli padaku.

“Aku berangkat.” Ucapku ketika diambang pintu, meskipun aku tau tak akan ada yang mendengar.

Seperti tahun ajaran baru lainnya. Bertemu dengan teman baru, senioritas, dan dosen. Universitas Seoul menjadi pilihanku. Masa orientasi telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama masuk.

Aku berjalan kembali menuju kelas bersama Jung Soeun, teman baru yang dulu pernah membelaku saat masa orientasi. Semenjak itulah kami mulai akrab.

BRUKK. Baru juga melangkah beberapa menit aku sudah menabrak seseorang. Soeun membantuku berdiri. Kepalaku tertunduk begitu melihat siapa orang yang kutabrak. Seorang senior namja yang menakutkan. Tatapan mata yang menakutkan, ekspresi dingin, dan penampilannya seperti bad boy, satu lagi, telinganya ditindik, membuatku membeku seketika.  Omona, susu kotakku  tumpah mengenai bajunya. Dia terlihat kesal. Matilah aku.

“Mian.” Itu yang dapat kuucapkan. Namja didepanku itu menghela napas kemudian pergi tanpa sepatah kata pun. Dia pasti sangat kesal. Tak lama kemudian seorang senior yeoja menghampiriku.

“Ya! Apa yang sudah kau lakukan pada uri Jiyong Oppa?!” ia memakiku. Mungkin yang dimaksud adalah senior yang tadi.

“Payah!” ia menendang kesal lantai yang bahkan sama sekali tak bersalah.

“Ya! Eonni, kau tak berhak memarahiku. Apa kau ini pacarnya?” ejekku, lama-lama senior sepertinya membuatku kesal juga. Soeun menarik tanganku, memberiku kode agar tak meladeninya dan segera pergi. Eonni itu terlihat sangat kesal.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila? Han Soyeon-ah?” omel Soeun tentang kejadian yang tadi. Dengan santai aku duduk di kursi taman. Pikiranku hanya tertuju pada senior yang kutabrak tadi. Dia membuatku penasaran.

“Hey, Jung Soeun, orang yang kutabrak tadi.. kurasa dia bukan orang baik, iya kan? Apa menurutmu juga begitu?”

“Kau tak pernah mendengar berita tentangnya?” Soeun mulai tertarik untuk bercerita.

***

            Sejak semalam hujan tak kunjung reda. Ramalan cuaca di televisi mengatakan bahwa hujan baru akan berhenti nanti malam atau besok pagi. Maka dari itu kampus diliburkan. Kupandangi hujan dari jendela kamarku. Rumah ini sangat sepi, sesepi hatiku. Sejak seminggu yang lalu Eomma pergi ke Busan sementara Appa ke Jepang. Tak peduli bagaimana keadaan anak semata wayangnya ini. Sering aku berpikir apakah benar aku ini anak mereka? Kenapa mereka tak pernah meluangkan waktu untukku? Usiaku sudah dua puluh tahun dan aku masih belum merasakan benar kasih sayang mereka.

Seorang namja bertopi membuka gerbang rumahku dan berlari ke teras. Mungkin ia ingin berteduh. Orang bodoh macam apa yang keluar di cuaca seburuk ini, batinku. Aku turun untuk memeriksa. Memastikan bahwa ia bukan orang jahat. Kuintip ia dari jendela. Pawakan tinggi itu, kurasa aku mengenalnya. Atau pernah melihatnya disuatu tempat. Bajunya basah kuyup. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Orang itu sekilas memandang langit. Mungkin sedikit mengumpat karena hujan yang membuat aktifitasnya terganggu dan membuatnya menumpang di rumah orang. Satu jam berlalu dan hujan tak juga berhenti. Sudah kuduga. Kuberanikan diri untuk mendekati namja yang kini tertidur di kursi terasku.

Aku berdiri didepannya. Sejenak mengamati wajah tenang dan memancarkan kesepian itu. Terlihat liar, kurang kasih sayang mungkin juga, sepertiku.

“Tuan?” panggilku pelan, membuatnya mulai terbangun. Begitu ia membuka mata aku mengenalinya 100%.  Senior yang bajunya kutumpahi susu seminggu yang lalu dan orang yang pernah menolongku pada saat masa orientasi.

“Eo? Apa kau pemilik rumah ini?” ia tampak sedikit terkejut.

“Ne. Apa kau masih ingat denganku?” tanyaku hati-hati.

“Tentu. Si gadis susu kan?” ternyata dia mengingatku. Aku hanya bisa tertunduk pelan begitu ia menjulukiku ‘gadis susu’. Aih, memalukan.

“Masuklah. Bajumu basah. Kau bisa sakit.” Ajakku.

“Tidak apa-apa? Tidak takut?”

“Takut untuk apa? Ini sebagai permintaan maafku.”

Oppa itu keluar dari kamar mandi setelah mengenakan kemeja dan celana Ayahku yang lumayan pas di tubuhnya. Kurasa ia cocok mengenakan apa saja. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil duduk di ruang tengah. Kubuatkan ia teh hangat setelah mencucuikan bajunya dan kemudian menjemurnya.

Aku duduk di sofa yang lain.

“Kau sendirian? Kemana orang tuamu?” tanyanya sambil mengedarkan matanya kesekeliling rumah.

“Ne. Appa sedang ke Jepang dan Eomma ke Busan. Dan bibi, kurasa dia masih di Busan menemani Eomma karena cuaca yang buruk sehingga tidak bisa kembali sekarang.”

“Tidak takut?”

“Tidak.” Jawabku dengan senyuman tipis.

“Aku sudah biasa ditinggal sendiri.” Tambahku. Oppa itu terdiam sejenak setelah mendengar jawabanku. Mungkin iba. Aku seorang gadis kesepian dan malang. Mungkin itu yang dipikirkannya.

“Ohya. Kenalkan, aku Kwon Jiyong dari jurusan seni musik.”

“Aku Han Soyeon dari jurusan seni rupa. Bangapta.” Balasku dengan menundukkan kepalaku singkat.

“Ohya, aku tinggal sebentar ya, Jiyong-ssi.” Ucapku lalu pergi ke dapur.

Segelas air kuminum. Membasahi tenggorokan yang sedari tadi terasa kering karena Jiyong-ssi. Jantungku berdetak kencang saat mendengar suaranya. Suaranya begitu lembut tadi. Tak terlihat seperti orang jahat. Perasaan ini membuatku sedikit gila. Saat masa orientasi orang itulah yang menyelamatkanku. Ya, benar, kurasa memang dia, saat itu ia mengenakan topi sehingga tak begitu jelas wajahnya. Seorang senior yeoja menyuruhku untuk naik ke pohon sebagai hukumanku. Berulangkali aku mendengar suara Soeun yang mencariku. Aku mendengarnya sayangnya mulutku dilakban. Aku tidak bisa turun dari pohon itu karena tanganku diikat. Lalu seseorang datang dan tiba-tiba naik ke pohon dan menuntunku turun. Kuperhatikan setiap gerik Oppa penyelamat itu. Dan kini aku yakin dia adalah Jiyong-ssi.

Tiba-tiba sebuah tangan membekapku erat. Membungkam mulutku dan mengunci tubuhku. Seorang namja kekar yang sangat asing. Aku meronta, tanganku berusaha meraih benda apa saja. Yang kudapat hanyalah gelas yang akhirnya kujatuhkan dan membuat suara yang lumayan nyaring. Berharap Jiyong-ssi akan mendengarnya dan menolongku.

“Diam. Atau kubunuh kau.” Pria itu menodongkan pisau tepat didepan wajahku. Demi Tuhan.. Jiyong-ssi tolonglah aku. Aku sangat takut.

Beberapa detik kemudian tangan kekar itu ditarik dariku. Kini aku bisa sedikit bernapas lebih lega. Jiyong-ssi memberi pelajaran pada penyusup itu. Seorang ahjussi yang menakutkan. Namun tak lebih menakutkan dari Jiyong-ssi, setidaknya aku tau bahwa Jiyong-ssi adalah orang baik. Ia sangat pandai berkelahi. Mungkin sering. Aku mendengar banyak issue tentangnya. Mahasiswa brandal sepertinya siapa yang tak kenal. Tapi bagiku dia adalah boy yang selalu menjadi malaikatku. Aku tersenyum dalam hati karenanya.

Kami mengantar polisi yang sudah mengamankan penyusup itu hingga depan. Aku sangat bersyukur walaupun masih sedikit shock. Hujan turun semakin deras.

“Syukurlah hari ini hujan.” Ucapku sambil berjalan ke kursi di teras. Jiyong-ssi mengikuti kemudian kami duduk bersama.

“Kalau hari ini tidak hujan mungkin aku sudah habis oleh penyusup itu. Untuk kedua kalinya berkat Jiyong-ssi aku selamat. Gomawo.” Kutatap matanya, berusaha memancarkan ketulusanku. Sekarang aku tidak takut pada Oppa bertubuh tinggi didepanku ini lagi.

“Dua kali? Jadi kau ingat saat itu. Bagaimana kau tau itu aku? Kupikir saking ketakutannya ingatanmu tak akan bekerja.” Ia juga mengingatnya.

“Tentu aku harus mengingat orang yang sudah menyelamatkanku.” Belaku.

“Kalau begitu kau harus membalasku.” Ini pertama kalinya aku bicara banyak pada orang yang baru kukenal. Dan aku merasa nyaman bersamanya.

“Bagaimana aku harus membalasmu?”

“Mana ponselmu?” ia menjulurkan tangannya. Dengan cepat kuturuti untuk mengeluarkan ponselku. Ia mengambilnya dan mengetik sesuatu kemudian ponselnya berbunyi.

“Itu nomorku. Dan nomormu sudah kusimpan.” Ia mengembalikan ponselku kembali.

“Aku akan meneleponmu untuk menagihnya. Eo?” lanjutnya.

“Ah, ne. Tentu.”

“Kau tidak akan mengganti nomormu kan?” candanya.

“Tentu tidak.” Kemudian kami tertawa. Suasana menjadi hangat. Rumah ini tak lagi terasa sepi.

***

“Ya! Soyeon! Harus bagaimana aku memperingatkanmu? Semalam Jiyong Oppa tidur dirumahmu kan?” ‘sarapan’ pagiku datang, tebak siapa pengantarnya? Kim Nayoung, si penguntit Jiyong-ssi yang dulu juga pernah memakiku.

“Bukan urusanmu. Dan ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Hujan baru reda pukul 5 pagi. Bagaiman Jiyong-ssi bisa pulang?! Jadi dia menginap dirumahku. Hebat sekali Eonni ini, darimana dia tau?

“Beraninya kau! Dasar wanita jalang!” Kim Nayoung semakin kesal.

PLAK. Sebuah tamparan mendarat dipipiku. Sakit dan nyeri. PLAK. Untuk kedua kalinya kudengar suara itu. Tapi bukan aku, Eonni didepanku itu mendapat tamparan keras dari seseorang yang baru kusadari adalah Jiyong-ssi. Mataku membelalak, tak meyangka Jiyong-ssi akan menampar Kim Nayoung. Semua orang melihat kearah kami. Kim Nayoung terlihat sangat malu. Aku masih berpikir pantaskah dia mendapatkannya?

“Jiyong-ssi?”

“Ikut aku.” Tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan itu masih bisa kurasakan. Ia menggenggam tanganku erat dan menarikku  ke tempat parkir. Dihampirinya motornya lalu memberiku sebuah helm.

“Waeyo?” tanyaku.

“Ikut saja dan menurut.” Namja ini selalu saja berhasil membuatku menuruti kata-katanya.

Lima menit perjalanan kami hanya diam.

“Kita mau kemana? Aku ada kelas.” Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

“Membolos.”

“Ne?” aku masih ragu dengan apa yang kudengar darinya. Membolos? Seumur hidup aku tak pernah membolos.

“Pegangan yang erat atau kau akan mati.” Perintahnya dan sekali lagi aku hanya bisa menurut. Kulingkarkan tanganku dipinggangnya. Sedikit ragu namun ia memacu gasnya. Jiyong-ssi benar, menurut atau aku bisa kehilangan nyawaku dalam kecepatan yang sangat gila ini. Dia ini apa? Pembalap?

Kami berhenti di tepi sebuah danau buatan yang lumayan indah. Aku turun dan melihat sekitar. Nyaman sekali disini.

“Kenapa kesini?” tanyaku.

“Tidak suka?”

“Tidak juga. Hanya saja aku merasa sedikit tidak nyaman.” Kutundukkan kepalaku. Kurasa dia juga pasti tau kenapa aku merasa tidak nyaman.

“Ya! Jangan tundukkan kepalamu seperti itu lagi. Aku tidak suka melihatnya. Kenapa kau selalu menundukkan kepalamu?” ujarnya. Jika itu yang dikatakan Jiyong-ssi mau apa lagi aku. Tentu hanya menurut padanya.

“Kenapa kau selalu menurutiku?” jadi dia juga sadar akan hal itu.

“Ntahlah. Mungkin karena aku mempercayaimu.” Dia langsung terdiam begitu mendengar jawaban jujurku.

“Lalu, kenapa kau mengajakku? Bukankah kau punya banyak teman yang bisa kau ajak membolos? Kalau pacarmu tau aku bisa mati.” Kini aku berbalik bertanya.

“Karena aku mempercayaimu.”

“Mempercayaiku untuk apa?”

“Mempercayaimu untuk memastikan bahwa perasaanku terhadapmu tak akan salah.” Tatapan dan kata-katanya begitu serius. Membuat tubuhku membeku seketika. Tapi sedang bicara apa orang ini?

“A-apa maksudmu?”

Namja itu hanya diam kemudian menarik tanganku. Membiarkanku masih berpikir keras tentang jawaban atas pertanyaanku.

“Ayo pergi.”

Langkah kami terhenti karena segerombol berandal menghadang kami. Jiyong-ssi tau siapa mereka. Mungkinkah mereka bermusuhan? Tak perlu waktu lama, wajah sangar dan penuh amarah itu menarik Jiyong Oppa. Mereka pun berkelahi. Tidak adil, satu lawam lima. Untungnya Jiyong-ssi jago berkelahi. Merah darah mulai mewarnai tubuh mereka. Di detik terakhir mereka mulai tak berdaya salah seorang dari mereka mendorongku ke danau yang lumayan dalam itu. Dalam beberapa detik aku sudah ditelan air yang sangat kubenci. Aku tidak bisa berenang dan aku sangat membenci air yang sangat banyak. Seseorang menarikku kepermukaan.

Suara Jiyong-ssi memanggil-manggilku. Membuatku tersadar. Kudapati tubuhku tergeletak di atas rumput dan badanku basah kuyup.

“Gwaenchana?” wajahnya terlihat sangat cemas.

Sekali lagi berkat dirinya aku selamat. Terimakasih karena Tuhan telah mengirimkan guardian angel padaku.

***

Jiyong-ssi datang kerumahku. Kami mengobrol cukup lama. Ini sudah satu bulan sejak perkenalan kami. Ntah apa dia juga merasakan hal yang sama atau tidak, tapi kurasa kami semakin dekat.

“Aku harus pergi sekarang.” Ia berdiri setelah teringat sesuatu.

“Kemana?”

“Balapan liar.” Ucapnya enteng.

“Balapan liar? Apa kau gila?”

“Jangan khawatirkan aku dan segeralah tidur.”

“Apa menurutmu aku bisa tidur nyenyak sementara kau melakukan aksi gila itu. Aku ingin ikut!” kataku tegas sambil mengambil jaket hangatku.

“Apa kau menyukaiku?” tanyanya dengan ekspresi serius. Membuatku takut meskipun aku tau tak ada yang perlu ditakuti.

“Kau tau jelas perasaanku! Kenapa masih bertanya!” jawabku seteleah beberapa detik terdiam dalam beku.

“Jebal, Jiyong-ssi.” Pintaku.

Kami sampai di tempat balapan itu. Yang datang adalah para namja menakutkan. Sangat tak cocok denganku tapi aku harus tetap memastikan bahwa Jiyong-ssi tak apa-apa.

“Aku sudah melakukan ini puluhan kali. Tunggulah aku disini.” Bujuk Jiyong-ssi setelah aku meminta untuk ikut bersamanya.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu?”

“Tidak akan. Karena aku tau wanita yang kucintai menungguku di Finish.” Ujarnya sambil tersenyum dan mengelus rambutku. Wanita yang ia cintai? Siapa? Aku?

Balapan pun dimulai. Mereka memacu gas sekuat mungkin dan pergi menembus angin. Aku sangat khawatir. Seorang yeoja menghampiriku.

“Kau datang bersama Jiyong Oppa?” tanyanya ramah.

“Ne.” Bibirku sedikit bergetar.

“Jangan khawatir. Dia selalu menang.” Eonni itu menepuk pundakku sambil tersenyum kemudian pergi.

Sepuluh menit berlalu. Mereka sudah hampir tiba. Mataku mencari-cari Jiyong-ssi namun dia tak ada. Eonni yang tadi tampak gelisah juga. Ada sesuatu yang tak beres. Aku sangat yakin. Namun membuatku takut jika fantasiku semakin berkembang.

“Jiyong mengalami kecelakaan!” seru seorang teman.

Tak kuduga ini terjadi. Jiyong pabo! Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku tau ini akan terjadi. Dasar bodoh.

-Rumah Sakit-

Untung lukanya tak terlalu parah. Beberapa temannya akhirnya pergi dan membiarkan kami berdua. Kaki dan tangannya diperban. Begitu juga satu luka kecil didahinya.

“Apa kau marah?” tanyanya padaku yang masih sibuk mengupas buah jeruk dengan ekspresi sedikit dingin. Ditambah sejak tadi aku tak banyak bicara.

“Tidak. Untuk apa aku marah? Aku tak punya hak.” Jawabku ketus sambil terus mengupas. Ia tertawa kecil. Paboya.

“Kenapa? Masih bisa tertawa, huh?” ia malah tertawa lebih keras. Ish, namja gila.

“Ak.” Ia membuka mulutnya lebar seperti anak kecil. Membuatku tersenyum kecil. Kusuapi ia buah jeruk yang sudah kukupas tadi. Kami saling tersenyum. Saat suapan yang kedua ia menarik keras tanganku sehingga tubuhku tertarik kearahnya. Aku sangat terkejut. Jarak kami sangat dekat. Otakku sulit berpikir. Sorotan matanya begitu lembut. Tak begitu lama hingga kudapati bibirku sudah dilumatnya dengan sangat lembut. Kupejamkan mataku. Sepuluh menit kemudian kami menghentikannya.

“Maukah kau jadi milikku? Saranghaeyo.” Bisiknya di telingaku. Aku mengangguk kecil. Lalu ia mengecup bibirku untuk kedua kalinya. Sudah jelas dan kami memahami benar perasaan kami sejak awal. Semuanya butuh proses kan?

***

Sudah tengah malam dan telingaku yang sudah memanas sejak tadi tak menghentikan percakapan kami di telepon. Aku dan Jiyong-ssi, ah tidak, maksudku Jiyong Oppa. Kini aku bisa memanggilnya Jiyong Oppa. Ia sendiri yang memintaku dan aku tak keberatan.

“Bagaimana kalau besok kujemput?” pertanyaannya membuatku terdiam seketika. Aku senang jika bisa berangkat bersamanya, tapi apa kata orang nanti?

“Kenapa, diam? Aku berhak melindungimu karena kau milikku sekarang.” Lanjutnya. Kali ini ia membuatku tersenyum. Benar, sejak tiga hari yang lalu aku adalah miliknya.

“Milikmu? Sejak kapan?” godaku.

“Sejak kau lahir kau memang ditakdirkan untuk jadi milikku.”

“Berhenti membual. Bualanmu membuat kupingku panas.” Kudengar tawanya. Tawa yang selalu menghangatkanku.

“Boleh aku bertanya?” lanjutku.

“Apa?”

“Kenapa menyukaiku?” kini aku serius.

“Kenapa menyukaimu? Apa harus membutuhkan alasan untuk menyukaimu? Kau tidak cantik dan tidak pintar. Tubuh pendek. Menurutmu apa alasannya?”

“Ya!” seruku medengar jawaban menyebalkan itu.

“Siapa yang kau teriaki? Aku seniormu. Beraninya kau?!”

“Nappeun Oppa!” umpatku.

Esoknya Jiyong Oppa menjemputku. Kami berangkat bersama. Begitu memasuki halaman kampus semua mata tertuju pada kami beserta bisikan-bisikan orang-orang tentang opini-opini mereka. Meskipun Jiyong Oppa menyuruhku untuk tak peduli tetap saja aku sedikit gelisah.

Kami berjalan bersama. Semakin orang memandang kami semakin erat Jiyong Oppa menggenggamku.

“Jangan tundukan kepalamu. Ingin kutunjukan pada mereka bahwa sekarang kau adalah milikku.” Kata-katanya menenangkanku.

“Ya! Jiyong Oppa!” Kim Nayoung menghentikan langkah kami.

“Kenapa kau bersama dengan wanita jalang ini? Apa dia menggodamu?”

“Siapa yang kau panggil wanita jalang? Berani kau menyentuh kekasihku maka tamatlah riwayatmu.” Ujar Jiyong Oppa tegas. Kim Nayoung terlihat shock, tentu saja.

Kami berdiri di bawah pohon halaman belakang sekolah.

“Lihat kan? Kenapa menyukai gadis biasa sepertiku? Seharusnya cari yang lebih baik!”

“Apa maksudmu? Apa menurutmu aku bodoh melewatkan gadis yang jelas-jelas kucintai? Apa kau takut aku mempermainkanmu? Bukankah kau juga pernah bilang kalau kau juga menyukaiku? Masih mau mengelak?”

“Tidak. Bukan begitu-“ aku kalah.

“Kalau tidak, diamlah dan tetap disisiku.” Nappeun oppa ini memelukku. Aku hanya diam. Membiarkan perasaanku dengan sendirinya mengalir.

“Percayalah padaku.” Kata-katanya begitu tulus. Membuat hatiku meleleh.

“Mianhae.” Ucapku lirih.

***

Mataku bengkak karena menangis mendengar Eomma dan Appa bertengkar. Sudah cukup. Aku muak terus berada di rumah ini. Kuputuskan untuk keluar. Aku terus berjalan tanpa tujuan. Langit mulai gelap ketika kusadari aku telah berjalan terlalu lama dan jauh. Tempat ini.. dimana aku sekarang? Kuputuskan untuk menelepon Jiyong Oppa.

“Oppa, aku tidak tau dimana aku sekarang. Aku tersesat.” Mataku mulai berkaca-kaca.

“Ne? Bagaimana bisa? Beri aku petunjuk dimana kau berada?” suaranya terdengar khawatir.

Mataku mengedar keseluruh daerah asing ini.

“Aku berada diatas jembatan. Kurasa lumayan dekat dengan rumahku tapi aku tidak pernah kesini sebelumnya. Aku hanya berjalan 30 menit.”

“Kurasa aku tau. Tunggu aku. Aku akan segera datang. Dan jangan menangis!” ujarnya begitu air mataku sudah ada di ujung.

Sekarang aku bisa tenang.  Aku duduk di tepi jembatan sambil menunggu. BRUKK. Seseorang mendorongku hingga aku terjatuh ke permukaan yang sangat keras, dibawah jembatan. Kulihat samar-samar ke atas jembatan Kim Nayoung menertawaiku sebelum akhirnya aku pingsan. Kurasakan hujan membasahi tubuhku. Namun aku masih ragu apakah itu mimpi atau nyata.

Seseorang menggenggam tanganku, sangat hangat. Ketika kubuka mata aku sudah berada di kamar Jiyong Oppa. Kamar bernuansa putih yang sangat rapi. Kudapati ada keyboard di sudut ruangan ini. Jiyong Oppa duduk ditepian tempat tidur sambil menggenggam tanganku lembut. Ia tampak cemas. Aku lega melihatnya.

“Gwaenchana? Chagiya, kau sudah sadar?”

“Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil mengubah posisiku menjadi duduk bersandar.

“Jam 2 malam. Waeyeo?”

Akankah Eomma dan Appa mencemaskanku. Kusadari ada yang aneh, sedikit mengganggu pikiranku.

“Oppa, siapa yang menggantikan bajuku?” Baju pink yang kemarin kupakai berubah menjadi kemeja berwarna hitam.

“Bajumu basah. Jadi,” Jiyong Oppa tak melanjutkan kata-katanya. Cukup dari raut wajahnya sudah bisa kutebak siapa pelakunya.

“Semalam tubuhmu sangat panas, jadi aku sangat khawatir. Tapi aku tidak punya pembantu wanita, ataupun yeodongsaeng.”

Namja ini yang menggantikan bajuku. Membuatku sangat terkejut. Tapi aku mempercayainya.

“Ne. Gwaenchana.” Ucapku lirih.

“Saat aku meneleponmu bagaimana kau bisa tau kalau aku mau menangis?” tanyaku mengganti topik.

“Gadis cengeng sepertimu pasti akan menangis dalam keadaan seperti itu.” Jawabnya sambil tertawa mengejek.

“Saat pertama kali aku menyelamatkanku dari atas pohon kau juga menangis kan?” tawanya semakin menjadi. Iish, menyebalkan. Aku kalah. Tetapi melihatnya tertawa seperti membuat hatiku senang.

Sekarang Jiyong Oppa merebahkan tubuhnya disampingku, di atas kasur putih yang nyaman ini. Aku hanya diam, tak tau harus berbuat dan berkata apa. Kecanggungan ini mungkin hanya aku yang merasakannya.

“Apa kau percaya padaku?” digenggamnya semakin erat tanganku di bawah selimut, jantungku berdebar begitu mendengar suaranya.

“Ne.” Anggukku kemudian menoleh kearahnya. Tatapan Jiyong Oppa sangat dalam. Didekatkannya kepalanya padaku kemudian menciumku.

Kukumpulkan semua keberanianku. Dosa indah malam itu, kami tak akan menghindar dari-Nya. Aku tidak akan menyesali perbuatan kami semalam dan akan menanggung segala akibatnya.

Pagi sudah menyapa. Suasana yang masih baru ini membangunkanku dari tidur panjangku. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 09.00.

“Mimpi indah, huh?” gumamku padanya yang masih memejamkan mata, lalu memakai semua baju yang semalam dipakaikan Jiyong Oppa. Ah, mungkin aku sudah gila, tenggelam terlalu dalam di dunia asing bernama Kwon Jiyong. Tapi aku sudah berjanji untuk tidak menyesal, ya benar, karena aku mempercayainya.

Kopi dipagi hari, Jiyong Oppa mungkin akan suka. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang sementara aku sibuk membuat sarapan di dapur. Siapa lagi kalau bukan Jiyong Oppa.

“Good morning.” Sapaku. Ia hanya diam dan berpikir tanpa melepaskan pelukannya. Ekspresi serius itu..

“Mianhaeyo.” Ucapnya, menyesali apa yang ia lakukan padaku, ah bukan, tepatnya apa yang kami lakukan semalam.

Aku tau bagaimana perasaannya. “Untuk apa? Aku mempercayaimu.” Ia memandangku kemudian tersenyum.

“Lepaskan aku atau kau akan kelaparan.”

“Lebih baik aku kelaparan daripada kehilanganmu. Jangan pernah pergi sendirian lagi dan membuatku khawatir atau aku akan membunuhmu. Arraseo?” candanya namun perintah itu serius. Kalau kemarin Eomma dan Appa tidak bertengkar dan membuatku muak, kalau kemarin aku tidak tersesat dan pingsan dibawah jembatan, kalau kemarin tidak hujan, kalau kemarin aku tidak menelepon Jiyong Oppa, dan kalau kemarin Jiyong Oppa tidak menemukanku apa mungkin kami akan tetap melakukan pengalaman seperti semalam? Kesalahan itu akankah membunuhku? Jujur aku takut. Tetapi setiap kali melihat Jiyong Oppa yang selalu melindungiku semuanya tak menakutkan lagi bagiku.

“Ne. Gangster Oppa.” Jawabku. Kami tertawa. Pagi yang indah bersama orang yang kucintai. Sekalipun Tuhan menghukum kami, setidaknya kami tetap akan bersama. Bagaimana kalau Jiyong Oppa pergi dari sisiku? Kupandang lagi dirinya. Ahh, kalau sampai kau berani meninggalkanku maka kau yang akan rugi, Kwon Jiyong. Karena aku akan membunuhmu, hehe.

“Sekarang lepaskan aku. Kau tidak mau makan?”

“Buat sarapan dalam pelukanku. Aku ingin selai coklat..” pintanya manja.

Ingin rasanya setiap hari seperti ini terus. Tak ada lagi kesepian, tak akan lagi mendengar kedua orang tuaku bertengkar.

***

Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan Jiyong Oppa sudah menelepon.

“Appa sedang ke Jepang, dan Eomma ke rumah nenek di Busan.” Jawabku dengan suara tak bersemangat. Hari ini badanku terasa aneh. Mungkin aku sakit.

“Mau kutemani?”

“Tentu. Mmm, bisa tolong belikan aku apel? Aku sangat ingin memakannya.” Pintaku memelas.

“Ne. Apa yang tidak kulakukan untuk tuan putri kita.” Candanya membuatku ikut tertawa.

Setengah jam kemudian Jiyong datang dengan sebungkus apel. Ah, apel yang terlihat sangat lezat.

“Mau kukupaskan?” aku langsung memindahkan sebungkus apel itu ketanganku dan meletakkannya di dapur.

“Kenapa tiba-tiba ingin apel?” tanyanya sembari duduk di sofa.

“Ntahlah.” Kuambil pisau lalu mulai mengupas satu apel. Terlihat enak dan segar. Kucicipi sepotong, kemudian membawa semangkuk yang sudah kupotong kecil ke ruang tengah.

“Sangat enak.” Kuletakkan apel itu dimeja. Jiyong Oppa juga memakannya.

“Huekk.” Tiba-tiba saja Jiyong menjadi mual.

“Oppa, gwaenchana?”

“Huekk.. Huekk..” Ia berlari kecil menuju kamar mandi dan aku mengikutinya. Kuelus punggunggnya.

“Oppa sakit?”

“Tidak. Sebelum kemari aku sangat sehat. Kurasa setelah memakan apel itu aku jadi mual.” Ucapnya lalu dilanjutkan dengan ‘huekk’ nya lagi.

Hari sudah malam. Aku mencemaskan Jiyong Oppa yang sedari bolak-balik ke kamar mandi.

“Oppa, kurasa kita harus kerumah sakit, ne?” ajakku.

Begitu memarkir mobil aku mulai rewel.

“Oppa, setelah ini belikan aku ramen ya? Jebal.” Pintaku manja. Aku tidak ingin merepotkannya, tapi bagaimana lagi, aku sangat ingin makan ramen saat itu juga.

“Kau ini seperti Ibu hamil yang sedang mengidam saja.” Ledeknya, namun tak mengurungkan keinginanku.

Kemudian kami bertemu dokter untuk memeriksa keadaan Jiyong Oppa.

“Apa kau salah makan?” tanya dokter paruh baya dan berkacamta itu.

“Aku hanya makan sepotong apel, kemudian aku menjadi mual sepanjang hari.”

“Apel? Tidak mungkin keracunan kan.” Ya masuk akal. Tidak mungkin apel itu meracuni.

“Atau mungkin istrimu sedang hamil? Bisa saja kau sedang mengidam. Sering terjadi kasus seperti ini.” Kami membeku mendengar pernyataan dokter. Mungkin dokter mengira aku adalah istri Jiyong Oppa, hehe. Tapi hamil? Kami saling menatap. Pikiran kami 100% sama.

Aku keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Jiyong Oppa di ruang tengah. Menyiapkan diriku sendiri untuk memberikan jawaban yang masih membuatku takut. Jujur aku sangat gugup, bahkan masih tak percaya dengan alat tes kehamilan ini.

“Oppa..” panggilku lirih. Ia langsung berdiri dan menghampiriku. Tatapan dan ekspresi antusiasnya, akan kuberi jawabannya.

“Aku hamil.” Kepalaku tertunduk lemas. Tak tau harus senang atau sedih. Jiyong Oppa membeku. Apa ia marah? Atau tak senang dengan kabar yang kuberi ini. Seluruh tubuhku dingin. Bagaimana selanjutnya nasib dari janin yang ada dirahimku ini?

“Yayy!! Gomawoyo, chagiya!” serunya senang sambil memelukku. Respon yang tak kuduga. Namja yang sudah kukenal sejak 3 bulan yang lalu itu mengangkatku kemudian berseru senang lagi. Senang rasanya memilikinya.

“Aku akan jadi Ayah!” serunya bangga sekaligus senang. Mataku berkaca-kaca melihatnya. Tak kusangka ini semua akan terjadi. Dan aku, aku adalah seorang Ibu.

“Han Soyeon! Apa yang sedang kalian bicarakan?” suara marah Eomma yang tiba-tiba menggema diseluruh rumah mengejutkan kami yang masih dalam suasana haru. Kami berdua memandang kearah pintu. Sudah kembali. Eomma berdiri dengan shock-nya diambang pintu. Belanjaannya terjauh ke lantai. Kami menghentikan aksi kami dan kini hanya terdiam.

Kami bertiga duduk di ruang tamu.Setelah menjelaskan semuanya, Eomma tampak shock.

“Aku akan menikah dengan Han Soyeon. Berikan kepercayaan padaku untuk menjaganya.” Ucap Jiyong.

“Kalian masih muda. Apa kalian sudah gila? Membuat malu orang tua.” Eomma tampak sangat lemas. Aku hanya bisa diam sepanjang waktu ini. Eomma terus saja mengomel. Berkata bahwa kami masih muda-lah, masih belum bisa bertanggungjawab-lah, anak yang memalukan, dan semua kata-kata yang membakar kami.

“Kau, anak muda. Mau kau beri makan apa anakku nanti?” kini aku sudah muak.

“Eomma! Sudah cukup. Kesimpulannya aku akan menikah dan membesarkan anak ini bersama Jiyong Oppa.”

Seminggu kemudian Appa pulang dari Jepang setelah Eomma mengadukan semuanya. Hari ini Jiyong Oppa akan datang kerumah. Appa mengunciku di kamar. Ponselku disita. Tapi aku akan tetap berjuang karena aku tau aku tidak sendiri, janin dalam rahimku ini selalu menemani Ibunya dan memberikan semangat.

Kami berempat berkumpul di ruang tamu. Aku, Jiyong Oppa, Eomma, dan Appa.

“Kenapa? Han Soyeon, kenapa kau membuat kami malu?” Appa meninggikan nadanya. Jiyong Oppa memandangku sambil menggenggam tanganku seperti yang biasa ia lakukan. Aku hanya sanggup memandang lemas lantai.

“Gugurkan kandunganmu atau kau pergilah bersama pria itu dan jangan kembali. Kau bukan anakku lagi.” Ucap Appa. Ntah itu serius atau tidak yang jelas membuatku sangat sedih. Mata Jiyong Oppa melebar kaget. Demi apapun, di situasi seperti ini pasti dialah yang sangat terbakar.

Eomma mencoba menenangkan Appa. Setidaknya Eomma masih punya hati nurani.

“Appa, Appa tidak berhak bicara seperti itu.” Ujarku. Mereka bertiga menatapku tak percaya atas apa yang baru kukatakan.

“Usiaku sudah 20 tahun. Apa kalian pernah sekali saja mendengarku? Tidak. Karena kalian tidak pernah ada disampingku. Aku ingin seperti anak-anak yang lain. Bahagia bersama orang tua mereka. Ibu yang perhatian dan Ayah yang selalu melindungi. Aku tidak pernah merasakan itu. Apa hak Appa menyuruhku untuk membunuh anakku sendiri?” jelasku disertai dengan isakan yang membuatku sesak.

“Pergi kau. Jangan kembali lagi.” Itu yang keluar dari mulut Appa. Baiklah, aku akan menurutinya.

“Bibi. Bawakan tas Han Soyeon.” Seru Appa dan tak lama kemudian bibi datang membawakan sebuah koper besar. Aku mengambilnya lalu melangkah pergi. Jiyong Oppa menuntunku.

Aku tinggal di rumah Jiyong Oppa. Jiyong Oppa kini kuliah sambil bekerja karena harus membiayaiku dan juga untuk persiapan keluarga kecil kami nanti.

Dua minggu berlalu. Orang tua Jiyong Oppa akan segera kembali dari New Zealand. Hal yang sama terjadi lagi. Orang tua Jiyong Oppa menentang kami dan mengusir kami. Hanya Eomma-nya yang merasa iba padaku. Aku yakin ia mengerti bagaimana perasaanku, namun Paman sangat keras kepala dan sulit untuk membujuknya, sama seperti Ayahku.

Bibi memberikan uang untuk menyewa sebuah rumah. Sebuah rumah sederhana namun terlalu kecil untuk kami. Inilah hukuman yang harus kami terima.

Sudah lima bulan kami hidup seperti ini. Malam ini Jiyong Oppa pingsan begitu kubukakan pintu. Dia kelelahan. Dia berbohong padaku selama lima bulan. Dia bilang dia bekerja di perusahaan Ayahnya. Tapi nyatanya? Pagi hari mengantar koran, siang menjadi kuli bangunan yang tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah, sedangkan ketika malam ia bernyanyi di sebuah club. Bodoh. Bahkan hidungnya sampai mimisan.

“Kau ingin makan apa?” tanya Jiyong Oppa ditelepon.

“Terserah kau saja.” Ucapku, uang kami terbatas, jadi makan apapun tak masalah.

“Ya~ Kalau begitu anak kita mau makan apa?”

“Anak kita mau makan apa yang mau dimakan Appa-nya.” Ujarku sambil mengelus perutku yang semakin besar.

Hari sudah gelap, Jiyong Oppa tak juga pulang. Khawatir, tentu saja aku khawatir.

Tokk. Tokk. Tokk. Seseorang menggedor pintu sangat keras. Yang jelas bukan Jiyong Oppa. Perlahan kubuka pintu. Seorang Ahjussi berdiri didepan pintu sambil memegang sebotol minuman keras. Dia mabuk.

“Ya!” dia tertawa dan menarik tanganku. Ini tidak benar. Ahjussi ini mau berbuat apa. Kucoba untuk menutup pintu tapi ia menahan. Aku berusaha lari dan meminta bantuan pada tetangga. Namun tetangga kami bersikap tidak ramah pada kami karena tau kalau kami belum menikah dan aku sedang hamil. Ahjussi itu tetap mengejarku hingga aku terpleset di tangga. Darah mengucur disela kakiku. Sakit.

“Ibu, kakak itu berdarah.” Ucap seorang anak yang masih polos kepada ibunya.

“Jungeun. Orang itu bukan orang baik.” Si Ibu mengalihkan pandangan anaknya dan berjalan melaluiku. Manusia macam apa orang-orang ini. Kejam. Dunia sangat kejam. Tenagaku sudah habis. Berdiri pun tak sanggup. Aku tertududuk di tepi jalan dekat tangga. Anakku, aku sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada anakku. Jelas-jelas mereka melihatku, tapi kenapa tak ada yang mau menolongku? Dan mereka sebut diri mereka manusia?

“Chagiya!” seru Jiyong Oppa sambil melempar sebungkus makanan ke jalan dan berlari kearahku. Akhirnya, aku selalu percaya bahwa ia akan datang disetiap aku dalam bahaya.

-Rumah Sakit-

Kubuka mataku perlahan. Mengikuti suara yang sedari tadi memanggil-manggilku. Jiyong Oppa dengan wajah cemasnya.

“Dimana dia?” Suara cemas Eomma memasuki kamar rumah sakit.

“Oppa?” tubuhku terasa sangat lemas.

“Anak kita?” kupegang perutku dan syukurlah anakku tidak kenapa-kenapa.

“Soyeon. Kau tidak apa-apa nak?” Eomma menangisiku. Ini pertama kalinya. Berikutnya kedua orang tua Jiyong Oppa juga datang. Dan yang terakhir Appaku.

***

Semua berjalan begitu cepat. Bahkan jika ini hanya mimpi aku berharap tak akan pernah terbangun kembali. Kedua orang tuaku tak lagi bertengkar. Akhirnya mereka sadar betapa aku membutuhkan mereka setelah segalanya yang sudah terjadi. Sekarang aku tinggal di rumah Jiyong Oppa atas permintaan Jiyong Oppa. Eomma dan Appa mengijinkan. Bibi sangat perhatian dan menyayangiku dan juga bayi dalam rahimku.

Aku duduk di meja rias sambil menyisir rambutku. Rambutku rontok semakin banyak. Membuatku takut akan pernyataan dokter tentang penyakit yang sedang kuderita. Bibi masuk kekamar.

“Soyeon-ah. Rambutmu terlihat semakin sedikit?” tanyanya dengan lembut. Bibi usianya masih lumayan muda dan masih terlihat cantik.

“Ah, tidak apa-apa. Kata dokter ini karena efek kehamilan.” Dustaku, Bibi sempat ragu namun tak lama.

Esoknya aku pergi ke dokter kandungan bersama Jiyong Oppa. Setelah berbicara aku keluar duluan. Beberapa menit kemudian Jiyong Oppa keluar dengan wajah seperti mayat.

“Kenapa? Apa ada yang tak beres?”

Sesampainya di rumah Jiyong Oppa tetap diam dan tak mau bicara. Kami ke kamar.

“Chagiya, wae?” tanyanya dengan nada sangat dingin.

“Apanya yang kenapa?” aku semakin bingung dan takut.

“Gugurkan kandunganmu dan segeralah lakukan operasi.” Degg. Jantungku serasa berhenti setelah mendengar kalimat sedingin itu. Jadi dia sudah tau.

“Apa kau sudah gila? Kau menyuruhku untuk membunuh anak kita sendiri? Darah dagingmu sendiri?” mataku mulai memanas dan buliran hangat turun membasahi pipiku. Kulihat Jiyong  Oppa juga menangis. Aku yakin dia bukan pria yang akan membunuh anaknya sendiri.

“Ya. Aku memang sudah gila! Harus bagaimana lagi? Kita harus bagaimana?” tangisnya pecah. Tubuh lemasnya terjatuh begitu saja mengahantam lantai. Kupegang kedua bahunya. Dia pasti tertekan.

“Aku akan berusaha. Jangan menyerah. Anak kita dan begitu juga aku akan selamat. Bukankah kau mendambakan keluarga kecil kita?”

3 bulan kemudian..

Malam ini kami pergi ke danau tempat saat pertama kali kami membolos bersama. Kami duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon yang dulunya masih setinggi Jiyong Oppa dan kini tumbuh besar juga rindang. Tak terasa sudah lama. Hari-hari berjalan begitu cepat. Kupandangi Jiyong Oppa. Seorang namja yang dulu menakutkan dan berandal, kini adalah calon Ayah dan suami yang penuh kasih sayang.

“Aku akan jadi Ayah yang paling bahagia.” Ucapnya sambil mengelus perutku.

“Aku mencintaimu, Oppa.” Ucapku, membuat Jiyong Oppa memandangku. Aku tidak tau apakah aku bisa mengatakannya lagi.

“Aku juga mencintaimu. Aku senang Tuhan memberimu kekuatan hingga sekarang. Tuhan itu sangat adil kan?” Balasnya. Terdapat sedikit rasa khawatir terpancar melalui matanya.

“Berjanjilah satu hal padaku.” Pintaku.

“Apa itu?”

“Kau akan selalu hidup sehat dan panjang umur sehingga kau bisa hidup bahagia dan mampu menjaga anak kita dengan baik.”

“Bicara apa kau ini? Lagi pula itu bukan satu hal, itu adalah empat hal. Dan juga aku dan kau yang akan menjaga anak kita bersama. Merawatnya dan melihatnya tumbuh besar, sampai kita punya cucu kemudian cicit dan seterusnya. Kita akan selalu bersama.”

Bibirku serasa beku mendengar perkataan Jiyong Oppa. Ntah sanggupkah aku untuk bersamanya hingga akhir.

“Akh.” Perutku terasa sangat sakit. Jiyong Oppa panik dan langsung membawaku ke rumah sakit.

Jiyong Oppa berada diluar. Seperti yang sudah kuduga, ternyata aku kontraksi. Keringat mengucur di wajahku. Sakit yang sangat luar biasa yang kini kurasakan. Dokter dan suster melakukan tugasnya. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana rasa yang pernah Eomma rasakan juga.

Malam itu adalah terakhir kalinya aku melihat wajah Jiyong Oppa. Anak perempuanku lahir dengan selamat. Kuharap dia akan bisa tumbuh besar dan sehat, juga bisa menjaga Appa-nya dengan baik. Dua puluh tahun aku hidup di dunia ini dan tak pernah kurasakan perasaan sebahagia dan semenakjubkan ini. Sekarang aku adalah seorang ibu. Walaupun tak bisa mendampingi mereka, aku akan selalu melihat mereka dari atas sini.

Oh ya, tentang dosa yang sempat membuatku merasa sangat buruk di hadapan Tuhan, kini aku tak menyesalinya. Mungkin bisa kusebut itu dosa yang berujung anugerah. Sejak awal aku memang tak pernah menyesalinya, karena aku tau kebahagiaan yang didapatkan dengan mudah tak akan bertahan lama. Kalau saja saat itu Jiyong Oppa membiarkanku terikat di atas pohon apakah jalan hidupku masih akan tetap sama? Kalau saja hari itu hujan berhenti mungkin aku tak bisa berkenalan dengan Kwon Jiyong. Kalau hari itu ada Eomma dan Appa aku juga tak mungkin bisa sedekat itu dengannya. Dan kalau saja hari itu aku tidak tersesat dan Kim Nayoung tidak mendorongku ke bawah jembatan, juga kalau hari itu Jiyong Oppa tidak menemukanku dan membawaku kerumahnya, mungkin aku tak akan mendapat kesempatan untuk merasakan menjadi seorang Ibu disisa umurku yang tinggal sedikit ini. Terimakasih, Kwon Jiyong.

A Precious Journey Last Letter
A Precious Journey Last Letter

– THE END –

14 responses to “A Precious Journey

  1. DAEBAK…. cuama dikit yang mirip koizoranya,,, kalo koizora kan si hiro’y yg meninggal,,, ff’y keren banget,, author bisa bgt nyampein perasaan si soyeon,,, :”)
    d^^b

  2. Bgus bngt. Sweet jiyong. Org yg bnr2 brtanggung jwb n cnta bngt sm soyeon. Yahhh msqpun ini ff ad negatifx, mlh itu psn moral yg bsa diambil. Nice ff. Good job for you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s