[D.O’s] Goodbye Tiramisu

goodbye-tiramisu

Title            : 5th part (D.O’s) Goodbye Tiramisu

Credit Poster : Thanks to Ayricafe

Author       : Fransiska Nooril Firdhausi (@fhayfransiska)

Genre         : Romance, Friendship, Angst, Family

Length       : Chaptered

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

Cast            :

  • Do Kyung Soo a.k.a D.O
  • Park Soo Ra (OC)
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • Lee Jin Ri (OC)
  • Cho Sung Hee (OC)

Annyeong, Readers. Author is comeback, gimana cepet yah? Cepet kan? #maksa. Mumpung liburan n ide lagi ngalir deras, akhirnya author cepetin bikinnya. Wkwkwkw.

This plot dan OC is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good readers please, don’t forget to comment^^

________

            Seoul

Namja itu masih statis di tempatnya berdiri, terdiam dengan pandangan kosong dan sulit dimengerti. Sudah lebih dari dua jam dia hanya berdiri di sana, di tempat itu, tanpa melakukan apapun. Entah apa yang menjadi motivasinya untuk terus berdiam di sana, di tempat yang bahkan mungkin hanya dikunjungi orang setahun sekali saat upacara maupun peringatan kematian.

Langit mulai mendung, namun namja itu tampaknya tak juga punya niatan untuk segera beranjak. Ia hanya diam dan memandangi lekat-lekat gundukan tanah yang ada di hadapannya, gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput-rumput liar dan sedikit ilalang, gundukan tanah tempat di mana orang yang paling ia sayangi dikebumikan tepat dua tahun yang lalu.

Namja itu mendesah hebat begitu menyadari tetesan-tetesan air mulai membasahi bumi dan menyentuh kulitnya. Perlahan lahan dan kemudian semakin lebat, namun namja itu tidak menghiraukannya, tetap diam dengan pandangan yang semakin sayu. Tetesan hujan dalam sekejab membasahi sekujur tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna hitam.

Hari ini adalah peringatan dua tahun kematian orang yang paling ia sayangi. Seorang yang menjadi hidupnya, yang menjadi bintang di setiap malamnya, yang menjadi tawa dalam setiap langkahnya, seorang yang telah tertidur untuk selamanya di bawah tanah yang kini basah karena air hujan.

________

Seoul High School

“Jonginnie, cepatlah sedikit!”

Seorang namja berkulit kecoklatan yang dipanggil Jong In itu mengerucutkan bibirnya, ia lantas melirik sinis pada yeoja yang memakai seragam berwarna abu-abu sama seperti dirinya, yeoja yang telah menyuruhnya untuk cepat-cepat tadi.

“Chankkaman Soo Ra ya. Aku harus mengeluarkan motorku dulu. Lagipula kau baru saja tiba dari London kemarin lusa, tidak bawa oleh-oleh malah marah-marah terus.”

“Ya, Jonginnie! Kau tahu aku di sana bukan untuk berlibur, ok? Dan motor? Itu tidak perlu, ayo kita naik bis saja! Lagipula nanti kita harus berjalan.”

Jong In membulatkan matanya, “Berjalan? Memangnya kita mau apa?”

Soo Ra tersenyum jahil, kemudian mengeluarkan selembar kertas dari tasnya yang tampak penuh. “Ini.”

Jong In membaca selembar kertas yang dibawa Soo Ra, ia kembali membulatkan mata untuk kedua kalinya. “Mwo?!”

________

Seoul Hospital

Chan Yeol menatap lekat-lekat buku bersampul cokelat polos yang kini berada di dalam genggamannya. Mendadak udara di sekitarnya terasa berat untuk dihirup. Ia membukanya perlahan, lembar demi lembar buku itu. Namja itu tersenyum kecut, ia mulai merasa dirinya begitu konyol seusai melihat ulang keseluruhan isi buku tersebut. Konyol dan menyedihkan.

“Aku senang.”

Chan Yeol menolehkan kepalanya pada Jin Ri, seseorang yang barusaja berbicara, yang duduk di samping tempat tidurnya.

“Aku senang melihat buku itu.” Jin Ri kembali mengulum senyum, “Bagiku itu bukan hal konyol sama sekali. Aku tahu buku itu sangat berarti, terutama untukmu, dan kau tahu, buku itu kini sama berartinya bagiku. Karena berkat buku itu, aku merasa mengenal dirimu lebih jauh.”

“Aku bersyukur mengenal dirimu.”tambah Jin Ri.

Chan Yeol tersenyum kemudian mengusap pelan puncak kepala Jin Ri, membuat yeoja itu menahan napas sesaat. Yeoja itu lantas menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam, entah sejak kapan, berada di samping Chan Yeol mampu membuat jantung yeoja itu berdebar dua kali lebih cepat.

Udara di sekitar mereka berdua perlahan menghangat, seakan ikut merayakan kedamaian yang kini tengah Chan Yeol dan Jin Ri rasakan.

“Duniaku seakan runtuh ketika aku divonis menderita penyakit ini. Saat itu aku merasa tidak punya semangat untuk melanjutkan dan memperjuangkan hidupku. Aku berhenti kuliah dan memutuskan untuk mengurung diri di rumah, dan terus terpuruk meratapi hidupku. Baek Hyun lah yang selalu setia menemaniku, tak heran kalau ia marah sekali karena aku tidak menceritakan perihal penyakit ini padanya.”

Jin Ri mendengarkan setiap ucapan Chan Yeol dengan penuh perhatian.

“Namun semuanya berubah ketika aku pertama kali melihatmu. Seorang yeoja dengan segala kesederhanaannya, yang anehnya langsung bisa merebut hati seorang Park Chan Yeol. Yeoja yang bahkan tidak menyadari kehadiranku, tapi anehnya mampu membuatku selalu tersenyum ketika melihatnya.”

Chan Yeol kembali tersenyum, “Aku sungguh tak pernah menyangka, yeoja dulu yang selalu aku perhatikan dari jendela itu kini berada di sampingku, tersenyum dan membuatku nyaman. Bagiku, dulu kau hanyalah bayang-bayang yang tak akan pernah bisa aku raih. Sungguh, apabila aku mengingatnya lagi, aku benar-benar bodoh karena tak pernah berterus terang padamu sedari dulu.”

“Jin Ri ya …”

“Ne .. Nee?”

Chan Yeol menarik napas pelan, “Bagaimana perasaanmu padaku? Apa kau dengan tulus pergi ke London menemuiku, tanpa ada perasaan kasihan dan ingin berterima kasih? Atau.. karena Baek Hyun yang memintanya?”

Jin Ri tersentak, ia lantas menatap Chan Yeol penuh tanya. “Yeol ssi, aku tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak menyukai Baek Hyun seperti yang kau pikirkan.”ucap Jin Ri cepat. Ya, yeoja itu telah memantapkan hatinya.

Chan Yeol membulatkan matanya, menatap mata Jin Ri lekat-lekat, berusaha mencari sinar kebohongan di mata indah milik yeoja itu, namun ia tak menemukannya. Chan Yeol lantas menelan ludah, “Jadi .. ?”

Jin Ri tersenyum cerah, “Aku bersamamu Chan Yeol ssi.”

_______

            Myeong-Dong, Seoul

Seorang namja berdiri dengan menyandarkan punggung pada motor besarnya sambil sesekali memerhatikan jalanan ramai di depannya. Tapi daripada memerhatikan, ia lebih terlihat melamun. Pandangannya kosong dan sendu. Dalam pikirannya, berbagai masalah yang tengah ia hadapi berlalu lalang dengan cepat bagaikan arus lalu lintas yang kacau. Seperti sebuah kecelakaan beruntun, belum selesai satu, masalah lain tak segan menghampiri. Mengoyak dan membuat segala yang ia usahakan sebelumnya seakan sia-sia.

“Kyung Soo ya, kalau kau tetap menolak untuk menjadi dokter seperti yang ayah inginkan, ayah tak akan segan mengusirmu dari rumah ini!”

            Namja itu menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sakit begitu mengingat sepotong kenangan masa lalunya.

            “Kau bukan anak kandungku, oleh karena itu turuti semua apa kata ayahmu ini dan jangan pernah sekalipun mengelak atau membantah!

            Namja itu mencengkeram erat jari-jarinya sendiri, membuatnya terasa sakit agar rasa sakit di hatinya segera berpindah ke jari-jarinya, meskipun ia tahu hal itu mustahil, mustahil dan konyol.

“Kalau kau punya masalah, jangan segan datang kemari. Aku akan selalu ada untuk mendengar semua ceritamu, keluh kesahmu. Aku janji.”

Namja itu membuka kedua matanya yang tadi tertutup karena menahan sakit, ia merasakan hatinya kini mulai menghangat.

“Tidak apa-apa, Kyung Soo ssi,  kau tidak salah, tidak ada yang salah, ayahmu hanya tidak tahu usahamu selama ini, tidak, beliau hanya belum tahu. Suatu saat nanti akan tiba saat di mana beliau mulai melihat dan menarikmu dalam pelukannya lagi.”

            “Aku suka sekali tiramisu, jangan lupa untuk membuatkanku tiramisu terenak sedunia ketika kau sudah jadi koki profesional nanti.”

            “Aku tak akan pernah menghianatimu. Aku akan selalu ada di dekatmu, menjadi pendamping hidupmu adalah mimpiku, menjadi bintang di malammu dan memberikan tawa di setiap langkahmu, aku ingin menjadi seperti itu. Aku ingin menjadi yeoja yang tidak akan pernah kau lupakan.”

            Namja itu tersenyum, perih di hatinya perlahan-lahan menghilang.

            “Ini salahmu! Kalau saja kau tidak membawanya pergi saat itu, ia pasti bisa cepat-cepat ditolong dan penyakitnya tak akan bertambah parah. Kau kekasihnya, kenapa malah tidak tahu kalau ia menderita leukemia?”

            “Tidak ada donor sumsum yang cocok untuknya, yang bisa dilakukan saat ini hanyalah terapi sel, namun dokter bilang kemungkinannya untuk hidup hanyalah beberapa persen.”

            “Shin Ah telah meninggal.”

Lagi, sakit itu datang lagi. Lebih kuat, jauh lebih kuat, merobohkan pertahanan dan mengoyak habis secuil kendali diri namja itu. Ia tidak sanggup lagi menghadapi semuanya, ia merasa akan menjadi gila. Semua ingatan masa lalunya itu membuatnya perlahan jatuh terduduk di aspal yang kasar. Namun ia tidak mengangis, tidak, air matanya bahkan sudah mengering sejak dua tahun yang lalu.

Hidup tanpa Shin Ah selama dua tahun terakhir telah membuat namja itu kembali terpuruk, terjerumus dan beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi yang menopangnya, tidak ada lagi, selain Shin Ah, tidak ada seorang pun yang boleh memasuki hatinya.

Selembar kertas terbawa angin dan jatuh di hadapan namja yang tengah terpuruk itu, ia tersentak dari lamunannya dan memandangi selebaran itu. Ia membaca setiap kata yang tertulis di sana. “Donor sumsum …golongan darah A… leukemia… Park Chan Yeol?”

Namja itu mengangkat wajahnya, kemudian sudut matanya menangkap sesuatu, ia lantas menahan napas dan matanya membulat lebar. Jantung dan aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga. Ia menatap dalam-dalam seorang yeoja berseragam yang tengah membawa setumpuk selebaran, selebaran persis seperti yang baru saja ia baca. Sesekali yeoja itu mengelap keringat yang mengucur deras di dahinya, namun ia tetap bersemangat membagikan selebaran itu pada setiap orang yang lewat.

Namja itu menganga lebar, ia tak percaya pada apa yang kini dilihatnya. “S..Shin Ah?”

Dengan cepat dan tanpa pikir panjang lagi, namja itu beranjak dan berlari ke arah si yeoja.

_______

Udara siang itu sangat panas, membuat Soo Ra mengelap keringat yang mengalir di dahinya hingga beberapa kali. Ia merutuki dirinya yang lupa membawa tisu. Soo Ra melirik ke arah Jong In yang berdiri tidak jauh darinya, sedang membagikan selebaran yang sama seperti yang ia bawa saat ini, namja itu tampak sesekali mengelap keringat di dahinya dengan lengan kemeja seragamnya. Soo Ra tersenyum getir, “Jonginnie, aku akan mentraktirmu sepulang ini.”

Jong In menoleh ke arah Soo Ra dengan pura-pura memasang muka masam, namun tidak bisa dipungkiri kalau namja itu lebih terlihat bahagia daripada sedih. “Jinja? Wah, yeojachinguku memang yeoja paling cantik dan baik sedunia.”

Soo Ra menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Dasar, ya sudah teruslah bekerja dan …” Ucapan Soo Ra terhenti ketika lengan kirinya tiba-tiba di tarik oleh seseorang, membuat setumpuk selebaran yang ia pegang di tangan kanannya jatuh berhamburan ke trotoar jalan. Sebelum yeoja itu sempat menyadarinya, ia telah berada di dalam pelukan seorang namja. Soo Ra terbelalak, ia lantas berusaha memberontak dari pelukan namja yang semakin erat itu.

“Ya! Lepaskan, kau siapa?! Lepas!”

“Shin Ah …” namja itu membisikkan sebuah nama di telinga Soo Ra dengan suara yang lemah dan dalam, membuat yeoja itu perlahan berhenti berontak. Namja itu semakin mempererat pelukannya, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.

Bruaaagghh!!!

Lengan si namja yang tadi melingkar di pinggang Soo Ra tiba-tiba terlepas dengan kasar, tubuh namja itu terbanting keras ke aspal karena Jong In telah memukulnya. Soo Ra melirik ke arah Jong In yang tampak menahan emosi, dengan segera Soo Ra menyentuh pelan lengan Jong In, berusaha menenangkan namjachingu-nya itu.

“Apa-apaan kau, seenaknya saja memeluk yeoja-ku, huh?!”

Namja yang tengah terduduk di aspal itu menatap Jong In tajam seakan menantang, namun ia hanya diam dan tidak sedikitpun beranjak. Ia hanya mengusap pelan darah yang mulai mengalir di sudut bibirnya, anehnya ia seperti tidak merasakan sakit sama sekali, ia tidak sekalipun mengerang dan merintih, seakan-akan sarafnya sudah tidak berfungsi dengan baik, padahal Jong In telah memukulnya cukup keras tadi.

“Kau mau cari gara-gara, huh?! Kau punya mulut tidak, ayo jawab!”

Soo Ra masih saja berusaha menenangkan Jong In yang semakin emosi, ia lantas melirik ke arah orang-orang di jalanan yang tengah melihat ke arah mereka bertiga, banyak dari mereka tampak berbisik-bisik dan melontarkan berbagai cibiran. Dengan segera Soo Ra membungkukkan badannya sedikit, bermaksud meminta maaf karena membuat keributan di tempat umum. Soo Ra menarik pelan lengan Jong In dan membawanya menjauh dari namja yang masih saja terdiam di tempatnya itu. Namun sesaat sebelumnya namja itu telah membaca nametag di baju seragam Soo Ra.

Park Soo Ra.

Soo Ra menoleh sedikit ke belakang, ke tempat di mana namja yang telah dipukul Jong In itu jatuh. Namja yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu kini tengah memandangnya tajam dan menusuk, namun anehnya Soo Ra merasa tatapan itu lebih terlihat sebagai tatapan yang lembut, misterius dan penuh kerinduan.

________

“Aku tidak menyukaimu seperti yang Chan Yeol pikirkan.”

“Aku hanya tidak ingin kau salah sangka mengira aku menyukaimu.”

Baek Hyun mendesah hebat, ia menatap tak minat pada sandwich yang berada di atas mejanya. Entah kenapa, napsu makannya tiba-tiba menguap begitu saja begitu kata-kata Jin Ri di London kembali terngiang di telinganya.

“Waeyo, Baekki Oppa? Tidak napsu makan? Kau masih jet lag? Bukannya itu sudah dua hari yang lalu?”

Baek Hyun menatap yeoja berambut ikal yang duduk di depannya, namja itu lantas tersenyum kikuk. “Aniya, Sung Hee ya, aku hanya … kenyang. Ya, aku sudah kenyang.”

Sung Hee menatap Baek Hyun khawatir, ia merasa ada yang aneh dengan Baek Hyun selama dua hari terakhir. Mereka memang sering bertemu dan makan bersama, namun tidak jarang Sung Hee mendapati Baek Hyun tengah melamun, entah apa yang ada di pikiran namja itu, ia tidak pernah bisa menebaknya.

“Oppa, appa dan umma bilang mereka ingin kita segera melaksanakan upacara pertunangan.”

Baek Hyun tersentak, benar, ia baru ingat, ia dan Sung Hee diminta untuk segera bertunangan sesampainya di Seoul. Baek Hyun menelan ludah, “Ah, ehm, Sung Hee ya, bagaimana kalau kita bertunangan setelah Chan Yeol sembuh? Ah, begini maksudku, aku tidak ingin kita berbahagia sementara Chan Yeol tengah berusaha melawan penyakitnya. Dan lagipula, kita harus mengenal lebih jauh satu sama lain kan, bagaimana?”

Sung Hee tersenyum, “Nee. Aku tahu Oppa sangat menyayangi Chan Yeol ssi. Aku bisa mengerti.”

Baek Hyun mengangguk. Tidak, bukan karena itu saja, sebenarnya ada alasan yang lebih benar daripada itu, lebih benar dan tidak bisa dipungkiri. Alasannya adalah karena ia belum siap, ia belum siap dengan hatinya. Karena hatinya kini berada di tempat lain, milik orang lain. Baek Hyun membatin, Oh Tuhan, kenapa aku baru menyadarinya.

Baek Hyun kembali mendesah, Aku menyukai Jin Ri.

________

Seven days later, Seoul High School.

“Mwo? Jeongmal?” Soo Ra menutupi mulutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari seseorang di seberang telepon. “Nee, aku akan segera ke sana sepulang sekolah nanti. Oh, iya siapa nama pendonornya, Yu Ri ssi?”

“Do Kyung Soo? Ok. Jeongmal kamsahamnida, Yu Ri ssi. Annyeong!” Soo Ra menutup telepon kemudian memekik pelan, ia benar-benar bahagia. Akhirnya segala usahanya selama ini berhasil dan kakaknya akan segera sembuh.

“Ya, Soo Ra ya, ada apa kau jingkrak-jingkrak begitu?”

Soo Ra menoleh dan mendapati Jong In, namjachingu-nya tengah menatapnya heran. Soo Ra lantas berlari cepat menuju Jong In dan langsung memeluk namja itu saking bahagianya. “Ya, ya! Ini masih di sekolah, Soo Ra ya.”ucap Jong In dengan wajah memerah karena malu.

Soo Ra melepaskan pelukannya, “Gomawo, Jonginnie, gomawo atas semua bantuanmu selama ini. Akhirnya kakakku bisa sembuh, kita telah menemukan pendonor sumsum yang cocok untuknya.”

“Jinjja?”ujar Jong In dengan binar bahagia di wajahnya.

“Nee, aku akan ke rumah sakit sepulang sekolah. Mau menemaniku?”

Jong In menatap penuh penyesalan ke arah Soo Ra, “Mian Soo Ra ya, aku ada eskul dance pulang sekolah. Ah, tapi aku bisa kok tidak mengikutinya kali ini.”

Soo Ra tersenyum lebar, “Aniya, Jonginnie. Aku akan pergi sendiri.”

__________

Seoul Hospital

Soo Ra berjalan cepat nyaris berlari menuju kamar rawat Chan Yeol, ia benar-benar tidak sabar melihat raut bahagia kakaknya ketika mendengar kabar bahagia ini. Ya, ia yakin sekali kalau sebentar lagi kakaknya akan segera sembuh karena telah menemukan pendonor sumsum yang cocok dengannya.

Soo Ra benar-benar bersyukur karena tidak menyerah dalam mencari donor sumsum untuk kakaknya, sekalipun ia dan Jong In harus berlarian ke sana ke mari membagikan selebaran yang ia telah ia buat dengan begadang hingga malam. Sebentar lagi, ia akan kembali melihat kakaknya yang berjalan dengan tegap, tertawa keras dan tersenyum tanpa paksaan seperti dulu. Membayangkannya saja yeoja itu sudah tersenyum sendiri.

Langkah Soo Ra terhenti ketika ia melihat seseorang berdiri tepat di samping pintu kamar rawat kakaknya. Ia mengernyitkan alisnya, berusaha menerka-nerka siapa namja di hadapannya itu, kemudian ia terbelalak. Namja itu adalah seorang namja yang pernah memeluknya tiba-tiba di jalan, seorang namja yang pernah dipukul oleh namjachingu-nya, Jong In. Soo Ra menelan ludah.

Namja itu berjalan mendekat ke arah Soo Ra, sementara yeoja itu sedikit melangkah mundur menjauhi si namja, “Aku Do Kyung Soo.”

Soo Ra terbelalak, “Jadi .. kau yang …?”

Namja yang mengaku bernama Kyung Soo itu tersenyum sinis, “Jangan salah, aku tidak melakukannya dengan senang hati. Yah, aku akan melakukannya, tapi dengan satu syarat.”

“Ma .. maksudmu?”

“Aku akan mendonorkan sumsumku pada Park Chan Yeol, asalkan dengan satu syarat.”

Soo Ra menatap Kyung Soo lekat-lekat, namun ia tak mampu menerka apa yang sebenarnya diinginkan oleh namja itu. “A .. apa yang kau inginkan?”

Kyung Soo memperdekat jaraknya dengan Soo Ra, ia mulai membisikkan sesuatu di telinga yeoja itu. “Jadilah yeojaku.”

Soo Ra terhenyak, ia lantas menjauhkan tubuhnya dari Kyung Soo, “Tunggu! Apa maksudmu? Ka.. kau tahu aku sudah memiliki namjachingu bukan?”

“Putuskan dia.”

“M..mwo?! Apa-apaa…”

“Pilih Park Chan Yeol atau namjachingumu?”

Soo Ra terbelalak.

“Keputusan ada padamu, kau tahu ini sama saja nyawa seorang Park Chan Yeol berada di tanganmu, kau juga tahu mencari donor sumsum yang cocok juga amatlah sulit, dan kau juga mencintai namjachingumu kan? Bagaimana? Bukankah ini pilihan yang sulit?”

Soo Ra mengernyitkan dahinya kemudian dengan cepat mengayunkan tangannya, bermaksud menampar Kyung Soo, namun namja itu menahan ayunan tangan Soo Ra sama cepatnya. “Percuma, menamparku pun percuma. Aku tak akan merasakan sakit sedikit pun. Pukulan keras dari namja-mu saja aku tak sakit, apalagi tamparan kecil darimu.”

Air mata Soo Ra tiba-tiba mengalir deras menuruni pipinya yang putih, ia terisak keras. Tubuhnya berguncang hebat, dipikirannya berlalu lalang banyak hal. Dua orang itu, dua orang yang benar-benar berarti di hidupnya, dua orang yang sama-sama ia cintai. Tapi …

Tak lama kemudian ia mampu mengendalikan dirinya lagi, ia menatap penuh benci pada Kyung Soo. “Baik.”

“Aku akan menjadi yeojachingu-mu dan aku akan memutuskan namjachingu-ku, tapi tolonglah kakakku.”

Mendengar itu, Kyung Soo hanya tersenyum kecut.

_________

Two days later.

“Jonginnie, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ..”

“Tunggu dulu, aku mau bicara dulu.” Jong In dengan cepat mengobrak-abrik isi tasnya, ia tampak mencari sesuatu. Ia tersenyum puas ketika kotak yang ia cari telah ia temukan, dengan segera ia membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya pada Soo Ra. Sebuah kalung yang sangat cantik dengan permata mungil berwarna biru terlihat di sana, Soo Ra menahan napas sesaat.

“Lihat, cantik bukan? Ah, iya kau ingat? Hari ini tepat dua tahun sejak kita jadian. Dan kalung ini, aku beli dengan uang hasil kompetisi dance yang aku menangkan kemarin, aku hebat kan? Hehe, ah iya, kalung ini untukmu Soo Ra ya, untuk yeojachingu-ku yang paling cantik.”

Setetes air mata jatuh dari mata indah Soo Ra, ia menatap lekat-lekat mata Jong In yang penuh binar bahagia. Jong In tersenyum lebar, kemudian mengambil kalung itu dan berniat memasangkannya pada Soo Ra.

“Hentikan.”

Gerakan tangan Jong In terhenti, “Soo Ra ya, kau tidak suka? Ah, aku begini bodohnya hingga tidak tahu selera seorang yeoja ya, haha ..”

“Bu ..bukan begitu. A… aku..” Soo Ra lantas terdiam.

Soo Ra, kau harus melakukannya, semua demi kakakmu. Bukannya selama ini kau selalu berharap dia akan tersenyum seperti sebelum-sebelumnya kan?Ayolah, jangan ragu dan mantapkan hatimu, camkan dalam hati, semua demi kakakmu, orang yang berarti di hidupmu, Soo Ra membatin dalam hati, ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku mau kita putus.”

Jong In menganga tak percaya, kemudian ia terkekeh, “Hei, hei, apa aku tidak salah dengar? Aku sedang tidak ingin bercanda chagiya, aku ..”

“Aku tidak sedang bercanda.”

Jong In terdiam, ia menatap wajah Soo Ra yang tampak kaku. “Tu… tunggu dulu. Biarkan aku mendengar penjelasannya dulu, aku …”

“Aku sudah mengatakannya dan aku tak akan pernah menarik ucapanku lagi, Jong In ah.”potong Soo Ra lagi.

“Setidaknya biarkan aku selesai bicara dulu!”suara Jong In meninggi, membuat Soo Ra tersentak. “Aku tahu, pasti ada sesuatu di balik ini, aku tahu ini bukan dirimu, ini bukan kau yang berbicara Soo Ra ya. Ini terlalu tiba-tiba dan itu bukan dirimu. Aku tahu! Aku sudah mengenalmu selama ini dan aku benar-benar tahu semua tentangmu!”

Soo Ra menahan napas, ia bersikeras menahan air mata yang mulai muncul lagi di sudut matanya, “Mianhae Jong In ah, tapi kali ini kau salah. Aku yang berbicara, dan benar aku yang ingin kita putus.” Soo Ra memaksakan untuk tersenyum, “Kau terlalu kekanakan, suka tidak bisa mengendalikan emosi dan seenaknya sendiri, aku tidak suka itu. Aku bosan dengan semua sifatmu itu.”

Jong In kembali menatap yeoja di hadapannya dengan tatapan tak percaya, ia mendesis, “Itu bukan alasan, Soo Ra ya.”

Soo Ra menundukkan kepalanya lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Jong In, namun namja itu kembali meraih lengan Soo Ra dan menahannya pergi. “Soo Ra ya!”

“Aku … sudah tidak menyukaimu.” Soo Ra menggigit bibir bawahnya sembari kembali menahan tetesan emosi dari pelupuk matanya. Kata-kata itu sungguh begitu berat untuk diucapkan. Kata-kata yang sanggup membuat Jong In terdiam seketika.

“Aku menyukai orang lain, Jong In ah.” Soo Ra melepaskan genggaman tangan Jong In pelan dan kembali berlari menjauhi namja itu, jauh dan semakin jauh. Namun semakin langkahnya menjauhi Jong In, semakin deras air mata mengalir di pipinya.

“Soo Ra ya!” teriak Jong In lagi, namun tetap Soo Ra tidak menghiraukannya.

Dua tahun bukan waktu yang singkat, selama itu juga Jong In dan Soo Ra mampu mempertahankan cinta mereka. Banyak sekali hal yang mereka lewati bersama, menangis dan tertawa, bertengkar, saling menghibur dan mengasihi satu sama lain. Namun kini semuanya harus berakhir, ya, berakhir. Soo Ra, sekalipun yeoja itu masih sangat mencintai Jong In, semuanya harus berakhir kalau ia tidak mau menyesal untuk selamanya.

Mianhae Jong In ah, Mianhae.

Tetes-tetes hujan perlahan jatuh ke bumi, membasahi setiap sudut kota Seoul. Soo Ra menghela napas dan membiarkan dirinya diguyur hujan yang semakin deras. Tidak apa-apa, langit tengah menemaninya sekarang, langit ikut bersedih melihat ia bersedih, ia tahu itu.

Aku tidak boleh menyesal, tidak boleh.

_______

Soo Ra melangkahkan kakinya gontai menyusuri jalanan aspal yang basah. Ia membiarkan dirinya terus diguyur hujan, biarkan air hujan terus mengaliri tubuhnya, siapa tahu air hujan itu mampu menggelontorkan sakit yang tengah ia rasakan sekarang, siapa tahu tahu air hujan akan mampu membawa pergi rasa sakit itu. Soo Ra tersenyum kecut begitu menyadari pemikirannya barusan terasa begitu konyol.

Soo Ra tersentak begitu seseorang menarik lengannya pelan dan langsung membungkus tubuhnya dengan sebuah mantel parasut. Seorang itu lantas membawanya berteduh di depan sebuah restoran.

“Kyung Soo ssi?”ucap Soo Ra parau.

Sesaat kemudian, Soo Ra telah berada dalam pelukan Kyung Soo.

______

Baguette Restaurant

Soo Ra menyesap pelan kopinya, ia menggosok-gosokkan tangannya yang kedinginan kemudian kembali merapatkan selimut yang Kyung Soo berikan padanya, selimut itu kini menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pakaiannya telah berganti dengan pakaian yang Kyung Soo berikan juga, pakaian wanita milik rekan kerja Kyung Soo karena pakaian Soo Ra benar-benar sudah basah kuyub. Soo Ra menggigil perlahan, kemudian pandangannya menyapu seluruh ruangan tempat di mana ia duduk.

Suasana di luar sedang hujan deras, jelas saja restoran itu tampak begitu sepi, hanya tampak segelintir orang yang melakukan aktivitas yang hampir sama dengan Soo Ra-menyesap kopi. Soo Ra mendesah hebat, kini dirinya tengah berada di sudut sebuah restoran, menggigil kedinginan sambil sesekali menggosokkan kedua tangannya untuk mencari kehangatan.

Soo Ra tersentak begitu sepiring tiramisu yang kelihatan benar-benar enak tiba-tiba tersaji di hadapannya. Ah tidak, seseorang telah membawanya, dan itu .. Kyung Soo. Namja itu kini tengah tersenyum kepadanya, seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. Soo Ra mendengus.

“Makanlah. Banyak yang bilang, orang akan kembali tersenyum begitu ia makan makanan enak. Dan oh iya, tiramisu itu aku yang membuatnya, aku adalah salah seorang koki di sini. Tiramisu adalah salah satu cake andalan di restoran ini.”

Soo Ra menatap tiramisu yang tampak menggugah selera itu, awalnya ia ragu, namun ia tidak bisa melawan godaan untuk tidak memakannya, dengan tangan yang gemetar ia mengambil sepotong kecil tiramisu, memasukkannya pelan ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan. Dan tanpa ia sadari kini Kyung Soo tengah menatapnya sendu.

“Ini enak, enak sekali.”gumam yeoja itu kemudian. Seulas senyum perlahan terbentuk di bibir mungilnya, ia lantas tak ragu untuk mengambil potongan berikutnya.

Kyung Soo tersenyum, “Sejak dulu mimpiku memang menjadi koki.”

“Apa alasanmu memaksaku menuruti kemauanmu?”ucap Soo Ra tiba-tiba.

Kyung Soo memiringkan kepalanya. “Apa motivasimu memaksaku menjadi yeojachingumu dan membuatku harus putus dengan namjachinguku?”tanya Soo Ra lagi, tatapannya penuh selidik.

Kyung Soo menghela napas hebat, ya, ia harus bilang alasannya memaksa yeoja itu. Sebenarnya ia sungguh tak tega apabila harus melihat yeoja itu begini tersakiti, seperti yang barusaja ia lihat, tampak begitu rapuh dan hancur. Namun ternyata egonya mengalahkan semuanya, entah kenapa sejak pertama kali melihat yeoja itu ia langsung mencamkan dalam hati kalau yeoja itu harus menjadi miliknya.

“Kau mirip dengan yeojachinguku yang meninggal dua tahun lalu, tidak, wajah kalian nyaris sama.”

Soo Ra terdiam sesaat lalu tersenyum sinis, “Aku bukan dia, jangan harap aku akan berubah seperti dia, besifat seperti dia, aku ini …”

“Aku tahu.”potong Kyung Soo cepat, namja itu lantas menghembuskan napas berat. “Aku tahu, tidak akan ada seorangpun yang seperti Shin Ah.”

“Ia …. sakit leukemia, sama seperti kakakmu. Namun bedanya, ia tak tertolong.” Lanjut Kyung Soo, membuat Soo Ra perlahan berhenti mengunyah tiramisu-nya.

“Aku akan menceritakan sedikit masalahku padamu, yah, masalah ini juga yang menjadi alasanku memaksamu, tidak apa?”

Soo Ra mengangguk pelan sementara Kyung Soo tampak menundukkan kepalanya, pandangannya menerawang, seakan berusaha mengingat setiap potongan kenangannya di masa lalu.

“Hubunganku dengan ayahku tidak pernah baik, sekalipun baik itu hanya saat aku mendapat prestasi saja. Aku selalu berusaha menuruti semua kemauan ayahku, segala usaha aku lakukan untuk membuatnya bahagia.”

Kyng Soo menarik napas dalam-dalam, “Sampai akhirnya aku mengutarakan keinginanku untuk menjadi seorang koki, sesuatu yang menjadi mimpiku sedari kecil, namun beliau marah besar. Beliau tidak menyetujuinya dan saat itu juga ia mengatakan dengan gamblang kalau aku bukanlah anak kandungnya. Aku harus menuruti semua kemauannya karena baginya aku tidak lebih dari seorang anak pungut.”

Soo Ra menatap Kyung Soo simpati, ia merasakan udara di sekelilingnya mulai menghangat, entah kenapa. Mungkingkah karena suara Kyung Soo yang terdengar begitu jernih dan dalam, ia tak tahu.

“Saat aku tengah terpuruk, yeoja itu datang, Shin Ah datang. Dengan senyumnya yang tulus ia setia menemaniku, mendengarkan semua keluh kesahku. Dialah orang pertama yang mencintai aku setulus hati. Aku jadi merasa hidup kembali, dialah yang jadi sumber kekuatanku, seseorang yang mampu memberikan tawa di setiap detik hidupku, seseorang yang selalu berjalan beriringan di sampingku dengan semua canda, senyum dan tawa lebarnya. Sejak saat itu, aku mulai berpikir, tidak apa-apa, asalkan ada Shin Ah di sampingku aku akan baik-baik saja.”

Kyung Soo masih berbicara, namun kali ini lebih lirih, jelas terlihat kalau namja itu menahan tangis di pelupuk matanya. “Tapi ternyata Tuhan tidak membiarkanku merasakan kebahagiaan itu lebih lama.”

“Aku mengetahui penyakit Shin Ah setelah satu tahun ia mengidapnya, aku terlambat mengetahuinya.”

Kali ini Soo Ra tidak sanggup menatap Kyung Soo, entah kenapa perasaannya mulai kacau ketika melihat wajah sendu namja yang duduk tepat di hadapannya kini. Entah perasaan simpati, kasihan, atau sakit? Ia tidak tahu. Yang jelas, kesan buruk soal namja itu mulai luntur di hati Soo Ra.

“Harusnya aku tahu, wajahnya yang kian hari tampak makin pucat itu, harusnya aku tahu, langkahnya yang terhuyung setiap ia berjalan di sampingku, harusnya aku tahu, ia tengah berusaha keras menahan rasa sakit dan berusaha tetap tersenyum saat di depanku. Namun aku tak pernah menyadarinya, aku terlalu bodoh, aku terlalu terlena dengan segala kebaikannya.”

Kyung Soo tersenyum kecut.

“Dia punya golongan darah yang sama denganku, namun sayangnya aku tidak bisa mendonorkan sumsumku padanya, sumsum kami tidak cocok. Namun saat itu ia hanya tersenyum, ia hanya minta aku selalu berada di sampingnya, aku pun berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Aku berjanji akan menjadi koki seperti mimpiku, sesuatu yang menjadi mimpinya juga.”

Suasana restoran itu mulai sepi, lebih sepi dari sebelumnya karena sudah tidak ada lagi pengunjung. Yang terdengar kini hanyalah suara jam dinding yang berdetak, serta suara para koki yang kedengarannya sedang membersihkan dapur.

Wajah Kyung Soo mengeras, “Namun aku mengingkari janjiku kala itu, aku tidak bersama dengannya, di saat ia tengah melawan sakitnya, di saat ia akan menutup matanya.”

“Shin Ah suka sekali tiramisu. Aku berniat membuatkannya tiramisu paling enak sedunia.”lanjut Kyung Soo.

“Saat itu aku tengah membuat tiramisu, membuat cake yang paling ia suka. Berkali-kali aku mencoba, aku selalu bersikeras membuat tiramisu terenak yang pernah ia makan. Namun …”

Kyung Soo terdiam, namun sedetik kemudian ia melanjutkan dengan suara berat dan napas tertahan, ia terlihat sedikit terisak. “Begitu aku akan memberikannya, ia sudah tidak ada, ia sudah menutup matanya untuk selamanya, ia pergi tanpa bilang selamat tinggal padaku, tanpa bilang kalau tiramisu buatanku enak.”

Soo Ra masih juga terdiam, ia mendengarkan dengan seksama setiap penuturan Kyung Soo, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku tak ada di sana, padahal selama ini ia selalu ada untukku dan berada di sampingku, mendengarkan semua cerita dan keluh kesahku. Namun aku tak pernah membalasnya, aku tak berada di sampingnya bahkan ketika ia tengah menangis menahan sakit, aku tak berada di sampingnya ketika ia… akan pergi. Padahal aku sudah berjanji!”

Kyung Soo memukul meja dengan tangannya yang mengepal.

“Itulah penyesalanku yang terbesar.”

Air mata perlahan meluncur menuruni pipi Soo Ra, ia begitu tersentuh dengan cara Kyung Soo mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Namja itu berkata seakan-akan ia tak punya tenaga lagi untuk mengucapkan kata lain selain cerita sendunya.

Kyung Soo menyadari mata Soo Ra yang sembab, sontak namja itu langsung kebingungan, “Ah mianhae, aku membuatmu menangis. Benar, aku tidak seharusnya bicara semuanya, tanpa aku sadari semua meluncur begitu saja dari mulutku. Ah, kau tidak perlu merasa kasihan padaku, aku ..”

Belum sempat Kyung Soo melanjutkan bicaranya ia telah berada dalam pelukan Soo Ra, yeoja itu memeluknya tiba-tiba, membuat napas namja itu berhenti sesaat. “Soo .. Soo Ra ssi?”

“Tidak apa-apa. Selama ini kau selalu berjuang sendiri. Biarlah begini sebentar saja, kau pasti merindukan pelukan seseorang kan? Aku tidak bisa menjadi Shin Ah, tidak bisa menjadi ayahmu, tapi …”

Kyung Soo terhenyak, kemudian ia membalas pelukan yeoja itu kikuk.

“Aku memang tidak tahu bagaimana sakitnya dicampakkan keluarga, tidak tahu rasanya kehilangan orang yang berarti di hidupku.”

Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Kyung Soo begitu menikmati pelukan itu, sudah lama ia tidak merasakan hal seperti itu, ya, ia memang terlalu lama menyendiri dan tidak mau membuka hatinya untuk orang lain. Entah kenapa, hanya dengan sebuah pelukan seakan mampu membuat hatinya menjadi tenang dan nyaman. Sesaat ia berharap waktu berhenti saat itu juga.

“Soo Ra ssi, aku tidak …”

Kyung Soo melepaskan pelukan Soo Ra pelan, ia menatap mata yeoja itu yang memerah. Jantungnya seakan berhenti berdetak begitu melihat wajah yeoja itu, begitu mirip, tidak, wajah yeoja itu nyaris sama dengan Shin Ah. Rambutnya, bentuk matanya, hidungnya, bibirnya serta caranya memandang, semuanya begitu mirip. Saat itu juga jantung Kyung Soo berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, ada apa dengannya?

Kyung Soo menelan ludah, “Begitu pertama kali melihatmu, jantungku seakan berhenti, aku seperti kembali melihat Shin Ah. Dalam hati aku berpikir, aku harus memiliki yeoja itu, aku tidak ingin melepaskannya lagi, meskipun aku tahu sekalipun kalian mirip, namun kalian tidaklah sama. Dan entah kenapa saat itu aku begitu yakin, yeoja itulah yang akan membantuku keluar dan terbebas dari keterpurukanku. ”

Soo Ra mengernyitkan dahinya, ia menatap nanar ke arah Kyung Soo. “Aku melihat itu, selebaran yang kau bawa dan kau bagikan di Myeong-dong. Kebetulan golongan darah kakakmu sama denganku, aku pun mencoba peruntunganku, aku melakukan tes DNA dan berharap sumsumku cocok dengan kakakmu lalu pada akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Kali itu Tuhan mengabulkan doaku, aku benar-benar tidak menyangka sumsumku cocok dengan kakakmu, yah, sekalipun kami tidak punya hubungan darah.”

“Aku mulai berpikir keras, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu melihatku, membuatmu menjadi milikku, membuatmu mau membantuku terbebas dari segala keterpurukan ini, jujur, aku sudah lelah dengan ini semua. Meskipun aku telah berulang kali mencobanya sendiri sebelumnya, aku tetap tidak bisa. Lalu kemudian aku yakin, aku butuh dirimu untuk menyembuhkan lukaku.”

Kyung Soo memaksakan sebuah senyum simpul, “Soo Ra ssi, aku mohon, untuk kali ini saja, bantulah aku. Bantulah aku merangkak dari segala keterpurukan ini, aku mohon. Jadilah yeojaku kali ini saja, lalu aku janji. Setelah aku kembali sembuh dari lukaku, kembali menatap hari-hariku dengan senyum terkembang, kembali berjalan tegap tanpa sekalipun menunduk sedih, aku berjanji akan membiarkanmu kembali pada namjachingumu, aku janji.”

“Soo Ra ssi, mungkin aku memang egois. Mianhae, tapi aku benar-benar sangat terpaksa melakukan ini. Dan ah, sebelumnya terima kasih karena sudah mendengarkan semua ceritaku, ini pasti terdengar tidak penting bagimu. Selain itu, terima kasih karena telah mencicipi tiramisu buatanku.”

Soo Ra menggeleng, namun sebelum yeoja itu sempat membuka mulut hendak berbicara, Kyung Soo sudah menyelanya duluan, “Aku pikir akulah yang salah, aku tidak seharusnya memaksamu memutuskan namjachingumu. Mianhae, entah apa yang merasukiku saat itu, tapi… aku benar-benar minta tolong untuk saat ini. Aku benar-benar memohon padamu.”

Soo Ra menatap Kyung Soo penuh simpati, ia terdiam agak lama, berpikir. “Tidak perlu menyesal, Kyung Soo ssi. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama apabila aku jadi dirimu. Kalau sudah sakit hati, kadang kita bisa melakukan hal yang tidak masuk akal, atau hal yang bahkan  bisa menyakiti orang lain.” Soo Ra menyunggingkan sebuah senyuman kikuk.

“Selain itu Kyung Soo ssi, kau harus tanggung jawab!”

“Mwo?”

Soo Ra tersenyum, “Aku memang sangat mencintai namjachinguku, aku sangat bersedih, dan aku merasa benar-benar kacau tadi. Tapi, berkat tiramisu-mu aku bisa kembali tersenyum, aku seperti merasa mendapat kekuatan ketika memakannya. Aku yakin kau pasti membuatnya dengan penuh cinta sekaligus berharap orang yang memakannya akan tersenyum dan berkata ‘enak’. Dan mulai hari ini kau harus bertanggung jawab membuatkanku tiramisu setiap hari, Kyung Soo ssi!”

Kyung Soo ternganga, namun sedetik kemudian ia tersenyum, entah kenapa melihat Soo Ra tersenyum mampu membuat hatinya perlahan menghangat dan ikut tersenyum.

“Aku memang bukan Shin Ah, aku tidak akan bisa menjadi seperti Shin Ah. Tapi mulai sekarang aku ingin bisa menjadi penopangmu, bukan semata-mata karena belas kasihan atau balas budi karena telah menolong kakakku, aku tulus melakukannya. Selain itu, Shin Ah tidak akan senang kalau kau selamanya terpuruk seperti itu, ia pasti ingin yang terbaik untukmu.”

Perlahan Soo Ra memasang senyum jahil di wajahnya, “Dan dia akan memarahiku atau bahkan menghantuiku dan menerorku setiap malam karena aku telah membiarkanmu tetap begini sementara aku sudah tahu semuanya. Kesimpulannya, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja.”

Kyung Soo kembali membulatkan matanya lalu tertawa, “Aku tahu.”

____TBC___

Akhirnyaa, 5th part kelar juga. Gimana readers, tambah rumit yah, moga gak bosen bacanya yah. Setelah ini mungkin author bakal agak lama nih updatenya, maklum liburan, author juga pengen liburan, #eh. Eh iya, soal yang xiumin author gabisa masukin ke sini karena udah kepanjangan nih, author takutnya reader bosen, terus ga dibaca #nangis. Maaf banget kalo part ini rada garing n bagiannya chanchan-bacon sedikit yah, dan seperti biasa author bikinnya mendayu-dayu gitu #plak kalo seandainya ngantuk pliss jangan salahin author  -.-v Part 6th nya ditunggu yah, entah siapa yang bakal keluar nanti #plak

Ok deh, chingu. Tetep RCL yah😀 Read Comment Like. Tahu kan kalau satu komenmu itu berarti banget buat author, apalagi like-nya #plak. Annyeong😀

150 responses to “[D.O’s] Goodbye Tiramisu

  1. Kyungsoo egois sih tapi mau gimana lagi..
    Kasian juga ngeliat Kyungsoo terpuruk gitu
    Tapi gak tega juga liat Kai diputusin secara gak jelas
    Semoga aja masalahnya cepet selesai ya😉

  2. huhu kyungsoo kok gitu sih, soora kan yeoja chingunya si kkamjong😐 tapi.. ya mau gimana lagi demi yeol
    kkamjong patah hati tuh pastinya

  3. MyDyo mungkin berat memisahkan soora dan si kai, tapi ya akhirnya jalannya lbih mdah utk soora-dyo bkan sma s kamjjong hhe

  4. Aduhh aku kasian jonginnya biaskuuu :'((( tp kyungsoo juga lbh kasian hidupnya. Author bikin bimbang ihh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s