TWO MOONS (Chapter 5)

Author           : awanderingwonder

Judul             : Two Moons [Part 5/?]

Genre            : Comedy, Romantic

Main Cast      : Kai (EXO-K), Naeun (A Pink) and the rest members of EXO and A Pink.

Disclaimer    : I don’t own the characters (eventhough i wish lol). Only own the plot.

Note              : Holla readers! \o/ Hari ini saya membawakan yang part 5 😀 Tapi part ini pendek karena part 4B panjang, banget u,u Dan aku rasa ini ceritanya sangat-sangat membosankan as usual -_- Sumpah lagi bingung TT^TT hope you like it! 😀

Happy reading~!

***

“Ya Hyung, kurasa kau harus melakukan sesuatu,” kata D.O sambil memakai apronnya. Hari ini ia berniat membuat ramen. Suho mengangkat wajahnya dan menutup majalah golf yang sedang ia baca. “Apa yang harus kulakukan? Aku melakukan sesuatu yang salah?”

D.O memutar bola matanya. “Aigoo, kenapa kau jadi bodoh seperti ini,” gerutunya kemudian menghampiri sang leader yang sedang duduk di sofa sambil menggenggam spatula.

“Kau mau memukulku dengan spatula?” tanya Suho dengan alis yang mengkerut.

“Kalau kau tetap mengoceh, aku akan menghajarmu dengan spatula ini,” ujar D.O sinis. “Ok, kembali ke topik perbincangan.” D.O berdehem dan memperbaiki duduknya.

Hyung, kau tahu bukan kalau Kai menyukai Naeun walaupun didepan gadis itu ia terlihat sangat ingin melahapnya?”

Suho mengangguk. “Ya, aku tahu.”

“Dan kau tahu bukan kalau Naeun itu tidak mengetahui kalau Kai menyukainya?” tanya D.O sekali lagi.

“Ya, aku tahu. Jadi, apa masalahnya?!”

“Kau harus membuat Naeun mengetahui bahwa Kai menyukainya!” Raut wajah D.O bertambah serius. Ia menyipitkan matanya sambil memegang spatulanya erat. “Ha-rus!”

Wae? Biar saja dia tahu sendiri. Kalau dia kuberitahu, Kai akan membunuhku,” balas Suho ngeri, membayangkan Kai akan berjalan kearahnya dengan evil face dan juga smirk kebanggaannya yang selalu terpampang jelas di wajahnya.

D.O menepuk dahinya. “Aigoo! Kau itu bodoh sekali sih!” ujarnya geram. Ia memukul kepala Suho dengan spatulanya. “Maksudku, kau harus memastikan kalau Naeun setidaknya tahu kalau Kai menyukainya. Dan itu tidak harus kau memberitahunya babo!”

“Jadi, apa yang harus kulakukan?”

“Hmm, begini.” D.O memasang wajah serius lagi dan berdehem. “Kau ceritakan masalah Kai dan Naeun ini ke Park Chorong-sshi. Pastikan bahwa setelah kau bercerita kepadanya, dia dan anggota grup yang lain mau membantu kita untuk menyelesaikan masalah ini.”

Suho mengangguk-angguk dan membiarkan D.O bercerita lebih jelas lagi. “Setelah Naeun mengetahui bahwa Kai menyukainya, itu semua urusan mereka berdua. Entah nantinya ia mau menerima Kai atau tidak.”

Suho menatap D.O heran. “Kenapa kau mau melakukan semua ini? Dan kenapa harus aku yang bercerita kepada Chorong-sshi? Dan kenapa harus Chorong-sshi?”

D.O menggigit spatulanya (?) dan menatap Suho gemas seperti ingin memangsanya. “Hyung!! Kau itu benar-benar bodoh ya! Apa kau tidak tahu kalau setiap malam aku selalu melihat Kai tersenyum sendiri sambil menatapi foto-foto Naeun yang ia koleksi?! Itu sangat mengerikan tahu! Melihat dia .. argggghhh!!”

Suho menutup wajahnya dengan majalah yang ia pegang, melindungi wajahnya dari ‘semprotan’ D.O. “Arra, arra. Aku tahu itu sangat mengerikan. Tapi, bagaimana nanti jika Naeun tidak mau menerima Kai?”

D.O mengangkat bahunya kemudian kembali ke dapur. “Molla. Itu urusan mereka. Oh ya, dan jangan lupa untuk memberitahu Park Chorong-sshi.”

Suho menghela napas berat kemudian mengangguk walaupun D.O tidak melihat hal itu. “Arraseo.”

***

Suho berjalan di lorong backstage sambil menoleh kearah kanan dan kiri. Misinya sekarang adalah bertemu Park Chorong dan menceritakan kisah Kai yang suram. Jika saja Kai bukan dongsaengnya, tidak sudi ia melakukan hal ini. Ia mengintip salah satu ruangan yang didepan pintunya tertempel tulisan ‘A Pink’s’. Kemudian ia mengetuk pintu itu pelan.

Tak lama, pintu itu terbuka dan beruntung yang membuka pintu itu sendiri adalah Park Chorong. Mata gadis itu terbuka lebar, dan juga bertanya-tanya ada urusan apa seorang Suho menemuinya.

“Ya? Ada yang bisa kubantu?” tanya Chorong memecah kesunyian.

Suho menoleh kearah kanan dan kiri memastikan tidak ada staff ataupun artis yang lewat. Bisa gawat kalau ia tertangkap basah disini. “Park Chorong-sshi, apakah kau sendirian?” tanya Suho was-was.

Chorong menautkan alisnya. “Ya, semua dongsaengku sedang pergi keluar membeli es krim. Waeyo?”

“Ada sesuatu yang penting yang harus kukatakan padamu. Bolehkah aku masuk?” Suho bertanya dengan nada pelan. Ia bisa menyadari ekspresi Chorong yang shock, tentu saja. Gadis itu kemudian mengangguk dan menyuruhnya masuk.

Museun iri isseosseo (Apa ada yang terjadi)?” tanya Chorong sewaktu mereka berdua sudah duduk di sofa.

“Maaf kalau aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin bercerita tentang…” Suho berhenti sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. Ia menelan ludah saking gugupnya. “… tentang Kai dan Naeun,” lanjutnya.

Chorong yang waktu itu sedang meminum air putihnya langsung tersedak dan menatap Suho dengan tatapan tidak percaya. “Mwo-mwoya?!”

Aigoo, aku yakin akan seperti ini. Apakah Naeun tidak pernah bercerita padamu bahwa ia sering beradu dengan Kai?”

Chorong mengelap mulutnya dengan tisu dan menggeleng. “Ada apa dengan mereka? Beradu? Bertengkar maksudmu? Aku tahu kalau mereka bermusuhan tetapi aku tidak tahu kalau mereka sering bertengkar.”

“Ya. Setiap hari. Mereka adalah musuh abadi. Tapi bukan hal ini yang akan kubicarakan.”

“Jadi, apa?”

“Faktanya, Kai.. menyukai Naeun walaupun didepan gadis itu ia berpura-pura membencinya.”

Chorong mengerjapkan matanya tidak percaya dan mulutnya terbuka. “Jeongmal? Kai-sshi? Apakah ini yang dinamakan benci jadi cinta?”

Suho menelan ludah dan mengangguk. “Aku tidak bohong. Kai sendiri yang bilang. Dan aku ingin bilang padamu.. ah tidak. Lebih tepatnya minta tolong padamu. Bisakah kau membuat setidaknya Son Naeun mengetahui bahwa Kai menyukainya?”

Alis Chorong terangkat. Gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatap Suho dengan heran. “Maksudmu.. apa? Kalau kau hanya ingin Naeun mengetahui bahwa Kai menyukainya, bilang saja padanya.”

Suho mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak menyangka mengobrol dengan gadis juga memerlukan tenaga. Kyungsoo harus membayar untuk ini. “Aigoo, bukan itu maksudku. Ehm begini, beri Naeun hint. Beri dia sinyal agar ia tahu bahwa Kai menyukainya. Hanya sinyal.”

“Maksudmu agar ia mengetahui Kai menyukainya dengan sendirinya?”

“Ya. Itu maksudku. Ngomong-ngomong, apakah Naeun sudah punya pacar?” tanya Suho penasaran.”Tidak, tidak punya,” jawab Chorong cepat.

“Tapi, ia sering bercerita tentang Sehun.”

Suho meneguk ludah sekali lagi. “How poor you, Kim Jongin,” batinnya. “Benarkah? Uri Sehunnie?”

“Ya. Dan setiap malam ia selalu membawa boneka beruang pemberian Sehun kemana-mana. Tapi tenang saja, Naeun bilang ia hanya mengaguminya,” ucap Chorong dengan nada menenangkan.

“Ya, bukankan ini sulit?” Chorong menatap Suho lekat-lekat. “Kai menyukai Naeun tetapi gadis itu jelas-jelas membencinya. Bagaimana?”

Suho mengangguk dan setuju. Ini memang sulit. Terlibat dalam cinta segitiga malah membuatmu bingung atau lebih tepatnya susah. Susah untuk memilih, mungkin?

“Bagaimana caranya, agar Naeun menyukai Kai?” gumam Suho tiba-tiba.

Chorong menggigit bibir bawahnya dan memikirkan sebuah ide. “Bagaimana kalau.. Suho-sshi, banyak orang bilang kau berasal dari keluarga berada. Apakah kau punya.. eh, bioskop pribadi?”

Suho mengangguk pelan. “Bukan punyaku lebih tepatnya. Tapi punya kakekku dan bioskop itu tidak sebesar bioskop layaknya di tempat-tempat lain karena itu bioskop keluarga.”

Chorong mengeluarkan smirknya dan bertepuk tangan. “Baiklah. Jadi, ini idenya. Bawa Kai dan Naeun pergi ke bioskopmu itu dan putar film horor. You’ll see what happen next,” ujar Chorong dengan senyum kemenangan diwajahnya.

Suho mengangguk antusias dan sangat setuju dengan ide Chorong barusan. Ia menggenggam kedua tangan Chorong tanpa sadar membuat gadis itu sedikit shock. Kemudian tersenyum, “aigoo, kamsahamnida Park Chorong-sshi. Kau telah banyak membantu kami.”

Chorong tersenyum meringis. “Ah gwaenchana. Dan aku akan bercerita ke member lainnya tentang hal ini agar mereka juga membantuku.”

“Baiklah. Kurasa aku harus kembali sekarang. Terima kasih atas idenya. Aku akan memberitahu kalau waktunya sudah tiba. Berapa nomor teleponmu?”

Chorong tidak langsung menjawab tapi tatapan matanya turun kearah tangan Suho yang masih menggenggam erat tangannya. “Eh bisakah kau lepas tanganmu? Aku mau mengambil ponsel,” gumamnya.

Suho mengikuti arah tatapan Chorong kemudian langsung melepaskan tangannya dan tersenyum meminta maaf. Chorong mengambil ponselnya dan memberikan nomor ponselnya pada Suho.

“Baiklah, Chorong-sshi. Kamsahamnida. Aku kembali dulu,” ujar Suho sambil membungkuk dan keluar dari ruangan.

Chorong menepuk dahinya dan menggeleng-geleng. “Aigoo, apa itu tadi.”

**

“Jadi bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencana ini?” Suho mendekatkan badannya dan memandang wajah dongsaeng-dongsaengnya serius. “Hanya ini yang bisa kulakukan.”

Hyung, bagaimana dengan Sehun?” tanya Chanyeol yang juga serius. “Kalau dia ikut juga, yang ada Kai malah akan berubah menjadi setan.”

“Kita bagi tugas saja. D.O, kau ajak Sehun seharian bermain ya-”

“MWOYA?! Aku bukan babysitter-nya!” Belum selesai Suho bericara, ucapannya langsung dipotong oleh D.O. “Aigoo Hyung, kalau masalah itu kau berikan saja pada Baekhyun Hyung.”

Kepala Suho berputar kearah Baekhyun yang sekarang sedang bermain dengan gelembung-gelembung sabun. “Apa?” tanya Baekhyun sewaktu semua member sedang menatapnya dengan pandangan heran, sekaligus jijik.

Aigoo Hyung! Letakkan itu!! Oh tidak, buang itu! Kau itu sudah besar tapi mainanmu gelembung sabun. Kau gila?!” semprot Chanyeol dan langsung merebut botol gelembung sabun di tangan Baekhyun.

“Ya! Park Chanyeol! Jangan buang mainanku! Ya!” Baekhyun berdiri dan mencoba merebut gelembung sabunnya dari tangan Chanyeol. Tapi tak bisa karena memang tingginya yang berbeda 10 cm dari Chanyeol.

D.O menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap kedua orang yang sekarang berlarian didalam dorm itu frustasi. “Hyung, apa mereka harus selalu seperti ini?”

Molla. Ah sudahlah biarkan saja.Mereka memang gila. Ya, kembali ke permasalahan. Jadi Baekhyun akan mengajak Sehunnie pergi bermain dan aku, kau dan Chanyeol pergi menemani Kai dan Naeun menonton bioskop. Otte?”

“Ah iya juga. Kita harus menghindarkan Naeun dari Byuntae satu itu. Hyung, tapi kenapa kita harus menemani Kai dan Naeun menonton bioskop?” tanya D.O heran.

“Kau mau sesuatu terjadi pada Naeunnie? Lagipula, karena ini film horor, mereka berdua akan duduk didepan sendirian dan kita dibelakang untuk mengawasi mereka,” ujar Suho sambil tersenyum kemenangan. “Aku jenius kan?”

Hyung, pastinya kursi bioskop itu banyak dan tidak mungkin Naeun mau duduk sebangku dengan Kai,” desis D.O. “Babo.”

“Betul juga. Beri saja mereka tiket. Atau semacam itu. Pokoknya mereka berdua harus duduk berdampingan.”

D.O menghela napas berat kemudian bersandar pada sandaran sofa. “Arraseo. Semoga dengan ini hubungan mereka bisa lebih baik.”

-to be continued-

[A/N] Halo semuanya \o/ #cipoksatusatu #kemudiandibakar eeeiiiyyy maap ya aku cuman bisa buat ini T^T #merasatidakberguna. Ini buatnya cuman setengah jam lagi ._.v kuusahain part selanjutnya ada adegan-adegan yang tidak terduga (?) #senyumKyuhyun hohoho

35 responses to “TWO MOONS (Chapter 5)

  1. Ketinggalan, ketinggalan, ketinggalan.. ><
    Ni ff ternyata seru bangeet yaa,, penasaran niih.
    aku lanjut lg baca part selanjutnya.. ^^
    nice thor.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s