Confessions – Dongwoo: 2 Million Won

 Hoya’s StoryWoohyun’s StorySunggyu’s Story

Title : Confessions – Dongwoo: 2 Million Won

Author : Joonisa (@Joonisa or @AuthorJoonisa)

Rating : PG 15

Genre : Romance

Length : One shot compilation

Cast :          

  • Jang Dongwoo (INFINITE)
  • Bang Minyoung as YOU

Support Cast:

  • Bang Minsoo / CAP (Teentop)
  • Jang Donggun (Actor)
  • Kang Jiyoung (KARA)
  • Junjin (Shinhwa)

Disclaimer: The casts are belong to God.

Poster: I do not own the original photo, i just edited it ^^

Note:

Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada 2 juta won – Jang Dongwoo

BUK!!!

Jiyoung mendorong Minyoung ke tembok terdekat. Punggung Minyoung sukses menabrak dinding.

“Jiyoung, kau ini kenapa?” tanya Minyoung sambil meringis menahan sakit.

“Kenapa kau tidak bertanya pada adikmu, si Minsoo?” tanya Jiyoung dingin.

“Mwo? Minsoo?” Minyoung bertanya balik.

“Tsk! Dua minggu yang lalu adikmu itu datang mengemis-ngemis untuk meminjam uang 2 juta won padaku. Katanya untuk pengobatan Eomma-mu.”

“MWO?” Minyoung membelalakkan matanya. “Ta.. tapi Minsoo bilang uang itu dari..”

“Kembalikan uang itu sekarang atau kupenjarakan adikmu!” ketus Jiyoung dengan tangan mencekik leher Minyoung.

“Ja.. jangan! Jangan penjarakan Minsoo! Aku janji akan melunasinya!”

Jiyoung melepaskan cekikannya, lalu menyeringai pada Minyoung. “Lunasi dalam waktu satu minggu!”

“MWO? Satu minggu? Jiyoung, yang benar saja? Dapat dari mana aku uang sebesar itu dalam waktu satu minggu? Kalau mencicil kurasa aku masih bisa melakukannya..” protes Minyoung. Jiyoung menggelengkan kepalanya.

“Kau pikir aku tukang kredit! Pokoknya satu minggu, TITIK!”

Jiyoung membalikkan badan bersiap meninggalkan Minyoung, namun Minyoung menahannya.

“Jiyoung, beri aku kelonggaran! Ne?” bujuk Minyoung. Jiyoung terdiam sebentar, kemudian tiba-tiba ia mengeluarkan senyum licik andalannya.

“Baiklah. Kau akan kuberi kelonggaran, tapi kau harus melakukan apa yang kuperintahkan!”

Jiyoung mendekat ke arah Minyoung dan membisikkan sesuatu. Minyoung awalnya mendengarkan dengan seksama, tapi begitu Jiyoung selesai membisikkan perintah itu, matanya membelalak untuk yang ke sekian kalinya.

“MWOO?”

***

KLEK!

Minyoung menutup pintu rumahnya. Dengan langkah terburu-buru ia berkeliling ke seluruh area rumah, namun orang yang dicarinya tidak kunjung ia temukan.

“Awas saja kau, Minsoo!” desis Minyoung sambil mengepalkan tangan.

“Uhuk! Uhuk! Minyoung-ah?”

Minyoung refleks mematung di tempat begitu mendengar suara batuk yang familiar berada di belakangnya. Minyoung mengatur ekspresinya supaya terlihat santai, lalu kemudian ia balik badan.

“Ne, Eomma?” tanya Minyoung ramah seolah tidak terjadi apa-apa.

“Sedang mencari apa? Apa ada yang ketinggalan?” tanya ibunya lembut sambil mengelus dada.

“Oh itu..” Min Young memutar otak mencari alasan. “Aku mencari Minsoo. Apa dia sudah pulang?”

“Oh iya, tadi dia pulang sebentar, setelah itu keluar lagi. Katanya ke supermarket. Memangnya ada apa?”

“Oh aniyo tidak apa-apa, Eomma. Bukan masalah besar. Eomma istirahat saja ya…” Minyoung menuntun ibunya untuk kembali ke kamar. Ibunya menurut saja meskipun terlihat sedikit bingung dengan sikap Minyoung.

“Kau tidak bertengkar dengan adikmu kan?” tanya ibunya sesaat setelah Minyoung mendudukkannya di atas tempat tidur.

Minyoung terdiam sebentar, lalu kemudian menggeleng seraya tersenyum. “Tidak, Eomma. Kami tidak bertengkar. Aku hanya ada sedikit keperluan dengan Minsoo.”

Ibunya tersenyum simpul. “Eomma rasa dia belum jauh. Baru lima menit yang lalu dia pergi.”

“Ne, Eomma. Aku pergi mencarinya dulu.”

Setelah berpamitan, Minyoung pun segera memasang sepatunya lalu keluar rumah untuk mencari Minsoo. Ia berlari secepat yang ia bisa untuk menemukan adiknya itu. Usahanya tidak sia-sia, karena setelah melewati 3 blok dari rumahnya, Minyoung menemukan Minsoo yang sedang membeli cola di supermarket. Tanpa membuang waktu lagi Minyoung masuk ke dalam supermarket itu dan langsung menarik bagian belakang baju Minsoo.

“Noona! Noona! Ada apa ini?” tanya Minsoo panik. Cola yang ada di tangannya pun ia letakkan sembarang di atas rak supermarket.

“Noona, ada apa denganmu? Lepaskan aku!” Minsoo berusaha melepaskan diri, tapi entah kenapa saat ini tenaga Minyoung lebih kuat darinya. Minyoung tidak langsung menjawab dan terus menarik Minsoo keluar sampai akhirnya mereka berdua berada tepat di belakang gedung supermarket.

“Kenapa kau meminjam uang dari Kang Jiyoung untuk membiayai pengobatan Eomma,HAH?” teriak Minyoung tepat di depan wajah Minsoo. Emosinya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.

“Karena dia bilang kalau dia adalah sahabat baik noona! Dia datang ke rumah sakit dan menawarkan pinjaman itu padaku. Tentu saja aku menerimanya, apalagi dia bilang kalau noona tidak perlu cepat-cepat mengembalikannya!” jawab Minsoo yang ikut berteriak karena terpancing emosi. “Dia juga bilang kalau aku jangan memberitahu noona dulu kalau pinjaman itu darinya! Dia menyuruhku untuk mengatakan kalau pinjaman itu dari bank!”

“Tapi Jiyoung bilang kalau kau yang memohon-mohon padanya untuk meminjam uang!”

“Mwo?” Minsoo terkejut, begitu pula dengan Minyoung. Selama beberapa saat mereka saling pandang tanpa suara, sampai akhirnya mereka menyadari suatu hal.

“SIAL!” ucap mereka berbarengan.

“Kita berdua ditipu oleh Jiyoung! Aish!” Minyoung mengacak rambutnya frustasi. Minsoo tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia merosot sampai akhirnya ia berjongkok di depan noona-nya.

“Noona mianhae. Aku tidak tahu kalau hubunganmu dan Jiyoung justru tidak baik..” ucap Minsoo penuh rasa bersalah. Minyoung yang ikut-ikutan lemas, mengambil tempat untuk berjongkok di sebelah Minsoo.

“Ne. Hubunganku dan Jiyoung bahkan tidak pernah baik. Ia selalu memusuhiku di kampus.”

Minsoo menunduk dalam. “Maafkan aku, noona. Aku benar-benar tidak tahu, sungguh!  Dan yang aku pikirkan saat itu hanya kesembuhan Eomma.”

Gwaenchana. Maafkan aku juga tadi sudah meneriakimu. Aku terbawa emosi.” Minyoung bersandar di bahu Minsoo. “Kau tahu apa yang dilakukan Jiyoung padaku di kampus tadi pagi?”

“Apa?” tanya Minsoo penasaran.

“Dia menyuruhku untuk memilih. Aku harus mengembalikan uang pinjaman sebesar 2 juta won itu dalam waktu satu minggu, atau aku harus melakukan apa yang ia suruh dan ia akan menganggap semua utang itu lunas.” Jawab Minyoung lemah.

“Memangnya apa yang disuruh Jiyoung pada noona? Kalau aku bisa menggantikan noona, aku akan melakukannya!”

Minyoung menghela nafas, nafasnya terdengar berat. “Aku harus menembak Jang Dongwoo di depan teman-teman.”

“Menembak? Maksudnya meminta Jang Dongwoo untuk jadi pacarmu?”

“Ne. Lalu aku juga harus memutuskan Jang Dongwoo dalam waktu satu minggu di depan teman-teman juga.”

“Kalau noona tidak melakukannya, apa yang akan terjadi?”

“Dia akan memenjarakanmu dengan tuduhan pencurian, Minsoo-ya.”

Minsoo terhenyak mendengar jawaban Minyoung. Matanya mendadak panas, ia tahu sebentar lagi air matanya akan meleleh. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding saat itu juga karena merasa dirinya sangat bodoh.

“Memangnya Jang Dongwoo itu siapa? Apakah dia orang yang berbahaya, noona?”

Minyoung menghela nafas lagi. “Sebenarnya sama sekali tidak berbahaya. Jang Dongwoo itu penampilannya sangat nerd,bahkan tergolong aneh. Dia juga sangat pendiam di kelas. Tidak pernah berbicara kecuali menjawab pertanyaan dari dosen.”

“Lalu kenapa Jiyoung menyuruh noona untuk mempermalukan Dongwoo?”

“Jiyoung tidak suka melihat Dongwoo. Dia menganggap Dongwoo hanya mengotori pemandangan,karena Jiyoung hanya mau bergaul dengan orang-orang berpenampilan keren. Maka dari itu, mempermalukan Dongwoo di depan umum adalah kesenangan tersendiri baginya.”

“Apakah Jiyoung tidak menyukai noona karena noona tidak berpenampilan keren?”

“Benar sekali.” Minyoung mengangguk mantap. “Tapi sebenarnya ada satu hal yang membuat permintaan Jiyoung menjadi lebih sulit lagi untukku, selain dari ancamannya untuk memenjarakanmu.”

“Apa?”

Minyoung menutup wajah dengan kedua tangannya. Minsoo menoleh heran pada noona-nya itu.

“Noona, ada apa?”

“Aku menyukai Jang Dongwoo!” Pekik Minyoung. Minsoo melongo selama beberapa saat, lalu ia merangkul Minyoung.

“Noona.. Jeongmal mianhae..” Minsoo mulai terisak. “Maaf aku sudah membuat keadaan menjadi begitu sulit untuk noona. Pukuli saja aku, noona. Aku rela. Sungguh!”

“Memukulimu sama saja dengan memperburuk keadaan,Minsoo-ya. Aku hanya berpesan padamu, kalau mau pinjam uang dengan orang lain kau harus minta izinku dulu, arasseo?”

“NE!” jawab Minsoo lengkap dengan sikap hormat ala militer. Minyoung tersenyum melihat ulah adiknya itu.

“Ya sudah. Aku mau berangkat kerja part time dulu. Jangan lupa ingatkan Eomma untuk minum obat ya.” Minyoung mengacak pelan rambut Minsoo, lalu beranjak dan bersiap melangkah pergi ke tempat kerja. Baru selangkah Minyoung pergi, Minsoo menahan tangannya.

“Noona..” panggilnya dengan suara parau.

“Ne?”

“Mianhaeyo…”

***

Bang Minyoung’s POV

Fyuh!

Aku diberi waktu satu minggu untuk mempermalukan seorang Jang Dongwoo. Penghitungan waktu dimulai dari besok, berarti besok aku harus menyatakan cinta pada Jang Dongwoo?

Aishhh jinjja!!! Kang Jiyoung kau benar-benar keterlaluan!

Kalau aku tidak menyukai Dongwoo,mungkin aku masih bisa menahan malu saat berpapasan dengannya di kemudian hari. Tapi kenyataannya… Aku menyukai seorang Jang Dongwoo!!!

Bagaimana kalau dia membenciku? Bagaimana kalau dia terluka? Bagaimana dengan hatiku sendiri yang sakit karena telah melukainya?

Tapi bagaimana nasib Minsoo kalau ia sampai masuk penjara? Bagaimana sakitnya perasaan Eomma kalau melihat Minsoo seperti itu?

[CIITT!]

“Minyoung-ah, sudah sampai!”

Suara Junjin ahjussi yang berada di balik kursi kemudi membuyarkan lamunanku. Aku pun segera melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.

“Minyoung-ah, gwaenchana? Dari tadi kulihat kau melamun terus.”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja, ahjussi. Oh iya, mana bunga yang harus kuantar?”

“Paket bunga lily putih yang ada di dalam keranjang warna kuning. Nama pemesannya Tuan Jang Donggun. Jangan sampai lupa ya!”

“Beres, ahjussi!” aku mengacungkan jempol. Aku pun mengambil bunga yang dimaksud oleh Junjin ahjussi. Sesaat sebelum aku membawanya, aku memandangi bunga itu dengan seksama. Menikmati keindahannya sebelum diserahkan kepada pemiliknya yang baru. Harap maklum, aku adalah seorang pecinta bunga. Jadi jangan heran kalau kadang-kadang aku agak berlebihan ketika mengantarkan bunga-bunga itu ke tangan orang lain.

Aku pun melangkah menuju ke pekarangan rumah orang yang memesan bunga ini. Aku baru sadar ternyata rumah Tuan Jang Donggun ini sangat besar. Pekarangannya pun sangat luas, mungkin seukuran lapangan bola. Dan yang sangat membuatku cukup terkejut adalah pekarangan rumah ini banyak sekali ditumbuhi oleh berbagai macam bunga yang indah.

“Woow..” seruku takjub. Aku tidak bohong, bunga-bunga di pekarangan rumah Tuan Jang benar-benar keren! Bersih, terawat, dan indah.

“Min.. Minyoung?”

“Ne?” Aku refleks membalikkan badan ketika ada yang memanggil namaku. Hampir saja bunga yang kupegang jatuh ke tanah begitu tahu siapa yang memanggilku. Seorang Jang Dongwoo sedang berdiri tidak jauh dariku. Ia mengenakan pakaian rumah yang santai, hanya celana selutut dan t-shirt lengkap dengan kacamata tebalnya. Tangannya memegang sebuah gunting rumput berukuran besar.

“Dongwoo-ssi?”

“Kau sedang apa di sini, Minyoung-ssi?”

Aku sedikit terkejut ketika mendengar nada bicara Dongwoo yang ramah. Di kampus dia hampir sama sekali tidak pernah berbicara dengan siapapun kecuali dengan dosen.

“Oh.. ini.. aku mengantarkan bunga untuk Tuan Jang Donggun. Kau sendiri sedang apa, Dongwoo-ssi?”

“Aku? Sedang berkebun.” Dongwoo mengacungkan gunting rumput yang ada di tangannya dan kali ini ia tersenyum.

“Ooh..” aku mengangguk. Benar juga, kalau ada seseorang yang berada di kebun sedang memegang sebuah gunting rumput, berarti dia sedang berkebun. Ah babo!

“Sepertinya bunganya berat. Sini,titipkan padaku saja.” Dongwoo mengulurkan tangannya. Aku pun dengan senang hati menyerahkan bunga itu karena memang cukup berat.

“Oh iya, tanda tangan dulu di sini.” aku mengeluarkan nota tanda terima dan sebuah bolpoin dari saku bajuku. Dengan satu tangan dongwoo mengambil bolpoin lalu menandatangani nota itu. Setelah selesai,aku merobek nota itu dan menyerahkan salinannya pada Dongwoo.

“Gomawoyo, Dongwoo-ssi.”

“Ne. Cheonmaneyo.” balas Dongwoo. “Ah, Minyoung-ssi…”

“Ne?”

“Kau bekerja di toko bunga?”

“Ne. Aku kerja part time.” jawabku apa adanya. “Kau sendiri kerja di sini?”

“Ne?” wajah Dongwoo mendadak bingung. Selama beberapa saat ia terdiam, tapi kemudian ia tertawa.

“Aniyo, aku tidak bekerja di sini. Aku hanya membantu merawat dan membersihkan kebun.”

[TIN!]

Aku dan Dongwoo sama-sama terlonjak mendengar suara klakson yang begitu nyaring. Aku menoleh dan Junjin ahjussi memberi isyarat padaku agar cepat kembali karena masih banyak bunga yang harus diantar. Padahal aku masih ingin ngobrol dengan Dongwoo.

“Dongwoo-ssi, aku pergi dulu. Jangan lupa sampaikan bunganya ya.”

Dongwoo lagi-lagi menyunggingkan senyum,kemudian mengangguk.

“Hati-hati.”

Aku mengangguk,lalu berbalik dan bergegas pergi ke mobil sebelum Junjin ahjussi mengomel.

“Kau kenal dia?” tanya Junjin ahjussi begitu aku menutup pintu mobil.

“Ne. Dia teman sekelasku di kampus.”

Junjin ahjussi diam menatapku. Awalnya aku merasa biasa saja, tapi lama kelamaan tatapan Junjin ahjussi seperti tatapan mengejek.

“Waeyo, ahjussi?”

“Pffftt..” Junjin ahjussi menutup mulut menahan tawa. “Kau suka padanya?”

“Ne?”

“Wajahmu merah tuh!” tunjuk Junjin ahjussi ke wajahku. Aku buru-buru mencari cermin untuk melihat wajahku sendiri.

Waaaa! Benar! Aigoo bagaimana ini? Apa Dongwoo menyadarinya?

***

Keesokan harinya…

Author’s POV

Jam perkuliahan baru saja berakhir. Masing-masing mahasiswa sibuk membereskan buku dan laptop mereka. Berbeda dengan mahasiswa lain yang membereskan barang mereka dengan santai, Minyoung justru sebaliknya. Ia membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru.

“Kenapa begitu terburu-buru, Minyoung-ssi?”

Minyoung menelan ludah begitu menyadari kalau Kang Jiyoung sudah berada di depannya dengan tatapan menagih. Jiyoung menyunggingkan senyum, lalu duduk di kursi kosong yang ada di sebelah kursi Minyoung.

“Biar kutebak. Kau sudah punya uang untuk melunasi utang adikmu, atau kau merelakan adikmu masuk penjara?” bisik Jiyoung ke telinga Minyoung. Minyoung bergidik, antara geli sekaligus membayangkan adiknya akan mendekam di balik jeruji besi.

“Ti.. tidak  keduanya..” jawab Minyoung tergagap. “Aku baru saja akan melakukannya.

Jiyoung tersenyum puas. “Bagus. Kalau begitu lakukan sekarang.”

Minyoung mengepalkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam-dalam. Dengan langkah berat ia menuju ke meja Dongwoo. Dongwoo duduk di kursi dekat jendela, baris kedua dari belakang dan tempat itu agak jauh dari kursi Minyoung karena Minyoung duduk paling depan. Semakin dekat jarak Minyoung dengan meja Dongwoo, langkahnya semakin lambat. Tangan Minyoung yang sedari tadi mengepal, kini beralih memegang erat ujung bajunya karena tangannya licin oleh keringat.

“Do…Dongwoo-ssi.” suara Minyoung terdengar bergetar. Dongwoo menoleh sambil membetulkan kacamata tebalnya.

“Ne?”

“Ehm.. Aku ingin mengatakan sesuatu.” Minyoung menoleh ke belakang, berharap Jiyoung sudah pergi dari kelas. Tapi sayangnya Jiyoung masih duduk manis di tempatnya tadi.

“Minyoung-ssi?” panggil Dongwoo. “Mau mengatakan apa?”

Minyoung tertegun. Ia sebenarnya bingung harus melakukan apa, apalagi seisi kelas sedang memperhatikan mereka berdua. Tiba-tiba bayangan adiknya, Minsoo, terlintas lagi di benaknya. Bayangan adiknya yang akan mendekam di balik jeruji besi kalau ia tidak melakukan apa yang disuruh oleh Jiyoung.

“Dongwoo-ssi, aku… menyukaimu.”

“Mwo?” Dongwoo mengangkat alisnya, tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Minyoung pun menutup matanya, kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“DONGWOO-SSI, AKU MENYUKAIMU. MAUKAH KAU MENJADI NAMJA CHINGU-KU?”

Minyoung benar-benar sudah kehabisan akal dan urat malu yang ia miliki dirasanya sudah putus. Semua mahasiswa yang masih ada di kelas itu terkejut bukan main mendengar teriakan Minyoung, apalagi Dongwoo. Mulut Dongwoo bahkan sampai menganga lebar.

Minyoung masih menutup matanya. Ia terlalu takut untuk sekedar membuka mata, apalagi menatap Dongwoo – namja yang memang disukainya – secara langsung. Ia pikir Dongwoo akan ngeloyor ke luar kelas dan menolaknya mentah-mentah karena menganggapnya sebagai yeoja sakit mental.

“N..ne.. aku mau..”

Minyoung spontan membuka matanya. Reaksi yang diberikan oleh Dongwoo jauh dari dugaannya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Dongwoo akan menerimanya.

“Jinjja?” tanya Minyoung setengah berbisik. Dongwoo tersenyum, kemudian mengangguk sambil membetulkan letak kacamatanya. Minyoung menarik nafas lega.

“CIUM! CIUM! CIUM! CIUM!” teriak Jiyoung memprovokasi teman sekelasnya yang lain. Alhasil seisi kelas terpengaruh ajakan Jiyoung dan mulai menyoraki mereka juga.

“CIUM! CIUM! CIUM! CIUM!!!”

Panik, itulah yang dirasakan Minyoung sekarang. Ia tidak menyangka kalau Jiyoung berniat akan mempermalukannyaa dan Dongwoo sejauh ini. Ia kemudian menatap Dongwoo, ingin mengetahui bagaimana reaksi namja yang baru saja menjadi pacarnya ini. Dongwoo balas menatapnya dengan tatapan yang tidak dimengerti oleh Minyoung.

Tiba-tiba Dongwoo menarik tangan Minyoung dan membawanya ke luar kelas. Minyoung menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Dongwoo tanpa mempedulikan lagi sorakan dari teman-teman  di kelas. Dongwoo akhirnya berhenti menarik tangan Minyoung setelah mereka berdua sampai di taman kampus.

“Minyoung-ssi..”

“Ne?”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Minyoung menggaruk tengkuknya. “Bicara saja…”

“Tapi tidak di sini.”

Minyoung mengerutkan alis. “Lalu di mana?”

Dongwoo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menarik tangan Minyoung lagi.

***

Minyoung terheran-heran dengan keadaan di sekelilingnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Minyoung berada di tempat ini, tapi yang membuatnya heran adalah ‘kenapa Dongwoo justru membawanya ke tempat ini untuk berbicara?’. Dongwoo bahkan mengajak Minyoung untuk duduk di kursi taman.

“Dongwoo-ssi, kenapa kau membawaku ke rumah Tuang Jang Donggun?”

“Karena tempat ini adalah tempat di mana aku bisa bercerita dengan sebebas-bebasnya. Selain tempatnya nyaman, pemandangannya juga indah.”

Minyoung mengangguk. “Apa kau sudah minta izin pada Tuan Jang Donggun?”

“Tuan Jang Donggun itu adalah ayahku sendiri.” ucap Dongwoo sambil menatap Minyoung dengan serius di balik kacamatanya.

“Mwo?” Minyoung tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Dongwoo terkekeh.

“Kenapa? Tidak menyangka kalau ini adalah rumahku?”

“Aniyo.. aniyo, bukan begitu Dongwoo-ssi..” Minyoung mengibas-ngibaskan tangannya, takut kalau Dongwoo salah paham dengan ucapannya.

“Tidak apa-apa. Aku bisa maklum.” Dongwoo mengacak pelan rambut Minyoung. “Sebenarnya aku sudah menunggu-nunggu hari ini.”

“Hah?”

Dongwoo membuka ranselnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah amplop panjang yang menggelembung karena isinya hampir penuh. Dongwoo memegang tangan Minyoung, lalu meletakkan amplop itu di atasnya.

“2 juta won.” ucap Dongwoo mantap. Min Young refleks membelalakkan mata ke arah Dongwoo.

“Mwo?”

“Maaf mengagetkanmu, tapi aku sudah tahu semuanya.”

Tubuh Minyoung bergetar hebat. Matanya pun tidak kuat lagi menahan air mata. Belum sempat masalahnya dengan Jiyoung selesai, kini ia harus menghadapi masalah lain. Namja yang disukainya – yang sekarang sudah resmi jadi pacarnya – mengetahui kalau ia dijadikan bahan permainan untuk membebaskan Minsoo. Minyoung ingin lenyap dari hadapan Dongwoo saat itu juga, berharap ia dan Dongwoo tidak pernah bertemu lagi karena Minyoung tidak kuasa menahan malu. Tapi baru saja Minyoung ingin beranjak, Dongwoo menahan tangannya.

“Tunggu! Aku harus menjelaskan sesuatu..”

Minyoung menepis tangan Dongwoo. “Dongwoo-ssi, sudah cukup aku menahan malu! Tolong biarkan aku pergi!”

“Tidak!” Dongwoo menangkap tangan Minyoung dan menggeggamnya erat-erat. “Kau tidak boleh pergi sebelum mendengarkan sebuah pengakuan dariku!”

Minyoung terdiam sejenak, kemudian akhirnya menurut ketika Dongwoo menyuruhnya untuk duduk lagi.

“Minyoung-ssi, aku ingin mengaku satu hal.” Dongwoo mengambil jeda. “Selama ini, aku adalah stalkermu.”

“Mwo? Stalker?” ulang Minyoung seolah tak percaya. Dongwoo mengusap pipi Minyoung yang basah larena air mata dengan jemarinya.

“Ne. Aku selalu mengamatimu, mengikutimu ke mana pun kau pergi, dan mencari tahu apa yang kau sukai. Bisa dibilang aku adalah fans beratmu.”

“Tapi sayangnya aku adalah orang yang sangat pemalu. Bahkan terlalu pemalu untuk sekedar bertegur sapa denganmu di kelas. Sampai akhirnya aku tahu kau bekerja di toko bunga, aku pun menyuruh ayahku untuk memesan bunga ke tokomu agar kau mengantarnya ke rumahku. Dengan begitu aku bisa bertemu denganmu tanpa dilihat orang banyak.”

“Lalu kemarin, saat aku mengikutimu pulang, aku melihat kau sedang memarahi seorang namja di belakang supermarket. Kupikir namja itu adalah pacarmu, makanya aku tidak tahan untuk tidak menguping. Dari situlah aku tahu masalah utang adikmu dengan Jiyoung dan dari situ juga aku tahu kalau kau menyukaiku.”

Minyoung mengerjap-ngerjapkan mata. Pengakuan Dongwoo sama sekali di luar dugaannya.

“Saat itu aku senang sekali mendengar kalau kau ternyata menyukaiku. Sesampainya di rumah, aku tertawa-tawa dan bahkan berteriak seperti orang gila.”

“Benar! Anakku ini kemarin sampai menarik-narik lengan bajuku seperti anak kecil yang meminta gulali waktu menyuruhku agar memesan bunga di tokomu, Minyoung-ssi!”

Dongwoo dan Minyoung langsung berbalik begitu mendengar ada suara lain di antara mereka. Suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah milik ayah Dongwoo, Jang Donggun.

“Appa! Jangan membongkar rahasia!” Dongwoo menempelkan telunjuknya ke bibir, kemudian tertawa terbahak-bahak. Donggun kemudian duduk di sebelah Dongwoo. Alisnya mendadak berkerut begitu melihat mata Minyoung yang sembab.

“Dongwoo-yah, kau membuat Minyoung menangis ya? Hah?” Donggun mendorong-dorong bahu anaknya.

“Ne, Appa.” Ucap Dongwoo lemah.

“Aish! Kenapa kau ini bisa-bisanya membuat yeoja menangis? Bukannya kau suka padanya?” omel Donggun. Dongwoo menunduk dengan wajah seperti tahanan bersalah.

“Aniyo, bukan salah Dongwoo. Ini salahku, ahjussi.” Minyoung berusaha menetralkan keadaan. “Aku menangis karena aku yang berbuat salah, bukan karena Dongwoo.”

Donggun geleng-geleng kepala. Ia kemudian menarik tangan Dongwoo, lalu menarik tangan Minyoung dan membawa mereka menuju ke dalam rumah.

“Appa! Kami mau dibawa ke mana?” tanya Dongwoo. Ia melirik Minyoung yang terlihat panik.

“Kalian tidak tahu ini jam berapa?” tanya Donggun galak. Dongwoo dan Minyoung saling menatap bingung, kemudian mereka menggeleng.

“Ckckck.. ini waktunya makan siang! Ayo kita makan siang bersama, Appa sudah lapar!”

***

Dongwoo memasukkan kedua tangannya tangan ke saku celana jeans. Di sebelahnya ada Minyoung yang berjalan sambil memegang erat tali tasnya. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Dongwoo, tidak ada satu pun dari mereka yang buka suara. Minyoung menghentikan langkahnya ketika berada di depan sebuah rumah yang bisa dibilang cukup sederhana. Dongwoo pun ikut berhenti.

“Ini.. rumahku.” Ucap Minyoung sedikit tergagap. “Kau pasti sudah tahu kan?”

Dongwoo mengangguk tanpa suara. Suasana hening lagi.

“Ehm.. Dongwoo-ssi.”

“Ne?”

“Untuk uang itu… aku pasti akan mengembalikannya kalau tabunganku sudah cukup.”

Dongwoo menghela nafas. “Minyoung-ssi, aku lebih senang kalau kau tidak mengembalikannya.”

“Dongwoo-ssi, aku tahu kau kaya dan uangmu banyak. Aku tahu uang sejumlah 2 juta won itu tidak ada artinya untukmu tapi…”

“Siapa bilang uang itu tidak ada artinya?” potong Dongwoo cepat. “Justru uang itu sangat berarti untukku. Pertama, uang itu bisa melepaskanmu dari maksud jahat seorang Kang Jiyoung. Dan yang kedua, uang itu yang membuat aku tahu kalau kau ternyata juga menyukaiku.”

Minyoung tersenyum tipis. Dongwoo membalas senyumnya dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Minyoung.

“Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada 2 juta won. Aku yang terlalu pemalu dan tidak keren seperti ini mungkin hanya akan gigit jari melihat kau bersama namja lain suatu saat nanti tanpa sempat menyatakan perasaanku.”

Minyoung tertawa pelan mendengar ucapan Dongwoo. “Benar juga. Mungkin aku juga akan bernasib sama sepertimu, gigit jari melihatmu bersama dengan yeoja lain suatu saat nanti.”

Mereka berdua kemudian tertawa bersama. Suasana yang tadinya kaku dan hening berubah menjadi hangat dan menyenangkan.

“Oh iya, sepertinya aku juga harus berterima kasih pada adikmu.”

“Ah iya benar! Kalau Minsoo tidak sebodoh itu, mungkin tidak ada yang namanya 2 juta won!” ucap Minyoung sambil tertawa.

“HEH! SIAPA YANG KAU SEBUT BODOH?”

=== END ===

Annyeong readers^o^

Gyaaaaaaa.. gimana ff’nya? Author ga pede beneran nih sumpah .____.v

Okay, as usual, bonus pict di akhir cerita ^^  Dongwoo Oppaaaa ^o^

58 responses to “Confessions – Dongwoo: 2 Million Won

  1. aishh… kesel banget! masa dongwoo di bilang mengganggu pemandangan.

    tapi nice FF thor. God! ini FF pertama ttg dongwoo yg ku baca.
    bikin ttg dongwoo lagi thor. aku tunggu #bletak

  2. Pingback: Confessions – Myungsoo: Who’s The REAL Betrayer? | FFindo·

  3. Huwaaaa!!!!
    Ska ska ska ska ska ska ska bgt ma ff nya!!!
    Daebak bgt!!!! 😀
    sepanjang bca jd ngebayangin klu ff ini real story, huwaaaaaaa speechless!!! Ga bs ngebayangin..
    Sumpah gaa kebayang!!! 😀
    Dri td senyum2 sendiri ngebayangin ceritanya!!! 😀
    Heheh..
    D tunggu ff author yg lainnya!!!

    Hwaiting!!! 😀

  4. Pingback: Confessions – Sungyeol: Stupid and Selfish Me | FFindo·

  5. hoooaaahhh.. ini extremely cute ><
    ini cerita yang paling aku suka dari confessions, selain ceritanya woohyun. kyaa kyaa~
    duh aku sampe senyum senyum sendiri baca ff ini XD

  6. rapper infinite>>> dongwoo,..
    ah, minyoung beruntungny gr2 2 juta won jdny bsa jadian am dongwoo,..
    eits ternyata dongwoo jg suka am minyoung,..
    hihi,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s