OPPA VS SUNBAE [PROLOG]

Title : Oppa VS Sunbae [PROLOG]

Author : ontebiijjang

Main Cast(s)

Kim Jonghyun (SHINee)
Park Hyomin (Hyomin T-ara)
Park Junsu (Xiah Junsu JYJ)

Other Cast(s)

Park Yoochun (JYJ) as Hyomin’s appa
Park Kahi (After School) as Hyomin’s eomma

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, AU

Disclaimer : i just owned the story. Inspired by musical stories. This is just fiction story. Enjoy the story. ^^

♫♫♫♫♫



Author POV

Disaat hari minggu dimana para warga kota Seoul sedang asik bercengkrama dengan keluarganya atau sedang bersantai-santai keluar rumah untuk menikmati hari libur, tapi itu semua tidak terjadi di Gedung Music Hall yang terletak di kompleks Seoul Arts Center yang berada di tengah kota Seoul ini. Saat ini disana sedang diadakan kompetisi anak berbakat yang biasanya diikuti oleh segelintir anak se-Korea. Tentu saja hal itu dikarenakan hanya segelintir anak yang dikatakan mampu mengikuti lomba itu. Seperti yang kita ketahui tidak banyak orang yang dapat mempelajari seni klasik. Kebanyakan dari mereka adalah golongan elit. Kompetisi seni klasik junior ini selalu diadakan dua tahun sekali di Korea tepatnya di Gedung Music Hall. juara utama akan dihadiahkan beasiswa untuk belajar seni ke Jepang.

Park Hyomin adalah salah satu gadis belia murid Art Junior High School yang mengikuti kompetisi itu. Hyomin mengambil bidang vokal dan piano untuk lomba nya. Seni vokal dan piano yang telah ditekuni nya sejak ia berumur tiga tahun bersama oppa nya, membuatnya yakin akan memenangkannya. Hyomin memang mempunyai kemampuan vokal yang bagus, tetapi ada satu hal yang akan menghambat nya menjadi pemenang. Permainan piano Hyomin temponya agak berantakan. Itu dikarenakan Hyomin memainkan nya berdasarkan pendengarannya ditambah dengan improvisasi sesuai dengan keinginan hati nya. Membuatnya selalu dimarahi pengajar nya karena bermain tidak sesuai dengan not balok yang tercetak di buku musiknya. Oh ya, orang tuanya termasuk juri pada kompetisi ini. Kedua orang tuanya.

Hyomin menaiki panggung dengan piano yang sudah menunggu tak jauh dari nya saat ini. Seperti biasa, Hyomin menuju pianonya dengan riang. Tak sabar untuk memainkannya. Hyomin memang tidak pernah perduli akan perlombaan, karena itu ini adalah perlombaan nya yang pertama. Perlombaan kali ini pun karena ia disuruh oleh kepala sekolah nya – yang sebenarnya kepala sekolanya disuruh oleh kepala yayasan sekolah itu yaitu, appa Hyomin sendiri. Ia hanya senang memainkan pianonya dan bernyanyi karena oppa nya juga menyukai hal itu. Hyomin selalu suka dengan apa yang oppa nya lakukan. Hyomin menganggap bahwa dirinya adalah fans nomor satu oppanya yang berbeda dua tahun darinya itu. Hyomin mulai menarikan jemari nya diatas piano dengan riang membawakan lagu yang juga riang – My Favorite Things – The Sound Of Music. Lagu yang membuat para lawan mainnya terkekeh mengejek terlebih karena permainan Hyomin yang seenaknya tapi Hyomin tetap bermain dan bernyanyi dengan riang seakan tidak mendengar nya karena yang ada dalam pikirannya sekarang adalah momen-momen dirinya bersama oppanya. Saat ini, Hyomin sedang berpisah dengan oppa nya. Baru enam bulan Hyomin berpisah dengan oppa nya karena oppa nya memintanya untuk menjaga eomma mereka di Korea, sedang appa dan oppanya tetap tinggal di Jepang karena selain oppanya sudah di kelas tiga jadi tanggung untu pindah juga karena resital appa nya yang belum selesai di Jepang. Keluarg Park tinggal di Jepang hampir tiga tahun terhitung sejak oppa Hyomin menginjak jenjang SMP disana, namun eomma nya mendapatkan tawaran kembali di Korea untuk mengadakan berbagai macam pertunjukan seni tari klasik di gedung ini. Oleh karena itu Hyomin ikut kembali ke Korea untuk menemani eommanya hingga ia lulus sekolah, karena oppa nya janji akan kembali bersama nya setelah ia lulus.

♫♫♫♫♫

Masing-masing junior yang telah menunjukkan bakatnya, kini telah kembali siap di atas panggung untuk mendengar kan hasil dari para juri. Hyomin terlihat santai menunggu pengumumannya, berbeda dengan para kontestan lainnya yang sedang gugup. Sang MC sudah tampak berdiri di belakang podium nya, siap akan membacakan sang pemenang lewat selembar kertas yang di pegang nya saat ini.
“ Annyeonghaseyo.. langsung saja saya akan mengumumkan juara junior kita pada lomba seni klasik junior kita kali ini.. saya akan mulai memanggilkan juara ke tiga pada hari ini.. dia adalah.. Kim Jae Ri!” ucap sang MC diakhiri dengan berseru memanggil nama pemenang, namun sang juara tiga tidak menunjukkan kebahagiaan nya kali. Ia merasa turun tingkat, sebab tahun lalu ia mendapat peringkat juara dua.

“ Kepada nona Kim Jae Ri kami persilakan untuk maju..” lanjut MC, yang bernama Kim Jae Ri pun maju beberapa langkah kedepan dengan wajah yang di tekuk.

“ selanjutnya juara kedua jatuh kepada Park Hyomin.. kepada nona Park Hyomin kami persilakan maju..”

“ Whooa, na ya? Jeongmal na ya? Hwakshirae?” sambut Hyomin riang pada sang MC seraya maju beberapa langkah. Hyomin menatap appa dan eomma nya yang sedang tersenyum bangga didepannya.

“ Saranghae..” bisik Hyomin seraya mengulurkan kedua tangannya dan berlari kecil di tempat seolah ingin memeluk orang tuanya.

“ jaranhae..” balas eomma nya. Melihat Hyomin yang begitu bahagia juga bermanja-manja pada eomma nya walau dari jauh, membuat Kim Jae Ri merasa gerah melihat tingkah Hyomin.

“ YA! Kau itu hanya juara dua.. tak perlu memasang tampang bahagia.. seharusnya kau bahagia ketika kau menjadi juara utama..” ledek Jae Ri kesal. Walau jarak mereka cukup jauh, tapi Hyomin tetap dapat mendengar ada yang meledeknya dengan sebutan juara dua.

“ Ya! Apakah aku tidak boleh bahagia karena menuai hasil kerja kerasku, hah? Kau juga harusnya bahagia bisa mendapatkan juara tiga!” omel Hyomin.

“ cih! Sombong sekali kau!” balas Jaeri menggerutu terakhir kali. MC pun mengumumkan juara pertama. Setelah itu para juri naik ke atas panggung memberikan ucapan selamat kepada para pemenang. Park Kahee – eomma Hyomin langsung memeluk Hyomin erat bangga karena kemenangannya. Begitu juga dengan Park Yoochun – appa nya.

“ dia tidak pantas menjadi juara dua, permainan pianonya sangat berantakan!” teriak seorang ahjumma. Sontak yang berada diatas panggung menoleh mencari sumber suara. Suasana di gedung Music Hall pun berubah, yang tadi nya aku penuh riuh tepuk tangan berganti menjadi suara bisikan-bisikan membenarkan ucapan ahjumma itu.

“ memang secara teknikal permainan pianonya kurang memuaskan, tapi kami menilai nya secara keseluruhan berdasarkan berbagai sudut pandang!” balas Yoochun, tak terima anak nya diremehkan. Tentu dalam hal ini bukan hanya dirinya yang menilai Hyomin pantas mendapatkan juara kedua.

“ Mungkin saja kau menjadikannya juara hanya karena dia anak mu!” balas seorang ahjumma lainnya. Hyomin hanya mendelik tajam pada ahjumma itu karena berani secara tidak langsung mengejek orang tuanya bersikap tidak profesional.
“ bagaimana mungkin!? Jika orang tuaku berbuat curang, aku tidak mungkin menang.. aku pasti kalah, jika ketiga juri lainnya tidak berpihak pada ku!” omel Hyomin berusaha membela orang tuanya.

“ mungkin saja.. orang tuamu bisa menyuap mereka…”

“ maaf, aku bukannya bermaksud untuk menyombong, tapi untuk apa? Mereka pasti mempunyai pendapatan yang kurang lebih sama dengan orang tuaku.. untuk apa mereka butuh uang ? untuk apa orang tua ku menyuap mereka hanya demi membuatku menjadi juara dua? Jika memang orang tuaku bisa menyuap mereka.. aku pasti sudah menjadi juara umum.. apa tujuannya menjadi juara umum bagiku? Mendapatkan beasiswa ke Jepang? Anda pasti tahu aku mampu untuk bersekolah disana tanpa beasiswa sekalipun? Agar aku menjadi terkenal? Anda sudah pasti tahu siapa aku dan aku pun tak butuh menjadi terkenal. Jadi, apa untungnya saya curang dalam kompetisi ini? Jika tidak dipaksa oleh kepala sekolah ku, aku pun sama sekali tidak berniat untuk mengikuti! Jadi, aku mohon kepada anda sekalian untuk tidak membuat spekulasi-spekulasi yang tidak penting.” Potong Hyomin tandas dan panjang lebar. Membuat Jaeri yang berada tak jauh disebelahnya berdecak remeh. Hyomin pun mengalihkan perhatiannya pada Jaeri yang sedang terkekeh remeh.

“ YA~.. seharusnya kau malu untuk mengatakan pidatomu itu…” ucap Jaeri seraya tertawa remeh, namun sejurus kemudian merubah wajahnya menjadi serius membuat kening Hyomin berkerut-kerut tak mengerti atas komentar Jaeri.

“ kau pikir, kami mengikuti lomba hanya karena demi beasiswa!? Atau untuk terkenal!? Kau pikir kai bukan orang seperti mu!? Yang mempunyai banyak uang dan ketenaran!?” tajam Jaeri membuat Hyomin menegang karena perkataan Jaeri yang benar.

“ arayo.. pidatoku barusan, sama sekali tak bermaksud menyinggung kalian semua yang berlomba disini.. aku hanya ingin menegaskan bahwa tak ada untung nya bagiku untuk berbuat curang!” balas Hyomin setelah mengontrol ekspresinya.

“ nado ara.. aku pun ingin menegaskan bahwa yang terpenting disini adalah menjadi juara, tak perduli apa hadiah nya.. jadi, apa tidak boleh kami merasa kesal karena tidak juara dan tak berhasil menuai hasil kerja keras kami?”

“ lantas mengapa hanya aku yang tak pantas menjadi juara?”

“ geez, seharusnya kau malu.. kau hanya mendapatkan juara 2.. mengingat, orangtua mu adalah artist nomor satu di bidang mereka.. kau bangga hanya menjadi juara dua? Cish..” ejek Jaeri, mendengar itu Hyomin langsung terdiam dan menunduk. Hyomin mencerna baik-baik perkataan Jaeri dan menyetujui pernyataan Jaeri. Melihat Hyomin tertunduk, Kahi kembali menghampiri Hyomin mengelus punggung Hyomin perlahan.

“ gwenchana.. kau tidak perlu memikirkan perkataan nya.. kompetisi ini hanya masalah sepele..” hibur Kahi, Hyomin langsung menatap eomma nya lalu cemberut.

“ anigoteun.. keu majayo.. aku memang belum berlatih lebih keras ..” ucap Hyomin, lalu berlari meninggalkan panggung. Kahi dan Yoochun saling bertatapan setelah melihat tingkah anak nya. Sedangkan suasana panggung kembali dengan hiruk pikuk para penonton yang naik ke atas panggung untuk memberi selamat kepada para pemenang.

♫♫♫♫♫

Sejak kejadian itu, Hyomin bertekad untuk menjadi juara utama dimana pun ia akan berlomba. Maka dari itu, Hyomin langsung menghampiri guru yang biasa mengajarinya di rumah. Hyomin menuntut agar gurunya mengajari teknik-teknik bermain piano menggunakan not balok. Hyomin mengubah permainan pianonya. Kini permainan piano nya sudah terfokus pada buku musik nya, ia mulai lupa menyatu dengan musik nya karena terlalu fokus membuat nada yang sempurna dan teratur. Membuat gurunya kembali geleng-geleng kepala. Jika yang lalu karena permainan Hyomin yang seenaknya, kini karena nada-nada yang Hyomin buat tidak seperti hidup. Hyomin selalu saja bertanya pada gurunya, apakah permainan nya sudah seperti permainan oppa nya yang selalu memukau. Tentu hal itu membuatnya kembali dinasehati oleh gurunya bahwa lebih baik ia bermain seperti yang biasa ia mainkan, namun Hyomin malah membantah nya. Kahi dan Yoochun yang mendapatkan laporan dari guru nya itu, mulai mengajak Hyomin bicara secara baik-baik agar melupakan masalah kompetisi di gedung Music Hall.

Lagi, Hyomin tetap bersikeras untuk mendapatkan juara umum, membuat Yoochun kesal karena tekadnya itu. Yoochun memang susah mengontrol emosi jika Hyomin sudah mulai keras kepala dan itu menurun pada oppa nya. Jika Hyomin mulai keras kepala, mereka akan bertengkar hebat dan lama kembali rukun. Kompetisi baru kembali dibuka di gedung yang sama, Hyomin dengan percaya diri tampil di panggung. Kali ini ia membawakan Mozart’s Sonata agar tidak dianggap remeh. Kali ini pun, eomma nya menjadi juri pada kompetisi tapi tidak dengan appanya karena sudah kembali ke Jepang. Kali ini eommanya memberi nilai yang buruk pada permainan Hyomin. meski Kahi memberi nilai tinggi pada tekniknya, namun tetap saja hasil yang Kahi berikan buruk. Melihat para penonton yang sama sekali tidak tertarik dengan permainan Hyomin. hasil akhir pun di umumkan dan Hyomin sama sekali tidak menjadi juara. Hyomin langsung menuju ruang ganti, memutuskan untuk pulang dan juga berhenti bermain piano karena menurutnya tidak berguna. Hanya membuat malu keluarganya karena tak mampu juga meraih juara satu. Begitu Hyomin keluar dari ruang ganti, banyak wartawan dan paparazi yang menghampirinya. Bertanya seputar kegagalannya hari ini. Mereka terus saja berbicara dengan heboh nya tanpa melihat Hyomin yang mulai takut karena merasa dihakimi. Dari mereka ada bertanya apakah Hyomin benar-benar anak dari sang Maestro Yoochun dan Kahi, jika iya mengapa Hyomin tidak bisa seperti oppa nya yang dengan mudah nya membuat semua orang terpukau dengan permainannya. Lalu ada juga yang bertanya apakah juara dua yang diraihnya beberapa bulan yang lalu adalah hasil curang, lalu masih banyak pertanyaan lainnya. Hyomin makin didesak hingga terpojok, bahkan tak sempat memanggil eomma nya yang berada tak jauh dari nya. Tak lama, Hyomin ditarik oleh seseorang yang ia tak kenal dan mengajaknya berlari menjauhi kerumunan itu.

♫♫♫♫♫

Mereka berdua tampak terengah-engah karena berlari cukup jauh. Mereka berlari hingga keluar dari gedung, dan menemukan taman dibelakang gedung itu. Hyomin terus saja memerhatikan namja yang baru saja menolongnya dan juga ia tak kenal.

“ gomawo..” ucap Hyomin agak malu, melihat namja tampan itu.

“ eiiy, gwenchana? Mengapa tadi kau tidak kabur?” ucap namja itu tidak membalas ucapan terimakasih Hyomin. Hyomin pun mengangguk lalu terdiam. Melihat itu, namja itu pun menghela napas panjang, membuat Hyomin kembali menoleh padanya.

“ permainan mu hari ini memang buruk sekali.. huhf, jujur tidak sesuai dengan yang kuharapkan..” pernyataan namja itu membuat Hyomin kembali menundukkan kepalanya. Kembali merasa ia benar-benar tak pantas menjadi bagian dari keluarga Park.

“ A, keurae?” tanggap Hyomin sedih. Melihat itu, namja tadi pun tersenyum dan membenar posisi duduk nya menjadi menghadap Hyomin.

“ aku lebih suka permainan piano yang beberapa bulan lalu..” lanjut nya, membuat Hyomin kembali menegakkan kepalanya dengan mata yang berbinar-binar.

“ jinjja!? Kau menontonnya?” tanya Hyomin antusias dengan mata yang berbinar-binar.

“ anhi.. aku hanya mendengar rekamannya dari appaku.. appa ku salah satu juri nya waktu itu.. dan hari ini pun begitu.. dia juga kecewa dengan permainanmu hari ini..” ucap namja itu blak-blakan tanpa perduli dengan respon Hyomin yang sudah menunduk sedih mendengarnya.

“ kau tak perlu bersedih.. kini pun teknik permainan mu sudah sangat bagus.. hanya saja, kau tidak memainkannya dengan hatimu.. ja..” hibur namja itu lalu bangkit dari duduk nya. Namja itu pun mengacak rambut Hyomin pelan.

“ annyeong..” lanjut namja itu lalu beranjak dari tempatnya.

“ A! Chamkan.. neo ireumi mwoya?” tanya Hyomin seketika, menghentikan langkah namja itu. Namja itu menoleh, tersenyum lengkap dengan puppy eyes nya.

“ Jjong.. kalkae.. uri dashi mannalgeoya..” jawab namja itu sebelum kembali beranjak pergi. Sedang Hyomin hanya mampu terpaku menatap kepergian namja misterius itu. Tak lama setelah namja itu pergi, Kahi datang dengan tergesa menghampiri Hyomin. terlihat jelas diwajah nya akan sirat kecemasan.

“ kau darimana saja? Gwenchana?” tanya nya khawatir. Hyomin hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya.

“ kaja.. jibe kayo..” tuntun Kahi mengajak Hyomin pulang.

“ eomma..” panggil Hyomin saat mereka berjalan bersama menuju parkiran mobil. Kahi hanya menoleh.

“ aku tak mengikuti lomba lagi, sebelum aku benar-benar hebat.. aku tak akan mengecewakan mu lagi..” janji Hyomin. Kahi yang merangkul pundak Hyomin, memberikan semangat dengan mengelus-elus lengan Hyomin.

“ Kokjongma.. halsu isso..

TBC

Annyeong.. ontebiijjangieyo.. aku author baru di FFindo.. makasih banget buat admin yang udah invite aku jadi author.. dan maaf banget belum sempet-sempet ngepost FF satu pun.. kekeke.. oh ya, maaf buat prolognya yang kependekan.. karena buatnya nyusul.. hahah.. aku harap kalian suka sama cerita yang aku buat ini.. jangan lupa RCL yooo.. gomawoo ^^

7 responses to “OPPA VS SUNBAE [PROLOG]

  1. waa.. akhirnya kahi-yoochun muncul setelah mereka putus sekian tahun lalu.. sukaaa.. tapi menurut aku prolognya kurang greget, mian ya author.. tetap semangat!

    • hahaha.. aku jg suka sama mereka ;).. mian bgt yah, klo kurang greget.. soalny aku bikin prolog ny telat.. jd uda pny critanya dluan, jd bingung mo bkin prolog ny kek mana. haha.. terus di komen aj ya, biar nti bisa aku perbaiki.. hehe.. gomawoo support nya^^..

  2. waaa, mmg yg namanya bermusik itu lbh penting menghayati drpd teknikal.. ya mksdnya teknik itu penting tapi penghayatan lbh penting lagi..
    hyomin..hyomin..kasian jg harus disorot banget krn kedua orangtua dan oppa nya yg bergelut di dunia musik juga..
    eh, si jjong ikutan nnt jg toh ternyata..apa dy termasuk salah satu peserta jg kah?

    • betul2.. iya soalny kan ortuny yg no. 1 di korea dlm hal seni klasik.. itu si jjong bukan pntn jg bkn pserta.. jadi kan yg waktu lomba pertama itu, appa ny jjong jg jd juri.. nah, appany bawa rekaman suara dr para juara nya.. gtu.. hehe.. gomawo ya uda comment.. ^^

  3. Pingback: OPPA VS SUNBAE [Part 2] | FFindo·

  4. Pingback: OPPA VS SUNBAE [Part 4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s